Tampilkan postingan dengan label PonPes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PonPes. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Maret 2018

Menjadi Budak Teknologi: Sebuah Renungan

Oleh: Aswab Mahasin

Dalam salah satu sajaknya Rumi mengatakan, “Ini semua bukan manusia, hanya wajah-wajah manusia yang mereka miliki. Budak-budak perut, korban-korban hawa nafsu.” Rumi merindukan manusia; di dalam kota yang megah itu; kebudayaan dan ilmu berkembang pesat, ia mencari manusia. Semua yang dicari ia temukan di sana, bangunan mewah, mobil mahal, pakaian branded, jam tangan ratusan juta rupiah, smartphone terbaru seharga puluhan juta, gedung-gedung menjulang tinggi, paras bersolek dengan kosmetik mahal, mall-mall yang ramai, makanan beragam jenis, dan berbagai perilakunya. Namun, itu bukan manusia. Rumi meyakinkan lagi, itu manusia, wujudunya manusia, bentuknya manusia, dan penampilannya manusia. Tetapi, bukan manusia sebenarnya, bukan manusia sesungguhnya. 

Menjadi Budak Teknologi: Sebuah Renungan (Sumber Gambar : Nu Online)
Menjadi Budak Teknologi: Sebuah Renungan (Sumber Gambar : Nu Online)

Menjadi Budak Teknologi: Sebuah Renungan

Mari kita merenung sejenak. Siklus hidup harian kita, dari mulai bangun tidur sampai tidur kembali, berapa kebaikan dan kemanfaatan yang kita tebar? Adakah dua atau tiga? Siapakah yang benar-benar mempunyai keinginan—dunia ini menjadi rukun dan saling menghormati? Praktisi politik mana yang tidak haus kekuasaan? Adakah dari kita yang tidak mempunyai kebencian? 

Tuhan menciptakan manusia sebagai khalifatullah, khalifah di muka bumi ini, bagi dunia dan seluruh isinya, semua sumbernya dan semua bendanya. Syed Abul Hasan Ali Nadwi mengatakan, “Manusia bukan untuk menjadi budak benda (materi) tetapi untuk membuat materi menjadi budaknya atau membuatnya untuk menjadi abadi Tuhan, dan untuk memanfaatkannya dalam memenuhi kehendak Tuhan.”

Telah jelas bukan? Teknologi bukanlah “majikan” yang harus kita taati. Ia hanya benda/barang yang mempunyai nilai guna/kekuatan netral untuk melayani manusia—walaupun teknologi berusaha menjadikan kita “jongosnya”. 

Sama-sama kita merasakan, perubahan hidup kita semenjak teknologi membaur. Tidak sedikit diantara kita ketika bangun tidur pertama yang kita cari adalah smartphone. Tidak sedikit juga diantara kita ‘mati gaya’ ketika smartphone kesayangan kita ketinggalan di saat kita berkumpul dengan teman-teman kita. Tidak sedikit di antara kita berebut charger ketika batre smartphone kita habis.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dahulu, janjian dengan seseorang sebatas lisan pun kita tidak bingung. Sekarang, tanpa handphone rasanya kita bingung untuk bertemu dengan seseorang, khawatir inilah-itulah. Banyak perubahan yang kita alami, dari mulai hal terkecil sampai hal terbesar. Ini yang kita rasakan sekarang. 

Ada istilah juga, surga dan neraka saat ini tergantung apa yang kita ‘ketik’ lalu kita ‘klik’ pada tombol ‘enter’. Begitupun anekdot yang mengatakan, dimensi dosa dan pahala berkembang. Dulu, tidak ada dosa medsos, sekarang ada. Dulu, tidak ada dosa hoaks di dunia maya, sekarang ada. Dahulu, Tuhan belum membangun kapling surga bagi pengguna internet yang sehat, dan belum juga membangun kapling neraka bagi pengguna internet yang tidak sehat. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Itu hanya sekedar anekdot, tidak usah diambil serius. Pastinya, di antara kita saat ini telah menjadi hamba teknologi. Meminjam bahasa para filosof, teknologi telah menjadi “tuhan baru” buat kita. Kita ketergantungan, melebihi ketergantungan terhadap Tuhan.

Digambarkan Allah dalam Al-Qur’an (Al-Anbiya: [21]: 52), Nabi Ibrahim AS bertanya kepada kaum penyembah berhala, “Apakah kamu menyembah patung-patung ini?” Sungguh tragis, apa yang kita buat sendiri telah kita sembah. Dewasa ini, teori dirumuskan, hukum ditentukan, mesin canggih dibuat, handphone pintar berjuta pilihan, televisi dengan kendali pikiran, dan sayangnya kita semua menjadi tunduk kepada hal-hal tersebut. Kita diperbudak, padahal Islam telah mengharamkan praktik perbudakan.

Memang berbeda, dahulu manusia memperbudak manusia, sekarang manusia diperbudak mesin. Dahulu manusia membeli budak dan budak yang dibeli itu menjadi jongosnya. Sekarang sebaliknya, manusia membeli mesin dan mesin itu menjadi majikannya dan kita adalah jongosnya.  

Apakah ada yang salah? Tidak ada, selagi produk teknologi difungsikan sesuai kegunaannya. Bukan untuk ujuran kebencian, saling menjatuhkan, memfitnah, apalagi menyebarkan contoh perilaku yang tidak baik, itu tidak masalah. Namun, faktor ini yang menghalangi penghargaan terhadap modernisasi (dengan perkembangan teknologinya) karena telah mengalami atropia (kehilangan kualitas moral).

Mesin-mesin cenderung mencipta tidak hanya lingkungan hidup baru, melainkan juga mengubah hakikat manusia. Lingkungan hidup bukan lagi milik manusia, tetapi justru telah menjadi pemilik manusia. Manusia juga diharuskan menyesuaikan diri pada suatu dunia yang sebenarnya tidak diciptakan baginya. Ia dikejar oleh waktu. Ia makan tidak karena lapar dan tidur tidak karena mengantuk, tetapi karena waktu telah menunjukan saat makan dan tidur. (Imam Sukardi dkk, Pilar Islam Bagi Pluralisme Modern, 2003)

Begitupun fitnah yang tersebar, ujaran kebencian yang ada, ia keluar melalui tulisan maya bukan karena dasar tidak suka, melainkan kehendak berkuasa menuntunnya melakukan itu, dan ia melakoninya dengan kejujuran sesuai pemahamannya. Dalam hal ini, ia merasa mendapatkan ruang ekspresi yang bebas. Hanya saja, kadang lepas kontrol. Berbeda dengan penyebar hoaks berbayar, mereka “keterlaluan”.

Teknologi, khususnya informasi terbuka—melihat arus masyarakat bawah (awam), keterbukaan informasi banyak memberikan beban kehidupan. Ibu-ibu di desa, tukang becak, tukang bangunan, dan tukang-tukang yang lainnya—Obrolannya PKI, obrolannya demo (212, 299, dan seterunya), obrolannya hak angket. Sesungguhnya bukan kapasitas mereka memikirkan itu, tapi mereka merasa terbebani dengan hal tersebut (berita terus-menerus membayangi mereka). Bagi kebanyakan orang, ini kesadaran politik, kesadaran sejarah, dan kesadaran-kesadaran lainnya. Bagi saya, tidak! Sesuatu hal yang sia-sia memikirkan itu (untuk mereka). Disinilah masyarakat terjebak oleh pola pikir dan pola berita “amburadul”. 

Teknologi/internet tidak bisa menjelaskan, mana orang pintar, mana orang bodoh, mana orang jahat, mana orang baik, mana orang bijaksana, mana orang tidak bijaksana, mana orang membawa kebencian, dan mana orang membawa kedamaian. Di situ kita terjebak pada ‘hutan rimba’, berisi berbagai macam binatang berakal, ada singa yang ganas, ada ular berbisa, ada pula orang hutan yang baik, ada juga kelinci yang cerdik, dan ada juga burung yang penyayang. Entahlah, siapa yang benar di antara kita? Alam maya adalah hutan yang tak berpohon, banyak kemungkinan baik dan buruk.

Kita hanya menangkapnya, setiap ada yang tidak sesuai maka ia salah. Memang demikian, kegelapan selalu memiliki banyak rupa, tetapi cahaya hanya satu. Nur (cahaya) senantiasa berbentuk tunggal. Allah berfirman, “Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang beriman. Dia membawa mereka dari dzulumat kepada nur”. (QS. Al-Baqarah [2]: 257). 

Dzulumat adalah bentuk jamak dari dzulmat, berarti kegelapan. Kenapa “nur” selalu berbentuk tunggal? Bukan karena bahasa Arab tidak mempunyai bentuk jamak untuk hal itu, tetapi karena cahaya adalah satu, asalnya satu—kesadaran akan Sang Pencipta. Tidak ada sumber petunjuk lain jika cahaya dari Allah tidak ada. (Syed Abul Hasan Ali Nadwi, Pesan Islam, 1995, hlm. 47) 

Artinya, menyekat “keterbudakan” kita terhadap teknologi ialah dengan kesadaran. Kesadaran terhadap seruan dan perintah dari Allah, untuk kita terapkan dalam realitas kehidupan, agar cahaya-cahaya Ilahi menyelimuti kita. 

Iqbal mengatakan, “Meskipun Barat (teknologi) bersinar dengan cahaya ilmu, lautan kegelapan tidak menjadi “sumber kehidupan”, suatu bangsa (manusia) yang tidak diberkati dengan cahaya Tuhan, uap dan listrik membatasi pekerjaannya.” Bisa dimaknai, teknologi adalah “sumber kehidupan” yang berada pada “lautan kegelapan”, bisa juga sebaliknya—teknologi adalah “lautan kegelapan” yang tidak mempunyai “sumber kehidupan”. 

Karena itu, alangkah indahnya sekarang kita merenung kembali, adanya teknologi (medsos, smartphone, dan internet) memberikan kemudahan terhadap hidup kita, salah satunya kemudahan dalam menebarkan kemanfaatan sebanyak-banyaknya. Kita tidak seharusnya diperbudak, dikendalikan, melainkan kita yang mengendalikan, menjadikan teknologi sebagai “sumber kehidupan” pada “lautan pencerahan”, di dalamnya berisi cahaya-cahaya Tuhan. 

Dengan demikian, kehati-hatian, kontrol diri, dan kesadaran dalam memfungsikan teknologi, khsusunya Medsos, Internet, dan smartphone menjadi hal utama. Selain kesadaran terhadap Allah—continum tak terputus—membangkitkan pula kesadaran moral/etika/akhlak, supaya kita bisa hidup bersama di alam maya, menghormati orang lain, membangun toleransi, dan menebarkan kebaikan.

Saya akhiri dengan pesan Rasulullah SAW dalam sebuah hadits, dinyatakan pada hari kiamat Allah akan berkata kepada hamba-hamba-Nya, “Aku jatuh sakit dan kamu tidak menengok Aku”. Hamba itu akan menjawab, “Engkau Tuhan seluruh alam. Bagaimana saya bisa menengok Engkau?” Kemudian Allah akan berkata, “Tidakkah kamu mengetahui si anu hambaKu sakit dan kamu tidak mau menengoknya? Seandainya kamu pergi untuk melihat dia agar dapat menggembirakan atau membantu, kamu akan mendapati Aku bersamanya.” 

Allah akan berkata lagi, “Wahai anak Adam! Aku minta makanan, tetapi kamu tidak memberi makanan kepadaKu”. Hamba itu akan menjawab, “Engkau Tuhan seluruh alam bagaimana saya dapat memberiMu makanan? Allah akan berkata, “Apakah kamu tidak menyadari bahwa si anu seorang hambaKu minta makanan kepadamu dan kamu tidak memberinya. Seandainya kamu memberi dia makanan kamu akan mendapati dia bersama Aku”. 

Allah akan berkata lagi, “Wahai anak Adam! Aku telanjang, tetapi kamu tidak menutupi aku dengan sebuah pakaian.” Hamba itu akan menjawab, “Engkau Tuhan seluruh alam. Bagaimana saya dapat memberi Engkau? Kemudian Allah akan berkata, “Si anu hambaKu meminta sesuatu kepadamu untuk dipakai dan kamu tidak memberikannya kepada dia. Seandainya kamu telah melakukan hal itu, pakaian itu akan sampai kepada-Ku.”





Penulis, Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah Kebumen, Jawa Tengah

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Kajian Islam, PonPes, Amalan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 19 Januari 2018

Gus Dur: SBY Berupaya Memperburuk Citra Megawati

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menyebut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berupaya memperburuk citra Megawati Soekarnoputri pada Pemilu 2009 mendatang. Hal itu terlihat dari sejumlah bekas menteri pemerintahan Megawati yang jadi ‘bulan-bulanan’ Kejaksaan Agung atas dugaan korupsi.

"Ya, maksudnya untuk menjelekkan Mega, karena banyak yang sekarang diusut, bekas menteri di zamannya Mega. Kalau kita betul-betul demokrat, seharusnya ini tidak terjadi," tegas Gus Dur yang juga mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, di Kantor DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Jalan Raya Kalibata, Jakarta, Kamis (12/4).

Gus Dur: SBY Berupaya Memperburuk Citra Megawati (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur: SBY Berupaya Memperburuk Citra Megawati (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur: SBY Berupaya Memperburuk Citra Megawati

Menurut Ketua Umum Dewan Syura DPP PKB itu, upaya pemerintah untuk memberantas korupsi sangat tampak ‘tebang pilih’. "Meski dibantah seseorang dari Partai Demokrat. Ini karena presiden terlalu penakut, bukan karena dendam apa-apa. Ini hanya untuk tahun (Pemilu, Red) 2009," ujarnya.

Padahal, lanjut Gus Dur, pemerintah saat ini juga korup. "Banyak banget, malah gede-gede (besar-besar). Contohnya saja Hamid Awaludin. Dia menyimpan uangnya Tommy (putra mantan Presiden Soeharto). Itu kan tidak bener. Tidak boleh orang swasta menyimpan duit di pemerintah. Jadi ini tidak lain untuk menjelekkan figur Megawati," tandasnya.

Parlemen Eropa

Di tempat yang sama, Gus Dur dan jajaran elit DPP PKB menerima kunjungan 12 Anggota delegasi Parlemen Eropa pimpinan Graham Watson yang tergabung dalam Alliance of Liberal and Democratics for Europe. Pertemuan itu digelar untuk membangun jaringan kesepahaman tentang nilai-nilai liberal dan demokrasi.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Ini bagian dari bentuk dialog untuk membangun kesepahaman tentang nilai-nilai liberal, karena bagaimana pun liberal itu sangat penting untuk penegakan HAM dan demokrasi," kata anggota Dewan Syura DPP PKB Cecep Syarifuddin.

Untuk membangun jaringan liberal itu, katanya, tidak mungkin dilakukan oleh satu negara, tapi banyak negara. PKB, imbuhnya, adalah satu-satunya partai yang selain mengakui nilai-nilai universal, etika, moral dan liberal, juga merakyat. "Di sinilah pentingnya pertemuan dengan para delegasi tersebut," ujarnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pertemuan juga membahas isu aktual di Indonesia, seperti masalah penegakan demokrasi, pemberantasan korupsi, perlindungan kaum minoritas, dan pertahanan dan keamanan Indonesia. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan PonPes Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 17 Januari 2018

MTs Ma’arif Fajaresuk Raih 3 Piala Drumben

Pringsewu, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Belum genap 1 tahun terbentuk, Grup drumben Gema Bahana MTs Maarif Fajaresuk Pringsewu sudah menunjukkan prestasi yang membanggakan. Pada lomba drumben pelajar Pringsewu Open 2015, Gema Bahana MTs Maarif berhasil menyisihkan sejumlah grup drumben pelajar sekabupaten Pringsewu dengan meraih 3 piala sekaligus.

MTs Ma’arif Fajaresuk Raih 3 Piala Drumben (Sumber Gambar : Nu Online)
MTs Ma’arif Fajaresuk Raih 3 Piala Drumben (Sumber Gambar : Nu Online)

MTs Ma’arif Fajaresuk Raih 3 Piala Drumben

Dalam ajang yang dilaksanakan di lapangan pendopo kabupaten Pringsewu, ? Kamis (14/5), Gema Bahana berhasil meraih Juara II Paramanandi, Juara II Gita Pati, dan Juara III Display. Kegiatan ini merupakan inisiatif dari Persatuan Drum Band Indonesia (PDBI) Pringsewu.

Menurut Kepala MTs Maarif Fajaresuk H Auladi Rosyad, semua ini merupakan perjuangan dan kerja keras semua pihak dari siswa-siswi, pelatih, pembina dan seluruh civitas akademika MTs Maarif Fajaresuk. Rosyad berharap prestasi ini akan memicu perhatian dari segenap pihak baik pemerintah, ? masyarakat akan keberadaan MTs Maarif yang baru tahun ini akan meluluskan siswa-siswinya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Gema Bahana MTs Maarif Fajaresuk siap tampil baik dalam even lomba maupun kegiatan seremonial yang digelar oleh instansi, organisasi, dan lain lainnya,” kata Rosyad.

Ke depannya, ? Rosyad berharap ada peningkatan kualitas penampilan dari anak-anak drumben binaannya. Selain peningkatan kualitas, ? peningkatan kuantitas dari peralatan-peralatan juga yang dibutuhkan diharapkan terealisasi sehingga hasil dari penampilan akan memuaskan. (M Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Nahdlatul Ulama, Humor Islam, PonPes Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 15 Januari 2018

Saat Menag Sampaikan Pesan Jokowi di Kongres Pergunu

Mojokerto, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Agama RI membuka Kongres Kedua Persatuan Guru NU di Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto, Jawa Timur, Kamis (27/10). Kehadiran Lukman mewakili Presiden Joko Widodo lantaran urung hadir karena padatnya jadwal kenegaraan.

Saat Menag Sampaikan Pesan Jokowi di Kongres Pergunu (Sumber Gambar : Nu Online)
Saat Menag Sampaikan Pesan Jokowi di Kongres Pergunu (Sumber Gambar : Nu Online)

Saat Menag Sampaikan Pesan Jokowi di Kongres Pergunu

Dalam sambutannya Lukman mengatakan, Presiden menyampaikan salam kepada para pendidik anak negeri dan terima kasih telah membantu pemerintah dalam mencerdaskan anak bangsa.

"Saat saya menerima tugas dari Mensesneg, saya tanya apakah ada teks dari Bapak yang bisa saya bacakan? Tidak ada," kata Lukman mengawali sambutannya. Tanpa menyerah putra KH Saifuddin Zuhri ini bertanya lagi apakah ada pesan khusus dari Presiden yang harus saya sampaikan?

"Presiden melalui Whatsapp mengatakan Bapak Menteri lebih tahu daripada saya," kata Lukman disambut tawa para hadirin.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Namun bukannya senang, menurut Lukman ini beban baginya karena harus menyampaikan atas nama Presiden. (Rof Maulana/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Habib, PonPes, Kyai Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 12 Januari 2018

Lembaga Publik Harus Sadar Perannya dalam Keterbukaan Informasi

Cirebon, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Komisi Informasi Pusat (KIP) meminta kepada lembaga publik untuk menjadikan keterbukaan informasi sebagai habit atau perilaku yang menjadi kebiasaan baik sehingga menjadi norma untuk kepentingan masyarakat.

Menurut salah seorang Komisioner KIP Henny S. Widyaningsih, 7 tahun penerapan Undang-Undang (UU) 14/2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, masih ada lembaga publik yang tidak menyadari tugasnya tersebut.

Lembaga Publik Harus Sadar Perannya dalam Keterbukaan Informasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Lembaga Publik Harus Sadar Perannya dalam Keterbukaan Informasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Lembaga Publik Harus Sadar Perannya dalam Keterbukaan Informasi

Menurut Henny, lembaga publik perlu diingatkan untuk terbuka dalam memberikan informasi kepada masyarakat. Padahal keterbukaan informasi harus menjadi habit (kebiasaan) yang tidak perlu selalu diingatkan.

"Jadi tidak perlu ada polisinya. Kalau bicara keterbukaan informasi, bukan lagi punya ini itu, tidak perlu ada pemohon, sengketa, baru terbuka. Tapi keterbukaan informasi publik sudah harus mendarah daging," ujar Henny dalam Forum Diskusi dan Media Gathering KIP, Selasa (23/5) malam.

Dia menyebut, keterbukaan informasi di lembaga publik masih banyak hambatan. Dia berharap di tahun-tahun mendatang keterbukaan informasi ini bisa terus digalakkan, terutama di tingkat Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) yang menjadi pintu keluar informasi dari suatu lembaga.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Maka dari itu komitmen penting. Ini tugas semua, teman-teman PPID perlu bahu-membahu membuat gerakan besar, gerakan nasional keterbukaan informasi publik," tegas Henny.

Henny menambahkan, dengan keterbukaan informasi sejatinya dapat membantu lembaga publik terhindar dari informasi bohong (hoax).

"Cara melawan hoax adalah dengan cepat PPID melawan, kalau terlambat maka hoax (yang sengaja dibuat atau tidak) akan menjadi suatu yang dianggap benar," imbuh Komisioner KIP yang telah menjabat selama dua periode ini.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selain para Komisioner KIP lainnya, kegiatan ini juga diikuti oleh sejumlah awak media, baik cetak, televisi, maupun eletronik serta perangkat di lembaga dan kementerian. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan PonPes Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 30 Desember 2017

Warga Palu Pecahkan Rekor Muri Pembacaan Yaasin

Palu, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Ribuan warga Palu mengukir sejarah dengan memecahkan rekor Muri pembacaan Surat Yaasin dengan shaf terpanjang dan peserta terbanyak serta diterjemahkan dalam tujuh bahasa Nusantara, shaf tersebut memanjang sejauh kurang lebih 4,5 KM ? sisi Teluk Palu-Sulawesi Tengah, Ahad (17/5) seperti dilaporkan oleh situs kemenag.go.id.?

Warga Palu Pecahkan Rekor Muri Pembacaan Yaasin (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga Palu Pecahkan Rekor Muri Pembacaan Yaasin (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga Palu Pecahkan Rekor Muri Pembacaan Yaasin

Pembacaan surat Yaasin dipimping langsung oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin ditandai dengan bunyi petasan penanda dimulainya pembacaan surat Yaasin yang serempak berbunyi di setiap zona wilayah teluk.?

Gemuruh lantunan Yaasin yang dibaca ratusan ribu masyarakat ? dengan pakaian warna putih mewarnai Teluk Palu yang sore itu menghadirkan cuaca yang cerah dan angin teluk yang lembut.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Usai membaca Surat Yaasin, dilanjutkan dengan pembacaan terjemahan Surat Yaasin dalam tujuh Bahasa yang dibagi dalam beberapa ayat dalam surat Yaasin, yaitu bahasa Kaili yang dilakukan oleh penterjemah dari IAIN Palu, Bahasa Jawa oleh IAIN Tulungagung, bahasa Banyumasan dari IAIN Purwokerto, bahasa Semarangan dari IAIN Semarang, bahasa Dayak Kanayan dari IAIN Pontianak, bahasa Aceh dari Stain Lokshemawe, dan bahasa Mandailing dari IAIN Padang Sidempuan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sebelumnya, Menag dengan Jip terbuka melakukan silaturahim menyapa masyarakat Palu yang sudah hadir di Teluk Palu sejak usai Dzuhur, mereka duduk memanjang membentuk shaf ? tak terputus sepanjang garis Teluk Palu.

Pembacaan Surat Yaasin dengan shaf terpanjang, peserta terbanyak serta diterjemahkan tujuh bahasa nusantara ini merupakan rangkaian kegiatan Pekan Ilmiah, Olahraga, Seni dan Riset (PIONIR) Perguruan Tinggi Keagamaan ke-VII Tahun 2015 yang akan dibuka oleh Menag Senin (18/5).

Paulus Pangka dari Yayasan Muri dalam sambutannya menyampaikan, bahwa mereka telah menyaksikan rekor baru Muri yaitu pembacaan surat Yaasin dengan peserta terbanyak, shaf terpanjang 4,5 KM dan diterjamahkan dalam tujuh Bahasa Nusantara, menurutnya tujuan pemecahan rekor ini bukan semata memecahkan rekor Muri tetapi mendoakan bangsa Indonesia lebih baik di masa mendatang. ? Sertifikat ? Rekor dengan Nomor 6.938 diserahkan Yayasan Muri kepada Menag Lukman Hakim, Rektor IAIN Palu Zainal Abidin, dan Walikota Palu Rusdi Mastura. ?

Hadir dalam acara tersebut Dirjen Pendis Kamaruddin Amin, Sekda Provinsi Sulawesi Tengah, Walikota Palu Rusdi Mastura, sejumlah pejabat eselon II Pusat,dan pimpinan Perguruan Tinggi Keagamaan di lingkungan Kementerian Agama. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan PonPes, Ahlussunnah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 28 Desember 2017

KPA Nilai Pemerintah Belum Berhasil Wujudkan Reforma Agraria

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan?

Sekretaris Jenderal Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) Dewi Kartika menilai kebijakan pemerintahan saat ini belum mewujudkan Reforma Agraria (RA). Menurutnya, apa yang terjadi sekarang, ialah bukan suatu proses restrukturisasi agraria.

"Itu belum terjadi sampai tahun ketiga ini," kata Dewi Kartika saat mengisi seminar pra Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes NU) 2017 di Tango Hostel, Bandar Lampung, Sabtu (4/11).

KPA Nilai Pemerintah Belum Berhasil Wujudkan Reforma Agraria (Sumber Gambar : Nu Online)
KPA Nilai Pemerintah Belum Berhasil Wujudkan Reforma Agraria (Sumber Gambar : Nu Online)

KPA Nilai Pemerintah Belum Berhasil Wujudkan Reforma Agraria

Ia mengatakan, kebijakan pemerintah terkait agraria, termasuk kebijakan perhutanan tidak bisa diklaim sebagai kebijakan reforma agraria.

"Kebijakan agraria dengan kebijakan reforma agraria itu tentu sangat berbeda," tegasnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selain itu, ia juga menilai, tahapan yang dilakukan pemerintah Jokowi dalam RA tidak prosedural. Mestinya tahapan awalnya harus registrasi dulu, bukan langsung melakukan sertifikasi tanah dengan cara menyebarkankan spanduk yang bersifat seremonial.?

“Jadi pemerintah Jokowi kalau mau melakukan reforma agraria harus registrasi dulu tanah itu,” jelasnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Registrasi yang dimaksud ialah tentang siapa punya berapa tanah, tanah didominasi oleh siapa saja, mayoritas petani punya tanah atau tidak.?

“Nah ini harus diregistrasi dulu termasuk HGU-HGU (Hak Guna Usaha-Hak Guna Usaha) bermasalah, izin-izin tambang, Izin-izin hutan tanaman industri harusnya diregistrasi dulu, sehingga ketahuan krisis agraria dan ketimpangan di Provinsi Lampung dan Jawa seperti apa,” katanya.

Selain itu, objek RA juga menyangkut tanah kelebihan maksimum, artinya, tanah-tanah yang berasal dari kepemilikan tanah yang melakukan monopili harus dipotong, seperti perusahaan skala besar Sinar Mas grup yang menguasai jutaan hektar tanah di Indonesia.

“Seharusnya itu menjadi target utama dari objek reforma agraria karena dia (pemerintah) hendak memperbaiki ketimpangan karena dia hendak menghapus monopoli atas tanah di Indonesia,” ujarnya.

Meski demikian, ia bersama KPA ingin terus memberikan rekomendasi dan penguatan kepada pemerintah agar kebijakannya tidak terlalu menyimpang dari tujuan dan kaidah-kaidah reforma agrarian. Di antara rekomendasinya ialah:?

Pertama, menghilangkan dan mengurangi ketimpangan struktur agraria, penguasaan, penggunaan, dan pengelolaan tanah yang timpang.?

"Jadi harus dibuat lebih adil. Ditata ulang dulu, yang banyak harus dipotong, yang memonopili harus ditertibkan, yang sedikit, yang kecil, yang miskin, petani gurem harus diperkuat," terangnya.?

kedua, menyelesaikan konflik agraria. Menurutnya, selain memperbaiki ketimpangan, pemerintah juga harus menyelesaikan konflik agraria yang sifatnya struktural.?

"Ra itu bukan proyek, Ra itu bukan program kecil. Tetapi RA itu adalah Agenda bangsa yang diamankan oleh Undang-Undang Dasar pasal 33 oleh Undang-Undang Pokok Agraria sampai ada Tap MPR 9 2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam," jelasnya.?

Pada seminar yang mengangkat tema Reforma Agraria untuk Pemerataan Kesejahteraan Warga ini, juga hadir sebagai pembicara Wakil Ketua Umum PBNU H Mochammad Maksum Mahfoedz. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan PonPes Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 09 Desember 2017

Kemah Kerja Pergerakan ala PMII UIN Bandung

Bandung, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Bandung Rayon Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Gunung Djati Bandung mengadakan acara Kemah Kerja Pergerakan (KKP) di Desa Cileunyi Kulon Kampung Galumpit Kabupaten Bandung.

Kemah Kerja Pergerakan ala PMII UIN Bandung (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemah Kerja Pergerakan ala PMII UIN Bandung (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemah Kerja Pergerakan ala PMII UIN Bandung

Layaknya Kuliah Kerja Nyata (KKN), dalam KKP ini para kader PMII belajar mengabdi langsung terhadap masyarakat. Demikian disampaikan Adi maja, Ketua PMII Rayon Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung ketika ditemui Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan di lokasi KKP, Kamis (24/10)

“Kegiatan ini di ikuti sekitar 25 Mahasiswa dari Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN SGD Bandung, selama 1 bulan dari tanggal 7 Oktober sampai dengan 7 November,” ucapnya

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Menurutnya, Kemah Kerja Pergerakan (KKP) ini adalah sebuah implementasi dari nilai-nilai tridharma perguruan tinggi yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Kebetulan kami dari Fakultas Tarbiyah dan Keguruan yang notabenenya belajar pendidikan dan pengajaran maka dari itu inilah aksi nyata kami mempraktekan apa yang telah didapat dari kampus” tambah Adi, yang juga mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Dalam kegiatan ini, setidaknya ada 7 program, antara lain, ? pertama, Bakti Sosial (Baksos) yang meliputi kerja bakti, tadabur alam, pengajian, pendataan warga masyarakat, dan acara keagamaan; kedua, Penyuluhan Kewirausahaan dan Kepemudaan melalui seminar kewirausahaan bekerja sama dengan Balai Besar Pengembangan dan Perluasan Kerja (BBPPK).

Ketiga, Penyuluhan dalam Keluarga; keempat, Pengajian Pemuda yang bekerja sama dengan karang taruna Desa Galumpit; kelima, Pelatihan Seni, yaitu melatih masyarakat khususnya pemuda-pemudi untuk berkreasi dan mengembangkan bidangnya masing masing; keenam, Pelatihan Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ); dan ketujuh, Bimbingan Belajar.

Tak hanya itu, PC PMII Bandung pun andil dalam pembentukan karang taruna. Trio Hamdoni, ketua pelaksana KKP, mengatakan, sebelumnya terjadi dualisme kepemimpinan pada karang taruna antara RW 16 dan RW 17. Tetapi sekarang bersatu dan sejumlah program yang digagas PMII pun diterima mereka.

Karang taruna di desa tersebut mendapat pelatihan dari PMII tentang cara berorganisasi, cara menumbuhkan bakat kewirausahaan, dan lainnya. KKP PMII diterima dengan baik oleh masyarakat setempat.?

Neni, salah seorang warga Galumpit, mengungkapkan bahwa penerimaan tersebut tak lepas kepedulian PMII terhadap masyarakat dan lingkungannya. “Baik sangat membantu warga disini, sosialisasinya bagus dengan warga dengan karang taruna dan dengan tokoh masyarakat,” tukas ketua Rukun Warga (RW) 16 ini. (Bakti Habibi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan PonPes, Kajian Sunnah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 21 November 2017

PBNU: Selesaikan Masalah di Papua Secara Persuasif

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan 

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyampaikan keprihatinan mendalam atas peristiwa penembakan di Papua yang mengakibatkan 8 personel TNI dan 4 warga sipil meninggal dunia, serta 5 orang lainnya menderita luka.



PBNU: Selesaikan Masalah di Papua Secara Persuasif (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Selesaikan Masalah di Papua Secara Persuasif (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Selesaikan Masalah di Papua Secara Persuasif

NU mendesak aparat keamanan segera menuntaskan permasalahan tersebut, namun tidak dengan cara-cara represif. 

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, mengatakan peristiwa penembakan kali ini menambah panjang daftar kekerasan di Papua. Polisi dan TNI sebagai aparat penegak hukum diminta secepatnya mengambil langkah bijak penyelesaian. 

"Siapapun pelakunya, kelompok separatisme atau yang lain dengan tujuan tertentu, (penembakan) ini adalah kriminal. Pelakunya harus segera ditangkap dan dihukum seberat-beratnya," tegas Kiai Said di Jakarta, Jumat ( 22/2/2013). 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kiai Said juga mengungkapkan rasa dukacita dan belasungkawa kepada seluruh keluarga korban penembakan tersebut. "Atas nama pribadi dan seluruh Nahdliyin, kami ikut berdukacita. Semoga Allah mengampuni dosa seluruh korban, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan," lanjutnya.  

Untuk penuntasan masalah kekerasan di Papua, Kiai Said meminta agar tidak dilakukan dengan mengedepankan cara-cara kekerasan. Ruang dialog sebagai sarana mengurai permasalahan dan menemukan jalan keluar disarankan untuk diperbanyak digelar. 

"Pemerintah pernah sukses menerapkan cara-cara itu di Aceh. Di Papua karakteristiknya tidak jauh berbeda. Jadi saya minta Pemerintah membuka sebanyak-banyaknya ruang dialog, libatkan masyarakat setempat untuk mencari jalan keluar terbaik," urai Kiai bergelar Doktor lulusan Universitas Ummul Qura, Mekah, ini. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Menjadi satu agenda dalam penuntasan masalah di Papua, Kiai Said juga mendesak Pemerintah untuk segera merealisasikan peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat. PBNU diakuinya pernah menerima aduan masyarakat Papua perihal kesenjangan kesejahteraan tersebut. 

"Papua sangat kaya, tapi masyarakatnya tidak merasakan itu secara utuh. Ini juga menjadi PR Pemerintah untuk segera diselesaikan, sekaligus menjadi salah satu cara penyelesaian masalah kekerasan," pungkas Kiai Said. 

Seperti diberitakan, peristiwa penembakan terjadi di dua lokasi berbeda di Papua. Pertama terjadi di posko Tinggi Nambut, Kabupaten Puncak Jaya, yang menewaskan  seorang personel TNI atas nama Pratu Wahyu Prabowo.

Penembakan kedua terjadi di Kampung Tangulinik, Distrik Sinak, Kabupaten Puncak. 7 personel TNI tewas dalam peristiwa tersebut, yaitu Sertu Ramadhan, Pratu Edi, Praka Jojo Wiharja, Pratu Mustofa, Praka Wempi, Sertu Udin, dan Sertu Frans. Dalam perkembangannya 4 warga sipil juga menjadi korban jiwa dalam peristiwa ini.

 

Redaktur: Hamzah Sahal

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan PonPes, Nasional, Tokoh Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 01 November 2017

Politik Dompleng Masjid

Oleh H A Djunaidi Sahal

Kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan telah memberikan dampak bagi tatanan sosial, baik masyarakat kota maupun masyarakat di pedesaan. Hal ini juga berpengaruh pada paradigma masyarakat dalam memandang politik dan cara bertindak di dalam masyarakat. Disadari atau tidak, pola sebagian  masyarakat di Indonesia sudah bergeser ke arah yang rentan terhadap disintegrasi, akibat pengaruh kemajuan teknologi, di mana perkembangan teknologi sangat mudah digunakan oleh kelompok-kelompok tertentu untuk menyebarkan provokasi negatif yang mengancam keutuhan negeri ini.

Isu tentang peranan agama terhadap pola hidup yang tentaram dan damai, sangat menarik untuk di perbincangkan ketika konflik-konflik horizontal masyarakat yang mengarah pada konflik SARA dilatarbelakangi oleh agama. Mencermati meluasnya wabah intoleransi dalam beberapa momentum terakhir, di mana banyak kelompok-kelompok intoleran memanfaatkan isu yang berkembang di masyarakat. Kita dapat melihat fenomena Pilkada DKI Jakarta, yang diwarnai dengan kasus penistaan agama sangat mencuat ke muka publik sehingga banyak kelompok intoleran yang mengambil kesempatan untuk tampil. Hal ini memperkuat eksistensi kelompok tersebut semakin berani untuk muncul di tengah-tengah masyarakat yang dapat memprovokasi masyarakat untuk apatis dengan Pancasila dan sistem hukum di Indonesia.

Politik Dompleng Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Politik Dompleng Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Politik Dompleng Masjid

Kondisi perpolitikan yang dilatarbelakangi oleh agama, masih menjadi isu sentral menjelang tahun politik 2018 dan 2019, kita bisa lihat apa yang terjadi di kota Jakarta yang notabene memiliki tingkat intelektual yang baik tetapi masyarakatnya masih terprovokasi dengan isu-isu agama. Gerakan politik yang memanfaatkan isu agama masih dipakai oleh beberapa kelompok untuk memprovokasi masyarakat, salah satunya Gerakan Indonesia Shalat Subuh (GISS). Tentu pola ini masih sama dengan apa yang pernah dilakukan dalam pilkada DKI Jakarta beberapa waktu lalu, di mana banyak masjid ditarik dalam ranah pertarungan politik. Masjid juga dimanfaatkan untuk kampanye politik dan menolak pemimpin non-Muslim serta yang lebih ekstrem lagi label kafir untuk pendukung non-Muslim terjadi di mana-mana, bahkan menolak jenazah pendukung non-Muslim.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kita hidup di Indonesia tentu harus menyepakati Pancasila sebagai dasar negara. Setiap warga negara Indonesia memiliki hak yang sama. Indonesia bukan negara sekuler, tetapi juga bukan negara agama. Setiap warga negara yang memenuhi persyaratan undang-undang, maka apapun latar belakangnya, warga negara Indonesia berhak memilih dan dipilih. Jika pandangan politik masyarakat Indonesia terprovokasi dengan isu-isu agama saja, hal ini sangat berpotensi pada tindakan intoleran. Dengan memutarbalikkan ajaran agama dan mengutip ayat-ayat Al-Quran, kelompok-kelompok intoleran akan memanfaatkan masyarakat untuk kepentingan gerakan politiknya.

Masjid sebagai pusat dakwah, tentu harus bersih dari tindakan dan ajaran politik praktis serta dakwah yang bersifat SARA. Secara luas, politik yang membahas sisi keilmuan, kesejahteraan masyarakat bahkan kritik terhadap praktik penyelenggaraan negara tidak dilarang di dalam masjid. Tetapi ketika politik dimanfaatkan untuk kepentingan perebutan kekuasaan, di situlah potensi perpecahan terhadap umat Islam sangat mungkin terjadi.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Isu agama dan politik identitas masih sangat kuat menjelang pertarungan politik tahun 2018 dan 2019, setelah sukses menjadikan masjid sebagai alat propaganda politik yang dibawa oleh kelompok-kelompok tertentu dalam pilkada DKI Jakarta beberapa waktu lalu, hal ini menjadi faktor penentu dinamika politik nasional ke depan. Agitasi serta provokasi GISS dan gerakan kelompok intoleran lainnya dikhawatirkan menjadi metode politik yang mendompleng kegiatan ibadah umat Muslim menjadi kegiatan politik dalam memperebutkan kekuasaan. Gerakan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok ini merupakan gerakan politik yang memobilisasi umat Islam untuk membatasi hak-hak lawan politik. Dalam konteks pemilu 2018 dan 2019 “politik masjid” sangat mungkin dijadikan basis gerakan oleh kelompok-kelompok intoleran dalam agenda merebut kekuasaan.

“Kejatuhan Ahok” oleh kasus penistaan agama merupakan serangkaian serangan politik yang ditujukan oleh lawan-lawan politiknya. Kelompok-kelompok intoleran tentu tidak hanya berhenti di situ. Target ke depannya adalah untuk menjatuhkan lawan-lawan politik lain, khususnya yang ada di pemerintahan Jokowi (Politik Bola Sodok). Jika kelompok ini berhasil mempengaruhi masjid sebagai pusat gerakan, maka masjid akan menjadi pusat pengumpulan umat Muslim untuk diajarkan bagaimana merebut kekuasaan dan menolak non-Muslim sebagai pemimpin serta Jakarta sebagai pilot project dalam mempengaruhi wilayah-wilayah lain yang ada di Indonesia.

Umat Islam Indonesia mempunyai tanggung jawab moral terhadap bangsa ini. Menjaga stabilitas kehidupan berbangsa dan bernegara adalah kewajiban setiap warga negara. Umat Islam di Indonesia harus tetap menjaga suasana dan situasi yang kondusif, serta menghargai sesama tanpa memandang latar belakang dan pilihan politik, agar ke depannya kita dapat menjaga keutuhan bangsa Indonesia dari ancaman-ancaman intoleransi.

*) Wakil Sekretaris PWNU DKI Jakarta. Ia juga Sekretaris Jenderal Forum Silaturahmi Bangsa (FSB).Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Tegal, PonPes, Sejarah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 09 Oktober 2017

Pasujudan Sunan Bonang Destinasi Wisata Saat Libur Lebaran

Rembang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Sebagai salah satu objek wisata di Kabupaten Rembang, Pasujudan Sunan Bonang yang terletak di Desa Bonang Kecamatan Lasem-Rembang pada lebaran tahun ini kembali ramai oleh pengunjung. Mereka memanfaatkan masa libur panjang 5 hingga 10 Juli 2016.

Salah seorang pengunjung asal Kabupaten Blora, Hadi, mengatakan, pasujudan merupakan destinasi wisata religi yang wajib di disinggahi saat melewati jalur pantura Lasem-Rembang.

Pasujudan Sunan Bonang Destinasi Wisata Saat Libur Lebaran (Sumber Gambar : Nu Online)
Pasujudan Sunan Bonang Destinasi Wisata Saat Libur Lebaran (Sumber Gambar : Nu Online)

Pasujudan Sunan Bonang Destinasi Wisata Saat Libur Lebaran

"Saya memang sering mampir di pasujudan saat melakukan perjalanan ke Surabaya. Tapi jika berjalan melewati Rembang, rasanya belum plong (lega) jika belum berziarah ke makam Sunan Bonang yang ada di Desa Bonang Rembang ini, dan sekaligus menikmati pemandangan di area pasujudan yang tampak asri dan damai," katanya, Ahad (10/7).

Usai berziarah dan bersantai sejenak di atas pasujudan, ia selanjutnya meneruskan perjalanan ke Kota Suarabaya untuk berlebaran bersama keluarganya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sementara itu, juru kunci Yayasan Sunan Bonang Abdul Wakhid menjelaskan, banyaknya pewisata religi setiap libur lebaran. Menurut Wakhid, di Desa Bonang banyak sekali tempat tujuan wisata religi yang dapat dikunjungi ketika libur panjang, di antaranya pasujudan Sunan Bonang sebagai tempat bermunajatnya Maulana Madum Ibrahim atau Sunan Bonang, Gunung Batu Layar, alat dakwah yang berupa bende becak, Masjid Sunan Bonang yang konon didirikan secara tiba-tiba tanpa sepengatehuan warga. (Ahmad Asmui/Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan PonPes, Pondok Pesantren, Tegal Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 22 September 2017

Warga Amerika Bicara Dialog Lintas Agama di Pesantren

Sukoharjo, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Max Ediger, warga Amerika yang berkeliling dunia untuk menyuarakan dialog lintas agama hadir bersama warga asal Moro, Filipina Selatan, Tirmizy Abdullah, dalam sarasehan yang digelar di Pondok Pesantren Al-Muayyad Windan, Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo, Jumat (15/2) pekan lalu.

Pria berkacamata itu mulai bercerita tentang pengalamannya saat berada di desa terpencil di Myanmar. Pernah ia mendapatkan beberapa kesaksian dari para biksu yang pernah hidup pada masa perang etnis tahun 1947.

Warga Amerika Bicara Dialog Lintas Agama di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga Amerika Bicara Dialog Lintas Agama di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga Amerika Bicara Dialog Lintas Agama di Pesantren

Dahulu, desa yang ditempati para biksu tersebut hidup damai antara Kristen dan Budha, sampai pada akhirnya datang bala tentara yang memaksa warga desa beragama Kristen untuk mengganti keyakinan mereka, beragama Budha. Segala cara ditempuh tentara untuk mencapai tujuannya, termasuk memanfaatkan para pemimpin agama.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Para biksu diberi dua galon berisi minyak untuk membakar rumah dan gereja,” ungkap koordinator Interfaith Cooperation Forum itu.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Tapi untungnya mereka menolak perintah tentara tersebut. Mereka berbuat demikian karena merasa tidak ada yang berbeda antara Umat Buddha dengan Kristen, “Hidup dan Tumbuh di tanah yang sama, minum dari sungai yang sama,” tutur Ediger menirukan ucapan biksu.

Ediger juga banyak bertutur tentang pentingnya dialog. Dialog berarti proses yang bergerak secara perlahan mencari kebenaran. Tujuan dari dialog adalah memahami bahwa perbedaan itu nyata, tidak untuk dipertentangkan, tetapi untuk disandingkan sehingga muncullah keindahan. “Kita belajar bahwa kita beda, tapi beda itu indah,” pungkasnya.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan PonPes Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 08 Mei 2017

Mbah Moen: Muktamar NU Ke-33 Muktamar Siklus

Jombang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Kaum Muda Nahdlatul Ulama (NU) berhimpun dalam satu musyawarah dihelat 2-3 Agustus di Universitas Wahab Chasbullah, Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur. Pada kesempatan itu, KH Maimoen Zubair yang hadir memberikan tausyiah menyambut baik kegiatan berlangsung pada muktamar yang menurutnya muktamar siklus.

"Ini muktamar siklus. Saya sebut demikian karena 33 merupakan putaran sempurna, bertemunya matahari dan rembulan itu setiap 33 tahun," kata sesepuh NU yang biasa dipanggil Mbah Moen itu, Ahad (2/8).

Mbah Moen: Muktamar NU Ke-33 Muktamar Siklus (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Moen: Muktamar NU Ke-33 Muktamar Siklus (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Moen: Muktamar NU Ke-33 Muktamar Siklus

Di hadapan sekitar 2.000 kaum muda NU, mustasyar PBNU meminta jika nanti hadirin meninggal dan ditanya siapa bapaknya dalam kubur, maka jangan ragu menjawab Ibrahim.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Ibrahim mengetahui adanya manusia khos, tertentu, dan manusia biasa yang tahunya peristiwa ditimbulkan dari mata dua. Ibrahim ialah satu-satunya nabi yang menegaskan, Islam akan berkembang terus-menerus. Apalagi setelah Allah mengangkat Nabi Besar Muhammad SAW," ujar Pengasuh Ponpes Al Anwar Sarang-Rembang, Jawa Tengah itu lagi.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Agama adalah garis vertikal bukan horizontal. Namun demikian, Mbah Moen bertutur, agama tidak bisa menjadi agama yang benar-benar maju tanpa memikirkan yang horizontal.

Menurut Mbah Moen, Ibrahim mengetahui putaran matahari dari barat ke timur. Berbeda dengan Kaisar Babilonia ke-1, Raja Namrud yang hanya tahu matahari datang dari timur ke barat.

"33 dikali 3 itu Asmaul Husna," ujar Mbah Moen pada kegiatan yang juga dihadiri Menteri Agama Lukman Hakim Syaifudin, Ketua Umum Ikatan Sarjana Nahdaltul Ulama (ISNU) Ali Masykur Musa, Koordinator Seknas Gusdurian Alissa Wahid, dan Presidium I Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) M Zimamul Adli. (Gatot Arifianto/Mahbib)

Foto: KH Maimoen Zubair memberikan tausyiah pada Musyawarah Kaum Muda NU di Universitas Wahab Chasbullah, Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur, Ahad (2/8).

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Sejarah, PonPes, Berita Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 17 Februari 2017

NU dan NKRI Tidak Terpisahkan Selamanya

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan



Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdhatul Ulama (STAINU) Jakarta menyelenggarakan kuliah umum dengan narasumber Wakil Ketua Lakpesdam PBNU H. Ahmad Baso. Seluruh mahasiswa STAINU Jakarta beserta dosen mengikuti kuliah mengawali pertemuan pertama semester genap.

NU dan NKRI Tidak Terpisahkan Selamanya (Sumber Gambar : Nu Online)
NU dan NKRI Tidak Terpisahkan Selamanya (Sumber Gambar : Nu Online)

NU dan NKRI Tidak Terpisahkan Selamanya

"NU dan NKRI tidak akan dipisahkan selamanya, bagaikan melindungi orang kepanasan, menunjukan jalan yang benar bagi orang yang kesasar, melarang orang yang mengalami kegelapan," ujar Ahmad Baso di kampus yang berlokasi di Yayasan Miftahul Huda, Cengkareng, Jakarta Barat, Ahad ( 22/1 ).?

Menurut dia, NU membangun ikatan kebersamaan pada segenap penduduk Indonesia tanpa melihat latar belakang keyakinan dan agamanya. Bahkan sebelum Indonesia merdeka, para pejuang dan pahlawan serta syuhada mayoritas dari kalangan santri dan ulama pondok pesantren yang berafiliasi dengan NU.?

Sehingga, lanjut pria yang pernah nyantri di Pesantren An-Nahdlah Makassar (1985-1990) dibawah asuhan Anregurutta Muhammad Haritsah AS, itu keberadaan NKRI ini dibangun di atas tulang berulang para syuhada, santri, dan ulama tanpa pamrih.

"Para penguasa dan pejabat di Nusantara ini harus menegakkan keadilan tidak mengunakan akal pikiran saja, melainkan menggunakan hati nurani ke-NU-an," kata penulis buku Agama NU untuk NKRI tersebut.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Salah satu mahasiswa STAINU Jakarta bertanya kepada narasumber, bagaimanakah sumbangsih NU untuk mempertahankan UUD 1945 dan Pancasila.

"Hakikat musyawarah itu tidak dapat tergantikan yaitu asas kekeluargaannya, tradisinya dan pondasi. Itu tidak dapat diubah-ubah. Dan yang diubah dari UUD 1945 itu hanyalah bajunya saja, tetapi makna dan filosofi undang- undang tentang ekonomi, adat, agama, dan kemakmuran rakyat Indonesia tetaplah pada pondasinya yaitu Pancasila," jawab Ahmad Baso, anggota Komnas HAM RI (periode 2007-2012).

Kalau, Indonesia diubah dengan sistem lain, lanjut Ahmad Baso, warga NU dan mayoritas umat Islam tidak akan menerima sistem baru yang belum teruji dengan membuang sistem pemerintahan yang telah menjamin pemerintahannya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Dengan sejumlah alasan tersebut, tidak ada pilihan bagi warga NU, kecuali semakin mantap dalam berjamiyah serta kukuh menjaga negeri ini. Bahkan dikatakan bahwa NKRI harga mati," pungkasnya. (Elsa Ruspandi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan PonPes, Ulama Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 17 Januari 2017

PC IPNU-IPPNU Bantul Adakan Konfercab

Bantul, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pengurus Cabang IPNU-IPPNU Kabupaten Bantul menggelar Konferensi Cabang (Konfercab), Ahad pagi (12/05) di Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ) An-Nur Ngerukem, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

Dengan mengangkat tema “Pelajar Bersatu Rapatkan Barisan Menuju Pelajar yang Berakhlak Mulia”, acara ini diikuti oleh seluruh kader komisariat IPNU-IPPNU se-Bantul. Pembukaan acara pun berlangsung cukup khidmat dengan kehadiran sejumlah tamu undangan, seperti perwakilan Bupati Bantul, PCNU Tanfidziyyah dan Syuriyah, PW IPNU-IPPNU Yogyakarta, Anshor, Muslimat, Fatayat, dan seluruh PC IPNU-IPPNU se-DIY.

PC IPNU-IPPNU Bantul Adakan Konfercab (Sumber Gambar : Nu Online)
PC IPNU-IPPNU Bantul Adakan Konfercab (Sumber Gambar : Nu Online)

PC IPNU-IPPNU Bantul Adakan Konfercab

Setelah pembukaan, pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars IPNU-IPPNU, acara dilanjutkan dengan iringan sambutan. Dimulai dari ketua panitia, ketua cabang, ketua PW IPNU-IPPNU, PCNU, Perwakilan STIQ An-Nur, kemudian dibuka oleh Bupati Bantul. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dalam sambutannya, PCNU DIY yang diwakili oleh H Habib mengatakan berharap kepengurusan yang dihasilkan nantinya dapat berbuat lebih baik dalam menyongsong masa depan. 

“Karena masa depan bangsa terletak di tangan para pemuda,” ujarnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sementara Bupati Bantul yang dalam kesempatan itu diwakili oleh Staff Ahli, Sunarto, memberikan pesan tiga hal yang harus ada pada jiwa kader IPNU-IPPNU, yakni kemauan, kemampuan dan meluangkan waktu. 

“Banyak orang sukses yang pada masa mudanya dahulu karena ikut berorganisasi. Kalian semua adalah pemuda pilihan dari sekian pemuda yang ada di Bantul,” motivasinya kepada seluruh peserta acara.

Ia juga begitu mengapresiasi tema yang diangkat, karena sangat berkesinambungan dengan motto yang dijunjung tinggi oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Bantul, yakni cerdas, berakhlak mulia, dan berkepribadian Indonesia. 

Setelah itu, ia pun membuka acara Konfercab tersebut dengan membaca Basmalah. Selanjutnya, acara pembukaan itu ditutup dengan do’a oleh KH. Yazid Nawawi. Usai pembukaan selesai, acara dilanjutkan dengan stadium general.

Kuni Maghfuroh, selaku ketua cabang IPPNU Kabupaten Bantul menjelaskan rangkaian acara Konfercab yang terdiri dari Pembukaan, stadium general, Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ), kemudian dilanjutkan dengan sidang komisi dan diakhiri dengan pemilihan ketua cabang IPNU-IPPNU Kabupaten Bantul periode 2013-2015 mendatang.

“Semoga kepengurusan yang akan datang dapat menghasilkan kader yang lebih baik, dan bisa meneruskan perjuangan, khususnya di IPNU-IPPNU, dan umumnya di lingkup NU dan masyarakat,” tandas Kuni ketika ditanya tentang harapan pada kepengurusan mendatang.

Redaktur: Mukafi Niam

Kontributor: Dwi Khoirotun Nisa’ 

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan PonPes, Pertandingan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 28 April 2016

LP Ma’arif NU Minta Kearifan Pemerintah

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kontroversi usulan penyelenggaraan Ujian Nasional (UN) mendapat tanggapan dari Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP Ma’arif NU). Organisasi yang menaungi 12 ribu lembaga pendidikan NU di seluruh Indonesia ini meminta pemerintah untuk bersikap arif dan bijaksana dengan menggelar UN ulang mengingat banyaknya jumlah siswa yang tidak lulus ujian tersebut.

“Kami minta pemerintah bisa arif dan bijaksana. Beri kesempatan bagi siswa yang tidak lulus untuk ikut ujian (UN) susulan,” kata Ketua Umum PP LP Maarif NU Nadjid Muchtar kepada wartawan di kantornya Jalan Taman Amir Hamzah, Matraman Timur, Jakarta, Kamis (29/6)

LP Ma’arif NU, kata Nadjid, menilai akan terasa tidak adil jika standar kelulusan seorang siswa diukur dengan UN. Pasalnya, lanjutnya, pendidikan di Indonesia belum merata. “Problemnya kan pemerataan. Di daerah (desa) dan di kota kan tidak sama. Jadi, tidak adil kalau Ujian Nasional itu jadi standar kelulusan,” katanya.

LP Ma’arif NU Minta Kearifan Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)
LP Ma’arif NU Minta Kearifan Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)

LP Ma’arif NU Minta Kearifan Pemerintah

Menurut Nadjid, UN seharusnya digelar hanya menjadi alat ukur untuk memetakan kualitas pendidikan secara nasional. ”Unas mestinya untuk alat pemetaan saja, bukan meluluskan siswa. Pihak sekolah, saya kira lebih tahu soal kualitas siswanya,” katanya.

Tak Setuju Tawaran Paket C

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

LP Ma’rif NU, kata Nadjid, juga tidak setuju tawaran pemerintah tentang penyelenggaraan program Paket C bagi siswa yang tidak lulus. Tawaran tersebut dinilai cukup memberatkan siswa, karena biayanya mahal.

Nggak usah pake Paket C segala. Paket C itu mahal, Rp 180 ribu biayanya,” ujar Nadjid. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan PonPes, Quote Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 19 Maret 2012

MTs Negeri Ketanggungan Siap Bagikan 900 Paket Zakat

Brebes, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan?

Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri Ketanggungan, Brebes menyiapkan 900 paket zakat fitrah atau sekitar 2,25 ton yang bakal dibagikan kepada masyarakat sekitar sekolah. ? Zakat fitrah tersebut dikumpulkan dari siswa dan guru MTs Negeri Ketanggungan selama bulan Ramadhan.akan dibagikan pada malam hari raya idhul fitri 1438 Hijriyah.?

“Sekitar 80 persen zakat dari siswa dan guru berhasil terkumpul,” tutur Kepala MTs Negeri Ketanggungan Maspau, di sela buka puasa bersama dan khotmil quran Pengurus OSIS di madrasah setempat, Ahad (18/6).

MTs Negeri Ketanggungan Siap Bagikan 900 Paket Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)
MTs Negeri Ketanggungan Siap Bagikan 900 Paket Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)

MTs Negeri Ketanggungan Siap Bagikan 900 Paket Zakat

Maspau menjelaskan, zakat dihimpun dari 1.082 siswa, namun yang masuk hanya sekitar 80 persen lebih dikarenakan siswa kelas 9 sudah lulus. Para siswa ada yang memberikan dalam bentuk beras 2,5 kilogram namun ada juga yang berbentuk uang.?

“Sudah menjadi tradisi, kalau malam hari raya madrasah kami membagi zakat kepada masyarakat hasil dari himpunan keluarga besar MTs N Ketanggungan,” ungkapnya.

Terkait kegiatan Pesantren Ramadhan pihaknya telah menggelar selama seminggu dengan bimbingan 10 guru pembimbing, Dalam pesantren tersebut para santri antara lain diberikan materi dasar dasar beribadah, ? tayamum, ? wudlu, ? doa harian, ? doa sholat wajib, tadarus, ? sholat duha. ?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Juga dilakukan kajian kitab kuning yakni kitab safinatunnajah dan ? ahlakul banin,” paparnya.

Tadarus telah mengkhatamkan 30 juz dan para siswa yang berhasil khatam, diajak buka puasa bersama sekaligus Khotmil Quran.?

Madrasah peraih penghargaan The Most Favorite Islamic School Of The Year (Sekolah Islam Favorit) dari Lembaga Indonesian Achievment Centre ini menjadi sekolah rujukan di wilayah Brebes bagian tengah. Berbagai prestasi telah baik itu di tingkat nasional maupun regional sehingga menjadi inspirasi dan informasi yang berkualitas bagi sekolah imbas di sekitarnya.

Berbagai kegiatan dilaksanakan untuk meningkatkan prestasi siswa agar menjadi siswa yang cerdas, terampil, inovatif juga berakhlak. Madrasah ini juga memiliki kelas unggulan untuk mencetak siswa mampu bersaing di tingkat lanjutan dan masuk SMA unggulan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Kelas unggulan menggunakan ruang ber AC, karena proses belajarnya sampai sore.” pungkasnya.? (Wasdiun / Muslim Abdurrahman)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ulama, PonPes Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 16 Januari 2009

Ribuan Nahdliyin Hadiri Peringatan 1000 Hari Gus Dur

Demak, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Ribuan Nahdliyin dari kabupaten Demak dan sekitarnya Sabtu (22/9) tadi malam menghadiri tahlil umum dan pengajian kebangsaan dalam rangka memperingati 1000 hari wafatnya presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.



Ribuan Nahdliyin Hadiri Peringatan 1000 Hari Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Nahdliyin Hadiri Peringatan 1000 Hari Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Nahdliyin Hadiri Peringatan 1000 Hari Gus Dur

Kegiatan diselenggarakan Pengurus Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama ? (MWCNU) kecamatan Demak Kota di Serambi Masjid Agung Demak.

Ketua MWCNU Demak Kota K Yatin Ch ditengah tengah acara kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan mengatakan, kegiatan dimaksudkan untuk mengenang sang guru bangsa yang juga tokoh yang sangat disegani di kalangan para kiai dan tokoh masyarakat lainnya. Menurutnya, warga NU merasa seakan Gus Dur belum wafat dan masih hidup.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Saking cintanya pada Gus Dur mereka itu seakan ndak percaya kalau Gus Dur sudah sedo, sehingga ? acara nyewu ini dianggap seperti acara NU yang menghadirkan Gus Dur di tengah tengah jamaah,” kata K Yatin.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Lebih lanjut K Yatin menyampaikan dalam acara tersebut sengaja MWC NU kerja sama dengan Ansor Demak pesantren dikabupaten Demak, Ahbabul Musthofa dan Takmir Masjid Agung Demak

“Selain dengan PC Ansor kami menggandeng ? pesantren Attaslim Kracaan Demak asuhan KH M Nurul Huda, Pesantren BUQ Betengan Asuhan KH R Harir Muhammad, Fathul Huda asuhan KH Zainal Arifin Ma’shum, Subulussalam asuhan KH Hafidz Kasri, Nurul Hikmah, Al Istiqomah, Assujudiyyah, Ahbabul Musthofa dan takmir Masjid Demak,” tambahnya.

Tahlil dan pengajian semalam terhitung sangat istimewa selain dihadiri ribuan nahdliyin yang meluber sampai alun alun tersebut juga dihadiri para kiai, habaib, masyayikh serta menghadirkan tiga mubalig kondang yang pernah berjuang bareng bersama Gus Dur, diantaranya KH Yahya Cholil Staquf (juru bicara kepresidenan saat Gus Dur Menjabat), KH Nuril Arifin (mantan panglima Pasukan Berani Mati) serta KH Buchori Masruri (mantan ketua PWNU Jawa Tengah). Ketiga kiai tersebut dalam mauidhohnya mengulas manaqib atau biografi Gus Dur.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor : A.Shiddiq Sugiarto

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan PonPes, Fragmen Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 20 Mei 2008

Beda Pilihan di Pilkada, Rakyat Indonesia Tetap Bersaudara

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak tahun 2017 yang dilaksanakan Rabu (15/2/2017) cukup menguras tenaga dan pikiran masyarakat Indonesia lewat munculnya berbagai polemik dan perdebatan, khususnya perhelatan Pilkada di DKI Jakarta.

Namun, menurut Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU H Rumadi Ahmad, walaupun berbeda pilihan, masyarakat Indonesia tetap bersaudara. Prinsip ini penting untuk tetap menjaga keharmonisan dan persatuan bangsa.

Beda Pilihan di Pilkada, Rakyat Indonesia Tetap Bersaudara (Sumber Gambar : Nu Online)
Beda Pilihan di Pilkada, Rakyat Indonesia Tetap Bersaudara (Sumber Gambar : Nu Online)

Beda Pilihan di Pilkada, Rakyat Indonesia Tetap Bersaudara

“Seberapa pun jarak yang membedakan kita dalam proses Pilkada, kita semua tetap bersaudara,” ujar Rumadi saat dihubungi Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan, Rabu (15/2) di Jakarta.

Dia tidak memungkiri bahwa pilihan politik memang kerap menimbulkan konflik di antara anak bangsa. Padahal kendaraan politik merupakan sarana mengelola negara untuk mewujudkan masyarakat sejahtera secara keseluruhan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Apapun pilihan politikmu, kita semua tetap bersaudara,” tegas Dosen Pascasarjana STAINU Jakarta ini.

Rumadi menyayangkan jika proses demokrasi dalam bentuk Pilkada tersebut menimbulkan kekisruhan tak berkesudahan sehingga merusak persaudaraan.

“Kalau ada orang yang demi Pilkada merusak persaudaraan, itu seperti pepatah Jawa: golek upo, kelangan sego (mencari sepotong nasi, kehilangan nasi),” ucap pria yang juga Komisioner Komisi Informasi Pusat (KIP) ini. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Meme Islam, PonPes, Doa Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 04 Maret 2005

Borong Juara, IPPNU Banyuwangi Pertahankan Prestasi

Banyuwangi, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Berbagai prestasi terus dicapai oleh IPPNU Banyuwangi. Hal itu diwujudkan dengan diraihnya gelar Juara Umum IPPNU Award, Juara Ketiga Lomba Qosidah, dan Juara Ketiga Lomba Mars IPPNU oleh IPPNU Banyuwangi.

Perlombaan ini diselenggarakan dalam rangka Konferensi Wilayah Ke-19 IPPNU Jawa Timur oleh IPPNU Jawa Timur pada bulan Agustus lalu di Kantor PWNU Jawa Timur.

Borong Juara, IPPNU Banyuwangi Pertahankan Prestasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Borong Juara, IPPNU Banyuwangi Pertahankan Prestasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Borong Juara, IPPNU Banyuwangi Pertahankan Prestasi

Penyerahan piala dan hadiah yang dilakukan pada Pra Konferwil Ke-19 IPPNU Jawa Timur di Aula SMP Negeri 1 Sidoarjo, Jumat (2/12). Dalam acara ini hadir Wakil Gubernur Jawa Timur H Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Bupati Sidoarjo H Saiful Ilah, dan seluruh pengurus IPPNU se-Jawa Timur. Turut hadir juga Ketua Umum IPPNU Puti Hasni.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ketua IPPNU Banyuwangi Halimah menerima piala Juara Umum IPPNU Award yang diserahkan oleh Gus Ipul. Ia mengatakan, persiapan yang dilakukan dalam lomba ini sangat singkat karena keterbatasan waktu.

"Meskipun waktu untuk latihan mepet dan persiapan kurang begitu maksimal, alhamdulilah yang kami lakukan membuahkan hasil," kata Halimah saat diwawancari lewat ponsel

Halimah mengajak kadernya untuk mempertahankan dan menyempurnakan capaian prestasi ini dengan sebaik-baiknya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"IPPNU Banyuwangi harus bisa bersaing secara sehat dengan yang lain. Kita akan pertahankan prestasi itu dengan meningkatkan bakat para pelajar NU Banyuwangi. Dengan ini (prestasi), semoga dapat dicontoh oleh para pelajar NU Banyuwangi yang lainnya," harapnya.

Selain perolehan juara tersebut, IPPNU Banyuwangi juga meraih juara 6 dari 10 besar yang diraih oleh Risa Nurhayati, dalam Lomba Duta Pelajar Putri Jawa Timur. (M Sholeh Kurniawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pemurnian Aqidah, PonPes, Sholawat Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock