Tampilkan postingan dengan label Jadwal Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jadwal Kajian. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Februari 2018

Kiai Manshur Popongan, Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah

KH Muhammad Manshur, adalah pendiri Pondok Pesantren Popongan, Dusun Popongan, Desa Tegalgondo, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten. Kiai Manshur adalah putera Syaikh Muhammad Abdul Hadi Giri Kusumo, seorang mursyid Tarekat Naqsyabandiyah-Khalidiyah di Giri Kusumo Mranggen Demak.

Berdasarkan cerita yang berkembang. pada prosesi pemakaman Mbah Hadi, terjadi sebuah fenomena khariqul “addah (aneh, luar biasa), yakni ada batu besar yang berada dekat calon makam Mbah Hadi. Seluruh pelayat tidak mampu menyingkirkan batu tersebut. Setelah Mbah Kiai Manshur datang, maka batu tersebut diangkatnya sendiri.

Mbah Manshur belajar agama kepada orang tuanya sendiri, yaitu Syaikh Muhammad Hadi Girikusumo. Ketika remaja, ia belajar Islam dan nyantri di Pondok Pesantren Jamsaren Surakarta yang diasuh oleh Kiai Idris, sebuah pesantren tua yang pendiriannya dipelopori oleh Kraton Kasunanan Surakarta. Manshur muda kemudian mendirikan pesantren di Dusun Popongan Klaten, 20 KM dari Jamsaren Surakarta.

Kedatangan Mbah Manshur di Popongan bukan sebuah kebetulan. Sebelum ke Popongan, Klaten, Mbah Manshur sengaja dikirim oleh Mbah Hadi untuk belajar di Jamsaren, dan dalam perkembangannya menemukan Popongan sebagai tempat dakwah, pendidikan, dan pengembangan Islam, khususnya

Kiai Manshur Popongan, Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Manshur Popongan, Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Manshur Popongan, Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah

Para santri dan sesepuh Dusun Popongan menceritakan bahwa kedatangan Mbah Manshur di Popongan bermula ketika Manshur muda di ambil menantu oleh seorang petani kaya di Popongan yang bernama Haji Fadlil. Manshur muda dinikahkan dengan Nyai Maryam (Nyai Kamilah) bintu Fadlil pada tahun 1918. Karena Manshur merupakan alumni pondok pesantren, maka Haji Fadhil memintanya mengajarkan agama di Popongan. Dari pernikahan itu melahirkan Masjfufah, Imro’ah, Muyassaroh, Muhibbin, dan Muqarrabin, dan Irfan. Dari putrinya Nyai Masjfufah binti Manshur yang dinikah Haji Mukri, lahirlah Salman Dahlawi, yang kelak meneruskan estafet keemimpinan pesantren dan Tarekat Naqsyabandiyah.

Sebelum didirikan pondok pesantren, Mbah Manshur mengajar ngaji masyarakat Popongan. Para santri awal Mbah Manshur sangat sedikit, dan hanya membentuk halaqah kecil. Setelah beberapa tahun kemudian santri yang dating mulai banyak dan dari berbagai daerah sehingga Haji Fadlil berinisiatif untuk mendirikan bangunan yang layak untuk pemondokan dan masjid.

Pembangunan pondok pesantren dan masjid dilakukan secara swasembada dan gotong royong. Batu fondasi diperoleh oleh para santri dari Sungai Jebol, sebuah sungai yang terletak di sebelah selatan Dusun Popongan. Adapun pasir diambil dari Sungai tegalgondo, sebelah utara Dusun Popongan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sebagai tokoh yang kaya, Haji Fadhil sendiri yang banyak menyumbang pendirian pesantren yang kelak diasuh oleh menantunya tersebut. Mbah Kiai Muslimin, menceritakan bahwa pembangunan pesantren dilakukan secara gotong royong, sebagian memang mengambil tukang profesional. Pondok Pesantren Popongan resmi didirikan oleh Mbah Manshur pada tahun 1926. Pada tahun yang sama, Mbah Manshur membangun Masjid Popongan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pondok Pesantren Popongan, pada masa kepemimpinan cucunya, Kiai Salman Dahlawi, tanggal 21 Juni 1980, namanya diubah menjadi Pondok Pesantren Al-Manshur Popongan. Dusun Popongan kemudian menjadi pusat dakwah dan pendidikan Islam, di samping menjadi pusat suluk Tarekat Naqsyabandiyah.

Jaringan Tarekat Mbah Manshur dikembangkan dari Mbah Hadi dengan silsilah sebagai berikut: Kiai Manshur, dari Syekh Muhammad Hadi Bin Muhammad Thohir, dari Syaikh Sulaiman Zuhdi, dari Syaikh Ismail Al Barusi, dari Syaikh Sulaiman Al Quraini, dari dari Syaikh Ad Dahlawi, dari Syaikh Habibullah, dari Syaikh Nur Muhammad Al Badwani, dari Syaikh Syaifudin, dari Syaikh Muhammad Ma’sum, dari Syaikh Ahmad Al Faruqi, dari Syaikh Ahmad Al Baqi’ Billah, dari Syaikh Muhammad Al Khawaliji, dari Syaikh Darwisy Muhammad, dari Syaikh Muhammad Az Zuhdi, dari Syaikh Ya’kub Al Jarkhi, dari Syaikh Muhammad Bin Alaudin Al Athour, dari Syaikh Muhammad Bahaudin An Naqsabandy, dari Syaikh Amir Khulal, dari Syaikh Muhammad Baba As-Syamsi, dari Syaikh Ali Ar Rumaitini, dari Syaikh Mahmud Al Injiri Faqhnawi, dari Syaikh Arif Riwikari, dari Syaikh Abdul kholiq al Ghajwani, dari Syaikh Yusuf Al Hamadani, dari Syaikh Abi Ali Fadhal, dari Syaikh Abu Hasan Al Kharwani, dari Syaikh Abu Yazid Thaifur Al Busthoni, dari Syaikh Ja’far Shodiq, dari Syaikh Qosim Muhammad, dari Syaikh Sayyid Salman al Farisi, dari Abu Bakar Ash-Shidiq, dari Nabi Muhammad

Mbah Hadi mengangkat Kiai Manshur dan Kiai Zahid sebagai mursyid tarekat Dari Kiai Zahid, tarekat berkembang di Pantai Utara Jawa, diteruskan oleh Kiai Zuhri, dilanjutkan oleh Kiai Munif. Adapun Mbah Manshur menyebarkan tarekat melalui para badal, di antaranya ada yang sudah menjadi mursyid, yaitu Kiai Arwani (Kudus), Kiai Salman Popongan (Klaten) yang dilanjutkan oleh Gus Multazam, dan Kiai Abdul Mi’raj (Candisari Demak) yang dilanjutkan oleh Kiai Khalil.

Selain dikembangkan oleh para mursyid yang menjadi murid Mbah Manshur, Tarekat Naqsyabandiyah juga dikembangkan di Kauman Surakarta oleh seorang murid perempuan Mbah Manshur, yaitu Nyai Muharromah (Nyai Soelomo Resoatmodjo). Selain di Popongan, Mbah Manshur juga mendirikan pusat latihan spiritual Tarekat Naqsyabandiyah di Kauman Surakarta. Sejak Mbah Manshur memiliki rumah di Kauman Surakarta, maka tarekat Naqsyabandiyah juga berkembang di kota santri tersebut. Rumah Mbah Manshur di Kauman tersebut dibangun oleh muridnya yang bernama Muslimin dan dibantu oleh Salman muda, cucu kesayangan Mbah Manshur. Mbah Muslimin inilah yang sejak awal sudah menjadi penderek (pengikut) Mbah Manshur, dan menjadi teman karib Kiai Salman, sejak kecil sampai meninggalnya.

Di Popongan sendiri, estafet kepemimpinan pondok pesantren dan Tarekat Naqsyabandiyah dipegang oleh Kiai Salman, cucunya Para putera-puteri Mbah Manshur tidak ada yang melanjutkan estafet kepemimpinan tarekat, tetapi lebih suka menekuni dunia perdagangan, mengikuti jejak kakeknya, Mbah Haji Fadhil.

Dalam mengembangkan jaringan Tarekat Naqsyabandiyah, Mbah Manshur dibantu oleh Kiai Arwani Kudus dan Kiai Abdul Mi’raj (Candisari Semarang). Di Popongan, Mbah Manshur dibantu oleh banyak santri dan jama’ahnya dalam mengembangkan Islam dan jaringan Tarekat Naqsyabandiyah.

Mbah Manshur termasuk Kiai sepuh yang disegani, bukan saja oleh para santri dan jama’ahnya, tetapi juga oleh masyarakat umum, bahkan oleh para sejawatnya dari kalangan Kiai. Setelah pondok pesantren berdiri, Mbah Manshur bukan saja kedatangan tamu yang mau mengaji saja, tetapi juga tamu-tamu umum yang bermaksud bersilaturrahmi dan ngalap berkah. Karisma Mbah Mansur pun semakin meningkat dan menjadi Kiai popular di kalangan masyarakat Klaten, Surakarta, Semarang, Jawa Tengah pada umumnya, dan Yogyakarta.

Kiai Munawwir, pendiri Pondok Pesantren Krayak Yogyakarta, adalah termasuk murid Mbah Manshur di Yogyakarta. Walaupun tidak menjadi mursyid tarekat, Kiai Munawwir menjadi bagian penting dalam perjuangan Mbah Manshur. Ketika Kiai Munawwir meninggal tahun 1942, Mbah Manshur menghadiri acara ta’ziyah dan menjadi imam shalat jenazah.

Mbah Manshur juga menjalin hubungan baik dengan Mbah Siroj, Panularan Surakarta, dan Mbah Ahmad Umar bin Abdul Mannan Mangkuyudan Surakarta. Kedekatan dengan Kiai Ahmad Umar ditunjukkan dengan pembertian nama Al-Muayyad oleh Mbah Manshur untuk nama pondok pesantren di Mangkuyudan yang dirintis Mbah Kiai Abdul Mannan pada tahun 1930. Al-Muayyad berarti yang dikuatkan, artinya bahwa pondok pesantren tersebut dikuatkan oleh kaum muslimin di Surakarta dan sekitarnya.

Mbah Manshur wafat tahun 1955. Setiap tahun Pondok Pesantren Al-Manshur Popongan dan Baqni Manshur mengadakan acara haul yang dihadiri oleh ribuan orang. Pada tahun 2013 ini, haul Mbah Manshur sudah sampai yang ke 58. Setelah Mbah Manshur wafat, estafet kepemimpinan pesantren dan tarekat dipegang oleh cucunya, Kiai Salman, dan mulai tahun 2013, kepemimpinan dipegang oleh Gus Multazam bin Salman Dahlawi.

Menurut informasi dari banyak sumber, Mbah Manshur menyusun lafaz do’a bagi para santri sebelum membaca Al-Qur’an. Lafaz do’a itu dipasang di Madrasah (sebutan salah satu gedung pengajian di Pondok Pesantren Al-Manshur, tepat di depan Ndalem yang ditinggali Mbah Manshur). Lafaz doa tersebut menjadi kharakter khas bacaan bagi santri-santri Pondok Pesantren Al-Manshur Popongan sampai deweasa ini.

Lafaz tersebut berbunyi:

Allahumma bil haqqi anzaltahu wa bil haqqi nazal

Allahumma Adzdzim rughbatii fiih

Waj’alhu nuuran li bashorii

Wasyifaa’an li shodrii

Wadzahaban lihammii wa huznii

Allahumma zayyin bihii lisaanii

Wajammil bihii wajhii

Waqawwi bihii jasadii Watsaqqil bihii miizaani

Waqawwinii ‘alaa thaa’atika wa athraafan nahaar

Setiap santri Al-Manshur Popongan mesti hafal do’a tersebut, karena doa karya Mbah Manshur itu selalu dibaca sebelum mengaji Al-Qur’an, baik pengajian AL-Qur’an setelah maghrib, setelah subuh, maupun setelah dhuhur.

Selain itu, beberapa sumber menyebutkan bahwa Syi’ir Tanpo Waton yang dipopulerkan Gus Dur diambil dari Pondok Sepuh di Pondok Pesantren Al-Manshur Popongan. Tetapi dalam pengalaman penulis yang 3 tahun nyantri di Popongan, belum pernah mendengar puji-pujian syi’ir terserbut, khususnya lafaz yang berbahasa jawa Adapun lafaz dengan bahasa Arab merupakan lafaz yang popular dan banyak dipahami masyarakat di berbagai daerah.

?

Syamsul Bakri, Ketua Lakpesdam-NU Klaten, Pengasuh Pesantren Darul Afkar Klaten, dan Dosen IAIN Surakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Jadwal Kajian, Kajian Sunnah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 06 Februari 2018

NU Tak Pernah Absen Bela Pancasila dan NKRI

Jakarta,Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Anggota DPR RI Zainut Tauhid Saadi mengatakan, dalam perjalanan sejarah negara ini, Nahdlatul Ulama tidak pernah absen di dalam membela dan mempertahankan NKRI dan Pancasila.

NU Tak Pernah Absen Bela Pancasila dan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Tak Pernah Absen Bela Pancasila dan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Tak Pernah Absen Bela Pancasila dan NKRI

Hal itu, menurut politikus Partai Persatuan Pembangunan tersebut, karena pada proses kelahiran Pancasila, tokoh-tokoh NU terlibat di dalamnya. “Salah satu anggota tim 9 adalah putra Hadrotusy Syekh KH Hasyim Asy’ari, yaitu Wahid Hasyim,” katanya di gedung PBNU Kamis (16/6) pada sosialisasi empat pilar yang diselenggarakan Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama.

Lebih lanjut Ketua Umum Pimpinan Pusat IPNU dua periode 1988-1992 dan 1992-1996 tersebut menyebutkan, Indonesia membutuhka Pancasila sebagai alat perekat dan pemmersatu bangsa.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Menurut dia, Indonesia adalah negara besar yang memiliki sekitar 18 ribu pulau, ratusan bahasa, suku, 6 agama rsmi. “Artinya kemajemukan bangsa yang sedemikian rupa membutuhkan satu piranti untuk mepersatukan seluruh bangsa indonesia. Apa pirantinya?”

Itulah kemudian dirumuskan oleh para pendiri republik Indonesia yang disebut Pancasila. Nama tersebut dinamakan Bung Karno pada 1 Juni 1945. (Abdullah Alawi)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Daerah, Jadwal Kajian, Aswaja Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 03 Februari 2018

Jelang Pileg, Warga NU Diimbau Jaga Kerukunan

Rembang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Menjelang pemilihan legislatif 2014, warga NU diimbau untuk tetap menjaga kerukunan. Hal tersebut disampaikan Wakil Bupati Rembang H Abdul Hafidz dalam peringatan haul Syaikh Rozzak Saifullah dan Syaikh Absdul Rahman bin Ali Imron di Desa Mojorembun, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Jumat (14/2) sore.

Jelang Pileg, Warga NU Diimbau Jaga Kerukunan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Pileg, Warga NU Diimbau Jaga Kerukunan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Pileg, Warga NU Diimbau Jaga Kerukunan

Menurut dia, jelang Pileg, pertikaian antarwarga rentan terjadi karena berbeda pilihan politik. Abdul Hafidz juga mengajak, masyarakat tetap menentukan pilihan meski tidak menerima uang saku saat hendak mencoblos.

Hafidz juga mengajak masyarakat untuk menghindari politik uang, untuk menentukan pemimpin agar lebih netral. Jika tidak bisa, Hafidz menganjurkan mereka bisa saja merima uang tetapi pilihan tetap sesuai hati nurani. Pasalnya, memberikan amanah kepada pemimpin yang tidak amanah, kata pengurus Nahdlatul Ulama itu, merupakan perbuatan dosa.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Alangkah lebih mulianya masyarakat jika tidak mau menerima money politic, yang sering menggoyangkan pilihan di saat pemilihan legeslatif,” kata Hafidz.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Di sela pengajian yang dihadiri ribuan warga Mojorembun dan sekitarnya itu, wakil bupati rembang juga mengaku prihatin atas rusaknya jalan sepanjang Kaliori hingga menuju arah Kecamatan Sumber, Rembang.

Hafidz ikut merasakan kerusakan jalan yang sudah terjadi sejak tahun 2013 lalu itu, hingga kini belum ada penanganan lagi. Tetapi, hafidz dihadapan para hadirin berjanji akan membangun jalan yang rusak, akhir bulan Juli, jalan yang rusak di Kaliori sudah terselesaikan. Pihaknya telah menyiapkan anggaran tujuh miliar untuk mengatasi hal ini. (Ahmad Asmu’i/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Daerah, Kiai, Jadwal Kajian Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 25 Januari 2018

Detik-detik Kiai Wahab Chasbullah Nyaris Tertangkap PKI

Pemberontakan PKI di Madiun pada 18 September 1948 merupakan di antara tragedi yang sempat mengguncangkan stabilitas perjalanan kemerdekaan Republik Indonesia yang tempo itu masih jatuh bangun. Beberapa literatur menyatakan, dalam aksi ini beberapa pejabat, perwira TNI, pimpinan partai, alim ulama, dan rakyat yang dianggap tidak sehaluan dengan PKI dibunuh secara kejam. Sebelumnya PKI telah melancarkan propaganda anti pemerintah, mengadakan demonstrasi-demonstrasi, menculik lawan-lawan politik, dan menggerakkan kerusuhan di berbagai tempat.

Terlalu banyak data yang menjadi bukti peristiwa di atas. Di antaranya Majalah Aula edisi Mei 2007, sedikit telah menyajikan fragmen-fragmen kekejaman PKI dan segenap simpatisannya seperti dimaksud. Tapi di sini kami hendak spesifik menyajikan fakta sejarah yang berhasil dicatat oleh sejarahwan NU, KH. Saifudin Zuhri tentang Kiai Abdul Wahab Chasbullah yang hampir saja tertangkap oleh simpatisan PKI andai saja beliau tidak bersiasat mengubah identitas penampilannya. Kisah itu diutarakan Kiai Saifudin Zuhri dalam buku "Guruku Orang-orang dari Pesantren". Berikut ini kesaksian mantan mentri agama di era presiden Sukarno tersebut:

Detik-detik Kiai Wahab Chasbullah Nyaris Tertangkap PKI (Sumber Gambar : Nu Online)
Detik-detik Kiai Wahab Chasbullah Nyaris Tertangkap PKI (Sumber Gambar : Nu Online)

Detik-detik Kiai Wahab Chasbullah Nyaris Tertangkap PKI

"Aku laporkan bahwa menjelang pemberontakan PKI di Madiun, KH. A. Wahab Hasbullah, mengadakan latihan ulama di Ngawi. Aku baru pulang dari Ngawi 3 hari sebelum pecah pemberontakan PKI.

Ketika latihan ulama dibubarkan karena sudah selesai, tidak ada yang mengerti bahwa PKI mengadakan pemberontakan di madiun. Padahal jarak Ngawi dan Madiun dekat sekali. Para peserta latihan pulang ke daerahnya maing-masing.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

KH Abdul Wahab Chasbullah pulang ke Jombang dengan naik kereta api. Perjalanan ke Jombang ini harus melewati Madiun. Ketika telah mendekati Madiun, beliau baru mengerti bahwa di Madiun ada pemberontakan PKI, tetapi beliau sudah terlanjur berada dekat stasiun Madiun. Agar orang tidak mudah mengenali siapa beliau, terpikir olehnya untuk menghilangkan identitasnya. Sorban dilipat dimasukkan ke dalam tasnya. KH Abdul Wahab Chasbullah berhasil berdiplomasi dengan salah seorang di stasiun untuk memperoleh peci hitamnya. Peci hitam pun ia kenakan. Dengan peci hitam ini, orang tidak mudah mengenali Kiai Wahab. Maka, selamatlah beliau hingga tiba di rumahnya, di Jombang. Jika saja PKI mengenali Kiai Wahab, pastilah beliau dijadikan tawanan golongan kakap, dan entah bagaimana nasib selanjutnya. Tetapi syukur alhamdulillah Tuhan tetap melindungi beliau.

Sebuah pesantren di Madiun, lanjut kiai Saifudin Zuhri, kalau tidak salah pesantren Takeran, adalah pesantren pertama yang dijadikan sasaran pengganyangan oleh PKI. Beberapa santri menjadi korban dan pesantren dibakar. Sudah bukan rahasia lagi bahwa sasaran utama PKI adalah orang-orang republikan, pegawai pemerintah, dan laskar-laskar Hizbullah-Sabilillah, barisan banteng, barisan pemberontakan, dan lain-lain yang pro pemerintah Yogya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Suasana kota Yogya diliputi oleh kemarahan rakyat terhadap PKI dan Belanda, yang belakangan ini terus-menerus melanggar gencatan senjata dan melakukan insiden-insiden di tapal batas. Korban banyak yang jatuh di kedua belah pihak. Yogya diliputi oleh awan gelap, penuh tanda tanya bagaimana keluar dari kegentingan yang mendalam ini. "Demikian fragmen cerita yang direkam KH. Saifudin Zuhri. (M Haromain)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Jadwal Kajian, Olahraga, Ulama Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 06 Januari 2018

Ajaklah kepada Jalan Tuhan melalui Medsos dan NU Online

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan?



Untuk berbicara tentang dakwah, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj memulai dengan penjelasan khatir (hal yang terlintas). Menurutnya, khatir ada beberapa macam, yaitu khatir rabbani, malaki, syatani, hawai. Khatir rabbani berasal dari Allah. Khatir inilah yang membuka kepada kebenaran.?

Ajaklah kepada Jalan Tuhan melalui Medsos dan NU Online (Sumber Gambar : Nu Online)
Ajaklah kepada Jalan Tuhan melalui Medsos dan NU Online (Sumber Gambar : Nu Online)

Ajaklah kepada Jalan Tuhan melalui Medsos dan NU Online

“Kedua, khatir malakuti, datang dari malaikat, kadang khatir ini masih memiliki keraguan. Khatir syaithani, mengajak kita kepada yang salah. Sementara khatir hawa’i atau nafsani, berada dalam diri kita sendiri atau hawa nafsu, hedonistik, birahi,” katanya.?

Semua khatir itu akan jadi khawatir dan akan meningkat menjadi kebenaran yang dilewati melalui dzauq atau intuisi. Sementara dzauq itu lebih tinggi daripada aqal.

“Aqal sebagai kata benda di Al-Qur’an tidak ada, adanya kata kerja, ya’qilun. Artinya aqal merupakan operasional dari dzauk itu tadi,” katanya pada Halal Bihalal dan Sarasehan Netizen NU di Gedung PBNU Jakarta Pusat, Rabu (12/7) sore. ?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Maka, lanjut kiai yang pernah nyantri di Kempek, Lirboyo, dan Krapyak dan 13 studi di Ummul Qurra, Arab Saudi itu, kebenaran dzauq itu lebih tinggi daripada aqal atau logika, dengan syarat perilaku orangnya juga bagus. Ketika orangnya tidak bagus, akan menjadi hawa nafsu, dari syetan.?

Kebenaran melalui dzauq, jelasnya, ada yang berupa ilham, naik menjadi ilmu laduni, naik lagi menjadi al-quwwatul mutakhayalah atau kekuatan yang mampu mengimajanasi tentang kebenaran. Inilah yang dimiliki para nabi atau aqal yang diterima dari aqal fa’al atau aqal aktif. Aqal fa’al diterima dari aqal kulli atau universal. Aqal kulli dari wujud yang mutlaq. ?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Saya ingin mengatakan, intuisi lebih universal, lebih membawa kebenaran daripada aqal, daripada logika. Puncaknya dari intuisi itu adalah wahyu. Wahyu itu dari dzauq, bukan dari aqal. Ilham, ilmu laduni, al-quwwatul mutakhayalah, wahyu puncaknya. Sebuah kebenaran diambil dengan perangkat yang halus. Aqal itu masih kasar karena menggunakan logika. Jika menggunakan dzauq, ini sudah menggunakan perangkat halus, atau software,” jelasnya.?

Menurut dia, dzauq pasti akan membawa kita kepada kebenaran universal dan di situlah kita bisa berbuat banyak untuk dakwah.?

“Ud’u ila sabili rabbika bilhikmah, ay bil medsos, tafsirnya saya”; wal mauidhatil hasanah, dengan redaksi menarik atau Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan,” katanya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Jadwal Kajian Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 04 Januari 2018

PMII UPI Gelar Mapaba Ke-5

Bandung, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Universitas Pendidikan Indonesia (PK PMII UPI) mengadakan Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba) ke-5 di gedung PWNU Jawa Barat, mulai Jumat-Ahad, (22-24/3).

PMII UPI Gelar Mapaba  Ke-5 (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII UPI Gelar Mapaba Ke-5 (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII UPI Gelar Mapaba Ke-5

Menurut Ketua Komisariat PMII UPI M. Ridwan Hidayatulloh Mapaba bertema “Membentuk anggota PMII yang ulul albab di segala bidang” bertujuan? untuk mengusung ideologi Ahlu Sunnah wal-Jamaah. Tidak hanya itu, tapi dijadikan manhajul fikr serta manhajul harokah.

“Harapannya semoga para peserta tersebut senantiasa bergerak berlandas keindonesiaan dan keislaman di kampusnya masing-masing,” katanya melalui pers rilis yang dikirim kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan, Ahad, (24/3).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pada gilirannya, dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari baik dalam bidang sosial, ekonomi, budaya, berbangsa dan bernegara.

Ridwan juga berharap semoga dengan Mapaba ini dapat membentuk kader-kader PMII yang militan, progres, dan dapat melanjutkan estafeta kepengurusan PMII di masa yang aka datang.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sementara Ketua Pelaksana Mapaba Surya Dienullah Al Bandani mengatakan, jenjang pertama memasuki organisasi yang didirikan 17 April 1960 itu diikuti 32 orang. Mereka berasal dari beberapa kampus, diantaranya UPI, Poltek Praktisi, dan UIN Sunan Gunung Djati.

Lebih jauh ia memaparakan, Mapaba yang diikuti rata-rata mahasiswa tingkat awal tersebut diisi dengan memperkenalkan dunia intelektual dan dinamika pemikiran.



Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Jadwal Kajian Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 03 Januari 2018

Santri PBSB Kemenag RI Muspimnas di Bandung

Bandung, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Para santri yang mengikuti Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) Kementerian Agama RI yang dihimpun dalam Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs (CSS MORA) mengadakan Musyawarah Pimpinan Nasional (Muspimnas) di Pesantren Darut Tauhid, Lembang, Bandung.

CSS MORA Nasional periode 2014, Ahmad Maulana, mengatakan, kegiatan yang berlangsung pada tanggal 17-18 Mei merupakan agenda tahunan untuk merumuskan, mensosialisasikan program kerja dan kebijakan-kebijakan yang ditetapkan untuk semua santri PBSB.

Santri PBSB Kemenag RI Muspimnas di Bandung (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri PBSB Kemenag RI Muspimnas di Bandung (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri PBSB Kemenag RI Muspimnas di Bandung

Juga, kata dia, untuk menjalin silaturrahim dan kerja sama antar-pengurus CSS MORA Perguruan Tinggi. ”Mempertegas eksistensi CSS MORA karena selama ini kurang kejelasan fungsi, tujuan, wewenang, arah kerja agar tidak salah memahami CSS MORA Nasional,” ujarnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Lebih lanjut, menurutnya, melalui kegiatan tersebut akan tercipta sinkronisasi program kerja CSS MORA Nasional dan CSS MORA perguruan tinggi sesuai dengan visi, yakni terciptanya anggota berorientasi pada keilmuan, pengembangan dan pemberdayaan pesantren serta pengabdian masyarakat. (Muhammad Zidni Nafi’/Abdullah Alawi)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Jadwal Kajian, AlaNu Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 27 Desember 2017

Kiai Muslim Rifa’i Imampuro dan Suka Cita Pelukis

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan?



Pelukis Nabila Dewi Gayatri mengaku punya pengalaman saat melukis KH Muslim Rifa’i Imampuro atau Mbah Liem. Ia mengalami keadaan yang sangat senang hingga tertawa-tawa sendirian saat menggoreskan koas ke kanvasnya.?

Kiai Muslim Rifa’i Imampuro dan Suka Cita Pelukis (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Muslim Rifa’i Imampuro dan Suka Cita Pelukis (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Muslim Rifa’i Imampuro dan Suka Cita Pelukis

“Saya mengalami ? suka yang belum pernah saya alami. Ketawa sendiri, sueneng, dan cepet selesai. Saya merasa bahagia, ngakak-ngakak,” katanya di Grand Sahid Jaya, Jakarta Sabtu (13/5) pada pameran karya tunggalnya bertajuk Sang Kekasih. Pameran dibuka Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj Senin (8/5) itu, berakhir Ahad (14/5).

Saat melukis kiai dari Pondok Pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti, Klaten, Jawa Tengah itu, ia mengaku dengan cepat menemukan karakter lukisannya. Hingga proses melukisnya pun terbilang cepat daripada kiai-kiai lain.?

Pelukis kelahiran Gresik, Jawa Timur, pada 1969 itu mengaku, pada masa kecilnya pernah diajak ayahnya bersilaturahim kepada Mbah Liem. Saat dewasa, Nabila pernah juga bertemu kiai itu di PWNU Jawa Timur.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pada pertemuan itu, Mbah Liem bertanya kepadanya, “Koe iseh nabuh beduk? Masih suka gambar? Nyanyi?” tanyanya kepada Nabila yang memang selain melukis juga senang menabuh drum, yang dalam istilah Mbah Liem menabuh beduk, serta menyanyi.?

“Masih,” jawab Nabila saat itu.?

“Yo wis, Berkah, berkah, berkah...” lanjut Mbah Liem.?

Menurut Nabila, sosok Mbah Liem menjadi bagian dari pameran untuk mengingatkan orang kepada salah satu sifatnya yang memiliki kepedulian tingkat tinggi kepada fakir miskin.?

Pelukis jebolan Jurusan Aqidah Filsafat Al-Azhar, Kairo, Mesir itu menambahkan, dengan melukis Mbah Liem, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, KH Abdurrahman Wahid, Kiai Abbas Buntet dan kiai lain, ia berharap, orang yang melihatnya akan mengingat jasa dan teladan mereka.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Menurut Ali Mahbub pada tulisannya yang dimuat di Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan, Mbah Liem mengajarkan santri dengan ilmu hal atau memberi contoh langsung. Ajaran-ajaran Mbah Liem tersebut yaitu:

1. “Nguwongke uwong, gawe legane uwong.” Mbah Liem selalu menghargai dan menerima setiap orang dengan segala potensi dan niat baiknya. Kalaupun kita tidak membutuhkan, mungkin manfaatnya bisa dirasakan keluarga, tetangga atau msyarakat kita. Contohnya setiap kali ada tamu, baik pejabat maupun tokoh yang lain, Mbah Liem selalu menyambut dengan hangat siapa pun orangnya dan Mbah Lim tidak lupa memberikan ruang interaksi untuk mendekatkan pejabat/tokoh dengan masyarakat.

2. “3 T“: titi–tatak–tutuk. Mbah Liem mengajarkan saat melaksanakan setiap tugas dalam hidup, haruslah titi (cermat, teliti dan selektif), tatak (legowo, sabar), sehingga tutuk (sampai, selesai dengan hasil yang memuaskan).

3. “3 K “: kuli-kiai-komando. Setiap santri haruslah mampu memerankan diri sebagai kuli (siap bekerja keras), kiai (siap mengamalkan ilmu dan berdoa), komando (siap menjadi pemimpin yang piwai mengambil keputusan, bijak serta berwibawa)

4. “Kita harus tegak, tegas dan tegar selama benar.“ Setiap melaksanakan kebenaran, kita harus tegak (penuh keyakinan, tidak goyah oleh pengaruh apa pun), tegas (tak kenal kompromi terhadap pelanggaran aturan), tegar (ikhlas, sabar).

5. “3 R “: rampung bangunane – rame jama’ahe – rukun masyarakate “. Dalam mendirikan sarana apa pun, ada 3 hal yang harus diupayakan yakni “rampung bangunane“ (bisa terwujud ), rame jama’ahe (berfungsi dan dibutuhkan para pemangku kepentingan ), rukun masyarakate (menjadi sumber kedamaian dan perekat persatuan).

6. “Aja mung benteng ulama, ning nahnu anshorullah, masyriq-maghrib “ di samping perannya sebagai benteng ulama, Banser seharusnya mampu menjalankan peran yang lebih luas di seluruh permukaan bumi, dalam bingkai “nahnu anshorulloh”.

7. “ 3 S “: ? shalat-sinau-sungkem. Maksudnya “shalat“, seorang santri harus tekun beribadah, prihatin dan berdoa. Sinau,? santri harus belajar terus menerus. “Sungkem“ santri harus mempunyai akhlak yang mulia, tahu sopan santun, tawadhu’ pada kiai/guru.

8. “ 2 B“: berhasil-berkah. Dalam mencapai cita-cita/usaha harus mempunyai komitmen yang kuat agar tercapai yang di inginkan.” Berkah “setiap cita-cita/ usaha harus di mulai dengan niat ibadah (niat baik) agar mendapat keberkahan dari Allah SWT.

9. “Dadi uwong ki ojo gur mangan terus tapi yo ngising barang” (Jadi orang itu jangan hanya makan aja tapi ya buang air besar juga). Kita tidak boleh hanya melulu mencari harta terus, tapi kita juga harus rajin bersedekah.

(Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Jadwal Kajian, Hikmah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 22 Desember 2017

Islam, Seni, dan Kehidupan Beragama

Oleh Abdurrahman Wahid

?

1

Kehidupan manusia tidak pernah terlepas dari nilai-nilai keagamaan, betapapun kenyataan ini tidak diakui oleh sementara kalangan. Masalah-masalah pribadi tentang pengaturan hubungan dengan sesama manusia, masalah penyesuaian antara cita dan kenyataan yang dihadapi dalam kehidupan, serta hubungan manusia dengan kekuatan-kekuatan di luar dirinya, kesemuanya itu menghasilkan dimensi-dimensi dalam kehidupan manusia.

Islam, Seni, dan Kehidupan Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam, Seni, dan Kehidupan Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam, Seni, dan Kehidupan Beragama

Dimensi-dimensi keagamaan ditampakkan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk aspek ekspresi keharuan yang dirasakan manusia, yang pada umumnya berbentuk? kegiatan-kegiatan seni dan sastra.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari sini saja sudah tampak betapa eratnya antara kegiatan kesenian, baik yang bersifat penciptaan maupun pagelaran, dengan kehidupan beragama. Cakupan kaitan itu tidak hanya terbatas pengaruhnya pada wilayah kehidupan yang tersentuh oelh? keharuan belaka, melainkan jangkauannya menerobos hingga ke wilayah ketakutan dan keputusasaan, keyakinan dan keberanian, protes dan bujukan, pelestarian ajaran dan seterusnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari sinilah dapat dipahami mengapa timbul skala prioritas yang berbeda di antara kelompok-kelompok yang berlainan. Pemusatan daya arsitektural untuk membangun sebuah masjid nasional di ibukota dan masjid provinsial di ibukota provinsi kiita, umpamanya, tentu tidak skala prioritasnya dengan keengganan bangsa Mesir membuat masjid seperti itu dewasa ini. Karena wilayah yang diterobos oleh proses keharuan berbeda satu ke lain kelompok, dengan sendirinya produksi seni yang dikaitkan dengan kehidupan beragama juga berlainan satu dengan yang lain.

Karena? itu, sudah tentu sulit untuk melakukan pengukuran atas keterlibatan kegiatan kesenian pada kehidupan beragama melalui satu alat pengukur belaka, yang bertindak secara? konstan dalam kadar yang sama. Manifestasi kesenian yang dihasilkan bergantung erat pada susunan kehidupan itu sendiri, yang sudah tentu menjadi sangat kompleks pengukurannya dalam sebuah masyarakat modern.? Karena kaitan agama dengan kehidupan semakin lama semakin dikristalisir dalam citra kemasyarakatan yang berbeda-beda, dengan sendirinya manifestasi kesenian dalam kehiduppan beragamanya lalu mengalami perubahan-perubahan drastis dari waktu ke waktu, sehingga sulit diukur dengan alat pengukur tunggal yang tidak memperhitungkan dalam dirinya unsur-unsur perubuahan itu sendiri.

Kalau gereja Kristen di masa lalu menitikberatkan lagu puja (himne) melalui paduan suara melalui paduan suara Gregorian, karena struktur masyarakatnya yang monolith, dalam periode individualiasi kehidupan masyarakat modern justru ekspresi seni suara peroranganlah (seperti blues dan soul) yang jadi bagian manifestasi kehidupan umat bergama umat Krisitiani di masa ini. Ilustrasi lain dapat dikemukakan seperti prosesi peragaan kemalangan (passion drama) yang dilakukan secara kolektif untukk turut merasakan penderitaan Husain Ibnu Abi Thalib di padang Karbala dalam perayaan Asyura di kalangan Syi’ah di Irak dan di Iran. Ekspresi seperti in muncul dari citra kehidupan beragama yang ditekankan pada penghayatan pengorbanan (syahadah, fida’) di kalangan mereka, yang dalam perkembangan politik memunculkan orang-orang seperti Ali Shariathmadari dan Ayatullah Khomeini.

2

Setelah diajukan keberatan terhadap cara pengukuran dangkal dengan penggunaan alat tunggal yang bersifat menetap seperti diuraikan di atas, dengan sendirinya lalu muncul pertanyaan bagaimanakah pengukuran yang tepat harus dilakukan? Alat apakah yang seharusnya digunakan di dalamnya? Hasil konkret apakah yang dapat diperoleh dari alat pengukuran seperti itu? Jawaban atas ketiga pertanyaan di atas akan diuraikan lebih lanjut, walauppun tidak ada pretensi akan tercakupnya semua aspek yang dikandungnya. Yang akan dikemukakan hanyalah pokok-pokoknya belaka.

Yang pertama-tama harus disadari adalah aspirasi masyarakat di bidang keagamaan, yang memilikii keragaman besar dalam watak, sifat dan coraknya. Umpamanya saja, aspirasi lembaga keagamaan formal seperti Majelis Ulama tentu? berbeda dari aspirasi seorang muballigh di lapangan yang bergerak secara individual. Aspirasi keberagamaan para seniman tentu berbeda dengan para agamawan. Beum lagi dilihat keragaman yang timbul dari orientasi kehidupan yang berbeda dari kelompok yang sama, seperti antara kaum intelektual yang termasuk lingkungan teknokrasi dan sesama intelek yang menolaknya.

Aspirasi keberagamaan yang berneka ragam itu tentu menghasilkan ekspresi yang berbeda-beda, walaupun dalam medium kesenian yang sama. Pada kegiatan seni suara di kalangan kaum muslimin dapat dilihat nyata dalam hal ini. Di lingkungan yang masih dekat dengan literatur keagamaan? berbahasa Arab, seperti di Banten dan Jawa Timur, pagelaran dzibaiyyah, barzanji dan sebagainya, masih menggunakan bahasa Arab, disertai seni hadrah yang menetaskan ode-ode berbahasa Arab itu tanpa diterjemahkan. Tapi kita lihat di daerah Magelang, yang lebih banyak terkena radiasi istana kraton Mataram, muncul pementasan kentrung yang berisi pesan yang sama, tetapi menggunakan bahasa Jawa.

Dari sudat pandangan yang semacam inilah harus kita teropong perkembangan menggembirakan dalam nafas keislaman dalam kesenian kontemporer kita, seperti desain-desain batik dari Amri Yahya,? lirik ciptaan Trio Bimbo, puisi-puisi anak-anak muda di harian Pelita dan majalah-majalah keagamaan kita. Kesenian Islam dalam kerangka pandangan ini tidak dapat dibatasi hanya pada ekspresi formal yang dianut selama ini, bahkan mungkin sektor formal ini hanya bagian terkecil dari keseluruhan ekspresi kesenian yang bernafaskan Islam.

3

Alat pengukur yang paling utama untuk mengetahui kadar keislaman dari ekspresi kesenian yang beraneka ragam itu, dapat ditemukan dalam dua hal-hal: (1) ketaatan asas/konsistensi ekspresi itu sendiri dalam panjang nafas keislaman, dan (2) kesungguhan isi pesan yang dibawakan itu sendiri.

Di sini kita lalu digugah untuk melakukan terobosan yang matang dan mendalam. Terkadang kedua hal itu dengan cara sangat halus dan tersembunyi dalam ekspresi yang biasannya digolongkan dalam kegiatan nonagama. Pesan agama kemudian disampaikan dengan tidak langsung terasa oleh penerimanya. Kasus kesenian ludruk di Jawa Timur, dengan pesan-pesan utamanya tentang demokrasi yang mempertimbangkan realitas kehidupan, dapat dikemukakan sebagai contoh. Tak akan ada pesan agama yang langsung ditemui dalam mementaskan ludruk. Tetapi bukankah demokrasi adalah esensi kehidupan menurut konsep kenegaraan Islam? Mengapakah kita tidak mampu memahami pesan “nonkeagamaan” ludruk sebgai ekspresi seni yang bernafaskan Islam?

Hambatan psikologis yang timbul dari warisan sejarah masa lampau jelas tidak mudah untuk diatasi dalam menerima beberapa medium kesenian lokal maupun nasional yang telah terlanjur dianggap bukan “kesenian Islam”. Tetapi rasanya sikap untuk menyerah kepada keadaan yang pincang ini jelas tidak akan mendukung perluasan pengaruh kesenian Islam atas kehidupan beragama kita. Kalau kita ingin memperluas jngkauan kehidupan beragama kita, harus? pula kita terima perluasan ekspresi keseniaanya.? Dengan kata lain, masa depan kehidupan bergama kita? ditentukan juga antara lain oleh kemampuan informalisasi bentuk-bentuk kesenian yang dikaitkan dengan keislaman.

Tetapi di sini perlu diberi peringatan keras kepada bahaya munculnya akulturasi atau pembauran dalam penyampai pesan yang dibawakan kesenian itu sendiri. Setiap medium kesenian memilki kekhususannya sendiri, yang tidak dapat dibaurkan dengan aspek medium lain, tanpa membunuh ketulusan pesannya dan memupus keharuann yang ditimbulkannya. Shalawat Nabi dalam bahsa Arab misalnya memiliki aspek-aspek langgam (meters, ‘arudh) tersendiri, yang ditentukan oleh seni baca huruf dan tata bahasa Arab. Dengan demikian, akulturasi medium shalawat berbahasa Arab ini dengan memaksakan pelanggamannya dalam irama lagu setempat, akan merusak hakikat shalawat itu sendiri. Arti pesan lalu? menjadi kabur, keharuan tidak didapat, lalu apakah yang dapat kita harapkan. Ekspresi bermain-main yang tidak memiliki ketulusan sama sekali.

4

Cara dan penetapan alat pengukuran keterlibatan seni dalam kehidupan beragama Islam di atas dapat membawa kita kepada hasil-hasil konkret di banyak bidang pembuat keputusan dan kebijakan, antara lain dalam hal-hal berikut: (1) perluasan jangkauan kegiatan lembaga-lembaga pemerintahan yang berhubungan dengan masalah keagamaan, yang terutama dalaam bidang seni sastra; (2) pematangan kegiatan lembaga-lembaga kkesenian Islam, dengan jalan memungkinkan mereka untuk “keluar dari sarang” dan masuk kegiatan kesenian yang selama ini tidak dianggap berhubungan dengan “kesenian Islam; (3) kemungkinan masuknya para pemikir budaya dan seniman yang selama ini di luar lingkungan “kesenian Islam” ke dalam pemekaran kesenian Islam itu sendiri; dan (4) lebih mudahnya mengungkapakan kaitan antara kesenian Islam dalam cakupannya yang baru dengan tuntutan hidup masyarakat modern yang semakin kompleks.

?

ABDURRAHMAN WAHID, Ketua Umum PBNU 1984-2000. Tulisan ini disajikan dalam diskusi Hari Ulang Tahun Sanggar Pravitasari, Jakarta, 31 Mei, 1979

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Halaqoh, Jadwal Kajian, RMI NU Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 04 Desember 2017

Pagar Nusa Bentengi NKRI dari Radikalisme

Semarang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pencak Silat NU Pagar Nusa diharapkan dapat terus mendukung negara dalam membentengi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari ancaman radikalisme dan terorisme.

Demikian disampaikan Ketua FPKB MPR RI Abdul Kadir Karding dalam dalam Dialog Kebangsaan Pagar Nusa di Pondok Pesantren Azzuhri Ketileng Semarang, Kamis (26/3).

Pagar Nusa Bentengi NKRI dari Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa Bentengi NKRI dari Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa Bentengi NKRI dari Radikalisme

“Mengapa bicara Pancasila dan NKRI selalu dikaitkan dengan Pagar Nusa dan NU? Karena tidak ada orang Indonesia yang paling peduli pada dasar negara dan pedoman bernegara kita selain NU dan Pagar Nusa yang berada di barisan paling depan,” katanya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Karding meminta para pendekar dan pesilat NU Pagar Nusa untuk merapatkan barisan dalam rangka menghadapi ancaman radikalisme dan terorisme terutama dari kelompok radikal ISIS yang saat ini saat aktif melakukan manuver kekerasan dan disebarkan ke seluruh dunia.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“NU dan Pagar Nusa ini besar dan saat ini waktunya kita tampakkan kekuatan untuk mengatasi ancaman terorisme. Mari kita kerjasamakan program kita dengan MPR dan pemerintah,” katanya.

Sementara itu Anggota DPR RI  Yakut cholil Qoumas mengingatkan, perkembangan kelompok ISIS saat ini sudah dalam tahap menghawatirkan. Mereka mempuanyai strategi kampanye yang cukup efektif dan didukung oleh pendanaan yang besar.

“NU harus tampil membela Pancasila dan menjaga NKRI dari segala gangguan. Berdasarkan survei exit pool kemarin warga NU saat ini sudah separuh dari penduduk Indonesia. Artinya apapun yang terjadi dengan Indonesia pasti akan ada imbasnya untuk NU,” katanya.

Halaqah kebangsaan itu merupakan rangkaian dari kegiatan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Pimpinan Pusat Pencak Silat NU Pagar Nusa yang digelar Selasa - Ahad (26-29/3).

Kamis sore sampai malam diadakan pertemuan Majelis Pendekar Pagar Nusa yang melibatkan beberapa pihak seperti BNPT, BNPB, dan BNN. Jumat-Sabtu Sabtu diisi dengan pelatihan Pasukan Inti (Pasti) serta penandatanganan MoU dengan Lembaga Pendidikan Maarif, Asosiasi Pesantren se-Indonesia atau RMI dan PGRI terkait program ekstrakurikuler pencak silat Pagar Nusa di Sekolah.

Puncak acara Ahad (29/3) pagi akan digelar Apel Kesetiaan pada Pancasila & NKRI di lapangan Simpang Lima mulai pukul 8 WIB. Apel dipimpin oleh Waketum PBNU KH Asad Said Ali, dihadiri Gubernur Jateng, Panglima TNI Moeldoko, Plt Kapolri Badrodin Haiti, dan Ketua Umum PP Pagar Nusa Aizzudin Abdurrahman. (Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Jadwal Kajian, Syariah, Ahlussunnah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 11 November 2017

LPBI PBNU Ajak Masyarakat Wajo Antisipasi Banjir

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Selama tiga hari, 20-23 Desember 2017, Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Pengurus Besar Nahdlatul Ulama  (LPBI PBNU) melaksanakan Workshop Penyusunan Mekanisme dan Standar Operasional Prosedur (SOP) Kedaruratan Bencana di gedung PKK Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.  

Kegiatan dibuka Kamis (20/12) oleh H Alamsyah mewakili Bupati Wajo. Ia mengapresiasi LPBI-PBNU yang membantu dan mendampingi Kabupaten Wajo dalam penanggulangan bencana, diantaranya melalui Penyusunan Mekanisme dan SOP Kedaruratan Bencana.

LPBI PBNU Ajak Masyarakat Wajo Antisipasi Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)
LPBI PBNU Ajak Masyarakat Wajo Antisipasi Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)

LPBI PBNU Ajak Masyarakat Wajo Antisipasi Banjir

“Penyusunan SOP Kedaruratan menjadi hal yang sangat penting, mengingat Wajo termasuk daerah yang berisiko tinggi terkena dampak banjir,” kata Alamsyah.

Ia menyebut banjir di beberapa daerah di Wajo bisa terjadi lebih dari dua bulan, utamanya di kawasan Danau Tempe karena banyak penyebab.

“Diantaranya sungai besar yang melintas di Wajo dan pengalirannya ke laut sangat jauh yaitu 180 kilometer dan banyaknya fungsi lain lahan,” Alamsyah menambahkan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pihaknya mengatakan selalu siap dalam penanggulangan bencana, dan melibatkan para pihak terkait. Workshop tersebut menjadi hal fundamental dalam penanganan kedaruratan bencana yang menjadi pegangan dan acuan  dalam penanggulangan bencana di Wajo.

“Rencana mekanisme ini sangat penting karena  se-Sulawesi Selatan hanya Wajo dan Barru yang didampingi. Ini sebuah kehormatan bagi kami,” tutup Alamsyah.

Sementara itu, Erwin mewakili Kepala  Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Selatan menyampaikan Sulawesi Selatan  merupakan daerah yang mewakili risiko bencana yang tinggi dari 24 kabupaten/kota dari 22 kabupaten/kota berisiko tinggi.

“BPBD Provinsi Sulawesi Selatan juga telah menyusun mekanisme dan beberapa SOP untuk penanganan kebencanaan. SOP akan dibagikan ke berbagai kabupaten/kota yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan sebagai acuan,” kata Erwin.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

SOP juga akan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing daerah.

“Penanggulangan bencana adalah tugas kita semua yaitu pemerintah, masyarakat dan dunia usaha,” pungkas dia.

Narasumber kegiatan tersebut diantaranya dari BPBD Provinsi Sulawesi Selatan serta fasilitator yang ahli pada bidangnya. Adapun peserta berasal dari unsur Kodim, Polres, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait dan unsur masyarakat lainnya. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Jadwal Kajian Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 09 November 2017

Puluhan Kader Ansor Pusakajaya Subang Resmi Dibaiat

Subang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Puluhan anggota Gerakan Pemuda Ansor di Kecamatan Pusakajaya, Kabupaten Subang resmi dibaiat, Ahad (6/8). Pembaiatan ini dilakukan setelah puluhan peserta anggota GP Ansor tersebut mengikuti Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) yang diselenggarakan oleh Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Kecamatan Pusakajaya di SMK Ghofarana, Jalan By Pass Pantura, Kebondanas, Pusakajaya, selama dua hari.

Ketua GP Ansor Subang Asep Alamsyah Heridinata memandu pembaiatan. Disaksikan oleh segenap kepengurusan GP Ansor, para peserta khidmat membacakan teks baiat sebagai sumpah setia terhadap organisasi, agama, bangsa dan negara.

Puluhan Kader Ansor Pusakajaya Subang Resmi Dibaiat (Sumber Gambar : Nu Online)
Puluhan Kader Ansor Pusakajaya Subang Resmi Dibaiat (Sumber Gambar : Nu Online)

Puluhan Kader Ansor Pusakajaya Subang Resmi Dibaiat

"Selamat kepada para peserta PKD, kini sah dan resmi sebagai anggota GP Ansor Kabupaten Subang," kata Asep Alamsyah.

Ia mengajak seluruh peserta untuk berperan aktif dalam mewujudkan tatanan masyarakat yang kompleks, terlebih menjaga persatuan dan kesatuan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Karena, setelah pulang ke rumah masing-masing, para peserta akan langsung dihadapkan dengan dinamika masyarakat yang di dalamnya GP Ansor sangat berperan aktif," terangnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ia juga menegaskan, kegiatan PKD sebagai pintu gerbang kaderisasi GP Ansor tersebut akan terus dilakukan dan diberdayakan sebagai amanat organisasi secara selektif.

"Bahwa tidak sembarangan orang masuk menjadi anggota GP Ansor. Sebagai organisasi kaderisasi, GP Ansor memiliki sistem kaderisasi yang terstruktur serta terpimpin," pungkasnya. (Ade Mahmudin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan IMNU, Jadwal Kajian, Hadits Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 28 Oktober 2017

Sambut Resolusi Jihad, NU Jatim Adakan Lomba Sastra

Surabaya, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Sejumlah lomba dalam rangkaian Hari Santri? sekaligus peringatan Resolusi Jihad pada 22 Oktober mendatang akan digelar oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur.

"Lomba yang dapat diikuti adalah cipta dan baca puisi, cipta dan baca pantun serta penulisan esai kebudayaan," kata Ketua Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) PWNU Jatim Nonot Sukrasmono, Rabu (12/10). Sedangkan tema besar lomba adalah "Merajut Kebhinnekaan, Menjaga Kedaulatan Indonesia".

Sambut Resolusi Jihad, NU Jatim Adakan Lomba Sastra (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Resolusi Jihad, NU Jatim Adakan Lomba Sastra (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Resolusi Jihad, NU Jatim Adakan Lomba Sastra

Dalam penjelasannya, lomba ini akan melewati sejumlah tahapan. "Tahap penyisihan dilaksanakan di 4 zona," terang Nonot, sapaan akrabnya. Zona 1 dipusatkan di PCNU Kabupaten Situbondo dengan tanggal pelaksanaan 13 Oktober.

"Untuk zona 2 akan dipusatkan di PCNU Kabupaten Malang dan dilaksanakan 16 Oktober," jelasnya. Sedangkan zona 3 akan dilaksanakan di PCNU Kota Kediri, bersamaan dengan pelaksanaan di zona 2. Dan untuk zona 4 dilaksanakan 20 Oktober di PCNU Kab Bangkalan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Nantinya, tiga peserta terbaik untuk setiap lomba dari masing-masing zona berhak mengikuti babak final yang akan digelar Sabtu, 22 Oktober 2016 di Kantor PWNU Jawa Timur," katanya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Lebih lanjut, Nonot menjelaskan bahwa para peminat lomba harus mengetahui aturan yang ditentukan panitia. "Yang pasti, seluruh karya yang diikutkan lomba adalah buatan sendiri bukan jiplakan," katanya.? Untuk pantun minimal 9 bait, dan puisi minimal 45 kata. Nantinya, pantun dan puisi dibuat dan dibaca sendiri, lanjutnya.

Untuk lomba esai, panjang tulisan antara 800 hingga 1000 karakter. "Sedangkan untuk lomba orasi kebangsaan, peserta harus? menyerahkan abstraksi pokok pikiran sebanyak 2 paragraf," jelasnya.

"Ini saatnya mengekspresikan kesantrian sekaligus membuktikan nasionalisme," katanya. Karenanya peserta dapat segera mendaftar melalui PCNU terdekat di wilayah Jatim. "Nantinya peserta akan memperebutkan hadiah menarik dari PWNU dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur," pungkasnya. Informasi lebih lengkap dapat menghubungi call center panitia, di nomor 0822 3202 0447. (Ibnu Nawawi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Jadwal Kajian, Bahtsul Masail Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 24 Oktober 2017

PCNU Dukung Polisi Usut Pernikahan Sejenis di Jember

Jember, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Katib Syuriyah PCNU Jember Muhammad Nur Harisudin mendukung langkah polisi untuk  mengusut tuntas kasus pernikahan sejenis di Kecamaman Ajung, Kabupaten Jember. Sebab, dari sisi hukum positif, pernikahan manusia sesama jenis kelamin jelas tidak bisa ditoleransi.

Dari sudut agama, tidak satu referensi pun yang membenarkan perilaku homoseksual itu. "Makanya, kita dorong polisi menuntaskan masalah itu,"  tukasnya di Kantor PCNU Jember, Rabu (18/10).

PCNU Dukung Polisi Usut Pernikahan Sejenis di Jember (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Dukung Polisi Usut Pernikahan Sejenis di Jember (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Dukung Polisi Usut Pernikahan Sejenis di Jember

Menurut alumnus Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah, Sukorejo, Situbondo itu, dari sisi apapun perilaku LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender) tidak mendapatkan pijakan, termasuk  dari sisi kepatutan dan kultur ketimuran. Dikatakannya, selama ini komunitas LGBT kerap menyodorkan dalih HAM sebagai alasan untuk  melegaliasi keberadaan mereka.

"Kita bukan alergi HAM. Tapi harus dilihat dulu, kalau (HAM) sesuai dengan Islam, wajib kita dukung. Tapi kalau bertentangan dengan Islam seperti LGBT, harus kita lawan," lanjutnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Seperti diketahui, saat ini Jember dihebohkan dengan terbongkarnya  pernikahan pasangan sama-sama lelaki, yaitu Muhammad Fadholi dan Ayu Puji Astutik. Kedua pasangan ini bahkan sudah resmi menikah di KUA Kecamatan Ajung, Jember, Juni 2017. Ayu Puji Astutik berhasil mengelabui petugas KUA dengan cara memalsukan dokumen dan "macak" perempuan.

Belakangan terbukti bahwa Ayu Puji Astutik adalah lelaki tulen, yang diakuinya sendiri  menyusul  desakan masyarakat. Keduanya  bahkan kemaren sudah diciduk polisi dan ditetapkan sebagai tersangka. (Aryudi A Razaq/Alhafiz K)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Jadwal Kajian Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 06 Oktober 2017

Habib Luthfi dan Menhan Resmi Buka Konferensi Ulama Internasional

Pekalongan, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Konferensi Internasional Ulama Thariqah bertajuk Bela Negara resmi dibuka oleh Rais Aam Jam’iyah Alhith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) Habib Luthfi bin Yahya dan Menteri Pertahanan (Menhan) RI, Rabu (27/7) di Aula Gedung Djunaid Pekalongan, Jawa Tengah.?

Dalam sambutannya, Habib Luthfi mengatakan bahwa bela negara jangan diartikan mengangkat senjata, tetapi menjalin ukhuwah dengan para ulama dan TNI-Polri juga termasuk upaya bela negara. Aparat negara akan mempu menunjukkan kekuatan laur biasa jika duduk bersama dengan para ulama.?

Habib Luthfi dan Menhan Resmi Buka Konferensi Ulama Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfi dan Menhan Resmi Buka Konferensi Ulama Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Luthfi dan Menhan Resmi Buka Konferensi Ulama Internasional

“Bangsa akan kuat karena terjalinnya ukhuwah antara ulama, tentara dan masyarakatnya. Bukan berarti menafikan orang lain, dalam melaksanakan kegiatan ini, kami ulama thariqah berusaha menciptakan kedamaian untuk dunia secara luas,” ujar Habib Luthfi.

Masyarakat Indonesia dan dunia dapat memperkuat negara dengan mengupayakan kebaikan dunia pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan bidang-bidang lain sehingga generasi muda sadar akan kecintaannya kepada negaranya yang penuh dengan kebaikan tersebut.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sementara itu, Menteri Pertahanan Riyamizard Riyacudu yang diwakili oleh Dirjen Perencanaan Pertahanan Kemenhan Marsekal Muda Muhammad Syauqi mengatakan bahwa kesadaran bela negara harus tertanam dalam diri setiap bangsa. Pemerintah bekerja sama dengan ulama mancanegara untuk mengokohkan pijakan akhlak mulia. Karena kesadaran bela negara dapat diterapkan dalam kegiatan-kegiatan keagamaan.

”Bela negara bukan wajib militer tetapi membangun kesadaran dalam diri setiap individu apapun pekerjaan dan profesinya untuk melakukan hal sebaiknya-baiknya. Kesadaran bela negara harus ditanamkan juga ke dunia internasional,” tegas Syauqi menyampaikan pesan Menhan.

Sebelumnya, Ketua Panitia Konferensi Internasional ini, Kolonel Hasbiallah Ahmad menjelaskan, konferensi ini tadinya melibatkan ulama dan intelektual sebanyak 50 orang dari 40 negara, namun saat ini yang hadir 69 orang yang hadir.

Peran besar masyarakat Pekalongan juga antuasias dalam menyambut kegiatan ini. Mereka berharap terus dilibatkan dalam setiap kegiatan. Mereka juga menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut para tamu Allah dan orang-orang mulia.?

Kegiatan pembukaan ini diikuti oleh sekitar 5000 orang yang terdiri berbagai unsur organisasi Nahdlatul Ulama, TNI, Polri, para ulama thariqat nasional dan internasional, serta masyarakat sekitar yang memadati pelataran Komplek Gedung Djunaid.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

69 ulama thariqah dari 40 negara tersebut juga secara khidmat mengikuti acara pembukaan kegiatan bertema Bela Negara: Konsep dan Urgensinya dalam Islam ini. Ulama-ulama ini duduk berjajar di bagian depan dengan memenuhi kursi dari ujung ke ujung. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Tegal, Pertandingan, Jadwal Kajian Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 28 September 2017

Fatayat NU Gapura Gelar Kajian Kesehatan Tematik

Sumenep, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Guna membentuk kesadaran hidup sehat, Pimpinan Anak Cabang Fatayat NU Kecamatan Gapura, Sumenep, Jawa Timur, bekerja sama dengan unit pelaksanak teknis (UPT) Kesehatan Kecamatan Gapura menggelar kajian kesehatan tematik tentang diabetes, Selasa (17/11), di Ruang Meeting BMT NU Pusat Gapura.

Fatayat NU Gapura Gelar Kajian Kesehatan Tematik (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Gapura Gelar Kajian Kesehatan Tematik (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Gapura Gelar Kajian Kesehatan Tematik

“Semoga forum ini bisa menjadi satu langkah bagi kita membangun diri untuk berkesadaran hidup sehat,” ungkap Bukhoriyah, Ketua PAC Fatayat NU Gapura.

Sementara, Moh. Syahid selaku Ketua Tanfidziyah MWC NU Gapura berharap hasil dari forum kajian ini bisa disebarluaskan ke publik lebih luas sehingga kesadaran akan kesehatan kian meningkat di masyarakat.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Kami berharap melalui kompolan rutin Fatayat di masing-masing ranting, hasil kajian ini disosialisasikan,” ujarnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

?

Kegitan ini merupakan realisasi program kerja dari Bidang Kesehatan dan Lingkungan Hidup PAC Fatayat NU Gapura.

Kepala UPT Kesehatan Kecamatan Gapura dr. Amar Waji menegaskan bahwa kerja sama seperti ini harus ditingkatan agar masyarakat memiliki pemahaman yang tepat tentang hidup sehat. “?Kunci? sehat itu, ya atur pola makan dan atur pikiran. Kemudian setiap makan dan minum baca doa, makanlah selalu dengan tangan kanan,? makanlah dengan bersih/tanpa sisa,” ungkapnya saat menjadi narasumber. (Mahyudi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pertandingan, Halaqoh, Jadwal Kajian Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 10 Agustus 2017

PKL GP Ansor Se-Jatim, Ajang Konsolidasi Antarpengurus

Sumenep, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan (PKL) Gerakan Pemuda Ansor se-Jawa Timur berlangsung di Gedung Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Batuan Sumenep, Jawa Timur, 9-10 April 2016). Salah satu jenjang kaderisasi di organisasi pemuda NU ini menjadi ajang konsolidasi antarpengurus di berbagai tingkatan.

Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jatim H. Rudi Tri Wahid menyampaikan, untuk menjamin konsistensi dan keberlanjutan kaderisasi di tubuh organisasi pemuda Nahdliyyin, diperlukan adanya konsolidasi antarpengurus, dari pimpinan ranting, anak cabang, cabang, wilayah hingga pusat.

PKL GP Ansor Se-Jatim, Ajang Konsolidasi Antarpengurus (Sumber Gambar : Nu Online)
PKL GP Ansor Se-Jatim, Ajang Konsolidasi Antarpengurus (Sumber Gambar : Nu Online)

PKL GP Ansor Se-Jatim, Ajang Konsolidasi Antarpengurus

“Jika konsulidasi dan komunikasi antarpengurus ini terjaga mulai dari tingkatan bawah hingga pimpinan pusat maka Ansor ke depan akan menjadi ikon organisasi kepemudaan yang andal dan disegani,” terangnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ketua PC GP Ansor Kabupaten Sumenep Muhri menjelaskan, Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan (PKL) ini merupakan salah satu upaya dalam membentuk kader-kader Gerakan Pemuda Ansor untuk siap mengawal ulama, menjaga aqidah Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah, dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Selain menjaga aqidah dan keutuhan NKRI, PKL juga bertjuan untuk menyiapkan kader-kader GP Ansor di masing-masing cabang agar menjadi pemimpin yang visioner,” tegas mantan Ketua PC PMII Sumenep ini.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Bupati Sumenep A Busyro Karim yang hadir dalam kesempatan itu menerangkan, sebuah organisasi yang bisa menjawab tantantangan globalisasi ke depan membutuhkan pemimpin yang visioner, inovasi, dan organisasi yang berbasis massa riil serta pola managemen yang baik. “Dan ketiga ini semua ada di Gerakan Pemuda Ansor,” imbuhnya disambut tepuk tangan para hadirin.

Untuk diketahui, peserta kegiatan PKL ini diikuti oleh 21 PC GP Ansor Kabupaten/Kota se- Jawa Timur. Turut Hadir dalam kegiatan tersebut Rukman Bashori, Ketua Bidang Kaderiasasi PP GP Ansor serta sejumlah instruktur dan pengurus PW GP Ansor Jatim, serta jajaran pengurus PCNU setempat. (Mohammad Madani/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Jadwal Kajian, Syariah, Kyai Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 09 Juli 2017

Mengenal Ibn Arabi Lebih Dekat

Bicara Ibn Arabi, tentu tidak asing lagi di telinga kita. Tokoh tasawuf terkemuka itu memang seringkali dibahas, terutama pemikirannya dalam bidang tasawuf. Akan tetapi, tidak lengkap mempelajari pemikiran Ibn Arabi dalam berbagai bidang tanpa mengetahui biografi Ibn Arabi, karena pemikiran seseorang akan lebih mudah dipahami ketika kita mengetahui riwayat hidupnya.

Buku ini membahas secara mendalam riwayat hidup Ibn Arabi dan perjalan spiritual Ibn Arabi ke berbagai daerah dan dimensi, terutama pertemuannya dengan para sufi di belahan dunia barat. Mau atau tidak, ketika membaca biografi Ibn Arabi, secara otomatis kita akan terdampar pula kedalam khazanah keilmuan sang Guru Besar tersebut.

Mengenal Ibn Arabi Lebih Dekat (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengenal Ibn Arabi Lebih Dekat (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengenal Ibn Arabi Lebih Dekat

Ibn Arabi, nama lengkapnya adalah Syaikh Akbar Muhyiddin Ibn Arabi. Ia adalah seorang tokoh sufi besar dari Andalusia yang meninggal dan dimakamkan di kaki gunung Qasiun, Damaskus, pada tahun 638 H./1240 M.. (hlm. xv)

Usaha pembuktian kedalaman kesufian Ibn Arabi terbagi dalam tiga hal. Pertama, pengalaman kesufian dalam wujud dan waktu abadi. Kedua, pengalaman kesufian dalam wujud dan waktu kebarzahan yang menjadi "waktu-antara" antara waktu abadi dan waktu kesejarahan. Ketiga, pengalaman kesufian dalam wujud dan waktu kesejarahan yang hadir melalui para sufi dengan ketaatan yang sempurna kepada Allah Swt. (hlm. 28)

Salah satu teladan Ibn Arabi dalam perilaku zuhud adalah pamannya, Syaikh Yahya bin Tughan. Terkhusus untuk pamannya, Ibn Arabi mengutip sejumlah syair yang digubah untuk mengabadikan kesalehan dan teladan kemanusiaan yang telah berhasil diperolehnya.

Syair-syair itu sebagai berikut:

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Aku dalam ihwal—lihatlah

Aku, mujurnya diriku!—pikirkanlah





Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rumahku dimana saja, di atas bumi

Kuminum air segar diri





Tak ada padaku: orang tua,

atau anak—pun keluarga





Lengan kananku bantalku

Ketika kubalik diri, lengan kiriku





Pernah kucicipi kenikmatan—dulu

Setelah renungku, semua hanya khayak semu (hlm. 178)





Buku ini juga menjelaskan pengaruh Ibn Arabi di belahan dunia Islam di Barat dan juga pengaruhnya di Indonesia. selebihnya selamat menikmati.

Data buku?

Judul: Biografi Ibn Arabi

Penulis: Muhammad Yunus Masrukhin

Penerbit: Keira Publishing

Cetakan: I, 2015

Tebal: 332 Halaman

ISBN: 978-602-1361-28-3

Peresensi: Moh. Tamimi, Mahasiswa Instika, Guluk-guluk, Sumenep program studi Pendidikan Bahasa Arab.?

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Kajian Islam, Fragmen, Jadwal Kajian Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 05 April 2017

Fatayat NU Ambarawa Pentaskan Seni Rebana

Pringsewu, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Pimpinan Anak Cabang Fatayat NU Kecamatan Ambarawa Kabupaten Pringsewu mengadakan lomba Mars Fatayat dan rebana di Balai Pekon Ambarawa Barat, Ahad (7/2). Pada kegiatan yang bertema tema Tingkatkan Kreativitas Ukhuwah Islamiyah, sebanyak 16 grup yang terbagi dua mengikuti dua jenis perlombaan tersebut.

Mereka mewakili ranting Fatayat NU masing-masing. Tampak hadir Pengurus Muslimat NU Pringsewu Hj Ani Fitriana, Ketua Fatayat NU Pringsewu Umi Laila, Ketua MWCNU Ambarawa Jumangin, dan Ketua GP Ansor Ambarawa Hayatul Makki.

Fatayat NU Ambarawa Pentaskan Seni Rebana (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Ambarawa Pentaskan Seni Rebana (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Ambarawa Pentaskan Seni Rebana

Ketua Muslimat NU Pringsewu Hj Ani Fitriana mengapresiasi kegiatan lomba tersebut. Ia berpesan agar Fatayat NU khususnya di Ambarawa semangat dan termotivasi untuk bergerak menunjukkan eksistensinya dengan hal-hal yang positif.

"Saya senang kalau melihat ibu-ibu muda di sini kompak dan seragam seperti ini, tapi jangan hanya pas lomba kompaknya. Mari kita tunjukkan eksistensi Fatayat kepada masyarakat agar mereka juga mau bergabung bersama kita khususnya ibu-ibu muda dan para pemudinya," kata Ketua Muslimat NU Pringsewu.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Anda-Anda inilah, kata Hj Ani, para generasi penerus Muslimat NU nantinya. Siapa lagi yang akan meneruskan perjuangan Muslimat NU ke depan kalau bukan kader-kader muda Fatayat?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Hal senada disampaikan Ketua Fatayat NU Pringsewu Umi Laila. Ia sangat senang dengan penyelenggaraan lomba Mars Fatayat dan rebana oleh Fatayat Ambarawa. Bahkan ini akan menjadi motivasi dan inspirasi tersendiri bagi anak cabang Fatayat NU di lain kecamatan.

"Ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya. Dengan dana yang minim dan waktu yang singkat ternyata kepengurusan di Ambarawa dapat menyelenggarakan acara semeriah ini. Ini patut dicontoh dan ditiru oleh anak cabang Fatayat NU yang lain," kata Umi.

Ia berpesan kepada grup yang menjadi juara untuk tidak berbangga hati. Tim yang kalah tidak perlu berkecil hati. Tim yang menang atau yang kalah harus tetap terus belajar dan belajar agar bisa lebih baik lagi.

Lomba menyanyikan Mars Fatayat dimenangkan oleh grup dari Ranting Fatayat NU Tanjunganom yang kemudian disusul oleh PAC Fatayat NU Ambarawa yang merebut juara dua. Sementara Ranting Fatayat NU Ambarawa Barat meraih juara tiga.

Untuk cabang lomba rebana, Ranting Fatayat NU Jatiagung berhasil menjadi yang terbaik. Juara dua direbut Ranting Fatayat Sumberagung. Sementara? PAC Fatayat NU Ambarawa berada di posisi ketiga. (Henudin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Jadwal Kajian, Tokoh, Budaya Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 30 Januari 2013

Pelajar MTs Maarif NU Sindangwangi Pelajari Kesehatan Reproduksi

Majalengka, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Siswa-siswi MTs Maarif NU Sindangwangi menerima kunjungan dari Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa Perempuan dan Keluarga Berencana kabupaten Majalengka. Mereka mengikuti sosialisasi kesehatan reproduksi remaja di Gedung MTs Maarif NU Sindangwangi jalan Pondok Sapi Sindangwangi Majalengka, Senin (1/9) pagi.

Acara sosialisasi dipandu langsung oleh Kepala Bidang KB BPMDPKB Majalengka Dra Hj Nunung, Kepala Seksi Kesehatan Reproduksi Remaja Majalengka, dan Duta KB Majalengka.

Pelajar MTs Maarif NU Sindangwangi Pelajari Kesehatan Reproduksi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar MTs Maarif NU Sindangwangi Pelajari Kesehatan Reproduksi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar MTs Maarif NU Sindangwangi Pelajari Kesehatan Reproduksi

Kepala MTs Ma’arif NU Sindanwangi H Castim menyatakan apresiasi atas kegiatan sosialisasi ini. “Acara ini penting untuk mengenalkan kesehatan reproduksi remaja kepada pelajar MTs yang tentunya memang sudah mulai memasuki masa pubertas.”

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pelajar di mana alat reproduksinya sudah berfungsi saat usia 9 tahun, kata Hj Nunung, perlu mengetahui bagaimana caranya menjaga alat reproduksi sehingga mereka sejak dini dapat menghindar dari hal-hal negatif.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Acara sosialisasi dikemas dalam bentuk tanya-jawab. Pihak BPMDPKB memberikan hadiah berupa pin bagi siswa yang bertanya dan menyampaikan argumentasinya. (Aris Prayuda/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Hadits, Jadwal Kajian Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock