Tampilkan postingan dengan label PonPes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PonPes. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Maret 2018

Menjadi Budak Teknologi: Sebuah Renungan

Oleh: Aswab Mahasin

Dalam salah satu sajaknya Rumi mengatakan, “Ini semua bukan manusia, hanya wajah-wajah manusia yang mereka miliki. Budak-budak perut, korban-korban hawa nafsu.” Rumi merindukan manusia; di dalam kota yang megah itu; kebudayaan dan ilmu berkembang pesat, ia mencari manusia. Semua yang dicari ia temukan di sana, bangunan mewah, mobil mahal, pakaian branded, jam tangan ratusan juta rupiah, smartphone terbaru seharga puluhan juta, gedung-gedung menjulang tinggi, paras bersolek dengan kosmetik mahal, mall-mall yang ramai, makanan beragam jenis, dan berbagai perilakunya. Namun, itu bukan manusia. Rumi meyakinkan lagi, itu manusia, wujudunya manusia, bentuknya manusia, dan penampilannya manusia. Tetapi, bukan manusia sebenarnya, bukan manusia sesungguhnya. 

Menjadi Budak Teknologi: Sebuah Renungan (Sumber Gambar : Nu Online)
Menjadi Budak Teknologi: Sebuah Renungan (Sumber Gambar : Nu Online)

Menjadi Budak Teknologi: Sebuah Renungan

Mari kita merenung sejenak. Siklus hidup harian kita, dari mulai bangun tidur sampai tidur kembali, berapa kebaikan dan kemanfaatan yang kita tebar? Adakah dua atau tiga? Siapakah yang benar-benar mempunyai keinginan—dunia ini menjadi rukun dan saling menghormati? Praktisi politik mana yang tidak haus kekuasaan? Adakah dari kita yang tidak mempunyai kebencian? 

Tuhan menciptakan manusia sebagai khalifatullah, khalifah di muka bumi ini, bagi dunia dan seluruh isinya, semua sumbernya dan semua bendanya. Syed Abul Hasan Ali Nadwi mengatakan, “Manusia bukan untuk menjadi budak benda (materi) tetapi untuk membuat materi menjadi budaknya atau membuatnya untuk menjadi abadi Tuhan, dan untuk memanfaatkannya dalam memenuhi kehendak Tuhan.”

Telah jelas bukan? Teknologi bukanlah “majikan” yang harus kita taati. Ia hanya benda/barang yang mempunyai nilai guna/kekuatan netral untuk melayani manusia—walaupun teknologi berusaha menjadikan kita “jongosnya”. 

Sama-sama kita merasakan, perubahan hidup kita semenjak teknologi membaur. Tidak sedikit diantara kita ketika bangun tidur pertama yang kita cari adalah smartphone. Tidak sedikit juga diantara kita ‘mati gaya’ ketika smartphone kesayangan kita ketinggalan di saat kita berkumpul dengan teman-teman kita. Tidak sedikit di antara kita berebut charger ketika batre smartphone kita habis.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dahulu, janjian dengan seseorang sebatas lisan pun kita tidak bingung. Sekarang, tanpa handphone rasanya kita bingung untuk bertemu dengan seseorang, khawatir inilah-itulah. Banyak perubahan yang kita alami, dari mulai hal terkecil sampai hal terbesar. Ini yang kita rasakan sekarang. 

Ada istilah juga, surga dan neraka saat ini tergantung apa yang kita ‘ketik’ lalu kita ‘klik’ pada tombol ‘enter’. Begitupun anekdot yang mengatakan, dimensi dosa dan pahala berkembang. Dulu, tidak ada dosa medsos, sekarang ada. Dulu, tidak ada dosa hoaks di dunia maya, sekarang ada. Dahulu, Tuhan belum membangun kapling surga bagi pengguna internet yang sehat, dan belum juga membangun kapling neraka bagi pengguna internet yang tidak sehat. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Itu hanya sekedar anekdot, tidak usah diambil serius. Pastinya, di antara kita saat ini telah menjadi hamba teknologi. Meminjam bahasa para filosof, teknologi telah menjadi “tuhan baru” buat kita. Kita ketergantungan, melebihi ketergantungan terhadap Tuhan.

Digambarkan Allah dalam Al-Qur’an (Al-Anbiya: [21]: 52), Nabi Ibrahim AS bertanya kepada kaum penyembah berhala, “Apakah kamu menyembah patung-patung ini?” Sungguh tragis, apa yang kita buat sendiri telah kita sembah. Dewasa ini, teori dirumuskan, hukum ditentukan, mesin canggih dibuat, handphone pintar berjuta pilihan, televisi dengan kendali pikiran, dan sayangnya kita semua menjadi tunduk kepada hal-hal tersebut. Kita diperbudak, padahal Islam telah mengharamkan praktik perbudakan.

Memang berbeda, dahulu manusia memperbudak manusia, sekarang manusia diperbudak mesin. Dahulu manusia membeli budak dan budak yang dibeli itu menjadi jongosnya. Sekarang sebaliknya, manusia membeli mesin dan mesin itu menjadi majikannya dan kita adalah jongosnya.  

Apakah ada yang salah? Tidak ada, selagi produk teknologi difungsikan sesuai kegunaannya. Bukan untuk ujuran kebencian, saling menjatuhkan, memfitnah, apalagi menyebarkan contoh perilaku yang tidak baik, itu tidak masalah. Namun, faktor ini yang menghalangi penghargaan terhadap modernisasi (dengan perkembangan teknologinya) karena telah mengalami atropia (kehilangan kualitas moral).

Mesin-mesin cenderung mencipta tidak hanya lingkungan hidup baru, melainkan juga mengubah hakikat manusia. Lingkungan hidup bukan lagi milik manusia, tetapi justru telah menjadi pemilik manusia. Manusia juga diharuskan menyesuaikan diri pada suatu dunia yang sebenarnya tidak diciptakan baginya. Ia dikejar oleh waktu. Ia makan tidak karena lapar dan tidur tidak karena mengantuk, tetapi karena waktu telah menunjukan saat makan dan tidur. (Imam Sukardi dkk, Pilar Islam Bagi Pluralisme Modern, 2003)

Begitupun fitnah yang tersebar, ujaran kebencian yang ada, ia keluar melalui tulisan maya bukan karena dasar tidak suka, melainkan kehendak berkuasa menuntunnya melakukan itu, dan ia melakoninya dengan kejujuran sesuai pemahamannya. Dalam hal ini, ia merasa mendapatkan ruang ekspresi yang bebas. Hanya saja, kadang lepas kontrol. Berbeda dengan penyebar hoaks berbayar, mereka “keterlaluan”.

Teknologi, khususnya informasi terbuka—melihat arus masyarakat bawah (awam), keterbukaan informasi banyak memberikan beban kehidupan. Ibu-ibu di desa, tukang becak, tukang bangunan, dan tukang-tukang yang lainnya—Obrolannya PKI, obrolannya demo (212, 299, dan seterunya), obrolannya hak angket. Sesungguhnya bukan kapasitas mereka memikirkan itu, tapi mereka merasa terbebani dengan hal tersebut (berita terus-menerus membayangi mereka). Bagi kebanyakan orang, ini kesadaran politik, kesadaran sejarah, dan kesadaran-kesadaran lainnya. Bagi saya, tidak! Sesuatu hal yang sia-sia memikirkan itu (untuk mereka). Disinilah masyarakat terjebak oleh pola pikir dan pola berita “amburadul”. 

Teknologi/internet tidak bisa menjelaskan, mana orang pintar, mana orang bodoh, mana orang jahat, mana orang baik, mana orang bijaksana, mana orang tidak bijaksana, mana orang membawa kebencian, dan mana orang membawa kedamaian. Di situ kita terjebak pada ‘hutan rimba’, berisi berbagai macam binatang berakal, ada singa yang ganas, ada ular berbisa, ada pula orang hutan yang baik, ada juga kelinci yang cerdik, dan ada juga burung yang penyayang. Entahlah, siapa yang benar di antara kita? Alam maya adalah hutan yang tak berpohon, banyak kemungkinan baik dan buruk.

Kita hanya menangkapnya, setiap ada yang tidak sesuai maka ia salah. Memang demikian, kegelapan selalu memiliki banyak rupa, tetapi cahaya hanya satu. Nur (cahaya) senantiasa berbentuk tunggal. Allah berfirman, “Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang beriman. Dia membawa mereka dari dzulumat kepada nur”. (QS. Al-Baqarah [2]: 257). 

Dzulumat adalah bentuk jamak dari dzulmat, berarti kegelapan. Kenapa “nur” selalu berbentuk tunggal? Bukan karena bahasa Arab tidak mempunyai bentuk jamak untuk hal itu, tetapi karena cahaya adalah satu, asalnya satu—kesadaran akan Sang Pencipta. Tidak ada sumber petunjuk lain jika cahaya dari Allah tidak ada. (Syed Abul Hasan Ali Nadwi, Pesan Islam, 1995, hlm. 47) 

Artinya, menyekat “keterbudakan” kita terhadap teknologi ialah dengan kesadaran. Kesadaran terhadap seruan dan perintah dari Allah, untuk kita terapkan dalam realitas kehidupan, agar cahaya-cahaya Ilahi menyelimuti kita. 

Iqbal mengatakan, “Meskipun Barat (teknologi) bersinar dengan cahaya ilmu, lautan kegelapan tidak menjadi “sumber kehidupan”, suatu bangsa (manusia) yang tidak diberkati dengan cahaya Tuhan, uap dan listrik membatasi pekerjaannya.” Bisa dimaknai, teknologi adalah “sumber kehidupan” yang berada pada “lautan kegelapan”, bisa juga sebaliknya—teknologi adalah “lautan kegelapan” yang tidak mempunyai “sumber kehidupan”. 

Karena itu, alangkah indahnya sekarang kita merenung kembali, adanya teknologi (medsos, smartphone, dan internet) memberikan kemudahan terhadap hidup kita, salah satunya kemudahan dalam menebarkan kemanfaatan sebanyak-banyaknya. Kita tidak seharusnya diperbudak, dikendalikan, melainkan kita yang mengendalikan, menjadikan teknologi sebagai “sumber kehidupan” pada “lautan pencerahan”, di dalamnya berisi cahaya-cahaya Tuhan. 

Dengan demikian, kehati-hatian, kontrol diri, dan kesadaran dalam memfungsikan teknologi, khsusunya Medsos, Internet, dan smartphone menjadi hal utama. Selain kesadaran terhadap Allah—continum tak terputus—membangkitkan pula kesadaran moral/etika/akhlak, supaya kita bisa hidup bersama di alam maya, menghormati orang lain, membangun toleransi, dan menebarkan kebaikan.

Saya akhiri dengan pesan Rasulullah SAW dalam sebuah hadits, dinyatakan pada hari kiamat Allah akan berkata kepada hamba-hamba-Nya, “Aku jatuh sakit dan kamu tidak menengok Aku”. Hamba itu akan menjawab, “Engkau Tuhan seluruh alam. Bagaimana saya bisa menengok Engkau?” Kemudian Allah akan berkata, “Tidakkah kamu mengetahui si anu hambaKu sakit dan kamu tidak mau menengoknya? Seandainya kamu pergi untuk melihat dia agar dapat menggembirakan atau membantu, kamu akan mendapati Aku bersamanya.” 

Allah akan berkata lagi, “Wahai anak Adam! Aku minta makanan, tetapi kamu tidak memberi makanan kepadaKu”. Hamba itu akan menjawab, “Engkau Tuhan seluruh alam bagaimana saya dapat memberiMu makanan? Allah akan berkata, “Apakah kamu tidak menyadari bahwa si anu seorang hambaKu minta makanan kepadamu dan kamu tidak memberinya. Seandainya kamu memberi dia makanan kamu akan mendapati dia bersama Aku”. 

Allah akan berkata lagi, “Wahai anak Adam! Aku telanjang, tetapi kamu tidak menutupi aku dengan sebuah pakaian.” Hamba itu akan menjawab, “Engkau Tuhan seluruh alam. Bagaimana saya dapat memberi Engkau? Kemudian Allah akan berkata, “Si anu hambaKu meminta sesuatu kepadamu untuk dipakai dan kamu tidak memberikannya kepada dia. Seandainya kamu telah melakukan hal itu, pakaian itu akan sampai kepada-Ku.”





Penulis, Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah Kebumen, Jawa Tengah

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Kajian Islam, PonPes, Amalan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 19 Januari 2018

Gus Dur: SBY Berupaya Memperburuk Citra Megawati

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menyebut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berupaya memperburuk citra Megawati Soekarnoputri pada Pemilu 2009 mendatang. Hal itu terlihat dari sejumlah bekas menteri pemerintahan Megawati yang jadi ‘bulan-bulanan’ Kejaksaan Agung atas dugaan korupsi.

"Ya, maksudnya untuk menjelekkan Mega, karena banyak yang sekarang diusut, bekas menteri di zamannya Mega. Kalau kita betul-betul demokrat, seharusnya ini tidak terjadi," tegas Gus Dur yang juga mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, di Kantor DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Jalan Raya Kalibata, Jakarta, Kamis (12/4).

Gus Dur: SBY Berupaya Memperburuk Citra Megawati (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur: SBY Berupaya Memperburuk Citra Megawati (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur: SBY Berupaya Memperburuk Citra Megawati

Menurut Ketua Umum Dewan Syura DPP PKB itu, upaya pemerintah untuk memberantas korupsi sangat tampak ‘tebang pilih’. "Meski dibantah seseorang dari Partai Demokrat. Ini karena presiden terlalu penakut, bukan karena dendam apa-apa. Ini hanya untuk tahun (Pemilu, Red) 2009," ujarnya.

Padahal, lanjut Gus Dur, pemerintah saat ini juga korup. "Banyak banget, malah gede-gede (besar-besar). Contohnya saja Hamid Awaludin. Dia menyimpan uangnya Tommy (putra mantan Presiden Soeharto). Itu kan tidak bener. Tidak boleh orang swasta menyimpan duit di pemerintah. Jadi ini tidak lain untuk menjelekkan figur Megawati," tandasnya.

Parlemen Eropa

Di tempat yang sama, Gus Dur dan jajaran elit DPP PKB menerima kunjungan 12 Anggota delegasi Parlemen Eropa pimpinan Graham Watson yang tergabung dalam Alliance of Liberal and Democratics for Europe. Pertemuan itu digelar untuk membangun jaringan kesepahaman tentang nilai-nilai liberal dan demokrasi.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Ini bagian dari bentuk dialog untuk membangun kesepahaman tentang nilai-nilai liberal, karena bagaimana pun liberal itu sangat penting untuk penegakan HAM dan demokrasi," kata anggota Dewan Syura DPP PKB Cecep Syarifuddin.

Untuk membangun jaringan liberal itu, katanya, tidak mungkin dilakukan oleh satu negara, tapi banyak negara. PKB, imbuhnya, adalah satu-satunya partai yang selain mengakui nilai-nilai universal, etika, moral dan liberal, juga merakyat. "Di sinilah pentingnya pertemuan dengan para delegasi tersebut," ujarnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pertemuan juga membahas isu aktual di Indonesia, seperti masalah penegakan demokrasi, pemberantasan korupsi, perlindungan kaum minoritas, dan pertahanan dan keamanan Indonesia. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan PonPes Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 17 Januari 2018

MTs Ma’arif Fajaresuk Raih 3 Piala Drumben

Pringsewu, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Belum genap 1 tahun terbentuk, Grup drumben Gema Bahana MTs Maarif Fajaresuk Pringsewu sudah menunjukkan prestasi yang membanggakan. Pada lomba drumben pelajar Pringsewu Open 2015, Gema Bahana MTs Maarif berhasil menyisihkan sejumlah grup drumben pelajar sekabupaten Pringsewu dengan meraih 3 piala sekaligus.

MTs Ma’arif Fajaresuk Raih 3 Piala Drumben (Sumber Gambar : Nu Online)
MTs Ma’arif Fajaresuk Raih 3 Piala Drumben (Sumber Gambar : Nu Online)

MTs Ma’arif Fajaresuk Raih 3 Piala Drumben

Dalam ajang yang dilaksanakan di lapangan pendopo kabupaten Pringsewu, ? Kamis (14/5), Gema Bahana berhasil meraih Juara II Paramanandi, Juara II Gita Pati, dan Juara III Display. Kegiatan ini merupakan inisiatif dari Persatuan Drum Band Indonesia (PDBI) Pringsewu.

Menurut Kepala MTs Maarif Fajaresuk H Auladi Rosyad, semua ini merupakan perjuangan dan kerja keras semua pihak dari siswa-siswi, pelatih, pembina dan seluruh civitas akademika MTs Maarif Fajaresuk. Rosyad berharap prestasi ini akan memicu perhatian dari segenap pihak baik pemerintah, ? masyarakat akan keberadaan MTs Maarif yang baru tahun ini akan meluluskan siswa-siswinya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Gema Bahana MTs Maarif Fajaresuk siap tampil baik dalam even lomba maupun kegiatan seremonial yang digelar oleh instansi, organisasi, dan lain lainnya,” kata Rosyad.

Ke depannya, ? Rosyad berharap ada peningkatan kualitas penampilan dari anak-anak drumben binaannya. Selain peningkatan kualitas, ? peningkatan kuantitas dari peralatan-peralatan juga yang dibutuhkan diharapkan terealisasi sehingga hasil dari penampilan akan memuaskan. (M Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Nahdlatul Ulama, Humor Islam, PonPes Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 15 Januari 2018

Saat Menag Sampaikan Pesan Jokowi di Kongres Pergunu

Mojokerto, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Agama RI membuka Kongres Kedua Persatuan Guru NU di Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto, Jawa Timur, Kamis (27/10). Kehadiran Lukman mewakili Presiden Joko Widodo lantaran urung hadir karena padatnya jadwal kenegaraan.

Saat Menag Sampaikan Pesan Jokowi di Kongres Pergunu (Sumber Gambar : Nu Online)
Saat Menag Sampaikan Pesan Jokowi di Kongres Pergunu (Sumber Gambar : Nu Online)

Saat Menag Sampaikan Pesan Jokowi di Kongres Pergunu

Dalam sambutannya Lukman mengatakan, Presiden menyampaikan salam kepada para pendidik anak negeri dan terima kasih telah membantu pemerintah dalam mencerdaskan anak bangsa.

"Saat saya menerima tugas dari Mensesneg, saya tanya apakah ada teks dari Bapak yang bisa saya bacakan? Tidak ada," kata Lukman mengawali sambutannya. Tanpa menyerah putra KH Saifuddin Zuhri ini bertanya lagi apakah ada pesan khusus dari Presiden yang harus saya sampaikan?

"Presiden melalui Whatsapp mengatakan Bapak Menteri lebih tahu daripada saya," kata Lukman disambut tawa para hadirin.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Namun bukannya senang, menurut Lukman ini beban baginya karena harus menyampaikan atas nama Presiden. (Rof Maulana/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Habib, PonPes, Kyai Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 12 Januari 2018

Lembaga Publik Harus Sadar Perannya dalam Keterbukaan Informasi

Cirebon, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Komisi Informasi Pusat (KIP) meminta kepada lembaga publik untuk menjadikan keterbukaan informasi sebagai habit atau perilaku yang menjadi kebiasaan baik sehingga menjadi norma untuk kepentingan masyarakat.

Menurut salah seorang Komisioner KIP Henny S. Widyaningsih, 7 tahun penerapan Undang-Undang (UU) 14/2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, masih ada lembaga publik yang tidak menyadari tugasnya tersebut.

Lembaga Publik Harus Sadar Perannya dalam Keterbukaan Informasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Lembaga Publik Harus Sadar Perannya dalam Keterbukaan Informasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Lembaga Publik Harus Sadar Perannya dalam Keterbukaan Informasi

Menurut Henny, lembaga publik perlu diingatkan untuk terbuka dalam memberikan informasi kepada masyarakat. Padahal keterbukaan informasi harus menjadi habit (kebiasaan) yang tidak perlu selalu diingatkan.

"Jadi tidak perlu ada polisinya. Kalau bicara keterbukaan informasi, bukan lagi punya ini itu, tidak perlu ada pemohon, sengketa, baru terbuka. Tapi keterbukaan informasi publik sudah harus mendarah daging," ujar Henny dalam Forum Diskusi dan Media Gathering KIP, Selasa (23/5) malam.

Dia menyebut, keterbukaan informasi di lembaga publik masih banyak hambatan. Dia berharap di tahun-tahun mendatang keterbukaan informasi ini bisa terus digalakkan, terutama di tingkat Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) yang menjadi pintu keluar informasi dari suatu lembaga.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Maka dari itu komitmen penting. Ini tugas semua, teman-teman PPID perlu bahu-membahu membuat gerakan besar, gerakan nasional keterbukaan informasi publik," tegas Henny.

Henny menambahkan, dengan keterbukaan informasi sejatinya dapat membantu lembaga publik terhindar dari informasi bohong (hoax).

"Cara melawan hoax adalah dengan cepat PPID melawan, kalau terlambat maka hoax (yang sengaja dibuat atau tidak) akan menjadi suatu yang dianggap benar," imbuh Komisioner KIP yang telah menjabat selama dua periode ini.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selain para Komisioner KIP lainnya, kegiatan ini juga diikuti oleh sejumlah awak media, baik cetak, televisi, maupun eletronik serta perangkat di lembaga dan kementerian. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan PonPes Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 30 Desember 2017

Warga Palu Pecahkan Rekor Muri Pembacaan Yaasin

Palu, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Ribuan warga Palu mengukir sejarah dengan memecahkan rekor Muri pembacaan Surat Yaasin dengan shaf terpanjang dan peserta terbanyak serta diterjemahkan dalam tujuh bahasa Nusantara, shaf tersebut memanjang sejauh kurang lebih 4,5 KM ? sisi Teluk Palu-Sulawesi Tengah, Ahad (17/5) seperti dilaporkan oleh situs kemenag.go.id.?

Warga Palu Pecahkan Rekor Muri Pembacaan Yaasin (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga Palu Pecahkan Rekor Muri Pembacaan Yaasin (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga Palu Pecahkan Rekor Muri Pembacaan Yaasin

Pembacaan surat Yaasin dipimping langsung oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin ditandai dengan bunyi petasan penanda dimulainya pembacaan surat Yaasin yang serempak berbunyi di setiap zona wilayah teluk.?

Gemuruh lantunan Yaasin yang dibaca ratusan ribu masyarakat ? dengan pakaian warna putih mewarnai Teluk Palu yang sore itu menghadirkan cuaca yang cerah dan angin teluk yang lembut.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Usai membaca Surat Yaasin, dilanjutkan dengan pembacaan terjemahan Surat Yaasin dalam tujuh Bahasa yang dibagi dalam beberapa ayat dalam surat Yaasin, yaitu bahasa Kaili yang dilakukan oleh penterjemah dari IAIN Palu, Bahasa Jawa oleh IAIN Tulungagung, bahasa Banyumasan dari IAIN Purwokerto, bahasa Semarangan dari IAIN Semarang, bahasa Dayak Kanayan dari IAIN Pontianak, bahasa Aceh dari Stain Lokshemawe, dan bahasa Mandailing dari IAIN Padang Sidempuan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sebelumnya, Menag dengan Jip terbuka melakukan silaturahim menyapa masyarakat Palu yang sudah hadir di Teluk Palu sejak usai Dzuhur, mereka duduk memanjang membentuk shaf ? tak terputus sepanjang garis Teluk Palu.

Pembacaan Surat Yaasin dengan shaf terpanjang, peserta terbanyak serta diterjemahkan tujuh bahasa nusantara ini merupakan rangkaian kegiatan Pekan Ilmiah, Olahraga, Seni dan Riset (PIONIR) Perguruan Tinggi Keagamaan ke-VII Tahun 2015 yang akan dibuka oleh Menag Senin (18/5).

Paulus Pangka dari Yayasan Muri dalam sambutannya menyampaikan, bahwa mereka telah menyaksikan rekor baru Muri yaitu pembacaan surat Yaasin dengan peserta terbanyak, shaf terpanjang 4,5 KM dan diterjamahkan dalam tujuh Bahasa Nusantara, menurutnya tujuan pemecahan rekor ini bukan semata memecahkan rekor Muri tetapi mendoakan bangsa Indonesia lebih baik di masa mendatang. ? Sertifikat ? Rekor dengan Nomor 6.938 diserahkan Yayasan Muri kepada Menag Lukman Hakim, Rektor IAIN Palu Zainal Abidin, dan Walikota Palu Rusdi Mastura. ?

Hadir dalam acara tersebut Dirjen Pendis Kamaruddin Amin, Sekda Provinsi Sulawesi Tengah, Walikota Palu Rusdi Mastura, sejumlah pejabat eselon II Pusat,dan pimpinan Perguruan Tinggi Keagamaan di lingkungan Kementerian Agama. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan PonPes, Ahlussunnah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 28 Desember 2017

KPA Nilai Pemerintah Belum Berhasil Wujudkan Reforma Agraria

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan?

Sekretaris Jenderal Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) Dewi Kartika menilai kebijakan pemerintahan saat ini belum mewujudkan Reforma Agraria (RA). Menurutnya, apa yang terjadi sekarang, ialah bukan suatu proses restrukturisasi agraria.

"Itu belum terjadi sampai tahun ketiga ini," kata Dewi Kartika saat mengisi seminar pra Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes NU) 2017 di Tango Hostel, Bandar Lampung, Sabtu (4/11).

KPA Nilai Pemerintah Belum Berhasil Wujudkan Reforma Agraria (Sumber Gambar : Nu Online)
KPA Nilai Pemerintah Belum Berhasil Wujudkan Reforma Agraria (Sumber Gambar : Nu Online)

KPA Nilai Pemerintah Belum Berhasil Wujudkan Reforma Agraria

Ia mengatakan, kebijakan pemerintah terkait agraria, termasuk kebijakan perhutanan tidak bisa diklaim sebagai kebijakan reforma agraria.

"Kebijakan agraria dengan kebijakan reforma agraria itu tentu sangat berbeda," tegasnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selain itu, ia juga menilai, tahapan yang dilakukan pemerintah Jokowi dalam RA tidak prosedural. Mestinya tahapan awalnya harus registrasi dulu, bukan langsung melakukan sertifikasi tanah dengan cara menyebarkankan spanduk yang bersifat seremonial.?

“Jadi pemerintah Jokowi kalau mau melakukan reforma agraria harus registrasi dulu tanah itu,” jelasnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Registrasi yang dimaksud ialah tentang siapa punya berapa tanah, tanah didominasi oleh siapa saja, mayoritas petani punya tanah atau tidak.?

“Nah ini harus diregistrasi dulu termasuk HGU-HGU (Hak Guna Usaha-Hak Guna Usaha) bermasalah, izin-izin tambang, Izin-izin hutan tanaman industri harusnya diregistrasi dulu, sehingga ketahuan krisis agraria dan ketimpangan di Provinsi Lampung dan Jawa seperti apa,” katanya.

Selain itu, objek RA juga menyangkut tanah kelebihan maksimum, artinya, tanah-tanah yang berasal dari kepemilikan tanah yang melakukan monopili harus dipotong, seperti perusahaan skala besar Sinar Mas grup yang menguasai jutaan hektar tanah di Indonesia.

“Seharusnya itu menjadi target utama dari objek reforma agraria karena dia (pemerintah) hendak memperbaiki ketimpangan karena dia hendak menghapus monopoli atas tanah di Indonesia,” ujarnya.

Meski demikian, ia bersama KPA ingin terus memberikan rekomendasi dan penguatan kepada pemerintah agar kebijakannya tidak terlalu menyimpang dari tujuan dan kaidah-kaidah reforma agrarian. Di antara rekomendasinya ialah:?

Pertama, menghilangkan dan mengurangi ketimpangan struktur agraria, penguasaan, penggunaan, dan pengelolaan tanah yang timpang.?

"Jadi harus dibuat lebih adil. Ditata ulang dulu, yang banyak harus dipotong, yang memonopili harus ditertibkan, yang sedikit, yang kecil, yang miskin, petani gurem harus diperkuat," terangnya.?

kedua, menyelesaikan konflik agraria. Menurutnya, selain memperbaiki ketimpangan, pemerintah juga harus menyelesaikan konflik agraria yang sifatnya struktural.?

"Ra itu bukan proyek, Ra itu bukan program kecil. Tetapi RA itu adalah Agenda bangsa yang diamankan oleh Undang-Undang Dasar pasal 33 oleh Undang-Undang Pokok Agraria sampai ada Tap MPR 9 2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam," jelasnya.?

Pada seminar yang mengangkat tema Reforma Agraria untuk Pemerataan Kesejahteraan Warga ini, juga hadir sebagai pembicara Wakil Ketua Umum PBNU H Mochammad Maksum Mahfoedz. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan PonPes Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock