Tampilkan postingan dengan label Bahtsul Masail. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahtsul Masail. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Februari 2018

Peraih Doktor Termuda di Jepang, Aktivis PCINU

Depok, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Ada yang istimewa pada kuliah umum di STAI Al-Hamidiyah Depok, Senin (15/9) petang. Dua narasumber sangat kontras satu sama lain. Pertama, Menteri Agama Republik Indonesia ke-21, Lukman Hakim Saifuddin. Kedua, Emil Elestianto Dardak, PhD, peraih gelar doktor termuda pada usia 22 tahun dari Ritsumeikan Asia Pasific University Jepang. Usut punya usut, pria ini adalah mantan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jepang.

Emil, sapaan akrabnya, menceritakan saat dirinya mengambil S2 dan S3 di Jepang, sebuah negara kepulauan mirip Indonesia, belum ada organisasi sebagai wahana diskusi tentang keislaman dan kemajuan teknologi. Kemudian ia bersama kawan-kawannya mendirikan NU di Jepang.

Peraih Doktor Termuda di Jepang, Aktivis PCINU (Sumber Gambar : Nu Online)
Peraih Doktor Termuda di Jepang, Aktivis PCINU (Sumber Gambar : Nu Online)

Peraih Doktor Termuda di Jepang, Aktivis PCINU

?

“Kami mahasiswa Indonesia di Jepang saat itu butuh wahana silaturahim. Sayangnya, belum ada untuk sekedar tempat bicara dan diskusi tentang keislaman yang ramah. Maka, kami mendirikan NU di sana,” ujar suami artis Arumi Bachsin ini kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan usai berbicara sebagai narasumber pada kuliah umum di STAI Al-Hamidiyah, Senin (15/9).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dia menambahkan, saat itu Rais Syuriah pertama Pak Kharirie. Kemudian penerusnya Pak Agus Zainal Arifin (sekarang dekan di ITS). “Kalau saya mulai aktif sebagai salah satu ketua, yaitu bidang Hubungan Pemerintah, sejak 2005. Nah, ketua umum saat itu Indra Singawinata,” sebutnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dalam kepengurusannya, lanjut Emil, di PCINU pernah membuat program “Santri Nelayan” untuk membantu pesantren di daerah pesisir. Program tersebut berupa pembuatan soft ware Quran Digital, fasilitas teknologi informasi (IT), dan perangkat komputer untuk para santri agar mereka dapat beradaptasi dengan teknologi terkini. Hal tersebut dilakukan supaya proses belajar-mengajar di pesantren lebih efisien.

Menyinggung soal isu kemaritiman, Emil mengatakan belum lama ini koran Singapura The Street Time memuat pendapatnya mengenai poros maritim yang didengungkan Presiden terpilih Joko Widodo. Bagi dia, kunci terpenting poros maritim adalah mengaitkannya dengan kesatuan nasional. Isu ini sangat strategis di mana penduduk pesisir yang mayoritas warga Nahdliyin itu merupakan perekat persatuan dan kesatuan bangsa.

“Kita ini kan pulau-pulau besar. Satu pulau bisa melebihi satu negara. Tapi apa yang bisa merekatkan kita jadi satu? Lautan di negeri ini mestinya menjadi penyatu bukan pemisah. Jadi, penyatu Indonesia itu ya lautan. Oleh karena itu, perlu dibangun infrastruktur pelabuhan yang membuat ongkos membeli barang dalam negeri lebih murah daripada mengirim keluar. Sedangkan hari ini kebalikannya,” tutur dia.

?

Emil menekankan tidak berarti serta-merta ketika Indonesia berorientasi maritim lalu konektivitas di darat terlupakan. “Kita bikin pelabuhan tapi tidak tersambung ke mana-mana kan percuma. Justru harus ada konektivitas antara pelabuhan dengan pusat-pusat produksi. Jadi, logistik jadi terpadu. Itu yang penting,” tegasnya.

Emil bercerita, ia pernah meneliti tentang link and match. Kenapa di sebuah desa bisa tertinggal dari sisi SDM dan teknologi. Karena apa yang diajarkan di sekolah tidak dapat diaplikasikan di lingkungannya. “Harus ada satu keterpaduan di hilir dan di hulu. Misalnya, kita pengen nelayan menggunakan teknologi perkapalan atau penangkapan ikannya, ada demand di hilir. Di hulunya kita profit. Jadi, mindset mulai anak SD hingga SMA harus match,” paparnya.

Cucu KH Dardak asal Trenggalek Jawa Timur ini menambahkan, ilmu yang diperoleh sejalan dengan apa yang bisa dikaryakan di situ. Jadi kemampuan santri untuk mengoperasikan penangkapan ikan berbasis teknologi itu menjadi penting. Ia merasa, pesantren di mana-mana itu balance. Orang yang memiliki kondisi spiritual yang baik berada dalam kondisi belajar yang kondusif.

“Itu yang kami lihat. Dia bisa punya etos kerja. Jadi, harus dikaitkan ajaran Islam itu ke dalam etos belajar dan etos kerja yang baik. Karena sekarang ini SDM kita justru karakternya yang harus didorong, nggak cuma kemampuan teknis. Nah, format belajar yang menggunakan pendekatan pesantren itu diharapkan menjadi satu dobrakan ke arah sana,” pungkasnya. (Ali Musthofa Asrori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Kajian Islam, Bahtsul Masail Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 25 Januari 2018

IKA-PMII: Dana Desa Harus Tepat Sasaran

Tulang Bawang Barat, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Tulang Bawang Barat meminta semua pihak untuk ikut serta mengawal penyaluran dana desa sehingga pemanfaatannya tepat sasaran bagi masyarakat. Jangan sampai timbul gejolak akibat melencengnya anggaran tersebut.

Demikian disampaikan Ketua IKA PMII Tulang Bawang Barat HM Azmi Ishaq melalui saluran selulernya, Jumat (13/7).

IKA-PMII: Dana Desa Harus Tepat Sasaran (Sumber Gambar : Nu Online)
IKA-PMII: Dana Desa Harus Tepat Sasaran (Sumber Gambar : Nu Online)

IKA-PMII: Dana Desa Harus Tepat Sasaran

Menurut Azmi, pihaknya percaya, keberadaan program dana desa yang didukung dengan dana prospek akan mampu meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan desa/tiyuh.

"Hadirnya dana desa harus dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat. Jangan sampai disalahgunakan oleh oknum kades karena dengan adanya dana desa diharapkan desa tersebut dapat lebih maju dengan memberdayakan masyarakatnya sehingga ke depan desa/tiyuh akan menjadi mandiri," ujarnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Karena itu, pihaknya meminta agar masyarakat serta semua pihak dapat ikut mengawal sehingga pelaksanaan dana desa menjadi maksimal.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ia menuturkan dana ini cukup besar dan sangat signifikan. Artinya, bila dipergunakan dengan mekanisme yang benar dana ini dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat di desa/tiyuh.

Azmi juga mengingatkan, Pemkab Tulang Bawang Barat terutama Bagian Pemerintahan Desa agar dalam penjabaran aturan penggunaan Dana Desa (DD) tidak salah kepada 93 desa/tiyuh.

"Jangan salah penjabaran aturan penggunaan DD. Sebab, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi telah membentuk Satgas DD yang dipimpin mantan KPK. Jangan sampai terjadi carut marut penjabaran aturan penggunaan ADD maupun DD, karena akibat salah penjabaran dari dinas terkait yang jadi korban adalah Kepala Desa, dan pasti tersandung hukum di kemudian hari. Sebab, Kepala Desa itu sebagai pengguna anggaran karena dia yang melaksanakan ADD dan DD," ungkapnya.

Maka dengan pembentukan Satgas Dana Desa yang mengacu pada Keputusan Mendes PDTT Nomor 50 Tahun 2017 tentang Pembentukan Satuan Tugas Dana Desa, yang berfungsi membantu merumuskan kebijakan dan pengawasan pelaksanaan penggunaan dana desa, diharapkan tidak terjadi penyimpangan dana desa.

"Dengan telah terbentuknya Satgas Dana Desa yang berfungsi untuk membantu merumuskan kebijakan dan pengawasan pelaksanaan penggunaan dana desa, diharapkan tidak terjadi penyimpangan dana desa. Terkecuali ada perangkat desa yang mencoba bermain-main dengan dana tersebut, maka saya pastikan mendekam di terali besi," pungkasnya. (Gati Susanto-Imam Mukafi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Bahtsul Masail Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 19 Januari 2018

Di Tangan Mbah Sahal, Fikih Temukan Momentumnya

Sukaharjo, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muayyad Windan, KH Muhammad Dian Nafi, berpendapat bahwa Rais Aam PBNU KH Sahal Mahfudh (Mbah Sahal) menginspirasi banyak hal, terutama dalam perkembangan ilmu fiqih di Indonesia. Terutama paradigma fiqih sosial. ?

“Hal itu merupakan bukti utama keberhasilan Mbah Sahal,” katanya kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan, belum lama ini Senin, (27/1).

Di Tangan Mbah Sahal, Fikih Temukan Momentumnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Tangan Mbah Sahal, Fikih Temukan Momentumnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Tangan Mbah Sahal, Fikih Temukan Momentumnya

Dalam merintis paradigma fikih sosial, kata Kiai Dian, Mbah Sahal menguatkan penerapannya bagi kehidupan masyarakat Indonesia, sehingga fikih menemukan momentumnya dengan kajian-kajian multidisipliner.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kiai Dian menambahkan, dengan fikih sosial ini, masyarakat semakin fasih mengembalikan pelbagai persoalan kepada acuan kemaslahatan, yaitu terjaganya agama, jiwa raga, akal, keturunan, dan harta.

“Dengan itu, pemikiran keagamaan Nahdliyin mudah masuk ke arus utama kaum intelektual nusantara dan bahkan mudah memandu kerangka evaluatif kebijakan publik sesuai kemaslahatan yang lima tadi,” ungkapnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Di sisi lain, menurutnya, Mbah Sahal juga menginspirasi rintisan-rintisan pemberdayaan masyarakat, seperti yang terlihat di Kajen Pati. Hal ini menjadikan kaderisasi intelektual Nahdiyyin semakin meluas.

Di akhir pembicaraan, Kiai yang pernah menjabat sebagai Ketua PCNU Solo tersebut juga berharap kepada generasi muda NU, untuk melanjutkan perjuangan dakwah dan pemikiran keagamaan yang telah dirintis Mbah Sahal. (Ajie-Rosyidi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Bahtsul Masail Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 21 Desember 2017

Karya Kiai Ma’shum Semarang Ini Dicetak di Mesir, Dikoleksi di Kanada

Ini adalah halaman muka dari naskah kitab Hasyiah Tasywiqul Khallan ‘ala Syarhil Ajurumiyyah karangan KH Muhammad Ma’shum ibn Salim al-Safuthani al-Samarani, seorang ulama Nusantara asal Seputon, Semarang (Jawa Tengah). Kitab ini dicetak dan diterbitkan oleh ‘Isa al-Babi al-Halabi di Mesir pada tahun 1303 H (1886 M). Naskah ini menjadi koleksi Robarts Library, University of Toronto, Kanada.



“Tasywiqul Khallan” merupakan hasyiah (komentar panjang) atas syarh (penjelasan) “Mukhtashar Jiddan” (karangan Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, w. 1866 M) atas matan (teks) al-Ajurumiyyah, kitab monumental gramatika Arab (nahw) karangan Muhammad ibn Jurum al-Shanhaji, w. 1323 M.

Halaman muka kitab mengisyaratkan jika KH. Muhammad Ma’shum mengarang hasyiah ini saat ia masih berusia muda. Tertulis di sana: “Ta’lif al-syab an-najib wal-fadhil al-labib” (karangan seorang pemuda cendikia, pemilik keutamaan yang cerdas).

Karya Kiai Ma’shum Semarang Ini Dicetak di Mesir, Dikoleksi di Kanada (Sumber Gambar : Nu Online)
Karya Kiai Ma’shum Semarang Ini Dicetak di Mesir, Dikoleksi di Kanada (Sumber Gambar : Nu Online)

Karya Kiai Ma’shum Semarang Ini Dicetak di Mesir, Dikoleksi di Kanada

Dalam kata pengantarnya, KH. Muhammad Ma’shum mengatakan jika ia mengarang kitab ini karena permintaan beberapa koleganya yang hendak memahami kitab al-Ajurumiyyah dan syarh-nya, Mukhtashar Jiddan, secara lebih mendalam. Para kolega itu meminta KH Muhammad Ma’shum untuk menuliskan komentar dan penjelasan panjang atas dua kitab (matan dan syarh) tersebut, agar lebih mudah difahami.

KH Muhammad Ma’shum mulai menulis hasyiah ini di Mekkah saat ia pergi haji dan merampungkanya di Semarang. Dalam menulis hasyiah ini, KH. Muhammad Ma’shum merujuk pada beberapa referensi utama, yaitu (1) Hasyiah al-Sanwani ‘ala Syarh al-Syaikh Khalid al-Azhari ‘ala Matn al-Ajurumiyyah, (2) Syarh al-Astarabadi ‘ala Kafiyah Ibn al-Hajib, dan (3) Mughni al-Labib karangan Ibn Hisyam.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sayangnya, belum banyak informasi lebih terkait biografi KH. Muhammad Ma’shum beserta karya-karyanya. Dalam kata pengantarnya, beliau menyebutkan jika Syaikh Ahmad Zaini Dahlan adalah “syaikh syaikhi” (guru dari guruku).

Menimbang tahun kepengarangan kitab tersebut (1303 H/ 1886 M), maka bisa diperkirakan jika KH. Muhammad Ma’shum ini satu generasi dengan santri-santri Jawi yang belajar di Mekkah pada masa itu, seperti KH. Hasyim Asyari Jombang (w. 1366 H), KH. Mukhtar Atharid Betawi (w. 1349 H), KH. Abdul Karim ibn Ahmad Khatib Minang (w. 1357 H), KH. Abdul Rasyid Bugis (w. 1361 H), KH. Wahyuddin Abdul Ghani Palembang (w. 1360 H), KH. Jamaluddin Khaliq Patani (w. 1355 H), dan lain-lain.

Meski demikian, kitab Hasyiah Tasywiqul Khullan banyak dicetak ulang dan diterbitkan kembali oleh banyak penerbit, baik di Arab atau pun Nusantara, seperti Dar al-Kutub al-‘Arabiyyah al-Kubra (Kairo, 1326 H/ 1908 M), al-Maktabah al-‘Ilmiyyah (Kairo, 1358 H/ 1940 M), Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah (Beirut, 2003), dan Maktabah al-Hidayah (Surabaya).

Matn al-Ajurumiyyah terhitung sebagai kitab pegangan wajib bagi pelajaran gramatika Arab (nahw) tingkatan pemula di pesantren-pesantren tradisional (NU) di Indonesia. Matn (teks) tersebut sangat popuker dan banyak yang menulis pejelasan (syarh) atasnya, diantaranya adalah syarh yang ditulis oleh Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, mufti madzhab Syafi’i di Makkah al-Mukarromah sekaligus mahaguru bagi para santri dan ulama asal Nusantara di akhir abad ke-19 M. Maka tidaklah mengherankan jika kitab-kitab karangan beliau banyak diaji dan dikaji di dunia pesantren hingga sekarang.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Syaikh Ahmad Zaini Dahlan sezaman dan sejawat dengan Syaikh Nawawi Banten, yang juga mahaguru para santri dan ulama Nusantara di Makkah. Jika Syaikh Zaini Dahlan menulis Syarh Mukhtashar Jiddan atas teks al-Ajurumiyyah, maka Syaikh Nawawi menulis Kasyf al-Maruthiyyah yang merupakan syarh atas teks yang sama.

Pada bulan Ramadhan tahun 1999 dulu, saya khatam mengaji kitab Syarh Mukhtashar Jiddan karangan Syaikh Ahmad Zaini Dahlan ini di pesantren HM Putra Lirboyo Kediri (Jawa Timur) dari bacaan (qira’ah) KH. Imam Yahya Mahrus. Di akhir pengajian, KH. Imam Yahya memberikan sanad (mata rantai keilmuan) kitab tersebut yang menyambung sampai pengarangnya: KH. Imam Yahya Mahrus, dari KH. Mahrus Ali, dari KH. Abdul Karim, dari KH. Kholil Bangkalan, dari Syaikh Nawawi al-Bantani, dari Syaikh Ahmad Zaini Dahlan. (A. Ginanjar Sya’ban)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Cerita, Tegal, Bahtsul Masail Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 15 Desember 2017

PBNU Penuhi Undangan Muslim Tiongkok

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj beserta beserta beberapa pengurus lainn berkunjung ke Tiongkok mulai Senin (18/4). Rencananya, rombongan tersebut akan berada di negara tirai bambu selama satu minggu ke depan.

Pada hari pertama, rombongan tersebut tiba di Provinsi Beijing dan langsung disambut hangat Kepala Direktori Urusan Agama Pemerintah Tiongkok, Wung Zuoan. ?

PBNU Penuhi Undangan Muslim Tiongkok (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Penuhi Undangan Muslim Tiongkok (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Penuhi Undangan Muslim Tiongkok

Sekretaris pribadi Kiai Said, Muhammad Sofwan menuturkan ihwal lawatan PBNU ke Tiongkok tersebut yaitu untuk memenuhi undangan dari komunitas muslim Tionghoa.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Agenda ini (kunjungan ke Tiongkok) dalam rangka memenuhi undangan dari komunitas Muslim Tionghoa,” jelas Sofwan.

Di dalam sambutannya, Kiai Said menjelaskan bahwa hubungan Islam Tiongkok dan Indonesia sudah terjalin sejak lama. Baginya, Tiongkok merupakan salah satu negara yang berhasil mewarnai dunia Islam di Indonesia.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kiai yang akrab disapa Kang Said mengatakan, kontak Islam Tiongkok dan Indonesia diawali saat panglima Cheng Ho datang ke Indonesia dan membawa pasukan muslim. “Kemudian Cheng Ho membangun kota Semarang (sebagai pusat peradaban Islam),” jelas Kang Said di hadapan komunitas Muslim Tiongkok Beijing.

Pengasuh Pesantren As-Tsaqofah tersebut menilai bahwa Muslim Tiongkok memiliki peran yang sangat penting terhadap penyebaran Islam di Indonesia. “(Muslim) China sangat penting perannya bagi Indonesia,” tegasnya.

Kang Said mengatakan bahwa antara Indonesia dan Tiongkok memiliki pandangan yang sama tentang Islam adalah agama yang damai dan ia mendorong agar Islam berkembang pesat di negara tersebut. “Model Islam seperti inilah yang harus kita jaga,” terangnya.

Munculnya ekstrimisme, imbuh Kang Said, harus terus diwaspadai meskipun jumlahnya kecil. Menurutnya, cara yang efektif untuk menghalang ideologi-ideologi radikal adalah dengan jalan pendidikan.? ?

Ia menyampaikan rasa duka cita terhadap konflik yang terjadi di negara-negara Timur Tengah yang tidak kunjung selesai. Maka dari itu, ia menilai bahwa saling bertukar pandangan antarsesama muslim adalah sesuatu yang penting untuk menyamakan persepsi dan mewujudkan Islam yang damai, moderat, dan toleran. ?

Turut serta dalam lawatan ke Tiongkok tersebut Nyai Hj. Nurhayati Said (istri Kang Said), H Bina Suhendra (Bendahara Umum PBNU), Eman Suryaman (Ketua PBNU), Muhammad Said Aqil (Wasekjen PBNU), dan Muhammad Sofwan (sekretaris pribadi Kang Said). (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Makam, Bahtsul Masail, Amalan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 13 Desember 2017

Dandim 0816: Isu Keagamaan Bisa Menjadi Pemicu Adu Domba

Sidoarjo, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Upaya mengantisipasi radikalisme dan menjaga keutuhan NKRI, Kodim 0816 Sidoarjo menggelar silaturahim dan komunikasi sosial antarforum umat beragama dan tokoh masyarakat. Acara yang digelar di aula Makodim 0816 Sidoarjo ini dihadiri beberapa pengurus peondok pesantren, Pengurus PCNU Sidoarjo, MUI Sidoarjo dan Polres Sidoarjo.

Dandim 0816: Isu Keagamaan Bisa Menjadi Pemicu Adu Domba (Sumber Gambar : Nu Online)
Dandim 0816: Isu Keagamaan Bisa Menjadi Pemicu Adu Domba (Sumber Gambar : Nu Online)

Dandim 0816: Isu Keagamaan Bisa Menjadi Pemicu Adu Domba

Dandim 0816 Sidoarjo Letkol Inf Andre Julian menyatakan, radikalisme itu sangat membahayakan negara. Selain teroris yang bisa mengancam keutuhan NKRI, ada beberapa persoalan yang bisa memicu perpecahan, perselisihan yakni bencana alam, lintas batas atas wilayah, separatis, wabah penyakit, narkoba dan pergaulan bebas.

"Untuk menangkap radikalisme yang mengancam keutuhan NKRI itu, maka perlu diadakan silaturahim dan komunikasi sosial antar? umat beragama. Melalui forum seperti ini, jangan sampai ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi di Sidoarjo," kata Andre, Rabu (3/8).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Andre menambahkan, isu keagamaan, penistaan agama maupun terorisme yang mengatasnamakan agama, juga bisa menjadi pemicu adu domba. Seperti baru-baru ini yang terjadi di Tanjung Balai Sumut.

"Silaturahim ini akan dilanjutkan ke tingkat kecamatan. Karena menjaga silaturahim dan komunikasi dengan tokoh agama, masyarakat dan polisi itu sangat penting," tukasnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Salah satu pengurus MUI Sidoarjo, KH Abdul? Halim Makhsum mengapresiasi kegiatan yang diadakan oleh Kodim 0816 ini. Pihaknya berharap, kegiatan tersebut tak hanya dilkaukan sekali saja, namun bisa diadakan hingga ke tingkat bawah.

"Pelaksanaan ini sangat bagus dan akan ditindaklanjuti hingga ke tingkat desa. MUI dan forum komunikasi umat beragama sangat mengapresiasi. TNI, Polres, MUI dan tokoh agama harus bekerja sama untuk mengantisipasi adanya kenakalan remaja, narkoba dan lain sebagainya. Sehingga ke depan Sidoarjo menjadi kota yang aman dan nyaman," pungkasnya. (Moh Kholidun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Bahtsul Masail, Meme Islam Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 11 Desember 2017

Hukum Nikah dan Poligami

Pada dasarnya hukum nikah adalah sunnah bagi mereka yang dianggap telah membutuhkannya. Baik secara biologis maupun psikologis. Karena kebutuhan itu selalu mengundang ketamkan, maka seorang laki-laki hanya diperbolehkan menikahi masksimal empat orang istri. Demikian keterangan lengkapnya dalam fathul qarib.? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ?

Nikah disunnahkan bagi mereka yang membutuhkannya. Seorang laki-laki (merdeka/bukan budak) boleh memiliki empat orang istri.

Hal ini berdasar pada firman Allah dalam surat an-Nisa’ ayat 3:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Hukum Nikah dan Poligami (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Nikah dan Poligami (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Nikah dan Poligami

Maka kawinilah wanita-wanita lain yang kamu senangi dua, tiga, atau empat.

Tentang pembatasan jumlah empat orang istri bagi laki-laki muslim, hadits riwayat Abu Daud tentang cerita sahabat Wahbin al-Asady dapat dijadikan sebagai pelajaran. ? Wahbin al-Asady pernah sebercerita “saya masuk Islam, dan saat itu mempunyai istri delapan orang. Kemudian saya menceritakannya kepada Rasulillah saw. Lalu beliau bersabda: ? ? ?? ? pilihlah empat dari mereka”. (red. Ulil H)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Hadits, Bahtsul Masail Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock