Tampilkan postingan dengan label Halaqoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Halaqoh. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Februari 2018

24 Santri Jateng-Yogya Ikuti Pelatihan Mekanik Sepeda Motor

Semarang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan 



Pengurus Pusat Rabithah Maahid Islamiyyah  Nahdlatul Ulama (RMINU) bekerja sama dengan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) mengadakan pelatihan, pendampingan, dan magang mekanik sepeda motor untuk santri Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. 

24 Santri Jateng-Yogya Ikuti Pelatihan Mekanik Sepeda Motor (Sumber Gambar : Nu Online)
24 Santri Jateng-Yogya Ikuti Pelatihan Mekanik Sepeda Motor (Sumber Gambar : Nu Online)

24 Santri Jateng-Yogya Ikuti Pelatihan Mekanik Sepeda Motor

Sebanyak 24 santri mengikuti pelatihan itu selama kurang lebih 4 bulan ke depan. Mereka akan berlatih di dalam kelas dan praktik langsung di lapangan. 

Pelatihan ini memberikan pengetahuan pada santri agar mampu memperbaiki dan mengetahui perkembangan sepeda motor. Kebutuhan akan sepeda motor di pesantren tak kalah pentingnya dengan alat transportasi lain. 

Dengan adanya kemampuan baru ini, pesantren diharapkan memiliki tenaga ahli yang paham sepeda motor. YDBA sudah 37 tahun mendampingi masyarakat untuk berkontribusi.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selain itu, ada Astra Motor dan Yayasan Astra Honda Motor (YAHM) yang ikut mendukung pelatihan ini. 

Ahmad Muhibbudin selaku wakil ketua YAHM menyatakan, perlu adanya transfer pengetahuan (knowledge) pada masyarakat luas, termasuk santri. Setelah mengikuti pelatihan ini; peluang untuk mengerjakan bidang terkait perbengkelan terbuka lebar. 

Sudah banyak pelatihan seperti ini yang memberikan manfaat pada peserta. Banyak dari mereka menjadi wirausahawan dengan membuka bengkel sendiri atau bekerja di jaringan perusahaan Astra.

"Setelah lulus untuk bisa menjadi wirausahawan," papar Rahmad Handoyo selaku mentor YDBA pada pembukaan pelatihan di kantor Astra Motor Center, Semarang, Selasa, (5/12).

Khoironi, perwakilan PP RMINU memotivasi peserta. Ia mengatakan bahwa pelatihan kali ini bisa jadi menjadi ilmu baru bagi santri. Untuk pesantren salaf; ini hal baru yang harus ditekuni agar mampu menguasainya. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Abu Choir, tim pelaksana dari PW RMINU Jateng menambahkan bahwa pelatihan ini ke depan harus ditingkatkan tak hanya dalam pelatihan saja. Perlu adanya pendampingan untuk membuka bengkel di pesantren dengan supervisi dari Astra. (Zulfa/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Sejarah, Nasional, Halaqoh Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 20 Februari 2018

GP Ansor Enam Kecamatan di Sukabumi Sowan kepada Para Kiai

Sukabumi, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Gerakan Pemuda GP Ansor Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat Koordinator Wilayah Binaan IV melakukan sowan maraton kiai-kiai NU yang menjadi pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul ulama (MWC NU) di wilayah tersebut Ahad (24/7).

Para pemuda NU dari enam kecamatan tersebut berkumpul kemudian mendatangi kiai di Kecamatan Warungkiara, Bantar Gadung, Simpenan, Pelabuhan Ratu, Cikakak dan juga Cisolok.

GP Ansor Enam Kecamatan di Sukabumi Sowan kepada Para Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Enam Kecamatan di Sukabumi Sowan kepada Para Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Enam Kecamatan di Sukabumi Sowan kepada Para Kiai

Menurut Koordinator Wilayah IV? Ustadz Aang Miftahurrohmat, kegiatan tersebut adalah ajang silaturahim dan halal bihalal dari anak muda kepada orang tua.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Ini sangat diperlukan untuk supaya kenal antara pengurus MWCNU dan GP Ansor,” katanya.

Para anak muda tersebut juga meminta kepada kiai untuk memberi masukan cara berkhidmah dan berjuang di NU supaya di kecamatan masing-masing. Tak hanya itu, para kiai diminta berdoa supaya segala sesuatu yang dihadapi di lapangan berjalan dengan baik.

Didatangi para anak muda, para kiai mengaku sangat senang. Pengakuan itu misalnya disampaikan Ketua MWCNU Kecamatan Simpenan KH Zaenal Arifin.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kiai Zaenal berpesan kepada pemuda Ansor agar bisa menghargai dan menghormati masyarakat. Ketika datang di suatu tempat pemuda NU harus bisa beradaptasi dengan masyarakat.

Ia mengingatkan jangan sekali-kali menggunakan kekerasan ketika bertindak, tapi mengedepankan kelemahlembutan dan kesantunan. “Kita melihat cara dakwahnya para Wali Songo dalam menghadapi masyarakat tersebut,” katanya. (Sofyan Syarif/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ubudiyah, Amalan, Halaqoh Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 18 Februari 2018

Kisah Seorang Pemulung Naik Haji

Niat dan usaha yang sungguh-sungguh akan mengantarkan seseorang pada sesuatu yang dicita-citakannya. Setidaknya inilah yang diyakini dan diamalkan oleh Karyati, seorang pemulung asal Desa Pondok Wuluh Kecamatan Leces Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

Meski secara logika pekerjaan yang dijalaninya merupakan pekerjaan rendahan, tetapi nenek yang berusia sekitar 69 tahun tersebut ternyata mampu mencapai cita-citanya untuk menunaikan rukun Islam yang kelima naik haji ke tanah suci.

Kisah Seorang Pemulung Naik Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Seorang Pemulung Naik Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Seorang Pemulung Naik Haji

Namun demi bisa mencapai keinginannya tersebut, Karyati telah bekerja sangat keras. Bahkan selama 20 tahun lamanya, wanita paruh baya tersebut menyisihkan sebagian jerih payahnya sebagai pengais barang bekas plastik dan kertas.

Janda renta yang mempunyai 4 (empat) orang anak ini berkeyakinan bahwa suatu saat nanti dirinya bakal bisa naik haji ke tanah suci layaknya orang-orang lain yang berduit. Atas keyakinan tersebut, dirinya selalu menyisihkan hasil dari memulung untuk ditabung dan sebagian untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Memang untuk mewujudkan impian naik haji ini penuh perjuangan. Karena saya harus menabung selama 20 tahun lamanya. Tetapi saya yakin Allah pasti mengabulkan doa saya untuk bisa melihat Ka’bah secara langsung,” ujar Karyati kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan, Rabu (18/9).

Menurut Karyati, cita-cita naik haji itu sudah lama terpendam semenjak 2002 lalu. Saat itu dirinya mengaku masih punya toko kelontong di desanya. Masa-masa sulit dilewatinya saat usaha kelontongnya bangkrut di pada tahun 2005. Namun untuk menyambung hidup, Karyati kemudian menjadi seorang pemulung. Meski pekerjaannya terbilang rendah, tetapi itu tidak menyurutkan niatnya untuk bisa meraih cita-citanya untuk menunaikan ibadah haji.

Sekitar tahun 2004, Karyati mulai mendaftarkan diri sebagai haji Kabupaten Probolinggo. Pada waktu itu, tabungannya dari hasil menjadi pemulung sudah mencapai sekitar Rp. 20 juta. Selain dari hasil memulung, uang tersebut didapat dari beberapa sukarelawan.

“Pernah suatu ketika, tepatnya pada tahun 2010 saya pernah ditipu oleh seseorang yang mencoba menawarkan jasa. Namun tanpa disadari saya tertipu sebesar Rp. 10 juta dan uang tersebut tidak dikembalikan meskipun beberapa waktu kemudian akhirnya ditangkap oleh polisi,” jelasnya.

Dan selama mengejar impiannya, Karyati tidak mau kumpul atau tidur di rumah anak-anaknya. Bukannya tidak sayang kepada anak dan cucunya, namun nenek bercucu 12 orang ini tidak mau mengganggu atau menjadi beban hidup anak-anaknya. Dirinya lebih memilih tidur di toko usang miliknya. Terkadang pula tidur di masjid desanya. “Kalau pas bersih-bersih masjid ada orang kasih rejeki, saya tabung,” katanya.

Namun dengan tekad yang kuat, semua kejadian tersebut tidak mematahkan semangat Karyati untuk mewujudkan cita-citanya untuk dapat berangkat haji. “Saya hanya bisa pasrah namun saya tidak mau putus asa untuk tetap bisa berangkat haji ke tanah suci,” terangnya.

Bermodalkan sebuah sepeda buntut, Karyati keliling dari kampung ke kampung mengumpulkan barang bekas. Sebagian hasilnya digunakan untuk makan dan sebagian lain ditabung untuk bisa naik haji. “Dalam sehari, upah memungut barang bekas sebesar Rp. 10 ribu. Yang Rp. 5 ribu ditabung dan yang Rp. 5 ribu untuk makan,” akunya.

Usaha yang dilakukan Karyati tidak sia-sia. Semua hasil jerih payah dan keikhlasan hatinya membawa Karyati berangkat haji di tahun 2013 ini. Karyati direncanakan akan berangkat ke tanah suci pada tanggal 29 September 2013 melalui kloter 43 Embarkasi Juanda, Surabaya. (Syamsul Akbar/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Tokoh, Makam, Halaqoh Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 14 Februari 2018

Semangat Mengaji Umat Muslim di Roma

Umat Muslim percaya momen Ramadhan perlu diisi dengan berbagai macam kegiatan kebaikan, termasuk juga pengajian. Begitu juga dengan warga Muslim di Roma. Itulah yang dikatakan Juniarti, Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemenlu kepada saya saat saya mengisi pengajian di KBRI Roma Ramadhan lalu.

Saat itu, saya mengisi pengajian di hari Sabtu. Sabtu dan Ahad memang hari libur di Roma. Tetapi meskipun libur, pengajian tetap dilakukan.

Semangat Mengaji Umat Muslim di Roma (Sumber Gambar : Nu Online)
Semangat Mengaji Umat Muslim di Roma (Sumber Gambar : Nu Online)

Semangat Mengaji Umat Muslim di Roma

Ramadhan juga bulan kebersamaan. Suasana itu terlihat di lingkungan KBRI Roma. Sapaan hangat dari RA Esti Andayani sebagai Duta Besar RI untuk Italia kepada seluruh staf. Tawa canda anak-anak kecil dengan temannya yang terkadang lalu lalang di depan para pejabat, menambah cerita lucu di saat berbuka puasa.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

***

Tinggal jauh di negara sendiri terkadang ada sukanya juga ada dukanya. Sukanya salah satunya adalah, mungkin bisa banyak belajar budaya asing dan memperlancar bahasa negara lain, seperti kebanyakan saudara-saudara Muslim di Roma, Italia ini.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Anak-anak kecil keturunan Indonesia di sini sangat fasih dan lancar sekali dengan bahasa Italia. Saat bercanda dan bermain dengan teman-teman sebayanya, mereka asyik sekali mendengarkan orang mengucapkan kalimat-kalimat berbahasa Italia. Seperti kata “numero uno” dan sebagainya.

Tetapi ada yang menjadi kegelisahan para orangtua mereka, yaitu pembelajaran pengetahuan agama yang kurang maksimal, meskipun sudah disiapkan tempat belajar agama khusus di masjid besar khusus untuk orang-orang Indonesia. Tampaknya itu belum efektif.

Banyak yang bercerita kepada saya, tentang huruf-huruf Hijaiyah saja sudah lupa. Banyak dari anak-anak usia SMP dan SMA sudah lupa huruf-huruf Hijaiyah itu.

“Dulu saya sudah tahu itu, tetapi sekarang saya sudah lupa semua,” kata Faishal, anak Indonesia yang dari kecil sekolah di Roma, yang sekarang duduk di kelas 1 selevel SMA di Indonesia.

Faishal bercerita jenjang pendidikan di Roma agak berbeda dengan di Indonesia. Kalau di Roma jenjangnya 5+3+5. Lima tahun setingkat SD dilanjut 3 tahun setingkat SMP dilanjut 5 tahun setingkat SMA. Lima tahun di setingkat SMA itu sudah penjurusan sesuai minat masing-masing. Jika cerdas bisa selesai lebih cepat. Seperti akselerasi di Indonesia.

Untuk mengefektifkan pengetahuan agama tersebut, KBRI Roma dan Nadwah Ukhuwah Roma (NUR) bersepakat membuat jadwal dan tema kajian Ramadhan yang dibutuhkan masyarakat Muslim Indonesia di Roma. Dengan itu tugas saya sebagai Dai Ambassador Cordofa 2017 di Italia sangat terbantu.

Selama di Roma, jadwal pengajian yang telah disusun oleh NUR dan KBRI Roma adalah sebagai berikut. Kultum di setiap hari bada zuhur. Tema yang harus disampaikan adalah pentingnya shalat, keutamaan sedekah, manfaat membaca Al-Quran, akidah dan tauhid dalam Islam, sudahkah saya berzakat, perbedaan zakat dan infak.

Selain itu keutamaan istighfar, menghormati orangtua, persaudaraan dalam Islam, amar makruf nahi munkar, penyakit hati dan cara menghindarinya, keutamaan menuntut ilmu, kebersihan sebagian dari iman, keutamaan shalat dhuha, manfaat shalat dari segi kesehatan dan sosial, keutamaan shalat tahajud.

Selebihya adalah saya akan bahas tentang hukum-hukum fiqih dasar tentang thaharah dan hukum-hukum shalat seperti rukun dan sunat shalat.

“Karena ini saja banyak yang masih belum benar,” kata Adnan, salah satu staff dan ustad di KBRI Roma.

Setiap Rabu dan Jumat ada pengajian ibu-ibu. Saya tekankan pada cara membaca Al-Quran yang baik dan benar. Saya praktikkan makharijul huruf dan pemahaman ilmu tajwid, juga sentuhan anatomi Al-Quran yang sangat disukai oleh jamaah ibu-ibu istri para diplomat ini.

Pengajian ini dimulai pukul 14. 30-17.00 pada hari Rabu. Sedangkan pada hari Jumat dimulai pada pukul 18.00 sampai 20.00 atau menjelang berbuka puasa.

Setiap Jumaat sore dimulai pukul 15.00–17.30 adalah pengajian anak-anak dan remaja, yang saya isi dengan pengenalan huruf-huruf Hijaiyah, doa-doa harian, dan hafalan-hafalan surat pendek.

Setiap Jumat dan Sabtu juga diadakan acara berbuka puasa bersama di KBRI Roma, Milan, dan Vatikan secara bergantian. Jumat agenda untuk seluruh keluarga Home Staff dan Lokal Staff KBRI Roma. Sedangkan hari Sabtu diadakan untuk umum, untuk seluruh masyarakat Indonesia dan sekitarnya di Italia.

Semua itu untuk mempererat tali silaturrahmi dan menambah pengetahuan agama Islam di Italia yang memang minim sekali guru agama. Sekalipun ada, itu pun jauh dan mungkin terkendala masalah bahasa.

Saya berharap, peran saya yang tak seberapa selama di Italia, dapat meningkatkan semangat warga Muslim di sana dalam menambah ilmu agama. Masyarakat Indonesia di Italia umumnya dapat mempererat tali persaudaraan dan kepedulian mereka.

H Khumaini Rosadi, anggota Tim Inti Dai dan Media Internasional (TIDIM) LDNU, dan Dai Ambassador Cordofa 2017 dengan penugasan ke Roma, Italia.

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Halaqoh, Tegal Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 26 Januari 2018

Tanggapan atas Kisah Berdirinya NU Versi Habib Luthfi (III-Habis)

Oleh: Muhammad Ali Rahman

Mengacu pada data peristiwa sejarah yang diuraikan pada tulisan terdahulu (Baca:Tanggapan atas Kisah Berdirinya NU Versi Habib Luthfi (I) dan Tanggapan atas Kisah Berdirinya NU Versi Habib Luthfi (II), sangat tidak memungkinkan terjadinya peristiwa di Masjidil Haram yang melibatkan Kiai Hasyim Asy’ari pada tahun-tahun itu.

Kemudian, untuk memperjelas bagaimana sulitnya transportasi menuju Makkah, saat itu, di antaranya kita bisa cermati perjuangan Kiai NU ketika hendak mengirim utusannya ke Muktamar Alam Islami. Langkah awal, harus mencari dana, yang akhirnya terkumpul sebesar f 1500.28,5 (mata uang Hindia Belanda). Pendanaan siap, dan KHR Asnawi, Kudus (Jawa Tengah), sebagai utusan pun juga siap. Langkah berikutnya, Kiai Wahab menghubungi perusahaan pelayaran di Tanjung Perak, Surabaya. Ternyata, setelah beliau sampai di pelabuhan Tanjung Perak, kapal yang menuju Arab Saudi sudah berangkat. Maka gagallah pemberangkatan Kiai Asnawi untuk menghadiri muktamar di Makkah.

Dua tahun kemudian, utusan NU yang diwakili oleh Kiai Wahab dan Syaikh Ghanaim, baru bisa berangkat, yakni pada 19 Maret 1928 M, dan tiba di Makkah pada 7 Mei 1928 M. Utusan NU ini pun bukan untuk mengikuti muktamar, melainkan menemui langsung Raja Arab Saudi, Abdul Aziz Al-Saud, guna menyampaikan surat dari NU.

Tanggapan atas Kisah Berdirinya NU Versi Habib Luthfi (III-Habis) (Sumber Gambar : Nu Online)
Tanggapan atas Kisah Berdirinya NU Versi Habib Luthfi (III-Habis) (Sumber Gambar : Nu Online)

Tanggapan atas Kisah Berdirinya NU Versi Habib Luthfi (III-Habis)

Uraian ini, baru persoalan transportasi, belum lagi ketatnya pengawasan pihak Raja Abdul Aziz Al-Saud terhadap semua bentuk kegiatan Aswaja di Hijaz. Pada tahun-tahun itu sulit melakukan diskusi di Masjidil Haram yang berkaitan dengan Aswaja. Satu misal, diinformasikan surat kabar Pewarta Surabaya, yang memberitakan nasib ulama asal Indonesia, yakni KH Mukhtar. Beliau nyaris dihukum mati, atau diusir dari Hijaz, hanya karena menjawab pertanyaan jamaah, mengenai sunnahnya membaca "ushalli" menjelang shalat, dengan merujuk pada kitab Tuhfah.?

Berikutnya, kita cermati kembali tugas Kiai Hasyim seperti diceritakan Habib Luhtfi. Setelah dari Habib Hasyim di Pekalongan, beliau menemui salah seorang gurunya, yakni Syaikhona Kholil, di Bangkalan. Setelah bertemu. terjadilah dialog:

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Syaikhona ? : ? Laksanakan apa niatmu. Saya ridha seperti ridhanya Habib Hasyim. Tapi saya ? juga minta tolong, nama saya jangan ditulis.?

Kiai Hasyim: ? Bagaimana Kiai, kok tidak mau ditulis semua?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Syaikhona ? : ? Kalau mau tulis silakan, tapi sedikit saja.?

Di luar konteks ketidakmungkinan seperti yang penulis urai tadi, keterangan dan rangkaian kalimat ini ganjil; dari sisi tatakrama atau pun dari sisi fakta.?

Pertama, Syaikhona Kholil adalah guru Kiai Hasyim. Sebagai seorang santri, apalagi santri di masa itu, lazimnya mendahulukan gurunya sebelum yang lain. Namun dalam cerita itu, Kiai Hasyim menemui Habib Hasyim terlebih dadulu, baru ke Syaikhona. Secara georafis pun, jarak tempuh dari Tebuireng lebih dekat ke Bangkalan ketimbang ke Pekalongan.

Hal lain. cerita ini menimbulkan kesan, ridhanya Syaikhona terhadap niatan santrinya, setelah diridhai Habib Hasyim. Serta mengesankan, kedua tokoh itu sama-sama memiliki tingkatan spiritual, dalam pengertian adikodrati yang tinggi. Sehingga, jarak yang jauh antara Makkah-Indonesia, dan antara Pekalongan-Bangkalan bisa disadapnya.?

Kedua, dialog antara Syaikhona dan Kiai Hasyim digambarkan begitu akrab. Sementara jika merujuk pada keterangan Kiai As’ad Syamsul Arifin, ketika tahun 1920 M, sebanyak 66 ulama seluruh Indonesia datang ke Bangkalan, ingin bertemu Syaikhona guna memohon petunjuk terkait dengan gerakan aliran baru anti madzhab, mereka terlebih dahulu menemui Kiai Muntaha, menantu Syaikhona, yang tinggal di daerah berbeda di Bangkalan.

Setelah para ulama itu menjelaskan maksudnya, sebagaimana ditirukan oleh Kiai As’ad, satu di antara mereka berkata:

“Bagaimana Kiai Muntaha, mohon dihaturkan ke Kiai Kholil, karena kami tidak berani sowan langsung. Kami semua sudah sama-sama azam untuk bertemu Hadratus Syaikh Kiai Kholil. Kami tidak ada yang berani kalau bukan panjenengan yang mengantarkan…” Kisah ini menggambarkan betapa kharismatiknya Syaikhona serta tawadhu’-nya para ulama saat itu.

Ketiga, cerita ini terbalik dengan keterangan Kiai As’ad Syamsul Arifin, di mana Kiai Hayim yang datang menemui Syaikhona menyampaikan amanat dari ulama di Haramain. Sedangkan dalam keterangan Kiai As’ad, beliau diutus Syaikhona untuk menemui Kiai Hasyim, yang menjadi jawaban dari istikharahnya berkenaan dengan gagasan akan membentuk wadah bagi Ulama Aswaja—seperti diurai di atas.?

Keempat, terkait dengan narasumber. Kiai As’ad Syamsul Arifin adalah santri Syaikhona, pelaku peristiwa, menyampaikan sendiri kisahnya, dijelaskan dengan tahun peristiwanya, dan termasuk juga pendiri NU. Secara data, keterangan Kiai As’ad, ada bukti rekamannya, bahkan tidak hanya satu kali kisah itu disampaikan. Setidak-tidaknya, yang penulis tahu ada dua rekaman, walau redaksinya agak beda, tapi intinya sama. Kisah itu juga pernah disampaikan ke Chairul Anam ketika mewawancarai untuk materi buku Pertumbuhan & Perkembangan NU.

Sedangkan keterangan Habib Luthfi, yang katanya didapat dari Kiai Irfan, tidak dilengkapi dengan penjelasan siapa tokoh Kiai Irfan yang dimaksud. Apakah beliau terlibat langsung saat peristiwa di Masjidil Haram tersebut, sehingga mengetahui kisahnya. Apakah semasa dengan Syaikhona dan Habib Hasyim dan seterusnya dan sebagainya. Terlepas siapa Kiai Irfan, yang pasti, keterangan Kiai As’ad Syamsul Arifin yang runutannnya jelas dan selaras dengan data-data tertulis tentang pembentukan NU, sehingga memenuhi syarat ilmiah dalam standar penulisan sejarah.

***

Dari semua uraian di atas, menjadi jawaban, mana yang bisa diterima, mana yang tidak. Adapun keterangan: “Dan ternyata sejarah tersebut juga dicatat oleh Gus Dur,” kiranya tidak perlu diurai lebih lanjut. Sebab tidak ada penjelasan, dicatat dalam bentuk apa, di mana, dan seperti apa rinciannya. Sedangkan Gus Dur sudah wafat, yakni pada 29/12/2009 M; sementara kisah itu disampaikan pada 2010 M—sebagaimana diurai di atas.

Namun demikian, jika Habib Luthfi, sebagai shahibul kisah memiliki bukti materi yang kuat dari apa yang dikisahkan, sebaiknya didiskusikan dalam forum ilmiah dengan melibatkan berbagai pihak, terutama para penulis sejarah NU yang selama ini menjadi rujukan. Dengan demikian akan lebih jernih dan jelas, sehingga tidak timbul kerancuan yang ujungnya bisa saja dapat mengaburkan sejarah NU dari aslinya.?

Demikian tanggapan penulis, semoga bermanfaat dan mohon maaf jika terdapat kesalahan. Wallahu a’lam.





Penulis tercatat sebagai pengurus di salah satu Lembaga dan Banom NU; penulis buku "Riwayat Syaikhona Kholil Bangkalan, Isyarah & Perjuangan di Balik Berdirinya NU", "Istighatsah An-Nahdliyah", "Syair Gus Dur", dan lain-lain.?

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Halaqoh Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Bangun Soft Skill, Santri Darul Falah Ikuti Pelatihan Jurnalistik

Semarang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Redaksi al-Qalam pesantren Darul Falah Be-Songo menggelar pelatihan jurnalistik bersama kontributor Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan M Zulfa. Bertempat di qoah pesantren Be-Songo agenda ini merupakan kegiatan pascaliburan untuk mengisi kegiatan menjelang semester baru. Pelatihan ini sekaligus sebagai evaluasi atas terbitnya buletin edisi kedua Februari 2016.?

Materi yang disampaikan berupa manajemen keredaksian, teknik wawancara dan menulis di era teknologi. Santriwan-santriwati pesantren Be-Songo yang mayoritas mahasiswa Universitas Islam Negeri Walisongo ini dibekali dengan ketrampilan untuk menghasilkan santri yang tidak hanya menyandang gelar kesarjanaan saja. Soft skill menjadi nilai lebih dari mahasiswa yang tidak tinggal di pesantren.?

Bangun Soft Skill, Santri Darul Falah Ikuti Pelatihan Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)
Bangun Soft Skill, Santri Darul Falah Ikuti Pelatihan Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)

Bangun Soft Skill, Santri Darul Falah Ikuti Pelatihan Jurnalistik

Nilai-nilai pesantren yang tumbuh di pesantren ini tak hilang sebagaimana pesantren pada umumnya, masih ada ngaji dan kajian fiqih rutin, khitobah dan sederet nilai-nilai khas pesantren seperti kemandirian, kekeluargaan, sopan santun, dan lain-lain. Akhlak karimah seperti ini yang harus terus digaungkan melalui media massa baik berupa cetak atau online.?

"Penguatan soft skill untuk santriwan-santriwati ini menjadi bekal di masa yang akan datang setelah mereka kembali ke masing-masing daerah asal mereka," ungkap pengasuh pesantren KH Imam Taufiq.?

Selain itu, kegiatan pascaliburan ini ada pelatihan resolusi konflik, kewirausahaan, peningkatan kepemimpinan, AMT, fashion style, fiqih perempuan dan pelatihan bercocok tanam. Pesantren yang bervisi menjadikan santri berakhlak mulia dengan kompetensi keagamaan dan kecakapan hidup yang handal ini bisa buka di be-songo.or.id. Red: Mukafi Niam?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Halaqoh, Nusantara, Berita Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Perdebatan soal Hukum Transfusi Darah di Zaman Penjajahan

Lazimnya semua peperangan yang terjadi di beberapa belahan bumi sepanjang sejarah, tim medis mempunyai peran sentral dalam memberikan pertolongan kepada para prajurit yang masih bisa diselamatkan. Di antara layanan medis yang sangat penting di medan tempur ialah proses transfusi darah (bloodtransfoesie).

Para pelaku peperangan sebagian besar mengalami pendarahan hebat disebabkan terkena tembak maupun serangan yang lain. Hal ini menjadi perhatian para ulama Indonesia yang tergabung di MIAI (al-Majlisul Islami A’la Indonesia) untuk membahas bagaimana hukum transfusi darah untuk kepentingan perang dan penjajahan.

Perdebatan soal Hukum Transfusi Darah di Zaman Penjajahan (Sumber Gambar : Nu Online)
Perdebatan soal Hukum Transfusi Darah di Zaman Penjajahan (Sumber Gambar : Nu Online)

Perdebatan soal Hukum Transfusi Darah di Zaman Penjajahan

Organisasi yang merupakan wadah semua kelompok umat Islam Indonesia ini didirikan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah dan KH Ahmad Dahlan (tokoh NU yang pernah menjadi wakil Hadratussyekh Hasyim Asy’ari dalam kepengurusan NU 1926) pada 12-15 Rajab 1356 H (18-21 September 1937) di Pondok Kebondalem Surabaya, Jawa Timur. Kedua tokoh pendiri NU itu dibantu oleh KH Mas Mansur Pimpinan Muhammadiyah serta W. Wondoamiseno dari Syarikat Islam (SI).

Para tokoh NU berperan penting dalam kemajuan badan federasi perkumpulan Islam itu. Agenda cukup sentral dalam organisasi tersebut di antaranya Kongres Al-Islam. Namun, para tokoh NU mengubah istilah tersebut dengan Kongres Muslimin Indonesia (KMI) untuk menunjukkan bahwa umat Islam di Indonesia kuat meski terbagi menjadi beberapa kelompok.

Singkatnya, puncak perjuangan MIAI terlihat pada KMI ketiga pada 5-8 Juli 1941 di Solo, Jawa Tengah. Kongres ini didahului sidang pleno Dewan MIAI untuk membahas persoalan penting dan mendesak di antaranya, 1) perubahan tata negara; 2) soal milisi; dan Bloodtransfoesie (pemindahan/transfusi darah). (Pertumbuhan dan Perkembangan NU, 2010)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Tentang perubahan tata negara, sidang Dewan MIAI memberikan kesempatan kepada dua pembicara utama, yaitu A.Ghoffar Ismail (Wakil PB PII) dan Abikoesno Tjokrosoejoso (PSII). Untuk masalah milisi-diestplicht, sidang mempersilakan kepada Wakil HBNO/Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), KH Ahmad Ilyas untuk membuat pertimbangan (konsiderannya). Sedangkan untuk persoalan bloodtransfoesie terjadi perbedaan pendapat yang cukup sengit antara Persatuan Islam (Persis), PB PII, dan HBNO.

Dalam perdebatana tersebut, Persis membolehkan bloodtransfoesie karena hal itu (sama halnya dengan) ikhtiar menolong atau mengobati orang sakit, terutama yang kekurangan darah dengan cara memindahkan darah dari orang yang sehat kepada orang yang sakit. Namun, atas persoalan bloodtransfoesie ini, HBNO dan PB PII memberikan dua alternatif.

Pertama, pemindahan darah ke lain tubuh yang kekurangan darah guna pengobatan, maka hukumnya seperti pemberian. Kedua, jika karena pemberian itu akan terjadi suatu perkara terlarang, mislanya untuk peperangan yang tidak diridhoi Allah SWT, maka hukumnya terlarang atau tidak diperbolehkan. Dengan kata lain, hukumnya haram.

Atas argumen syar’i dari HBNO, Kongres Muslimin Indonesia ketiga itu berakhir dengan keputusan bulat, yakni melarang atau mengharamkan bloodtransfoesie untuk kepentingan membantu peperangan Belanda, dan mengharamkan milisi-diestplicht karena perbuatan tersebut berarti membantu penjajah (kolonial). Sedangkan mengenai perubahan tata negara, menuntut Indonesia berparlemen atas dasar pijakan nilai-nilai agama. (Fathoni Ahmad)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Sholawat, Halaqoh Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 18 Januari 2018

GP Ansor Jombang Hidupkan Anak Cabang Wonosalam yang Vakum 10 Tahun

Jombang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Jombang, Jawa Timur mengajak kepada para pemuda Nahdliyin di Kecamatan Wonosalam, Jombang, untuk membentuk kembali kepengurusan GP Ansor di tingkat Pimpinan Anak Cabang (PAC) dan berbagai ranting setempat yang vakum selama kurang lebih 10 tahun.

Pembentukan pengurus dimulai dari tingkat PAC GP Ansor Kecamatan Wonosalam. Kegiatan berjalan lancar dan tertib melalui musyawarah mufakat Tim Formatur yang disepakati forum silaturahim generasi muda Wonosalam di Pondok Pesantren Fattahul Muhibbin, Sumberejo, Wonosalam, Ahad (3/1) malam.

GP Ansor Jombang Hidupkan Anak Cabang Wonosalam yang Vakum 10 Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Jombang Hidupkan Anak Cabang Wonosalam yang Vakum 10 Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Jombang Hidupkan Anak Cabang Wonosalam yang Vakum 10 Tahun

Tim Formatur terdiri dari PC GP Ansor Jombang, Rais Syuriah dan Ketua Tanfidziyah MWCNU Wonosalam, perwakilan dari pengurus ranting NU se-Wonosalam dan perwakilan generasi muda Wonosalam. Forum silaturahim tersebut memilih Muhammad Nurul Huda sebagai Ketua PAC GP Ansor Wonosalam masa khidmah 2016 – 2019.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ketua PC GP Ansor Jombang H Zulfikar Damam Ikhwanto mengatakan, dengan terbentuknya PAC GP Ansor Wonosalam, kini total ada 21 PAC GP Ansor aktif di 21 Kecamatan se-Kabupaten Jombang. “Bahkan untuk Wonosalam ini nanti akan diselenggarakan Diklatsar (Pendidikan dan Latihan Dasar Banser) dengan jumlah peserta 150 Orang,” katanya saat memberikan sambutannya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Gus Antok, sapaan akrabnya, menambahkan bahwa GP Ansor adalah masa depan Nahdlatul Ulama (NU). “Untuk itu gerakan pemuda ansor harus bisa mandiri dan menata diri agar bisa menjadi organisasi yang sehat dan kuat serta berakhlakul karimah,” tambahnya.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Ketua, Sekretaris, Kepala Satkorcab Banser, Bendahara dan beberapa pengurus harian PC GP Ansor Kabupaten Jombang. Hadir juga Rais Syuriah Majelis Wakil Cabang (MWCNU) Wonosalam, dan Ketua MWCNU Wonosalam, beberapa perwakilan dari pengurus ranting NU se-Kecamatan Wonosalam, serta generasi muda dari berbagai desa di Wonosalam. (Syamsul Arifin/Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Halaqoh, Habib Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 02 Januari 2018

Dies Natalis Ke-13, STAINU Jakarta Angkat Tema Islam Nusantara

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta akan menggelar peringatan hari lahir atau Dies Natalis yang ke-13 pada Ahad, (3/5) di Kampus Jl Taman Amir Hamzah No 5 Jakarta Pusat dengan mengangkat tema ‘Kita adalah Islam Nusantara’.

Dies Natalis Ke-13, STAINU Jakarta Angkat Tema Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Dies Natalis Ke-13, STAINU Jakarta Angkat Tema Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Dies Natalis Ke-13, STAINU Jakarta Angkat Tema Islam Nusantara

“Dengan tema ini, STAINU Jakarta ingin menegaskan komitmennya sebagai kampus yang istiqomah memperjuangkan dan menegakkan nilai-nilai Islam Nusantara,” tegas Pembantu Ketua (Puka) IV STAINU Jakarta, Aris Adi Leksono, MMPd saat dihubungi Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan, Selasa (28/4) di Jakarta.

Aris menambahkan, untuk itulah STAINU Jakarta ke depan akan membuka program studi dengan ciri khas Islam Nusantara seperti Tasawuf, Ilmu Falak, Pariwisata Haji dan Umroh, dan lain-lain.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Sebelumnya, STAINU Jakarta juga konsisten dengan mata kuliah khas NU dan Islam Nusantara, yakni Arummanis (Aurod, Rawatib, Mawalid, Manaqib, dan Istighotsah),” imbuhnya.

Menurut keterangannya, acara puncak pada Ahad besok, akan digelar orasi ilmiah oleh Ketum PBNU Prof Dr KH Said Aqil Siroj dan Budayawan, Dr Radhar Panca Dahana tentang Islam dan Budaya Nusantara. Selain itu, rangkaian acara sebelumnya akan diadakan pembacaan manaqib, tahlil, shalawat, dan selayang pandang dari para pendiri STAINU Jakarta.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kemudian, tambah Aris, STAINU Jakarta juga mengadakan rangkaian kegiatan seperti FGD Islam Nusantara, tanam 1300 pohon, Festival Islam Nusantara, Training Leader Campus, ToT Kerajinan Tangan, Baksos, dan Pengobatan gratis.

“STAINU juga akan meluncurkan kedai kopi Nusantara yang akan dipadukan dengan Taman Baca Masyarakat di sekitar Kampus,” pungkas Aris. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan AlaNu, Halaqoh, Nahdlatul Ulama Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 29 Desember 2017

NU: Obat-obatan Harus Jadi Obyek Sertifikasi Halal

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menolak keras wacana penghapusan obat-obatan sebagai obyek sertfikasi halal dalam Undang-Undang tentang Jaminan Produk Halal (JPH). Sebagai penduduk mayoritas, umat Islam Indonesia harus dilindungi dari segala bentuk produk haram.

Demikian disampaikan Wakil Ketua Pengurus Pusat Lembaga Bahtsul Masail NU (LBMNU) KH Arwani Faisal saat menanggapi Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang JPH yang tengah digodok di DPR, Selasa (9/4), di kantor PBNU, Jakarta Pusat.

NU: Obat-obatan Harus Jadi Obyek Sertifikasi Halal (Sumber Gambar : Nu Online)
NU: Obat-obatan Harus Jadi Obyek Sertifikasi Halal (Sumber Gambar : Nu Online)

NU: Obat-obatan Harus Jadi Obyek Sertifikasi Halal

“Ada keinginan pihak-pihak tertentu bahwa obat-obatan tidak termasuk yang disertifikasi halal,” katanya. Kiai Arwani Faisal menerima informasi bahwa ada kalangan pengusaha farmasi dan importir bahan baku yang sedang berjuang menghindari kewajiban sertifikasi.

Padahal, sambungnya, sebagai barang yang dikonsumsi, obat-obatan harus steril dari najis dan unsur haram. Dengan demikian, produk ini seperti makanan dan minuman mesti melewati uji halal. “Bahkan kosmetik pun kita hindarkan dari hal-hal yang haram,” imbuh Kiai Arwani.

Menurut dia, mengingat penduduk muslim di Tanah Air adalah terbesar, RUU JPH harus memasukkan sudut pandang keislaman sebagai dasar pertimbangan. DPR mesti lebih teliti dan memperhatikan kepentingan ini.

?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Penulis: Mahbib Khoiron

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Anti Hoax, Halaqoh Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sambut Pilkada, GP Ansor dan Polres Mataram Jaga Keharmonisan Sosial

Mataram, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - GP Ansor bersama Kapolres Kota Mataram AKBP Muhammad menggelar doa bersama di Aula Kantor PWNU NTB Jalan Pendidikan nomor 6 Kota Mataram, Selasa (02/5) malam. Mereka berharap Kota Mataram ke depan terjaga terlebih lagi menghadapi pilkada Kota Mataram (2018).

Ketua GP Ansor Mataram Hasan Basri mengatakan, GP Ansor memiliki investasi dan modal besar terhadap bangsa dan Negara Indonesia. Karena itu tidak salah bila Ansor mendoakan bangsa ini. Di tengah kondisi bangsa yang carut-marut baik masalah sosial, keagamaan, politik, dan lainnya, GP Ansor mengambil cara lain, yaitu mendoakan bangsa.

Sambut Pilkada, GP Ansor dan Polres Mataram Jaga Keharmonisan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Pilkada, GP Ansor dan Polres Mataram Jaga Keharmonisan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Pilkada, GP Ansor dan Polres Mataram Jaga Keharmonisan Sosial

"Cara ini adalah cara kritik kami terhadap pemerintah. Karena dengan cara aksi massa sudah pernah namun kurang direspon," katanya.

Sementara Kapolres Kota Mataram AKBP Muhammad mengajak Ansor dan pemuda yang hadir untuk menjaga persatuan dan kesatuan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Tugas kita adalah menumbukan persaudaaran sesama umat Islam dan antarumat manusia lainnya. Jangan menghina orang lain, apa lagi terkait isu pilkada khususnya pilkada Kota Mataram yang sudah di depan mata. Dan hidup yang marhamah, saling menyayangi,” kata Kapolresta Mataram Muhammad.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ketua GP Ansor NTB H Zamroni Aziz menyampaikan, GP Ansor akan selalu siap bersama Polri dan TNI menjaga stabilitas dan keamanan di tengah-tengah masyarakat. "Siapapun yang ganggu negara, maka akan berhadapan dengan Ansor," jelasnya.

Pertemuan yang dipandu oleh Sekretaris GP Ansor Mataram Fadil Adli dihadiri oleh Wakil Rais Syuriyah PWNU NTB TGH Sahimun Faesal, Abdul Hamid Faesal, Ketua PCNU Kota Mataram Ustadz Fairuz Abadi, Suryadi utusan Persatuan Serikat Muslim Tionghoa (PSMTI) NTB. Pimpinan IPNU-IPPNU NTB, PMII Mataram, PMKRI NTB, dan puluhan anak muda NU NTB. (Hadi/Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Lomba, Halaqoh, Hadits Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Masyarakat Sampang Gelar Deklarasi Anti-Hoaks pada Car Free Day

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Maraknya penyebaran berita fitnah atau hoax akhir-akhir dirasa cukup meresahkan masyarakat. Merespon masalah ini, aktivis Sampang Cyber Inklusi dan Karang Taruna Indonesia pun menginisiasi Deklarasi Masyarakat Sampang Anti Hoaks dan Hate Speech.

Deklarasi yang digelar di arena Car Free Day (CFD) di depan Lapangan Wijaya Kusuma Jalan Wijaya Kusuma Sampang ini disambut cukup antusias oleh warga. Hal ini nampak terlihat dari turut sertanya puluhan warga memberikan tanda tangan dukungan pada spanduk yang telah disediakan, Ahad (17/9).

Masyarakat Sampang Gelar Deklarasi Anti-Hoaks pada Car Free Day (Sumber Gambar : Nu Online)
Masyarakat Sampang Gelar Deklarasi Anti-Hoaks pada Car Free Day (Sumber Gambar : Nu Online)

Masyarakat Sampang Gelar Deklarasi Anti-Hoaks pada Car Free Day

Ningsih (22) Warga Jalan Panglima Sudirman Sampang yang ikut tanda tangan di spanduk deklarasi mengatakan, banyaknya berita hoax terutama yang bermuatan isu suku, agama dan ras, dan antargolongan (SARA) dapat menimbulkan keresahan di masyarakat.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Sekarang ini banyak banget berita hoax ya, rusuh banget, banyak yang hoaks, harusnya emang bagus untuk dideklarasikan seperti ini," ujarnya.

Ditemui di sela acara, Zainal Alim salah satu deklarator di sela acara Deklarasi Masyarakat Sampang Anti-Hoaks dan Hate Speech menyampaikan, masyarakat luas perlu disadarkan agar tidak mudah menyebarkan berita hoaks dan ujaran kebencian di media sosial.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Deklarasi ini untuk memperkenalkan kepada masyarakat mengenai apa itu bahaya dari hoaks atau hasutan, fitnah dan ujaran kebencian," kata Zainal Alim.

Ia menerangkan, fenomena maraknya informasi berbau fitnah, hasutan, ujaran kebencian maupun hoaks, di media sosial belakangan ini sangat meresahkan berbagai kalangan. Katanya, tidak sedikit tokoh masyarakat, institusi negara, organisasi masyarakat yang telah menjadi korban dari penyebaran informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan ini.

Seringkali berita bohong dan ujaran kebencian menjadi viral di media sosial, juga memicu kegaduhan bahkan cenderung mengadu domba. Ini bukan saja menghabiskan energi, tapi juga sangat berpotensi mengganggu keamanan nasional dan mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.

"Gerakan Sampang bebas hoaks ini juga kita ingin mengingatkan kepada masyakarat bahwa masih ada saudara-saudara yang peduli. Hati-hati sebelum menyebarkan informasi yang bisa menimbulkan fitnah, karena ada undang-undang ITE," imbuhnya.

Penyebaran informasi yang tidak benar alias hoaks juga bisa membahayakan diri sendiri atau orang lain. Misalnya informasi hoaks tentang tips kesehatan. "Padahal itu belum tentu benar informasi yang disebarkan dan bisa membahayakan orang," tuturnya.

Sebagaimana diketahui, Sampang Cyber Inklusi merupakan komunitas alumni Pelatihan Relawan Cyber Inklusi yang digagas oleh Lakpesdam PCNU Sampang melalui program peduli. (Faisal Ramdhoni/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Halaqoh Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 28 Desember 2017

Pesantren Jatim Mendominasi di Babak 16 Besar LSN

Yogyakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Setelah melalui babak penyisihan grup seri nasional Liga Santri Nusantara (LSN) 2016 yang bertanding selama dua hari sejak tanggal 24 - 25 Oktober, sebanyak 16 tim dipastikan lolos ke babak 16 besar LSN 2016.

Dari 16 tim tersebut pondok pesantren asal Jawa Timur paling mendominasi dengan meloloskan 4 tim, disusul Jawa Barat dan Sumatera dengan 3 tim dan Jawa Tengah dengan 2 tim.

Sisanya adalah wakil tuan rumah Yogyakarta, Banten, Sulawesi dan Nusa Tenggara Barat dengan masing-masing 1 tim. Dari hasil itu, sebanyak 4 tim juga berhasil meraih poin sempurna di fase grup.

Pesantren Jatim Mendominasi di Babak 16 Besar LSN (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Jatim Mendominasi di Babak 16 Besar LSN (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Jatim Mendominasi di Babak 16 Besar LSN

Ada dua stadion yang akan dipakai untuk penyelenggaraan babak 16 besar Seri Nasional Liga Santri Nusantara 2016. Dua tempat itu adalah Stadion Sultan Agung Bantul dan Stadion Akademi Angkatan Udara (AAU). Delapan pertandingan diselenggarakan pada pagi dan sore hari.

Di babak 16 besar ini sudah memakai sistem gugur. Artinya tim yang menang lolos ke perempat final, sedangkan yang kalah tersingkir. Jika terjadi skor seri dalam waktu 2x35 menit, akan berlanjut dengan perpanjangan waktu 2x10 menit. Seandainya masih seri dilanjutkan dengan adu penalti.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jadwal Pertandingan 16 Besar Seri Nasional LSN 2016 (Berdasarkan Pondok Pesantren)

Kamis 27 Oktober 2016

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

07.30-08.50 WIB, Stadion Sultan Agung

PP Salafiyah Al-Falah (Salafi United) Bandung vs PP Al-Balagh Cirebon

07.30-08.50 WIB, Stadion AAU Tribun

PP Al-Muhajirin Mojokerto vs PP Assalam Modung Bangkalan

09.00-10.20 WIB, Stadion Sultan Agung

PP Darul Huda Mayak vs PP Thoriqun Najah Aceh Selatan

09.00-10.20 WIB, Stadion AAU Tribun

PP Nur Iman Mlangi Sleman vs PP Darul Ulum Tanggamus Lampung

14.00-15.20 WIB, Stadion Sultan Agung

PP Darussalam Blok Agung vs PP Assulami Lingsar Lombok Barat

14.00-15.20 WIB, Stadion AAU Tribun

PP Al-Asyariyah Tangerang vs PP Kauman Lasem Rembang

15.30-16.50 WIB, Stadion Sultan Agung

PP Nurul Fauzi vs PP Al Falah Abu Lam Ue Aceh Besar

15.30-16.50 WIB, Stadion AAU Tribun

PP Walisongo Sragen vs PP DDI Kabalang Pinrang

===?

Jadwal Pertandingan 16 Besar Seri Nasional LSN 2016 (Berdasarkan Region)

Kamis 27 Oktober 2016

07.30-08.50 WIB, Stadion Sultan Agung

Jawa Barat II vs Jawa Barat I

07.30-08.50 WIB, Stadion AAU Tribun

Jawa Timur III vs Jawa Timur IV

09.00-10.20 WIB, Stadion Sultan Agung

Jawa Timur I vs Sumatera II

09.00-10.20 WIB, Stadion AAU Tribun

Yogyakarta vs Sumatra V

14.00-15.20 WIB, Stadion Sultan Agung

Jawa Timur V vs Nusa Tenggara I

14.00-15.20 WIB, Stadion AAU Tribun

Banten vs Jawa Tengah II

15.30-16.50 WIB, Stadion Sultan Agung

Jawa Barat III vs Sumatera I

15.30-16.50 WIB, Stadion AAU Tribun

Jawa Tengah III vs Sulawesi I

(Red- Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Meme Islam, Halaqoh, Ubudiyah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 22 Desember 2017

Islam, Seni, dan Kehidupan Beragama

Oleh Abdurrahman Wahid

?

1

Kehidupan manusia tidak pernah terlepas dari nilai-nilai keagamaan, betapapun kenyataan ini tidak diakui oleh sementara kalangan. Masalah-masalah pribadi tentang pengaturan hubungan dengan sesama manusia, masalah penyesuaian antara cita dan kenyataan yang dihadapi dalam kehidupan, serta hubungan manusia dengan kekuatan-kekuatan di luar dirinya, kesemuanya itu menghasilkan dimensi-dimensi dalam kehidupan manusia.

Islam, Seni, dan Kehidupan Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam, Seni, dan Kehidupan Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam, Seni, dan Kehidupan Beragama

Dimensi-dimensi keagamaan ditampakkan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk aspek ekspresi keharuan yang dirasakan manusia, yang pada umumnya berbentuk? kegiatan-kegiatan seni dan sastra.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari sini saja sudah tampak betapa eratnya antara kegiatan kesenian, baik yang bersifat penciptaan maupun pagelaran, dengan kehidupan beragama. Cakupan kaitan itu tidak hanya terbatas pengaruhnya pada wilayah kehidupan yang tersentuh oelh? keharuan belaka, melainkan jangkauannya menerobos hingga ke wilayah ketakutan dan keputusasaan, keyakinan dan keberanian, protes dan bujukan, pelestarian ajaran dan seterusnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari sinilah dapat dipahami mengapa timbul skala prioritas yang berbeda di antara kelompok-kelompok yang berlainan. Pemusatan daya arsitektural untuk membangun sebuah masjid nasional di ibukota dan masjid provinsial di ibukota provinsi kiita, umpamanya, tentu tidak skala prioritasnya dengan keengganan bangsa Mesir membuat masjid seperti itu dewasa ini. Karena wilayah yang diterobos oleh proses keharuan berbeda satu ke lain kelompok, dengan sendirinya produksi seni yang dikaitkan dengan kehidupan beragama juga berlainan satu dengan yang lain.

Karena? itu, sudah tentu sulit untuk melakukan pengukuran atas keterlibatan kegiatan kesenian pada kehidupan beragama melalui satu alat pengukur belaka, yang bertindak secara? konstan dalam kadar yang sama. Manifestasi kesenian yang dihasilkan bergantung erat pada susunan kehidupan itu sendiri, yang sudah tentu menjadi sangat kompleks pengukurannya dalam sebuah masyarakat modern.? Karena kaitan agama dengan kehidupan semakin lama semakin dikristalisir dalam citra kemasyarakatan yang berbeda-beda, dengan sendirinya manifestasi kesenian dalam kehiduppan beragamanya lalu mengalami perubahan-perubahan drastis dari waktu ke waktu, sehingga sulit diukur dengan alat pengukur tunggal yang tidak memperhitungkan dalam dirinya unsur-unsur perubuahan itu sendiri.

Kalau gereja Kristen di masa lalu menitikberatkan lagu puja (himne) melalui paduan suara melalui paduan suara Gregorian, karena struktur masyarakatnya yang monolith, dalam periode individualiasi kehidupan masyarakat modern justru ekspresi seni suara peroranganlah (seperti blues dan soul) yang jadi bagian manifestasi kehidupan umat bergama umat Krisitiani di masa ini. Ilustrasi lain dapat dikemukakan seperti prosesi peragaan kemalangan (passion drama) yang dilakukan secara kolektif untukk turut merasakan penderitaan Husain Ibnu Abi Thalib di padang Karbala dalam perayaan Asyura di kalangan Syi’ah di Irak dan di Iran. Ekspresi seperti in muncul dari citra kehidupan beragama yang ditekankan pada penghayatan pengorbanan (syahadah, fida’) di kalangan mereka, yang dalam perkembangan politik memunculkan orang-orang seperti Ali Shariathmadari dan Ayatullah Khomeini.

2

Setelah diajukan keberatan terhadap cara pengukuran dangkal dengan penggunaan alat tunggal yang bersifat menetap seperti diuraikan di atas, dengan sendirinya lalu muncul pertanyaan bagaimanakah pengukuran yang tepat harus dilakukan? Alat apakah yang seharusnya digunakan di dalamnya? Hasil konkret apakah yang dapat diperoleh dari alat pengukuran seperti itu? Jawaban atas ketiga pertanyaan di atas akan diuraikan lebih lanjut, walauppun tidak ada pretensi akan tercakupnya semua aspek yang dikandungnya. Yang akan dikemukakan hanyalah pokok-pokoknya belaka.

Yang pertama-tama harus disadari adalah aspirasi masyarakat di bidang keagamaan, yang memilikii keragaman besar dalam watak, sifat dan coraknya. Umpamanya saja, aspirasi lembaga keagamaan formal seperti Majelis Ulama tentu? berbeda dari aspirasi seorang muballigh di lapangan yang bergerak secara individual. Aspirasi keberagamaan para seniman tentu berbeda dengan para agamawan. Beum lagi dilihat keragaman yang timbul dari orientasi kehidupan yang berbeda dari kelompok yang sama, seperti antara kaum intelektual yang termasuk lingkungan teknokrasi dan sesama intelek yang menolaknya.

Aspirasi keberagamaan yang berneka ragam itu tentu menghasilkan ekspresi yang berbeda-beda, walaupun dalam medium kesenian yang sama. Pada kegiatan seni suara di kalangan kaum muslimin dapat dilihat nyata dalam hal ini. Di lingkungan yang masih dekat dengan literatur keagamaan? berbahasa Arab, seperti di Banten dan Jawa Timur, pagelaran dzibaiyyah, barzanji dan sebagainya, masih menggunakan bahasa Arab, disertai seni hadrah yang menetaskan ode-ode berbahasa Arab itu tanpa diterjemahkan. Tapi kita lihat di daerah Magelang, yang lebih banyak terkena radiasi istana kraton Mataram, muncul pementasan kentrung yang berisi pesan yang sama, tetapi menggunakan bahasa Jawa.

Dari sudat pandangan yang semacam inilah harus kita teropong perkembangan menggembirakan dalam nafas keislaman dalam kesenian kontemporer kita, seperti desain-desain batik dari Amri Yahya,? lirik ciptaan Trio Bimbo, puisi-puisi anak-anak muda di harian Pelita dan majalah-majalah keagamaan kita. Kesenian Islam dalam kerangka pandangan ini tidak dapat dibatasi hanya pada ekspresi formal yang dianut selama ini, bahkan mungkin sektor formal ini hanya bagian terkecil dari keseluruhan ekspresi kesenian yang bernafaskan Islam.

3

Alat pengukur yang paling utama untuk mengetahui kadar keislaman dari ekspresi kesenian yang beraneka ragam itu, dapat ditemukan dalam dua hal-hal: (1) ketaatan asas/konsistensi ekspresi itu sendiri dalam panjang nafas keislaman, dan (2) kesungguhan isi pesan yang dibawakan itu sendiri.

Di sini kita lalu digugah untuk melakukan terobosan yang matang dan mendalam. Terkadang kedua hal itu dengan cara sangat halus dan tersembunyi dalam ekspresi yang biasannya digolongkan dalam kegiatan nonagama. Pesan agama kemudian disampaikan dengan tidak langsung terasa oleh penerimanya. Kasus kesenian ludruk di Jawa Timur, dengan pesan-pesan utamanya tentang demokrasi yang mempertimbangkan realitas kehidupan, dapat dikemukakan sebagai contoh. Tak akan ada pesan agama yang langsung ditemui dalam mementaskan ludruk. Tetapi bukankah demokrasi adalah esensi kehidupan menurut konsep kenegaraan Islam? Mengapakah kita tidak mampu memahami pesan “nonkeagamaan” ludruk sebgai ekspresi seni yang bernafaskan Islam?

Hambatan psikologis yang timbul dari warisan sejarah masa lampau jelas tidak mudah untuk diatasi dalam menerima beberapa medium kesenian lokal maupun nasional yang telah terlanjur dianggap bukan “kesenian Islam”. Tetapi rasanya sikap untuk menyerah kepada keadaan yang pincang ini jelas tidak akan mendukung perluasan pengaruh kesenian Islam atas kehidupan beragama kita. Kalau kita ingin memperluas jngkauan kehidupan beragama kita, harus? pula kita terima perluasan ekspresi keseniaanya.? Dengan kata lain, masa depan kehidupan bergama kita? ditentukan juga antara lain oleh kemampuan informalisasi bentuk-bentuk kesenian yang dikaitkan dengan keislaman.

Tetapi di sini perlu diberi peringatan keras kepada bahaya munculnya akulturasi atau pembauran dalam penyampai pesan yang dibawakan kesenian itu sendiri. Setiap medium kesenian memilki kekhususannya sendiri, yang tidak dapat dibaurkan dengan aspek medium lain, tanpa membunuh ketulusan pesannya dan memupus keharuann yang ditimbulkannya. Shalawat Nabi dalam bahsa Arab misalnya memiliki aspek-aspek langgam (meters, ‘arudh) tersendiri, yang ditentukan oleh seni baca huruf dan tata bahasa Arab. Dengan demikian, akulturasi medium shalawat berbahasa Arab ini dengan memaksakan pelanggamannya dalam irama lagu setempat, akan merusak hakikat shalawat itu sendiri. Arti pesan lalu? menjadi kabur, keharuan tidak didapat, lalu apakah yang dapat kita harapkan. Ekspresi bermain-main yang tidak memiliki ketulusan sama sekali.

4

Cara dan penetapan alat pengukuran keterlibatan seni dalam kehidupan beragama Islam di atas dapat membawa kita kepada hasil-hasil konkret di banyak bidang pembuat keputusan dan kebijakan, antara lain dalam hal-hal berikut: (1) perluasan jangkauan kegiatan lembaga-lembaga pemerintahan yang berhubungan dengan masalah keagamaan, yang terutama dalaam bidang seni sastra; (2) pematangan kegiatan lembaga-lembaga kkesenian Islam, dengan jalan memungkinkan mereka untuk “keluar dari sarang” dan masuk kegiatan kesenian yang selama ini tidak dianggap berhubungan dengan “kesenian Islam; (3) kemungkinan masuknya para pemikir budaya dan seniman yang selama ini di luar lingkungan “kesenian Islam” ke dalam pemekaran kesenian Islam itu sendiri; dan (4) lebih mudahnya mengungkapakan kaitan antara kesenian Islam dalam cakupannya yang baru dengan tuntutan hidup masyarakat modern yang semakin kompleks.

?

ABDURRAHMAN WAHID, Ketua Umum PBNU 1984-2000. Tulisan ini disajikan dalam diskusi Hari Ulang Tahun Sanggar Pravitasari, Jakarta, 31 Mei, 1979

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Halaqoh, Jadwal Kajian, RMI NU Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 21 Desember 2017

Penguatan Kader dan Keaswajaan Perlu Jadi Prioritas

Pringsewu, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Menyikapi berbagai macam aliran dan paham yang sekarang banyak tumbuh subur di masyarakat, Katib Syuriyah PCNU Pringsewu Ustadz Munawwir menilai bahwa perlu diprioritaskan penguatan kader dan pemahaman Islam ala Ahlussunnah wal Jamaah kepada warga NU khususnya di Kabupaten Pringsewu secara lebih intens.

Penguatan Kader dan Keaswajaan Perlu Jadi Prioritas (Sumber Gambar : Nu Online)
Penguatan Kader dan Keaswajaan Perlu Jadi Prioritas (Sumber Gambar : Nu Online)

Penguatan Kader dan Keaswajaan Perlu Jadi Prioritas

Hal ini disampaikannya pada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan di kantor PCNU Pringsewu baru-baru. "Warga perlu dibentengi dengan turba (turun ke bawah) agar mereka lebih menyadari dan memahami perkembangan aliran yang sedang terjadi sekaligus memberikan penjelasan bentuk bentuk pahamnya," tambahnya.

Menurut Munawir yang juga Sekretaris umum MUI Kabupaten Pringsewu, aliran aliran baru yang bermunculan sekarang ini banyak menyisir warga yang memiliki dasar ilmu agama yang pas-pasan namun memiliki semangat yang tinggi dalam beragama.

"Apalagi para generasi muda sekarang yang masih labil baik secara keilmuan maupun emosional. Mereka mudah sekali masuk dan ikut aliran-aliran baru tanpa menelaah lebih dalam misi yang dibawa aliran tersebut," ujarnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ia mengingatkan bahwa banyak aliran baru sekarang ini awalnya tidak terlihat melenceng dari kaidah kaidah Islam. Namun lambat laun ketika para anggota yang direkrut telah memiliki loyalitas dan fanatisme yang kuat, wajah asli dan misi dari aliran tersebut akan terlihat.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Banyak juga aliran aliran sekarang yang memiliki misi memisahkan diri dari NKRI dengan mendirikan negara Islam. Mereka merekrut para anggotanya untuk melakukan tindakan tindakan teror di tanah air. Ini sangat perlu kita waspadai," tegasnya.

Oleh karena itu ia berharap penguatan kader dan penanaman keaswajaan harus menjadi prioritas program bagi pengurus NU di seluruh tingkatan. "Kewaspadaan lebih baik dari pada penyesalan," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Halaqoh Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 18 Desember 2017

Melalui Sanlat, GP Ansor Ajak Pelajar NU Way Kanan Berjihad

Way Kanan, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pesantren Kilat (Sanlat) atau Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN) merupakan jihad yang dilakukan badan otonom Nahdlatul Ulama (NU) untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ikhtiar kuat untuk melanjutkan pendidikan juga terbilang jihad di jalan Allah.

Melalui Sanlat, GP Ansor Ajak Pelajar NU Way Kanan Berjihad (Sumber Gambar : Nu Online)
Melalui Sanlat, GP Ansor Ajak Pelajar NU Way Kanan Berjihad (Sumber Gambar : Nu Online)

Melalui Sanlat, GP Ansor Ajak Pelajar NU Way Kanan Berjihad

Demikian disampaikan Ketua GP Ansor Way Kanan Lampung Gatot Arifianto di Blambangan Umpu, Ahad (17/1).

Jihad menurut syariat Islam adalah berjuang dengan sungguh-sungguh, berdakwah segaris perjuangan Rasul SAW, memberikan pengajaran kepada umat dan mendidik manusia agar sesuai dengan tujuan penciptaan mereka yaitu menjadi khalifah Allah di bumi dengan damai dan saling mengasihi. Islam juga melarang pemaksaan dan kekerasan dalam berjihad.

"Pendidikan, kepemimpinan dan keberagamaan yang ramah merupakan tiga garis besar disampaikan dalam Sanlat BPUN. NU hingga hari ini tidak memicingkan mata untuk kemaslahatan bangsa. Apakah mendorong generasi bangsa tidak mampu untuk berpendidikan lebih tinggi bukan suatu jihad? Apakah menghargai perbedaan bukan hal yang diajarkan Nabi Muhammad SAW? Apakah mengajak orang berubah lebih baik, lebih mumpuni bukan jihad?" ujar Gatot lagi.

Sanlat BPUN di Way Kanan dihelat pertama kali pada tahun 2015. Pemilik gelar adat Lampung Ratu Ulangan itu menuturkan, awalnya ada kegamangan mengingat program tersebut ditawarkan Yayasan Mata Air sekitar April 2015. Dibandingkan dengan GP Ansor atau badan otonom NU lain di Indonesia yang sudah menjalankan program ini, tentu tengat waktu untuk GP Ansor Way Kanan sangat terbatas. Belum ada pemahaman juga pengalaman hingga menyangkut bagaimana pendanaannya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Namun harus dicoba. Alhamdulillah ada jalan serta hasil positif. Lima dari empat belas peserta lolos Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri atau SBMPTN. Itulah jihad, GP Ansor didukung sejumlah pihak telah mengajak para peserta Sanlat BPUN untuk berjihad demi masa depan mereka. Apakah jika para alumni menjadi pribadi yang baik, menjadi orang-orang yang sejahtera bukan suatu jihad demi bangsa?" ujarnya.

Alumni Susbanpim PP GP Ansor itu menegaskan, Sanlat BPUN ialah jihad kreatif, jihad humanis, jihad yang damai, jihad yang berorientasi pada perubahan untuk perbaikan.

"Itulah jihad yang layak dilakukan, kalau teror, menebar ketakutan bahkan membunuh, itu bukan jihad, tapi jahat," tegasnya lagi.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Mata Air didirikan kyai, budayawan Gus Mus bersama sejumlah kyai, intelektual dan professional seperti Al Habib Luthfi bin Yahya, Dr. KH. Asad Said Ali, KH Masdar F. Masudi, KH Muadz Thohir, KH Thantowi Jauhari Musaddad dan (Alm) KH. Masykur Maskub. Salah satu misi program Sanlat BPUN adalah membekali calon mahasiswa dengan nilai dan karakter kebangsaan, keberagaman yang inklusif, dan nilai-nilai kepemimpinan, sehingga ketika masuk PTN tidak terseret arus gerakan radikal atau ekstremis.

Sanlat BPUN 2016 di Way Kanan, akan digelar di Gedung PCNU, jalan lintas Sumatera, Kampung Tiuh Balak I Kecamatan Baradatu. Untuk dapat mengikuti program tersebut, ada beberapa syarat harus dipenuhi calon peserta, yaitu siswa baru lulus SMA/MA/SMK, lulus tes seleksi diadakan oleh panitia dan benar-benar memunyai keinginan untuk melanjutkan kuliah, menyerahkan foto kopi rapor kelas 10, 11 dan 12 lalu dikirimkan ke sekretariat pendaftaran jalan Jenderal Sudirman km 1 nomor 83, Kelurahan dan Kecamatan Blambangan Umpu, Kabupaten Way Kanan paling lambat 31 Januari 2016. Informasi lebih lanjut dapat menghubungi panitia pada nomor 085382008080.

"GP Ansor Way Kanan mengajak generasi muda muslim di bumi Ramik Ragom ini untuk berjihad demi masa depan mereka melalui Sanlat BPUN," pungkas Gatot. (Disisi Saidi Fatah/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan AlaSantri, Halaqoh, Hikmah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 17 Desember 2017

Anjuran untuk Saling Berkunjung dan Bersalaman

Inilah salah satu tradisi umat muslim Indonesia yang searah dengan sunnah Rasulullah saw, yaitu bersilaturrahim mengunjungi orang tua, famili, keluarga dan teman serta bersalam-salaman ketika berjumpa. Hal ini sebagai penguat kesucian setelah bulan puasa. Jika bulan Ramadhan telah difungsikan sebagai mesin pencuci hati dan jiwa seorang muslim dengan banyak meminta ampun kepada Allah swt, maka segeralah dilengkapi dengan saling memaafkan sesama manusia. Itulah haqqul adami yang harus diselesaikan. Sehingga tidak ada lagi ganjalan baik dijalur hablum minallah maupun hablum minannass.

Oleh karena itulah tidak ada salahnya jika tradisi ini kemudian berkembang dan dilembagakan dengan istilah halal bi halal yang mungkin istilah ini sebagai tafaul optimisme adanya saling memaafkan atau saling menghalalkan segala kesalahan.

Banyak sekali hadits Rasulullah saw yang menganjurkan bersilaturrahim diantaranya:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Anjuran untuk Saling Berkunjung dan Bersalaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Anjuran untuk Saling Berkunjung dan Bersalaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Anjuran untuk Saling Berkunjung dan Bersalaman

Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah bersilaturrahim.

Hadits ini membuktikan pentingnya silaturrahim antar sesama sehingga digantungkan dengan satu hal besar yaitu iman kepada Allah dan hari akhir. Begitu pula yang diriwayatkan dari Aisyah:

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Rasulullah saw bersabda “kebaikan yang pahalanya paling cepat didapat adalah berbuat baik kepada orang tua dan silaturrahim. Sedangkan kejelekan yang cepat siksanya adalah berbuat keji dan memutus tali persaudaraan.

Itulah ancaman yang menguatkan akan pentingnya bersilaturrahim. Karena memang dipandang dari kaca mata sosial silaturrahim memiliki efek positif yang sangat kuat. Karena dari silaturrahim itulah tersebar informasi dan jejerang yang memperkuat hubungan sesama muslim.

Hendaknya dalam silaturrahim ini diisi dengan berbagai hal yang bermanfaat, minimal adalah dengan saling mengakui kesalahan dan memohon maaf sekligus juga bersalaman. Seperti kata Rasulullah saw.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Tiadalah dari dua orang Islam yang berjumpa lalu saling bersalaman, melainkan keduanya diampuni dosanya sebelum berpisah.

Dan dalam hadits lain dikatakan:

? ? ? ? ?

Hendaklah kalian berjabat tangan agar lenyap rasa dendam yang ada dalam hati-hatimu semua.

Hadits singkat ini haruslah direnungkan dengan mendalam. karena bisa saja dendam dan kebencian yang turun-temurun diwariskan oleh orang tua bisa saja lenyap hanya dengan bersalaman. (red. Ulil H)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Halaqoh, Fragmen, Lomba Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 15 Desember 2017

Menaker Minta Aktivis Buruh Jangan Demo Terus di Jalan

Sleman, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M Hanif Dhakiri meminta aktivis buruh tidak lagi menyampaikan aspirasi dengan berdemo turun ke jalan melainkan melalui dialog dengan pendekatan seni dan budaya. 

"Saat ini ruang politik sudah berubah menjadi semakin terbuka. Masyarakat bisa dengan mudah berkomunikasi dengan pemimpinnya. Rekan-rekan buruh bahkan bisa dengan mudah berkirim pesan menyampaikan ide-ide mereka ke saya setiap hari. Jadi melakukan demo sudah tidak relevan lagi," kata Hanif pada peluncuran album kedua aktivis reformasi, John Tobing di Sleman, Yogyakarta, Jumat (10/11).

 

Menaker Minta Aktivis Buruh Jangan Demo Terus di Jalan (Sumber Gambar : Nu Online)
Menaker Minta Aktivis Buruh Jangan Demo Terus di Jalan (Sumber Gambar : Nu Online)

Menaker Minta Aktivis Buruh Jangan Demo Terus di Jalan

Menurut Hanif, kesenian dan kebudayaan bisa menjadi instrumen baru yang efektif untuk menyampaikan apa yang buruh perjuangkan selama ini. 

"Saya percaya ketika kita bisa terus berdialog terutama di ruang-ruang kebudayaan dan kesenian seperti ini maka pikiran kita bisa menjadi lebih cair dan nihil kepentingan sehingga dialognya menjadi lebih terbuka," ujar Hanif. 

Menurut Hanif, melalui forum dialog dengan pendekatan kesenian dan kebudayaan maka orang akan lebih objektif dan jernih dalam melihat persoalan yang ada. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Ruang-ruang kebudayaan dan ruang-ruang dialog menjadi sangat penting sebagai sarana berkomunikasi di tengah perbedaan yang ada dalam rangka menemukan terobosan baru demi meningkatkan kualitas dari harmoni sosial," tutur Hanif. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Untuk itu saya sangat bersyukur ada acara semacam ini. Sekali lagi selamat kepada John Tobing atas peluncuran album barunya," ungkap Hanif. 

John Tobing meluncurkan album kedua berjudul Bergeraklah Mahasiswa"di Sanggar Maos Tradisi asuhan Sosiolog Universitas Gajah Mada (UGM) Arie Sujito. Album ini secara khusus dipersembahkan untuk kalangan mahasiswa Indonesia. 

Melalui album ini John Tobing berharap mahasiswa terinspirasi dan tergerak untuk menjadi agen perubahan agar bangsa menjadi lebih baik. 

"Mahasiswa Indonesia harus tahu banyak rakyat miskin di negara kita. Untuk itu mereka harus menjadi motor perubahan melawan keterpurukan. Mereka harus bisa mencerdaskan bangsa," kata John Tobing. 

John Tobing merupakan pencipta lagu Darah Juang yang melegenda di kalangan aktivis mahasiswa. 

 

Lirik lagu tersebut bercerita tentang kisah pemuda desa miskin di negeri yang kaya. Hingga saat ini lagu tersebut seolah menjadi lagu wajib aktivis mahasiswa di Indonesia. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Halaqoh, Pendidikan, Aswaja Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 14 Desember 2017

Hukum Qadha Shalat untuk Orang Wafat

Qadha shalat diwajibkan bagi siapapun yang meninggalkan shalat, baik sengaja maupun tidak. Untuk orang yang meninggalkan shalat secara sengaja, diwajibkan mengqadha shalat secepat mungkin (faur). Bahkan ia diharuskan mengerjakan shalat qadha terlebih dahulu, sebelum mengerjakan shalat wajib lainnya atau shalat sunah.

Misalnya, ketika ada yang secara sengaja meninggalkan shalat dzuhur dan waktunya sudah habis, ia diwajibkan untuk mengqadhanya sebelum menunaikan shalat ashar. Beda halnya dengan orang yang lupa atau ketiduran, mereka dianjurkan? untuk menyegerakan (wa yubadiru bihi nadban), dan tidak diwajibkan sebagaimana halnya orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja.

Hukum Qadha Shalat untuk Orang Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Qadha Shalat untuk Orang Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Qadha Shalat untuk Orang Wafat

Kewajiban qadha ini mengukuhkan bahwa bagaimanapun dan dalam kondisi apapun shalat wajib tidak boleh ditinggalkan, kecuali bagi perempuan haidh.

Lalu bagaimana dengan orang yang sudah meninggal? Apakah ahli? waris atau keluarganya dianjurkan untuk mengqadha shalat orang yang sudah wafat? Persoalan ini sudah dibahas dan diperdebatkan oleh para ulama sejak dulu. Dalam Fathul Mu’in, Zainuddin Al-Malibari mengatakan:

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Artinya, “Orang yang sudah meninggal dan memiliki tanggungan shalat wajib tidak diwajibkan qadha dan tidak pula bayar fidyah. Menurut satu pendapat, dianjurkan qadha’, baik diwasiatkan maupun tidak, sebagaimana yang dikisahkan Al-‘Abadi dari As-Syafi’i karena ada hadis mengenai persoalan ini. Bahkan, As-Subki melakukan (qadha shalat) untuk sebagian sanak-familinya.”

Memang tidak terdapat hadits yang secara tegas menunjukkan kebolehan qadha shalat. Ulama yang membolehkan hal ini berdalil pada hadis kewajiban qadha puasa bagi ahli waris. ‘Aisyah pernah mendengar Rasulullah bahwa:

? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Siapa yang meninggal dan memiliki tanggungan puasa, wajib bagi keluarganya untuk mengqadhanya,” (HR Al-Bukhari).

Anjuran mengqadha puasa ini disematkan pada shalat, karena keduanya sama-sama ibadah badaniyah (ibadah fisik). Dalam Syarah Shahih Muslim, An-Nawawi juga menguraikan perdebatan ulama terkait hal ini. Persoalannya, apakah ibadah yang dilakukan orang yang masih hidup, pahalanya sampai kepada orang yang meninggal atau tidak? An-Nawawi menjelaskan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Sekelompok ulama berpendapat bahwa pahala seluruh ibadah (yang dihadiahkan kepada orang yang meninggal) sampai kepada mereka, baik ibadah shalat, puasa, dan membaca Al-Qur’an. Dalam shahih al-Bukhari, bab orang yang meninggal dan masih memiliki kewajiban nadzar, Ibnu Umar memerintahkan kepada orang yang meninggal ibunya dan memiliki tanggungan shalat untuk mengerjakan shalat untuk ibunya.”

Demikianlah pendapat ulama terkait kebolehan mengqadha shalat untuk orang yang sudah wafat. Selain pendapat, sebagian ulama besar seperti As-Subki juga melakukan untuk keluarganya yang telah wafat. Bagi siapa yang tidak setuju dengan pendapat di atas, alangkah baiknya untuk tidak menyalahkan orang yang mengqadha’ shalat untuk keluarganya yang telah wafat. Sebab persoalan ini masih diperdebatkan dan diperselisihkan oleh para ulama (khilafiyah). Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Halaqoh Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Fatayat NU Mojogedang Bentuk Kepengurusan Baru

Karanganyar, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Setelah beberapa tahun vakum dari berbagai aktivitas keorganisasian, Pimpinan Anak Cabang Fatayat NU Kecamatan Mojogedang Kabupaten Karanganyar, akhirnya membentuk kepengurusan baru guna menghidupkan kembali jalannya organisasi.

Sebanyak 33 perwakilan Pimpinan Ranting Fatayat dari masing-masing desa berkumpul di rumah seorang anggota Fatayat di Desa Ngobaran Pojok Mojogedang Karanganyar, Sabtu (21/11).

Fatayat NU Mojogedang Bentuk Kepengurusan Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Mojogedang Bentuk Kepengurusan Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Mojogedang Bentuk Kepengurusan Baru

Setelah melakukan pemilihan ketua berdasarkan voting, terpilihlah Fitri Rahmawati sebagai ketua didampingi Ririn Setyowati sebagai wakilnya. Sementara Aida dan Dwi Fatmawati menjadi sekertaris dan bendahara.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Hadir pula dalam kesempatan tersebut ketua PAC Muslimat Mojogedang Nyai Umi Kultsum beserta jajaran pengurus lain. Dalam sambutannya, Umi Kultsum mengaku kehadirannya ialah untuk mengantarkan kader-kader Fatayat dari desanya.

“Setelah kepengurusan terbentuk, sementara kegiatan Fatayat masih boleh bergabung dengan Muslimat hingga pengurus baru benar-benar siap melaksanakan program kerjanya,” ucapnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Fitri selaku ketua terpilih menyatakan, sebelum pertemuan ini pihaknya memang sudah berkerja keras mengumpulkan kader Fatayat, selain mengedarkan undangan ke masing-masing desa, ia juga sowan kepada kiai dan tokoh masyarakat setempat guna meminta kedernya untuk dimasukkan Fatayat. (Ahmad Rosyidi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ubudiyah, Halaqoh, News Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock