Tampilkan postingan dengan label Santri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Santri. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Januari 2018

Kitab Kuning

Kitab Kuning adalah istilah untuk menyebut kitab-kitab klasik karya ulama-ulama terdahulu atau ulama salaf yang merupakan salah satu elemen utama dalam pengajaran di pesantren NU. 

Disebut kitab kuning kemungkinan besar karena kertas kitab-kitab klasik pertama yang sampai di Nusantara  dari Timur Tengah berwarna kekuning-kuningan. Kitab-kitab yang disebut kitab kuning ini  berisi berbagai disiplin ilmu agama Islam, termasuk kitab yang berisi komentar (syarah), komentar atas komentar (hasyiyah), terjemahan, dan saduran.

Kitab Kuning (Sumber Gambar : Nu Online)
Kitab Kuning (Sumber Gambar : Nu Online)

Kitab Kuning

Kitab-kitab kuning ditulis dalam aksara Arab tanpa harakat sehingga sering disebut juga dengan nama kitab gundul. Kitab-kitab yang ditulis belakangan oleh ulama asal Indonesia, yakni komentar, saduran, atau terjemahan ditulis dalam aksara Jawi (Arab Pego). 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sebagian dari kitab kuning ini ditulis dalam bentuk syair (nadhom) demi mempermudah penghafalan. Untuk bisa membaca dan memahami kandungan kitab kuning, orang setidaknya harus menguasai ilmu tata bahasa Arab yaitu nahwu dan sharaf. Untuk kitab-kitab yang berbentuk syair orang harus menambah lagi dengan penguasaan ilmu balaghah. 

Ilmu tata bahasa Arab ini dalam dunia pesantren disebut dengan istilah ilmu alat karena memang digunakan sebagai “alat” untuk membaca kitab kuning.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sebutan kitab kuning ini juga menjadi pembeda dengan munculnya kitab-kitab baru yang ditulis oleh kaum reformis atau modernis yang kebanyakan adalah tafsir al-Qur’an dan tentang hadits. Teks-teks yang ditulis kaum reformis ini kemudian dikenal dengan sebutan “buku putih”. 

Dalam masyarakat Islam Indonesia, istilah kitab merujuk pada teks yang ditulis dalam bahasa Arab, sementara istilah buku merujuk pada teks yang ditulis dalam bahasa Indonesia.

Martin van Bruinessen mengungkapkan bahwa kitab-kitab yang berisi inti ajaran Islam ini ditulis antara abad 10 hingga abad 15 Masehi. Beberapa kitab ditulis sebelum periode itu dan sejumlah karya juga ditulis setelah masa itu. 

Namun, pada akhir abad 15 pemikiran Islam sudah mencapai puncaknya dan tidak ada perkembangan signifikan dalam tradisi penulisan kitab ini. Dalam tradisi abad pertengahan, semua ilmu  dianggap sebagai sistem pengetahuan yang terbatas karena itu penambahan pada pengetahuan yang sudah ada dianggap tidak tepat. 

Karena itulah penulisan kitab-kitab ilmu pengetahuan agama Islam bisa dirangkum ke dalam delapan kategori:  melengkapi yang belum lengkap, mengoreksi yang salah, menjelaskan yang belum jelas, rangkuman dari karya yang panjang, kumpulan berbagai tulisan yang terpisah namun berkaitan, penyusunan tulisan-tulisan yang tidak teratur, dan ringkasan apa yang sebelumnya belum diringkas, serta terjemahan karya-karya terdahulu.

Pengetahuan yang ditulis dalam kitab kuning adalah sudah tetap. Kalaupun ada karya-karya baru, kitab-kitab itu tetap berada dalam batas-batas yang jelas dan tidak bisa lebih dari sekadar ringkasan, penjelasan, dan komentar dari hal-hal yang sudah ditulis sebelumnya. Hal inilah yang oleh kaum reformis dan modernis dianggap sebagai sumber kejumudan, meskipun dalam praktiknya tradisi kitab kuning jauh lebih fleksibel dari anggapan tersebut. Tradisi penulisan kitab ini sungguhlah kaya dan tetap menjadi lentur justru karena tradisi ini tidak mempunyai tendensi untuk menjadi sama atau konsisten. Di dalam kitab-kitab klasik ini sering dijumpai perbedaan pendapat antara kitab satu dengan kitab yang lain mengenai suatu persoalan.

Pengajaran kitab kuning di pesantren berbasis pada transmisi oral (pengajaran lisan). Teks-teks dalam kitab-kitab tersebut dibaca keras oleh kiai kepada santrinya yang juga memegang kitab yang sama sambil membuat catatan. Kemudian kiai memberi komentar dan menjelaskan makna-maknanya. Santri kemudian membaca kembali kitab itu sambil diperiksa bacaannya oleh kiai.  

Sejumlah pesantren sudah mulai mengajarkan kitab secara klasikal dan  menerapkan kurikulum yang sudah standar, namun sejumlah pesantren lain tetap menerapkan metode pengajaran kitab seperti disebut di atas. Setelah santri menuntaskan satu kitab biasanya ia akan mendapat ijazah dari kiainya dan bisa belajar kitab yang lain.

Di Indonesia, kitab kuning diterbitkan di antaranya oleh sejumlah penerbit di Surabaya (Salim Nabhan), Kudus (Menara Kudus), Semarang (Al-Munawwarah), Pekalongan (Raja Murah), Cirebon (Misriyya), dan Jakarta (Al-Shafi`iyya dan At-Tahiriyya). Sebagian besar kitab yang diterbitkan oleh penerbit-penerbit tersebut adalah cetak ulang dari kitab asli yang diterbitkan di Mekah, Beirut, atau Kairo. Sebagian masih menampilkan logo dari penerbit asli di halaman depan, namun ada pula yang logonya sudah diganti.

Penerbitan kitab-kitab klasik ini biasanya disertai komentar atau penjelasan yang kadang dicetak di baris tepi atau sebaliknya. Hal  ini memungkinkan keduanya bisa dipelajari bersama sekaligus membuat penyebutan kitab menjadi campur aduk antara kitab yang dikomentari dengan kitab komentar itu sendiri.

Misalnya kitab Taqrib (Al-ghaya wa’l-Taqrib karya Abu Shuja` al-Isfahani) dan komentarnya Fath al-Qarib (karya Ibn Qasim al-Ghazzi) sering dicetak dalam satu kitab, atau sebutan kitab Mahalli merujuk  pada kitab yang ditulis oleh Qalyubi dan `Umayra yang di dalamnya terdapat kitab Kanz ar-Raghibin karya Jalaluddin Muhammad bin Ahmad al-Mahalli  yang dicetak di bagian tepi. Kitab Kanz ar-Raghibin sendiri merupakan komentar (syarah) atas kitab Minhaj at-Talibin, sebuah  kitab fiqih mazhab Syafi’i karya Imam Nawawi.

Dalam hal format, kitab kuning biasanya dicetak dalam ukuran kwarto (26 cm) dan tidak dijilid.  Lembaran-lembarannya terpisah di dalam sampul sehingga memudahkan para santri bisa mengambil salah satu lembar yang akan dipelajarinya. Dengan dicetak dalam kertas yang tetap berwarna kekuningan membuat penampilan kitab karya ulama-ulama klasik itu menjadi semakin tampak klasik. (Sumber: Ensiklopedi NU)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan IMNU, Santri, Pondok Pesantren Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 25 Januari 2018

Makesta NU Banyuwangi untuk Penggerak NU Masa Depan

Banyuwangi, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan?



Koordinator Anak Cabang (Korancab) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama Banyuwangi menggelar Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) di Madrasah Ibtidaiyah Mambaul Huda, Boyolangu, Giri, Banyuwangi Sabtu pagi (24/12) sampai Ahad siang (25/12).

Makesta  NU Banyuwangi untuk Penggerak NU Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)
Makesta NU Banyuwangi untuk Penggerak NU Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)

Makesta NU Banyuwangi untuk Penggerak NU Masa Depan

Para peserta yang hadir merupakan delegasi dari berbagai kecamatan, di antaranya: Licin, Giri, Glagah, Kalipuro, dan Wongsorejo.?

"Hal ini kami lakukan sebagai terobosan maksimalisasi manajemen gerakan dan kaderisasi di setiap Pimpinan Anak Cabang yang masih belum aktif," ujar ketua Koordinator Anak Cabang Hairul Mauli Tamimi.

Menurut Tamimi, Makesta ini juga salah satu langkah mencetak kader-kader muharrik (penggerak) NU masa depan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Tak hanya itu, Haris Budi Utomo perwakilan dari pengurus PC IPNU Banyuwangi berpesan di hadapan kader-kadernya untuk senantiasa tetap meningkatkan prestasi belajar sekolah di samping aktif dalam kegiatan organisasi.

"Tak ada alasan bagi kalian aktif di organisasi menjadikan semangat belajar dan prestasi sekolah kendur. Hal ini sangat tidak kami inginkan. Pasalnya, banyak para pelajar tahun kemarin yang mendapatkan kuliah gratis di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) ternama rekom dari PC IPNU IPPNU Banyuwangi, akibat mereka yang tak surut semangat belajar dan berorganisasi," terang Haris, yang juga sebagai penggawa Departemen Kaderisasi IPNU Banyuwangi.

Dia menambahkan, keuntungan berorganisasi lainnya meningkatkan jaringan sosial kemasyarakatan. Sehingga dengan jalan ini kita dapat membaca peluang-peluang beasiswa kuliah dalam negeri maupun luar negeri.

Dalam pembukaan acara dihadiri oleh perwakilan MWC NU Giri, MWC Kalipuro, PAC Muslimat Giri, PAC Ansor Giri, PAC Fatayat Giri, dan Perwakilan PC IPNU IPPNU Banyuwangi. (M. Sholeh Kurniawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Habib, Santri, Khutbah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 17 Januari 2018

Harlah NU di Tahun 1966

Peringatan hari ulang tahun organisasi menjadi marak baik sebagai bentuk konsolidasi maupun unjuk kekuatan dan sebagainya. Menariknya kemudian masing-masing membakukan istilah sendiri-sendiri NU misalnya menggunakan istilah peringatan Hari Lahir disingkat Harlah.

Istilah Harlah ini menjadi trade mark dan identitas ? NU serta segenap organisasi turunannya, Muslimat, Ansor, IPNU, PMII Fatayat dan sebagainya.

Kemudian PNI menggunakan Istilah Ultah, istilah ini digunakan oleh organisasi onderbow serta tokohnya seperti Ultah Bung Karno, Ultah PDI dan sebagainya. PKI menggunakan istilah HUT. Sementara Masyumi, organisasi Islam modernis serta organisasi organisasi turunannya atau berorientasi sama seperti GPI, HMI termasuk Muhammadiyah dengan segala variannya ? menggunakan istilah Milad.

Harlah NU di Tahun 1966 (Sumber Gambar : Nu Online)
Harlah NU di Tahun 1966 (Sumber Gambar : Nu Online)

Harlah NU di Tahun 1966

Harlah NU yang sangat fenomenal adalah Harlah ke-40 yang diselenggarakan pada 31 Januari 1966 di Gelora Bung Karno yang dihadiri oleh ratusan ribu warga nahdliyin dari seluruh Indonesia. Walaupun stadion tidak muat sehingga hadirin tumpah-ruah di jalanan, tetapi ? suasana tetap tertib.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Padahal saat setelah peristiwa G30S-PKI, tidak ada lagi kekuatan besar yang mampu mengomando rakyat, tetapi NU bisa. Saat itu NU menjadi stabilisator keamanan negara paling utama, bersama tentara, karena PKI sudah tidak berdaya, PNI sudah tercerai berai, sementara Masyumi sudah lama mati.

Harlah ini diketuai oleh seniman besar H Djamaluddin Malik dan H. Usmar Ismail, sehingga suasana dramatis dan teatrikal tercipta, sehingga melahirkan asa baru di tengah keputusasaan sosial politik akibat tragedi yang dipicu PKI. Saat itulah NU mengusulkan pembubaran PKI sebagai dalang bencana.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Hanya NU yang masih mampu mengkomando rakyat dan menjaga ketertiban. Sebagai presiden yang lagi goyah, Bung Karno sangat terkesan oleh kekuatan NU dalam menjaga keamanan Negara. Arena ucapan terima kasih disampaikan kepada Rois Aam NU KH Wahab Chasbullah.

Sebagai rasa terimakasihnya itu ketika KH Saifuddin Zuhri minta tanah, maka Bung Karno memberikan tanah seluas delapan hektar di Tomang Slipi yang hendak digunakan sebagai Islamic Centre-nya NU. Dengan kekuatannya itu pula ketika terjadi pergantian rezim, NU tetap terlibat dalam mengelola negara.

Pelaksanaan Harlah NU dengan menggunakan kalender masihiyah dengan tonggak 31 Januari 1926 sekaligus dikukuhkan dalam istilah "Khittah NU 1926" itu telah diijma’i oleh para muassis NU yang masih hidup saat itu, antara lain KH Wahab Chasbullah, KH Bisri Sansoeri, KH Asnawi Kudus, KH Maksum Lasem dan lain sebagainya.

Karena bagi mereka menjadi NU adalah menjadi Indonesia, maka tidak masalah menggunakan penanggalan yang sudah mentradisi dalam masyarakat Indonesia, dengan tanpa menghilangkan rasa ? hormat pada ? kalender Hijriyah. Terbukti seluruh peringatan hari besar Islam tetap menggunakan kalender Hijriyah dan kalangan NU lah yang paling aktif dalam menyemarakkan hari-hari besar Islam tersebut. (Abdul Mun’im DZ)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Santri, AlaSantri Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 25 Desember 2017

“Negara Ini Mau Jadi Apa, Tergantung Bagaimana Pemudanya”

“Negara Ini Mau Jadi Apa, Tergantung Bagaimana Pemudanya” 

Pemuda sebagai pemegang masa depan menjadi unsur penting, termasuk di dalam organisasi GP Ansor. Untuk itu kaderisasi di kalangan muda merupakan salah satu prioritas program yang digagas kepengurusan GP Ansor masa khidmat 2015-2020. Berikut wawancara Kontributor Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Kendi Setiawan dengan Ketua Umum PP GP Ansor  H Yaqut Cholil Qoumas (Gus Tutut) di Jakarta.

Gus Tutut, berdasarkan data terbaru kader GP Ansor saat ini 1,7 juta. Melihat banyaknya warga NU dan pemuda-pemuda NU, apakah jumlah ini sudah seimbang dan sudah maksimal?

Ini tantangannya, saya membaca survey  jumlah warga NU itu 60 juta. Nah kalau baru 1,7 juta, ini masih kurang banyak. Kita nggak akan berhenti melakukan kaderisasi, karena ini juga menjadi visi kita memperkuat kaderisasi. Kita akan terus-menerus melakukan kaderisasi. 

“Negara Ini Mau Jadi Apa, Tergantung Bagaimana Pemudanya” (Sumber Gambar : Nu Online)
“Negara Ini Mau Jadi Apa, Tergantung Bagaimana Pemudanya” (Sumber Gambar : Nu Online)

“Negara Ini Mau Jadi Apa, Tergantung Bagaimana Pemudanya”

Negara ini mau jadi apa, tergantung bagaimana pemudanya. Presiden Soekarno pernah bilang “Berikan saya sepuluh pemuda, maka akan saya guncang dunia.” Dalam konteks GP Ansor saya kira penting melakukan kaderisasi. Mengapa? Karena GP Ansor ini akan menjadi masa depan NU sekaligus NU masa depan. Jadi kalau Ansor tidak benar dalam melakukan kaderisasi, maka ke depan NU pun tidak akan benar dalam mengelola organisasi dan tentu kepentingan-kepentingannya. 

Kaderisasi ini menjadi sangat penting, karena GP Ansor itu NU masa depan dan masa depan NU. Jadi bentuk NU ke depan itu tergantung bentuk GP Ansor hari ini, saya kira itu.

Sejauh ini upaya apa yang dilakukan untuk mengikat anak muda agar mau bergabung dengan GP Ansor?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Memang menjadi berbeda mengajak sahabat muda di pedesaan itu jauh lebih mudah daripada di perkotaan. Orang kota itu biasanya lebih apatis, tidak peduli, apalagi dengan GP Ansor sebagai organsiasi yang dicitrakan berafiliasi ke NU yang masih dianggap sebagian  orang sebagai organisasi tradisional, dan sebagainya. Tentu kita punya cara bagaimana mengajak pemuda terutama nahdliyin  untuk gabung dengan GP. 

Kalau di desa bikin pengajian tokohnya NU kiai NU kita tampilkan di pengajian, lalu kita ajak pemudanya, pasti mau. Tetapi di kota jauh lebih sulit karena di kota itu lebih banyak apatis. Kita punya beberapa strategi, salah satuya kita gandeng public figure untuk bergabung di GP Ansor. Salah satu daya tarik pemuda kota untuk bergabung. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sebagai contoh di Jakarta misalnya, kita ajak Al dan El putra Ahmad Dani. Mereka (Al dan El) sudah mengikuti kaderisasi PKD (Pelatihan Kader Dasar) sekarang resmi menjadi anggota GP Ansor. Tiap PKD kita tampilkan Al dan El untuk menarik anak muda kota mau bergabung dengan Ansor. Harapan kita ini menjadi salah satu daya tarik selain tentu saja konsistensi dalam mempertahankan NKRI, Pancasila, dan ahlusunnah waljamaah.

Bagaimana upaya menyinergikan GP Ansor dengan banom/lembaga NU yang lain? 

Ya kita akan selalu  jalin komunikasi karena sinergi tidak akan terwujud tanpa adanya komunikasi. Alhamdulillah, selama ini kita juga berkomunikasi dengan baik terutama dengan induk kita, PBNU. Komunikasi dengan banom-banom lain sebisa mungkin kita lakukan, karena kita berharap sinergi organisasi bisa terwujud.

Kalau dengan swasta dan pemerintah seperti apa, Gus?

Dengan pemerintah tentu kita lakukan sinergi-sinergi juga. Banyak ya kita misalnya terkait dengan bela negara kita punya MoU dengan Kementerian Pertahanan, dalam rangka melakukan upaya kegiatan bela negara. Dan pihak sewasta juga kita lakukan selama ada hubungan yang saling menguntungkan bagi kami maupun pihak swasta. Kita tidak menabukan itu. Itu sah-sah saja.

Terkait dengan adanya isu, dan bukan hanya isu tetapi fakta, akhir-akhir ini tentang adanya upaya pihak-pihak yang ingin menggeser Pancasila dari NKRI, apa yang disiapkan GP Ansor ke depan?

Siapa pun yang hidup di Indonesia, yang menghirup udara Indonesia, makan dari bumi Indonesia tetapi tidak menerima ideologi Pancasila, dan bentuk NKRI, harus keluar, pergi Indonesia. Kalau mereka tetap nggak mau, Banser/Ansor siap untuk mengusir mereka.

(Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Santri, Pondok Pesantren Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 10 Desember 2017

BNP2 TKI Harapkan Jadi TKI Bukan Pilihan Pertama

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Kepala Biro Humas Badan Nasional Perlindungan dan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Servulus Bobo Riti berharap, jamaah majelis taklim bisa membantu menjadi agen informasi kepada masyarakat terkait TKI seperti tentang prosedur dan mekanisme menjadi TKI.





BNP2 TKI Harapkan Jadi TKI Bukan Pilihan Pertama (Sumber Gambar : Nu Online)
BNP2 TKI Harapkan Jadi TKI Bukan Pilihan Pertama (Sumber Gambar : Nu Online)

BNP2 TKI Harapkan Jadi TKI Bukan Pilihan Pertama

Hal itu disampaikan di depan jamaah Majelis Ashabul Kahfi dalam kegiatan rutin bulanan Kajian Kitab Kuning dan Zikir Tarekat Syadziliah di masjid An-Nahdhah, di kantor pusat Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), di Jalan Kramat Raya No. 164, Sabtu (19/11).

"TKI non prosedural sering menjadi masalah. Ini perlu diselesaikan secara bersama-sama," katanya, 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pada kesempatan tersebut, mantan ketua KNPI ini juga menyatakan, agar bekerja menjadi TKI di luar negeri bukanlah pilihan pertama.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pilihan pertamanya adalah bekerja di dalam negeri. Menurutnya, lebih baik bekerja di dalam negeri karena bisa membangun negeri sendiri.

"Bagi yang masih menganggur silahkan bekerja di luar negeri tapi itu hanya pilihan ke dua, pilihan pertama tetap bekerja di dalam negeri. Saya lebih senang agar bisa bekerja di dalam negeri menjadi pilihan pertama," papar Servulus.

Dewan guru Mejelis Ashabul Kahfi yang juga Ketua Umum Kiai Muda Indonesia Gus Wahyu NH Aly mengatakan, agar para santri memiliki tekad yang teguh dalam meraih pendidikan formal.

Dikatakan, tidak ada orang mati kelaparan karena kerja untuk menimba ilmu, untuk sekolah setinggi-tingginya. Pendidikan formal membantu membentuk karakter santri lebih tangguh dalam membimbing masyarakat.

"Pesan saya tidak banyak, pendidikan, pendidikan, pendidikan," tegasnya.

Dalam acara tersebut diisi lantunan shalawat yang diiringi hadrah, ceramah umum, kajian kitab Minahus Saniah, dan zikir bersama Tarekat Syadziliah.

Hadir di dalamnya juga di antaranya Kiai Rahmat dari Bekasi, Pengasuh Pesantren Bintang Mazaya Kiai Lukman Nursalim, dan jamaah majlis Ashabul Kahfi yang berada di Jakarta. (Lukman Hakim/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan IMNU, Kajian Sunnah, Santri Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 02 Desember 2017

Iran Hukum Mati Pendiri Syiah Versi New Age

Teheran, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Mohammad Ali Taheri, seorang pendiri aliran baru Islam Syiah ala New Age mendapat vonis hukuman mati dari pengadilan Iran.

Pengacara Taheri, Mahmoud Alizadeh Tabatabaei mengatakan bahwa pengadilan tersebut menghukum kliennya atas dasar tuduhan mendirikan sebuah sekte.

Iran Hukum Mati Pendiri Syiah Versi New Age (Sumber Gambar : Nu Online)
Iran Hukum Mati Pendiri Syiah Versi New Age (Sumber Gambar : Nu Online)

Iran Hukum Mati Pendiri Syiah Versi New Age

Seperti dikutip dari AP, pengacara tersebut mengaku pihaknya akan mengajukan banding dalam waktu 20 hari.

Pada tahun 2014, Taheri juga mendapat vonis hukuman mati atas tuduhan serupa namun pengadilan banding kemudian menolak putusan tersebut. Pria 61 tahun itu telah dipenjara sejak 2011, saat sebuah pengadilan memvonisnya lima tahun penjara karena kasus penodaan agama.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dalam beberapa pekan belakangan ini, pihak berwenang dilaporkan sudah menahan puluhan pengikut Taheri.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Taheri juga telah melakukan penelitian tentang pengobatan alternatif. Pemimpin Iran menganggap keyakinan New Age sebagai ancaman terhadap prinsip-prinsip Islam. (Red: Mahbib)Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Santri, Ahlussunnah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 18 November 2017

Paham Kebangsaan Penting untuk Tangkal Radikalisme dan Intoleransi

Bandung, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Kurangnya paham kebangsaan bisa menimbulkan sikap intoleransi dan radikalisme. Hal ini dikatakan oleh Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jawa Barat Asep Irfan Mujahid di Sekretariat PW IPNU Jawa Barat di Jl Terusan Galunggung Bandung, Ahad (15/10).

Paham Kebangsaan Penting untuk Tangkal Radikalisme dan Intoleransi (Sumber Gambar : Nu Online)
Paham Kebangsaan Penting untuk Tangkal Radikalisme dan Intoleransi (Sumber Gambar : Nu Online)

Paham Kebangsaan Penting untuk Tangkal Radikalisme dan Intoleransi

Asep menerangkan, momentum hari Toleransi harus dijadikan titik tolak dimana pemahaman toleransi secara simultan bisa tersampaikan kepada semua pihak. Karena pentingnya nilai toleransi adalah jaminan keberlangsungan keberagaman yang merawat humanisme.

Pemuda Ciamis ini meneruskan, ada fenomena khusus yang terjadi sekarang ini karena rendahnya pemahaman nilai toleransi, yaitu merebaknya bibit gerakan radikal di kalangan pelajar. Ini menjadi keprihatinan kita bersama. Mengeliminir hal ini salah satunya dengan mendorong internalisasi nilai toleransi di kalangan pelajar.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Saat ini fakta bahwa anak muda sangat rentan dengan penetrasi radikalisme karena anak muda atau pelajar memiliki kecenderungan untuk menginternalisasi pandangan-pandangan radikalis yang di penetrasi oleh lingkungan terdekatnya,” jelasnya.

Temuan ini, tambahnya, tentu pada tingkat tertentu memerlukan penyikapan. Terlebih kesadaran keagamaan khususnya kesadaran keislaman yang tidak diimbangi dengan kesadaran kewarganegaraan yang memadai akan menjadi titik rawan bagi masuknya kelompok garis keras yang akan mentransformasikannya menjadi kekuatan Islam yang destruktif, intoleran dan membungkam keragaman.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Untuk itu, solusinya harus ada upaya kampanye toleransi dengan cara kreatif dengan melibatkan pelajar dan anak muda untuk menyampaikan toleransi dan pesan-pesan damai. Dan pesan toleransi ini dikemas dengan cara yang popular karena para pemuda itu suka yang agak popular,” terangnya. (Husni Mubarok/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Santri, RMI NU Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Cara RSI Siti Hajar Sidoarjo Membangun Mental Karyawannya

Sidoarjo, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Untuk membangun mental para karyawannya agar menjadi orang yang beriman, Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Hajar Sidoarjo, Jawa Timur rutin mengadakan pengajian. Pengajian tersebut digelar di masjid Siti Hajar setiap hari Sabtu.

Kepala marketing RSI Siti Hajar Sidoarjo, Riza Ahmadi menjelaskan, selama Ramadhan, pengajian tersebut diadakan setiap hari Sabtu badha Dhuhur, sedangkan di luar Ramadhan diadakan setiap hari Sabtu pukul 09.00 WIB.

Cara RSI Siti Hajar Sidoarjo Membangun Mental Karyawannya (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara RSI Siti Hajar Sidoarjo Membangun Mental Karyawannya (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara RSI Siti Hajar Sidoarjo Membangun Mental Karyawannya

Menurutnya, pengajian itu merupakan revolusi mental. Dengan diadakan pengajian diharapkan agar karyawan RSI Siti Hajar selama bekerja mempunyai bekal ilmu agama.

"Selain mempunyai ilmu di bidang medis, karyawan harus diiringi dengan doa dan iman. Sehingga antara ilmu dan iman saling bersinergi. Tidak hanya ikhtiar lahir, tapi ikhtiar batin juga dilaksanakan," kata Riza, Sabtu (3/7).

Riza menambahkan, selain mengirimkan karyawannya ke acara atau pelatihan-pelatihan medis, pihaknya sengaja memberikan siraman rohani untuk mempertebal iman para karyawan Rumah Sakit NU ini.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ia menyebutkan, kitab yang dikaji terdiri dari kitab Nashoikul Ibad, Al-Ibris dan Sulam Taufiq. Penceramah nya dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Sidoarjo. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Santri, Daerah, Doa Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 29 Oktober 2017

Sahnya Menikahi Perempuan Agama Lain

Dalam Al-Qur’an telah dijelaskan bahwa seorang muslim diperbolehkan menikahi perempuan merdeka dari kalangan ahli kitab. Pernikahan itu dianggap sah secara syariat.  Sebagaimana termaktub dalam surat al-Maidah ayat 5:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi al-Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (Dan dihalalkan mangasyahwini) wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan diantara orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu.“ 

Sahnya Menikahi Perempuan Agama Lain (Sumber Gambar : Nu Online)
Sahnya Menikahi Perempuan Agama Lain (Sumber Gambar : Nu Online)

Sahnya Menikahi Perempuan Agama Lain

Akan tetapi di zaman yang sudah mengglobal ini batasan antara ahlil kitab dan yang bukan ahlil perlu ditegaskan kembali. Karena kecenderungan bertasahul atau menggampangkan segala urusan di zaman globalisasi ini dianggap sebagai kewajaran. Hal ini cukup menghawatirkan apalagi jika berhubungan dengan masalah pernikahan. Karena panjangnya konsekwensi dari sebuah pernikahan mulai dari status pernikahan, status anak dan hak waris.

Dalam konteks ini maka hal yang perlu ditegaskan adalah siapakah perempuan merdeka ahlul kitab yang boleh dinikah oleh seorang muslim? tentang hal ini Imam Syafii dalam Al-Umm juz V menjelaskan:

? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?  

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Abdul Majid dari Juraid menerangkan kepada kami bahwa Atha’ pernah berkata bahwa orang-orang Nasrani dari orang Arab bukanlah tergolong ahlil kitab. Karena yang termasuk ahlil kitab adalah Bani Israi dan mereka yang kedatangan Taurat dan Injil, adapun mereka yang baru masuk ke agama tersebut, tidak dapat digolongkan sebagai Ahlil kitab.

Dengan demikian, orang-orang Indonesia yang beragama lain sepert Kristen, Hindu, Budha, Kepercayaan, dan lain sebagainya tidak bisa digolongkan ke dalam ahlul kitab sebagaimana dimaksudkan dengan al-Qur’an. Apalagi jika ada perubahan dalam kitab-kitab mereka seperti yang diturunkan kepada Musa as dan Isa as.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Hal ini berbeda dengan kasus para sahabat yang tercatat sejarah menikahi perempuan ahlul kitab, seperti Sayyidina Hudzaifah pernah menikahi perempuan Yahudi ahlil madain, dan Sayyidina Utsmanpun pernah menikah dengan Nailah bintul Farafisha, perempuan asal Nazaret di Palestina. Karena perempuan-perempuan tersebut memang benar-benar ahlil kitab yang dimaksudkan di al-Qur’an.

Untuk itulah perlu ditekankan di sini pendapat ulama yang menyatakan tidak orisinalnya kitab injil dan taurat yang ada di zaman sekarang yang sekaligus menggugurkan perempuan-perempuannya sebagai ahlil kitab. Sebagaimana keterangan dalam Al-Jawahirul Kalamiyyah fi Idhahil Aqidatil Islamiyyah: 

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Para ulama terkemuka meyakini sesungguhnya Kitab Taurat yang ada sekarang telah terjadi perubahan-perubahan. Diantara perubahan itu adalah tidak adanya keterangan tentang surga, neraka, kebangkitan dari kubur, pengumpulan manusia dan pembalasan. Padahal masalah tersebut merupakan hal penting dalam kitab-kitab ketuhanan. Disamping itu perubahan dalam taurat juga terlihat dengan adanya kabar tentang wafatnya Nabi Musa as pada akhir bab. Padahal taurat sendiri diturunkan untuk Nabi Musa as.

Demikianlah hujjah para ulama mengenai ketidak otentikan Taurat. Sebagaimana akan diterangkan pula tentang ketidak otentikan injil yang ada sekarang. Sehingga mereka yang memegang kedua kitab ini tidak dapat lagi digolongkan sebagai ahlul kitab. Sebagaimana kelanjutan keterangan di atas dalam Al-Jawahirul Kalamiyyah fi Idhahil Aqidatil Islamiyyah:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Para ulama terkemuka meyakini bahwa Injil yang ada sekarang terdiri dari empat naskah hasil karangan empat orang yang sebagian mereka belum pernah melihat Nabi Isa sama sekali. Keempat orang tersebut adalah Matta, Markus, Lukas dan Johanus. (anehnya) Isi keempat naskah ini bertentangan antara satu dan lainnya. Sesungguhnya orang Nasrani memiliki banyak naskah Injil selain keempat ini, tetapi setelah hampir lebih dua ratus tahun diangkatnya Nabi Isa as. ke langit mereka memutuskan untuk menghapus semua naskah kitab yang ada kecuali empat tersebut. Hal ini dilakukan untuk menghindarkan dari perbedaan da perselisihan yang timbul dari perbedaan isi itu.

Dari beberapa keterangan yang ada maka seorang muslim tidak bisa menikahi perempuan agama lain di negeri ini (kristen, katolik, hindu, budha, dll) karena mereka bukan tergolong perempuan ahlil kitab. Kecuali apabila perempuan itu terlebih dahulu menyatakan diri masuk ke dalam agama Islam dengan membaca dua syahadat. (ulil H)

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Nasional, Hikmah, Santri Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 22 Oktober 2017

MTs Ma’arif Fajaresuk Luncurkan Program Tahfidz Juz Amma

Pringsewu, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Dalam rangka membekali para peserta didik dengan kemampuan dibidang Ilmu Al Quran, MTs Maarif Fajaresuk sudah mencanangkan Program Tahfidz Juz Amma. Ditemui di Kantornya, Rabu (19/08) Kepala MTs Maarif Fajaresuk H Auladi Rosyad, SAg mengatakan bahwa program ini sudah dilaksanakan sejak awal didirikannya MTs Ma’arif Fajaresuk.

Rosyad mentargetkan seluruh siswa dan siswi akan hafal juz Amma setelah lulus dari MTs Ma’arif. " Tahun Pelajaran ini, Kami sudah menerbitkan buku laporan hasil hafalan yang didistribusikan kepada siswa yang berfungsi sebagai alat kontrol perkembangan hafalan siswa " terangnya.

MTs Ma’arif Fajaresuk Luncurkan Program Tahfidz Juz Amma (Sumber Gambar : Nu Online)
MTs Ma’arif Fajaresuk Luncurkan Program Tahfidz Juz Amma (Sumber Gambar : Nu Online)

MTs Ma’arif Fajaresuk Luncurkan Program Tahfidz Juz Amma

Rosyad menambahkan bahwa masing masing kelas memiliki target hafalan yang berbeda-beda berdasarkan pembagian juz amma. "Kami bagi surat surat yang ada di juz amma menjadi 3 bagian yang akan di hafalkan oleh masing masing kelas," terangnya. Menurutnya, ini program ini diluar jam pelajaran Al Quran yang memang sudah merupakan Mata Pelajaran wajib di MTs Fajaresuk.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Salah satu guru MTs Ma’arif Fajaresuk Reza Zarkasyi, SPdI sangat mendukung program ini dan sangat antusias jika para peserta didik menyetorkan hasil hafalan mereka. "Kami sangat senang, anak anak juga memiliki kesemangatan yang tinggi dalam menyetorkan hasil hafalan. Kami yakin program ini akan sangat bermanfaat bagi mereka sekarang dan dikemudian hari," ujarnya.

Sementara itu waka Kurikulum MTs Ma’arif Fajaresuk Indra Pramayoga, SPd mengatakan berbagai macam program sudah dicanangkan MTs Ma’arif Fajaresuk sejak berdirinya pada 3 tahun lalu sebagai cara untuk meningkatkan kualitas peserta didik. Dengan program program nyata ini MTs Ma’arif Fajaresuk dapat berkembang pesat. Barometer perkembangan ini bisa dilihat dari jumlah Peserta didik yang dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan yang signifikan. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Halaqoh, Santri, Kyai Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 21 Oktober 2017

Habib Luthfi, Nasionalisme, dan Kharismanya di Hadapan Ulama Dunia

Oleh Much. Ngisom Cholil



Hajatan besar Jamiyyah Ahlit Thariqah Al Mutabarah An Nahdliyyah (JATMAN) berupa Konferensi Ulama Internasional bela negara baru saja usai digelar. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari dari tangga 27 hingga 29 Juli 2016 di Kota Pekalongan berjalan sangat sukses, setidaknya dari segi pelaksanaan mulai kegiatan penunjang seperti pawai merah putih, pentas musik Debu, taaruf peserta yang dihadiri Kemenhan RI hingga istighotsah semuanya berjalan dengan lancar.

Habib Luthfi, Nasionalisme, dan Kharismanya di Hadapan Ulama Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfi, Nasionalisme, dan Kharismanya di Hadapan Ulama Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Luthfi, Nasionalisme, dan Kharismanya di Hadapan Ulama Dunia

Sedangkan kegiatan utama berupa konferensi bela negara diikuti oleh ribuan peserta dari dalam dan luar negeri. Dari dalam negeri sendiri tercatat ada 1500 peserta hadir dari utusan pengurus thariqah cabang dan wilayah se Indonesia, akademisi, pesantren dan pengurus NU, kemudian dari luar negeri ada 69 delegasi dari 40 negara.

Tidak hanya itu, forum konferensi ulama internasional juga berhasil merumuskan 15 konsensus atau kesepakatan tentang bela negara yang dibuat oleh para pembicara/nara sumber dan delegasi luar negeri sebagai rekomendasi resmi untuk ditujukan kepada pimpinan pemerintahan Indonesia dan negara asal delegasi. (Baca: Ini 15 Konsensus Hasil Konferensi Ulama Internasional Bela Negara)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ada satu hal yang menarik dalam proses perumusan konsensus, yakni jika selama ini perumusan konsensus atau kesepakatan bersama biasanya dibuat oleh Steering Committee (SC) atau tim perumus yan telah ditetapkan oleh panitia, kali ini justru pihak panitia sama sekali tidak "cawe-cawe" dalam pembuatan perumusan, semuanya diserahkan kepada delegasi asal luar negeri yang sebagian dari mereka menjadi pembicara dalam konferensi. Maka tidak heran ketika naskah perumusan dibacakan oleh Syech Mohammad Adnan Al Afyuni asal Damaskus masih asli tulisan berbahasa arab dan panitia maupun wartawan belum dapat kopiannya hingga acara pembacaan selesai.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari keseluruhan poin konsensus, Syekh Muhammad Rajab Dieb (Mursyid Thariqah Naqsabandiyah di Syiria) dalam pidato penutupan konferensi mengambil benang merah bahwa negara merupakan sebuah wilayah yang ditempati seluruh manusia dengan beragam keyakinan, suku, bangsa, bahasa dan lain-lain sehingga wajib dijaga oleh setiap individu dalam rangka menciptakan kesatuan, persatuan, dan perdamaian. “Untuk tujuan mulia itu, setiap individu atau kelompok yang tentunya mempunyai agama wajib menjaga dan membela tanah air atau negaranya. Dengan kata lain, membela negara merupakan kewajiban agama,” tegas Syekh Muhammad Rajab Dieb.

Syekh Muhammad juga menyampaikan, bangsa Indonesia harus bergembira bahwa negaranya merupakan referensi dunia jika berbicara tentang kecintaan pada tanah air. Oleh karena itu, ulama thariqah dunia yang terinspirasi oleh bangsa dan negara Indonesia menyepakati kewajiban membela negara yang harus dilakukan oleh setiap warganya.

Kewajiban membela negara juga disampaikan oleh Mursyid Thariqah dunia Habib Luthfi bin Yahya ketika berpidato dalam acara penutupan konferensi di tempat yang sama. Rais Aam Idarah Aliyah JATMAN ini mampu membakar semangat ribuan masyarakat yang hadir saat itu ketika membacakan Ikrar Bela Negara.

"Wahai bangsaku, relakah negeri kita ini terpecah belah? Jika tidak, ikuti kata-kata saya, bismillaahirrahmaanirrahiim, asyhadu ala ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah, radhiina billahi robba, wa bil islami dina, wa bi muhmmadin nabiyya wa rasula. Kami berikrar: BELA NEGARA ADALAH WAJIB, BELA NEGARA ADALAH WAJIB, BELA NEGARA ADALAH WAJIB," tegas Habib Luthfi serempak diikuti ribuan masyarakat yang hadir. Dikatakannya, ikrar ini tentu disampaikan kepada seluruh bangsa Indonesia.

Sukses gelaran acara bertaraf internasional baik pelaksanaan maupun hasil yang dicapai, tidak lepas dari sosok ulama kharismatik asal Pekalongan Jawa Tengah yang telah mendunia. Beliau adalah Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya. Tamu-tamu asal luar negeri yang di negaranya menyandang gelar mufti besar atau mursyid thariqah pun selalu menaruh hormat dan tadzim kepada sosok yang sangat dekat dengan umat di segala lapisan ini.

Meski telah dinobatkan sebagai pimpinan thariqah mutabarah tingkat dunia, Rais Aam Idarah Aliyah Jatman selama tiga periode berturut-turut, menggelar pengajian rutin setiap Selasa malam, Rabu pagi maupun setiap Jumat Kliwon. Belum lagi berbagai aktivitas lainnya, membuat rumahnya di Jalan dr Wahidin Noyontaan Gang 7 tak pernah sepi dari tamu yang datang dari berbagai losok tanah air.? ? ?

Seabrek jabatan yang diembannya, tak membuat Habib Luthfi merasa capek dan merasa berat memikul amanah. Saat ini saja Habib Luthfi Bin Ali Yahya dipercaya menjabat sebagai Ketua Umum MUI Kota Pekalongan untuk yang kedua kalinya dan pernah sebagai Ketua Umum MUI Jawa Tengah. Di samping? beliau seorang Mursyid Thariqah Syadzaliyah, juga sebagai Rais Aam dari Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al Mu’tabaroh An Nahdliyyah hasil Muktamar Thariqah ke-9 dan ke-10 yang digelar di Kota Pekalongan, serta ke-11 digelar di Kota Malang, Jawa Timur.

Bahkan tak jarang di antara mereka menyempatkan bertemu secara khusus di kediamannya meski harus antre berjam-jam untuk sekadar berkonsultasi problematika kehidupan sehari hari. Maka rumah mewah di belakang komplek Kanzus Sholawat yang cukup luas pun tak mampu menampung tamu-tamu Habib? yang datang silih berganti selama 24 jam. Itulah gambaran aktivitas rutin sehari hari Habib Luthfi bin Ali bin Yahya, seorang ulama besar yang lahir, dibesarkan dan hidup di Kota Pekalongan.

Berbincang-bincang dengan Abu Muhammad Bahaudin Muhammad Luthfi bin Ali Bin Hasyim bin Umar Bin Toha bin Yahya, nama lengkap dari Habib Muhammad Luthfi bin Ali Yahya, sangat mengasyikkan, terutama persoalan kethariqahan. Menurutnya, sejak kepengurusan Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al? Mu’tabaroh An Nahdliyyah dia pegang sudah banyak kemajuan dibanding kepengurusan periode sebelumnya. Hingga saat ini saja telah terbentuk kepengurusan tingkat wilayah sebanyak 34 Pengurus Idarah Wustha, kemudian tingkat cabang sebanyak 350 lebih Pengurus Idarah Syu’biyah.

Perkembangan yang cukup pesat ini sungguh sangat menggembirakan, ujar Habib. Pasalnya hampir seluruh thariqah berjalan dengan baik, seperti Syadzaliyah, Kholidiyah, Naqsabandiyah, Syatariyah, Qadiriyah, Tijaniyah dan lain lain. Indikator lainnya ialah banyaknya kaum muda yang mulai aktif sebagai pengikut thariqah, “Padahal mereka sebelumnya kenal saja tidak apalagi menjadi pengikut, sehingga kesan bahwa thariqah hanya dapat diikuti oleh sekelompok manusia usia lanjut mulai terkikis”.

“Yang mesti dipahami ialah bahwa thariqah bukan alat berpolitik dan bukan untuk berpolitik, akan tetapi semata mata untuk mendidik kehidupan manusia agar berdekatan dengan Allah dan Rasul-Nya dan yang terpenting ialah meningkatkan kesadaran sebagai manusia apa kewajibannya sebagai hamba kepada Tuhan dan Rasul-Nya juga sesama manusia”, ujar suami dari Syarifah Salmah Binti Hasyim Bin Yahya. “Sekarang ini perkembangan thariqah di kalangan anak anak muda cukup menggembirakan, seperti yang saya hadapi di Pekalongan ini, justru yang paling banyak masuk thariqah dari anak anak muda”, ujarnya.

Bela negara yang menjadi tema Konferensi Ulama Internasional, menurut Abah panggilan Habib Luthfi sengaja dimunculkan menjadi tema sentral dalam perhelatan yang digelar Jatman. Mengingat bela negara selalu dimaknai dengan angkat senjata atau berperang. Padahal bela negara memiliki makna luas, yakni dengan ikut mengisi dan ikut membangun negeri ini.

“Jangan diartikan sempit, hanya sekadar angkat senjata saja. Bela negara bisa dimaknai dengan ikut mengisi dan ikut membangun negeri ini,” ucapnya. Tidak diragukan lagi bahwa yang berpayah-payah merebut kemerdekaan Indonesia adalah para ulama. Maka, sudah seharusnya ulama yang ikut bertanggungjawab mempertahankannya.

Habib Luthfi menyebut kolaborasi ulama dengan TNI adalah keharusan. Ini faktor penting pertahanan negeri. Di Indonesia TNI dan Polri menyatu dengan masyarakat dan terjun ke bawah. “Semoga di belahan dunia Islam lainnya demikian pula. Jika ulama dengan pemerintah bekerja sama secara baik akan memperkuat dan memperkokoh kemajuan bangsa,” pesannya. Bendera merah putih yang dimiliki bangsa ini tanpa huruf, hanya warna saja. Karena ini milik semua bangsa Indonesia. “Di dalam merah putih itu ada wibawa, ada kehormatan bangsa di situ, maka kita pun hormat kepadanya, kepada sang saka merah putih,” tegasnya.

Habib Luthfi mengaku salut dan kagum melihat apa yang terjadi dalam Konferensi Ulama Internasional tersebut. Di mana dia melihat unsur pemerintah, ulama, TNI, Polri dan masyarakat bisa hadir bersama dan bersatu padu menunjukkan kekuatan yang luar biasa. Puluhan ulama yang hadir dari berbagai negara, juga telah diikat oleh Islam sehingga bersedia hadir ke acara tersebut.

“Kalau di setiap negara bisa seperti ini, pemerintah, ulama TNI dan Polri bisa bersatu dan mau turun ke bawah ini bisa menjadi awal perdamaian dunia. Seluruh bangsa bisa melahirkan kedamaian. Untuk itu melalui niat baik ini, kami ingin mengajak dan menarik kepedulian kita semua untuk bersama menciptakan kedamaian di dunia karena tantangan bangsa semakin jauh akan semakin besar,” ucapnya.

Menurut KH. Zakaria Ansor Wakil Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan yang juga orang dekat Habib menjelaskan, banyak sudah prestasi yang ditorehkan Habib Luthfi selama menjadi pimpinan salah satu Badan Otonom NU, antara lain berhasil menata organisasi thariqah dari Sabang sampai Merauke, seperti perkembangan thariqah di Sumatera Utara dan Sulawesi sangat menggembirakan, bahkan beberapa waktu yang lalu dari Papua minta dikirimi buku-buku tentang? thariqah. Kemudian Habib juga berhasil menertibkan silsilah sanad thariqah, di samping itu juga berhasil menebas fanatisme thariqah yang berdampak kepada pengerdilan thariqah-thariqah yang lain dan yang lebih penting ialah kegiatan thariqah menjadi lebih terbuka, sehingga banyak kaum muda yang berminat.

Habib Muhammad Luthfi bin Yahya dilahirkan di Pekalongan pada hari Senin, pagi tanggal 27 Rajab tahun 1367 H. Bertepatan tanggal 10 November, tahun 1947 M. Dilahirkan dari seorang syarifah, yang memiliki nama dan nasab: sayidah alKarimah as Syarifah Nur binti Sayid Muhsin bin Sayid Salim bin

Sayid al Imam Shalih bin Sayid Muhsin bin Sayid Hasan bin Sasyid Imam ‘Alawi bin Sayid al Imam Muhammad bin al Imam ‘Alawi bin Imam al Kabir Sayid Abdullah bin Imam Salim bin Imam Muhammad bin Sayid Sahal bin Imam Abd Rahman Maula Dawileh bin Imam ‘Ali bin Imam ‘Alawi bin Sayidina Imam? al Faqih al Muqadam bin ‘Ali Baalawi.

Sementara nasab beliau dari jalur ayah: Rasulullah Muhammad Saw — Sayyidatina Fathimah Azzahro+Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib–Imam Husein ash-Sibth — Imam Ali Zainal Abidin — Imam Muhammad al-Baqir–Imam Ja’far Shadiq — Imam Ali al-Uraidhi Imam Muhammad an-Naqib — Imam Isa An-Naqib ar-Rumi — Imam Ahmad Al-Muhajir — Imam Ubaidullah — Imam Alwy Ba’Alawy — Imam Muhammad — Imam Alwy — Imam Ali Khali Qasam — Imam Muhammad Shahib Marbath — Imam Ali — Imam Al-Faqih al-Muqaddam Muhammd Ba’Alawy — Imam Alwy al-Ghuyyur — Imam Ali Maula Darrak — Imam Muhammad Maulad Dawileh — Imam Alwy an-Nasiq — Al-Habib Ali — Al-Habib Alwy —

Habib Hasan– Imam Yahya Ba’Alawy — Habib Ahmad — Habib Syekh — Habib Muhammad — abib Thoha — Habib Muhammad al-Qodhi — Habib Thoha — Habib Hasan — Habib Thoha — Habib Umar — Habib Hasyim — Habib Ali — Habib Muhammad Luthfi.

Masa Pendidikan

Pendidikan pertama Maulana Habib Luthfi diterima dari ayahanda Habib al Hafidz ‘Ali al Ghalib. Selanjutnya beliau belajar di Madrasah Salafiah. Guru-guru beliau di Madrasah itu diantaranya: Sayid Ahmad bin ‘Ali bin al Qutb As Sayid ‘Ahmad bin Abdullah bin Thalib al Athas Sayid? Habib Husain bin Sayid Hasyim bin Sayid Umar bin Sayid Thaha bin Yahya (paman beliau sendiri) Sayid Abu Bakar bin Abdullah bin ‘Alawi bin Abdullah bin Muhammad al ‘Athas Bâ ‘Alawi Sayid Muhammad bin Husain bin Ahmad bin Abdullah bin Thalib al ‘Athas Bâ ‘Alawi. Beliau belajar di madrasah tersebut selama tiga tahun.

Selanjutnya pada tahun 1959 M, Habib Luthfi melanjutkan studinya ke pondok pesantren Benda Kerep, Cirebon. Kemudian Indramayu, Purwokerto dan Tegal. Setelah itu beliau melaksanakan ibadah haji serta menziarahi datuknya Rasulullah Saw., disamping menimba ilmu dari ulama dua tanah Haram; Mekah-Madinah. Beliau menerima ilmu syari’ah, thariqah dan tasawuf dari para ulama-ulama besar, wali-wali Allah yang utama, guru-guru yang penguasaan ilmunya tidak diragukan lagi. Dari Guru-guru tersebut beliau mendapat ijazah Khas (khusus) dan juga ‘Am (umum) dalam Da’wah dan nasyru syari’ah (menyebarkan syari’ah), thariqah, tasawuf, kitab-kitab hadits, tafsir, sanad, riwayat, dirayat, nahwu, kitab-kitab tauhid, tashwuf, bacaan-bacaan aurad, hizib-hizib, kitab-kitab shalawat, kitab thariqah,? sanad-sanadnya, nasab, kitab-kitab kedokteran. Dan beliau juga mendapat ijazah untuk membai’at.

Habib Luthfi tidak saja menjadi idola masyarakat Pekalongan dan sekitarnya. Setiap menjelang Pilpres misalnya, Habib Luthfi kebanjiran tamu istimewa. Disebut istimewa pasalnya tamu-tamu yang menyempatkan hadir di rumah Habib Luthfi adalah para calon presiden maupun wakil presiden. Sebut saja Capres Wiranto, Susilo Bambang Yudhoyono, Amin Rais, Puan Maharani (Putri Megawati), Hamzah Haz, Prabowo. Sedangkan cawapresnya Sholahudin Wahid dan Hasyim Muzadi. Dari semua yang hadir, rata rata mereka selalu berdalih hanya silaturrahmi biasa, tidak ada misi khusus berkaitan dengan kunjungannya. Akan tetapi aktifitas mereka selalu dibaca sebagai upaya untuk mohon do’a restu dan minta dukungan, apalagi di antara mereka ada yang berbicara empat mata dengan Habib, sehingga? mereka bisa diduga kehadirannya untuk keperluan pemilu yang baru saja digelar.

Tamu Habib memang datang dari berbagai kalangan, mulai dari pejabat pemerintah, anggota dewan, pengusaha, seniman, artis hingga rakyat jelata. Dengan tekun Habib Luthfi mendengarkan satu persatu? permasalahannya, kemudian beliau memberikan solusi sehingga mereka pun pulang dengan perasaan puas. Hal ini diakui mantan Wakil Wali Kota Pekalongan yang juga mantan Ketua PCNU Kota Pekalongan H. Abu Almafachir juga santri Habib Luthfi. Selama 40 tahun sebagai santrinya, ada satu hal yang sangat dikaguminya, yaitu dalam hal stamina. Beliau kuat duduk berjam-jam untuk sekadar ngobrol dengan para tamunya, meski tamunya itu tidak beliau kenal, ujarnya. “Abah fisiknya luar biasa, jarang sakit? meski aktifitasnya cukup tinggi, padahal makan saja tidak teratur”.

Disamping itu, Habib Luthfi tidak pernah membeda bedakan asal muasal tamu. Sehingga ratusan tamu yang datang kediamannya setiap hari, selalu dilayani dengan sabar dan penuh kesungguhan. Kadang mereka harus menunggu berhari hari jika Abah sedang berada di luar kota, ujar H. Fachir selalu memanggil Abah kepada Habib Luthfi.

Pernah suatu ketika, seorang bekas gali (geng pencuri) datang untuk bertobat dan minta diakui sebagai santrinya Habib, tanpa banyak pertanyaan, habib langsung membaiat gali tersebut dan kemudian diterima sebagai santrinya untuk menjadi salah satu murid thariqah.

Penulis adalah Ketua PC LTN NU Kota Pekalongan dan kontributor Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan tinggal di Kota Pekalongan Jawa Tengah



Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Santri, Pondok Pesantren, Ulama Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 15 Oktober 2017

Giatkan Kembali Tiga Pilar Utama NU

Probolinggo, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. A’wan PWNU Jawa Timur H Hasan Aminuddin meminta agar Nahdlatul Tujjar (Gerakan Ekonomi), Nahdlatul Ilmiah (Gerakan Keilmuan) dan Nahdlatul Wathon (Gerakan Kebangsaan) harus kembali digiatkan di dalam tubuh organisasi Nahdlatul Ulama (NU).?

Giatkan Kembali Tiga Pilar Utama NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Giatkan Kembali Tiga Pilar Utama NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Giatkan Kembali Tiga Pilar Utama NU

Hal tersebut disampaikan Hasan Aminuddin ketika menghadiri halal bihalal sekaligus pelantikan pengurus Majelis Wakil Cabang Nadhaltul Ulama (MWCNU) Kecamatan Krucil Kabupaten Probolinggo, Selasa (1/8) siang.

Menurut Hasan, NU sebagai mitra kerja pemerintah haruslah proaktif dan ikut andil dalam menyelesaikan masalah. Selain sebagai penjamin moral bangsa, ada tiga pilar utama dalam NU yang harus digiatkan kembali. Yakni, Nahdlatul Tujjar (Gerakan Ekonomi), Nahdlatul Ilmiah (Gerakan Keilmuan) dan Nahdlatul Wathon (Gerakan Kebangsaan).

“Pahami alam dan kondisinya ini, pelajari ilmu yang sesuai dengan alam ini, ? kemudian gunakan ilmu tersebut agar dapat mengolah dan memanfaatkan segala kekayaan alam disini secara maksimal. Jadilah pemain di daerah sendiri jangan menunggu orang luar,” katanya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Menurut Hasan, gerakan ekonomi harus ditunjang dengan pemahaman dan penguasaan berbagai disiplin keilmuan yang relevan dengan kondisi geografis, terutama di Kecamatan Krucil.?

“Ilmu kehutanan, teknik perkebunan dan agrikultural adalah ilmu yang juga harus dikuasai para generasi muda,” jelasnya.?

Kepada para pengasuh pondok pesantren Hasan menghimbau agar membekali santrinya dengan ilmu dan keterampilan, selain ilmu agama yang sedang mereka dalami.?

“Tambahkan ilmu kewiraswastaan yang bermanfaat pada santri. Adakan diklat dan kursus berbagai macam keterampilan. Karena ilmu tersebut kelak akan sangat bermanfaat,” tegasnya.

Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah jajaran pengurus PCNU Kota Kraksaan dan MWCNU Kecamatan Krucil, baik dari pengurus lembaga maupun badan otonom (banom). Tidak ketinggalan pula sejumlah tokoh agama dan tokoh masyarakat di Kecamatan Krucil. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pesantren, Fragmen, Santri Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 08 September 2017

ISNU: Harga BBM/BBG Harus Sesuai Daya Beli Masyarakat

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Ketua Umum PP Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) meminta pemerintah menetapkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Bahan Bakar Gas (BBG) dengan mempertimbangkan daya beli masyarakat. ? Menurutnya, percuma membuat dua harga, yaitu harga subsidi dan harga komersial jika daya beli tidak meningkat.

Pernyataan ini disampaikan dalam Diskusi Panel Ahli PP ISNU bertema LPG Naik, Salah Siapa? Di gedung PBNU, Selasa (14/1) yang juga dihadiri oleh Ali Mundakir (VP Corporate Communication Pertamina), Said Didu (mantan Sekretaris Menteri BUMN), dan Darmawan Prajodjo (pengamat energi).

ISNU: Harga BBM/BBG Harus Sesuai Daya Beli Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
ISNU: Harga BBM/BBG Harus Sesuai Daya Beli Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

ISNU: Harga BBM/BBG Harus Sesuai Daya Beli Masyarakat

Sebelumnya, Pertamina menaikkan harga jual LPG non subsidi tabung 12 kg sebesar 68 persen atau 3.959 per kg, yang kemudian di protes masyarakat sehingga diturunkan lagi kenaikannya hanya 1.000 per kg.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ia menjelaskan, rakyat tetap akan kembali ke harga yang lebih murah sesuai dengan kemampuan daya beli. Dengan kata lain, potensi migrasi ke tabung elpiji 3 kg sangat besar jika harga jual non-subsidi sepenuhnya dilepaskan ke mekanisme pasar. Ujungnya subsidi meningkat.

Ia meminta agar UU Migas yang menjadi tonggak liberalisasi industri migas nasional dirombak. Dalam UU tersebut, fungsi Pertamina tidak lagi mengemban tanggung jawab pelayanan publik. Pertamina juga tidak boleh sepenuhnya komersial sesuai dengan UU tersebut karena BUMN ini istimewa dibandingkan dengan BUMN lain, yaitu menangani barang publik yang strategis karena migas bukan hanya penting bagi negara, tetapi juga menguasai hajat hidup orang banyak.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Terlalu berisiko melepaskan ke mekanisme pasar dengan ? kalkulasi bisnis komersial biasa bagi BUMN yang menangani komoditas yang strategis. Menggunakan kalkulasi bisnis biasa terbukti tidak efektif, karena toh Pertamina tetap harus menjual barang non subsidi (LPG 12 kg) di bawah harga keekonomian mengingat daya beli masyarakat.”

Kerancuan konsep saat ini, menurut Anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) ini membuat semua pihak melanggar UU. Pemerintah melanggar UU Migas karena menganut rezim liberalisasi harga BBM/BBG yang terlarang menurut keputusan MK. Pemerintah juga melanggar UU BUMN dan UU Perseroan Terbatas karena mematok rugi harga jual barang komersial Pertamina tanpa menetapkan selisihnya sebagai subsidi. Disisi lain, Pertamina juga melanggar UU BUMN dan UU Perseroan Terbatas karena menjual komoditas komerasial di bawah biaya produksi yang merugikan perusahaan bertahun-tahun, padahal sebagai perseroan, Pertamina harus untung. Dan jika rugi, kerugiannya tidak bisa langsung dipotong dengan pengurangan dividen ke pemerintah karena akan mengacaukan sistem akuntansi keuangan negara.

Menurut Ali Masykur, sialng sengkarut soal penetapan harga elpiji non-subsidi ini merefleksikan kekacauan tat kelola migas nasional yang harus dirombak total, dengan konsep yang lebih sejalan dan seiring dengan konstitusi. (mukafi niam)

Foto: Antara

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Nahdlatul, Hikmah, Santri Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 06 September 2017

Perangi Narkoba, Ansor Bangil Waspadai Gangguan Mental Organik

Pasuruan, Pasuruan

Gangguan mental organik kini mengancam kalangan pemuda. Merebaknya peredaran narkoba menjadi penyebab utamanya.

Perangi Narkoba, Ansor Bangil Waspadai Gangguan Mental Organik (Sumber Gambar : Nu Online)
Perangi Narkoba, Ansor Bangil Waspadai Gangguan Mental Organik (Sumber Gambar : Nu Online)

Perangi Narkoba, Ansor Bangil Waspadai Gangguan Mental Organik

"Mental organik ini bersifat alamiyah. Di dalam setiap insan terkandung nilai-nilai ilahiyah yang selalu memancarkan aura positif. Semua itu akan lenyap bila tubuh tergerogoti narkoba," ujar Ketua GP Ansor Bangil Moch Nuryadi, Kamis (30/3).

Pernyataan tersebut diketengahkan Kang Adi usai mengikuti Workshop Pemberdayaan Pemuda Antinarkoba oleh Dispora Jawa Timur di Candra Wilwatikta Pandaan Pasuruan, Rabu (29/03). Pesertanya meliputi ormas dan OKP Kabupaten Pasuruan. 

"Adapun upaya-upaya yang lebih kongkret yang dapat kita lakukan adalah melakukan kerja sama dengan pihak yang berwenang untuk melakukan penyuluhan tentang bahaya narkoba, atau mungkin mengadakan razia mendadak secara rutin," tambah Kang Adi, panggilan akrab Moch Nuryadi

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kemudian, tambahnya, pendampingan dari orangtua siswa itu sendiri dengan memberikan perhatian dan kasih sayang. Saat ini para orang tua, mulai dari ulama, guru/dosen, pejabat, penegak hukum dan bahkan semua kalangan telah resah terhadap narkoba ini. 

"Sebab generasi muda masa depan bangsa telah banyak terlibat di dalamnya. Itu akibat leluasanya penjualan narkoba ini, secara umum mengakibatkan timbulnya gangguan mental organik dan pergaulan bebas yang pada gilirannya merusak masa depan bangsa," tukas Kang Adi. (Hairul Anam/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Santri, Kiai Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 24 Agustus 2017

Rela Antre Demi Mendapatkan Bubur Samin

Solo, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Menjelang tiba waktu ashar di hari kelima Ramadhan 1437 H, Jumat (10/6), lalu lalang kendaraan di jalanan sekitar Kampung Jayengan Solo, Jawa Tengah, masih tampak sepi. Namun, tidak demikian bila Anda masuk pada sebuah gang, tepatnya di kompleks Masjid Darussalam.

Di sana, Anda akan menemukan kerumunan warga yang tengah antre untuk mendapatkan hidangan bubur samin, sebuah kuliner khas kampung tersebut, sebagai menu buka puasa mereka.

Rela Antre Demi Mendapatkan Bubur Samin (Sumber Gambar : Nu Online)
Rela Antre Demi Mendapatkan Bubur Samin (Sumber Gambar : Nu Online)

Rela Antre Demi Mendapatkan Bubur Samin

Ya, tiap warga yang antre tersebut membawa wadah masing-masing. Wadah yang dibawa pun beragam, mulai dari mangkuk, piring, rantang, bahkan ada pula yang membawa termos nasi.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Satu persatu, wadah tersebut mulai diisi dengan bubur yang masih panas, yang diambil langsung dari tempat panci besar pembuatan bubur. Penulis sendiri, karena lupa membawa wadah, pernah mencoba dengan menggunakan kantong plastik. Hasilnya, kantong ikut meleleh karena saking panasnya bubur tersebut.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Bubur Samin sendiri merupakan makanan takjil khas Masjid Darussalam. Tradisi pembagian bubur ini sudah berlangsung sejak 50 tahun lebih.

“Sejak saya kecil bubur ini sudah ada. Dulu saya juga sering antre untuk mendapatkan bubur samin setiap kali menjelang berbuka puasa,” kata pengurus Takmir Masjid, H. Rosyidi Muchdlor.

Pembuatan bubur sudah dimulai sedari siang. Bubur sudah mulai dimasak di sebuah jimbeng (panci besar). Bahan-bahan seperti beras, daging sapi, aneka rempah dimasukkan satu per satu. Tak lupa minyak samin, inilah alasan kenapa dinamakan bubur samin, dicampurkan ke adonan bubur. Sekitar pukul 15.00 WIB, bubur sudah matang dan siap disajikan.

Seribu Porsi

Pada Ramadhan tahun ini, pihak takmir Masjid Darussalam Jayengan Solo, setiap hari menyediakan 45 kilogram atau 1000 porsi bubur samin. Seribu porsi tersebut, masing-masing 800 diperuntukkan untuk warga yang ingin membawa pulang ke rumah, sedangkan sisanya 200 porsi disantap untuk buka bersama di masjid. Lantaran tingginya animo warga yang ingin merasakan bubur khas warga Banjar itu, persediaan 1000 porsi masih belum dapat memenuhi permintaan warga.

“Awalnya kami menyediakan 800 bagi warga yang ingin membawa pulang bubur, tapi jumlah itu masih kurang. Akhirnya, porsi untuk takjil sebagian ada yang kami bagikan sebelum waktu buka,” terang Ilyas, salah satu takmir masjid, saat ditemui usai pembagian bubur.

Pembagian bubur samin di Masjid Darussalam ini akan berlangsung setiap hari selama bulan puasa. Selain bubur samin, aneka hidangan juga disediakan untuk takjil. Di antaranya kurma, kopi dan susu. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ubudiyah, Tegal, Santri Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Zakat Harus Dikembangkan dengan Berbasis Komunitas

Pati, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Barang siapa menguasai komunitas, maka dia menguasai pasar. Demikian paparan Djoko Adhi Saputro, Kepala Perwakilan Inisiatif Zakat Indonesia (IZI) Jawa Tengah dalam Seminar Strategi Jitu Fundraising Zakat di kampus IPMAFA Pati, Senin, (28/11) hasil kerjasama Prodi Zakat Wakaf IPMAFA, IZI Jateng, MES Pati, USB, dan Arta Mas Syariah.?

Dikatakannya, lembaga zakat harus membentuk atau masuk dalam komunitas dan fokus merawat komunitas tersebut sebagai mitra efektif dalam menggalakkan dana zakat. IZI Jateng misalnya, menargetkan komunitas majlis pengajian sebagai mitra IZI dalam menggalakkan zakat.?

Zakat Harus Dikembangkan dengan Berbasis Komunitas (Sumber Gambar : Nu Online)
Zakat Harus Dikembangkan dengan Berbasis Komunitas (Sumber Gambar : Nu Online)

Zakat Harus Dikembangkan dengan Berbasis Komunitas

Dijelaskannya, selama ini, IZI sudah menjalin kerjasama dengan komunitas hijab dan ternyata hal ini sangat efektif karena menyimpan potensi zakat yang besar. Hal serupa menjadi tantangan bagi lembaga amil zakat lainnya dalam menggalakkan penggalian dana.

Kaprodi Manajemen Zakat Wakaf IPMAFA yang juga Wakil Ketua PCNU Pati Dr Jamal Mamur Asmani dalam acara tersebut menjelaskan, potensi zakat di Indonesia sangat besar, yaitu 217 triliun sedangkan di Jawa Tengah mencapai sekitar 17 triliun. Untuk di Pati sekitar 20 milyar untuk zakat individu (bukan perusahaan). Namun, realitasnya masih jauh, yaitu 4,3 triliun secara nasional, sekitar 100 milyar se-Jawa Tengah, dan 1,5 miliar di Pati. Hal ini disebabkan banyak faktor. Pertama, kesadaran masyarakat yang masih rendah. Hal ini berbeda dengan haji yang sangat tinggi kesadaran masyarakat. Kedua, belum banyak lembaga zakat yang kredibel dan profesional dalam mengelola zakat sehingga masyarakat tidak punya kepercayaan untuk menyalurkan zakatnya lewat lembaga. Ketiga, sanksi pemerintah yang tidak tegas kepada orang yang tidak membayar zakat. Hal ini membutuhkan usaha serius dari seluruh elemen, khususnya ulama dan cendekiawan dalam mengoptimalkan sosialisasi sadar zakat.?

Pemerintah juga harus tegas memberikan sanksi kepada orang-orang yang wajib berzakat tapi tidak melakukannya. Lembaga juga harus meningkatkan ketrampilan dan kompetensi profesionalitasnya dalam menggalakkan zakat supaya lahir kepercayaan masyarakat dalam menyalurkan zakatnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ketua MES Pati, H Mumu Mubarak mengatakan, lembaga amil zakat harus bangun dari tidurnya dengan bergegas meningkatkan kompetensi penggalian dana zakat karena masyarakat menanti gebrakan lembaga zakat. Jangan sampai umat Islam malas berzakat karena lemahnya lembaga amil zakat dalam pengelolaan zakat.?

Sedangkan ? sekretaris Baznas Pati KH Muslihan mengatakan, Baznas Pati akan mengoptimalkan penggalangan zakat sampai ke pelosok untuk optimalisasi penghimpunan zakat yang manfaatnya kembali kepada umat. Baznas Pati akan membentuk Unit Pengumpul Zakat (UPZ) di setiap kecamatan supaya tergali potensi zakat yang besar.?

Langkah ini diharapkan mampu menggalakkan fundraising zakat yang bertujuan menggapai kemaslahatan umat, khususnya kemandirian ekonomi di masa depan. (Jamal Manur/Mukafi Niam)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Santri, Anti Hoax Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 10 Agustus 2017

Haul Gus Dur Diperingati dengan 200 Kali Khatam Al-Quran

Demak, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Demak menyelenggarakan Haul KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ke-4 di serambi Masjid Agung Demak pada Ahad (29/12). Pada haul tersebut, dibacakan Al-Qur’an khatam (tama) 30 juz sebanyak 200 kali.

Haul Gus Dur Diperingati dengan 200 Kali Khatam Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Haul Gus Dur Diperingati dengan 200 Kali Khatam Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Haul Gus Dur Diperingati dengan 200 Kali Khatam Al-Quran

Khataman Al-Quran 30 juz, menurut Ketua Panitia Haul, Fadloli telah dilakukan di beberapa pesantren sejak tanggal 25 Desember sampai 29 Desember. “Dengan puncak khataman di serambi masjid Agung Demak,” kata Fadloli.

Sementara Ketua PCNU Demak K Yatin Ch mengatakan, peringatan haul ke 4 Gus Dur ini? dibarengi dengan peringatan jasa para tokoh agama, penyeber Islam di Kerajaan Islam Demak. Juga para tokoh agama di Grobogan, Kudus, dan Jepara.

“Para wali dan masyayikh tersebut sangat berjasa dalam pengembangan agama, NU, dan berdirinya kerajaan Demak Bintoro,” katanya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Haul yang dikerjasamakan dengan Komunitas Santri Pesantren Demak tersebut diadakan dengan beberapa rangkaian kegiatan diantaranya ziarah kubur dan pengajian kebangsaan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pada pengajian kebangsaan diundang sahabat Gus Dur yang pernah berjuang bersama sama dalam mengemban tugas ke-NU-an maupun kebangsaan. (Shiddiq Sugiarto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Santri, Pahlawan, Pertandingan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 02 Agustus 2017

Dua Penceramah Perkuat Dalil Aswaja NU Pacitan

Pacitan, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Pacitan mengundang dua penceramah untuk memperkuat dalil-dalil ajaran Ahlussunah wal Jamaah yaitu KH. Marzuki Mustamar dari Malang dan Habib Novel Al Aydrus dari Surakarta.

Dua Penceramah Perkuat Dalil Aswaja NU Pacitan (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Penceramah Perkuat Dalil Aswaja NU Pacitan (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Penceramah Perkuat Dalil Aswaja NU Pacitan

Kegiatan atas kerjasama PCNU dan Jama’ah Pengajian Al Latifah tersebut diselenggarakan di Alun-alun Kota Pacitan pada Ahad malam (27/05).

Habib Novel dalam ceramahnya mengajak kepada Nahdliyin untuk meneladani Rasulullah dan para sahabatnya, terlebih kepada cucu-cucu Rasulullah yang saat ini mewarisi keilmuan dan amaliyah dari nabi akhir zaman tersebut.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ia juga mengajak warga Nahdliyin memperkuat aqidah Ahlussunnah wal  Jamaah (Aswaja) dengan meningkatkan amalan-amalan yang diajarkan para ulama dan mengajarkannya kembali kepada keluarga.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Habib menegaskan mauludan, ziarah kubur, tahlilan, yasinan serta amalan NU lainnya  merupakan amalan yang benar. “Nahdliyyin tidak perlu takut dengan tudingan-tudingan kelompok yang tidak suka amalan tersebut,” katanya.

Sementara itu, KH.Marzuki Mustamar juga mengajak kepada Nahdliyin Pacitan untuk tidak ragu dan takut mengamalkan amalan yang telah diwariskan para ulama saleh, khususnya pendiri NU, karena, seluruh amal ibadah yang dicontohkan para ulama terdahulu dilandaskan pada syar’i. “Sekarang bukalah kitabmu, buanglah radiomu dan mari kita ikuti ajaran para ulama.’”

Kiai Marzuki juga tidak bosan-bosan mengajak untuk terus melakukan amaliyah seperti tahlilan dan ziarah kubur, ia mengajak untuk berziarah ke makam para pendiri NU, KH. Hasyim As’ari dan pendiri Muhammadiyah KH. Ahmad Dahlan.

Sebelumnya, Ketua PCNU Pacitan, Mahmud mengatakan, bahwa amaliyah dan tradisi  warga NU yang dilakukan hingga saat ini kesemuanya terdapat dalilnya. Namun masih banyak warga NU yang belum mengetahui dasar hukumnya sehingga banyak terjadi benturan di antara warga NU dan kelompok-kelompok lainya.

Tampak hadir di antara ribuan Nahdliyin, para ulama dan habaib, diantaranya KH. Lukman Harist, KH. Imam Faqih, KH.Umar Tumbu, KH. Mu’ti , Habib Husaen Ba’bud, tokoh Muhammadiyah, dan para santri. (Zaenal faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Santri, Khutbah, Pertandingan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 24 Juli 2017

Terpilih Sekjen PBNU, Helmy Faishal Zaini Mundur dari PKB

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. H. Helmy Faisal Zaini menyatakan mundur dari Ketua Fraksi Kebangkitan Bangsa setelah terpilih menjadi Sekretaris Jenderal PBNU. Hal itu dinyatakannya pada konferensi pers di Gedung PBNU, Jakarta, Sabtu sore (22/8).

Terpilih Sekjen PBNU, Helmy Faishal Zaini Mundur dari PKB (Sumber Gambar : Nu Online)
Terpilih Sekjen PBNU, Helmy Faishal Zaini Mundur dari PKB (Sumber Gambar : Nu Online)

Terpilih Sekjen PBNU, Helmy Faishal Zaini Mundur dari PKB

“Yang pertama, mulai hari, saya mengundurkan diri dari fraksi. Total jadi petugas ulama,” katanya saat mendampingi Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, dan Wakil Ketua Umum PBNU H Slamet Efffendi Yusuf mengumumkan susunan pengurus PBNU 2015-2020.

Sementara sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari PKB, lanjut dia, akan tetap diteruskan. Hal itu karena, menurut dia, akan menjadi nilai plus untuk bersinergi dengan wakil-wakil NU di parlemen.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Jelas, mulai hari ini berakhirnya di partai. Mulai membangun loyalitas NU,” tegasnya. ?

Menurutnya, ia memilih mundur karena karena tidak mungkin bisa membagi kesibukan antara menjadi Ketua Fraksi dan Sekjen NU. Pilihannya ini akan diserahkan kepada Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar. “Saya akan lebih banyak waktu di NU. Saya akan menyatakan nonaktif di PKB.”

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

KH Said Aqil Siroj menjelaskan, tidak ada larangan seorang politisi menjadi pengurus PBNU. Beberapa pengurus PBNU sebelumnya juga mengakomodir politisi. Tapi karena politisi NU beragam partai, maka yang diakomodir pun beberapa partai.

“Pak Slamet (Wakil Ketua Umum PBNU) juga bukan PKB, Pak Nusron Wahid (Kepala BNP2TKI) juga bukan PKB. Jadi, apa yang telah dihasilkan formatur, sudah melalui kajian renungan yang benar dan tepat,” jelasnya.? ?

Awak media kemudian menanyakan bagaimana menjaga jarak antara kepentingan seorang pengurus NU yang menjadi politis. Kiai Said yakin, jajarannya akan bisa menjaga jarak karena NU bukan politik praktis, melainkan menjalankan asiyasatul ulya, politik kebangsaan. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Santri Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 06 Juni 2017

Kader IPNU Didorong Jadi Pemilih Cerdas

Surabaya, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jawa Timur yang merupakan organisasi pelajar, remaja, dan santri di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) mendorong kadernya untuk melakukan gerakan anti-pembodohan dalam Pilkada Jatim.

Kader IPNU Didorong Jadi Pemilih Cerdas (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader IPNU Didorong Jadi Pemilih Cerdas (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader IPNU Didorong Jadi Pemilih Cerdas

"Jutaan kader dan anggota kami yang tersebar pada 42 cabang (kabupaten/kota), 600 anak cabang (kecamatan), dan 5.000 lebih ranting (desa/komisariat) tidak akan golput, tapi mereka akan menjadi pemilih cerdas," kata Ketua PW IPNU Jatim Imam Fadlli di Surabaya, Ahad.

Bahkan, IPNU Jatim juga telah bekerja sama dengan KPU Jatim menggelar Sosialisasi Pilkada Jatim bagi Pemilih Pemula yang cerdas dengan mendapat masukan dari komisioner KPU Jatim Agus Mahfud Fauzi MSi dan dosen Fisip Unair Joko Susanto SIP MSc.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Dalam sosialisasi yang diikuti perwakilan Pimpinan Cabang IPNU serta pelajar dan santri se-Jawa Timur di Gedung Rumah Gadang Kebonsari Surabaya (24/8) itu, kami mendapat masukan dari kedua narasumber tentang pemilih yang cerdas," katanya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Didampingi Sekretaris PW IPNU Jatim Novi Tri Hartanto, ia mengatakan pemilih cerdas adalah pemilih yang mencermati visi dan misi serta keberpihakan seorang calon kepala daerah terhadap kaum marginal, khususnya masalah pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan.

Menurut dia, sikap PW IPNU Jatim sebagai badan otonom NU tidak bisa lepas dari kebijakan-kebijakan yang telah diputuskan oleh NU sesuai dengan hasil keputusan Muktamar ke-27 NU di Asembagus Situbondo tahun 1984 tentang khittah NU 1926.

Selain itu, keputusan Muktamar ke-28 NU di Krapyak Yogyakarta tahun 1989 tentang Sembilan Pedoman Berpolitik warga NU, terutama butir 6 dan 8 dari pedoman itu.

"Butir-butir itu mengatus bahwa berpolitik bagi Nahdlatul Ulama dilakukan untuk memperkokoh konsensus-konsensus yang dilaksanakan sesuai dengan akhlak al karimah sebagai pengamalan ajaran Islam ahlussunnah wal jamaah," katanya.

Selanjutnya, perbedaan pandangan di antara aspirasi-aspirasi politik warga NU harus tetap berjalan dalam suasana persaudaraan, tawadlu dan saling menghargai satu sama lain, sehingga dalam berpolitik itu tetap terjaga persatuan dan kesatuan di lingkungan Nahdlatul Ulama.

"Karena itu, kami mendorong kader dan anggota IPNU se-Jatim agar senantiasa mengedepankan asas manfaat dalam memberikan dukungan sehingga dapat membawa maslahah bagi umat, khususnya umat Nahdlatul Ulama di Jawa Timur," katanya.

Selain itu, kami juga meminta kader IPNU se-Jatim untuk berperan aktif untuk ikut serta menyukseskan Pemilukada Jatim 2013 dengan bersama-sama melakukan gerakan antipembodohan politik dalam Pilkada Jatim 2013.

"Secara teknis, para kader IPNU akan dapat mengajak para pemilih pemula untuk memastikan dirinya terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pilkada Jatim 2013 dengan mengecek melalui SMS Center atau website KPU Jatim dan bila tidak terdaftar akan dapat membawa KTP dan KK ke TPS," katanya.

Ia menambahkan para kader IPNU se-Jatim akan berupaya memberikan pendidikan politik kepada pemilih pemula yakni kalangan pelajar, santri dan remaja di Jatim, sehingga mereka dapat menggunakan hak pilihnya atau tidak golput. 

Redaktur: Mukafi Niam

Sumber  : Antara

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ulama, Santri Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock