Tampilkan postingan dengan label Halaqoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Halaqoh. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Februari 2018

24 Santri Jateng-Yogya Ikuti Pelatihan Mekanik Sepeda Motor

Semarang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan 



Pengurus Pusat Rabithah Maahid Islamiyyah  Nahdlatul Ulama (RMINU) bekerja sama dengan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) mengadakan pelatihan, pendampingan, dan magang mekanik sepeda motor untuk santri Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. 

24 Santri Jateng-Yogya Ikuti Pelatihan Mekanik Sepeda Motor (Sumber Gambar : Nu Online)
24 Santri Jateng-Yogya Ikuti Pelatihan Mekanik Sepeda Motor (Sumber Gambar : Nu Online)

24 Santri Jateng-Yogya Ikuti Pelatihan Mekanik Sepeda Motor

Sebanyak 24 santri mengikuti pelatihan itu selama kurang lebih 4 bulan ke depan. Mereka akan berlatih di dalam kelas dan praktik langsung di lapangan. 

Pelatihan ini memberikan pengetahuan pada santri agar mampu memperbaiki dan mengetahui perkembangan sepeda motor. Kebutuhan akan sepeda motor di pesantren tak kalah pentingnya dengan alat transportasi lain. 

Dengan adanya kemampuan baru ini, pesantren diharapkan memiliki tenaga ahli yang paham sepeda motor. YDBA sudah 37 tahun mendampingi masyarakat untuk berkontribusi.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selain itu, ada Astra Motor dan Yayasan Astra Honda Motor (YAHM) yang ikut mendukung pelatihan ini. 

Ahmad Muhibbudin selaku wakil ketua YAHM menyatakan, perlu adanya transfer pengetahuan (knowledge) pada masyarakat luas, termasuk santri. Setelah mengikuti pelatihan ini; peluang untuk mengerjakan bidang terkait perbengkelan terbuka lebar. 

Sudah banyak pelatihan seperti ini yang memberikan manfaat pada peserta. Banyak dari mereka menjadi wirausahawan dengan membuka bengkel sendiri atau bekerja di jaringan perusahaan Astra.

"Setelah lulus untuk bisa menjadi wirausahawan," papar Rahmad Handoyo selaku mentor YDBA pada pembukaan pelatihan di kantor Astra Motor Center, Semarang, Selasa, (5/12).

Khoironi, perwakilan PP RMINU memotivasi peserta. Ia mengatakan bahwa pelatihan kali ini bisa jadi menjadi ilmu baru bagi santri. Untuk pesantren salaf; ini hal baru yang harus ditekuni agar mampu menguasainya. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Abu Choir, tim pelaksana dari PW RMINU Jateng menambahkan bahwa pelatihan ini ke depan harus ditingkatkan tak hanya dalam pelatihan saja. Perlu adanya pendampingan untuk membuka bengkel di pesantren dengan supervisi dari Astra. (Zulfa/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Sejarah, Nasional, Halaqoh Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 20 Februari 2018

GP Ansor Enam Kecamatan di Sukabumi Sowan kepada Para Kiai

Sukabumi, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Gerakan Pemuda GP Ansor Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat Koordinator Wilayah Binaan IV melakukan sowan maraton kiai-kiai NU yang menjadi pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul ulama (MWC NU) di wilayah tersebut Ahad (24/7).

Para pemuda NU dari enam kecamatan tersebut berkumpul kemudian mendatangi kiai di Kecamatan Warungkiara, Bantar Gadung, Simpenan, Pelabuhan Ratu, Cikakak dan juga Cisolok.

GP Ansor Enam Kecamatan di Sukabumi Sowan kepada Para Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Enam Kecamatan di Sukabumi Sowan kepada Para Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Enam Kecamatan di Sukabumi Sowan kepada Para Kiai

Menurut Koordinator Wilayah IV? Ustadz Aang Miftahurrohmat, kegiatan tersebut adalah ajang silaturahim dan halal bihalal dari anak muda kepada orang tua.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Ini sangat diperlukan untuk supaya kenal antara pengurus MWCNU dan GP Ansor,” katanya.

Para anak muda tersebut juga meminta kepada kiai untuk memberi masukan cara berkhidmah dan berjuang di NU supaya di kecamatan masing-masing. Tak hanya itu, para kiai diminta berdoa supaya segala sesuatu yang dihadapi di lapangan berjalan dengan baik.

Didatangi para anak muda, para kiai mengaku sangat senang. Pengakuan itu misalnya disampaikan Ketua MWCNU Kecamatan Simpenan KH Zaenal Arifin.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kiai Zaenal berpesan kepada pemuda Ansor agar bisa menghargai dan menghormati masyarakat. Ketika datang di suatu tempat pemuda NU harus bisa beradaptasi dengan masyarakat.

Ia mengingatkan jangan sekali-kali menggunakan kekerasan ketika bertindak, tapi mengedepankan kelemahlembutan dan kesantunan. “Kita melihat cara dakwahnya para Wali Songo dalam menghadapi masyarakat tersebut,” katanya. (Sofyan Syarif/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ubudiyah, Amalan, Halaqoh Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 18 Februari 2018

Kisah Seorang Pemulung Naik Haji

Niat dan usaha yang sungguh-sungguh akan mengantarkan seseorang pada sesuatu yang dicita-citakannya. Setidaknya inilah yang diyakini dan diamalkan oleh Karyati, seorang pemulung asal Desa Pondok Wuluh Kecamatan Leces Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

Meski secara logika pekerjaan yang dijalaninya merupakan pekerjaan rendahan, tetapi nenek yang berusia sekitar 69 tahun tersebut ternyata mampu mencapai cita-citanya untuk menunaikan rukun Islam yang kelima naik haji ke tanah suci.

Kisah Seorang Pemulung Naik Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Seorang Pemulung Naik Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Seorang Pemulung Naik Haji

Namun demi bisa mencapai keinginannya tersebut, Karyati telah bekerja sangat keras. Bahkan selama 20 tahun lamanya, wanita paruh baya tersebut menyisihkan sebagian jerih payahnya sebagai pengais barang bekas plastik dan kertas.

Janda renta yang mempunyai 4 (empat) orang anak ini berkeyakinan bahwa suatu saat nanti dirinya bakal bisa naik haji ke tanah suci layaknya orang-orang lain yang berduit. Atas keyakinan tersebut, dirinya selalu menyisihkan hasil dari memulung untuk ditabung dan sebagian untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Memang untuk mewujudkan impian naik haji ini penuh perjuangan. Karena saya harus menabung selama 20 tahun lamanya. Tetapi saya yakin Allah pasti mengabulkan doa saya untuk bisa melihat Ka’bah secara langsung,” ujar Karyati kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan, Rabu (18/9).

Menurut Karyati, cita-cita naik haji itu sudah lama terpendam semenjak 2002 lalu. Saat itu dirinya mengaku masih punya toko kelontong di desanya. Masa-masa sulit dilewatinya saat usaha kelontongnya bangkrut di pada tahun 2005. Namun untuk menyambung hidup, Karyati kemudian menjadi seorang pemulung. Meski pekerjaannya terbilang rendah, tetapi itu tidak menyurutkan niatnya untuk bisa meraih cita-citanya untuk menunaikan ibadah haji.

Sekitar tahun 2004, Karyati mulai mendaftarkan diri sebagai haji Kabupaten Probolinggo. Pada waktu itu, tabungannya dari hasil menjadi pemulung sudah mencapai sekitar Rp. 20 juta. Selain dari hasil memulung, uang tersebut didapat dari beberapa sukarelawan.

“Pernah suatu ketika, tepatnya pada tahun 2010 saya pernah ditipu oleh seseorang yang mencoba menawarkan jasa. Namun tanpa disadari saya tertipu sebesar Rp. 10 juta dan uang tersebut tidak dikembalikan meskipun beberapa waktu kemudian akhirnya ditangkap oleh polisi,” jelasnya.

Dan selama mengejar impiannya, Karyati tidak mau kumpul atau tidur di rumah anak-anaknya. Bukannya tidak sayang kepada anak dan cucunya, namun nenek bercucu 12 orang ini tidak mau mengganggu atau menjadi beban hidup anak-anaknya. Dirinya lebih memilih tidur di toko usang miliknya. Terkadang pula tidur di masjid desanya. “Kalau pas bersih-bersih masjid ada orang kasih rejeki, saya tabung,” katanya.

Namun dengan tekad yang kuat, semua kejadian tersebut tidak mematahkan semangat Karyati untuk mewujudkan cita-citanya untuk dapat berangkat haji. “Saya hanya bisa pasrah namun saya tidak mau putus asa untuk tetap bisa berangkat haji ke tanah suci,” terangnya.

Bermodalkan sebuah sepeda buntut, Karyati keliling dari kampung ke kampung mengumpulkan barang bekas. Sebagian hasilnya digunakan untuk makan dan sebagian lain ditabung untuk bisa naik haji. “Dalam sehari, upah memungut barang bekas sebesar Rp. 10 ribu. Yang Rp. 5 ribu ditabung dan yang Rp. 5 ribu untuk makan,” akunya.

Usaha yang dilakukan Karyati tidak sia-sia. Semua hasil jerih payah dan keikhlasan hatinya membawa Karyati berangkat haji di tahun 2013 ini. Karyati direncanakan akan berangkat ke tanah suci pada tanggal 29 September 2013 melalui kloter 43 Embarkasi Juanda, Surabaya. (Syamsul Akbar/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Tokoh, Makam, Halaqoh Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 14 Februari 2018

Semangat Mengaji Umat Muslim di Roma

Umat Muslim percaya momen Ramadhan perlu diisi dengan berbagai macam kegiatan kebaikan, termasuk juga pengajian. Begitu juga dengan warga Muslim di Roma. Itulah yang dikatakan Juniarti, Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemenlu kepada saya saat saya mengisi pengajian di KBRI Roma Ramadhan lalu.

Saat itu, saya mengisi pengajian di hari Sabtu. Sabtu dan Ahad memang hari libur di Roma. Tetapi meskipun libur, pengajian tetap dilakukan.

Semangat Mengaji Umat Muslim di Roma (Sumber Gambar : Nu Online)
Semangat Mengaji Umat Muslim di Roma (Sumber Gambar : Nu Online)

Semangat Mengaji Umat Muslim di Roma

Ramadhan juga bulan kebersamaan. Suasana itu terlihat di lingkungan KBRI Roma. Sapaan hangat dari RA Esti Andayani sebagai Duta Besar RI untuk Italia kepada seluruh staf. Tawa canda anak-anak kecil dengan temannya yang terkadang lalu lalang di depan para pejabat, menambah cerita lucu di saat berbuka puasa.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

***

Tinggal jauh di negara sendiri terkadang ada sukanya juga ada dukanya. Sukanya salah satunya adalah, mungkin bisa banyak belajar budaya asing dan memperlancar bahasa negara lain, seperti kebanyakan saudara-saudara Muslim di Roma, Italia ini.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Anak-anak kecil keturunan Indonesia di sini sangat fasih dan lancar sekali dengan bahasa Italia. Saat bercanda dan bermain dengan teman-teman sebayanya, mereka asyik sekali mendengarkan orang mengucapkan kalimat-kalimat berbahasa Italia. Seperti kata “numero uno” dan sebagainya.

Tetapi ada yang menjadi kegelisahan para orangtua mereka, yaitu pembelajaran pengetahuan agama yang kurang maksimal, meskipun sudah disiapkan tempat belajar agama khusus di masjid besar khusus untuk orang-orang Indonesia. Tampaknya itu belum efektif.

Banyak yang bercerita kepada saya, tentang huruf-huruf Hijaiyah saja sudah lupa. Banyak dari anak-anak usia SMP dan SMA sudah lupa huruf-huruf Hijaiyah itu.

“Dulu saya sudah tahu itu, tetapi sekarang saya sudah lupa semua,” kata Faishal, anak Indonesia yang dari kecil sekolah di Roma, yang sekarang duduk di kelas 1 selevel SMA di Indonesia.

Faishal bercerita jenjang pendidikan di Roma agak berbeda dengan di Indonesia. Kalau di Roma jenjangnya 5+3+5. Lima tahun setingkat SD dilanjut 3 tahun setingkat SMP dilanjut 5 tahun setingkat SMA. Lima tahun di setingkat SMA itu sudah penjurusan sesuai minat masing-masing. Jika cerdas bisa selesai lebih cepat. Seperti akselerasi di Indonesia.

Untuk mengefektifkan pengetahuan agama tersebut, KBRI Roma dan Nadwah Ukhuwah Roma (NUR) bersepakat membuat jadwal dan tema kajian Ramadhan yang dibutuhkan masyarakat Muslim Indonesia di Roma. Dengan itu tugas saya sebagai Dai Ambassador Cordofa 2017 di Italia sangat terbantu.

Selama di Roma, jadwal pengajian yang telah disusun oleh NUR dan KBRI Roma adalah sebagai berikut. Kultum di setiap hari bada zuhur. Tema yang harus disampaikan adalah pentingnya shalat, keutamaan sedekah, manfaat membaca Al-Quran, akidah dan tauhid dalam Islam, sudahkah saya berzakat, perbedaan zakat dan infak.

Selain itu keutamaan istighfar, menghormati orangtua, persaudaraan dalam Islam, amar makruf nahi munkar, penyakit hati dan cara menghindarinya, keutamaan menuntut ilmu, kebersihan sebagian dari iman, keutamaan shalat dhuha, manfaat shalat dari segi kesehatan dan sosial, keutamaan shalat tahajud.

Selebihya adalah saya akan bahas tentang hukum-hukum fiqih dasar tentang thaharah dan hukum-hukum shalat seperti rukun dan sunat shalat.

“Karena ini saja banyak yang masih belum benar,” kata Adnan, salah satu staff dan ustad di KBRI Roma.

Setiap Rabu dan Jumat ada pengajian ibu-ibu. Saya tekankan pada cara membaca Al-Quran yang baik dan benar. Saya praktikkan makharijul huruf dan pemahaman ilmu tajwid, juga sentuhan anatomi Al-Quran yang sangat disukai oleh jamaah ibu-ibu istri para diplomat ini.

Pengajian ini dimulai pukul 14. 30-17.00 pada hari Rabu. Sedangkan pada hari Jumat dimulai pada pukul 18.00 sampai 20.00 atau menjelang berbuka puasa.

Setiap Jumaat sore dimulai pukul 15.00–17.30 adalah pengajian anak-anak dan remaja, yang saya isi dengan pengenalan huruf-huruf Hijaiyah, doa-doa harian, dan hafalan-hafalan surat pendek.

Setiap Jumat dan Sabtu juga diadakan acara berbuka puasa bersama di KBRI Roma, Milan, dan Vatikan secara bergantian. Jumat agenda untuk seluruh keluarga Home Staff dan Lokal Staff KBRI Roma. Sedangkan hari Sabtu diadakan untuk umum, untuk seluruh masyarakat Indonesia dan sekitarnya di Italia.

Semua itu untuk mempererat tali silaturrahmi dan menambah pengetahuan agama Islam di Italia yang memang minim sekali guru agama. Sekalipun ada, itu pun jauh dan mungkin terkendala masalah bahasa.

Saya berharap, peran saya yang tak seberapa selama di Italia, dapat meningkatkan semangat warga Muslim di sana dalam menambah ilmu agama. Masyarakat Indonesia di Italia umumnya dapat mempererat tali persaudaraan dan kepedulian mereka.

H Khumaini Rosadi, anggota Tim Inti Dai dan Media Internasional (TIDIM) LDNU, dan Dai Ambassador Cordofa 2017 dengan penugasan ke Roma, Italia.

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Halaqoh, Tegal Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 26 Januari 2018

Tanggapan atas Kisah Berdirinya NU Versi Habib Luthfi (III-Habis)

Oleh: Muhammad Ali Rahman

Mengacu pada data peristiwa sejarah yang diuraikan pada tulisan terdahulu (Baca:Tanggapan atas Kisah Berdirinya NU Versi Habib Luthfi (I) dan Tanggapan atas Kisah Berdirinya NU Versi Habib Luthfi (II), sangat tidak memungkinkan terjadinya peristiwa di Masjidil Haram yang melibatkan Kiai Hasyim Asy’ari pada tahun-tahun itu.

Kemudian, untuk memperjelas bagaimana sulitnya transportasi menuju Makkah, saat itu, di antaranya kita bisa cermati perjuangan Kiai NU ketika hendak mengirim utusannya ke Muktamar Alam Islami. Langkah awal, harus mencari dana, yang akhirnya terkumpul sebesar f 1500.28,5 (mata uang Hindia Belanda). Pendanaan siap, dan KHR Asnawi, Kudus (Jawa Tengah), sebagai utusan pun juga siap. Langkah berikutnya, Kiai Wahab menghubungi perusahaan pelayaran di Tanjung Perak, Surabaya. Ternyata, setelah beliau sampai di pelabuhan Tanjung Perak, kapal yang menuju Arab Saudi sudah berangkat. Maka gagallah pemberangkatan Kiai Asnawi untuk menghadiri muktamar di Makkah.

Dua tahun kemudian, utusan NU yang diwakili oleh Kiai Wahab dan Syaikh Ghanaim, baru bisa berangkat, yakni pada 19 Maret 1928 M, dan tiba di Makkah pada 7 Mei 1928 M. Utusan NU ini pun bukan untuk mengikuti muktamar, melainkan menemui langsung Raja Arab Saudi, Abdul Aziz Al-Saud, guna menyampaikan surat dari NU.

Tanggapan atas Kisah Berdirinya NU Versi Habib Luthfi (III-Habis) (Sumber Gambar : Nu Online)
Tanggapan atas Kisah Berdirinya NU Versi Habib Luthfi (III-Habis) (Sumber Gambar : Nu Online)

Tanggapan atas Kisah Berdirinya NU Versi Habib Luthfi (III-Habis)

Uraian ini, baru persoalan transportasi, belum lagi ketatnya pengawasan pihak Raja Abdul Aziz Al-Saud terhadap semua bentuk kegiatan Aswaja di Hijaz. Pada tahun-tahun itu sulit melakukan diskusi di Masjidil Haram yang berkaitan dengan Aswaja. Satu misal, diinformasikan surat kabar Pewarta Surabaya, yang memberitakan nasib ulama asal Indonesia, yakni KH Mukhtar. Beliau nyaris dihukum mati, atau diusir dari Hijaz, hanya karena menjawab pertanyaan jamaah, mengenai sunnahnya membaca "ushalli" menjelang shalat, dengan merujuk pada kitab Tuhfah.?

Berikutnya, kita cermati kembali tugas Kiai Hasyim seperti diceritakan Habib Luhtfi. Setelah dari Habib Hasyim di Pekalongan, beliau menemui salah seorang gurunya, yakni Syaikhona Kholil, di Bangkalan. Setelah bertemu. terjadilah dialog:

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Syaikhona ? : ? Laksanakan apa niatmu. Saya ridha seperti ridhanya Habib Hasyim. Tapi saya ? juga minta tolong, nama saya jangan ditulis.?

Kiai Hasyim: ? Bagaimana Kiai, kok tidak mau ditulis semua?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Syaikhona ? : ? Kalau mau tulis silakan, tapi sedikit saja.?

Di luar konteks ketidakmungkinan seperti yang penulis urai tadi, keterangan dan rangkaian kalimat ini ganjil; dari sisi tatakrama atau pun dari sisi fakta.?

Pertama, Syaikhona Kholil adalah guru Kiai Hasyim. Sebagai seorang santri, apalagi santri di masa itu, lazimnya mendahulukan gurunya sebelum yang lain. Namun dalam cerita itu, Kiai Hasyim menemui Habib Hasyim terlebih dadulu, baru ke Syaikhona. Secara georafis pun, jarak tempuh dari Tebuireng lebih dekat ke Bangkalan ketimbang ke Pekalongan.

Hal lain. cerita ini menimbulkan kesan, ridhanya Syaikhona terhadap niatan santrinya, setelah diridhai Habib Hasyim. Serta mengesankan, kedua tokoh itu sama-sama memiliki tingkatan spiritual, dalam pengertian adikodrati yang tinggi. Sehingga, jarak yang jauh antara Makkah-Indonesia, dan antara Pekalongan-Bangkalan bisa disadapnya.?

Kedua, dialog antara Syaikhona dan Kiai Hasyim digambarkan begitu akrab. Sementara jika merujuk pada keterangan Kiai As’ad Syamsul Arifin, ketika tahun 1920 M, sebanyak 66 ulama seluruh Indonesia datang ke Bangkalan, ingin bertemu Syaikhona guna memohon petunjuk terkait dengan gerakan aliran baru anti madzhab, mereka terlebih dahulu menemui Kiai Muntaha, menantu Syaikhona, yang tinggal di daerah berbeda di Bangkalan.

Setelah para ulama itu menjelaskan maksudnya, sebagaimana ditirukan oleh Kiai As’ad, satu di antara mereka berkata:

“Bagaimana Kiai Muntaha, mohon dihaturkan ke Kiai Kholil, karena kami tidak berani sowan langsung. Kami semua sudah sama-sama azam untuk bertemu Hadratus Syaikh Kiai Kholil. Kami tidak ada yang berani kalau bukan panjenengan yang mengantarkan…” Kisah ini menggambarkan betapa kharismatiknya Syaikhona serta tawadhu’-nya para ulama saat itu.

Ketiga, cerita ini terbalik dengan keterangan Kiai As’ad Syamsul Arifin, di mana Kiai Hayim yang datang menemui Syaikhona menyampaikan amanat dari ulama di Haramain. Sedangkan dalam keterangan Kiai As’ad, beliau diutus Syaikhona untuk menemui Kiai Hasyim, yang menjadi jawaban dari istikharahnya berkenaan dengan gagasan akan membentuk wadah bagi Ulama Aswaja—seperti diurai di atas.?

Keempat, terkait dengan narasumber. Kiai As’ad Syamsul Arifin adalah santri Syaikhona, pelaku peristiwa, menyampaikan sendiri kisahnya, dijelaskan dengan tahun peristiwanya, dan termasuk juga pendiri NU. Secara data, keterangan Kiai As’ad, ada bukti rekamannya, bahkan tidak hanya satu kali kisah itu disampaikan. Setidak-tidaknya, yang penulis tahu ada dua rekaman, walau redaksinya agak beda, tapi intinya sama. Kisah itu juga pernah disampaikan ke Chairul Anam ketika mewawancarai untuk materi buku Pertumbuhan & Perkembangan NU.

Sedangkan keterangan Habib Luthfi, yang katanya didapat dari Kiai Irfan, tidak dilengkapi dengan penjelasan siapa tokoh Kiai Irfan yang dimaksud. Apakah beliau terlibat langsung saat peristiwa di Masjidil Haram tersebut, sehingga mengetahui kisahnya. Apakah semasa dengan Syaikhona dan Habib Hasyim dan seterusnya dan sebagainya. Terlepas siapa Kiai Irfan, yang pasti, keterangan Kiai As’ad Syamsul Arifin yang runutannnya jelas dan selaras dengan data-data tertulis tentang pembentukan NU, sehingga memenuhi syarat ilmiah dalam standar penulisan sejarah.

***

Dari semua uraian di atas, menjadi jawaban, mana yang bisa diterima, mana yang tidak. Adapun keterangan: “Dan ternyata sejarah tersebut juga dicatat oleh Gus Dur,” kiranya tidak perlu diurai lebih lanjut. Sebab tidak ada penjelasan, dicatat dalam bentuk apa, di mana, dan seperti apa rinciannya. Sedangkan Gus Dur sudah wafat, yakni pada 29/12/2009 M; sementara kisah itu disampaikan pada 2010 M—sebagaimana diurai di atas.

Namun demikian, jika Habib Luthfi, sebagai shahibul kisah memiliki bukti materi yang kuat dari apa yang dikisahkan, sebaiknya didiskusikan dalam forum ilmiah dengan melibatkan berbagai pihak, terutama para penulis sejarah NU yang selama ini menjadi rujukan. Dengan demikian akan lebih jernih dan jelas, sehingga tidak timbul kerancuan yang ujungnya bisa saja dapat mengaburkan sejarah NU dari aslinya.?

Demikian tanggapan penulis, semoga bermanfaat dan mohon maaf jika terdapat kesalahan. Wallahu a’lam.





Penulis tercatat sebagai pengurus di salah satu Lembaga dan Banom NU; penulis buku "Riwayat Syaikhona Kholil Bangkalan, Isyarah & Perjuangan di Balik Berdirinya NU", "Istighatsah An-Nahdliyah", "Syair Gus Dur", dan lain-lain.?

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Halaqoh Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Bangun Soft Skill, Santri Darul Falah Ikuti Pelatihan Jurnalistik

Semarang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Redaksi al-Qalam pesantren Darul Falah Be-Songo menggelar pelatihan jurnalistik bersama kontributor Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan M Zulfa. Bertempat di qoah pesantren Be-Songo agenda ini merupakan kegiatan pascaliburan untuk mengisi kegiatan menjelang semester baru. Pelatihan ini sekaligus sebagai evaluasi atas terbitnya buletin edisi kedua Februari 2016.?

Materi yang disampaikan berupa manajemen keredaksian, teknik wawancara dan menulis di era teknologi. Santriwan-santriwati pesantren Be-Songo yang mayoritas mahasiswa Universitas Islam Negeri Walisongo ini dibekali dengan ketrampilan untuk menghasilkan santri yang tidak hanya menyandang gelar kesarjanaan saja. Soft skill menjadi nilai lebih dari mahasiswa yang tidak tinggal di pesantren.?

Bangun Soft Skill, Santri Darul Falah Ikuti Pelatihan Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)
Bangun Soft Skill, Santri Darul Falah Ikuti Pelatihan Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)

Bangun Soft Skill, Santri Darul Falah Ikuti Pelatihan Jurnalistik

Nilai-nilai pesantren yang tumbuh di pesantren ini tak hilang sebagaimana pesantren pada umumnya, masih ada ngaji dan kajian fiqih rutin, khitobah dan sederet nilai-nilai khas pesantren seperti kemandirian, kekeluargaan, sopan santun, dan lain-lain. Akhlak karimah seperti ini yang harus terus digaungkan melalui media massa baik berupa cetak atau online.?

"Penguatan soft skill untuk santriwan-santriwati ini menjadi bekal di masa yang akan datang setelah mereka kembali ke masing-masing daerah asal mereka," ungkap pengasuh pesantren KH Imam Taufiq.?

Selain itu, kegiatan pascaliburan ini ada pelatihan resolusi konflik, kewirausahaan, peningkatan kepemimpinan, AMT, fashion style, fiqih perempuan dan pelatihan bercocok tanam. Pesantren yang bervisi menjadikan santri berakhlak mulia dengan kompetensi keagamaan dan kecakapan hidup yang handal ini bisa buka di be-songo.or.id. Red: Mukafi Niam?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Halaqoh, Nusantara, Berita Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Perdebatan soal Hukum Transfusi Darah di Zaman Penjajahan

Lazimnya semua peperangan yang terjadi di beberapa belahan bumi sepanjang sejarah, tim medis mempunyai peran sentral dalam memberikan pertolongan kepada para prajurit yang masih bisa diselamatkan. Di antara layanan medis yang sangat penting di medan tempur ialah proses transfusi darah (bloodtransfoesie).

Para pelaku peperangan sebagian besar mengalami pendarahan hebat disebabkan terkena tembak maupun serangan yang lain. Hal ini menjadi perhatian para ulama Indonesia yang tergabung di MIAI (al-Majlisul Islami A’la Indonesia) untuk membahas bagaimana hukum transfusi darah untuk kepentingan perang dan penjajahan.

Perdebatan soal Hukum Transfusi Darah di Zaman Penjajahan (Sumber Gambar : Nu Online)
Perdebatan soal Hukum Transfusi Darah di Zaman Penjajahan (Sumber Gambar : Nu Online)

Perdebatan soal Hukum Transfusi Darah di Zaman Penjajahan

Organisasi yang merupakan wadah semua kelompok umat Islam Indonesia ini didirikan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah dan KH Ahmad Dahlan (tokoh NU yang pernah menjadi wakil Hadratussyekh Hasyim Asy’ari dalam kepengurusan NU 1926) pada 12-15 Rajab 1356 H (18-21 September 1937) di Pondok Kebondalem Surabaya, Jawa Timur. Kedua tokoh pendiri NU itu dibantu oleh KH Mas Mansur Pimpinan Muhammadiyah serta W. Wondoamiseno dari Syarikat Islam (SI).

Para tokoh NU berperan penting dalam kemajuan badan federasi perkumpulan Islam itu. Agenda cukup sentral dalam organisasi tersebut di antaranya Kongres Al-Islam. Namun, para tokoh NU mengubah istilah tersebut dengan Kongres Muslimin Indonesia (KMI) untuk menunjukkan bahwa umat Islam di Indonesia kuat meski terbagi menjadi beberapa kelompok.

Singkatnya, puncak perjuangan MIAI terlihat pada KMI ketiga pada 5-8 Juli 1941 di Solo, Jawa Tengah. Kongres ini didahului sidang pleno Dewan MIAI untuk membahas persoalan penting dan mendesak di antaranya, 1) perubahan tata negara; 2) soal milisi; dan Bloodtransfoesie (pemindahan/transfusi darah). (Pertumbuhan dan Perkembangan NU, 2010)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Tentang perubahan tata negara, sidang Dewan MIAI memberikan kesempatan kepada dua pembicara utama, yaitu A.Ghoffar Ismail (Wakil PB PII) dan Abikoesno Tjokrosoejoso (PSII). Untuk masalah milisi-diestplicht, sidang mempersilakan kepada Wakil HBNO/Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), KH Ahmad Ilyas untuk membuat pertimbangan (konsiderannya). Sedangkan untuk persoalan bloodtransfoesie terjadi perbedaan pendapat yang cukup sengit antara Persatuan Islam (Persis), PB PII, dan HBNO.

Dalam perdebatana tersebut, Persis membolehkan bloodtransfoesie karena hal itu (sama halnya dengan) ikhtiar menolong atau mengobati orang sakit, terutama yang kekurangan darah dengan cara memindahkan darah dari orang yang sehat kepada orang yang sakit. Namun, atas persoalan bloodtransfoesie ini, HBNO dan PB PII memberikan dua alternatif.

Pertama, pemindahan darah ke lain tubuh yang kekurangan darah guna pengobatan, maka hukumnya seperti pemberian. Kedua, jika karena pemberian itu akan terjadi suatu perkara terlarang, mislanya untuk peperangan yang tidak diridhoi Allah SWT, maka hukumnya terlarang atau tidak diperbolehkan. Dengan kata lain, hukumnya haram.

Atas argumen syar’i dari HBNO, Kongres Muslimin Indonesia ketiga itu berakhir dengan keputusan bulat, yakni melarang atau mengharamkan bloodtransfoesie untuk kepentingan membantu peperangan Belanda, dan mengharamkan milisi-diestplicht karena perbuatan tersebut berarti membantu penjajah (kolonial). Sedangkan mengenai perubahan tata negara, menuntut Indonesia berparlemen atas dasar pijakan nilai-nilai agama. (Fathoni Ahmad)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Sholawat, Halaqoh Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock