Tampilkan postingan dengan label Warta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Warta. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Februari 2018

Tak Ada Kata Terlambat, Pria Berusia 103 Menikah

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Dengan usia gabungan 194, satu pasangan Inggris ditetapkan menjadi pengantin baru tertua di dunia ketika mereka akan menikah musim panas ini, menurut koran Inggris Daily Mail yang melaporkan, Jumat lalu.

George Kirby, yang juga akan menjadi laki-laki tertua yang pernah menikah pada usia 103, menikahi Doreen Luckie, 91, pada Hari Valentine tahun ini seperti dikutip dari al arabiya.net.?

Tak Ada Kata Terlambat, Pria Berusia 103 Menikah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tak Ada Kata Terlambat, Pria Berusia 103 Menikah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tak Ada Kata Terlambat, Pria Berusia 103 Menikah

"Saya kira sekarang sudah waktunya ," kata Kirby. "Saya tidak merasa masalah dengan usia. Doreen membuat saya muda. "

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Saya tidak dapat berlutut di satu kaki karena saya tidak mungkin bisa bangkit berdiri lagi.”

Ini akan menjadi pernikahan ketiga mantan petinju tersebut yang secara keseluruhan telah menghasilkan 7 anak, 15 cucu dan 7 cicit.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Anak Kirby, Neil 63 tahun, mengatakan, "Kami telah menganggap Doreen sebagai ibu kami dan kami senang bahwa dia akan menjadi keluarga Kirby."

"Kami senang bahwa mereka akan menikah di depan semua teman-teman dan keluarga yang akan bangga," tambahnya.

Pernikahan ini akan ditetapkan pada 13 Juni. Hal ini akan memecahkan rekor sebelumnya untuk pasangan tertua yang ? menikah dengan usia gabungan 188 tahun yang ditetapkan pada tahun 2013.

Ketika ditanya tentang motivasi pernikahannya, Kirby mengatakan: "Kami tidak melakukannya untuk catatan rekor, kami menikah karena kita sedang jatuh cinta dan tampaknya hal ini merupakan sesuatu yang benar untuk melakukannya." (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Warta, Ahlussunnah, Sholawat Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 01 Februari 2018

Menag Minta Tunjangan Guru Madrasah Masuk RAPBN 2007

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Menteri Agama (Menag) Maftuh Basyuni berharap pemberian tunjangan fungsional bagi guru honorer madrasah sebesar Rp 200 ribu per bulan untuk setiap guru dimasukkan dalam RAPBN 2007.

Usulan tersebut telah disampaikan kepada Komisi VIII DPR, Menteri Keuangan, Menneg PPN/Kepala Bappenas pada 3 November 2006. Namun, karena alasan pagu anggaran yang diterima Depag tahun 2007 terbatas, usulan tersebut urung terakomodasi dalam RAPBN 2007.

Menag Minta Tunjangan Guru Madrasah Masuk RAPBN 2007 (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag Minta Tunjangan Guru Madrasah Masuk RAPBN 2007 (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag Minta Tunjangan Guru Madrasah Masuk RAPBN 2007

"Kami sangat mengharap perhatian dan dukungan semua pihak untuk penambahan pagu anggaran, sehingga tidak ada lagi perlakuan diskriminatif bagi guru honorer di madrasah," harap Maftuh dalam raker dengan PAH III DPD, di Gedung DPD, Senayan, Jakarta, Selasa (21/11).

Dijelaskan dia, berdasar UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen diamanatkan adanya peningkatan kesejahteraan guru dan dosen. Selain itu, langkah ini diambil untuk meningkatkan kesejahteraan guru honorer, baik yang mengajar di madrasah negeri maupun swasta, yang selama ini bergaji minim di bawah UMR.

"Sesuai dengan usulan Depdiknas yang telah mengalokasikan tunjangan di APBN 2007 untuk guru honorer, Depag juga telah mengirim surat tanggal 3 November untuk memberi tunjangan fungsional sebesar Rp 200 ribu," kata mantan Dubes RI untuk Arab Saudi ini.

Saat ini, tambahnya, jumlah guru honorer swasta yang berada di Depag sebanyak 556.418 guru. Sementara, guru yang mengajar di madrasah negeri sebanyak 89.902 guru.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sesuai PP Nomor 48 Tahun 2005 tentang Tenaga Honorer, Depag telah melakukan pendataan dan pemprosesan untuk pengangkatan guru honorer menjadi CPNS sebanyak 54.364 orang. Sementara sisanya masih belum terakomodasi.

Di tahun 2006 ini, Depag memperoleh formasi pengangkatan tenaga honorer menjadi CPNS per 1 Oktober 2006 sebanyak 19.529 orang, yang terdiri dari 12.907 guru, 271 dosen, dan 4.251 pegawai lainnya.

Sisanya sebanyak 41.457 guru honorer akan diangkat secara bertahap paling lambat 2009. (dtc/rif)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Daerah, Hikmah, Warta Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 21 Januari 2018

IAIN Jember Tengah Dikembangkan Jadi UIN

Jember, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Setelah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Jember sukses beralih status menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember, kini tengah diupayakan menjadi Universitas Islam Negeri (UIN). Menurut Rektor IAIN Jember, Babun Suharto, segala persiapan sudah dilakukan, mulai dari pengembangan sarana dan prsarana fisik hingga penambahan progam-program studi umum.

Dikatakannya, dorongan dan keinginan masyarakat untuk meningkatkan status IAIN Jember menjadi UIN, sungguh besar. “Tentu itu merupakan spirit bagi kami selaku pimpinan, untuk berjuang keras agar dalam waktu yang tidak lama, IAIN Jember sudah naik menjadi UIN Jember,” terangnya kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan di sela-sela mendampingi Wakil Bupati Jember Mukit Arief saat mengunjungi IAIN Jember, akhir pekan lalu.

Mantan Ketua GP Ansor Jember itu manambahkan, antusiasme dan kepercayaan masyarakat cukup besar untuk “menitipkan” anaknya dididik di kampus IAIN Jember. Tahun akademik 2016/2017 ini, ungkapnya, mahasiswa yang mendaftar dari tiga jalur yang disediakan, mencapai sekitar 12 ribu orang.

“Namun yang diambil hanya 1800 mahasiswa. Dari 1800 mahasiswa itu, beberapa orang di antaranya berasal dari Thailand,” ungkapnya.

IAIN Jember Tengah Dikembangkan Jadi UIN (Sumber Gambar : Nu Online)
IAIN Jember Tengah Dikembangkan Jadi UIN (Sumber Gambar : Nu Online)

IAIN Jember Tengah Dikembangkan Jadi UIN

Sementara itu, Mukit Arief menyatakan sangat mendukung agar IAIN Jember secepatnya diusahakan naik status menjadi UIN Jember. Menurutnya, perkembangan IAIN Jember saat ini sungguh luar biasa, terutama dari sisi pembangunan fisik.

Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, tukas Mukit, kondisi IAIN Jember saat ini sudah sangat jauh berkembang. “Sebagai Warga Jember, tentu kami sangat bangga. Karena kampus ini juga memberikan kontribusi besar terhadap pengembangan sumber daya manusia warga Jember,” katanya.

A’wan Syuriyah PCNU Jember itu berharap kepercayaan masyarakat yang begitu besar terhadap IAIN Jember harus menjadi pemicu bagi pimpinan lembaga tersebut untuk terus meningkatkan dan mengembangkan lembaga yang dikelolanya. Ia yakin dalam sekian tahun ke depan, IAIN Jember akan sejajar dengan universitas-universitas negeri.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Saya mendukung penuh agar IAIN Jember menjadi UIN.” jelasnya. (aryudi a. razaq)?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Warta, Hikmah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 20 Januari 2018

Gelar Konferwil, Muslimat Sulsel Bertekad Wujudkan Indonesia Sejahtera

Makassar, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pembukaan Konferensi Wilayah Ke-10 Pimpinan Wilayah Muslimat Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan yang bertema ‘Bersatu Mewujudkan Indonesia Damai Sejahtera’ dihadiri Menteri Sosial Republik Indonesia yang juga Ketua Umum PP Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansah, Sabtu (5/3) di Gedung IMMIM Makassar.

"Tak lupa pula kami mengucapkan terima kasih dan bimbingannya selama ini kepada Ibu Ketua Umum PP Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa dan Bapak Ketua NU Sulsel H Iskandar Idy yang selama ini banyak membantu Muslimat NU Sulsel," ujar Ketua PW Muslimat NU Sulsel Hj Nurul Fuadi.

Gelar Konferwil, Muslimat Sulsel Bertekad Wujudkan Indonesia Sejahtera (Sumber Gambar : Nu Online)
Gelar Konferwil, Muslimat Sulsel Bertekad Wujudkan Indonesia Sejahtera (Sumber Gambar : Nu Online)

Gelar Konferwil, Muslimat Sulsel Bertekad Wujudkan Indonesia Sejahtera

Konferwil Muslimat NU bukan hanya menjadi acara rutinitas belaka, lanjutnya, melainkan sebagai suatu kemutlakan proses kaderisasi ditubuh NU. Tentunya juga tidak hanya membicarakan suksesi pemilihan ketua, tetapi lebih dari itu Konferwil harus dijadikan sebagai titik awal untuk melahirkan ide dan gagasan eksistensi Muslimat Sulsel 5 tahun ke depan.

Ketua PWNU Sulsel H Iskandar Idy dalam sambutannya berterima kasih kepada Muslimat NU Sulsel yang telah memberikan kontribusi besar atas eksistensi Nahdlatul Ulama di Sulawesi Selatan.

"Tentunya kebesaran Muslimat NU di Sulsel, tentunya menjadi gambaran umum atas kebesaran NU di Sulawesi Selatan dan semoga Muslimat NU semakin jaya," ujarnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dalam sambutannya, Khofifah mengajak seluruh kader Muslimat NU Sulawesi Selatan untuk membesarkan NU di Sulawesi Selatan.

"Harapan kami seluruh unsur masyarakat, mulai dari Ulama, Pemerintah, dan Ormas harus menjadi pelopor kekuatan ukhuwah (persatuan), ketika ini terwujud tak ada lagi isu-isu yang sebenarnya melanggar nilai-nilai Agama, tetapi karena atas nama HAM, kita sesama Warga Indonesia selalu berdebat atas suatu persoalan Bangsa, sebut saja LGBT misalnya," ujar Khofifah.

Tak hanya itu terkadang ada masalah besar, tambah Khofifah, tetapi karena luput dari liputan media, sehingga persoalan ini disepelekan, sebut saja narkoba, berapa banyak warga Indonesia yang meninggal atas penyalahgunaan Narkoba, apakah ini bukan teror bagi Bangsa Indonesia ? Bandingkan saja dengan teror yang terjadi di Thamrin beberapa waktu lalu, semua media mengekspos, tetapi ketika Teror narkoba atas Bangsa Indonesia terjadi, tidak semua media mengekspos, padahal narkoba adalah teror yang sesungguhnya.

"Olehnya itu mari bersama-sama mulai dari keluarga terkecil, agar menjauhi Narkoba serta budaya-budaya yang menyalahi Norma Agama dan Norma Masyarakat," tambahnya.

Tampak hadir Wakil Ketua Muslimat NU Sulsel yang juga Rektor UIM Hj Majdah M Zain, Kakanwil Sulsel Abd Wahid Thahir yang juga Ketua PCNU Makassar, Sekretaris PWNU Sulsel Arfin Hamid, Ketua PW GP Ansor NU Sulsel Muh Tonang Cawidu, Para Ketua Lembaga dan Badan Otonom NU di Sulsel serta para Pengurus Cabang Muslimat Nahdlatul Ulama se-Sulawesi Selatan. (Andy Muhammad Idris/Fathoni)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Warta Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 19 Januari 2018

Ramadhan Ini, NU Bantu Pengungsi Rohingnya

Langsa, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pengurus Pusat Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) melakukan aksi kemanusiaan di camp pengungsi Rohinya di Aceh sejak Senin 23 Juni 2015. Aksi bertema "Rohingya Emergency Relief, Ramadhan 2015" ini dilakukan dengan memberikan paket buka puasa disertai doa bersama dengan 500 pengungsi Rohingya di Kota Langsa.

LPBI NU menggandeng Islamic Help, LSM internasional asal Inggris yang pernah melakukan aksi kemanusiaan bersama NU? dalam Tsunami Aceh dan Gempa Yogyakarta di masa lalu. Aksi kemanusiaan ini juga melibatkan PW LPBI NU Aceh, PCNU Kota Langsa dan Dayah (Pesantren) di Kota Langsa.

Ramadhan Ini, NU Bantu Pengungsi Rohingnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan Ini, NU Bantu Pengungsi Rohingnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan Ini, NU Bantu Pengungsi Rohingnya

Ketua PP LPBI NU, Avianto Muhtadi mengatakan bahwa saat ini kondisi pengungsi cukup terjamin. Ini berkat masyarakat Aceh yang sangat membantu dan ikhlas. Namun, tambah Avianto, saat menyiapkan paket buka puasa selalu saja ada yang kurang padahal paket dibuat lebih.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari pengamatannya langsung dengan para pengungsi, Avianto menilai ada potensi kericuhan, apalagi mereka berbeda etnis, akibat tak meratannya bantuan yang diterima pengungsi. Sebagian pengungsi mengambil jatah lebih banyak dari yang lain.

“Di camp, pemenuhan kebutuhan terpenuhi dengan baik namun menuai kecemburuan sosial dan kesenjangan antara penduduk setempat dengan mereka yang mendapat bantuan berlimpah,” imbuhnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Bagi Avianto, bantuan yang diberikan oleh berbagai pihak perlu dikelola dalam satu koordinasi agar tidak berdampak pada benturan kepentingan, di samping agar jelas akuntabilitas dan transparasinya. Ia juga berpendapat, Pemerintah perlu mendesak PBB agar melakukan mengambil alih bila negara asal pengungsi tidak menerima mereka kembali. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Berita, Lomba, Warta Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 17 Januari 2018

Hukum Berobat Kepada Non-Muslim

Setiap orang pasti butuh pengobatan. Tidak ada manusia di dunia ini yang terbebas dari penyakit. Sebagian besar orang pasti pernah sakit, apakah itu penyakit ringan atau berat. Dengan kemajuan teknologi dan pengetahuan, alternatif pengobatan pun semakin banyak: bisa datang kepada pengobatan tradisional atau pengobatan modern. Tinggal pilih saja mana yang dirasa nyaman dan biayanya terukur.

Pengobatan yang ada di Indonesia tidak semua tabib atau dokternya Muslim. Malah bagi sebagian orang, mereka lebih percaya dan nyaman berobat dengan non-Muslim ketimbang dokter Muslim. Ada banyak hal yang membuat mereka tertarik dengan dokter non-Muslim, bisa jadi pengobatannya lebih bagus, profesional, dan lain-lain.

Hukum Berobat Kepada Non-Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Berobat Kepada Non-Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Berobat Kepada Non-Muslim

Ibnu Hajar Al-Haitami pernah ditanya soal ini, bagaimana hukum Muslim berobat kepada non-Muslim atau sebaliknya. Dalam Al-Fatawa Al-Fiqhiyyah Al-Kubra, ia menjelaskan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Artinya, “Muslim dibolehkan mengobati orang kafir, meskipun kafir harbi sebagaimana dibolehkan bersedekah kepada mereka, atas dasar perkataan Rasulullah SAW bahwa setiap kebaikan ada balasan. Sebaliknya, Muslim dibolehkan berobat kepada orang kafir dengan syarat tidak ada orang Islam yang mampu mengobati penyakitnya dan orang yang mengobatinya dapat dipercaya, serta tidak akan berbuat jahat.”

Ibnu Hajar membolehkan Muslim mengobati non-Muslim secara mutlak. Sementara Muslim yang berobat kepada non-Muslim dibolehkan bila tidak ada dokter Muslim dan bisa dipercaya. Persyaratan ini dibuat untuk kehati-hatian. Kalau memang dokter non-Muslimnya baik dan sudah berpengalaman dalam mengobati banyak orang, termasuk Muslim, tidak ada masalah untuk berobat dengannya.

Apalagi dalam konteks Indonesia, setiap pengobatan atau rumah sakit harus minta izin dulu kepada negara sebelum buka praktiknya. Izin ini bertujuan agar pemerintah bisa menilai apakah pengobatan tersebut memenuhi standar ilmiah, kesehatan, dan tidak merugikan publik. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Warta, Daerah, Sholawat Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 04 Januari 2018

Kiai Wasid

Matanya nanar, seakan ada rembulan menggantung di sana. Usianya sudah lengkap dengan asam garam kehidupan. Warna rambutnya hanya ada dua, hitam dan putih, berpadu seperti yin dan yang, terbungkus serban putih kesayangannya.

Usianya memang senja, tapi jika ia berjalan langkahnya masih gagah tegap meskipun ia tak pernah mengenyam pendidikan militer. Lelaki tua itu duduk bersila sambil menatap sekeliling ruang kosong. Sebuah bangunan gelap yang mungkin usianya jauh lebih renta dari usianya. Secercah cahaya lurus menerobos ruangan itu, tampak asap putih mengepul dari corong mulutnya, sesekali ia hisap kepenatan dalam batinnya. Tampak ada rasa kekhawatiran di matanya, kekhawatiran tentang sebuah musim di mana hanya sedikit orang-orang yang mau mengerti tentang arti kehidupan, tentang Tuhan, tentang keyakinan, perjuangan, hak kemanusiaan di ruang-ruang saksi sejarah yang bisu yang semakin tersudut di pinggir desa-desa yang dijajah lahir dan batinnya.

Kiai Wasid (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Wasid (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Wasid

Sudah satu minggu lamanya Kiai Wasid mendekam dalam jeruji besi sejak ia ditangkap oleh pemerintah Belanda. Kiai Wasid dianggap bersalah karena telah berbuat onar menebang pohon Kepuh besar yang akhir-akhir ini disembah oleh warga penduduk desa Lebak Kepala Banten.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Suatu malam Kiai Wasid beserta murid-muridnya sengaja mendatangi Kepuh dan menebangnya. Kiai Wasid memang sudah lama gerah melihat tingkah laku para rakyat yang mengganggap pohon besar itu sebagai keramat. Sudah sering Kiai Wasid memberi peringatan bahwa apa yang dilakukan oleh penduduk desa ini adalah perbuatan musyrik. Namun tidak digubris. Para penduduk desa menganggap Kepuh dapat menghilangkan bencana dan mengabulkan apa yang mereka pinta asal saja memberikan sasajen kepada pohon.

“Percaya kepada selain Allah Subhanahu wata’ala adalah syirik! Musyrik! Laknatullah!” teriak Kiai Wasid.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Berkali-kali Kiai Wasid memperingatkan penduduk, tapi imbauannya tidak diindahkan sama sekali. Kiai Wasid yang tidak dapat membiarkan kebodohan di depan matanya. Dengan beberapa orang muridnya ditebangnya pohon berhala itu pada malam hari.

Kiai Wasid memang sangat tegas dalam urusan akidah. Hal ini juga ia ajarkan kepada murid-muridnya di pesantrennya di kampung Beji Cilegon. Dulu waktu Kiai Wasid berguru kepada Syekh Nawawi Al Bantani, Kiai Wasid sering bertanya tentang hakikat tauhid gusti Allah.

“Kanjeng Kiai, sedekat apakah Gusti Allah dengan kita?” Tanya Kiai Wasid kepada Syekh Nawawi.

“Dekat atau tidaknya Gusti Allah itu kita sendiri yang menentukan. Gusti Allah bisa dekat, bisa juga jauh. Ibarat cahaya lilin.” Jawab Kiai Nawawi. Kiai Wasid tertegun.

“Lalu, Siapakah Gusti Allah? Siapakah kita, Kiai?” Kiai Wasid kembali bertanya.

“Gusti Allah adalah cahaya, dan kita semua adalah bayangannya.” Jawab Syekh Nawawi.

Bagi Kiai Wasid, itu adalah jawaban yang sangat berarti dalam hidupnya. Kiai Wasid memang sangat takzim kepada Syekh Nawawi. Sepanjang hidupnya Syekh Nawawi tak henti-hentinya mengajarkan tiga pokok ajaran dalam Islam. Yaitu Ketauhidan, Fikih, dan juga Tasawuf. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Ajatan ketauhidan akan keesaan Allah subhanhu wata’ala yang diajarkan Syekh NAwawi membawa Kiai Wasid dan juga teman seperjuangannya seperti Haji Abdurahman, Haji Akib, Haji Haris, Haji Arsad Thawil, Haji Arsad Qashir dan Haji Ismail melanjutkan syiarkan agama Allah ke seluruh wilayah Banten. Bagi Kiai Wasid, perbuatan yang menyekutukan Allah adalah dosa yang sangat besar. Itulah sebabnya Kiai Wasid sangat benci sekali dengan orang yang lebih percaya pada benda mati seperti Kepuh dibandingkan kepada Allah.

“Allahu Akbar.. Allahu Akbar..” Teriak Kiai Wasid dan para muridnya. Kepuh tumbang. Warga desa lari tunggang-langgang. Beberapa dari mereka melapor kepada tentara Belanda. Tidak lama kemudian Kiai Wasid ditangkap pemerintah Belanda.

Kiai Wasid ditangkap dan dijebloskan ke penjara lantaran ada laporan warga tentang perbuatannya menebang pohon keramat Kepuh. Saat di dalam penjara sebelum Kiai Wasid diadili, seorang asisten Residen bernama Goebels mendatangi tempat Kiai Wasid ditahan.

“Tuan, harus bertanggung jawab penuh atas keonaran yang tuan perbuat.” Ucap sang asisten dari balik jeruji besi.

“Menara langgar bale tuan juga kami dirubuhkan! Itu peraturan yang sudah kami edarkan.” Kiai Wasid terkaget. Kiai Wasid semakin geram.

“Tuan Wasid! Sesuai dengan aturan hukum pemerintah, nanti tuan akan didakwa bersalah karena telah mengganggu ketertiban warga desa!” lanjut Goebels.

“Atas dasar apa bapak sekalian menuntut saya yang hendak menghancurkan kebodohan? Kemusyrikan?” Jawab Kiai Wasid. Goebels cukup kaget mendengar perkataan Kiai Wasid.

“Apakah kiranya saya yang begitu mencintai saudara sedarah saya berdiam diri saat mereka terjebak dalam kebodohan menyembah sebatang pohon yang tak berdaya?” lanjut Kiai Wasid.

“Itu adalah hak manusia, tuan.” Ucap Goebels.

“Menyelematkan saudara kami seiman adalah hak juga! Apakah itu salah tuan?” kata Kiai Wasid.

“Tuan, kamu orang salah karna melanggar ketenangan orang?” Goebels balik membalas.

“Siapa yang merasa tidak tenang tuan? Hah? Tolong tuan panggil! Siapa?”

“Kalau menebang pohon demi menyelamatkan saudara kami dari kemusyrikan itu dianggap salah, apakah merubuhkan rumah ibadah kami bukan kesalahan?” Tanya Kiai Wasid.

“Menara kamu punya rumah ibadah itu mengganggu ketenangan masyarakat! karena kerasnya suara, apalagi waktu azan shalat subuh. Tuhan tidak tuli, tuan!” kata Goebels.

“Membiarkan saudara kami menyembah pohon itu lebih mengganggu ketenangan kami tuan, ketenangan hati. Ketenangan iman kami!” teriak Kiai Wasid.

“Tuan Wasid, apakah tuan sadar apa yang tuan perbuat ini adalah keonaran? Pemberontakan kepada pemerintah? Goebels bergerak mendekati Kiai Wasid. Kiai Wasid tersenyum kecut.

“Tuan, apakah yang tuan maksud dengan pemerintahan?”

“Apakah yang tuan maksud pemerintahan itu yang membiarkan kelaparan dan wabah penyakit menimpa kami? Apakah saat hujan tidak turun selama dua tahun lamanya pemerintah ini peduli pada penduduk?” lanjut Kiai Wasid. Dua sipir yang beringasan berangsur ke sisi Goebels. Tapi Goebels memberi isyarat untuk meninggalkan mereka berdua. Dua sipir secepatnya keluar.

 “Tuan, desa-desa kami kering kerontang. Tidak ada tanaman yang tumbuh. Air sulit didapat. Apakah tuan tahu? Lalu Apa yang bisa kami tanam? Sedangkan pemerintah tuan terus menarik upeti kepada kami?”

“Upeti yang kami kumpulkan, itu semua untuk kesejahteraan rakyat! Tuan ini harusnya tahu?” balas Goebels.

“Kesejahteraan yang mana? Apakah hidup kelaparan dan penuh sengsara adalah kesejahteraan?” sambar Kiai Wasid.

“Tanah kami kering. Seperti iman kami.” Tiba-tiba hening. Seperti ada bongkahan angkuh yang luluh di hati Goebels.

“Lanjutkan, Tuan Wasid,” ucap Goebels.

“Di pasar-pasar hampir setiap hari kami menemukan bayi yang mati ditinggalkan ibunya. Apakah pemerintah tuan tahu? Tuan, apakah tuan tahu puluhan ribu dari kami mati karena penyakit sampar yang berkepanjangan?

“Desa kami seakan mati ditinggalkan penghuninya. Banyak ibu tidak dapat menyusui anaknya dan banyak anak-anak kami mati kelaparan, apakah pemerintah tuan tahu?

“Lalu apakah salah kalau kami meratap, berdoa dan berzikir kepada Gusti kami saat kami tak boleh merapat kepada pemerintahan ini?”

“Tuan, apakah tuan masih ingat kesediahan kami karena sang Krakatau meletus? Ribuan jiwa saudara kami mati. Apakah yang dilakukan pemerintahan tuan? Tidak ada bukan?”

“Pemerintah tuan bukan menolong kami, tapi malah pajak kepada kami diperbesar? Kami harus kerja Pancen dan kerja Rodi di luar kewajaran! Maka, tuan, itulah sebabnya banyak saudara kami menjadi putus asa dan kembali percaya kepada dukun dan benda benda yang dianggap keramat dari pada mohon pertolongan Allah, Gusti kami.”

“Cukup, Tuan!” potong Goebels.

“Sepertinya penjelasan tuan ini sudahlah cukup. Terima kasih, tuan.” Lanjut Goebels.

“Sipir!” teriak Goebels. Lalu ia berlalu saat kedua sipir datang.

“Renungkanlah tuan! Pakai hati tuan!” Teriak Kiai Wasid. Goebels berlalu. Seperti ada sebongkah rasa dari balik matanya. Mungkin ia merasa ada sesuatu yang menohok hatinya. Namun entahlah. Hati orang siapa yang tahu?”

Hari ini tanggal 18 November 1887, Kiai Wasid dijadwalkan akan diadili. Gerak riuh penduduk desa berdatangan. Mereka berdesakan demi melihat sang Kiai yang sedang diadili. Tampak pula beberapa tentara Belanda berjaga. Teriakan “Allahu Akbar” menggema dari barisan belakang sekelompok orang. Kiai Wasid dibawa masuk oleh dua orang tentara bersenjata. Langkahnya tagap seakan apa pun diterjang. Riuh suara penduduk desa semakin bergemuruh.

Atas kesalahannya, Kiai Wasid akhirnya didenda 750 Gulden. Tuntutan jaksa yang sebelumnya ingin memvonis berat Kiai Wasid menjadi ringan karena mendapat pesan dari asisten Residen. Ia merasa apa yang dijelaskan Kiai Wasid tentang keadaan rakyat Banten cukup membuatnya tersadarkan. Kiai Wasid dibebaskan, namun Belanda terus mengawasi gerak-geriknya. Sejak peradilan Kiai Wasid, Belanda semakin mencekik para penduduk desa. Belanda mengeluarkan surat edaran yang isinya supaya shalawat, tarhim, dan azan jangan dilakukan dengan suara keras. Entah apa maksud surat larangan ini, yang jelas Belanda ingin mempersempit ruang gerak umat Isam untuk melakukan aktivitas-aktivitas perkumpulan.

Sejak peristiwa dilepaskannya Kiai Wasid, keadaan justru semakin mencekam. Penduduk desa semakin terombang-ambing atas kebijakan pemerintahan Belanda yang terus menaikkan pajak. Keadaan ini membuat Kiai Wasid bersama-sama dengan para ulama pemangku agama di daerah Banten seperti Haji Abdul Karim, Haji Tubagus Ismail, dan Haji Marzuki, kembali menjalankan misi syiar Islam dan perjuangan melawan penjajah di langgar-langgar, pesantren-pesantrean. Kiai Wasid dan para ulama lainnya terus menanamkan semangat jihad menentang penjajah.

Semangat perjuangan penduduk Banten kembali berkobar, sejak 4 Februari sampai 13 Maret 1888, para ulama dan penduduk desa mengadakan beberapa pertemuan yang intinya merencanakan strategi untuk melawan pemerintahan Belanda. Setelah melakukan beberapa pertemuan maka para ulama dan penduduk desa memutuskan untuk melakukan penyerangan. Hari sebelumnya para penduduk desa mengadakan arak-arakan sambil meneriakan takbir dan kasidahan arak-arakan dimulai dari rumah Haji Akhiya di Jombang Wetan dan berakhir di rumah Haji Tubagus Kusen, penghulu Cilegon. Para kiyai dan murid murid mereka memakai pakaian serba putih dengan ikat kepala dan kain putih pula sambil membawa pedang dan tombak.

Rombongan para kiai dan warga Banten pada malam hari bergerak dari Cibeber ke arah Saneja dipimpin langsung oleh Kiai Wasid dan Haji Tubagus Ismail tempat ini kemudian dijadikan sebagai pusat penyerangan oleh Kiai Wasid dan pengikutnya. Peristiwa itu kemudian dikenal dengan “Geger Cilegon”. Peristiwa perjuangan tumpah darah rakyat Banten dalam mengusir penjajahan Belanda. Peristiwa yang membuat penjajah Belanda kocar-kacir ketakutan. Dan peristiwa yang membawa ruh Kiai Wasid yang gugur syahid di medan perang menuju ribaan Allah Azza Wa Jalla.

Ciracas 31 Des 2012

Hijrah Ahmad, editor, Alumni Buntet Pesantren Cirebon.

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Aswaja, Internasional, Warta Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock