Senin, 19 Maret 2018

Apa itu Gus Dur Award?

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pemikiran dan perjuangan guru bangsa KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur terus berusaha diwujudkan oleh keluarga maupun para Gusdurian. Seperti yang dilakukan oleh keluarga inti Gus Dur dengan meresmikan Rumah Pergerakan Griya Gus Dur, Ahad (24/1/2016) di Jl Taman Amir Hamzah No 8 Menteng, Jakarta Pusat.

Apa itu Gus Dur Award? (Sumber Gambar : Nu Online)
Apa itu Gus Dur Award? (Sumber Gambar : Nu Online)

Apa itu Gus Dur Award?

Pada kesempatan tersebut juga diselenggarakan pemberian “Gus Dur Award” kepada beberapa tokoh yang dianggap konsisten dengan pemikiran dan perjuangan Gus Dur. Anugerah ini terdiri dari tiga kategori, yaitu tokoh sosial agama, sosial budaya, dan sosial politik serta pemerintahan.

“Peraih Gus Dur Award adalah orang-orang yang dirasa selaras dengan visi dan pemikiran Gus Dur,” jelas putri sulung Gus Dur, Alissa Wahid, Ahad (24/1/2016).

Adapun tiga tokoh peraih Gus Dur Award 2016 yaitu KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) sebagai tokoh sosial agama, Sutanto atau Tanto Mendut sebagai tokoh sosial budaya, dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai tokoh sosial politik dan pemerintahan.

Terma ‘sosial’ dalam tiga kategori tersebut diyakini oleh para pakar bahwa perjuangan dalam ranah agama, budaya, maupun politik harus selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan. Nilai-nilai kemanusiaan inilah yang sering disebut Gus Dur sebagai Human Social Life atau kehidupan sosial manusiawi yang mewujud dalam kehidupan agama, budaya, dan politik maupun pemerintahan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Adapun Rumah Pergerakan Griya Gus Dur nantinya akan menjadi rumah untuk beberapa organisasi atau perkumpulan sosial kemanusiaan. Beberapa organisasi yang bernaung di dalam Rumah Pergerakan Griya Gus Dur yaitu Yayasan Puan Amal Hayati, Yayasan Bani Abdurrahman Wahid, Yayasan Teman Bangkit, The Wahid Foundation, Jaringan Gusdurian Indonesia, dan Positive Movement.

Dalam acara peresmian tersebut, juga dilakukan peluncuran situs www.gusdur.net. Situs tersebut memberikan informasi tentang Gus Dur, baik pemikiran dan tulisan Gus Dur, tulisan tentang Gus Dur, berita, maupun video-video kenangan tentang Gus Dur.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Hadir dalam kegiatan peresmian ini yaitu Hj Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid beserta keempat putrinya, KH A Mustofa Bisri, Tanto Mendut, Basuki T Purnama (Ahok), Menkopolhukam Luhut Binsar Pandjaitan, Bondan Gunawan, Jaya Suprana, Franz Magnis Suseno, Romo Mudji Sutrisno, Wasekjen PBNU Abdul Mun’im DZ, dan para Gusdurian seluruh Indonesia. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ahlussunnah, Doa Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 14 Maret 2018

Menjadi Budak Teknologi: Sebuah Renungan

Oleh: Aswab Mahasin

Dalam salah satu sajaknya Rumi mengatakan, “Ini semua bukan manusia, hanya wajah-wajah manusia yang mereka miliki. Budak-budak perut, korban-korban hawa nafsu.” Rumi merindukan manusia; di dalam kota yang megah itu; kebudayaan dan ilmu berkembang pesat, ia mencari manusia. Semua yang dicari ia temukan di sana, bangunan mewah, mobil mahal, pakaian branded, jam tangan ratusan juta rupiah, smartphone terbaru seharga puluhan juta, gedung-gedung menjulang tinggi, paras bersolek dengan kosmetik mahal, mall-mall yang ramai, makanan beragam jenis, dan berbagai perilakunya. Namun, itu bukan manusia. Rumi meyakinkan lagi, itu manusia, wujudunya manusia, bentuknya manusia, dan penampilannya manusia. Tetapi, bukan manusia sebenarnya, bukan manusia sesungguhnya. 

Menjadi Budak Teknologi: Sebuah Renungan (Sumber Gambar : Nu Online)
Menjadi Budak Teknologi: Sebuah Renungan (Sumber Gambar : Nu Online)

Menjadi Budak Teknologi: Sebuah Renungan

Mari kita merenung sejenak. Siklus hidup harian kita, dari mulai bangun tidur sampai tidur kembali, berapa kebaikan dan kemanfaatan yang kita tebar? Adakah dua atau tiga? Siapakah yang benar-benar mempunyai keinginan—dunia ini menjadi rukun dan saling menghormati? Praktisi politik mana yang tidak haus kekuasaan? Adakah dari kita yang tidak mempunyai kebencian? 

Tuhan menciptakan manusia sebagai khalifatullah, khalifah di muka bumi ini, bagi dunia dan seluruh isinya, semua sumbernya dan semua bendanya. Syed Abul Hasan Ali Nadwi mengatakan, “Manusia bukan untuk menjadi budak benda (materi) tetapi untuk membuat materi menjadi budaknya atau membuatnya untuk menjadi abadi Tuhan, dan untuk memanfaatkannya dalam memenuhi kehendak Tuhan.”

Telah jelas bukan? Teknologi bukanlah “majikan” yang harus kita taati. Ia hanya benda/barang yang mempunyai nilai guna/kekuatan netral untuk melayani manusia—walaupun teknologi berusaha menjadikan kita “jongosnya”. 

Sama-sama kita merasakan, perubahan hidup kita semenjak teknologi membaur. Tidak sedikit diantara kita ketika bangun tidur pertama yang kita cari adalah smartphone. Tidak sedikit juga diantara kita ‘mati gaya’ ketika smartphone kesayangan kita ketinggalan di saat kita berkumpul dengan teman-teman kita. Tidak sedikit di antara kita berebut charger ketika batre smartphone kita habis.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dahulu, janjian dengan seseorang sebatas lisan pun kita tidak bingung. Sekarang, tanpa handphone rasanya kita bingung untuk bertemu dengan seseorang, khawatir inilah-itulah. Banyak perubahan yang kita alami, dari mulai hal terkecil sampai hal terbesar. Ini yang kita rasakan sekarang. 

Ada istilah juga, surga dan neraka saat ini tergantung apa yang kita ‘ketik’ lalu kita ‘klik’ pada tombol ‘enter’. Begitupun anekdot yang mengatakan, dimensi dosa dan pahala berkembang. Dulu, tidak ada dosa medsos, sekarang ada. Dulu, tidak ada dosa hoaks di dunia maya, sekarang ada. Dahulu, Tuhan belum membangun kapling surga bagi pengguna internet yang sehat, dan belum juga membangun kapling neraka bagi pengguna internet yang tidak sehat. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Itu hanya sekedar anekdot, tidak usah diambil serius. Pastinya, di antara kita saat ini telah menjadi hamba teknologi. Meminjam bahasa para filosof, teknologi telah menjadi “tuhan baru” buat kita. Kita ketergantungan, melebihi ketergantungan terhadap Tuhan.

Digambarkan Allah dalam Al-Qur’an (Al-Anbiya: [21]: 52), Nabi Ibrahim AS bertanya kepada kaum penyembah berhala, “Apakah kamu menyembah patung-patung ini?” Sungguh tragis, apa yang kita buat sendiri telah kita sembah. Dewasa ini, teori dirumuskan, hukum ditentukan, mesin canggih dibuat, handphone pintar berjuta pilihan, televisi dengan kendali pikiran, dan sayangnya kita semua menjadi tunduk kepada hal-hal tersebut. Kita diperbudak, padahal Islam telah mengharamkan praktik perbudakan.

Memang berbeda, dahulu manusia memperbudak manusia, sekarang manusia diperbudak mesin. Dahulu manusia membeli budak dan budak yang dibeli itu menjadi jongosnya. Sekarang sebaliknya, manusia membeli mesin dan mesin itu menjadi majikannya dan kita adalah jongosnya.  

Apakah ada yang salah? Tidak ada, selagi produk teknologi difungsikan sesuai kegunaannya. Bukan untuk ujuran kebencian, saling menjatuhkan, memfitnah, apalagi menyebarkan contoh perilaku yang tidak baik, itu tidak masalah. Namun, faktor ini yang menghalangi penghargaan terhadap modernisasi (dengan perkembangan teknologinya) karena telah mengalami atropia (kehilangan kualitas moral).

Mesin-mesin cenderung mencipta tidak hanya lingkungan hidup baru, melainkan juga mengubah hakikat manusia. Lingkungan hidup bukan lagi milik manusia, tetapi justru telah menjadi pemilik manusia. Manusia juga diharuskan menyesuaikan diri pada suatu dunia yang sebenarnya tidak diciptakan baginya. Ia dikejar oleh waktu. Ia makan tidak karena lapar dan tidur tidak karena mengantuk, tetapi karena waktu telah menunjukan saat makan dan tidur. (Imam Sukardi dkk, Pilar Islam Bagi Pluralisme Modern, 2003)

Begitupun fitnah yang tersebar, ujaran kebencian yang ada, ia keluar melalui tulisan maya bukan karena dasar tidak suka, melainkan kehendak berkuasa menuntunnya melakukan itu, dan ia melakoninya dengan kejujuran sesuai pemahamannya. Dalam hal ini, ia merasa mendapatkan ruang ekspresi yang bebas. Hanya saja, kadang lepas kontrol. Berbeda dengan penyebar hoaks berbayar, mereka “keterlaluan”.

Teknologi, khususnya informasi terbuka—melihat arus masyarakat bawah (awam), keterbukaan informasi banyak memberikan beban kehidupan. Ibu-ibu di desa, tukang becak, tukang bangunan, dan tukang-tukang yang lainnya—Obrolannya PKI, obrolannya demo (212, 299, dan seterunya), obrolannya hak angket. Sesungguhnya bukan kapasitas mereka memikirkan itu, tapi mereka merasa terbebani dengan hal tersebut (berita terus-menerus membayangi mereka). Bagi kebanyakan orang, ini kesadaran politik, kesadaran sejarah, dan kesadaran-kesadaran lainnya. Bagi saya, tidak! Sesuatu hal yang sia-sia memikirkan itu (untuk mereka). Disinilah masyarakat terjebak oleh pola pikir dan pola berita “amburadul”. 

Teknologi/internet tidak bisa menjelaskan, mana orang pintar, mana orang bodoh, mana orang jahat, mana orang baik, mana orang bijaksana, mana orang tidak bijaksana, mana orang membawa kebencian, dan mana orang membawa kedamaian. Di situ kita terjebak pada ‘hutan rimba’, berisi berbagai macam binatang berakal, ada singa yang ganas, ada ular berbisa, ada pula orang hutan yang baik, ada juga kelinci yang cerdik, dan ada juga burung yang penyayang. Entahlah, siapa yang benar di antara kita? Alam maya adalah hutan yang tak berpohon, banyak kemungkinan baik dan buruk.

Kita hanya menangkapnya, setiap ada yang tidak sesuai maka ia salah. Memang demikian, kegelapan selalu memiliki banyak rupa, tetapi cahaya hanya satu. Nur (cahaya) senantiasa berbentuk tunggal. Allah berfirman, “Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang beriman. Dia membawa mereka dari dzulumat kepada nur”. (QS. Al-Baqarah [2]: 257). 

Dzulumat adalah bentuk jamak dari dzulmat, berarti kegelapan. Kenapa “nur” selalu berbentuk tunggal? Bukan karena bahasa Arab tidak mempunyai bentuk jamak untuk hal itu, tetapi karena cahaya adalah satu, asalnya satu—kesadaran akan Sang Pencipta. Tidak ada sumber petunjuk lain jika cahaya dari Allah tidak ada. (Syed Abul Hasan Ali Nadwi, Pesan Islam, 1995, hlm. 47) 

Artinya, menyekat “keterbudakan” kita terhadap teknologi ialah dengan kesadaran. Kesadaran terhadap seruan dan perintah dari Allah, untuk kita terapkan dalam realitas kehidupan, agar cahaya-cahaya Ilahi menyelimuti kita. 

Iqbal mengatakan, “Meskipun Barat (teknologi) bersinar dengan cahaya ilmu, lautan kegelapan tidak menjadi “sumber kehidupan”, suatu bangsa (manusia) yang tidak diberkati dengan cahaya Tuhan, uap dan listrik membatasi pekerjaannya.” Bisa dimaknai, teknologi adalah “sumber kehidupan” yang berada pada “lautan kegelapan”, bisa juga sebaliknya—teknologi adalah “lautan kegelapan” yang tidak mempunyai “sumber kehidupan”. 

Karena itu, alangkah indahnya sekarang kita merenung kembali, adanya teknologi (medsos, smartphone, dan internet) memberikan kemudahan terhadap hidup kita, salah satunya kemudahan dalam menebarkan kemanfaatan sebanyak-banyaknya. Kita tidak seharusnya diperbudak, dikendalikan, melainkan kita yang mengendalikan, menjadikan teknologi sebagai “sumber kehidupan” pada “lautan pencerahan”, di dalamnya berisi cahaya-cahaya Tuhan. 

Dengan demikian, kehati-hatian, kontrol diri, dan kesadaran dalam memfungsikan teknologi, khsusunya Medsos, Internet, dan smartphone menjadi hal utama. Selain kesadaran terhadap Allah—continum tak terputus—membangkitkan pula kesadaran moral/etika/akhlak, supaya kita bisa hidup bersama di alam maya, menghormati orang lain, membangun toleransi, dan menebarkan kebaikan.

Saya akhiri dengan pesan Rasulullah SAW dalam sebuah hadits, dinyatakan pada hari kiamat Allah akan berkata kepada hamba-hamba-Nya, “Aku jatuh sakit dan kamu tidak menengok Aku”. Hamba itu akan menjawab, “Engkau Tuhan seluruh alam. Bagaimana saya bisa menengok Engkau?” Kemudian Allah akan berkata, “Tidakkah kamu mengetahui si anu hambaKu sakit dan kamu tidak mau menengoknya? Seandainya kamu pergi untuk melihat dia agar dapat menggembirakan atau membantu, kamu akan mendapati Aku bersamanya.” 

Allah akan berkata lagi, “Wahai anak Adam! Aku minta makanan, tetapi kamu tidak memberi makanan kepadaKu”. Hamba itu akan menjawab, “Engkau Tuhan seluruh alam bagaimana saya dapat memberiMu makanan? Allah akan berkata, “Apakah kamu tidak menyadari bahwa si anu seorang hambaKu minta makanan kepadamu dan kamu tidak memberinya. Seandainya kamu memberi dia makanan kamu akan mendapati dia bersama Aku”. 

Allah akan berkata lagi, “Wahai anak Adam! Aku telanjang, tetapi kamu tidak menutupi aku dengan sebuah pakaian.” Hamba itu akan menjawab, “Engkau Tuhan seluruh alam. Bagaimana saya dapat memberi Engkau? Kemudian Allah akan berkata, “Si anu hambaKu meminta sesuatu kepadamu untuk dipakai dan kamu tidak memberikannya kepada dia. Seandainya kamu telah melakukan hal itu, pakaian itu akan sampai kepada-Ku.”





Penulis, Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah Kebumen, Jawa Tengah

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Kajian Islam, PonPes, Amalan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kisah Kejujuran dan Pertobatan Kaab bin Malik

Salah satu perang kenamaan di masa Rasulullah adalah Perang Tabuk. Perang ini terjadi pada tahun kesembilan Hijriah, tepatnya pada bulan Rajab. Berdasarkan beberapa riwayat, seperti dalam kitab Sirah Nabawiyyah karya Ibnu Hisyam, perang ini merupakan perang yang berat karena cuaca yang kering, keadaan paceklik, serta lokasi peperangan yang jauh. Kisah berikut disarikan dari keterangan kitab tersebut.

Di antara rombongan umat muslim itu, tersebutlah Kaab bin Malik yang tidak ikut serta dalam keberangkatan menuju Perang Tabuk. Sebelumnya, Kaab bin Malik dikenal di kalangan sahabat sebagai orang yang terpercaya, golongan orang-orang yang pertama masuk Islam, dan selalu mengikuti perang bersama Nabi. Orang-orang tidak meragukan keimanannya.

Kisah Kejujuran dan Pertobatan Kaab bin Malik (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Kejujuran dan Pertobatan Kaab bin Malik (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Kejujuran dan Pertobatan Kaab bin Malik

Sayangnya, pada perang Tabuk ini, Kaab bin Malik ketinggalan rombongan sebab keterlambatannya dalam menyiapkan perbekalan. Anda tahu, saat Kaab masih bingung dalam persiapan menuju medan perang Tabuk, ternyata Nabi dan sahabat lain sudah bergegas menuju medan peperangan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kaab bin Malik pun gelisah karena keterlambatannya ini. Ia mengetahui bahwa ketika ada umat muslim yang mangkir dari perang, dan bukan disebabkan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan, maka hal tersebut adalah termasuk dosa yang besar.

Dalam kegelisahannya itu, ketika keluar rumah, ia menemui bahwa yang masih berada di sekitar lingkungannya adalah orang-orang yang bermaksud mangkir dari peperangan – konon disebut kaum yang munafik – dan orang-orang lemah yang tidak mampu berperang.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Di sisi lain, seusai perang, Rasulullah SAW baru menyadari bahwa Kaab bin Malik tidak ikut serta dalam perang Tabuk itu. Ia menanyakan pada para sahabat,

“Kemanakah Kaab bin Malik?”

Kemudian ada yang mengatakan, konon seorang sahabat dari Bani Salimah, mempertanyakan jangan-jangan Kaab ini mementingkan dirinya sendiri. Tapi langsung ia didamprat oleh sahabat Muadz bin Jabal ra.

“Perkataanmu buruk sekali! Tidak pantas kau katakan itu atas Kaab bin Malik!”

Kaab menjadi resah saat ia tahu bahwa ia tertinggal dan absen dari perang. Hal yang ia resahkan, adalah bagaimana ia akan berujar pada Nabi tentang keadaan yang menimpanya. Sempat ada hasrat berbohong, tapi ia urungkan.

Setibanya Nabi di Madinah, lalu menunaikan sembahyang sebagaimana beliau amalkan seusai perang, orang-orang yang tidak mengikuti perang mendatangi beliau dan menyampaikan alasan-alasan mereka. Disebutkan kurang lebih delapan puluh orang. Nabi menerima alasan mereka, dan mengatakan bahwa beliau menyerahkan urusan kebenaran dalam hati mereka dengan Allah. Kaab bin Malik pun menjadi rikuh.

Ia beranikan diri mendatangi Nabi, lantas berkata dengan jujur,

“Sejujurnya Nabi, tidak ada yang menghalangi saya untuk mengikuti perang. Saya rela mendapat hukuman atas kesalahan yang telah saya perbuat. Daripada saya mendapat murka Allah atas alasan-alasan yang saya perbuat, lebih baik saya mendapat hukuman darimu, Nabi,”

Mendengar pengakuan yang tulus itu, Nabi menerimanya. Namun karena beliau tahu bahwa kesalahan yang diperbuat Kaab bin Malik adalah kesalahan yang besar, maka beliau memutuskan untuk menunggu jawaban dari Allah. Rupanya selain Kaab bin Malik, ada dua sahabat lainnya yang mengalami hal serupa, dengan alasan yang sama dengan Kaab bin Malik.

Beberapa hari kemudian, Nabi memerintahkan para sahabat untuk tidak mengajak bicara Kaab bin Malik dan dua sahabat lainnya itu sebagai bentuk hukuman. Tentu saja bagi mereka bertiga, hal itu terasa menyesakkan perasaan. Dalam riwayat, Kaab bin Malik berusaha bertingkah biasa, namun bagaimanapun ia merasakan tekanan yang berat saat diabaikan oleh sahabat-sahabat lainnya. Ia sempat berjumpa seorang sahabat, lantas bertanya,

“Tidak tahukah engkau bahwa aku ini sungguh mencintai Allah dan Rasul-Nya?”

Sahabat itu menjawab, “Hanya Allah dan Rasul-Nya yang mengetahui tentang hal itu,”

Kaab bin Malik semakin kesulitan. Kemudian pada hari keempat puluh, Nabi menambahkan bahwa Kaab bin Malik dan dua sahabat lainnya yang tidak ikut perang tersebut diminta untuk tidak mendekati istri-istri mereka. Tak terasa, hukuman itu terjadi sampai lima puluh hari. Pada hari kelima puluh itu, Kaab bin Malik melakukan salat sebelum fajar, lantas mengadukan masalahnya kepada Allah.

“Kaab!” Terdengar suara Nabi memanggil. Kaab bin Malik terkejut.

“Sungguh, ampunan Allah sudah tiba untuk kalian bertiga!” terang Rasulullah berseri-seri. Kemudian Rasulullah menyebutkan tiga ayat dari surat At Taubah, yaitu ayat 117 sampai 119 yang menjelaskan tentang ampunan Allah untuk mereka bertiga.

Kaab merasakah bahagia, yang dalam riwayat disebutkan bahwa ia tak pernah sebahagia itu sejak dilahirkan ibunya. Kejujurannya berbuah manis, meski ia harus menanggung konsekuensi atas alasan yang ia sampaikan akibat keterlambatannya mengikuti perang. Dan memang diriwayatkan bahwa alasan keteledoran mereka itu, bukanlah bermaksud untuk berpaling dari kewajiban perang, sehingga Allah mengampuni mereka bertiga. Setiap kejujuran memang sering berimbas pahit, namun bagaimanapun, ia adalah sikap berani mempertanggungjawabkan kesalahan, sebagaimana dicontohkan Kaab bin Malik dan dua sahabat itu. (Iqbal Syauqi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Anti Hoax, Khutbah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 13 Maret 2018

Pemberantas Korupsi Tak Bersih, Korupsi Merajalela

Magelang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi menilai, tindak pidana korupsi makin merajalela sedangkan pihak berwenang yang melakukan pemberantasan korupsi juga tidak bersih.

"Tambah tinggi tambah merajalela," katanya saat memberikan tausyiah Harlah Bersama Badan-Badan Otonomi Nahdlatul Ulama Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah di Lapangan "drh Soepardi" Kota Mungkid, di Magelang, Kamis (19/4) yang dihadiri ribuan warga nahdliyin setempat.

Ia mengatakan, seharusnya semakin banyak korupsi maka semakin mudah melakukan pemberantasannya. Korupsi, katanya, terjadi dari sekadar orang mengambil sandal di masjid hingga korupsi di Jakarta.

Pemberantas Korupsi Tak Bersih, Korupsi Merajalela (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemberantas Korupsi Tak Bersih, Korupsi Merajalela (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemberantas Korupsi Tak Bersih, Korupsi Merajalela

Ia menyebut mereka yang tertangkap aparat karena melakukan korupsi sebagai sedang sial. "Saking banyaknya korupsi sebenarnya asal ambil (tangkap pelakunya,red) pasti kena," katanya.

Ia mengaku mendapat keluhan dari seseorang yang disangka korupsi Rp65 juta tetapi dirinya harus mengeluarkan uang hingga Rp400 juta untuk mengurusnya. "Lalu siapa sebenarnya yang korupsi. Siapa yang ketangkap itu yang sedang apes, yang nangkap kelakuannya sama tetapi tidak terjamah," katanya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pada kesempatan itu Hasyim juga mencontohkan perilaku buruk oknum aparat penegak hukum dalam melaksanakan tugasnya. "Seorang kehilangan kambing, lapor kepada petugas harus membayar senilai harga sapi, jadi orang itu kehilangan kambing dan sapi," katanya. (ant/kut)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Internasional, Kajian Islam Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

NU Bondowoso: Malam Tahlilan, Pagi Apel Santri

Bondowoso, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bondowoso mengadakan tahlilan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional di Kantor PCNU setempat, Jalan KH Agus Salim Nomor 85 Belindungan, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur Rabu malam ( 21/10)

Ketua Tanfidziah PCNU Bondowoso H Abdul Qodir Syam menjelaskan, kegiatan tahlil ini merupakan acara rutinan warga NU setempat yang dilaksanakan setiap Selasa malam. Agar bersamaan mendekati tanggal 22 Okteber 2015 yang ditetapkan pemerintah sebagai Hari Santri Nasional maka pengurus NU setempat mengundur jadwal menjadi Rabu malam atau malam Kamis.

NU Bondowoso: Malam Tahlilan, Pagi Apel Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Bondowoso: Malam Tahlilan, Pagi Apel Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Bondowoso: Malam Tahlilan, Pagi Apel Santri

Abdul Qodir Syam menambakan, Kamis (22/10) ini delegasi santri dari Pondok Pesantren Se-Bondowoso akan mengikuti Apel Santri. Kegiatan tersebut di bawah koordinasi Rabithah Ma’ahid Islamiyah NU (RMINU) Bondowoso, Lembaga Pendidikan Maarif NU Bondowoso, dan Gerakan Pemuda Ansor Bondowoso.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Nantinya yang menjadi Inspiktur upacara Apel Santri adalah Drs. H. Salwa Arifin (Wakil Bupati Bondowoso) yang akan dilaksanakan di depan Kantor PCNU Bondowoso," imbuhannya.

Salwa Arifin yang hadir dalam acara tahlilan itu mengaku merasa terhormat dapat terlibat dalam peringatan Hari Santri Nasional. Mustasyar PCNU Bondowoso ini menambahkan, tidak berlebihan NU menyambut antusias Hari Santri, termasuk dengan tahlilan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ia mengatakan, NU tak suka dengan perpecahan, NU tawaduk. “Kenapa demikian? Karena NU adalah ‘pesantren besar’ di dalamnya ada pondok pesantren dan NU indentik dengan pesantren. Begitu pula pesantren indentik dengan NU dan itu tidak bisa dipisahkan itu berpaham Ahlusunnah wal Jamaah.” (Ade Nurwahyudi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Internasional Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Liga Santri Nusantara Zona Sulbar Digelar Enam Hari

Polewali Mandar, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Liga Santri Nusantara (LSN) Zona Sulawesi Barat (Sulbar) dibuka secara resmi Jumat (18/9) sore. Pembukaan dilaksanakan di Lapangan Rajawali Desa Panyampa, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat.

Liga Santri Nusantara Zona Sulbar Digelar Enam Hari (Sumber Gambar : Nu Online)
Liga Santri Nusantara Zona Sulbar Digelar Enam Hari (Sumber Gambar : Nu Online)

Liga Santri Nusantara Zona Sulbar Digelar Enam Hari

Acara pembukaan diawali dengan sambutan dari Kordinator LSN Sulbar, Indah Mayasari. "Santri yang menjunjung tinggi prinsip dalam sportivitas seperti kejujuran dan disiplin semoga mampu menjadi teladan bagi pelaku sepak di tengah carut marut sepakbola di Tanah Air," ungkap Indah yang juga merupakan mantan ketua Pengurus Cabang PMII Polman.

Pembukaan ditandai dengan kick off perdana oleh Wakil Bupati Polman Nasir Rahmat didampingi AGH Abdul Latif Busrah selaku pimpinan Pondok Pesantren Salafiyah Parappe, tuan rumah LSN Zona Sulbar. Laga perdana memepertemukan Pesantren Salafiyah Parappe dengan Pesantren Hasan Yamani. Sang tuan rumah menang 2-1 atas Pesantren Hasan Yamani.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pertandingan berlangsung meriah yang disaksikan semua santri Pesantren Salafiyah dan masyarakat setempat. LSN Zona Sulbar berlangsung selama 6 hari terhitung dari tanggal 18-23 September 2015.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sebelumnya, Wakil Bupati Polman Nasir Rahmat memberikan semangat kepada para santri yang ikut bertanding. "Santri sudah diakui dalam persoalan keagamaan seperti baca kitab dan menjadi imam di masjid. Melalui momentum LSN ini, saatnya menunjukan prestasi olahraga dan menjunjung tinggi nilai sportifitas," ungkap Nasir. (Sudianto/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Sejarah, Nahdlatul Ulama Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 09 Maret 2018

Setda Pemkab Kepulauan Sula Studi Banding ke NU Care-LAZISNU

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sebanyak 11 orang perwakilan dari Sekretariat Daerah Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sula berkunjung, silaturahmi ke kantor NU Care-LAZISNU, di gedung PBNU Jakarta Pusat, Jumat (20/10) pagi. Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka Studi Banding dan Bimbingan Teknis Manajemen ZIS (Zakat, Infak, Sedekah).

Kabag Kesejahteraan Rakyat Setda Pemkab Sula, Haryono Subiyanto menyampaikan maksud kedatangan ke NU Care-LAZISNU untuk mengembangkan potensi pemberdayaan umat di Kepulauan Sula. 

Setda Pemkab Kepulauan Sula Studi Banding ke NU Care-LAZISNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Setda Pemkab Kepulauan Sula Studi Banding ke NU Care-LAZISNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Setda Pemkab Kepulauan Sula Studi Banding ke NU Care-LAZISNU

“Kepulauan Sula, satu daerah yang masuk dalam kategori daerah terpencil, tertinggal, terletak di provinsi Maluku Utara, saya pikir harus mendapat perhatian khusus. Program-program pemberdayaan ekonomi, pemberdayaan umat sangat perlu kita laksanakan di sana,” ucap Haryono.

Haryono mengungkapkan, Pemkab bersama dengan PCNU Sula berkomitmen agar LAZISNU bisa hadir dan berkembang di tengah masyarakat Kabupaten Sula. Ia juga menjelaskan, masyarakat Sula mayoritas Nahdliyin.

“Lebih dari sembilan puluh persen masyarakat Sula adalah muslim. Dan secara amaliah, adalah amaliah Nahdlatul Ulama,” jelas Haryono, yang juga Sekretaris PCNU di Kabupaten Sula.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ia menegaskan, silaturahmin ke NU Care-LAZISNU sebagai langkah awal untuk membentuk, menghadirkan, dan mengembangkan LAZISNU di Sula.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Ini adalah langkah awal kita, dan kita berkomitmen setelah pulang dari sini kita akan langsung membentuk kepengurusan LAZISNU. Kita ingin bisa memaksimalkan potensi pemberdayaan Nahdliyin di sana. Harapannya, ke depan para mustahiq yang ada di Sula bisa menjadi muzaki,” pungkasnya.

Ketua NU Care-LAZISNU Syamsul Huda menyambut baik silaturahmi Setda Pemkab Sula dan berharap ada manfaat yang bisa diambil dari LAZISNU oleh peserta Studi Banding dan Bimtek Manajemen ZIS.

“Ini adalah awal. Ini tugas kita bersama untuk memberdayakan ekonomi Nahdliyin, termasuk di Kepulauan Sula. Semoga dari kunjungan ada manfaat yang bisa diambil dari LAZISNU,” tutur Syamsul.

Bimbingan Teknis Manajemen ZIS diisi oleh beberapa manajer NU Care-LAZISNU, antara lain Manajer Administrasi dan Umum, Ahyad Alfida’i; Manajer Fundraising, Nur Rohman; dan Manajer Penyaluran dan Pendayagunaan, dan Slamet Tuharie. (Wahyu Noerhadi/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Aswaja, Quote Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock