Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Februari 2018

Penginapan Peserta dan Lokasi Sidang Muktamar Siap

Surabaya, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Para peserta Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama tidak perlu khawatir terhadap keberadaan lokasi penginapan. Empat pesantren di Jombang yang dijadikan sebagai lokasi sidang komisi juga sekaligus menyiapkan penginapan yang layak.

Penginapan Peserta dan Lokasi Sidang Muktamar Siap (Sumber Gambar : Nu Online)
Penginapan Peserta dan Lokasi Sidang Muktamar Siap (Sumber Gambar : Nu Online)

Penginapan Peserta dan Lokasi Sidang Muktamar Siap

Hal ini disampaikan Sekretaris Panitia Daerah (Panda) Muktamar, H Thoriqul Haq saat dihubungi Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan, Rabu (18/2) petang. Gus Thoriq, sapaan akrabnya menandaskan seluruh peserta resmi utusan dari PWNU, PCNU se-Indonesia hingga PCINU sejumlah negara akan mendapatkan fasilitas dan perlakukan yang sama selama kegiatan Muktamar berlangsung.

"Untuk pembukaan muktamar dan sidang pleno hingga penutupan akan dilangsungkan di Alon-alon Jombang," tandas mantan Presiden BEM UIN Sunan Ampel Surabaya ini. Sedangkan sidang komisi akan dilangsungkan di 4 pesantren besar yakni Pondok Pesantren Darul Ulum (Peterongan), Pesantren Tebuireng (Diwek), Mambaul Maarif (Denanyar), serta Bahrul Ulum (Tambakberas).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ia menandaskan bahwa pengecekan secara seksama telah dilakukan sebanyak dua kali dan akhirnya Panda memastikan sejumlah asrama dan sekolah yang akan digunakan untruk kepentingan siding-sidang selama muktamar berlangsung.

"Kunjungan itu kian memastikan mana saja lokasi yang akan dijadikan sebagai penginapan peserta dan tempat diselenggarakannya sidang komisi," tandas Ketua Komisi C DPRD Jawa Timur ini.? ?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ada sejumlah perubahan yang terjadi dari kunjungan tersebut. Di antaranya dijadikan Gedung Olah Raga (GOR) Jombang sebagai tempat registrasi peserta muktamar. "Karena GOR tempatnya luas baik dari sisi parkir kendaraan maupun daya tampung awal saat peserta mendaftar sekaligus menerima sejumlah penjelasan dan fasilitas muktamar," terangnya.

Sedangkan untuk sidang komisi di Pondok Pesantren Darul Ulum akan dilangsungkan di Islamic Center, dan penginapan peserta di SMPN 3 Rejoso. Sidang komisi di Pesantren Tebuireng akan menempati ruangan lantai tiga gedung KH Yusuf Hasyim, dan penginapan peserta menggunakan asrama yang ada pesantren tersebut.

Pesantren Mambaul Maarif menempatkan peserta sidang di ruangan MAN Denanyar serta halaman sekolah tersebut akan dijadikan lokasi sidang komisi. MAN Tambakberas atau MTsN Tambakberas masih akan diteliti lebih detail untuk menampung peserta muktamar dan mengikuti sidang komisi. (Syaifullah/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pesantren Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 16 Februari 2018

Ajarkan Kemandirian, Ansor Latih Kader Tanam Buah Naga

Penajam, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. PP GP Ansor bekerjasama dengan Kementerian Tenaga Kerja kembali melakukan pelatihan pada pemuda di Kabupaten Penajam Paser Utara Kalimantan Timur, 27-31 Maret bertempat di Balai Pelatihan Pertanian Penajam Paser Utara.?

Kali ini fokus pada pelatihan pengembangan budidaya tanaman buah naga yang memang menjadi tanaman andalan Kabupaten Penajam Paser Utara selain perkebunan sawit dan tambang. Demikian rilis yang dikirimkan oleh panitia kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan.?

Ajarkan Kemandirian, Ansor Latih Kader Tanam Buah Naga (Sumber Gambar : Nu Online)
Ajarkan Kemandirian, Ansor Latih Kader Tanam Buah Naga (Sumber Gambar : Nu Online)

Ajarkan Kemandirian, Ansor Latih Kader Tanam Buah Naga

Potensi pertanian yang begitu besar di Kalimantan Timur sementara ini belum tergarap maksimal, Dan hal ini yang melandasi PP GP Ansor dan Kementerian Tenaga Kerja untuk fokus melakukan pelatihan-pelatihan pada pemuda di semua sektor guna menciptakan wirausahawan-wirausahawan muda yang mandiri seperti yang diharapkan oleh pemerintah.

?

Demikia dikatakan ketua Bidang Pertanian, Kedaulatan Pangan dan ESDM, PP GP Ansor, H Adhe Musa Said,

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pelatihan ini diikuti oleh 100 lebih kader GP Ansor se-Kalimantan Timur selama 4 Hari, dari mulai menanam sampai praktek pengolahan buah naga hingga menjadi makanan siap saji, seperti puding buah naga dan brownies buah naga. “Kita akan kembangkan terus potensi yang ada di kalangan pemuda se-Indonesia khususnya GP Ansor,” kata Adhe.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Hal senada juga dikatakan oleh Fajri Al Farobi sebagai ketua PW GP Ansor Kalimantan Timur.

Pelatihan ini juga di Hadiri oleh H ? Risman S Manik dari Balai Besar Peningkatan Produktivitas BBPP Kementerian Tenaga Kerja.

“Kita berharap kerjasama dengan GP Ansor bisa berjalan terus-menerus untuk bersama-sama membangun wirausahawan-wirausahawan muda yang mandiri di seluruh Indonesia. Saatnya para pemuda menjadi pengusaha dalam sektor apapun. Saatnya kita bangkit bersama melalui usaha-usaha yang dibangun dari rakyat,” kata Risman. ?

Adhe Musa Said menegaskan bahwa agenda pelatihan ini akan terus dipantau dan dikontrol sampai terbangun kelompok-kelompok usaha yang mandiri di kalangan pemuda yang menjadi binaan GP Ansor sesuai dengan visi misi GP Ansor dan arahan Ketua Umum PP GP Ansor H Yaqut Cholil Qoumas untuk terus membangun kemandirian ekonomi kader sesuai dengan tingkatannya masing-masing. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pesantren, Budaya Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 13 Februari 2018

Kominfo Dukung Dakwah Islam Ramah di Dunia Maya

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Republik Indonesia berkepentingan untuk memastikan dunia maya dipenuhi dengan konten-konten positif. Dalam bidang keagamaan, di satu sisi, Kominfo mendukung situs yang memuat konten-konten Islam ramah. Di sisi lain, melakukan blok pada situs yang negatif dan pemecah belah persatuan. ? ?

Menurut Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara hal itu dilakukan harus dilakukan agar dunia maya ini tidak disalahgunakan dengan hal-hal yang negatif. Acuannya UU ITE yang sudah direvisi tahun 2016 yang lalu.?

Kominfo Dukung Dakwah Islam Ramah di Dunia Maya (Sumber Gambar : Nu Online)
Kominfo Dukung Dakwah Islam Ramah di Dunia Maya (Sumber Gambar : Nu Online)

Kominfo Dukung Dakwah Islam Ramah di Dunia Maya

Untuk lebih mengetahui apa dan bagaimana dukungan Kominfo terhadap konten positif, Abdullah Alawi dari Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan mewawancarai Menteri Rudiantara di gedung PBNU, Jakarta, Senin (22/5). Berikut petikannya:?

Bagaimana dukungan Keminfo kepada dakwah Islam ramah?

Ini sangat relevan terutama dengan situasi sekarang ini. Artinya inkusivisme Islam, sebagai agama yang dianut masyarakat di Indonesia, tentu harus banyak menyampaikan pesan-pesan damai, inklusif (terbuka), rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam), bukan yang sifatnya eksklusif (tertutup). Bagaimanapun para pendiri NU juga dulunya dengan Muhammadiyah yang menjadi motor pendiri bangsa ini. Jadi, kita tidak akan bisa keluar dari koridor NKRI. Dan saya yakin banyak konten, sumber daya manusia dari NU yang bisa memberikan kontribusi. Nanti dari PBNU menyediakan konten-kontennya, Kominfo membantu mendistribusikannya sehingga menjadi diterima, dinikmati oleh masyarakat luas.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kalau ada media baik tv, radio, atau online yang dakwahnya tidak inklusif itu bagaimana?

Begini, kategorinya apa, kalau media online tentu ada aturan juga, bukan hanya UU ITE, tetapi kita juga bisa mengacu kepada UU Pers dan kami sangat dekat hubungannya dengan Dewan Pers; dan di sana disyaratkan, di Dewan Pers juga sedang mendorong program verifikasi namanya. Artinya sebagai media, sekarang kan tidak perlu mendapatkan izin lagi dari pemerintah. Tapi ada beberapa hal yang harus dipenuhi, contohnya kejelasan dimana dia alamatnya. Kemudian penanggung jawab dari news roomnya. Artinya redakturnya siapa. Nah, kalau tidak ada dua itu, tidak bisa dianggap masuk kategori produk pers. Kalau tidak produk pers berarti bisa UU ITE. Kalau sudah itu acuannya, kalau bertentangan dengan UU ITE Pasal 27, 28, 29, ya kita akan melakukan sesuai aturannya. Dalam hal ini bertentangan, bisa diblok, bisa ditindaklanjuti proses hukum bahkan ya.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sampai pada tahap diblok, berdasarkan UU tersebut, apakah harus ada pihak yang mengadukan terlebih dahulu?

Tidak perlu. Yang penting kan ada peraturan, ada UU-nya, ada dasarnya, ada legislasinya. Kalau berdasarkan ada pengaduan dulu, kita terlambat dong.?

Apa pentingnya pemerintah melakukan hal itu?

Untuk melakukan pembatasan akses. Harus. Karena biar bagaimanapun kita harus menjaga yang namanya dunia maya ini tidak disalahgunakan dengan hal-hal yang negatif. Acuannya kembali ke UU ITE yang sudah direvisi tahun 2016 yang lalu.?

Isinya bagaimana?

Perbedaannya dengan UU ITE sebelum direvisi adalah pasal 27 ayat 3 khususnya, yaitu kalau sebelumnya ancamannya sampai dengan 6 tahun, di atas 5 tahun. Jadi, aparat penegak hukum bisa menangkap yang bersangkutan dahulu. Kalau sekarang di bawah 5 tahun. Jadi, harus ada, delik aduan, megadunya kepada pihak aparat penegak hukum karena di bawah 4 tahun. Itu yang pertama. Tapi kontennya, subtansinya tidak perlu menunggu aduan selama itu dianggap bertentangan dengan UU, misalnya mengadu-domba masyarakat, provokasi, agitasi, atau juga bertentangan dengan SARA.?

Kalau di media sosial bagaimana seperti Facebook, Twitter?

Ada dua, satu ranah publik, satu ranah privat. Kalau ranah publik, karena sifatnya publik, ya kita kita masuk cepat. Kalau ranah privat, pada umumnya, apakah bertentangan dengan penegakkan hukum tidak. Kalau bermasalah dengan penegakkan hukum, otomatis kita akan masuk dengan fungsi pada umumnya. Kalau memang dinyatakan oleh penegak hukum, misalkan itu bertentangan dengan aturan yang ada, kami akan masuk.?

Kominfo sebagai pihak yang mendukung dakwah islam yang ramah, bagaimana proses sampai memblokir sebuah situs dan akun medsos yang bertentangan dengan hal itu?

Begini, memblokir itu salah satu upaya, tapi memblokir itu adalah upaya yang cape. Kita harus mengimbanginya. Karena apa? Membelokir itu sama dengan menyembuhkan orang sakit, harus ? disuntik, kasih obat, dan lain sebagainya, tapi kita harus fokus, pada bagaimana membuat orang sehat, yaitu dikasih makanan yang empat sehat lima sempurna, olahraga teratur. Nah, kita mengarah ke sana. Dengan cara apa? Dengan cara edukasi, dengan cara kita mengajak NU, Muhammadiyah dan yang lainnya, untuk mengimbangi konten negatif ini. Kalau ada namanya black list, kita juga harus ada white list. Saya datang ke sini (ke PBNU) juga adalah koordinasi untuk meminta bantuan NU bagaimaana menyediakan konten-konten positif karena kan NU banyak manyrakatnya dan kapasitas kompetensinya luar biasa.?





Amatan Pak Menteri kenapa dakwah radikal lebih agresif. Apakah ada pihak yang mendesain atau alamiah?

Didesain bisa saja. Tapi pihak intelejen lebih memahami. Tapi dari kami memang ini adalah keterbuakaan teknologi. Teknologi ini ibarat pedang bermata dua. Bisa positif dan bisa negatif. Nah, kita memitigasi dampak negatifnya, yang dicari dampak positifnya. Hari ini yang akan dilakukan dengan NU banyak yang positifnya, antara lain dengan inklusi keuangan. Banyak warga Nahdliyin yang bisa masuk di situ. Bahkan kalau perlu, bisa membuat semacam subsistem dari NU untuk segera bisa berpartisipasi dalam program inklusivisme keuangan. Kemudian dalam konteks seperti saya katakan tadi, saya yakin banyak gus-gus yang senior, maupun gus-gus muda, yang bagus dalam tulisannya ini, banyak, nanti kami yang akan bawakan ke kanal-kanalnya. Kemudian dalam rangka bulan Ramadhan, kan di televisi ada ceramah, di RRI, di TVRI. Tadi saya ajak Dirut RRI, Dirut TVRI, lembaga penyiaran publik tadi, kalau dalam hal agama kan bukan bidangnya, tetapi kita akan sampaikan kepada masyarakat bulan puasa ini ceramah agama. Coba aja lihat di TVRI, kita perlu 210 pembicara, 210 paket untuk direkam disyiarkan, dari mana? Ya, kalau kita mencari air kan ke sumbernya, kalau kita bicara agama, agama Islam yang paling besar NU, ya kita datang ke NU.?

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pahlawan, Pesantren Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 31 Januari 2018

723 Santri Madrasah Diniyah TA Ikuti Wisuda Akbar ke 2

Brebes, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Sebanyak 723 santri ? dari Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) se Kabupaten Brebes mengikuti Wisuda Akbar ke-2 di Aula Islamic Center Jalan Yos Sudarso Brebes, Ahad (21/5). Wisuda dilakukan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Brebes, Imam Hidayat, ? disaksikan orang tua santri, dewan guru dan pejabat pemerintahan setempat.?

“Sebanyak 723 santri, mewakili madrasah masing-masing yang ada di Kabupaten Brebes,” ujar Ketua Forum Komunikasi Madrasah Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kabupaten Brebes H Sururi, di sela kegiatan.

723 Santri Madrasah Diniyah TA Ikuti Wisuda Akbar ke 2 (Sumber Gambar : Nu Online)
723 Santri Madrasah Diniyah TA Ikuti Wisuda Akbar ke 2 (Sumber Gambar : Nu Online)

723 Santri Madrasah Diniyah TA Ikuti Wisuda Akbar ke 2

Dari 723 madrasah MDTA yang ada di Kabupaten Brebes, dikatakannya, telah meluluskan 9.563 santri. Dijadwalkan untuk tahun mendatang seluruh santri akan di hadirkan di alun-alun, jadi meriah. Kalau sekarang, tempatnya tidak muat jadi hanya perwakilan saja yang diajak ke Islamic Center.

Dari banyaknya madrasah diniyah di Brebes, lanjut Sururi, masih terjadi ketimpangan dengan kurangnya perhatian pemerintah. Terbukti hingga kini belum terlahirnya Peraturan Daerah (Perda) tentang Pendidikan Madrasah. Diyakini Sururi, dengan madrasah, akhlakul karimah generasi muda bisa terjaga. Karena MDTA menjadi lembaga penjaga moral yang sangat penting yang harus dipertahankan.

“Tidak pernah tawuran ketika lulus madrasah, kalau sedari kecil sudah mengenyam pendidikan madrasah. Itu artinya memiliki akhlakul karimah, dan itu menjadi ukuran mutu dalam pendidikan,” ungkapnya.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kasubid Diniyah Formal dan Ma’had Ali, Kementerian Agama (Kemenag) RI Ahmad Jayadi mengakui kalau tantangan terhadap MDTA tidaklah ringan. Terakhir, adalah dengan pemberlakukan 5 hari masuk sekolah. Yang artinya, waktu milik MDTA akan tercerabut oleh kebijakan Mendiknas yang dikabarkan kebijakan itu akan tetap diberlakukan pada 2018 mendatang.?

“MDTA perlu mencari terobosan dan inovasi waktu dan system pembelajaran, agar MDTA tetap lestari dan makin maju,” ujarnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Untuk meningkatkan kualitas MDTA sepertinya perlu diterbitkan Perda Madrasah, kata Jayadi, harus dimulai dari diri sendiri. Artinya, madrasah itu dari, oleh dan untuk umat. Kalau umatnya berkehendak kuat, maka tidak mustahil Perda atau peraturan lainnya akan mudah dan cepat diterbitkan. “Pemerintah, pada dasarnya hanyalah fasilitator. Kemauan kuat justru berakar dari pengelola MDTA dan FKDT itu sendiri,” tandasnya.?

?

Kendala akibat kepentingan politik, menurutnya sudah biasa, untuk itu, seluruh komponen harus seiring sejalan dan harus berangkat bersama.

?

Jayadi menginformasikan, kalau saat ini tengah dirancang undang undang tentang Pendidikan Pesantren. “Mudah-mudahan madrasah bisa terakomodir didalamnya. Sehingga posisi pendidikan agama dan keagamaan setara dengan pendidikan yang lain,” tandasnya.

Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Brebes, Imam Hidayat mengajak seluruh kepala MDTA untuk tidak patah arang dalam mengelola pendidikan Islam. “Kita harus optimis bahwa anak-anak yang lulus MDTA bisa melanjutkan ke Wustho. Pendidikan diniyah bukanlah sebagai pelengkap belaka, tetapi sudah menjadi kebutuhan yang urgen bagi masyarakat,” tandasnya.?

Agama lanjut Imam Hidayat, menjadi pemecah solusi tentang kemanusiaan dan kemasyarakatan. Bila agama sudah keluar dari karakter islam, maka pertanda islam hanya dijadikan alat politik belaka, seperti HTI yang menjadikan agama sebagai politik mendirikan khilafah. Lewat madrasah, anak-anak kita akan memiliki dasar akhlakul karimah yang sangat kuat.

? “Mendapatkan ilmu pengetahuan sangat mudah, tetapi menanamkan akhlakul karimah sangat sulit, untuk itu harus ditanamkan sejak dini,” kata Imam.?

Sementara itu, Kasubag Agama Bagian Kesra Pemkab Brebes, Harun menjelaskan, Pemkab Brebes telah memberikan dukungan yang banyak terhadap dunia pendidikan Islam. Diantaranya adalah, berupa pemberian bantuan hibah kepada para guru madrasah diniyah. “Tentang penerbitan Perda, tentu Pemkab sangat mendukung,” ucapnya. (Wasdiun / Muslim Abdurrahman)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Meme Islam, Pesantren, Khutbah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 29 Januari 2018

Dari Khittah 1926, ke Khittah 1945

Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama telah berlangsung pada 14-18 September 2012 yang lalu di Pondok Pesantren Kempek, Cirebon, yang didahului serangkaian kegiatan pramunas sejak Agustus di beberapa kota besar di Indonesia.

Munas-Konbes NU 2012 yang disiarkan cukup ramai oleh berbagai media massa, baik cetak maupun elektronik, telah menghasilkan banyak sekali rekomendasi dan telah ditanggapi positif oleh banyak kalangan, termasuk oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono.

Dari Khittah 1926, ke Khittah 1945 (Sumber Gambar : Nu Online)
Dari Khittah 1926, ke Khittah 1945 (Sumber Gambar : Nu Online)

Dari Khittah 1926, ke Khittah 1945

Munas NU kali ini agak berbeda. Jika dilihat materi pembahasannya, terutama dalam tiga komisi bahtsul masail diniyyah (pembahasan masalah keagamaan), hampir tidak ditemukan materi ubudiyah atau soal-soal ibadah ritual. Hanya ada satu pembahasan mengenai haji dalam komisi bahtsul masail diniyyah waqiyyah, itu pun tidak terkait ritual haji, namun pada soal dana talangan haji. Bukan berarti persoalan ibadah sudah tidak lagi muncul di tengah warga nahdliyin dan diajukan kepada para kiai untuk dibahas dalam Munas, namun ada kebutuhan mendesak untuk membahas beberapa hal (masail) penting terkait persoalan kebangsaan dalam forum nasional yang harus didahulukan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pada komisi bahtsul masail diniyyah waqi’iyyah, para kiai dan ahli fikih dari berbagai wilayah di Indonesia menyoroti praktik korupsi yang semakin merisaukan. Bahkan Munas 2012 itu memunculkan satu keputusan mengejutkan: NU merekomendasikan hukuman mati bagi koruptor kelas berat dan koruptor kambuhan. Munas juga merekomendasikan penguasaan atau perampasan aset negara yang telah dikorupsi meskipun pelakunya telah dihukum, atau bahkan telah meninggal dunia. Dalam kasus terakhir, pesan sesungguhnya diperuntukkan kepada para ahli waris. Bahwa harta korupsi akan menyulitkan orang tua atau saudara mereka dari tanggungan akhirat, serta harta hasil korupsi tidak akan berkah dan haram untuk diwariskan.

Bahtsul masail diniyyah waqi’iyyah juga memberikan rambu-rambu kepada para penyelenggara negara terkait cara pengelolaan kekayaan negara, agar mencapai sasaran yang tepat: kesejahteraan rakyat.

Tema besar pada Munas kali ini adalah “Kembali ke Khitah Indonesia 1945”. NU merasa prihatin dengan kondisi bangsa ini, terutama semenjak memasuki era reformasi. Persoalan pertama yang dibidik adalah amandemen UUD 1945. Satu sisi amandemen yang telah berlangsung empat kali itu menunjukkan Indonesia telah menunjukkan diri pada dunia sebagai negara yang demokratis. Namun karena dilakukan dengan sangat tergesa-gesa dan bahkan pada beberapa bagian dapat dikatakan responsif dan emosional terhadap rezim orde baru, maka dalam amandemen tersebut banyak terjadi  ketidakcermatan bahkan kesalahan. Akibatnya UUD yang dilahirkan merugikan rakyat dan membahayakan  kedaulatan nasional. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Amandemen yang berada di tangan rakyat itu diambil alih oleh sekelompok elite yang mewakili kepentingan kapitalisme global yang berideologi liberal. Berbagai pasal yang menegaskan aspirasi rakyat dan menjaga keutuhan bangsa dan negara diganti dengan pasal-pasal yang menguntungkan perusahaan asing di bawah bendera kapitalaisme global. Disyahkannya UU Sumber daya air, UU Migas, UU Minerba, UU perdesaan, UU Pangan dan lain sebagainya merupakan seperangkat hukum yang dikukuhkan untuk melindungi pemilik modal.

Komisi bahtsul masail diniyyah qonuniyyah, NU secara serius mengkaji kembali beberapa undang-undang yang tidak sejalur dengan Khittah Indonesia 1945. Dalam bahtsul masail khusus yang membahas persoalan undang-udang itu para kiai juga menyampaikan beberapa rekomendasi terkait undang-undang No 20/2003 tentang Sistem Pemdidikan Nasional dan UU No 2 /2012 tentang perguruan tinggi.

Banyak sekali persoalan negara yang dibahas secara serius oleh para kiai dari berbagai daerah dan disaksikan ribuan warga nahdliyin yang hadir di forum Munas-Konbes NU 2012. Isu “warning bagi pengelolaan pajak” hanyalah isu permukaan saja. Kritik dan masukan NU lebih mengarah kepada tata kelola kekayaan negara yang selama ini dinilai salah kelola. 

Terkait dengan Khitah 1945, tidak ada keputusan yang menyebutkan bahwa NU mengajak kembali ke UUD 1945. Setelah menengok beberapa produk undang-undang tidak menyejahterakan rakyat, secara serius NU mengajak kembali kepada segenap elemen bangsa untuk mencermati kembali undang-undang dasar produk reformasi. Jika diperlukan amandemen kembali, maka harus dilakukan secara cermat dan komprehensif, tidak hanya melayani kebutuhan sekelompok orang.

NU punya pengalaman besar terkait “khitah”. Pada tahun 1984, setelah menjalankan roda keorganisasian selama puluhan tahun, NU lalu memutuskan kembali ke khittah 1926, kembali ke jati diri NU seperti pada saat didirikan. Istilah “Khittah 1945” sebagai tema besar Munas-Konbes NU 2012 dipakai untuk mengingatkan bangsa ini agar kembali kepada semangat dan tujuan Indonesia merdeka, tahun 1945. Kembali ke khitah bukan langkah mundur, tapi langkah pasti untuk merumuskan masa depan yang lebih baik.

Secara formal Munas-Konbes NU 2012 telah berakhir. Namun beberapa keputusan dan rekomendasi NU akan terus berlanjut. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Aswaja, Pesantren, IMNU Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 22 Januari 2018

NU Setia Menjaga NKRI

Nusantara sebagai sebuah kesatuan geografis, kesatuan budaya, kesatuan politik dan kesatuan ekonomi terbentuk melalui proses berabad-abad, setidaknya mulai wangsa Sanjaya Mataram, Sriwijaya yang terus berkembang zaman Kahuripan, Daha, Singasari, Sriwijaya, Majapahit, Demak, Mataram Baru hingga Republik Indonesia saat ini. Kehadiran penjajah Spanyol, Belanda, Inggris, selama ratusan tahun itu gagal memecah-belah kesatuan yang telah kokoh itu.

Ketika Indonesia merdeka kesatuan itu segera dikukuhkan kembali sebagai sebuah negara kesatuan berdasarkan ideologi Pancasila, yang merupakan warisan leluhur bangsa ini. Itulah sebabnya Pancasila diterima oleh bangsa ini dengan tangan terbuka karena memang sebelumnya telah hidup dan berkembang sebagai falsafah hidup bagi bangsa ini, sehingga walaupun berbeda budaya, berbeda suku dan berbeda agama, tetapi bisa hidup rukun dan bersatu saling tolong-menolong satu sama lain.

Sebagaimana disebutkan di depan bahwa kesatuan Indonesia ini bukan sesuatu yang sekali jadi melainkan terus berkembang dalam proses, karena itulah kesatuan NKRI dan keutuhan Pancasila sebagai falsafah dan ideologi negara harus dijaga dan dipertahankan. Tidak sedikit kelompok yang dengan menawarkan ideologi tertentu mencoba untuk menolak Indonesia sebagai sebuah negara kesatuan, dan berusaha memecah belah sebagai serta berusaha memutus pengikatnya yaitu Pancasila sebagai ideologi negara.

Nahdlatul Ulama (NU) lahir dari budaya Islam Nusantara dan berkembang dalam budaya Nusantara dengan segala gelombang yang terjadi di atasnya, ketika Nusantara dalam penjajahan NU dengan gigih mempertahankan identitas kenusantaraannya dan berjuang penuh melawan penjajah yang ingin melenyapkan kenusantaraan menjadi kebelandaan. Pesantren berhasil menjaga tradisi Islam Nusantara dan dari situlah 88 tahun yang lalu NU Lahir. Dalam keterjajahan itu NU mengobarkan semangat revolusi dan perjuangan, karena itu ketika Nusantara merdeka menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, tidak ragu lagi NU menjadi penjaga dan sekaligus penyangga serta perekat persatuan Indonesia, dalam menghadapi berbagai subversi, gerakan separatis dan pemberontakan yang menodai negeri ini.

NU Setia Menjaga NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Setia Menjaga NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Setia Menjaga NKRI

Hadirnya Reformasi dengan semangat liberalisme yang tanpa batas menjadikan upaya merombak NKRI serta mengganti atau merevisi Pancasila terus berjalan, dengan menawarkan ideologi lain yang tidak sesuai dengan budaya bangsa Indonesia. Dari situlah ketegangan nasional mulai terjadi antara kelompok pembela NKRI dan pendukung Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara dengan kelompok yang ingin merombaknya. Berkat kegigihan pendukung NKRI dan Pancasila ini kedua hal tersebut tidak diubah.

Dengan tidak diubahnya konsep NKRI dan Pancasila tersebut tidak dengan sendirinya NKRI tetap ada dan lestari. Secara geografis sejak reformasi hingga sekarang memang masih utuh, maraknya gerakan separatisme beberapa waktu yang lalau tidak mampu memecah kesatuan geografis negeri ini. Tetapi apabila ditinjau dari segi kesatuan politik, dengan diterapkannya otonomi yang tanpa batas, kesatuan Indonesia sebagai kesatuan politik mulai pudar. Mulai banyak pejabat daerah yang tidak setia pada pemerintah di atasnya atau bahkan pemerintah pusat.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dilihat dari sudut pertahanan (militer), nampaknya integritas NKRI juga sudah mulai mengendor, terbukti dengan terjadinya pelanggaran wilayah oleh pasukan asing yang tidak sepenuhnya bisa diatasi oleh tentara Indonesia. Sementara, setiap upaya peningkatan sistem pertahanan selalu mendapat serangan dari kelompok tertentu dari bangsa sendiri, sehingga kedaulatan Republik ini dengan mudah diganggu dan dinodai masuknya kekuatan asing yang ingin memecah belah negeri ini.

Dari segi kesatuan ekonomi, sejak dilakukan liberalisasi perdagangan, dengan dibebaskannya investasi asing masuk ke seluruh sektor strategis, maka bisa dilihat bahwa saat ini ekonomi nasional tidak lagi di bawah kendali bangsa sendiri, melainkan telah dikuasai asing. Mulai dari sektor pertambangan, sektor perbankan, sektor pertanian, sektor industri, sektor properti, telekomunikasi, yang penguasaan asing rata-rata di atas 50%, bahkan terakhir di sektor bandara yang bisa mencapai 100 persen. Akibatnya terjadi ketimpangan ekonomi yang sangat tajam yang belum pernah terjadi di Indonesia ini selama ini.

Kemudian di sektor kebudayaan, pengaruh asing mulai menerobos hingga ke sektor privat, dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Sementara informasi dari dunia internasional yang dikendalikan oleh kapitalisme global yang berpandangan hidup liberal, tetaplah begitu jauh mempengaruhi cara berpikir, sikap dan tindakan masyarakat negeri ini. Dengan demikian nilai-nilai agama budaya dan tradisi, termasuk nilai-nilai Pancasila akan sulit diterapkan. Karena propaganda liberal disebarkan sedemikian gencar dengan peralatan teknologi dan strategi yang sangat canggih.

Inilah yang menjadi keprihatinan NU dan yang menjadi tekad NU untuk selalu setia menjaga keutuhan NKRI di saat pihak lain banyak yang mulai meragukan pentingnya NKRI. Karena itu bersamaan dengan peringatan Hari Lahir NU yang ke-88 tahun 2014 ini, NU berikrar bahkan bertekad bahwa keutuhan NKRI dan kejayaan Pancasila harus dijaga. Keutuhan NKRI harus tetap dijaga, tidak hanya secara geografis, tetapi secara politik, ekonomi dan budaya ini Indonesia kembali menjadi negara yang berdaulat, sebagaimana yang diperjuangkan para ulama NU terdahulu bersama elemen bangsa lainnya.

Untuk menjaga keutuhan NKRI ini sarana yang paling tepat adalah Pancasila, karena Pancasila dengan falsafah Bhinneka Tunggal Ika, merupakan tali pengikat keragaman bangsa ini. Kemampuan Pancasila dalam merekat keutuhan bangsa ini telah terbukti selama bertahun-tahun. Maka NU tidak mau ambil risiko dengan adanya kelompok lain? yang ingin mengganti Pancasila, sebab tanpa Pancasila NKRI tidak akan bisa dipertahankan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sebagaimana NKRI, saat ini Pancasila secara formal memang masih ada, tetapi harap diketahui, Pancasila oleh liberalisme tidak lagi dijadikan sumber nilai, baik dalam merumuskan undang-undang, dalam menentukan kebijakan politik, termasuk dalam kebijakan ekonomi dan kebudayaan. Semuanya mengacu pada berbagai konvensi internasional yang berfalsafah liberal yang jauh dari nilai agama dan tradisi.

Bagi NU membela NKRI dan Pancasila merupakan keharusan politik, untuk menjaga kesatuan dan kedamaian negeri ini. Dan sekaligus merupakan kewajiban syar’i, karena membela negara wajib hukumnya menurut agama.? Sebagaimana diputuskan dalam Muktamar NU di Situbondo bahwa penerimaan dan pengamalan Pancasila bagi umat Islam Indonesia sama dengan menjalankan syariat Islam. Sebagai konsekwensinya NU berkewajiban menjaga dan mengamankan Pancasila.

Komitmen atau kesetiaan ini perlu terus ditegaskan sehingga ketika NU genap berusia satu abad tahun 2026 nanti, sekitar 12 tahun lagi, kita berharap NKRI tetap utuh dan Pancasila tetap jaya. Penegasan ini menunjukkan bahwa NU bukan hanya untuk pada Nahdliyin, tetapi untuk bangsa secara keseluruhan dan bahkan untuk sekalian umat manusia. Karena itu berangkat dari Harlah NU yang 88 ini, tekad dan kesetiaan tersebut kita ikrarkan, di tengah Indonesia dengan NKRI dan Pancasila sedang menghadapi tantangan.

?

KH Said Aqil Siroj

Ketua Umum PBNU

?

* Disampaikan dalam acara peringatan hari lahir atau Harlah ke-88 NU di Jakarta, 31 Januari 2014.

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pesantren Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 15 Januari 2018

Pramuka Maarif NU Keputran Borong 5 Piala di STKIP Muhammadiyah

Pringsewu, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Madrasah Aliyah Maarif NU Keputran Kecamatan Sukoharjo, Pringsewu, Lampung kembali menorehkan prestasi. Kali ini keberhasilan disumbangkan oleh kontingen Gudep 091-092 Madrasah tersebut setelah berhasil mengharumkan nama Madrasah dibidang kepramukaan melalui lomba yang mereka ikuti, Ahad (19/3).

Pramuka Maarif NU Keputran Borong 5 Piala di STKIP Muhammadiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pramuka Maarif NU Keputran Borong 5 Piala di STKIP Muhammadiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pramuka Maarif NU Keputran Borong 5 Piala di STKIP Muhammadiyah

Pada ajang Lomba level Provinsi Lampung yang digelar di Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan (STKIP) Muhammadiyah Pringsewu, MA Maarif NU Keputran mampu menggondol 5 piala pada 5 lomba yang dipertandingkan. Lomba pramuka ini diperuntukkan untuk Pramuka penegak se-Kwarda Lampung yang diikuti oleh Siswa SLTA dan MA se-Provinsi Lampung.

Tangkai lomba yang diperlombakan meliputi Lomba Ketangkasan Baris Berbaris, Miniatur Pionering, Stand Up Comedy, Musabaqah Tilawatil Quran dan Joged Komando.

"Alhamdulillah, MA Maarif Keputran Menyabet 5 Penghargaan dalam Gelar Kreativitas Panca Lomba Pramuka Tingkat Penegak se-Kwarda Lampung di STKIP Muhammadiyah Pringsewu 2017," ujar Pendamping Lomba yang juga Pembina OSIS Madrasah tersebut, Zulian Tri Muhardi sesaat setelah pengumuman dan pembagian hadiah.

Lima trofi piala yang sekaligus menambah koleksi prestasi MA Maarif NU Keputran tersebut disumbangkan dari raihan Juara 1 Miniatur Pionering Putra, Juara 2 Miniatur Pionering Putri, Juara 2 Stand Up Comedy, Juara 3 Musabaqah Tilawatil Quran dan Juara 5 Lomba Joged Komando.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Zulian berharap Prestasi tersebut dapat menambah semangat siswa dan siswi untuk belajar, berkarya , bekerja keras dan disertai rasa tanggung jawab.

Zulian menambahkan bahwa prestasi yang diraih ini merupakan hasil kerja keras para anggota pramuka MA Maarif NU Keputran yang dengan maksimal ? menunjukkan kemampuan terbaik. Latihan intensif dan Soliditas Kontingen juga menjadi salah satu faktor diraihnya prestasi membanggakan ini.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ucapan selamatpun mengalir dari Keluarga Besar MA Maarif NU teutama dari para dewan Guru. "Alhamdulilah, luar biasa untuk Pembina Pak Zulian khususnya, untuk anak luar biasa sekali, kerja keras dan pengorbanan terbayar sudah, sekali lagi selamat God Job," kata salah seorang Guru Wawan Krisdiyanto. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pesantren, AlaSantri, Olahraga Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock