Tampilkan postingan dengan label IMNU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IMNU. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Januari 2018

Kitab Kuning

Kitab Kuning adalah istilah untuk menyebut kitab-kitab klasik karya ulama-ulama terdahulu atau ulama salaf yang merupakan salah satu elemen utama dalam pengajaran di pesantren NU. 

Disebut kitab kuning kemungkinan besar karena kertas kitab-kitab klasik pertama yang sampai di Nusantara  dari Timur Tengah berwarna kekuning-kuningan. Kitab-kitab yang disebut kitab kuning ini  berisi berbagai disiplin ilmu agama Islam, termasuk kitab yang berisi komentar (syarah), komentar atas komentar (hasyiyah), terjemahan, dan saduran.

Kitab Kuning (Sumber Gambar : Nu Online)
Kitab Kuning (Sumber Gambar : Nu Online)

Kitab Kuning

Kitab-kitab kuning ditulis dalam aksara Arab tanpa harakat sehingga sering disebut juga dengan nama kitab gundul. Kitab-kitab yang ditulis belakangan oleh ulama asal Indonesia, yakni komentar, saduran, atau terjemahan ditulis dalam aksara Jawi (Arab Pego). 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sebagian dari kitab kuning ini ditulis dalam bentuk syair (nadhom) demi mempermudah penghafalan. Untuk bisa membaca dan memahami kandungan kitab kuning, orang setidaknya harus menguasai ilmu tata bahasa Arab yaitu nahwu dan sharaf. Untuk kitab-kitab yang berbentuk syair orang harus menambah lagi dengan penguasaan ilmu balaghah. 

Ilmu tata bahasa Arab ini dalam dunia pesantren disebut dengan istilah ilmu alat karena memang digunakan sebagai “alat” untuk membaca kitab kuning.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sebutan kitab kuning ini juga menjadi pembeda dengan munculnya kitab-kitab baru yang ditulis oleh kaum reformis atau modernis yang kebanyakan adalah tafsir al-Qur’an dan tentang hadits. Teks-teks yang ditulis kaum reformis ini kemudian dikenal dengan sebutan “buku putih”. 

Dalam masyarakat Islam Indonesia, istilah kitab merujuk pada teks yang ditulis dalam bahasa Arab, sementara istilah buku merujuk pada teks yang ditulis dalam bahasa Indonesia.

Martin van Bruinessen mengungkapkan bahwa kitab-kitab yang berisi inti ajaran Islam ini ditulis antara abad 10 hingga abad 15 Masehi. Beberapa kitab ditulis sebelum periode itu dan sejumlah karya juga ditulis setelah masa itu. 

Namun, pada akhir abad 15 pemikiran Islam sudah mencapai puncaknya dan tidak ada perkembangan signifikan dalam tradisi penulisan kitab ini. Dalam tradisi abad pertengahan, semua ilmu  dianggap sebagai sistem pengetahuan yang terbatas karena itu penambahan pada pengetahuan yang sudah ada dianggap tidak tepat. 

Karena itulah penulisan kitab-kitab ilmu pengetahuan agama Islam bisa dirangkum ke dalam delapan kategori:  melengkapi yang belum lengkap, mengoreksi yang salah, menjelaskan yang belum jelas, rangkuman dari karya yang panjang, kumpulan berbagai tulisan yang terpisah namun berkaitan, penyusunan tulisan-tulisan yang tidak teratur, dan ringkasan apa yang sebelumnya belum diringkas, serta terjemahan karya-karya terdahulu.

Pengetahuan yang ditulis dalam kitab kuning adalah sudah tetap. Kalaupun ada karya-karya baru, kitab-kitab itu tetap berada dalam batas-batas yang jelas dan tidak bisa lebih dari sekadar ringkasan, penjelasan, dan komentar dari hal-hal yang sudah ditulis sebelumnya. Hal inilah yang oleh kaum reformis dan modernis dianggap sebagai sumber kejumudan, meskipun dalam praktiknya tradisi kitab kuning jauh lebih fleksibel dari anggapan tersebut. Tradisi penulisan kitab ini sungguhlah kaya dan tetap menjadi lentur justru karena tradisi ini tidak mempunyai tendensi untuk menjadi sama atau konsisten. Di dalam kitab-kitab klasik ini sering dijumpai perbedaan pendapat antara kitab satu dengan kitab yang lain mengenai suatu persoalan.

Pengajaran kitab kuning di pesantren berbasis pada transmisi oral (pengajaran lisan). Teks-teks dalam kitab-kitab tersebut dibaca keras oleh kiai kepada santrinya yang juga memegang kitab yang sama sambil membuat catatan. Kemudian kiai memberi komentar dan menjelaskan makna-maknanya. Santri kemudian membaca kembali kitab itu sambil diperiksa bacaannya oleh kiai.  

Sejumlah pesantren sudah mulai mengajarkan kitab secara klasikal dan  menerapkan kurikulum yang sudah standar, namun sejumlah pesantren lain tetap menerapkan metode pengajaran kitab seperti disebut di atas. Setelah santri menuntaskan satu kitab biasanya ia akan mendapat ijazah dari kiainya dan bisa belajar kitab yang lain.

Di Indonesia, kitab kuning diterbitkan di antaranya oleh sejumlah penerbit di Surabaya (Salim Nabhan), Kudus (Menara Kudus), Semarang (Al-Munawwarah), Pekalongan (Raja Murah), Cirebon (Misriyya), dan Jakarta (Al-Shafi`iyya dan At-Tahiriyya). Sebagian besar kitab yang diterbitkan oleh penerbit-penerbit tersebut adalah cetak ulang dari kitab asli yang diterbitkan di Mekah, Beirut, atau Kairo. Sebagian masih menampilkan logo dari penerbit asli di halaman depan, namun ada pula yang logonya sudah diganti.

Penerbitan kitab-kitab klasik ini biasanya disertai komentar atau penjelasan yang kadang dicetak di baris tepi atau sebaliknya. Hal  ini memungkinkan keduanya bisa dipelajari bersama sekaligus membuat penyebutan kitab menjadi campur aduk antara kitab yang dikomentari dengan kitab komentar itu sendiri.

Misalnya kitab Taqrib (Al-ghaya wa’l-Taqrib karya Abu Shuja` al-Isfahani) dan komentarnya Fath al-Qarib (karya Ibn Qasim al-Ghazzi) sering dicetak dalam satu kitab, atau sebutan kitab Mahalli merujuk  pada kitab yang ditulis oleh Qalyubi dan `Umayra yang di dalamnya terdapat kitab Kanz ar-Raghibin karya Jalaluddin Muhammad bin Ahmad al-Mahalli  yang dicetak di bagian tepi. Kitab Kanz ar-Raghibin sendiri merupakan komentar (syarah) atas kitab Minhaj at-Talibin, sebuah  kitab fiqih mazhab Syafi’i karya Imam Nawawi.

Dalam hal format, kitab kuning biasanya dicetak dalam ukuran kwarto (26 cm) dan tidak dijilid.  Lembaran-lembarannya terpisah di dalam sampul sehingga memudahkan para santri bisa mengambil salah satu lembar yang akan dipelajarinya. Dengan dicetak dalam kertas yang tetap berwarna kekuningan membuat penampilan kitab karya ulama-ulama klasik itu menjadi semakin tampak klasik. (Sumber: Ensiklopedi NU)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan IMNU, Santri, Pondok Pesantren Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 29 Januari 2018

Raja Salman Mundur, Muhammad bin Salman Jadi Raja Arab

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Azis memutuskan untuk mundur pekan depan. Dengan demikian, secara otomatis yang berhak menduduki posisi raja adalah sang putera mahkota, Muhammad bin Salam. 

“Raja Salman akan mengumumkan penunjukkan MBS sebagai Raja Arab Saudi pekan depan, kecuali ada kejadian dramatis,” demikian dikutip dari laporan eksklusif Daily Mail, Kamis (16/11).

Raja Salman Mundur, Muhammad bin Salman Jadi Raja Arab (Sumber Gambar : Nu Online)
Raja Salman Mundur, Muhammad bin Salman Jadi Raja Arab (Sumber Gambar : Nu Online)

Raja Salman Mundur, Muhammad bin Salman Jadi Raja Arab

Rencananya, setelah mengundurkan diri Raja Salman hanya akan memegang jabatan sebagai Penjaga Kota Suci; Mekkah dan Madinah. Ia juga berupaya untuk memainkan peran seperti Ratu Inggris dan terlibat sebagai figur pemimpin acara-acara seremonial, bukan pengambil keputusan. 

Raja Abdullah mengumumkan mundur dari jabatan Raja Arab Saudi setelah sebulan lalu menunjuk puteranya sendiri, Muhammad bin Salman, sebagai putera mahkota.

Setelah ditunjuk menjadi putera mahkota, Muhammad bin Salman melakukan reformasi yang radikal di tubuh pemerintahan Arab Saudi. Ia mengumumkan kepada dunia bahwa akan menjauh dari ajaran Islam yang ekstrim dan radikal, serta mengembangkan Islam moderat di Arab Saudi. Ia juga dalang dibalik penangkapan sebelas pangeran, empat menteri aktif, dan puluhan mantan menteri karena dugaan korupsi. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Berbagai sumber menyebutkan bahwa sang putera mahkota Muhammad bin Salman akan menghadapi persoalan-persoalan luar negeri yang cukup pelik seperti persoalan dengan Iran yang semakin sengit, perseteruan Arab Saudi dengan Hizbullah Lebanon, serta  Yaman, dan lain sebagainya. (Red: Muchlishon Rochmat) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan IMNU, Kajian Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Khittah 1926, ke Khittah 1945

Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama telah berlangsung pada 14-18 September 2012 yang lalu di Pondok Pesantren Kempek, Cirebon, yang didahului serangkaian kegiatan pramunas sejak Agustus di beberapa kota besar di Indonesia.

Munas-Konbes NU 2012 yang disiarkan cukup ramai oleh berbagai media massa, baik cetak maupun elektronik, telah menghasilkan banyak sekali rekomendasi dan telah ditanggapi positif oleh banyak kalangan, termasuk oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono.

Dari Khittah 1926, ke Khittah 1945 (Sumber Gambar : Nu Online)
Dari Khittah 1926, ke Khittah 1945 (Sumber Gambar : Nu Online)

Dari Khittah 1926, ke Khittah 1945

Munas NU kali ini agak berbeda. Jika dilihat materi pembahasannya, terutama dalam tiga komisi bahtsul masail diniyyah (pembahasan masalah keagamaan), hampir tidak ditemukan materi ubudiyah atau soal-soal ibadah ritual. Hanya ada satu pembahasan mengenai haji dalam komisi bahtsul masail diniyyah waqiyyah, itu pun tidak terkait ritual haji, namun pada soal dana talangan haji. Bukan berarti persoalan ibadah sudah tidak lagi muncul di tengah warga nahdliyin dan diajukan kepada para kiai untuk dibahas dalam Munas, namun ada kebutuhan mendesak untuk membahas beberapa hal (masail) penting terkait persoalan kebangsaan dalam forum nasional yang harus didahulukan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pada komisi bahtsul masail diniyyah waqi’iyyah, para kiai dan ahli fikih dari berbagai wilayah di Indonesia menyoroti praktik korupsi yang semakin merisaukan. Bahkan Munas 2012 itu memunculkan satu keputusan mengejutkan: NU merekomendasikan hukuman mati bagi koruptor kelas berat dan koruptor kambuhan. Munas juga merekomendasikan penguasaan atau perampasan aset negara yang telah dikorupsi meskipun pelakunya telah dihukum, atau bahkan telah meninggal dunia. Dalam kasus terakhir, pesan sesungguhnya diperuntukkan kepada para ahli waris. Bahwa harta korupsi akan menyulitkan orang tua atau saudara mereka dari tanggungan akhirat, serta harta hasil korupsi tidak akan berkah dan haram untuk diwariskan.

Bahtsul masail diniyyah waqi’iyyah juga memberikan rambu-rambu kepada para penyelenggara negara terkait cara pengelolaan kekayaan negara, agar mencapai sasaran yang tepat: kesejahteraan rakyat.

Tema besar pada Munas kali ini adalah “Kembali ke Khitah Indonesia 1945”. NU merasa prihatin dengan kondisi bangsa ini, terutama semenjak memasuki era reformasi. Persoalan pertama yang dibidik adalah amandemen UUD 1945. Satu sisi amandemen yang telah berlangsung empat kali itu menunjukkan Indonesia telah menunjukkan diri pada dunia sebagai negara yang demokratis. Namun karena dilakukan dengan sangat tergesa-gesa dan bahkan pada beberapa bagian dapat dikatakan responsif dan emosional terhadap rezim orde baru, maka dalam amandemen tersebut banyak terjadi  ketidakcermatan bahkan kesalahan. Akibatnya UUD yang dilahirkan merugikan rakyat dan membahayakan  kedaulatan nasional. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Amandemen yang berada di tangan rakyat itu diambil alih oleh sekelompok elite yang mewakili kepentingan kapitalisme global yang berideologi liberal. Berbagai pasal yang menegaskan aspirasi rakyat dan menjaga keutuhan bangsa dan negara diganti dengan pasal-pasal yang menguntungkan perusahaan asing di bawah bendera kapitalaisme global. Disyahkannya UU Sumber daya air, UU Migas, UU Minerba, UU perdesaan, UU Pangan dan lain sebagainya merupakan seperangkat hukum yang dikukuhkan untuk melindungi pemilik modal.

Komisi bahtsul masail diniyyah qonuniyyah, NU secara serius mengkaji kembali beberapa undang-undang yang tidak sejalur dengan Khittah Indonesia 1945. Dalam bahtsul masail khusus yang membahas persoalan undang-udang itu para kiai juga menyampaikan beberapa rekomendasi terkait undang-undang No 20/2003 tentang Sistem Pemdidikan Nasional dan UU No 2 /2012 tentang perguruan tinggi.

Banyak sekali persoalan negara yang dibahas secara serius oleh para kiai dari berbagai daerah dan disaksikan ribuan warga nahdliyin yang hadir di forum Munas-Konbes NU 2012. Isu “warning bagi pengelolaan pajak” hanyalah isu permukaan saja. Kritik dan masukan NU lebih mengarah kepada tata kelola kekayaan negara yang selama ini dinilai salah kelola. 

Terkait dengan Khitah 1945, tidak ada keputusan yang menyebutkan bahwa NU mengajak kembali ke UUD 1945. Setelah menengok beberapa produk undang-undang tidak menyejahterakan rakyat, secara serius NU mengajak kembali kepada segenap elemen bangsa untuk mencermati kembali undang-undang dasar produk reformasi. Jika diperlukan amandemen kembali, maka harus dilakukan secara cermat dan komprehensif, tidak hanya melayani kebutuhan sekelompok orang.

NU punya pengalaman besar terkait “khitah”. Pada tahun 1984, setelah menjalankan roda keorganisasian selama puluhan tahun, NU lalu memutuskan kembali ke khittah 1926, kembali ke jati diri NU seperti pada saat didirikan. Istilah “Khittah 1945” sebagai tema besar Munas-Konbes NU 2012 dipakai untuk mengingatkan bangsa ini agar kembali kepada semangat dan tujuan Indonesia merdeka, tahun 1945. Kembali ke khitah bukan langkah mundur, tapi langkah pasti untuk merumuskan masa depan yang lebih baik.

Secara formal Munas-Konbes NU 2012 telah berakhir. Namun beberapa keputusan dan rekomendasi NU akan terus berlanjut. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Aswaja, Pesantren, IMNU Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 26 Januari 2018

Dosa Pelaku Bunuh Diri, Apakah Kekal di Neraka? (1)

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Di beberapa media, baik cetak maupun elektronik kita beberapa kali menemukan berita tentang orang-orang yang melakukan bunuh diri. Mereka melakukan bunuh diri karena biasanya ada masalah yang dirasa berat. Tindakan bunuh jelas merupakan perbuatan yang keliru dan termasuk dosa besar. Yang ingin kami tanyakan pertama adalah apakah pelaku bunuh diri kekal di neraka? Pertanyaan yang kedua, apakah orang yang mati karena bunuh diri tidak dishalati? Demikian pertanyaan yang kami ajukan, atas jawabannya kami ucapkan terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Ardan/Jakarta)

Dosa Pelaku Bunuh Diri, Apakah Kekal di Neraka? (1) (Sumber Gambar : Nu Online)
Dosa Pelaku Bunuh Diri, Apakah Kekal di Neraka? (1) (Sumber Gambar : Nu Online)

Dosa Pelaku Bunuh Diri, Apakah Kekal di Neraka? (1)

Jawaban

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Ada dua pertanyaan diajukan kepada kami yang terkait dengan soal bunuh diri. Pertama mengenai apakah orang yang mati karena bunuh diri kelak di neraka apa tidak. Sedang yang kedua, apakah ia dishalati apa tidak.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dalam kesempatan ini kami akan mencoba untuk menjawab pertanyaan pertama terlebih dahulu. Sedang untuk pertanyaan kedua, insya Allah akan kami jawab dalam kesempatan lain.

Setiap orang yang hidup di dunia sudah barang tentu akan mengalami masalah dalam kehidupannya. Ada yang ringan ada pula yang berat. Yang menjadi persoalan adalah ketika manusia menghadapi suatu masalah yang dianggapnya berat sehingga acapkali merasa tidak kuat memikul beban tersebut. Akhirnya mengambil tindakan keliru dengan cara bunuh diri karena menganggap bunuh diri sebagai solusi terbaik untuk melepaskan impitan masalah yang menimpanya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Tindakan bunuh diri jelas tidak dengan serta merta menyelesaikan masalah. Dalam pandangan Islam tindakan tersebut adalah tindakan yang diharamkan dan masuk kategori dosa besar.

Logika sederhana pelarangan ini adalah bahwa nyawa adalah milik Allah sehingga kita tidak memiliki hak apapun atas nyawa kita. Sedangkan dosa orang yang melakukan bunuh diri lebih besar dibandingkan membunuh orang lain, sebagaimana yang kami pahami dari keterangan yang terdapat dalam kitab Al-Mawsu’atul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Sungguh orang yang melakukan bunuh diri dosanya lebih besar dibanding orang yang membunuh orang lain,” (Lihat Al-Mawsu’atul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, Kuwait-Darus Salasil, juz III, halaman 239).

Lantas jika dosa membunuh orang lain dikategorikan sebagai dosa besar, sedangkan dosa membunuh diri sendiri dianggap lebih besar lagi, apakah orang yang mati bunuh diri akan kekal di neraka? Untuk menjawab pertanyaan ini maka kami akan menyuguhkan salah satu hadits Nabi saw riwayat Muslim berikut ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Barangsiapa yang bunuh diri dengan besi, maka besi yang tergenggam di tangannya akan selalu ia arahkan untuk menikam perutnya dalam neraka Jahanam secara terus-menerus dan ia kekal di dalamnya. Barangsiapa yang bunuh diri dengan cara meminum racun maka ia akan selalu menghirupnya di neraka Jahannam dan ia kekal di dalamnya. Barangsiapa yang bunuh diri dengan cara terjun dari atas gunung, maka ia akan selalu terjun ke neraka Jahanam dan dia kekal di dalamnya,” (HR Muslim).

Secara tekstualis hadits di atas jelas menyatakan bahwa orang yang mati karena melakukan bunuh diri akan masuk neraka dan kekal di dalamnya. Hal ini sebagai balasan atas tindakan bodohnya. Tetapi apakah maksud hadits ini sesuai dengan makna tersuratnya atau tekstualisnya?

Muhyiddin Syaraf An-Nawawi dalam kitab Syarah Muslim-nya menghadirkan beberapa pandangan yang mencoba untuk menjelasakan maksud dari sabda Rasulullah SAW tentang kekekalan di neraka bagi orang mati karena bunuh diri.

Pertama, bahwa maksud dari ia (orang yang mati karena bunuh diri) kekal di dalam neraka adalah apabila ia menganggap bahwa melakukan tindakan bunuh diri tersebut adalah halal padahal ia tahu bahwa bunuh diri itu adalah haram. Karena itu maka tindakan menganggap halal bunuh diri menyebabkan ia menjadi kafir.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Adapun sabda Rasulullah SAW; ‘maka ia kekal selama-lamanya di dalam neraka Jahanam’, maka dalam hal ini dikatakan ada beberapa pandangan. Pertama, sabda ini mesti dipahami dalam konteks orang yang mati karena bunuh diri dan menganggap bahwa tindakan bunuh diri adalah halal padahal ia tahu bahwa bunuh diri itu haram. Maka hal ini menjadikannya kafir dan kekal di dalam neraka sebagai siksaan baginya (karena melakukan tindakan bunuh diri, pent),” (Lihat Muhyiddin Syaraf An-Nawawi, Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim bin al-Hajjaj, Beirut, Daru Ihya`it Turats Al-‘Arabiy, cet ke-2, 1392, juz II, halaman 125).

Kedua, menyatakan bahwa yang dimaksud dengan kekal di dalam neraka adalah ia menghuni neraka dalam waktu yang cukup lama dan panjang. Pandangan ini mengandaikan bahwa ia kekal di neraka bukan diartikan secara hakiki sebagai kekal selamanya di neraka, tetapi dalam pengertian yang bersifat majazi. Hal ini seperti pernyataan, ‘khalladallahu mulkas sulthan’, (Semoga Allah kekalkan kekuasaan sultan).

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Kedua, apa yang dimaksud dengan kekal di dalam neraka adalah durasi waktu menetap di dalam neraka, bukan kekal dalam arti sesungguhnya, sebagaimana dikatakan ‘khalladallahu mulkas sulthan’ (Semoga Allah kekalkan kekuasaan sultan),” (Lihat Muhyiddin Syaraf Nawawi, Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim bin al-Hajjaj, juz II, halaman 125).

Ketiga, menyatakan bahwa kekekalan di dalam neraka adalah sebagai balasan bagi orang yang mati karena bunuh diri, tetapi Allah SWT bermurah hati sehingga kemudian memberi tahu bahwa orang yang mati dalam keadaan sebagai Muslim tidak kekal di dalam neraka.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Ketiga, bahwa kekekalan di dalam neraka adalah balasan atas perbuatannya, akan tetapi Allah SWT bermurah hati sehingga kemudian Dia mengabarkan bahwa sesungguhnya orang yang mati dalam keadaan sebagai Muslim tidak kekal di dalam neraka,” (Lihat Muhyiddin Syaraf An-Nawawi, Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim bin Al-Hajjaj, juz II, halaman 125).

Dari ketiga pandangan tersebut, maka kesimpulan kami adalah selama orang yang bunuh diri tersebut masih sebagai orang Muslim maka ia tidak kekal di neraka, tetapi kendati demikian ia akan mendekam dalam neraka dalam waktu yang sangat panjang.

Lain halnya, apabila ia melakukan bunuh dirinya karena mengalalkannya padahal ia tahu bahwa hal itu diharamkan maka ia kekal di dalam neraka. Sebab, konsekuensi dari menghalalkan yang haram (bunuh diri) menyebabkan ia menjadi kafir sebagaimana yang kami pahami dari pandangan pertama yang dihadirkan oleh An-Nawawi di atas.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu alaikum wr. wb.


(Mahbub Maafi Ramdlan)Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan IMNU, AlaNu Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

PBNU Harap Polisi Usut Tuntas Tragedi Penganiayaan Salim Kancil

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj (Kang Said) menyatakan prihatin mendalam atas penganiayaan lebih dari sepuluh orang yang berakhir pada wafatnya Salim alias Kancil, seorang petani kecil di Lumajang. Masyarakat, kata Kang Said, akan terus mengikuti proses usut-tuntas pihak kepolisian terhadap penganiayaan kejam yang merusak rasa kemanusiaan mereka.

PBNU Harap Polisi Usut Tuntas Tragedi Penganiayaan Salim Kancil (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Harap Polisi Usut Tuntas Tragedi Penganiayaan Salim Kancil (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Harap Polisi Usut Tuntas Tragedi Penganiayaan Salim Kancil

“Saya meminta polisi mengusut tuntas kasus ini. Pelaku harus diproses secara hukum,” kata Kang Said di Jakarta, Selasa (29/9) malam.

Ia mengajak semua pihak untuk taat aturan termasuk aktivitas pertambangan. Pertambangan harus memiliki payung hukum yang didasarkan pada kemaslahatan rakyat. “Tidak boleh ada aktivitas pertambangan illegal,” kata Kang Said.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kang Said juga mendukung peran para agamawan setempat untuk tetap menanamkan nilai-nilai akhlak dan moral. Menurut Kang Said, mereka harus mengajarkan akhlak dan moral kepada masyarakatnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pengasuh pesantren Ats-Tsaqafah Ciganjur ini menyatakan, “Para kiai di sana perlu memberikan bimbingan lebih ekstra kepada warga untuk melakukan pendekatan hukum. Gerakan penyadaran ini yang sangat diperlukan. Tidak main hakim sendiri.”

Lebih dari sepuluh orang mengeroyok Salim dan Tosan. Bahkan mereka menelantarkan jenazah Salim begitu saja di jalanan setelah sebelumnya disiksa. “Kalau sudah sampai begini, bukan lagi tugas para agamawan, tetapi sudah tugas polisi,” tandas Kang Said. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Berita, Nahdlatul Ulama, IMNU Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 25 Januari 2018

Mensos Tegaskan 100 Persen Penerima Bansos Dilakukan secara Non-Tunai

Sleman, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengungkapkan pada bulan Juni ? 2017 sebanyak 6 juta penerima Program Keluarga Harapan (PKH) akan menerima bantuan sosial secara non-tunai.?

Hal tersebut disampaikan Khofifah saat memantau proses pencairan tahap pertama PKH Non Tunai untuk Sleman di Pendopo Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sabtu (22/4).

Mensos Tegaskan 100 Persen Penerima Bansos Dilakukan secara Non-Tunai (Sumber Gambar : Nu Online)
Mensos Tegaskan 100 Persen Penerima Bansos Dilakukan secara Non-Tunai (Sumber Gambar : Nu Online)

Mensos Tegaskan 100 Persen Penerima Bansos Dilakukan secara Non-Tunai

"Pada awal 2017 sebanyak 3 juta KPM sudah menerima bansos non tunai, sisanya 3 juta KPM akan menerima non tunai mulai bulan Juni ? sehingga 100 persen penerima PKH sudah bisa mengambil uang bansos menggunakan buku tabugan atau ? Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) di agen bank dan e-warong," kata Mensos.

Mensos mengungkapkan, metode pencairan bansos non-tunai menggunakan buku tabungan serta KKS adalah upaya mengajak masyarakat untuk berkenalan dengan perbankan. ?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Melalui sistem penyaluran nontunai dengan menggunakan KKS, bansos dan subsidi akan langsung disalurkan ke rekening penerima manfaat.

"KKS ini dilengkapi dengan fitur saving account dan e-wallet dimana satu kartu dapat digunakan untuk berbagai program bansos dan subsidi. Seperti PKH, Bantuan Pangan, elpiji , listrik dan sebagainya," papar Mensos.?

Selanjutnya, penerima manfaat dapat bertransaksi dan mencairkan bansos di jaringan E-Warong KUBE PKH dan agen perbankan yang dikelola oleh masing-masing bank anggota HIMBARA (BNI 46, BTN, BRI, Bank Mandiri).?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pada Juni, lanjut Mensos, juga akan mulai dicairkan bansos PKH tahap kedua. Besarannya masih sama dengan tahap pertama yakni Rp500.000.?

"Bansos tahap kedua ini cair menjelang lebaran. Tapi saya minta uang PKH bukan untuk beli baju lebaran ya bu. Untuk keperluan sekolah dan beli makanan bergizi. Supaya anak-anak sehat dan cerdas," kata Mensos.?

Bantuan sosial untuk Sleman totalnya mencapai Rp188.080.914.400. Rinciannya untuk PKH non tunai Rp95.240.880.000 untuk 50.392 keluarga.?

Bantuan Beras Sejahtera (Rastra) sebesar Rp91.258.034.400 untuk 66.534 keluarga. Bantuan Sosial Disabilitas sebesar Rp702.000.000 untuk 234 jiwa, dan Bantuan Sosial Lanjut Usia sebesar Rp880.000.000 untuk 440 jiwa.?

Sehari sebelumnya, Jumat (21/4), Mensos juga membagikan bansos PKH Non-Tunai di Kabupaten Rembang.

Bantuan Sosial untuk Kabupaten Rembang Tahun 2017 total sebesar Rp134.952.566.400. Jumlah tersebut terdiri dari Program Keluarga Harapan (PKH) Non Tunai sebesar Rp38.964.240.000 untuk 20.616 keluarga. Bantuan Beras Sejahtera (Rastra) sebesar Rp95.880.326.400 untuk 69.904 keluarga. Bantuan Sosial Disabilitas sebesar Rp108.000.000 untuk 36 jiwa.?

"Tahun depan (2018) kita akan memasuki era dimana bansos PKH ? diberikan kepada 10 juta keluarga ? penerima manfaat. Untuk Rastra, akan diberikan secara non-tunai atau dialihkan ke Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) untuk 10 juta penerima manfaat. Jadi penerima PKH juga akan menerima BPNT," demikian Mensos. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan IMNU, Aswaja, Nahdlatul Ulama Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Situasi Masjid al-Aqsa Memanas, PBB Keluarkan Kecaman

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengaku sangat menyesalkan insiden pembunuhan tiga orang Palestina sebagai akibat ketegangan yang meningkat setelah Israel memperketat penjagaan di kompleks al-Aqsa di Yerusalem.

Seperti dirilis laman Aljazeera, Guterres mengutuk pembunuhan tersebut dan menyerukan penyelidikan pada Sabtu pagi, beberapa jam setelah demonstrasi massa oleh rakyat Palestina di sekitar tempat suci itu.

Situasi Masjid al-Aqsa Memanas, PBB Keluarkan Kecaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Situasi Masjid al-Aqsa Memanas, PBB Keluarkan Kecaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Situasi Masjid al-Aqsa Memanas, PBB Keluarkan Kecaman

Dia mendesak para pemimpin Israel dan Palestina untuk menahan diri dari tindakan yang dapat terus meningkatkan situasi yang mudah berubah di Kota Tua Yerusalem, dengan mengatakan bahwa situs keagamaan harus menjadi ruang untuk refleksi, bukan kekerasan.

Mengutip Guterres, juru bicara PBB Farhan Haq mengatakan bahwa pihaknya memahami "masalah keamanan yang sah, namun di sisi lain penting bahwa status quo di lokasi tetap dipertahankan".

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pasukan keamanan Israel pada Jumat secara keras menghadang demonstrasi, memuntahkan amunisi, gas air mata dan peluru karet di kerumunan warga Palestina yang menentang kebijakan baru tersebut, yakni melarang laki-laki Muslim di bawah usia 50 tahun memasuki Masjid al-Aqsa dan melewati instalasi detektor logam yang dipasang Israel.

Israel kian memperkuat cengkeramannya di kompleks tersebut pada 14 Juli setelah dua petugas keamanan Israel tewas dalam serangan yang diduga dilakukan oleh tiga warga Palestina. Tiga warga itu lantas dibunuh polisi Israel setelah terjadi kekerasan.

Korban berjatuhan

Dalam insiden fatal pertama seminggu kemudian pada hari Jumat, seorang pemukim Israel membunuh Muhammad Mahmoud Sharaf berusia 18 tahun di lingkungan Ras al-Amud di Yerusalem Timur yang diduduki.

Seorang warga Palestina berusia 20 tahun, Muhamad Hasan Abu Ghanam, terbunuh oleh tembakan langsung selama demonstrasi di Yerusalem. Dan pasukan Israel membunuh korban ketiga, Muhamad Mahmoud Khalaf, 17 tahun, dalam bentrokan di Tepi Barat.

Gerakan humanitarian Red Crescent menyebut ada 450 orang yang terluka oleh pasukan Israel selama demonstrasi di Yerusalem dan Tepi Barat, dengan jumlah sekurangnya 215 luka-luka akibat menghirup gas air mata.

Polisi mengatakan seorang penyerang Palestina juga membunuh tiga orang Israel di sebuah pemukiman di Tepi Barat.

Perkumpulan Tahanan Palestina mengatakan, setidaknya 21 orang Palestina ditangkap pada demonstrasi hari Jumat di Tepi Barat, termasuk setidaknya 10 dari Yerusalem.

Media Israel melaporkan bahwa empat petugas polisi Israel terluka dalam demonstrasi tersebut setelah orang-orang Palestina melemparkan batu dan api ke mereka. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Sholawat, Pertandingan, IMNU Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 21 Januari 2018

GP Ansor: Tony Abbot Harus Datang ke Aceh Minta Maaf

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Aceh Samsul B Ibrahim mengecam pernyataan tak terpuji Perdana Menteri Australia Tony Abbot yang mengungkit bantuan kemanusiaan pascamusibah gempa dan tsunami pada 2004 silam. Samsul mendesak Tony Abbot meminta maaf secara langsung kepada seluruh masyarakat Aceh dengan mengunjungi Serambi Mekkah.

GP Ansor: Tony Abbot Harus Datang ke Aceh Minta Maaf (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor: Tony Abbot Harus Datang ke Aceh Minta Maaf (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor: Tony Abbot Harus Datang ke Aceh Minta Maaf

Samsul? mengatakan, pihaknya menghargai Australia yang meminta pembatalan hukuman gantung terhadap Andrew Chan dan Myuran Sukumaran karena kasus Narkoba. Bahkan, sikap enam mantan PM Australia yakni Malcolm Fraser, Bob Hawke, Paul Keating, John Howard, Kevin Rudd, dan Julia Gillard yang menyerukan hal serupa, menurut Samsul merupakan sebuah langkah wajar yang dilakukan tokoh-tokoh Australia terhadap warganya.

“Namun mengungkit bantuan kemanusiaan seperti pernyataan Abbot adalah dosa besar sekaligus mencoreng wajah warga Australia yang mungkin ikhlas membantu Aceh. Dia harus datang ke Aceh untuk meminta maaf secara langsung,” katanya dalam siaran pers, Ahad (22/2).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Samsul menambahkan, hukuman mati terhadap pelaku kriminalitas tertentu bukanlah hal baru dalam konteks hukuman internasional. Praktik hukuman mati sudah diterapkan di berbagai negara baik itu Malaysia, Iran, China, Libya, Suriah, hingga Amerika Serikat.

“Dalam hal vonis hukuman mati yang diputuskan terhadap Andrew Chan dan Myuran Sukumaran di Indonesia, seharusnya Australia fokus mengumpulkan alat bukti tertentu yang mampu menghindari kesalahan vonis. Faktanya hingga vonis dijatuhkan, kesalahan pidana terkait peredaran Narkoba yang dialamatkan kepada Andrew Chan dan Myuran Sukumaran tak bisa terbantahkan,” tuturnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Karena itu, Tony Abbot sebagai Perdana Menteri Australia harus menghargai putusan hukum tersebut. Kedaulatan hukum Indonesia merupakan komponen yang tak bisa diintervensi oleh siapapun. Lagipula, putusan hukum itu semata-mata dilakukan untuk memberikan peringatan keras terhadap peredaran Narkoba di Indonesia.

“Ini bicara soal hukum dan kedaulatan negara. Sebagai Pemuda Nahdliyin, apa yang diungkit oleh Abbot sungguh perilaku sangat tercela,” kecamnya.

Ancaman Investasi

Di lain hal, Samsul menyebutkan masyarakat Aceh sebenarnya merupakan masyarakat yang cukup bijak dalam menyambut warga manapun. Buktinya, selama ini perusahaan asal Australia sudah beroperasi di Aceh. Beberapa perusahaan asal Australia itu melakukan investasi di sektor energi, pertambangan, hingga perkebunan.

“Sejauh yang kami terlusuri demikian informasinya. Misalnya seperti Triangle Energy (Global) Limited yang mendapatkan hak pengelolaan blok minyak dan gas di Wilayah Pase. Tidak hanya itu, sekitar Desember 2014 lalu, GeRAK bahkan pernah membuat laporan tentang penjualan izin usaha pertambangan kepada perusahaan asing asal Australia baik di Aceh Selatan, maupun di Tamiang. Nah, gimana kalau hal itu kita lempar ke muka Abbot,” tegas Samsul.

Dia berharap, tokoh-tokoh dan seluruh warga Australia tidak membiarkan perilaku tercela Tony Abbot ini merusak hubungan diplomatis kedua negara. Apalagi selama ini, hubungan kedua negara ini selalu memberikan kontribusi yang terukur bagi kedua negara baik di sektor ekonomi, pendidikan, kebudayaan, dan hal-hal lainnya.

“Kami meminta tokoh-tokoh serta warga Australia untuk menyadarkan Tony Abbot. Mereka harus mendesak Abbot meminta maaf kepada seluruh masyarakat Aceh di Aceh, bukan di Canberra. Dia harus berani meminta maaf. Kalau tidak, ini akan menjadi catatan sejarah betapa warga Australia rela dipimpin oleh sosok yang tidak bermoral seperti Abbot,” tutup Samsul. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pemurnian Aqidah, IMNU, Nusantara Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 07 Januari 2018

Ada Transaksi Psikologis pada Jual-Beli ala Warung Kelontong

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Anggota Dewan Penasihat Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor (PP GP Ansor) Endin Sofihara menilai proses transaksi  jual-beli di warung-warung kelontong tidak hanya terjadi transaksi dalam hal ekonomi, melainkan juga memiliki transaksi psikologis. Hal itu, kata Endin, karena terjadi saling menghargai antara pembeli dan penjual.

Demikian dikatakan Endin pada forum diskusi yang mengangkat tema NU dan Pemberdayaan Ekonomi di lantai delapan, Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Senin (13/11).

Ada Transaksi Psikologis pada Jual-Beli ala Warung Kelontong (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada Transaksi Psikologis pada Jual-Beli ala Warung Kelontong (Sumber Gambar : Nu Online)

Ada Transaksi Psikologis pada Jual-Beli ala Warung Kelontong

"Jadi kalau pembelinya kiai, atau profesor atau pak haji pasti terjadi hubungan psikologis di antara mereka," katanya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Berbeda dengan pola penjualan seperti Indomaret atau Alfamart yang menurutnya tidak mengenal adanya transaksi psikologis.

"Yang dia kenal adalah siapa bayar siapa dilayani. Ini sebuah perilaku kapitalis yang sangat luar biasa," ujar pria yang pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI periode 1999-2004 dari Partai Persatuan Pembangunan ini.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Menurutnya, perilaku transaksi kapitalis bukan hanya akan mengikis akan ekonomi warga NU tetapi juga akan mengikis pola hubungan kekerabatan antar sesama warga masyarakat.

"Kita menginginkan terjadinya sebuah konsepsi ekonomi untuk warga NU. NU untuk jadi produsen dan konsumen. Setiap transaksi penjualan atau pembelian tetap menjaga kekerabatan dan keharmonisan antarwarga," terang pria kelahiran Pandeglang ini.

Hadir pada diskusi tersebut Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) PBNU KH Masduki Baidlowi, Wasekjen PBNU H Andi Najmi Fuadi, Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Rumadi Ahmad, Wakil Ketua Lakpesdam NU KH Marzuki Wahid, Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBM NU) KH Abdul Moqsith Ghozali, dan lain-lain. (Husni Sahal/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan IMNU Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 24 Desember 2017

Kader Ansor Tak Boleh Meniru Karakter Itik

Pamekasan, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Syahdan, itik tidak mampu menyerap dengan baik “hasil rapat” dengan bebek dan angsa terkait kesinambungan anak-cucunya. Akibatnya, itik hingga kini sembarangan dalam bertelur.

"Para kader Gerakan Pemuda Ansor tidak boleh meniru karakter itik yang ketinggalan informasi cara bertelur yang baik dan benar," ujar Kiai Jaman saat memberi pengarahan di sela-sela kolom bulanan Majelis Dzikir dan Shalawat (MDS) Rijalul Ansor PAC GP Ansor Kadur Kabupaten Pamekasan, Jumat (14/1) malam.

Kader Ansor Tak Boleh Meniru Karakter Itik (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Ansor Tak Boleh Meniru Karakter Itik (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Ansor Tak Boleh Meniru Karakter Itik

Salah satu Dewan Penasehat GP Ansor Kadur tersebut menambahkan, agar tidak seperti karakter itik, kader GP Ansor mesti banyak belajar pada sejarah. Utamanya bagaimana sepak terjang para ulama pendiri NU.

"Kalau sampai ada kader GP Ansor yang karakter dan sikapnya keluar dari rel organisasi, berarti dia tidak jauh beda dengan itik," tegas Dosen STAI Al-Khairat itu.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Karenanya, Kiai Jaman mengetengahkan pemahaman betapa kader GP Ansor harus selalu belajar dalam banyak hal. Kepada yang lebih tua dan pengalaman, jangan sungkan untuk minta nasihat yang bermanfaat.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Manusia tidak bisa tahu tanpa peran orang lain," tegasnya.

Kiai Jaman juga mengimbau agar kader GP Ansor tidak seperti siput linu atau lemar; matanya melotot dan penuh semangat, tetapi tersenggol sedikit langsung kerdil.

"Karenanya, jangan jadikan jabatan sebagai andalan. Jangan berlebih-lebihan. Kita punya kelebihan dan kelemahan. Hidup bagai roda berputar," tegas Kepala SMA Islam Yaspimu Pamekasan tersebut.

Saat ini marak fitnah di dunia nyata maupun maya. Kader GP Ansor, tegas Kiai Jaman, jangan sampai termakan isu-isu negatif. Teman dengan teman di internal pengurus, mudah terjadi fitnah.

"Jika ada potensi fitnah di internal kepengurusan maupun keanggotaan, cepat tangani. Jangan seperti membiarkan tambak yang bocor. Kalau dibiarkan, akan makin besar dan membahayakan. Segeralah koordinasi," paparnya.

Alumnus Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep ini menambahkan, sukses itu hanya sekali seumur hidup. Siapa pun orangnya. Selebihnya karena dipertahankan.

"Dari nol sampai puncak kesuksesan berpotensi menurun. GP Ansor jangan sampai menurun. Sukses banyak hambatan. Ketika hampir sukses, akan muncul masalah yang lain. Bagaikan bulunya badan; dicukur bulunya kumis, bulu hidung lebat. Bulu hidung dicukur, bulu kumis tumbuh," katanya penuh analogi.

Penempatan pengurus dalam organisasi harus disesuaikan dengan porsi jabatan yang diemban. "Selaku ketua, tentu harus belajar ada rambut kepala; melebihi rambut yang lain tanpa ada arogansi. Lihai dan lentur sangat perlu dalam memimpin organisasi," tegas Kiai Jaman.

Persatuan pengurus juga penting. Jika ada persoalan, segera koordinasi. Selain itu, Kiai Jaman juga mengarahkan tiap kali GP Ansor menyelenggarakan acara, mesti undang tokoh masyarakat. Karena itu bisa memperkuat sistem organisasi.

Target kegiatan apa untuk masyarakat banyak, imbuhnya, juga perlu diperjelas oleh GP Ansor. Apa sebatas hanya berkumpul, bekerja di balik meja, tapi tidak merembet ke masyarakat, atau bagaimana? Jangan jadi raksasa tidur yang hanya besar tapi nihil peran.

"Kita juga mesti apental syahadat, asapok iman, apajung Allah. Sisa hidup kita gunakan untuk berjuang. Karena suatu saat, kita akan meninggalkan kesan setelah meninggalkan alam fana ini," tandasnya. (Hairul Anam/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan IMNU, Cerita, Pahlawan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 13 Desember 2017

NU-nisasi Orpol?

Oleh KH MA Sahal Mahfudh. Politik itu kenyal, seperti permen karet. Dikunyah terus tak pernah habis. Terkadang rasanya sudah habis, tapi orang masih terus mengunyahnya. Bagi orang yang telah terbiasa mengunyah permen karet, mungkin ia kecanduan dengan kebiasaan yang melekat itu. Rasanya tidak sreg bila pada forum apa saja atau pada kesibukan apa saja, tanpa mengunyah permen karet, dus mengaitkan aktivitas apa saja dengan politik.

Dalarn proses hidupnya, manusia rnemang tidak lepas dari pengaruh watak politis. Telah menjadi sunnatullah barang kali, setiap kelompok manusia ada yang dikuasai dan ada yang menguasai, ada yang diperintah dan memerintah, serta ada yang dipengaruhi dan mempengaruhi. Itulah konteks politik.

NU-nisasi Orpol? (Sumber Gambar : Nu Online)
NU-nisasi Orpol? (Sumber Gambar : Nu Online)

NU-nisasi Orpol?

Secara naluriah manusia selalu ingin menguasai, memerintah dan mempengaruhi. Meskipun pada tingkat-tingkat tertentu, sesuai dengan potensi dan otoritas yang dimiliki. Di sini kiranya dapat dibuktikan adanya adagium, politik merupakan kebutuhan hidup menurut naluri manusiawi. Masyarakat yang hidup dalam suatu negara yang berbentuk apa pun, tentu merasa sebagai makhluk yang berbangsa dan bernegara. Perasaan itu biasanya berkembang menjadi pengertian atau kesadaran kkritis. Dengan demikian mereka sudah terlibat langsung atau tidak, disadari atau tidak berada pada masalah politik. Hanya saja, karena keterbatasan tertentu, di antara mereka ada yang masuk pada golongan kaum elite politik dan ada yang hanya sebagai kaum awam politik. Kelompok kedua inilah yang terbanyak dari masyarakat Indonesia, termasuk warga NU.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kelompok kedua ini, kelihatan acuh tak acuh dan tidak punya perhatian terhadap masalah politik, kecuali secara temporer karena pengaruh dari panutan mereka yang masuk pada kelompok pertama. Pada momentum tertentu mereka ikut melakukan aktivitas politik dengan memberikan dukungan atau menolak atas wawasan politik tertentu. Umumnya mereka tidak bisa membedakan antara kultur politik dan struktur politik, apalagi pengetahuan soal infrastruktur dan suprastruktur politik. Meskipun kenyataannya mereka sudah terlibat, sekurang-kurangnya dalam kultur politik, yakni keseluruhan tata nilai, keyakinan, persepsi dan sikap yang mempengaruhi mereka dalam suatu sistem atau kegiatan politik.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

***

Warga Nahdlatul Ulama (NU) yang sebagian besar awam politik beserta ulamanya telah terlibat langsung atau tidak langsung dalam sejarah pembentukan negara dan bangsa Indonesia. Ketika zaman kolonial Belanda, NU dengan para ulama dan pesantrennya telah mampu menanamkan semangat wathaniyah (nasionalisme) dan kebencian terhadap penjajahan. Semangat itu berpengaruh luas pada masyarakat untuk merebut kemerdekaan Indonesia dan mempertahankannya. Ini merupakan tindakan politik secara kultural yang kemudian disebut peranan politik dalam sejarah bangsa.

Peranan kesejarahan tersebut sebenarnya juga merupakan khittah perjuangannya serta usahanya untuk mencapai tujuan organisasi, yaitu berlakunya syariat Islam ala Ahli al-Sunnah wa al-Jamaah di bumi Nusantara ini. Sikap dan kebijakan para ulama NU seperti itu, bukan tanpa alasan. Justru karena wawasan historis dan wawasan masa depan itulah, para ulama NU sadar akan sejarah yang telah, sedang dan akan berjalan.

Sejarah telah memberikan pelajaran kepada ulama NU, bahwa masuknya Islam di Indonesia sejak awal hingga zaman Wali Songo, tidak melalui jalan politik struktural, namun lewat usaha dan kegiatan yang seiring dengan proses transformasi kultural. Strategi itu menguntungkan, karena tidak menimbulkan perdebatan konflik batin maupun fisik bagi masyarakat sasaran.

Transformasi budaya ini masih terus berproses dan akan terus berproses sejalan dengan perkembangan kehidupan manusia. Bagi NU, ini sebuah tuntutan yang mendorong orrnas Islam terbesar itu, untuk melakukan kegiatan sosial kemasyarakatan yang berpengaruh langsung atau tidak langsung dalam menumbuhkan dan membentuk budaya bernilai Islam.

Adanya indikasi tumbuhnya antusiasme keagamaan Islam di seluruh Indonesia saat ini, merupakan titik cahaya yang akan memberikan terobosan bagi NU untuk memperoleh kesempatan mengisi nilai budaya secara Islami. Tujuan NU bisa terwujud melalui kulturisasi politik tanpa harus menimbulkan ketegangan-ketegangan.

Inilah sebenarnya yang ingin dicapai oleh para ulama NU dengan keputusan strateigisnya, kembali ke Khittah 26. Khittah 26 telah berkali-kali diuji dengan keluar-masuknya NU pada kegiatan po1itik struktural. Ternyata ia masih tetap merupakan garis lurus vertikal mau pun horisontal yang patut menjadi landasan perjuangan NU dan tetap mempunyai relevansi kuat. Khitah 26 akan selalu mampu menarik NU ke tengah-tengah pergumulan sejarah bangsa yang masih panjang. Dengan demikian keberadaan di tengah bangsa Indonesia ini, justru bagai pupuk yang sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas kehidupan dan keberagamaan demi kemajuan optimal bagi bangsa ini.

Di sinilah letak dasar ukuran umum dan wajar yang selalu dipegang oleh para ulama NU sejak berdirinya sampai sekarang. Pada dasar ukuran ini pula terletak kesimpulan, Khittah 26 sejak lahir belum pernah "minus". Khittah 26 cukup sarat dengan berbagai nilai yang kuat relevansinya di segala zaman. Tidak pernah dan tidak akan ada istilah "Khittah Minus".

Nahdlatul Ulama dalam sejarahnya sejak lahir tahun 1926 mengalami perubahan kecil atau besar, internal atau eksternal; mulai dengan bergabung ke MIAI, Masyumi, kemudian jadi partai politik dan berfusi ke dalam PPP. Akhirnya kembali menemukan jatidirinya yang asli, menjadi jamiyah diniyah ijtimaiyah mahdloh (organisasi masyarakat keagamaan murni) yang secara organisatoris tidak mengkaitkan dirinya dengan organisasi politik mana pun.

***

Perubahan tersebut secara umum banyak dipengarahi oleh faktor eksternal dan secara kbusus diletakkan pada strategi yang dipertimbangkan sesuai dengan zamannya. Para ulama NU baik yang terlibat langsung dalam struktur organisasi NU maupun yang di luar struktur, terutama para ulama pengasuh pesantren memberikan kesepakatan bulat atas kembalinya NU pada khittahnya.

Mereka memang punya kepekaan sosial yang tinggi -meskipun bukan tergolong elite politik. Justru identitas mereka adalah faqih fi mashalih al-khalqi. Kepekaan sosial dan pengalaman empirik mereka pada saat NU secara langsung atau tidak langsung terlibat pada politik praktis, mendorong mereka untuk menelaah kembali secara lebih terinci sosok NU menurut esensinya dalam konteks perjuangan keagamaan Islam di Indonesia, dari satu masa ke masa yang lain. Setelah Muktamar NU ke-25 di Surabaya tahun 1975, tepatnya dalam Konferensi besar (Konbes) pada tanggal 5-8 Mei 1975 di Jakarta, dikeluarkan “Pernyataan Pemantapan Kedudukan dan Fungsi Jamiyah Nahdlatul Ulama".

Ada tiga pokok isi dari pernyataan itu yang sangat penting bagi umat NU khususnya dan bangsa serta negara Indonesia umumnya. Pertama memantapkan kedudukan dan fungsi jamiyah NU sebagai organisasi yang menitikberatkan perjuangannya selaku organisasi umat yang berdasarkan ‘aqidah, syariah dan thariqah Islam Ahlu al-Sunnah wa al-Jamaah dan bergerak di bidang dakwah, pendidikan, sosial, ekonomi dan budaya, untuk kesejahteraan umat dalam rangka pembangunan bangsa dan manusia Indonesia seutuhnya.

Kedua, dalam masa pembangunan nasional sekarang ini, NU akan meningkatkan darma baktinya secara persuasif dan edukatif, untuk menciptakan stabilitas dan persatuan nasional, meningkatkan kesadaran dan moral bangsa, serta mendidik hidup berkonstitusi dan berdemokrasi.

Ketiga, jamiyah NU akan berpartisipasi dalam pembangunan nasional, baik material maupun spiritual untuk mencapai cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana terkandung dalam Pembukaan UUD 1945, serta ikut membina ketahanan nasional. Pernyataan tersebut dikeluarkan atas pertimbangan pertama dalam konsiderannya, bahwa NU mengembalikan kedudukan dan fungsinya seperti ketika dibentuk pada tanggal 16 Rajab 1344 H atau 30 Januari 1926 M.

Proses perubahan yang terakhir itu cukup panjang. Dari Muktamar 1971, Konbes 1975, Munas 1983 dan Muktamar 1984. Tigabelas tahun berproses. Suatu kurun waktu cukup panjang yang tentu saja sarat dengan berbagai masalah dan liku-liku konstelasi sosial-. Bahkan bersamaan dengan akhir proses perubahan itu, dengan tekad bulat tanpa didorong oleh perundang-undangan, NU telah menyatakan menerima Pancasila sebagai satu-satunya asas organisasi.

Terlihat di sini, kemampuan NU memadukan antara falsafah negara sebagai buah pikiran manusia yang kemudian menjadi dasar pengikat pada komunitas nasional di dalam berbangsa dan bernegara dengan doktrin keagamaan Islarn sebagai wahyu Allah yang kemudian menjadi dasar pengikat dalam komunitas keberagamaan. Suatu perpaduan yang amat penting artinya bagi bangunan stabilitas di suatu negara.

Perpaduan itu telah dapat dibuktikan oleh NU sendiri secara implementatif dengan rumusan Khittah 26 yang telah ditemukan kembali sebagai ciri intrinsik, yang tidak bisa lepas dari ujud dirinya. Bila ciri itu dilepas -dengan menambah atau mengurangi rumusan khittah- berarti NU kehilangan wujud diri yang sesungguhnya.

Para ulama sebagai penerus dan pewaris para pendiri NU, tidak akan merelakan hal itu terjadi. NU dengan rumusan Khittah 26 seperti itu, telah membebaskan warganya dalam menyalurkan aspirasi politik untuk rnenegakkan kepemimpinan (nashbu al-imamah) lewat salah satu Orpol.

***

Pembahasan soal ini sebenarnya merupakan pendidikan bagi eksekutif (birokrat) untuk menumbuhkan kesadaran hidup berkonstitusi dan berdemokrasi. Sekaligus juga sebagai upaya mengubah sedikit demi sedikit watak paternalistik mereka dalam hal berpolitik, sehingga akan makin dewasa dan obyektif dalam menyalurkan aspirasi rakyat banyak.

Kemandirian berpolitik seperti itu akan menumbuhkan sikap kritis dan dinamis untuk mengembangkan aspirasi rakyat atau paling tidak menyadarinya. Bisa jadi aspirasi agama, ekonomi, pendidikan dan budaya, akan mudah dicerna apabila melalui pendidikan politik secara kultural.

Tampak NU ingin mendidik warganya secara kultural untuk menjadi insan politik yang kritis dan dinamis tanpa harus menunggu perintah panutannya, tanpa harus terikat oleh petunjuk seseorang dan tanpa adanya ketergantungan pada arahan seseorang. Kedewasaan seperti ini akan menuntut kemauan dan kemampuan Orpol mana pun untuk menyerap aspirasi warga NU yang beraneka ragam, tidak saja aspirasi keagamaannya.

Orpol harus bersikap dan berperilaku aspiratif dan akomodatif terhadap kebutuhan warga NU. Bila aspirasi semacam itu bisa disalurkan dan dipenuhi, kiranya warga NU dengan ke-NU-annya tidak akan memerlukan lagi suatu wadah khusus yang dikelola sendiri atau dengan kata lain "Orpolisasi NU". Karena semua aspirasi warga NU telah dapat ditampung dan diupayakan realisasinya oleh Orpol tertentu, yang berarti dengan kata lain adalah "NU-nisasi Orpol".

Meskipun ada isu yang menginginkan memparpolkan NU pasca Pemilu 1987, namun Munas Alim Ulama NU dan Konbes NU pada tanggal 15 s/d 18 November 1987, berlangsung mulus tanpa gejolak dan ketegangan. Sejumlah 25 utusan wilayah ketika diberi kesempatan mengutarakan uneg-uneg dalam forum Munas dan Konbes, tidak satupun yang merespon isu tersebut. Bahkan seluruhnya melaporkan segi-segi posisif penerapan Khittah 26.

Keinginan memparpolkan NU memang punya alasan, mengingat warga NU ketika menjelang Pemilu mengalami kebingungan. Kebingungan itu menjadi indikator belum mapannya wawasan politik praktis warga NU, walaupun sudah cukup lama menjadi anggota Partai Politik NU dan kemudian menjadi penyangga PPP.

Namun perlu diingat, kebingungan itu muncul bukan lantaran NU kembali kepada Khittah 26. Sama sekali bukan karena rumusan Khittah 26 itu sendiri. Kebingungan itu terjadi akibat belum meratanya sosialisasi Khittah. Persepsi mereka tentang Khittah tidak sepenuhnya sesuai dengan yang sebenarnya. Sementara sikap beberapa pimpinan dan ulama NU mengabaikan prinsip tawassuth yang telah digariskan oleh Khittah 26.

Kebingungan seperti itu juga wajar, sebagai akibat dari masa transisi yang kebetulan didukung oleh watak paternalistik warga NU. Bagaikan burung perkutut yang telah cukup lama terperangkap dalam kurungan dan diloloh terus oleh pemiliknya, ketika dilepas dari kurungan untuk mencari makan sendin dan bebas bergabung dengan sejenisnya, maka dalam beberapa waktu ia pasti mengalami kebingungan. Tetapi itu tak akan berjalan lama. Ia akan segera mampu terbang bebas, sesuai dengan alam aslinya dan khittahnya.

Walaupun tidak ada istilah mayoritas minoritas, namun kenyataan menunjukkan bahwa penduduk Indonesia yang terbanyak adalah muslim. Sekitar 75% sampai 80% di antaranya berada di pedesaan. Sebagian besar warga NU pun ada di pedesaan. Penduduk pedesaan itu pada umumnya masih berada di bawah pengaruh para ulama NU yang notabene tidak tergolong kaum elite politik.

Penelitian di lapangan menunjukkan, para ulama NU di pedesaan merasa lebih tenang dengan kembalinya NU kepada Khittah 26, ketimbang masa-masa sebelumnya. Para kiai itu makin mudah berkonsentrasi dan terbuka dalam memikirkan kemaslahatan warganya. Hampir semua bentuk aktivitas di masyarakat sekarang, warga NU terlibat di dalamnya. Di sinilah NU mempunyai banyak kesempatan mempengaruhi mereka untuk dakwah dan menanamkan nilai-nilai Aswaja, seiring dengan proses transformasi kultural.

***

Dari sisi lain timbulnya ide Orpolisasi NU merupakan perbedaan pendapat yang wajar. Dinamika semacam itu diperlukan sepanjang masih menyangkut kepentingan umat dan warga NU sendiri, bukan untuk memenuhi interes pribadi atau kelompok tertentu. Segi positif yang muncul, NU membebaskan warganya mau pun pimpinannya untuk berpendapat dan saling menghargai. Namun perbedaan itu tidak berarti adanya pertentangan internal, apalagi perpecahan.

Tradisi yang masih kental di kalangan ulama NU adalah sikap "sepakat dalam khilaf”, sehingga tak akan mengganggu jalannya roda organisasi. Kedewasaan berorganisasi dan berdemokrasi di dalam NU akan terlihat dari sisi ini. Tetapi perbedaan itu hanya membawa faedah, jika dapat diarahkan untuk membuat demokrasi menjadi "proses belajar dan memecahkan masalah." Ikhtilaf itu memang rahmat.

*) Diambil dari KH MA Sahal Mahfudh, Nuansa Fiqih Sosial, 2004 (Yogyakarta: LKiS). Tulisan ini pernah dimuat majalah Aula edisi No.10 Tahun IX, Desember 1987. Judul asli "Orpolisasi NU atau NU-nisasi Orpol?"

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ulama, IMNU, Internasional Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 10 Desember 2017

BNP2 TKI Harapkan Jadi TKI Bukan Pilihan Pertama

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Kepala Biro Humas Badan Nasional Perlindungan dan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Servulus Bobo Riti berharap, jamaah majelis taklim bisa membantu menjadi agen informasi kepada masyarakat terkait TKI seperti tentang prosedur dan mekanisme menjadi TKI.





BNP2 TKI Harapkan Jadi TKI Bukan Pilihan Pertama (Sumber Gambar : Nu Online)
BNP2 TKI Harapkan Jadi TKI Bukan Pilihan Pertama (Sumber Gambar : Nu Online)

BNP2 TKI Harapkan Jadi TKI Bukan Pilihan Pertama

Hal itu disampaikan di depan jamaah Majelis Ashabul Kahfi dalam kegiatan rutin bulanan Kajian Kitab Kuning dan Zikir Tarekat Syadziliah di masjid An-Nahdhah, di kantor pusat Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), di Jalan Kramat Raya No. 164, Sabtu (19/11).

"TKI non prosedural sering menjadi masalah. Ini perlu diselesaikan secara bersama-sama," katanya, 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pada kesempatan tersebut, mantan ketua KNPI ini juga menyatakan, agar bekerja menjadi TKI di luar negeri bukanlah pilihan pertama.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pilihan pertamanya adalah bekerja di dalam negeri. Menurutnya, lebih baik bekerja di dalam negeri karena bisa membangun negeri sendiri.

"Bagi yang masih menganggur silahkan bekerja di luar negeri tapi itu hanya pilihan ke dua, pilihan pertama tetap bekerja di dalam negeri. Saya lebih senang agar bisa bekerja di dalam negeri menjadi pilihan pertama," papar Servulus.

Dewan guru Mejelis Ashabul Kahfi yang juga Ketua Umum Kiai Muda Indonesia Gus Wahyu NH Aly mengatakan, agar para santri memiliki tekad yang teguh dalam meraih pendidikan formal.

Dikatakan, tidak ada orang mati kelaparan karena kerja untuk menimba ilmu, untuk sekolah setinggi-tingginya. Pendidikan formal membantu membentuk karakter santri lebih tangguh dalam membimbing masyarakat.

"Pesan saya tidak banyak, pendidikan, pendidikan, pendidikan," tegasnya.

Dalam acara tersebut diisi lantunan shalawat yang diiringi hadrah, ceramah umum, kajian kitab Minahus Saniah, dan zikir bersama Tarekat Syadziliah.

Hadir di dalamnya juga di antaranya Kiai Rahmat dari Bekasi, Pengasuh Pesantren Bintang Mazaya Kiai Lukman Nursalim, dan jamaah majlis Ashabul Kahfi yang berada di Jakarta. (Lukman Hakim/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan IMNU, Kajian Sunnah, Santri Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 03 Desember 2017

Borong Juara, IPPNU Banyuwangi Pertahankan Prestasi

Banyuwangi, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Berbagai prestasi terus dicapai oleh IPPNU Banyuwangi. Hal itu diwujudkan dengan diraihnya gelar Juara Umum IPPNU Award, Juara Ketiga Lomba Qosidah, dan Juara Ketiga Lomba Mars IPPNU oleh IPPNU Banyuwangi.

Perlombaan ini diselenggarakan dalam rangka Konferensi Wilayah Ke-19 IPPNU Jawa Timur oleh IPPNU Jawa Timur pada bulan Agustus lalu di Kantor PWNU Jawa Timur.

Borong Juara, IPPNU Banyuwangi Pertahankan Prestasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Borong Juara, IPPNU Banyuwangi Pertahankan Prestasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Borong Juara, IPPNU Banyuwangi Pertahankan Prestasi

Penyerahan piala dan hadiah yang dilakukan pada Pra Konferwil Ke-19 IPPNU Jawa Timur di Aula SMP Negeri 1 Sidoarjo, Jumat (2/12). Dalam acara ini hadir Wakil Gubernur Jawa Timur H Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Bupati Sidoarjo H Saiful Ilah, dan seluruh pengurus IPPNU se-Jawa Timur. Turut hadir juga Ketua Umum IPPNU Puti Hasni.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ketua IPPNU Banyuwangi Halimah menerima piala Juara Umum IPPNU Award yang diserahkan oleh Gus Ipul. Ia mengatakan, persiapan yang dilakukan dalam lomba ini sangat singkat karena keterbatasan waktu.

"Meskipun waktu untuk latihan mepet dan persiapan kurang begitu maksimal, alhamdulilah yang kami lakukan membuahkan hasil," kata Halimah saat diwawancari lewat ponsel

Halimah mengajak kadernya untuk mempertahankan dan menyempurnakan capaian prestasi ini dengan sebaik-baiknya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"IPPNU Banyuwangi harus bisa bersaing secara sehat dengan yang lain. Kita akan pertahankan prestasi itu dengan meningkatkan bakat para pelajar NU Banyuwangi. Dengan ini (prestasi), semoga dapat dicontoh oleh para pelajar NU Banyuwangi yang lainnya," harapnya.

Selain perolehan juara tersebut, IPPNU Banyuwangi juga meraih juara 6 dari 10 besar yang diraih oleh Risa Nurhayati, dalam Lomba Duta Pelajar Putri Jawa Timur. (M Sholeh Kurniawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan IMNU, Quote, AlaNu Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 30 November 2017

Tiga Amalan Utama pada Malam Nisfu Sya’ban

Sya’ban berarti bulan penuh berkah dan kebaikan. Pada bulan ini Allah membuka pintu rahmat dan ampunan seluas-luasnya. Karenanya, dianjurkan untuk memperbanyak ibadah sunah seperti puasa sunah. Hal ini sebagaimana yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Sebuah hadits mengatakan bahwa Nabi SAW lebih sering puasa sunah di bulan Sya’ban dibandingkan pada bulan lainnya, (HR Al-Bukhari).

Selain puasa, menghidupkan malam sya’ban juga sangat dianjurkan khususnya malam nisfu Sya’ban (pertengahan bulan Sya’ban). Maksud menghidupkan malam di sini ialah memperbanyak ibadah dan melakukan amalan baik pada malam nisfu Sya’ban. Sayyid Muhammad bin ‘Alawi Al-Maliki menegaskan bahwa terdapat banyak kemuliaan di malam nisfu Sya’ban; Allah SWT akan mengampuni dosa orang yang minta ampunan pada malam itu, mengasihi orang yang minta kasih, menjawab do’a orang yang meminta, melapangkan penderitaan orang susah, dan membebaskan sekelompok orang dari neraka.

Tiga Amalan Utama pada Malam Nisfu Sya’ban (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Amalan Utama pada Malam Nisfu Sya’ban (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Amalan Utama pada Malam Nisfu Sya’ban

Setidaknya terdapat tiga amalan yang dapat dilakukan pada malam nisfu Sya’ban. Tiga amalan ini disarikan dari kitab Madza fi Sya’ban karya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki.

Pertama, memperbanyak doa. Anjuran ini didasarkan pada hadits riwayat Abu Bakar bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda,

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Artinya, “(Rahmat) Allah SWT turun ke bumi pada malam nisfu Sya’ban. Dia akan mengampuni segala sesuatu kecuali dosa musyrik dan orang yang di dalam hatinya tersimpan kebencian (kemunafikan),” (HR Al-Baihaqi).

Kedua, membaca dua kalimat syahadat sebanyak-banyaknya. Dua kalimat syahadat termasuk kalimat mulia. Dua kalimat ini sangat baik dibaca kapan pun dan di mana pun terlebih lagi pada malam nisfu Sya’ban. Sayyid Muhammad bin Alawi mengatakan,

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? "? ? ? ? ? ? ?".

Artinya, “Seyogyanya seorang muslim mengisi waktu yang penuh berkah dan keutamaan dengan memperbanyak membaca dua kalimat syahadat, La Ilaha Illallah Muhammad Rasululullah, khususnya bulan Sya’ban dan malam pertengahannya.”

Ketiga, memperbanyak istighfar. Tidak ada satu pun manusia yang bersih dari dosa dan salah. Itulah manusia. Kesehariannya bergelimang dosa. Namun kendati manusia berdosa, Allah SWT senantiasa membuka pintu ampunan kepada siapa pun. Karenaya, meminta ampunan (istighfar) sangat dianjurkan terlebih lagi di malam nisfu Sya’ban. Sayyid Muhammad bin Alawi menjelaskan,

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Istighfar merupakan amalan utama yang harus dibiasakan orang Islam, terutama pada waktu yang memiliki keutamaan, seperti Sya’ban dan malam pertengahannya. Istighfar dapat memudahkan rezeki, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an dan hadits. Pada bulan Sya’ban pula dosa diampuni, kesulitan dimudahkan, dan kesedihan dihilangkan.

Demikianlah tiga amalan utama di malam nisfu Sya’ban menurut Sayyid Muhammad. Semua amalan itu berdampak baik dan memberi keberkahan kepada orang yang mengamalkannya.

Semoga kita termasuk orang yang menghidupkan malam nisfu Sya’ban dengan memperbanyak do’a, membaca dua kalimat syahadat, istighfar, dan kalimat mulia lainnya. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan IMNU, Hadits Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 27 November 2017

Ketika Kiai Bagikan Caping saat Ceramah

Karanganyar, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Dalam safari Jama’ah Muji Rosul (Jamuro) ke Sembilan yang bertempat di masjid Nurul Hikmah Ngringo Jaten Kaupaten. Karanganyar, Jawa Tengah, Jumat (10/1), Kiai Amin Budi Harjono dari Semarang yang kala itu menjadi penceramah, membagikan caping kepada jajaran kiai dan pejabat daerah setempat yang hadir.

Ketika Kiai Bagikan Caping saat Ceramah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Kiai Bagikan Caping saat Ceramah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Kiai Bagikan Caping saat Ceramah

Kiai Amin bercerita bahwa dalam perjalanannya dari Kuwu menuju Karanganyar, Ia melihat orang bejualan caping yang tak laku, akhirnya dibeli dan dibagikan kepada jajaran Kiai dan pejabat untuk dijadikan pepeleng (pengingat).

Caping sendiri merupakan sejenis topi berbentuk kerucut yang umumnya terbuat dari anyaman bambu. Caping biasanya dipakai oleh para petani ketika sedang bekerja di sawah. Ia menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat Jawa, ada nama sebuah lagu Jawa yang berjudul Caping Gunung.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dalam acara yang dihadiri serta bupati dan wakil bupati serta kapolres Karanganyar tersebut, Kiai Budi mengupas bagaimana filosofi yang terkandung dalam caping. Caping sendiri merupakan miniatur gunung yang mempunyai ujung meruncing.

“Caping merupakan simbol dimana bagian bawah mengkisahkan semua kehidupan yang terdapat di dalam jagad raya sedangkan bagian atas merupakan tujuan dari kehidupan, yaitu menuju puncak tertinggi dan perjalanan itu kerap disebut dengan sangkan paraning dumadi (tujuan akhir kehidupan, red),” papar Kiai Amin.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Orang dahulu memakai caping tidak hanya bertujuan agar terhindar dari terik matahari, namun lebih dari itu caping dipakai sebagai simbol agar saat berkerja dan sesibuk apapun seseorang, selalu ingat tujuan hidup yang utama yaitu menuju Allah, tandasnya. (Ahmad Rosidi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan IMNU Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 16 November 2017

Kenal Kaligrafi Sejak TPQ, Kini Juara di Berbagai Lomba

Jepara, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Namanya Nusrotuz Zulfa. Siswi MA Walisongo Pecangaan Jepara ini mengenal kaligrafi sejak dirinya masih duduk di bangku TPQ. Di jenjang pendidikan berikutnya, Madrasah Diniyyah (Madin) materi menulis Arab indah itu juga ia dapatkan.

Kenal Kaligrafi Sejak TPQ, Kini Juara di Berbagai Lomba (Sumber Gambar : Nu Online)
Kenal Kaligrafi Sejak TPQ, Kini Juara di Berbagai Lomba (Sumber Gambar : Nu Online)

Kenal Kaligrafi Sejak TPQ, Kini Juara di Berbagai Lomba

Dari pengalaman belajar ini, puncaknya saat Zulfa duduk di bangku VIII MTs Walisongo Pecangaan berhasil menyabet juara I lomba kaligrafi pada perhelatan Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) Maarif.

Anak ketiga dari empat bersaudara itu orang tuanya tidak mempunyai darah seni. Tetapi Khoirul Atho dan Umi Kulsum, ayah dan ibunya, senantiasa memotivasinya agar dia menjadi juara.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Di samping orang tua, kakak serta bibinya memotivasinya agar rajin belajar kepada pamannya, Ahmad Jamaluddin yang sudah malang melintang di dunia kaligrafi.

“Ikutlah latihan dengan Pak Lekmu (pamanmu, red),” begitu ajak bibi dan juga kakaknya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Siswi jurusan IPS itu menceritakan saat masih di MTs ia terpilih dalam seleksi untuk mengikuti lomba. Lantas dia latihan ke rumah pamannya di desa Gemiring, Nalumsari. Saat Jum’at hari libur madrasahnya ia latihan dengan pamannya itu.

Gadis kalem yang memiliki hobi melukis itu hingga tahun 2015 kemarin telah menyabet juara kaligrafi hingga tingkat Provinsi. Juara 2 tingkat Provinsi tahun 2015, juara harapan 3 tingkat Provinsi 2015, juara 2 tingkat kabupaten 2015, juara 2 kabupaten 2014.

Saat duduk di bangku MTs juga pernah menyabet berbagai lomba kaligrafi di tingkat kabupaten. Hingga saat ini dirinya belum merasa puas dengan hasil yang telah diraih.

Di akhir Mei ini dirinya berencana lomba kaligrafi tingkat nasional di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Perempuan yang lahir di Jepara, 10 Oktober 1998 itu memiliki motto pengalaman adalah guru yang terbaik. Sehingga ia terus ingin menambah banyak pengalaman di berbagai lomba.

Selain guru, teman-teman di lingkungan MA Walisongo yang memotivasinya Zulfa juga memiliki teman yang sama-sama memberikan motivasi. Perkenalannya dengan Athi Melia diawali dari kegiatan Porsema saat Zulfa baru di kelas X MA. Waktu itu, Zulfa mewakili MA dan Athi’ pesantren Hasyim Asyari Bangsri.

Dari pertemanan itu berlanjut hingga sekarang. Keduanya saling memotivasi hasil karya baik BBM maupun SMS. Meski menempuh pendidikan di beda madrasah keduanya enjoy saat berkompetisi.

Tahun 2015 lalu di gelaran Porsema ia juara 2 temannya Athi juara 1. Di acara Aksioma dia juara 1 dan Athi juara 2. Sehingga di kesempatan yang lebih tinggi Zulfa mewakili Jepara di cabang Aksioma di Boyolali. Sedangkan temannya mengikuti cabang Porsema di Kebumen.

Hal yang belum tercapai sebutnya menyabet juara di tingkat nasional. “Semoga saya bisa memperoleh juara di tingkat nasional,” harapnya. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)







Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan IMNU, Internasional Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 10 November 2017

Tidak Waras, Sebarkan Hoax Berdasar Kebencian Maupun Kecintaan

Solo, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Segala sesuatu yang berlebihan, seringkali mengarah kepada hal yang tidak baik. Begitu pula ketika seseorang terlalu berlebihan dalam membenci maupun mencintai satu hal, seringkali akan membuatnya bertindak secara berlebihan, dengan tanpa dasar.

Termasuk dalam kategori di atas, yakni perilaku menyebar berita bohong atau yang populer dengan sebutan hoax, dimana berita bohong tersebut dibuat berdasarkan pada kecintaan maupun kebencian yang berlebih.

Tidak Waras, Sebarkan Hoax Berdasar Kebencian Maupun Kecintaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Tidak Waras, Sebarkan Hoax Berdasar Kebencian Maupun Kecintaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Tidak Waras, Sebarkan Hoax Berdasar Kebencian Maupun Kecintaan

“Menyebarkan berita hoax berdasarkan kebencian maupun kecintaan, sama-sama tidak waras. Mestinya ada tabayyun atau klarifikasi dahulu, sebelum membagikan berita,” terang Koordinator Ansor Media Regional Jawa Tengah, Solahudin Aly, pada seminar Bedah Iklan Anti-Hoax di ISI Surakarta, Kamis (5/1).

Menurut Sekretaris Pimpinan Wilayah GP Ansor Jateng tersebut, berita bohong sebetulnya sudah ada sejak zaman dahulu. “Bahkan dalam ranah hadits juga dikenal adanya hadits palsu,” ungkapnya.

Selain Solahudin, dalam kesempatan tersebut turut hadir beberapa narasumber antara lain Anas Syahirul Alim (Ketua PWI Solo), Retno Wulandari (Presiden IMA Chapter Solo) dan lainnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panitia acara seminar, menjelaskan kegiatan ini merupakan salah satu dari rangkaian dari kampanye antihoax, yang puncaknya akan digelar deklarasi masyarakat antihoax, Ahad (8/1) mendatang. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan IMNU Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 09 November 2017

Puluhan Kader Ansor Pusakajaya Subang Resmi Dibaiat

Subang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Puluhan anggota Gerakan Pemuda Ansor di Kecamatan Pusakajaya, Kabupaten Subang resmi dibaiat, Ahad (6/8). Pembaiatan ini dilakukan setelah puluhan peserta anggota GP Ansor tersebut mengikuti Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) yang diselenggarakan oleh Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Kecamatan Pusakajaya di SMK Ghofarana, Jalan By Pass Pantura, Kebondanas, Pusakajaya, selama dua hari.

Ketua GP Ansor Subang Asep Alamsyah Heridinata memandu pembaiatan. Disaksikan oleh segenap kepengurusan GP Ansor, para peserta khidmat membacakan teks baiat sebagai sumpah setia terhadap organisasi, agama, bangsa dan negara.

Puluhan Kader Ansor Pusakajaya Subang Resmi Dibaiat (Sumber Gambar : Nu Online)
Puluhan Kader Ansor Pusakajaya Subang Resmi Dibaiat (Sumber Gambar : Nu Online)

Puluhan Kader Ansor Pusakajaya Subang Resmi Dibaiat

"Selamat kepada para peserta PKD, kini sah dan resmi sebagai anggota GP Ansor Kabupaten Subang," kata Asep Alamsyah.

Ia mengajak seluruh peserta untuk berperan aktif dalam mewujudkan tatanan masyarakat yang kompleks, terlebih menjaga persatuan dan kesatuan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Karena, setelah pulang ke rumah masing-masing, para peserta akan langsung dihadapkan dengan dinamika masyarakat yang di dalamnya GP Ansor sangat berperan aktif," terangnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ia juga menegaskan, kegiatan PKD sebagai pintu gerbang kaderisasi GP Ansor tersebut akan terus dilakukan dan diberdayakan sebagai amanat organisasi secara selektif.

"Bahwa tidak sembarangan orang masuk menjadi anggota GP Ansor. Sebagai organisasi kaderisasi, GP Ansor memiliki sistem kaderisasi yang terstruktur serta terpimpin," pungkasnya. (Ade Mahmudin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan IMNU, Jadwal Kajian, Hadits Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 04 November 2017

Kebutuhan Internet Tak Terelakkan

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Warga jamiyyah Nahdlatul Ulama (Nahdliyyin) sudah semakin gandrung dengan media internet dalam memperkuat fungsi keorganisasian baik ke dalam maupun keluar. Dalam hal ini Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan sebagai situs resmi PBNU menjadi kekuatan perekat dan pemandu bagi terciptanya konsolidasi organisasi.

“Tahun 1980-an saat membuat website www.bumi-nu.com saya masih merasa sendirian. Namun sekarang lembaga-lembaga di bawah naungan NU sudah memakai media internet untuk keperluan organisasi masing-masing,” kata H Said Budairi, usai menerima penghargaan sebagai salah seorang tokoh NU yang berjasa dalam pengembangan teknologi informasi pada acara Tasyakuran Harlah ke-84 NU dan ke-4 Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan di Jakarta, Selasa (28/8) tadi malam.

Kebutuhan Internet Tak Terelakkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kebutuhan Internet Tak Terelakkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kebutuhan Internet Tak Terelakkan

Selain Said Budairi, 3 tokoh lainnya yang mendapat penghargaan adalah Ketua Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU), Wakil Rais Syuriah NU Sumatra Barat Tuanku Bagindo Haji Mohhammad Letter, dan Pemimpin Pondok Pesantren Luhur Al-Wasilah Garut KH Thonthowi Djauhari Musaddad.

Keempat tokoh tersebut dinilai berjasa dalam pengembangan dan pemamfaatan teknologi informasi untuk kebutuhan organisasi NU. Sebelumnya direncanakan hanya tiga tokoh NU yang mendapat pernghargaan. “Namun Alhamdulillah Bagindo Leter bisa hadir,” kata Suwadi DP, Ketua Pelaksana Acara.

Pada malam Tasyakuran Harlah ke-84 NU dan ke-4 Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan juga dianugerahkan penghargaan kepada empat websiter terbaik di lingkungan NU, berturut-turut www.pmii.or.id, www.gp-ansor.orgwww.lakpesdamjombang.org, dan www.muslimat-nu.or.id

Keempat website terbaik itu dipilih dari 22 website yang memenuhi kriteria penilaian, yakni website milik perangkat-perangkat organisasi NU (lajnah, lembaga, dan badan otonom) baik tingkat pusat dan daerah, juga website Pengurus Cabang Istimewa (PCI) NU di luar negeri. Aspek yang dinilai adalah kelengkapan teknis semisal desain grafis, standar kepantasan, keamanan, kemudahan navigasi, pencarian internal, dan kelancaran mesin pencari data.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sementara kelengkapan non teknis meliputi isi website baik menyangkut kontinuitas, konsistensi dan relevansi dengan back-ground instansi, juga menyangkut jumlah pengunjung dan respon publik, inovasi teknologi serta dampak dan manfaat website bagi masyarakat.(nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan IMNU, Kyai, Hadits Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 27 Oktober 2017

Haul Ke-45 Mbah Wahab, Pesantren Tambakberas Gelar Festival Ishari dan Santunan Lansia

Jombang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Dalam rangka menyemarakkan haul KH Abdul Wahab Chasbullah (Mbah Wahab), Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) telah menyiapkan sejumlah agenda. Pihak pesantren berencana antara lain menggelar festival Ishari, santunan lansia, khotmil Quran, dan pengajian umum di halaman PPBU, Tambakberas, Jombang.

Segala kebutuhan acara telah disiapkan oleh panitia penyelenggara. Haul yang akan berlangsung selama dua hari, Jumat-Sabtu (12-13/8) juga akan dihadiri Menteri Sosial Hj Khofifah Indah Parawansa dan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj.

Haul Ke-45 Mbah Wahab, Pesantren Tambakberas Gelar Festival Ishari dan Santunan Lansia (Sumber Gambar : Nu Online)
Haul Ke-45 Mbah Wahab, Pesantren Tambakberas Gelar Festival Ishari dan Santunan Lansia (Sumber Gambar : Nu Online)

Haul Ke-45 Mbah Wahab, Pesantren Tambakberas Gelar Festival Ishari dan Santunan Lansia

"Agendanya pada tanggal 12 kita gelar festival Ishari sekitar pukul 09 : 00. Keesokan harinya, khotmil quran dan santunan lansia di waktu yang sama. Pada malam hari sekitar pukul 20 : 00 WIB pengajian umum hingga selesai," kata Ketua Pelaksana Haul Haris, Selasa (9/8).

Menurutnya, segala keperluan untuk kegiatan haul dan kesiapan panitia sudah hampir 100%, termasuk siapa saja tamu undangan yang akan hadir, juga koordinasi dengan pembicara pada pengajian umum.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Peringatan haul ini diadakan untuk menanamkan serta menumbuhkembangkan masyarakat terhadap sikap kepahlawanan dan kecintaan Mbah Wahab kepada tanah air ini. Warga NU sudah seharusnya meneladani semua gerakan yang sudah ditorehkan untuk Indonesia dan membesar NU hingga saat ini. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan IMNU, Kajian Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock