Tampilkan postingan dengan label Amalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amalan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Maret 2018

Menjadi Budak Teknologi: Sebuah Renungan

Oleh: Aswab Mahasin

Dalam salah satu sajaknya Rumi mengatakan, “Ini semua bukan manusia, hanya wajah-wajah manusia yang mereka miliki. Budak-budak perut, korban-korban hawa nafsu.” Rumi merindukan manusia; di dalam kota yang megah itu; kebudayaan dan ilmu berkembang pesat, ia mencari manusia. Semua yang dicari ia temukan di sana, bangunan mewah, mobil mahal, pakaian branded, jam tangan ratusan juta rupiah, smartphone terbaru seharga puluhan juta, gedung-gedung menjulang tinggi, paras bersolek dengan kosmetik mahal, mall-mall yang ramai, makanan beragam jenis, dan berbagai perilakunya. Namun, itu bukan manusia. Rumi meyakinkan lagi, itu manusia, wujudunya manusia, bentuknya manusia, dan penampilannya manusia. Tetapi, bukan manusia sebenarnya, bukan manusia sesungguhnya. 

Menjadi Budak Teknologi: Sebuah Renungan (Sumber Gambar : Nu Online)
Menjadi Budak Teknologi: Sebuah Renungan (Sumber Gambar : Nu Online)

Menjadi Budak Teknologi: Sebuah Renungan

Mari kita merenung sejenak. Siklus hidup harian kita, dari mulai bangun tidur sampai tidur kembali, berapa kebaikan dan kemanfaatan yang kita tebar? Adakah dua atau tiga? Siapakah yang benar-benar mempunyai keinginan—dunia ini menjadi rukun dan saling menghormati? Praktisi politik mana yang tidak haus kekuasaan? Adakah dari kita yang tidak mempunyai kebencian? 

Tuhan menciptakan manusia sebagai khalifatullah, khalifah di muka bumi ini, bagi dunia dan seluruh isinya, semua sumbernya dan semua bendanya. Syed Abul Hasan Ali Nadwi mengatakan, “Manusia bukan untuk menjadi budak benda (materi) tetapi untuk membuat materi menjadi budaknya atau membuatnya untuk menjadi abadi Tuhan, dan untuk memanfaatkannya dalam memenuhi kehendak Tuhan.”

Telah jelas bukan? Teknologi bukanlah “majikan” yang harus kita taati. Ia hanya benda/barang yang mempunyai nilai guna/kekuatan netral untuk melayani manusia—walaupun teknologi berusaha menjadikan kita “jongosnya”. 

Sama-sama kita merasakan, perubahan hidup kita semenjak teknologi membaur. Tidak sedikit diantara kita ketika bangun tidur pertama yang kita cari adalah smartphone. Tidak sedikit juga diantara kita ‘mati gaya’ ketika smartphone kesayangan kita ketinggalan di saat kita berkumpul dengan teman-teman kita. Tidak sedikit di antara kita berebut charger ketika batre smartphone kita habis.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dahulu, janjian dengan seseorang sebatas lisan pun kita tidak bingung. Sekarang, tanpa handphone rasanya kita bingung untuk bertemu dengan seseorang, khawatir inilah-itulah. Banyak perubahan yang kita alami, dari mulai hal terkecil sampai hal terbesar. Ini yang kita rasakan sekarang. 

Ada istilah juga, surga dan neraka saat ini tergantung apa yang kita ‘ketik’ lalu kita ‘klik’ pada tombol ‘enter’. Begitupun anekdot yang mengatakan, dimensi dosa dan pahala berkembang. Dulu, tidak ada dosa medsos, sekarang ada. Dulu, tidak ada dosa hoaks di dunia maya, sekarang ada. Dahulu, Tuhan belum membangun kapling surga bagi pengguna internet yang sehat, dan belum juga membangun kapling neraka bagi pengguna internet yang tidak sehat. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Itu hanya sekedar anekdot, tidak usah diambil serius. Pastinya, di antara kita saat ini telah menjadi hamba teknologi. Meminjam bahasa para filosof, teknologi telah menjadi “tuhan baru” buat kita. Kita ketergantungan, melebihi ketergantungan terhadap Tuhan.

Digambarkan Allah dalam Al-Qur’an (Al-Anbiya: [21]: 52), Nabi Ibrahim AS bertanya kepada kaum penyembah berhala, “Apakah kamu menyembah patung-patung ini?” Sungguh tragis, apa yang kita buat sendiri telah kita sembah. Dewasa ini, teori dirumuskan, hukum ditentukan, mesin canggih dibuat, handphone pintar berjuta pilihan, televisi dengan kendali pikiran, dan sayangnya kita semua menjadi tunduk kepada hal-hal tersebut. Kita diperbudak, padahal Islam telah mengharamkan praktik perbudakan.

Memang berbeda, dahulu manusia memperbudak manusia, sekarang manusia diperbudak mesin. Dahulu manusia membeli budak dan budak yang dibeli itu menjadi jongosnya. Sekarang sebaliknya, manusia membeli mesin dan mesin itu menjadi majikannya dan kita adalah jongosnya.  

Apakah ada yang salah? Tidak ada, selagi produk teknologi difungsikan sesuai kegunaannya. Bukan untuk ujuran kebencian, saling menjatuhkan, memfitnah, apalagi menyebarkan contoh perilaku yang tidak baik, itu tidak masalah. Namun, faktor ini yang menghalangi penghargaan terhadap modernisasi (dengan perkembangan teknologinya) karena telah mengalami atropia (kehilangan kualitas moral).

Mesin-mesin cenderung mencipta tidak hanya lingkungan hidup baru, melainkan juga mengubah hakikat manusia. Lingkungan hidup bukan lagi milik manusia, tetapi justru telah menjadi pemilik manusia. Manusia juga diharuskan menyesuaikan diri pada suatu dunia yang sebenarnya tidak diciptakan baginya. Ia dikejar oleh waktu. Ia makan tidak karena lapar dan tidur tidak karena mengantuk, tetapi karena waktu telah menunjukan saat makan dan tidur. (Imam Sukardi dkk, Pilar Islam Bagi Pluralisme Modern, 2003)

Begitupun fitnah yang tersebar, ujaran kebencian yang ada, ia keluar melalui tulisan maya bukan karena dasar tidak suka, melainkan kehendak berkuasa menuntunnya melakukan itu, dan ia melakoninya dengan kejujuran sesuai pemahamannya. Dalam hal ini, ia merasa mendapatkan ruang ekspresi yang bebas. Hanya saja, kadang lepas kontrol. Berbeda dengan penyebar hoaks berbayar, mereka “keterlaluan”.

Teknologi, khususnya informasi terbuka—melihat arus masyarakat bawah (awam), keterbukaan informasi banyak memberikan beban kehidupan. Ibu-ibu di desa, tukang becak, tukang bangunan, dan tukang-tukang yang lainnya—Obrolannya PKI, obrolannya demo (212, 299, dan seterunya), obrolannya hak angket. Sesungguhnya bukan kapasitas mereka memikirkan itu, tapi mereka merasa terbebani dengan hal tersebut (berita terus-menerus membayangi mereka). Bagi kebanyakan orang, ini kesadaran politik, kesadaran sejarah, dan kesadaran-kesadaran lainnya. Bagi saya, tidak! Sesuatu hal yang sia-sia memikirkan itu (untuk mereka). Disinilah masyarakat terjebak oleh pola pikir dan pola berita “amburadul”. 

Teknologi/internet tidak bisa menjelaskan, mana orang pintar, mana orang bodoh, mana orang jahat, mana orang baik, mana orang bijaksana, mana orang tidak bijaksana, mana orang membawa kebencian, dan mana orang membawa kedamaian. Di situ kita terjebak pada ‘hutan rimba’, berisi berbagai macam binatang berakal, ada singa yang ganas, ada ular berbisa, ada pula orang hutan yang baik, ada juga kelinci yang cerdik, dan ada juga burung yang penyayang. Entahlah, siapa yang benar di antara kita? Alam maya adalah hutan yang tak berpohon, banyak kemungkinan baik dan buruk.

Kita hanya menangkapnya, setiap ada yang tidak sesuai maka ia salah. Memang demikian, kegelapan selalu memiliki banyak rupa, tetapi cahaya hanya satu. Nur (cahaya) senantiasa berbentuk tunggal. Allah berfirman, “Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang beriman. Dia membawa mereka dari dzulumat kepada nur”. (QS. Al-Baqarah [2]: 257). 

Dzulumat adalah bentuk jamak dari dzulmat, berarti kegelapan. Kenapa “nur” selalu berbentuk tunggal? Bukan karena bahasa Arab tidak mempunyai bentuk jamak untuk hal itu, tetapi karena cahaya adalah satu, asalnya satu—kesadaran akan Sang Pencipta. Tidak ada sumber petunjuk lain jika cahaya dari Allah tidak ada. (Syed Abul Hasan Ali Nadwi, Pesan Islam, 1995, hlm. 47) 

Artinya, menyekat “keterbudakan” kita terhadap teknologi ialah dengan kesadaran. Kesadaran terhadap seruan dan perintah dari Allah, untuk kita terapkan dalam realitas kehidupan, agar cahaya-cahaya Ilahi menyelimuti kita. 

Iqbal mengatakan, “Meskipun Barat (teknologi) bersinar dengan cahaya ilmu, lautan kegelapan tidak menjadi “sumber kehidupan”, suatu bangsa (manusia) yang tidak diberkati dengan cahaya Tuhan, uap dan listrik membatasi pekerjaannya.” Bisa dimaknai, teknologi adalah “sumber kehidupan” yang berada pada “lautan kegelapan”, bisa juga sebaliknya—teknologi adalah “lautan kegelapan” yang tidak mempunyai “sumber kehidupan”. 

Karena itu, alangkah indahnya sekarang kita merenung kembali, adanya teknologi (medsos, smartphone, dan internet) memberikan kemudahan terhadap hidup kita, salah satunya kemudahan dalam menebarkan kemanfaatan sebanyak-banyaknya. Kita tidak seharusnya diperbudak, dikendalikan, melainkan kita yang mengendalikan, menjadikan teknologi sebagai “sumber kehidupan” pada “lautan pencerahan”, di dalamnya berisi cahaya-cahaya Tuhan. 

Dengan demikian, kehati-hatian, kontrol diri, dan kesadaran dalam memfungsikan teknologi, khsusunya Medsos, Internet, dan smartphone menjadi hal utama. Selain kesadaran terhadap Allah—continum tak terputus—membangkitkan pula kesadaran moral/etika/akhlak, supaya kita bisa hidup bersama di alam maya, menghormati orang lain, membangun toleransi, dan menebarkan kebaikan.

Saya akhiri dengan pesan Rasulullah SAW dalam sebuah hadits, dinyatakan pada hari kiamat Allah akan berkata kepada hamba-hamba-Nya, “Aku jatuh sakit dan kamu tidak menengok Aku”. Hamba itu akan menjawab, “Engkau Tuhan seluruh alam. Bagaimana saya bisa menengok Engkau?” Kemudian Allah akan berkata, “Tidakkah kamu mengetahui si anu hambaKu sakit dan kamu tidak mau menengoknya? Seandainya kamu pergi untuk melihat dia agar dapat menggembirakan atau membantu, kamu akan mendapati Aku bersamanya.” 

Allah akan berkata lagi, “Wahai anak Adam! Aku minta makanan, tetapi kamu tidak memberi makanan kepadaKu”. Hamba itu akan menjawab, “Engkau Tuhan seluruh alam bagaimana saya dapat memberiMu makanan? Allah akan berkata, “Apakah kamu tidak menyadari bahwa si anu seorang hambaKu minta makanan kepadamu dan kamu tidak memberinya. Seandainya kamu memberi dia makanan kamu akan mendapati dia bersama Aku”. 

Allah akan berkata lagi, “Wahai anak Adam! Aku telanjang, tetapi kamu tidak menutupi aku dengan sebuah pakaian.” Hamba itu akan menjawab, “Engkau Tuhan seluruh alam. Bagaimana saya dapat memberi Engkau? Kemudian Allah akan berkata, “Si anu hambaKu meminta sesuatu kepadamu untuk dipakai dan kamu tidak memberikannya kepada dia. Seandainya kamu telah melakukan hal itu, pakaian itu akan sampai kepada-Ku.”





Penulis, Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah Kebumen, Jawa Tengah

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Kajian Islam, PonPes, Amalan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 20 Februari 2018

GP Ansor Enam Kecamatan di Sukabumi Sowan kepada Para Kiai

Sukabumi, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Gerakan Pemuda GP Ansor Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat Koordinator Wilayah Binaan IV melakukan sowan maraton kiai-kiai NU yang menjadi pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul ulama (MWC NU) di wilayah tersebut Ahad (24/7).

Para pemuda NU dari enam kecamatan tersebut berkumpul kemudian mendatangi kiai di Kecamatan Warungkiara, Bantar Gadung, Simpenan, Pelabuhan Ratu, Cikakak dan juga Cisolok.

GP Ansor Enam Kecamatan di Sukabumi Sowan kepada Para Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Enam Kecamatan di Sukabumi Sowan kepada Para Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Enam Kecamatan di Sukabumi Sowan kepada Para Kiai

Menurut Koordinator Wilayah IV? Ustadz Aang Miftahurrohmat, kegiatan tersebut adalah ajang silaturahim dan halal bihalal dari anak muda kepada orang tua.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Ini sangat diperlukan untuk supaya kenal antara pengurus MWCNU dan GP Ansor,” katanya.

Para anak muda tersebut juga meminta kepada kiai untuk memberi masukan cara berkhidmah dan berjuang di NU supaya di kecamatan masing-masing. Tak hanya itu, para kiai diminta berdoa supaya segala sesuatu yang dihadapi di lapangan berjalan dengan baik.

Didatangi para anak muda, para kiai mengaku sangat senang. Pengakuan itu misalnya disampaikan Ketua MWCNU Kecamatan Simpenan KH Zaenal Arifin.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kiai Zaenal berpesan kepada pemuda Ansor agar bisa menghargai dan menghormati masyarakat. Ketika datang di suatu tempat pemuda NU harus bisa beradaptasi dengan masyarakat.

Ia mengingatkan jangan sekali-kali menggunakan kekerasan ketika bertindak, tapi mengedepankan kelemahlembutan dan kesantunan. “Kita melihat cara dakwahnya para Wali Songo dalam menghadapi masyarakat tersebut,” katanya. (Sofyan Syarif/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ubudiyah, Amalan, Halaqoh Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 18 Februari 2018

STISNU Nusantara Tangerang Dirikan Komisariat PMII

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang, Banten, melalui badan eksekutif mahasiswa mendirikan Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sebagai bentuk pembumian Aswaja di kalangan mahasiswa setempat.

Dalam rilis yang diterima Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan, Jumat (21/11), piha STISNU mendorong organisasi ekstra kampus tersebut menjadi motor penggerak pengembangan ajaran Ahlusunah wal Jamaah di Tangerang.

STISNU Nusantara Tangerang Dirikan Komisariat PMII (Sumber Gambar : Nu Online)
STISNU Nusantara Tangerang Dirikan Komisariat PMII (Sumber Gambar : Nu Online)

STISNU Nusantara Tangerang Dirikan Komisariat PMII

“Apalagi, kalian lahir (menjadi alumni) nanti asli dari produk perguruan tinggi yang mengembangkan Aswaja sebagai manhajnya,” kata DR. Bahruddin, salah satu petinggi kampus.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sebagai upaya rintisan, Masa Pemerimaan Anggota Baru (Mapaba) yang menjadi jenjang pertama kaderisasi PMII telah dilaksanakan 6 November lalu. Mapaba kemudian dilanjutkan dengan Pelatihan Kader Dasar (PKD) pada hari berikutnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

STISNU Nusantara mewajibkan mahasiswanya untuk bergabung di organisasi ini. Tercatat ada 126 mahasiswa yang telah terdaftar. “Insya Allah, berawal dari kampus PTNU (perguruan tinggi NU), kami bisa meng-Aswaja-kan generasi muda di Tangerang,” tutur Eko Wiyono, ketua panitia Mapaba dan PKD. (Mahbib Khoiron)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Kyai, Amalan, Syariah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 15 Februari 2018

PCNU Sumedang Serahkan Mobil Operasional ke Pengurus Lembaga

Sumedang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumedang memberikan mobil operasional kepada pengurus Lembaga Pendidikan Ma’arif NU setempat. Secara sombolis, kunci mobil diserahkan Ketua PCNU Sumedang H Sadulloh kepada Ketua LP Maarif NU Sumedang Cucu Suhayat.

PCNU Sumedang Serahkan Mobil Operasional ke Pengurus Lembaga (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Sumedang Serahkan Mobil Operasional ke Pengurus Lembaga (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Sumedang Serahkan Mobil Operasional ke Pengurus Lembaga

Sadulloh mangatakan bahwa sampai saat ini sekolah-sekolah formal yang berada di bawah LP Maarif NU Sumedang sudah mencapai 50 sekolah. Sekolah-sekolah itu tersebar di seluruh pelosok Kabupaten Sumedang. “Sudah sewajarnya kami memberikan mobil operasional kepada LP Maarif untuk memantau sekolah-sekolah NU tersebut,” ujarnya.

Kedepan, imbuhnya, tidak hanya pengurus LP Maarif, pengurus lembaga lain pun boleh memakai mobil operasional ini. “Alhamdulillah sampai saat ini PCNU Sumedang sudah memiliki kendaraan operasional tiga buah mobil. Mudah-mudahan kedepannya masih bisa bertambah untuk kemajuan NU di Sumedang,” tuturnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Penyerahan mobil operasional dilakukan dalam rangkaian acara pengukuhan pengurus Lembaga Pendidikan (LP) Maarif NU dan Lembaga Wakaf dan Pertanahan NU (LWPNU) Kabupaten Sumedang. Kegiatan yang dirangkai dengan acara Maulid Nabi Muhammad itu berlangsung di halaman kantor PCNU Sumedang, Sabtu (16/1).

Selain acara pelantikan, kegiatan muludan di PCNU Sumedang juga diisi dengan kegiatan santunan beasiswa kepada anak berprestasi dan mauidhah hasanah. Sebanyak 20 santri terbaik  yang sedang menghafal Al-Quran diberikan beasiswa pendidikan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pengisi tausyiah dalam kegiatan muludan kali ini adalah KH Asep Shoheh dari Indramayu. Tema yang dibahas yaitu peranan NU dalam membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia. (Ayi Abdul Kohar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Internasional, Humor Islam, Amalan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 10 Februari 2018

MUI: Menjaga Keutuhan NKRI adalah Kewajiban

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Maruf Amin menjelaskan, Indonesia adalah negara kesepakatan bersama. Semua kelompok masyarakat baik yang Muslim maupun yang non-Muslim berjanji untuk saling menjaga, mencintai, dan menyayangi.

“Dan berjanji untuk saling membantu dan menolong (satu sama lainnya),” kata Kiai Maruf saat memberikan sambutan dalam acara Halaqah Nasional dan Rapat Kerja Nasional Komisi Hukum dan Perundang-undangan MUI di Hotel Menara Peninsula Jakarta, Kamis (12/10) malam.

MUI: Menjaga Keutuhan NKRI adalah Kewajiban (Sumber Gambar : Nu Online)
MUI: Menjaga Keutuhan NKRI adalah Kewajiban (Sumber Gambar : Nu Online)

MUI: Menjaga Keutuhan NKRI adalah Kewajiban

Mengutip Teori Al-Ghazali, Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu menuturkan bahwa sebuah negara terbentuk karena adanya sebuah ketergantungan atau inderdependensi antarsatu elemen masyarakat dengan yang lainnya. Misalkan seorang petani membutuhkan alat-alat pertanian, maka diperlukanlah industri pertanian. Untuk mengangkut hasil panen, mereka membutuhkan alat transportasi sehingga mereka memerlukan industri transportasi.

“Jika keamanannya terganggu, maka perlu tentara. Karena saling tergantung maka kita membentuk negara. Ini teori Imam Ghazali yang sudah ada seribu tahun tahun yang lalu,” jelas penerima gelar profesor dari UIN Malik Ibrahim Malang itu.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Menurut dia, tujuan pendirian sebuah negara tidak lain adalah untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat sebagaimana yang tercetus dalam kaidah hukum Islam bahwa apapun yang diperbuat oleh seorang pemimpin itu harus bermuara pada kemaslahatan rakyatnya.

“Kemaslahatan yang lahir tidak boleh bertentangan dengan kebangsaan dan keislaman. Pun tidak boleh bertentangan dengan nash. Kalau ada kemaslahatan yang bertentangan dengan nash, itu bukan maslahat yang hakiki tetapi dugaan saja,” terangnya.

Oleh sebab itu, dengan terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) maka seluruh masyarakat Indonesia harus bersyukur karena urusan dasar negara sudang diselesaikan oleh para pendiri bangsa ini.

“Meski sudah final (dasar negara Indonesia), tetapi ada kelompok yang belum memiliki komitmen penuh terhadap kebangsaan kita,” katanya.

Maka dari itu, ia menghimbau kepada seluruh pengurus MUI khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya untuk mengawal dan menjaga kesatuan NKRI.

“Kita memiliki kewajiban untuk mengawal hubungan yang baik antara Islam dan kebangsaan,” tegasnya.

“Ini tugas kita menjaga NKRI,” tutupnya. (Muchlishon Rochmat/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Amalan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 01 Februari 2018

Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta Gelar Pemantapan Kurikulum

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Para dosen Pascasarjana Program Magister (PPM) Islam Nusantara Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta menggelar diskusi pemantapan kurikulum tahun akademik 2015/2016 di ruang Media Center lantai 5 Gedung PBNU Jakarta, Rabu (7/10) sebelum proses perkuliahaan perdana dimulai.

Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta Gelar Pemantapan Kurikulum (Sumber Gambar : Nu Online)
Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta Gelar Pemantapan Kurikulum (Sumber Gambar : Nu Online)

Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta Gelar Pemantapan Kurikulum

“Rapat dan diskusi ini digelar guna mengevaluasi proses perkuliahaan yang telah lalu sehingga bisa memperbarui kualitas kurikulum dan proses perkuliahaan ke arah yang lebih baik,” ujar Asisten Direktur Pascasarjana, Dr Muhammad Ulinnuha Husnan, MA.

Dari dinamika diskusi berdasarkan beberapa semester lalu yang sudah berjalan, para dosen sepakat untuk memasukkan matrikulasi bahasa. Antara lain bahasa Belanda, Arab, dan Jawa.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Alasannya jelas, karena literatur-literatur terkait sejarah Islam di Nusantara sangat banyak yang masih berbahasa Belanda dan Jawa selain Arab dan Arab pegon,” terang Ulin.

Diskusi ini dihadiri oleh narasumber diantaranya, Prof Dr M Dien Madjid, Dr Rumadi, Dr Mastuki Hs, dan Hamdani, PhD. Serta para staf akademik, Muhammad Afifi, MH, Ayatullah, MFil, dan Muhammad Idris Masudi, Lc, SThI.

Angkatan pertama, PPM Islam Nusantara STAINU Jakarta berhasil mencetak magister pertama sebanyak 45 orang dengan mengkaji tesis mengenai khazanah Islam Nusantara dari berbagai daerah di Indonesia.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Tahun akademik 2015/2016 ini, pascasarjana menerima sebanyak 90 mahasiswa dari berbagai program beasiswa. Program beasiswa Kemenag untuk guru sebanyak 20 orang, beasiswa program pendidikan kader ulama (PKU) sebanyak 25 orang, program beasiswa 1 tahun STAINU Jakarta 30 orang, dan 25 orang lagi dari program beasiswa Yayasan Said Aqil Siroj. Perkuliahaan perdana akan dilaksanakan mulai Jumat, 9 Oktober 2015 besok. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Amalan, Anti Hoax Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 14 Januari 2018

Lakpesdam PBNU Siap Fasilitasi MWCNU Gerakkan Ranting

Garut, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) PBNU mempersilakan bagi kepengurusan NU di tingkat mana saja untuk mengadakan Pelatihan Penggerak Ranting. Lakpesdam PBNU siap memfasilitasi kegiatan yang menjadi program kerja lembaga yang lahir 7 April 1985 ini.

Lakpesdam PBNU Siap Fasilitasi MWCNU Gerakkan Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam PBNU Siap Fasilitasi MWCNU Gerakkan Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakpesdam PBNU Siap Fasilitasi MWCNU Gerakkan Ranting

"Lakpesdam PBNU sangat siap untuk memfasilitasi kegiatan pelatihan-pelatihan semacam ini. Kemana pun, bahkan walau yang mengundang setingkat MWC (Majelis Wakil Cabang NU) sekalipun kita siap untuk datang. Asalkan waktunya saja yang sesuai," kata Sekretaris Lakpesdam PBNU Marzuki Wahid.

Marzuki menyampaikan hal itu saat mengisi Pelatihan Penggerak Ranting yang digelar Lakpesdam PCNU Garut di Pesantren Al-Fauzaniyah Garut, Jawa Barat, Sabtu-Ahad (28-29/5). Pelatihan ini diikuti oleh beberapa utusan dari kabupaten/kota terdekat, antara lain Sumedang, Cimahi, dan Bandung.? Semuanya berjumlah 30 peserta.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Marzuki yang menjadi fasilitator dalam kegiatan ini membawa beberapa trainer (trainer) lainnya antara lain Abdullah Ubed, Kepala Divisi Pemberdayaan Manusia; dan pengurus dan staf lainnya, Tsabit Al-Fauzi dan Rofii.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Materi yang akan disampaikan dalam kesempatan ini meliputi NU dan Aswaja, Penataan Organisasi Ranting, Pengorganisasian, serta Profil dan Penggerak Ranting.

"Pelatihan ini diselenggarakan atas dasar realita akar permasalahan umat yang sering terjadi di tingkat ranting,” kata Hilwan Faqih, Ketua Lakpesdam NU Garut yang juga penyelenggara pelatihan ini.

Ketika rantingnya kuat, otomatis NU secara kesuluruhan pun akan kuat. Apalah artinya cabang banyak kegiatan, tetapi rantingnya minim kegiatan, tambahnya.

Seluruh peserta tampak sangat antusias atas diselenggarakan pelatihan ini. Mereka berharap sepulang dari pelatihan ini dapat mampu menjadi trainer-trainer yang hebat, yang bisa memfasilitasi kepada ranting-ranting di daerahnya tentang pemahaman akan Aswaja dan NU.

"Terima kasih atas terselenggaranya pelatihan penggerak ranting ini. Banyak ilmu serta pengalaman yang baru, di samping kita juga bisa sharing dengan fasilitator dan peserta yang lain. Sungguh pelatihan ini sangat bermanfaat," tutur Ramli salah satu peserta pada pelatihan ini. (Syarif Hidayatullah/Ayi Abdul Kohar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Amalan, Humor Islam, Habib Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock