Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Februari 2018

24 Santri Jateng-Yogya Ikuti Pelatihan Mekanik Sepeda Motor

Semarang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan 



Pengurus Pusat Rabithah Maahid Islamiyyah  Nahdlatul Ulama (RMINU) bekerja sama dengan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) mengadakan pelatihan, pendampingan, dan magang mekanik sepeda motor untuk santri Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. 

24 Santri Jateng-Yogya Ikuti Pelatihan Mekanik Sepeda Motor (Sumber Gambar : Nu Online)
24 Santri Jateng-Yogya Ikuti Pelatihan Mekanik Sepeda Motor (Sumber Gambar : Nu Online)

24 Santri Jateng-Yogya Ikuti Pelatihan Mekanik Sepeda Motor

Sebanyak 24 santri mengikuti pelatihan itu selama kurang lebih 4 bulan ke depan. Mereka akan berlatih di dalam kelas dan praktik langsung di lapangan. 

Pelatihan ini memberikan pengetahuan pada santri agar mampu memperbaiki dan mengetahui perkembangan sepeda motor. Kebutuhan akan sepeda motor di pesantren tak kalah pentingnya dengan alat transportasi lain. 

Dengan adanya kemampuan baru ini, pesantren diharapkan memiliki tenaga ahli yang paham sepeda motor. YDBA sudah 37 tahun mendampingi masyarakat untuk berkontribusi.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selain itu, ada Astra Motor dan Yayasan Astra Honda Motor (YAHM) yang ikut mendukung pelatihan ini. 

Ahmad Muhibbudin selaku wakil ketua YAHM menyatakan, perlu adanya transfer pengetahuan (knowledge) pada masyarakat luas, termasuk santri. Setelah mengikuti pelatihan ini; peluang untuk mengerjakan bidang terkait perbengkelan terbuka lebar. 

Sudah banyak pelatihan seperti ini yang memberikan manfaat pada peserta. Banyak dari mereka menjadi wirausahawan dengan membuka bengkel sendiri atau bekerja di jaringan perusahaan Astra.

"Setelah lulus untuk bisa menjadi wirausahawan," papar Rahmad Handoyo selaku mentor YDBA pada pembukaan pelatihan di kantor Astra Motor Center, Semarang, Selasa, (5/12).

Khoironi, perwakilan PP RMINU memotivasi peserta. Ia mengatakan bahwa pelatihan kali ini bisa jadi menjadi ilmu baru bagi santri. Untuk pesantren salaf; ini hal baru yang harus ditekuni agar mampu menguasainya. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Abu Choir, tim pelaksana dari PW RMINU Jateng menambahkan bahwa pelatihan ini ke depan harus ditingkatkan tak hanya dalam pelatihan saja. Perlu adanya pendampingan untuk membuka bengkel di pesantren dengan supervisi dari Astra. (Zulfa/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Sejarah, Nasional, Halaqoh Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 22 Februari 2018

Ketua Baru IPNU-IPPNU DIY Terpilih lewat Musyawarah Mufakat

Kulon Progo, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Konferensi Wilayah (Konferwil) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) DI Yogyakarta memilih Nova Andriyanto sebagai ketua PW IPNU dan Aini Silvi Arofah sebagai ketua PW IPPNU. Keduanya ditetapkan melalui musyawarah mufakat.

Ketua Baru IPNU-IPPNU DIY Terpilih lewat Musyawarah Mufakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua Baru IPNU-IPPNU DIY Terpilih lewat Musyawarah Mufakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua Baru IPNU-IPPNU DIY Terpilih lewat Musyawarah Mufakat

Konferwil IPNU-IPPNU DIY berlangsung pada 26-27 Desember 2015 di SMK Maarif 1 Kabupaten Kulon Progo, DIY. Sidang pemilihan ketua baru IPPNU DIY dipimpin langsung Ketua Umum Pimpinan Pusat IPPNU Puti Hasni, sedangkan sidang pemilihan ketua baru IPNU DIY dipimpin Masyhuri dari PWNU DIY.

Nova Andriyanto dan Aini Silvi dipercaya memimpin organisasi pelajar NU DIY masa khidmah 2015-2018 secara aklamasi usai seluruh perwakilan Pimpinan Cabang IPNU dan IPPNU setempat mengajukan satu nama calon ketua Pimpinan Wilayah IPNU dan IPPNU DIY.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Mekanisme pemilihan melalui musyawarah mufakat ini mendapat apresiasi dari PWNU DIY.? "Secara tidak langsung, sistem musyawarah mufakat ini sesuai dengan sistem Ahul Halli Wal Aqdi (AHWA) yang diusulkan PBNU,"? kata Masyhuri mewakili PWNU DIY.

Apresiasi juga disampaikan Puti Hasni, ketua PP IPPNU. "Banyak pelajaran berharga yang saya peroleh dari kegiatan ini. Melalui kegiatan ini, semoga pimpinan wilayah IPNU-IPPNU dapat dijadikan percontohan bagi pimpinan wilayah yang lain," ujarnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Konferwil kali ini mengusung tema “Meneguhkan Spirit Kebersamaan Pelajar dalam Menghadapi Budaya Global Berbasis Kearifan Lokal”. Beberapa kegiatan pendukung juga digelar, di antaranya parade seni dan budaya yang diikuti pelajar NU se-DIY dan dilanjutkan dengan seminar kebudayaan.

Hadir dalam acara pembukaan perwakilan Pimpinan Cabang NU Kabupten Kulon Progo, Muslimat NU DIY, Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, dan Pemerintah Provinsi DIY. Dalam kesempatan itu, salah seorang pejabat daerah mewakili Gubernur DIY menyampaikan pesan agar kader IPNU dan IPPNU? menanamkan jiwa kemimpinan sejak dini supaya kelak menjadi pemimpin berkelas dan berintegritas. "Karena karakter suatu bangsa ditentukan karakter pemimpin dan golongan mudanya, dalam hal ini adalah pelajar," pesan gubernur DIY. (Miqdam/Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Nasional, Cerita, Tokoh Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 14 Februari 2018

UNU Surakarta Target Buka Program Doktor Islam Nusantara

Solo, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan -

Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta terus berusaha untuk meningkatkan mutu pendidikan yang mereka miliki. Setelah berhasil dengan 6 program sarjana dan satu pascasarjana, kini UNU Surakarta berencana untuk membuka dua program baru, yakni S1 Teknik dan program doktor (S3) Islam Nusantara.

Hal tersebut disampaikan Rektor UNU Surakarta Mufrod Teguh Mulyo dalam rapat senat terbuka pada Wisuda XIX Program Sarjana dan Magister di Kampus UNU Mojosongo, Jebres, Surakarta, Sabtu (25/2).

UNU Surakarta Target Buka Program Doktor Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
UNU Surakarta Target Buka Program Doktor Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

UNU Surakarta Target Buka Program Doktor Islam Nusantara

“Kami optimis tahun depan dua program itu dibuka. Keduanya sudah diajukan ke Kementerian Agama dan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan,” papar Mufrod.

Dijelaskan Mufrod, untuk Program Pascasarjana yang sudah ada, yakni Studi Magister (S2) PAI telah mendapatkan akreditasi A dari BAN-PT.

Saat ini, imbuh Mufrod, UNU juga telah mengadakan berbagai kerja sama dengan beberapa pihak, untuk mengenalkan UNU di tingkat Internasional. Salah satunya dengan mengadakan pertukaran dosen, dengan Universitas Malaysia dan Universitas of Kuala Lumpur.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dalam kesempatan tersebut, Mufrod juga memberikan pesan kepada para wisudawan agar dapat menjaga nama baik UNU dan mampu bersaing dengan universitas lainnya.

Sebanyak 227 mahasiswa mengikuti proses wisuda. Para wisudawan tersebut berasal dari enam program studi yakni Pendidikan Agama Islam (PAI), Manajemen, Hukum, Teknik, Hukum Keluarga (Ahwal Sakhsiyah), dan Magister PAI. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Nasional, Kiai Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 12 Februari 2018

Jejak Islam di Kamboja (3): Perjuangan Pesantren Qur’an di Phnom Penh

Phnom Penh,Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Hampir dua tahun ini, Ustadz Amir mendirikan pesantren Al-Qur’an yang bernama Jami’ul Muslimin. Imam Masjid Al-Jamee’ Al-Islami itu dibantu oleh Nashirin Syamsuddin, yakni pemuda yang pernah mondok selama 5 tahun di pesantren Sabilul Mukhlasin Magelang, pada 2009 hingga 2014 lalu.

Jejak Islam di Kamboja (3): Perjuangan Pesantren Qur’an di Phnom Penh (Sumber Gambar : Nu Online)
Jejak Islam di Kamboja (3): Perjuangan Pesantren Qur’an di Phnom Penh (Sumber Gambar : Nu Online)

Jejak Islam di Kamboja (3): Perjuangan Pesantren Qur’an di Phnom Penh

Berbeda dengan di Indonesia, istilah pondok pesantren di Kamboja lebih dikenal dengan sebutan “madrasah”. Adapun istilah santri dalam bahasa Khmer (bahasa lokal Kamboja) dinamakan konsah, sedangkan untuk istilah kiai atau ustadz disebut sebagai "tun" atau "kru", namun istilah kru maknanya lebih luas, seperti guru-guru di sekolah umum.

Pesantren Jamiul Muslimin didirikan sebagai tempat untuk fokus menghafalkan Al-Quran. Tujuan pendirian pesantren ini untuk ‘menghidupkan’ lingkungan tengah kota Phnom Penh yang masyarakatnya mayoritas beragama Buddha. Santri-santri di pesantren ini hanya berjumlah 20 orang dimana rata-rata berusia di bawah 17 tahun.Mereka semua berasal dari berbagai daerah di Kamboja.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Nashirin mengatakan, dengan bahasa Melayu yang lumayan fasih, rencananya kelak setelah khatam hafal Al-Qur’an,santri-santri remaja didikannya itu akan dikirim ke berbagai daerah Kamboja untuk menjadi ustadz. Sebenarnya banyak muslim Kamboja yang mencari lembaga pendidikan Islam semacam pesantren. Hanya saja akses serta jumlah pesantren di sana memang masih sedikit.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selain itu, Nashirin yang juga sebagai pembina pesantren Jamiul Muslimin itu mengaku berani menerima 100 santri, namun masalahnya tempatsekarang digunakan tidak mendukung.Di samping itu  tempat tinggal santri juga saat ini masih dalam kompleks masjid. Untuk kegiatan santri selain menghafal Al-Quran, mereka juga mendapatkan jadwal untuk menjadi imam shalat Hajat, bersih lingkungan masjid, dan sebagainya. Beberapa santri ada mempunyai kebiasaan berpuasa sunnah Senin dan Kamis.

Perkembangan Hubungan Keagamaan

Dalam topik lain,Ustadz Amir menambahkan bahwa sekitar sepuluh tahun ini sudah masuk paham Wahabi di kalangan muslim Kamboja, namunjumlah mereka tidak banyak serta tidak berani melakukan hal-hal yang tidak diinginkan oleh mayoritas muslim Kamboja yang mayoritas bermazhab Syafiiyah. Situasinya mungkin tak separah paham Wahabi di Indonesia yang sering kali meresahkan masyarakat muslim yang gemar menjalankan tradisi serta ajaran ulama Aswaja dan Wali Songo.

Saya sendiri sebenarnya penasaran tentang keberadaan makam ulama atau wali yang ada di kawasan ibu kota Phnom Penh Kamboja, namun Ustadz Amir tidak mengetahui secara pasti hal yang saya tanyakan itu.

Ia hanya menceritakan bahwa dahulu pernah hidup seorang alim yang bernama Haji Muhammad Kacik Shagid. Tokoh ini dikenal sebagai ulama yang bisa mengetahui artikicauan-kicauan burung.

Dikisahkan dahulu burung-burung biasanya memberikan informasi tertentu yang hendak disampaikan ke penduduk, dan hanya Haji Muhammad Kacik Shagid yang bisa memahami  kicauan burung. Sayangnya,ulama ini tersebut termasuk di antaranya ulama yang dibunuh oleh rezim Pol Pot. Sayangnya lagi, sosok yang punya karomah tersebut makamnya tidak ditemukan sampai sekarang.

Lebih jauh, dalam pandangan ustadz Amir hubungan muslim dengan umat Buddha di Kamboja sampai hari ini tetap terjalin dengan baik. Semenjak berakhir perang saudara yang dahulu pernah terjadi di Kamboja sebab kudeta yang terjadi beberap kali, hingga saat ini tidak ada pergesekan atau konflik antara kedua agama tersebut.

Apalagi Perdana Menteri Kamboja Han Sen juga membebaskan Muslim Kamboja untuk mendirikan masjid dan melaksanakan kegiatan keislaman, termasuk juga sekarang membolehkan anak perempuan memakai jilbab ke sekolah.

Dalam kesempatan selanjutnya, saya hendak mengunjungi kawasan KM. 7, Chrang Chromres, Phnom Penh, dimana kawasan mayoritas tersebut dihuni oleh muslim. Sebagaimana informasi dari dari Ustadz Amir, banyak jejak Islam dan aktivitas muslim Kamboja yang bisa digali lebih banyak di kawasan tersebut. (M. Zidni Nafi’, santri asal Qudsiyyah Kudus, peserta Program Pemuda Magang Luar Negeri 2017 dari Kemenpora RI)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Sunnah, Nusantara, Nasional Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 29 Januari 2018

Kondisi Makam Ibnu Hajar Al-Asqalani Memprihatinkan

Solo, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Siapa tidak mengenal Syaikh Ibnu Hajar Al-Asqalani? Ulama asal daerah Asqolan ini begitu besar jasanya bagi perkembangan keilmuan Islam, khususnya di bidang ilmu Hadist, melalui beberapa karyanya, antara lain kitab Fathul Bari, Bulughul Maram dan lainnya.

Namun, baru-baru ini terdengar kabar memprihatinkan yang datang dari Mesir, tempat Ibnu Hajar dimakamkan. Diberitakan, kondisi makam penulis kitab Al-Isabah fi Tamyizis Shahabah, ensiklopedi para sahabat, ini dalam kondisi rusak tak terawat.

Kondisi Makam Ibnu Hajar Al-Asqalani Memprihatinkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kondisi Makam Ibnu Hajar Al-Asqalani Memprihatinkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kondisi Makam Ibnu Hajar Al-Asqalani Memprihatinkan

Menurut penuturan Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Agus Maftuh, yang kini tengah berada di Kairo, kondisi atap makam Syaikh Ibnu Hajar sudah hancur dan di luar makam banyak dipenuhi kotoran hewan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Sedih dan trenyuh ketika melihat peristirahatan terakhir (Ibnu Hajar) yang hampir runtuh. Tahun 2005 ketika saya ziarah kondisinya masih bagus, tapi sekarang atapnya sudah hancur dan di depan pintu penuh kotoran hewan karena dijadikan pasar hewan,” ungkap Agus Maftuh dalam akun facebook-nya, Jumat (22/8).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Menurut Agus, kondisi ini diperparah dengan ulah yang dilakukan oleh beberapa oknum yang meletakkan tumpukan tanah di depan pintu makam. “Tumpukan tanah, sengaja ditempatkan di depan pintu agar orang tidak meziarahi ulama besar ini karena Wahabi menganggapnya ‘ulama sesat’ dan makamnya pernah akan mereka hancurkan,” terang Agus.

Penulis pengantar dalam buku Islam Kosmopolitan karya KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu menambahkan, saat ini kota asal Ibnu Hajar, Asqolan atau Asqelon yang kini masuk wilayah Israel, tengah diliput banyak media Internasional. “Semoga barokahe Ibnu Hajar, para kaum Yahudi, Islam, dan Kristen dapat rukun,” pungkasnya. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Nasional Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 26 Januari 2018

Awal November, Peringatan Pengukuhan Wayang sebagai Pusaka Dunia Dimulai

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Yayasan Pesantren Kaliopak, Yogyakarta, akan menggelar peringatan 11 tahun pengukuhan wayang sebagai Adikarya Pusaka Kemanusiaan Dunia oleh Lembaga Kebudayaan PBB (UNESCO). Kegiatan digelar selama sebulan, 1 November – 6 Desember 2014, dipusatkan di Kompleks Pesantren Kaliopak, Piyungan, Yogyakarta.

Rangkaian acara peringatan dilaksanakan oleh Komunitas Rumah Budaya Nusantara Pesantren Kaliopak Piyungan Yogyakarta, atas bantuan dana dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI dan dukungan-dukungan lain dari berbagai lembaga, individu dan komunitas budaya yang peduli.

Awal November, Peringatan Pengukuhan Wayang sebagai Pusaka Dunia Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)
Awal November, Peringatan Pengukuhan Wayang sebagai Pusaka Dunia Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)

Awal November, Peringatan Pengukuhan Wayang sebagai Pusaka Dunia Dimulai

Awal November, Sabtu-Ahad (1-2/11) kegiatan dimulai dengan acara peluncuran di gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, bersamaan dengan pelaksanaan Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar NU.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selanjutnya, peringatan Pengukuhan Wayang sebagai Pusaka Dunia akan dipusatkan di Pesantren Kaliopak Yogyakarta, dimulai dengan Diskusi Pendahuluan “Epos Mahabharata, Lakon-Lakon Wayang Jawa dan Cultural Studies” pada 10 November bersama Ki Herman Sinung Janutama (Spiritualis Jawa di Yogyakarta), Dr. St. Sunardi (Dosen IRB, Univ Sanata Dharma Yogyakarta), dan Dr. Holland C. Taylor (Spiritualis dan Ahli Sastra Jerman dari Harvard University USA).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kegiatan dilanjutkan dengan Seminar Nasional “Wayang dan Krisis Manusia Nusantara, Prof. Dr. Sri Heddy Ahimsa Putra (UGM), Dr. Sindhunata SJ. (Majalah Basis), M. Jadul Maula (Pesantren Kaliopak) pada 17 November. Rais Aam PBNU KH Musthofa Bisri dijadwalkan menyampaikan pidato iftitah dalam seminar ini.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan hingga 6 Desember berturut-turut mulain Belajar Bersama “Pesantren, Wayang, dan Jatidiri Bangsa”, Pameran Bentuk-bentuk dan Komik Wayang, Lomba Mewarnai dan Dongeng Wayang, Wayang Edukatif, Pentas Seni Tradisi dan Modern, dan Pagelaran Wayang Kulit.

Pagelaran Wayang Kulit diselenggarakan pada 6 Desember sebagai puncak acara, sekaligus penutup kegiatan pameran dan rangkaian event publik lainnya, akan digelar wayang kulit semalam suntuk, dengan lakon “Ilange Pusaka Jamus Kalimasadha”, dalang Ki Gondo Suharno. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Nasional, Pondok Pesantren, Ahlussunnah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 12 Januari 2018

Ali Masykur Pimpin PKB kubu Gus Dur

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Terjawab sudah teka-teki siapa yang bakal menempati posisi Ketua Umum Dewan Tanfidz DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) kubu Ketua Umum Dewan Syura KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Dia adalah Ali Masykur Moesa.



Ali Masykur Pimpin PKB kubu Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Ali Masykur Pimpin PKB kubu Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Ali Masykur Pimpin PKB kubu Gus Dur

Ali Masykur yang sebelumnya merupakan Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum Dewan Tanfidz menggantikan Muhaimin Iskandar, terpilih secara aklamasi. Ia ditunjuk oleh tim asistensi yang bertugas membantu Gus Dur menentukan ketua umum.

"Dengan ini tim asistensi yang membantu ketua dewan syuro sepakat menunjuk dan mengangkat saudara Ali Masykur Moesa sebagai Ketua Umum PKB," kata anggota tim asistensi yang juga Ketua DPW Kalimantan Selatan Rosehan N.B. saat membacakan hasil akhir rapat pleno tim formatur di arena Muktamar Luar Biasa (MLB) PKB Gus Dur, di Parung, Bogor, Jawa Barat, Kamis (1/5).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

 

Penunjukan Ali Masykur ini untuk mengisi jabatan lowong yang ditinggalkan Muhaimin. Ali Masykur akan menjabat posisi ketua umum PKB untuk masa jabatan 2008-2010.

Gus Dur menyatakan, penunjukan Ali Masykur sebagai ketua umum PKB untuk tidak mengurangi kekompakan DPP PKB kubunya. Diharapkan dengan perubahan yang tidak banyak mempermudah proses selanjutnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Setelah kami bersidang diputuskan susunan DPP PKB yang baru. Dan, sebenarnya hanya ada perubahan kecil saja agar tidak mengurangi kekompakan kita," kata Gus Dur.

Sebelumnya, sempat mengemuka tiga nama yang bakal mengisi posisi ketua umum Dewan Tanfidz. Di antaranya, Ali Masykur, Zanubah Arifah Chafsoh (Yenny Wahid) dan Muamir Muin Syam. Namun, Yenny kemudia menolak dipilih sekaligus mendukung Ali Masykur.

Dalam pidatonya, Yenny Wahid menegaskan dirinya tidak bersedia maju dalam pemilihan Ketua Umum PKB. Menurut Yenny, langkah ini diambil untuk menghargai ayahnya Gus Dur, yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Syuro PKB.

"Saya berharap keputusan ini membuat MLB PKB happy ending (berakhir bahagia)," ujar Yenny yang selanjutnya meminta peserta MLB mendukung Ali Masykur selaku ketua umum. (rif/mkf/dtc)Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Daerah, Tokoh, Nasional Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 23 Desember 2017

Catatan Hari Santri; Jihad “Kebangkitan Ekonomi”

Oleh: Ferhadz Ammar Muhammad*

Wahai para pemuda putera bangsa yang cerdik pandai dan para ustadz yang mulia, mengapa kalian tidak mendirikan saja suatu badan usaha ekonomi yang beroperasi, di mana setiap kota terdapat satu badan usaha yang otonom. Badan usaha ini secara khusus untuk kaum ulama dan bagi lainnya yang masuk kaum terpelajar. Dari badan usaha ini didirikan suatu darun nadwah (balai pertemuan) sebagaimana yang dilakukan para sahabat. (Kutipan paragraf “Piagam Nahdlatut Tujjar” dalam Mun’im DZ, ed., Piagam Perjuangan Kebangsaan; 2011, 28).

Empat hari yang lalu, 22 Oktober 2017, negeri ini kembali menemukan fungsinya. Bukan dari gelaran forum para profesor dan peneliti luar negeri, melainkan gerombolan para santri dari bilik-bilik bumi pertiwi. Peringatan itu membawa memori seluruh warga Indonesia pada kejadian 72 tahun silam, Resolusi Jihad oleh Hadhratussyaikh Hasyim Asy’ari namanya. Bukan berupa teks mempertahankan negeri semata, melainkan menjadi ruh ad-da’wah bagi pengisian kemerdekaan dan kedaulatan bangsa.

Catatan Hari Santri; Jihad “Kebangkitan Ekonomi” (Sumber Gambar : Nu Online)
Catatan Hari Santri; Jihad “Kebangkitan Ekonomi” (Sumber Gambar : Nu Online)

Catatan Hari Santri; Jihad “Kebangkitan Ekonomi”

Sebagai seorang yang beragama, setiap peristiwa pasti membawa hikmah, sebab Qur’an pun mengajak para manusia agar mengambil pelajaran dibalik setiap kejadian. Demikian juga dalam upacara peringatan “Hari Santri 2017” itu. Banyak sekali spirit yang bisa diteruskan pada generasi kini dan nanti. Sebagai bagian dari santri, penulis akan mencoba merefleksikan acara tersebutdengan mengambil fokus pada kemandirian ekonomi sebagai upaya agar pesan dan spirit Hari Santri 2017 ini tetap abadi.

Gerakan Pedagang

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Gagasan ekonomi diHari Santri 2017 lahir dari catatan dan wacana serta diskusi panjang oleh tokoh-tokoh NU sekarang. Akan tetapi jauh sebelum itu, dibalik segala ide yang pernah hadir di kalangan Nahdlatul Ulama, tentu fakta sejarah Nahdlatul Tujjar adalah dasar dari segala rancangan ekonomi jam’iyyah terbesar itu.Nahdlatul Tujjar ini erat kaitannya dengan kemasyhuran Surabaya sebagai kota dagang dan industri sekitar awal abad ke-20,serta daerah dengan puncak arus perdagangan yang penting di kancah nasional maupun internasional. Hampir semua komponen masyarakat, tidak terkecuali para kyai, memiliki relasi perdagangan di kota ini. Ketatnya persaingan antar pedagang pun tidak bisa dielakkan. Oleh karena itu, para kyai yang terlibat dalam persinggungan dengan kelompok pedagang lain berupaya untuk membangun basis ekonomi bersama demi melindungi kegiatan ekonomi yang digunakan untuk tujuan pengembangan dakwah dan kemandirian pesantren. Maka di tahun 1918, saat para pedagang saling mendirikan perkumpulan-semacam gank dagang-, para kyai yang dimotori oleh Hadhratusyaikh Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Chasbullah bersepakat untuk mendirikan sebuah perkumpulan yang bernama Gerakan Pedagang (Nahdlatul Tujjar).

Lewat Badan Usaha Al-Inan yang dimilikinya, Nahdlatul Tujjar mulai merangsak naik menjadi organisasi saudagar

yang diperhitungkan. Berkat kemandirian itu, para kyai pesantren semakin lantang menyuarakan kebenaran sesuai dengan keyakinan mereka tanpa takut jikalau ekonomi pesantrennya digencet oleh pihak luar. Bahkan saat kyai pesantren didiskriminasi oleh kalangan luar kaitannya dengan pendelegasian untuk Kongres Islam, mereka berani berangkat secara mandiri untuk tetap mengikuti Kongres Islam di Arab Saudi, sebab menyangkut aqidah yang tidak bisa ditawar lagi. Para kyai pesantren tentu telah mengkalkulasi semuanya, mulai dari persiapan argumen rasional dan biaya. Khusus yang terakhir, yakni biaya, syukur alhamdulillah para kyai yang dikenal dengan sebutan Komite Hijazitu terbiayai dengan adanya Badan Usaha Al-Inan milik Nahdlatul Tujjar, sehingga usaha untuk menyelamatkan makam nabi dari arogansi Wahabi, dan kebebasan bermadzhab di Haramain bisa terlaksana (Mun’im DZ, ed.; 2011, 25).

Setelah Nahdlatul Ulama berdiri pada tahun 1926, otomatis segala kegiatan dan spirit perjuangan Nahdlatul Tujjar pun ikut melebur ke dalamnya. Bahkan di tahun awal NU berjalan, para anggota Tanfidziyah justru banyak dihuni oleh para saudagar, pengusaha kecil, dan pemilik tanah. Format yang demikian itu mengindikasikan bahwa ekonomi merupakan syarat penting bagi progresivitas organisasi. Sinyal ini cepat ditangkap oleh warga NU terutama di kota-kota besar. Hingga di tahun 1929 di Surabaya, beberapa tokoh NU mendirikan koperasi kaum muslimin yang berfungsi untuk mengorganisir barter atau penjualan barang dari para petani dan pengusaha kecil tradisionalis, seperti gula, kacang, minyak goreng, sayur-mayur, dan lain sebagainya. Spirit ini pun menginspirasi generasi di tahun-tahun berikutnya. Pada tahun 1937, lahirlah Syirkah Mu’awanah, sebuah koperasi yang jaringannya sudah meluas bahkan sampai ke dunia internasional, dengan pokok kegiatan yakni memperdagangkan hasil pertanian, batik, hasil laut, rokok, dan sabun  (Greg Fealy, Ijtihad Politik Ulama; 2003, 42).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dan sekarang, spirit Nahdlatul Tujjar kembali bergelora. Mengambil momentum peringatan (bukan hanya perayaan) “Resolusi Jihad”, semua warga Nahdliyyin berbondong-bondong hadir di pusat peringatan dengan meneriakkan “Santri Mandiri NKRI Hebat”. Jargon itu sungguh menyuntikkan semangat baru. Diskusi mengenai pesan yang dibawa oleh PBNU turut menghiasi perkumpulan para santri. Dari diskusi itu lahir ide dan gagasan menarik yang perlu ditindaklanjuti (follow up), missal pemantapan LAZISNU, sosialisasi ekonomi hijau di desa-desa, dan lain sebagainya.

Ekonomi Inspiratif

Sekarang ini umat Islam dihadapkan pada fakta merebaknya lebelisasi berupa “ekonomi syar’i”, seakan-akan yang diluar konsep itu dianggap tidak Islami. Justru mengkultuskan dan mengarahkan interpretasi ekonominya pada model atau lebel “ekonomi syar’i” membuat Islam terlihat tertutup, dan cenderung bersifat imajinatif-simbolis. Meski demikian, umat juga tidak lantas musti berdiri di barisan para penganut system ekonomi kapitalis kini. Lantas bagaimana jalan yang paling realistis untuk ditempuh? Jawabnya tentulah mengupayakan pertautan esensi atau spirit di antara keduanya. Dalam hal ini, beberapa batas-batas prinsipil musti dipahami dalam praktik pengimplementasian ekonomi, agar tidak keluar dari maqashid fiqh iqtishadi. KH. Said Aqil Siradj (2006; 369-371) telah jauh membahas hal ini dengan menekankan enam prinsip dasar: 1) keadilan dalam distribusi kekayaan (al-‘adalah al-ijtima’iyah), 2) Jaminan atas hak-hak dasar kemanusiaan (al-kulliyah al-khams), 3) Kesejahteraan indvidu dan masyarakat (ar-rafahiyah al-fardiyah wa-l-ijtima’iyah), 4) Persamaan derajat (al-musawah), 5) kebebasan (al-hurriyyah), dan 6) Moderasi (at-tawassuth).

Jika kegiatan ekonomi yang dijalankan didasari dengan enam prinsip di atas, maka “kebijaksanaan ekonomi” bukanlah hal yang utopis. Ia (sistem ekonomi tersebut) lebih mengedepankan isi atau substansi Islam daripada terpaku untuk menampakkan simbol, yang bisa menciptakan eksklusifitas sendiri dihadapan kelompok sosial yang lain. Ia juga tidak berarti mengikuti segala doktrin dan model ekonomi modern (masyarakat industrial) yang justru akan menyebabkan absennya kesejahteraan sosial secara merata. Statement yang terakhir secara tidak langsung menjawab keraguan John Wesley-sebagaimana dikutip Max Weber (2006; 186-187)-saat membahas tentang masuknya doktrin agama di sektor ekonomi. Wesley sempat menulis:

“Saya takut, ketika kekayaan meningkat, esensi agama juga merosot pada proporsi yang sama… sebab agama secara pasti menghasilkan industry dan juga sikap hemat, dan keduanya tidak dapat menghasilkan apa-apa kecuali kekayaan. Akan tetapi ketika orang-orang kaya meningkat maka kesombongan, kemarahan, dan cinta terhadap dunia di dalam segala cabangnya juga akan meningkat…”

Meski Wesley memberi solusi atas fenomena demikian dengan cara “siapa saja yang dapat mencapai segalanya yang bisa mereka dapatkan dan menyimpan semua yang bisa mereka simpan, mereka juga harus memberikan semua yang bisa mereka berikan,…”, tetapi tetap saja belum memberi jawaban konkrit atas timbulnya kekhawatiran dalam bentuk arogansi kekayaan, karena-menurut Weber- corak ekonomi yang lahir di zaman modern sudah dianggap tidak ada hubungannya dengan panggilan spiritual. Tentunya ini berbeda dengan keyakinan KH. Saiq Aqil, bahwa “…ikatan-ikatan agama tidak bisa dilepaskan dalam praktik ekonomi.” Meski konteks keduanya berbeda--KH. Said Aqil berbicara mengenai ekonomi dalam ajaran Islam, sedang Weber tentang kapitalisme dalam etika protestan--tetapi keduanya bisa melahirkan dialektika mengenai peran agama dalam dinamika ekonomi dunia. Dalam hal inilah gagasan alternative yang dibawa KH. Saiq Aqil memberi solusi realistis. Pada sektor pemenuhan kesejahteraan, para ahli agama dituntut untuk menggalakkan ghirrah perekonomian lewat upaya yang kreatif dan prospektif. Namun, agar tidak keluar dari tujuan kehidupan, yakni kepentingan sosial, maka pada sektor pemerataan, tokoh agama perlu mendorong negara lewat instrumen sosialnya agar membuat regulasi guna mengatur perputaran roda ekonomi.

Follow-up

Saat turut serta menghadiri peringatan Hari Santri, penulis sendiri justru langsung teringat dengan ajakan Hadhratussyaikh dalam Mukaddimah Qanun Asasi. Jika diperhatikan secara saksama di kalimat ajakan itu, Hadhratussyaikh menempatkan para kelompok berdasar klasifikasi ekonomi-sosial diurutan awal. Lebih lengkapnya:

“Marilah anda semua dan segenap pengikut anda dari golongan para fakir miskin, para hartawan, rakyat jelata dan orang-orang kuat, berbondong-bondonglah masuk jam’iyah yang diberi nama “Jam’iyah Nahdlatul Ulama.”

Akhirnya, bukan tanpa alasan Hadhratussyaikh membuat urutan yang demikian. Terlepas dari interpretasi itu, yang terpenting adalah para warga Nahdliyin semua telah menunjukkan konsistensi menjaga NKRI, terutama lewat sokongan ekonomi, dan ini harus ditindaklanjuti, sebab apa yang terlaksana di Hari Santri 2017 tidak mungkin berhenti. Acara memang sudah berakhir, tetapi cita-cita, ide, dan gagasan akan senantiasa mengalir.

(Penulis adalah aktivis PMII DI Yogyakarta, Nahdliyin Cabang Lasem, dan santri Pesantren Tahfidz Nurul Aziz Sarang)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Hadits, Nasional, Doa Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 09 Desember 2017

Maarif NU Protes SE Mendagri Larang APBD untuk Madrasah

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pengurus Pusat Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (PP LP Ma’arif NU) memprotes Surat Edaran (SE) Menteri Dalam Negeri yang melarang Pemerintah Daerah mengalokasikan dana APBN untuk pengambangan mutu pendidikan madrasah.

Lembaga departementasi Nahdlatul Ulama (NU) itu melayangkan surat protes dan keberatan atas kebijakan tersebut.

Maarif NU Protes SE Mendagri Larang APBD untuk Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)
Maarif NU Protes SE Mendagri Larang APBD untuk Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)

Maarif NU Protes SE Mendagri Larang APBD untuk Madrasah

Sekretaris PP LP Ma’arif NU Dr. Mamat S. Burhanuddin menyatakan, bahwa SE yang dikeluarkan Mendagri tersebut syarat dengan muatan diskriminasi, sehingga bertentangan dengan Pasal 31 UUD 1945, dan Pasal 4 ayat (1) serta Pasal 55 ayat (4) UU Sisdiknas No. 20/2003.

“Ini bukti bahwa sistem pendidikan nasional kita berjalan masih sangat diskriminatif. Peserta didik yang belajar di sekolah atau madrasah kan sama-sama anak bangsa Indonesia, sehingga mereka memiliki hak sama dari pemerintah. Tidak dibenarkan pemerintah daerah hanya diperbolehkan membantu peserta didik yang ada di sekolah saja,  sedangkan peserta didik yang belajar di madrasah tidak boleh diberi bantuan dari APBD, ini jelas tidak adil,” tandasnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selain itu, ia menambahkan, kebijakan ini mencerminkan bahwa pemerintah tidak memiliki sensitifitas terhadap problematika pendidikan madrasah. Mendagri harusnya mengapresiasi pendidikan madrasah, baik formal maupun non-formal sebagai bentuk peran kongkrit masyarakat dalam membangun bangsa dan negara, bukan malah memberangus dengan mengeluarkan kebijakan yang diskriminatif.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Sampai saat ini, secara keseluruhan jumlah madrasah adalah 90% swasta, yang negeri hanya sekitar 10%. Bahkan madrasah non-formal seperti Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) 100% semuanya swasta, didirikan oleh masyarakat dengan tulus untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Terus kenapa hal yang demikian malah tidak diperhatikan oleh pemerintah?” lanjut Mamat.

Ia menekankan bahwa PP LP Ma’arif NU sebagai kepanjangan tangan PBNU akan terus mendesak kepada Mendagri agar membatalkan SE tersebut. “Surat keberatan sudah kami kirim ke Mendagri. Jika dalam 7 x 24 jam tidak ada perkembangan, maka kami akan menindaklanjuti lebih tegas lagi,” ujarnya. 

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Nasional, Humor Islam, Amalan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 02 Desember 2017

Peduli Longsor Ponorogo, NU Care Nganjuk Gandeng Komunitas Muda

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - NU Care Nganjuk menggandeng komunitas muda NU dalam penggalangan dana untuk membantu warga terdampak bencana tanah longsor Ponorogo. Penggalangan dana berlangsung selama sepekan, 2-9 April 2017.

Komunitas muda NU Nganjuk yang dilibatkan adalah Komisariat PMII Al-Farabi dan Pangeran Diponegoro, Barak Bangsa Nganjuk, serta Badan Eeksekutif Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul Ula (BEM STAIM).

Peduli Longsor Ponorogo, NU Care Nganjuk Gandeng Komunitas Muda (Sumber Gambar : Nu Online)
Peduli Longsor Ponorogo, NU Care Nganjuk Gandeng Komunitas Muda (Sumber Gambar : Nu Online)

Peduli Longsor Ponorogo, NU Care Nganjuk Gandeng Komunitas Muda

Dana yang terkumpul hingga Rabu (5/4) telah disalurkan kepada warga terdampak. Penyerahan bantuan dilakukan Kamis (6/4). Dalam penyerahan tersebut tim NU Care Nganjuk dipandu Rais Syuriyah MWCNU Kertosono KH Muhtarom Fauzan serta Hj Ni’matur Rohmah dari Fundraising NU Care Nganjuk. Mereka meninjau lokasi bencana longsor Ponorogo di Desa Banaran.

Rombongan juga didampingi Camat Kertosono Sopingi yang sangat mengapresiasi upaya NU Care LAZISNU dalam merangkul semua pihak untuk bersama-sama melakukan upaya tanggap becana.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ketua Komisariat PMII Al-Farabi Mukhlis dan Presiden BEM STAIM Thoyib mengagendakan untuk datang ke lokasi longsor dan bertemu langsung dengan warga terdampak longsor yang saat ini secara mental masih mengalami trauma.

Sekretaris LAZISNU Nganjuk Moch Masyhuri berharap, pada penyaluran berikutnya LAZISNU Nganjuk akan mampu berkontribusi pada pemulihan aktivitas ekonomi pascabencana.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Upaya pemulihan infrastuktur sarana umum, utamanya sarana pendidikan dan kesehatan,” kata Masyhuri.

Di tempat terpisah, tokoh NU Nganjuk KH Ali Musthofa Said sangat mengapresiasi apa yang telah dilakukan NU Care LAZISNU Nganjuk, keluarga besar MWC NU Kertosono, serta komunitas muda nadhliyin Nganjuk.

“Kepedulian ini bisa menjadikan NU lebih terasa bagi masyarakat umumnya, dan nahdliyin khusunya,” kata Kiai Ali. (Kendi Setiawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Budaya, Nasional Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 25 November 2017

Santri dan Pelajar Didorong Lestarikan Budaya Menulis

Jepara, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Wakil Ketua PCNU Jepara, Hisyam Zamroni yang didaulat membuka kegiatan presentasi lomba menulis opini yang dihelat LTN PCNU Jepara, Rabu (23/3) lalu memantik 10 peserta terbaik tersebut.?

Santri dan Pelajar Didorong Lestarikan Budaya Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri dan Pelajar Didorong Lestarikan Budaya Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri dan Pelajar Didorong Lestarikan Budaya Menulis

“Kalian adalah salah satu penerus budaya tulis-menulis. Karena saat ini penulis masih sangat kurang jumlahnya,” tegas Hisyam saat membuka presentasi lomba yang berlangsung di gedung NU Jepara ini.?

Ia meyakinkan peserta jika tiada penerus Bukhari dan Muslim niscaya kelak akan hilang. Orang yang pintar tegasnya wajib menulis. Dulu, papar Kepala KUA Keling Jepara manusia ditradisikan dengan budaya lisan. Pidato maupun khutbah adalah misal tradisi lisan.?

Sehingga ada istilah tutur tinular merupakan gambaran dari tradisi lisan. Tradisi lisan menurut alumnus Pascasarjana UIN Walisongo Semarang ini dapat bernilai kebenaran sebagaimana Nabi Muhammad memberikan sabda kepada sahabat-sahabatnya.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Tradisi menghafal al-Qur’an juga bagian dari bahasa tutur. Untuk itu, saat ini sudah saatnya pelajar dan santri sebagai penerus budaya tulis.?

“Jadikan menulis hal yang nikmat. Kegiatan yang sangat enjoy,” imbuhnya.

Kegiatan tersebut merupakan awal bukan akhir. Kepada peserta dirinya juga meyakinkan bahwa orang bisa hidup lantaran menulis.?

Apa saja bisa ditulis. Tidak terkecuali potensi-potensi yang ada di kampung dengan versi masing-masing. “Ayo kita kembangkan budaya tulis kita,” ajaknya.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Lomba menulis opini bertema “Rahmat Kemajemukan Itu Nyata” merupakan agenda perdana LTN PCNU Jepara masa khidmah 2015-2020. Naskah yang masuk ke panitia yang berjumlah puluhan kemudian dikerucutkan menjadi 10 besar.?

Pemenang lomba yang mencakup isi dan tulisan kata Muhammadun Sanomae, Ketua LTN PCNU Jepara akan diumumkan di web nujepara.or.id dalam waktu dekat ini.?

“Profil juara I akan dipublikasikan di Suara Merdeka,” pungkas Kepala Biro Suara Muria (Suara Merdeka) ini. (Syaiful Mustaqim/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Tegal, Nasional Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 24 November 2017

3000 Lebih Mahasiswa Baru UIN Sunan Kalijaga Gemakan Ya Lal Wathan

Yogyakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Dalam rangka menerima mahasiswa baru UIN Sunan Kalijaga melaksanakan PBAK (Pengenalan Budaya akademik dan kemahasiswaan), Kamis-Sabtu, 24-26 Agustus 2017 yang diikuti 3000 lebih mahasiswa baru dari berbagai daerah seluruh nusantara.

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Prof Dr Amin Abdullah ini UIN Sunan Kalijaga ini mengangkat tema Membangkitkan Nilai Nasionalisme dan Keislaman

3000 Lebih Mahasiswa Baru UIN Sunan Kalijaga Gemakan Ya Lal Wathan (Sumber Gambar : Nu Online)
3000 Lebih Mahasiswa Baru UIN Sunan Kalijaga Gemakan Ya Lal Wathan (Sumber Gambar : Nu Online)

3000 Lebih Mahasiswa Baru UIN Sunan Kalijaga Gemakan Ya Lal Wathan

Dalam Sambutan Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof Yudian Wahyudi, Ph.D mengingatkan agar mahasiswa baru bisa mencintai Indonesia sebagai bangsa yang majemuk tanpa menghilangkan nilai-nilai keislaman dan agar memiliki jiwa nasionalisme.

Yudian juga mengingatkan agar mahasiswa baru UIN Sunan Kalijaga tidak bergabung dengan oraganisasi yang anti-NKRI. Sebab itu dalam kesempatan ini, Alumni Pondok Pesantren Termas Pacitan itu mengajak para mahasiswa baru menyanyikan lagu Ya Lal Wathan. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Hal itu juga dipersiapkan oleh Panitia Pelaksana PBAK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagai cara pembangkit semangat nasionalisme dan cinta NKRI. Suara padu menggema dari mahasiswa baru sembari mengepalkan tangan.

 

Salah seorang panitia, Ahmad Ainul Fahruri menjelaskan, perlu diketahui bahwa pencipta Mars Subhanul Wathon adalah KH Abdul Wahab Chasbullah, penggerak dan perintis awal berdirinya Nahdlatul Ulama, dengan tujuan agar membangkitkan semangat perjuangan  para santri dalam mengusir penjajah. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Lumrah saja ketika mahasiswa UIN Sunan Kalijaga mempunyai semangat mencintai bangsa,” ujar Mahasiswa Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam ini. 

Menyanyikan lagu Ya Lal Wathan juga diinisiasi panitia untuk menanamkan cinta tanah air kepada mahasiswa baru agar ketika berproses menjadi mahasiswa tidak salah langkah dalam berorganisasi. (Fahri/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan AlaNu, Lomba, Nasional Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 21 November 2017

PBNU: Selesaikan Masalah di Papua Secara Persuasif

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan 

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyampaikan keprihatinan mendalam atas peristiwa penembakan di Papua yang mengakibatkan 8 personel TNI dan 4 warga sipil meninggal dunia, serta 5 orang lainnya menderita luka.



PBNU: Selesaikan Masalah di Papua Secara Persuasif (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Selesaikan Masalah di Papua Secara Persuasif (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Selesaikan Masalah di Papua Secara Persuasif

NU mendesak aparat keamanan segera menuntaskan permasalahan tersebut, namun tidak dengan cara-cara represif. 

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, mengatakan peristiwa penembakan kali ini menambah panjang daftar kekerasan di Papua. Polisi dan TNI sebagai aparat penegak hukum diminta secepatnya mengambil langkah bijak penyelesaian. 

"Siapapun pelakunya, kelompok separatisme atau yang lain dengan tujuan tertentu, (penembakan) ini adalah kriminal. Pelakunya harus segera ditangkap dan dihukum seberat-beratnya," tegas Kiai Said di Jakarta, Jumat ( 22/2/2013). 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kiai Said juga mengungkapkan rasa dukacita dan belasungkawa kepada seluruh keluarga korban penembakan tersebut. "Atas nama pribadi dan seluruh Nahdliyin, kami ikut berdukacita. Semoga Allah mengampuni dosa seluruh korban, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan," lanjutnya.  

Untuk penuntasan masalah kekerasan di Papua, Kiai Said meminta agar tidak dilakukan dengan mengedepankan cara-cara kekerasan. Ruang dialog sebagai sarana mengurai permasalahan dan menemukan jalan keluar disarankan untuk diperbanyak digelar. 

"Pemerintah pernah sukses menerapkan cara-cara itu di Aceh. Di Papua karakteristiknya tidak jauh berbeda. Jadi saya minta Pemerintah membuka sebanyak-banyaknya ruang dialog, libatkan masyarakat setempat untuk mencari jalan keluar terbaik," urai Kiai bergelar Doktor lulusan Universitas Ummul Qura, Mekah, ini. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Menjadi satu agenda dalam penuntasan masalah di Papua, Kiai Said juga mendesak Pemerintah untuk segera merealisasikan peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat. PBNU diakuinya pernah menerima aduan masyarakat Papua perihal kesenjangan kesejahteraan tersebut. 

"Papua sangat kaya, tapi masyarakatnya tidak merasakan itu secara utuh. Ini juga menjadi PR Pemerintah untuk segera diselesaikan, sekaligus menjadi salah satu cara penyelesaian masalah kekerasan," pungkas Kiai Said. 

Seperti diberitakan, peristiwa penembakan terjadi di dua lokasi berbeda di Papua. Pertama terjadi di posko Tinggi Nambut, Kabupaten Puncak Jaya, yang menewaskan  seorang personel TNI atas nama Pratu Wahyu Prabowo.

Penembakan kedua terjadi di Kampung Tangulinik, Distrik Sinak, Kabupaten Puncak. 7 personel TNI tewas dalam peristiwa tersebut, yaitu Sertu Ramadhan, Pratu Edi, Praka Jojo Wiharja, Pratu Mustofa, Praka Wempi, Sertu Udin, dan Sertu Frans. Dalam perkembangannya 4 warga sipil juga menjadi korban jiwa dalam peristiwa ini.

 

Redaktur: Hamzah Sahal

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan PonPes, Nasional, Tokoh Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 20 November 2017

Hukum Tumbal Untuk Tolak Gangguan Makhluk Halus

Seringkali kita mendapati gejala yang ditimbulkan oleh makhluk ghaib. Kalau tidak menakutkan, aktivitas mereka tidak jarang mengganggu hingga sesekali bahkan membunuh manusia. Manusia pun memiliki rupa-rupa cara dalam menanggapi gangguan ini mulai dari doa, ritual tertentu, hingga mengorbankan makhluk hidup lainnya (tumbal).

Islam sendiri tidak menutup mata atas kehadiran juga gangguan makhluk halus baik inisiatif sendiri atau dikendalikan oleh orang-orang yang dengki. Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Mu’in mengatakan sebagai berikut,

Hukum Tumbal Untuk Tolak Gangguan Makhluk Halus (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Tumbal Untuk Tolak Gangguan Makhluk Halus (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Tumbal Untuk Tolak Gangguan Makhluk Halus

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Siapa saja yang memotong (hewan) karena taqarrub kepada Allah dengan maksud menolak gangguan jin, maka dagingnya halal dimakan. Tetapi kalau jin-jin itu yang ditaqarrubkan, maka daging sembelihannya haram.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Perihal keterangan di atas, Syekh Sayid Bakri bin Sayid M Syatho Dimyathi dalam I‘anatut Tholibin menerangkan,

)? ? ( ? ? ? ? ? ? ? ? ) ? ? ? ( ? ? ? ? ? ? ? ) ? ? ? ? ( ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ) ? ? ( ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ) ? ? ? ( ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

(Siapa saja yang memotong [hewan]) seperti unta, sapi, atau kambing (karena taqarrub kepada Allah) yang diniatkan taqarrub dan ibadah kepada-Nya semata (dengan maksud menolak gangguan jin) sebagai dasar tindakan pemotongan hewan. Taqarrub dengan yakin bahwa Allah dapat melindungi pemotongnya dari gangguan jin, (maka daging) hewan sembelihan-(nya halal dimakan) hewan sembelihannya menjadi hewan qurban karena ditujukan kepada Allah, bukan selain-Nya.

(Tetapi kalau jin-jin itu) bukan Allah (yang ditaqarrubkan, maka daging sembelihannya haram) karena tergolong daging bangkai. Bahkan, jika seseorang berniat taqarrub dan mengabdi pada jin, maka tindakannya terbilang kufur. Persis seperti yang sudah dibahas perihal penyembelihan hewan ketika berjumpa dengan penguasa atau berziarah menuju makam wali.

Nilai sebuah tindakan penumbalan dapat diukur dari niat pelakunya. Sementara hanya Allah SWT yang mengetahui niat-niat hamba-Nya. Perihal dicampuri dengan upacara-upacara atau tempat khusus yang menyertai penumbalan sejauh tidak mengandung maksiat seperti minum kandungan khamar atau perzinaan, hingga kini tidak ada keterangan syara’ yang melarang itu. Wallahul muwaffiq ila aqwamit thoriq. Wallahu A‘lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Nasional Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 16 November 2017

PP GP Ansor Siap Luncurkan Kursus Keaswajaan

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Untuk penguatan kader, PP GP Ansor akan mengadakan Kursus Keaswajaan yang akan diluncurkan pukul 15.00, Kamis sore, 26 Juli 2012 di kantor PP GP Ansor, jalan Kramat Raya nomor 65.A, Jakarta Pusat. Kursus ini akan dibuka oleh KH Malik Madani, Katib Aam PBNU.

“Kursus Keaswajaan ini sedikitnya akan diikuti oleh enam puluh peserta. Selain kader PP GP. Ansor, para peserta terdiri dari jajaran Pengurus Wilayah, Pengurus Cabang, Pengurus Anak Cabang GP Ansor DKI Jakarta, IPNU, dan PMII,” ungkap Hasan Sagala, panitia Kursus kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan di aula lantai dasar kantor PP GP Ansor, jalan Kramat Raya nomor 65.A, Jakarta Pusat, Rabu (25/7) malam.

PP GP Ansor Siap Luncurkan Kursus Keaswajaan (Sumber Gambar : Nu Online)
PP GP Ansor Siap Luncurkan Kursus Keaswajaan (Sumber Gambar : Nu Online)

PP GP Ansor Siap Luncurkan Kursus Keaswajaan

Menurut Sagala, dari enam puluh peserta, panitia kursus akan membagi mereka menjadi dua; kelas A dan kelas B. Mereka akan mengikuti kursus tersebut selama enam kali pertemuan sesuai jadwal yang ditentukan panitia.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dalam jadwal kursus, kepanitiaan menetapkan hari Senin dan Rabu bagi peserta kelas A. Sementara jadwal kursus bagi peserta kelas B adalah hari Selasa dan Kamis. Pembagian jadwal dan kelas seperti ini bertujuan untuk mengondisikan forum lebih efektif.

Para peserta akan menerima materi keaswaajaan baik dari pelbagai sisi, antara lain sejarah, tauhid, syariah, tasawuf, dan politik. Materi aswaja akan diuraikan secara komprehensif dari pelbagai aspek. Selain mengejar pembahasan komprehensif, panitia juga menyediakan pengisi materi yang mumpuni untuk memngupas materi secara mendalam.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pengisi materi antara lain adalah KH Malik Madani, KH Tolchah Hasan, KH Mashdar F. Mas’udi, dan KH Yahya C. Staquff. Uraian mendalam mereka diharapkan dapat membekali para peserta kursus dengan kematangan materi aswaja.

Penyelenggaraan kursus ini diadakan dalam rangka pelaksanaan PO baru yang diatur belakangan dalam Konbes di PP Alhamid, Cilangkap, Jakarta Timur, tambah Sagala. Selain itu, lewat kursus ini, GP Ansor bermaksud untuk memperkuat pemahaman aswaja di tingkat bawah. Karena, mereka berhadapan langsung dengan tantangan-tantangan dari luar.

Kata Sagala, pembekalan ini juga bisa dianggap sebagai matrikulasi bagi kader-kader GP. Ansor yang baru mengenal permukaan aswaja. Forum kursus ini dapat mengakomodir para peserta untuk bersama meningkatkan sinergi dalam sebuah gerakan yang berhaluan aswaja.

Kursus ini akan konsentrasi membahas hanya materi aswaja. Forum ini tidak menyinggung materi-materi lain yang tidak terkait aswaja, tandas Sagala. ? ? ?

?

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis ? : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pertandingan, Nasional Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 11 November 2017

JQHNU Sumedang Masyarakatkan Al-Quran ke Desa-desa

Sumedang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Pengurus Jamiyyatul Qurro Wal Hufadz (JQH) Nahdlatul Ulama Kabupaten Sumedang mengadakan sema’an Al-Quran dengan tokoh masyarakat, santri, kiai, umara di Madrasah Nurul Hidayah Desa Cinulang Kecamatan Cimanggung Kabupaten Sumedang, Ahad (6/3). JQHNU Sumedang tengah menggalakan sema’an Al-Quran untuk memperkenalkan diri di tengah masyarakat.

Para peserta yang hadir berjumlah 70 orang yang berasal dari berbagai kalangan. Mereka semua sangat antusias dalam mengikuti kegiatan ini.

JQHNU Sumedang Masyarakatkan Al-Quran ke Desa-desa (Sumber Gambar : Nu Online)
JQHNU Sumedang Masyarakatkan Al-Quran ke Desa-desa (Sumber Gambar : Nu Online)

JQHNU Sumedang Masyarakatkan Al-Quran ke Desa-desa

Kegiatan tersebut digunakan juga sebagai sarana untuk sosialisasi dan konsolidasi banom JQH. Ketua JQHNU Sumedang Ahmad Jauharudin mengutarakan, "Masih banyak masyarakat di Sumedang yang belum kenal dengan banom JQH. Dengan adanya kegiatan semaan Al-Quran di daerah-daerah seperti ini mudah-mudahan masyarakat jadi mengetahui keberadaan dan fungsi JQHNU".

Kegiatan ini diadakan untuk mempersiapkan pembentukan pengurus PAC JQHNU di Kecamatan Cimanggung.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Banom JQHNU di Sumedang harus terus berkembang sampai ke tingkat daerah. Pembentukan pengurus PAC JQHNU merupakan bentuk pengembangan organisasi," tegas Jauharudin.

Kegiatan semaan Al-Quran ini diharapkan bisa menarik masyarakat untuk lebih mencintai Al-Quran. Selama ini pengurus JQHNU Sumedang masih terus concern membina para qari/qari’ah dan hafidz/hafidzah yang ada di Sumedang. (Ayi Abdul Kohar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Nasional, Pendidikan, Pahlawan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 10 November 2017

Doa, Tatakrama, dan Cara Bersuci saat Buang Air

Selaras dengan tuntunan Rasulullah SAW, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh seseorang yang buang air, yakni:

Tidak buang air sembarangan, khususnya di tempat berteduh, tempat berkumpul manusia, di bawah pohon yang sedang berbuah, di jalanan, di lubang hewan, dan lainnya. Karena hal tersebut berpotensi merugikan manusia dan makhluk lainnya, sedangkan Islam mengajarkan untuk tidak merugikan siapa pun.Haram hukumnya menghadap atau membelakangi arah kiblat apabila buang air di tempat terbuka. Adapun bila dilakukan di tempat tertutup yang disediakan khusus untuk buang air semisal toilet, maka hukumnya makruh.

Doa, Tatakrama, dan Cara Bersuci saat Buang Air (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa, Tatakrama, dan Cara Bersuci saat Buang Air (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa, Tatakrama, dan Cara Bersuci saat Buang Air

Menggunakan tangan kiri saat bersuci (cebok)

Adapun praktik buang air dan bersuci sesudahnya sesuai tuntunan Rasulullah ialah:

1) Saat hendak masuk toilet berdoa:

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

? ? ? ? ? ? ? ? ?

Bismillâhi Allâhumma innî a’ûdzu bika minal khubutsi wal khabâitsi

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari godaan iblis jantan dan betina.”

Hikmah doa ini adalah meminta perlindungan dari Allah agar kita terhindar dari Iblis betina dan jantan yang sering membuat kita was-was dalam bersuci, menggoda kita dengan khayalan yang tidak baik saat masuk toilet, dan agar Allah menjaga alat kelamin kita dari perbuatan keji lagi hina, yakni zina.

Doa ini diucapkan saat kita hendak masuk tolet, namun posisi kita masih berada di luar toilet, karena begitu kita sudah masuk toilet, maka kita tidak boleh lagi mengucapkan ucapan-ucapan agung seperti nama Allah, nama Rasul, ayat Al-Qur’an, dan doa-doa.

Perlu diingat bahwa toilet merupakan tempat manusia membuang kotoran, sehingga tidak layak dijadikan tempat mengucapkan ucapan-ucapan yang agung. Ketidaklayakan ini berlaku pula di tempat tidak baik lainnya seperti di penampungan kotoran hewan dan lain-lain.





2) Masuk toilet dengan mendahulukan kaki kiri.

3) Membuang kotoran kita pada lubang kakus, bukan di dinding atau di lantai toilet.

4) Duduk saat buang air kecil, apalagi buang air besar.

5) Mentuntaskan keluarnya kotoran. Ada kalanya dengan berdehem-dehem, atau dengan mengelus alat kelamin atau perut kita dengan tujuan melancarkan dan menuntaskan keluarnya kotoran.

Di antara hikmah melakukan hal ini adalah agar kita terhindar dari penyakit akibat masih adanya sisa kotoran dalam tubuh kita yang belum terbuang, dan agar kita terhindar dari rasa was-was. Seringkali pasca buang air kita merasa was-was seolah kotoran keluar lagi dari tubuh kita.

Tindakan ”menuntaskan” ini merupakan bagian dari upaya kita untuk menghindari was-was tersebut.

6) Melakukan istinja’ (cebok) menggunakan tangan kiri. Ada tiga macam cara melakukan istinja, yakni:

Dengan menggunakan tiga buah batu atau bisa diganti dengan tiga lembar tisu. Namun apabila masih belum bersih, maka ditambah lagi hingga ganjil, lima atau tujuh dan seterusnya.Ini dilakukan apabila tidak ada air, atau ada air yang tersedia, namun disediakan untuk minum.Dengan menggunakan airMenggunakan tiga lembar tisu terlebih dahulu, dan diakhiri dengan menggunakan air. Cara istinja yang ketiga ini adalah yang terbaik.7) Keluar toilet membaca doa:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Guhfroonaka alhamdulillahi alladzi adzhaba ‘anni al-adza wa ‘aafaani. Allahumma ij’alni minat tawwaabiina waj’alni minal mutathohhiriin. Allahumma thohhir qolbi minan nifaaqi wa hashshin farji minal fawaahisyi

“Dengan mengharap ampunanmu, segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan penyakit dari tubuhku, dan mensehatkan aku. Ya Allah, jadikanlah aku sebagian dari orang yang bertaubat dan jadikanlah aku sebagian dari orang yang suci. Ya Allah, bersihkan hatiku dari kemunafikan, dan jaga kelaminku dari perbuatan keji (zina).”

Ketika berada di kamar mandi, barangkali ada kesalahan yang kita perbuat semisal tidak sengaja menghayalkan hal yang tidak-tidak dan lain sebagainya, oleh karenanya saat keluar kita meminta ampunan pada Allah, dilanjutkan dengan bersyukur pada Allah yang telah menghilangkan penyakit dan kotoran dari diri kita, sambil tidak lupa memohon agara Allah menjadikan kita sebagai orang yang baik dan menjaga kita dari perbuatan tercela.

Disarikan dari:

Mustafa al-Khan dan Musthafa al-Bagha, Al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Madzhabi Imam al-Syafi’i (Surabaya: Al-Fithrah, 2000), Juz I, hal. 51

As-Suyuthi, Jamiul Ahadits, juz 33, hal. 220

(Muhammad Ibnu Sahroji)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Aswaja, Nasional Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 02 November 2017

Buku Biografi Pengarang Kamus Al-Munawwir Diluncurkan

Yogyakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Kamus Al-Munawwir menjadi kamus yang legendaris di Indonesia. Hampir semua pengkaji Islam, mulai tingkat paling dasar sampai paling tinggi, tidak bisa lepas dari kamus bahasa Arab-Indonesia ini. Maka, ketika sang pengarang wafat, semua ingin tahu siapa sebenarnya pengarang tersebut, apa juga rahasia di balik lahirnya karya besar itu.

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu kini hadir dalam buku "KH A. Warsun Munawwir: Jejak Sang Pioner Kamus Al-Munawwir". Buku ini merupakan karya salah seorang santri santri Kompleks Q, Khalimatun Nisa dan Fahma Amirotul Haq.

Buku Biografi Pengarang Kamus Al-Munawwir Diluncurkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Buku Biografi Pengarang Kamus Al-Munawwir Diluncurkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Buku Biografi Pengarang Kamus Al-Munawwir Diluncurkan

Buku biografi tersebut diluncukan dan dibedah di Pesantren Al-Munawwir Kompleks Q, Krapyak, Yogyakarta, Senin (30/3) kemarin.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Kamus Al-Munawwir saat ini menjadi kamus penting tidak hanya digunakan di Indonesia, tetapi menjadi rujukan di Malaysia, Filipina, Thailand, Singapura, dan lainnya," ujar Dr. KH. Hilmy Muhammad, Pengasuh Pesantren Krapyak, yang juga Wakil Katib Syuriah PWNU DIY.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah NU (RMINU) DIY, KH Habib A Syakur yang merupakan santri ndalem Kiai Warsun juga memberikan testimoninya. Menuutnya, Kiai Warsun yang dipanggil “bapak” oleh santri-santrinya itu adalah orang yang rendah hati, bahkan sampai meninggalnya sekalipun.

"Sampai khutbah saja, Bapak tidak berkenan meskipun saat itu sudah menjadi seorang kiai yang kesohor berkat Kamus Al-Munawwir yang ditulisnya. Itu semua karena memang seperti itulah sikap Bapak, tawadu," ujar pengasuh Pesantren al-Imdad tersebut.

Terakhir, KH Suhadi Chozin, Wakil Katib Syuriah PWU DIY, yang juga tangan kanan Kiai Warsun tak kuasa menahan air matanya ketika diminta bercerita tentang sosok KH Warsun yang telah mendidiknya hingga sukses seperti sekarang ini.

"Kalau saya ketemu Bapak, yang ditanya bukan soal ngaji. Karena memang kalau ngaji saya kurang. Bapak lebih sering bertanya tentang bisnis dan usaha yang saya jalankan. Mari kita kirim Fatihah untuk Bapak," tandas pengusaha El-U Grafika ini.

Selain sejumlah kiai yang memberikan testimoni tersebut, bedah buku ini dihadiri juga para alumni pesantren Al-Munawwir yang pernah ngaji kepada Kiai Warsun, di antaranya adalah KH. Munawwir AF (penulis buku Tradisi orang-orang NU), Sri Harini (santriwati angkatan pertama), dan Hindu Zakiyah (santriwati angkatan pertama).

Acara bedah buku ini merupakan rangkaian haul ke-76 KH. M. Munawwir, pendiri pesantren Krapyak Yogyakarta. (Rohim/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Nasional, Ubudiyah, AlaNu Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Khittah NU

Kata khittah berasal dari akar kata khaththa, yang bermakna menulis dan merencanakan. Kata khiththah kemudian bermakna garis dan thariqah (jalan)”.

Kata khiththah ini sangat dikenal kalangan masyarakat Nahdliyin, terutama sejak tahun 1984.? Pada tahun 1984 itu, NU menyelenggarakan Muktamar ke-27 di Situbondo. Muktamarin berhasil memformulasikan garis-garis perjuangan NU yang sudah lama ada ke dalam formulasi yang disebut sebagai “Khittah NU”. Sekarang, kata ini telah umum dipakai, tidak sebatas komunitas NU. Penggunaan maknanya mengacu pada prinsip, dasar ataupun pokok.

Sebagai formulasi yang kemudian menjadi rumusan “Khittah NU”, maka tahun 1984 bukan tahun kelahirannya. Kelahiran khittah NU sebagai garis, nilai-nilai, dan jalan perjuangan, ada bersamaan dengan tradisi dan nilai-nilai di pesantren dan masyarakat NU. Keberadaannya jauh sebelum tahun 1984, bahkan juga sebelum NU berdiri sekalipun dalam bentuk tradisi turun temurun dan melekat secara oral dan akhlak.

Khittah NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Khittah NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Khittah NU

Selain penggunaan kata “Khittah NU”, kadang-kadang juga digunakan kata “Khittah 26”. Kata “khittah 26” ini merujuk pada garis, nilai-nilai, dan model perjuangan NU yang dipondasikan pada tahun 1926 ketika NU didirikan. Pondasi perjuangan NU tahun 1926 adalah sebagai gerakan sosial-keagamaan.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Hanya saja, garis perjuangan sosial keagamaan ini, mengalami perubahan ketika NU bergerak di bidang politik praktis.?

Pengalaman NU ke dalam politik praktis, terjadi ketika NU menjadi partai politik sendiri sejak 1952. Setelah itu NU melebur ke dalam PPP (Partai Persatuan Pembangunan) sejak 5 Januari 1973. Ketika NU menjadi partai politik, banyak kritik yang muncul dari kalangan NU sendiri, yang salah satunya menyebutkan bahwa “elit-elit politik” dianggap tidak banyak mengurus umat. Kritik-kritik ini berujung pada perjuangan dan perlunya kembali kepada khittah.

Perjuangan kembali pada khittah sudah diusahakan sejak akhir tahun 1950-an. Contohnya, pada Muktamar NU ke-22 di Jakarta tanggal 13-18 Desember 1959, seorang wakil cabang NU Mojokerto bernama KH Achyat Chalimi telah menyuarakannya. KH. Achyat mengingatkan peranan partai politik NU telah hilang, diganti perorangan, hingga partai sebagi alat sudah kehilangan kekuatannya. Kiai Achyat mengusulkan agar NU kembali ke khittah pada tahun 1926. Hanya saja, usul itu tidak diterima sebagai keputusan muktamar.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kelompok "pro jam`iyah" pada tahun 1960 menggunakan warta berkala Syuriyah untuk menyuarakan perlunya NU kembali ke khittah. Gagasan agar NU kembali ke khittah juga disuarakan kembali pada Muktamar NU ke-23 tahun 1962 di Solo. Akan tetapi gagasan tersebut banyak ditentang oleh muktamirin yang memenangkan NU sebagai partai politik.

Pada Muktamar NU ke-25 di Surabaya tahun 1971, gagasan mengembalikan NU ke khittah muncul kembali dalam khutbah iftitâh Rais Am, KH. Abdul Wahab Hasbullah. Saat itu Mbah Wahab mengajak muktamirin untuk kembali ke Khittah NU 1926 sebagai gerakan sosial-keagamaan. Akan tetapi kehendak muktamirin, lagi-lagi, tetap mempertahankan NU sebagai partai politik.

Gagasan kembali ke khittah semakin mendapat tempat pada Muktamar NU ke-26 di Semarang (5-11 Juni 1979). Meski Muktamirin masih mempertahankan posisi NU sebagai bagian dari partai politik (di dalam PPP), tetapi muktamirin menyetujui program yang bertujuan menghayati makna dan seruan kembali ke khittah 26.?

Di Semarang ini pula tulisan KH. Achmad Shidiq tentang Khittah Nahdliyah telah dibaca aktivis-aktivis NU dan ikut mempopulerkan kata khittah.?

Gagasan kembali ke Khittah NU semakin nyata setelah Munas Alim Ulama di Kaliurang tahun 1981 dan di Situbondo tahun 1983. Pada Munas Alim Ulama di Situbono itu bahkan dibentuk “Komisi Pemulihan Khittah NU”. Komisi ini dipimpin KH Chamid Widjaya, sekretaris HM Said Budairi, dan wakil sekretaris H. Anwar Nurris.?

Komisi ini berhasil menyepakati “Deklarasi Hubungan Islam dan Pancasila,” kedudukan ulama di dalamnya, hubungan NU dan politik, dan makna Khittah NU 1926. Hasil-hasil dari Munas Alim Ulama ini kemudian ditetapkan sebagi hasil Muktamar NU ke-27 di Situbondo tahun 1984 setelah melalui diskusi dan perdebatan yang intens. Muktamar NU di Situbondo inilah yang berhasil memformulasikan rumusan Khittah NU.

Formulasi rumusan Khittah NU di Situbondo ini sangat monumental karena menegaskan kembalinya NU sebagai jam`iyah diniyah-ijtima`iyah. Rumusan ini mencakup pengertian Khittah NU, dasar-dasar paham keagamaan NU, sikap kemasyarakatan NU, perilaku yang dibentuk oleh dasar-dasar keagamaan dan sikap kemasyarakatan NU, ihtiar-ihtiar yang dilakukan NU, fungsi ulama di dalam jam`iyah, dan hubungan NU dengan bangsa.?

Dalam formulasi itu, ditegaskan pula bahwa jam`iyah secara orgnistoris tidak terikat dengan organisasi politik dan organisasi kemasyarakatn manapun. Sementara dalam paham keagamaan, NU menegaskan sebagai penganut Ahlussunnah Waljama`ah dengan mendasarkan pahamnya pada sumber Al-Qur’an, sunnah, ijma’ dan qiyas. Dalam menafsirkan sumber-sumber itu, NU menganut pendekatan madzhab dengan mengikuti madzhab Ahlussunnah Waljama`ah (Aswaja) di bidang akidah, fiqih dan tasawuf.

Di bidang akidah, NU mengikuti dan mengakui paham Aswaja yang dipelopori Imam Abu Hasan al-Asy`ari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi. Di bidang fiqih NU mengakui madzhab empat sebagai paham Aswaja yang masih bertahan sampai saat ini.?

Di bidang tasawuf NU mengikuti imam al-Ghazali, Junaid al-Baghdadi, dan imam-imam lain. Dalam penerapan nilai-nilai Aswaja, Khittah NU menjelaskan bahwa paham keagamana NU bersifat menyempurnakan nilai-nilai yang baik dan sudah ada. NU dengan tegas menyebutkan tidak bermaksud menghapus nilai-nilai tersebut. Dari sini aspek lokalitas NU sangat jelas dan ditekankan.

Dalam sikap kemasyarakatan, Khittah NU menjelaskan 4 prinsip Aswaja: tawasut (sikap tengah) dan i’tidal (berbuat adil), tasamuh (toleran terhadap perbedaan pandangan), tawazun (seimbang dalam berkhidmat kepada Tuhan, masyarakat, dan sesama umat manusia), dan amar ma’ruf nahi munkar (mengajak kepada kebaikan dan mencegah keburukan).

Fungsi ulama juga ditegaskan kembali oleh Khittah NU sebagai rantai pembawa paham Islam Ahlussunnah Waljama`ah. Ulama dalam posisi itu ditempatkan sebagai pengelola, pengawas, dan pembimbing utama jalannya organisasi. Fungsi ulama ini tidak dimaksudkan sebagai penghalang kreativitas, tetapi justru sebaliknya: untuk mengawal kreativitas.?

Dalam hubungannya dengan kreativitas itu, Khittah NU menyebutkan bahwa jam`iyah NU harus: siap menyesuaikan diri dengan setiap perubahan yang membawa kemaslahatan; menjunjung tinggi kepeloporan dalam usaha mendorong, memacu, dan mempercepat perkembangan masyarakat; menjunjung tinggi kebersamaan masyarakat; menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan para ahlinya.

Khittah NU juga menegaskan aspek penting kaitannya dengan bangsa. Dalam soal ini, setiap warga NU diminta menjadi warga negara yang senantiasa menjunjung tinggi Pancasila dan UUD 45. Sebagai bagian dari umat Islam Indonesia, masyarakat NU diminta senantiasa berusaha memegang teguh prinsip persaudaraan, tasamuh, kebersamaan dan hidup berdampingan. Ini disadari karena Indonesia dan umat Islam Indonesia sendiri sangat majemuk.

Tampak sekali cita-cita Khittah NU yang diformulasikan tahun 1984 itu begitu luhur. Juga ? tampak Khittah NU menegaskan posisinya sebagai gerakan sosial keagamaan yang akan mengurus masalah-masalah umat. Hanya saja, dalam praktik, tarikan politik praktis selalu menjadi dinamika yang mempengaruhi eksistensi jam`iyah NU. Di titik-titik demikian, Khittah NU selalu menghadapi kenyataan krisis, pertarungan internal, dan sekaligus dinamis di tengah kebangsaan dan dunia global. [Nur Kholik Ridwan]



Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Nasional, Aswaja Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 29 Oktober 2017

Sahnya Menikahi Perempuan Agama Lain

Dalam Al-Qur’an telah dijelaskan bahwa seorang muslim diperbolehkan menikahi perempuan merdeka dari kalangan ahli kitab. Pernikahan itu dianggap sah secara syariat.  Sebagaimana termaktub dalam surat al-Maidah ayat 5:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi al-Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (Dan dihalalkan mangasyahwini) wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan diantara orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu.“ 

Sahnya Menikahi Perempuan Agama Lain (Sumber Gambar : Nu Online)
Sahnya Menikahi Perempuan Agama Lain (Sumber Gambar : Nu Online)

Sahnya Menikahi Perempuan Agama Lain

Akan tetapi di zaman yang sudah mengglobal ini batasan antara ahlil kitab dan yang bukan ahlil perlu ditegaskan kembali. Karena kecenderungan bertasahul atau menggampangkan segala urusan di zaman globalisasi ini dianggap sebagai kewajaran. Hal ini cukup menghawatirkan apalagi jika berhubungan dengan masalah pernikahan. Karena panjangnya konsekwensi dari sebuah pernikahan mulai dari status pernikahan, status anak dan hak waris.

Dalam konteks ini maka hal yang perlu ditegaskan adalah siapakah perempuan merdeka ahlul kitab yang boleh dinikah oleh seorang muslim? tentang hal ini Imam Syafii dalam Al-Umm juz V menjelaskan:

? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?  

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Abdul Majid dari Juraid menerangkan kepada kami bahwa Atha’ pernah berkata bahwa orang-orang Nasrani dari orang Arab bukanlah tergolong ahlil kitab. Karena yang termasuk ahlil kitab adalah Bani Israi dan mereka yang kedatangan Taurat dan Injil, adapun mereka yang baru masuk ke agama tersebut, tidak dapat digolongkan sebagai Ahlil kitab.

Dengan demikian, orang-orang Indonesia yang beragama lain sepert Kristen, Hindu, Budha, Kepercayaan, dan lain sebagainya tidak bisa digolongkan ke dalam ahlul kitab sebagaimana dimaksudkan dengan al-Qur’an. Apalagi jika ada perubahan dalam kitab-kitab mereka seperti yang diturunkan kepada Musa as dan Isa as.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Hal ini berbeda dengan kasus para sahabat yang tercatat sejarah menikahi perempuan ahlul kitab, seperti Sayyidina Hudzaifah pernah menikahi perempuan Yahudi ahlil madain, dan Sayyidina Utsmanpun pernah menikah dengan Nailah bintul Farafisha, perempuan asal Nazaret di Palestina. Karena perempuan-perempuan tersebut memang benar-benar ahlil kitab yang dimaksudkan di al-Qur’an.

Untuk itulah perlu ditekankan di sini pendapat ulama yang menyatakan tidak orisinalnya kitab injil dan taurat yang ada di zaman sekarang yang sekaligus menggugurkan perempuan-perempuannya sebagai ahlil kitab. Sebagaimana keterangan dalam Al-Jawahirul Kalamiyyah fi Idhahil Aqidatil Islamiyyah: 

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Para ulama terkemuka meyakini sesungguhnya Kitab Taurat yang ada sekarang telah terjadi perubahan-perubahan. Diantara perubahan itu adalah tidak adanya keterangan tentang surga, neraka, kebangkitan dari kubur, pengumpulan manusia dan pembalasan. Padahal masalah tersebut merupakan hal penting dalam kitab-kitab ketuhanan. Disamping itu perubahan dalam taurat juga terlihat dengan adanya kabar tentang wafatnya Nabi Musa as pada akhir bab. Padahal taurat sendiri diturunkan untuk Nabi Musa as.

Demikianlah hujjah para ulama mengenai ketidak otentikan Taurat. Sebagaimana akan diterangkan pula tentang ketidak otentikan injil yang ada sekarang. Sehingga mereka yang memegang kedua kitab ini tidak dapat lagi digolongkan sebagai ahlul kitab. Sebagaimana kelanjutan keterangan di atas dalam Al-Jawahirul Kalamiyyah fi Idhahil Aqidatil Islamiyyah:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Para ulama terkemuka meyakini bahwa Injil yang ada sekarang terdiri dari empat naskah hasil karangan empat orang yang sebagian mereka belum pernah melihat Nabi Isa sama sekali. Keempat orang tersebut adalah Matta, Markus, Lukas dan Johanus. (anehnya) Isi keempat naskah ini bertentangan antara satu dan lainnya. Sesungguhnya orang Nasrani memiliki banyak naskah Injil selain keempat ini, tetapi setelah hampir lebih dua ratus tahun diangkatnya Nabi Isa as. ke langit mereka memutuskan untuk menghapus semua naskah kitab yang ada kecuali empat tersebut. Hal ini dilakukan untuk menghindarkan dari perbedaan da perselisihan yang timbul dari perbedaan isi itu.

Dari beberapa keterangan yang ada maka seorang muslim tidak bisa menikahi perempuan agama lain di negeri ini (kristen, katolik, hindu, budha, dll) karena mereka bukan tergolong perempuan ahlil kitab. Kecuali apabila perempuan itu terlebih dahulu menyatakan diri masuk ke dalam agama Islam dengan membaca dua syahadat. (ulil H)

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Nasional, Hikmah, Santri Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock