Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Maret 2018

Apa itu Gus Dur Award?

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pemikiran dan perjuangan guru bangsa KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur terus berusaha diwujudkan oleh keluarga maupun para Gusdurian. Seperti yang dilakukan oleh keluarga inti Gus Dur dengan meresmikan Rumah Pergerakan Griya Gus Dur, Ahad (24/1/2016) di Jl Taman Amir Hamzah No 8 Menteng, Jakarta Pusat.

Apa itu Gus Dur Award? (Sumber Gambar : Nu Online)
Apa itu Gus Dur Award? (Sumber Gambar : Nu Online)

Apa itu Gus Dur Award?

Pada kesempatan tersebut juga diselenggarakan pemberian “Gus Dur Award” kepada beberapa tokoh yang dianggap konsisten dengan pemikiran dan perjuangan Gus Dur. Anugerah ini terdiri dari tiga kategori, yaitu tokoh sosial agama, sosial budaya, dan sosial politik serta pemerintahan.

“Peraih Gus Dur Award adalah orang-orang yang dirasa selaras dengan visi dan pemikiran Gus Dur,” jelas putri sulung Gus Dur, Alissa Wahid, Ahad (24/1/2016).

Adapun tiga tokoh peraih Gus Dur Award 2016 yaitu KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) sebagai tokoh sosial agama, Sutanto atau Tanto Mendut sebagai tokoh sosial budaya, dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai tokoh sosial politik dan pemerintahan.

Terma ‘sosial’ dalam tiga kategori tersebut diyakini oleh para pakar bahwa perjuangan dalam ranah agama, budaya, maupun politik harus selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan. Nilai-nilai kemanusiaan inilah yang sering disebut Gus Dur sebagai Human Social Life atau kehidupan sosial manusiawi yang mewujud dalam kehidupan agama, budaya, dan politik maupun pemerintahan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Adapun Rumah Pergerakan Griya Gus Dur nantinya akan menjadi rumah untuk beberapa organisasi atau perkumpulan sosial kemanusiaan. Beberapa organisasi yang bernaung di dalam Rumah Pergerakan Griya Gus Dur yaitu Yayasan Puan Amal Hayati, Yayasan Bani Abdurrahman Wahid, Yayasan Teman Bangkit, The Wahid Foundation, Jaringan Gusdurian Indonesia, dan Positive Movement.

Dalam acara peresmian tersebut, juga dilakukan peluncuran situs www.gusdur.net. Situs tersebut memberikan informasi tentang Gus Dur, baik pemikiran dan tulisan Gus Dur, tulisan tentang Gus Dur, berita, maupun video-video kenangan tentang Gus Dur.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Hadir dalam kegiatan peresmian ini yaitu Hj Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid beserta keempat putrinya, KH A Mustofa Bisri, Tanto Mendut, Basuki T Purnama (Ahok), Menkopolhukam Luhut Binsar Pandjaitan, Bondan Gunawan, Jaya Suprana, Franz Magnis Suseno, Romo Mudji Sutrisno, Wasekjen PBNU Abdul Mun’im DZ, dan para Gusdurian seluruh Indonesia. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ahlussunnah, Doa Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 22 Februari 2018

Lailatul Ijtima’ Pertemukan Generasi Muda NU dengan Sesepuh

Makassar, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Kamis (6/2) tadi malam, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan mengadakan lailatul ijtima, pertemuan malam hari warga NU yang diisi berbagai kegiatan. Kali ini giliran di kediaman Bendahara NU Sulsel H Anwar Kadir.

Lailatul Ijtima’ Pertemukan Generasi Muda NU dengan Sesepuh (Sumber Gambar : Nu Online)
Lailatul Ijtima’ Pertemukan Generasi Muda NU dengan Sesepuh (Sumber Gambar : Nu Online)

Lailatul Ijtima’ Pertemukan Generasi Muda NU dengan Sesepuh

Sebelumnya lailatul ijtima’ telah dilaksanakan dikediaman KH Abdurrahman, salah satu Mustasyar dan mantan Ketua Tanfidziah NU Sulsel, yang kedua di kediaman Ketua Tanfidziyah H Iskandar Idy, yang ketiga dikediaman Agus Arifin Numang Wakil Gubernur Sulsel sekaligus Mustasyar NU Sulsel.

Dalam sambutan Ketua Tanfidziah, tradisi lailatul ijtima selain mempererat silaturrahim sesama warga nahdliyin, terutama antara ulama sepuh dengan pengurus, dan antra generasi muda NU dengan para sesepuh. “Lailatul ijtima ini merupakan tradisi Ulama NU di Sulsel,” katanya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Hal senada disampaikan oeh H Anwar Kadir sebagai tuan rumah. Selain itu, lailatul ijtima’ yang tiada lain adalah silaturrahim berfungsi memperpanjang umur, dan memberikan keberkahan.

Pada malam lailatul ijtima ke-4 ini, taushiyah dibawakan oleh Rais Syuriyah PWNU Sulsel Anregutta H Sanusi Baco. Dalam tausiahnya Gurutta menjelaskan bagaimana pentingnya menjalin silaturrahim, menjaga shalat dan menjelaskan sejarah pemikiran Ahlussunnah wal Jama’ah. (Andy M. Idris/Anam)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Doa, Nahdlatul, Daerah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 17 Februari 2018

500 Orang Hadiri Malam Sejuta Lilin untuk Gus Dur

Kupang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Sebanyak 500 orang menghadiri aksi Malam Sejuta Lilin untuk Gus Dur. Mereka yang terdiri dari masyarakat sipil, tokoh mahasiswa, tokoh pemuda, para politikus, dan akademisi se-kota Kupang memperingati haul ke-4 Gus Dur di Suba Suka Paradise, Kota Kupang, Senin (30/12) malam.

Gusdur merupakan tokoh yang menghargai kelompok minotitas. Dengan kata-kata maupun sindiran Gusdur bisa mempersatukan anak bangsa. Gusdur merupakan sosok yang melampui segala tokoh dan anak bangsa, kata Ketua Peguyupan Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTH) Provinsi NTT, Niti Susanto, Senin (30/12) malam.

500 Orang Hadiri Malam Sejuta Lilin untuk Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
500 Orang Hadiri Malam Sejuta Lilin untuk Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

500 Orang Hadiri Malam Sejuta Lilin untuk Gus Dur

"Kami warga tionghoa mendukung malam sejuta lilin dan mendukung Gusdur sebagai Bapak Nasional atas sikap dan jasa-jasanya semasa hidup,” kata Niti.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sementara itu salah seorang politikus Jucundianus Lepa mengatakan, Gusdur adalah sosok yang dicintai banyak kalangan serta golongan. Karenanya, Gusdur bukan milik kelompok atau golongan tertentu, melainkan milik bangsa Indonesia.

Menurut Jucun, Gusdur konsisten menjaga NKRI dan Pancasila, sehingga berhasil memberdayakan masyarakat sipil dan menyelesaikan berbagai perang antara masyarakat sipil di bawah rezim Orde Baru.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ketua Garda Pemuda Flobamora Yorrys Makarawung menyatakan dukungan kelompoknya atas acara Malam Sejuta Lilin. "Gusdur telah mengajarkan kita tidak ada kesenjangan dalam masyarakat," katanya.

“Yang jelas, Gus Dur selalu mengumandangkan cinta akan keberagaman,” tandas panitia Jefrison Fena. (Ajhar Jowe/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Doa Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 14 Februari 2018

NU Jember Dukung Usut Tuntas Pembunuhan Dukun Santet

Jember, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jember menyatakan mendukung penuh dilakukannya pengusutan tuntas terhadap kasus pembunuhan dukun santet yang terjadi sekitar tahun 1998.

Pernyataan tersebut dikemukakan Wakil Ketua PCNU Jember, H. Misbahus Salam saat menerima kunjungan Tim Ad Hoc Penyelidikan Pelanggaran HAM yang Berat Peristiwa Pembunuhan terkait Isu Dukun Santet tahun 1998-1999 di kantor PCNU Jember, Jumat (23/9).

NU Jember Dukung Usut Tuntas Pembunuhan Dukun Santet (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Jember Dukung Usut Tuntas Pembunuhan Dukun Santet (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Jember Dukung Usut Tuntas Pembunuhan Dukun Santet

Menurut H. Misbah, penuntasan kasus tersebut untuk memberikan kepastian hukum dalam kasus yang telah merenggut puluhan nyawa itu. “Juga untuk memberikan rasa aman bagi warga. Sebab, bisa jadi yang terbunuh bukan tukang santet beneran atau mereka telah insyaf,” ucapnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ia mengaku ngeri membayangkan saat-saat yang mencekam ketika peristiwa itu terjadi. Sebab, banyak warga yang gelisah, khususnya yang diopinikan punya ilmu hitam. Ketika itu, harga nyawa seolah begitu murah. Dikatakannya, banyak terduga dukun santet yang sudah insyaf puluhan tahun tapi tiba-tiba hilang dan pulang tanpa nyawa. “Sebaliknya, penyedidikan ini juga berguna untuk memastikan siapa otak di balik peristiwa itu.Yang juga penting adalah rehabilitasi bagi anggota keluarga korban terbunuh,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Tim Ad Hoc Penyelidikan Pelanggaran HAM yang Berat Peristiwa Pembunuhan terkait Isu Dukun Santet tahun 1998-1999, Muhamamd Nurkhoiron menegaskan bahwa berdasarkan data dari PWNU Jawa Timur, Banyuwangi menempati urutan pertama terbanyak dalam korban pembunuhan isu dukun santet, yaitu 150 orang. Sedangkan Jember hanya 53 orang.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Kita kesulitan mengkroscek data di lapangan karena tak sedikit anggota keluarga korban yang sudah pindah rumah. Karena itu, kami sangat bertirima kasih atas bantuan NU Jember,” terangnya.

Ia menambahkan, pihaknya cuma mencari tahu segala sesuatu yang terkait dengan pembunuhan dukun santet sebagai bahan untuk memberikan rekomendasi guna ditindaklanjuti dalam ranah hhkum. “Kita hanya menyeldiiki ada tidaknya pelanggaran HAM berat dalam peristiwa tersebut. Kalau ada nanti kita rekomendasikan ke kejaksaan untuk ditindaklanjuti,” urainya.

Selain H.Misbah, hadir dalam pertemuan tersebut antara lain, Sekretars NU Jember, Pujiono Abd. Hamid, Wakil Bendahara NU Jember, Taufiq Hidayat, Koordinator Advokasi LDNU Jember, Moh. Kholili. (Aryudi A. Razaq/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Doa, Olahraga Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 06 Februari 2018

Partai Komunitas Batu

Saat ini sepertinya keberadaan batu mulia dan batu akik sedang ada di puncak kejayaan. Pasalnya hampir sebagian besar wilayah di Indonesia seolah tak ada bosannya ketika membicarakan dan bermain dengan batu itu.

Salah satu tempat yang saat ini sering dijadikan tempat berinteraksi para pecinta batu akik adalah Kantor DPC PKB Subang, Jawa Barat.

"Sekarang itu di Kantor DPC PKB sedang ramai batu, jarang sekali membahas politik, kalau sudah kumpul, wah ada yang lagi gosok-gosok, nyenterin batu, ada juga yang ngetes, karena ada yang punya alatnya misalnya dites bunyi nit.nit.nit skala enam misalnya," kata Bambang Herlambang, salah seorang pengurus DPC PKB Subang.

Partai Komunitas Batu (Sumber Gambar : Nu Online)
Partai Komunitas Batu (Sumber Gambar : Nu Online)

Partai Komunitas Batu

Ternyata, kata Bambang, bukan hanya pengurus DPC PKB Subang saja yang jadi pecinta batu akik, dari DPC Partai lain pun banyak juga.

"Kalau sudah sore, kumpul temen-temen dari Gerindra, dari Hanura sampai malam, ya gitu aja, mainin batu aja," tambahnya.

Melihat fenomena di DPC PKB Subang itu, pecinta batu dari Partai Gerindra ada yang berseloroh mengenai akronim PKB.

"Kata yang dari Gerindra, wah ini mah PKB singkatannya Partai Komunitas Batu Kabupaten Subang," katanya. (Aiz Luthfi)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Doa, Berita Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 26 Januari 2018

KH Hasyim: Saya Diperintah Guru Ngajari Anak Sekolahan

Depok, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pendirian Pesantren Mahasiswa Al Hikam II yang lokasinya berdampingan dengan Kampus UI Depok kini tinggal selangkah lagi. Masjid sebagai pusat kegiatan sebentar lagi akan dipakai dan rumah miliki KH Hasyim Muzadi telah ditempati dengan menggelar syukuran bersama tetangga sekitar, Minggu (15/4).

Kiai Hasyim dalam sambutannya mengungkapkan mengapa dirinya ingin mendirikan pesantren mahasiswa? Karena memang pernah diminta oleh salah satu kiainya untuk mendidik anak sekolahan atau para mahasiswa yang pintar tapi kurang memahami agama.

KH Hasyim: Saya Diperintah Guru Ngajari Anak Sekolahan (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Hasyim: Saya Diperintah Guru Ngajari Anak Sekolahan (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Hasyim: Saya Diperintah Guru Ngajari Anak Sekolahan

“Dulu saya diberi tahu sama kiai saya, kamu besok ngatur anak-anak sekolah saja.  Karena tidak semua kiai sabar ngajar anak mahasiswa yang nakal-nakal. Kalau kamu kan pengalaman nakal sehingga tahu bagaimana liku-liku kenakalan itu,” tuturnya

Dijelaskannya sangat penting untuk membuka wawasan keagamaan bagi kaum intelektual yang cerdas, tapi kurang tahu masalah ketuhanan. “Bagaimana yang wawasannya luas tapi tidak ngerti tuhan itu diajari tentang tuhan. Orang dulu banyak yang bener sekalipun tidak pinter, kalau sekarang banyak yang pinter tetapi tidak bener,” tuturnya.

Sebelumnya ia telah mendirikan Pesantren Mahasiswa Al Hikam I di Malang pada tahun 1991. Saat ini terdapat sekitar 200 mahasiswa dari berbagai universitas di Malang yang nyantri. Kini pesantren ini juga telah memiliki Ma’had Aly yang dimaksudkan untuk mencetak para kiai.

“Kalau itu diperuntukkan bagi lulusan pesantren yang mau jadi kiai. Supaya tidak nanggung, sebab kalau orang hampir kiai, itu berbahaya, nantinya marah-marah terus dan kalahan,” katanya menjelaskan tentang program Ma’had Aly.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kepindahannya ke Jakarta pada tahun 1999 karena terpilih sebagai ketua umum PBNU membuatnya harus bolak-balik Malang-Jakarta tiap minggu. Pada hari Senin sampai Kamis ia akan berada di Jakarta dan Jum’at sampai Minggu di Malang untuk mengajar ngaji. Kondisi ini menginspirasinya untuk membuat pesantren serupa di Jakarta.

Akhirnya, ia bertemu dengan Ibu Meilani, penganut Katolik yang bersedia menjual tanahnya di samping kampus UI dengan hanya sangat murah, hanya 225 ribu rupiah per meter persegi dan boleh dicicil. Kini harga tanah dilokasi itu berkisar 1.5 jutaan

Tanah yang dibeli seluas 1.7 hektar di area tersebut akan dibuat masjid, asrama santri, 5 rumah bagi para ustadz dan lapangan olah raga. Kompleks bangunan masjid yang kini hampir jadi juga dilengkapi dengan poliklinik, supermarket, dan perpustakaan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Semenatar itu untuk rumah pribadinya, ia membeli tanah seluas 1100 meter persegi. Sebelumnya, saat berada di Jakarta, Ia selalu menginap di penginapan di gedung PBNU. “Rumah saya dibikin cukup luas agar bisa dipakai untuk pengajian ibu-ibu. Mengapa pengajian tidak, karena karena tidak semua mereka suci,” paparnya.

Masjidnya sendiri akan difungsikan sebulan lagi setelah bagian dalam dicat dan dipasang sound system. “Saya kan mengajar di masjid situ. Nanti kalau orang sudah ngumpul banyak baru bicara bagaimana pesantren ini didirikan,” tandasnya.

Dikatakannya pesantren merupakan bayang-bayang masjid, bukan masjid yang bayang-bayang pesantren. “Dimulai dari ibadah, munuju ke ilmu kemudian ke dunia, kemudian berputar ke dunia lagi yang selanjutnya kembali ke Allah,” tambahnya.

Dijelaskannya Pesantren didirikan pelan-pelan setelah masjidnya jalan karena pesantren harus ada orangnya dulu baru bangunannya. Ini berbeda dengan sekolahan atau real esteate yang dibangun dulu semua fasilitasnya.

“Kalau pesantren dibangun dulu baru cari santri, nantinya malah tak ada santrinya karena pesantren itu membangun perguruan, bukan hanya membangun keilmuan. yang paling sukar bukan mengajar ilmu, tetapi membangun akhlak. Kalau ilmu pasti pinter kalau diajari, tapi membangun karakter kehidupan seseorang itu tidak mungkin tanpa hidayah Allah,” jelasnya.

Kiai Hasyim tak lupa meminta dukungan dari masyarakat sekitar terhadap keberadaan pesantren dan masjid tersebut. “Saya tidak bisa menyulapnya sendiri. kehadiran pesantren harus bisa memberi manfaat kepada masyarakat dan agama,” katanya.

Beberapa fasilitas seperti lapangan olah raga, supermarket dan klinik nantinya bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar sebagai bentuk hubungan kemanfaatan dan kerohanian. “Kalau ada sesautu yang perlu dibantu, sepanjang saya bisa, insyaallah saya akan membantu,” katanya. (mkf)



Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Lomba, Doa Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 17 Januari 2018

Tangkal Islam Radikal, Ansor Pekalongan Aktifkan Majelis Dzikir Rijalul Ansor

Pekalongan, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan



Untuk menangkal gerakan Islam radikal, Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Pekalongan mengoptimalkan Lembaga Majlis Dzikir dan Shalawat Rijalul Ansor. Hal ini dilakukan antara lain melalui penguatan aqidah Islam Ahlussunnah wal jamaah An-Nahdliyyah bagi kader GP Ansor.

Tangkal Islam Radikal, Ansor Pekalongan Aktifkan Majelis Dzikir Rijalul Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)
Tangkal Islam Radikal, Ansor Pekalongan Aktifkan Majelis Dzikir Rijalul Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)

Tangkal Islam Radikal, Ansor Pekalongan Aktifkan Majelis Dzikir Rijalul Ansor

H Sholahuddin Zuhdi, selaku ketua Lembaga Majlis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor Kabupaten Pekalongan menyatakan bahwa kegiatan Rijalul Ansor periode kepengurusan sekarang lebih fokus kepada penguatan pemahaman dan amaliyah internal kader Ansor.

"Untuk itu pengurus Rijalul Ansor telah mengagendakan kegiatan rutin bulanan secara bergiliran dari satu PAC ke PAC lainnya. Adapun format kegiatannya diisi dengan khataman Al-Quran dilanjutkan kajian dan penguatan akidah Ahlussunnah wal Jamaah dengan mengundang narasumber dari rais syuriyah Nahdlatul Ulama Kab. Pekalongan," papar H Sholahuddin.

Pria yang akrab disapa Gus Sholah ini menambahkan bahwa momen kegiatan Rijalul Ansor juga dimaksimalkan untuk koordinasi dan konsolidasi organisasi. Ini cukup efektif mengingat kegiatan rutin bulanan ini diikuti oleh semua pengurus dan anggota Ansor dan Banser dari semua Pimpinan Anak Cabang (Kecamatan).

Sementara itu, M. Azmi Fahmi, selaku ketua PC GP Ansor Kabupaten Pekalongan mengingatkan kader Ansor untuk bisa menjadi contoh bagi masyarakat. Antara lain dengan istiqamah ngaji. Ia menyitir dawuh Mbah Maemun Zubair bahwa amaliyah terbaik yang dapat dilakukan saat ini adalah ngaji. Dengan ? ngaji, selain kapasitas keilmuannya terbangun juga akan meningkatkan spiritualitas seseorang.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Melalui gerakan ngaji ini, Lembaga Rijalul Ansor bisa menjadi wadah yang baik dan bermanfaat bagi kader dan masyarakat. Oleh karena itu Ansor berharap terutama kepada pemuda santri atau alumni pesantren untuk dapat bergabung dan menguatkan Rijalul Ansor," tandas Azmi.

Putaran perdana Rijalul Ansor yang dilaksanakan pada Ahad malam Senin (27/11) bertempat di Gedung MWC NU Kedungwuni, Jalan Kebangkitan No. 9 Kedungwuni. Hadir KH Sabilal Rosyad yang mengkaji kitab Risalah Ahlussunnah wal Jamaah karangan Hadratusy Syakh KH Hasyim Asyari. Red: Mukafi Niam

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ahlussunnah, Doa Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 07 Januari 2018

Santri Raudlatul Mubtadiin Asah Kemampuan Menjahit

Majalengka, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pesantren Raudlatul Mubtadiin desa Cisambeng, Palasah, Majalengka mengadakan pelatihan menjahit rutin sepekan sekali bagi para santri. Pelatihan rutin yang dimulai sejak 2011 ini bertujuan membekali keterampilan dasar menjahi.

Rais Aam pesantren Raudlatul Mubtadiin Agus Rofii menginginkan melalui keterampilan menjahit ke depan salah satu pintu rezeki santri terbuka sebagai mata pencaharian.

Santri Raudlatul Mubtadiin Asah Kemampuan Menjahit (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Raudlatul Mubtadiin Asah Kemampuan Menjahit (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Raudlatul Mubtadiin Asah Kemampuan Menjahit

“Usaha menjahit itu cukup berpotensi. Keterampilan menjahit sangat dibutuhkan di masyarakat. Prospeknya juga bagus," kata Agus saat ditemui Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan di ruangan menjahit pesantren Raudlatul Mubtadiin, Ahad (5/10) sore.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Agus menambahkan, sejumlah program di pesantren mengarahkan para siswa menjadi seorang wirausahawan. Sehingga, para santri tidak jenuh untuk nyantri di sini karena kegiatan kita tidak terbatas pada mengaji saja.

Ia berharap para santrinya siap pakai di masyarakat ketika selesai mengaji di pesantren ini. (Aris Prayuda/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Doa, Khutbah, Ulama Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 06 Januari 2018

Lajnah Falakiyah Rukyat Awal Rajab

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) akan melaksanakan rukyatul hilal untuk menentukan awal bulan Rajab 1433 H. Rukyat dilaksanakan Senin (21/5) sore, bertepatan dengan 29 Jumadal Tsaniyah 1433 H.

Rukyatul hilal atau observasi bulan sabit akan dilaksanakan di sedikitnya 90 titik strategis di seluruh Indonesia.

Lajnah Falakiyah Rukyat Awal Rajab (Sumber Gambar : Nu Online)
Lajnah Falakiyah Rukyat Awal Rajab (Sumber Gambar : Nu Online)

Lajnah Falakiyah Rukyat Awal Rajab

“Dari sudut derajatnya sih sudah dapat dirukyat, nanti kita lihat hasil rukyatnya,” kata KH A. Ghazalie Masroeri, Ketua Pengurus Pusat LFNU dihubungi Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan di Jakarta, Senin (21/1).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Data hisab dalam almanak PBNU yang diterbitkan oleh LFNU menunjukkan, ijtima’ atau konjungsi telah terjadi pada hari ini, pukul 06.42 WIB. Untuk markaz Jakarta, hilal pada saat matahari terbenam nanti sudah berada di ketinggian 3,27 derajat dengan posisi miring ke utara, dan akan berada di ufuk selama 18 menit 20 detik.

Dengan pertimbangan waktu ijtima’ dan posisi hilal tersebut diperkirakan tanggal bulan tanggal 1 rajab 1433 akan jatuh pada hari Selasa 22 Mei 2012 besok, dan umat Islam sudah bisa menjalankan puasa sunnah Rajab. Namun ketentuan awal bulan Rajab masih menunggu hasil rukyat nanti sore.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Quote, Doa, Internasional Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Lima Perkara Penghalang Kesalehan

Sahabat Ali Karramallahu Wajhah pernah berkata “andaikan tidak ada lima keburukan di dunia ini, tentunya manusia menjadi orang saleh semua. Kelima keburukan itu adalah 1) merasa senang dengan kebodohan. 2) tamak dengan dunia. 3) bakhil dengan kelebihan harta. 4) beramal disertai riya’ dan 5) selalu merasa bangga diri di atas yang lainnya” 

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?  

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Marilah di hari ini kita mempertebal ketaqwaan kita kepada Allah dengan menghindarkan diri dari kecurangan,kebohongan dan berbagai sifat tercela lainnya. Karena dengan demikian kita dapat istiqamah berusaha menjadi orang yang saleh

Lima Perkara Penghalang Kesalehan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lima Perkara Penghalang Kesalehan (Sumber Gambar : Nu Online)

Lima Perkara Penghalang Kesalehan

Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah

Apa yang hendak disampaikan khatib pada khutbah kali ini sebenarnya berasal dari satu pertanyaan asasi. Manakah sebenarnya yang lebih dulu ada di dunia ini, kegegelapan  lantas disusul dengan terang. Ataukah terang yang kemudian dinodai dengan kegegelapan?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dalam sebuah perkataanya sahabat Ali Karaamallhu Wajhah pernah berkata “andaikan tidak ada lima keburukan didunia ini, tentunya manusia menjadi orang saleh semua. Kelima keburukan itu adalah 1) merasa senang dengan kebodohan. 2) tamadk dengan dunia. 3) bakhil dengan kelebihan harta. 4) riya’ dalam beramal dan 5) membanggakan diri”. Dalam teks arabnya berbunyi demikian:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Demikian keterangan Sayyidina Ali tentang lima hal yang merusak susunan masyarakat muslim sehingga terjebaklah mereka dalam kenistaan. Sebagaimana akan diterangkan satu persatu dibawah ini.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pertama, merasa senang dengan kebodohan, artinya adalah membiarkan diri bahkan merasa nyaman dengan ketidak tahuan dalam masalah agama. Sebagaimana banyak terjadi pada muslim masa kini di perkotaan yang tiap harinya disibukkan dengan urusan bisnis dan bermacam pekerjaan demi mencapai cita-citanya. Sedangkan masalah ke-islaman cukup dipasrahkan saja kepada para ustadz yang dipanggil ketika dibutuhkan. Entah untuk berdoa, untuk ditanya ataupun sekedar dijadikan teman curhatnya.

Tidak ada dalam dirinya keinginan belajar dengan sungguh-sungguh apa itu Islam dan bagaimana seharusnya menjadi muslim yang baik. Tidak pernah ingin tahu cara shalat dan wudhu yang benar. Mereka sudah puas dengan pengetahuan yang didapatnya dari teman atupun dari meniru tetangga. Paling-paling belajar keislamannya didapat dari tayangan televisi pada kuliah subuh dan dalam broadcast- broadcast semacamnya.

Memang itu tidak salah, tapi semua itu menunjukkan ketidak seriusan keislaman mereka dibandingkan dengan keseriusannya belajar ilmu pengetahuan atupun kesibukannya mengurus berbagai urusan dunia. Orang seperti ini seharusnya mengingat pesan Rasulullah saw:

? ? ? ? ? ? ? ? ?

Allah membenci orang yang pandai dalam urusan dunia tetapi bodoh dalam urusan akhirat.

Ma’asyiral Mukminin Rahimakumullah

 Kedua, tamak dengan dunia dan ketiga bakhil dengan kelebihan harta, kedunya merupakan pasangan yang selalu terkait bagaikan dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Karena siapapun yang tamak dan merasa kurang dengan berbagai kepemilikan hartanya pastilah dia akan berlaku bakhil dan sangat sayang dengan kelebihan-kelebihan yang dimilikinya.

Dalam kesempaatan lain Rasulullah saw pernah menyinggung tentang ketamakan. Beliau berkata yang artinya bahwa mencintai harta adalah sumber segala kecelakaan dan keburukan. Baik keburukan fisik maupun mental. Mari kita bersama-sama berintropeksi diri mengapa diri ini seringkali masuk angin gara-gara terlalu sering di jalan demi mengejar satu pekerjaan. Betapa para pebisnis itu sering kali keuar masuk rumah sakit berganti-ganti penyakit karena komplikasi yang disebabkan kurangnya perhatian dalam mengurus diri dan lebih suka mengejar materi. Meskipun ini bukanlah hukum universal yang dapat diterapkan pada semua orang, tetapi minimal menjadi pelajaan bagi kita yang mengerti. Betapa kecintaan dan ketamakan dunia selalu membawa petaka. Belum lagi petaka mental yang merusak negeri ini. Korupsi, kolusi dan juga kebiasaan berbohong demi citra diri semua bermuara pada satu kata ‘tamak terhadap dunia’. Untuk hal ini khatib lebih baik tidak banyak komentar karena semua jam’ah telah mafhum adanya.

Rasulullah saw pernah bersabda:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Zuhud (tidak suka) dunia sangat menyenangkan hati dan badan. Sedangkan cinta dunia sangat melelahkan hati dan badan.

Demikianlah bahwa kebakhilan ataupun kepelitan merupakan dampak sistemik yang tidak terhindarkan dari ketamakan dunia. Dan kebakhilan pasti akan menjauhkan seseorang dari Allah, surga dan sesama manusia. Itu artinya kesalehan bagi orang yang bakhil adalah angan-angan belaka. Dan jikalau ada keselahan di sana pastilah itu hanya kesalehan yang semu. Karena hadits Rasulullah tentang kebakhilan yang menjauhkan seseorang dari Allah dan surga serta manusia sesama adalah hadits Shahih.

Para Jama’ah yang Dirahmati Allah

Keempat, riya dalam beramal. Riya’ adalah pamer yaitu melakukan satu amal ibadah (agama) dengan maksud mendapatkan pujian dari manusia. Atau dengan bahasa yang agak kasar riya dapat juga dikatakan dengan mengharapkan nilai dunia dengan pekerjaan akhirat. Rasulullah saw menegaskan bahwa riya termasuk dalam kategori syirik kecil (as-syirikul asyghar) dalam salah satu sabdanya “sesungguhnya sesuatu yang sangat saya khawatirkan atas dirimu adalah syirik kecil, yaitu riya” (HR.Ahmad).

Disebut demikian karena perwujudan riya yang sangat halus dan tidak kentara. Adanya hanya dalam hati. Tidak ketahuan di dalam tindakan diri. Para sufi mengibaratkan halusnya riya seperti semut hitam yang merayap di atas batu keras warna hitam di tengah pekat malam. Begitu halusnya riya hingga seringkali mereka yang terjangkit penyakit ini seringkali tidak sadar.

Fudhail bin Iyadh seorang sufi pernah mencoba menjabakan tentang riya dengan bahasa keseharian katanya: ”jika datang seorang pejabat kepadaku, kemudian aku merapikan jenggotku dengan kedua belah tanganku, maka aku benar-benar merasa khawatir kalau dicatat dalam kategori orang-orang munafik”

Demikianlah hendaknya segala apa yang dilakukan manusia disandarkan kepada Allah swt. Tidak hanya semata mempertimbangkan kepentingan manusia. Apalagi jika berhubungan dengan amal ibadah murni seperti shalat, baca al-qur’an, zakat dan lainnya maka Allah swt mengancam mereka yang mendustainya dengan neraka Rasulullah saw bersabda:

? ? ? ? ? ? ?

Sesungguhnya Allah swt mengharamkan surga bagi orang yang riya.

Dan kelima, adalah ujub atau membanggakan diri. Yaitu merasa diri paling sempurna dibandingkan dengan yang lain. Ketidak bolehan perasaan ujub ini dikhawatirkan pada lahirnya kesombongan, dan kesombongan itu sendiri merupakan sifat Allah yang tidak boleh ada dalam diri manusia.

Demikianlah lima hal yang menurut Sayyidina Ali Karramallahu Wajhah dapat menghalangi seseorang menjadai seorang yang saleh.

Demikianlah khotbah singkat kali ini, semoga hal ini dapat menjadi bahan renungan yang mendalam, bagi kita semua amin.

 

? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ?.

Khutbah II

 

?? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

 

(Ulil H). Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Doa, Khutbah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 23 Desember 2017

Catatan Hari Santri; Jihad “Kebangkitan Ekonomi”

Oleh: Ferhadz Ammar Muhammad*

Wahai para pemuda putera bangsa yang cerdik pandai dan para ustadz yang mulia, mengapa kalian tidak mendirikan saja suatu badan usaha ekonomi yang beroperasi, di mana setiap kota terdapat satu badan usaha yang otonom. Badan usaha ini secara khusus untuk kaum ulama dan bagi lainnya yang masuk kaum terpelajar. Dari badan usaha ini didirikan suatu darun nadwah (balai pertemuan) sebagaimana yang dilakukan para sahabat. (Kutipan paragraf “Piagam Nahdlatut Tujjar” dalam Mun’im DZ, ed., Piagam Perjuangan Kebangsaan; 2011, 28).

Empat hari yang lalu, 22 Oktober 2017, negeri ini kembali menemukan fungsinya. Bukan dari gelaran forum para profesor dan peneliti luar negeri, melainkan gerombolan para santri dari bilik-bilik bumi pertiwi. Peringatan itu membawa memori seluruh warga Indonesia pada kejadian 72 tahun silam, Resolusi Jihad oleh Hadhratussyaikh Hasyim Asy’ari namanya. Bukan berupa teks mempertahankan negeri semata, melainkan menjadi ruh ad-da’wah bagi pengisian kemerdekaan dan kedaulatan bangsa.

Catatan Hari Santri; Jihad “Kebangkitan Ekonomi” (Sumber Gambar : Nu Online)
Catatan Hari Santri; Jihad “Kebangkitan Ekonomi” (Sumber Gambar : Nu Online)

Catatan Hari Santri; Jihad “Kebangkitan Ekonomi”

Sebagai seorang yang beragama, setiap peristiwa pasti membawa hikmah, sebab Qur’an pun mengajak para manusia agar mengambil pelajaran dibalik setiap kejadian. Demikian juga dalam upacara peringatan “Hari Santri 2017” itu. Banyak sekali spirit yang bisa diteruskan pada generasi kini dan nanti. Sebagai bagian dari santri, penulis akan mencoba merefleksikan acara tersebutdengan mengambil fokus pada kemandirian ekonomi sebagai upaya agar pesan dan spirit Hari Santri 2017 ini tetap abadi.

Gerakan Pedagang

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Gagasan ekonomi diHari Santri 2017 lahir dari catatan dan wacana serta diskusi panjang oleh tokoh-tokoh NU sekarang. Akan tetapi jauh sebelum itu, dibalik segala ide yang pernah hadir di kalangan Nahdlatul Ulama, tentu fakta sejarah Nahdlatul Tujjar adalah dasar dari segala rancangan ekonomi jam’iyyah terbesar itu.Nahdlatul Tujjar ini erat kaitannya dengan kemasyhuran Surabaya sebagai kota dagang dan industri sekitar awal abad ke-20,serta daerah dengan puncak arus perdagangan yang penting di kancah nasional maupun internasional. Hampir semua komponen masyarakat, tidak terkecuali para kyai, memiliki relasi perdagangan di kota ini. Ketatnya persaingan antar pedagang pun tidak bisa dielakkan. Oleh karena itu, para kyai yang terlibat dalam persinggungan dengan kelompok pedagang lain berupaya untuk membangun basis ekonomi bersama demi melindungi kegiatan ekonomi yang digunakan untuk tujuan pengembangan dakwah dan kemandirian pesantren. Maka di tahun 1918, saat para pedagang saling mendirikan perkumpulan-semacam gank dagang-, para kyai yang dimotori oleh Hadhratusyaikh Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Chasbullah bersepakat untuk mendirikan sebuah perkumpulan yang bernama Gerakan Pedagang (Nahdlatul Tujjar).

Lewat Badan Usaha Al-Inan yang dimilikinya, Nahdlatul Tujjar mulai merangsak naik menjadi organisasi saudagar

yang diperhitungkan. Berkat kemandirian itu, para kyai pesantren semakin lantang menyuarakan kebenaran sesuai dengan keyakinan mereka tanpa takut jikalau ekonomi pesantrennya digencet oleh pihak luar. Bahkan saat kyai pesantren didiskriminasi oleh kalangan luar kaitannya dengan pendelegasian untuk Kongres Islam, mereka berani berangkat secara mandiri untuk tetap mengikuti Kongres Islam di Arab Saudi, sebab menyangkut aqidah yang tidak bisa ditawar lagi. Para kyai pesantren tentu telah mengkalkulasi semuanya, mulai dari persiapan argumen rasional dan biaya. Khusus yang terakhir, yakni biaya, syukur alhamdulillah para kyai yang dikenal dengan sebutan Komite Hijazitu terbiayai dengan adanya Badan Usaha Al-Inan milik Nahdlatul Tujjar, sehingga usaha untuk menyelamatkan makam nabi dari arogansi Wahabi, dan kebebasan bermadzhab di Haramain bisa terlaksana (Mun’im DZ, ed.; 2011, 25).

Setelah Nahdlatul Ulama berdiri pada tahun 1926, otomatis segala kegiatan dan spirit perjuangan Nahdlatul Tujjar pun ikut melebur ke dalamnya. Bahkan di tahun awal NU berjalan, para anggota Tanfidziyah justru banyak dihuni oleh para saudagar, pengusaha kecil, dan pemilik tanah. Format yang demikian itu mengindikasikan bahwa ekonomi merupakan syarat penting bagi progresivitas organisasi. Sinyal ini cepat ditangkap oleh warga NU terutama di kota-kota besar. Hingga di tahun 1929 di Surabaya, beberapa tokoh NU mendirikan koperasi kaum muslimin yang berfungsi untuk mengorganisir barter atau penjualan barang dari para petani dan pengusaha kecil tradisionalis, seperti gula, kacang, minyak goreng, sayur-mayur, dan lain sebagainya. Spirit ini pun menginspirasi generasi di tahun-tahun berikutnya. Pada tahun 1937, lahirlah Syirkah Mu’awanah, sebuah koperasi yang jaringannya sudah meluas bahkan sampai ke dunia internasional, dengan pokok kegiatan yakni memperdagangkan hasil pertanian, batik, hasil laut, rokok, dan sabun  (Greg Fealy, Ijtihad Politik Ulama; 2003, 42).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dan sekarang, spirit Nahdlatul Tujjar kembali bergelora. Mengambil momentum peringatan (bukan hanya perayaan) “Resolusi Jihad”, semua warga Nahdliyyin berbondong-bondong hadir di pusat peringatan dengan meneriakkan “Santri Mandiri NKRI Hebat”. Jargon itu sungguh menyuntikkan semangat baru. Diskusi mengenai pesan yang dibawa oleh PBNU turut menghiasi perkumpulan para santri. Dari diskusi itu lahir ide dan gagasan menarik yang perlu ditindaklanjuti (follow up), missal pemantapan LAZISNU, sosialisasi ekonomi hijau di desa-desa, dan lain sebagainya.

Ekonomi Inspiratif

Sekarang ini umat Islam dihadapkan pada fakta merebaknya lebelisasi berupa “ekonomi syar’i”, seakan-akan yang diluar konsep itu dianggap tidak Islami. Justru mengkultuskan dan mengarahkan interpretasi ekonominya pada model atau lebel “ekonomi syar’i” membuat Islam terlihat tertutup, dan cenderung bersifat imajinatif-simbolis. Meski demikian, umat juga tidak lantas musti berdiri di barisan para penganut system ekonomi kapitalis kini. Lantas bagaimana jalan yang paling realistis untuk ditempuh? Jawabnya tentulah mengupayakan pertautan esensi atau spirit di antara keduanya. Dalam hal ini, beberapa batas-batas prinsipil musti dipahami dalam praktik pengimplementasian ekonomi, agar tidak keluar dari maqashid fiqh iqtishadi. KH. Said Aqil Siradj (2006; 369-371) telah jauh membahas hal ini dengan menekankan enam prinsip dasar: 1) keadilan dalam distribusi kekayaan (al-‘adalah al-ijtima’iyah), 2) Jaminan atas hak-hak dasar kemanusiaan (al-kulliyah al-khams), 3) Kesejahteraan indvidu dan masyarakat (ar-rafahiyah al-fardiyah wa-l-ijtima’iyah), 4) Persamaan derajat (al-musawah), 5) kebebasan (al-hurriyyah), dan 6) Moderasi (at-tawassuth).

Jika kegiatan ekonomi yang dijalankan didasari dengan enam prinsip di atas, maka “kebijaksanaan ekonomi” bukanlah hal yang utopis. Ia (sistem ekonomi tersebut) lebih mengedepankan isi atau substansi Islam daripada terpaku untuk menampakkan simbol, yang bisa menciptakan eksklusifitas sendiri dihadapan kelompok sosial yang lain. Ia juga tidak berarti mengikuti segala doktrin dan model ekonomi modern (masyarakat industrial) yang justru akan menyebabkan absennya kesejahteraan sosial secara merata. Statement yang terakhir secara tidak langsung menjawab keraguan John Wesley-sebagaimana dikutip Max Weber (2006; 186-187)-saat membahas tentang masuknya doktrin agama di sektor ekonomi. Wesley sempat menulis:

“Saya takut, ketika kekayaan meningkat, esensi agama juga merosot pada proporsi yang sama… sebab agama secara pasti menghasilkan industry dan juga sikap hemat, dan keduanya tidak dapat menghasilkan apa-apa kecuali kekayaan. Akan tetapi ketika orang-orang kaya meningkat maka kesombongan, kemarahan, dan cinta terhadap dunia di dalam segala cabangnya juga akan meningkat…”

Meski Wesley memberi solusi atas fenomena demikian dengan cara “siapa saja yang dapat mencapai segalanya yang bisa mereka dapatkan dan menyimpan semua yang bisa mereka simpan, mereka juga harus memberikan semua yang bisa mereka berikan,…”, tetapi tetap saja belum memberi jawaban konkrit atas timbulnya kekhawatiran dalam bentuk arogansi kekayaan, karena-menurut Weber- corak ekonomi yang lahir di zaman modern sudah dianggap tidak ada hubungannya dengan panggilan spiritual. Tentunya ini berbeda dengan keyakinan KH. Saiq Aqil, bahwa “…ikatan-ikatan agama tidak bisa dilepaskan dalam praktik ekonomi.” Meski konteks keduanya berbeda--KH. Said Aqil berbicara mengenai ekonomi dalam ajaran Islam, sedang Weber tentang kapitalisme dalam etika protestan--tetapi keduanya bisa melahirkan dialektika mengenai peran agama dalam dinamika ekonomi dunia. Dalam hal inilah gagasan alternative yang dibawa KH. Saiq Aqil memberi solusi realistis. Pada sektor pemenuhan kesejahteraan, para ahli agama dituntut untuk menggalakkan ghirrah perekonomian lewat upaya yang kreatif dan prospektif. Namun, agar tidak keluar dari tujuan kehidupan, yakni kepentingan sosial, maka pada sektor pemerataan, tokoh agama perlu mendorong negara lewat instrumen sosialnya agar membuat regulasi guna mengatur perputaran roda ekonomi.

Follow-up

Saat turut serta menghadiri peringatan Hari Santri, penulis sendiri justru langsung teringat dengan ajakan Hadhratussyaikh dalam Mukaddimah Qanun Asasi. Jika diperhatikan secara saksama di kalimat ajakan itu, Hadhratussyaikh menempatkan para kelompok berdasar klasifikasi ekonomi-sosial diurutan awal. Lebih lengkapnya:

“Marilah anda semua dan segenap pengikut anda dari golongan para fakir miskin, para hartawan, rakyat jelata dan orang-orang kuat, berbondong-bondonglah masuk jam’iyah yang diberi nama “Jam’iyah Nahdlatul Ulama.”

Akhirnya, bukan tanpa alasan Hadhratussyaikh membuat urutan yang demikian. Terlepas dari interpretasi itu, yang terpenting adalah para warga Nahdliyin semua telah menunjukkan konsistensi menjaga NKRI, terutama lewat sokongan ekonomi, dan ini harus ditindaklanjuti, sebab apa yang terlaksana di Hari Santri 2017 tidak mungkin berhenti. Acara memang sudah berakhir, tetapi cita-cita, ide, dan gagasan akan senantiasa mengalir.

(Penulis adalah aktivis PMII DI Yogyakarta, Nahdliyin Cabang Lasem, dan santri Pesantren Tahfidz Nurul Aziz Sarang)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Hadits, Nasional, Doa Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 27 November 2017

Gus Ainun: Banjiri Sanad Keguruan NU di Internet

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Sanad keguruan menjadi ciri khas kalangan nahdliyin dalam menerima ilmu agama. Selain keakuratan ilmu dan kesalehan guru, sanad sangat dibutuhkan. Karenanya, sanad keguruan ini perlu dibaca setiap kali pengajian. Kalau perlu, mata rantai keilmuan itu diunggah di media sosial, website, atau akun-akun pribadi lainnya.

Gus Ainun: Banjiri Sanad Keguruan NU di Internet (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Ainun: Banjiri Sanad Keguruan NU di Internet (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Ainun: Banjiri Sanad Keguruan NU di Internet

“Minta saja kepada para kiai kita. Lalu unggah di website atau blog. Ini sangat dibutuhkan,” kata Gus Ainun Najib yang belakangan namanya mencuat melalui website Kawal Pemilu di Jakarta, Selasa (16/6).

Ainun selama ini resah atas banjirnya ajaran-ajaran agama yang cenderung radikal dan ekstrem di internet. Sementara mereka tidak memiliki sanad yang menyambungkan paham yang mereka ajarkan hingga ke Rasulullah atau ulama yang menulis kitab-kitab rujukan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pada forum Workshop Penguatan Jaringan Anti Radikalisme di Dunia Muda untuk Ulama Muda yang digagas Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Gus Ainun mengapresiasi tingginya pengguna internet di kalangan nahdliyin.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Dengan tingginya angka pengguna, maka sanad-sanad guru agama kita akan semakin tampak pohon besarnya. Mintalah usai mengaji dengan guru-guru kita. Mereka akan memberikannya. Sanad menjadi pertanggungjawaban keilmuan selain validitas ilmu dan kezuhudan guru yang bersangkutan,” kata Gus Ainun yang kini tinggal di Singapura sebagai konsultan teknologi dan informasi.

Menurut Ainun, ilmu agama berbeda dari ilmu pada umumnya. Sanad dibutuhkan antara lain untuk memastikan distorsi informasi keagaman antara penerima dan penyampai ilmu.

Sebagaimana diketahui bahwa ilmu dan orang berilmu pengetahuan mendapat tempat istimewa di kalangan nahdliyin. Kecuali itu, sanad keguruan yang menyambung penerima ilmu dan generasi sebelumnya sangat diperhatikan. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Doa, Warta, Pertandingan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Syech Sholeh: Tenda Peneduh Hari Kiamat itu Syukur

Brebes, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pengasuh Pondok pesantren Darussalam Jatibarang Brebes KH Syeh Sholeh Basalamah  menuturkan di hari kiamat nanti ada tenda peneduh. Tenda tersebut, ternyata hanya diperuntukan bagi orang yang pandai bersyukur.

Syech Sholeh: Tenda Peneduh Hari Kiamat itu Syukur (Sumber Gambar : Nu Online)
Syech Sholeh: Tenda Peneduh Hari Kiamat itu Syukur (Sumber Gambar : Nu Online)

Syech Sholeh: Tenda Peneduh Hari Kiamat itu Syukur

“Di hari kiamat nanti, ada tenda sejuk yang ternyata diperuntukan bagi orang-orang yang pandai bersyukur,” katanya saat mengisi pengajian Brebes Bersholawat bersama Habib Syeh bin Assegaf di Islamic Centre, Jalan Yos Sudarso Brebes, Kamis malam (9/4).

Wujud syukur, kata Syeh Sholeh, yakni dengan mendirikan shalat lima waktu sehari semalam. “Ternyata di dalam shalat itu mengandung i’tibar syukur dalam ucapan, hati, dan gerak,” ungkapnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ada jaminan dari Allah SWT, kalau kita bersyukur akan ditambah nikmatnya. Namun bila kufur, akan mendapat siksa yang pedih. Para Nabi dan Rosul sebagai manusia mulia perbuatan rutinnya adalah bersyukur. “Ikutilah langkah mereka untuk selalu bersyukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang Dia limpahkan,” tandas Syeh Sholeh.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Brebes bersholawat” yang dikunjungi lebih dari 20 ribu orang tersebut menghadirkan Habib Syeh Assegaf dari Solo. Pengunjung yang mayoritas Syekhermania dari berbagai daerah itu memadati kawasan Islamic Center. Ada yang dari Cirebon, Tegal, Pekalongan, Purwokerto, bahkan dari Surabaya. Mereka memadati Islamic Center sejak bada Ashar. Ratusan polisi dan Banser ikut berjaga-jaga di berbagai sudut.

Mengawali konsernya, Habib Syech mendendangkan “Rindu Rosul”, terus “Ahlan wa sahlan bin Nabi”, “Kisah arrosul”, “Allahu alloh”, “Qod kaffani” dan lain-lain hingga mencapai 15 shalawat.

Tampak di luar area, pedagang dadakan dengan menjajakan poster, peci, lampu dan jajanan. Begitupun ribuan motor dan mobil memadati Islamic Center sehingga banyak bermunculan tukang parkir dadakan pula.

Acara yang digelar sejak pukul 20.30 hingga 23.00 tersebut berlangsung meriah dan damai. (wasdiun/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Berita, Doa, AlaSantri Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 24 November 2017

Tingkatkan Bantuan Sosial, LAZISNU Surabaya Siapkan Kader “NU Care”

Surabaya, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kota Surabaya merekrut dan melatih kader dari kalangan mahasiswa untuk menjadi petugas "NU Care LAZISNU". Langkah ini dilakukan? guna meningkatkan pengelolaan dana dan kegiatan bantuan sosial masyarakat kota Surabaya.

"Saat ini kami melatih sekitar 100 orang kader dari dari berbagai kalangan baik dari warga NU, remaja NU, dan kalangan kampus di Surabaya, seperti ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember) dan Unair (Universitas Airlangga), yang diharapkan menjadi motor penggerak lembaga," ujar Ketua LAZISNU Kota Surabaya Yusuf Hidayat dalam kesempatan pelatihan Manajemen dan Pengaderan Amil di Hotel Pesona Surabaya, Sabtu (9/4).

Tingkatkan Bantuan Sosial, LAZISNU Surabaya Siapkan Kader “NU Care” (Sumber Gambar : Nu Online)
Tingkatkan Bantuan Sosial, LAZISNU Surabaya Siapkan Kader “NU Care” (Sumber Gambar : Nu Online)

Tingkatkan Bantuan Sosial, LAZISNU Surabaya Siapkan Kader “NU Care”

Ia mengatakan, kader tersebut diharapkan menjadi petugas profesional LAZISNU dan Program NU Care di Surabaya dalam pengoperasian dana zakat, nonzakat, infaq, dan shadaqah dari warga NU dan masyarakat untuk kegiatan bantuan sosial di bidang kesehatan, pendidikan, dan bantuan masyarakat yang kurang mampu, serta bantuan sosial lainnya. ?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Diharapkan mereka menjadi kader yang mampu bekerja secara profesional dalam pengelolaan dana guna memperluas jaringan dan meningkatkan kegiatan bantuan sosial NU Care seperti bantuan pendidikan dan kesehatan masyarakat Kota Surabaya,” tegasnya.

Dalam pelatihan ini, LAZISNU Surabaya mengajarkan peserta pembentukan kepribadian amil, dari aspek penampilan, perilaku profesional ketika menerima tamu, mendatangi muzakki (wajib zakat), serta cara menyapa mustahiq (penerima zakat). "Saya juga mengajak peserta pelatihan dan kader untuk serius bergiat di LAZISNU sebagai jalan untuk mengbdikan diri kepada masyarakat," ujarnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Hal yang sama juga disampaikan Ketua Pengurus Pusat LAZISNU Syamsul Huda. Ia berharap dengan pelatihan tersebut, para kader bisa melakukan pengelolaan dana dan memperbanyak kegiatan bantuan NU Care di Surabaya sehingga meningkatkan kepedulian NU terhadap pendidikan, kesehatan masyarakat, maupun mendukung kegiatan keagamaan NU Kota Surabaya.

Ia juga menambahkan bahwa pada tahun 2016 ini PBNU melalui LAZISNU lebih meningkatkan bantuan sosial melalui program NU Care sedangkan untuk urusan zakat LAZISNU tetap bekerja sama dengan Baznas.

"Untuk dana program NU Care dan kegiatan sosial sepenuhnya akan dilakukan oleh NU Cabang masing-masing dan laporan pengelolaan akan disampaikan secara transparan dan terbuka, laporan keuangannya harus bisa diakses siapa saja, kapan saja, dari mana saja," ujarnya.? ?

Sementara ituWakil Rais Syuriah NU Kota Surabaya KH Azhar Sofwan berpesan agar dalam meningkatkan dan mengembangkan manajemen operasional tetap mengedepankan aspek hukum yang sudah ditetapkan oleh Nahdlatul Ulama maupun regulasi dari pemerintah agar LAZISNU tetap menjadi pilihan dalam mengelolah zakat dari warga NU maupun masyarakat.

"Yang perlu diperhatikan oleh LAZISNU bahwa manajemen adalah untuk mempercepat dan mempermudah orang untuk berzakat tapi bukan mengabaikan aspek hukum, mudah-mudahan dengan prinsip ini semangat berzakat semakin tinggi," ujarnya. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Doa, Bahtsul Masail Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 23 November 2017

GP Ansor dan Banser NTT Kawal Pawai Paskah 2016

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Pimpinan Wilayah GP Ansor dan Banser NTT turut berpartisipasi dalam Pawai Paskah 2016, Senin (28/3). Satu pleton Banser diturunkan guna mengamanakan situasi pengamanan Paskah bersama Polisi maupun TNI. GP Ansor NTT dan GP Ansor Kota Kupang menurunkan satu unit mobil rombongan pawai paskah.

Demikian disampaikan Sekretaris PW Ansor NTT Ajhar Jowe di Kupang.

GP Ansor dan Banser NTT Kawal Pawai Paskah 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor dan Banser NTT Kawal Pawai Paskah 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor dan Banser NTT Kawal Pawai Paskah 2016

"PW Ansor dan Banser NTT ikut mengamankan Pawai Paskah demi menjaga keberlangsungan situasi Paskah serta menjaga keberagamaan umat beragama di NTT, pada momen hari-hari besar keagamaan," kata Ajhar.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pihaknya sementara ini melakukan persiapan partisipasi pawai paskah bersama rombongan menuju lokasi pawai di Jalan Eltari Kupang, Depan Rumah Jabatan Gubenrur NTT.

Pawai Paskah, kata Ajhar bagian dari agenda rutin tahunan GP Ansor NTT sebagai pengamanan hari besar keagamaan. Partsipasi dari GP Ansor beserta Banser dilakukan bukan saja momen hari besar agama Kristiani tetapi seluruh umat beragama yang ada di NTT.

Dari pantauan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan, sejumlah pihak tengah mempersiapkan pawai paskah. Seluruh jajaran terkait menghiasi berbagai kendaraan dengan tema Paskah. Terlihat sepanjang jalan WJ Lalamentik, berbagai kendaraan tronton besar menuju lokasi pawai dengan berbagai hiasan menarik. (Red Alhafiz K)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Bahtsul Masail, Doa, RMI NU Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

IPNU Prihatin Publik Figur Terjerat Narkoba

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) prihatin kepada para publik figur yang tidak memberikan teladan kepada masyarakat. Terutama yang terjerat penyalahgunaan Narkoba dan sejenisnya.

Ketua Umum PP IPPNU Khairul Anam HS mengatakan, seharusnya mereka memberikan contoh yang baik kepada masyarakat, apalagi publik figur yang sedang digandrungi anak muda, terutama kalangan pelajar.

IPNU Prihatin Publik Figur Terjerat Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Prihatin Publik Figur Terjerat Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Prihatin Publik Figur Terjerat Narkoba

“Khawatirnya, dan itu sangat mungkin, prilaku buruk publik figur ditiru fans-nya,” katanya di sekretariat PP IPNU, gedung PBNU, Jakarta, Rabu, (20/2).  

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ia juga menyoroti media massa yang memberitakan prilaku buruk publik figur tersebut. Meskipun tugas media massa demikian, tapi jika diberitakan terus-menerus, bisa menjadi hal yang lumrah.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Media seharusnya memberikan pesan moral dengan melakukan kanalisasi berita, supaya jangan tidak mempengaruhi prilaku fans-nya.”

Khairul Anam juga menyesalkan publik figur lain yang tidak memberikan contoh yang baik bagi kalangan pelajar seperti politikus, aktivis, agamawan dan lain-lain.

Sebagai  sebuah organisasi penyiapan kader penerus bangsa yang memusuhi Narkoba, IPNU membentuk relawan Satria Anti-Narkoba di Gumiarti Camp, Bogor, pada tanggal 20 Mei 2012 lalu. Angkatan pertama berasal dari Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, dan Jawa Tengah.

Untuk memantapkan pemahaman dan seluk-beluk Narkoba, IPNU bekerjasama Badan Narkotika Nasional, mengumpulkan mereka di gedung PBNU, Jakarta, Rabu (20/2) dan Kamis (21/2). Mereka mendapat pengetahuan “Sosialisasi pencegahan dan penyalahgunaan Narkoba,” dan “Peran teman sebaya dalam pencegahan penyalahgunaan Narkoba”. Juga pengetahuan tes urine, strategi penyuluhan.

 

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Cerita, Bahtsul Masail, Doa Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 18 November 2017

Cara RSI Siti Hajar Sidoarjo Membangun Mental Karyawannya

Sidoarjo, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Untuk membangun mental para karyawannya agar menjadi orang yang beriman, Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Hajar Sidoarjo, Jawa Timur rutin mengadakan pengajian. Pengajian tersebut digelar di masjid Siti Hajar setiap hari Sabtu.

Kepala marketing RSI Siti Hajar Sidoarjo, Riza Ahmadi menjelaskan, selama Ramadhan, pengajian tersebut diadakan setiap hari Sabtu badha Dhuhur, sedangkan di luar Ramadhan diadakan setiap hari Sabtu pukul 09.00 WIB.

Cara RSI Siti Hajar Sidoarjo Membangun Mental Karyawannya (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara RSI Siti Hajar Sidoarjo Membangun Mental Karyawannya (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara RSI Siti Hajar Sidoarjo Membangun Mental Karyawannya

Menurutnya, pengajian itu merupakan revolusi mental. Dengan diadakan pengajian diharapkan agar karyawan RSI Siti Hajar selama bekerja mempunyai bekal ilmu agama.

"Selain mempunyai ilmu di bidang medis, karyawan harus diiringi dengan doa dan iman. Sehingga antara ilmu dan iman saling bersinergi. Tidak hanya ikhtiar lahir, tapi ikhtiar batin juga dilaksanakan," kata Riza, Sabtu (3/7).

Riza menambahkan, selain mengirimkan karyawannya ke acara atau pelatihan-pelatihan medis, pihaknya sengaja memberikan siraman rohani untuk mempertebal iman para karyawan Rumah Sakit NU ini.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ia menyebutkan, kitab yang dikaji terdiri dari kitab Nashoikul Ibad, Al-Ibris dan Sulam Taufiq. Penceramah nya dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Sidoarjo. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Santri, Daerah, Doa Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 12 November 2017

17 Banser Kota Bandung Digembleng di Gunung Bongkok

Sumedang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Gerakan Pemuda Ansor Kota Bandung mengadakan pendidikan dan pelatihan khusus (Diklatsus) Barisan Ansor Serbaguna (Banser) di Gunung Bongkok, Kecamatan Dayeuh Luhur, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, pada Ahad (12/5). Sekitar 17 Banser digembleng pada Diklatsus tersebut.

17 Banser Kota Bandung Digembleng di Gunung Bongkok (Sumber Gambar : Nu Online)
17 Banser Kota Bandung Digembleng di Gunung Bongkok (Sumber Gambar : Nu Online)

17 Banser Kota Bandung Digembleng di Gunung Bongkok

Tujuh belas pasukan berjalan kaki sejauh 8 km menjelajah dan mendaki gunung sebagai bentuk napak tilas para raja dan pejuang kemerdekaan. Pada kesempatan tersebut mereka sempat menziarahi makam raja-raja Sumedang Larang dan Pajajaran. Makam yang diziarahi di antaranya, Prabu Geusan Ulun dan Maha Patih Jaya Perkasa.

Ketua Pimpinan Cabang GP Ansor Kota Bandung Aa Abdul Rozak, memaknai 17 peserta sebagai tabaruk 17 rakaat melaksanakan shalat 5 waktu sehari semalam. “Dengan filosofi 17, pasukan itu meyakini membela ulama dan bangsa merupakan fardhu ain,” katanya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sebelumnya, kata Rozak, 17 pasukan tersebut telah ditempa latihan tenaga dalam selama 3 bulan, dilaksanakan seminggu 2x di kediaman sesepuh Banser Kota Bandung H Agus Syam. “Beliau termasuk pelaku sejarah Banser waktu membantu negara melawan para pemberontak,” terangnya.  

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Menurut Rozak, pasukan 17 tersebut membentuk grup Korp Komando Pasukan Khusus Banser Kota Bandung. Mereka memilki tugas lebih dibanding Banser lain, yaitu siap kapan dan dimana pun ditugaskan organisasi untuk mengwal ulama dan negara. “Komando Pasukan Khusus Banser Kota Bandung menjadi pasukan siap lahir dan batin membela ulama dan bangsa kapanpun,” tegasnya.

Turut serta pada penggemblengan pasukan itu, Komandan Satkorcab Banser Kota Bandung, Mahmud dan sesepuh Banser Kota Bandung Ir.H.Agus Syam. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Doa, Humor Islam, Pahlawan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 07 November 2017

Sejumlah Kelompok “Wahabi” Tolak Ajaran Kekerasan Wahabi

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Sebagian besar Muslim Suni radikal mengikuti ajaran Wahhabi. Namun, banyak organisasi Wahabi yang menentang kekerasan atas nama agama dan diskriminasi berbasis gender yang diajarkan ideologi Wahabi.

Sejumlah Kelompok “Wahabi” Tolak Ajaran Kekerasan Wahabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejumlah Kelompok “Wahabi” Tolak Ajaran Kekerasan Wahabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejumlah Kelompok “Wahabi” Tolak Ajaran Kekerasan Wahabi

Sejumlah kelompok yang bisa diidentifikasi sebagai Wahabi menolak kekerasan, intoleransi, fanatisme, dan kebencian terhadap wanita. Sejumlah data menyebutkan adanya gerakan Wahabi yang tidak menyukai kekerasan.

Demikian disampaikan pengajar UIN Sunan Kalijaga Dr Inayah Rohmaniyah dalam sebuah diskusi publik yang diselenggarakan Laboratorium Agama dan Budaya Lokal (Label) UIN Sunan Kalijaga bekerja sama dengan AIFIS (American Institute for Indonesian Studies) di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Selasa (18/11).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Penelitian disertasi Inayah mengambil judul "Multikulturalisme dalam Kebahagiaan dari Orang Towani Tolontang dan Orang Kajang di Sulawesi Selatan sampai Orang Wahabi di Jawa Tengah". Berlandaskan penelitiannya itu, ia menolak pandangan sempit terhadap ajaran Wahabi yang keras.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Peelitiannya di pesantren Madrasah Wathoniyah Islamiyah, Banyumas, Jawa Tengah, menunjukkan, ajaran-ajaran Wahabi tidak selalu menyebabkan diskriminasi berbasis gender atau melahirkan sistem representasi di mana kebencian terhadap perempuan (misoginis) menjadi simbol dominasi dan kekuasaan maskulin.

Menurut Inayah, dalam proses pendidikan di Madrasah Wathoniyah Islamiyah ini, kaum perempuan juga terlibat dalam proses pendidikan, baik sebagai pengajar maupun pelajar. Bahkan siswa perempuan diperbolehkan untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan di ruang publik, tetapi dengan syarat memakai jilbab untuk mencegah kekerasan seksual.

"Habitus dan praktik yang berakar pada pemahaman Wahabi dapat berperan dalam rekonstruksi identitas individu dan kolektif dan praktik yang tanpa kekerasan, tentang hubungan antara kemanusiaan dan ke-Ilahian, nasionalisme Indonesia, dan budaya Islam Jawa", pungkas pengajar di Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam itu. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Doa Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 03 November 2017

Banser Blitar: Allahu Akbar, Pancasila Jaya, NKRI Harga Mati!

Blitar, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Ribuan anggota Barisan Ansor Serbaguna (Baser) Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten dan Kota Blitar, Jawa Timur, berunjuk rasa dengan memadati jalan-jalan protokol di Blitar. Mereka meneriakkan penolakan terhadap bangkitnya komunis gaya baru (KGB), salah satunya ditandai dengan mendesak pemerintah meminta maaf atas tragedi 1965 lalu.

Aksi yang dijaga polisi dan TNI itu dilakukan bertepatan dengan momentum peristiwa pemberontakan G30S PKI. Akibat aksi tersebut, jalan protokol Sudanco Supriyadi Kota Blitar lumpuh total.

Banser Blitar: Allahu Akbar, Pancasila Jaya, NKRI Harga Mati! (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Blitar: Allahu Akbar, Pancasila Jaya, NKRI Harga Mati! (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Blitar: Allahu Akbar, Pancasila Jaya, NKRI Harga Mati!

"Allahu Akbar. Pancasila Jaya, NKRI harga mati. Mereka yang melakukan kudeta dan melakukan kerusuhan kok pemerintah diminta minta maaf," pekik massa bersahut sahutan. Lagu Gugur Bunga dan Maju Tak Gentar diputar bergantian, Rabu (30/9).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Banser menduga KGB sudah ada dimana mana, berusaha menyusup ke semua lini sosial dan pemerintahan. Bahkan, kata Satkorcab Banser Kabupaten Blitar Imron Rosadi, tak terkecuali di TNI dan kepolisian.

"Kalau pemerintah diam saja, ini akan meletus menjadi perang sipil seperti peristiwa 1965 dan 1968," ucap Imron.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Banser NU mencurigai masuknya pekerja asal Negeri Tiongkok ke Indonesia sebagai upaya membangkitkan paham komunisme di Indonesia. “Kami akan bahu membahu bersama masyarakat lain untuk mengantisipasi terus masalah ini,” tambahnya.

Menurutnya, agakn terjadi gejolak jika Presiden Joko Widodo sampai memaafkan orang-orang eks PKI, kelompok yang dianggap pernah berupaya menggulingkan negara. "Presiden tidak layak memberi maaf kepada para pemberontak (PKI) negeri ini," tuturnya.

Dalam aksi yang melumpuhkan jalur lalu lintas, Banser secara simbolis membakar bendera merah palu dan arit (PKI). Dari Kantor Pemkab Blitar massa melakukan aksi jalan jauh ke kantor DPRD Kota Blitar dan Pemkot Blitar.(Imam Kusnin Ahmad/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Doa, Habib, Kiai Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock