Tampilkan postingan dengan label Jadwal Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jadwal Kajian. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Februari 2018

Kiai Manshur Popongan, Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah

KH Muhammad Manshur, adalah pendiri Pondok Pesantren Popongan, Dusun Popongan, Desa Tegalgondo, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten. Kiai Manshur adalah putera Syaikh Muhammad Abdul Hadi Giri Kusumo, seorang mursyid Tarekat Naqsyabandiyah-Khalidiyah di Giri Kusumo Mranggen Demak.

Berdasarkan cerita yang berkembang. pada prosesi pemakaman Mbah Hadi, terjadi sebuah fenomena khariqul “addah (aneh, luar biasa), yakni ada batu besar yang berada dekat calon makam Mbah Hadi. Seluruh pelayat tidak mampu menyingkirkan batu tersebut. Setelah Mbah Kiai Manshur datang, maka batu tersebut diangkatnya sendiri.

Mbah Manshur belajar agama kepada orang tuanya sendiri, yaitu Syaikh Muhammad Hadi Girikusumo. Ketika remaja, ia belajar Islam dan nyantri di Pondok Pesantren Jamsaren Surakarta yang diasuh oleh Kiai Idris, sebuah pesantren tua yang pendiriannya dipelopori oleh Kraton Kasunanan Surakarta. Manshur muda kemudian mendirikan pesantren di Dusun Popongan Klaten, 20 KM dari Jamsaren Surakarta.

Kedatangan Mbah Manshur di Popongan bukan sebuah kebetulan. Sebelum ke Popongan, Klaten, Mbah Manshur sengaja dikirim oleh Mbah Hadi untuk belajar di Jamsaren, dan dalam perkembangannya menemukan Popongan sebagai tempat dakwah, pendidikan, dan pengembangan Islam, khususnya

Kiai Manshur Popongan, Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Manshur Popongan, Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Manshur Popongan, Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah

Para santri dan sesepuh Dusun Popongan menceritakan bahwa kedatangan Mbah Manshur di Popongan bermula ketika Manshur muda di ambil menantu oleh seorang petani kaya di Popongan yang bernama Haji Fadlil. Manshur muda dinikahkan dengan Nyai Maryam (Nyai Kamilah) bintu Fadlil pada tahun 1918. Karena Manshur merupakan alumni pondok pesantren, maka Haji Fadhil memintanya mengajarkan agama di Popongan. Dari pernikahan itu melahirkan Masjfufah, Imro’ah, Muyassaroh, Muhibbin, dan Muqarrabin, dan Irfan. Dari putrinya Nyai Masjfufah binti Manshur yang dinikah Haji Mukri, lahirlah Salman Dahlawi, yang kelak meneruskan estafet keemimpinan pesantren dan Tarekat Naqsyabandiyah.

Sebelum didirikan pondok pesantren, Mbah Manshur mengajar ngaji masyarakat Popongan. Para santri awal Mbah Manshur sangat sedikit, dan hanya membentuk halaqah kecil. Setelah beberapa tahun kemudian santri yang dating mulai banyak dan dari berbagai daerah sehingga Haji Fadlil berinisiatif untuk mendirikan bangunan yang layak untuk pemondokan dan masjid.

Pembangunan pondok pesantren dan masjid dilakukan secara swasembada dan gotong royong. Batu fondasi diperoleh oleh para santri dari Sungai Jebol, sebuah sungai yang terletak di sebelah selatan Dusun Popongan. Adapun pasir diambil dari Sungai tegalgondo, sebelah utara Dusun Popongan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sebagai tokoh yang kaya, Haji Fadhil sendiri yang banyak menyumbang pendirian pesantren yang kelak diasuh oleh menantunya tersebut. Mbah Kiai Muslimin, menceritakan bahwa pembangunan pesantren dilakukan secara gotong royong, sebagian memang mengambil tukang profesional. Pondok Pesantren Popongan resmi didirikan oleh Mbah Manshur pada tahun 1926. Pada tahun yang sama, Mbah Manshur membangun Masjid Popongan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pondok Pesantren Popongan, pada masa kepemimpinan cucunya, Kiai Salman Dahlawi, tanggal 21 Juni 1980, namanya diubah menjadi Pondok Pesantren Al-Manshur Popongan. Dusun Popongan kemudian menjadi pusat dakwah dan pendidikan Islam, di samping menjadi pusat suluk Tarekat Naqsyabandiyah.

Jaringan Tarekat Mbah Manshur dikembangkan dari Mbah Hadi dengan silsilah sebagai berikut: Kiai Manshur, dari Syekh Muhammad Hadi Bin Muhammad Thohir, dari Syaikh Sulaiman Zuhdi, dari Syaikh Ismail Al Barusi, dari Syaikh Sulaiman Al Quraini, dari dari Syaikh Ad Dahlawi, dari Syaikh Habibullah, dari Syaikh Nur Muhammad Al Badwani, dari Syaikh Syaifudin, dari Syaikh Muhammad Ma’sum, dari Syaikh Ahmad Al Faruqi, dari Syaikh Ahmad Al Baqi’ Billah, dari Syaikh Muhammad Al Khawaliji, dari Syaikh Darwisy Muhammad, dari Syaikh Muhammad Az Zuhdi, dari Syaikh Ya’kub Al Jarkhi, dari Syaikh Muhammad Bin Alaudin Al Athour, dari Syaikh Muhammad Bahaudin An Naqsabandy, dari Syaikh Amir Khulal, dari Syaikh Muhammad Baba As-Syamsi, dari Syaikh Ali Ar Rumaitini, dari Syaikh Mahmud Al Injiri Faqhnawi, dari Syaikh Arif Riwikari, dari Syaikh Abdul kholiq al Ghajwani, dari Syaikh Yusuf Al Hamadani, dari Syaikh Abi Ali Fadhal, dari Syaikh Abu Hasan Al Kharwani, dari Syaikh Abu Yazid Thaifur Al Busthoni, dari Syaikh Ja’far Shodiq, dari Syaikh Qosim Muhammad, dari Syaikh Sayyid Salman al Farisi, dari Abu Bakar Ash-Shidiq, dari Nabi Muhammad

Mbah Hadi mengangkat Kiai Manshur dan Kiai Zahid sebagai mursyid tarekat Dari Kiai Zahid, tarekat berkembang di Pantai Utara Jawa, diteruskan oleh Kiai Zuhri, dilanjutkan oleh Kiai Munif. Adapun Mbah Manshur menyebarkan tarekat melalui para badal, di antaranya ada yang sudah menjadi mursyid, yaitu Kiai Arwani (Kudus), Kiai Salman Popongan (Klaten) yang dilanjutkan oleh Gus Multazam, dan Kiai Abdul Mi’raj (Candisari Demak) yang dilanjutkan oleh Kiai Khalil.

Selain dikembangkan oleh para mursyid yang menjadi murid Mbah Manshur, Tarekat Naqsyabandiyah juga dikembangkan di Kauman Surakarta oleh seorang murid perempuan Mbah Manshur, yaitu Nyai Muharromah (Nyai Soelomo Resoatmodjo). Selain di Popongan, Mbah Manshur juga mendirikan pusat latihan spiritual Tarekat Naqsyabandiyah di Kauman Surakarta. Sejak Mbah Manshur memiliki rumah di Kauman Surakarta, maka tarekat Naqsyabandiyah juga berkembang di kota santri tersebut. Rumah Mbah Manshur di Kauman tersebut dibangun oleh muridnya yang bernama Muslimin dan dibantu oleh Salman muda, cucu kesayangan Mbah Manshur. Mbah Muslimin inilah yang sejak awal sudah menjadi penderek (pengikut) Mbah Manshur, dan menjadi teman karib Kiai Salman, sejak kecil sampai meninggalnya.

Di Popongan sendiri, estafet kepemimpinan pondok pesantren dan Tarekat Naqsyabandiyah dipegang oleh Kiai Salman, cucunya Para putera-puteri Mbah Manshur tidak ada yang melanjutkan estafet kepemimpinan tarekat, tetapi lebih suka menekuni dunia perdagangan, mengikuti jejak kakeknya, Mbah Haji Fadhil.

Dalam mengembangkan jaringan Tarekat Naqsyabandiyah, Mbah Manshur dibantu oleh Kiai Arwani Kudus dan Kiai Abdul Mi’raj (Candisari Semarang). Di Popongan, Mbah Manshur dibantu oleh banyak santri dan jama’ahnya dalam mengembangkan Islam dan jaringan Tarekat Naqsyabandiyah.

Mbah Manshur termasuk Kiai sepuh yang disegani, bukan saja oleh para santri dan jama’ahnya, tetapi juga oleh masyarakat umum, bahkan oleh para sejawatnya dari kalangan Kiai. Setelah pondok pesantren berdiri, Mbah Manshur bukan saja kedatangan tamu yang mau mengaji saja, tetapi juga tamu-tamu umum yang bermaksud bersilaturrahmi dan ngalap berkah. Karisma Mbah Mansur pun semakin meningkat dan menjadi Kiai popular di kalangan masyarakat Klaten, Surakarta, Semarang, Jawa Tengah pada umumnya, dan Yogyakarta.

Kiai Munawwir, pendiri Pondok Pesantren Krayak Yogyakarta, adalah termasuk murid Mbah Manshur di Yogyakarta. Walaupun tidak menjadi mursyid tarekat, Kiai Munawwir menjadi bagian penting dalam perjuangan Mbah Manshur. Ketika Kiai Munawwir meninggal tahun 1942, Mbah Manshur menghadiri acara ta’ziyah dan menjadi imam shalat jenazah.

Mbah Manshur juga menjalin hubungan baik dengan Mbah Siroj, Panularan Surakarta, dan Mbah Ahmad Umar bin Abdul Mannan Mangkuyudan Surakarta. Kedekatan dengan Kiai Ahmad Umar ditunjukkan dengan pembertian nama Al-Muayyad oleh Mbah Manshur untuk nama pondok pesantren di Mangkuyudan yang dirintis Mbah Kiai Abdul Mannan pada tahun 1930. Al-Muayyad berarti yang dikuatkan, artinya bahwa pondok pesantren tersebut dikuatkan oleh kaum muslimin di Surakarta dan sekitarnya.

Mbah Manshur wafat tahun 1955. Setiap tahun Pondok Pesantren Al-Manshur Popongan dan Baqni Manshur mengadakan acara haul yang dihadiri oleh ribuan orang. Pada tahun 2013 ini, haul Mbah Manshur sudah sampai yang ke 58. Setelah Mbah Manshur wafat, estafet kepemimpinan pesantren dan tarekat dipegang oleh cucunya, Kiai Salman, dan mulai tahun 2013, kepemimpinan dipegang oleh Gus Multazam bin Salman Dahlawi.

Menurut informasi dari banyak sumber, Mbah Manshur menyusun lafaz do’a bagi para santri sebelum membaca Al-Qur’an. Lafaz do’a itu dipasang di Madrasah (sebutan salah satu gedung pengajian di Pondok Pesantren Al-Manshur, tepat di depan Ndalem yang ditinggali Mbah Manshur). Lafaz doa tersebut menjadi kharakter khas bacaan bagi santri-santri Pondok Pesantren Al-Manshur Popongan sampai deweasa ini.

Lafaz tersebut berbunyi:

Allahumma bil haqqi anzaltahu wa bil haqqi nazal

Allahumma Adzdzim rughbatii fiih

Waj’alhu nuuran li bashorii

Wasyifaa’an li shodrii

Wadzahaban lihammii wa huznii

Allahumma zayyin bihii lisaanii

Wajammil bihii wajhii

Waqawwi bihii jasadii Watsaqqil bihii miizaani

Waqawwinii ‘alaa thaa’atika wa athraafan nahaar

Setiap santri Al-Manshur Popongan mesti hafal do’a tersebut, karena doa karya Mbah Manshur itu selalu dibaca sebelum mengaji Al-Qur’an, baik pengajian AL-Qur’an setelah maghrib, setelah subuh, maupun setelah dhuhur.

Selain itu, beberapa sumber menyebutkan bahwa Syi’ir Tanpo Waton yang dipopulerkan Gus Dur diambil dari Pondok Sepuh di Pondok Pesantren Al-Manshur Popongan. Tetapi dalam pengalaman penulis yang 3 tahun nyantri di Popongan, belum pernah mendengar puji-pujian syi’ir terserbut, khususnya lafaz yang berbahasa jawa Adapun lafaz dengan bahasa Arab merupakan lafaz yang popular dan banyak dipahami masyarakat di berbagai daerah.

?

Syamsul Bakri, Ketua Lakpesdam-NU Klaten, Pengasuh Pesantren Darul Afkar Klaten, dan Dosen IAIN Surakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Jadwal Kajian, Kajian Sunnah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 06 Februari 2018

NU Tak Pernah Absen Bela Pancasila dan NKRI

Jakarta,Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Anggota DPR RI Zainut Tauhid Saadi mengatakan, dalam perjalanan sejarah negara ini, Nahdlatul Ulama tidak pernah absen di dalam membela dan mempertahankan NKRI dan Pancasila.

NU Tak Pernah Absen Bela Pancasila dan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Tak Pernah Absen Bela Pancasila dan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Tak Pernah Absen Bela Pancasila dan NKRI

Hal itu, menurut politikus Partai Persatuan Pembangunan tersebut, karena pada proses kelahiran Pancasila, tokoh-tokoh NU terlibat di dalamnya. “Salah satu anggota tim 9 adalah putra Hadrotusy Syekh KH Hasyim Asy’ari, yaitu Wahid Hasyim,” katanya di gedung PBNU Kamis (16/6) pada sosialisasi empat pilar yang diselenggarakan Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama.

Lebih lanjut Ketua Umum Pimpinan Pusat IPNU dua periode 1988-1992 dan 1992-1996 tersebut menyebutkan, Indonesia membutuhka Pancasila sebagai alat perekat dan pemmersatu bangsa.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Menurut dia, Indonesia adalah negara besar yang memiliki sekitar 18 ribu pulau, ratusan bahasa, suku, 6 agama rsmi. “Artinya kemajemukan bangsa yang sedemikian rupa membutuhkan satu piranti untuk mepersatukan seluruh bangsa indonesia. Apa pirantinya?”

Itulah kemudian dirumuskan oleh para pendiri republik Indonesia yang disebut Pancasila. Nama tersebut dinamakan Bung Karno pada 1 Juni 1945. (Abdullah Alawi)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Daerah, Jadwal Kajian, Aswaja Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 03 Februari 2018

Jelang Pileg, Warga NU Diimbau Jaga Kerukunan

Rembang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Menjelang pemilihan legislatif 2014, warga NU diimbau untuk tetap menjaga kerukunan. Hal tersebut disampaikan Wakil Bupati Rembang H Abdul Hafidz dalam peringatan haul Syaikh Rozzak Saifullah dan Syaikh Absdul Rahman bin Ali Imron di Desa Mojorembun, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Jumat (14/2) sore.

Jelang Pileg, Warga NU Diimbau Jaga Kerukunan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Pileg, Warga NU Diimbau Jaga Kerukunan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Pileg, Warga NU Diimbau Jaga Kerukunan

Menurut dia, jelang Pileg, pertikaian antarwarga rentan terjadi karena berbeda pilihan politik. Abdul Hafidz juga mengajak, masyarakat tetap menentukan pilihan meski tidak menerima uang saku saat hendak mencoblos.

Hafidz juga mengajak masyarakat untuk menghindari politik uang, untuk menentukan pemimpin agar lebih netral. Jika tidak bisa, Hafidz menganjurkan mereka bisa saja merima uang tetapi pilihan tetap sesuai hati nurani. Pasalnya, memberikan amanah kepada pemimpin yang tidak amanah, kata pengurus Nahdlatul Ulama itu, merupakan perbuatan dosa.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Alangkah lebih mulianya masyarakat jika tidak mau menerima money politic, yang sering menggoyangkan pilihan di saat pemilihan legeslatif,” kata Hafidz.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Di sela pengajian yang dihadiri ribuan warga Mojorembun dan sekitarnya itu, wakil bupati rembang juga mengaku prihatin atas rusaknya jalan sepanjang Kaliori hingga menuju arah Kecamatan Sumber, Rembang.

Hafidz ikut merasakan kerusakan jalan yang sudah terjadi sejak tahun 2013 lalu itu, hingga kini belum ada penanganan lagi. Tetapi, hafidz dihadapan para hadirin berjanji akan membangun jalan yang rusak, akhir bulan Juli, jalan yang rusak di Kaliori sudah terselesaikan. Pihaknya telah menyiapkan anggaran tujuh miliar untuk mengatasi hal ini. (Ahmad Asmu’i/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Daerah, Kiai, Jadwal Kajian Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 25 Januari 2018

Detik-detik Kiai Wahab Chasbullah Nyaris Tertangkap PKI

Pemberontakan PKI di Madiun pada 18 September 1948 merupakan di antara tragedi yang sempat mengguncangkan stabilitas perjalanan kemerdekaan Republik Indonesia yang tempo itu masih jatuh bangun. Beberapa literatur menyatakan, dalam aksi ini beberapa pejabat, perwira TNI, pimpinan partai, alim ulama, dan rakyat yang dianggap tidak sehaluan dengan PKI dibunuh secara kejam. Sebelumnya PKI telah melancarkan propaganda anti pemerintah, mengadakan demonstrasi-demonstrasi, menculik lawan-lawan politik, dan menggerakkan kerusuhan di berbagai tempat.

Terlalu banyak data yang menjadi bukti peristiwa di atas. Di antaranya Majalah Aula edisi Mei 2007, sedikit telah menyajikan fragmen-fragmen kekejaman PKI dan segenap simpatisannya seperti dimaksud. Tapi di sini kami hendak spesifik menyajikan fakta sejarah yang berhasil dicatat oleh sejarahwan NU, KH. Saifudin Zuhri tentang Kiai Abdul Wahab Chasbullah yang hampir saja tertangkap oleh simpatisan PKI andai saja beliau tidak bersiasat mengubah identitas penampilannya. Kisah itu diutarakan Kiai Saifudin Zuhri dalam buku "Guruku Orang-orang dari Pesantren". Berikut ini kesaksian mantan mentri agama di era presiden Sukarno tersebut:

Detik-detik Kiai Wahab Chasbullah Nyaris Tertangkap PKI (Sumber Gambar : Nu Online)
Detik-detik Kiai Wahab Chasbullah Nyaris Tertangkap PKI (Sumber Gambar : Nu Online)

Detik-detik Kiai Wahab Chasbullah Nyaris Tertangkap PKI

"Aku laporkan bahwa menjelang pemberontakan PKI di Madiun, KH. A. Wahab Hasbullah, mengadakan latihan ulama di Ngawi. Aku baru pulang dari Ngawi 3 hari sebelum pecah pemberontakan PKI.

Ketika latihan ulama dibubarkan karena sudah selesai, tidak ada yang mengerti bahwa PKI mengadakan pemberontakan di madiun. Padahal jarak Ngawi dan Madiun dekat sekali. Para peserta latihan pulang ke daerahnya maing-masing.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

KH Abdul Wahab Chasbullah pulang ke Jombang dengan naik kereta api. Perjalanan ke Jombang ini harus melewati Madiun. Ketika telah mendekati Madiun, beliau baru mengerti bahwa di Madiun ada pemberontakan PKI, tetapi beliau sudah terlanjur berada dekat stasiun Madiun. Agar orang tidak mudah mengenali siapa beliau, terpikir olehnya untuk menghilangkan identitasnya. Sorban dilipat dimasukkan ke dalam tasnya. KH Abdul Wahab Chasbullah berhasil berdiplomasi dengan salah seorang di stasiun untuk memperoleh peci hitamnya. Peci hitam pun ia kenakan. Dengan peci hitam ini, orang tidak mudah mengenali Kiai Wahab. Maka, selamatlah beliau hingga tiba di rumahnya, di Jombang. Jika saja PKI mengenali Kiai Wahab, pastilah beliau dijadikan tawanan golongan kakap, dan entah bagaimana nasib selanjutnya. Tetapi syukur alhamdulillah Tuhan tetap melindungi beliau.

Sebuah pesantren di Madiun, lanjut kiai Saifudin Zuhri, kalau tidak salah pesantren Takeran, adalah pesantren pertama yang dijadikan sasaran pengganyangan oleh PKI. Beberapa santri menjadi korban dan pesantren dibakar. Sudah bukan rahasia lagi bahwa sasaran utama PKI adalah orang-orang republikan, pegawai pemerintah, dan laskar-laskar Hizbullah-Sabilillah, barisan banteng, barisan pemberontakan, dan lain-lain yang pro pemerintah Yogya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Suasana kota Yogya diliputi oleh kemarahan rakyat terhadap PKI dan Belanda, yang belakangan ini terus-menerus melanggar gencatan senjata dan melakukan insiden-insiden di tapal batas. Korban banyak yang jatuh di kedua belah pihak. Yogya diliputi oleh awan gelap, penuh tanda tanya bagaimana keluar dari kegentingan yang mendalam ini. "Demikian fragmen cerita yang direkam KH. Saifudin Zuhri. (M Haromain)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Jadwal Kajian, Olahraga, Ulama Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 06 Januari 2018

Ajaklah kepada Jalan Tuhan melalui Medsos dan NU Online

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan?



Untuk berbicara tentang dakwah, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj memulai dengan penjelasan khatir (hal yang terlintas). Menurutnya, khatir ada beberapa macam, yaitu khatir rabbani, malaki, syatani, hawai. Khatir rabbani berasal dari Allah. Khatir inilah yang membuka kepada kebenaran.?

Ajaklah kepada Jalan Tuhan melalui Medsos dan NU Online (Sumber Gambar : Nu Online)
Ajaklah kepada Jalan Tuhan melalui Medsos dan NU Online (Sumber Gambar : Nu Online)

Ajaklah kepada Jalan Tuhan melalui Medsos dan NU Online

“Kedua, khatir malakuti, datang dari malaikat, kadang khatir ini masih memiliki keraguan. Khatir syaithani, mengajak kita kepada yang salah. Sementara khatir hawa’i atau nafsani, berada dalam diri kita sendiri atau hawa nafsu, hedonistik, birahi,” katanya.?

Semua khatir itu akan jadi khawatir dan akan meningkat menjadi kebenaran yang dilewati melalui dzauq atau intuisi. Sementara dzauq itu lebih tinggi daripada aqal.

“Aqal sebagai kata benda di Al-Qur’an tidak ada, adanya kata kerja, ya’qilun. Artinya aqal merupakan operasional dari dzauk itu tadi,” katanya pada Halal Bihalal dan Sarasehan Netizen NU di Gedung PBNU Jakarta Pusat, Rabu (12/7) sore. ?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Maka, lanjut kiai yang pernah nyantri di Kempek, Lirboyo, dan Krapyak dan 13 studi di Ummul Qurra, Arab Saudi itu, kebenaran dzauq itu lebih tinggi daripada aqal atau logika, dengan syarat perilaku orangnya juga bagus. Ketika orangnya tidak bagus, akan menjadi hawa nafsu, dari syetan.?

Kebenaran melalui dzauq, jelasnya, ada yang berupa ilham, naik menjadi ilmu laduni, naik lagi menjadi al-quwwatul mutakhayalah atau kekuatan yang mampu mengimajanasi tentang kebenaran. Inilah yang dimiliki para nabi atau aqal yang diterima dari aqal fa’al atau aqal aktif. Aqal fa’al diterima dari aqal kulli atau universal. Aqal kulli dari wujud yang mutlaq. ?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Saya ingin mengatakan, intuisi lebih universal, lebih membawa kebenaran daripada aqal, daripada logika. Puncaknya dari intuisi itu adalah wahyu. Wahyu itu dari dzauq, bukan dari aqal. Ilham, ilmu laduni, al-quwwatul mutakhayalah, wahyu puncaknya. Sebuah kebenaran diambil dengan perangkat yang halus. Aqal itu masih kasar karena menggunakan logika. Jika menggunakan dzauq, ini sudah menggunakan perangkat halus, atau software,” jelasnya.?

Menurut dia, dzauq pasti akan membawa kita kepada kebenaran universal dan di situlah kita bisa berbuat banyak untuk dakwah.?

“Ud’u ila sabili rabbika bilhikmah, ay bil medsos, tafsirnya saya”; wal mauidhatil hasanah, dengan redaksi menarik atau Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan,” katanya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Jadwal Kajian Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 04 Januari 2018

PMII UPI Gelar Mapaba Ke-5

Bandung, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Universitas Pendidikan Indonesia (PK PMII UPI) mengadakan Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba) ke-5 di gedung PWNU Jawa Barat, mulai Jumat-Ahad, (22-24/3).

PMII UPI Gelar Mapaba  Ke-5 (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII UPI Gelar Mapaba Ke-5 (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII UPI Gelar Mapaba Ke-5

Menurut Ketua Komisariat PMII UPI M. Ridwan Hidayatulloh Mapaba bertema “Membentuk anggota PMII yang ulul albab di segala bidang” bertujuan? untuk mengusung ideologi Ahlu Sunnah wal-Jamaah. Tidak hanya itu, tapi dijadikan manhajul fikr serta manhajul harokah.

“Harapannya semoga para peserta tersebut senantiasa bergerak berlandas keindonesiaan dan keislaman di kampusnya masing-masing,” katanya melalui pers rilis yang dikirim kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan, Ahad, (24/3).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pada gilirannya, dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari baik dalam bidang sosial, ekonomi, budaya, berbangsa dan bernegara.

Ridwan juga berharap semoga dengan Mapaba ini dapat membentuk kader-kader PMII yang militan, progres, dan dapat melanjutkan estafeta kepengurusan PMII di masa yang aka datang.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sementara Ketua Pelaksana Mapaba Surya Dienullah Al Bandani mengatakan, jenjang pertama memasuki organisasi yang didirikan 17 April 1960 itu diikuti 32 orang. Mereka berasal dari beberapa kampus, diantaranya UPI, Poltek Praktisi, dan UIN Sunan Gunung Djati.

Lebih jauh ia memaparakan, Mapaba yang diikuti rata-rata mahasiswa tingkat awal tersebut diisi dengan memperkenalkan dunia intelektual dan dinamika pemikiran.



Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Jadwal Kajian Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 03 Januari 2018

Santri PBSB Kemenag RI Muspimnas di Bandung

Bandung, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Para santri yang mengikuti Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) Kementerian Agama RI yang dihimpun dalam Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs (CSS MORA) mengadakan Musyawarah Pimpinan Nasional (Muspimnas) di Pesantren Darut Tauhid, Lembang, Bandung.

CSS MORA Nasional periode 2014, Ahmad Maulana, mengatakan, kegiatan yang berlangsung pada tanggal 17-18 Mei merupakan agenda tahunan untuk merumuskan, mensosialisasikan program kerja dan kebijakan-kebijakan yang ditetapkan untuk semua santri PBSB.

Santri PBSB Kemenag RI Muspimnas di Bandung (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri PBSB Kemenag RI Muspimnas di Bandung (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri PBSB Kemenag RI Muspimnas di Bandung

Juga, kata dia, untuk menjalin silaturrahim dan kerja sama antar-pengurus CSS MORA Perguruan Tinggi. ”Mempertegas eksistensi CSS MORA karena selama ini kurang kejelasan fungsi, tujuan, wewenang, arah kerja agar tidak salah memahami CSS MORA Nasional,” ujarnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Lebih lanjut, menurutnya, melalui kegiatan tersebut akan tercipta sinkronisasi program kerja CSS MORA Nasional dan CSS MORA perguruan tinggi sesuai dengan visi, yakni terciptanya anggota berorientasi pada keilmuan, pengembangan dan pemberdayaan pesantren serta pengabdian masyarakat. (Muhammad Zidni Nafi’/Abdullah Alawi)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Jadwal Kajian, AlaNu Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock