Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Februari 2018

Pagar Nusa Gelar Apel Akbar di Lirboyo

Kediri, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pimpinan Wilayah Pencak Silat NU Pagar Nusa Jawa Timur menggelar apel akbar di Pondok Pesantren Lirboyo Jawa Timur, Senin (19/8) hari ini. Pesantren Lirboyo merupakan tempat tinggal almarhum Gus Maksum, pendiri dan pemimpin pertama organisasi pencak silat NU ini.

Ketua PW Pagar Nusa Jatim Faidhol Mannan mengatakan, pihaknya telah menginstruksikan 38 pimpinan cabang Pagar Nusa se-Jatim untuk menghadiri apel akbar yang dipusatkan di Aula Al-Muktamar Lirboyo. Apel akbar kali ini dihadiri sekitar 2000 pendekar.

Pagar Nusa Gelar Apel Akbar di Lirboyo (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa Gelar Apel Akbar di Lirboyo (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa Gelar Apel Akbar di Lirboyo

Apel akbar yang dirangkai dengan halal bi halal ini diisi dengan istigotsah yang dipimpin oleh KH Hamim Al Zaini. Sebelum acara dimulai juga digelar peragaan kembangan pencak silat oleh pendekar cilik dan senior Pagar Nusa.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Para pendekar Pagar Nusa yang hadir mengenakan pakaian seragam pencak silat hitam-hitam.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Mendekati pelaksanaan Pilgub Jatim 29 Agustus, tak pelak kegiatan apel akbar ini diwarnai dengan aksi dukungan untuk salah satu calon, yakni Saifullah Yusuf atau Gus Ipul.

Gus Ipul menghadiri acara halal bi halal dan apel akbar Pagar Nusa yang disambut pimpinan Pesantren Lirboyo KH Idris Marzuqi. Sejumlah kiai yang selama ini mendukung pasangan Karsa juga hadir seperti KH Anwar Iskandar.

Gus Ipul sempat melakukan dialog dengan beberapa pendekar Pagar Nusa dan meminta doa agar dirinya yang maju mendampingi Soekarwomenang Pilgub Jatim, 29 Agustus mendatang.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ulama, Kyai Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 05 Februari 2018

NU akan Perluas Pendirian PT di Ibukota Provinsi dan Kota Besar

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Selama lima tahun terakhir, PBNU mendirikan 23 perguruan tinggi (PT) Nahdlatul Ulama yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Upaya tersebut akan terus diperluas dalam beberapa tahun ke depan seiring dengan semakin banyaknya lulusan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) setelah pemberlakukan wajib belajar 12 tahun.

NU akan Perluas Pendirian PT di Ibukota Provinsi dan Kota Besar (Sumber Gambar : Nu Online)
NU akan Perluas Pendirian PT di Ibukota Provinsi dan Kota Besar (Sumber Gambar : Nu Online)

NU akan Perluas Pendirian PT di Ibukota Provinsi dan Kota Besar

Wakil Sekjen PBNU H Hanif Saha Ghofur menjelaskan NU memiliki aset sangat besar yang bisa dikapitalisasikan untuk pendirian universitas. Dalam hal ini, pendirian perguruan tinggi baru akan diarahkan di ibukota propinsi dan kota besar di seluruh Indonesia.

“Ada beberapa tempat yang akan kita dirikan seperti di Sulawesi barat, Kalimantan utara, Bengkulu, Riau, dan kemungkinan Maluku karena di situ sudah ada. Maluku sudah ada proposal, yang kita perlu perbaiki kembali. Bengkulu sudah siap tahun ini, Kalimantan utara mungkin tahun depan. Kalimantan utara mungkin tahun depan,” katanya kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan baru-baru ini.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ia menjelaskan, Indonesia akan mengalami booming lulusan SLTA pada 2017 setelah peningkatan lulusan kewajiban pendidikan menengah universal atau wajib belajar 12 tahun mulai lulus pada 2017. Dengan demikian, Indonesia membutuhkan banyak perguruan tinggi untuk menyerap. 

“Itu kan tidak hanya bisa dipenuhi oleh perguruan tinggi yang didirikan oleh negara atau PTN, tentu dibutuhkan PTS. Ini mengantisipasi ledakan yang akan dimulai pada 2017. Makanya, perguruan tinggi NU sudah melakukan identifikasi beberapa pasar, berapa lulusan SMA yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi, berapa responnya. Ini yang sekarang kita lakukan,” katanya. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Kita akan melihat, tidak semua daerah akan mendirikan perguruan tinggi. Bahkan kami akan menolak jika tidak memiliki potensi. Kalau kekayaanya terserak, akan dikonsolidasikan antara dua atau tiga cabang NU,” imbuhnya.

Menurutnya, terdapat empat beberapa tantangan pendirian perguruan tinggi NU, pertama soal kepemilikan aset. Kedua, kesiapan infrastruktur pembelajaran, mulai dari lab, bengkel, perpustakaan. Ketiga, kesiapan SDMdan biaya operasional.

“PBNU memberi jaminan 3 milyar per program studi, kalau ada 10 prodi kan 3.5 milyar rupiah dan PBNU siap lah untuk itu. Tetapi masing-masing daerah harus punya dana operasional,” tandasnya.

Untuk itu, PBNU sudah melakukan sejumlah pelatihan bagi perguruan tinggi baru seperti pelatihan manajemen pemasaran, manajemen pencitraan, manajemen aset, dan lainnya agar pengelolaan perguruan tinggi tersebut bisa berjalan dengan baik.

Sejauh ini, perguruan tinggi NU bisa digolongkan dalam dua kelompok, pertama, dimiliki langsung oleh PBNU yang dikelola dibawah Badan Pengelola Perguruan Tinggi NU (PT PTNU). Sementara itu, secara keseluruhan, perguruan tinggi berbasis NU tergabung di Lembaga Perguruan Tinggi NU (LPTNU) yang jumlah totalnya mencapai 2014.

“Tentu kita kepingin bersinergi positif sehingga ada sinergi yang luar biasa, merajut antara perguruan tinggi dan pesantren,” tandasnya. 

Ia juga mendorong beberapa perguruan tinggi NU yang selama ini masih independen untuk masuk dalam pengelolaan BP PTNU. Beberapa yang sudah positif masuk diantaranya adalah Universitas Islam Jember dan Universitas NU Surakarta. Beberapa lainnya masih dalam proses.

Ke depan, bukan hanya penambahan kuantitas, tetapi juga akan dikembangkan kualitasnya, “kita harus mengembangkan potensi untuk mengangkat keunggulan. Ini yang perlu kita kembangkan. Artinya ngak bisa perguruan tinggi kita tidak bermutu. Nanti kita petakan, mana yang potensial, diangkat sebagai unggulan.” (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ulama Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 03 Februari 2018

Pesantren Fathul Huda Gelar MTQ Ke-17

Purwokerto, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pondok Pessantren Fathul Huda Purwokerto menggelar Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat pelajar SMA sederajat. Acara ini mendapatkan antusias dari sekolah-sekolah SMA sederajat yang ada di Kabupaten Banyumas, Purbalingga, Cilacap dan Banjarnegara.

Pesantren Fathul Huda Gelar MTQ Ke-17 (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Fathul Huda Gelar MTQ Ke-17 (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Fathul Huda Gelar MTQ Ke-17

Setiap tahunnya pada kegiatan tersebut, tak kurang dari 50 sekolah selalu mengirimkan siswanya secara rutin untuk mengikuti kegiatan tersebut. Acara yang digelar mulai tanggal 18-20 Juli 2014 ini menjadi acara MTQ yang ke-17 bagi Pesantren Fathul Huda.

“Ini merupakan acara rutin yang diadakan oleh Pondok Pesantren kami. Memang dulu sempat vakum namun hanya beberapa tahun saja. Untuk tahun 2014 sekarang ini merupakan MTQ yang ke-17 sejak diadakan pertama kali pada tahun 1994,” tutur Windra, Ketua Panitia MTQ.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sementara Pengasuh Pondok Pesantren Fathul Huda K.H. Rachmat Burhani, dalam sambutannya bersykur melalui kegiatan tersebut, setiap tahun selalu lahir qori-qoriah tingkat SMA yang memiliki kualitas bagus. Sehingga kegiatan tersebut selalu rutin diadakan setiap tahun. “Selain menjadi ajang pencarian bakat qori-qoriah, MTQ juga sebagai media untuk berdakwah melalui seni Tilawatil Qur’an,” ungkapnya.

Pada MTQ ke-17 tingkat pelajar SMA sederajat se-eks Karesidenan Banyumas ini, panitia mengambil tema “Meneguhkan Akhlaqul Karimah Generasi Muda Islam dengan Membaca dan Mengamalkan Al-Qur’an.” Tema ini merupakan refleksi atas kondisi generasi muda Indonesia yang tidak sesemangat generasi pendahulunya dalam mempelajari al Qur’an.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sebelum ajang MTQ dimulai, seluruh peserta wajib mengikuti Training Center selama 2 hari, yaitu tanggal 18-19 Juli 2014. Tahun ini, yang menjadi trainernya adalah Ustadzah Mariani dari Banyumas. Dilanjutkan dengan seleksi awal pada tanggal 19 Juli siang..

“Memang sudah dua tahun ini, kami menggunakan sistem seleksi untuk menentukan peserta yang menuju final. Ya semacam audisi.” Lanjut Windra.

Acara yang digelar di Aula Pon-Pes Fathul Huda ini diikuti oleh sekitar 53 peserta. Memang secara kuantitas, peserta yang ikut menurun dari tahun 2013 sebanyak 74 peserta. Hal ini disebabkan karena seleksi yang semakin ketat, sehingga tidak semua peserta tidak bisa ikut dalam kompetisi ini.

“Kami senang karena bisa belajar variasi-variasi baru dan itu sangat membantu kami untuk mengembangkan seni tilawatil Qur’an. Ini bukan sekadar kompetisi, tapi juga banyak unsur pembelajarannya,” jelas Muhammad Ibnu Luthfi, salah satu peserta MTQ Putra yang merupakan delegasi SMK Wiworotomo Purwokerto.

Dari seluruh jumlah peserta yang ikut seleksi pada hari ini, akan dipilih 15 qori dan 15 qoriah yang akan masuk babak final untuk memperebutkan juara I, II, dan III yang dilaksanakan esok tanggal 20 Juli 2014. (Slamet dan Fuad Hasyim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ulama Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 25 Januari 2018

PWNU Jabar Intsruksikan Warga Tak Terlibat Konflik Sosial

Bandung, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat Eman Suryaman menginstruksikan kepada seluruh cabang-cabang NU di Jawa Barat agar jangan sampai terlibat dalam konflik sosial. Hal ini terkait berbagai aksi kekerasan agama yang kerapkali terjadi di wilayah Jawa Barat.

"NU adalah ormas Islam yang menghormati kebhinnekaan, artinya menerima pihak manapun dalam membangun negara yang maju, aman dan damai. NU juga harus menjaga netralitasnya dalam menghadapi segala konflik yang terjadi di Jawa Barat Khususnya dan Indonesia pada umumnya," tutur Eman.

PWNU Jabar Intsruksikan Warga Tak Terlibat Konflik Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Jabar Intsruksikan Warga Tak Terlibat Konflik Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Jabar Intsruksikan Warga Tak Terlibat Konflik Sosial

Eman juga mengatakan bahwa radikalesme harus segera dihentikan, karena Islam tidak mengajarkan kekerarasan, terlebih memaksakan orang lain untuk masuk ke ajaran manapun.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ditambahkan sebagai agama rahmatan lil alamin, seharusnya orang yang beragama Islam mampu memberikan pencerahan dengan cara-cara yang cantik. Para wali penyebar Islam di Nusantara pun sukses mengislamkan sebagian besar masyarakat Indonesia ? bukan dengan kekerasan, melainkan dengan mencontohkan ahlakul karimah dan uswatun hasanah.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Ada cara-cara yang lebih baik untuk menghadapi beberapa kelompok yang menyimpangkan agama daripada menyikapinya dengan kekerasan. Para wali saja bisa mengajak masyarakat yang bukan beragama Islam, masa yang melencengkan agama masa tidak bisa diajak kembali kepada ajaran yang sebenarnya?” katanya.

Ditambahkan, untuk meluruskan ajaran yang menyimpang seperti Ahmadiyah jangan menggunakan kekerasan, bahkan sampai dibunuh atau dianiaya. Ada cara-cara lain yang bisa membuat mereka tertarik kepada ajaran yang sesungguhnya.

"Mereka juga tahu ketika mereka lahir dan dibesarkan, Al-Qur’an yang jadi pegangan mereka sama dengan kita," pungkasnya?

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Zainal Mutaqin

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ulama, Humor Islam, Nahdlatul Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Detik-detik Kiai Wahab Chasbullah Nyaris Tertangkap PKI

Pemberontakan PKI di Madiun pada 18 September 1948 merupakan di antara tragedi yang sempat mengguncangkan stabilitas perjalanan kemerdekaan Republik Indonesia yang tempo itu masih jatuh bangun. Beberapa literatur menyatakan, dalam aksi ini beberapa pejabat, perwira TNI, pimpinan partai, alim ulama, dan rakyat yang dianggap tidak sehaluan dengan PKI dibunuh secara kejam. Sebelumnya PKI telah melancarkan propaganda anti pemerintah, mengadakan demonstrasi-demonstrasi, menculik lawan-lawan politik, dan menggerakkan kerusuhan di berbagai tempat.

Terlalu banyak data yang menjadi bukti peristiwa di atas. Di antaranya Majalah Aula edisi Mei 2007, sedikit telah menyajikan fragmen-fragmen kekejaman PKI dan segenap simpatisannya seperti dimaksud. Tapi di sini kami hendak spesifik menyajikan fakta sejarah yang berhasil dicatat oleh sejarahwan NU, KH. Saifudin Zuhri tentang Kiai Abdul Wahab Chasbullah yang hampir saja tertangkap oleh simpatisan PKI andai saja beliau tidak bersiasat mengubah identitas penampilannya. Kisah itu diutarakan Kiai Saifudin Zuhri dalam buku "Guruku Orang-orang dari Pesantren". Berikut ini kesaksian mantan mentri agama di era presiden Sukarno tersebut:

Detik-detik Kiai Wahab Chasbullah Nyaris Tertangkap PKI (Sumber Gambar : Nu Online)
Detik-detik Kiai Wahab Chasbullah Nyaris Tertangkap PKI (Sumber Gambar : Nu Online)

Detik-detik Kiai Wahab Chasbullah Nyaris Tertangkap PKI

"Aku laporkan bahwa menjelang pemberontakan PKI di Madiun, KH. A. Wahab Hasbullah, mengadakan latihan ulama di Ngawi. Aku baru pulang dari Ngawi 3 hari sebelum pecah pemberontakan PKI.

Ketika latihan ulama dibubarkan karena sudah selesai, tidak ada yang mengerti bahwa PKI mengadakan pemberontakan di madiun. Padahal jarak Ngawi dan Madiun dekat sekali. Para peserta latihan pulang ke daerahnya maing-masing.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

KH Abdul Wahab Chasbullah pulang ke Jombang dengan naik kereta api. Perjalanan ke Jombang ini harus melewati Madiun. Ketika telah mendekati Madiun, beliau baru mengerti bahwa di Madiun ada pemberontakan PKI, tetapi beliau sudah terlanjur berada dekat stasiun Madiun. Agar orang tidak mudah mengenali siapa beliau, terpikir olehnya untuk menghilangkan identitasnya. Sorban dilipat dimasukkan ke dalam tasnya. KH Abdul Wahab Chasbullah berhasil berdiplomasi dengan salah seorang di stasiun untuk memperoleh peci hitamnya. Peci hitam pun ia kenakan. Dengan peci hitam ini, orang tidak mudah mengenali Kiai Wahab. Maka, selamatlah beliau hingga tiba di rumahnya, di Jombang. Jika saja PKI mengenali Kiai Wahab, pastilah beliau dijadikan tawanan golongan kakap, dan entah bagaimana nasib selanjutnya. Tetapi syukur alhamdulillah Tuhan tetap melindungi beliau.

Sebuah pesantren di Madiun, lanjut kiai Saifudin Zuhri, kalau tidak salah pesantren Takeran, adalah pesantren pertama yang dijadikan sasaran pengganyangan oleh PKI. Beberapa santri menjadi korban dan pesantren dibakar. Sudah bukan rahasia lagi bahwa sasaran utama PKI adalah orang-orang republikan, pegawai pemerintah, dan laskar-laskar Hizbullah-Sabilillah, barisan banteng, barisan pemberontakan, dan lain-lain yang pro pemerintah Yogya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Suasana kota Yogya diliputi oleh kemarahan rakyat terhadap PKI dan Belanda, yang belakangan ini terus-menerus melanggar gencatan senjata dan melakukan insiden-insiden di tapal batas. Korban banyak yang jatuh di kedua belah pihak. Yogya diliputi oleh awan gelap, penuh tanda tanya bagaimana keluar dari kegentingan yang mendalam ini. "Demikian fragmen cerita yang direkam KH. Saifudin Zuhri. (M Haromain)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Jadwal Kajian, Olahraga, Ulama Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 24 Januari 2018

Perangi Narkoba, Pesantren Harus Jadi Percontohan

Pamekasan, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Hingga saat ini, pesantren menjadi salah satu lembaga pendidikan dan keagamaan yang berjasa besar dalam menanggulangi geliat sindikat narkoba. Sistem pembinaan dan kedisiplinan di dalamnya menjadi ruh untuk meredam serangan barang haram tersebut.

Demikian penegasan Sekjen Badan Ansor Anti Narkoba (Baanar) Ra Ghufron saat sharing kenarkobaan di Depot Andayani, Pamekasan, Selasa malam (13/9). Dikatakan, dalam menanggulangi narkoba, pesantren harus jadi percontohan.

Perangi Narkoba, Pesantren Harus Jadi Percontohan (Sumber Gambar : Nu Online)
Perangi Narkoba, Pesantren Harus Jadi Percontohan (Sumber Gambar : Nu Online)

Perangi Narkoba, Pesantren Harus Jadi Percontohan

"Sindikat narkoba sekarang bergerak kian bebas. Penegakan hukum kita masih lemah. Bahkan, aparat penegak hukum terindikasi menjadi bagian dari sindikat narkoba," terang Ra Ghufron.

Menurutnya, berbagai ruang kehidupan masyarakat dalam sasaran narkoba. Termasuk ruang lingkup lembaga pendidikan.

"Lembaga-lembaga pendidikan berpotensi besar jadi lumbung peredaran narkoba. Sehebat seperti apapun sistem pendidikannya, kalau tidak mengantisipasi serangan narkoba, itu sangat bahaya," ujar Ra Ghufron.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Untuk hal itu, tambahnya, sekolah-sekolah bisa mencontoh pesantren yang betul-betul menyentuh kehidupan anak didik (santri) secara utuh. (Hairul Anam/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ulama, Hikmah, News Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 17 Januari 2018

Ki Dalang Asep Sunandar Lakukan Ijtihad Pewayangan

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un, telah meninggal dunia dalang kondang wayang golek Ki Asep Sunandar Sunarya pada Senin, (31/3). Sebagaimana dilansir Pikiran Rakyat, ia meninggal di sebuah rumah sakit di Bandung, karena serangan jantung. ?

Ki Dalang Asep Sunandar Lakukan Ijtihad Pewayangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ki Dalang Asep Sunandar Lakukan Ijtihad Pewayangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ki Dalang Asep Sunandar Lakukan Ijtihad Pewayangan

Menurut peneliti di Lakpesdam NU Jawa Barat, Asep Salahudin, Asep Sunandar Sunarya atau akrab disapa Abah Asep, pada 10-15 tahun terakhir, tidak hanya berprofesi sebagai dalang murni, melainkan sebagai da’i. Profesinya yang utama sebagai dalang, tetap dilakukannya.

Dalam mementaskan wayang, Asep menilai, selain terampil menggerakkan boneka dengan dialog-dialog jenaka, Abah Asep juga menyampaikan pesan-pesan keislaman melalui tokoh-tokohnya. “Misalnya dalam dialog para punakawan, yaitu Semar dengan anak-anaknya.”

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Abah Asep, tambah Asep melalui saluran telpon pada Senin malam (31/3), mengingatkan kita pada Wali Songo yang melakukan dakwah dengan wayang.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Yang lebih menarik, kata Asep, pesan-pesan keagamaan yang disampakan Abah Asep bukan soal furu’iyah atau fiqih yang formal, melainkan ajaran Islam universal, misalnya ukhwah Islmiyah, kasih sayang, dan persaudaraan.

Ditanya apakah dakwah dengan wayang masih efektif, Asep Salahudin menjelaskan, bisa ya dan tidak. Menurut dia, setiap media itu memiliki segmennya masing-masing. “Wayang bisa jadi efektif bagi para orang tua.”

Tetapi mungkin tidak efektif bagi anak-anak yang baru lahir 10 tahun belakangan ini. Di samping itu, secara kewilayahan, wayang bisa efektif untuk kalangan pedesaan karena selama ini Abah Asep terbukti? banyak diundang manggung di wilayah itu, jarang di perkotaan.

Dalam dunia pedalangan, Abah Asep melakukan modifikasi dalam segi tema yang keluar dari cerita-cerita umum, juga modifikasi tokoh-tokohnya. “Ia telah berijtihad, melakukan modifikasi untuk mendekatkan wayang di dunia yang cepat berubah ini,” pungkas Asep Salahudin. (Abdullah Alawi) ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ubudiyah, Aswaja, Ulama Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock