Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Februari 2018

Partai Komunitas Batu

Saat ini sepertinya keberadaan batu mulia dan batu akik sedang ada di puncak kejayaan. Pasalnya hampir sebagian besar wilayah di Indonesia seolah tak ada bosannya ketika membicarakan dan bermain dengan batu itu.

Salah satu tempat yang saat ini sering dijadikan tempat berinteraksi para pecinta batu akik adalah Kantor DPC PKB Subang, Jawa Barat.

"Sekarang itu di Kantor DPC PKB sedang ramai batu, jarang sekali membahas politik, kalau sudah kumpul, wah ada yang lagi gosok-gosok, nyenterin batu, ada juga yang ngetes, karena ada yang punya alatnya misalnya dites bunyi nit.nit.nit skala enam misalnya," kata Bambang Herlambang, salah seorang pengurus DPC PKB Subang.

Partai Komunitas Batu (Sumber Gambar : Nu Online)
Partai Komunitas Batu (Sumber Gambar : Nu Online)

Partai Komunitas Batu

Ternyata, kata Bambang, bukan hanya pengurus DPC PKB Subang saja yang jadi pecinta batu akik, dari DPC Partai lain pun banyak juga.

"Kalau sudah sore, kumpul temen-temen dari Gerindra, dari Hanura sampai malam, ya gitu aja, mainin batu aja," tambahnya.

Melihat fenomena di DPC PKB Subang itu, pecinta batu dari Partai Gerindra ada yang berseloroh mengenai akronim PKB.

"Kata yang dari Gerindra, wah ini mah PKB singkatannya Partai Komunitas Batu Kabupaten Subang," katanya. (Aiz Luthfi)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Doa, Berita Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 05 Februari 2018

Ajengan Ilyas Berkelit dari Golkar

Maret 1986 adalah bulan yang paling berat dalam hidup Ajengan Ilyas Ruhiat. Pemilu 1987 menjadi gara-garanya. Sampai saat itu sebagai pengasuh pesantren yang terbilang besar di Jawa Barat, ia belum menyatakan dukungan kepada Golkar secara eksplisit. Dan itu rupanya membuat gerah pihak Golkar.?

Golkarisasi di Jawa Barat sejak 1971, yang dikenal sebagai proyek buldozer, dianggap belum afdol tanpa bergabungnya Cipasung. Orang politik rupanya tak cukup puas dengan dukungan Ajengan Ilyas terhadap Konsep Kembali ke Khittah 1926 yang dideklarasikan dalam Munas NU 1983 di Situbondo, dan diperkuat dalam Muktamar NU XXVII di tempat yang sama. Konsep itu secara implisit sebenarnya memberi angin segar buat Golkar, karena warga NU dilepaskan keterkaitannya dari PPP. Lewat muktamar itu pula Ajengan Ilyas dipilih sebagai salah seorang A’wan (anggota pleno) PBNU.?

Ajengan Ilyas Berkelit dari Golkar (Sumber Gambar : Nu Online)
Ajengan Ilyas Berkelit dari Golkar (Sumber Gambar : Nu Online)

Ajengan Ilyas Berkelit dari Golkar

Orang politik selalu ingin yang serba jelas dan demonstratif diperlihatkan di hadapan massa. Itulah yang diinginkan orang Golkar dari Ajengan Ilyas: mendukung Golkar secara ‘tegas’ dalam suatu kebulatan tekad dan maklumat di depan umum. Karena yakin Ajengan Ilyas tak mungkin secara sukarela melakukan hal itu sekalipun ada iming-iming materi, maka harus dibuat suatu ‘perangkap’.?

Satu peluang yang dipandang bisa dijadikan jalan ialah rencana pengembangan Institut Agama Islam Cipasung (IAIC) melalui pembangunan Mesjid Amal Bhakti Pancasila di lingkungan kampus. Agar IAIC semakin didukung pemerintah, maka lembaga itu perlu melibatkan seorang tokoh nasional sebagai ‘Penasehat Utama’-nya. Tokoh yang dipandang paling tepat untuk kedudukan itu adalah Menko Kesra Alamsyah Ratuperwiranegara, mantan menteri agama dan anggota Dewan Penasehat Golkar.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Maka proses Golkarisasi Cipasung pun dimulai. Oleh Zulkifli Abidin, asisten pribadi Alamsyah, Ajengan Ilyas dijadwalkan bertemu dengan Menko Kesra di kantornya, 4 Maret 1986.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dalam pertemuan itu, selain ada Alamsyah, hadir pula Akbar Tanjung, Yusuf Sukmana, Bahrowi, serta Haryono. Setelah melaporkan keadaan Pesantren Cipasung, khususnya Institut Agama Islam Cipasung, Ajengan Ilyas diberi pengarahan oleh Menko Kesra, hal-hal yang berhubungan dengan Pancasila, Kerukunan Umat beragama, dan Strategi perjuangan umat Islam Indonesia. Pada prinsipnya, umat Islam jangan bermusuhan dengan pemerintah.?

Seusai pertemuan Ajengan Ilyas ? pergi kantor PBNU di Jalan Kramat Raya 164 untuk sekedar ‘melapor’. Ia bertemu dengan Wakil Sekjen Ahmad Bagdja dan menyampaikan hasil pertemuan di kantor Menko Kesra.?

Atas inisiatif Aspri Menko Kesra pula, Ajengan Ilyas dipaksa menerima keinginan untuk menjadikan Alamsyah sebagai Penasehat Utama IAIC.?

Sebagai rektor, ia menyadari sebenarnya jabatan itu tidak lazim dalam sebuah perguruan tinggi. Biasanya seseorang ditempatkan sebagai anggota Dewan Penyantun sebagai tanda kehormatan. Akan tetapi, karena demi ‘memuluskan hubungan IAIC dengan pemerintah’, ia tak bisa dan tak mungkin menolak. Untuk pelantikan penasehat utama itu, Menko Kesra akan datang ke Cipasung pada 21 Maret 1986.

Dalam pertemuan teknis dengan Bupati, Ketua DPRD Tingkat II, dan Kakandepag Tasikmalaya, Ajengan Ilyas mulai menyadari bahwa dirinya ‘terperangkap’. Dalam rangka kedatangan Menko Kesra itu, selain pelantikan penasehat utama IAIC, sebagai tanda terima kasih, ia harus juga mengukuhkan Alamsyah sebagai tokoh pembaharu Islam.?

Lalu, ini yang membuatnya terhenyak, ia harus menyatakan dukungan untuk Golkar dalam Pemilu 1987. Pertemuan itu juga harus dihadiri santri, alumni, dan ulama se-Jawa Barat. Menurut Bupati Tasikmalaya, hal itu sudah disetujui oleh Gubernur dan Ketua DPRD Tingkat I Jawa Barat.?

Ajengan Ilyas merasa gundah. Ia jadi mengerti mengapa dua orang adiknya begitu ngotot mendorongnya untuk mendukung Golkar secara terang-terangan. Rupanya hubungan mereka dengan Aspri Menko Kesra sudah begitu mendalam, sehingga ‘tega’ ikut dalam skenario menjebak dirinya. Atau mungkin keduanya tak sadar bahwa ‘permainan’ akan berjalan sejauh ini. Tetapi semua sudah berjalan. Membatalkan acara itu bukanlah pilihan terbaik. Menolak kehadiran Menko Kesra, pasti akan memunculkan urusan berkepanjangan. Sebagai pimpinan ia harus tetap tegar dan berjalan tegak menghadapi segala risiko.?

Ia lalu menulis sepucuk surat kepada Ketua Umum PBNU KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, meminta masukan. Gus Dur ternyata tak memberikan kata putus, menolak atau menerima. Gus Dur balik menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada Ajengan Ilyas, yang dianggapnya lebih tahu mana yang terbaik untuk Pesantren Cipasung. ?

Sekalipun tak mendapat jawaban tegas, Ajengan Ilyas merasa lebih tenang karena setidaknya tidak ada larangan dari Ketua Umum PBNU kalau ia terpaksa menerima semua rekayasa itu.?

Dari sudut NU, Konsep Khittah 1926 memang memungkinkan warga NU mendukung selain PPP, tetapi tentu bukan dengan cara dipetakomli seperti yang menimpanya. Dan Ajengan Ilyas saat itu tak punya pilihan selain mengikuti rencana yang sudah dirancang untuknya. Namun ia ingin menunjukkan sikap tak setujunya dengan caranya sendiri.?

Selanjutnya Ajengan Ilyas menunggu hari H tiba. Ia hanya bisa bertawakal kepada Allah agar selamat dari akibat buruk jebakan tersebut. Ia percaya bahwa manusia boleh saja membuat rekadaya, tetapi Allah adalah Pencipta rekadaya yang terbaik.

Sehari sebelum acara, Kamis, 20 Maret 1986, sejumlah fungsionaris Golkar Tasikmalaya datang ke rumah Ajengan Ilyas untuk meminta tanda tangan Maklumat dan Pernyataan Kebulatan Tekad, tetapi Ajengan Ilyas menolak. Orang-orang Golkar itu tidak mau menyerah, secara bergantian mereka menunggui rumah Ajengan Ilyas hingga pagi hari menjelang acara. Ajengan Ilyas tidak mau keluar kamar hingga pagi harinya. Permintaan tanda tangan dimaksudkan agar pernyataan dapat secepatnya digandakan untuk dibagikan kepada tamu undangan yang datang.

Sore harinya, datang pengasuh pesantren Baitul Arqom, Ajengan Ali Imron yang menikah dengan Ido Hamidah, adik kandungnya. Ia datang karena diundang ke acara itu. Adik iparnya itu mendukung agar Ajengan Ilyas tetap di kamar dan tidak mempedulikan tamu yang menunggu tanda tangannya.?

“Pura-pura sakit saja,” katanya.?

‘Perlawanan’ Ajengan Ilyas tak berhenti di situ. Pagi hari menjelang acara, ia tetap tidak mau menandatangani kedua lembar surat itu. Ia menyatakan akan menandatanganinya pada saat acara.?

Pada saat acara tiba, dengan bermalas-malasan dan tubuh lunglai, Ajengan Ilyas maju ke tempat yang sudah disediakan di halaman IAIC. Setelah pulpennya sempat terjatuh, akhirnya ia menandatangani dua surat pernyataan itu. Dan tanpa diduga siapapun, dengan alasan ia kurang sehat, Ajengan Ilyas ? menyerahkan pembacaan Maklumat dan Kebulatan Tekad itu kepada seorang dosen IAIC Drs. Nana Ruhana.?

Alumni Cipasung yang hadir rata-rata kaget dan hampir tak percaya dengan kebulatan tekad dan maklumat itu. Alumni yang mengenal dekat Ajengan Ilyas segera menyadari bahwa kiainya itu telah dijebak.?

Sebalikya jajaran Pemda Tasikmalaya dan semua fungsionaris serta simpatisan Golkar bertepuk tangan meriah.?

Keesokan harinya koran-koran menurunkan berita yang seragam, Warga Pesantren Cipasung Menangkan Golkar di Pemilu ’87 (Pikiran Rakyat, Sabtu, 22 Maret 1986), Demi Berkembangnya Syiar Agama Islam Warga Pesantren Cipasung Bertekad Menangkan Golkar (Bandung Pos, Sabtu, 22 Maret 1986), Kebulatan Tekad Pimpinan Pondok Pesantren Cipasung (menangkan Golkar dalam Pemilu ’87 Almuni Cipasung Sukseskan Pemilu ’87) (Mandala, Sabtu, 22 Maret 1986).

Sabtu sore, 22 Maret, setelah membaca berita di koran, Acep pulang ke Cipasung dengan wajah kusut. Rupanya ia baru saja ‘digarap’ oleh kawan-kawannya sesama aktivis mahasiswa di Bandung. Dalam sebuah diskusi dadakan, Acep dicecar dengan berbagai gugatan atas bergabungnya Cipasung ke Golkar secara mencolok. Acep yang merasa tak punya informasi cukup atas kejadian sebenarnya, hanya bisa menelan pahit semua komentar sinis rekan-rekannya.?

Sesampainya di Cipasung, ia yang ingin meledakkan amarahnya, terpaksa harus menahan diri. Ia menyaksikan semua orang di rumahnya berwajah muram. Apih dan Emih tampak lunglai dan tertekan. Tak ada sinar kebahagiaan di rumahnya sore itu. Peristiwa golkarisasi itu ibarat kiamat kecil di rumah Ajengan Ilyas. Ia tiba-tiba merasa sedih dan cengeng. Sambil memukul-mukul tembok, ia terisak dan berteriak-teriak tertahan,?

“Kenapa masuk Golkar? Kenapa harus Golkar?”

Setelah suasana hatinya lebih terkendali, Acep kemudian meminta penjelasan dari Apih. Dari keterangan itulah Acep mengerti bahwa ada skenario ‘busuk’ yang telah menjebak Apih. Suatu kesadaran menyelinap dalam hati Acep, ternyata tak seorang pun dari saudara Apih yang berdiri di belakangnya untuk memberinya dukungan moral pada saat itu. Acep mulai menyadari bahwa Apih ternyata ‘sendirian’ di Cipasung.?

Ia kini mengerti mengapa Apih meminta dirinya dan adik-adiknya, tinggal di Cipasung setamat kuliah nanti. Apih butuh orang dekat yang mengerti dan siap membantunya.?

Luka perasaan akibat golkarisasi itu cukup lama dirasakan keluarga kecil Ajengan Ilyas. Hampir setahun kemudian kondisi kembali seperti semula. Dalam setiap kesempatan pengajian atau ceramah, Ajengan Ilyas coba menjelaskan kasus itu dari pandangan yang ? positif dan optimistik. Ia mengajak jamaah untuk sama-sama berdoa agar Allah memberikan yang terbaik bagi semua pihak, khusunya keluarga besar pesantren Cipasung, alumni, dan masyarakat.

Ada dua hal yang membuat Ajengan Ilyas “tak bisa berkutik” dalam kasus itu, pertama wasiat ayahnya untuk menjaga kekompakan pengurusan pesantren sehingga tidak ada istilah ‘bekas pesantren’ untuk Cipasung.?

Kedua, ? menghargai ibunya yang ia khawatirkan akan kecewa jika mendengar ia “memarahi” adik-adiknya. Ketaatan pada Ibunda adalah lebih utama buatnya. Maka pilihan sikapnya ialah berdiam diri dan menahan perasaan kecewanya.?

Di kemudian hari terbukti ia menjadi pemenang dengan sikapnya itu. Masyarakat Cipasung dan publik secara lebih luas, lama-lama terlatih untuk membedakan mana kebijakan yang benar-benar direstuai Ajengan Ilyas dan kebijakan mana yang hanya direkayasa seolah-olah disetujui olehnya, bahkan dengan mencantumkan tanda tangannya baik asli maupun potokopian yang ditempelkan.?

Ia sepenuhnya menyerahkan perkembangan pesantren pada keadilan sejarah dan hukum sosial dari masyarakat, sebab ia menyadari bahwa kedewasaan hanya bisa tumbuh dari kesadaran pribadi. ?

Namun ada pula hikmah dari kasus itu, ialah diakuinya keberadaan Ajengan Ilyas dalam pentas politik nasional. Sekalipun dengan cara yang menyakitkan, namanya mulai beredar dan diperhitungkan. Ketika seorang Menko Kesra mau ke Cipasung untuk suatu dukungan yang direkayasa, tentu menunjukkan posisi Ajengan Ilyas secara politis di tingkat nasional. (Iip D. Yahya)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Berita Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 01 Februari 2018

Puncak Acara Jateng Diadakan di Cilacap, Juni

Semarang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pimpinan Wilayah Fatayat NU Jateng menggelar acara puncak hari lahir Fatayat Nahdlatul Ulama ke-62, di Kabupaten Cilacap pada 1 Juni nanti. Selain seremonial, acara diisi Temu 10 Ribu Kader dan Sarasehan bertema Peran Organisasi Kepemudaan dalam Membangun Politik di Jawa Tengah. 

Puncak Acara Jateng Diadakan di Cilacap, Juni (Sumber Gambar : Nu Online)
Puncak Acara Jateng Diadakan di Cilacap, Juni (Sumber Gambar : Nu Online)

Puncak Acara Jateng Diadakan di Cilacap, Juni

Ketua KNPI Jateng Novita Wijayanti dijadwalkan menjadi pembicara utama dalam sarasehan yang dihadiri seluruh 37 cabang Fatayat NU se-Jateng tersebut. 

Sekretaris Umum PW Fatayat NU Jateng Misbahatul Hidayati menerangkan, PW Fatayat NU Jateng ingin memberdayakan dan mengembangkan Pimpinan Cabang dengan menggelar acara besar di daerah. Sebab sudah dua kali Jawa Tengah menjadi tuan rumah acara Harlah Fatayat NU nasional. Tahun 2008 di Kabupaten Tegal, tahun 2009 di Semarang. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pada Harlah 2010 dan 2011, PW Fatayat NU mengadakan peringatan Harlah secara sederhana tanpa mengundang unsur Pimpinan Cabang. Karena itu di tahun 2012 ini ingin membuat kegiatan yang cukup besar dan diadakan di daerah. Yaitu Cilacap. 

“Peringatan Harlah Fatayat tingkat Jawa Tengah kami pusatkan di Cilacap. Kami memang ingin memberdayakan daerah,” jelasnya usai rapat persiapan panitia di Kantor PWFNU Jateng Jl Dr Cipto 180 Semarang awal Mei. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Tumpengan dan Seminar

Lebih lanjut Ida, panggilan akrab Misbahatul Hidayati mengatakan, sebelum puncak acara Harlah di Cilacap, PWFNU Jateng mengadakan tasyakuran dan seminar di Semarang. 

Tasyakuran dilaksanakan sederhana dengan memotong tumpeng dan doa bersama di kantor sekretariat pada 28 April, yang dihadiri seluruh pengurus PW Fatayat NU Jateng. 

Kemudian, pada 16 Mei menyelenggarakan Seminar tentang hubungan etnisitas dengan negara, bekerjasama dengan kantor Kesbangpollinmas Jawa Tengah. Tema yang diambil “Perempuan sebagai kekuatan dalam membangun keutuhan NKRI”. Narasumbernya; ketua PWFNU Jateng, pembina PWFNU Jateng, akademisi  dan praktisi media massa.

“Seminar itu kami selingi dengan bhakti sosial berupa pembagian sembako kepada kaum dhuafa. Kami bermitra dengan Kesbangpollinmas,” pungkasnya. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Muhammad Ichwan DS  

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Berita Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 26 Januari 2018

PBNU Harap Polisi Usut Tuntas Tragedi Penganiayaan Salim Kancil

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj (Kang Said) menyatakan prihatin mendalam atas penganiayaan lebih dari sepuluh orang yang berakhir pada wafatnya Salim alias Kancil, seorang petani kecil di Lumajang. Masyarakat, kata Kang Said, akan terus mengikuti proses usut-tuntas pihak kepolisian terhadap penganiayaan kejam yang merusak rasa kemanusiaan mereka.

PBNU Harap Polisi Usut Tuntas Tragedi Penganiayaan Salim Kancil (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Harap Polisi Usut Tuntas Tragedi Penganiayaan Salim Kancil (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Harap Polisi Usut Tuntas Tragedi Penganiayaan Salim Kancil

“Saya meminta polisi mengusut tuntas kasus ini. Pelaku harus diproses secara hukum,” kata Kang Said di Jakarta, Selasa (29/9) malam.

Ia mengajak semua pihak untuk taat aturan termasuk aktivitas pertambangan. Pertambangan harus memiliki payung hukum yang didasarkan pada kemaslahatan rakyat. “Tidak boleh ada aktivitas pertambangan illegal,” kata Kang Said.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kang Said juga mendukung peran para agamawan setempat untuk tetap menanamkan nilai-nilai akhlak dan moral. Menurut Kang Said, mereka harus mengajarkan akhlak dan moral kepada masyarakatnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pengasuh pesantren Ats-Tsaqafah Ciganjur ini menyatakan, “Para kiai di sana perlu memberikan bimbingan lebih ekstra kepada warga untuk melakukan pendekatan hukum. Gerakan penyadaran ini yang sangat diperlukan. Tidak main hakim sendiri.”

Lebih dari sepuluh orang mengeroyok Salim dan Tosan. Bahkan mereka menelantarkan jenazah Salim begitu saja di jalanan setelah sebelumnya disiksa. “Kalau sudah sampai begini, bukan lagi tugas para agamawan, tetapi sudah tugas polisi,” tandas Kang Said. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Berita, Nahdlatul Ulama, IMNU Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pembangunan Tenda Muktamar NU Dimulai

Jombang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pelaksanaan Muktamar NU ke-33 di Jombang tinggal menghitung hari. Tidak sampai tiga pekan lagi, forum tertinggi di NU ini digelar. Berbagai persiapan sudah dilakukan. Termasuk konsolidasi panitia dan persiapan lokasi acara.

Demikian terlihat di alun-alun Jombang sejak Rabu (8/7). Berbagai alat berat untuk mendirikan tenda besar sudah didatangkan. Alat-alat itu diangkut dengan menggunakan beberapa truk besar.

Pembangunan Tenda Muktamar NU Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)
Pembangunan Tenda Muktamar NU Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)

Pembangunan Tenda Muktamar NU Dimulai

"Truk-truk itu sempat parkir di alun-alun Jombang," kata Mukani, guru SMAN 1 Jombang yang berlokasi di utara alun-alun Jombang.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Mulai Rabu (8/7) pagi, pendirian tenda besar berwarna putih dimulai oleh puluhan pekerja. Letaknya di sisi selatan alun-alun. Sedangkan di sisi timur dan utara, dimulai pada Kamis (9/7) hari ini.?

Menurut rencana, tenda-tenda itu akan digunakan sebagai lokasi pembukaan dan penutupan acara Muktamar NU ke-33. Sedangkan sidang komisi digelar di empat pondok pesantren, Tebuireng, Tambakberas, Denanyar, dan Peterongan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sebagai sekolah yang berdekatan dengan lokasi Muktamar NU, SMAN 1 Jombang juga siap menyukseskan Muktamar kali ini. Baliho besar sudah dipasang di timur pintu gerbang sejak sepekan lalu. Baliho besar itu bertuliskan “Keluarga Besar SMAN 1 Jombang siap menyuksukseskan Muktamar NU Ke-33 di Jombang.”

Menurut rencana, SMAN 1 Jombang juga ditempati peserta muktamar. "Puluhan kran air sudah disediakan di tempat parkir sebelah barat. Renovasi mushalla juga dipercepat agar sudah bisa digunakan saat Muktamar nanti," ujar Mukani.

Demi kenyamanan peserta dalam beribadah di mushalla, arah kiblat pun sudah diukur ulang. "Selasa (7/7) kemarin kita mengundang Ketua Lajnah Falakiyah MWCNU Diwek ustadz Abdul Majid untuk mengukur ulang arah kiblat mushalla di sekolah ini," pungkasnya. (Abu Jauhar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Hadits, Berita, Makam Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Bangun Soft Skill, Santri Darul Falah Ikuti Pelatihan Jurnalistik

Semarang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Redaksi al-Qalam pesantren Darul Falah Be-Songo menggelar pelatihan jurnalistik bersama kontributor Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan M Zulfa. Bertempat di qoah pesantren Be-Songo agenda ini merupakan kegiatan pascaliburan untuk mengisi kegiatan menjelang semester baru. Pelatihan ini sekaligus sebagai evaluasi atas terbitnya buletin edisi kedua Februari 2016.?

Materi yang disampaikan berupa manajemen keredaksian, teknik wawancara dan menulis di era teknologi. Santriwan-santriwati pesantren Be-Songo yang mayoritas mahasiswa Universitas Islam Negeri Walisongo ini dibekali dengan ketrampilan untuk menghasilkan santri yang tidak hanya menyandang gelar kesarjanaan saja. Soft skill menjadi nilai lebih dari mahasiswa yang tidak tinggal di pesantren.?

Bangun Soft Skill, Santri Darul Falah Ikuti Pelatihan Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)
Bangun Soft Skill, Santri Darul Falah Ikuti Pelatihan Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)

Bangun Soft Skill, Santri Darul Falah Ikuti Pelatihan Jurnalistik

Nilai-nilai pesantren yang tumbuh di pesantren ini tak hilang sebagaimana pesantren pada umumnya, masih ada ngaji dan kajian fiqih rutin, khitobah dan sederet nilai-nilai khas pesantren seperti kemandirian, kekeluargaan, sopan santun, dan lain-lain. Akhlak karimah seperti ini yang harus terus digaungkan melalui media massa baik berupa cetak atau online.?

"Penguatan soft skill untuk santriwan-santriwati ini menjadi bekal di masa yang akan datang setelah mereka kembali ke masing-masing daerah asal mereka," ungkap pengasuh pesantren KH Imam Taufiq.?

Selain itu, kegiatan pascaliburan ini ada pelatihan resolusi konflik, kewirausahaan, peningkatan kepemimpinan, AMT, fashion style, fiqih perempuan dan pelatihan bercocok tanam. Pesantren yang bervisi menjadikan santri berakhlak mulia dengan kompetensi keagamaan dan kecakapan hidup yang handal ini bisa buka di be-songo.or.id. Red: Mukafi Niam?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Halaqoh, Nusantara, Berita Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 19 Januari 2018

Ramadhan Ini, NU Bantu Pengungsi Rohingnya

Langsa, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pengurus Pusat Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) melakukan aksi kemanusiaan di camp pengungsi Rohinya di Aceh sejak Senin 23 Juni 2015. Aksi bertema "Rohingya Emergency Relief, Ramadhan 2015" ini dilakukan dengan memberikan paket buka puasa disertai doa bersama dengan 500 pengungsi Rohingya di Kota Langsa.

LPBI NU menggandeng Islamic Help, LSM internasional asal Inggris yang pernah melakukan aksi kemanusiaan bersama NU? dalam Tsunami Aceh dan Gempa Yogyakarta di masa lalu. Aksi kemanusiaan ini juga melibatkan PW LPBI NU Aceh, PCNU Kota Langsa dan Dayah (Pesantren) di Kota Langsa.

Ramadhan Ini, NU Bantu Pengungsi Rohingnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan Ini, NU Bantu Pengungsi Rohingnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan Ini, NU Bantu Pengungsi Rohingnya

Ketua PP LPBI NU, Avianto Muhtadi mengatakan bahwa saat ini kondisi pengungsi cukup terjamin. Ini berkat masyarakat Aceh yang sangat membantu dan ikhlas. Namun, tambah Avianto, saat menyiapkan paket buka puasa selalu saja ada yang kurang padahal paket dibuat lebih.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari pengamatannya langsung dengan para pengungsi, Avianto menilai ada potensi kericuhan, apalagi mereka berbeda etnis, akibat tak meratannya bantuan yang diterima pengungsi. Sebagian pengungsi mengambil jatah lebih banyak dari yang lain.

“Di camp, pemenuhan kebutuhan terpenuhi dengan baik namun menuai kecemburuan sosial dan kesenjangan antara penduduk setempat dengan mereka yang mendapat bantuan berlimpah,” imbuhnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Bagi Avianto, bantuan yang diberikan oleh berbagai pihak perlu dikelola dalam satu koordinasi agar tidak berdampak pada benturan kepentingan, di samping agar jelas akuntabilitas dan transparasinya. Ia juga berpendapat, Pemerintah perlu mendesak PBB agar melakukan mengambil alih bila negara asal pengungsi tidak menerima mereka kembali. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Berita, Lomba, Warta Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock