Tampilkan postingan dengan label Pondok Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pondok Pesantren. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Maret 2018

Ketua PBNU: Perlu Pemetaan Kaderisasi PMII

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Ketua PBNU Juri Ardiantoro mengatakan, orientasi kaderisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) harus diperluas, tidak hanya sekadar menambah jumlah kader, tapi menambah bobot atau kualitas kader.?

“Bobot kader juga harus diperluas tidak hanya sekadar menghiasi dunia politik, tapi dunia profesional. PMII harus mulai menyiapkan kader-kader untuk mengambil peran di wilayah itu,” katanya selepas menghadiri peringatan Harlah ke-57 yang digelar Pengurus Besar PMII di Jakarta pada Senin malam (17/4).

Untuk tujuan itu, Juri mengusulkan agar PMII melakukan pemetaan potensi kader dan pemetaan berdasar keunikan kader di tiap-tiap daerah.?

Ketua PBNU: Perlu Pemetaan Kaderisasi PMII (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua PBNU: Perlu Pemetaan Kaderisasi PMII (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua PBNU: Perlu Pemetaan Kaderisasi PMII

“Jadi, kaderisasi tak harus mesti sama seluruh daerah di seluruh Indonesia. Pada hal-hal yang sangat prinsip seperti tata, nilai, ideologi memang harus sama. Tapi pada konteks pengembangan kader dan penyiapan kepemimpinan ya harus memperhatikan karkater atau keunikan daerah,” jelasnya.?

Sehingga, lanjut mantan Ketua Komisi Pemilihan Umum Pusat itu, kader PMII di daerah tidak harus semua ke jakarta. “Itu PR PMII k depan,” tegasnya.

Ia menambahkan, untuk tujuan itu, selain pemetaan kader, PMII juga harus melakukan penguatan kelembagaan. (Abdullah Alawi)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pondok Pesantren, Daerah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 30 Januari 2018

LKNU-LBMNU Bahas Peraturan Pemerintah tentang Pelegalan Aborsi

Jakarta,Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) dan Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) membahas praktik aborsi yang dilegalkan pemerintah. Pembahasan tersebut berlangsung di lantai 5 Gedung PBNU Jakarta Rabu (1/10).

LKNU-LBMNU Bahas Peraturan Pemerintah tentang Pelegalan Aborsi (Sumber Gambar : Nu Online)
LKNU-LBMNU Bahas Peraturan Pemerintah tentang Pelegalan Aborsi (Sumber Gambar : Nu Online)

LKNU-LBMNU Bahas Peraturan Pemerintah tentang Pelegalan Aborsi

Pembahasan tersebut menelaah Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi yang di dalamnya terdapat bagian ada aborsi bagi korban perkosaan sebagai bagian dari darurat medis.

“Kegiatan ini diadakan salah satunya dalam rangka untuk menyatukan pandangan dari segi medis dan hukum fikih,” kata Ketua PP LKNU Imam Rosjidi, Rabu (01/10) di Lantai 5 Gedung PBNU Jakarta.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sementara Ustadz Mahbub Maafi dari PP LBMNU memaparkan bahwa peraturan pemerintah ini menurutnya masih prematur sehingga memerlukan kajian yang sangat mendalam sehingga tidak menjadi kontroversi di masyarakat.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Misal di Pasal 31 ayat 2 yang menyatakan bahwa tindakan aborsi akibat perkosaan hanya dapat dilakukan apabila usia kehamilan paling lama berusia 40 hari dihitung sejak hari pertama haid terakhir, hitungan 40 hari ini masih multitafsir,” terang Mahbub.

Sementara dari pihak Kementerian Kesehatan, Dwi Okta Amalia menuturkan, draft PP masih dalam proses pembahasan dan penyusunan. “Sebab itu masih butuh banyak masukan dari berbagai pihak,” terangnya.

Peraturan pemerintah ini, lanjutnya, benar-benar dibahas, disusun dan didiskusikan secara serius dan hati-hati sebelum positif dilahirkan.

Acara bertajuk “Bahtsul Masail Tentang Hukum Aborsi (Membedah PP 61/2014 Tentang Kesehatan Reproduksi) tersebut dihadiri Syuriah PBNU KH. Masdar Farid Masudi, Katib Syuriah PBNU KH. Afifuddin Muhajir dan dari PP RMI NU Ustadz Miftah Faqih. (Fathoni/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Fragmen, Quote, Pondok Pesantren Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kitab Kuning

Kitab Kuning adalah istilah untuk menyebut kitab-kitab klasik karya ulama-ulama terdahulu atau ulama salaf yang merupakan salah satu elemen utama dalam pengajaran di pesantren NU. 

Disebut kitab kuning kemungkinan besar karena kertas kitab-kitab klasik pertama yang sampai di Nusantara  dari Timur Tengah berwarna kekuning-kuningan. Kitab-kitab yang disebut kitab kuning ini  berisi berbagai disiplin ilmu agama Islam, termasuk kitab yang berisi komentar (syarah), komentar atas komentar (hasyiyah), terjemahan, dan saduran.

Kitab Kuning (Sumber Gambar : Nu Online)
Kitab Kuning (Sumber Gambar : Nu Online)

Kitab Kuning

Kitab-kitab kuning ditulis dalam aksara Arab tanpa harakat sehingga sering disebut juga dengan nama kitab gundul. Kitab-kitab yang ditulis belakangan oleh ulama asal Indonesia, yakni komentar, saduran, atau terjemahan ditulis dalam aksara Jawi (Arab Pego). 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sebagian dari kitab kuning ini ditulis dalam bentuk syair (nadhom) demi mempermudah penghafalan. Untuk bisa membaca dan memahami kandungan kitab kuning, orang setidaknya harus menguasai ilmu tata bahasa Arab yaitu nahwu dan sharaf. Untuk kitab-kitab yang berbentuk syair orang harus menambah lagi dengan penguasaan ilmu balaghah. 

Ilmu tata bahasa Arab ini dalam dunia pesantren disebut dengan istilah ilmu alat karena memang digunakan sebagai “alat” untuk membaca kitab kuning.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sebutan kitab kuning ini juga menjadi pembeda dengan munculnya kitab-kitab baru yang ditulis oleh kaum reformis atau modernis yang kebanyakan adalah tafsir al-Qur’an dan tentang hadits. Teks-teks yang ditulis kaum reformis ini kemudian dikenal dengan sebutan “buku putih”. 

Dalam masyarakat Islam Indonesia, istilah kitab merujuk pada teks yang ditulis dalam bahasa Arab, sementara istilah buku merujuk pada teks yang ditulis dalam bahasa Indonesia.

Martin van Bruinessen mengungkapkan bahwa kitab-kitab yang berisi inti ajaran Islam ini ditulis antara abad 10 hingga abad 15 Masehi. Beberapa kitab ditulis sebelum periode itu dan sejumlah karya juga ditulis setelah masa itu. 

Namun, pada akhir abad 15 pemikiran Islam sudah mencapai puncaknya dan tidak ada perkembangan signifikan dalam tradisi penulisan kitab ini. Dalam tradisi abad pertengahan, semua ilmu  dianggap sebagai sistem pengetahuan yang terbatas karena itu penambahan pada pengetahuan yang sudah ada dianggap tidak tepat. 

Karena itulah penulisan kitab-kitab ilmu pengetahuan agama Islam bisa dirangkum ke dalam delapan kategori:  melengkapi yang belum lengkap, mengoreksi yang salah, menjelaskan yang belum jelas, rangkuman dari karya yang panjang, kumpulan berbagai tulisan yang terpisah namun berkaitan, penyusunan tulisan-tulisan yang tidak teratur, dan ringkasan apa yang sebelumnya belum diringkas, serta terjemahan karya-karya terdahulu.

Pengetahuan yang ditulis dalam kitab kuning adalah sudah tetap. Kalaupun ada karya-karya baru, kitab-kitab itu tetap berada dalam batas-batas yang jelas dan tidak bisa lebih dari sekadar ringkasan, penjelasan, dan komentar dari hal-hal yang sudah ditulis sebelumnya. Hal inilah yang oleh kaum reformis dan modernis dianggap sebagai sumber kejumudan, meskipun dalam praktiknya tradisi kitab kuning jauh lebih fleksibel dari anggapan tersebut. Tradisi penulisan kitab ini sungguhlah kaya dan tetap menjadi lentur justru karena tradisi ini tidak mempunyai tendensi untuk menjadi sama atau konsisten. Di dalam kitab-kitab klasik ini sering dijumpai perbedaan pendapat antara kitab satu dengan kitab yang lain mengenai suatu persoalan.

Pengajaran kitab kuning di pesantren berbasis pada transmisi oral (pengajaran lisan). Teks-teks dalam kitab-kitab tersebut dibaca keras oleh kiai kepada santrinya yang juga memegang kitab yang sama sambil membuat catatan. Kemudian kiai memberi komentar dan menjelaskan makna-maknanya. Santri kemudian membaca kembali kitab itu sambil diperiksa bacaannya oleh kiai.  

Sejumlah pesantren sudah mulai mengajarkan kitab secara klasikal dan  menerapkan kurikulum yang sudah standar, namun sejumlah pesantren lain tetap menerapkan metode pengajaran kitab seperti disebut di atas. Setelah santri menuntaskan satu kitab biasanya ia akan mendapat ijazah dari kiainya dan bisa belajar kitab yang lain.

Di Indonesia, kitab kuning diterbitkan di antaranya oleh sejumlah penerbit di Surabaya (Salim Nabhan), Kudus (Menara Kudus), Semarang (Al-Munawwarah), Pekalongan (Raja Murah), Cirebon (Misriyya), dan Jakarta (Al-Shafi`iyya dan At-Tahiriyya). Sebagian besar kitab yang diterbitkan oleh penerbit-penerbit tersebut adalah cetak ulang dari kitab asli yang diterbitkan di Mekah, Beirut, atau Kairo. Sebagian masih menampilkan logo dari penerbit asli di halaman depan, namun ada pula yang logonya sudah diganti.

Penerbitan kitab-kitab klasik ini biasanya disertai komentar atau penjelasan yang kadang dicetak di baris tepi atau sebaliknya. Hal  ini memungkinkan keduanya bisa dipelajari bersama sekaligus membuat penyebutan kitab menjadi campur aduk antara kitab yang dikomentari dengan kitab komentar itu sendiri.

Misalnya kitab Taqrib (Al-ghaya wa’l-Taqrib karya Abu Shuja` al-Isfahani) dan komentarnya Fath al-Qarib (karya Ibn Qasim al-Ghazzi) sering dicetak dalam satu kitab, atau sebutan kitab Mahalli merujuk  pada kitab yang ditulis oleh Qalyubi dan `Umayra yang di dalamnya terdapat kitab Kanz ar-Raghibin karya Jalaluddin Muhammad bin Ahmad al-Mahalli  yang dicetak di bagian tepi. Kitab Kanz ar-Raghibin sendiri merupakan komentar (syarah) atas kitab Minhaj at-Talibin, sebuah  kitab fiqih mazhab Syafi’i karya Imam Nawawi.

Dalam hal format, kitab kuning biasanya dicetak dalam ukuran kwarto (26 cm) dan tidak dijilid.  Lembaran-lembarannya terpisah di dalam sampul sehingga memudahkan para santri bisa mengambil salah satu lembar yang akan dipelajarinya. Dengan dicetak dalam kertas yang tetap berwarna kekuningan membuat penampilan kitab karya ulama-ulama klasik itu menjadi semakin tampak klasik. (Sumber: Ensiklopedi NU)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan IMNU, Santri, Pondok Pesantren Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 26 Januari 2018

Awal November, Peringatan Pengukuhan Wayang sebagai Pusaka Dunia Dimulai

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Yayasan Pesantren Kaliopak, Yogyakarta, akan menggelar peringatan 11 tahun pengukuhan wayang sebagai Adikarya Pusaka Kemanusiaan Dunia oleh Lembaga Kebudayaan PBB (UNESCO). Kegiatan digelar selama sebulan, 1 November – 6 Desember 2014, dipusatkan di Kompleks Pesantren Kaliopak, Piyungan, Yogyakarta.

Rangkaian acara peringatan dilaksanakan oleh Komunitas Rumah Budaya Nusantara Pesantren Kaliopak Piyungan Yogyakarta, atas bantuan dana dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI dan dukungan-dukungan lain dari berbagai lembaga, individu dan komunitas budaya yang peduli.

Awal November, Peringatan Pengukuhan Wayang sebagai Pusaka Dunia Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)
Awal November, Peringatan Pengukuhan Wayang sebagai Pusaka Dunia Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)

Awal November, Peringatan Pengukuhan Wayang sebagai Pusaka Dunia Dimulai

Awal November, Sabtu-Ahad (1-2/11) kegiatan dimulai dengan acara peluncuran di gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, bersamaan dengan pelaksanaan Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar NU.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selanjutnya, peringatan Pengukuhan Wayang sebagai Pusaka Dunia akan dipusatkan di Pesantren Kaliopak Yogyakarta, dimulai dengan Diskusi Pendahuluan “Epos Mahabharata, Lakon-Lakon Wayang Jawa dan Cultural Studies” pada 10 November bersama Ki Herman Sinung Janutama (Spiritualis Jawa di Yogyakarta), Dr. St. Sunardi (Dosen IRB, Univ Sanata Dharma Yogyakarta), dan Dr. Holland C. Taylor (Spiritualis dan Ahli Sastra Jerman dari Harvard University USA).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kegiatan dilanjutkan dengan Seminar Nasional “Wayang dan Krisis Manusia Nusantara, Prof. Dr. Sri Heddy Ahimsa Putra (UGM), Dr. Sindhunata SJ. (Majalah Basis), M. Jadul Maula (Pesantren Kaliopak) pada 17 November. Rais Aam PBNU KH Musthofa Bisri dijadwalkan menyampaikan pidato iftitah dalam seminar ini.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan hingga 6 Desember berturut-turut mulain Belajar Bersama “Pesantren, Wayang, dan Jatidiri Bangsa”, Pameran Bentuk-bentuk dan Komik Wayang, Lomba Mewarnai dan Dongeng Wayang, Wayang Edukatif, Pentas Seni Tradisi dan Modern, dan Pagelaran Wayang Kulit.

Pagelaran Wayang Kulit diselenggarakan pada 6 Desember sebagai puncak acara, sekaligus penutup kegiatan pameran dan rangkaian event publik lainnya, akan digelar wayang kulit semalam suntuk, dengan lakon “Ilange Pusaka Jamus Kalimasadha”, dalang Ki Gondo Suharno. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Nasional, Pondok Pesantren, Ahlussunnah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 17 Januari 2018

Pengamat: Peningkatan Suara PKB karena “Efek NU”

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Direktur Ekskutif Indo Barometer Muhammad Qodari menilai peningkatan perolehan suara Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang hampir 100 persen pada pemilu legislatif 2014 merupakan efek dari dukungan Nahdlatul Ulama.

Pengamat: Peningkatan Suara PKB karena “Efek NU” (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengamat: Peningkatan Suara PKB karena “Efek NU” (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengamat: Peningkatan Suara PKB karena “Efek NU”

"Peningkatan suara PKB, bukan karena efek Rhoma Irama, tapi efek dukungan NU. Karena, hasil survei, elektabilitas Rhoma itu rendah," kata Muhammad Qodari ketika dihubungi melalui telepon selulernya, Kamis.

Menurut Qodari, peningkatan suara PKB dari sekitar lima persen pada pemilu legislatif 2009 menjadi 9,5 persen berdasarkan hasil hitung cepat pada pemilu legislatif 2014, menunjukkan berkumpulnya kembali kaum nahdliyin ke partai yang dipimpin Muhaimin Iskandar tersebut.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Qodari menegaskan, NU berperan penting penting pada PKB, karena NU yang melahirkan PKB, pada era kepemimpinan KH Abdurrahman Wahid.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"NU adalah organisasi keagamaan sangat besar. Karena, sekitar 30 persen penduduk muslim Indonesia adalah warga NU," katanya.

Qodari menilai, berkumpulnya aspirasi politik warga NU di PKB hingga perolehan suaranya meningkat hampir 100 persen, berkat orkestrasi Muhaimin yang mampu mengoptimalkan berbagai potensi yang ada.

Menurut dia, Muhaimin mau mengalah dan memberi tempat besar pada sosok seperti Rhoma Irama dan Ahmad Dani pada kampanye-kampanye, memberikan tempat kepada pemilik sebuah maskapai penerbangan Rusdi Kirana dengan dukungan sumber dayanya, serta ketokohan Mahfud MD dan Jusuf Kalla yang banyak menjadi sumber pemberitaan.

"PKB juga memanfaatkan potensi ketokohan Said Aqil Siroj (Ketua PBNU) yang ditampilkan dalam iklan-iklan resmi PKB," katanya.

Merujuk dari hasil analisa perolehan suara partai politik dari Exit Poll Kompas, faktor Nahdhiyin memang begitu dominan dalam kontribusi peningkatan perolehan suara PKB. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pondok Pesantren, Pahlawan, News Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 16 Januari 2018

Presiden Iran Hargai Pernyataan Maaf Paus

Caracas, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad, Senin (18/9) mengungkapkan rasa hormatnya atas pernyataan maaf Paus Benediktus XVI soal Islam dan penyebaran ajaran Nabi Muhammad sebagai "kejahatan dan tidak manusiawi" yang menuai protes dari umat Islam di seluruh dunia.

"Kami menghargai Paus dan seluruh pihak yang cinta pada perdamaian dan keadilan," ungkap Ahmadinejad. "Saya memahami bahwa dia (Paus Benediktus XVI) telah meralat pernyataannya yang dia buat."

Presiden Iran Hargai Pernyataan Maaf Paus (Sumber Gambar : Nu Online)
Presiden Iran Hargai Pernyataan Maaf Paus (Sumber Gambar : Nu Online)

Presiden Iran Hargai Pernyataan Maaf Paus

Seperti diberitakan, Paus dalam kuliah umum di Aula Magna, Universitas Regensburg, Jerman, Selasa lalu, mengutip pernyataan Kaisar Bizantium (kini Turki) Manuel II Paleologus mengenai makna jihad dalam Islam dan penyebaran Islam dengan pedang. Sehubungan dengan itu, Paus "dengan setulusnya menyesali" bahwa pernyataannya tersebut telah melukai umat Islam, di mana kalimat itu sama sekali tidak berhubungan dengan maksud Paus.

Dalam kunjungannya selama dua hari ke Venezuela, Ahmadinejad juga mengatakan adanya kontradiksi antara nilai-nilai (ajaran) Kristen negara-negara Barat dengan perang yang selama ini mereka lancarkan.

"Seluruh pertempuran abad ke-20 (terjadi) disebabkan oleh (ulah) sejumlah negara Eropa dan Amerika Serikat (AS)," kata Ahmadinejad seperti dilansir sumber AP dan AFP.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dia juga mengingatkan bahwa "Isa sebagaimana nabi-nabi yang lain adalah figur yang cinta perdamaian dan keadilan bagi kemanusiaan." (dar)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ubudiyah, Pondok Pesantren, Hadits Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 10 Januari 2018

Menag Malaysia Kunjungi PBNU, Tanyakan Soal Ahmadiyah

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Menteri Agama Malaysia Dato Sri Dr Ahmad Zahid Hamidi melakukan kunjungan ke PBNU, Kamis (3/7). Salah satu materi yang dibicarakan dengan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi adalah sikap NU terhadap aliran Ahmadiyah.



Menag Malaysia Kunjungi PBNU, Tanyakan Soal Ahmadiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag Malaysia Kunjungi PBNU, Tanyakan Soal Ahmadiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag Malaysia Kunjungi PBNU, Tanyakan Soal Ahmadiyah

Hasyim menjelaskan, persoalan Ahmadiyah di Indonesia memang cukup pelik karena adanya kelompok yang pro dan kontra terhadap keberadaan Ahmadiyah di Indonesia. Kelompok Islam garis keras menginginkan aliran tersebut dibubarkan sedangkan kelompok sekuler mendesak agar pemerintah tetap menghargai keberadaan Ahmadiyah sebagai bagian dari kebebasan berkeyakinan.

“NU menganggap aliran Ahmadiyah bagian dari penodaan agama, bukan kebebasan beragama. Kalau mereka mengaku sebagai agama tersendiri malah gampang. Lho ini ngaku Islam tapi nabinya lain,” ujarnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ia yakin, pendapat PBNU ini merupakan cerminan dari sebagian besar pemikiran umat Islam yang ada di Indonesia.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Presiden World Conference of Religions for Peace ini menjelaskan polemik Ahmadiyah di Indonesia ini juga sudah melibatkan jaringan internasional mereka. Ia mengaku sempat didatangi oleh seorang pejabat tinggi dari sebuah negara di Eropa yang mendorong agar Ahmadiyah bisa tetap beraktifitas di Indonesia.

“Ya saya jawab, boleh saja, asal jangan ngaku Islam,” katanya.

Saat ini, yang paling penting menurut Pengasuh Ponpes Mahasiswa Al Hikam Malang ini adalah mendakwahi para pengikut Ahmadiyah agar kembali pada ajaran Islam. Ia juga berharap kerjasama Islam moderat di Indonesia dan Malaysia, yang dikenal dengan istilah Islam Hadari terus dikembangkan.

Ahmadiyah Dilarang di Malaysia

Zahid Hamidi menjelaskan pemerintah Malaysia juga melarang keberadaan Ahmadiyah karena meyakini adanya nabi baru setelah Nabi Muhammad Saw.

“Ini bukan soal dholalah (kesesatan.red), tapi kalau sudah mengenai dua nabi, itu sudah agama lain,” katanya.

Untuk menjaga kerukunan dan keharmonisan umat beragama pemerintah Malaysia mendirikan Darul Iftah. Aliran yang dianggap menyimpang diputuskan oleh Majelis Fatwa Kebangsaan. “Namun sebelumnya kita usahakan dulu melalui dakwah bil hikmah wal mauidotil hasanah,” tandasnya. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pondok Pesantren, Kajian Sunnah, Ahlussunnah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 02 Januari 2018

Penutupan Lokalisasi demi Angkat Harkat dan Martabat Wanita

Tegal, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan



Pemerintah Kabupaten Tegal menutup secara permanen lokalisasi prostitusi di wilayah pantura Jumat (19/5). Penutupan secara simbolis dipusatkan di lokalisasi Peleman, Desa Sidaharja, Kecamatan Suradadi.

Penutupan Lokalisasi demi Angkat Harkat dan Martabat Wanita (Sumber Gambar : Nu Online)
Penutupan Lokalisasi demi Angkat Harkat dan Martabat Wanita (Sumber Gambar : Nu Online)

Penutupan Lokalisasi demi Angkat Harkat dan Martabat Wanita

Penutupan lokalisasi dilakukan dengan penyerahan bantuan bagi eks penghuni lokalisasi dilakukan oleh Wakil Bupati Tegal Hj Umi Azizah yang dihadiri Direktur Rehabilitasi Sosialisasi Tuna Sosial (RSTS) dan Korban Pedagangan Orang (KPO) Kementerian Sosial (Kemensos) Sonny W Manalu, Forkompinda Kabupaten Tegal, Dinas Sosial Jawa Tengah, Kepala SKPD dan turut dihadiri ratusan eks PSK penghuni lokalisasi.

"Penutupan secara permanen lokalisasi di Kabupaten Tegal dilakukan untuk mengangkat harkat dan martabat wanita. Saya yakin, mereka (PSK, red.) akan hidup lebih baik," kata Wakil Bupati Tegal Umi Azizah.

Umi yang juga Ketua PC Muslimat NU itu menuturkan, penutupan lokalisasi itu, bukan tanpa halangan. Banyak teror yang diterima para petugas dari Dinas Sosial (Dinsos). Namun dia bersyukur karena penutupan berjalan aman dan tertib.?

Menurutnya, tantangan terberat dalam agenda itu adalah setelah penutupan lokalisasi, yakni bagaimana mengupayakan agar para PSK tidak terjun kembali ke lokalisasi.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Mereka harus melanjutkan aktivitas sehari-hari, baik untuk memenuhi kebutuhan ekonomi maupun hidup di lingkungan sosial. Saya sangat berharap mereka tak menggantungkan hidup dari pekerjaan menjadi PSK," harapnya.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kepala Dinas Sosial Pemkab Tegal Nurhayati membeberkan, dari hasil verifikasi, jumlah PSK yang mendapatkan bantuan Kemensos sebanyak 259 orang.

Mereka berasal dari lokalisasi Peleman, Kecamatan Suradadi 111 orang, lokalisasi Gang Sempit, Kecamatan Kramat 38 orang, lokalisasi Wandan, Kecamatan Kramat 65 orang, lokalisasi Turunan Pengasinan dan Turunan Kramat di Kecamatan Kramat 45 orang.?

"Penyaluran bantuan melalui rekening BRI. Masing-masing mendapatkan Rp 5,5 juta yang berasal dari DPA Dinas Sosial dan bantuan Kemensos sebesar Rp 1,4 Milyar," bebernya

Dia menambahkan, jumlah PSK asal Kabupaten Tegal 58 orang dan PSK dari luar Kabupaten Tegal 201 orang. "PSK dari luar Tegal telah bersedia dipulangkan ke kampung halaman masing-masing," pungkasnya. (Hasan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Fragmen, Pondok Pesantren Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 31 Desember 2017

Santri Mitra Kamtibmas di Tegal Rebut Rekor Muri

Tegal, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Ribuan santri dari berbagai daerah di Kabupaten Tegal berkumpul di halaman Pendopo Amangkurat, Jumat (18/12). Mereka menghadiri deklarasi "Santri Mitra Kamtibmas". Deklarasi ini berhasil memecahkan rekor Muri.

Santri Mitra Kamtibmas di Tegal Rebut Rekor Muri (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Mitra Kamtibmas di Tegal Rebut Rekor Muri (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Mitra Kamtibmas di Tegal Rebut Rekor Muri

Deklarasi yang digagas oleh Polres Tegal, Pemkab Tegal, dan GP Ansor Tegal ini diikuti santri yang mayoritas adalah pelajar dan pemuda Tegal. Mereka datang berjalan kaki, menggunakan sepeda, sepeda motor, dan truk sejak pukul 06.00.

Acara  dihadiri Kapolda, Bupati, Kapolres, Dandim dan sejumlah pejabat di lingkungan Pemkab Tegal. Acara ini dikawal ratusan personel TNI dan Polri lengkap dengan kendaraan taktisnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Deklarasi ini penting untuk membantu ketenteraman dan ketertiban di Tegal," kata Bupati Tegal Ki Enthus Susmono.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Berdasarkan pantuan di lapangan ribuan santri dan ratusan petugas kepolisian yang memadati halaman pendopo Amangkurat ini terlihat menikmati hiburan hadroh yang ditampilkan.

Dengan memakai busana muslim lengkap dengan peci, mereka tampak antusias dan mengikuti lantunan dan gerakan dari lagu yang dinyanyikan oleh anggota grup musik hadroh. (Abdul Wahab/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Lomba, Pondok Pesantren Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 30 Desember 2017

Anggota DPR Gelar Halal Bihalal dan Dialog dengan Warga NU

Jepara, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Masih dalam suasana bulan Syawal, selain dimanfaatkan untuk melaksanakan halal bihalal saling maaf memaafkan, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, H Fathan Subchi memanfaatkan hari kemenangan dengan melakukan dialog interaktif dengan warga NU Jepara yang berlangsung di aula Gedung Haji/ IPHI, Jalan MT Haryono Kompleks Islamic Center, Jepara, Kamis (30/7).

Kegiatan yang diikuti ratusan orang ini melibatkan perwakilan MWCNU, Badan Otonom NU serta tamu undangan dari unsur lain. Juga dihadiri perwakilan dari Pemkab Jepara.

Anggota DPR Gelar Halal Bihalal dan Dialog dengan Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Anggota DPR Gelar Halal Bihalal dan Dialog dengan Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Anggota DPR Gelar Halal Bihalal dan Dialog dengan Warga NU

Dalam paparannya, Fathan menyampaikan dalam kurun waktu 10 bulan masyarakat boleh kecewa dan merasa belum puas dengan kinerja DPR tetapi pihaknya tidak tinggal diam. Dalam waktu menjelang 1 tahun ini pihaknya melakukan reses selama 5 kali. Reses adalah turun ke rakyat mendengar dan mendengar aspirasi rakyat.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pada periode 2014-2019 ia menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi VIII yang membidangi sosial, agama dan pemberdayaan perempuan. Misalnya perihal haji, pihaknya meminta Kemenag untuk melakukan reformasi. Karena sebagaimana hasil studi banding di Turki di sana penyelenggaraan haji dikelola 2 badan pemerintah menangani 80 % dan swasta 20 %.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Di sana ada juga badan pengelola keuangan haji,” lanjutnya.

Karena itu RUU Haji perlu dirumuskan kembali oleh DPR. RUU lain yang ia tangani ialah Disabilitas atau penanganan orang cacat.

Masih di komisinya Wakil Ketua PP Lazisnu juga memperjuangkan keberadaan dana bagi pesantren dan madrasah. Menurutnya dana senilai 20-25 trilyun layak untuk pengembangan pesantren dan madrasah agar pendidikan agama menjadi semakin bagus.

Ia menegaskan tidak boleh ada dikotomi sekolah dan madrasah sehingga 20% anggaran untuk agama. Sebab dengan agama moral bangsa menjadi lebih baik. Agar lebih baik perlu ditopang dengan sumber pendanaan yang mencukupi. (Syaiful Mustaqim/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pondok Pesantren, Syariah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 25 Desember 2017

“Negara Ini Mau Jadi Apa, Tergantung Bagaimana Pemudanya”

“Negara Ini Mau Jadi Apa, Tergantung Bagaimana Pemudanya” 

Pemuda sebagai pemegang masa depan menjadi unsur penting, termasuk di dalam organisasi GP Ansor. Untuk itu kaderisasi di kalangan muda merupakan salah satu prioritas program yang digagas kepengurusan GP Ansor masa khidmat 2015-2020. Berikut wawancara Kontributor Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Kendi Setiawan dengan Ketua Umum PP GP Ansor  H Yaqut Cholil Qoumas (Gus Tutut) di Jakarta.

Gus Tutut, berdasarkan data terbaru kader GP Ansor saat ini 1,7 juta. Melihat banyaknya warga NU dan pemuda-pemuda NU, apakah jumlah ini sudah seimbang dan sudah maksimal?

Ini tantangannya, saya membaca survey  jumlah warga NU itu 60 juta. Nah kalau baru 1,7 juta, ini masih kurang banyak. Kita nggak akan berhenti melakukan kaderisasi, karena ini juga menjadi visi kita memperkuat kaderisasi. Kita akan terus-menerus melakukan kaderisasi. 

“Negara Ini Mau Jadi Apa, Tergantung Bagaimana Pemudanya” (Sumber Gambar : Nu Online)
“Negara Ini Mau Jadi Apa, Tergantung Bagaimana Pemudanya” (Sumber Gambar : Nu Online)

“Negara Ini Mau Jadi Apa, Tergantung Bagaimana Pemudanya”

Negara ini mau jadi apa, tergantung bagaimana pemudanya. Presiden Soekarno pernah bilang “Berikan saya sepuluh pemuda, maka akan saya guncang dunia.” Dalam konteks GP Ansor saya kira penting melakukan kaderisasi. Mengapa? Karena GP Ansor ini akan menjadi masa depan NU sekaligus NU masa depan. Jadi kalau Ansor tidak benar dalam melakukan kaderisasi, maka ke depan NU pun tidak akan benar dalam mengelola organisasi dan tentu kepentingan-kepentingannya. 

Kaderisasi ini menjadi sangat penting, karena GP Ansor itu NU masa depan dan masa depan NU. Jadi bentuk NU ke depan itu tergantung bentuk GP Ansor hari ini, saya kira itu.

Sejauh ini upaya apa yang dilakukan untuk mengikat anak muda agar mau bergabung dengan GP Ansor?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Memang menjadi berbeda mengajak sahabat muda di pedesaan itu jauh lebih mudah daripada di perkotaan. Orang kota itu biasanya lebih apatis, tidak peduli, apalagi dengan GP Ansor sebagai organsiasi yang dicitrakan berafiliasi ke NU yang masih dianggap sebagian  orang sebagai organisasi tradisional, dan sebagainya. Tentu kita punya cara bagaimana mengajak pemuda terutama nahdliyin  untuk gabung dengan GP. 

Kalau di desa bikin pengajian tokohnya NU kiai NU kita tampilkan di pengajian, lalu kita ajak pemudanya, pasti mau. Tetapi di kota jauh lebih sulit karena di kota itu lebih banyak apatis. Kita punya beberapa strategi, salah satuya kita gandeng public figure untuk bergabung di GP Ansor. Salah satu daya tarik pemuda kota untuk bergabung. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sebagai contoh di Jakarta misalnya, kita ajak Al dan El putra Ahmad Dani. Mereka (Al dan El) sudah mengikuti kaderisasi PKD (Pelatihan Kader Dasar) sekarang resmi menjadi anggota GP Ansor. Tiap PKD kita tampilkan Al dan El untuk menarik anak muda kota mau bergabung dengan Ansor. Harapan kita ini menjadi salah satu daya tarik selain tentu saja konsistensi dalam mempertahankan NKRI, Pancasila, dan ahlusunnah waljamaah.

Bagaimana upaya menyinergikan GP Ansor dengan banom/lembaga NU yang lain? 

Ya kita akan selalu  jalin komunikasi karena sinergi tidak akan terwujud tanpa adanya komunikasi. Alhamdulillah, selama ini kita juga berkomunikasi dengan baik terutama dengan induk kita, PBNU. Komunikasi dengan banom-banom lain sebisa mungkin kita lakukan, karena kita berharap sinergi organisasi bisa terwujud.

Kalau dengan swasta dan pemerintah seperti apa, Gus?

Dengan pemerintah tentu kita lakukan sinergi-sinergi juga. Banyak ya kita misalnya terkait dengan bela negara kita punya MoU dengan Kementerian Pertahanan, dalam rangka melakukan upaya kegiatan bela negara. Dan pihak sewasta juga kita lakukan selama ada hubungan yang saling menguntungkan bagi kami maupun pihak swasta. Kita tidak menabukan itu. Itu sah-sah saja.

Terkait dengan adanya isu, dan bukan hanya isu tetapi fakta, akhir-akhir ini tentang adanya upaya pihak-pihak yang ingin menggeser Pancasila dari NKRI, apa yang disiapkan GP Ansor ke depan?

Siapa pun yang hidup di Indonesia, yang menghirup udara Indonesia, makan dari bumi Indonesia tetapi tidak menerima ideologi Pancasila, dan bentuk NKRI, harus keluar, pergi Indonesia. Kalau mereka tetap nggak mau, Banser/Ansor siap untuk mengusir mereka.

(Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Santri, Pondok Pesantren Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 14 Desember 2017

Hadiah Orang Hidup Kepada Orang Mati

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Redaksi Bahtsul Masail yang saya hormati. Terlebih dahulu saya minta maaf jika nanti pertanyaannya terkesan konyol dan mengada-ada. Jujur saja saya awam dalam soal agama, dan baru-baru ini kesadaran untuk belajar agama saya muncul.

Beberapa minggu yang lalu saya mendapatkan hadiah dari istri berupa jam tangan. Teman saya mengeluarkan celetukan, “Itu hadiah dari orang hidup ke orang hidup, dan jelas bisa sampai.” Nadanya sedikit meledek, kemudian teman saya melanjutkan bahwa kiriman hadiah doa orang hidup ke orang mati tidak bakal sampai karena sudah beda alam. Saya ingin saya tanyakan adalah bagaimana pandangan ustadz mengenai hal ini?

Hadiah Orang Hidup Kepada Orang Mati (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadiah Orang Hidup Kepada Orang Mati (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadiah Orang Hidup Kepada Orang Mati

Mohon penjelasanya. Karena setahu saya, dulu orang tua sering menasihati agar selalu kirim doa kepada yang telah meninggal dunia. Wassalamu ’alaikum wr. wb. (Agus/Jakarta)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jawaban

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Pertama kami mengucapkan puji syukur kepada Allah atas munculnya kesadaran keagamaan penanya.

Bahwa nasihat orang tua kepada anaknya untuk selalu mendoakan kepada keluarga atau famili atau orang saleh yang telah meninggal dunia adalah hal yang sangat baik. Sudah sepatutnya untuk dilestarikan karena hal itu merupakan salah satu bukti bakti kita kepada mereka yang telah mendahului kita.

Orang yang hidup memberikan hadiah kepada yang masih hidup dengan hadiah material adalah hal biasa.

Namun, pertanyaannya apa yang dapat kita berikan kepada orang-orang yang telah mendahului kita? Tentu yang dapat kita berikan bukanlah materi. Lantas apa yang dapat kita berikan sebagai hadiah?

Jawabnya adalah doa dan permohonan ampunan (istighfar). Inilah yang paling layak untuk dihadiahkan kepada orang-orang yang telah meninggal dunia. Karena itu kemudian dikatakan bahwa hadiah orang hidup kepada yang meninggal dunia adalah doa dan permohonan ampunan.

? ? ? ? ?

Artinya, “Hadiah orang-orang yang masih hidup kepada orang-orang yang telah meninggal dunia adalah doa dan memintakan ampunan kepada Allah (istighfar) kepada mereka,” (Lihat Syekh Nawawi Banten, Nihayatuz Zain, Beirut, Darul Fikr, tt, halaman 281).

Dalam sebuah riwayat—sebagaimana dikemukakan Syekh Nawawi Al-Bantani— dikatakan bahwa di dalam kubur, orang yang meninggal dunia seperti orang tenggelam yang meminta pertolongan berupa doa. Ia menanti datangnya doa dari anaknya, saudara, atau temannya. Ketika ia mendapatkannya, maka itu lebih ia sukai ketimbang dunia dengan seluruh isinya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?-? ? ? ? ? ? ?-? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Diriwayatkan dari Nabi SAW, beliau bersabda, ‘Tidak ada mayit yang berada dalam kuburnya kecuali ia seperti orang tenggelam yang meminta pertolongan—kal ghariqil mughawwats dengan diharakati fathah pada huruf wawunya yang bertasdid, yaitu orang yang meminta pertolongan—ia menunggu setetes doa yang yang dikirimkan anaknya, saudara, atau temannya. Karenanya ketika ia mendapatkan doa, maka hal itu lebih ia sukai dibanding dunia dengan seluruh isinya,’” (Lihat Syekh Nawawi Banten, Nihayatuz Zain, halaman 281).

Dari sinilah kemudian dapat dipahami betapa orang yang telah meninggal dunia itu sebenarnya mengharapkan kiriman atau hadiah doa dari orang yang masih hidup. Dengan kata lain, kiriman atau hadiah doa itu akan sangat berarti baginya, bahkan pahalanya pun akan sampai.

Karena itu para ulama—sebagaimana dikemukakan Muhyiddin Syarf An-Nawawi—menyatakan kesepakatan bahwa doa dari orang yang masih hidup kepada yang telah meningal dunia itu bermanfaat dan pahalanya akan sampai kepadanya. Salah satu dalil yang digunakan untuk mendukung pendapat ini adalah firman Allah SWT berikut ini:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, ‘Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan suadara-saudara kami yang telah beriman terlebih dulu dari kami,” (QS Al-Hasyr ayat 10).

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Para ulama sepakat bahwa doa untuk orang-orang yang telah meninggal dunia akan memberikan manfaat kepada mereka dan akan sampai juga pahalanya kepada mereka. Para ulama ini berdalil dengan firman Allah SWT, ‘Orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, ‘Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan suadara-saudara kami yang telah beriman terlebih dulu dari kami,’ (Al-Hasyr ayat 10),’” (Lihat Muhyiddin Syarf An-Nawawi, Al-Adzkar An-Nawawiyyah, Jakarta, Darul Kutub Al-Islamiyah, cet ke-1, 1425 H/2004 M, halaman 180).

Demikian jawaban sederhana ini yang dapat kami sampaikan. Teruslah mendoakan orang-orang yang telah mendahului kita karena itu sangat bermanfaat bagi mereka. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Mahbub Maafi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Hikmah, Humor Islam, Pondok Pesantren Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 13 Desember 2017

NU Demak Selenggarakan Pendidikan Da’i Densus 26

Demak, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Nahdlatul Ulama sebagai penerus da’wah Walisongo dan para ulama terdahulu telah meletakkan dasar dasar kehidupan agama yang kuat dan menyatu dengan budaya masyarakat sekitar.

NU Demak Selenggarakan Pendidikan Da’i Densus 26 (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Demak Selenggarakan Pendidikan Da’i Densus 26 (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Demak Selenggarakan Pendidikan Da’i Densus 26

Dengan cara seperti inilah Islam bisa berkembang secara massif dan menjadi agama yang dipeluk oleh mayoritas warga Indonesia. Sayangnya, di awal abad 20 Wahabi masuk di Indonesia dengan dalih modernisasi Islam mulai mengusik dengan membid’ahkan, tahayyul, dan khurofat terhadap amaliah Aswaja yang pada waktu itu dianut masyarakat.

“Wahabi masuk ke Indonesia dengan dalih modernisasi Islam berani mengusik dan mengganggu amaliah ahlussunnah wal jamaah yang selama ini sudah mengakar dan berjalan ratusan tahun dengan kedamaian dan dinamika keislaman dan kebangsaan,” demikian disampaikan pengurus pusat LAZISNU H Fathan Subchi pada acara Pendidikan Khusus Da’i Ahlussunnah wal Jama’ah 26 (Densus 26) Sabtu 27/4 di gedung IHM NU Demunggalan Demak yang diselenggarakan oleh PCNU Demak dengan PP LAZISNU.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Fathan menjelaskan pelaksanaan pendidikan ini menghadirkan narasumber yang sudah ditunjuk oleh PBNU sekaligus kitab yang dijadikan rujukan yaitu Al-Muqtathafat li Ahli Bidayaat.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Kita menghadirkan KH Marzuki Mustamar karena beliau yang ditunjuk oleh PBNU dengan kitab karangannya Al-Muqtathafat li Ahli Bidayaat,” jelas Fathan.

Dalam pengarahannya dihadapan 400-an kiai, pengurus NU Cabang hingga Ranting serta santri ketua PCNU Demak KH Musyadad Syarif mengatakan pelaksanaan Densus 26 dengan cara ngaji bareng tersebut dimaksudkan untuk menjelaskan amaliah-amaliah Aswaja yang menjadi jantungnya NU dikarenakan menjadi keprihatinan dimana besarnya jumlah warga NU, namun sedikit dalam pemahaman ajaran NU itu sendiri. 

“Ngaji Aswaja ini untuk memahami jantungnya NU, dikarenakan banyak orang NU tapi sedikit sekali yang memahami inti ajaran NU itu sendiri.”

Lebih lanjut ketua NU tersebut menambahkan NU didirikan untuk menguatkan Aswaja yang terkait dalam sistem kenegaraan dikarenakan selama ini selalu merujuk pada Piagam Madinah, yaitu konsep yang termaktub dalam hidup kebersamaan dengan penuh toleransi, menghormati antar sesama. 

“Piagam Madinah itu kan rahmatan lil alamin. Jika ini terjadi dan berjalan terus maka akan terjadi negara yang kokoh dikarenakan ideologi faham aswaja,” tambah Musyadad 

Redaktur     : Mukafi Niam

Kontributor : A.Shiddiq Sugiarto

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pondok Pesantren, AlaNu Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 21 Oktober 2017

Habib Luthfi, Nasionalisme, dan Kharismanya di Hadapan Ulama Dunia

Oleh Much. Ngisom Cholil



Hajatan besar Jamiyyah Ahlit Thariqah Al Mutabarah An Nahdliyyah (JATMAN) berupa Konferensi Ulama Internasional bela negara baru saja usai digelar. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari dari tangga 27 hingga 29 Juli 2016 di Kota Pekalongan berjalan sangat sukses, setidaknya dari segi pelaksanaan mulai kegiatan penunjang seperti pawai merah putih, pentas musik Debu, taaruf peserta yang dihadiri Kemenhan RI hingga istighotsah semuanya berjalan dengan lancar.

Habib Luthfi, Nasionalisme, dan Kharismanya di Hadapan Ulama Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfi, Nasionalisme, dan Kharismanya di Hadapan Ulama Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Luthfi, Nasionalisme, dan Kharismanya di Hadapan Ulama Dunia

Sedangkan kegiatan utama berupa konferensi bela negara diikuti oleh ribuan peserta dari dalam dan luar negeri. Dari dalam negeri sendiri tercatat ada 1500 peserta hadir dari utusan pengurus thariqah cabang dan wilayah se Indonesia, akademisi, pesantren dan pengurus NU, kemudian dari luar negeri ada 69 delegasi dari 40 negara.

Tidak hanya itu, forum konferensi ulama internasional juga berhasil merumuskan 15 konsensus atau kesepakatan tentang bela negara yang dibuat oleh para pembicara/nara sumber dan delegasi luar negeri sebagai rekomendasi resmi untuk ditujukan kepada pimpinan pemerintahan Indonesia dan negara asal delegasi. (Baca: Ini 15 Konsensus Hasil Konferensi Ulama Internasional Bela Negara)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ada satu hal yang menarik dalam proses perumusan konsensus, yakni jika selama ini perumusan konsensus atau kesepakatan bersama biasanya dibuat oleh Steering Committee (SC) atau tim perumus yan telah ditetapkan oleh panitia, kali ini justru pihak panitia sama sekali tidak "cawe-cawe" dalam pembuatan perumusan, semuanya diserahkan kepada delegasi asal luar negeri yang sebagian dari mereka menjadi pembicara dalam konferensi. Maka tidak heran ketika naskah perumusan dibacakan oleh Syech Mohammad Adnan Al Afyuni asal Damaskus masih asli tulisan berbahasa arab dan panitia maupun wartawan belum dapat kopiannya hingga acara pembacaan selesai.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari keseluruhan poin konsensus, Syekh Muhammad Rajab Dieb (Mursyid Thariqah Naqsabandiyah di Syiria) dalam pidato penutupan konferensi mengambil benang merah bahwa negara merupakan sebuah wilayah yang ditempati seluruh manusia dengan beragam keyakinan, suku, bangsa, bahasa dan lain-lain sehingga wajib dijaga oleh setiap individu dalam rangka menciptakan kesatuan, persatuan, dan perdamaian. “Untuk tujuan mulia itu, setiap individu atau kelompok yang tentunya mempunyai agama wajib menjaga dan membela tanah air atau negaranya. Dengan kata lain, membela negara merupakan kewajiban agama,” tegas Syekh Muhammad Rajab Dieb.

Syekh Muhammad juga menyampaikan, bangsa Indonesia harus bergembira bahwa negaranya merupakan referensi dunia jika berbicara tentang kecintaan pada tanah air. Oleh karena itu, ulama thariqah dunia yang terinspirasi oleh bangsa dan negara Indonesia menyepakati kewajiban membela negara yang harus dilakukan oleh setiap warganya.

Kewajiban membela negara juga disampaikan oleh Mursyid Thariqah dunia Habib Luthfi bin Yahya ketika berpidato dalam acara penutupan konferensi di tempat yang sama. Rais Aam Idarah Aliyah JATMAN ini mampu membakar semangat ribuan masyarakat yang hadir saat itu ketika membacakan Ikrar Bela Negara.

"Wahai bangsaku, relakah negeri kita ini terpecah belah? Jika tidak, ikuti kata-kata saya, bismillaahirrahmaanirrahiim, asyhadu ala ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah, radhiina billahi robba, wa bil islami dina, wa bi muhmmadin nabiyya wa rasula. Kami berikrar: BELA NEGARA ADALAH WAJIB, BELA NEGARA ADALAH WAJIB, BELA NEGARA ADALAH WAJIB," tegas Habib Luthfi serempak diikuti ribuan masyarakat yang hadir. Dikatakannya, ikrar ini tentu disampaikan kepada seluruh bangsa Indonesia.

Sukses gelaran acara bertaraf internasional baik pelaksanaan maupun hasil yang dicapai, tidak lepas dari sosok ulama kharismatik asal Pekalongan Jawa Tengah yang telah mendunia. Beliau adalah Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya. Tamu-tamu asal luar negeri yang di negaranya menyandang gelar mufti besar atau mursyid thariqah pun selalu menaruh hormat dan tadzim kepada sosok yang sangat dekat dengan umat di segala lapisan ini.

Meski telah dinobatkan sebagai pimpinan thariqah mutabarah tingkat dunia, Rais Aam Idarah Aliyah Jatman selama tiga periode berturut-turut, menggelar pengajian rutin setiap Selasa malam, Rabu pagi maupun setiap Jumat Kliwon. Belum lagi berbagai aktivitas lainnya, membuat rumahnya di Jalan dr Wahidin Noyontaan Gang 7 tak pernah sepi dari tamu yang datang dari berbagai losok tanah air.? ? ?

Seabrek jabatan yang diembannya, tak membuat Habib Luthfi merasa capek dan merasa berat memikul amanah. Saat ini saja Habib Luthfi Bin Ali Yahya dipercaya menjabat sebagai Ketua Umum MUI Kota Pekalongan untuk yang kedua kalinya dan pernah sebagai Ketua Umum MUI Jawa Tengah. Di samping? beliau seorang Mursyid Thariqah Syadzaliyah, juga sebagai Rais Aam dari Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al Mu’tabaroh An Nahdliyyah hasil Muktamar Thariqah ke-9 dan ke-10 yang digelar di Kota Pekalongan, serta ke-11 digelar di Kota Malang, Jawa Timur.

Bahkan tak jarang di antara mereka menyempatkan bertemu secara khusus di kediamannya meski harus antre berjam-jam untuk sekadar berkonsultasi problematika kehidupan sehari hari. Maka rumah mewah di belakang komplek Kanzus Sholawat yang cukup luas pun tak mampu menampung tamu-tamu Habib? yang datang silih berganti selama 24 jam. Itulah gambaran aktivitas rutin sehari hari Habib Luthfi bin Ali bin Yahya, seorang ulama besar yang lahir, dibesarkan dan hidup di Kota Pekalongan.

Berbincang-bincang dengan Abu Muhammad Bahaudin Muhammad Luthfi bin Ali Bin Hasyim bin Umar Bin Toha bin Yahya, nama lengkap dari Habib Muhammad Luthfi bin Ali Yahya, sangat mengasyikkan, terutama persoalan kethariqahan. Menurutnya, sejak kepengurusan Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al? Mu’tabaroh An Nahdliyyah dia pegang sudah banyak kemajuan dibanding kepengurusan periode sebelumnya. Hingga saat ini saja telah terbentuk kepengurusan tingkat wilayah sebanyak 34 Pengurus Idarah Wustha, kemudian tingkat cabang sebanyak 350 lebih Pengurus Idarah Syu’biyah.

Perkembangan yang cukup pesat ini sungguh sangat menggembirakan, ujar Habib. Pasalnya hampir seluruh thariqah berjalan dengan baik, seperti Syadzaliyah, Kholidiyah, Naqsabandiyah, Syatariyah, Qadiriyah, Tijaniyah dan lain lain. Indikator lainnya ialah banyaknya kaum muda yang mulai aktif sebagai pengikut thariqah, “Padahal mereka sebelumnya kenal saja tidak apalagi menjadi pengikut, sehingga kesan bahwa thariqah hanya dapat diikuti oleh sekelompok manusia usia lanjut mulai terkikis”.

“Yang mesti dipahami ialah bahwa thariqah bukan alat berpolitik dan bukan untuk berpolitik, akan tetapi semata mata untuk mendidik kehidupan manusia agar berdekatan dengan Allah dan Rasul-Nya dan yang terpenting ialah meningkatkan kesadaran sebagai manusia apa kewajibannya sebagai hamba kepada Tuhan dan Rasul-Nya juga sesama manusia”, ujar suami dari Syarifah Salmah Binti Hasyim Bin Yahya. “Sekarang ini perkembangan thariqah di kalangan anak anak muda cukup menggembirakan, seperti yang saya hadapi di Pekalongan ini, justru yang paling banyak masuk thariqah dari anak anak muda”, ujarnya.

Bela negara yang menjadi tema Konferensi Ulama Internasional, menurut Abah panggilan Habib Luthfi sengaja dimunculkan menjadi tema sentral dalam perhelatan yang digelar Jatman. Mengingat bela negara selalu dimaknai dengan angkat senjata atau berperang. Padahal bela negara memiliki makna luas, yakni dengan ikut mengisi dan ikut membangun negeri ini.

“Jangan diartikan sempit, hanya sekadar angkat senjata saja. Bela negara bisa dimaknai dengan ikut mengisi dan ikut membangun negeri ini,” ucapnya. Tidak diragukan lagi bahwa yang berpayah-payah merebut kemerdekaan Indonesia adalah para ulama. Maka, sudah seharusnya ulama yang ikut bertanggungjawab mempertahankannya.

Habib Luthfi menyebut kolaborasi ulama dengan TNI adalah keharusan. Ini faktor penting pertahanan negeri. Di Indonesia TNI dan Polri menyatu dengan masyarakat dan terjun ke bawah. “Semoga di belahan dunia Islam lainnya demikian pula. Jika ulama dengan pemerintah bekerja sama secara baik akan memperkuat dan memperkokoh kemajuan bangsa,” pesannya. Bendera merah putih yang dimiliki bangsa ini tanpa huruf, hanya warna saja. Karena ini milik semua bangsa Indonesia. “Di dalam merah putih itu ada wibawa, ada kehormatan bangsa di situ, maka kita pun hormat kepadanya, kepada sang saka merah putih,” tegasnya.

Habib Luthfi mengaku salut dan kagum melihat apa yang terjadi dalam Konferensi Ulama Internasional tersebut. Di mana dia melihat unsur pemerintah, ulama, TNI, Polri dan masyarakat bisa hadir bersama dan bersatu padu menunjukkan kekuatan yang luar biasa. Puluhan ulama yang hadir dari berbagai negara, juga telah diikat oleh Islam sehingga bersedia hadir ke acara tersebut.

“Kalau di setiap negara bisa seperti ini, pemerintah, ulama TNI dan Polri bisa bersatu dan mau turun ke bawah ini bisa menjadi awal perdamaian dunia. Seluruh bangsa bisa melahirkan kedamaian. Untuk itu melalui niat baik ini, kami ingin mengajak dan menarik kepedulian kita semua untuk bersama menciptakan kedamaian di dunia karena tantangan bangsa semakin jauh akan semakin besar,” ucapnya.

Menurut KH. Zakaria Ansor Wakil Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan yang juga orang dekat Habib menjelaskan, banyak sudah prestasi yang ditorehkan Habib Luthfi selama menjadi pimpinan salah satu Badan Otonom NU, antara lain berhasil menata organisasi thariqah dari Sabang sampai Merauke, seperti perkembangan thariqah di Sumatera Utara dan Sulawesi sangat menggembirakan, bahkan beberapa waktu yang lalu dari Papua minta dikirimi buku-buku tentang? thariqah. Kemudian Habib juga berhasil menertibkan silsilah sanad thariqah, di samping itu juga berhasil menebas fanatisme thariqah yang berdampak kepada pengerdilan thariqah-thariqah yang lain dan yang lebih penting ialah kegiatan thariqah menjadi lebih terbuka, sehingga banyak kaum muda yang berminat.

Habib Muhammad Luthfi bin Yahya dilahirkan di Pekalongan pada hari Senin, pagi tanggal 27 Rajab tahun 1367 H. Bertepatan tanggal 10 November, tahun 1947 M. Dilahirkan dari seorang syarifah, yang memiliki nama dan nasab: sayidah alKarimah as Syarifah Nur binti Sayid Muhsin bin Sayid Salim bin

Sayid al Imam Shalih bin Sayid Muhsin bin Sayid Hasan bin Sasyid Imam ‘Alawi bin Sayid al Imam Muhammad bin al Imam ‘Alawi bin Imam al Kabir Sayid Abdullah bin Imam Salim bin Imam Muhammad bin Sayid Sahal bin Imam Abd Rahman Maula Dawileh bin Imam ‘Ali bin Imam ‘Alawi bin Sayidina Imam? al Faqih al Muqadam bin ‘Ali Baalawi.

Sementara nasab beliau dari jalur ayah: Rasulullah Muhammad Saw — Sayyidatina Fathimah Azzahro+Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib–Imam Husein ash-Sibth — Imam Ali Zainal Abidin — Imam Muhammad al-Baqir–Imam Ja’far Shadiq — Imam Ali al-Uraidhi Imam Muhammad an-Naqib — Imam Isa An-Naqib ar-Rumi — Imam Ahmad Al-Muhajir — Imam Ubaidullah — Imam Alwy Ba’Alawy — Imam Muhammad — Imam Alwy — Imam Ali Khali Qasam — Imam Muhammad Shahib Marbath — Imam Ali — Imam Al-Faqih al-Muqaddam Muhammd Ba’Alawy — Imam Alwy al-Ghuyyur — Imam Ali Maula Darrak — Imam Muhammad Maulad Dawileh — Imam Alwy an-Nasiq — Al-Habib Ali — Al-Habib Alwy —

Habib Hasan– Imam Yahya Ba’Alawy — Habib Ahmad — Habib Syekh — Habib Muhammad — abib Thoha — Habib Muhammad al-Qodhi — Habib Thoha — Habib Hasan — Habib Thoha — Habib Umar — Habib Hasyim — Habib Ali — Habib Muhammad Luthfi.

Masa Pendidikan

Pendidikan pertama Maulana Habib Luthfi diterima dari ayahanda Habib al Hafidz ‘Ali al Ghalib. Selanjutnya beliau belajar di Madrasah Salafiah. Guru-guru beliau di Madrasah itu diantaranya: Sayid Ahmad bin ‘Ali bin al Qutb As Sayid ‘Ahmad bin Abdullah bin Thalib al Athas Sayid? Habib Husain bin Sayid Hasyim bin Sayid Umar bin Sayid Thaha bin Yahya (paman beliau sendiri) Sayid Abu Bakar bin Abdullah bin ‘Alawi bin Abdullah bin Muhammad al ‘Athas Bâ ‘Alawi Sayid Muhammad bin Husain bin Ahmad bin Abdullah bin Thalib al ‘Athas Bâ ‘Alawi. Beliau belajar di madrasah tersebut selama tiga tahun.

Selanjutnya pada tahun 1959 M, Habib Luthfi melanjutkan studinya ke pondok pesantren Benda Kerep, Cirebon. Kemudian Indramayu, Purwokerto dan Tegal. Setelah itu beliau melaksanakan ibadah haji serta menziarahi datuknya Rasulullah Saw., disamping menimba ilmu dari ulama dua tanah Haram; Mekah-Madinah. Beliau menerima ilmu syari’ah, thariqah dan tasawuf dari para ulama-ulama besar, wali-wali Allah yang utama, guru-guru yang penguasaan ilmunya tidak diragukan lagi. Dari Guru-guru tersebut beliau mendapat ijazah Khas (khusus) dan juga ‘Am (umum) dalam Da’wah dan nasyru syari’ah (menyebarkan syari’ah), thariqah, tasawuf, kitab-kitab hadits, tafsir, sanad, riwayat, dirayat, nahwu, kitab-kitab tauhid, tashwuf, bacaan-bacaan aurad, hizib-hizib, kitab-kitab shalawat, kitab thariqah,? sanad-sanadnya, nasab, kitab-kitab kedokteran. Dan beliau juga mendapat ijazah untuk membai’at.

Habib Luthfi tidak saja menjadi idola masyarakat Pekalongan dan sekitarnya. Setiap menjelang Pilpres misalnya, Habib Luthfi kebanjiran tamu istimewa. Disebut istimewa pasalnya tamu-tamu yang menyempatkan hadir di rumah Habib Luthfi adalah para calon presiden maupun wakil presiden. Sebut saja Capres Wiranto, Susilo Bambang Yudhoyono, Amin Rais, Puan Maharani (Putri Megawati), Hamzah Haz, Prabowo. Sedangkan cawapresnya Sholahudin Wahid dan Hasyim Muzadi. Dari semua yang hadir, rata rata mereka selalu berdalih hanya silaturrahmi biasa, tidak ada misi khusus berkaitan dengan kunjungannya. Akan tetapi aktifitas mereka selalu dibaca sebagai upaya untuk mohon do’a restu dan minta dukungan, apalagi di antara mereka ada yang berbicara empat mata dengan Habib, sehingga? mereka bisa diduga kehadirannya untuk keperluan pemilu yang baru saja digelar.

Tamu Habib memang datang dari berbagai kalangan, mulai dari pejabat pemerintah, anggota dewan, pengusaha, seniman, artis hingga rakyat jelata. Dengan tekun Habib Luthfi mendengarkan satu persatu? permasalahannya, kemudian beliau memberikan solusi sehingga mereka pun pulang dengan perasaan puas. Hal ini diakui mantan Wakil Wali Kota Pekalongan yang juga mantan Ketua PCNU Kota Pekalongan H. Abu Almafachir juga santri Habib Luthfi. Selama 40 tahun sebagai santrinya, ada satu hal yang sangat dikaguminya, yaitu dalam hal stamina. Beliau kuat duduk berjam-jam untuk sekadar ngobrol dengan para tamunya, meski tamunya itu tidak beliau kenal, ujarnya. “Abah fisiknya luar biasa, jarang sakit? meski aktifitasnya cukup tinggi, padahal makan saja tidak teratur”.

Disamping itu, Habib Luthfi tidak pernah membeda bedakan asal muasal tamu. Sehingga ratusan tamu yang datang kediamannya setiap hari, selalu dilayani dengan sabar dan penuh kesungguhan. Kadang mereka harus menunggu berhari hari jika Abah sedang berada di luar kota, ujar H. Fachir selalu memanggil Abah kepada Habib Luthfi.

Pernah suatu ketika, seorang bekas gali (geng pencuri) datang untuk bertobat dan minta diakui sebagai santrinya Habib, tanpa banyak pertanyaan, habib langsung membaiat gali tersebut dan kemudian diterima sebagai santrinya untuk menjadi salah satu murid thariqah.

Penulis adalah Ketua PC LTN NU Kota Pekalongan dan kontributor Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan tinggal di Kota Pekalongan Jawa Tengah



Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Santri, Pondok Pesantren, Ulama Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 09 Oktober 2017

Pasujudan Sunan Bonang Destinasi Wisata Saat Libur Lebaran

Rembang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Sebagai salah satu objek wisata di Kabupaten Rembang, Pasujudan Sunan Bonang yang terletak di Desa Bonang Kecamatan Lasem-Rembang pada lebaran tahun ini kembali ramai oleh pengunjung. Mereka memanfaatkan masa libur panjang 5 hingga 10 Juli 2016.

Salah seorang pengunjung asal Kabupaten Blora, Hadi, mengatakan, pasujudan merupakan destinasi wisata religi yang wajib di disinggahi saat melewati jalur pantura Lasem-Rembang.

Pasujudan Sunan Bonang Destinasi Wisata Saat Libur Lebaran (Sumber Gambar : Nu Online)
Pasujudan Sunan Bonang Destinasi Wisata Saat Libur Lebaran (Sumber Gambar : Nu Online)

Pasujudan Sunan Bonang Destinasi Wisata Saat Libur Lebaran

"Saya memang sering mampir di pasujudan saat melakukan perjalanan ke Surabaya. Tapi jika berjalan melewati Rembang, rasanya belum plong (lega) jika belum berziarah ke makam Sunan Bonang yang ada di Desa Bonang Rembang ini, dan sekaligus menikmati pemandangan di area pasujudan yang tampak asri dan damai," katanya, Ahad (10/7).

Usai berziarah dan bersantai sejenak di atas pasujudan, ia selanjutnya meneruskan perjalanan ke Kota Suarabaya untuk berlebaran bersama keluarganya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sementara itu, juru kunci Yayasan Sunan Bonang Abdul Wakhid menjelaskan, banyaknya pewisata religi setiap libur lebaran. Menurut Wakhid, di Desa Bonang banyak sekali tempat tujuan wisata religi yang dapat dikunjungi ketika libur panjang, di antaranya pasujudan Sunan Bonang sebagai tempat bermunajatnya Maulana Madum Ibrahim atau Sunan Bonang, Gunung Batu Layar, alat dakwah yang berupa bende becak, Masjid Sunan Bonang yang konon didirikan secara tiba-tiba tanpa sepengatehuan warga. (Ahmad Asmui/Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan PonPes, Pondok Pesantren, Tegal Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 29 Juli 2017

Qiyamul Lail, Beribadah Kala Sepi

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Latihan terpenting pada bulan Ramadhan selain berpuasa adalah melakukan qiyamul lail atau shalat dan berdzikir di malam hari. Jika puasa melatih seseorang untuk menahan diri dari perbuatan yang dibolehkan seperti makan dan minum, maka qiyamul lail adalah latihan menjalankan perbuatan-perbuatan sunnah dengan penuh khusu dan konsentrasi.

Pengajian Online Ramadhan kitab "Manahijul Imdad" karya ulama besar Nusantara Syeikh Ihsan Jampes, Selasa (25/9), membahas fasal tentang qiyamul lail. Pengajian diadakan di ruang redaksi Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan, lantai V gedung PBNU Jakarta dan diteruskan melalui akun pbnu_online@yahoo.com, dipandu oleh KH Arwani Faisal dari Lembaga Bahtsul Masa'il (LBM) PBNU.

Qiyamul Lail, Beribadah Kala Sepi (Sumber Gambar : Nu Online)
Qiyamul Lail, Beribadah Kala Sepi (Sumber Gambar : Nu Online)

Qiyamul Lail, Beribadah Kala Sepi

Diterangkan bahwa malam hari, terutama pada sepertiga malam yang terakhir, adalah saat hiruk-pikuk aktifitas manusia terhenti untuk sementara waktu. Suasana sunyi sangat membantu kita untuk menenangkan diri dan berkontemplasi.

Syeik Ihsan Jampes menyemangati kita betapa qiyamul lail di bulan Ramadhan sangat utama karena semua ibadah sunnah seperti shalat tahajjud, tasbih, atau shalat hajat itu dinilai sebagai ibadah wajib, mendapatkan pahala sebagaimana ibadah wajib.

Qiyamul lail itu semakin berlipat ganda lagi pahalanya ketika dikerjakan pada sepertiga Ramadhan yang terakhir, yakni saat terjadi malam lailatul qadar, tepatnya saat ibadah Ramadhan kita telah mengendur.

Qiyamul lail diperuntukkan bagi mereka yang telah tertidur sejenak di waktu malam, lalu bangun dan mengambil air wudhu. Di bulan Ramadhan umat Islam tentu tidak terlalu sulit untuk bangun di malam hari karena dipaksa untuk bangun melakukan sahur.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Hanya saja, bagaimana ketika menjelang, pada saat dan setelah makan sahur kita telah dimanjakan dengan berbagai sajian menarik di layar televisi? Tak sempatlah kita melakukan qiyamul lail. Jika begitu, maka latihan apa sebenarnya yang telah dijalani di malam-malam bulan Ramadhan?(nam)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pondok Pesantren Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 07 Juli 2017

Fatayat NU, antara Realita dan Harapan

Oleh Ai Sadidah

Saya mengenal Fatayat NU sudah lama, tepatnya semenjak terlibat dan bergabung di Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU). Saya mengenal Fatayat NU sebagai salah satu badan otonom di lingkungan NU untuk menaungi perempuan NU dengan segment usia tertentu.

Menurut aturan organisasinya, yang menjadi anggota Fatayat NU (sering disebut kader) adalah perempuan muda yang berusia 25-40 tahun dan/atau sudah menikah. Melihat segmentasi dengan usia ini, kader Fatayat NU berada dalam rentang usia produktif.Bergabung di lingkungan Fatayat NU sejak 5 tahun lalu, kemudian menjadi pengurus cabang (kepengurusan tingkat kabupaten) merupakan pengalaman tersendiri bagi saya. Saat ini saya tercatat sebagai salah satu pengurus di PC Fatayat NU Kabupaten Garut.

Fatayat NU, antara Realita dan Harapan (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU, antara Realita dan Harapan (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU, antara Realita dan Harapan

Jika dibanding dengan IPPNU dan Muslimat NU, gerak Fatayat NU (khususnya di Kabupaten Garut) masih relatif tertinggal, apalagi jika dibanding dengan organisasi perempuan lainnya. Hal ini barangkali salah satu faktornya dikarenakan usia kader Fatayat berada dalam usia produktif.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dalam usia tersebut, perempuan berada dalam masa produktif sebagai perempuan bekerja, juga sekaligus produktif secara reproduksi (hamil-melahirkan-menyusui).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Tantangan Lokal dan Kapasitas Respons Masalah

Fatayat NU tentu diharapkan dapat merespons isu-isu keperempuanan di rentang usia tersebut. Tentu, sesuai dengan kontekstualitas lingkungan dimana organisasi ini berada. Misalnya, Kabupaten Garut sebagai daerah tertinggal dan Angka Kematian Ibu (AKI) yang tertinggal di Jawa Barat, Fatayat NU Garut diharapkan dapat memberikan responsible terhadap situasi-situasi tersebut.

Berada di kabupaten dengan karakteristik masih tingginya angka kematian ibu melahirkan (AKI), rendahnya partisipasi pendidikan perempuan, dan masih minimnya kemandirian ekonomi perempuan, Fatayat NU Kabupaten Garut periode 2010-2015 mencanangkan tiga prioritas dalam program kerjanya.

Pertama, Pendidikan. Guna meningkatkan partisipasi perempuan di usia produktif dalam bidang pendidikan, Fatayat NU Garut melakukan kajian rutin bulanan, juga seminar dan diskusi pendidikan minimal setahun dua kali, mengirim kader pada berbagai even pendidikan dan pelatihan sebagai upaya untuk peningkatan kapasitas individual kader. Dengan kapasitas yang memadai, diharapkan kader-kader tersebut akan menjadi penggerak di komunitasnya masing-masing untuk memajukan pendidikan transformatif kepada masyarakat NU yang rata-rata masih terpinggirkan secara sosial dan ekonomi.

Kedua adalah kesehatan. Sebagai daerah dengan angka AKI tergolong tinggi di Jawa Barat, tentu Fatayat Garut harus memberikan effort yang lebih untuk masalah kesehatan ini. Pelatihan-pelatihan kesehatan reproduksi digelar secara rutin untuk meningkatkan kapasitas keluarga. Selain itu program-program perencanaan keluarga dan fasilitasi pelayanan keluarga berencana banyak dilakukan.

Pun, maraknya peredaran narkoba hingga di pelosok-pelosok desa hingga pemakain jarum suntik untuk narkoba telah mendorong Fatayat NU Garut untuk melakukan pelatihan kader penanggulangan HIV/AIDS dan narkoba.

Ketiga adalah bidang ekonomi. NU apalagi kaum perempuannya dikarakteristikkan dengan tingkat kemiskinan yang melekat. Sebagai respons atas hal ini,? Fatayat NU Garut melakukan pelatihan-pelatihan kewirausahaan perempuan, memfasilitasi pembentukan kelompok usaha perempuan, dan pendampingan usaha produktif perempuan serta menggalakkan programming literasi keuangan keluarga.

Tiga program prioritas ini sebagai ikhtiyar sosial Fatayat NU Garut untuk menjawab berbagai problematika yg muncul di tengah komunitas. Pilihan prioritas program ini tentu tidak lepas dari visi dan misi besar fatayat sebagai organisasi perempuan NU yakni pemberdayaan perempuan.

Sebagai organisasi kader, Fatayat NU Garut tentu masih banyak memiliki kekurangan, diantaranya adalah soliditas di tingkat pengurus, terutama di tingkat kecamatan dan desa yang masih memerlukan sentuhan kerja ekstra. Kepengurusan Fatayat NU Garut periode 5 tahun terakhir, misalnya saja, baru bisa mengaktifkan kembali dan membentuk PAC baru 30 kecamatan dan kurang dari 100 ranting (desa) dari 42 kecamatan dan sekitar 400-an desa yang ada di Kabupaten Garut.

Kendala terbesar yg dihadapi dalam pembentukan kepengurusan ini adalah ketiaadaan kader yang bersedia menjadi pengurus. Tentu ini kendala internal, bagaimana Fatayat masih rapuh melakukan regenerasi kepengurusan karena masih belum optimalnya sistem pengkaderan dan pola rekrutmen kader dan keanggotaan.

Masalah-masalah yang tergambar di atas tentu berbeda antara tempat satu dengan lainnya, kabupaten satu dengan lainnya dan seterusnya. Akan tetapi selalu ada benang merah: diperlukan kreatifitas transformatif untuk merespons persoalan-persoalan utama yang dihadapi oleh kaum perempuan NU di masing-masing lokalitas.

Kongres Sebagai Ajang Konsolidasi Gerakan

Bertempat di Surabaya mulai 18 September ini sampai 22 September rencananya, digelar kongres Fatayat NU XV. Bagi sebagian kalangan, kongres organisasi-organisasi kemasyarakatan seperti Fatayat NU ini lebih dipahami sebagai ajang suksesi kepemimpinan. Tidak salah memang. Tetapi menempatkan sudut pandang tersebut sebagai teropong utama terhadap forum tertinggi organisasi seperti Fatayat tentu akan berujung pada simplifikasi fatal dan tentu salah arah.

Kongres Fatayat NU, bagi saya, harus lebih dipahami sebagai ajang konsolidasi Fatayat NU secara nasional. Kongres hendaknya dapat memberikan acuan garis-garis besar landasan gerak semua tingkat kepengurusan. Ada beberapa isu strategis yang menurut saya perlu diperdebatkan secara konstruktif untuk pergerakan jamiyyah Fatayat NU ke depan.

Pertama adalah membangun sistem kaderisasi yg berjenjang. Memang sudah ada standar baku kaderisasi internal di Fatayat NU. Namun realitasnya masih jauh panggang dari api. Kaderisasi hendaknya dapat dilakukan dengan basis yang lebih kultural dan menjadi praktik kolektif organisasi, bukan disederhanakan menjadi sekedar event, kegiatan, selebrasi dan persiapan suksesi kepemimpinan.

Kedua, Fatayat NU kedepan harus memberikan lebih banyak lagi perhatian dalam dakwah ala Ahlussunnah Waljamaah. Dakwah ini harus difokuskan pada dua hal. Yakni, membentengi para kader dari gempuran paham Islam transnasional dan sejenisnya yang telah berupaya menghancurkan sendi aqidah Aswaja, di satu sisi. Sekaligus, di sisi berikutnya, melakukan rekonstruksi dakwah Aswaja kepada kalangan Islam awam. Citra global Islam yang sudah terkotori oleh kekerasan, perang, dan penistaan terhadap nilai-nilai universal sudah tampak di depan mata juga sedang akan diekspor ke bumi nusantara oleh kelompok-kelompok Islam transnational ini. Tentu, ini ancaman yang jelas bagi praktik Islam rahmatan lil alamin yang jadi karakteristik Aswaja dan Islam Nusantara yang sedang dipasarkan oleh NU.

Ketiga, Fatayat NU kedepan perlu lebih memberi perhatian pada pemberdayaan perempuan dalam bidang pendidikan, kesehatan, sosial dan ekonomi. Sebagai negara pengirim tenaga kerja migran terbesar kedua di Asia Tenggara, dimana hampir 80% diantaranya adalah perempuan dari desa-desa yang merupakan karakteristik nahdliyin, misalnya, belum terlibat peran kuat PP Fatayat NU dalam melindungi perempuan TKI yang sedang berjihad di luar negeri. Fatayat juga perlu menjadi pioneer dalam gerakan penguatan ketahanan ekonomi keluarga melalui literasi-literasi keuangan. Pun demikian dalam bidang kesehatan dan pendidikan, gerakan Fatayat NU masih perlu dimobilisasi kearah yang lebih progresif lagi.

Keempat, Fatayat perlu lebih mengintensifkan keterlibatan aktifnya dalam upaya pendampingan perempuan dalam masalah-masalah yang identik dengan karakteristik perempuan seperti kekerasan dan human trafficking. Melemahnya pertumbuhan ekonomi selama semester pertama tahun 2015 ini dikhawatirkan banyak pihak akan berdampak pertama kali pada kaum perempuan. Salah satunya mobilisasi perempuan untuk bekerja meningkatkan pendapatan daerah asalnya dan terpisah dari keluarganya, sehingga ada potensi meningkatkan kejadian human trafficking. Sebagai organisasi yang berbasis perempuan-perempuan desa, tentu Fatayat harus lebih responsible terhadap isu-isu seperti di atas.

Kelima, Fatayat NU kedepan perlu lebih memberikan perhatian pada isu-isu sosial perempuan seperti buruh perempuan, Pekerja Rumah Tangga (PRT) dan pekerja rumahan (home workers). Seperti telah disinggung di atas, telah terjadi feminisasi migrasi yang tentu akan menimbulkan ekses-ekses sosial ikutannya. Misalnya, tingkat perceraian yang tinggi di kampung-kampung asal TKI seperti di NTB, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di kampung-kampung TKI ini anak-anak juga menjadi bagian sosial yang dikorbankan. Mereka menjadi anak terlantar, patent-less dan rentan terhadap kekerasan dan eksploitasi.

Demikian juga fenomena melambatnya ekonomi telah memicu gelombang PHK di pabrik-pabrik. Kaum perempuan-lah yang pertama kali dikorbankan. Mereka kemudian dipaksa untuk menerima pekerjaan borongan dari industri dalam bentuk piece rate sebagai pekerjaan rumahan (home worker). Dalam hal ini, mereka mengalami kerentanan yang luar biasa: mereka melakukan proses produksi dalam siklus industrial, tetapi faktor produksi ditanggung sendiri oleh para perempuan ini, bukan pabrik yang menanggung. Mereka diupah per unit barang yang diselesaikan (piece rate) akibatnya jam kerja mereka tidak dihargai. Bahkan untuk mengejar volume barang, mereka kerap melibatkan anak-anak untuk membantu.

Hal-hal di atas hanya sebagian kecil dari persoalan-persoalan yang dihadapi oleh nahdliyah muda. Bila Kongres Fatayat NU tidak memberikan perhatian pada masalah-masalah yang dihadapi umat, lalu apa makna Fatayat sebagai organisasi yang menaungi jamaah?

Saya berharap Kongres Fatayat NU kali ini tidak riuh dan gaduh oleh politik suksesi. Tidak riuh dan gaduh oleh borongan parpol-parpol tertentu yang ingin mengais potensi suara jamaah secara eksploitatif. Semoga Kongres XV kali ini bisa mengembalikan ruh gerakan Fatayat NU sebagai gerakan perempuan Indonesia sesuai dengan temanya "Ikhtiar perempuan NU untuk Indonesia yang Berkeadaban".

Selamat berkongres!

Ai Sadidah, Sekretaris Pimpinan Cabang Fatayat NU Kabupaten Garut

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Warta, Pondok Pesantren, Daerah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Mengenang Wafatnya Hadratussyaikh di Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan bukan semata sebagai rahmat dan terbukanya pintu ampunan. Bulan suci ini juga menjadi saksi sejarah tentang duka mendalam keluarga besar Pesantren Tebuireng, warga NU, serta bangsa Indonesia secara umum.

Tidak banyak yang mengetahui bahwa Rais Akbar NU Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari yang kemudian disebut Mbah Hasyim wafat pada hari ketujuh di bulan Ramadhan. Tepatnya tahun 1366 H. Ya, tidak terasa 69 tahun sudah peristiwa kewafatan sang kiai yang demikian dihormati ini.

Mengenang Wafatnya Hadratussyaikh di Bulan Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengenang Wafatnya Hadratussyaikh di Bulan Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengenang Wafatnya Hadratussyaikh di Bulan Ramadhan

Berbeda dengan meninggalnya sang cucu, yakni KH Abdurrahman Wahid yang demikian meriah diperingati, suasana Ramadhan membuat haul Mbah Hasyim serasa sepi tanpa acara yang spesial. Hal ini mungkin juga buah dari pandangan beliau yang menolak hari wafatnya diperingati secara khusus agar tidak ada kultus individu.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Seperti diketahui, Mbah Hasyim terlahir pada Selasa Kliwon 24 Dzul Qa’dah 1287 H yang juga bertepatan dengan 14 Februari 1871 M di Pesantren Gedang, Tambakrejo Jombang, Jawa Timur. Beliau merupakan putra ketiga dari 11 bersaudara dari pasangan Kiai Asy’ari dan Nyai Halimah.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari jalur ayah, nasabnya bersambung kepada Maulana Ishak hingga Imam Ja’far Shadiq bin Muhammad al-Baqir. Sedangkan dari jalur ibu, nasabnya bersambung kepada Raja Brawijaya VI (Lembu Peteng) yang berputera Karebet atau Jaka Tingkir, raja Pajang pertama (1568) dengan gelar Sultan Pajang atau pangeran Adiwijaya.

Dalam buku Profil Pesantren Tebuireng disampaikan bahwa pada 3 Ramadhan 1366 H yang bertepatan dengan tanggal 21 Juli 1947 M, jam menunjukkan pukul 21.00 WIB. Seperti biasa Hadratussyaikh baru saja selesai mengimami shalat tarawih. Beliau duduk di kursi untuk memberikan pengajian kepada ibu-ibu muslimat. Tidak lama kemudian, datang seorang tamu utusan Jendral Sudirman dan Bung Tomo. Kiai Hasyim menemui utusan tersebut didampingi Kiai Ghufron yang juga pimpinan Laskar Sabilillah Surabaya.

Sang utusan menyampaikan surat dari Jendral Sudirman yang berisi tiga pesan pokok. Kepada utusan kepercayaan dua tokoh penting tersebut Kiai Hasyim meminta waktu semalam untuk berpikir dan selanjutnya memberikan jawaban. Isi pesan tersebut adalah, pertama bahwa di wilayah Jawa Timur, Belanda melakukan serangan militer besar-besaran untuk merebut kota-kota di wilayah Karesidenan Malang, Besuki, Surabaya, Madura, Bojonegoro, dan Madiun.

Kedua, Hadratussyaikh dimohon berkenan untuk mengungsi ke Sarangan, Magetan, agar tidak tertangkap oleh Belanda. Sebab, jika tertangkap, beliau akan dipaksa membuat statemen mendukung Belanda. Jika hal itu terjadi, maka moral para pejuang akan runtuh. Pesan ketiga adalah jajaran TNI di sekitar Jombang diperintahkan untuk membantu pengungsian Kiai Hasyim.

Keesokan harinya, Kiai Hasyim memberikan jawaban bahwa beliau tidak berkenan menerima tawaran yang disampaikan.

Empat hari kemudian, tepatnya pada tanggal 7 Ramadhan 1366 M, sekitar pukul 21.00 WIB datang lagi utusan Jendral Sudirman dan Bung Tomo. Kedatangan utusan tersebut dengan membawa surat untuk disampaikan kepada hadratus syaikh. Secara khusus Bung Tomo memohon kepada Kiai Hasyim mengeluarkan komando jihad fi sabilillah bagi umat Islam Indonesia, karena saat itu Belanda telah menguasai wilayah Karesidenan Malang dan banyak anggota Laskar Hizbullah dan Sabilillah yang menjadi korban. Hadratus Syaikh kembali meminta waktu semalam untuk memberi jawaban.

Tidak lama berselang, hadratus syaikh mendapat laporan dari Kiai Ghufron selaku pimpinan Sabilillah Surabaya bersama dua orang utusan Bung Tomo, bahwa kota Singosari Malang yang juga merupakan basis pertahanan Hizbullah dan Sabilillah telah jatuh ke tangan Belanda. Kondisi para pejuang semakin tersudut, dan korban rakyat sipil kian meningkat. Mendengar laporan itu, Kiai Hasyim berujar: “Masya Allah, masya Allah…..” sambil memegang kepalanya. Lalu Kiai Hasyim tidak sadarkan diri.

Kala itu putra-putri beliau sedang tidak berada di Tebuireng. Tapi tidak lama kemudian mereka mulai berdatangan setelah mendengar sang ayahanda tidak sadarkan diri. Menurut hasil pemeriksaan dokter, Kiai Hasyim mengalami pendarahan otak (asemblonding) yang sangat serius.

Pada pukul 03.00, bertepatan dengan tanggal 25 Juli 1947 atau 7 Ramadhan 1366, hadratus syaikh KH M Hasyim Asy’ari dipanggil Sang Maha Kuasa. Inna lillahi wa inna ilahi raji’un.

Atas jasa-jasa beliau selama perang kemerdekaan melawan Belanda (1945-1947), terutama yang berkaitan dengan tiga fatwanya yang sangat penting: Pertama, perang melawan Belanda adalah jihad yang wajib dilaksanakan oleh semua umat Islam Indonesia. Kedua, kaum muslimin diharamkan melakukan perjalanan haji dengan kapal Belanda. Ketiga, kaum muslimin diharamkan memakai dasi dan atribut-atribut lain yang menjadi ciri khas penjajah, maka Presiden Soekarno lewat Keputusan Presiden (Kepres) No. 249/1964 menetapkan bahwa KH Muhammad Hasyim Asy’ari sebagai pahlawan nasional.

Kepergian Kiai Hasyim menjadi duka mendalam di awal bulan Ramadhan. Tidak hanya bagi keluarga besar Pesantren Tebuireng, tapi juga warga Nahdlatul Ulama (NU), masyarakat sekitar bahkan bangsa Indonesia.

Karena itu, sudah pada tempatnya bila malam ini kita menghadiahkan tahlil dan kalimat thayyibah kepada hadratus syaikh. Semoga amal baiknya diterima oleh-Nya dan besar harapan agar kita diberikan kekuatan meneruskan jariyah yakni eksistensi pesantren dan khidmat NU agar sesuai dengan cita awal pendirian.

Hiruk pikuk tahapan Pemilu, termasuk Pilpres semoga tidak melunturkan komitmen nahdliyin dalam mengabdi dan menyelamatkan khittah sesuai itikad awal pendirian jam’iyah diniyah ijtima’iyah ini. Bukan malah bisa diombang-ambing sejumlah kalangan atau orang perorang demi kepentingan pribadi maupun kelompok. Mampukah? Kita lihat saja kondisinya saat ini dan nanti. (Syaifullah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Kajian Islam, Pondok Pesantren, Makam Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 03 Juli 2017

Jelang Konfercab, Kirab Budaya NU Hijaukan Salatiga

Salatiga, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Jalanan di Kota Salatiga, Sabtu (19/10) lalu, seakan berubah menjadi hijau. Pasalnya 4000 peserta yang mengikuti Kirab Budaya Lesbumi dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Salatiga, Jawa Tengah, mayoritas membawa berbagai atribut serba hijau, seperti bendera, spanduk dan lainnya.

Jelang Konfercab, Kirab Budaya NU Hijaukan Salatiga (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Konfercab, Kirab Budaya NU Hijaukan Salatiga (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Konfercab, Kirab Budaya NU Hijaukan Salatiga

Para peserta yang terlibat berasal dari unsur masyarakat dan berbagai Badan Otonom NU Kota Salatiga. Acara Kirab Budaya ini sengaja digelar untuk menunjukkan kekuatan NU kepada masyarakat Salatiga.

“Iya memang kita agendakan untuk menghijaukan Salatiga. Intinya siang tadi Salatiga ‘milik’ NU,” terang salah satu panitia acara,  Lutfi, seusai acara.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sekretaris Pengurus Cabang Ansor Salatiga tersebut menjelaskan, kegiatan kirab ini sekaligus menjadi bagian dari rangkaian acara menjelang Konfercab (Konferensi Cabang) NU Salatiga, yang akan diselenggarakan pekan depan, 27 Oktober 2013.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pada pelaksanaan kirab, rombongan mulai berjalan dari Jl Kartini (depan Kantor NU Salatiga), kemudian menyusruri Jl Moh Yamin, Jl Diponegoro, Jl Jenderal Sudirman, Jl Letjen Sukowati, dan berakhir di Lapangan Pancasila.

Kelompok pawai yang disuguhkan bermacam- macam, ada drumblek, barongsai, drumband, barisan teklek, dan berbagai atraksi menarik lainnya. Tidak ketinggalan karnaval bernafas Islam yang diramaikan ratusan siswa di Kota Salatiga. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pertandingan, Pendidikan, Pondok Pesantren Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 18 Agustus 2016

Tradisi Ya Qowiyu, 6,2 Ton Apem Dibagikan untuk Ribuan Warga

Klaten, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Satu persatu apem dari total sekitar 6,2 ton mulai disebar dari atas dua tower. Di bawahnya, ribuan orang sudah menanti kejatuhan apem-apem tersebut. Konon, tradisi membagikan apem ini sudah ada sejak sejak zaman Ki Ageng Gribig, seorang penyebar Islam di daerah Jatinom Klaten dan sekitarnya.

Tradisi Ya Qowiyu, 6,2 Ton Apem Dibagikan untuk Ribuan Warga (Sumber Gambar : Nu Online)
Tradisi Ya Qowiyu, 6,2 Ton Apem Dibagikan untuk Ribuan Warga (Sumber Gambar : Nu Online)

Tradisi Ya Qowiyu, 6,2 Ton Apem Dibagikan untuk Ribuan Warga

Sebagian dari warga bahkan menganggap dalam penganan tradisional Jawa yang terbuat dari tepung beras itu terdapat berkah dan wasilah dari sang wali. “Yang jelas, tradisi (bersedekah apem) tersebut hingga kini terus dijaga sebagai bentuk penghormatan kepada Ki Ageng Gribig yang dicintai karena kesalehan sosialnya,” terang Camat Jatinom, Anwar, di sela acara, Jumat (12/11).

Anwar menambahkan, apem yang dibagikan tersebut merupakan sumbangan dari warga. “Warga sudah merasa handarbeni (memiliki) tradisi Yaqowiyu. Tidak ada instruksi dari siapapun, warga sudah tanggap setiap pertengahan bulan Sapar dengan sukarela menyumbangkan apem,” ungkapnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pada kenyataannya, pelaksanaan tradisi ini juga memberikan ‘berkah’ tersendiri bagi para ratusan penjual apem di Jatinom. Ribuan warga yang datang dari berbagai penjuru yang datang ke tempat itu saat puncak perayaan Yaqowiyu membuat apem yang menjadi jajanan khas daerah tersebut laris manis.

“Karena apam dari daerah itu punya khas sendiri, terutama soal rasa. Yang jelas, (Apem Jatinom) tetap menggunakan gula asli,” ungkap salah satu panitia, Hadi Purnomo.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kegiatan penyebaran apem ini menjadi puncak dari rangkaian kegiatan Ya Qowiyu yang telah dilaksanakan selama sepekan. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Cerita, Pondok Pesantren, Tegal Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock