Tampilkan postingan dengan label Tegal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tegal. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Februari 2018

Semangat Mengaji Umat Muslim di Roma

Umat Muslim percaya momen Ramadhan perlu diisi dengan berbagai macam kegiatan kebaikan, termasuk juga pengajian. Begitu juga dengan warga Muslim di Roma. Itulah yang dikatakan Juniarti, Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemenlu kepada saya saat saya mengisi pengajian di KBRI Roma Ramadhan lalu.

Saat itu, saya mengisi pengajian di hari Sabtu. Sabtu dan Ahad memang hari libur di Roma. Tetapi meskipun libur, pengajian tetap dilakukan.

Semangat Mengaji Umat Muslim di Roma (Sumber Gambar : Nu Online)
Semangat Mengaji Umat Muslim di Roma (Sumber Gambar : Nu Online)

Semangat Mengaji Umat Muslim di Roma

Ramadhan juga bulan kebersamaan. Suasana itu terlihat di lingkungan KBRI Roma. Sapaan hangat dari RA Esti Andayani sebagai Duta Besar RI untuk Italia kepada seluruh staf. Tawa canda anak-anak kecil dengan temannya yang terkadang lalu lalang di depan para pejabat, menambah cerita lucu di saat berbuka puasa.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

***

Tinggal jauh di negara sendiri terkadang ada sukanya juga ada dukanya. Sukanya salah satunya adalah, mungkin bisa banyak belajar budaya asing dan memperlancar bahasa negara lain, seperti kebanyakan saudara-saudara Muslim di Roma, Italia ini.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Anak-anak kecil keturunan Indonesia di sini sangat fasih dan lancar sekali dengan bahasa Italia. Saat bercanda dan bermain dengan teman-teman sebayanya, mereka asyik sekali mendengarkan orang mengucapkan kalimat-kalimat berbahasa Italia. Seperti kata “numero uno” dan sebagainya.

Tetapi ada yang menjadi kegelisahan para orangtua mereka, yaitu pembelajaran pengetahuan agama yang kurang maksimal, meskipun sudah disiapkan tempat belajar agama khusus di masjid besar khusus untuk orang-orang Indonesia. Tampaknya itu belum efektif.

Banyak yang bercerita kepada saya, tentang huruf-huruf Hijaiyah saja sudah lupa. Banyak dari anak-anak usia SMP dan SMA sudah lupa huruf-huruf Hijaiyah itu.

“Dulu saya sudah tahu itu, tetapi sekarang saya sudah lupa semua,” kata Faishal, anak Indonesia yang dari kecil sekolah di Roma, yang sekarang duduk di kelas 1 selevel SMA di Indonesia.

Faishal bercerita jenjang pendidikan di Roma agak berbeda dengan di Indonesia. Kalau di Roma jenjangnya 5+3+5. Lima tahun setingkat SD dilanjut 3 tahun setingkat SMP dilanjut 5 tahun setingkat SMA. Lima tahun di setingkat SMA itu sudah penjurusan sesuai minat masing-masing. Jika cerdas bisa selesai lebih cepat. Seperti akselerasi di Indonesia.

Untuk mengefektifkan pengetahuan agama tersebut, KBRI Roma dan Nadwah Ukhuwah Roma (NUR) bersepakat membuat jadwal dan tema kajian Ramadhan yang dibutuhkan masyarakat Muslim Indonesia di Roma. Dengan itu tugas saya sebagai Dai Ambassador Cordofa 2017 di Italia sangat terbantu.

Selama di Roma, jadwal pengajian yang telah disusun oleh NUR dan KBRI Roma adalah sebagai berikut. Kultum di setiap hari bada zuhur. Tema yang harus disampaikan adalah pentingnya shalat, keutamaan sedekah, manfaat membaca Al-Quran, akidah dan tauhid dalam Islam, sudahkah saya berzakat, perbedaan zakat dan infak.

Selain itu keutamaan istighfar, menghormati orangtua, persaudaraan dalam Islam, amar makruf nahi munkar, penyakit hati dan cara menghindarinya, keutamaan menuntut ilmu, kebersihan sebagian dari iman, keutamaan shalat dhuha, manfaat shalat dari segi kesehatan dan sosial, keutamaan shalat tahajud.

Selebihya adalah saya akan bahas tentang hukum-hukum fiqih dasar tentang thaharah dan hukum-hukum shalat seperti rukun dan sunat shalat.

“Karena ini saja banyak yang masih belum benar,” kata Adnan, salah satu staff dan ustad di KBRI Roma.

Setiap Rabu dan Jumat ada pengajian ibu-ibu. Saya tekankan pada cara membaca Al-Quran yang baik dan benar. Saya praktikkan makharijul huruf dan pemahaman ilmu tajwid, juga sentuhan anatomi Al-Quran yang sangat disukai oleh jamaah ibu-ibu istri para diplomat ini.

Pengajian ini dimulai pukul 14. 30-17.00 pada hari Rabu. Sedangkan pada hari Jumat dimulai pada pukul 18.00 sampai 20.00 atau menjelang berbuka puasa.

Setiap Jumaat sore dimulai pukul 15.00–17.30 adalah pengajian anak-anak dan remaja, yang saya isi dengan pengenalan huruf-huruf Hijaiyah, doa-doa harian, dan hafalan-hafalan surat pendek.

Setiap Jumat dan Sabtu juga diadakan acara berbuka puasa bersama di KBRI Roma, Milan, dan Vatikan secara bergantian. Jumat agenda untuk seluruh keluarga Home Staff dan Lokal Staff KBRI Roma. Sedangkan hari Sabtu diadakan untuk umum, untuk seluruh masyarakat Indonesia dan sekitarnya di Italia.

Semua itu untuk mempererat tali silaturrahmi dan menambah pengetahuan agama Islam di Italia yang memang minim sekali guru agama. Sekalipun ada, itu pun jauh dan mungkin terkendala masalah bahasa.

Saya berharap, peran saya yang tak seberapa selama di Italia, dapat meningkatkan semangat warga Muslim di sana dalam menambah ilmu agama. Masyarakat Indonesia di Italia umumnya dapat mempererat tali persaudaraan dan kepedulian mereka.

H Khumaini Rosadi, anggota Tim Inti Dai dan Media Internasional (TIDIM) LDNU, dan Dai Ambassador Cordofa 2017 dengan penugasan ke Roma, Italia.

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Halaqoh, Tegal Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 21 Desember 2017

Karya Kiai Ma’shum Semarang Ini Dicetak di Mesir, Dikoleksi di Kanada

Ini adalah halaman muka dari naskah kitab Hasyiah Tasywiqul Khallan ‘ala Syarhil Ajurumiyyah karangan KH Muhammad Ma’shum ibn Salim al-Safuthani al-Samarani, seorang ulama Nusantara asal Seputon, Semarang (Jawa Tengah). Kitab ini dicetak dan diterbitkan oleh ‘Isa al-Babi al-Halabi di Mesir pada tahun 1303 H (1886 M). Naskah ini menjadi koleksi Robarts Library, University of Toronto, Kanada.



“Tasywiqul Khallan” merupakan hasyiah (komentar panjang) atas syarh (penjelasan) “Mukhtashar Jiddan” (karangan Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, w. 1866 M) atas matan (teks) al-Ajurumiyyah, kitab monumental gramatika Arab (nahw) karangan Muhammad ibn Jurum al-Shanhaji, w. 1323 M.

Halaman muka kitab mengisyaratkan jika KH. Muhammad Ma’shum mengarang hasyiah ini saat ia masih berusia muda. Tertulis di sana: “Ta’lif al-syab an-najib wal-fadhil al-labib” (karangan seorang pemuda cendikia, pemilik keutamaan yang cerdas).

Karya Kiai Ma’shum Semarang Ini Dicetak di Mesir, Dikoleksi di Kanada (Sumber Gambar : Nu Online)
Karya Kiai Ma’shum Semarang Ini Dicetak di Mesir, Dikoleksi di Kanada (Sumber Gambar : Nu Online)

Karya Kiai Ma’shum Semarang Ini Dicetak di Mesir, Dikoleksi di Kanada

Dalam kata pengantarnya, KH. Muhammad Ma’shum mengatakan jika ia mengarang kitab ini karena permintaan beberapa koleganya yang hendak memahami kitab al-Ajurumiyyah dan syarh-nya, Mukhtashar Jiddan, secara lebih mendalam. Para kolega itu meminta KH Muhammad Ma’shum untuk menuliskan komentar dan penjelasan panjang atas dua kitab (matan dan syarh) tersebut, agar lebih mudah difahami.

KH Muhammad Ma’shum mulai menulis hasyiah ini di Mekkah saat ia pergi haji dan merampungkanya di Semarang. Dalam menulis hasyiah ini, KH. Muhammad Ma’shum merujuk pada beberapa referensi utama, yaitu (1) Hasyiah al-Sanwani ‘ala Syarh al-Syaikh Khalid al-Azhari ‘ala Matn al-Ajurumiyyah, (2) Syarh al-Astarabadi ‘ala Kafiyah Ibn al-Hajib, dan (3) Mughni al-Labib karangan Ibn Hisyam.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sayangnya, belum banyak informasi lebih terkait biografi KH. Muhammad Ma’shum beserta karya-karyanya. Dalam kata pengantarnya, beliau menyebutkan jika Syaikh Ahmad Zaini Dahlan adalah “syaikh syaikhi” (guru dari guruku).

Menimbang tahun kepengarangan kitab tersebut (1303 H/ 1886 M), maka bisa diperkirakan jika KH. Muhammad Ma’shum ini satu generasi dengan santri-santri Jawi yang belajar di Mekkah pada masa itu, seperti KH. Hasyim Asyari Jombang (w. 1366 H), KH. Mukhtar Atharid Betawi (w. 1349 H), KH. Abdul Karim ibn Ahmad Khatib Minang (w. 1357 H), KH. Abdul Rasyid Bugis (w. 1361 H), KH. Wahyuddin Abdul Ghani Palembang (w. 1360 H), KH. Jamaluddin Khaliq Patani (w. 1355 H), dan lain-lain.

Meski demikian, kitab Hasyiah Tasywiqul Khullan banyak dicetak ulang dan diterbitkan kembali oleh banyak penerbit, baik di Arab atau pun Nusantara, seperti Dar al-Kutub al-‘Arabiyyah al-Kubra (Kairo, 1326 H/ 1908 M), al-Maktabah al-‘Ilmiyyah (Kairo, 1358 H/ 1940 M), Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah (Beirut, 2003), dan Maktabah al-Hidayah (Surabaya).

Matn al-Ajurumiyyah terhitung sebagai kitab pegangan wajib bagi pelajaran gramatika Arab (nahw) tingkatan pemula di pesantren-pesantren tradisional (NU) di Indonesia. Matn (teks) tersebut sangat popuker dan banyak yang menulis pejelasan (syarh) atasnya, diantaranya adalah syarh yang ditulis oleh Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, mufti madzhab Syafi’i di Makkah al-Mukarromah sekaligus mahaguru bagi para santri dan ulama asal Nusantara di akhir abad ke-19 M. Maka tidaklah mengherankan jika kitab-kitab karangan beliau banyak diaji dan dikaji di dunia pesantren hingga sekarang.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Syaikh Ahmad Zaini Dahlan sezaman dan sejawat dengan Syaikh Nawawi Banten, yang juga mahaguru para santri dan ulama Nusantara di Makkah. Jika Syaikh Zaini Dahlan menulis Syarh Mukhtashar Jiddan atas teks al-Ajurumiyyah, maka Syaikh Nawawi menulis Kasyf al-Maruthiyyah yang merupakan syarh atas teks yang sama.

Pada bulan Ramadhan tahun 1999 dulu, saya khatam mengaji kitab Syarh Mukhtashar Jiddan karangan Syaikh Ahmad Zaini Dahlan ini di pesantren HM Putra Lirboyo Kediri (Jawa Timur) dari bacaan (qira’ah) KH. Imam Yahya Mahrus. Di akhir pengajian, KH. Imam Yahya memberikan sanad (mata rantai keilmuan) kitab tersebut yang menyambung sampai pengarangnya: KH. Imam Yahya Mahrus, dari KH. Mahrus Ali, dari KH. Abdul Karim, dari KH. Kholil Bangkalan, dari Syaikh Nawawi al-Bantani, dari Syaikh Ahmad Zaini Dahlan. (A. Ginanjar Sya’ban)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Cerita, Tegal, Bahtsul Masail Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 10 Desember 2017

GP Ansor Jateng Gelar Konferwil Akhir Pekan Depan

Kudus, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pimpinan Wilayah GP Ansor Jawa Tengah akan menggelar konferensi wilayah (Konferwil) di Universitas Sains Al-Qur’an (Unsiq) Wonosobo, Sabtu-Ahad (17-18/5) mendatang. Konferwil ini diikuti utusan resmi cabang dan anak cabang GP Ansor se-Jawa Tengah yang memenuhi ketentuan administratif.

GP Ansor Jateng Gelar Konferwil Akhir Pekan Depan (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Jateng Gelar Konferwil Akhir Pekan Depan (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Jateng Gelar Konferwil Akhir Pekan Depan

Sekretaris GP Ansor Kudus Suwindi mengatakan, kepastian konferwil ini tertuang dalam edaran yang dikirim GP Ansor Jateng kepada seluruh cabang dan anak cabangnya.

“Persyaratannya sangat banyak; SK kepengurusan masih aktif, pernah mengadakan pelatihan kader dasar (PKD) pada 2013, menunjukkan bukti sertifikat dan daftar hadir kegiatan PKD minimal 40 peserta,” sebut Suwindi kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan, Selasa (6/5).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Melihat persyaratan demikian, Suwindi memprediksi banyaknya anak cabang Ansor yang tidak bisa menjadi peserta. Sebab, meskipun SK kepengurusan masih aktif, sebagian anak cabang GP Ansor belum mengadakan PKD pada 2013.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Tetapi kita menunggu verifikasi dari pimpinan wilayah saja, PAC GP Ansor mana nanti yang lolos sebagai peserta resmi konferwil,” ujarnya.

Konferwil ? Ansor Jateng yang untuk kali pertama melibatkan unsur PAC sebagai peserta ini, akan mengagendakan berbagai pembahasan laporan pertanggungjawaban GP Ansor Jateng di bawah kepemimpinan Jabir Al-Faruqi , perumusan program kerja, dan pemilihan ketua baru GP Ansor Jateng.

Panitia penyelenggara rencananya memeriahkan konferwil dengan diskusi publik, pasar murah, dan pagelaran wayang kulit. (Qomarul Adib/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Tegal, Olahraga, Pahlawan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 29 November 2017

Hari Santri, Jangan Sekadar Seremoni

Sidoarjo, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Wakil Sekretaris Pengurus Wilayah Jamiyyatul Qurra wal Huffadz Nadlatul Ulama (JQH NU) Jawa Timur M Tohir menyatakan bahwa gebyar Hari Santri Nasional pada tanggal 22 Oktober 2015 cukup banyak mendapatkan respon dari masyarakat.

Pasalnya, geliat peringatan tersebut terlihat dari berbagai even mulai yang simbolik sampai kegiatan nyata. Mulai dari yang bersifat personal sampai dengan kegiatan-kegiatan instititusional. Pernyataan ini disampaikan oleh M Tohir melalui pesannya yang diterima Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan, Selasa (27/10).

Hari Santri, Jangan Sekadar Seremoni (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Santri, Jangan Sekadar Seremoni (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Santri, Jangan Sekadar Seremoni

"Tentunya, acara demi acara dalam menyambut Hari Santri bukan menjadi rutinitas seremonial saja. Yang paling penting dengan hadirnya Hari Santri Nasional, adalah apa yang dapat disumbangkan oleh seorang untuk agama, negara dan bangsa," ucap Tohir.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Santri bukan lagi komunitas sosial pinggiran. Peringatan Hari Santri harus mampu memosisikan santri dalam peran-peran penting pembangunan. Jika demikian, maka para santri harus mampu istropeksi diri dan menata kembali SDMnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jika resolusi jihad telah mendorong ribuan santri merapat ke Surabaya sehingga yang menghancurkan mental tentara Inggris, rela berkorban nyawa dan berkalang tanah. "Lalu, apakah yang dapat diberikan oleh santri atau bagi yang baru belajar menjadi santri? Untuk itu, yang patut diperhitungkan adalah setelah selesai hari Santri Nasional ini, apa yang bisa dilakukan?," kata Tohir sembari bertanya.

Menurut Tohir, santri itu merupakan para intelektual religius, yang harus mampu bertarung dengan perubahan jaman dengan profesionalitasnya dan menjadikan akhlakul karimah sebagai baju kebesarannnya.

"Di sini, sekarang ini, saat kita berdiri, mungkin dulu ada seorang santri sedang terkapar, menjerit, berdarah-darah dan meregang nyawa (naza’) karena tertembus peluru. Lalu, apakah kita cuma diam saja. Apakah kita cuma mengenangnya dengan mengadakan acara-acara sebatas seremonial saja," tanya Tohir.

Tohir menjelaskan, fenomena antusiasme masyarakat Muslim umumnya, dan Nahdliyin khususnya ini patut dibanggakan, kendati ada beberapa penolakan dari tokoh ormas lain tentang ide Hari Santri. Namun, penolakan tersebut ternyata telah disikapi oleh para santri dengan tak terpancing untuk membalas dengan kasar atau kekerasan.

"Santri memang seharusnya mampu menjunjung kesantunan sebagai ekspresi sosialnya. Ingatlah Satlogi Santri, yaitu S: Santun, A: Ajeg/istiqomah, N: Nasehat, T: Tawakal, R: Ridhallah, dan I: Ikhlas," terang Tohir

"Terlalu murah nyawa dan jihad mereka jika kita bayar hanya dengan acara seremonial. Untuk itu, kita harusnya mampu mengaktualisasikan ‘resolusi jihad’ dalam kehidupan kekinian yang lebih nyata. Misalnya, bagaimana peran ‘jihad’ kita masalah asap dan problem-problem masyarakat lainnya," imbuh Tohir.

Tohir mengaku bahwa JQH NU Provinsi Jawa Timur sendiri menyambut Hari Santri Nasional yang pertama tahun ini dengan menghelat Khotmul Quran Bersama di Musholla PWNU Jawa Timur yang dihadiri oleh para Kiai dan Huffadz. (Moh Kholidun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Tegal Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 25 November 2017

Santri dan Pelajar Didorong Lestarikan Budaya Menulis

Jepara, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Wakil Ketua PCNU Jepara, Hisyam Zamroni yang didaulat membuka kegiatan presentasi lomba menulis opini yang dihelat LTN PCNU Jepara, Rabu (23/3) lalu memantik 10 peserta terbaik tersebut.?

Santri dan Pelajar Didorong Lestarikan Budaya Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri dan Pelajar Didorong Lestarikan Budaya Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri dan Pelajar Didorong Lestarikan Budaya Menulis

“Kalian adalah salah satu penerus budaya tulis-menulis. Karena saat ini penulis masih sangat kurang jumlahnya,” tegas Hisyam saat membuka presentasi lomba yang berlangsung di gedung NU Jepara ini.?

Ia meyakinkan peserta jika tiada penerus Bukhari dan Muslim niscaya kelak akan hilang. Orang yang pintar tegasnya wajib menulis. Dulu, papar Kepala KUA Keling Jepara manusia ditradisikan dengan budaya lisan. Pidato maupun khutbah adalah misal tradisi lisan.?

Sehingga ada istilah tutur tinular merupakan gambaran dari tradisi lisan. Tradisi lisan menurut alumnus Pascasarjana UIN Walisongo Semarang ini dapat bernilai kebenaran sebagaimana Nabi Muhammad memberikan sabda kepada sahabat-sahabatnya.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Tradisi menghafal al-Qur’an juga bagian dari bahasa tutur. Untuk itu, saat ini sudah saatnya pelajar dan santri sebagai penerus budaya tulis.?

“Jadikan menulis hal yang nikmat. Kegiatan yang sangat enjoy,” imbuhnya.

Kegiatan tersebut merupakan awal bukan akhir. Kepada peserta dirinya juga meyakinkan bahwa orang bisa hidup lantaran menulis.?

Apa saja bisa ditulis. Tidak terkecuali potensi-potensi yang ada di kampung dengan versi masing-masing. “Ayo kita kembangkan budaya tulis kita,” ajaknya.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Lomba menulis opini bertema “Rahmat Kemajemukan Itu Nyata” merupakan agenda perdana LTN PCNU Jepara masa khidmah 2015-2020. Naskah yang masuk ke panitia yang berjumlah puluhan kemudian dikerucutkan menjadi 10 besar.?

Pemenang lomba yang mencakup isi dan tulisan kata Muhammadun Sanomae, Ketua LTN PCNU Jepara akan diumumkan di web nujepara.or.id dalam waktu dekat ini.?

“Profil juara I akan dipublikasikan di Suara Merdeka,” pungkas Kepala Biro Suara Muria (Suara Merdeka) ini. (Syaiful Mustaqim/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Tegal, Nasional Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 08 November 2017

Bantu Evakuasi Korban, LPBI NU Terjunkan 120 Relawan

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Nahdlatul Ulama (NU) melalui Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) bersama Banser Tanggap Bencana (Bagana) Banjarnegara dan sekitarnya hingga saat ini telah menerjunkan 120 relawan dengan membawa sejumlah peralatan untuk membantu proses evakuasi korban.

Bantu Evakuasi Korban, LPBI NU Terjunkan 120 Relawan (Sumber Gambar : Nu Online)
Bantu Evakuasi Korban, LPBI NU Terjunkan 120 Relawan (Sumber Gambar : Nu Online)

Bantu Evakuasi Korban, LPBI NU Terjunkan 120 Relawan

Pengurus Pusat LPBI NU melalui Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banjarnegara juga telah mengirimkan bantuan awal untuk membeli peralatan evakuasi dan operasional Tim.

Selain itu, saat ini Tim Relawan NU dipandu oleh assessor dari PP LPBI NU juga sedang melakukan assessment terutama terkait kebutuhan pengungsi.? Setelah assessment nanti, LPBI NU bersama seluruh komponen NU di Banjarnegara akan mendistribusikan bantuan yang dibutuhkan oleh pengungsi.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

PCNU Banjarnegara juga telah mendirikan Posko Bantuan Kemanusiaan untuk Korban Longsor Banjarnegara di salah satu rumah kader NU di Dusun Ngaliyan yang berjarak sekitar 300 meter dari lokasi kejadian atau di depan Pos Pengungsian Utama korban longsor yang berasal dari Dusun Jemblung. Posko ini selain sebagai pusat informasi juga tempat menerima bantuan kemanusiaan untuk didistribusikan kepada korban longsor di Banjarnegara.

Data LPBI NU yang diperoleh dari BNPB dan BPBD Banjarnegara menyebutkan bahwa hingga Senin (15/12) siang, korban meninggal akibat longsor di Dusun Jemblung, Desa Sampang Kecamatan Karangkobar Kabupaten Banjarnegara adalah 39 orang, sementara 69 orang masih dalam pencarian. Sedangkan rumah yang tertimbun longsor sebanyak 38 rumah. Proses evakuasi dan pencarian korban masih terus dilakukan oleh Tim Gabungan dari berbagai pihak.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah mengumumkan status darurat bencana pada Sabtu, 13 Desember 2014. Jumlah pengungsi hingga Ahad, 14 Desember 2014 diperkirakan berjumlah 1.692 orang. (Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Tegal Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 02 November 2017

Sepurane Rek!

Menjelang pelaksanaan shalat idul fitri, seorang sesepuh yang ditunjuk sebagai imam dan khotib, menyampaikan beberapa penjelasan atau semacam tips terkait shalat id.

Saudara-saudara, pelaksanaan shalat id itu memiliki sedikit perbedaan dengan shalat pada umumnya. Pertama, pada rakaat awal, sebelum imam membaca fatihah, dilakukan takbir tujuh kali, dan diantara takbir satu dengan yang lain dibacakan tasbih. Kedua, pada rakaat kedua dilakukan hal yang sama tapi jumlahnya lima kali. Paham?"

Para jamaah pun serentak berucap, "Paham.."

Sepurane Rek! (Sumber Gambar : Nu Online)
Sepurane Rek! (Sumber Gambar : Nu Online)

Sepurane Rek!

Maka dilaksanakanlah shalat id. Ternyata sang imam sama sekali tidak melaksanakan takbir 7x dan 5x. Mungkin ia lupa.

Selesai salam, para jamaah pun kasak kusuk. Konsentrasi mereka terpecah karena teringat pesan sang imam, tapi justru ia tidak melaksanakannya.

Suasana khotbah pun tidak kondusif, karena sebagian jamaah masih terus membahas masalah takbir.

Begitu selesai khotbah, sebagian jamaah segera menuju ke sekitar mimbar guna bertanya tentang masalah takbir.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Bertanyalah salah seorang jamaah: “Pak Kiai, tadi Bapak pesan supaya para jamaah ikut bertakbir 7x dan 5x. dlm shalat id. Lha kok Anda malah tidak melakukannya sama sekali.”

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ia bertanya balik, "Lho, begitu yang terjadi tadi?" Serentak para jamaah menjawab, "Ya!!!!!"

"Begitulah saudara-saudara orang kalau sudah tua, barusan memberi pesan, lha kok malah lupa dengan pesannya sendiri. Yo sepurane rek.....! (Maafin yaaa)." (Muhammad Nuh)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Syariah, Tegal Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock