Tampilkan postingan dengan label Syariah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syariah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Februari 2018

Rais NU Jabar: Jangan Mengejek Kesalahan Orang Lain!

Garut, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Rais Syuriyah PWNU Jawa Barat KH M Nuh Addawami mengatakan, salah satu kunci kebahagiaan dunia dan akhirat adalah kasih sayang. Keselamatan manusia itu pun terletak pada rahmat (kasih sayang) Allah.

Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Cisurupan Garut ini menekankan untuk tidak mudah memarahi kesalahan orang lain atau mengejek perbuatannya. Sebab, menurutnya, sikap demikian itu merupakan ciri orang yang tak memiliki kasih sayang.

Rais NU Jabar: Jangan Mengejek Kesalahan Orang Lain! (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais NU Jabar: Jangan Mengejek Kesalahan Orang Lain! (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais NU Jabar: Jangan Mengejek Kesalahan Orang Lain!

"Orang yang memiliki kasih sayang adalah menyapa orang berbuat jelek dan mengajak pada hal baik,” ujar Kiai Nuh pada acara puncak Haul Pendiri dan Milad YPI al-Hikmah, Sabtu (18/2), di Garut, Jabar. Ia menyebut perilaku arif ini sebagai akhlak tawassuth alias tidak berlebihan.

Berdakwah itu mesti dilakukan dengan tidak membuat mereka takut. “Dakwah orang NU harus wasathan (berimbang), yang membuat jamaah bahagia, jika salah akan sedih mengikuti arahan. Cara berpikir dan bertindaknya Alhussunnah wal Jamaah yang menjadi dasar aqidahnya Nahdlatul Ulama dalam segala tindakannya thawassuth," tambahnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kiai Nuh lantas mengutip Surat Al An’am 108 agar tak seenaknya menghina kelompok lain meski berseberangan secara akidah. "Janganlah kalian menghina berhala atau sembahan orang (kafir), karena (jika begitu) mereka akan menghina sembahanmu (Allah), sehingga kalian jadi penyebab menghinanya mereka pada Allah," pungkasnya.

Acara yang dilaksanakan di komplek yayasan ini dihadiri sekitar seribu jamaah antara lain dari Muslimat NU, GP Ansor, Fathayat NU, IPNU, IPPNU, guru-guru dan siswa madrasah, perwakilan pemerintah serta warga masyarakat sekitar. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Syariah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 25 Februari 2018

Warga Pergerakan Wajib Mengabdi kepada Masyarakat

Makassar, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pelatiahan Kader Lanjutan yang digagas Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Makassar mengundang antusias para peserta. Kegiatan yang berlangsung di gedung BLKI makassar Senin (26/9) dikemas dengan metode dialog tersebut menghasilkan kesepakatan antara peserta pelatihan.

Gagasan itu timbul saat salah satu mantan Ketua PKC PMII Sulawesi Selatan Mulyadi Prayitno menyampaikan materi dengan tema advokasi dan pendampingan masyarakat. Pengalamannya yang luas mengenai pendampingan masyarakat saat memaparkan materinya membuat para peserta PKL terangsang untuk berdiskusi.

Warga Pergerakan Wajib Mengabdi kepada Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga Pergerakan Wajib Mengabdi kepada Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga Pergerakan Wajib Mengabdi kepada Masyarakat

Mulyadi menyampaikan, para kader PMII harus turun langsung ke tengah-tengah masyarakat dan berbaur guna mengidentifikasi problematikan yang dihadapi bangsa ini. “Sebagai warga pergerakan wajib hukumnya untuk mengabdi kepada masyarakat untuk kemajuan negara Republik Indonesia,” imbau Direktur Yayasan Kajian Pemberdayaan Masyarakat (YKPM) pada PKL bertema "Mencetak kader ulul albab dalam menjawab tantangan globalisasi."

Ia meminta agar peserta pelatihan kader lanjutan PMII Makassar agar senantiasa mempertajam intelektual dan wawasannya. "Para kader PMII harus memiliki kecerdasan yang tinggi karena kalianlah yang akan menjadi intelektual bagi generasi penerus Nahdatul Ulama. Dan seperti kita ketahui bahwa NU merupakan salah satu ujung tombak negara kita, oleh kerana itu berkontribusi kepada NU sama dengan berkontribusi untuk Indonesia," tegas Mulyadi di depan para peserta.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Para peserta yang terdiri 19 orang dari beberapa kabupaten/kota di Sulawesi Selatan dan termasuk peserta yang bersal dari Kutai Timur dan Kutai Kertanegara diminta untuk memaparkan problem yang dihadap dalam masyarakat tempat mereka masing-masing. Setalah itu Direktur YKPM memberikan sebuah kerangka gerakan dalam menyelasaikan persoalan tersebut.

Di akhir paparanya Mulyadi menyampaikan, pemerintah tidak akan bisa menyelesaikan semua problematika bangsa ini. Perlu ada kerja sama dengan banyak pihak. Dan salah satu pihak wajib membantunya adalah para kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia dengan cara turun langsung di tengah-tengah masyarakat untuk menjawab persoalan-persoalan bangsa," tutup ketua PKC PMII Sul-Sel 1995-1997.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Menurut Sonny Majid salah satu fasilitator kegiatan tersebut bahwa alumni PKL nantinya diharapkan dapat langsung mengaplikasikan ilmunya di dalam masyarakan mereka masing-masing.

“Seperti yang disampaikan Mulyadi, bahwa alumni PKL harus turun langsung dalam mengadvokasi persoalan yang dihadapi oleh masyarakat, terutama penduduk minoritas yang terkadang diinjak-injak haknya oleh kelompok mayoritas,” tutur alumni PMII Ekonomi UMI ini saat mengevaluasi peserta PKL. (Muhammad Aras Prabowo/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Makam, Syariah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 18 Februari 2018

STISNU Nusantara Tangerang Dirikan Komisariat PMII

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang, Banten, melalui badan eksekutif mahasiswa mendirikan Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sebagai bentuk pembumian Aswaja di kalangan mahasiswa setempat.

Dalam rilis yang diterima Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan, Jumat (21/11), piha STISNU mendorong organisasi ekstra kampus tersebut menjadi motor penggerak pengembangan ajaran Ahlusunah wal Jamaah di Tangerang.

STISNU Nusantara Tangerang Dirikan Komisariat PMII (Sumber Gambar : Nu Online)
STISNU Nusantara Tangerang Dirikan Komisariat PMII (Sumber Gambar : Nu Online)

STISNU Nusantara Tangerang Dirikan Komisariat PMII

“Apalagi, kalian lahir (menjadi alumni) nanti asli dari produk perguruan tinggi yang mengembangkan Aswaja sebagai manhajnya,” kata DR. Bahruddin, salah satu petinggi kampus.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sebagai upaya rintisan, Masa Pemerimaan Anggota Baru (Mapaba) yang menjadi jenjang pertama kaderisasi PMII telah dilaksanakan 6 November lalu. Mapaba kemudian dilanjutkan dengan Pelatihan Kader Dasar (PKD) pada hari berikutnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

STISNU Nusantara mewajibkan mahasiswanya untuk bergabung di organisasi ini. Tercatat ada 126 mahasiswa yang telah terdaftar. “Insya Allah, berawal dari kampus PTNU (perguruan tinggi NU), kami bisa meng-Aswaja-kan generasi muda di Tangerang,” tutur Eko Wiyono, ketua panitia Mapaba dan PKD. (Mahbib Khoiron)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Kyai, Amalan, Syariah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 31 Januari 2018

Menpera Kagumi Spirit Kemandirian Pesantren

Pamekasan, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Republik Indonesia H Ir Dian Faridz menyatakan salut atas spirit kemandirian yang tertanam kuat dalam kehidupan pesantren. Menurutnya, salah satu kelemahan generasi muda saat ini ialah terletak pada semangat kemandirian tersebut.

Ia menyampakan hal itu saat mengunjungi Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur, Sabtu (18/01). Dalam lawatannya tersebut, Faridz menghadiri maulid nabi Muhammad SAW dan milad ke-45 Pondok Pesantren Bustanul Ulum di Tagangser Laok, Kecamatan Waru, Pamekasan.

Menpera Kagumi Spirit Kemandirian Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Menpera Kagumi Spirit Kemandirian Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Menpera Kagumi Spirit Kemandirian Pesantren

"Dan harus diakui, pesantren mempunyai peran besar dalam menguatkan spirit kemandirian di tubuh bangsa ini. Dari pesantren lah generasi bangsa yang sangat tangguh bermunculan," akunya kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ditegaskan, spirit kemandirian tersebut diharapkan tetap lestari. Jangan sampai ganasnya era globalisasi justru memasungnya. "Dan kami berkeyakinan, selagi langkah kiai tetap mengetengahkan nilai keislaman, ganasnya globalisasi tidak akan mampu menggerus nilai-nilai mulia kepesantrenan," terangnya.

Karena pesantren mempunyai peran vital dalam membangun negeri ini, pihaknya menyatakan tidak akan mengabaikan keberadaannya. Tentu dengan memperhatikan perkembangan pesantren melalui program pemerintah yang pro-rakyat. (Hairul Anam/Mahbib)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Syariah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 19 Januari 2018

Pesantren Al-Mubtadi-ein Tekankan Pembentukan karakter

Jombang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan?

Pondok Pesantren Al-Mubtadi-ien Bahrul Ulum Tambakberas Jombang diasuh KH Muhammad Asrori Alfa dan Hj Maslachatul Ammah. Pesantren ini lebih menekankan pada pendidikan keagamaan, pembinaan serta pembentukan karakter yang berakhlakul karimah.?

"Di sini santri diajarkan menjadi manusia yang berkarakter islami," jelas Neng Mashlatul Ammah baru-baru ini.

Pesantren Al-Mubtadi-ein Tekankan Pembentukan karakter (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Al-Mubtadi-ein Tekankan Pembentukan karakter (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Al-Mubtadi-ein Tekankan Pembentukan karakter

Dikatakan Neng Lacha, sapaan akrabnya, pendidikan keagamaan, pembinaan serta pembentukan karakter tersebut, dibentuk para pengurus serta pengasuh pondok melalui pengawasan hingga 24 jam, di samping itu didukung dengan ajaran-ajaran akidah Ahlussunnah wal Jamaah (aswaja) serta ajaran keagamaan yang lain.?

"Kita komitmen berpegang teguh pada Aswaja ala Thoriqotul Nahdlatul Ulama," tambahnya.

Sedangkan untuk para santrinya, pondok yang berada di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Desa Tambakrejo, Kecamatan/Kabupaten Jombang ini, saat ini dihuni berkisar ratusan santri. Mereka datang dari berbagai daerah, bahkan luar pulau Jawa, seperti Sumatera dan Kalimantan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kondisi itu, menurut Neng Lacha menjadi kebanggaan tersendiri, namun sisi lain merupakan tantangan khususnya bagi pengurus dan pengasuh sebab semakin banyaknya santri yang menjadikan Al-Mubtadi-ein sebagai rumah keduanya.

"Santrinya sudah ratusan mas, walaupun baru tetapi di sini juga banyak santri dari luar jawa," paparnya.

Kepada para orang tua yang hendak memondokkan anak-anaknya, Neng Lacha berpesan untuk tidak ragu terhadap sistem yang selama ini diterapkan, terlebih sistem pengawasan terhadap santri yang sangat intens. "Wali santri jangan ragu menitipkan anak di sini, semua dijaga 24 jam," pungkasnya. (Syamsul Arifin/Mukafi Niam)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Syariah, Sholawat Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 03 Januari 2018

Kiai Pesantren Gado-Gado dari Nganjuk

Nganjuk, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Sosok KH Sumanan Hidayat tidak asing bagi warga Nganjuk, Jawa Timur. Pembawaan yang kalem dan humoris membuat pria 48 tahun ini mudah bergaul dengan siapa pun. Kiai yang akrab disapa Pak Manan ini lahir dari keluarga petani biasa di desa Kalianyar kecamatan Ngronggot Nganjuk.

Kiai Pesantren Gado-Gado dari Nganjuk (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Pesantren Gado-Gado dari Nganjuk (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Pesantren Gado-Gado dari Nganjuk

Sumanan kecil sudah dididik kerja keras kedua orang tuanya. Dari orang tua yang kiai kampung, Sumanan kecil belajar dasar-dasar ilmu agama.Setamat SDN Kalianyar, Sumanan kecil lanjut ke SMPN Ngronggot. Di sini dia juga menjadi santri di Pesantren Al-Fattah Tanjunganom di bawah asuhan KH Nahrawi.

Lalu menimba ilmu di Pesantren Al-Hikmah Purwoasri Kediri. Di pesantren asuhan KH. Badrus Sholeh ini, Sumanan juga menimba ilmu di MAN Purwoasri. “Setiap pulang saya naik sepeda onthel dan harus menyeberangi sungai Brantas,” kenangnya kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan yang dikirim Senin (10/3).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Itu tidak menyurutkan langkahnya untuk melanjutkan semangat studinya ke pendidikan tinggi. Tepatnya di Jurusan Ushuludin IAIN Sunan Ampel Kediri (sekarang STAIN Kediri).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dengan nyantri di Pesantren Al-Ishlah Bandar Kota Kediri, Sumanan muda mulai mengenal dunia organisasi. Mulai dari ketua senat mahasiswa selama dua periode sampai menjadi wakil ketua cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kediri. “Sejak aktif di dunia mahasiswa, Sumanan sudah terlihat memiliki keilmuan agama yang lebih dibandingkan sahabat-sahabat lain,” kenang Daryanto, ketua umum PC PMII Kediri saat itu.

Hal senada juga diungkapkan teman sejawat Pak Manan, Drs. H. Nur Akhlis M.Pd. Wakil sekretaris PCNU Kediri yang juga dosen STAIN Kediri ini melihat Pak Manan sebagai figur yang gigih dan ulet. “Saat mahasiswa dulu, beliau adalah tipe orang yang idealis dalam berorganisasi,” ujar direktur EECC Pare ini.

Sampai sekarang, di samping mengelola Pondok Pesantern Nurul Ishlah, Pak Manan juga menjadi pembina ruhani bagi penghuni lembaga pemasyarakatan Kediri. “Anda kan tahu sendiri macam-macam orang yang menghuni di lapas sana?” katanya.

Pak Manan sekarang juga mengajar di Universitas Islam Kediri (Uniska), Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Lirboyo, SekolahTinggi Agama Islam Darussalam (STAIDA) Krempyang Nganjuk dan MA. Pesantren Sabilul Muttaqin Cengkok, Ngronggot Nganjuk. Tentu saja itu belum ditambah dengan kesibukan menghadiri undangan untuk menjadi penceramah di pengajian-pengajian.

Ketekunan dan keuletan untuk kaum yang termarginalkan ini adalah buah istiqamah dalam berjuang agar mampu menjadi orang yang berguna di masyarakat. Ini ditunjukkan dengan tetap melakukan ritual ziarah ke makam para waliyullah setiap malam Jumat. “Sementara ini saya istiqamah dulu ke makam Sunan Ampel di Surabaya,” urainya.

Meski memiliki kesibukan padat, setiap jarum jam menunjukkan pukul 21.00 WIB, setiap Kamis malam Pak Manan bergegas menaiki sepeda motor jadul-nya menuju Kertosono. “Dari sana naik bus ke Bungurasih, lalu mampir dulu ke rumah teman yang menjadi modin di Gayungan, baru kalau sudah jam satu pagi saya diantar teman untuk ke makam Sunan Ampel,” ceritanya. “Dulu sempat naik kereta api, tapi kelamaan karena harus berangkat sore hari dan tiketnya sekarang harus pesan dulu sehari sebelum berangkat,” kisahnya.

“Jika sudah selesai, pulangnya langsung menuju terminal Bungurasih, jadi teman saya itu profesi siangnya memang modin, tapi kalau tiap malam Jumat, dia menjadi tukang ojek khusyuyiyah saya,” ujarnya sambil terkekeh. Saat sampai ke pondoknya lagi, biasanya menjelang adzan Shubuh. Ritual ini sudah dilakukan jauh hari sebelum mendirikan pondok.

Usaha Pak Manan untuk menyebarkan ilmu ini bukan tanpa halangan. Sampai sekarang pun masih ada segelintir masyarakat yang mencibirnya. Saat bertemu di warung makan, wartawan koran ini mendapat cerita dari salah satu warga desa Ngronggot. “Ya biasa mas, masyarakat yang belum paham betapa susahnya perjuangan Pak Manan, ya bisanya Cuma ngrusuhi,” ujar Kusnul Kholik. Meski tantangan itu, lanjutnya, tidak sampai berbentuk fisik. “Jumlahnya hanya segelintir saja, tapi masyarakat di sini sudah tahu kok Pak Manan itu gimana orangnya,” imbuhnya.

Pria yang mengaku sebagai penjual gabah ini menceritakan bahwa setiap pagi setelah Shubuh, Pak Manan dulu memberikan pengajian di masjid jami’ Al-Hasan, sebelah barat KUA Ngronggot. “Pada awal setelah saya menikah, jama’ahnya banyak sekali,” ujarnya.

Namun karena ada oknum takmir masjid yang merasa “lebih berilmu” dari Pak Manan, pengajian ba’da Shubuh gant idia yang mengisi. “Makanya jama’ah mulai habis, bahkan sekarang pengajiannya gulung tikar, pindah ikut ngaji Pak Manan di pondoknya,” katanya sambil tertawa. Mungkin, lanjutnya, si oknum takmir masjid su’ul adab dengan orang “aneh” seperti Pak Manan.

Dikonfirmasi hal ini, Pak Manan hanya tersenyum saja. Upaya ini, katanya, hanya sebuah ikhtiyar untuk mencari bentuk dan membangun fondasi. Makanya Pak Manan mengaku senang ziarah ke makam Sunan Ampel sebagai bukti munasabah atas perjuangan yang telah dilakukan. Bahwa usahanya mendirikan pondok pesantren dengan model santri yang gado-gado sebagai penerus perjuangan Wali Songo dulu. “Biar Allah nanti yang akan membalasnya,” pungkasnya.

Pondok Nurul Ishlah Ngronggot memang dikenal dengan pesantren gado-gado. Ini karena latar belakang santri yang bervariasi. Mulai dari korban broken home, pecandu narkoba, mantan pelaku free sex, anak autis, cacat fisik, mantan pemabuk minuman keras, korban KDRT hingga kehamilan yang tidak diinginkan. Ironinya lagi, mayoritas dari mereka adalah berstatus yatim.

Santri yang menimba ilmu di pondok ini ada yang berasal dari Sumatera, Lampung, Kalimantan, Jawa Tengah, Kediri dan Nganjuk. Lokasi pondok ini tepat berada di depan KUA Ngronggot atau di utara kantor MWC NU Ngronggot. (muk)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Syariah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 30 Desember 2017

Anggota DPR Gelar Halal Bihalal dan Dialog dengan Warga NU

Jepara, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Masih dalam suasana bulan Syawal, selain dimanfaatkan untuk melaksanakan halal bihalal saling maaf memaafkan, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, H Fathan Subchi memanfaatkan hari kemenangan dengan melakukan dialog interaktif dengan warga NU Jepara yang berlangsung di aula Gedung Haji/ IPHI, Jalan MT Haryono Kompleks Islamic Center, Jepara, Kamis (30/7).

Kegiatan yang diikuti ratusan orang ini melibatkan perwakilan MWCNU, Badan Otonom NU serta tamu undangan dari unsur lain. Juga dihadiri perwakilan dari Pemkab Jepara.

Anggota DPR Gelar Halal Bihalal dan Dialog dengan Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Anggota DPR Gelar Halal Bihalal dan Dialog dengan Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Anggota DPR Gelar Halal Bihalal dan Dialog dengan Warga NU

Dalam paparannya, Fathan menyampaikan dalam kurun waktu 10 bulan masyarakat boleh kecewa dan merasa belum puas dengan kinerja DPR tetapi pihaknya tidak tinggal diam. Dalam waktu menjelang 1 tahun ini pihaknya melakukan reses selama 5 kali. Reses adalah turun ke rakyat mendengar dan mendengar aspirasi rakyat.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pada periode 2014-2019 ia menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi VIII yang membidangi sosial, agama dan pemberdayaan perempuan. Misalnya perihal haji, pihaknya meminta Kemenag untuk melakukan reformasi. Karena sebagaimana hasil studi banding di Turki di sana penyelenggaraan haji dikelola 2 badan pemerintah menangani 80 % dan swasta 20 %.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Di sana ada juga badan pengelola keuangan haji,” lanjutnya.

Karena itu RUU Haji perlu dirumuskan kembali oleh DPR. RUU lain yang ia tangani ialah Disabilitas atau penanganan orang cacat.

Masih di komisinya Wakil Ketua PP Lazisnu juga memperjuangkan keberadaan dana bagi pesantren dan madrasah. Menurutnya dana senilai 20-25 trilyun layak untuk pengembangan pesantren dan madrasah agar pendidikan agama menjadi semakin bagus.

Ia menegaskan tidak boleh ada dikotomi sekolah dan madrasah sehingga 20% anggaran untuk agama. Sebab dengan agama moral bangsa menjadi lebih baik. Agar lebih baik perlu ditopang dengan sumber pendanaan yang mencukupi. (Syaiful Mustaqim/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pondok Pesantren, Syariah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock