Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Februari 2018

Pagar Nusa Gelar Apel Akbar di Lirboyo

Kediri, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pimpinan Wilayah Pencak Silat NU Pagar Nusa Jawa Timur menggelar apel akbar di Pondok Pesantren Lirboyo Jawa Timur, Senin (19/8) hari ini. Pesantren Lirboyo merupakan tempat tinggal almarhum Gus Maksum, pendiri dan pemimpin pertama organisasi pencak silat NU ini.

Ketua PW Pagar Nusa Jatim Faidhol Mannan mengatakan, pihaknya telah menginstruksikan 38 pimpinan cabang Pagar Nusa se-Jatim untuk menghadiri apel akbar yang dipusatkan di Aula Al-Muktamar Lirboyo. Apel akbar kali ini dihadiri sekitar 2000 pendekar.

Pagar Nusa Gelar Apel Akbar di Lirboyo (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa Gelar Apel Akbar di Lirboyo (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa Gelar Apel Akbar di Lirboyo

Apel akbar yang dirangkai dengan halal bi halal ini diisi dengan istigotsah yang dipimpin oleh KH Hamim Al Zaini. Sebelum acara dimulai juga digelar peragaan kembangan pencak silat oleh pendekar cilik dan senior Pagar Nusa.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Para pendekar Pagar Nusa yang hadir mengenakan pakaian seragam pencak silat hitam-hitam.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Mendekati pelaksanaan Pilgub Jatim 29 Agustus, tak pelak kegiatan apel akbar ini diwarnai dengan aksi dukungan untuk salah satu calon, yakni Saifullah Yusuf atau Gus Ipul.

Gus Ipul menghadiri acara halal bi halal dan apel akbar Pagar Nusa yang disambut pimpinan Pesantren Lirboyo KH Idris Marzuqi. Sejumlah kiai yang selama ini mendukung pasangan Karsa juga hadir seperti KH Anwar Iskandar.

Gus Ipul sempat melakukan dialog dengan beberapa pendekar Pagar Nusa dan meminta doa agar dirinya yang maju mendampingi Soekarwomenang Pilgub Jatim, 29 Agustus mendatang.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ulama, Kyai Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 05 Februari 2018

NU akan Perluas Pendirian PT di Ibukota Provinsi dan Kota Besar

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Selama lima tahun terakhir, PBNU mendirikan 23 perguruan tinggi (PT) Nahdlatul Ulama yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Upaya tersebut akan terus diperluas dalam beberapa tahun ke depan seiring dengan semakin banyaknya lulusan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) setelah pemberlakukan wajib belajar 12 tahun.

NU akan Perluas Pendirian PT di Ibukota Provinsi dan Kota Besar (Sumber Gambar : Nu Online)
NU akan Perluas Pendirian PT di Ibukota Provinsi dan Kota Besar (Sumber Gambar : Nu Online)

NU akan Perluas Pendirian PT di Ibukota Provinsi dan Kota Besar

Wakil Sekjen PBNU H Hanif Saha Ghofur menjelaskan NU memiliki aset sangat besar yang bisa dikapitalisasikan untuk pendirian universitas. Dalam hal ini, pendirian perguruan tinggi baru akan diarahkan di ibukota propinsi dan kota besar di seluruh Indonesia.

“Ada beberapa tempat yang akan kita dirikan seperti di Sulawesi barat, Kalimantan utara, Bengkulu, Riau, dan kemungkinan Maluku karena di situ sudah ada. Maluku sudah ada proposal, yang kita perlu perbaiki kembali. Bengkulu sudah siap tahun ini, Kalimantan utara mungkin tahun depan. Kalimantan utara mungkin tahun depan,” katanya kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan baru-baru ini.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ia menjelaskan, Indonesia akan mengalami booming lulusan SLTA pada 2017 setelah peningkatan lulusan kewajiban pendidikan menengah universal atau wajib belajar 12 tahun mulai lulus pada 2017. Dengan demikian, Indonesia membutuhkan banyak perguruan tinggi untuk menyerap. 

“Itu kan tidak hanya bisa dipenuhi oleh perguruan tinggi yang didirikan oleh negara atau PTN, tentu dibutuhkan PTS. Ini mengantisipasi ledakan yang akan dimulai pada 2017. Makanya, perguruan tinggi NU sudah melakukan identifikasi beberapa pasar, berapa lulusan SMA yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi, berapa responnya. Ini yang sekarang kita lakukan,” katanya. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Kita akan melihat, tidak semua daerah akan mendirikan perguruan tinggi. Bahkan kami akan menolak jika tidak memiliki potensi. Kalau kekayaanya terserak, akan dikonsolidasikan antara dua atau tiga cabang NU,” imbuhnya.

Menurutnya, terdapat empat beberapa tantangan pendirian perguruan tinggi NU, pertama soal kepemilikan aset. Kedua, kesiapan infrastruktur pembelajaran, mulai dari lab, bengkel, perpustakaan. Ketiga, kesiapan SDMdan biaya operasional.

“PBNU memberi jaminan 3 milyar per program studi, kalau ada 10 prodi kan 3.5 milyar rupiah dan PBNU siap lah untuk itu. Tetapi masing-masing daerah harus punya dana operasional,” tandasnya.

Untuk itu, PBNU sudah melakukan sejumlah pelatihan bagi perguruan tinggi baru seperti pelatihan manajemen pemasaran, manajemen pencitraan, manajemen aset, dan lainnya agar pengelolaan perguruan tinggi tersebut bisa berjalan dengan baik.

Sejauh ini, perguruan tinggi NU bisa digolongkan dalam dua kelompok, pertama, dimiliki langsung oleh PBNU yang dikelola dibawah Badan Pengelola Perguruan Tinggi NU (PT PTNU). Sementara itu, secara keseluruhan, perguruan tinggi berbasis NU tergabung di Lembaga Perguruan Tinggi NU (LPTNU) yang jumlah totalnya mencapai 2014.

“Tentu kita kepingin bersinergi positif sehingga ada sinergi yang luar biasa, merajut antara perguruan tinggi dan pesantren,” tandasnya. 

Ia juga mendorong beberapa perguruan tinggi NU yang selama ini masih independen untuk masuk dalam pengelolaan BP PTNU. Beberapa yang sudah positif masuk diantaranya adalah Universitas Islam Jember dan Universitas NU Surakarta. Beberapa lainnya masih dalam proses.

Ke depan, bukan hanya penambahan kuantitas, tetapi juga akan dikembangkan kualitasnya, “kita harus mengembangkan potensi untuk mengangkat keunggulan. Ini yang perlu kita kembangkan. Artinya ngak bisa perguruan tinggi kita tidak bermutu. Nanti kita petakan, mana yang potensial, diangkat sebagai unggulan.” (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ulama Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 03 Februari 2018

Pesantren Fathul Huda Gelar MTQ Ke-17

Purwokerto, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pondok Pessantren Fathul Huda Purwokerto menggelar Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat pelajar SMA sederajat. Acara ini mendapatkan antusias dari sekolah-sekolah SMA sederajat yang ada di Kabupaten Banyumas, Purbalingga, Cilacap dan Banjarnegara.

Pesantren Fathul Huda Gelar MTQ Ke-17 (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Fathul Huda Gelar MTQ Ke-17 (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Fathul Huda Gelar MTQ Ke-17

Setiap tahunnya pada kegiatan tersebut, tak kurang dari 50 sekolah selalu mengirimkan siswanya secara rutin untuk mengikuti kegiatan tersebut. Acara yang digelar mulai tanggal 18-20 Juli 2014 ini menjadi acara MTQ yang ke-17 bagi Pesantren Fathul Huda.

“Ini merupakan acara rutin yang diadakan oleh Pondok Pesantren kami. Memang dulu sempat vakum namun hanya beberapa tahun saja. Untuk tahun 2014 sekarang ini merupakan MTQ yang ke-17 sejak diadakan pertama kali pada tahun 1994,” tutur Windra, Ketua Panitia MTQ.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sementara Pengasuh Pondok Pesantren Fathul Huda K.H. Rachmat Burhani, dalam sambutannya bersykur melalui kegiatan tersebut, setiap tahun selalu lahir qori-qoriah tingkat SMA yang memiliki kualitas bagus. Sehingga kegiatan tersebut selalu rutin diadakan setiap tahun. “Selain menjadi ajang pencarian bakat qori-qoriah, MTQ juga sebagai media untuk berdakwah melalui seni Tilawatil Qur’an,” ungkapnya.

Pada MTQ ke-17 tingkat pelajar SMA sederajat se-eks Karesidenan Banyumas ini, panitia mengambil tema “Meneguhkan Akhlaqul Karimah Generasi Muda Islam dengan Membaca dan Mengamalkan Al-Qur’an.” Tema ini merupakan refleksi atas kondisi generasi muda Indonesia yang tidak sesemangat generasi pendahulunya dalam mempelajari al Qur’an.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sebelum ajang MTQ dimulai, seluruh peserta wajib mengikuti Training Center selama 2 hari, yaitu tanggal 18-19 Juli 2014. Tahun ini, yang menjadi trainernya adalah Ustadzah Mariani dari Banyumas. Dilanjutkan dengan seleksi awal pada tanggal 19 Juli siang..

“Memang sudah dua tahun ini, kami menggunakan sistem seleksi untuk menentukan peserta yang menuju final. Ya semacam audisi.” Lanjut Windra.

Acara yang digelar di Aula Pon-Pes Fathul Huda ini diikuti oleh sekitar 53 peserta. Memang secara kuantitas, peserta yang ikut menurun dari tahun 2013 sebanyak 74 peserta. Hal ini disebabkan karena seleksi yang semakin ketat, sehingga tidak semua peserta tidak bisa ikut dalam kompetisi ini.

“Kami senang karena bisa belajar variasi-variasi baru dan itu sangat membantu kami untuk mengembangkan seni tilawatil Qur’an. Ini bukan sekadar kompetisi, tapi juga banyak unsur pembelajarannya,” jelas Muhammad Ibnu Luthfi, salah satu peserta MTQ Putra yang merupakan delegasi SMK Wiworotomo Purwokerto.

Dari seluruh jumlah peserta yang ikut seleksi pada hari ini, akan dipilih 15 qori dan 15 qoriah yang akan masuk babak final untuk memperebutkan juara I, II, dan III yang dilaksanakan esok tanggal 20 Juli 2014. (Slamet dan Fuad Hasyim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ulama Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 25 Januari 2018

PWNU Jabar Intsruksikan Warga Tak Terlibat Konflik Sosial

Bandung, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat Eman Suryaman menginstruksikan kepada seluruh cabang-cabang NU di Jawa Barat agar jangan sampai terlibat dalam konflik sosial. Hal ini terkait berbagai aksi kekerasan agama yang kerapkali terjadi di wilayah Jawa Barat.

"NU adalah ormas Islam yang menghormati kebhinnekaan, artinya menerima pihak manapun dalam membangun negara yang maju, aman dan damai. NU juga harus menjaga netralitasnya dalam menghadapi segala konflik yang terjadi di Jawa Barat Khususnya dan Indonesia pada umumnya," tutur Eman.

PWNU Jabar Intsruksikan Warga Tak Terlibat Konflik Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Jabar Intsruksikan Warga Tak Terlibat Konflik Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Jabar Intsruksikan Warga Tak Terlibat Konflik Sosial

Eman juga mengatakan bahwa radikalesme harus segera dihentikan, karena Islam tidak mengajarkan kekerarasan, terlebih memaksakan orang lain untuk masuk ke ajaran manapun.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ditambahkan sebagai agama rahmatan lil alamin, seharusnya orang yang beragama Islam mampu memberikan pencerahan dengan cara-cara yang cantik. Para wali penyebar Islam di Nusantara pun sukses mengislamkan sebagian besar masyarakat Indonesia ? bukan dengan kekerasan, melainkan dengan mencontohkan ahlakul karimah dan uswatun hasanah.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Ada cara-cara yang lebih baik untuk menghadapi beberapa kelompok yang menyimpangkan agama daripada menyikapinya dengan kekerasan. Para wali saja bisa mengajak masyarakat yang bukan beragama Islam, masa yang melencengkan agama masa tidak bisa diajak kembali kepada ajaran yang sebenarnya?” katanya.

Ditambahkan, untuk meluruskan ajaran yang menyimpang seperti Ahmadiyah jangan menggunakan kekerasan, bahkan sampai dibunuh atau dianiaya. Ada cara-cara lain yang bisa membuat mereka tertarik kepada ajaran yang sesungguhnya.

"Mereka juga tahu ketika mereka lahir dan dibesarkan, Al-Qur’an yang jadi pegangan mereka sama dengan kita," pungkasnya?

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Zainal Mutaqin

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ulama, Humor Islam, Nahdlatul Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Detik-detik Kiai Wahab Chasbullah Nyaris Tertangkap PKI

Pemberontakan PKI di Madiun pada 18 September 1948 merupakan di antara tragedi yang sempat mengguncangkan stabilitas perjalanan kemerdekaan Republik Indonesia yang tempo itu masih jatuh bangun. Beberapa literatur menyatakan, dalam aksi ini beberapa pejabat, perwira TNI, pimpinan partai, alim ulama, dan rakyat yang dianggap tidak sehaluan dengan PKI dibunuh secara kejam. Sebelumnya PKI telah melancarkan propaganda anti pemerintah, mengadakan demonstrasi-demonstrasi, menculik lawan-lawan politik, dan menggerakkan kerusuhan di berbagai tempat.

Terlalu banyak data yang menjadi bukti peristiwa di atas. Di antaranya Majalah Aula edisi Mei 2007, sedikit telah menyajikan fragmen-fragmen kekejaman PKI dan segenap simpatisannya seperti dimaksud. Tapi di sini kami hendak spesifik menyajikan fakta sejarah yang berhasil dicatat oleh sejarahwan NU, KH. Saifudin Zuhri tentang Kiai Abdul Wahab Chasbullah yang hampir saja tertangkap oleh simpatisan PKI andai saja beliau tidak bersiasat mengubah identitas penampilannya. Kisah itu diutarakan Kiai Saifudin Zuhri dalam buku "Guruku Orang-orang dari Pesantren". Berikut ini kesaksian mantan mentri agama di era presiden Sukarno tersebut:

Detik-detik Kiai Wahab Chasbullah Nyaris Tertangkap PKI (Sumber Gambar : Nu Online)
Detik-detik Kiai Wahab Chasbullah Nyaris Tertangkap PKI (Sumber Gambar : Nu Online)

Detik-detik Kiai Wahab Chasbullah Nyaris Tertangkap PKI

"Aku laporkan bahwa menjelang pemberontakan PKI di Madiun, KH. A. Wahab Hasbullah, mengadakan latihan ulama di Ngawi. Aku baru pulang dari Ngawi 3 hari sebelum pecah pemberontakan PKI.

Ketika latihan ulama dibubarkan karena sudah selesai, tidak ada yang mengerti bahwa PKI mengadakan pemberontakan di madiun. Padahal jarak Ngawi dan Madiun dekat sekali. Para peserta latihan pulang ke daerahnya maing-masing.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

KH Abdul Wahab Chasbullah pulang ke Jombang dengan naik kereta api. Perjalanan ke Jombang ini harus melewati Madiun. Ketika telah mendekati Madiun, beliau baru mengerti bahwa di Madiun ada pemberontakan PKI, tetapi beliau sudah terlanjur berada dekat stasiun Madiun. Agar orang tidak mudah mengenali siapa beliau, terpikir olehnya untuk menghilangkan identitasnya. Sorban dilipat dimasukkan ke dalam tasnya. KH Abdul Wahab Chasbullah berhasil berdiplomasi dengan salah seorang di stasiun untuk memperoleh peci hitamnya. Peci hitam pun ia kenakan. Dengan peci hitam ini, orang tidak mudah mengenali Kiai Wahab. Maka, selamatlah beliau hingga tiba di rumahnya, di Jombang. Jika saja PKI mengenali Kiai Wahab, pastilah beliau dijadikan tawanan golongan kakap, dan entah bagaimana nasib selanjutnya. Tetapi syukur alhamdulillah Tuhan tetap melindungi beliau.

Sebuah pesantren di Madiun, lanjut kiai Saifudin Zuhri, kalau tidak salah pesantren Takeran, adalah pesantren pertama yang dijadikan sasaran pengganyangan oleh PKI. Beberapa santri menjadi korban dan pesantren dibakar. Sudah bukan rahasia lagi bahwa sasaran utama PKI adalah orang-orang republikan, pegawai pemerintah, dan laskar-laskar Hizbullah-Sabilillah, barisan banteng, barisan pemberontakan, dan lain-lain yang pro pemerintah Yogya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Suasana kota Yogya diliputi oleh kemarahan rakyat terhadap PKI dan Belanda, yang belakangan ini terus-menerus melanggar gencatan senjata dan melakukan insiden-insiden di tapal batas. Korban banyak yang jatuh di kedua belah pihak. Yogya diliputi oleh awan gelap, penuh tanda tanya bagaimana keluar dari kegentingan yang mendalam ini. "Demikian fragmen cerita yang direkam KH. Saifudin Zuhri. (M Haromain)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Jadwal Kajian, Olahraga, Ulama Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 24 Januari 2018

Perangi Narkoba, Pesantren Harus Jadi Percontohan

Pamekasan, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Hingga saat ini, pesantren menjadi salah satu lembaga pendidikan dan keagamaan yang berjasa besar dalam menanggulangi geliat sindikat narkoba. Sistem pembinaan dan kedisiplinan di dalamnya menjadi ruh untuk meredam serangan barang haram tersebut.

Demikian penegasan Sekjen Badan Ansor Anti Narkoba (Baanar) Ra Ghufron saat sharing kenarkobaan di Depot Andayani, Pamekasan, Selasa malam (13/9). Dikatakan, dalam menanggulangi narkoba, pesantren harus jadi percontohan.

Perangi Narkoba, Pesantren Harus Jadi Percontohan (Sumber Gambar : Nu Online)
Perangi Narkoba, Pesantren Harus Jadi Percontohan (Sumber Gambar : Nu Online)

Perangi Narkoba, Pesantren Harus Jadi Percontohan

"Sindikat narkoba sekarang bergerak kian bebas. Penegakan hukum kita masih lemah. Bahkan, aparat penegak hukum terindikasi menjadi bagian dari sindikat narkoba," terang Ra Ghufron.

Menurutnya, berbagai ruang kehidupan masyarakat dalam sasaran narkoba. Termasuk ruang lingkup lembaga pendidikan.

"Lembaga-lembaga pendidikan berpotensi besar jadi lumbung peredaran narkoba. Sehebat seperti apapun sistem pendidikannya, kalau tidak mengantisipasi serangan narkoba, itu sangat bahaya," ujar Ra Ghufron.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Untuk hal itu, tambahnya, sekolah-sekolah bisa mencontoh pesantren yang betul-betul menyentuh kehidupan anak didik (santri) secara utuh. (Hairul Anam/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ulama, Hikmah, News Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 17 Januari 2018

Ki Dalang Asep Sunandar Lakukan Ijtihad Pewayangan

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un, telah meninggal dunia dalang kondang wayang golek Ki Asep Sunandar Sunarya pada Senin, (31/3). Sebagaimana dilansir Pikiran Rakyat, ia meninggal di sebuah rumah sakit di Bandung, karena serangan jantung. ?

Ki Dalang Asep Sunandar Lakukan Ijtihad Pewayangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ki Dalang Asep Sunandar Lakukan Ijtihad Pewayangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ki Dalang Asep Sunandar Lakukan Ijtihad Pewayangan

Menurut peneliti di Lakpesdam NU Jawa Barat, Asep Salahudin, Asep Sunandar Sunarya atau akrab disapa Abah Asep, pada 10-15 tahun terakhir, tidak hanya berprofesi sebagai dalang murni, melainkan sebagai da’i. Profesinya yang utama sebagai dalang, tetap dilakukannya.

Dalam mementaskan wayang, Asep menilai, selain terampil menggerakkan boneka dengan dialog-dialog jenaka, Abah Asep juga menyampaikan pesan-pesan keislaman melalui tokoh-tokohnya. “Misalnya dalam dialog para punakawan, yaitu Semar dengan anak-anaknya.”

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Abah Asep, tambah Asep melalui saluran telpon pada Senin malam (31/3), mengingatkan kita pada Wali Songo yang melakukan dakwah dengan wayang.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Yang lebih menarik, kata Asep, pesan-pesan keagamaan yang disampakan Abah Asep bukan soal furu’iyah atau fiqih yang formal, melainkan ajaran Islam universal, misalnya ukhwah Islmiyah, kasih sayang, dan persaudaraan.

Ditanya apakah dakwah dengan wayang masih efektif, Asep Salahudin menjelaskan, bisa ya dan tidak. Menurut dia, setiap media itu memiliki segmennya masing-masing. “Wayang bisa jadi efektif bagi para orang tua.”

Tetapi mungkin tidak efektif bagi anak-anak yang baru lahir 10 tahun belakangan ini. Di samping itu, secara kewilayahan, wayang bisa efektif untuk kalangan pedesaan karena selama ini Abah Asep terbukti? banyak diundang manggung di wilayah itu, jarang di perkotaan.

Dalam dunia pedalangan, Abah Asep melakukan modifikasi dalam segi tema yang keluar dari cerita-cerita umum, juga modifikasi tokoh-tokohnya. “Ia telah berijtihad, melakukan modifikasi untuk mendekatkan wayang di dunia yang cepat berubah ini,” pungkas Asep Salahudin. (Abdullah Alawi) ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ubudiyah, Aswaja, Ulama Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 13 Januari 2018

Wawancara dengan Ketua Umum PBNU KH. Hasyim Muzadi tentang Amandemen UUD

Amendemen UUD 1945 yang diketok palu MPR pada 2002 lalu menimbulkan sejumlah persoalan krusial. Bukan saja pada kenyataan bahwa UUD kita dengan mudahnya dirubah untuk memenuhi keinginan segelintir orang pintar, namun berbagai tata politik-ekonomi juga ikut berubah secara radikal. Satu sisi perubahan itu adalah bagian dari perjalanan bernegara Indonesia menuju sebuah kemakmuran sejati, namun perlu diperiksa ulang bukankah justru perubahan itu malah menyebabkan keterpurukan bangsa Indonesia semakin meradang saja. Berikut wawancara Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan dengan Ketua Umum PBNU KH. Hasyim Muzadi di Lt. 3 Kantor. PBNU, Jakarta, pada tanggal 3 dan 5 Agustus 2006 lalu.

NAHDLATUL ULAMA membuat Maklumat dalam Munas dan Konbes di Surabaya yang isinya bahwa NU meneguhkan kembali komitmen kebangsaannya untuk mempertahankan dan mengembangkan Pancasila dan UUD 1945 dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). UUD 45 yang mana?

UUD 45 yang dimaksud adalah yang setelah amandemen.Tapi perlu direview apakah amandemen itu memang kebutuhan yang mendesak dan tidak terelakkan apakah baru merupakan kemauan-kemauan yang diakomodasi karena di setiap negera pasti dalam kurun tertentu ada perubahan, tapi sebatas kebutuhan yang mendesak, nah perlu direview apakah kebutuan mendesak atau lebih dri itu. Misalnya, UUD 45 dianggap terlalu ketat sehingga kekuasan utama berada berada di bawah eksekutif dimana yang lain-lain itu menjadi di bawah eksekutif kemudian menjadikan pemerintahan yang sentralistik, kemudian UUD 45 dikritisi.

Namun (amandemen itu) perlu direview sebenarnya kesalahan terletak pada UUD atau aturan per UU-an sebagai pelaksana dari UU. Sekarang contohnya begini, mengapa Pak Harto terpilih selama 6 kali itu apakah kerena UUD atau UU politiknya itu, dimana ketika itu DPR plus daerah adalah MPR, lembaga tertinggi, dimana terkooptasi oleh kekuatan eksekutif dengan masuknya tentara dan tentara ini kemudian bikin Golkar, nah kemudian bersatu dengan PNS (Korpri) baru masyarakat sebagai alat legalisasi.

Wawancara dengan Ketua Umum PBNU KH. Hasyim Muzadi tentang Amandemen UUD (Sumber Gambar : Nu Online)
Wawancara dengan Ketua Umum PBNU KH. Hasyim Muzadi tentang Amandemen UUD (Sumber Gambar : Nu Online)

Wawancara dengan Ketua Umum PBNU KH. Hasyim Muzadi tentang Amandemen UUD

Nah dalam kondisi semacam itu pasti deh presiden bisa semaunya sendiri, nah ini dulu sentralisme itu disebabkan karena UU atau UUD, karena dulu waktu Bung Karno ya tetep UUD 45 tapi jadinya revolusi, ada nasakom, lalu ganti pak harto yang menerapkan UUD secara murni dan konsekuen jadinya sentralisasi militerisasi dan sebagainya, ini sebenarnya kesalahannya dimana.

Itu mengenai masalah pemerintahan. Mengenai masalah HAM apakah ham ini kesalahan dari UUD ataukah aturan per-uu-an, kalau hanya aturan per-uu-an sebenarnya bisa dibuat oleh DPR.

Mungkin yang harus diamandemen adalah lembaga tertinggi, ini memang tencantum di dalam UUD 45 jadi bahwa lembaga tertinggi memilih presiden, masalahnya presiden bisa nggak mengkooptasi lembaga tertinggi, itu sangat tergantung pada UU pemilu dan UU politik. Itu kalau bicara tentang UUD 45 dan amandemen. Jadi kita tidak apriori menolak amandemen, tapi juga tidak apriori menyetujui semuanya. Jadi istilah saya perlu perenuangan kembali.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kuncinya dimana?

Apakah dengan amandemen itu sistem UU kita sekarang menjamin persatuan dan produktifiatas, kuncinya di situ. Apa tambah ruwet? Karena banyak lembaga ini anu; komisi ini komisi itu, sehingga tidak jelas. Kalau itu yang terjadi, sistem kita mengunci, sehingga kalau ada apa-apa tidak jelas siapa yang bertanggung jawab.

Nah negara yang sedang berkembang tidak cocok dengan stelsel semacam itu. Yang simpel mudah tapi punya leadership yang jujur, nah yang jujur itu tidak ada, karena yang tidak jujur lahirkan produk-produk peuuan yang hanya lahirkan justifikasi kekuasaaan. Yang saya ceritakan ini masa orba. Nah sekarang kakuasaan itu dibagi sekian banyak sehingga tidak jelas pintu mana penguasa itu sebetulnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sekarang sesuatu sudah diputuskan oleh DPR masih bisa direview oleh Mahkamah Konstitusi (MK), lalu ada Komisi Yudisial (KY, nah sementara ada KPK, nah posisi ini dilihat dari struktur koordinatif dengan Polri dengan Jaksa bagaimana, sekarang ada KPK yang menangkap orang tetapi tidak memutusi orang itu, yang memutisi adalah pengadilan, padahal dalam struktur pengadilan yang belum bersih tidak bisa untuk membawa misi KPK itu, sementara ini sudah terpisah dengan eksekutif, jadi ada pemisahan-pemisahan yang tidak bisa dikoordinasikan sekarang.

Nah pertanyaan selanjutnya yang dimaksud di sini perenungan kembali adalah apakah dengan sistim ini menjamin 1)persatuan bangsa, 2)kwalitas bangsa 3)produktifitas bangsa. Apakah kita akan mubazir terus dalam keterombang-ambingan.

Itu tadi yang sistem, nah kemudian sistem ini melahirkan kepemimpinan, nah kepemimpinan tentu tidak bisa pede jug

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pertandingan, Ulama, AlaNu Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 07 Januari 2018

Santri Raudlatul Mubtadiin Asah Kemampuan Menjahit

Majalengka, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pesantren Raudlatul Mubtadiin desa Cisambeng, Palasah, Majalengka mengadakan pelatihan menjahit rutin sepekan sekali bagi para santri. Pelatihan rutin yang dimulai sejak 2011 ini bertujuan membekali keterampilan dasar menjahi.

Rais Aam pesantren Raudlatul Mubtadiin Agus Rofii menginginkan melalui keterampilan menjahit ke depan salah satu pintu rezeki santri terbuka sebagai mata pencaharian.

Santri Raudlatul Mubtadiin Asah Kemampuan Menjahit (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Raudlatul Mubtadiin Asah Kemampuan Menjahit (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Raudlatul Mubtadiin Asah Kemampuan Menjahit

“Usaha menjahit itu cukup berpotensi. Keterampilan menjahit sangat dibutuhkan di masyarakat. Prospeknya juga bagus," kata Agus saat ditemui Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan di ruangan menjahit pesantren Raudlatul Mubtadiin, Ahad (5/10) sore.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Agus menambahkan, sejumlah program di pesantren mengarahkan para siswa menjadi seorang wirausahawan. Sehingga, para santri tidak jenuh untuk nyantri di sini karena kegiatan kita tidak terbatas pada mengaji saja.

Ia berharap para santrinya siap pakai di masyarakat ketika selesai mengaji di pesantren ini. (Aris Prayuda/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Doa, Khutbah, Ulama Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 01 Januari 2018

Madrasah Aliyah Ini Terapkan Koperasi Sistem Syariah

Pringsewu,Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Saat ini Koperasi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Pringsewu Lampung yang bernama Koperasi Al-Barakah telah menerapkan sistem keuangan syariyah dalam transaksi keuangan dengan para anggotanya.

Madrasah Aliyah Ini Terapkan Koperasi Sistem Syariah (Sumber Gambar : Nu Online)
Madrasah Aliyah Ini Terapkan Koperasi Sistem Syariah (Sumber Gambar : Nu Online)

Madrasah Aliyah Ini Terapkan Koperasi Sistem Syariah

Ditemui disela sela kesibukannya, Bendahara Koperasi Al Barakah Erman Siswadi mengatakan bahwa sistem ini diterapkan berdasarkan kesepakatan Rapat Anggota yang telah dilaksanakan beberapa waktu lalu.

"Hal ini juga merupakan hasil evaluasi komprehensif selama berjalannya koperasi yang tahun ini berganti nama menjadi Al Barokah dan telah berdiri selama 24 tahun ini," jelas Erman yang juga guru matematika MAN 1 Pringsewu.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dalam prakteknya jelas Erman, para anggota yang akan meminjam dana dapat direalisasikan berdasarkan jumlah simpanan pokok dan wajib yang telah disetorkannya ke koperasi.

"Jika para anggota ingin meminjam lebih dari dana simpanannya maka diarahkan untuk pembelian barang secara tidak tunai," jelasnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jika memang pinjaman tersebut bukan diperuntukkan untuk barang, lanjutnya, maka diikrarkan sebagai modal kerja yang selanjutnya akann menggunakan sistem bagi hasil.

"Koperasi Al Barakah juga memberikan kesempatan kepada para anggota yang berniat membeli barang melalui koperasi. Nanti kita bantu dana pembeliannya," terangnya didampingi Sekretaris Koperasi Muhammad Irzan.

Sistem seperti ini diterapkan dengan harapan seluruh aktivitas keuangan yang dijalankan akan sesuai dan berdasarkan hukum hukum Islam yang pada akhirnya nanti keberkahan rezeki akan senantiasa didapat oleh seluruh anggota. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ulama, Pendidikan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 21 Desember 2017

Aqiqah atau Qurban Dulu?

Pembahasan kali ini masih melanjutkan pertanyaan dari saudara Nurgianto yang ada di Lampung Barat. Adapun isi pertanyaannya adalah: Jika kita sampai dewasa belum diaqiqahi oleh orang tua kita manakah yang harus kita dahulukan antara kurban dan aqiqah?

Wa’alaikum salam warahamatullah wa barakatuh. Saudara Nurgianto yang mudah-mudahan selalu disayangi Allah. Sebenarnya dalam aqiqah dan qurban ada persamaan diantara kedua ibadah ini yakni sama-sama sunnah hukumnya menurut madzhab Syafi’i (selama tidak nadzar), serta adanaya aktifitas penyembelihan terhadap hewan yang telah memenuhi syarat untuk dipotong.

Aqiqah atau Qurban Dulu? (Sumber Gambar : Nu Online)
Aqiqah atau Qurban Dulu? (Sumber Gambar : Nu Online)

Aqiqah atau Qurban Dulu?

Sementara perbedaan yang ada diantara keduanya lebih pada waktu pelaksanaannya. Qurban hanya dapat dilakukan pada bulan DzulHijjah saja, sedangkan aqiqah dilaksanakan pada saat mengiringi kelahiran seorang bayi dan lebih dianjurkan lagi pada hari ketujuh dari kelahirannya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Saudara Nurgianto yang kami hormati Pada dasarnya aqiqah merupakan hak seorang anak atas orang tuanya, artinya anjuran untuk menyembelih hewan aqiqah sangat ditekankan kepada orang tua bayi yang diberi kelapangan rizki untuk sekedar berbagi dalam rangka menyongsong kelahiran anaknya.

Hal ini sesuai sabda Rasulullah saw: ? ? ? Artinya: aqiqah menyertai lahirnya seorang bayi (HR. Bukhari). Para ulama memberi kelonggaran pelaksanaan aqiqah oleh orang tua hingga si bayi tumbuh sampai dengan baligh.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Setelah itu, anjuran aqiqah tidak lagi dibebankan kepada orang tua melainkan diserahkan kepada sang anak untuk melaksanakan sendiri atau meninggalkannya. Dalam hal ini tentunya melaksanakan aqiqah sendiri lebih baik dari pada tidak melaksanakanya. Terkait dengan pertanyaan saudara, manakah yang didahulukan antara qurban dan aqiqah?

Menurut hemat kami jawabannya adalah tergantung momentum serta situasi dan kondisi. Apabila mendekati hari raya Idul Adha seperti sekarang ini, maka mendahulukan qurban adalah lebih baik dari pada malaksanakan aqiqah. Ada baiknya pula- apabila saudara menginginkan kedua-keduanya (qurban&aqiqah)- saudara mengikuti pendapat imam Ramli yang membolehkan dua niat dalam menyembelih seekor hewan, yakni niat qurban dan aqiqah sekaligus.

Adapun referensi yang kami gunakan mengacu pada kitab Tausyikh karya Syekh Nawawi al-Bantani:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya; Ibnu Hajar berkata: “Seandainya ada seseorang meginginkan dengan satu kambing untuk kurban dan aqiqah, maka hal ini tidak cukup”. Berbeda dengan al-‘allamah Ar-Ramli yang mengatakan bahwa apabila seseorang berniat dengan satu kambing yang disembelih untuk kurban dan aqiqah, maka kedua-duanya dapat terealisasi.

Konsekuensi yang mungkin kotradiktif dari pendapat imam Romli ini adalah dalam pembagian dagingnya, mengingat daging qurban lebih afdhal dibagikan dalam kondisi belum dimasak (masih mentah), sementara aqiqah dibagikan dalam kondisi siap saji. Problem ini tentunya tidak perlu dipermasalahkan karena cara pembagian tersebut bukanlah termasuk hal yang subtantif. Kedua cara pembagian daging tersebut adalah demi meraih keutamaan, bukan menyangkut keabsahan ibadah. Wallahu a’lam bisshawab. (Maftukhan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ulama Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 13 Desember 2017

NU-nisasi Orpol?

Oleh KH MA Sahal Mahfudh. Politik itu kenyal, seperti permen karet. Dikunyah terus tak pernah habis. Terkadang rasanya sudah habis, tapi orang masih terus mengunyahnya. Bagi orang yang telah terbiasa mengunyah permen karet, mungkin ia kecanduan dengan kebiasaan yang melekat itu. Rasanya tidak sreg bila pada forum apa saja atau pada kesibukan apa saja, tanpa mengunyah permen karet, dus mengaitkan aktivitas apa saja dengan politik.

Dalarn proses hidupnya, manusia rnemang tidak lepas dari pengaruh watak politis. Telah menjadi sunnatullah barang kali, setiap kelompok manusia ada yang dikuasai dan ada yang menguasai, ada yang diperintah dan memerintah, serta ada yang dipengaruhi dan mempengaruhi. Itulah konteks politik.

NU-nisasi Orpol? (Sumber Gambar : Nu Online)
NU-nisasi Orpol? (Sumber Gambar : Nu Online)

NU-nisasi Orpol?

Secara naluriah manusia selalu ingin menguasai, memerintah dan mempengaruhi. Meskipun pada tingkat-tingkat tertentu, sesuai dengan potensi dan otoritas yang dimiliki. Di sini kiranya dapat dibuktikan adanya adagium, politik merupakan kebutuhan hidup menurut naluri manusiawi. Masyarakat yang hidup dalam suatu negara yang berbentuk apa pun, tentu merasa sebagai makhluk yang berbangsa dan bernegara. Perasaan itu biasanya berkembang menjadi pengertian atau kesadaran kkritis. Dengan demikian mereka sudah terlibat langsung atau tidak, disadari atau tidak berada pada masalah politik. Hanya saja, karena keterbatasan tertentu, di antara mereka ada yang masuk pada golongan kaum elite politik dan ada yang hanya sebagai kaum awam politik. Kelompok kedua inilah yang terbanyak dari masyarakat Indonesia, termasuk warga NU.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kelompok kedua ini, kelihatan acuh tak acuh dan tidak punya perhatian terhadap masalah politik, kecuali secara temporer karena pengaruh dari panutan mereka yang masuk pada kelompok pertama. Pada momentum tertentu mereka ikut melakukan aktivitas politik dengan memberikan dukungan atau menolak atas wawasan politik tertentu. Umumnya mereka tidak bisa membedakan antara kultur politik dan struktur politik, apalagi pengetahuan soal infrastruktur dan suprastruktur politik. Meskipun kenyataannya mereka sudah terlibat, sekurang-kurangnya dalam kultur politik, yakni keseluruhan tata nilai, keyakinan, persepsi dan sikap yang mempengaruhi mereka dalam suatu sistem atau kegiatan politik.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

***

Warga Nahdlatul Ulama (NU) yang sebagian besar awam politik beserta ulamanya telah terlibat langsung atau tidak langsung dalam sejarah pembentukan negara dan bangsa Indonesia. Ketika zaman kolonial Belanda, NU dengan para ulama dan pesantrennya telah mampu menanamkan semangat wathaniyah (nasionalisme) dan kebencian terhadap penjajahan. Semangat itu berpengaruh luas pada masyarakat untuk merebut kemerdekaan Indonesia dan mempertahankannya. Ini merupakan tindakan politik secara kultural yang kemudian disebut peranan politik dalam sejarah bangsa.

Peranan kesejarahan tersebut sebenarnya juga merupakan khittah perjuangannya serta usahanya untuk mencapai tujuan organisasi, yaitu berlakunya syariat Islam ala Ahli al-Sunnah wa al-Jamaah di bumi Nusantara ini. Sikap dan kebijakan para ulama NU seperti itu, bukan tanpa alasan. Justru karena wawasan historis dan wawasan masa depan itulah, para ulama NU sadar akan sejarah yang telah, sedang dan akan berjalan.

Sejarah telah memberikan pelajaran kepada ulama NU, bahwa masuknya Islam di Indonesia sejak awal hingga zaman Wali Songo, tidak melalui jalan politik struktural, namun lewat usaha dan kegiatan yang seiring dengan proses transformasi kultural. Strategi itu menguntungkan, karena tidak menimbulkan perdebatan konflik batin maupun fisik bagi masyarakat sasaran.

Transformasi budaya ini masih terus berproses dan akan terus berproses sejalan dengan perkembangan kehidupan manusia. Bagi NU, ini sebuah tuntutan yang mendorong orrnas Islam terbesar itu, untuk melakukan kegiatan sosial kemasyarakatan yang berpengaruh langsung atau tidak langsung dalam menumbuhkan dan membentuk budaya bernilai Islam.

Adanya indikasi tumbuhnya antusiasme keagamaan Islam di seluruh Indonesia saat ini, merupakan titik cahaya yang akan memberikan terobosan bagi NU untuk memperoleh kesempatan mengisi nilai budaya secara Islami. Tujuan NU bisa terwujud melalui kulturisasi politik tanpa harus menimbulkan ketegangan-ketegangan.

Inilah sebenarnya yang ingin dicapai oleh para ulama NU dengan keputusan strateigisnya, kembali ke Khittah 26. Khittah 26 telah berkali-kali diuji dengan keluar-masuknya NU pada kegiatan po1itik struktural. Ternyata ia masih tetap merupakan garis lurus vertikal mau pun horisontal yang patut menjadi landasan perjuangan NU dan tetap mempunyai relevansi kuat. Khitah 26 akan selalu mampu menarik NU ke tengah-tengah pergumulan sejarah bangsa yang masih panjang. Dengan demikian keberadaan di tengah bangsa Indonesia ini, justru bagai pupuk yang sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas kehidupan dan keberagamaan demi kemajuan optimal bagi bangsa ini.

Di sinilah letak dasar ukuran umum dan wajar yang selalu dipegang oleh para ulama NU sejak berdirinya sampai sekarang. Pada dasar ukuran ini pula terletak kesimpulan, Khittah 26 sejak lahir belum pernah "minus". Khittah 26 cukup sarat dengan berbagai nilai yang kuat relevansinya di segala zaman. Tidak pernah dan tidak akan ada istilah "Khittah Minus".

Nahdlatul Ulama dalam sejarahnya sejak lahir tahun 1926 mengalami perubahan kecil atau besar, internal atau eksternal; mulai dengan bergabung ke MIAI, Masyumi, kemudian jadi partai politik dan berfusi ke dalam PPP. Akhirnya kembali menemukan jatidirinya yang asli, menjadi jamiyah diniyah ijtimaiyah mahdloh (organisasi masyarakat keagamaan murni) yang secara organisatoris tidak mengkaitkan dirinya dengan organisasi politik mana pun.

***

Perubahan tersebut secara umum banyak dipengarahi oleh faktor eksternal dan secara kbusus diletakkan pada strategi yang dipertimbangkan sesuai dengan zamannya. Para ulama NU baik yang terlibat langsung dalam struktur organisasi NU maupun yang di luar struktur, terutama para ulama pengasuh pesantren memberikan kesepakatan bulat atas kembalinya NU pada khittahnya.

Mereka memang punya kepekaan sosial yang tinggi -meskipun bukan tergolong elite politik. Justru identitas mereka adalah faqih fi mashalih al-khalqi. Kepekaan sosial dan pengalaman empirik mereka pada saat NU secara langsung atau tidak langsung terlibat pada politik praktis, mendorong mereka untuk menelaah kembali secara lebih terinci sosok NU menurut esensinya dalam konteks perjuangan keagamaan Islam di Indonesia, dari satu masa ke masa yang lain. Setelah Muktamar NU ke-25 di Surabaya tahun 1975, tepatnya dalam Konferensi besar (Konbes) pada tanggal 5-8 Mei 1975 di Jakarta, dikeluarkan “Pernyataan Pemantapan Kedudukan dan Fungsi Jamiyah Nahdlatul Ulama".

Ada tiga pokok isi dari pernyataan itu yang sangat penting bagi umat NU khususnya dan bangsa serta negara Indonesia umumnya. Pertama memantapkan kedudukan dan fungsi jamiyah NU sebagai organisasi yang menitikberatkan perjuangannya selaku organisasi umat yang berdasarkan ‘aqidah, syariah dan thariqah Islam Ahlu al-Sunnah wa al-Jamaah dan bergerak di bidang dakwah, pendidikan, sosial, ekonomi dan budaya, untuk kesejahteraan umat dalam rangka pembangunan bangsa dan manusia Indonesia seutuhnya.

Kedua, dalam masa pembangunan nasional sekarang ini, NU akan meningkatkan darma baktinya secara persuasif dan edukatif, untuk menciptakan stabilitas dan persatuan nasional, meningkatkan kesadaran dan moral bangsa, serta mendidik hidup berkonstitusi dan berdemokrasi.

Ketiga, jamiyah NU akan berpartisipasi dalam pembangunan nasional, baik material maupun spiritual untuk mencapai cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana terkandung dalam Pembukaan UUD 1945, serta ikut membina ketahanan nasional. Pernyataan tersebut dikeluarkan atas pertimbangan pertama dalam konsiderannya, bahwa NU mengembalikan kedudukan dan fungsinya seperti ketika dibentuk pada tanggal 16 Rajab 1344 H atau 30 Januari 1926 M.

Proses perubahan yang terakhir itu cukup panjang. Dari Muktamar 1971, Konbes 1975, Munas 1983 dan Muktamar 1984. Tigabelas tahun berproses. Suatu kurun waktu cukup panjang yang tentu saja sarat dengan berbagai masalah dan liku-liku konstelasi sosial-. Bahkan bersamaan dengan akhir proses perubahan itu, dengan tekad bulat tanpa didorong oleh perundang-undangan, NU telah menyatakan menerima Pancasila sebagai satu-satunya asas organisasi.

Terlihat di sini, kemampuan NU memadukan antara falsafah negara sebagai buah pikiran manusia yang kemudian menjadi dasar pengikat pada komunitas nasional di dalam berbangsa dan bernegara dengan doktrin keagamaan Islarn sebagai wahyu Allah yang kemudian menjadi dasar pengikat dalam komunitas keberagamaan. Suatu perpaduan yang amat penting artinya bagi bangunan stabilitas di suatu negara.

Perpaduan itu telah dapat dibuktikan oleh NU sendiri secara implementatif dengan rumusan Khittah 26 yang telah ditemukan kembali sebagai ciri intrinsik, yang tidak bisa lepas dari ujud dirinya. Bila ciri itu dilepas -dengan menambah atau mengurangi rumusan khittah- berarti NU kehilangan wujud diri yang sesungguhnya.

Para ulama sebagai penerus dan pewaris para pendiri NU, tidak akan merelakan hal itu terjadi. NU dengan rumusan Khittah 26 seperti itu, telah membebaskan warganya dalam menyalurkan aspirasi politik untuk rnenegakkan kepemimpinan (nashbu al-imamah) lewat salah satu Orpol.

***

Pembahasan soal ini sebenarnya merupakan pendidikan bagi eksekutif (birokrat) untuk menumbuhkan kesadaran hidup berkonstitusi dan berdemokrasi. Sekaligus juga sebagai upaya mengubah sedikit demi sedikit watak paternalistik mereka dalam hal berpolitik, sehingga akan makin dewasa dan obyektif dalam menyalurkan aspirasi rakyat banyak.

Kemandirian berpolitik seperti itu akan menumbuhkan sikap kritis dan dinamis untuk mengembangkan aspirasi rakyat atau paling tidak menyadarinya. Bisa jadi aspirasi agama, ekonomi, pendidikan dan budaya, akan mudah dicerna apabila melalui pendidikan politik secara kultural.

Tampak NU ingin mendidik warganya secara kultural untuk menjadi insan politik yang kritis dan dinamis tanpa harus menunggu perintah panutannya, tanpa harus terikat oleh petunjuk seseorang dan tanpa adanya ketergantungan pada arahan seseorang. Kedewasaan seperti ini akan menuntut kemauan dan kemampuan Orpol mana pun untuk menyerap aspirasi warga NU yang beraneka ragam, tidak saja aspirasi keagamaannya.

Orpol harus bersikap dan berperilaku aspiratif dan akomodatif terhadap kebutuhan warga NU. Bila aspirasi semacam itu bisa disalurkan dan dipenuhi, kiranya warga NU dengan ke-NU-annya tidak akan memerlukan lagi suatu wadah khusus yang dikelola sendiri atau dengan kata lain "Orpolisasi NU". Karena semua aspirasi warga NU telah dapat ditampung dan diupayakan realisasinya oleh Orpol tertentu, yang berarti dengan kata lain adalah "NU-nisasi Orpol".

Meskipun ada isu yang menginginkan memparpolkan NU pasca Pemilu 1987, namun Munas Alim Ulama NU dan Konbes NU pada tanggal 15 s/d 18 November 1987, berlangsung mulus tanpa gejolak dan ketegangan. Sejumlah 25 utusan wilayah ketika diberi kesempatan mengutarakan uneg-uneg dalam forum Munas dan Konbes, tidak satupun yang merespon isu tersebut. Bahkan seluruhnya melaporkan segi-segi posisif penerapan Khittah 26.

Keinginan memparpolkan NU memang punya alasan, mengingat warga NU ketika menjelang Pemilu mengalami kebingungan. Kebingungan itu menjadi indikator belum mapannya wawasan politik praktis warga NU, walaupun sudah cukup lama menjadi anggota Partai Politik NU dan kemudian menjadi penyangga PPP.

Namun perlu diingat, kebingungan itu muncul bukan lantaran NU kembali kepada Khittah 26. Sama sekali bukan karena rumusan Khittah 26 itu sendiri. Kebingungan itu terjadi akibat belum meratanya sosialisasi Khittah. Persepsi mereka tentang Khittah tidak sepenuhnya sesuai dengan yang sebenarnya. Sementara sikap beberapa pimpinan dan ulama NU mengabaikan prinsip tawassuth yang telah digariskan oleh Khittah 26.

Kebingungan seperti itu juga wajar, sebagai akibat dari masa transisi yang kebetulan didukung oleh watak paternalistik warga NU. Bagaikan burung perkutut yang telah cukup lama terperangkap dalam kurungan dan diloloh terus oleh pemiliknya, ketika dilepas dari kurungan untuk mencari makan sendin dan bebas bergabung dengan sejenisnya, maka dalam beberapa waktu ia pasti mengalami kebingungan. Tetapi itu tak akan berjalan lama. Ia akan segera mampu terbang bebas, sesuai dengan alam aslinya dan khittahnya.

Walaupun tidak ada istilah mayoritas minoritas, namun kenyataan menunjukkan bahwa penduduk Indonesia yang terbanyak adalah muslim. Sekitar 75% sampai 80% di antaranya berada di pedesaan. Sebagian besar warga NU pun ada di pedesaan. Penduduk pedesaan itu pada umumnya masih berada di bawah pengaruh para ulama NU yang notabene tidak tergolong kaum elite politik.

Penelitian di lapangan menunjukkan, para ulama NU di pedesaan merasa lebih tenang dengan kembalinya NU kepada Khittah 26, ketimbang masa-masa sebelumnya. Para kiai itu makin mudah berkonsentrasi dan terbuka dalam memikirkan kemaslahatan warganya. Hampir semua bentuk aktivitas di masyarakat sekarang, warga NU terlibat di dalamnya. Di sinilah NU mempunyai banyak kesempatan mempengaruhi mereka untuk dakwah dan menanamkan nilai-nilai Aswaja, seiring dengan proses transformasi kultural.

***

Dari sisi lain timbulnya ide Orpolisasi NU merupakan perbedaan pendapat yang wajar. Dinamika semacam itu diperlukan sepanjang masih menyangkut kepentingan umat dan warga NU sendiri, bukan untuk memenuhi interes pribadi atau kelompok tertentu. Segi positif yang muncul, NU membebaskan warganya mau pun pimpinannya untuk berpendapat dan saling menghargai. Namun perbedaan itu tidak berarti adanya pertentangan internal, apalagi perpecahan.

Tradisi yang masih kental di kalangan ulama NU adalah sikap "sepakat dalam khilaf”, sehingga tak akan mengganggu jalannya roda organisasi. Kedewasaan berorganisasi dan berdemokrasi di dalam NU akan terlihat dari sisi ini. Tetapi perbedaan itu hanya membawa faedah, jika dapat diarahkan untuk membuat demokrasi menjadi "proses belajar dan memecahkan masalah." Ikhtilaf itu memang rahmat.

*) Diambil dari KH MA Sahal Mahfudh, Nuansa Fiqih Sosial, 2004 (Yogyakarta: LKiS). Tulisan ini pernah dimuat majalah Aula edisi No.10 Tahun IX, Desember 1987. Judul asli "Orpolisasi NU atau NU-nisasi Orpol?"

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ulama, IMNU, Internasional Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 03 Desember 2017

Lukman Edy Gantikan Saifullah, Mbah Idris Keberatan

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Sekjen DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Lukman Edy bakal menggantikan Menteri Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal Saifullah Yusuf. Pencopotan Saifullah Yusuf itu terkait kepindahannya ke Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Lukman Edy memenuhi panggilan Presiden Yudhoyono pada Sabtu malam (5/5) di kediaman di Cikeas, Kabupaten Bogor, Jabar. Tokoh kelahiran Teluk Pinang itu bakal menjadi menteri termuda di usia 37 tahun. Presiden memintanya untuk memperkuat Kabinet Indonesia Bersatu.

Lukman Edy Gantikan Saifullah, Mbah Idris Keberatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lukman Edy Gantikan Saifullah, Mbah Idris Keberatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Lukman Edy Gantikan Saifullah, Mbah Idris Keberatan

"Pak Presiden bercerita tentang visi beliau soal pembangunan dan kerakyatan. Oleh sebab itu saya menyatakan bahwa saya satu visi dengan Presiden dan siap untuk membantu bersama-sama mengembangkan dan meningkatkan pembangunan di sektor rakyat," katanya usai bertemu presiden.

Dikatakannya, selain masalah pembangunan nasional, presiden juga membahas perkembangan di tubuh PKB dan Nahdlatul Ulama (NU).

Sementara itu Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, KH Idris Marzuqi yang juga salah satu ketua syuriah Pengurus Besar (PB) NU, Ahad (6/5), mengungkapkan keberatannya atas pencopotan Saifullah Yusuf yang menurutnya sangat dekat dengan kalangan ulama dan pondok pesantren.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dikatakan, Lukman Edy yang bakal menggantikan Syaifullah bukan merupakan representasi dari Nahdlatul Ulama, namun lebih mewakili PKB.

Bahkan Mbah Idris, panggilan kehormatan KH Idris Marzuqi, meminta Presiden Yudhoyono mendengarkan aspirasinya dengan mempertimbangkan kembali penggantian Gus Ipul. ”Bila ingin tetap mendapatkan dukungan dari NU dan pondok pesantren,” katanya.

Saifullah Yusuf sendiri mengaku merasa legawa bila ia digantikan oleh orang lain, sebagai konsekuensi kepindahannya dari PKB ke PPP.(ant/nam)



Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Kiai, Syariah, Ulama Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 02 Desember 2017

Bupati Banyumas Resmikan Ruang Kelas Baru MI Maarif NU

Banyumas, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Bupati Banyumas Achmad Husain meresmikan ruang kelas baru Madrasah Ibtidaiyah (MI) Maarif Nahdlatul Ulama (NU) Desa Pancurendang, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Acara peresmian sekaligus syukuran ruang kelas baru tersebut digelar di aula MI Maarif NU Pancurendang, Ahad (30/4).

Bupati Banyumas Resmikan Ruang Kelas Baru MI Maarif NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Banyumas Resmikan Ruang Kelas Baru MI Maarif NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Banyumas Resmikan Ruang Kelas Baru MI Maarif NU

Dalam sambutannya Husain mengucapkan selamat atas dibangunnya ruang kelas baru. "Selamat kepada MI Maarif NU Pancurendang, semoga ruang kelas baru menjadi berkah," katanya.

Husain juga mengucapkan terima kasih kepada pengurus MI Maarif NU Pancurendang yang telah membantu mensukseskan program pemerintah.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selain meresmikan ruang kelas baru, MI Maarif NU Pancurendang juga meluncurkan program Celengan 1000 bagi siswa-siswi MI Maarif NU Pancurendang. "Program ini adalah program amal bagi siswa-siswi. Tujuannya untuk menganjurkan mereka bersedekah dan berbagi," kata Ketua Komite Madrasah Slamet Ibnu Ansori.

Uang hasil celengan tersebut, kata Slamet, digunakan untuk menunjang pembangunan gedung MI Maarif NU Pancurendang yang akan datang.

Selain Bupati Banyumas, dalam kesempatan itu hadir juga angota DPR RI Siti Mukaromah (Erma), pengurus NU Pancurendang, segenap wali murid, serta siswa MI Maarif NU Pancurendang. (Kifayatul Akhyar/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ulama Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 17 November 2017

Sistem Organisasi NU Perlu Ditata Ulang

Jember, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Muchith Muzadi berpendapat, sistem organisasi NU perlu ditata ulang. Menurutnya, penataan ulang yang meliputi struktur dan rentang kendali terhadap badan otonom, lajnah dan lembaga, sangat penting mengingat semakin kompleksnya persoalan yang dihadapi NU saat ini.

“Sekarang ini NU mengontrol (Gerakan Pemuda-Red) Ansor saja sudah kewalahan,” tandas Mbah Muchith—begitu panggilan akrabnya—kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan di kediamannya, di Jember, Sabtu (3/3) kemarin.

Hal lain yang juga perlu mendapat perhatian, menurut Mbah Muchith, adalah fenomena banyaknya kalangan muda yang mengaku intelektual NU, tapi pola pikirnya tidak sejalan dengan pola pikir NU. Bahkan, imbuhnya, ada yang sudah berani mempertanyakan kemurnian kitab suci Alquran.

Sistem Organisasi NU Perlu Ditata Ulang (Sumber Gambar : Nu Online)
Sistem Organisasi NU Perlu Ditata Ulang (Sumber Gambar : Nu Online)

Sistem Organisasi NU Perlu Ditata Ulang

“Kalau mereka sudah mempersoalkan keotentikan Alquran, ganti perlu kita persoalkan mereka, apa pikiran semacam itu sesuai dengan pemikiran NU?” gugat Mbah Muchith yang juga kakak kandung Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi.

Pemikiran yang menurut Mbah Muchith sangat ke-Barat-barat-an itu justru akan merusak NU dari dalam. Mereka menggerogoti sendi-sendi NU yang menjadi tumpuan kekuatan perjuangannya. “Ini perlu dipikir ulang, semua itu dianggap wajar, lalu dibiarkan saja berkembang semaunya, atau perlu dipikir ulang untuk dikembalikan pada garis-garis pemikiran NU yang sudah ada,” terangnya.

Sejak kelahirannya, kata Mbah Muchith, NU sudah membawa cita-cita ideologi, yaitu mempertahankan dan mengembangkan ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah ala Empat Mazhab. NU lahir membawa misi akidah, syariat, akhlak dan harakah (gerakan). “Jadi kelahiran NU itu sebuah gerakanb yang tak lepas dari misi akidah,” jelasnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Tokoh NU yang kini berusia 81 tahun itu menuturkan, dulu NU didirikan dengan sistem kepengurusan yang serba sederhana. Pengurus terdiri dari para kiai dibantu sebagian orang yang bukan kiai. Belum ada badan otonom, lajnah maupun lembaga. Namun struktur kendali NU sudah jelas.

Karena bidang garapan NU semakin banyak, dibentuklah bidang mabarot, dakwah, pendidikan dan ekonomi. Lalu muncullah pemikiran tentang kaderisasi. Gerakan Pemuda Ansor salah satu jawabannya yang berfungsi sebagai wadah kalangan muda NU.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Namun demikian, lanjutnya, semua kegiatan tetap bergantung sepenuhnya pada kebijakan pengurus cabang NU masing-masing. “Jadi mereka itu muncul di NU ketika NU sudah mempunyai tujuan, arah dan rentang kendali yang sudah jelas. Mereka hanya bagian dari NU,” kata Mbah Muchith.

Kalau saat ini mereka tidak sejalan dengan NU dan sulit dikendalikan, ia mengaku tidak mengerti. Dalam banyak kesempatan, ia menyebut GP Ansor sebagai ‘Anak Mbarep’ (anak pertama) NU. “Bukan tetangga NU, apalagi pesaing NU,” tandasnya.

Mengaca pada perkembangan terakhir yang terjadi, kiai yang satu generasi dengan KH Achmad Shidiq, KH Sullam Syamsun dan KH Munasir itu merasa ada sesuatu yang perlu dipikir ulang secara keseluruhan dari NU. Baik soal perkembangan struktur, tata kerja maupun tata pendapat di dalamnya.

Sekretaris pribadi KH Achmad Shidiq itu menjelaskan, NU lahir dipimpin para ulama dengan membawa misi yang jelas. Oleh karena itu, kalau ada orang yang merasa tidak cocok dengan NU, sebaiknya jangan ikut NU. NU, katanya, ibarat sebuah kereta api, yang masinis dan penumpangnya harus ikuti trayek yang sudah ditentukan. “Orangnya yang ikut NU, bukan NU yang ikut orang,” pungkasnya.

Mantan Komandan Kompi Hizbullah Bangilan itu mengakui, masa lalu memang tidak semuanya benar. Tapi masa sekarang, jelas lebih banyak yang tidak benar. Karenanya, ia berharap agar PBNU sebagai lembaga tertinggi, memikirkan masalah tersebut. (sbh)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Internasional, Quote, Ulama Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 12 November 2017

Wali Nyantri kepada Kiai Said (Bagian III)

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan 

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menceritakan tentang toleransi dalam Islam kepada para personel grup musik Wali yang bersilaturahim ke PBNU beberapa waktu lalu. Kiai Said mencontohkan toleransi pada zaman awal Islam dan dilakukan langsung Nabi Muhammad SAW sendiri. 

Wali Nyantri kepada Kiai Said (Bagian III) (Sumber Gambar : Nu Online)
Wali Nyantri kepada Kiai Said (Bagian III) (Sumber Gambar : Nu Online)

Wali Nyantri kepada Kiai Said (Bagian III)

Menurut Kiai Said, Nabi Muhammad pernah berkata, pada suatu saat nanti agama Islam akan sampai ke Mesir dengan tangan Umar bin Khatab.

“Islam akan sampai ke Mesir berkat tanganmu, Umar, berkat perjuanganmu,” ceritanya kepada manajer Wali dan personelnya yaitu Apoy yang ditemani Farhan ZM atau Faank (vokalis), Ihsan Bustomi, dan Hamzah Shopi, serta manajemen Wali, di ruangan Kiai Said, lantai tiga gedung PBNU, Jakarta, Rabu sore (18/1).

(Baca: Wali Nyantri kepada Kiai Said (Bagian I))

Namun, kata Kiai Said, Nabi Muhammad mengingatkan Umar agar menjaga kehormatannya Kristen Qibthi (sekarang disebut Koptik). Mereka jangan dimusuhi. Amanat Nabi Muhammad itu dijaga sampai sekarang oleh umat Islam Mesir. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Perang Salib pernah terjadi, tapi Kristen Koptik tidak diganggu,” lanjut kiai asal Cirebon, Jawa Barat tersebut. 

Pada peristiwa lain, Kiai Said menceritakan Nabi Muhammad ketika mendapatkan kemenangan, yaitu Fathu Mekkah. Ketika Nabi Muhammad masuk mekkah, sebagian sahabatnya ada yang menganggap bahwa hari itu adalah untuk membalas dendam kepada kafir Mekkah. Dendam itu dalam bentuk membunuh kepada orang yang telah melakukan pembunuhan kepada orang Muslim (qishas).

Namun, Nabi Muhammad tidak membenarkan anggapan sahabat tersebut. Hari itu, menurut Nabi adalah hari silaturahim umat Islam dengan penduduk Mekkah.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Enggak, hari ini hari membangun silaturahim, semua penduduk Mekkah saya maafkan,” ungkap Kiai Said mengumpamakan perkataan Nabi Muhammad.

(Baca: Wali Nyantri kepada Kiai Said (Bagian II))



Sebelum kedatangan Nabi Muhammad ke Mekkah itu, lanjut Kiai Said, ada 15 penduduk Mekkah yang kabur karena ketakutan. Lima belas orang tersebut menyangka bahwa kaum Muslimin akan melakukan pembalasan. Di antara yang kabur tersebut Ikrimah, anaknya Abu Jahal. 

“Yang lari, dijemput, saya maafkan, saya maafkan,” lanjut Kiai Said, mengumpamakan ungkapan Nabi Muhammad.

Menurut Kiai Said, NU adalah Ahlussunah wal-Jama’ah. Prinsipnya moderat dan toleran, menjalin persaudaraan sesama uamt Islam, sesama warga bangsa, sesama manusia. 

“Jadi, NU Tidak ada celah untuk radikal, toleran, moderat. Cita-citanya membangun persaudaraan sebangsa setanah air. Jadi, radikal tidak akan hidup di NU,” tegas Kiai Said. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Sejarah, Ulama Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 21 Oktober 2017

Habib Luthfi, Nasionalisme, dan Kharismanya di Hadapan Ulama Dunia

Oleh Much. Ngisom Cholil



Hajatan besar Jamiyyah Ahlit Thariqah Al Mutabarah An Nahdliyyah (JATMAN) berupa Konferensi Ulama Internasional bela negara baru saja usai digelar. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari dari tangga 27 hingga 29 Juli 2016 di Kota Pekalongan berjalan sangat sukses, setidaknya dari segi pelaksanaan mulai kegiatan penunjang seperti pawai merah putih, pentas musik Debu, taaruf peserta yang dihadiri Kemenhan RI hingga istighotsah semuanya berjalan dengan lancar.

Habib Luthfi, Nasionalisme, dan Kharismanya di Hadapan Ulama Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfi, Nasionalisme, dan Kharismanya di Hadapan Ulama Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Luthfi, Nasionalisme, dan Kharismanya di Hadapan Ulama Dunia

Sedangkan kegiatan utama berupa konferensi bela negara diikuti oleh ribuan peserta dari dalam dan luar negeri. Dari dalam negeri sendiri tercatat ada 1500 peserta hadir dari utusan pengurus thariqah cabang dan wilayah se Indonesia, akademisi, pesantren dan pengurus NU, kemudian dari luar negeri ada 69 delegasi dari 40 negara.

Tidak hanya itu, forum konferensi ulama internasional juga berhasil merumuskan 15 konsensus atau kesepakatan tentang bela negara yang dibuat oleh para pembicara/nara sumber dan delegasi luar negeri sebagai rekomendasi resmi untuk ditujukan kepada pimpinan pemerintahan Indonesia dan negara asal delegasi. (Baca: Ini 15 Konsensus Hasil Konferensi Ulama Internasional Bela Negara)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ada satu hal yang menarik dalam proses perumusan konsensus, yakni jika selama ini perumusan konsensus atau kesepakatan bersama biasanya dibuat oleh Steering Committee (SC) atau tim perumus yan telah ditetapkan oleh panitia, kali ini justru pihak panitia sama sekali tidak "cawe-cawe" dalam pembuatan perumusan, semuanya diserahkan kepada delegasi asal luar negeri yang sebagian dari mereka menjadi pembicara dalam konferensi. Maka tidak heran ketika naskah perumusan dibacakan oleh Syech Mohammad Adnan Al Afyuni asal Damaskus masih asli tulisan berbahasa arab dan panitia maupun wartawan belum dapat kopiannya hingga acara pembacaan selesai.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari keseluruhan poin konsensus, Syekh Muhammad Rajab Dieb (Mursyid Thariqah Naqsabandiyah di Syiria) dalam pidato penutupan konferensi mengambil benang merah bahwa negara merupakan sebuah wilayah yang ditempati seluruh manusia dengan beragam keyakinan, suku, bangsa, bahasa dan lain-lain sehingga wajib dijaga oleh setiap individu dalam rangka menciptakan kesatuan, persatuan, dan perdamaian. “Untuk tujuan mulia itu, setiap individu atau kelompok yang tentunya mempunyai agama wajib menjaga dan membela tanah air atau negaranya. Dengan kata lain, membela negara merupakan kewajiban agama,” tegas Syekh Muhammad Rajab Dieb.

Syekh Muhammad juga menyampaikan, bangsa Indonesia harus bergembira bahwa negaranya merupakan referensi dunia jika berbicara tentang kecintaan pada tanah air. Oleh karena itu, ulama thariqah dunia yang terinspirasi oleh bangsa dan negara Indonesia menyepakati kewajiban membela negara yang harus dilakukan oleh setiap warganya.

Kewajiban membela negara juga disampaikan oleh Mursyid Thariqah dunia Habib Luthfi bin Yahya ketika berpidato dalam acara penutupan konferensi di tempat yang sama. Rais Aam Idarah Aliyah JATMAN ini mampu membakar semangat ribuan masyarakat yang hadir saat itu ketika membacakan Ikrar Bela Negara.

"Wahai bangsaku, relakah negeri kita ini terpecah belah? Jika tidak, ikuti kata-kata saya, bismillaahirrahmaanirrahiim, asyhadu ala ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah, radhiina billahi robba, wa bil islami dina, wa bi muhmmadin nabiyya wa rasula. Kami berikrar: BELA NEGARA ADALAH WAJIB, BELA NEGARA ADALAH WAJIB, BELA NEGARA ADALAH WAJIB," tegas Habib Luthfi serempak diikuti ribuan masyarakat yang hadir. Dikatakannya, ikrar ini tentu disampaikan kepada seluruh bangsa Indonesia.

Sukses gelaran acara bertaraf internasional baik pelaksanaan maupun hasil yang dicapai, tidak lepas dari sosok ulama kharismatik asal Pekalongan Jawa Tengah yang telah mendunia. Beliau adalah Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya. Tamu-tamu asal luar negeri yang di negaranya menyandang gelar mufti besar atau mursyid thariqah pun selalu menaruh hormat dan tadzim kepada sosok yang sangat dekat dengan umat di segala lapisan ini.

Meski telah dinobatkan sebagai pimpinan thariqah mutabarah tingkat dunia, Rais Aam Idarah Aliyah Jatman selama tiga periode berturut-turut, menggelar pengajian rutin setiap Selasa malam, Rabu pagi maupun setiap Jumat Kliwon. Belum lagi berbagai aktivitas lainnya, membuat rumahnya di Jalan dr Wahidin Noyontaan Gang 7 tak pernah sepi dari tamu yang datang dari berbagai losok tanah air.? ? ?

Seabrek jabatan yang diembannya, tak membuat Habib Luthfi merasa capek dan merasa berat memikul amanah. Saat ini saja Habib Luthfi Bin Ali Yahya dipercaya menjabat sebagai Ketua Umum MUI Kota Pekalongan untuk yang kedua kalinya dan pernah sebagai Ketua Umum MUI Jawa Tengah. Di samping? beliau seorang Mursyid Thariqah Syadzaliyah, juga sebagai Rais Aam dari Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al Mu’tabaroh An Nahdliyyah hasil Muktamar Thariqah ke-9 dan ke-10 yang digelar di Kota Pekalongan, serta ke-11 digelar di Kota Malang, Jawa Timur.

Bahkan tak jarang di antara mereka menyempatkan bertemu secara khusus di kediamannya meski harus antre berjam-jam untuk sekadar berkonsultasi problematika kehidupan sehari hari. Maka rumah mewah di belakang komplek Kanzus Sholawat yang cukup luas pun tak mampu menampung tamu-tamu Habib? yang datang silih berganti selama 24 jam. Itulah gambaran aktivitas rutin sehari hari Habib Luthfi bin Ali bin Yahya, seorang ulama besar yang lahir, dibesarkan dan hidup di Kota Pekalongan.

Berbincang-bincang dengan Abu Muhammad Bahaudin Muhammad Luthfi bin Ali Bin Hasyim bin Umar Bin Toha bin Yahya, nama lengkap dari Habib Muhammad Luthfi bin Ali Yahya, sangat mengasyikkan, terutama persoalan kethariqahan. Menurutnya, sejak kepengurusan Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al? Mu’tabaroh An Nahdliyyah dia pegang sudah banyak kemajuan dibanding kepengurusan periode sebelumnya. Hingga saat ini saja telah terbentuk kepengurusan tingkat wilayah sebanyak 34 Pengurus Idarah Wustha, kemudian tingkat cabang sebanyak 350 lebih Pengurus Idarah Syu’biyah.

Perkembangan yang cukup pesat ini sungguh sangat menggembirakan, ujar Habib. Pasalnya hampir seluruh thariqah berjalan dengan baik, seperti Syadzaliyah, Kholidiyah, Naqsabandiyah, Syatariyah, Qadiriyah, Tijaniyah dan lain lain. Indikator lainnya ialah banyaknya kaum muda yang mulai aktif sebagai pengikut thariqah, “Padahal mereka sebelumnya kenal saja tidak apalagi menjadi pengikut, sehingga kesan bahwa thariqah hanya dapat diikuti oleh sekelompok manusia usia lanjut mulai terkikis”.

“Yang mesti dipahami ialah bahwa thariqah bukan alat berpolitik dan bukan untuk berpolitik, akan tetapi semata mata untuk mendidik kehidupan manusia agar berdekatan dengan Allah dan Rasul-Nya dan yang terpenting ialah meningkatkan kesadaran sebagai manusia apa kewajibannya sebagai hamba kepada Tuhan dan Rasul-Nya juga sesama manusia”, ujar suami dari Syarifah Salmah Binti Hasyim Bin Yahya. “Sekarang ini perkembangan thariqah di kalangan anak anak muda cukup menggembirakan, seperti yang saya hadapi di Pekalongan ini, justru yang paling banyak masuk thariqah dari anak anak muda”, ujarnya.

Bela negara yang menjadi tema Konferensi Ulama Internasional, menurut Abah panggilan Habib Luthfi sengaja dimunculkan menjadi tema sentral dalam perhelatan yang digelar Jatman. Mengingat bela negara selalu dimaknai dengan angkat senjata atau berperang. Padahal bela negara memiliki makna luas, yakni dengan ikut mengisi dan ikut membangun negeri ini.

“Jangan diartikan sempit, hanya sekadar angkat senjata saja. Bela negara bisa dimaknai dengan ikut mengisi dan ikut membangun negeri ini,” ucapnya. Tidak diragukan lagi bahwa yang berpayah-payah merebut kemerdekaan Indonesia adalah para ulama. Maka, sudah seharusnya ulama yang ikut bertanggungjawab mempertahankannya.

Habib Luthfi menyebut kolaborasi ulama dengan TNI adalah keharusan. Ini faktor penting pertahanan negeri. Di Indonesia TNI dan Polri menyatu dengan masyarakat dan terjun ke bawah. “Semoga di belahan dunia Islam lainnya demikian pula. Jika ulama dengan pemerintah bekerja sama secara baik akan memperkuat dan memperkokoh kemajuan bangsa,” pesannya. Bendera merah putih yang dimiliki bangsa ini tanpa huruf, hanya warna saja. Karena ini milik semua bangsa Indonesia. “Di dalam merah putih itu ada wibawa, ada kehormatan bangsa di situ, maka kita pun hormat kepadanya, kepada sang saka merah putih,” tegasnya.

Habib Luthfi mengaku salut dan kagum melihat apa yang terjadi dalam Konferensi Ulama Internasional tersebut. Di mana dia melihat unsur pemerintah, ulama, TNI, Polri dan masyarakat bisa hadir bersama dan bersatu padu menunjukkan kekuatan yang luar biasa. Puluhan ulama yang hadir dari berbagai negara, juga telah diikat oleh Islam sehingga bersedia hadir ke acara tersebut.

“Kalau di setiap negara bisa seperti ini, pemerintah, ulama TNI dan Polri bisa bersatu dan mau turun ke bawah ini bisa menjadi awal perdamaian dunia. Seluruh bangsa bisa melahirkan kedamaian. Untuk itu melalui niat baik ini, kami ingin mengajak dan menarik kepedulian kita semua untuk bersama menciptakan kedamaian di dunia karena tantangan bangsa semakin jauh akan semakin besar,” ucapnya.

Menurut KH. Zakaria Ansor Wakil Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan yang juga orang dekat Habib menjelaskan, banyak sudah prestasi yang ditorehkan Habib Luthfi selama menjadi pimpinan salah satu Badan Otonom NU, antara lain berhasil menata organisasi thariqah dari Sabang sampai Merauke, seperti perkembangan thariqah di Sumatera Utara dan Sulawesi sangat menggembirakan, bahkan beberapa waktu yang lalu dari Papua minta dikirimi buku-buku tentang? thariqah. Kemudian Habib juga berhasil menertibkan silsilah sanad thariqah, di samping itu juga berhasil menebas fanatisme thariqah yang berdampak kepada pengerdilan thariqah-thariqah yang lain dan yang lebih penting ialah kegiatan thariqah menjadi lebih terbuka, sehingga banyak kaum muda yang berminat.

Habib Muhammad Luthfi bin Yahya dilahirkan di Pekalongan pada hari Senin, pagi tanggal 27 Rajab tahun 1367 H. Bertepatan tanggal 10 November, tahun 1947 M. Dilahirkan dari seorang syarifah, yang memiliki nama dan nasab: sayidah alKarimah as Syarifah Nur binti Sayid Muhsin bin Sayid Salim bin

Sayid al Imam Shalih bin Sayid Muhsin bin Sayid Hasan bin Sasyid Imam ‘Alawi bin Sayid al Imam Muhammad bin al Imam ‘Alawi bin Imam al Kabir Sayid Abdullah bin Imam Salim bin Imam Muhammad bin Sayid Sahal bin Imam Abd Rahman Maula Dawileh bin Imam ‘Ali bin Imam ‘Alawi bin Sayidina Imam? al Faqih al Muqadam bin ‘Ali Baalawi.

Sementara nasab beliau dari jalur ayah: Rasulullah Muhammad Saw — Sayyidatina Fathimah Azzahro+Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib–Imam Husein ash-Sibth — Imam Ali Zainal Abidin — Imam Muhammad al-Baqir–Imam Ja’far Shadiq — Imam Ali al-Uraidhi Imam Muhammad an-Naqib — Imam Isa An-Naqib ar-Rumi — Imam Ahmad Al-Muhajir — Imam Ubaidullah — Imam Alwy Ba’Alawy — Imam Muhammad — Imam Alwy — Imam Ali Khali Qasam — Imam Muhammad Shahib Marbath — Imam Ali — Imam Al-Faqih al-Muqaddam Muhammd Ba’Alawy — Imam Alwy al-Ghuyyur — Imam Ali Maula Darrak — Imam Muhammad Maulad Dawileh — Imam Alwy an-Nasiq — Al-Habib Ali — Al-Habib Alwy —

Habib Hasan– Imam Yahya Ba’Alawy — Habib Ahmad — Habib Syekh — Habib Muhammad — abib Thoha — Habib Muhammad al-Qodhi — Habib Thoha — Habib Hasan — Habib Thoha — Habib Umar — Habib Hasyim — Habib Ali — Habib Muhammad Luthfi.

Masa Pendidikan

Pendidikan pertama Maulana Habib Luthfi diterima dari ayahanda Habib al Hafidz ‘Ali al Ghalib. Selanjutnya beliau belajar di Madrasah Salafiah. Guru-guru beliau di Madrasah itu diantaranya: Sayid Ahmad bin ‘Ali bin al Qutb As Sayid ‘Ahmad bin Abdullah bin Thalib al Athas Sayid? Habib Husain bin Sayid Hasyim bin Sayid Umar bin Sayid Thaha bin Yahya (paman beliau sendiri) Sayid Abu Bakar bin Abdullah bin ‘Alawi bin Abdullah bin Muhammad al ‘Athas Bâ ‘Alawi Sayid Muhammad bin Husain bin Ahmad bin Abdullah bin Thalib al ‘Athas Bâ ‘Alawi. Beliau belajar di madrasah tersebut selama tiga tahun.

Selanjutnya pada tahun 1959 M, Habib Luthfi melanjutkan studinya ke pondok pesantren Benda Kerep, Cirebon. Kemudian Indramayu, Purwokerto dan Tegal. Setelah itu beliau melaksanakan ibadah haji serta menziarahi datuknya Rasulullah Saw., disamping menimba ilmu dari ulama dua tanah Haram; Mekah-Madinah. Beliau menerima ilmu syari’ah, thariqah dan tasawuf dari para ulama-ulama besar, wali-wali Allah yang utama, guru-guru yang penguasaan ilmunya tidak diragukan lagi. Dari Guru-guru tersebut beliau mendapat ijazah Khas (khusus) dan juga ‘Am (umum) dalam Da’wah dan nasyru syari’ah (menyebarkan syari’ah), thariqah, tasawuf, kitab-kitab hadits, tafsir, sanad, riwayat, dirayat, nahwu, kitab-kitab tauhid, tashwuf, bacaan-bacaan aurad, hizib-hizib, kitab-kitab shalawat, kitab thariqah,? sanad-sanadnya, nasab, kitab-kitab kedokteran. Dan beliau juga mendapat ijazah untuk membai’at.

Habib Luthfi tidak saja menjadi idola masyarakat Pekalongan dan sekitarnya. Setiap menjelang Pilpres misalnya, Habib Luthfi kebanjiran tamu istimewa. Disebut istimewa pasalnya tamu-tamu yang menyempatkan hadir di rumah Habib Luthfi adalah para calon presiden maupun wakil presiden. Sebut saja Capres Wiranto, Susilo Bambang Yudhoyono, Amin Rais, Puan Maharani (Putri Megawati), Hamzah Haz, Prabowo. Sedangkan cawapresnya Sholahudin Wahid dan Hasyim Muzadi. Dari semua yang hadir, rata rata mereka selalu berdalih hanya silaturrahmi biasa, tidak ada misi khusus berkaitan dengan kunjungannya. Akan tetapi aktifitas mereka selalu dibaca sebagai upaya untuk mohon do’a restu dan minta dukungan, apalagi di antara mereka ada yang berbicara empat mata dengan Habib, sehingga? mereka bisa diduga kehadirannya untuk keperluan pemilu yang baru saja digelar.

Tamu Habib memang datang dari berbagai kalangan, mulai dari pejabat pemerintah, anggota dewan, pengusaha, seniman, artis hingga rakyat jelata. Dengan tekun Habib Luthfi mendengarkan satu persatu? permasalahannya, kemudian beliau memberikan solusi sehingga mereka pun pulang dengan perasaan puas. Hal ini diakui mantan Wakil Wali Kota Pekalongan yang juga mantan Ketua PCNU Kota Pekalongan H. Abu Almafachir juga santri Habib Luthfi. Selama 40 tahun sebagai santrinya, ada satu hal yang sangat dikaguminya, yaitu dalam hal stamina. Beliau kuat duduk berjam-jam untuk sekadar ngobrol dengan para tamunya, meski tamunya itu tidak beliau kenal, ujarnya. “Abah fisiknya luar biasa, jarang sakit? meski aktifitasnya cukup tinggi, padahal makan saja tidak teratur”.

Disamping itu, Habib Luthfi tidak pernah membeda bedakan asal muasal tamu. Sehingga ratusan tamu yang datang kediamannya setiap hari, selalu dilayani dengan sabar dan penuh kesungguhan. Kadang mereka harus menunggu berhari hari jika Abah sedang berada di luar kota, ujar H. Fachir selalu memanggil Abah kepada Habib Luthfi.

Pernah suatu ketika, seorang bekas gali (geng pencuri) datang untuk bertobat dan minta diakui sebagai santrinya Habib, tanpa banyak pertanyaan, habib langsung membaiat gali tersebut dan kemudian diterima sebagai santrinya untuk menjadi salah satu murid thariqah.

Penulis adalah Ketua PC LTN NU Kota Pekalongan dan kontributor Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan tinggal di Kota Pekalongan Jawa Tengah



Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Santri, Pondok Pesantren, Ulama Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 18 Oktober 2017

Reformasi Agraria Siap Dilancarkan Sebelum Akhir 2007

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Joyo Winoto menyatakan, program reformasi agraria yang bertujuan membagikan lahan kepada kaum miskin siap dilancarkan sebelum akhir 2007.

Usai sidang di Gedung Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, Senin, Joko mengatakan, persiapan untuk program reformasi agraria itu sudah final. "Sebenarnya sudah siap semua, tinggal satu, menunggu Presiden mengundang Gubernur," ujarnya.

Reformasi Agraria Siap Dilancarkan Sebelum Akhir 2007 (Sumber Gambar : Nu Online)
Reformasi Agraria Siap Dilancarkan Sebelum Akhir 2007 (Sumber Gambar : Nu Online)

Reformasi Agraria Siap Dilancarkan Sebelum Akhir 2007

Ia menambahkan, Presiden butuh untuk mengumpulkan kepala daerah di seluruh Indonesia karena pembagian tanah yang dilakukan di seluruh daerah itu membutuhkan persiapan matang.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Reformasi agraria itu kan sesuatu yang besar, sehingga Presiden perlu undang seluruh Gubernur," katanya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Namun, Joyo enggan menyebutkan kapan pelaksanaan reformasi agraria itu dimulai. Ia juga tidak mau mengatakan berapa luas tanah yang disediakan untuk dibagi. "Anggap saja jumlahnya banyak," ujarnya.

Joyo hanya menyebutkan, tanah yang dibagikan itu diprediksikan untuk sekitar sembilan juta kepala keluarga (KK). Pembagian tanah itu diprioritaskan bagi mereka yang sama sekali tidak memiliki tanah.

Pemerintah, lanjut dia, memiliki kriteria khusus dan kriteria umum bagi mereka yang dianggap layak menerima tanah. Ia memastikan tanah yang siap dibagikan itu tidak akan jatuh kepada pengusaha atau pemilik perkebunan.

"Reformasi agraria ini tanah yang dialokasikan untuk rakyat. Rakyat ini ada kriterianya, yang penting dia landless, atau hanya memiliki tanah yang kecil," tuturnya.

Ia menjelaskan, tanah yang siap dibagikan itu tersebar di beberapa daerah dan pemerintah sudah menyiapkan 64 jenis model untuk mendekatkan tanah yang tersedia dengan mereka yang dianggap layak menerima.

Pemerintah, katanya, mendapatkan tanah untuk dibagikan kepada rakyat yang membutuhkan setidaknya dari 13 sumber. Di antaranya dari tanah milik perorangan yang diserahkan kepada pemerintah karena melewati batas maksimum kepemilikan.

Undang-undang (UU) No 56 PRP Tahun 1960 tentang Penetapan Luas Tanah Pertanian mengatur pembatasan lahan pertanian maksimum yang dapat dimiliki oleh perorangan. Lahan maksimum yang dapat dimiliki oleh perorangan itu berbeda di setiap daerah.

Setiap orang yang memiliki lahan melebihi luas yang diperbolehkan, wajib melaporkan kelebihan itu kepada pemerintah. Luas tanah berlebih yang diserahkan kepada negara itu mendapatkan ganti rugi dari pemerintah.

Menurutnya, sampai 2006, BPN telah menerima 121 ribu hektar tanah yang diserahkan kepada negara dari 31 ribu perseorangan dengan nilai ganti rugi Rp58,52 miliar.

Dalam persidangan uji materiil UU No 56 PRP Tahun 1960 di MK, Joyo mengatakan, selama ini BPN tidak mau membuka data tentang tanah yang akan dibagikan dalam program reformasi agraria karena dikhawatirkan terjadi aksi sepihak.

Pada awal 2007, Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono dalam pidato politiknya menyatakan proses reformasi agraria segera dimulai secara bertahap pada 2007. (ant/rif)Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ulama, Ahlussunnah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 06 Oktober 2017

Ahad Pagi, Tim Kirab Resolusi Jihad Berziarah ke Ulama Kediri

Kediri, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ahad pagi (16/10), Tim Kirab Resolusi Jihad 2016 berkesempatan berziarah ke? makam para pendiri dan sesepuh Pondok Pesantren Lirboyo di Jalan KH Abdul Karim, Lirboyo, Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur. Upacara penyambutan dihelat setelahnya.

Ahad Pagi, Tim Kirab Resolusi Jihad Berziarah ke Ulama Kediri (Sumber Gambar : Nu Online)
Ahad Pagi, Tim Kirab Resolusi Jihad Berziarah ke Ulama Kediri (Sumber Gambar : Nu Online)

Ahad Pagi, Tim Kirab Resolusi Jihad Berziarah ke Ulama Kediri

Salah seorang pengasuh Pesantren Lirboyo KH Muhammad Anwar Manshur berkenan memberikan sambutan. Ia menyemangati dan mendoakan Tim agar perjalanan kirab menjadi bentuk amal saleh.

Kiai Anwar lalu menceritakan, santri Lirboyo tidak lepas dari perjuangan mempertahankan kedaulatan Indonesia. Pada masa Resolusi Jihad tahun 1945, banyak santri Lirboyo diberangkatkan ke Surabaya dan lama bertahan di sana.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Setelah masa Resolusi Jihad usai, para santri dan kiai kembali ke pondok pesantren. Hal itu sebagai tanggung jawab membina masyarakat lewat jalur agama. Kiai Anwar berpesan agar semangat perjuangan para santri dapat diteruskan.

Sementara itu Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar menyampaikan apresiasi dengan adanya kegiatan Kirab Resolusi Jihad. Menurutnya, pelaksanaan kirab juga menjadi torehan sejarah yang positif bagi Kediri dan NU.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Terkait dengan peringatan Hari Santri yang di dalamnya akan dilakukan pembacaan satu miliar shalawat Nariyah, ia menyampaikan sangat terkesan. Menurutnya, baru NU-lah yang berinisiatif seperti itu.

"Saya bayangkan satu miliar itu bukan jumlah yang sedikit. Jadi saya kaget sekali," ujarnya.

Ia berharap, dengan pembacaan satu miliar shalawat Nariyah akan membantu Indonesia dari berbagai persoalan yang melanda dewasa ini. (Kendi Setiawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Doa, Ulama, RMI NU Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 27 September 2017

Tanpa Ilmu Perubahan Sulit Tercerahkan

Pamekasan, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Untuk melahirkan perubahan yang mencerahkan, seseorang harus berbekal ilmu. Tanpa ilmu, semuanya hanya akan berujung pada keburaman.

Tanpa Ilmu Perubahan Sulit Tercerahkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Tanpa Ilmu Perubahan Sulit Tercerahkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Tanpa Ilmu Perubahan Sulit Tercerahkan

Demikian ditegaskan Guru Besar Universiti Utara Malaysia (UUM) Prof Dr Yahya Don saat mengisi kuliah umum Pascasarjana STAIN Pamekasan, Selasa (14/2). Kegiatan yang dihadiri Direktur Pascasarjana STAIN Dr Zainuddin Syarif tersebut diikuti oleh 40 mahasiswa baru.

Dalam kesempatan itu, Prof Yahya mengupas tema Meningkatkan kepemimpinan sekolah dan guru menyongsong Gen-Y. Menurutnya, hakikat kepemimpinan ialah terletak pada konsistensi membangun perubahan yang mencerahkan.

"Ubahlah sekitar kita, mulai dari anak, adik, tetangga, dan lainnya. Perubahan adalah karakter utama kepemimpinan. Tentu sekali lagi, ubah dengan ilmu," tegasnya.

Dalam konteks ilmu, tambahnya, manajemen kerap disalahartikan. Kepemimpinan adalah suatu proses untuk membangun perubahan. "Sementara manajemen lebih mengarah pada perencanaan dan aplikasinya," paparnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dalam konteks pendidikan, memberi semangat adalah kunci kepemimpinan. Memengaruhi secara positif menjadi kemestian tak terbantahkan.

"Usaha dan doa wajib kita lakukan. Di sinilah pentingnya perancangan atau perencanaan. Tanpa perancangan, berarti kita tidak berdoa. Kalau tidak berdoa, berarti sombong," paparnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Prof Yahya menambahkan, generasi Y (gen Y) merupakan kelompok anak muda yang juga disebut generasi milenium. Mereka yang berusia belasan tahun hingga awal tiga puluhan (lahir awal 1980 hingga awal 2000). (Hairul Anam/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Tegal, Ulama Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock