Sukoharjo, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Max Ediger, warga Amerika yang berkeliling dunia untuk menyuarakan dialog lintas agama hadir bersama warga asal Moro, Filipina Selatan, Tirmizy Abdullah, dalam sarasehan yang digelar di Pondok Pesantren Al-Muayyad Windan, Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo, Jumat (15/2) pekan lalu.
Pria berkacamata itu mulai bercerita tentang pengalamannya saat berada di desa terpencil di Myanmar. Pernah ia mendapatkan beberapa kesaksian dari para biksu yang pernah hidup pada masa perang etnis tahun 1947.
| Warga Amerika Bicara Dialog Lintas Agama di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online) |
Warga Amerika Bicara Dialog Lintas Agama di Pesantren
Dahulu, desa yang ditempati para biksu tersebut hidup damai antara Kristen dan Budha, sampai pada akhirnya datang bala tentara yang memaksa warga desa beragama Kristen untuk mengganti keyakinan mereka, beragama Budha. Segala cara ditempuh tentara untuk mencapai tujuannya, termasuk memanfaatkan para pemimpin agama.Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan
“Para biksu diberi dua galon berisi minyak untuk membakar rumah dan gereja,” ungkap koordinator Interfaith Cooperation Forum itu.Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan
Tapi untungnya mereka menolak perintah tentara tersebut. Mereka berbuat demikian karena merasa tidak ada yang berbeda antara Umat Buddha dengan Kristen, “Hidup dan Tumbuh di tanah yang sama, minum dari sungai yang sama,” tutur Ediger menirukan ucapan biksu.Ediger juga banyak bertutur tentang pentingnya dialog. Dialog berarti proses yang bergerak secara perlahan mencari kebenaran. Tujuan dari dialog adalah memahami bahwa perbedaan itu nyata, tidak untuk dipertentangkan, tetapi untuk disandingkan sehingga muncullah keindahan. “Kita belajar bahwa kita beda, tapi beda itu indah,” pungkasnya.
Redaktur : A. Khoirul Anam
Kontributor: Ajie Najmuddin
Dari Nu Online: nu.or.id
Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan PonPes Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan
