Sukaharjo, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muayyad Windan, KH Muhammad Dian Nafi, berpendapat bahwa Rais Aam PBNU KH Sahal Mahfudh (Mbah Sahal) menginspirasi banyak hal, terutama dalam perkembangan ilmu fiqih di Indonesia. Terutama paradigma fiqih sosial. ?
“Hal itu merupakan bukti utama keberhasilan Mbah Sahal,” katanya kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan, belum lama ini Senin, (27/1).
| Di Tangan Mbah Sahal, Fikih Temukan Momentumnya (Sumber Gambar : Nu Online) |
Di Tangan Mbah Sahal, Fikih Temukan Momentumnya
Dalam merintis paradigma fikih sosial, kata Kiai Dian, Mbah Sahal menguatkan penerapannya bagi kehidupan masyarakat Indonesia, sehingga fikih menemukan momentumnya dengan kajian-kajian multidisipliner.Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan
Kiai Dian menambahkan, dengan fikih sosial ini, masyarakat semakin fasih mengembalikan pelbagai persoalan kepada acuan kemaslahatan, yaitu terjaganya agama, jiwa raga, akal, keturunan, dan harta.“Dengan itu, pemikiran keagamaan Nahdliyin mudah masuk ke arus utama kaum intelektual nusantara dan bahkan mudah memandu kerangka evaluatif kebijakan publik sesuai kemaslahatan yang lima tadi,” ungkapnya.
Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan
Di sisi lain, menurutnya, Mbah Sahal juga menginspirasi rintisan-rintisan pemberdayaan masyarakat, seperti yang terlihat di Kajen Pati. Hal ini menjadikan kaderisasi intelektual Nahdiyyin semakin meluas.Di akhir pembicaraan, Kiai yang pernah menjabat sebagai Ketua PCNU Solo tersebut juga berharap kepada generasi muda NU, untuk melanjutkan perjuangan dakwah dan pemikiran keagamaan yang telah dirintis Mbah Sahal. (Ajie-Rosyidi/Abdullah Alawi)
Dari Nu Online: nu.or.id
Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Bahtsul Masail Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan
