Tampilkan postingan dengan label Sunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sunnah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Februari 2018

Ansor dan Banser Siap Hadapi Pengganggu Kedaulatan Negara

Demak, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Gerakan Pemuda Ansor yang merupakan bagian dari Nahdlatul Ulama adalah salah satu organisasi yang mempunyai komitmen kuat terhadap bangsa ini. Maka sudah sewajarnya jikalau Ansor berkewajiban untuk membela dan mempertahankan bangsa Indonesia dari rongrongan maupun ancaman siapa pun.

Ansor dan Banser Siap Hadapi Pengganggu Kedaulatan Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor dan Banser Siap Hadapi Pengganggu Kedaulatan Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor dan Banser Siap Hadapi Pengganggu Kedaulatan Negara

“Maka kontribusi Ansor sangat dibutuhkan, karena ? bagi Ansor NKRI harga mati, siapapun pengganggu negara kita Indonesia hadapi dulu Ansor dan Banser,” tegas Ketua PC GP Ansor Demak H Abdurrahman Kasidi pada seminar kebangsaan yang digelar Kesbangpolinmas dengan Ansor Demak, Jumat (24/2) di Yayasan Hidayatul Mubtadiin Bulusari Sayung Demak Jateng.

Dia menambahkan, dengan adanya kegiatan seminar kebangsaan tersebut baik pemerintah maupun Ansor menurut Abdurrahman Kasidi tersebut semua pihak merasa diuntungkan.

“Ansor menyambut baik kerja sama dengan Kesbangpolinmas untuk mengadakan kegiatan bela negara ini,” katanya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sementara itu Kepala kesbangpolinmas H Taufiq Rifa’i yang juga sebagai narasumber mengajak Kader Ansor untuk berperan aktif dan kerja sama berkesinambungan dalam mengantisipasi kelompok-kelompok yang selama ini mengganggu kedaulatan negara.?

Termasuk di dalamnya kelompok Islam garis keras yang selalu menggembar gemborkan khilafah atau negara Islam karena itu dianggapnya bisa mengganggu kedaulatan Bangsa dan negara.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Sahabat-sahabat Ansor dan Banser selama ini kiprahnya sudah jelas maka teruskan, mari kita jaga bangsa ini, bela negara merupakan amanat konstitusi,” ajaknya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua DPRD Demak yang merupakan Ketua Pembina Yayasan Hidayatul Mubtadiin H Nurul Muttaqin merasa Bangga dengan antusiasme Kader Ansor dan Banser ? dalam mengikuti seminar kebangsaan tersebut.

“Melihat kesungguhan sahabat-sahabat, saya merasa senang, melihat Ansor dan Banser masih punya tanggung jawab yang tinggi terhadap bangsa dan negaranya,” katanya.

Seminar kebangsaan ini diikuti lebih dari 200 peserta dari Cabang dan Anak Cabang se-Kabupaten Demak. (A. Shiddiq Sugiarto/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Sunnah, Kajian Islam Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 12 Februari 2018

Jejak Islam di Kamboja (3): Perjuangan Pesantren Qur’an di Phnom Penh

Phnom Penh,Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Hampir dua tahun ini, Ustadz Amir mendirikan pesantren Al-Qur’an yang bernama Jami’ul Muslimin. Imam Masjid Al-Jamee’ Al-Islami itu dibantu oleh Nashirin Syamsuddin, yakni pemuda yang pernah mondok selama 5 tahun di pesantren Sabilul Mukhlasin Magelang, pada 2009 hingga 2014 lalu.

Jejak Islam di Kamboja (3): Perjuangan Pesantren Qur’an di Phnom Penh (Sumber Gambar : Nu Online)
Jejak Islam di Kamboja (3): Perjuangan Pesantren Qur’an di Phnom Penh (Sumber Gambar : Nu Online)

Jejak Islam di Kamboja (3): Perjuangan Pesantren Qur’an di Phnom Penh

Berbeda dengan di Indonesia, istilah pondok pesantren di Kamboja lebih dikenal dengan sebutan “madrasah”. Adapun istilah santri dalam bahasa Khmer (bahasa lokal Kamboja) dinamakan konsah, sedangkan untuk istilah kiai atau ustadz disebut sebagai "tun" atau "kru", namun istilah kru maknanya lebih luas, seperti guru-guru di sekolah umum.

Pesantren Jamiul Muslimin didirikan sebagai tempat untuk fokus menghafalkan Al-Quran. Tujuan pendirian pesantren ini untuk ‘menghidupkan’ lingkungan tengah kota Phnom Penh yang masyarakatnya mayoritas beragama Buddha. Santri-santri di pesantren ini hanya berjumlah 20 orang dimana rata-rata berusia di bawah 17 tahun.Mereka semua berasal dari berbagai daerah di Kamboja.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Nashirin mengatakan, dengan bahasa Melayu yang lumayan fasih, rencananya kelak setelah khatam hafal Al-Qur’an,santri-santri remaja didikannya itu akan dikirim ke berbagai daerah Kamboja untuk menjadi ustadz. Sebenarnya banyak muslim Kamboja yang mencari lembaga pendidikan Islam semacam pesantren. Hanya saja akses serta jumlah pesantren di sana memang masih sedikit.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selain itu, Nashirin yang juga sebagai pembina pesantren Jamiul Muslimin itu mengaku berani menerima 100 santri, namun masalahnya tempatsekarang digunakan tidak mendukung.Di samping itu  tempat tinggal santri juga saat ini masih dalam kompleks masjid. Untuk kegiatan santri selain menghafal Al-Quran, mereka juga mendapatkan jadwal untuk menjadi imam shalat Hajat, bersih lingkungan masjid, dan sebagainya. Beberapa santri ada mempunyai kebiasaan berpuasa sunnah Senin dan Kamis.

Perkembangan Hubungan Keagamaan

Dalam topik lain,Ustadz Amir menambahkan bahwa sekitar sepuluh tahun ini sudah masuk paham Wahabi di kalangan muslim Kamboja, namunjumlah mereka tidak banyak serta tidak berani melakukan hal-hal yang tidak diinginkan oleh mayoritas muslim Kamboja yang mayoritas bermazhab Syafiiyah. Situasinya mungkin tak separah paham Wahabi di Indonesia yang sering kali meresahkan masyarakat muslim yang gemar menjalankan tradisi serta ajaran ulama Aswaja dan Wali Songo.

Saya sendiri sebenarnya penasaran tentang keberadaan makam ulama atau wali yang ada di kawasan ibu kota Phnom Penh Kamboja, namun Ustadz Amir tidak mengetahui secara pasti hal yang saya tanyakan itu.

Ia hanya menceritakan bahwa dahulu pernah hidup seorang alim yang bernama Haji Muhammad Kacik Shagid. Tokoh ini dikenal sebagai ulama yang bisa mengetahui artikicauan-kicauan burung.

Dikisahkan dahulu burung-burung biasanya memberikan informasi tertentu yang hendak disampaikan ke penduduk, dan hanya Haji Muhammad Kacik Shagid yang bisa memahami  kicauan burung. Sayangnya,ulama ini tersebut termasuk di antaranya ulama yang dibunuh oleh rezim Pol Pot. Sayangnya lagi, sosok yang punya karomah tersebut makamnya tidak ditemukan sampai sekarang.

Lebih jauh, dalam pandangan ustadz Amir hubungan muslim dengan umat Buddha di Kamboja sampai hari ini tetap terjalin dengan baik. Semenjak berakhir perang saudara yang dahulu pernah terjadi di Kamboja sebab kudeta yang terjadi beberap kali, hingga saat ini tidak ada pergesekan atau konflik antara kedua agama tersebut.

Apalagi Perdana Menteri Kamboja Han Sen juga membebaskan Muslim Kamboja untuk mendirikan masjid dan melaksanakan kegiatan keislaman, termasuk juga sekarang membolehkan anak perempuan memakai jilbab ke sekolah.

Dalam kesempatan selanjutnya, saya hendak mengunjungi kawasan KM. 7, Chrang Chromres, Phnom Penh, dimana kawasan mayoritas tersebut dihuni oleh muslim. Sebagaimana informasi dari dari Ustadz Amir, banyak jejak Islam dan aktivitas muslim Kamboja yang bisa digali lebih banyak di kawasan tersebut. (M. Zidni Nafi’, santri asal Qudsiyyah Kudus, peserta Program Pemuda Magang Luar Negeri 2017 dari Kemenpora RI)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Sunnah, Nusantara, Nasional Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 29 Januari 2018

NU Jakbar Agendakan Ngaji Rutin Kitab Hadratussyaikh

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Administrasi Jakarta Barat berkomitmen akan membedah kitab karya Hadratussyaikh Muhammad Hasyim Asy’ari. Karya pendiri NU ini di antaranya terhimpun dalam “Irsyâdus Sârî” yang berisi belasan kitab.

NU Jakbar Agendakan Ngaji Rutin Kitab Hadratussyaikh (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Jakbar Agendakan Ngaji Rutin Kitab Hadratussyaikh (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Jakbar Agendakan Ngaji Rutin Kitab Hadratussyaikh

Rais Syuriah PCNU KH Abdurrahman Shoheh menyatakan komitmen tersebut seusai dilantik Katib Aam PBNU KH Malik Madani pada akhir pecan lalu (16/5) di Pondok Pesantren Al Itqon, Jakarta. Ia mengagendakan, program bedah kitab kuning itu bakal digelar setiap malam Kamis untuk seluruh pengurus NU, badan otonom, serta masyarakat secara luas.

Dalam kepengurusan periode 2014-2019 ini, PCNU Jakbar juga bertekad melestarikan ajaran Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja), di samping terus bekerja untuk kemaslahatan orang banyak.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Prosesi pengukuhan dirangkai dengan peringatan Isra’ dan Mi’raj sekaligus Milad ke-23 Pesantren Al Itqon. Hadirin yang berseragam batik NU, baliho dan bendera NU, membuat acara terasa kian meriah.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dalam kesempatan tersebut, Katib Aam PBNU KH Malik Madani menyatakan bahwa NU tidak mengajarkan kekerasan, apalagi terorisme. Artinya selalu mengedepankan Islam rahmatan lil ‘alamin yang membawa kasih saying dan kesejahteraan bagi seluruh alam semesta. Ia juga mengingatkan kepada pengurus NU agar tidak terseret arus politik praktis. (Hazami/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Sunnah, Kyai, Meme Islam Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 26 Januari 2018

Tulisan Gus Dur: Bersumber Dari Pendangkalan

p.p1 {margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Helvetica} p.p2 {margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Helvetica; min-height: 14.0px}

Oleh KH Abdurrahman Wahid



Tulisan Gus Dur: Bersumber Dari Pendangkalan (Sumber Gambar : Nu Online)
Tulisan Gus Dur: Bersumber Dari Pendangkalan (Sumber Gambar : Nu Online)

Tulisan Gus Dur: Bersumber Dari Pendangkalan

Pada Sebuah diskusi beberapa tahun yang lalu di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta, penulis dikritik oleh Dr.Yusril Ihza Mahendra, sekarang Menteri Kehakiman dan HAM. Kata bang Yusril, ia kecewa dengan penulis karena bergaul terlalu erat dengan umat ? Yahudi dan Nasrani. Bukankah kitab suci Al-Quran menyatakan salah satu tanda-tanda seorang muslim yang baik adalah “bersikap keras terhadap orang kafir dan bersikap lembut terhadap sesama muslim (Asyidda a’la al-kuffar ruhama baynahum). Menanggapi hal itu, penulis menjawab, sebaiknya bang Yusril mempelajari kembali ajaran Islam, dengan mondok di pesantren. Karena ia tidak tahu, bahwa yang dimaksud Al Quran dalam kata “kafir” atau “kuffar” adalah orang-orang musyrik (polytheis) yang ada di Mekkah, waktu itu. Kalau hal ini saja, bang Yusril tidak tahu, bagaimana ia berani menjadi mubaligh?



Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Berdasar kenyataan itu, penulis tidak begitu heran dengan terjadinya kekerasan di Maluku, Poso, Aceh dan Sampit. Penulis mengutuk peledakan bom di Legian, Bali, karena itu berarti pembunuhan atas begitu banyak orang yang tidak bersalah. Tetapi kutukan itu, tidak berarti penulis heran atas terjadinya peledakan bom itu. Karena dalam pandangan penulis, hal itu terjadi akibat para pelakunya tidak mengerti, bahwa Islam tidak membenarkan tindak kekerasan dan diskrimanatif. Satu-satunya pembenaran bagi tindakan kekerasan secara individual adalah, jika kaum muslimin di usir dari rumahnya (Idza ukhrizu min diyarihim). Karena itulah, ketika harus meninggalkan Istana Merdeka, penulis meminta Luhut Panjaitan mencari surat perintah dari Lurah sekalipun.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan



Sebabnya, karena ada perintah lain dalam Sunny tradisional yang diyakini penulis, untuk taat pada pemerintah. Berdasar ayat kitab suci itu, “taatlah kalian pada Allah, pada utusan-Nya dan pada pemegang kekuasaan pemerintahan” (Athi u’ allaha wa al-rasullah wa uli al-amri minkum). Pak Luhut Panjaitan mencarikan surat perintah itu dari seorang Lurah, dan penulis sebagai warga negara dan rakyat biasa –karena lengser dari jabatan kepresidenan- mengikuti perintah tersebut. Soal bersedianya penulis lengser dari jabatan kepresidenan, karena penulis mengaggap tidak layak jabatan setinggi apapun di negeri ini, di pertahankan dengan pertumpahan darah. Padahal waktu itu, ? sudah ada pernyataan yang ditandatangani 300.000 orang akan mendukung penulis mempertahankan jabatan kepresidenan, kalau perlu mengorbankan nyawa.?



***

Tindak kekerasan -walaupun atas nama agama- dinyatakan oleh siapapun dan dimanapun sebagai terorisme. Beberapa tahun sebelum menjabat sebagai Presiden, penulis merencanakan berkunjung ke Israel untuk menghadiri pertemuan para pendiri Pusat Perdamaian Shimon Peres di Tel Aviv. Sebelum keberangakatan ke Tel Aviv, penulis menerima rancangan pernyataan bersama, yang oleh Rabi Kepala Sevaflim Eli Bakshiloron. Dalam rancangan pernyataan itu, terdapat pernyataan penuli dan Rabai yang menyatakan “berdasarkan keyakinan agama Islam dan Yahudi, menolak penggunaan kekerasan yang berakibat pada matinya orang-orang yang tidak berdosa”. Pengurus Besar NU mengutus Wakil Rais Aam, KH Sahal Mahfudz untuk memeriksa rancangan pernyataan itu. KH Sahal Mahfudz meminta kata-kata “tidak berdosa” diubah menjadi “tidak bersalah”.



Mengapa demikian? Karena, yang menentukan seseorang itu berdosa atau tidak adalah Allah SWT. Sedangkan salah atau tidaknya seseorang oleh hakim atau pengadilan, berarti oleh sesama manusia. Penulis menerima keputusan itu dan perubahan rancangan pernyataan tersebut, juga diterima oleh Rabi Eli Bakshiloron. Ketika tiba di Tel Aviv, penulis bersama Rabi Eli langsung menuju kantornya di Yerusalem. Di tempat itu, penulis dan Rabi Eli menandatangani pernyataan bersama itu di depan publik dan media massa. Ini menunjukkan bahwa, Nahdlatul Ulama sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia ? –bahkan menurut statistik sebagai organisasi Islam terbesar di dunia- menolak terorisme dan pengunaan kekerasan atas nama agama sekalipun. Karena itu, kita mengutuk peledakan bom di Bali dan menganggapnya sebagai “tindak kejahatan/ kriminal” yang harus dihukum.



Keseluruhan penolakan penulis itu, bersumber pada pendapat agama yang tercantum dalam literatur keagamaan (Al qutub al-muqarrahrah), jadi bukannya isapan jempol penulis sendiri. Mengapa demikian? Karena Islam adalah agama hukum, karenanya setipa sengketa seharusnya diselesaikan berdasarkan hukum. Dan karena hukum agama dirumuskan sesuai dengan tujuannya (Al amru bima qa shidiha), maka kita patut menyimak pendapat mantan ketua Mahkamah Agung Mesir, Al Asmawi. Menurutnya, “hukum barat” dapat dijadikan “hukum Islam”, jika memiliki tujuan yang sama. Hukum pidana Islam (zarimah), menurut Al Asmawi, sama dengan hukum pidana barat, karena sama berfungsi dan bertujuan menahan (defences) dan menghukum (punishment).



***

Namun, mengapa terorisme ? dan tindak kekerasan yang lain masih juga dijalankan oleh sebagian ? kaum muslimin? Kalau memang benar kaum muslimin melakukan tindakan-tindakan tersebut , jelas bahwa mereka telah melanggar ajaran-ajaran agama. Pertanyaan di atas dapat dijawab dengan sekian banyak jawaban, antara lain rendahnya mutu sumber daya manusia pada para pelaku tindak kekerasan dan terorisme itu sendiri. Mutu yang rendah di kalangan kaum muslimin, dapat dikembalikan kepada aktifitas imperalisme dan kolonialisme yang begitu lama menguasai kaum muslimin. Ditambah lagi dengan, orientasi pemimpin kaum muslimin yang sekarang menjadi elite politik nasional. Mereka selalu mementingkan kelompoknya sendiri dan membangun masyarakat Islam yang elitis.



Apa pun bentuk dan sebab tindak kekerasan dan terorisme, seluruhnya bertentangan dengan ajaran Islam. ? Hal ini adalah kenyataan yang tidak dapat dibantah, termasuk oleh para pelaku kekerasan dan terorisme yang mengatasnamakan Islam. ? Penyebab lain dijalankannya tindakan-tindakan yang telah dilarang Islam itu -sesuai dengan ajaran kitab suci Al Quran dan ajaran nabi Muhammad SAW- adalah proses pendangkalan agama Islam yang berlangsung sangat hebat. Walau kita lihat, adanya praktek imperialisme dan kolonialisme atau kapitalisme klasik di jaman ini terhadap kaum muslim, tidak berarti proses sejarah itu memperkenankan kaum muslim untuk bertindak kekerasan dan terorisme.?



Harus kita pahami, bahwa dalam sejarah Islam yang panjang, kaum muslim tidak menggunakan kekerasan dan terorisme untuk memaksakan kehendak. Lalu, bagaimanakah cara kaum muslimin dapat mengadakan koreksi terhadap langkah-langkah yang salah, atau mencari “responsi yang benar” atas tantangan berat yang dihadapi? Jawabannya, yaitu dengan mengadakan penafsiran baru (re-interpretasi). Melalui mekanisme inilah, kaum muslimin melakukan koreksi atas kesalahan-kesalahan yang diperbuat sebelumnya, maupun memberikan responsi yang memadai atas tantangan yang dihadapi. Jelas, dengan demikian Islam adalah “agama kedamaian” bukannya “agama kekerasan”. ? Proses sejarah Islam di kawasan ini, adalah bukti nyata akan hal itu, walaupun di kawasan-kawasan lain, masih juga terjadi tindak kekerasan -atas nama Islam- yang tidak diharapkan. Mudah dalam prinsip, namun sulit dalam pelaksanaan bukan?



Tulisan ini pernah dimuat di Koran Duta Masyarakat, 31 Desember 2002.

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ubudiyah, Sunnah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 25 Januari 2018

Ngaji Falak, Pesantren Al-Falah Hadirkan Tim Ahli dari UIN Walisongo

Salatiga, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Dalam rangka kegiatan Ramadhan Santri, PPTI Al-Falah Kabupaten Salatiga mengadakan Pelatihan Ilmu Falak dengan narasumber dari CSSMoRA UIN Walisongo Semarang. Kegiatan yang berlangsung akhir pecan, Sabtu-Ahad (18-19/6) diikuti sebanyak 70 peserta yang terdiri atas santri Al-Falah dan santri umum.

Pengasuh Pesantren Al-Falah Ibu Nyai Hj Latifah Zoemri menyambut baik kegiatan ini. Ia berharap setiap tahunnya diadakan even seperti ini agar santri termotivasi untuk lebih semangat dalam menimba ilmu, tidak hanya ilmu agama tetapi juga ilmu umum lain yang porsinya sama penting.

Ngaji Falak, Pesantren Al-Falah Hadirkan Tim Ahli dari UIN Walisongo (Sumber Gambar : Nu Online)
Ngaji Falak, Pesantren Al-Falah Hadirkan Tim Ahli dari UIN Walisongo (Sumber Gambar : Nu Online)

Ngaji Falak, Pesantren Al-Falah Hadirkan Tim Ahli dari UIN Walisongo

Dalam rangkaian kegiatan, sebanyak delapan sesi materi disampaikan secara gabungan. Peserta mengkaji materi pengenalan kalkulator, menghitung sudut, penentuan arah kiblat dan dengan observasi bulan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pada setiap materinya, peserta tidak hanya diberi teori yang harus mereka catat. Tetapi peserta juga diharuskan praktik secara langsung dengan peralatan yang sudah disiapkan oleh tim narasumber. Mereka juga belajar menggunakan teodolit, alat ukur sudut tengah dan mendatar untuk menentukan jarak dan tinggi sesuatu.

Tim narasumber Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs (CSSMoRA) dengan sangat telaten menjelaskan materi yang belum dipahami peserta. Dari setiap pertanyaan yang diajukan peserta, mereka jawab dengan penuh kesabaran meskipun tengah berpuasa.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Tim yang beranggotakan sebanyak 12 orang ini termasuk Siti Nur Halimah yang merupakan puteri bungsu KH Zoemri RWS, pendiri PPTI Al-Falah. Mereka adalah mahasiswa program studi Ilmu Falak UIN Walisongo Semarang.

Peserta tampak antusias mengikuti jalannya kegiatan, apalagi pada kegiatan terakhir yaitu observasi bulan. Dengan teleskop, peserta bisa melihat keindahan bulan dan planet saturnus. Dari pesan dan kesan yang disampaikan Latifah sebagai perwakilan peserta, dia menyampaikan rasa syukur karena mengikuti kegiatan pelatihan. Pasalnya dalam pelatihan ini ada banyak sekali ilmu, pengalaman dan pengetahuan yang didapat.

“Yang biasanya hanya manut ke mana arah kiblat, dengan mengikuti pelatihan ini jadi bisa menentukan sendiri arah kiblat di manapun dengan ukuran yang jelas,” tambahnya.

Peserta berharap agar pelatihan ini dilanjutkan lagi pada waktu yang akan datang dengan materi yang lebih dalam dan lebih menyenangkan. (Evie Yunianti/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pendidikan, Kajian Islam, Sunnah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 23 Januari 2018

Tidak ada Tanda Kepangkatan dalam Ibadah Haji

Madinah, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Para jamaah haji diharapkan dapat memantapkan niat untuk beribadah selama berada di Tanah Suci Makkah dan Madinah. Niat ibadah yang telah sejak lama ditanamkan dalam jiwa hendaknya tidak dikotori oleh emosi diri dan keangkuhan.

Demikian selalu diingatkan oleh Maraposan Rambe (MBR), Ketua Kloter Mess 04 Medan, asal kabupaten Labuan Batu Sumatera Utara, kepada para jamaah haji yang dipimpinnya. Menurut MBR Tanda kepangkatan dan jabatan juga tidak perlu ditonjolkan selama menjalankan ibadah haji.

Tidak ada Tanda Kepangkatan dalam Ibadah Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Tidak ada Tanda Kepangkatan dalam Ibadah Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Tidak ada Tanda Kepangkatan dalam Ibadah Haji

"Saya selalu mengingatkan kepada para jamaah, agar tidak bertindak mentang-mentang. Orang-orang yang sedang menunaikan ibadah haji tidak mengenal tanda kepangkatan dan kekayaan, semuanya sama di hadapan Allah," tutur MBR kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan di Kantor Misi Haji Indonesia Daerah Kerja Madinah, Sabtu (23/10).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Menurut MBR, jamaah haji mestinya tidak saling menyombongkan diri dan hanya bisa komplain saja. Karena hal itu akan mengurangi keutamaan ibadah seseorang.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Jadi jangan mentang-mentang dia orang kaya raya di Tanah Air atau orang berpangkat, lalu bisa seenaknya komplain atas kekurangan dan berbagai kendala yang muncul selama perjalanan ibadah. Karena semua jamaah haji akan diperlakukan sama oleh para petugas," tandas pria yang memiliki suara lantang ini. (min/Laporan langsung Syaifullah Amin dari Arab Saudi)Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Sunnah, Hadits Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 20 Januari 2018

Tingkatkan Kualitas Akademik, SMK Walisongo Lakukan Studi Banding

Jepara, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Untuk meningkatkan kualitas akademik, khususnya jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), SMK Walisongo Pecangaan Jepara mengadakan kunjungan studi ke SMK NU Maarif Kudus, Selasa (25/8) kemarin.

Rombongan dari Jepara terdiri atas Kepala Sekolah Ardana Himawan, Ketua Jurusan TKJ Ahmad Sholikul, Humas Agus Dwi Harso serta Waka Kurikulum Irbab Aulia Amri. Sedangkan pihak SMK NU Maarif Kudus yang menerima rombongan adalah Kepala Sekolah H Ahmad Nadlif dan Ketua Jurusan TKJ Eko.

Tingkatkan Kualitas Akademik, SMK Walisongo Lakukan Studi Banding (Sumber Gambar : Nu Online)
Tingkatkan Kualitas Akademik, SMK Walisongo Lakukan Studi Banding (Sumber Gambar : Nu Online)

Tingkatkan Kualitas Akademik, SMK Walisongo Lakukan Studi Banding

Dipilihnya SMK NU Maarif Kudus sebagai lokasi studi banding, kata Ardana, karena di sana khususnya jurusan TKJ sudah melaksanakan pembelajaran IT. Di awal tahun, siswa sudah diajari pengelolaan blog. Setelah itu, dalam pemberian materi maupun tugas via blog masing-masing.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Di sana lanjutnya juga sudah memberlakukan Cisco Networking Akademy Program serta Microtic.

Untuk di lokasi, melihat laborat, server dan kelas Axio serta sharing tentang jurusan TKJ.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Melalui kegiatan ini pihaknya berharap masyarakat semakin familiar dengan jurusan TKJ. Sebab menurut dia, peminatnya masih kalah dibanding jurusan TKJ/Otomotif.

Karenanya, pihaknya terus mengembangkan kerja sama demi pengembangan jaringan serta sertifikasi lulusan. Di SMK Walisongo, kuantitas jurusan TKJ masih di bawah jurusan TKR. Masih di angka 130-an per tahun. Untuk itu pihaknya terus mengembangkan kualitas. Khususnya menyiapkan TKJ bersertifikat internasional.

“Harapan kami TKJ ke depan sudah bersertifikat Internasional. Kalau selama ini baru bersertifkat dari Asosiasi Profesi Telematika Indonesia (APTI),” harapnya.

Untuk langkahnya tenaga pendidik dilatih Cisco dan Microtic. Setelah itu diterapkan kepada anak-anak. Sehingga kualitas peserta didik dan guru khususnya jurusan semakin berkualitas. (Syaiful Mustaqim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Sunnah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock