Senin, 19 Maret 2018

Apa itu Gus Dur Award?

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pemikiran dan perjuangan guru bangsa KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur terus berusaha diwujudkan oleh keluarga maupun para Gusdurian. Seperti yang dilakukan oleh keluarga inti Gus Dur dengan meresmikan Rumah Pergerakan Griya Gus Dur, Ahad (24/1/2016) di Jl Taman Amir Hamzah No 8 Menteng, Jakarta Pusat.

Apa itu Gus Dur Award? (Sumber Gambar : Nu Online)
Apa itu Gus Dur Award? (Sumber Gambar : Nu Online)

Apa itu Gus Dur Award?

Pada kesempatan tersebut juga diselenggarakan pemberian “Gus Dur Award” kepada beberapa tokoh yang dianggap konsisten dengan pemikiran dan perjuangan Gus Dur. Anugerah ini terdiri dari tiga kategori, yaitu tokoh sosial agama, sosial budaya, dan sosial politik serta pemerintahan.

“Peraih Gus Dur Award adalah orang-orang yang dirasa selaras dengan visi dan pemikiran Gus Dur,” jelas putri sulung Gus Dur, Alissa Wahid, Ahad (24/1/2016).

Adapun tiga tokoh peraih Gus Dur Award 2016 yaitu KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) sebagai tokoh sosial agama, Sutanto atau Tanto Mendut sebagai tokoh sosial budaya, dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai tokoh sosial politik dan pemerintahan.

Terma ‘sosial’ dalam tiga kategori tersebut diyakini oleh para pakar bahwa perjuangan dalam ranah agama, budaya, maupun politik harus selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan. Nilai-nilai kemanusiaan inilah yang sering disebut Gus Dur sebagai Human Social Life atau kehidupan sosial manusiawi yang mewujud dalam kehidupan agama, budaya, dan politik maupun pemerintahan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Adapun Rumah Pergerakan Griya Gus Dur nantinya akan menjadi rumah untuk beberapa organisasi atau perkumpulan sosial kemanusiaan. Beberapa organisasi yang bernaung di dalam Rumah Pergerakan Griya Gus Dur yaitu Yayasan Puan Amal Hayati, Yayasan Bani Abdurrahman Wahid, Yayasan Teman Bangkit, The Wahid Foundation, Jaringan Gusdurian Indonesia, dan Positive Movement.

Dalam acara peresmian tersebut, juga dilakukan peluncuran situs www.gusdur.net. Situs tersebut memberikan informasi tentang Gus Dur, baik pemikiran dan tulisan Gus Dur, tulisan tentang Gus Dur, berita, maupun video-video kenangan tentang Gus Dur.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Hadir dalam kegiatan peresmian ini yaitu Hj Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid beserta keempat putrinya, KH A Mustofa Bisri, Tanto Mendut, Basuki T Purnama (Ahok), Menkopolhukam Luhut Binsar Pandjaitan, Bondan Gunawan, Jaya Suprana, Franz Magnis Suseno, Romo Mudji Sutrisno, Wasekjen PBNU Abdul Mun’im DZ, dan para Gusdurian seluruh Indonesia. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ahlussunnah, Doa Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 14 Maret 2018

Menjadi Budak Teknologi: Sebuah Renungan

Oleh: Aswab Mahasin

Dalam salah satu sajaknya Rumi mengatakan, “Ini semua bukan manusia, hanya wajah-wajah manusia yang mereka miliki. Budak-budak perut, korban-korban hawa nafsu.” Rumi merindukan manusia; di dalam kota yang megah itu; kebudayaan dan ilmu berkembang pesat, ia mencari manusia. Semua yang dicari ia temukan di sana, bangunan mewah, mobil mahal, pakaian branded, jam tangan ratusan juta rupiah, smartphone terbaru seharga puluhan juta, gedung-gedung menjulang tinggi, paras bersolek dengan kosmetik mahal, mall-mall yang ramai, makanan beragam jenis, dan berbagai perilakunya. Namun, itu bukan manusia. Rumi meyakinkan lagi, itu manusia, wujudunya manusia, bentuknya manusia, dan penampilannya manusia. Tetapi, bukan manusia sebenarnya, bukan manusia sesungguhnya. 

Menjadi Budak Teknologi: Sebuah Renungan (Sumber Gambar : Nu Online)
Menjadi Budak Teknologi: Sebuah Renungan (Sumber Gambar : Nu Online)

Menjadi Budak Teknologi: Sebuah Renungan

Mari kita merenung sejenak. Siklus hidup harian kita, dari mulai bangun tidur sampai tidur kembali, berapa kebaikan dan kemanfaatan yang kita tebar? Adakah dua atau tiga? Siapakah yang benar-benar mempunyai keinginan—dunia ini menjadi rukun dan saling menghormati? Praktisi politik mana yang tidak haus kekuasaan? Adakah dari kita yang tidak mempunyai kebencian? 

Tuhan menciptakan manusia sebagai khalifatullah, khalifah di muka bumi ini, bagi dunia dan seluruh isinya, semua sumbernya dan semua bendanya. Syed Abul Hasan Ali Nadwi mengatakan, “Manusia bukan untuk menjadi budak benda (materi) tetapi untuk membuat materi menjadi budaknya atau membuatnya untuk menjadi abadi Tuhan, dan untuk memanfaatkannya dalam memenuhi kehendak Tuhan.”

Telah jelas bukan? Teknologi bukanlah “majikan” yang harus kita taati. Ia hanya benda/barang yang mempunyai nilai guna/kekuatan netral untuk melayani manusia—walaupun teknologi berusaha menjadikan kita “jongosnya”. 

Sama-sama kita merasakan, perubahan hidup kita semenjak teknologi membaur. Tidak sedikit diantara kita ketika bangun tidur pertama yang kita cari adalah smartphone. Tidak sedikit juga diantara kita ‘mati gaya’ ketika smartphone kesayangan kita ketinggalan di saat kita berkumpul dengan teman-teman kita. Tidak sedikit di antara kita berebut charger ketika batre smartphone kita habis.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dahulu, janjian dengan seseorang sebatas lisan pun kita tidak bingung. Sekarang, tanpa handphone rasanya kita bingung untuk bertemu dengan seseorang, khawatir inilah-itulah. Banyak perubahan yang kita alami, dari mulai hal terkecil sampai hal terbesar. Ini yang kita rasakan sekarang. 

Ada istilah juga, surga dan neraka saat ini tergantung apa yang kita ‘ketik’ lalu kita ‘klik’ pada tombol ‘enter’. Begitupun anekdot yang mengatakan, dimensi dosa dan pahala berkembang. Dulu, tidak ada dosa medsos, sekarang ada. Dulu, tidak ada dosa hoaks di dunia maya, sekarang ada. Dahulu, Tuhan belum membangun kapling surga bagi pengguna internet yang sehat, dan belum juga membangun kapling neraka bagi pengguna internet yang tidak sehat. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Itu hanya sekedar anekdot, tidak usah diambil serius. Pastinya, di antara kita saat ini telah menjadi hamba teknologi. Meminjam bahasa para filosof, teknologi telah menjadi “tuhan baru” buat kita. Kita ketergantungan, melebihi ketergantungan terhadap Tuhan.

Digambarkan Allah dalam Al-Qur’an (Al-Anbiya: [21]: 52), Nabi Ibrahim AS bertanya kepada kaum penyembah berhala, “Apakah kamu menyembah patung-patung ini?” Sungguh tragis, apa yang kita buat sendiri telah kita sembah. Dewasa ini, teori dirumuskan, hukum ditentukan, mesin canggih dibuat, handphone pintar berjuta pilihan, televisi dengan kendali pikiran, dan sayangnya kita semua menjadi tunduk kepada hal-hal tersebut. Kita diperbudak, padahal Islam telah mengharamkan praktik perbudakan.

Memang berbeda, dahulu manusia memperbudak manusia, sekarang manusia diperbudak mesin. Dahulu manusia membeli budak dan budak yang dibeli itu menjadi jongosnya. Sekarang sebaliknya, manusia membeli mesin dan mesin itu menjadi majikannya dan kita adalah jongosnya.  

Apakah ada yang salah? Tidak ada, selagi produk teknologi difungsikan sesuai kegunaannya. Bukan untuk ujuran kebencian, saling menjatuhkan, memfitnah, apalagi menyebarkan contoh perilaku yang tidak baik, itu tidak masalah. Namun, faktor ini yang menghalangi penghargaan terhadap modernisasi (dengan perkembangan teknologinya) karena telah mengalami atropia (kehilangan kualitas moral).

Mesin-mesin cenderung mencipta tidak hanya lingkungan hidup baru, melainkan juga mengubah hakikat manusia. Lingkungan hidup bukan lagi milik manusia, tetapi justru telah menjadi pemilik manusia. Manusia juga diharuskan menyesuaikan diri pada suatu dunia yang sebenarnya tidak diciptakan baginya. Ia dikejar oleh waktu. Ia makan tidak karena lapar dan tidur tidak karena mengantuk, tetapi karena waktu telah menunjukan saat makan dan tidur. (Imam Sukardi dkk, Pilar Islam Bagi Pluralisme Modern, 2003)

Begitupun fitnah yang tersebar, ujaran kebencian yang ada, ia keluar melalui tulisan maya bukan karena dasar tidak suka, melainkan kehendak berkuasa menuntunnya melakukan itu, dan ia melakoninya dengan kejujuran sesuai pemahamannya. Dalam hal ini, ia merasa mendapatkan ruang ekspresi yang bebas. Hanya saja, kadang lepas kontrol. Berbeda dengan penyebar hoaks berbayar, mereka “keterlaluan”.

Teknologi, khususnya informasi terbuka—melihat arus masyarakat bawah (awam), keterbukaan informasi banyak memberikan beban kehidupan. Ibu-ibu di desa, tukang becak, tukang bangunan, dan tukang-tukang yang lainnya—Obrolannya PKI, obrolannya demo (212, 299, dan seterunya), obrolannya hak angket. Sesungguhnya bukan kapasitas mereka memikirkan itu, tapi mereka merasa terbebani dengan hal tersebut (berita terus-menerus membayangi mereka). Bagi kebanyakan orang, ini kesadaran politik, kesadaran sejarah, dan kesadaran-kesadaran lainnya. Bagi saya, tidak! Sesuatu hal yang sia-sia memikirkan itu (untuk mereka). Disinilah masyarakat terjebak oleh pola pikir dan pola berita “amburadul”. 

Teknologi/internet tidak bisa menjelaskan, mana orang pintar, mana orang bodoh, mana orang jahat, mana orang baik, mana orang bijaksana, mana orang tidak bijaksana, mana orang membawa kebencian, dan mana orang membawa kedamaian. Di situ kita terjebak pada ‘hutan rimba’, berisi berbagai macam binatang berakal, ada singa yang ganas, ada ular berbisa, ada pula orang hutan yang baik, ada juga kelinci yang cerdik, dan ada juga burung yang penyayang. Entahlah, siapa yang benar di antara kita? Alam maya adalah hutan yang tak berpohon, banyak kemungkinan baik dan buruk.

Kita hanya menangkapnya, setiap ada yang tidak sesuai maka ia salah. Memang demikian, kegelapan selalu memiliki banyak rupa, tetapi cahaya hanya satu. Nur (cahaya) senantiasa berbentuk tunggal. Allah berfirman, “Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang beriman. Dia membawa mereka dari dzulumat kepada nur”. (QS. Al-Baqarah [2]: 257). 

Dzulumat adalah bentuk jamak dari dzulmat, berarti kegelapan. Kenapa “nur” selalu berbentuk tunggal? Bukan karena bahasa Arab tidak mempunyai bentuk jamak untuk hal itu, tetapi karena cahaya adalah satu, asalnya satu—kesadaran akan Sang Pencipta. Tidak ada sumber petunjuk lain jika cahaya dari Allah tidak ada. (Syed Abul Hasan Ali Nadwi, Pesan Islam, 1995, hlm. 47) 

Artinya, menyekat “keterbudakan” kita terhadap teknologi ialah dengan kesadaran. Kesadaran terhadap seruan dan perintah dari Allah, untuk kita terapkan dalam realitas kehidupan, agar cahaya-cahaya Ilahi menyelimuti kita. 

Iqbal mengatakan, “Meskipun Barat (teknologi) bersinar dengan cahaya ilmu, lautan kegelapan tidak menjadi “sumber kehidupan”, suatu bangsa (manusia) yang tidak diberkati dengan cahaya Tuhan, uap dan listrik membatasi pekerjaannya.” Bisa dimaknai, teknologi adalah “sumber kehidupan” yang berada pada “lautan kegelapan”, bisa juga sebaliknya—teknologi adalah “lautan kegelapan” yang tidak mempunyai “sumber kehidupan”. 

Karena itu, alangkah indahnya sekarang kita merenung kembali, adanya teknologi (medsos, smartphone, dan internet) memberikan kemudahan terhadap hidup kita, salah satunya kemudahan dalam menebarkan kemanfaatan sebanyak-banyaknya. Kita tidak seharusnya diperbudak, dikendalikan, melainkan kita yang mengendalikan, menjadikan teknologi sebagai “sumber kehidupan” pada “lautan pencerahan”, di dalamnya berisi cahaya-cahaya Tuhan. 

Dengan demikian, kehati-hatian, kontrol diri, dan kesadaran dalam memfungsikan teknologi, khsusunya Medsos, Internet, dan smartphone menjadi hal utama. Selain kesadaran terhadap Allah—continum tak terputus—membangkitkan pula kesadaran moral/etika/akhlak, supaya kita bisa hidup bersama di alam maya, menghormati orang lain, membangun toleransi, dan menebarkan kebaikan.

Saya akhiri dengan pesan Rasulullah SAW dalam sebuah hadits, dinyatakan pada hari kiamat Allah akan berkata kepada hamba-hamba-Nya, “Aku jatuh sakit dan kamu tidak menengok Aku”. Hamba itu akan menjawab, “Engkau Tuhan seluruh alam. Bagaimana saya bisa menengok Engkau?” Kemudian Allah akan berkata, “Tidakkah kamu mengetahui si anu hambaKu sakit dan kamu tidak mau menengoknya? Seandainya kamu pergi untuk melihat dia agar dapat menggembirakan atau membantu, kamu akan mendapati Aku bersamanya.” 

Allah akan berkata lagi, “Wahai anak Adam! Aku minta makanan, tetapi kamu tidak memberi makanan kepadaKu”. Hamba itu akan menjawab, “Engkau Tuhan seluruh alam bagaimana saya dapat memberiMu makanan? Allah akan berkata, “Apakah kamu tidak menyadari bahwa si anu seorang hambaKu minta makanan kepadamu dan kamu tidak memberinya. Seandainya kamu memberi dia makanan kamu akan mendapati dia bersama Aku”. 

Allah akan berkata lagi, “Wahai anak Adam! Aku telanjang, tetapi kamu tidak menutupi aku dengan sebuah pakaian.” Hamba itu akan menjawab, “Engkau Tuhan seluruh alam. Bagaimana saya dapat memberi Engkau? Kemudian Allah akan berkata, “Si anu hambaKu meminta sesuatu kepadamu untuk dipakai dan kamu tidak memberikannya kepada dia. Seandainya kamu telah melakukan hal itu, pakaian itu akan sampai kepada-Ku.”





Penulis, Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah Kebumen, Jawa Tengah

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Kajian Islam, PonPes, Amalan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kisah Kejujuran dan Pertobatan Kaab bin Malik

Salah satu perang kenamaan di masa Rasulullah adalah Perang Tabuk. Perang ini terjadi pada tahun kesembilan Hijriah, tepatnya pada bulan Rajab. Berdasarkan beberapa riwayat, seperti dalam kitab Sirah Nabawiyyah karya Ibnu Hisyam, perang ini merupakan perang yang berat karena cuaca yang kering, keadaan paceklik, serta lokasi peperangan yang jauh. Kisah berikut disarikan dari keterangan kitab tersebut.

Di antara rombongan umat muslim itu, tersebutlah Kaab bin Malik yang tidak ikut serta dalam keberangkatan menuju Perang Tabuk. Sebelumnya, Kaab bin Malik dikenal di kalangan sahabat sebagai orang yang terpercaya, golongan orang-orang yang pertama masuk Islam, dan selalu mengikuti perang bersama Nabi. Orang-orang tidak meragukan keimanannya.

Kisah Kejujuran dan Pertobatan Kaab bin Malik (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Kejujuran dan Pertobatan Kaab bin Malik (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Kejujuran dan Pertobatan Kaab bin Malik

Sayangnya, pada perang Tabuk ini, Kaab bin Malik ketinggalan rombongan sebab keterlambatannya dalam menyiapkan perbekalan. Anda tahu, saat Kaab masih bingung dalam persiapan menuju medan perang Tabuk, ternyata Nabi dan sahabat lain sudah bergegas menuju medan peperangan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kaab bin Malik pun gelisah karena keterlambatannya ini. Ia mengetahui bahwa ketika ada umat muslim yang mangkir dari perang, dan bukan disebabkan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan, maka hal tersebut adalah termasuk dosa yang besar.

Dalam kegelisahannya itu, ketika keluar rumah, ia menemui bahwa yang masih berada di sekitar lingkungannya adalah orang-orang yang bermaksud mangkir dari peperangan – konon disebut kaum yang munafik – dan orang-orang lemah yang tidak mampu berperang.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Di sisi lain, seusai perang, Rasulullah SAW baru menyadari bahwa Kaab bin Malik tidak ikut serta dalam perang Tabuk itu. Ia menanyakan pada para sahabat,

“Kemanakah Kaab bin Malik?”

Kemudian ada yang mengatakan, konon seorang sahabat dari Bani Salimah, mempertanyakan jangan-jangan Kaab ini mementingkan dirinya sendiri. Tapi langsung ia didamprat oleh sahabat Muadz bin Jabal ra.

“Perkataanmu buruk sekali! Tidak pantas kau katakan itu atas Kaab bin Malik!”

Kaab menjadi resah saat ia tahu bahwa ia tertinggal dan absen dari perang. Hal yang ia resahkan, adalah bagaimana ia akan berujar pada Nabi tentang keadaan yang menimpanya. Sempat ada hasrat berbohong, tapi ia urungkan.

Setibanya Nabi di Madinah, lalu menunaikan sembahyang sebagaimana beliau amalkan seusai perang, orang-orang yang tidak mengikuti perang mendatangi beliau dan menyampaikan alasan-alasan mereka. Disebutkan kurang lebih delapan puluh orang. Nabi menerima alasan mereka, dan mengatakan bahwa beliau menyerahkan urusan kebenaran dalam hati mereka dengan Allah. Kaab bin Malik pun menjadi rikuh.

Ia beranikan diri mendatangi Nabi, lantas berkata dengan jujur,

“Sejujurnya Nabi, tidak ada yang menghalangi saya untuk mengikuti perang. Saya rela mendapat hukuman atas kesalahan yang telah saya perbuat. Daripada saya mendapat murka Allah atas alasan-alasan yang saya perbuat, lebih baik saya mendapat hukuman darimu, Nabi,”

Mendengar pengakuan yang tulus itu, Nabi menerimanya. Namun karena beliau tahu bahwa kesalahan yang diperbuat Kaab bin Malik adalah kesalahan yang besar, maka beliau memutuskan untuk menunggu jawaban dari Allah. Rupanya selain Kaab bin Malik, ada dua sahabat lainnya yang mengalami hal serupa, dengan alasan yang sama dengan Kaab bin Malik.

Beberapa hari kemudian, Nabi memerintahkan para sahabat untuk tidak mengajak bicara Kaab bin Malik dan dua sahabat lainnya itu sebagai bentuk hukuman. Tentu saja bagi mereka bertiga, hal itu terasa menyesakkan perasaan. Dalam riwayat, Kaab bin Malik berusaha bertingkah biasa, namun bagaimanapun ia merasakan tekanan yang berat saat diabaikan oleh sahabat-sahabat lainnya. Ia sempat berjumpa seorang sahabat, lantas bertanya,

“Tidak tahukah engkau bahwa aku ini sungguh mencintai Allah dan Rasul-Nya?”

Sahabat itu menjawab, “Hanya Allah dan Rasul-Nya yang mengetahui tentang hal itu,”

Kaab bin Malik semakin kesulitan. Kemudian pada hari keempat puluh, Nabi menambahkan bahwa Kaab bin Malik dan dua sahabat lainnya yang tidak ikut perang tersebut diminta untuk tidak mendekati istri-istri mereka. Tak terasa, hukuman itu terjadi sampai lima puluh hari. Pada hari kelima puluh itu, Kaab bin Malik melakukan salat sebelum fajar, lantas mengadukan masalahnya kepada Allah.

“Kaab!” Terdengar suara Nabi memanggil. Kaab bin Malik terkejut.

“Sungguh, ampunan Allah sudah tiba untuk kalian bertiga!” terang Rasulullah berseri-seri. Kemudian Rasulullah menyebutkan tiga ayat dari surat At Taubah, yaitu ayat 117 sampai 119 yang menjelaskan tentang ampunan Allah untuk mereka bertiga.

Kaab merasakah bahagia, yang dalam riwayat disebutkan bahwa ia tak pernah sebahagia itu sejak dilahirkan ibunya. Kejujurannya berbuah manis, meski ia harus menanggung konsekuensi atas alasan yang ia sampaikan akibat keterlambatannya mengikuti perang. Dan memang diriwayatkan bahwa alasan keteledoran mereka itu, bukanlah bermaksud untuk berpaling dari kewajiban perang, sehingga Allah mengampuni mereka bertiga. Setiap kejujuran memang sering berimbas pahit, namun bagaimanapun, ia adalah sikap berani mempertanggungjawabkan kesalahan, sebagaimana dicontohkan Kaab bin Malik dan dua sahabat itu. (Iqbal Syauqi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Anti Hoax, Khutbah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 13 Maret 2018

Pemberantas Korupsi Tak Bersih, Korupsi Merajalela

Magelang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi menilai, tindak pidana korupsi makin merajalela sedangkan pihak berwenang yang melakukan pemberantasan korupsi juga tidak bersih.

"Tambah tinggi tambah merajalela," katanya saat memberikan tausyiah Harlah Bersama Badan-Badan Otonomi Nahdlatul Ulama Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah di Lapangan "drh Soepardi" Kota Mungkid, di Magelang, Kamis (19/4) yang dihadiri ribuan warga nahdliyin setempat.

Ia mengatakan, seharusnya semakin banyak korupsi maka semakin mudah melakukan pemberantasannya. Korupsi, katanya, terjadi dari sekadar orang mengambil sandal di masjid hingga korupsi di Jakarta.

Pemberantas Korupsi Tak Bersih, Korupsi Merajalela (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemberantas Korupsi Tak Bersih, Korupsi Merajalela (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemberantas Korupsi Tak Bersih, Korupsi Merajalela

Ia menyebut mereka yang tertangkap aparat karena melakukan korupsi sebagai sedang sial. "Saking banyaknya korupsi sebenarnya asal ambil (tangkap pelakunya,red) pasti kena," katanya.

Ia mengaku mendapat keluhan dari seseorang yang disangka korupsi Rp65 juta tetapi dirinya harus mengeluarkan uang hingga Rp400 juta untuk mengurusnya. "Lalu siapa sebenarnya yang korupsi. Siapa yang ketangkap itu yang sedang apes, yang nangkap kelakuannya sama tetapi tidak terjamah," katanya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pada kesempatan itu Hasyim juga mencontohkan perilaku buruk oknum aparat penegak hukum dalam melaksanakan tugasnya. "Seorang kehilangan kambing, lapor kepada petugas harus membayar senilai harga sapi, jadi orang itu kehilangan kambing dan sapi," katanya. (ant/kut)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Internasional, Kajian Islam Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

NU Bondowoso: Malam Tahlilan, Pagi Apel Santri

Bondowoso, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bondowoso mengadakan tahlilan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional di Kantor PCNU setempat, Jalan KH Agus Salim Nomor 85 Belindungan, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur Rabu malam ( 21/10)

Ketua Tanfidziah PCNU Bondowoso H Abdul Qodir Syam menjelaskan, kegiatan tahlil ini merupakan acara rutinan warga NU setempat yang dilaksanakan setiap Selasa malam. Agar bersamaan mendekati tanggal 22 Okteber 2015 yang ditetapkan pemerintah sebagai Hari Santri Nasional maka pengurus NU setempat mengundur jadwal menjadi Rabu malam atau malam Kamis.

NU Bondowoso: Malam Tahlilan, Pagi Apel Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Bondowoso: Malam Tahlilan, Pagi Apel Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Bondowoso: Malam Tahlilan, Pagi Apel Santri

Abdul Qodir Syam menambakan, Kamis (22/10) ini delegasi santri dari Pondok Pesantren Se-Bondowoso akan mengikuti Apel Santri. Kegiatan tersebut di bawah koordinasi Rabithah Ma’ahid Islamiyah NU (RMINU) Bondowoso, Lembaga Pendidikan Maarif NU Bondowoso, dan Gerakan Pemuda Ansor Bondowoso.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Nantinya yang menjadi Inspiktur upacara Apel Santri adalah Drs. H. Salwa Arifin (Wakil Bupati Bondowoso) yang akan dilaksanakan di depan Kantor PCNU Bondowoso," imbuhannya.

Salwa Arifin yang hadir dalam acara tahlilan itu mengaku merasa terhormat dapat terlibat dalam peringatan Hari Santri Nasional. Mustasyar PCNU Bondowoso ini menambahkan, tidak berlebihan NU menyambut antusias Hari Santri, termasuk dengan tahlilan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ia mengatakan, NU tak suka dengan perpecahan, NU tawaduk. “Kenapa demikian? Karena NU adalah ‘pesantren besar’ di dalamnya ada pondok pesantren dan NU indentik dengan pesantren. Begitu pula pesantren indentik dengan NU dan itu tidak bisa dipisahkan itu berpaham Ahlusunnah wal Jamaah.” (Ade Nurwahyudi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Internasional Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Liga Santri Nusantara Zona Sulbar Digelar Enam Hari

Polewali Mandar, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Liga Santri Nusantara (LSN) Zona Sulawesi Barat (Sulbar) dibuka secara resmi Jumat (18/9) sore. Pembukaan dilaksanakan di Lapangan Rajawali Desa Panyampa, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat.

Liga Santri Nusantara Zona Sulbar Digelar Enam Hari (Sumber Gambar : Nu Online)
Liga Santri Nusantara Zona Sulbar Digelar Enam Hari (Sumber Gambar : Nu Online)

Liga Santri Nusantara Zona Sulbar Digelar Enam Hari

Acara pembukaan diawali dengan sambutan dari Kordinator LSN Sulbar, Indah Mayasari. "Santri yang menjunjung tinggi prinsip dalam sportivitas seperti kejujuran dan disiplin semoga mampu menjadi teladan bagi pelaku sepak di tengah carut marut sepakbola di Tanah Air," ungkap Indah yang juga merupakan mantan ketua Pengurus Cabang PMII Polman.

Pembukaan ditandai dengan kick off perdana oleh Wakil Bupati Polman Nasir Rahmat didampingi AGH Abdul Latif Busrah selaku pimpinan Pondok Pesantren Salafiyah Parappe, tuan rumah LSN Zona Sulbar. Laga perdana memepertemukan Pesantren Salafiyah Parappe dengan Pesantren Hasan Yamani. Sang tuan rumah menang 2-1 atas Pesantren Hasan Yamani.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pertandingan berlangsung meriah yang disaksikan semua santri Pesantren Salafiyah dan masyarakat setempat. LSN Zona Sulbar berlangsung selama 6 hari terhitung dari tanggal 18-23 September 2015.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sebelumnya, Wakil Bupati Polman Nasir Rahmat memberikan semangat kepada para santri yang ikut bertanding. "Santri sudah diakui dalam persoalan keagamaan seperti baca kitab dan menjadi imam di masjid. Melalui momentum LSN ini, saatnya menunjukan prestasi olahraga dan menjunjung tinggi nilai sportifitas," ungkap Nasir. (Sudianto/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Sejarah, Nahdlatul Ulama Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 09 Maret 2018

Setda Pemkab Kepulauan Sula Studi Banding ke NU Care-LAZISNU

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sebanyak 11 orang perwakilan dari Sekretariat Daerah Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sula berkunjung, silaturahmi ke kantor NU Care-LAZISNU, di gedung PBNU Jakarta Pusat, Jumat (20/10) pagi. Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka Studi Banding dan Bimbingan Teknis Manajemen ZIS (Zakat, Infak, Sedekah).

Kabag Kesejahteraan Rakyat Setda Pemkab Sula, Haryono Subiyanto menyampaikan maksud kedatangan ke NU Care-LAZISNU untuk mengembangkan potensi pemberdayaan umat di Kepulauan Sula. 

Setda Pemkab Kepulauan Sula Studi Banding ke NU Care-LAZISNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Setda Pemkab Kepulauan Sula Studi Banding ke NU Care-LAZISNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Setda Pemkab Kepulauan Sula Studi Banding ke NU Care-LAZISNU

“Kepulauan Sula, satu daerah yang masuk dalam kategori daerah terpencil, tertinggal, terletak di provinsi Maluku Utara, saya pikir harus mendapat perhatian khusus. Program-program pemberdayaan ekonomi, pemberdayaan umat sangat perlu kita laksanakan di sana,” ucap Haryono.

Haryono mengungkapkan, Pemkab bersama dengan PCNU Sula berkomitmen agar LAZISNU bisa hadir dan berkembang di tengah masyarakat Kabupaten Sula. Ia juga menjelaskan, masyarakat Sula mayoritas Nahdliyin.

“Lebih dari sembilan puluh persen masyarakat Sula adalah muslim. Dan secara amaliah, adalah amaliah Nahdlatul Ulama,” jelas Haryono, yang juga Sekretaris PCNU di Kabupaten Sula.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ia menegaskan, silaturahmin ke NU Care-LAZISNU sebagai langkah awal untuk membentuk, menghadirkan, dan mengembangkan LAZISNU di Sula.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Ini adalah langkah awal kita, dan kita berkomitmen setelah pulang dari sini kita akan langsung membentuk kepengurusan LAZISNU. Kita ingin bisa memaksimalkan potensi pemberdayaan Nahdliyin di sana. Harapannya, ke depan para mustahiq yang ada di Sula bisa menjadi muzaki,” pungkasnya.

Ketua NU Care-LAZISNU Syamsul Huda menyambut baik silaturahmi Setda Pemkab Sula dan berharap ada manfaat yang bisa diambil dari LAZISNU oleh peserta Studi Banding dan Bimtek Manajemen ZIS.

“Ini adalah awal. Ini tugas kita bersama untuk memberdayakan ekonomi Nahdliyin, termasuk di Kepulauan Sula. Semoga dari kunjungan ada manfaat yang bisa diambil dari LAZISNU,” tutur Syamsul.

Bimbingan Teknis Manajemen ZIS diisi oleh beberapa manajer NU Care-LAZISNU, antara lain Manajer Administrasi dan Umum, Ahyad Alfida’i; Manajer Fundraising, Nur Rohman; dan Manajer Penyaluran dan Pendayagunaan, dan Slamet Tuharie. (Wahyu Noerhadi/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Aswaja, Quote Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 08 Maret 2018

Sebelum Wafat, KH Ali Mustafa Yaqub Menghasilkan Puluhan Karya Intelektual

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Mantan imam besar Masjid Istiqlal, yang juga Rais Syuriyah PBNU periode 2010-2015 ? KH Ali Mustafa Ya’qub meninggal dunia pagi ini,? di Rumah Sakit Hermina, Ciputat,? Kamis (28/4) pagi.

Pengasuh Pesantren Darussunnah, Ciputat, Tangerang Selatan ini selama hidupnya telah menghasilkan puluhan karya tulis, dan yang paling banyak adalah di bidang ilmu hadits sesuai dengan keahliannya. Berikut ini daftarnya:

1. Memahami Hakikat Hukum Islam (Alih Bahasa dari Prof. Dr. Muh. Abdul Fattah al-Bayanuni, 1986)

Sebelum Wafat, KH Ali Mustafa Yaqub Menghasilkan Puluhan Karya Intelektual (Sumber Gambar : Nu Online)
Sebelum Wafat, KH Ali Mustafa Yaqub Menghasilkan Puluhan Karya Intelektual (Sumber Gambar : Nu Online)

Sebelum Wafat, KH Ali Mustafa Yaqub Menghasilkan Puluhan Karya Intelektual

2. Nasihat Nabi kepada Para Pembaca dan Penghafal al-Quran (1990)

3. Imam al-Bukhari dan Metodologi Kritik dalam Ilmu Hadits (1991)

4. Hadits Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya (Alih Bahasa dari Prof. Dr. Muhammad Mustafa Azami, 1994)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

5. Kritik Hadits (1995)

6. Bimbingan Islam untuk Pribadi dan Masyarakat (Alih Bahasa dari Muhammad Jamil Zainu,1418 H).

7. Sejarah dan Metode Dakwah Nabi (1997)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

8. Peran Ilmu Hadits dalam Pembinaan Hukum Islam (1999)

9. Kerukunan Umat dalam Perspektif al-Quran dan Hadits (2000)

10. Islam Masa Kini (2001)

11. (? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (2010)

12. (? ? ? ? ? ? ? ? (2010?

13. Kemusyrikan Menurut Madzhab Syafi’I (Alih Bahasa, Prof. Dr. Abdurrahman al-Khumayis, 2001)

14. Aqidah Imam Empat Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad (Alih Bahasa, Abdurrahman al-Khumayis, 2001)

15. Fatwa-fatwa Kontemporer (2002)

16. MM Azami Pembela Eksistensi Hadits (2002)

17. Pengajian Ramadhan Kiai Duladi (2003)

18. Hadits-hadits Bermasalah (2003)

19. Hadits-hadits Palsu Seputar Ramadhan (2003)

20. Nikah Beda Agama dalam Perspektif al-Quran dan Hadits (2005)

21. Imam Perempuan (2006)

22. Haji Pengabdi Setan (2006)

23. Fatwa Imam Besar Masjid Istiqlal (2007)

24. Ada Bawal Kok Pilih Tiram (2008)

25. Toleransi Antar Umat Beragama (Bahasa Arab–Indonesia 2008)

26. Islam di Amerika; Catatan Safari Ramadhan 1429 H Imam Besar Masjid Istiqlal (2009)

27. Kriteria Halal-Haram untuk Pangan, Obat dan Kosmetika Menurut al-Quran dan Hadits (2009)

28. Mewaspadai Provokator Haji ? (2009)

29. Islam Between War and Peace (Pustaka Darus-Sunnah 2009)

30. Kiblat; Antara Bangunan & Arah Ka’bah (Bahasa Arab-Indonesia 2010)

31. 25 Menit Bersama Obama (Masjid Istiqlal Jakarta 2010)

32. Kiblat Menurut al-Quran dan Hadits; Kritik Atas Fatwa MUI No.5/2010 (2011).

33. Ramadhan Bersama Ali Mustafa Yaqub (2011)

34. Cerita dari Maroko (2012)

35. Makan Tak Pernah Kenyang (2012).

36. Ijtihad, Terorisme dan Liberalisme (Bahasa Arab-Indonesia 2012)

37. Panduan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar (Hisbah) (Bahasa Arab-Indonesia 2012)

(Red-Zunus Muhammad)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Kajian, Humor Islam Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

19 Grup Ramaikan Festival Hadrah Tingkat Provinsi DIY

Yogyakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Dalam rangka memperingati hari ulang tahun yang ke-17, Pondok Pesantren Luqmaniyah Yogyakarta menggelar acara Festival Hadrah Tingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di halaman pesantren, Jumat (10/2).?

Festival hadrah se-DIY yang dimulai sejak pukul 14.00 WIB tersebut menghadirkan tiga dewan juri, yakni Ustadz Ahmad Roni juri vokal, Ustadz Anas Fahrudin juri adab, dan Ustadz Yazid Bustomi juri pakaian.?

19 Grup Ramaikan Festival Hadrah Tingkat Provinsi DIY (Sumber Gambar : Nu Online)
19 Grup Ramaikan Festival Hadrah Tingkat Provinsi DIY (Sumber Gambar : Nu Online)

19 Grup Ramaikan Festival Hadrah Tingkat Provinsi DIY

Pengasuh Pondok Pesantren Luqmaniyah Yogyakarta, KH Naimul Wain dalam sambutannya mengatakan bahwa festival tersebut diadakan untuk menjalin ukhuwah antar-pesantren.?

“Syukur-syukur, bukan hanya ukhuwah pesantren, bukan hanya saling kenal tapi juga bisa ada tindak lanjutnya. Awalnya kenal, tapi akhirnya ada tindak lanjutnya,” ujar Kiai Naim yang disambut sorak-sorai para santri putra dan putri.?

Selain itu, lanjut Kiai Naim, acara ini merupakan upaya kita untuk membangun muhibbin, cinta kepada Rasulullah SAW.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Semakin aktif kita menyelenggarakan acara seperti ini, akan bermunculan para pecinta-pecinta yang mengagungkan cinta kepada Allah SWT, dan Rasulullah SAW,” tegas Kiai Naim yang merupakan suami dari Nyai Hj Siti Chamnah.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Acara festival hadroh tersebut diramaikan oleh 19 grup hadroh dari berbagai pesantren, kampus, sekolah dan majelis taklim yang ada di DIY.?

19 grup hadroh yang ikut di antaranya adalah Ihwanul Qolbi, Azkiyya (Pesantren Nurul Ummah), Fi Hubbil Jalil (Majelis Ta’lim Al-Hidayah, Prambanan), Kasyiful Quroob (MAN 1 Yogyakarta), Al-Jauhar (Pesantren Al-Jauhar Gunung Kidul), Sunan Pandanaran Pi & Sunan Pandanaran Pa (MTs Sunan Pandanaran), al-Mahalli Junior & al-Mahalli Senior (Pesantren al-Mahalli, Bantul).

Taufiqurrahman, As-Sa’adah (Jamaah Masjid Anas bin Malik Sleman), Darul Muslihin (Pesantren Darul Muslihin, Bantul), El-Tsuroyya (Pesantren Muntasyirul Ulum), Darul Adzkiyya’ (MTsN 1 Yogyakarta), Nurani Insani (Pesantren Nurani Insani, Gamping), Tsamrotul Muna (Pesantren al-Munawwir Komplek Q), Syauqol Mujtaba (Pesantren an-Nur Ngrukem), Alba Nada (Pesantren al-Barakah), Al-Layyinah (UIN Sunan Kalijaga). (Nur Rokhim/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Lomba, Cerita Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 06 Maret 2018

Selama Mudik Lebaran, Koordinasikan dengan Banser untuk Jaga Keamanan

Sidoarjo, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Ketua Pengurus Cabang Gerakan Pemuda Ansor Sidoarjo, Jawa Timur, Slamet Budiono mengimbau kepada warga Nahdliyin yang ada di Sidoarjo khususnya dan Indonesia pada umumnya untuk senantiasa berkoordinasi dengan Banser dalam menjaga keamanan selama mudik lebaran.

"Warga Nahdlatul Ulama silahkan meminta bantuan atau kerjasama dengan Banser untuk menjaga ketertiban dan keamanan lingkungan selama Hari Raya Idul Fitri 1437 H," himbau Slamet, Sabtu (2/7).

Selama Mudik Lebaran, Koordinasikan dengan Banser untuk Jaga Keamanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Selama Mudik Lebaran, Koordinasikan dengan Banser untuk Jaga Keamanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Selama Mudik Lebaran, Koordinasikan dengan Banser untuk Jaga Keamanan

Slamet mengemukakan, selama lebaran hingga H+3, Pengurus Cabang Gerakan Pemuda Ansor Sidoarjo, Jawa Timur, mendirikan posko yang diberi nama posko Banser. Posko tersebut berada di setiap 18 PAC/Satkoryon se-Sidoarjo.

Tak hanya lebaran saja, sambung Slamet, posko tersebut sebetulnya sudah ada sejak bulan Ramadhan dan dibuka setelah sholat Tarawih hingga saat sahur.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Di dalam posko itu ada sekitar 50-100 personil yang bertugas secara bergantian. Selain di posko, anggota juga ikut patroli bersama Polisi dan Satpol PP ke tempat-tempat yang dianggap rawan," kata Slamet.

Sementara itu menurut Sekretaris PC GP Ansor Sidoarjo, H Riza Ali Faizin, selama melakukan mudik ke kampung halaman, warga Nahdliyin diminta untuk tetap berhati-hati.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Patuhi rambu-rambu lalu lintas yang ada. Semoga selamat sampai ke tempat tujuan," pesan H Riza. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Internasional, Budaya Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Songsong Hari Kartini, Fatayat-IPPNU Tebar Inspirasi

Kudus, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Biasanya, menjelang hari Kartini sebagian organisasi wanita sudah sibuk merencanakan kegiatan khusus kaum wanita seperti lomba masak ataupun busana tokoh pejuang zaman dahulu tersebut. Tetapi,sedikit berbeda yang dilakukan oleh PC Fatayat NU dan PC IPPNU Kudus. 

Songsong Hari Kartini, Fatayat-IPPNU Tebar Inspirasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Songsong Hari Kartini, Fatayat-IPPNU Tebar Inspirasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Songsong Hari Kartini, Fatayat-IPPNU Tebar Inspirasi

Sejak Selasa (17/4) kemarin, kedua badan otonom perempuan NU itu memasang puluhan spanduk berisi pesan moral yang inspiratif  pada tempat-tempat strategis di kota kretek ini. Dari spanduk yang dipasang bertema hari Kartini dengan dua tulisan berbeda. 

Pertama, "Kartini masa kini ; Sholih,Cerdas membangun negeri." dan satunya lagi berbunyi  "Semangat Kartini Semangat Perempuan Indonesia ; Belajar,Berilmu,Bertakwa, Penuh Kasih Sayang."

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Menurut sekretaris PC Fatayat NU Kudus Silfia Alfiana, pemasangan spanduk dengan kata-kata inspiratif  ini dalam rangka memperingati hari Kartini 21 April dan Harlah Fatayat ke-62 yang jatuh pada 24 April mendatang. 

"Program ini kita namai tebar inspirasi hari Kartini  guna memberi warna dan pencerahan bagi kaum wanita," katanya kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan, di Kantor PC Fatayat NU Kudus Jl. Pramuka 20, Rabu (17/4).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Tujuan program ini,jelas dia, untuk mengapresiasi pahlawan wanita Indonesia, karena bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai jasa Pahlawannya.

"Kaum perempuan Indonesia mampu terinspirasi melanjutkan jejak perjuangan Kartini untuk membangun negeri ke arah yang lebih baik," tambah Silfia.

Dalam pandangannya, Kartini masa kini itu harus sholikhah, cerdas, selalu belajar, bertaqwa dan memiliki rasa penuh kasih saying antar sesama.

"Melalui pesan-pesan yang kita sampaikan, kaum wanita terutama kader Fatayat dan IPPNU mampu memaknai kembali Kartini masa kini yang sebenarnya," pungkasnya.

Redaktur      : Syaifullah Amin

Kontributor : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Internasional, Pertandingan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 03 Maret 2018

Ketua PBNU: Perlu Pemetaan Kaderisasi PMII

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Ketua PBNU Juri Ardiantoro mengatakan, orientasi kaderisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) harus diperluas, tidak hanya sekadar menambah jumlah kader, tapi menambah bobot atau kualitas kader.?

“Bobot kader juga harus diperluas tidak hanya sekadar menghiasi dunia politik, tapi dunia profesional. PMII harus mulai menyiapkan kader-kader untuk mengambil peran di wilayah itu,” katanya selepas menghadiri peringatan Harlah ke-57 yang digelar Pengurus Besar PMII di Jakarta pada Senin malam (17/4).

Untuk tujuan itu, Juri mengusulkan agar PMII melakukan pemetaan potensi kader dan pemetaan berdasar keunikan kader di tiap-tiap daerah.?

Ketua PBNU: Perlu Pemetaan Kaderisasi PMII (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua PBNU: Perlu Pemetaan Kaderisasi PMII (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua PBNU: Perlu Pemetaan Kaderisasi PMII

“Jadi, kaderisasi tak harus mesti sama seluruh daerah di seluruh Indonesia. Pada hal-hal yang sangat prinsip seperti tata, nilai, ideologi memang harus sama. Tapi pada konteks pengembangan kader dan penyiapan kepemimpinan ya harus memperhatikan karkater atau keunikan daerah,” jelasnya.?

Sehingga, lanjut mantan Ketua Komisi Pemilihan Umum Pusat itu, kader PMII di daerah tidak harus semua ke jakarta. “Itu PR PMII k depan,” tegasnya.

Ia menambahkan, untuk tujuan itu, selain pemetaan kader, PMII juga harus melakukan penguatan kelembagaan. (Abdullah Alawi)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pondok Pesantren, Daerah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 28 Februari 2018

Rais NU Jabar: Jangan Mengejek Kesalahan Orang Lain!

Garut, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Rais Syuriyah PWNU Jawa Barat KH M Nuh Addawami mengatakan, salah satu kunci kebahagiaan dunia dan akhirat adalah kasih sayang. Keselamatan manusia itu pun terletak pada rahmat (kasih sayang) Allah.

Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Cisurupan Garut ini menekankan untuk tidak mudah memarahi kesalahan orang lain atau mengejek perbuatannya. Sebab, menurutnya, sikap demikian itu merupakan ciri orang yang tak memiliki kasih sayang.

Rais NU Jabar: Jangan Mengejek Kesalahan Orang Lain! (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais NU Jabar: Jangan Mengejek Kesalahan Orang Lain! (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais NU Jabar: Jangan Mengejek Kesalahan Orang Lain!

"Orang yang memiliki kasih sayang adalah menyapa orang berbuat jelek dan mengajak pada hal baik,” ujar Kiai Nuh pada acara puncak Haul Pendiri dan Milad YPI al-Hikmah, Sabtu (18/2), di Garut, Jabar. Ia menyebut perilaku arif ini sebagai akhlak tawassuth alias tidak berlebihan.

Berdakwah itu mesti dilakukan dengan tidak membuat mereka takut. “Dakwah orang NU harus wasathan (berimbang), yang membuat jamaah bahagia, jika salah akan sedih mengikuti arahan. Cara berpikir dan bertindaknya Alhussunnah wal Jamaah yang menjadi dasar aqidahnya Nahdlatul Ulama dalam segala tindakannya thawassuth," tambahnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kiai Nuh lantas mengutip Surat Al An’am 108 agar tak seenaknya menghina kelompok lain meski berseberangan secara akidah. "Janganlah kalian menghina berhala atau sembahan orang (kafir), karena (jika begitu) mereka akan menghina sembahanmu (Allah), sehingga kalian jadi penyebab menghinanya mereka pada Allah," pungkasnya.

Acara yang dilaksanakan di komplek yayasan ini dihadiri sekitar seribu jamaah antara lain dari Muslimat NU, GP Ansor, Fathayat NU, IPNU, IPPNU, guru-guru dan siswa madrasah, perwakilan pemerintah serta warga masyarakat sekitar. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Syariah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 27 Februari 2018

24 Santri Jateng-Yogya Ikuti Pelatihan Mekanik Sepeda Motor

Semarang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan 



Pengurus Pusat Rabithah Maahid Islamiyyah  Nahdlatul Ulama (RMINU) bekerja sama dengan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) mengadakan pelatihan, pendampingan, dan magang mekanik sepeda motor untuk santri Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. 

24 Santri Jateng-Yogya Ikuti Pelatihan Mekanik Sepeda Motor (Sumber Gambar : Nu Online)
24 Santri Jateng-Yogya Ikuti Pelatihan Mekanik Sepeda Motor (Sumber Gambar : Nu Online)

24 Santri Jateng-Yogya Ikuti Pelatihan Mekanik Sepeda Motor

Sebanyak 24 santri mengikuti pelatihan itu selama kurang lebih 4 bulan ke depan. Mereka akan berlatih di dalam kelas dan praktik langsung di lapangan. 

Pelatihan ini memberikan pengetahuan pada santri agar mampu memperbaiki dan mengetahui perkembangan sepeda motor. Kebutuhan akan sepeda motor di pesantren tak kalah pentingnya dengan alat transportasi lain. 

Dengan adanya kemampuan baru ini, pesantren diharapkan memiliki tenaga ahli yang paham sepeda motor. YDBA sudah 37 tahun mendampingi masyarakat untuk berkontribusi.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selain itu, ada Astra Motor dan Yayasan Astra Honda Motor (YAHM) yang ikut mendukung pelatihan ini. 

Ahmad Muhibbudin selaku wakil ketua YAHM menyatakan, perlu adanya transfer pengetahuan (knowledge) pada masyarakat luas, termasuk santri. Setelah mengikuti pelatihan ini; peluang untuk mengerjakan bidang terkait perbengkelan terbuka lebar. 

Sudah banyak pelatihan seperti ini yang memberikan manfaat pada peserta. Banyak dari mereka menjadi wirausahawan dengan membuka bengkel sendiri atau bekerja di jaringan perusahaan Astra.

"Setelah lulus untuk bisa menjadi wirausahawan," papar Rahmad Handoyo selaku mentor YDBA pada pembukaan pelatihan di kantor Astra Motor Center, Semarang, Selasa, (5/12).

Khoironi, perwakilan PP RMINU memotivasi peserta. Ia mengatakan bahwa pelatihan kali ini bisa jadi menjadi ilmu baru bagi santri. Untuk pesantren salaf; ini hal baru yang harus ditekuni agar mampu menguasainya. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Abu Choir, tim pelaksana dari PW RMINU Jateng menambahkan bahwa pelatihan ini ke depan harus ditingkatkan tak hanya dalam pelatihan saja. Perlu adanya pendampingan untuk membuka bengkel di pesantren dengan supervisi dari Astra. (Zulfa/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Sejarah, Nasional, Halaqoh Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Belajarlah Tawadhu pada Tanah

Kudus,Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pembelajaran tentang hakikat fitrah manusia disampaikan KH Ahmad Asnawi saat memberikan tausiyah pada acara Maulid Nabi Muhammad SAW dan peresmian Masjid Al Hamid Desa Mlati Kidul, Kota Kudus, kemarin.

Menurut Wakil Rois MWCNU Kecamatan Gebog Kudus itu setiap  manusia memiliki naluri maupun sifat bagus seperti tanah yang harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari yakni tentang ketawadhuan dan tidak boleh sombong,

Belajarlah Tawadhu pada Tanah (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajarlah Tawadhu pada Tanah (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajarlah Tawadhu pada Tanah

“Manusia diciptakan Allah dari tanah, sudah seharusnya menyesuaikan diri bersikap sesuai naluri tanah yang tidak pernah sombong,” katanya dalam acara Maulid Nabi, Sabtu (8/2) itu. 

Ahmad Asnawi menerangkan bahwa seharusnya manusia selalu memberi manfaat  kepada orang lain, sehingga jikalau ada manusia mengganggu orang lain berarti dirinya keluar dari naluri manusiawi. 

“Begitu pula halnya tanah, selalu memberi kemanfaatan dan setiap makhluk pasti membutuhkannya. Maka naluri manusia harus berbuat baik kepada orang lain,”ujarnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Naluri lainnya, jelas KH Asnawi, tanah diperlakukan sejahat apapun dia akan berusaha memberikan yang terbaik bagi manusia. Ia mencontohkan, tanah dibajak pakai traktor ia mampu menghasilkan tanaman padi dan tumbuhan.

“Bila manusia diperlakukan seperti ini sudah sebaiknya bisa menahan diri dan  tidak perlu marah seraya tetap memberikan kebaikan pada orang lain,” ujar alumni santri pesantren Sarang Rembang.

Dipaparkan, manusia harus juga mampu menutupi kesalahan orang lain sejelek apapun sebagaimana tanah. Bangkai yang busuk misalnya, akan hilang manakala sudah dikubur maupun tertutup dengan tanah.

Disamping itu, tanah diperlakukan apapun oleh yang menguasai selalu siap menerimanya. Manusia juga harus siap menjadi apa saja ketika Allah yang menguasai berkehendak kepadanya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Pada intinya, fitrah manusia mempunyai akhlakul karimah karena diciptakan Allah dari tanah. Semua naluri tanah ada dalam diri manusia, hanya perkembangan yang bisa merusaknya,” pungkasnya. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Nahdlatul, Kyai Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dayah, Sebutan Legendaris Pesantren di Aceh

Bireuen, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Sebagai wilayah pertama di Asia Tenggara yang menerima kehadiran Islam sejak abad pertama hijriyah, Aceh merupakan kawasan yang masyarakatnya memiliki karakteristik yang unik. Keunikan karakteristik ini disebabkan kuatnya pengaruh Islam dalam proses pembentukan rakyat Aceh. Bahkan, Islam menjadi asas pembinaan budaya itu sendiri.

“Benteng yang paling berjasa dalam proses pertahanan budaya masyarakat Aceh adalah lembaga pendidikan yang disebut Dayah,” ujar Teungku Haji Hasanoel Bashri HG, salah satu ulama kenamaan asal Samalanga Bireuen, saat ditemui belum lama ini.

Dayah, Sebutan Legendaris Pesantren di Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)
Dayah, Sebutan Legendaris Pesantren di Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)

Dayah, Sebutan Legendaris Pesantren di Aceh

Menurut tokoh yang akrab disapa Abu MUDI ini, kata “Dayah” merupakan kutipan dari bahasa Arab “Zawiyah” yang berarti majelis pengajian. Kata itu kemudian berubah sesuai dengan dialek bahasa Aceh menjadi dayah. Dalam perkembangan selanjutnya, lanjut Abu MUDI, dayah dalam terminologi orang Aceh menjelma sebuah lembaga pendidikan Islam yang berperan aktif membina keteguhan keimanan, akhlak, dan keilmuan masyarakat.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Selain sebagai pusat pendidikan Islam, Dayah juga tempat para ulama menetap, di mana dalam masyarakat aceh ulama merupakan tempat bertanya dan meminta kepastian hukum agama yang merupakan sendi-sendi kehidupan masyarakat,” ujar Abu MUDI.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pengasuh Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Ma’hadal Ulum Diniyyah Islamiyyah Mesjid Raya (MUDI Mesra) ini bercerita, di masa kejayaan Kerajaan Islam Aceh Darussalam, saat kesultanan dijabat Sultan Iskandar Muda, dayah menjadi lembaga pendidikan resmi yang mencetak aparatur pemerintahan kerajaan. Fakta ini terus berlanjut hingga masa invasi kolonial Belanda.

“Ulama lalu menjadikan dayah sebagai basis perjuangan melancarkan gerakan jihad melawan penjajah. Pada masa itu, peran ulama meluas hingga ranah politik. Masa-masa kolonial Belanda di Aceh merupakan masa berperan penuhnya ulama terutama setelah tertawannya sultan. Ulama tidak hanya berperan sebagai pemimpin agama, tapi juga pemimpin politik dan militer sekaligus,” tuturnya.

Setelah kemerdekaan, tambah Abu MUDI, peran dayah diganti oleh sekolah-sekolah yang didirikan pemerintah sesuai dengan perkembangan masa dan kebutuhan. Dalam kondisi ini, dayah sebagai lembaga pendidikan tertua tetap mampu eksis di bawah asuhan ulama. “Sistem pendidikan dayah yang tidak memungut biaya pendidikan menjadikannya lebih akrab dengan masyarakat kelas bawah,” ujarnya bangga.

Kini, dayah dihadapkan kepada tantangan modernisasi dan globalisasi yang sejak zaman penjajahan hingga sekarang tidak dapat dihindari. Fenomena ini,  bagi Abu MUDI, telah mengikis budaya islami masyarakat, terutama generasi muda. “Di sinilah peran dayah terbukti mampu memberikan basis moral islami yang kuat bagi generasi muda sehingga mereka memiliki filter dalam menghadapi arus modernisasi,” ujarnya.

Abu MUDI menyebut, kesadaran masyarakat akan fakta tersebut telah menguatkan komitmen para ulama untuk terus melestarikan eksistensi lembaga dayah. Komitmen tersebut diikuti masyarakat dengan menitipkan anak mereka agar turut mengecap pendidikan dayah. “Saya yakin, dayah sebagai satu warisan kebudayaan Islam yang melegenda di masa silam, terus berkembang pada masa kini hingga yang akan datang,” tegasnya. (Musthofa Asrori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Anti Hoax, Kyai Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 25 Februari 2018

Warga Pergerakan Wajib Mengabdi kepada Masyarakat

Makassar, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pelatiahan Kader Lanjutan yang digagas Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Makassar mengundang antusias para peserta. Kegiatan yang berlangsung di gedung BLKI makassar Senin (26/9) dikemas dengan metode dialog tersebut menghasilkan kesepakatan antara peserta pelatihan.

Gagasan itu timbul saat salah satu mantan Ketua PKC PMII Sulawesi Selatan Mulyadi Prayitno menyampaikan materi dengan tema advokasi dan pendampingan masyarakat. Pengalamannya yang luas mengenai pendampingan masyarakat saat memaparkan materinya membuat para peserta PKL terangsang untuk berdiskusi.

Warga Pergerakan Wajib Mengabdi kepada Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga Pergerakan Wajib Mengabdi kepada Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga Pergerakan Wajib Mengabdi kepada Masyarakat

Mulyadi menyampaikan, para kader PMII harus turun langsung ke tengah-tengah masyarakat dan berbaur guna mengidentifikasi problematikan yang dihadapi bangsa ini. “Sebagai warga pergerakan wajib hukumnya untuk mengabdi kepada masyarakat untuk kemajuan negara Republik Indonesia,” imbau Direktur Yayasan Kajian Pemberdayaan Masyarakat (YKPM) pada PKL bertema "Mencetak kader ulul albab dalam menjawab tantangan globalisasi."

Ia meminta agar peserta pelatihan kader lanjutan PMII Makassar agar senantiasa mempertajam intelektual dan wawasannya. "Para kader PMII harus memiliki kecerdasan yang tinggi karena kalianlah yang akan menjadi intelektual bagi generasi penerus Nahdatul Ulama. Dan seperti kita ketahui bahwa NU merupakan salah satu ujung tombak negara kita, oleh kerana itu berkontribusi kepada NU sama dengan berkontribusi untuk Indonesia," tegas Mulyadi di depan para peserta.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Para peserta yang terdiri 19 orang dari beberapa kabupaten/kota di Sulawesi Selatan dan termasuk peserta yang bersal dari Kutai Timur dan Kutai Kertanegara diminta untuk memaparkan problem yang dihadap dalam masyarakat tempat mereka masing-masing. Setalah itu Direktur YKPM memberikan sebuah kerangka gerakan dalam menyelasaikan persoalan tersebut.

Di akhir paparanya Mulyadi menyampaikan, pemerintah tidak akan bisa menyelesaikan semua problematika bangsa ini. Perlu ada kerja sama dengan banyak pihak. Dan salah satu pihak wajib membantunya adalah para kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia dengan cara turun langsung di tengah-tengah masyarakat untuk menjawab persoalan-persoalan bangsa," tutup ketua PKC PMII Sul-Sel 1995-1997.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Menurut Sonny Majid salah satu fasilitator kegiatan tersebut bahwa alumni PKL nantinya diharapkan dapat langsung mengaplikasikan ilmunya di dalam masyarakan mereka masing-masing.

“Seperti yang disampaikan Mulyadi, bahwa alumni PKL harus turun langsung dalam mengadvokasi persoalan yang dihadapi oleh masyarakat, terutama penduduk minoritas yang terkadang diinjak-injak haknya oleh kelompok mayoritas,” tutur alumni PMII Ekonomi UMI ini saat mengevaluasi peserta PKL. (Muhammad Aras Prabowo/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Makam, Syariah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Peraih Doktor Termuda di Jepang, Aktivis PCINU

Depok, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Ada yang istimewa pada kuliah umum di STAI Al-Hamidiyah Depok, Senin (15/9) petang. Dua narasumber sangat kontras satu sama lain. Pertama, Menteri Agama Republik Indonesia ke-21, Lukman Hakim Saifuddin. Kedua, Emil Elestianto Dardak, PhD, peraih gelar doktor termuda pada usia 22 tahun dari Ritsumeikan Asia Pasific University Jepang. Usut punya usut, pria ini adalah mantan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jepang.

Emil, sapaan akrabnya, menceritakan saat dirinya mengambil S2 dan S3 di Jepang, sebuah negara kepulauan mirip Indonesia, belum ada organisasi sebagai wahana diskusi tentang keislaman dan kemajuan teknologi. Kemudian ia bersama kawan-kawannya mendirikan NU di Jepang.

Peraih Doktor Termuda di Jepang, Aktivis PCINU (Sumber Gambar : Nu Online)
Peraih Doktor Termuda di Jepang, Aktivis PCINU (Sumber Gambar : Nu Online)

Peraih Doktor Termuda di Jepang, Aktivis PCINU

?

“Kami mahasiswa Indonesia di Jepang saat itu butuh wahana silaturahim. Sayangnya, belum ada untuk sekedar tempat bicara dan diskusi tentang keislaman yang ramah. Maka, kami mendirikan NU di sana,” ujar suami artis Arumi Bachsin ini kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan usai berbicara sebagai narasumber pada kuliah umum di STAI Al-Hamidiyah, Senin (15/9).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dia menambahkan, saat itu Rais Syuriah pertama Pak Kharirie. Kemudian penerusnya Pak Agus Zainal Arifin (sekarang dekan di ITS). “Kalau saya mulai aktif sebagai salah satu ketua, yaitu bidang Hubungan Pemerintah, sejak 2005. Nah, ketua umum saat itu Indra Singawinata,” sebutnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dalam kepengurusannya, lanjut Emil, di PCINU pernah membuat program “Santri Nelayan” untuk membantu pesantren di daerah pesisir. Program tersebut berupa pembuatan soft ware Quran Digital, fasilitas teknologi informasi (IT), dan perangkat komputer untuk para santri agar mereka dapat beradaptasi dengan teknologi terkini. Hal tersebut dilakukan supaya proses belajar-mengajar di pesantren lebih efisien.

Menyinggung soal isu kemaritiman, Emil mengatakan belum lama ini koran Singapura The Street Time memuat pendapatnya mengenai poros maritim yang didengungkan Presiden terpilih Joko Widodo. Bagi dia, kunci terpenting poros maritim adalah mengaitkannya dengan kesatuan nasional. Isu ini sangat strategis di mana penduduk pesisir yang mayoritas warga Nahdliyin itu merupakan perekat persatuan dan kesatuan bangsa.

“Kita ini kan pulau-pulau besar. Satu pulau bisa melebihi satu negara. Tapi apa yang bisa merekatkan kita jadi satu? Lautan di negeri ini mestinya menjadi penyatu bukan pemisah. Jadi, penyatu Indonesia itu ya lautan. Oleh karena itu, perlu dibangun infrastruktur pelabuhan yang membuat ongkos membeli barang dalam negeri lebih murah daripada mengirim keluar. Sedangkan hari ini kebalikannya,” tutur dia.

?

Emil menekankan tidak berarti serta-merta ketika Indonesia berorientasi maritim lalu konektivitas di darat terlupakan. “Kita bikin pelabuhan tapi tidak tersambung ke mana-mana kan percuma. Justru harus ada konektivitas antara pelabuhan dengan pusat-pusat produksi. Jadi, logistik jadi terpadu. Itu yang penting,” tegasnya.

Emil bercerita, ia pernah meneliti tentang link and match. Kenapa di sebuah desa bisa tertinggal dari sisi SDM dan teknologi. Karena apa yang diajarkan di sekolah tidak dapat diaplikasikan di lingkungannya. “Harus ada satu keterpaduan di hilir dan di hulu. Misalnya, kita pengen nelayan menggunakan teknologi perkapalan atau penangkapan ikannya, ada demand di hilir. Di hulunya kita profit. Jadi, mindset mulai anak SD hingga SMA harus match,” paparnya.

Cucu KH Dardak asal Trenggalek Jawa Timur ini menambahkan, ilmu yang diperoleh sejalan dengan apa yang bisa dikaryakan di situ. Jadi kemampuan santri untuk mengoperasikan penangkapan ikan berbasis teknologi itu menjadi penting. Ia merasa, pesantren di mana-mana itu balance. Orang yang memiliki kondisi spiritual yang baik berada dalam kondisi belajar yang kondusif.

“Itu yang kami lihat. Dia bisa punya etos kerja. Jadi, harus dikaitkan ajaran Islam itu ke dalam etos belajar dan etos kerja yang baik. Karena sekarang ini SDM kita justru karakternya yang harus didorong, nggak cuma kemampuan teknis. Nah, format belajar yang menggunakan pendekatan pesantren itu diharapkan menjadi satu dobrakan ke arah sana,” pungkasnya. (Ali Musthofa Asrori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Kajian Islam, Bahtsul Masail Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ansor Way Kanan Gelar PKD dan Diklatsar Pasca Pilkada

Way Kanan, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan . Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Way Kanan Provinsi Lampung melalui Pimpinan Ranting Kampung Bumi Baru, Kecamatan Blambangan Umpu, akan menggelar Pendidikan Kepemimpinan Dasar (PKD) Ansor IV dan Pendidikan serta Pelatihan Dasar (Diklatsar) IX Barisan Ansor Serbaguna (Banser) pada 24 - 27 Desember 2015.

"Ansor adalah organisasi kader. Karenanya menjadi sangat omong kosong jika sahabat-sahabat di tingkat anak cabang dan ranting tidak diajak berpikir, diberi tanggung jawab melaksanakan kinerja organisasi," ujar Ketua PC GP Ansor Way Kanan, Gatot Arifianto di Blambangan Umpu yang berada sekitar 220 km utara Kota Bandarlampung, Kamis (3/12).

Ansor Way Kanan Gelar PKD dan Diklatsar Pasca Pilkada (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Way Kanan Gelar PKD dan Diklatsar Pasca Pilkada (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Way Kanan Gelar PKD dan Diklatsar Pasca Pilkada

Gatot didampingi Kasatkorcab Banser Alex Almukmin menambahkan, pelaksanaan PKD dan Diklatsar akan digelar di lapangan Kampung Bumi Baru sehubungan di daerah tersebut pada permulaan berdirinya Kabupaten Way Kanan 15 tahun lalu menjadi tempat penyelenggaraan Diklatsar Banser.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Jadi untuk membangkitkan ghirah sekaligus menjadi ajang silaturahmi dengan para senior. Pelaksanaannya juga kami gelar pasca Pilkada 9 Desember 2015. Ini untuk menghindari fitnah tidak diinginkan dan penegasan tidak keberpihakan kami kepada pasangan calon kepala daerah tertentu," ujar alumni Kursus Banser Pimpinan (Susbanpim) II PP GP Ansor itu lagi.

Kendati penyelenggaraan dilimpahkan kepada pimpinan ranting dan telah disepakati sahabat Nuryadin sebagai ketua panitia pelaksana, namun pimpinan cabang tidak lantas cuci tangan atas pelaksanaan kegiatan wajib organisasi tersebut. "Kami ingin menjadi fasilitator, mendorong sahabat-sahabat di tingkat ranting dan anak cabang berpartisipasi aktif," tutur Gatot.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kontribusi mengikuti kegiatan tersebut Rp100 ribu ditambah 2,5 kilogram beras. Peserta akan mendapatkan kaos, konsumsi selama pelatihan, wawasan kebangsaan, motivasi, sertifikat, kartu tanda anggota dan lain-lain yang jika dinominalkan melebihi biaya kontribusi. Informasi lengkap bisa menghubungi nomor Kasatkorcab Banser Way Kanan Alex Almukmin 085382935111 atau Ketua Ranting Ansor Bumi Baru Supriyadi 085366324369. (Heriyanto/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan RMI NU Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 24 Februari 2018

Pagar Nusa Gelar Apel Akbar di Lirboyo

Kediri, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pimpinan Wilayah Pencak Silat NU Pagar Nusa Jawa Timur menggelar apel akbar di Pondok Pesantren Lirboyo Jawa Timur, Senin (19/8) hari ini. Pesantren Lirboyo merupakan tempat tinggal almarhum Gus Maksum, pendiri dan pemimpin pertama organisasi pencak silat NU ini.

Ketua PW Pagar Nusa Jatim Faidhol Mannan mengatakan, pihaknya telah menginstruksikan 38 pimpinan cabang Pagar Nusa se-Jatim untuk menghadiri apel akbar yang dipusatkan di Aula Al-Muktamar Lirboyo. Apel akbar kali ini dihadiri sekitar 2000 pendekar.

Pagar Nusa Gelar Apel Akbar di Lirboyo (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa Gelar Apel Akbar di Lirboyo (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa Gelar Apel Akbar di Lirboyo

Apel akbar yang dirangkai dengan halal bi halal ini diisi dengan istigotsah yang dipimpin oleh KH Hamim Al Zaini. Sebelum acara dimulai juga digelar peragaan kembangan pencak silat oleh pendekar cilik dan senior Pagar Nusa.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Para pendekar Pagar Nusa yang hadir mengenakan pakaian seragam pencak silat hitam-hitam.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Mendekati pelaksanaan Pilgub Jatim 29 Agustus, tak pelak kegiatan apel akbar ini diwarnai dengan aksi dukungan untuk salah satu calon, yakni Saifullah Yusuf atau Gus Ipul.

Gus Ipul menghadiri acara halal bi halal dan apel akbar Pagar Nusa yang disambut pimpinan Pesantren Lirboyo KH Idris Marzuqi. Sejumlah kiai yang selama ini mendukung pasangan Karsa juga hadir seperti KH Anwar Iskandar.

Gus Ipul sempat melakukan dialog dengan beberapa pendekar Pagar Nusa dan meminta doa agar dirinya yang maju mendampingi Soekarwomenang Pilgub Jatim, 29 Agustus mendatang.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ulama, Kyai Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock