Tampilkan postingan dengan label Santri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Santri. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Januari 2018

Kitab Kuning

Kitab Kuning adalah istilah untuk menyebut kitab-kitab klasik karya ulama-ulama terdahulu atau ulama salaf yang merupakan salah satu elemen utama dalam pengajaran di pesantren NU. 

Disebut kitab kuning kemungkinan besar karena kertas kitab-kitab klasik pertama yang sampai di Nusantara  dari Timur Tengah berwarna kekuning-kuningan. Kitab-kitab yang disebut kitab kuning ini  berisi berbagai disiplin ilmu agama Islam, termasuk kitab yang berisi komentar (syarah), komentar atas komentar (hasyiyah), terjemahan, dan saduran.

Kitab Kuning (Sumber Gambar : Nu Online)
Kitab Kuning (Sumber Gambar : Nu Online)

Kitab Kuning

Kitab-kitab kuning ditulis dalam aksara Arab tanpa harakat sehingga sering disebut juga dengan nama kitab gundul. Kitab-kitab yang ditulis belakangan oleh ulama asal Indonesia, yakni komentar, saduran, atau terjemahan ditulis dalam aksara Jawi (Arab Pego). 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sebagian dari kitab kuning ini ditulis dalam bentuk syair (nadhom) demi mempermudah penghafalan. Untuk bisa membaca dan memahami kandungan kitab kuning, orang setidaknya harus menguasai ilmu tata bahasa Arab yaitu nahwu dan sharaf. Untuk kitab-kitab yang berbentuk syair orang harus menambah lagi dengan penguasaan ilmu balaghah. 

Ilmu tata bahasa Arab ini dalam dunia pesantren disebut dengan istilah ilmu alat karena memang digunakan sebagai “alat” untuk membaca kitab kuning.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sebutan kitab kuning ini juga menjadi pembeda dengan munculnya kitab-kitab baru yang ditulis oleh kaum reformis atau modernis yang kebanyakan adalah tafsir al-Qur’an dan tentang hadits. Teks-teks yang ditulis kaum reformis ini kemudian dikenal dengan sebutan “buku putih”. 

Dalam masyarakat Islam Indonesia, istilah kitab merujuk pada teks yang ditulis dalam bahasa Arab, sementara istilah buku merujuk pada teks yang ditulis dalam bahasa Indonesia.

Martin van Bruinessen mengungkapkan bahwa kitab-kitab yang berisi inti ajaran Islam ini ditulis antara abad 10 hingga abad 15 Masehi. Beberapa kitab ditulis sebelum periode itu dan sejumlah karya juga ditulis setelah masa itu. 

Namun, pada akhir abad 15 pemikiran Islam sudah mencapai puncaknya dan tidak ada perkembangan signifikan dalam tradisi penulisan kitab ini. Dalam tradisi abad pertengahan, semua ilmu  dianggap sebagai sistem pengetahuan yang terbatas karena itu penambahan pada pengetahuan yang sudah ada dianggap tidak tepat. 

Karena itulah penulisan kitab-kitab ilmu pengetahuan agama Islam bisa dirangkum ke dalam delapan kategori:  melengkapi yang belum lengkap, mengoreksi yang salah, menjelaskan yang belum jelas, rangkuman dari karya yang panjang, kumpulan berbagai tulisan yang terpisah namun berkaitan, penyusunan tulisan-tulisan yang tidak teratur, dan ringkasan apa yang sebelumnya belum diringkas, serta terjemahan karya-karya terdahulu.

Pengetahuan yang ditulis dalam kitab kuning adalah sudah tetap. Kalaupun ada karya-karya baru, kitab-kitab itu tetap berada dalam batas-batas yang jelas dan tidak bisa lebih dari sekadar ringkasan, penjelasan, dan komentar dari hal-hal yang sudah ditulis sebelumnya. Hal inilah yang oleh kaum reformis dan modernis dianggap sebagai sumber kejumudan, meskipun dalam praktiknya tradisi kitab kuning jauh lebih fleksibel dari anggapan tersebut. Tradisi penulisan kitab ini sungguhlah kaya dan tetap menjadi lentur justru karena tradisi ini tidak mempunyai tendensi untuk menjadi sama atau konsisten. Di dalam kitab-kitab klasik ini sering dijumpai perbedaan pendapat antara kitab satu dengan kitab yang lain mengenai suatu persoalan.

Pengajaran kitab kuning di pesantren berbasis pada transmisi oral (pengajaran lisan). Teks-teks dalam kitab-kitab tersebut dibaca keras oleh kiai kepada santrinya yang juga memegang kitab yang sama sambil membuat catatan. Kemudian kiai memberi komentar dan menjelaskan makna-maknanya. Santri kemudian membaca kembali kitab itu sambil diperiksa bacaannya oleh kiai.  

Sejumlah pesantren sudah mulai mengajarkan kitab secara klasikal dan  menerapkan kurikulum yang sudah standar, namun sejumlah pesantren lain tetap menerapkan metode pengajaran kitab seperti disebut di atas. Setelah santri menuntaskan satu kitab biasanya ia akan mendapat ijazah dari kiainya dan bisa belajar kitab yang lain.

Di Indonesia, kitab kuning diterbitkan di antaranya oleh sejumlah penerbit di Surabaya (Salim Nabhan), Kudus (Menara Kudus), Semarang (Al-Munawwarah), Pekalongan (Raja Murah), Cirebon (Misriyya), dan Jakarta (Al-Shafi`iyya dan At-Tahiriyya). Sebagian besar kitab yang diterbitkan oleh penerbit-penerbit tersebut adalah cetak ulang dari kitab asli yang diterbitkan di Mekah, Beirut, atau Kairo. Sebagian masih menampilkan logo dari penerbit asli di halaman depan, namun ada pula yang logonya sudah diganti.

Penerbitan kitab-kitab klasik ini biasanya disertai komentar atau penjelasan yang kadang dicetak di baris tepi atau sebaliknya. Hal  ini memungkinkan keduanya bisa dipelajari bersama sekaligus membuat penyebutan kitab menjadi campur aduk antara kitab yang dikomentari dengan kitab komentar itu sendiri.

Misalnya kitab Taqrib (Al-ghaya wa’l-Taqrib karya Abu Shuja` al-Isfahani) dan komentarnya Fath al-Qarib (karya Ibn Qasim al-Ghazzi) sering dicetak dalam satu kitab, atau sebutan kitab Mahalli merujuk  pada kitab yang ditulis oleh Qalyubi dan `Umayra yang di dalamnya terdapat kitab Kanz ar-Raghibin karya Jalaluddin Muhammad bin Ahmad al-Mahalli  yang dicetak di bagian tepi. Kitab Kanz ar-Raghibin sendiri merupakan komentar (syarah) atas kitab Minhaj at-Talibin, sebuah  kitab fiqih mazhab Syafi’i karya Imam Nawawi.

Dalam hal format, kitab kuning biasanya dicetak dalam ukuran kwarto (26 cm) dan tidak dijilid.  Lembaran-lembarannya terpisah di dalam sampul sehingga memudahkan para santri bisa mengambil salah satu lembar yang akan dipelajarinya. Dengan dicetak dalam kertas yang tetap berwarna kekuningan membuat penampilan kitab karya ulama-ulama klasik itu menjadi semakin tampak klasik. (Sumber: Ensiklopedi NU)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan IMNU, Santri, Pondok Pesantren Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 25 Januari 2018

Makesta NU Banyuwangi untuk Penggerak NU Masa Depan

Banyuwangi, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan?



Koordinator Anak Cabang (Korancab) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama Banyuwangi menggelar Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) di Madrasah Ibtidaiyah Mambaul Huda, Boyolangu, Giri, Banyuwangi Sabtu pagi (24/12) sampai Ahad siang (25/12).

Makesta  NU Banyuwangi untuk Penggerak NU Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)
Makesta NU Banyuwangi untuk Penggerak NU Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)

Makesta NU Banyuwangi untuk Penggerak NU Masa Depan

Para peserta yang hadir merupakan delegasi dari berbagai kecamatan, di antaranya: Licin, Giri, Glagah, Kalipuro, dan Wongsorejo.?

"Hal ini kami lakukan sebagai terobosan maksimalisasi manajemen gerakan dan kaderisasi di setiap Pimpinan Anak Cabang yang masih belum aktif," ujar ketua Koordinator Anak Cabang Hairul Mauli Tamimi.

Menurut Tamimi, Makesta ini juga salah satu langkah mencetak kader-kader muharrik (penggerak) NU masa depan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Tak hanya itu, Haris Budi Utomo perwakilan dari pengurus PC IPNU Banyuwangi berpesan di hadapan kader-kadernya untuk senantiasa tetap meningkatkan prestasi belajar sekolah di samping aktif dalam kegiatan organisasi.

"Tak ada alasan bagi kalian aktif di organisasi menjadikan semangat belajar dan prestasi sekolah kendur. Hal ini sangat tidak kami inginkan. Pasalnya, banyak para pelajar tahun kemarin yang mendapatkan kuliah gratis di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) ternama rekom dari PC IPNU IPPNU Banyuwangi, akibat mereka yang tak surut semangat belajar dan berorganisasi," terang Haris, yang juga sebagai penggawa Departemen Kaderisasi IPNU Banyuwangi.

Dia menambahkan, keuntungan berorganisasi lainnya meningkatkan jaringan sosial kemasyarakatan. Sehingga dengan jalan ini kita dapat membaca peluang-peluang beasiswa kuliah dalam negeri maupun luar negeri.

Dalam pembukaan acara dihadiri oleh perwakilan MWC NU Giri, MWC Kalipuro, PAC Muslimat Giri, PAC Ansor Giri, PAC Fatayat Giri, dan Perwakilan PC IPNU IPPNU Banyuwangi. (M. Sholeh Kurniawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Habib, Santri, Khutbah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 17 Januari 2018

Harlah NU di Tahun 1966

Peringatan hari ulang tahun organisasi menjadi marak baik sebagai bentuk konsolidasi maupun unjuk kekuatan dan sebagainya. Menariknya kemudian masing-masing membakukan istilah sendiri-sendiri NU misalnya menggunakan istilah peringatan Hari Lahir disingkat Harlah.

Istilah Harlah ini menjadi trade mark dan identitas ? NU serta segenap organisasi turunannya, Muslimat, Ansor, IPNU, PMII Fatayat dan sebagainya.

Kemudian PNI menggunakan Istilah Ultah, istilah ini digunakan oleh organisasi onderbow serta tokohnya seperti Ultah Bung Karno, Ultah PDI dan sebagainya. PKI menggunakan istilah HUT. Sementara Masyumi, organisasi Islam modernis serta organisasi organisasi turunannya atau berorientasi sama seperti GPI, HMI termasuk Muhammadiyah dengan segala variannya ? menggunakan istilah Milad.

Harlah NU di Tahun 1966 (Sumber Gambar : Nu Online)
Harlah NU di Tahun 1966 (Sumber Gambar : Nu Online)

Harlah NU di Tahun 1966

Harlah NU yang sangat fenomenal adalah Harlah ke-40 yang diselenggarakan pada 31 Januari 1966 di Gelora Bung Karno yang dihadiri oleh ratusan ribu warga nahdliyin dari seluruh Indonesia. Walaupun stadion tidak muat sehingga hadirin tumpah-ruah di jalanan, tetapi ? suasana tetap tertib.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Padahal saat setelah peristiwa G30S-PKI, tidak ada lagi kekuatan besar yang mampu mengomando rakyat, tetapi NU bisa. Saat itu NU menjadi stabilisator keamanan negara paling utama, bersama tentara, karena PKI sudah tidak berdaya, PNI sudah tercerai berai, sementara Masyumi sudah lama mati.

Harlah ini diketuai oleh seniman besar H Djamaluddin Malik dan H. Usmar Ismail, sehingga suasana dramatis dan teatrikal tercipta, sehingga melahirkan asa baru di tengah keputusasaan sosial politik akibat tragedi yang dipicu PKI. Saat itulah NU mengusulkan pembubaran PKI sebagai dalang bencana.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Hanya NU yang masih mampu mengkomando rakyat dan menjaga ketertiban. Sebagai presiden yang lagi goyah, Bung Karno sangat terkesan oleh kekuatan NU dalam menjaga keamanan Negara. Arena ucapan terima kasih disampaikan kepada Rois Aam NU KH Wahab Chasbullah.

Sebagai rasa terimakasihnya itu ketika KH Saifuddin Zuhri minta tanah, maka Bung Karno memberikan tanah seluas delapan hektar di Tomang Slipi yang hendak digunakan sebagai Islamic Centre-nya NU. Dengan kekuatannya itu pula ketika terjadi pergantian rezim, NU tetap terlibat dalam mengelola negara.

Pelaksanaan Harlah NU dengan menggunakan kalender masihiyah dengan tonggak 31 Januari 1926 sekaligus dikukuhkan dalam istilah "Khittah NU 1926" itu telah diijma’i oleh para muassis NU yang masih hidup saat itu, antara lain KH Wahab Chasbullah, KH Bisri Sansoeri, KH Asnawi Kudus, KH Maksum Lasem dan lain sebagainya.

Karena bagi mereka menjadi NU adalah menjadi Indonesia, maka tidak masalah menggunakan penanggalan yang sudah mentradisi dalam masyarakat Indonesia, dengan tanpa menghilangkan rasa ? hormat pada ? kalender Hijriyah. Terbukti seluruh peringatan hari besar Islam tetap menggunakan kalender Hijriyah dan kalangan NU lah yang paling aktif dalam menyemarakkan hari-hari besar Islam tersebut. (Abdul Mun’im DZ)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Santri, AlaSantri Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 25 Desember 2017

“Negara Ini Mau Jadi Apa, Tergantung Bagaimana Pemudanya”

“Negara Ini Mau Jadi Apa, Tergantung Bagaimana Pemudanya” 

Pemuda sebagai pemegang masa depan menjadi unsur penting, termasuk di dalam organisasi GP Ansor. Untuk itu kaderisasi di kalangan muda merupakan salah satu prioritas program yang digagas kepengurusan GP Ansor masa khidmat 2015-2020. Berikut wawancara Kontributor Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Kendi Setiawan dengan Ketua Umum PP GP Ansor  H Yaqut Cholil Qoumas (Gus Tutut) di Jakarta.

Gus Tutut, berdasarkan data terbaru kader GP Ansor saat ini 1,7 juta. Melihat banyaknya warga NU dan pemuda-pemuda NU, apakah jumlah ini sudah seimbang dan sudah maksimal?

Ini tantangannya, saya membaca survey  jumlah warga NU itu 60 juta. Nah kalau baru 1,7 juta, ini masih kurang banyak. Kita nggak akan berhenti melakukan kaderisasi, karena ini juga menjadi visi kita memperkuat kaderisasi. Kita akan terus-menerus melakukan kaderisasi. 

“Negara Ini Mau Jadi Apa, Tergantung Bagaimana Pemudanya” (Sumber Gambar : Nu Online)
“Negara Ini Mau Jadi Apa, Tergantung Bagaimana Pemudanya” (Sumber Gambar : Nu Online)

“Negara Ini Mau Jadi Apa, Tergantung Bagaimana Pemudanya”

Negara ini mau jadi apa, tergantung bagaimana pemudanya. Presiden Soekarno pernah bilang “Berikan saya sepuluh pemuda, maka akan saya guncang dunia.” Dalam konteks GP Ansor saya kira penting melakukan kaderisasi. Mengapa? Karena GP Ansor ini akan menjadi masa depan NU sekaligus NU masa depan. Jadi kalau Ansor tidak benar dalam melakukan kaderisasi, maka ke depan NU pun tidak akan benar dalam mengelola organisasi dan tentu kepentingan-kepentingannya. 

Kaderisasi ini menjadi sangat penting, karena GP Ansor itu NU masa depan dan masa depan NU. Jadi bentuk NU ke depan itu tergantung bentuk GP Ansor hari ini, saya kira itu.

Sejauh ini upaya apa yang dilakukan untuk mengikat anak muda agar mau bergabung dengan GP Ansor?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Memang menjadi berbeda mengajak sahabat muda di pedesaan itu jauh lebih mudah daripada di perkotaan. Orang kota itu biasanya lebih apatis, tidak peduli, apalagi dengan GP Ansor sebagai organsiasi yang dicitrakan berafiliasi ke NU yang masih dianggap sebagian  orang sebagai organisasi tradisional, dan sebagainya. Tentu kita punya cara bagaimana mengajak pemuda terutama nahdliyin  untuk gabung dengan GP. 

Kalau di desa bikin pengajian tokohnya NU kiai NU kita tampilkan di pengajian, lalu kita ajak pemudanya, pasti mau. Tetapi di kota jauh lebih sulit karena di kota itu lebih banyak apatis. Kita punya beberapa strategi, salah satuya kita gandeng public figure untuk bergabung di GP Ansor. Salah satu daya tarik pemuda kota untuk bergabung. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sebagai contoh di Jakarta misalnya, kita ajak Al dan El putra Ahmad Dani. Mereka (Al dan El) sudah mengikuti kaderisasi PKD (Pelatihan Kader Dasar) sekarang resmi menjadi anggota GP Ansor. Tiap PKD kita tampilkan Al dan El untuk menarik anak muda kota mau bergabung dengan Ansor. Harapan kita ini menjadi salah satu daya tarik selain tentu saja konsistensi dalam mempertahankan NKRI, Pancasila, dan ahlusunnah waljamaah.

Bagaimana upaya menyinergikan GP Ansor dengan banom/lembaga NU yang lain? 

Ya kita akan selalu  jalin komunikasi karena sinergi tidak akan terwujud tanpa adanya komunikasi. Alhamdulillah, selama ini kita juga berkomunikasi dengan baik terutama dengan induk kita, PBNU. Komunikasi dengan banom-banom lain sebisa mungkin kita lakukan, karena kita berharap sinergi organisasi bisa terwujud.

Kalau dengan swasta dan pemerintah seperti apa, Gus?

Dengan pemerintah tentu kita lakukan sinergi-sinergi juga. Banyak ya kita misalnya terkait dengan bela negara kita punya MoU dengan Kementerian Pertahanan, dalam rangka melakukan upaya kegiatan bela negara. Dan pihak sewasta juga kita lakukan selama ada hubungan yang saling menguntungkan bagi kami maupun pihak swasta. Kita tidak menabukan itu. Itu sah-sah saja.

Terkait dengan adanya isu, dan bukan hanya isu tetapi fakta, akhir-akhir ini tentang adanya upaya pihak-pihak yang ingin menggeser Pancasila dari NKRI, apa yang disiapkan GP Ansor ke depan?

Siapa pun yang hidup di Indonesia, yang menghirup udara Indonesia, makan dari bumi Indonesia tetapi tidak menerima ideologi Pancasila, dan bentuk NKRI, harus keluar, pergi Indonesia. Kalau mereka tetap nggak mau, Banser/Ansor siap untuk mengusir mereka.

(Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Santri, Pondok Pesantren Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 10 Desember 2017

BNP2 TKI Harapkan Jadi TKI Bukan Pilihan Pertama

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Kepala Biro Humas Badan Nasional Perlindungan dan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Servulus Bobo Riti berharap, jamaah majelis taklim bisa membantu menjadi agen informasi kepada masyarakat terkait TKI seperti tentang prosedur dan mekanisme menjadi TKI.





BNP2 TKI Harapkan Jadi TKI Bukan Pilihan Pertama (Sumber Gambar : Nu Online)
BNP2 TKI Harapkan Jadi TKI Bukan Pilihan Pertama (Sumber Gambar : Nu Online)

BNP2 TKI Harapkan Jadi TKI Bukan Pilihan Pertama

Hal itu disampaikan di depan jamaah Majelis Ashabul Kahfi dalam kegiatan rutin bulanan Kajian Kitab Kuning dan Zikir Tarekat Syadziliah di masjid An-Nahdhah, di kantor pusat Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), di Jalan Kramat Raya No. 164, Sabtu (19/11).

"TKI non prosedural sering menjadi masalah. Ini perlu diselesaikan secara bersama-sama," katanya, 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pada kesempatan tersebut, mantan ketua KNPI ini juga menyatakan, agar bekerja menjadi TKI di luar negeri bukanlah pilihan pertama.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pilihan pertamanya adalah bekerja di dalam negeri. Menurutnya, lebih baik bekerja di dalam negeri karena bisa membangun negeri sendiri.

"Bagi yang masih menganggur silahkan bekerja di luar negeri tapi itu hanya pilihan ke dua, pilihan pertama tetap bekerja di dalam negeri. Saya lebih senang agar bisa bekerja di dalam negeri menjadi pilihan pertama," papar Servulus.

Dewan guru Mejelis Ashabul Kahfi yang juga Ketua Umum Kiai Muda Indonesia Gus Wahyu NH Aly mengatakan, agar para santri memiliki tekad yang teguh dalam meraih pendidikan formal.

Dikatakan, tidak ada orang mati kelaparan karena kerja untuk menimba ilmu, untuk sekolah setinggi-tingginya. Pendidikan formal membantu membentuk karakter santri lebih tangguh dalam membimbing masyarakat.

"Pesan saya tidak banyak, pendidikan, pendidikan, pendidikan," tegasnya.

Dalam acara tersebut diisi lantunan shalawat yang diiringi hadrah, ceramah umum, kajian kitab Minahus Saniah, dan zikir bersama Tarekat Syadziliah.

Hadir di dalamnya juga di antaranya Kiai Rahmat dari Bekasi, Pengasuh Pesantren Bintang Mazaya Kiai Lukman Nursalim, dan jamaah majlis Ashabul Kahfi yang berada di Jakarta. (Lukman Hakim/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan IMNU, Kajian Sunnah, Santri Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 02 Desember 2017

Iran Hukum Mati Pendiri Syiah Versi New Age

Teheran, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Mohammad Ali Taheri, seorang pendiri aliran baru Islam Syiah ala New Age mendapat vonis hukuman mati dari pengadilan Iran.

Pengacara Taheri, Mahmoud Alizadeh Tabatabaei mengatakan bahwa pengadilan tersebut menghukum kliennya atas dasar tuduhan mendirikan sebuah sekte.

Iran Hukum Mati Pendiri Syiah Versi New Age (Sumber Gambar : Nu Online)
Iran Hukum Mati Pendiri Syiah Versi New Age (Sumber Gambar : Nu Online)

Iran Hukum Mati Pendiri Syiah Versi New Age

Seperti dikutip dari AP, pengacara tersebut mengaku pihaknya akan mengajukan banding dalam waktu 20 hari.

Pada tahun 2014, Taheri juga mendapat vonis hukuman mati atas tuduhan serupa namun pengadilan banding kemudian menolak putusan tersebut. Pria 61 tahun itu telah dipenjara sejak 2011, saat sebuah pengadilan memvonisnya lima tahun penjara karena kasus penodaan agama.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dalam beberapa pekan belakangan ini, pihak berwenang dilaporkan sudah menahan puluhan pengikut Taheri.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Taheri juga telah melakukan penelitian tentang pengobatan alternatif. Pemimpin Iran menganggap keyakinan New Age sebagai ancaman terhadap prinsip-prinsip Islam. (Red: Mahbib)Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Santri, Ahlussunnah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 18 November 2017

Paham Kebangsaan Penting untuk Tangkal Radikalisme dan Intoleransi

Bandung, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Kurangnya paham kebangsaan bisa menimbulkan sikap intoleransi dan radikalisme. Hal ini dikatakan oleh Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jawa Barat Asep Irfan Mujahid di Sekretariat PW IPNU Jawa Barat di Jl Terusan Galunggung Bandung, Ahad (15/10).

Paham Kebangsaan Penting untuk Tangkal Radikalisme dan Intoleransi (Sumber Gambar : Nu Online)
Paham Kebangsaan Penting untuk Tangkal Radikalisme dan Intoleransi (Sumber Gambar : Nu Online)

Paham Kebangsaan Penting untuk Tangkal Radikalisme dan Intoleransi

Asep menerangkan, momentum hari Toleransi harus dijadikan titik tolak dimana pemahaman toleransi secara simultan bisa tersampaikan kepada semua pihak. Karena pentingnya nilai toleransi adalah jaminan keberlangsungan keberagaman yang merawat humanisme.

Pemuda Ciamis ini meneruskan, ada fenomena khusus yang terjadi sekarang ini karena rendahnya pemahaman nilai toleransi, yaitu merebaknya bibit gerakan radikal di kalangan pelajar. Ini menjadi keprihatinan kita bersama. Mengeliminir hal ini salah satunya dengan mendorong internalisasi nilai toleransi di kalangan pelajar.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Saat ini fakta bahwa anak muda sangat rentan dengan penetrasi radikalisme karena anak muda atau pelajar memiliki kecenderungan untuk menginternalisasi pandangan-pandangan radikalis yang di penetrasi oleh lingkungan terdekatnya,” jelasnya.

Temuan ini, tambahnya, tentu pada tingkat tertentu memerlukan penyikapan. Terlebih kesadaran keagamaan khususnya kesadaran keislaman yang tidak diimbangi dengan kesadaran kewarganegaraan yang memadai akan menjadi titik rawan bagi masuknya kelompok garis keras yang akan mentransformasikannya menjadi kekuatan Islam yang destruktif, intoleran dan membungkam keragaman.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Untuk itu, solusinya harus ada upaya kampanye toleransi dengan cara kreatif dengan melibatkan pelajar dan anak muda untuk menyampaikan toleransi dan pesan-pesan damai. Dan pesan toleransi ini dikemas dengan cara yang popular karena para pemuda itu suka yang agak popular,” terangnya. (Husni Mubarok/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Santri, RMI NU Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock