Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Februari 2018

Savic Ali: Saatnya Kiai NU Go Online

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Direktur Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Savic Ali kurang sepakat dengan salah satu pernyataan peserta yang menyatakan kiai NU harus kembali ke barak. Mengaji kitab dan tidak usah larut dalam pengaruh media yang semakin berkembang.

Savic malah mengajak kiai NU untuk Go Online. “Sudah saatnya kiai-kiai kita go online,” katanya dalam diskusi Perilaku Netizen terhadap Isu Radikalisme dan Intoleransi yang merupakan rangkaian workshop Pencegahan Propaganda Radikal Terorisme di Dunia Maya Bersama Media di Hotel Millennium Jakarta, Rabu-Jum’at (22-24/3).

Savic Ali: Saatnya Kiai NU Go Online (Sumber Gambar : Nu Online)
Savic Ali: Saatnya Kiai NU Go Online (Sumber Gambar : Nu Online)

Savic Ali: Saatnya Kiai NU Go Online

Menurutnya, lewat ngaji via online banyak ustadz-ustadz mempunyai pengikut yang banyak. Sebut saja Khalid Basalamah. “Dakwah” online ditonton 1 juta lebih penduduk di Indonesia.

Meski ustad tersebut tidak sejalan dengan NU tetapi menurut Savic sudah memiliki pengaruh besar karena konsisten menyebarkan dakwah-dakwahnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jika kiai NU harus kembali ke barak, maka 20 tahun mendatang kiai-kiai NU akan mempunyai pengaruh yang kecil.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Saat ini dirinya memang menyadari banyak kiai NU yang tidak suka shooting serta banyak tidak bisa berbicara bahasa Indonesia dengan fasih dan berbagai persoalan yang lain.

“Sepulang dari forum ini shooting aktivitas kiai-kiai kita, ditulis kemudian di-online-kan,” ajak Savic di hadapan ratusan penggiat media Islam moderat, Kamis (23/3).

Dengan cara itu, ia berharap internet di Indonesia didominasi kiai NU, kiai yang moderat, dan kiai yang berpaham Islam kebangsaan.

Adapun kiai-kiai yang belum paham literasi lanjut dia hanya soal waktu dan perlunya terus-menerus untuk diedukasi. (Syaiful Mustaqim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pendidikan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 31 Januari 2018

Sampai Saat ini, Tujuh Puluh Persen Peserta Tiba di Lombok

Mataram, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Kepala Sekretariat Kepanitian Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas dan Konbes NU) 2017 Isfah Abidal Azis mengatakan, tujuh puluh persen peserta sudah tiba di Lombok untuk mengikuti acara pembukaan Munas dan Konbes NU besok siang hari.?

“Sampai saat ini peserta yang masuk sekitar tujuh puluh persen,” katanya kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan, Rabu (22/11).

Peserta Konbes NU 2017 ini terdiri dari jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Mustasyar, Syuriah, dan Tanfidziyah, Pengurus Lembaga, Badan Otonom, dan perwakilan dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama.?

Sampai Saat ini, Tujuh Puluh Persen Peserta Tiba di Lombok (Sumber Gambar : Nu Online)
Sampai Saat ini, Tujuh Puluh Persen Peserta Tiba di Lombok (Sumber Gambar : Nu Online)

Sampai Saat ini, Tujuh Puluh Persen Peserta Tiba di Lombok

“Itu untuk konbesnya,” ucapnya.

Adapun peserta Musyawarah Nasional Alim Ulama, lanjut Isfah, terdiri dari perwakilan pondok pesantren, alim ulama, dan utusan dari Pengurus Wilayah.?

Isfah menyebutkan, pejabat tinggi negara yang sudah konfirmasi hadir adalah presiden, menteri-menteri, pejabat setingkat menteri, panglima TNI, dan Kapolri.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Juga ada pimpinan ormas-ormas Islam, duta-duta besar. Banyak yang sudah memberikan konfirmasi akan hadir,” ujarnya.

Wakil Sekretaris Jenderal PBNU itu menerangkan, kesiapan panitia dalam menyambut pembukaan dan acara Munas serta Konbes NU 2017 sudah pada presentase sembilan puluh persen. Ia juga mengaku timnya sudah bekerja secara maksimal terkait dengan kesekretariatan dan administrasi peserta.?

“Kita sudah siap sembilan puluh persen untuk pelaksanaan pembukaan besok,” katanya.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Peserta yang sudah hadir bisa kita layani dengan cepat dan baik,” lanjutnya.

Acara pembukaan Munas dan Konbes NU 2017 akan dilaksanakan besok pukul satu siang. Dipastikan peserta akan terus berdatangan ke Lombok sampai esok siang. (Muchlishon Rochmat)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ubudiyah, RMI NU, Pendidikan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 25 Januari 2018

Ngaji Falak, Pesantren Al-Falah Hadirkan Tim Ahli dari UIN Walisongo

Salatiga, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Dalam rangka kegiatan Ramadhan Santri, PPTI Al-Falah Kabupaten Salatiga mengadakan Pelatihan Ilmu Falak dengan narasumber dari CSSMoRA UIN Walisongo Semarang. Kegiatan yang berlangsung akhir pecan, Sabtu-Ahad (18-19/6) diikuti sebanyak 70 peserta yang terdiri atas santri Al-Falah dan santri umum.

Pengasuh Pesantren Al-Falah Ibu Nyai Hj Latifah Zoemri menyambut baik kegiatan ini. Ia berharap setiap tahunnya diadakan even seperti ini agar santri termotivasi untuk lebih semangat dalam menimba ilmu, tidak hanya ilmu agama tetapi juga ilmu umum lain yang porsinya sama penting.

Ngaji Falak, Pesantren Al-Falah Hadirkan Tim Ahli dari UIN Walisongo (Sumber Gambar : Nu Online)
Ngaji Falak, Pesantren Al-Falah Hadirkan Tim Ahli dari UIN Walisongo (Sumber Gambar : Nu Online)

Ngaji Falak, Pesantren Al-Falah Hadirkan Tim Ahli dari UIN Walisongo

Dalam rangkaian kegiatan, sebanyak delapan sesi materi disampaikan secara gabungan. Peserta mengkaji materi pengenalan kalkulator, menghitung sudut, penentuan arah kiblat dan dengan observasi bulan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pada setiap materinya, peserta tidak hanya diberi teori yang harus mereka catat. Tetapi peserta juga diharuskan praktik secara langsung dengan peralatan yang sudah disiapkan oleh tim narasumber. Mereka juga belajar menggunakan teodolit, alat ukur sudut tengah dan mendatar untuk menentukan jarak dan tinggi sesuatu.

Tim narasumber Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs (CSSMoRA) dengan sangat telaten menjelaskan materi yang belum dipahami peserta. Dari setiap pertanyaan yang diajukan peserta, mereka jawab dengan penuh kesabaran meskipun tengah berpuasa.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Tim yang beranggotakan sebanyak 12 orang ini termasuk Siti Nur Halimah yang merupakan puteri bungsu KH Zoemri RWS, pendiri PPTI Al-Falah. Mereka adalah mahasiswa program studi Ilmu Falak UIN Walisongo Semarang.

Peserta tampak antusias mengikuti jalannya kegiatan, apalagi pada kegiatan terakhir yaitu observasi bulan. Dengan teleskop, peserta bisa melihat keindahan bulan dan planet saturnus. Dari pesan dan kesan yang disampaikan Latifah sebagai perwakilan peserta, dia menyampaikan rasa syukur karena mengikuti kegiatan pelatihan. Pasalnya dalam pelatihan ini ada banyak sekali ilmu, pengalaman dan pengetahuan yang didapat.

“Yang biasanya hanya manut ke mana arah kiblat, dengan mengikuti pelatihan ini jadi bisa menentukan sendiri arah kiblat di manapun dengan ukuran yang jelas,” tambahnya.

Peserta berharap agar pelatihan ini dilanjutkan lagi pada waktu yang akan datang dengan materi yang lebih dalam dan lebih menyenangkan. (Evie Yunianti/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pendidikan, Kajian Islam, Sunnah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 24 Januari 2018

Saat Ruh Boleh Memilih Negara

Sebelum turun ke bumi, ruh diberi kebebasan memilih Negara. Silakan mau turun dimana? Ini kesempatan baik. Saat jadi jabang bayi nanti, nasibnya harus sejahtera. Jadi bagian negeri terhormat, nggak cemen melindungi warga negaranya.

Lirikan paling awal, ruh itu ke negri Amerika. Negeri terbeken di dunia. Dunia gemerlapnya x-tra vagansa, militernya kuat. Pokonya nyeleb abis dah! Land of the brave, industri film dan musiknya mendunia. Jadi bayi Amerika tentunya membanggakan. Siapa tahu kelak jadi artis Hollywood kaya luar biasa dan bisa membeli tanah luas di negeri lain. Moga-moga!

Saat Ruh Boleh Memilih Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Saat Ruh Boleh Memilih Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Saat Ruh Boleh Memilih Negara

Untung ruh itu sempat melihat sisi gelapnya! Ia kurang sreg pada sikap Amerika yang doyan campur tangan ke negeri lain lewat dalih polisi internasional. Ia juga melihat sisi lain dunia kapitalistik Amerika, yang miskin luar biasa melarat, kelaparan di jalan-jalan, jadi gelandangan di skid row, kampung kumuh yang mengerikan. Apalagi belakangan diterjang angin dingin, suhunya minus 20 derajat.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ah, nggak deh!

Bagaimana dengan Cina? Tunggu dulu, warganya sudah kelewat banyak, apalagi pernah ada kasus, anak kecil tergilas mobil tanpa ditolong. Sebuah negeri yang nggak ideal buat bayi, anak kecil sampai dewasa.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Lantas ia memilih Australia. Di sana, pengangguran dapat tunjangan pemerintah. Tak kerja apapun, warga negara bisa mengumpulkan tunjangan dan pergi pelesir ke Bali dan bersenang-senang di pantai Kuta. Apalagi punya kerja! Wah, makin digdaya. Kelak bisa berkeluarga boleh punya anak banyak malah makin banyak anak tunjangan makin gede. Pilihan yang menjanjikan.

Baru saja ia mau menetapkan pilihan, ia dapat info: negeri ini kejam nian, para pencari suaka dibuang ke kembali ke laut negeri lain, terkatung-katung meregang nyawa. Tak cuma itu, alam Australia juga ganas, panasnya udara membumi hanguskan lahan. Sang ruh mengurungkan niatnya.

Indonesia jadi pilihan selanjutnya. Negeri ini kaya nian. Punya sejarah panjang, nenek moyang bangsa ini pernah invasi sampai jauh, warisan kerajaan yang gegap gempita. Walau ada di tubrukan lempengan yang rawan gempa dan penuh gunung api aktif, kekayaan alamnya melimpah.

Ayo apa yang nggak ada di sini? Mulai minyak bumi sampai tambah emasnya banyak nian. “Jika aku turun di sini, pastilah sejahtera. Negeri yang gemah ripah loh jinawi, hijo roro-royo..!” Kelewat gembira, ia memantapkan niat, turun menjadi bayi Indonesia.

Lahirlah ia di propinsi Banten. Semua keluarga bersyukur pada Allah atas kelahirannya. Ia pun tumbuh besar dalam kesederhanaan.

Saat sekolah, ia harus belajar di tempat reyot malah hampir ambruk. Untuk ke sekolah, ia pun wajib menyebrangi jembatan rusak. Bareng teman-temannya ia bergelayutan demi pendidikan yang memadai. Sudah banyak teman bermainnya yang jatuh dan tewas, ya be inilah nasib! Bagaimana dengan pejabatnya?, Pejabatnya sedang terkena kasus korupsi, meringkuk di KPK bersama beberapa anggota keluarga yang sedang tertimpa musibah yang sama.

Tapi ia nggak kehilangan harapan. Toh Indonesia terbilang kaya. Penghasil minyak misalnya? Betul penghasil minyak tapi apa ada gunanya? Masalahnya kita cuma punya minyak mentah yang cuma mampu membuat kita belepotan jika tersiram. Minyak itu diambil pihak luar diolah dan saat berguna harus kita beli dengan harga mahal. Indonesia perlu sediakan kocek 150 juta US$ dollar per hari. Bayangkan!

Dengar apa yang dibilang Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Susilo Siswoutomo. Katanya Indonesia sangat tergantung pada ekspor BBM dari Singapura dan Malaysia. Makin bikin miris, seandaianya dua negara itu menyetop ekspor BBM ke Indonesia, lima hari kemudian Indonesia akan tewas dengan sukses. Ia bilang begitu di Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar Pakuwon, Sukabumi, Jawa Barat, Minggu (9/2/2014).

“Bukannya Singapura nggak punya minyak, Pak?”

Ia bertanya pada bapaknya, buruh tani yang kadang jadi kuli angkut.”Terus pak, bukannya cadangan minyak Malaysia masih kalah dengan kita?” ia terus mencecar pertanyaan.

Sayang bapak nggak sempat menjawab karena lelah seharian kerja.

Sang anak yang dulu ruh itupun bimbang. “Ah seandainya aku lebih jeli memilih… kenapa tidak New Zealand aja ya? Kemarin mampu sewa warnet. Sebelum main game, buka goggle, kabarnya di sana aman sejahtera, kriminalitas hampir nol persen dan alamnya dipakai shooting film Lord Of The ring…”

Iapun tertidur untuk berjuang esok harinya. Melintasi jembatan nyaris ambruk dan belajar di sekolah reot….

ISFANDIARI MAHBUB DJUNAIDI, warga NU, pegiat club motor, penulis sosial budaya.

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Kiai, Pendidikan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 18 Januari 2018

Dubes Sudan Sowan ke PBNU

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Rombongan dari Kedutaan Besar Sudan untuk Indonesia berkunjung ke kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat. Mereka diterima langsung Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan Ketua PBNU H Iqbal Sullam.

“Kami ke sini dalam rangka melaksanakan misi kedutaan yang menghubungkan masyarakat Sudan dan Indonesia,” kata Duta Besar Sudan Dr Abdurrahim as-Siddiq kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan singkat, Kamis (27/11).

Dubes Sudan Sowan ke PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Dubes Sudan Sowan ke PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Dubes Sudan Sowan ke PBNU

Abdurrahim mengaku tertarik kepada NU karena ormas Islam ini memiliki keunikan dibanding umat Islam lain di negara-negara Timur Tengah. “Keunikannya terletak pada dukungan NU kepada eksistensi Negara Republik Indonesia. Ini luar biasa,” tuturnya didampingi tiga orang dari Kedubes Sudan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pertemuan pihak Kedubes Sudan dan pengurus PBNU berlangsung santai di ruang Ketua Umum PBNU, Lantai 3 Gedung PBNU. Keduanya saling bertukar informasi tentang kehidupan di masing-masing negara. Kiai Said juga memaparkan tentang profil singkat NU.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sebelumnya, rombongan tersebut berkunjung ke Pojok Gus Dur, bekas kantor mendiang KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang kini berubah menjadi museum kecil dan perpustakaan. Di lantai dasar gedung PBNU ini, mereka melihat foto-foto Gus Dur dan keluarganya, serta buku-buku karyanya.

Keempat sempat terpana saat membaca beberapa kutipan ucapan Gus Dur yang terpajang di dinding Pojok Gus Dur. Kutipan tersebut, di antaranya, berbunyi, “The deep problem is that people use religion wrongly in persuit of victory and triumph. This sad fact then leads to conflict with people who have different beliefs”; dan “Saya tidak khawatir dengan dominasi minoritas. Itu lahir karena kita yang sering minder. Umat Islam—mungkin karena faktor masa lalu—sering dihantui rasa kekalahan dan kelemahan.” (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Kajian, Hadits, Pendidikan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 06 Januari 2018

Tetap NU Meski Tanpa Organisasi

Karanganyar, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Desa Ngadirejo, Kecamatan Mojogedang, Kabupaten? Karanganyar, Jawa Tengah, merupakan satu-satunya desa yang belum mempunyai ranting NU di Mojogedang. Sebenarnya lokasinya tidak terlalu pelosok dan tertinggal, kecuali hanya berjarak sekitar 1 km dari pusat kecamatan.

Meskipun belum mempunyai organisasi NU secara resmi, warga Ngadirejo tetap bersemangat melestarikan tradisi dan praktik peribadatan ala warga NU pada umumnya (amaliyah nahdliyah), seperti shalawat-nariyahan, tahlilan, yasinan, dan acara tasyakuran dalam bentuk kenduri.

Tetap NU Meski Tanpa Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Tetap NU Meski Tanpa Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Tetap NU Meski Tanpa Organisasi

Hampir setiap RT di desa ini mempunyai jadwal rutinan pelaksanaan amaliah? tersebut. “Jadi pelaksanaannya digilir tiap rumah secara urut, dan waktunya setiap 35 hari sekali atau kalau orang Jawa menyebut selapan dino,” ujar Sukidi, warga Ngadirejo seusai acara tahlilan dan shalawatan di rumah salah satu warga, Kamis (19/9).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Masing-masing RT memiliki jadwal kegiatan tersebut yang tidak sama, sebagian melaksanakannya pada Jumat Legi, Jumat Kliwon, atau lainnya tergantung kesepakatan warganya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Di balik semangat mereka melakukan amaliah tersebut, muncul kegelisahan di kalangan warga Ngadirejo karena mereka sendiri masih bingung mencari figur panutan dalam hal agama.

Mereka melakukan kegiatan itu karena memandang sebagai ibadah yang baik meski tanpa satu warga pun yang mengetahui dasarnya. Tak heran jika dengan mudah pula mereka akan terhasud oleh pemahaman lainnya.

“Ya saya orang NU dan amaliah yang biasa warga sini lakukan itu juga NU saya tau. Tapi kalau saya disuruh menunjukkan dasarnya, saya sendiri belum tau. Jadi sekarang ini sudah ada beberapa warga yang tidak mau ikut acara-acara seperti tahlil, yasin, kenduri karena mereka bilangin bid’ah,” tambahnya.

Sedangkan Kiai Mukti Ali sendiri selaku Ketua PCNU Karanganyar mengungkapkan bahwa memang di Ngadirejo belum ada ranting NU. Menurut dia, kondisi ini dikarenakan belum ada kader di desa tersebut.

“Desa Ngadirejo itu warganya masih gampang ajakannya, terutama dalam hal agama. Tapi sayang belum ada yang menjadi panutan dan belum ada kader NU yang mendirikan ranting,” katanya.

Kalaupun dirikan ranting, lanjut Mukti Ali, belum ada yang istiqamah tinggal di sana. “Jadi saat ini ada jama’ah (warga) tapi tanpa jam’iyah (organisasi),” paparnya saat ditemui Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan di kediamannya Desa Pojok, Kecamatan Mojogedang, Karanganyar. (Ahmad Rosyidi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ahlussunnah, Hikmah, Pendidikan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 01 Januari 2018

Madrasah Aliyah Ini Terapkan Koperasi Sistem Syariah

Pringsewu,Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Saat ini Koperasi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Pringsewu Lampung yang bernama Koperasi Al-Barakah telah menerapkan sistem keuangan syariyah dalam transaksi keuangan dengan para anggotanya.

Madrasah Aliyah Ini Terapkan Koperasi Sistem Syariah (Sumber Gambar : Nu Online)
Madrasah Aliyah Ini Terapkan Koperasi Sistem Syariah (Sumber Gambar : Nu Online)

Madrasah Aliyah Ini Terapkan Koperasi Sistem Syariah

Ditemui disela sela kesibukannya, Bendahara Koperasi Al Barakah Erman Siswadi mengatakan bahwa sistem ini diterapkan berdasarkan kesepakatan Rapat Anggota yang telah dilaksanakan beberapa waktu lalu.

"Hal ini juga merupakan hasil evaluasi komprehensif selama berjalannya koperasi yang tahun ini berganti nama menjadi Al Barokah dan telah berdiri selama 24 tahun ini," jelas Erman yang juga guru matematika MAN 1 Pringsewu.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dalam prakteknya jelas Erman, para anggota yang akan meminjam dana dapat direalisasikan berdasarkan jumlah simpanan pokok dan wajib yang telah disetorkannya ke koperasi.

"Jika para anggota ingin meminjam lebih dari dana simpanannya maka diarahkan untuk pembelian barang secara tidak tunai," jelasnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jika memang pinjaman tersebut bukan diperuntukkan untuk barang, lanjutnya, maka diikrarkan sebagai modal kerja yang selanjutnya akann menggunakan sistem bagi hasil.

"Koperasi Al Barakah juga memberikan kesempatan kepada para anggota yang berniat membeli barang melalui koperasi. Nanti kita bantu dana pembeliannya," terangnya didampingi Sekretaris Koperasi Muhammad Irzan.

Sistem seperti ini diterapkan dengan harapan seluruh aktivitas keuangan yang dijalankan akan sesuai dan berdasarkan hukum hukum Islam yang pada akhirnya nanti keberkahan rezeki akan senantiasa didapat oleh seluruh anggota. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ulama, Pendidikan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 28 Desember 2017

PP LAZIS NU Jalin Kerjasama dengan PT Nutrifood Indonesia

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pengurus Pusat Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZIS NU) menjalin kerjasama dengan PT Nutrifood Indonesia yang menjadi produsen susu Hilo Soleha. Perseroan terbatas yang beralamat di Kawasan Industri Pulo Gadung Jakarta itu bermaksud mengadakan program donasi bertajuk "Penuhi Panggilanmu, Bagilah Sesamamu."

Surat perjanjian kerjasama ditandatangani di Kantor PBNU, Jakarta, Selasa (5/2), oleh Prof Dr KH Fathurrahman Rauf selaku Ketua PP LAZIS NU dan Nina Agustriana yang bertindak sebagai Brand Manager Divisi Tropicana Slim yang selanjutnya disebut Nutrifood.

PP LAZIS NU Jalin Kerjasama dengan PT Nutrifood Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
PP LAZIS NU Jalin Kerjasama dengan PT Nutrifood Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

PP LAZIS NU Jalin Kerjasama dengan PT Nutrifood Indonesia

Dalam surat perjanjian disebutkan, Nutrifood berhak menggunakan logo LAZIS untuk keperluan promosi program dan berpartisipasi dalam setiap kegiatan LAZIS di seluruh Indonesia meliputi kegiatan edukasi, direct selling dan pemberian free sampling.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sementara dalam program "Penuhi Panggilanmu, Bagilah Sesamamu" itu LAZIS akan mengelola sumbangan sebesar Rp 500,- dari setiap penjualan 1 dus Hilo Soleha selama periode program.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kerjasama itu PP LAZIS NU dengan PT Nutrifood Indonesia itu berlaku efektif mulai 10 Januari hingga 10 April 2008 mendatang.

Ketua PP LAZIS NU Fathurrahman Rauf usai penandatangan mengatakan, kerjasama bisa diteruskan bahkan diperluas untuk produk-produk Tropicana Slim yang lainnya. "Ini akan menjadi kerjasama yang baik untuk kebaikan bersama," katanya. (nam)Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Cerita, Nusantara, Pendidikan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Program CEPAT Sukses, LKNU Ingatkan untuk Terus Tingkatkan Capaian

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan 

Ketua Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Hisyam Said Budairy mengaku senang terhadap capaian dari pelaksanaan program Cepat-LKNU selama lima tahun.

Program CEPAT Sukses, LKNU Ingatkan untuk Terus Tingkatkan Capaian (Sumber Gambar : Nu Online)
Program CEPAT Sukses, LKNU Ingatkan untuk Terus Tingkatkan Capaian (Sumber Gambar : Nu Online)

Program CEPAT Sukses, LKNU Ingatkan untuk Terus Tingkatkan Capaian

"Capaiannya, menurut pendapat saya sangat luar biasa karena ini program pertama kali berbasis komunitas," katanya pada acara Serah Terima Program CEPAT-LKNU & Peluncuran Program Peningkatan Kesadaran Masyarakat Terhadap Diabetes Mellitus di lantai delapan, Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (2/11). 

Namun begitu, ia berharap, ke depan NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia bisa menindaklanjuti capaian ini serta mampu meningkatkan model-model komunitas yang telah dilakukan untuk menanggulangi penyakit Tuberkolosis (TB). 

Hal tersebut dikarenakan, penyakit TB tidak ada matinya, malah sampai saat ini tingkat kejadiannya masih sangat tinggi. "Bahkan di Indonesia kalau melihat statistik cukup tinggi," katanya prihatin. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selama lima tahun terakhir dalam mensukseskan program ini, LKNU menggandeng From The American People (USAID), dan beberapa mitra seperti Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU), Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, World Diabetes Foundation, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Forum Stop TB Partnership Indonesia. 

Hadir pada acara bertema Peran Nahdlatul Ulama dalam Kesehatan ini, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama)(PBNU) KH Said Aqil Siroj, Direktur Helt USAID Jonathan Roos, Chief of Party Esty Febriani, dan lain-lain. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Anti Hoax, Pendidikan, AlaNu Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 27 Desember 2017

Syekh Azis Maroko dan Habib Luthfy Jelaskan Konsep Bela Negara

Pekalongan, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Syech Azis Al-Kubaithi Idrisi berpendapat, jika ingin membangun negara yang kuat dan beradab harus dimulai dengan membangun manusianya. Kenapa memulai pembentukan Negara dari jiwa warga negara yang sehat secara personal? Karena Allah tidak akan mengubah suatu kaum suatu kaum jika kaum itu sendiri tidak mengubahnya. Untuk mengubah suatu kaum memang harus memulainya dari jiwa masing-masing pembentuk kaum itu.

Syekh Azis Maroko dan Habib Luthfy Jelaskan Konsep Bela Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Syekh Azis Maroko dan Habib Luthfy Jelaskan Konsep Bela Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Syekh Azis Maroko dan Habib Luthfy Jelaskan Konsep Bela Negara

Dikatakan Syech Azis, jika yang sehat adalah jiwa yang memulai dari kesehatan hati (kalbu). Nabi bersabda: "Jika seorang melakukan maksiat, akan muncul satu titik hitam di hati. "Makin banyak maksiat yang ia lakukan, makin hitam pula kalbunya. Apa bahayanya? Jika kalbu makin hitam, maka ia kalbu maridl (sakit) yang sudah gelap dari cahaya kebenaran. Ia kesulitan menerima maupun melakukan amal.?

Hal tersebut dikatakan Syech dari Moroko ini dihadapan ratusan peserta Konferensi Ulama Thariqah yang diselenggarakan Kanzus Shalawat Pekalongan, Jumat (15/1) dengan tema "Bela Negara, Konsep dan Urgensinya Menurut Islam".

Lebih lanjut Syech Azis mengatakan, jika akal terlalu sering dipakai untuk melakukan hal-hal buruk, maka ia akan kian hitam dan gelap. Semakin ia gelap, maka semakin sulit seseorang untuk berpikir waras atau mengontrol dirinya. Jika akal sudah dipenuhi syahwat, dan sulit berpikir waras, seluruh anggota badan akan tunduk dan melakukan keinginan akal. “Tidak hanya itu, akal yang sudah tenggelam dalam gelimang maksiat, maka akan sulit menerima saran, apalagi Nur Illahi,”ujarnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Syech Azis berpesan, apa yang harus dilakukan ketika akal sudah jauh dalam kegelapan seperti ini? Lawan prangka buruk dan meminta perlindungan melalui tadabbur. Dimulai dari husnudzon kepada sesama muslim, kemudian seluruh umat manusia; lantas bertadabbur akan dirinya sendiri. Lalu akal dipakai untuk tadabbur tentang Allah dan sunnatullah. Langkah ini akan memulai pembersihan akal dari kegelapan. Hasilnya adalah akal yang thahir (bersih), yaitu akal yang fana di dalam kesaksian dan hadir dalam kebersamaan.

Beberapa nara sumber lain yang turut memberikan kontribusi pemikiran ialah Syech Adnan Al Afiyuni (Mufti Syafi’yyah Syria), Syech ? Aziz al Idrisi dari Maroko, Syech Aziz Abidin dari Amerika Serikat, Habib Zaid bin Abdurrahman bin Yahya dari Yaman, dan Syech Aun al Qaddumi dari Yordania. Kemudian Syech Umar Hadhrah (Sudan), dan Syech Fadhil (Turki). ?

Bela negara bukan soal militer

Sementara itu, Habib Luthfy bin Yahya dalam penutupan konferensi mengatakan, bela negara bukan soal militer, ini salah persepsi yang terjadi selama ini. Tapi Hanggarbeni (rasa memiliki), mencintai negara, penguatan negara, inilah bela negara.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Kenapa Konferensi Thariqah diselenggarakan? Tidak lain adalah Indonesia biar menjadi contoh dalam hal mencintai negara. Masyarakat Suriah mencintai negaranya, masyarakat Maroko mencintai negaranya, masyarakat Lebanon mencintai negaranya," ujar Rais Am Idaroh Aliyah Jamiyyah Ahlit Thariqah Al Mutabarah An Nahdliyyah (JATMAN) ini.?

Dikatakannya, bela negara tidak hanya di militer, namun ada juga pada mencetak ilmuan, saintis, lewat pendidikan, dan lain lain agar tercipta kedamaian dunia. Kita tahu peta Indonesia. Tapi kita hanya tahu negara ini makmur, subur, tapi tak sedikitpun melihatnya sebagai negara strategis. Kita dari kecil kurang diberi pengertian tentang negaranya sendiri, oleh karenanya semangat membelanya kurang.

Menurut Habib Luthfy, tentara bukanlah instansi terpisah dari masyarakat. Mereka adalah bagian dari warga ini juga. Allah berfirman, kita diciptakan untuk saling mengenal. Tapi tidak sekadar mengenal, melainkan mengenal hingga mengikat satu kesatuan. Satu kesatuan yang membentuk semangat persatuan dalam bangsa, dan mengikat persatuan antar negara di dunia. Semoga keputusan Konferensi Thariqah menelurkan cinta negara adalah wajib, bela negara pun wajib. (Abdul Muiz/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Warta, Pendidikan, Kiai Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ratusan Banser dan Pelajar NU Dawe Apel Resolusi Jihad

Kudus, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Ratusan kader GP Ansor dan pelajar NU di kecamatan Dawe kabupaten Kudus mengadakan apel akbar dalam rangka meperingati Hari Pahlawan, Senin (10/11) siang. Mereka mengadakan bertajuk Apel Resolusi Jihad di tengah guyuran hujan di Bumi Perkemahan desa Kajar, Dawe.

Pengurus Ansor Kudus Jamilin memimpin jalannya upacara. Selain pengibaran bendera Merah Putih dan panji-panji NU, peserta apel juga mendengar rekaman sejarah perjuangan Resolusi Jihad.

Ratusan Banser dan Pelajar NU Dawe Apel Resolusi Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Banser dan Pelajar NU Dawe Apel Resolusi Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)

Ratusan Banser dan Pelajar NU Dawe Apel Resolusi Jihad

Sekretaris GP Ansor Dawe Bahrudin mengatakan, apel ini bertujuan memperingati Hari Pahlawan dan Resolusi Jihad demi mengenang dan meneladani jejak-jejak perjuangan ulama NU melawan penjajah.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Melalui apel resolusi jihad ini juga untuk menanamkan kembali nilai dan semangat perjuangan yang digelorakan Kiai Hasyim Asyari," tuturnya kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Bahrudin menerangkan, Ansor dan Banser merasa perlu mengambil nilai-nilai perjuangan ulama seperti keikhlasan penuh pengabdian terpatri pada diri kader  dan pelajar NU. Ansor berkomitmen melanjutkan perjuangan kiai NU dengan selalu menjaga NKRI.

"Dari sini, keberadaan Ansor dan Banser akan terus menggelorakan semangat nasionalisme sebagaimana yang disuarakan pada butir-butir Resolusi Jihad," tegas Bahrudin yang menjadi komandan apel tersebut.

Di akhir apel, semua peserta dari Banser membacakan bersama-sama ikrar Nawa Prasetya GP Ansor.Hal  Ini sekaligus sebagai bukti dan kesetiaan anggota Banser dan Ansor berkomitmen kepada organisasi dan bangsa.

Usai apel banser dan pelajar, seluruh peserta melakukan konvoi sepeda motor mengarak puluhan bendera Merah Putih dan panji NU dari bumi perkemahan Kajar menuju kantor MWCNU Dawe yang berjarak 2 km. Sambil menyanyikan lagu-lagu perjuangan dan mars GP Ansor, konvoi berjalan tertib dan mendapat simpati pengguna jalan yang dilaluinya.(Qomarul Adib/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pendidikan, Internasional Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 26 Desember 2017

Ini Pesan Guru Besar Unhas untuk Pelajar NU

Lombok Tengah,Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar Prof. DR Hasyim Aidid meminta generasi para pelajar Nahdlatul Ulama supaya tak setengah-setengah dalam mendalami studi di jurusan masing-masing.

Ini Pesan Guru Besar Unhas untuk Pelajar NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Pesan Guru Besar Unhas untuk Pelajar NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Pesan Guru Besar Unhas untuk Pelajar NU

“Saya sampaikan kepada generasi muda NU, generasi muda Islam pada umumnya supaya mendalami bidang studi masing-masing,” katanya di Pondok Pesantren Al-Manshuriyah Ta’limushibyan Bonder, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat di sela Rapat Kerja Nasiobal Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) pada Kamis (23/2).

Tidak hanya itu, kata Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia Sulawesi Selatan itu, kader muda NU harus menguasai satu keterampilan sampai ahli.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Kuasai bahasa asing, Arab dan Inggris, kuasai teknologi informasi,” ujar Dewan Pakar Pimpinan Pusat Pergunu tersebut. ?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ia juga mengingatkan, setelah menguasai ilmu dan ahli dalam satu bidang keterampilan, pelajar NU harus berakhlak mulia, serta berani tampil membimbing masyarakat.

“Tawadhu, tapi harus berani tampil,” pungkas pria yang di masa mudanya aktif di Gerakan Pemuda Ansor tersebut. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Daerah, Pendidikan, Sunnah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 15 Desember 2017

Menaker Minta Aktivis Buruh Jangan Demo Terus di Jalan

Sleman, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M Hanif Dhakiri meminta aktivis buruh tidak lagi menyampaikan aspirasi dengan berdemo turun ke jalan melainkan melalui dialog dengan pendekatan seni dan budaya. 

"Saat ini ruang politik sudah berubah menjadi semakin terbuka. Masyarakat bisa dengan mudah berkomunikasi dengan pemimpinnya. Rekan-rekan buruh bahkan bisa dengan mudah berkirim pesan menyampaikan ide-ide mereka ke saya setiap hari. Jadi melakukan demo sudah tidak relevan lagi," kata Hanif pada peluncuran album kedua aktivis reformasi, John Tobing di Sleman, Yogyakarta, Jumat (10/11).

 

Menaker Minta Aktivis Buruh Jangan Demo Terus di Jalan (Sumber Gambar : Nu Online)
Menaker Minta Aktivis Buruh Jangan Demo Terus di Jalan (Sumber Gambar : Nu Online)

Menaker Minta Aktivis Buruh Jangan Demo Terus di Jalan

Menurut Hanif, kesenian dan kebudayaan bisa menjadi instrumen baru yang efektif untuk menyampaikan apa yang buruh perjuangkan selama ini. 

"Saya percaya ketika kita bisa terus berdialog terutama di ruang-ruang kebudayaan dan kesenian seperti ini maka pikiran kita bisa menjadi lebih cair dan nihil kepentingan sehingga dialognya menjadi lebih terbuka," ujar Hanif. 

Menurut Hanif, melalui forum dialog dengan pendekatan kesenian dan kebudayaan maka orang akan lebih objektif dan jernih dalam melihat persoalan yang ada. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Ruang-ruang kebudayaan dan ruang-ruang dialog menjadi sangat penting sebagai sarana berkomunikasi di tengah perbedaan yang ada dalam rangka menemukan terobosan baru demi meningkatkan kualitas dari harmoni sosial," tutur Hanif. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Untuk itu saya sangat bersyukur ada acara semacam ini. Sekali lagi selamat kepada John Tobing atas peluncuran album barunya," ungkap Hanif. 

John Tobing meluncurkan album kedua berjudul Bergeraklah Mahasiswa"di Sanggar Maos Tradisi asuhan Sosiolog Universitas Gajah Mada (UGM) Arie Sujito. Album ini secara khusus dipersembahkan untuk kalangan mahasiswa Indonesia. 

Melalui album ini John Tobing berharap mahasiswa terinspirasi dan tergerak untuk menjadi agen perubahan agar bangsa menjadi lebih baik. 

"Mahasiswa Indonesia harus tahu banyak rakyat miskin di negara kita. Untuk itu mereka harus menjadi motor perubahan melawan keterpurukan. Mereka harus bisa mencerdaskan bangsa," kata John Tobing. 

John Tobing merupakan pencipta lagu Darah Juang yang melegenda di kalangan aktivis mahasiswa. 

 

Lirik lagu tersebut bercerita tentang kisah pemuda desa miskin di negeri yang kaya. Hingga saat ini lagu tersebut seolah menjadi lagu wajib aktivis mahasiswa di Indonesia. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Halaqoh, Pendidikan, Aswaja Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Banser Harus Militan dan Ideologis

Jepara, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor kecamatan Batealit Jepara selama tiga hari Jum’at-Ahad, (16-18/10) sukses menggelar Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) Barisan Ansor Serbaguna (Banser). Diklatsar yang digelar di Dukuh Setro, Desa Batealit, kecamatan Batealit kabupaten Jepara itu diikuti 45 peserta yang kini telah dibaiat menjadi angota Banser baru.

Banser Harus Militan dan Ideologis (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Harus Militan dan Ideologis (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Harus Militan dan Ideologis

Diklatsar itu merupakan kali pertama digelar PAC GP Ansor Batealit. Sementara di Jepara, merupakan Dikltasar angkatan kelima.

Peserta yang mengikuti Diklastar itu sebagian besar dari wilayah Kemacatan Batealit dan beberapa ada delegasi dari PAC Tahunan, Keling dan Donorojo.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ketua PAC GP Ansor Batealit, Nur Alimin mengatakan Diklatsar banser diadakan dalam rangka menyiapkan barisan kader muda NU yang tanggap akan problem keumatan dan kebangsaan demi mengawal tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Banser menjadi garda terdepan Ansor maupun NU yang harus memiliki kemampuan untuk menyelesaikan berbagai problem. Khususnya masalah-masalah keumatan dan kebangsaan,” tambahnya sebagaimana rilis yang diterima Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan.

Subchan Zuhri, Wakil Ketua PAC Ansor Batealit menambahkan dalam rangka membentuk kader Banser yang tangguh peserta Diklastar diberi materi yang lengkap. Mulai dari materi Ke-NU-an, Aswaja, Keansoran, Kebanseran, analisis SWOT, leadership, wawasan kebangsaan, PBB, kelalulintasan, SAR, Bagana, dan materi-materi pendukung lainnya.

Pada malam terakhir kemarin, panitia juga menghadirkan KH Subakir dari Kudus untuk memberikan materi penguatan mental spriritual kader banser,” imbuhnya.

Diklatsar Banser di Batealit Jepara itu juga dihadiri Sekretaris Pengurus Wilayah GP Ansor Jawa Tengah, Sholahuddin Ali. Mantan Ketua Umum PKC PMII Jawa Tengah itu menyampaikan materi Keansoran di hari pertama.

Sholahuddin menegaskan, bahwa Banser sebagai kekuatan utama Ansor harus memiliki militansi dan ideologi Islam Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja) yang kuat. Tantangan Banser dan Ansor pada saat ini semakin kompleks dan harus dihadapi dengan kemampuan-kemampuan khusus.

“Sikap Banser adalah merepresentasikan Ansor dan NU yang harus menampakkan Islam Ahlussunah Waljamaah. Islam yang ramah, bukan Islam yang marah-marah,” tandasnya. (Syaiful Mustaqim/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Aswaja, Nahdlatul, Pendidikan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 06 Desember 2017

Piala Bergilir Liga Santri Nusantara Kembali ke Jawa Timur

Bandung, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan 



Piala bergilir Liga Santri Nusantara akhirnya kembali bisa dibawa ke Jawa Timur oleh Pondok Pesantren Darul Huda Mayak, Ponorogo setelah pada grand final memenangkan pertandingan degan skor 1-0 atas Darul Hikmah Kabupaten Cirebon di stadion Gelora Bandung Lautan Api, Bandung Ahad malam (29/10). 

Piala Bergilir Liga Santri Nusantara Kembali ke Jawa Timur (Sumber Gambar : Nu Online)
Piala Bergilir Liga Santri Nusantara Kembali ke Jawa Timur (Sumber Gambar : Nu Online)

Piala Bergilir Liga Santri Nusantara Kembali ke Jawa Timur

Pertama kali bergulir, Liga Santri Nusantara diadakan Kementerian Pemuda dan Olahraga pada 2015. Pada musim tahun itu, piala bergilir digondol Pondok Pesantren Nurul Islam Jember. 

Pada 2016, Jawa Timur tak berhasil mempertahankan piala itu. Bahkan tak ada satu pun wakil region mereka yang lolos ke babak semifinal. Tahun itu, piala digondol Nur Iman, Yogyakarta.

Hal ini mematahkan tradisi juara Liga Santri Nusantara yang biasanya disabet perwakilan tuan rumah. Tahun pertama, ketika grand final diselenggarakan di Jawa Timur, tuan rumah sebagai juara. Tahun kedua, ketika hal serupa dilaksanakan di Yogyakarta, tuan rumah pula yang menjadi juara. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Bagi Darul Huda Ponorogo sendiri, piala bergilir itu menjadi hadiah manis hari lahir pesantren mereka yang ke-50. Semakin lengkap, pemain terbaik dan regional terbaik, digondolnya pula. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pendidikan, AlaNu Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 03 Desember 2017

Akbid Muslimat NU Kudus Didorong Tingkatkan Status

Kudus, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Setelah meluluskan 55 mahasiswi D-3, Akademi Kebidanan (Akbid) Muslimat NU Kudus didorong meningkatkan statusnya menjadi perguruan tinggi program S-1. Pada tahun 2015, Akbid Muslimat diharapkan sudah terwujud sebagai Sekolah Tinggi  bidang kebidanan.

"Oleh karena itu, pengelola Akbid segera mengajukan proposal S-1 sehingga cepat terproses. Untuk peningkatan, mudah-mudahan tidak ada moratorium," ujar Ketua PP Lajnah Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) Noor Ahmad dalam acara wisuda perdana mahasiswi Akbid Muslimat NU di Gedung DPRD Kudus Sabtu,(29/9) .

Akbid Muslimat NU Kudus Didorong Tingkatkan Status (Sumber Gambar : Nu Online)
Akbid Muslimat NU Kudus Didorong Tingkatkan Status (Sumber Gambar : Nu Online)

Akbid Muslimat NU Kudus Didorong Tingkatkan Status

Noor Ahmad mengatakan, lembaganya siap mengawal proses peningkatan Akbid Muslimat menuju Perguruan Tinggi S-I. "Kalau nanti segera terwujud, akbid ini akan menjadi satu-satunya PT bidang Kebidanan yang ada di Jawa Tengah bahkan Indonesia," tandasnya di hadapan wisudawan dan ratusan tamu undangan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

NU, jelas mantan Rektor Unwahas Semarang ini,,telah memiliki 215 perguruan tinggi NU di seluruh indonesia. Hingga  kini masih ada  29 PTN dalam proses perijinan yang diantaranya sudah turun yakni  Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Halmahera, UNU Cirebon. UNU Jateng, UNU Palembang. Sumut, Sumbar, Kalsel dan kalimantan barat,

"Bila Sekolah tinggi Akbid Muslimat menyusul berdiri, khasanah intelektual NU semkin banyak yang disumbangkan melalui PTNU.Sebab, target hingga tahun 2015, berdirinya 10 UNU yang baru," terang Noor Ahmad.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Direktur Akbid Muslimat NU Kudus Darningsih menyatakan kesiapannya meningkatkan perguruan tinggi yang di bawah naungan Badan Pelaksana Pendidikan Muslimat Nahdlatul Ulama (BPMNU) Az-Zahra ini. Ia menegaskan Sekolah tinggi Kesehatan merupakan cita-cita yang harus diwujudkan. 

"Meski sudah mengalami kemajuan tetapi masih banyak cita-cita yang harus kami capai yang salah satunya Sekolah Tinggi Kesehatan," tegasnya.

Ia menjelaskan pihaknya juga akan melakukan penataan dan pengembangan pondok pesantren bagi mahasiswa. "Insya Allah, BPPMNU Az-Zahra akan membangun gedung pesantren senilai + 3 milyar yang digunakan untuk mahasiswa yang juga menjadi santriwati,"terangnya.

Prosesi Wisuda perdana Akbid Muslimat NU Kudus yang dimulai pukul 10.00 WIB ini berlangsung lancar dan sukses. Dalam acara yang dihadiri ratusan tamu undangan ini, menetapkan tiga besar  wisudawati terbaik yakni Dian Suryani (Putri HM. Sholikin) dengan IP 3,46, Yuty alhikmah (putri Ah.Zumri) IP 3,45 dan Ummi Sholichah (putri Nur Yadi) IPK 3,46.

Di antara tokoh yang hadir, Menakertrans Muhaimin Iskandar, Ketua PP LPTNU Noor Ahmad, Kopertais Jawa tengah, PW Muslimat Jateng, Bupati Kudus H.Musthofa, PW LP Maarif Jateng,Ketua PCNU Kudus KH.CHusnan dan tamu undangan lainnya.

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Syariah, Pendidikan, Bahtsul Masail Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Merekonstruksi Pemahaman tentang Idul Fitri

Oleh Ahmad Saifuddin



Bulan Ramadhan telah berakhir. Sehingga bulan Syawal menggantikan perginya bulan Ramadhan. Bulan Syawal dianggap sebagai bulan kemenangan setelah selama sebulan di bulan Ramadhan umat Muslim mengekang hawa nafsunya. Bulan Syawal yang di dalamnya terdapat sebuah hari yang menjadi momentum saling memaafkan meskipun saling memaafkan harus dilakukan setiap waktu. Bulan Syawal di dalamnya terdapat Idul Fitri yang dianggap sebagai momen kembali kepada kesucian. Bulan Syawal disambut suka cita sehingga seringkali kita melupakan evaluasi terhadap sikap kita selama bulan Ramadhan.

Merekonstruksi Pemahaman tentang Idul Fitri (Sumber Gambar : Nu Online)
Merekonstruksi Pemahaman tentang Idul Fitri (Sumber Gambar : Nu Online)

Merekonstruksi Pemahaman tentang Idul Fitri

Secara bahasa, Idul Fitri memang memiliki arti kembali kepada kondisi yang suci. Hal ini disebabkan setelah melalui masa-masa pengendalian hawa nafsu selama bulan suci Ramadhan. Pada bulan tersebut juga Tuhan melimpahkan ampunan dan pahala bagi kaum Muslim yang memanfaatkan Ramadhan dengan sebaik-baiknya ibadah dan perilaku. Ditambah lagi, bulan Ramadhan diakhiri dengan zakat fitrah untuk menyucikan harta benda yang dimiliki. Lalu disusul dengan Idul Fitri, momentum saling memaafkan antarsesama. Dengan demikian, kesucian yang terkandung dalam Idul Fitri bisa meliputi kesucian terhadap Tuhan karena mendapat ampunan, kesucian harta benda karena menzakatkan hartanya, kesucian terhadap sesama karena saling memaafkan. Pada akhirnya, Idul Fitri dimaknai sebagai momentum kemenangan bagi kaum Muslim setelah mengekang hawa nafsu selama bulan Ramadhan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Satu hal yang sering dilupakan adalah, apakah kita benar-benar menang melawan hawa nafsu dan kembali suci? Apakah kemenangan yang dimaksud berdampak pada kehidupan kita? Pertanyaan reflektif yang jika senantiasa dipegang teguh dan direnungkan jawabannya, akan bisa memunculkan sikap yang berbeda dalam menyikapi berlalunya Ramadhan dan datangnya Idul Fitri. Sikap yang bukan euforia semata, sikap yang bukan seperti seekor binatang yang lepas dari kandang sehingga kembali menampakkan sifat-sifat negatifnya. Penting untuk menengok bahwa betapa sedihnya para generasi Muslim awal, yang semakin giat dan rajin mendekatkan diri pada Tuhan karena Ramadhan akan pergi. Sehingga, sikap ini yang mempertahankan perubahan perilaku dan derajat ketakwaan pun bisa diraih.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Saat ini, banyak kaum Muslim ketika bulan Ramadhan pergi, menyambut suka cita Idul Fitri dan menganggap dirinya menang serta kembali suci. Ditambah lagi, kapitalis saling berlomba dalam merebut perhatian kaum Muslim untuk membeli baju dan segala perlengkapan menyambut Idul Fitri. Sehingga, banyak kaum Muslim yang juga tergiur dengan godaan kapitalis tersebut. Padahal patokan menang bukan terletak waktu Idul Fitri, namun justru terletak pada waktu sebelas bulan mendatang sampai Ramadhan selanjutnya datang kembali.

Ibarat karantina atau masa belajar, manusia diberi waktu sebulan oleh Tuhan untuk belajar mengendalikan hawa nafsunya. Tuhan bukan ingin mematikan dan menghabisi manusia. Tuhan hanya ingin memperlihatkan dan menyadarkan manusia bahwa ada hal dalam diri manusia yan harus dikendalikan, karena jika tidak dikendalikan maka akan bersifat destruktif. Waktu sebulan selama Ramadhan harus dimaknai sebagai bulan pembangunan karakter dan kepribadian. Karakter mampu memahami kondisi orang lain atau disebut dengan empati sehingga memunculkan sikap berbagi, karakter mampu mengendalikan dorongan sehingga menjadi manusia yang bermartabat, karakter giat mendekatkan diri pada Tuhan, karakter ringan berbuat kebajikan, dan karakter merasa diawasi oleh Tuhan.

Setelah karantina atau proses belajar di bulan Ramadhan, sebelas bulan selanjutnya, sebenarnya kita justru baru melewati masa-masa ketika kita harus tetap mempertahankan perubahan yang sudah berhasil dilakukan di bulan Ramadhan. Jika ternyata di sebelas bulan selanjutnya manusia tidak dapat mempertahankan perubahannya, apakah pantas disebut mendapatkan kemenangan? Seperti halnya ketika kita harus menempuh studi pada derajat tertentu, kita akan mendapatkan kelulusan dalam waktu tertentu. Namun, kelulusan tersebut harus dibuktikan dengan kemampuan kita untuk menghadapi dunia kerja dan kehidupan masyarakat.

Puasa sendiri merupakan momentum untuk mengendalikan hawa nafsu yang cenderung bersifat destruktif jika dibiarkan. Dalam struktur kepribadian, manusia memiliki hawa nafsu. Hawa nafsu, dalam perspektif psikoanalisis, identik dengan id dan insting kematian atau thanatos. Id ini bersifat biologis dan memiliki orientasi kenikmatan (pleasure oriented) dan tidak mempedulikan nilai dan norma sehingga bisa bersifat destruktif, sedangkan thanatos bisa menimbulkan perilaku agresi. Dengan menundukkan id, maka manusia semakin memperbesar superegonya. Gambaran id secara nyata dapat diilustrasikan pada seorang bayi atau anak yang belum memahami nilai, sehingga melakukan apapun yang dia suka (Sigmund Freud, 2009, A General Introduction to Psychoanalysis, halaman 334–382).

Menurut Ibnu Maskawaih, jiwa manusia terdiri dari tiga fakultas, yaitu fakultas berpikir (nathiqah), fakultas menolak yang membahayakan (ghadhab), dan fakultas yang menginduksi kesenangan (syahwat). Selain itu, natur asli dari nafsu dan syahwat ini mengarah pada hal buruk (Abdul Mujib, 2006, Kepribadian Dalam Psikologi Islam, halaman 129 – 152). Ibnu Maskawaih juga menyatakan bahwa dalam diri manusia terdapat jiwa binatang lunak (an-Nafs al-Bahâmiyah) dan jiwa binatang buas (an-Nafs as-Sabu’îyah). Sementara itu, Al Kindi menyatakan bahwa jiwa manusia terdiri dari daya nafsu syahwat, daya pemarah, dan daya berpikir; Al Farabi berpendapat bahwa jiwa manusia terdiri dari jiwa penggerak (an-Nafs al-Muharrikah), jiwa menangkap (an-Nafs al-Mudrikah), dan jiwa berpikir (an-Nafs an-Nâtîqah); dan Ibnu Sina menyatakan jiwa manusia salah satunyaa terdiri dari jiwa binatang atau an-Nafs al-Hayawanîyah (Yadi Purwanto, 2007, Psikologi Kepribadian : Integrasi Nafsiyah dan ‘Aqliyah Perspektif Psikologi Islami, halaman 96).

Menurut Imam Al-Ghazali dalam Kimiya-us Sa’adat, jasad digambarkan sebagai sebuah kerajaan, di mana jiwa atau ruh sebagai rajanya serta berbagai indera dan bagian lain sebagai tentaranya. Nalar bisa dianggap sebagai perdana menteri, nafsu diilustrasikan sebagai pemungut pajak, dan amarah digambarkan sebagai polisi. Nafsu (digambarkan pemungut pajak) cenderung untuk merampas demi kepentingannya sendiri, sementara amarah (digambarkan polisi) cenderung pada kekerasan. Pemungut pajak dan polisi harus selalu ditempatkan di bawah raja, tetapi tidak dibunuh atau diungguli, mengingat mereka memiliki fungsi-fungsi tersendiri yang harus dipenuhinya secara proporsional. Jika nafsu dan amarah menguasai nalar (digambarkan perdana menteri), maka jiwa (digambarkan sebagai raja) akan runtuh, sehingga jasad beserta perilakunya akan rusak. Jiwa yang membiarkan bagian yang lebih rendah untuk menguasai yang lebih tinggi ibarat seseorang yang menyerahkan bidadari kepada seekor anjing.

Dengan demikian, baik ilmuwan sekuler macam Sigmund Freud maupun para ilmuwan Islam, sepakat bahwa dalam diri manusia, ada dorongan-dorongan yang harus dikendalikan dan ditundukkan karena jika tidak disadari dan tidak dikendalikan, maka dorongan tersebut bersifat merusak dan merugikan sehingga mengganggu harmonisasi kehidupan. Puasa merupakan sebuah metode untuk mengendalikan dorongan-dorongan tersebut, atau bisa disebut dengan mengendalikan hawa nafsu.

Terlebih lagi tujuan puasa itu sendiri adalah untuk mencapai derajat ketakwaan. Derajat takwa dimaknai sebagai suatu derajat yang berwujud kesatuan sikap dan perilaku menjalankan segala perintah Tuhan dan menjauhi segala larangan Tuhan. Patokan bertakwa ini tentu akan sempit sekali jika hanya dikontekskan dari Ramadhan sampai Idul Fitri itu saja. Sehingga patokan takwa justru harus dimaknai sebagai menetapnya perubahan perilaku (yang didapatkan pada bulan Ramadhan) dalam menjalankan segala perintah Tuhan dan menjauhi segala larangan Tuhan selama sebelas bulan setelah Ramadhan. Sehingga, indikator kemenangan yang sebenarnya adalah bukan terletak ketika Idul Fitri, tetapi terletak pada waktu-waktu setelah Ramadhan sampai Ramadhan selanjutnya tiba kembali. Yaitu ketika manusia bisa mempertahankan ketakwaan di waktu-waktu selain Ramadhan, ketika manusia mampu mempertahankan perubahan karakternya dan perilakunya untuk selalu mendekatkan diri pada Tuhan, merasa diawasi oleh Tuhan, bersikap empati dan suka berbagi, dapat mengendalikan dorongan-dorongan dalam diri, serta tidak suka merugikan orang lain.

Penulis adalah Wakil Sekretaris PW IPNU Jawa Tengah



Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Daerah, Pendidikan, Sholawat Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 30 November 2017

KH Masdar: Muktamar di Luar Jawa, Strategis, Penting dan Bermakna

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Rais syuriyah PBNU KH Masdar Farid Mas’udi sangat mendukung jika muktamar ke-33 NU ke depan diselenggarakan di luar Jawa sebagai bagian dari menyapa basis NU yang selama ini lebih dikenal di Jawa.

KH Masdar: Muktamar di Luar Jawa, Strategis, Penting dan Bermakna (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Masdar: Muktamar di Luar Jawa, Strategis, Penting dan Bermakna (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Masdar: Muktamar di Luar Jawa, Strategis, Penting dan Bermakna

“Saya kira ini strategis, penting dan bermakna. Apalagi kalau kita hitung, baru empat kali dari 32 kali penyelenggaraan muktamar NU di luar Jawa. Ini saya kira masih njomplang sekali,” tandasnya kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan baru-baru ini.?

Sebagai gambaran, dari 32 kali muktamar, pulau Jawa masih sangat mendominasi, bahkan di Jawa Timur sudah diselenggarakan 11 kali muktamar. Terakhir, muktamar NU di gelar di Jawa Timur pada 1999 di pesantren Lirboyo Kediri.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Mengenai kesiapan daerah di luar Jawa untuk menyelenggarakan perhelatan akbar ini, Kiai Masdar menegaskan bahwa mereka harus didukung dan dibantu karena acara ini merupakan agenda PBNU.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Pasti mereka akan berkontribusi sesuai dengan kemampuannya. Pada dasarnya PBNU itu yang terpenting adalah menentukan keputusan politik penyelenggaraan muktamar di luar Jawa.” (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pesantren, Pendidikan, Daerah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 18 November 2017

Mbah Gombol, Penasihat Pangeran Diponegoro

Syahdan, setelah Pangeran Diponegoro ditangkap oleh Belanda, beberapa sisa pasukannya menyebar ke berbagai penjuru. Diantaranya ada yang mengungsi ke wilayah Holing (Bahasa Cina), dalam bahasa jawa disebut Keling-Kalong. Ratusan pasukan tersebut dipimpin oleh Ki Ageng Gombol.

“Mbah Gombol, nama aslinya KH Hambali,” terang Riza Baihaqi, salah satu warga setempat, Sabtu lalu (6/7).

Di papan besar yang dipasang di dekat makam, tertulis bahwa Mbah Gombol berasal dari Bagelan Purworejo. Dia adalah penasehat Pangeran Diponegoro dan ahli strategi perang gerilya. Bersama ratusan pasukannya ia berjuang melawan Belanda.

Ki Ageng Gombol yang dikejar oleh pasukan Kompeni Belanda, akhirnya sampai di wilayah Holing. Di tempat itu, mereka kemudian membuka sebuah padepokan. Daerah yang sebagian besar masih berupa rawa-rawa seluas + 2 hektar  itu kemudian dikeringkan.

Mbah Gombol, Penasihat Pangeran Diponegoro (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Gombol, Penasihat Pangeran Diponegoro (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Gombol, Penasihat Pangeran Diponegoro

Selang beberapa bulan kemudian, tanah yang sudah kering dapat digunakan untuk membangun rumah dan berladang. Kemudian oleh Ki Ageng Gombol, tempat yang semula bernama Penatus itu diganti dengan nama Pekajangan, dinamakan seperti itu karena di daerah tersebut banyak ditumbuhi Pohon Kajang. Daerah ini sampai sekarang masuk dalam wilayah Kelurahan Pekajangan, Kedungwuni, Kab. Pekalongan.

Padepokan itu kemudian digunakan untuk tempat ibadah lima waktu dan ilmu kaweruh (santapan rohani) yang dipimpin oleh beberapa orang guru ngaji. Diantaranya ada yang dikenal dengan nama Raden Sitojoyo (Sutojoyo), Raden Gondang Winangun dan juga Raden Suryo Mentaram. Begitu pula dengan kesenian wayang kulit yang juga di uri-uri, juga ilmu silat dan ilmu kanuragan.

Tahun 1840 Masehi bulan Dzulhijah, Ki Ageng Gombol wafat. Beliau dimakamkan di dekat padepokan. Makamnya sempat terlupakan, karena seiring bergantinya generasi. Namun, setahun silam makam tersebut ditemukan kembali oleh tim dari Pesantren Nurul Huda Sragen. Makamnya kemudian dipindahkan di dekat makam lama, bersama dua pengikutnya, yakni Kiai Ageng Basyari (Mbah Sor Pring) dan Raden Mas Suryomentaram.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Setiap malam Jum’at Kliwon, biasanya di makam diadakan pengajian dan banyak peziarah datang” ungkap Baihaqi, yang mengaku masih termasuk keturunan Mbah Gombol itu. (Ajie Najmuddin/Red:Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pendidikan, Bahtsul Masail, Makam Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 11 November 2017

JQHNU Sumedang Masyarakatkan Al-Quran ke Desa-desa

Sumedang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Pengurus Jamiyyatul Qurro Wal Hufadz (JQH) Nahdlatul Ulama Kabupaten Sumedang mengadakan sema’an Al-Quran dengan tokoh masyarakat, santri, kiai, umara di Madrasah Nurul Hidayah Desa Cinulang Kecamatan Cimanggung Kabupaten Sumedang, Ahad (6/3). JQHNU Sumedang tengah menggalakan sema’an Al-Quran untuk memperkenalkan diri di tengah masyarakat.

Para peserta yang hadir berjumlah 70 orang yang berasal dari berbagai kalangan. Mereka semua sangat antusias dalam mengikuti kegiatan ini.

JQHNU Sumedang Masyarakatkan Al-Quran ke Desa-desa (Sumber Gambar : Nu Online)
JQHNU Sumedang Masyarakatkan Al-Quran ke Desa-desa (Sumber Gambar : Nu Online)

JQHNU Sumedang Masyarakatkan Al-Quran ke Desa-desa

Kegiatan tersebut digunakan juga sebagai sarana untuk sosialisasi dan konsolidasi banom JQH. Ketua JQHNU Sumedang Ahmad Jauharudin mengutarakan, "Masih banyak masyarakat di Sumedang yang belum kenal dengan banom JQH. Dengan adanya kegiatan semaan Al-Quran di daerah-daerah seperti ini mudah-mudahan masyarakat jadi mengetahui keberadaan dan fungsi JQHNU".

Kegiatan ini diadakan untuk mempersiapkan pembentukan pengurus PAC JQHNU di Kecamatan Cimanggung.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Banom JQHNU di Sumedang harus terus berkembang sampai ke tingkat daerah. Pembentukan pengurus PAC JQHNU merupakan bentuk pengembangan organisasi," tegas Jauharudin.

Kegiatan semaan Al-Quran ini diharapkan bisa menarik masyarakat untuk lebih mencintai Al-Quran. Selama ini pengurus JQHNU Sumedang masih terus concern membina para qari/qari’ah dan hafidz/hafidzah yang ada di Sumedang. (Ayi Abdul Kohar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Nasional, Pendidikan, Pahlawan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock