Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Februari 2018

Penginapan Peserta dan Lokasi Sidang Muktamar Siap

Surabaya, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Para peserta Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama tidak perlu khawatir terhadap keberadaan lokasi penginapan. Empat pesantren di Jombang yang dijadikan sebagai lokasi sidang komisi juga sekaligus menyiapkan penginapan yang layak.

Penginapan Peserta dan Lokasi Sidang Muktamar Siap (Sumber Gambar : Nu Online)
Penginapan Peserta dan Lokasi Sidang Muktamar Siap (Sumber Gambar : Nu Online)

Penginapan Peserta dan Lokasi Sidang Muktamar Siap

Hal ini disampaikan Sekretaris Panitia Daerah (Panda) Muktamar, H Thoriqul Haq saat dihubungi Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan, Rabu (18/2) petang. Gus Thoriq, sapaan akrabnya menandaskan seluruh peserta resmi utusan dari PWNU, PCNU se-Indonesia hingga PCINU sejumlah negara akan mendapatkan fasilitas dan perlakukan yang sama selama kegiatan Muktamar berlangsung.

"Untuk pembukaan muktamar dan sidang pleno hingga penutupan akan dilangsungkan di Alon-alon Jombang," tandas mantan Presiden BEM UIN Sunan Ampel Surabaya ini. Sedangkan sidang komisi akan dilangsungkan di 4 pesantren besar yakni Pondok Pesantren Darul Ulum (Peterongan), Pesantren Tebuireng (Diwek), Mambaul Maarif (Denanyar), serta Bahrul Ulum (Tambakberas).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ia menandaskan bahwa pengecekan secara seksama telah dilakukan sebanyak dua kali dan akhirnya Panda memastikan sejumlah asrama dan sekolah yang akan digunakan untruk kepentingan siding-sidang selama muktamar berlangsung.

"Kunjungan itu kian memastikan mana saja lokasi yang akan dijadikan sebagai penginapan peserta dan tempat diselenggarakannya sidang komisi," tandas Ketua Komisi C DPRD Jawa Timur ini.? ?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ada sejumlah perubahan yang terjadi dari kunjungan tersebut. Di antaranya dijadikan Gedung Olah Raga (GOR) Jombang sebagai tempat registrasi peserta muktamar. "Karena GOR tempatnya luas baik dari sisi parkir kendaraan maupun daya tampung awal saat peserta mendaftar sekaligus menerima sejumlah penjelasan dan fasilitas muktamar," terangnya.

Sedangkan untuk sidang komisi di Pondok Pesantren Darul Ulum akan dilangsungkan di Islamic Center, dan penginapan peserta di SMPN 3 Rejoso. Sidang komisi di Pesantren Tebuireng akan menempati ruangan lantai tiga gedung KH Yusuf Hasyim, dan penginapan peserta menggunakan asrama yang ada pesantren tersebut.

Pesantren Mambaul Maarif menempatkan peserta sidang di ruangan MAN Denanyar serta halaman sekolah tersebut akan dijadikan lokasi sidang komisi. MAN Tambakberas atau MTsN Tambakberas masih akan diteliti lebih detail untuk menampung peserta muktamar dan mengikuti sidang komisi. (Syaifullah/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pesantren Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 16 Februari 2018

Ajarkan Kemandirian, Ansor Latih Kader Tanam Buah Naga

Penajam, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. PP GP Ansor bekerjasama dengan Kementerian Tenaga Kerja kembali melakukan pelatihan pada pemuda di Kabupaten Penajam Paser Utara Kalimantan Timur, 27-31 Maret bertempat di Balai Pelatihan Pertanian Penajam Paser Utara.?

Kali ini fokus pada pelatihan pengembangan budidaya tanaman buah naga yang memang menjadi tanaman andalan Kabupaten Penajam Paser Utara selain perkebunan sawit dan tambang. Demikian rilis yang dikirimkan oleh panitia kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan.?

Ajarkan Kemandirian, Ansor Latih Kader Tanam Buah Naga (Sumber Gambar : Nu Online)
Ajarkan Kemandirian, Ansor Latih Kader Tanam Buah Naga (Sumber Gambar : Nu Online)

Ajarkan Kemandirian, Ansor Latih Kader Tanam Buah Naga

Potensi pertanian yang begitu besar di Kalimantan Timur sementara ini belum tergarap maksimal, Dan hal ini yang melandasi PP GP Ansor dan Kementerian Tenaga Kerja untuk fokus melakukan pelatihan-pelatihan pada pemuda di semua sektor guna menciptakan wirausahawan-wirausahawan muda yang mandiri seperti yang diharapkan oleh pemerintah.

?

Demikia dikatakan ketua Bidang Pertanian, Kedaulatan Pangan dan ESDM, PP GP Ansor, H Adhe Musa Said,

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pelatihan ini diikuti oleh 100 lebih kader GP Ansor se-Kalimantan Timur selama 4 Hari, dari mulai menanam sampai praktek pengolahan buah naga hingga menjadi makanan siap saji, seperti puding buah naga dan brownies buah naga. “Kita akan kembangkan terus potensi yang ada di kalangan pemuda se-Indonesia khususnya GP Ansor,” kata Adhe.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Hal senada juga dikatakan oleh Fajri Al Farobi sebagai ketua PW GP Ansor Kalimantan Timur.

Pelatihan ini juga di Hadiri oleh H ? Risman S Manik dari Balai Besar Peningkatan Produktivitas BBPP Kementerian Tenaga Kerja.

“Kita berharap kerjasama dengan GP Ansor bisa berjalan terus-menerus untuk bersama-sama membangun wirausahawan-wirausahawan muda yang mandiri di seluruh Indonesia. Saatnya para pemuda menjadi pengusaha dalam sektor apapun. Saatnya kita bangkit bersama melalui usaha-usaha yang dibangun dari rakyat,” kata Risman. ?

Adhe Musa Said menegaskan bahwa agenda pelatihan ini akan terus dipantau dan dikontrol sampai terbangun kelompok-kelompok usaha yang mandiri di kalangan pemuda yang menjadi binaan GP Ansor sesuai dengan visi misi GP Ansor dan arahan Ketua Umum PP GP Ansor H Yaqut Cholil Qoumas untuk terus membangun kemandirian ekonomi kader sesuai dengan tingkatannya masing-masing. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pesantren, Budaya Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 13 Februari 2018

Kominfo Dukung Dakwah Islam Ramah di Dunia Maya

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Republik Indonesia berkepentingan untuk memastikan dunia maya dipenuhi dengan konten-konten positif. Dalam bidang keagamaan, di satu sisi, Kominfo mendukung situs yang memuat konten-konten Islam ramah. Di sisi lain, melakukan blok pada situs yang negatif dan pemecah belah persatuan. ? ?

Menurut Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara hal itu dilakukan harus dilakukan agar dunia maya ini tidak disalahgunakan dengan hal-hal yang negatif. Acuannya UU ITE yang sudah direvisi tahun 2016 yang lalu.?

Kominfo Dukung Dakwah Islam Ramah di Dunia Maya (Sumber Gambar : Nu Online)
Kominfo Dukung Dakwah Islam Ramah di Dunia Maya (Sumber Gambar : Nu Online)

Kominfo Dukung Dakwah Islam Ramah di Dunia Maya

Untuk lebih mengetahui apa dan bagaimana dukungan Kominfo terhadap konten positif, Abdullah Alawi dari Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan mewawancarai Menteri Rudiantara di gedung PBNU, Jakarta, Senin (22/5). Berikut petikannya:?

Bagaimana dukungan Keminfo kepada dakwah Islam ramah?

Ini sangat relevan terutama dengan situasi sekarang ini. Artinya inkusivisme Islam, sebagai agama yang dianut masyarakat di Indonesia, tentu harus banyak menyampaikan pesan-pesan damai, inklusif (terbuka), rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam), bukan yang sifatnya eksklusif (tertutup). Bagaimanapun para pendiri NU juga dulunya dengan Muhammadiyah yang menjadi motor pendiri bangsa ini. Jadi, kita tidak akan bisa keluar dari koridor NKRI. Dan saya yakin banyak konten, sumber daya manusia dari NU yang bisa memberikan kontribusi. Nanti dari PBNU menyediakan konten-kontennya, Kominfo membantu mendistribusikannya sehingga menjadi diterima, dinikmati oleh masyarakat luas.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kalau ada media baik tv, radio, atau online yang dakwahnya tidak inklusif itu bagaimana?

Begini, kategorinya apa, kalau media online tentu ada aturan juga, bukan hanya UU ITE, tetapi kita juga bisa mengacu kepada UU Pers dan kami sangat dekat hubungannya dengan Dewan Pers; dan di sana disyaratkan, di Dewan Pers juga sedang mendorong program verifikasi namanya. Artinya sebagai media, sekarang kan tidak perlu mendapatkan izin lagi dari pemerintah. Tapi ada beberapa hal yang harus dipenuhi, contohnya kejelasan dimana dia alamatnya. Kemudian penanggung jawab dari news roomnya. Artinya redakturnya siapa. Nah, kalau tidak ada dua itu, tidak bisa dianggap masuk kategori produk pers. Kalau tidak produk pers berarti bisa UU ITE. Kalau sudah itu acuannya, kalau bertentangan dengan UU ITE Pasal 27, 28, 29, ya kita akan melakukan sesuai aturannya. Dalam hal ini bertentangan, bisa diblok, bisa ditindaklanjuti proses hukum bahkan ya.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sampai pada tahap diblok, berdasarkan UU tersebut, apakah harus ada pihak yang mengadukan terlebih dahulu?

Tidak perlu. Yang penting kan ada peraturan, ada UU-nya, ada dasarnya, ada legislasinya. Kalau berdasarkan ada pengaduan dulu, kita terlambat dong.?

Apa pentingnya pemerintah melakukan hal itu?

Untuk melakukan pembatasan akses. Harus. Karena biar bagaimanapun kita harus menjaga yang namanya dunia maya ini tidak disalahgunakan dengan hal-hal yang negatif. Acuannya kembali ke UU ITE yang sudah direvisi tahun 2016 yang lalu.?

Isinya bagaimana?

Perbedaannya dengan UU ITE sebelum direvisi adalah pasal 27 ayat 3 khususnya, yaitu kalau sebelumnya ancamannya sampai dengan 6 tahun, di atas 5 tahun. Jadi, aparat penegak hukum bisa menangkap yang bersangkutan dahulu. Kalau sekarang di bawah 5 tahun. Jadi, harus ada, delik aduan, megadunya kepada pihak aparat penegak hukum karena di bawah 4 tahun. Itu yang pertama. Tapi kontennya, subtansinya tidak perlu menunggu aduan selama itu dianggap bertentangan dengan UU, misalnya mengadu-domba masyarakat, provokasi, agitasi, atau juga bertentangan dengan SARA.?

Kalau di media sosial bagaimana seperti Facebook, Twitter?

Ada dua, satu ranah publik, satu ranah privat. Kalau ranah publik, karena sifatnya publik, ya kita kita masuk cepat. Kalau ranah privat, pada umumnya, apakah bertentangan dengan penegakkan hukum tidak. Kalau bermasalah dengan penegakkan hukum, otomatis kita akan masuk dengan fungsi pada umumnya. Kalau memang dinyatakan oleh penegak hukum, misalkan itu bertentangan dengan aturan yang ada, kami akan masuk.?

Kominfo sebagai pihak yang mendukung dakwah islam yang ramah, bagaimana proses sampai memblokir sebuah situs dan akun medsos yang bertentangan dengan hal itu?

Begini, memblokir itu salah satu upaya, tapi memblokir itu adalah upaya yang cape. Kita harus mengimbanginya. Karena apa? Membelokir itu sama dengan menyembuhkan orang sakit, harus ? disuntik, kasih obat, dan lain sebagainya, tapi kita harus fokus, pada bagaimana membuat orang sehat, yaitu dikasih makanan yang empat sehat lima sempurna, olahraga teratur. Nah, kita mengarah ke sana. Dengan cara apa? Dengan cara edukasi, dengan cara kita mengajak NU, Muhammadiyah dan yang lainnya, untuk mengimbangi konten negatif ini. Kalau ada namanya black list, kita juga harus ada white list. Saya datang ke sini (ke PBNU) juga adalah koordinasi untuk meminta bantuan NU bagaimaana menyediakan konten-konten positif karena kan NU banyak manyrakatnya dan kapasitas kompetensinya luar biasa.?





Amatan Pak Menteri kenapa dakwah radikal lebih agresif. Apakah ada pihak yang mendesain atau alamiah?

Didesain bisa saja. Tapi pihak intelejen lebih memahami. Tapi dari kami memang ini adalah keterbuakaan teknologi. Teknologi ini ibarat pedang bermata dua. Bisa positif dan bisa negatif. Nah, kita memitigasi dampak negatifnya, yang dicari dampak positifnya. Hari ini yang akan dilakukan dengan NU banyak yang positifnya, antara lain dengan inklusi keuangan. Banyak warga Nahdliyin yang bisa masuk di situ. Bahkan kalau perlu, bisa membuat semacam subsistem dari NU untuk segera bisa berpartisipasi dalam program inklusivisme keuangan. Kemudian dalam konteks seperti saya katakan tadi, saya yakin banyak gus-gus yang senior, maupun gus-gus muda, yang bagus dalam tulisannya ini, banyak, nanti kami yang akan bawakan ke kanal-kanalnya. Kemudian dalam rangka bulan Ramadhan, kan di televisi ada ceramah, di RRI, di TVRI. Tadi saya ajak Dirut RRI, Dirut TVRI, lembaga penyiaran publik tadi, kalau dalam hal agama kan bukan bidangnya, tetapi kita akan sampaikan kepada masyarakat bulan puasa ini ceramah agama. Coba aja lihat di TVRI, kita perlu 210 pembicara, 210 paket untuk direkam disyiarkan, dari mana? Ya, kalau kita mencari air kan ke sumbernya, kalau kita bicara agama, agama Islam yang paling besar NU, ya kita datang ke NU.?

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pahlawan, Pesantren Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 31 Januari 2018

723 Santri Madrasah Diniyah TA Ikuti Wisuda Akbar ke 2

Brebes, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Sebanyak 723 santri ? dari Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) se Kabupaten Brebes mengikuti Wisuda Akbar ke-2 di Aula Islamic Center Jalan Yos Sudarso Brebes, Ahad (21/5). Wisuda dilakukan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Brebes, Imam Hidayat, ? disaksikan orang tua santri, dewan guru dan pejabat pemerintahan setempat.?

“Sebanyak 723 santri, mewakili madrasah masing-masing yang ada di Kabupaten Brebes,” ujar Ketua Forum Komunikasi Madrasah Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kabupaten Brebes H Sururi, di sela kegiatan.

723 Santri Madrasah Diniyah TA Ikuti Wisuda Akbar ke 2 (Sumber Gambar : Nu Online)
723 Santri Madrasah Diniyah TA Ikuti Wisuda Akbar ke 2 (Sumber Gambar : Nu Online)

723 Santri Madrasah Diniyah TA Ikuti Wisuda Akbar ke 2

Dari 723 madrasah MDTA yang ada di Kabupaten Brebes, dikatakannya, telah meluluskan 9.563 santri. Dijadwalkan untuk tahun mendatang seluruh santri akan di hadirkan di alun-alun, jadi meriah. Kalau sekarang, tempatnya tidak muat jadi hanya perwakilan saja yang diajak ke Islamic Center.

Dari banyaknya madrasah diniyah di Brebes, lanjut Sururi, masih terjadi ketimpangan dengan kurangnya perhatian pemerintah. Terbukti hingga kini belum terlahirnya Peraturan Daerah (Perda) tentang Pendidikan Madrasah. Diyakini Sururi, dengan madrasah, akhlakul karimah generasi muda bisa terjaga. Karena MDTA menjadi lembaga penjaga moral yang sangat penting yang harus dipertahankan.

“Tidak pernah tawuran ketika lulus madrasah, kalau sedari kecil sudah mengenyam pendidikan madrasah. Itu artinya memiliki akhlakul karimah, dan itu menjadi ukuran mutu dalam pendidikan,” ungkapnya.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kasubid Diniyah Formal dan Ma’had Ali, Kementerian Agama (Kemenag) RI Ahmad Jayadi mengakui kalau tantangan terhadap MDTA tidaklah ringan. Terakhir, adalah dengan pemberlakukan 5 hari masuk sekolah. Yang artinya, waktu milik MDTA akan tercerabut oleh kebijakan Mendiknas yang dikabarkan kebijakan itu akan tetap diberlakukan pada 2018 mendatang.?

“MDTA perlu mencari terobosan dan inovasi waktu dan system pembelajaran, agar MDTA tetap lestari dan makin maju,” ujarnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Untuk meningkatkan kualitas MDTA sepertinya perlu diterbitkan Perda Madrasah, kata Jayadi, harus dimulai dari diri sendiri. Artinya, madrasah itu dari, oleh dan untuk umat. Kalau umatnya berkehendak kuat, maka tidak mustahil Perda atau peraturan lainnya akan mudah dan cepat diterbitkan. “Pemerintah, pada dasarnya hanyalah fasilitator. Kemauan kuat justru berakar dari pengelola MDTA dan FKDT itu sendiri,” tandasnya.?

?

Kendala akibat kepentingan politik, menurutnya sudah biasa, untuk itu, seluruh komponen harus seiring sejalan dan harus berangkat bersama.

?

Jayadi menginformasikan, kalau saat ini tengah dirancang undang undang tentang Pendidikan Pesantren. “Mudah-mudahan madrasah bisa terakomodir didalamnya. Sehingga posisi pendidikan agama dan keagamaan setara dengan pendidikan yang lain,” tandasnya.

Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Brebes, Imam Hidayat mengajak seluruh kepala MDTA untuk tidak patah arang dalam mengelola pendidikan Islam. “Kita harus optimis bahwa anak-anak yang lulus MDTA bisa melanjutkan ke Wustho. Pendidikan diniyah bukanlah sebagai pelengkap belaka, tetapi sudah menjadi kebutuhan yang urgen bagi masyarakat,” tandasnya.?

Agama lanjut Imam Hidayat, menjadi pemecah solusi tentang kemanusiaan dan kemasyarakatan. Bila agama sudah keluar dari karakter islam, maka pertanda islam hanya dijadikan alat politik belaka, seperti HTI yang menjadikan agama sebagai politik mendirikan khilafah. Lewat madrasah, anak-anak kita akan memiliki dasar akhlakul karimah yang sangat kuat.

? “Mendapatkan ilmu pengetahuan sangat mudah, tetapi menanamkan akhlakul karimah sangat sulit, untuk itu harus ditanamkan sejak dini,” kata Imam.?

Sementara itu, Kasubag Agama Bagian Kesra Pemkab Brebes, Harun menjelaskan, Pemkab Brebes telah memberikan dukungan yang banyak terhadap dunia pendidikan Islam. Diantaranya adalah, berupa pemberian bantuan hibah kepada para guru madrasah diniyah. “Tentang penerbitan Perda, tentu Pemkab sangat mendukung,” ucapnya. (Wasdiun / Muslim Abdurrahman)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Meme Islam, Pesantren, Khutbah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 29 Januari 2018

Dari Khittah 1926, ke Khittah 1945

Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama telah berlangsung pada 14-18 September 2012 yang lalu di Pondok Pesantren Kempek, Cirebon, yang didahului serangkaian kegiatan pramunas sejak Agustus di beberapa kota besar di Indonesia.

Munas-Konbes NU 2012 yang disiarkan cukup ramai oleh berbagai media massa, baik cetak maupun elektronik, telah menghasilkan banyak sekali rekomendasi dan telah ditanggapi positif oleh banyak kalangan, termasuk oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono.

Dari Khittah 1926, ke Khittah 1945 (Sumber Gambar : Nu Online)
Dari Khittah 1926, ke Khittah 1945 (Sumber Gambar : Nu Online)

Dari Khittah 1926, ke Khittah 1945

Munas NU kali ini agak berbeda. Jika dilihat materi pembahasannya, terutama dalam tiga komisi bahtsul masail diniyyah (pembahasan masalah keagamaan), hampir tidak ditemukan materi ubudiyah atau soal-soal ibadah ritual. Hanya ada satu pembahasan mengenai haji dalam komisi bahtsul masail diniyyah waqiyyah, itu pun tidak terkait ritual haji, namun pada soal dana talangan haji. Bukan berarti persoalan ibadah sudah tidak lagi muncul di tengah warga nahdliyin dan diajukan kepada para kiai untuk dibahas dalam Munas, namun ada kebutuhan mendesak untuk membahas beberapa hal (masail) penting terkait persoalan kebangsaan dalam forum nasional yang harus didahulukan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pada komisi bahtsul masail diniyyah waqi’iyyah, para kiai dan ahli fikih dari berbagai wilayah di Indonesia menyoroti praktik korupsi yang semakin merisaukan. Bahkan Munas 2012 itu memunculkan satu keputusan mengejutkan: NU merekomendasikan hukuman mati bagi koruptor kelas berat dan koruptor kambuhan. Munas juga merekomendasikan penguasaan atau perampasan aset negara yang telah dikorupsi meskipun pelakunya telah dihukum, atau bahkan telah meninggal dunia. Dalam kasus terakhir, pesan sesungguhnya diperuntukkan kepada para ahli waris. Bahwa harta korupsi akan menyulitkan orang tua atau saudara mereka dari tanggungan akhirat, serta harta hasil korupsi tidak akan berkah dan haram untuk diwariskan.

Bahtsul masail diniyyah waqi’iyyah juga memberikan rambu-rambu kepada para penyelenggara negara terkait cara pengelolaan kekayaan negara, agar mencapai sasaran yang tepat: kesejahteraan rakyat.

Tema besar pada Munas kali ini adalah “Kembali ke Khitah Indonesia 1945”. NU merasa prihatin dengan kondisi bangsa ini, terutama semenjak memasuki era reformasi. Persoalan pertama yang dibidik adalah amandemen UUD 1945. Satu sisi amandemen yang telah berlangsung empat kali itu menunjukkan Indonesia telah menunjukkan diri pada dunia sebagai negara yang demokratis. Namun karena dilakukan dengan sangat tergesa-gesa dan bahkan pada beberapa bagian dapat dikatakan responsif dan emosional terhadap rezim orde baru, maka dalam amandemen tersebut banyak terjadi  ketidakcermatan bahkan kesalahan. Akibatnya UUD yang dilahirkan merugikan rakyat dan membahayakan  kedaulatan nasional. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Amandemen yang berada di tangan rakyat itu diambil alih oleh sekelompok elite yang mewakili kepentingan kapitalisme global yang berideologi liberal. Berbagai pasal yang menegaskan aspirasi rakyat dan menjaga keutuhan bangsa dan negara diganti dengan pasal-pasal yang menguntungkan perusahaan asing di bawah bendera kapitalaisme global. Disyahkannya UU Sumber daya air, UU Migas, UU Minerba, UU perdesaan, UU Pangan dan lain sebagainya merupakan seperangkat hukum yang dikukuhkan untuk melindungi pemilik modal.

Komisi bahtsul masail diniyyah qonuniyyah, NU secara serius mengkaji kembali beberapa undang-undang yang tidak sejalur dengan Khittah Indonesia 1945. Dalam bahtsul masail khusus yang membahas persoalan undang-udang itu para kiai juga menyampaikan beberapa rekomendasi terkait undang-undang No 20/2003 tentang Sistem Pemdidikan Nasional dan UU No 2 /2012 tentang perguruan tinggi.

Banyak sekali persoalan negara yang dibahas secara serius oleh para kiai dari berbagai daerah dan disaksikan ribuan warga nahdliyin yang hadir di forum Munas-Konbes NU 2012. Isu “warning bagi pengelolaan pajak” hanyalah isu permukaan saja. Kritik dan masukan NU lebih mengarah kepada tata kelola kekayaan negara yang selama ini dinilai salah kelola. 

Terkait dengan Khitah 1945, tidak ada keputusan yang menyebutkan bahwa NU mengajak kembali ke UUD 1945. Setelah menengok beberapa produk undang-undang tidak menyejahterakan rakyat, secara serius NU mengajak kembali kepada segenap elemen bangsa untuk mencermati kembali undang-undang dasar produk reformasi. Jika diperlukan amandemen kembali, maka harus dilakukan secara cermat dan komprehensif, tidak hanya melayani kebutuhan sekelompok orang.

NU punya pengalaman besar terkait “khitah”. Pada tahun 1984, setelah menjalankan roda keorganisasian selama puluhan tahun, NU lalu memutuskan kembali ke khittah 1926, kembali ke jati diri NU seperti pada saat didirikan. Istilah “Khittah 1945” sebagai tema besar Munas-Konbes NU 2012 dipakai untuk mengingatkan bangsa ini agar kembali kepada semangat dan tujuan Indonesia merdeka, tahun 1945. Kembali ke khitah bukan langkah mundur, tapi langkah pasti untuk merumuskan masa depan yang lebih baik.

Secara formal Munas-Konbes NU 2012 telah berakhir. Namun beberapa keputusan dan rekomendasi NU akan terus berlanjut. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Aswaja, Pesantren, IMNU Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 22 Januari 2018

NU Setia Menjaga NKRI

Nusantara sebagai sebuah kesatuan geografis, kesatuan budaya, kesatuan politik dan kesatuan ekonomi terbentuk melalui proses berabad-abad, setidaknya mulai wangsa Sanjaya Mataram, Sriwijaya yang terus berkembang zaman Kahuripan, Daha, Singasari, Sriwijaya, Majapahit, Demak, Mataram Baru hingga Republik Indonesia saat ini. Kehadiran penjajah Spanyol, Belanda, Inggris, selama ratusan tahun itu gagal memecah-belah kesatuan yang telah kokoh itu.

Ketika Indonesia merdeka kesatuan itu segera dikukuhkan kembali sebagai sebuah negara kesatuan berdasarkan ideologi Pancasila, yang merupakan warisan leluhur bangsa ini. Itulah sebabnya Pancasila diterima oleh bangsa ini dengan tangan terbuka karena memang sebelumnya telah hidup dan berkembang sebagai falsafah hidup bagi bangsa ini, sehingga walaupun berbeda budaya, berbeda suku dan berbeda agama, tetapi bisa hidup rukun dan bersatu saling tolong-menolong satu sama lain.

Sebagaimana disebutkan di depan bahwa kesatuan Indonesia ini bukan sesuatu yang sekali jadi melainkan terus berkembang dalam proses, karena itulah kesatuan NKRI dan keutuhan Pancasila sebagai falsafah dan ideologi negara harus dijaga dan dipertahankan. Tidak sedikit kelompok yang dengan menawarkan ideologi tertentu mencoba untuk menolak Indonesia sebagai sebuah negara kesatuan, dan berusaha memecah belah sebagai serta berusaha memutus pengikatnya yaitu Pancasila sebagai ideologi negara.

Nahdlatul Ulama (NU) lahir dari budaya Islam Nusantara dan berkembang dalam budaya Nusantara dengan segala gelombang yang terjadi di atasnya, ketika Nusantara dalam penjajahan NU dengan gigih mempertahankan identitas kenusantaraannya dan berjuang penuh melawan penjajah yang ingin melenyapkan kenusantaraan menjadi kebelandaan. Pesantren berhasil menjaga tradisi Islam Nusantara dan dari situlah 88 tahun yang lalu NU Lahir. Dalam keterjajahan itu NU mengobarkan semangat revolusi dan perjuangan, karena itu ketika Nusantara merdeka menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, tidak ragu lagi NU menjadi penjaga dan sekaligus penyangga serta perekat persatuan Indonesia, dalam menghadapi berbagai subversi, gerakan separatis dan pemberontakan yang menodai negeri ini.

NU Setia Menjaga NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Setia Menjaga NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Setia Menjaga NKRI

Hadirnya Reformasi dengan semangat liberalisme yang tanpa batas menjadikan upaya merombak NKRI serta mengganti atau merevisi Pancasila terus berjalan, dengan menawarkan ideologi lain yang tidak sesuai dengan budaya bangsa Indonesia. Dari situlah ketegangan nasional mulai terjadi antara kelompok pembela NKRI dan pendukung Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara dengan kelompok yang ingin merombaknya. Berkat kegigihan pendukung NKRI dan Pancasila ini kedua hal tersebut tidak diubah.

Dengan tidak diubahnya konsep NKRI dan Pancasila tersebut tidak dengan sendirinya NKRI tetap ada dan lestari. Secara geografis sejak reformasi hingga sekarang memang masih utuh, maraknya gerakan separatisme beberapa waktu yang lalau tidak mampu memecah kesatuan geografis negeri ini. Tetapi apabila ditinjau dari segi kesatuan politik, dengan diterapkannya otonomi yang tanpa batas, kesatuan Indonesia sebagai kesatuan politik mulai pudar. Mulai banyak pejabat daerah yang tidak setia pada pemerintah di atasnya atau bahkan pemerintah pusat.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dilihat dari sudut pertahanan (militer), nampaknya integritas NKRI juga sudah mulai mengendor, terbukti dengan terjadinya pelanggaran wilayah oleh pasukan asing yang tidak sepenuhnya bisa diatasi oleh tentara Indonesia. Sementara, setiap upaya peningkatan sistem pertahanan selalu mendapat serangan dari kelompok tertentu dari bangsa sendiri, sehingga kedaulatan Republik ini dengan mudah diganggu dan dinodai masuknya kekuatan asing yang ingin memecah belah negeri ini.

Dari segi kesatuan ekonomi, sejak dilakukan liberalisasi perdagangan, dengan dibebaskannya investasi asing masuk ke seluruh sektor strategis, maka bisa dilihat bahwa saat ini ekonomi nasional tidak lagi di bawah kendali bangsa sendiri, melainkan telah dikuasai asing. Mulai dari sektor pertambangan, sektor perbankan, sektor pertanian, sektor industri, sektor properti, telekomunikasi, yang penguasaan asing rata-rata di atas 50%, bahkan terakhir di sektor bandara yang bisa mencapai 100 persen. Akibatnya terjadi ketimpangan ekonomi yang sangat tajam yang belum pernah terjadi di Indonesia ini selama ini.

Kemudian di sektor kebudayaan, pengaruh asing mulai menerobos hingga ke sektor privat, dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Sementara informasi dari dunia internasional yang dikendalikan oleh kapitalisme global yang berpandangan hidup liberal, tetaplah begitu jauh mempengaruhi cara berpikir, sikap dan tindakan masyarakat negeri ini. Dengan demikian nilai-nilai agama budaya dan tradisi, termasuk nilai-nilai Pancasila akan sulit diterapkan. Karena propaganda liberal disebarkan sedemikian gencar dengan peralatan teknologi dan strategi yang sangat canggih.

Inilah yang menjadi keprihatinan NU dan yang menjadi tekad NU untuk selalu setia menjaga keutuhan NKRI di saat pihak lain banyak yang mulai meragukan pentingnya NKRI. Karena itu bersamaan dengan peringatan Hari Lahir NU yang ke-88 tahun 2014 ini, NU berikrar bahkan bertekad bahwa keutuhan NKRI dan kejayaan Pancasila harus dijaga. Keutuhan NKRI harus tetap dijaga, tidak hanya secara geografis, tetapi secara politik, ekonomi dan budaya ini Indonesia kembali menjadi negara yang berdaulat, sebagaimana yang diperjuangkan para ulama NU terdahulu bersama elemen bangsa lainnya.

Untuk menjaga keutuhan NKRI ini sarana yang paling tepat adalah Pancasila, karena Pancasila dengan falsafah Bhinneka Tunggal Ika, merupakan tali pengikat keragaman bangsa ini. Kemampuan Pancasila dalam merekat keutuhan bangsa ini telah terbukti selama bertahun-tahun. Maka NU tidak mau ambil risiko dengan adanya kelompok lain? yang ingin mengganti Pancasila, sebab tanpa Pancasila NKRI tidak akan bisa dipertahankan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sebagaimana NKRI, saat ini Pancasila secara formal memang masih ada, tetapi harap diketahui, Pancasila oleh liberalisme tidak lagi dijadikan sumber nilai, baik dalam merumuskan undang-undang, dalam menentukan kebijakan politik, termasuk dalam kebijakan ekonomi dan kebudayaan. Semuanya mengacu pada berbagai konvensi internasional yang berfalsafah liberal yang jauh dari nilai agama dan tradisi.

Bagi NU membela NKRI dan Pancasila merupakan keharusan politik, untuk menjaga kesatuan dan kedamaian negeri ini. Dan sekaligus merupakan kewajiban syar’i, karena membela negara wajib hukumnya menurut agama.? Sebagaimana diputuskan dalam Muktamar NU di Situbondo bahwa penerimaan dan pengamalan Pancasila bagi umat Islam Indonesia sama dengan menjalankan syariat Islam. Sebagai konsekwensinya NU berkewajiban menjaga dan mengamankan Pancasila.

Komitmen atau kesetiaan ini perlu terus ditegaskan sehingga ketika NU genap berusia satu abad tahun 2026 nanti, sekitar 12 tahun lagi, kita berharap NKRI tetap utuh dan Pancasila tetap jaya. Penegasan ini menunjukkan bahwa NU bukan hanya untuk pada Nahdliyin, tetapi untuk bangsa secara keseluruhan dan bahkan untuk sekalian umat manusia. Karena itu berangkat dari Harlah NU yang 88 ini, tekad dan kesetiaan tersebut kita ikrarkan, di tengah Indonesia dengan NKRI dan Pancasila sedang menghadapi tantangan.

?

KH Said Aqil Siroj

Ketua Umum PBNU

?

* Disampaikan dalam acara peringatan hari lahir atau Harlah ke-88 NU di Jakarta, 31 Januari 2014.

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pesantren Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 15 Januari 2018

Pramuka Maarif NU Keputran Borong 5 Piala di STKIP Muhammadiyah

Pringsewu, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Madrasah Aliyah Maarif NU Keputran Kecamatan Sukoharjo, Pringsewu, Lampung kembali menorehkan prestasi. Kali ini keberhasilan disumbangkan oleh kontingen Gudep 091-092 Madrasah tersebut setelah berhasil mengharumkan nama Madrasah dibidang kepramukaan melalui lomba yang mereka ikuti, Ahad (19/3).

Pramuka Maarif NU Keputran Borong 5 Piala di STKIP Muhammadiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pramuka Maarif NU Keputran Borong 5 Piala di STKIP Muhammadiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pramuka Maarif NU Keputran Borong 5 Piala di STKIP Muhammadiyah

Pada ajang Lomba level Provinsi Lampung yang digelar di Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan (STKIP) Muhammadiyah Pringsewu, MA Maarif NU Keputran mampu menggondol 5 piala pada 5 lomba yang dipertandingkan. Lomba pramuka ini diperuntukkan untuk Pramuka penegak se-Kwarda Lampung yang diikuti oleh Siswa SLTA dan MA se-Provinsi Lampung.

Tangkai lomba yang diperlombakan meliputi Lomba Ketangkasan Baris Berbaris, Miniatur Pionering, Stand Up Comedy, Musabaqah Tilawatil Quran dan Joged Komando.

"Alhamdulillah, MA Maarif Keputran Menyabet 5 Penghargaan dalam Gelar Kreativitas Panca Lomba Pramuka Tingkat Penegak se-Kwarda Lampung di STKIP Muhammadiyah Pringsewu 2017," ujar Pendamping Lomba yang juga Pembina OSIS Madrasah tersebut, Zulian Tri Muhardi sesaat setelah pengumuman dan pembagian hadiah.

Lima trofi piala yang sekaligus menambah koleksi prestasi MA Maarif NU Keputran tersebut disumbangkan dari raihan Juara 1 Miniatur Pionering Putra, Juara 2 Miniatur Pionering Putri, Juara 2 Stand Up Comedy, Juara 3 Musabaqah Tilawatil Quran dan Juara 5 Lomba Joged Komando.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Zulian berharap Prestasi tersebut dapat menambah semangat siswa dan siswi untuk belajar, berkarya , bekerja keras dan disertai rasa tanggung jawab.

Zulian menambahkan bahwa prestasi yang diraih ini merupakan hasil kerja keras para anggota pramuka MA Maarif NU Keputran yang dengan maksimal ? menunjukkan kemampuan terbaik. Latihan intensif dan Soliditas Kontingen juga menjadi salah satu faktor diraihnya prestasi membanggakan ini.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ucapan selamatpun mengalir dari Keluarga Besar MA Maarif NU teutama dari para dewan Guru. "Alhamdulilah, luar biasa untuk Pembina Pak Zulian khususnya, untuk anak luar biasa sekali, kerja keras dan pengorbanan terbayar sudah, sekali lagi selamat God Job," kata salah seorang Guru Wawan Krisdiyanto. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pesantren, AlaSantri, Olahraga Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 13 Januari 2018

UNU Blitar Siapkan Beasiswa bagi Mahasiswa Berprestasi

Blitar, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Pengelola Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar menerima SK dari Kemristek Dikti, Kamis (8/9) kemarin. Sesaat setelah itu pihak PCNU Blitar selaku pengelola UNU Blitar langsung bergerak. Begitu pulang dari Jakarta, Ketua PCNU Blitar langsung menggelar rapat terbatas di Sekretariat NU Jalan Masjid 22 Blitar. Mereka membahas antara lain beasiswa untuk mahasiswa berprestasi.

Bahkan, UNU Blitar akan mengusahakan beasiswa S2 baik di dalam maupun di luar negeri bagi mereka yang berprestasi.

UNU Blitar Siapkan Beasiswa bagi Mahasiswa Berprestasi (Sumber Gambar : Nu Online)
UNU Blitar Siapkan Beasiswa bagi Mahasiswa Berprestasi (Sumber Gambar : Nu Online)

UNU Blitar Siapkan Beasiswa bagi Mahasiswa Berprestasi

Rektor UNU Prof Dr HM Zainuddin MPd menjelaskan, tempat perkuliahan juga sudah siap. Sudah tersedia tiga lokasi. Kampus I berlokasi di Jalan Masjid 22. Sementara Kampus II berlokasi di Jalan Musi. Sedangkan Kampus III bertempat di Jalan Ciliwung 65 Kota Blitar.

“Kita gunakan tiga lokasi itu sambil menunggu kampus yang? permanen di Desa Poluhan Srengat Blitar yang kini sudah mulai proses pengerjaan,” kata Prof Zainuddin.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Peserta rapat ini membahas langkah strategis? bagaimana agar perguruan tinggi milik warga NU ini bisa cepat berkembang dan berjaya di Blitar dan sekitarnya.

Alhamdulillah semua kompunen NU siap membantu membesarkan UNU Blitar. Khususnya NU beserta Banomnya. Begitu mereka tahu SK sudah turun. Ini SK di tangan. Baru saya bawa dari Jakarta tadi pagi,” ujar KH Masdain Rifai Ahyat usai pertemuan didampingi Prof Zainuddin.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Menristek Dikti berpesan supaya kita segera membuka pendaftaran agar kegiatan perkuliahan segera terlaksana. “Untuk itu semua tancap gas. Bismillah lahaula wala quwwata illa billah,” kata Kiai Masdain.

Ia mengaku sangat optimis. Prospek UNU Blitar ke depan sangat? bangus dengan pertimbangan beberapa hal. Di antaranya, karena Universitas NU didirikan PBNU yang merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia, bahkan di Dunia.

“Besaran Blitar dan sekitarnya hampir 60 persen penduduknya adalah warga NU. Untuk itu saya sangat optimis, sebagian nanti akan mendaftarkan anaknya ke UNU,” katanya.

Selain itu, UNU Blitar menjadi satu-satunya universitas di Blitar Raya yang bertaraf nasional dan berpeluang membangun jaringan internasional. “Yang terpenting lagi UNU didirikan untuk menjadikan mahasiswa generasi bangsa yang memiliki karakteristik khas Aswaja Nahdliyah, nasionalisme, berprestasi dan sukses dalam berkompetisi,” tambah? Prof Zainuddin.

Menurut Zainuddin, UNU Blitar dibimbing dan dipimpin oleh para dosen yang memiliki keahlian di bidangnya. “Juga memiliki gedung dan sarana dan prasarana yang representatif. UNU Blitar menjadi universitas yang berdiri terakriditasi baik lembaga maupun prodinya. Juga memiliki jaringan di pemerintahan maupun swasta,” tandas Zainuddin. (Imam Kusnin Ahmad/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pesantren, Berita, Hadits Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 08 Januari 2018

Isra Miraj, Antara Akal dan Iman

Oleh KH MA Sahal Mahfudh. Sebuah seminar untuk memperingati Isra Miraj, diadakan di pesantren desa saya dengan mengetengahkan tema "Sufisme Sebagai Pengendali Moral". Tema ini ditinjau dari beberapa sisi di antaranya tinjaun filsafat. Menarik sekali, karena antara sufisme dan filsafat sama-sama diperdebatkan segi rasionalitasnya. Kalau filsafat saja, tentu sudah jelas ia mutlak berangkat dan akal/rasio manusia untuk mencari pembenaran sesuatu. Metode itu lalu dikenal dengan pemikiran filsafati, yaitu pemikiran menyeluruh, mendasar dan selalu mencoba menelaah hal-hal baru untak kemudian dikembangkan secara lebih luas lagi. Sedangkan sufisme, dalam seminar itu diperdebatkan antara rasionalitas dan irrasionalitasnya.

Ada beberapa seminaris yang menganggap sufisme sama sekali irrasional. Pendapat ini dikuatkan dengan kajian referensial terhadap sebuah pendapat ilmuwan terkemuka negeri ini. Ada lagi yang lebih unik, sufisme dinilai irasional tetapi tetap tidak meninggalkan unsur penalaran. Dari pendapat ini kemudian dipertanyakan tentang eksistensi dua hal yang saling berlawanan dalam satu permasalahan. Artinya, ijtima al-atsaroini (berkumpulnya dua hal yang saling berlawanan) ini jelas sangat mustahil. Seperti diam dan bergerak. Adalah mustahil, ada satu benda yang dapat melakukan diam dan bergerak dalam masa yang bersaman.

Isra Miraj, Antara Akal dan Iman (Sumber Gambar : Nu Online)
Isra Miraj, Antara Akal dan Iman (Sumber Gambar : Nu Online)

Isra Miraj, Antara Akal dan Iman

Agaknya ada lagi pendapat yang berkesan kompromistis. Bahwa dalam tahapan proses, sufisme bisa jadi melalui jalan rasional. Namun ketika sufisme telah mencapai titik puncak musyahadah (melihat dzat) Allah, tahap ini tidak lagi rasional. Ini mirip dengan agama sebagai wahyun ilahiyyun (kewenangan Tuhan) yang absolut dan irasional. Namun pada tahap pemahamannya, agama tetap rasional. Bahkan dikatakan, al-Din huwa al-aql 1a dina liman la aqla lahu (Agama adalah akal, tidak bisa beragama bagi orang yang tidak berakal).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Penjabaran ini sepertinya berangkat dari sebuah kitab kuno sufisme (bukan kitab sufisme kuno). Di sana disebutkan, jalan untuk mencapai kebahagiaan akhirat adalah terpenuhinya tiga dimensi syariat, thariqat dan haqiqat. Sementara posisi sufisme sebagai reaksi perasaan yang tinggi, agung dan murni terhadap pelaksanaan ketiga dimensi tersebut, tentunya tidak mungkin terlepas dari apa saja yang berkaitan dengan ketiga hal itu. Dan salah satu komponennya—seperti syariat—suatu saat, prosesnya bisa dan boleh menggunakan jasa akal. Meskipun jelas, tidak seluruh syariat berangkat dari penalaran dan memang eksistensinya sama sekali tidak rasional.

***

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Muncul satu masalah lagi dalam seminar itu, berkisar antara keberadaan ilmu, filsafat dan sufisme atau lebih tepatnya agama. Sebagaimana telah maklum, ilmu menggunakan jasa rasio, begitu juga filsafat. Akan tetapi ilmu tidak akan mencapai hakikat filsafat. Dan puncak filsafat juga tidak akan menerobos hakikat sufisme secara esensial mau pun eksistensial, pijakan keberadaan masing-masing berbeda.

Dari mata rantai ini, pembahasan seminar itu terasa bertele-tele, mengingat belum terselesaikannya satu masalah, sudah muncul lagi permasalahan baru. Maklumlah saya, karena keseluruhan seminaris adalah siswa Aliyah dan Tsanavviyah yang tentu saja masih terbatas kemampuan analogi dan sekaligus pemahamannya terhadap tiga masalah itu.

Kemudian salah seorang peserta mencoba bermain analogi (tamsil atau qiyas). Digambarkan, ilmu, filsafat dan sufisme melangkah dengan jumlah yang sama. Bila ilmu mencapai hitungan kelima misalnya, maka filsafat dan sufisme juga dalam hitungan yang sama pula. Akan tetapi ketika ilmu mencapai hitungan kedelapan, maka ia -menurut kaca mata agama- tidak mampu meneruskan langkah selanjutnya. Sementara filsafat bisa mencapai hitungan kesembilan saja dan sufisme dapat dengan bebas (boleh dan memang harus) meraih puncak hitungan ke sepuluh. Alhasil, para seminaris menerima analogi itu.

Terlepas dari benar tidaknya kesimpulan mereka, kiranya dapat diambil beberapa hal sebagai pijakan untak memandang fenomena Isra Miraj ditinjau dari akal dan keimanan. Hal ini agaknya sering aktual, karena kecenderungan umat awam (terhadap masalah keagamaan) yang berdisiplin ilmu tertentu, lebih suka mendalami agama melalui kajian penalaran yang disejajarkan dengan ilmu yang mereka miliki. Berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, orang akhirnya hanya akan mudah menerima segala hal termasuk agama, sejauh hal itu masuk akal dan rasional.

Sebetulnya gejala ini dalam batas-batas tertentu bisa dimengerti dan dimaklumi. Kecendemugan pola hidup praktis dan pragmatis dari modernitas yang ada mengajarkan manusia untuk senantiasa hanya menerima hal yang praktis pula. Soal akhirnya begitu susah dan enggan mereka diajak berbicara masalah di luar skenario akal manusia, apalagi yang bersifat mistis dan metafisis, itu soal lain.

Bahkan lebih jauh dari itu, sejak zaman Nabi peristiwa seagung Isra Miraj pun menjadi ajang perselisihan yang menyebabkan kuffar (orang-orang kafir) Mekkah semakin menertawakan dan menganggap Nabi berbohong secara berlebihan. Akal mereka sama sekali tidak bisa menerima kabar perjalanan Nabi ke luar angkasa dengan rentang masa yang kurang dari semalam, tanpa mempergunakan perantara transportasi apapun.

Di kalangan sahabat Nabi pun terjadi beberapa perselisihan. Satu pihak menganggap Isra Miraj hanyalah terjadi dengan rohaniah Nabi. Artinya jasad Nabi masih berada di Mekkah, sementara rohnya melakukan perjalanan Isra Miraj. Pendapat ini dikuatkan oleh Siti Aisyah yang melihat jasad Nabi di dekatnya, selama peristiwa itu berlangsung. Demikian juga sahabat Nabi yang lain seperti Muawiyah ibn Abu Sufyan. Berangkat dari pendapat ini, tentu saja pandangan rasio manusia akan dapat memaklumi hal tersebut, tanpa justifikasi ilmiah yang lebih terinci lagi.

Akan tetapi di lain pihak, suatu pendapat yang akhirnya mujma alaih (disepakati para ulama) menegaskan, perjalanan Isra Miraj Nabi adalah ruhan wa jasadan (dengan roh dan jasad fisiknya). Pendapat ini memahami dari teks firman Allah dalam surat al-Isra ayat pertama yang menyebutkan, kalimat Subhanal-ladzi asra bi abdihi (Maha Suci Allah yang telah meng-Isra-kan hambanya). Dari kalimat "subhana" para mufassirin sepakat menafsirkan peristiwa Isra Miraj sebagai peristiwa besar dan agung. Sangat mustahil kiranya, Allah menyantumkan kalimat "subhana tanpa sebuah maksud tertentu. Sementara kalimat "bi abdihi" sendiri jelas merupakan statemen yang menerangkan eksistensi Nabi secara ruhan wa jasadan.

Jika demikian persoalannya, maka tentu saja rasio akan serta-merta menggugatnya sebagai hal yang sama sekali tidak ilmiah dan irrasional. Melihat hal ini, kita akan ingat Isra Miraj sebagai sebuah informasi wahyu yang harus diimani oleh setiap mukmin, ternyata memang berlawanan dengan akal manusia. Bahwa antara wahyu dan akal sudah sejak lama bermusuhan sehingga mengakibatkan banyak korban jatuh, itu fakta sejarah. Kita tidak akan lupa pada peristiwa kaum Mutazilah mengenai "halaqah" Hasan al-Basri di Basra, se bagai akibat dari dipertahankannya akal/rasio oleh Mutazilah di dalam memahami setiap masalah agama.

***

Masalahnya adalah, apakah Isra Miraj diterima sebagai sebuah kebenaran sehingga sebagai komponen keagamaan, ia akan dengan mudah didistribusikan serta dikonsumsi oleh segenap umat dari berbagai kalangan. Menurut akal manusia Isra Miraj memang tidak akan menjelma menjadi hal yang rasional. Meskipun Isra Miraj boleh dijadikan ilham terhadap diciptakannya teknolgi luar angkasa, akan tetapi bagaimanapun juga manusia tidak akan dapat menemukan hakikat kebenaran Isra Miraj secara rasional.

Bahwa kemudian dalam kerangka filsafat, ditemukan pendekatan peristiwa agung itu, pada intinya ia memang bukanlah perkara manusia sehingga mampu dijangkau akal. Kita dapat mengungkapkan paham idealisme dalam fase filosofi yang berpendapat, untuk memperoleh gambaran yang benar dan tepat sesuai dengan pengetahuan adalah mustahil. Artinya, melalui pendekatan ini boleh jadi Isra Miraj masuk akal dan rasional. Akan tetapi akhirnya paham realisme dalam fase yang sama justru tetap menekankan kebenaran pengetahuan lewat pembuktian dari apa yang didapat lewat alam nyata (empiris). Artinya dalam batas-batas di atas, Isra Miraj memang masih rancu untuk dipahami umat akan kebenaran dan pembenarannya secara akal.

Agaknya kita lupa akan satu hal. Kebenaran Isra Miraj itu sendiri adalah perkara Allah yang tentu saja bagiNya, sama sekali tidak ada hal yang tidak mungkin terjadi. Allah adalah Maha Kuasa dan Maha Luas sehingga kekuasaannya melampaui segala batas ruang dan waktu. Apa yang tidak terbatas, tentu saja tidak akan dapat dibatasi oleh sesuatu yang terbatas.

*) Diambil dari KH MA Sahal Mahfudh, Nuansa Fiqih Sosial, 2004 (Yogyakarta: LKiS). Tulisan ini pernah dimuat Suara Merdeka, 7 Februari 1992.

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pesantren, Hadits Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 02 Januari 2018

99 Kiai Banten Hadiri Haul KH TB. Maani Rusjdi

Pandeglang,Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pondok pesantren Mathlaul Anwar Li Nahdlotil Ulama (MALNU) Menes, Banten menggelar haul ke IV KH TB. Maani Rusjdi dan 100 hari wafatnya KH Zidni Maani Rusjdi pada Sabtu (10/1). Kegiatan tersebut dihadiri 99 kiai dari berbagai wilayah di Banten pimpinan KH Moch. Ishak.

99 Kiai Banten Hadiri Haul KH TB. Maani Rusjdi (Sumber Gambar : Nu Online)
99 Kiai Banten Hadiri Haul KH TB. Maani Rusjdi (Sumber Gambar : Nu Online)

99 Kiai Banten Hadiri Haul KH TB. Maani Rusjdi

KH TB. Maani adalah sosok ulama yang telah memberikan sumbangsih besar terhadap dunia pendidikan pesantren yang ada di daerah Banten.

"Peringatan haul yang ke IV ini diadakan karena adanya tujuan yang penting yaitu mengenang jasa dan hasil perjuangan beliau terhadap syiar agama serta peran dan kepedulian beliau terhadap dunia pendidikan pesantren di Banten," ungkap Ervi Zidni Maani cucu pertama KH Maani Rusjdi.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Lebih jauh, Ervi mengatakan, pesantren adalah lembaga pendidikan genuin dan original. Keberadaan ulama dan pesantren adalah kekuatan sosial dan pilar peradaban, itulah kenapa pesantren dikatakan sebagai pendidikan asli Indonesia, pendidikan yang benar-benar membidik anak-anak bangsa dalam menciptakan tata peradaban negara.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sementara TB. Ahmad Shofi Azzaki yang juga salah satu pengasuh Ponpes MALNU menjelaskan, haul kali ini di hadiri kurang lebih 5.000 undangan yang terdiri dari alumni wilayah Jabodetabek, Lampung, Palembang dan sebagian wilayah Indonesia Timur.

Rangkaian haul yang juga memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut dimulai sejak Kamis-Sabtu, 8-10 Januari 2015 dengan mengkhatamkan Al Quran sebanyak 99 kali, Targhiban Santri-santri MALNU, serta kegiatan-kegiatan sosial lain.

Di akhir rangkaian acara, panitia mengadakan diskusi panel dengan tema "Membedah Ketokohan KH. TB. Maani Rusjdi Sebagai Sumber Inspirasi Yang Tidak Pernah Berhenti" dengan narasumber Dr. Soegiri tokoh pendidikan dari IAIN Banten, pungkasnya. (Nashr Fanie/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan AlaNu, Pesantren Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jika Ada Darah Tercecer di Iran, RI Ikut Bertanggung Jawab

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Hasyim Muzadi menyatakan, pemerintah Indonesia harus ikut bertanggung jawab atas dukungan perluasan sanksi terhadap Iran yang diputuskan Dewan Keamanan (DK) PBB di New York, Amerika Serikat, Sabtu (24/3).

"Kalau ada darah tercecer di Iran, Pemerintah Indonesia harus ikut bertanggung jawab," kata Hasyim usai mengikuti acara Deklarasi Baitul Muslimin Indonesia di kantor DPP PDIP, Jalan Raya Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Kamis (29/3) kemarin.

Hasyim menjelaskan, dukungan Indonesia atas Resolusi DK PBB nomor 1747 yang memberikan sanksi tambahan terhadap Iran atas program nuklirnya sudah terlanjur dilakukan.

Jika Ada Darah Tercecer di Iran, RI Ikut Bertanggung Jawab (Sumber Gambar : Nu Online)
Jika Ada Darah Tercecer di Iran, RI Ikut Bertanggung Jawab (Sumber Gambar : Nu Online)

Jika Ada Darah Tercecer di Iran, RI Ikut Bertanggung Jawab

Kebijakan itu, lanjut Hasyim, telah menunjukkan bahwa Indonesia telah berpihak pada upaya Amerika Serikat dan Israel untuk menyerang Iran.

"Itu adalah alat legitimasi pada tahap awal untuk menyerang Iran," kata Doktor Honoris Causa bidang Peradaban Islam itu.

Oleh karenanya, jika perang AS-Iran benar-benar terjadi, maka Indonesia menjadi salah satu negara yang harus ikut bertangung jawab, katanya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sebelumnya, Hasyim menegaskan, meski pemerintah Indonesia mendukung sanksi terhadap Iran, NU tetap konsisten mendukung Iran dan negara-negara lain di Timur Tengah yang menjadi korban ketidakadilan.

"NU sikapnya jelas yaitu selalu memperkuat yang benar, bukan membenarkan yang kuat. NU melakukan gerakan moral, bukan gerakan kepentingan. Kita semua berdoa sukses untuk bangsa Iran, Irak dan Palestina dalam meraih haknya yang sah," katanya.

Pada Sabtu (24/3), DK PBB menjatuhkan sanksi tambahan bagi Iran melalui Resolusi 1747. Rancangan resolusi yang dirumuskan Inggris, Prancis, dan Jerman itu disepakati secara bulat oleh 15 negara anggota DK PBB, termasuk Indonesia.

Resolusi itu memperluas sanksi atas Iran yang ditetapkan pada Desember 2006 dalam Resolusi 1737. Di antara isi Resolusi 1747 adalah larangan secara menyeluruh ekspor senjata Iran maupun pembatasan penjualan senjata ke Iran.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

DK PBB juga membekukan aset milik 28 lembaga atau perorangan yang berhubungan dengan program nuklir dan rudal Iran. Iran juga dibatasi untuk memperoleh bantuan keuangan.

DK PBB memberi batas waktu 60 hari setelah resolusi agar Iran menghentikan program nuklirnya. Jika diabaikan, DK bisa mengambil langkah yang lebih pantas berupa sanksi ekonomi, bukan militer. (ant/rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pesantren Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 22 Desember 2017

Ketika Sang Mursyid Membai’at Anak Kampus

Malang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi langsung bergegas merapat, mendekati Habib Lutfi bin Ali bin Yahya, sang mursyid thariqah yang juga Rois Am Jam’iyyah Ahlilth Thariqah al-Muktabarah an-Nahdliyah. Acara pembai’atan massal segera dimulai. Ketika Habib Lutfi mengatakan bahwa ia mengijazahkan thariqah yang diniatkan oleh masing-masing mahasiswa yang hendak berbaiat, maka sontak mereka mengatakan, “Qobiltu..! (Saya menerima).”

Habib mengatakan, “ Apakah kalian ridlo mempunyai mursyid yang seperti saya ini?”. Tanpa menunggu lama, para mahasiswa langsung menjawab setengah berteriak, “Ridlo…!”

Ketika Sang Mursyid Membai’at Anak Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Sang Mursyid Membai’at Anak Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Sang Mursyid Membai’at Anak Kampus

Jum’at (13/1), selepas shalat Jum’at, di masjis Al-Muttaqin, Bululawang, Malang, para anggota Mahasiswa Ahlilth Thariqah an-Nahdliyah (MATAN) disumpahsetia atau dibaiat oleh Habib Lutfi untuk mengikuti salah satu dari aliran thariqah.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ada enam dari sekian banyak thariqah yang diakui (muktabarah) yang menjadi idola mahasiswa ini, yakni Syaziliyah, Naqsabandiyah, Naqsabandiyah-Qadiriyah, Tijaniyah, Satariyah dan Alawiyah. Barangkali menjadi suatu kekhususan, Habib Lutfi bisa membaiat beberapa alitan thariqah sekaligus. Habib sendiri lebih dikenal dengan mursyid thariqah Syaziliyah.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Di antara sekian hal yang menarik dari Muktamar XI Jam’iyyah Ahlilth Thariqah al-Muktabarah an-Nahdliyah di Pondok Pesantren Al-Munawwariyah, Bululawang, Malang, mungkin yang paling menarik adalah fenomena “mahasiswa bertarikat”. Thariqah bagi anak kampus ini tidak biasa.

Habib Lutfi mengatakan, kata ‘maha’ dalam mahasiswa mengandung arti tanggung jawab intelektual dan disiplin keilmuan yang tinggi. “Maka yang dituntut adalah bagaimana membawa misi ke-maha-an dalam kesiswaan,” kata Habib sembari membakar semangat para murid untuk terus merenungkan ilmu Allah yang tak akan habis ditulis dengan tinta air laut".

Habib menambahkan, bahkan kata ‘maha’ itu banyak digunakan untuk mendukung sifat-sifat ketuhanan. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa sebenarnya beban yang dipikul mahasiswa itu cukup berat.

Kehadiran mahasiswa diharapkan membawa angin baru dalam pengembangan thariqah. Setelah dibaiat, para mahasiswa harus menjunjung tinggi nilai-nilai dan ajaran tarekat. Sebelum berbaiat habib mengingatkan, berbaiat juga berarti siap untuk meninggalkan dosa-dosa besar, dan mengurangi dosa-dosa kecil.

Bersama mahasiswa, Jam’iyyah Ahlilth Thariqah menjajaki pola kaderisasi yang baru dan di lingkungan yang baru. “Saya hanya berpesan tiga kata, ‘Jangan Kecewakan saya,’” kata sang mursyid mengakhiri baiat massal.

Penulis : A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Meme Islam, Pesantren Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 19 Desember 2017

Kisah KH Asad Syamsul Arifin Ajak Preman Shalat Jumat

Salah satu hal yang luar biasa dari sosok kiai adalah kearifannya dalam berdakwah. Sebagaimana yang dicontohkan oleh KHR. Asad Syamsul Arifin pengasuh Pesantren Salafiyah Syafiiyah Situbondo, Jawa Timur saat menyuruh para preman di daerah Bondowoso untuk ikut shalat Jumat.

Cerita yang disampaikan oleh salah seorang santrinya, H Ikrom Hasan kepada penulis ini bermula dari kehebatan ilmu kanuragan Kiai Asad. Tak hanya ilmu agama yang dikuasai oleh kiai yang baru saja ditetapkan sebagai pahlawan Nasional itu, tapi juga ilmu bela diri dan sejenisnya.

Kisah KH Asad Syamsul Arifin Ajak Preman Shalat Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah KH Asad Syamsul Arifin Ajak Preman Shalat Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah KH Asad Syamsul Arifin Ajak Preman Shalat Jumat

Berkat reputasinya dalam dunia persilatan tersebut, banyak preman, jawara, bromocorah wa alaa alihi wa ashabih yang segan kepada Kiai Asad. Jadi, tidak heran jika apa yang diucapkan oleh Kiai Asad menjadi semacam perintah yang wajib untuk dipatuhi. Bagi mereka, mematuhi perintah Kiai Asad adalah suatu kebanggaan tersendiri.

Meski demikian, Kiai Asad tidak serta merta memaksa mereka untuk melakukan shalat, misalnya. Pemaksaan dalam hal beragama, bagi Kiai Asad, bukanlah cara yang tepat untuk diterapkan dalam berdakwah. Apalagi bagi kalangan yang awam dari ilmu agama.

Kiai Asad punya cara tersendiri untuk mendakwahi mereka. Dalam suatu kesempatan, Kiai Asad mengumpulkan para preman tersebut. Di pertemuan itu, Kiai Asad minta tolong kepada kepala preman itu untuk menjagakan sandal para jamaah shalat Jumat yang kerap hilang.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Sandal jamaah di maajid ini sering hilang kalau sholat Jumat, saya bisa minta tolong untuk menjagakannya agar tidak hilang?" pinta Kiai Asad.

Seketika dedengkot para preman itu, menyanggupinya. "Gampang itu, Kiai. Paling yang mencuri ya anak buah saya. Biar saya yang akan menjaga," tanggapnya dengan bangga.

Pertemuan pun diakhiri dengan kesepakatan sebagaimana di atas. Kiai Asad berpamitan seraya mengucapkan terima kasih kepada para preman tersebut.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Hari Jumat pun tiba. Si dedengkot preman itu tampak berjaga di dekat masjid. Berkat pengawasannya tersebut, tak ada sepasang sandal pun yang hilang. Begitupun jumat berikutnya.

Hingga pada Jumat keempat, si dedengkot preman yang menjaga sandal itu merasa ada yang aneh. Sebagai sosok yang disegani dan ditakuti banyak orang, ia merasa tidak kelasnya untuk melakukan tugas tersebut.?

"Masak sih saya menjaga sandal tukang becak, penjual kacang dan orang-orang remeh itu," gugatnya. "Seharusnya saya juga sholat dan sandal saya yang dijaga," imbuhnya.

Persoalan itu, lantas ia adukan ke Kiai Asad. Dengan tenang Kiai Asad balik bertanya. "Kalau sampean ikut sholat, lantas siapa yang menjaga sandalnya?"

"Tenang, Kiai," jawab si dedengkot preman. "Saya punya banyak anak buah. Biar mereka yang menjaga, saya yang sholat," tegasnya.

Kiai Asad pun menyetujuinya sembari mengucap syukur dalam hati atas hidayah yang tak langsung diberikan kepada si preman tersebut.

Proses itu pun berlanjut ke preman lainnya. Saat disuruh menjaga sandal, ia pun merasa aneh. "Masak, preman suruh menjagakan sandal preman," gugatnya balik. Akhirnya, mereka satu per satu pun ikut sholat Jumat.

Demikianlah cara Kiai Asad mendakwahkan ajaran-ajaran Islam. Penuh kearifan, tanpa ada pemaksaan yang terkadang berujung pada pemberontakan.

Namun, lanjut H Ikrom, selama proses dakwah tersebut, Kiai Asad tak pernah berhenti bertaqarub kepada Allah. Ia bermunajat meminta kepada Sang Kholik untuk memberikan hidayah kepada para preman tersebut. Berkat kekuatan doa Kiai Asad itulah, para preman mendapatkan hidayah.?

(Barrur Rohim)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan RMI NU, Pesantren Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 14 Desember 2017

Pesantren Al-Anwar Sarang Siap Sambut Alim Ulama Nusantara

Rembang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Sepekan lagi helatan akbar pertemuan kiai-kiai sepuh nusantara bakal diadakan di Pondok Pesantren Al-Anwar Pusat, Desa Karangmangu Kecamatan Sarang Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, 16 Maret 2017.

Acara yang bakal menyedot perhatian publik ini dimotori oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengatakan dalam sebuah video yang beredar di media sosial bahwa PBNU merencanakan adanya pertemuan para sesepuh di Sarang, Rembang.

Pesantren Al-Anwar Sarang Siap Sambut Alim Ulama Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Al-Anwar Sarang Siap Sambut Alim Ulama Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Al-Anwar Sarang Siap Sambut Alim Ulama Nusantara

Dalam video pendek tersebut, Kiai Said sapaan akrabnya, juga mengungkapkan terkait tujuan acara, yakni mengharap nasihat, irsyadat (arahan), taujihad (petunjuk) dari para sesepuh, agar NU kedepan semakin bermanfaat.

Basit, Ketua Pondok Pesantren Al-Anwar Pusat membenarkan adanya kegiatan tersebut. Ia mengatakan, informasi tentang diadakannya acara tersebut sudah sampai kepada para Pengurus Pondok Pesantrean pada awal Maret.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Sudah dua kali pihak PBNU melakukan survei ke sini (Pesantren Al-Anwar). Rencana awal di Ponpes Al-Anwar 3, tetapi Mbah Yai (KH Maimoen Zubair) dawuhan di pusat saja," jelasnya saat ditemui Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan di Pondok Al-Anwar Sarang, Rabu (8/3) pagi.

Pihaknya juga telah melakukan beberapa persiapan, termasuk percepatan penyelesaian pembangunan gedung baru yang rencananya akan dipakai acara. Selain itu pembentukan kepanitiaan juga sudah diproses.

Diantara kiai sepuh yang datang dalam acara ini antara lain, KH Miftahul Akhyar, KH Said Aqil Siroj, KH Maimoen Zubair, Habib Luthfi bin Yahya, KH A Mustofa Bisri, KH Maruf Amin, KH Anwar Manshur, KH Munif Zuhri, TGH Turmudzi Badaruddin, KH Abuya Muhtadi, KH M Sanusi Baco, KH M Buya Letter, KH A Nawawi Abd Djalil, KH Dimyathi Rois, KH Ali Masyhuri, serta Tuan Guru A Zuhdiannoor. (Aan Ainun Najib/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Kiai, Pesantren Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 05 Desember 2017

Indonesia Mestinya Berdaulat di Bidang Budidaya Laut

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia Rokhmin Dahuri didaulat sebagai pembicara kunci dalam Konferensi Akuakultur Dunia yang dihelat di Ho Chi Minh City, Vietnam, Jumat (10/10). Ia menyampaikan potensi besar kekayaan kandungan laut Indonesia pada pertemuan dunia ini.

Kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan, Menteri Kelautan dan Perikanan di masa Presiden Abdurrahman Wahid dan Megawati itu mengatakan, Indonesia harus banyak berbenah. Segala bentuk program pemerintahan mestia diarahkan pada kedaulatan di bidang akuakultur. Sebab di negeri maritim terbesar di dunia ini menyimpan potensi luar biasa.

Indonesia Mestinya Berdaulat di Bidang Budidaya Laut (Sumber Gambar : Nu Online)
Indonesia Mestinya Berdaulat di Bidang Budidaya Laut (Sumber Gambar : Nu Online)

Indonesia Mestinya Berdaulat di Bidang Budidaya Laut

“Ide besar saya, mengingat permintaan dunia terhadap berbagai produk akuakultur seperti ikan, udang, kekerangan, kepiting, bahan farmasi, kosmetik, biofuel, dan perhiasan/mutiara sangat tinggi. Sementara Indonesia punya potensi produksi akuakultur terbesar di dunia sekira 60 juta ton per tahun,” kata Rokhmin.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Saya ingin Indonesia mampu menjadi negara besar yang maju, sejahtera, dan berdaulat berbasis pada sektor akuakultur, Rokhmin berharap.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dalam konferensi itu Rokhmin mengusung tema “Indonesias Aquaculture Landscape.” Konferensi ini dihadiri 500 peserta terdiri dari pengusaha, peneliti, dosen, dan perwakilan pemerintah dari seluruh dunia. (Musthofa Asrori/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Makam, Pesantren, Kyai Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 30 November 2017

KH Masdar: Muktamar di Luar Jawa, Strategis, Penting dan Bermakna

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Rais syuriyah PBNU KH Masdar Farid Mas’udi sangat mendukung jika muktamar ke-33 NU ke depan diselenggarakan di luar Jawa sebagai bagian dari menyapa basis NU yang selama ini lebih dikenal di Jawa.

KH Masdar: Muktamar di Luar Jawa, Strategis, Penting dan Bermakna (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Masdar: Muktamar di Luar Jawa, Strategis, Penting dan Bermakna (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Masdar: Muktamar di Luar Jawa, Strategis, Penting dan Bermakna

“Saya kira ini strategis, penting dan bermakna. Apalagi kalau kita hitung, baru empat kali dari 32 kali penyelenggaraan muktamar NU di luar Jawa. Ini saya kira masih njomplang sekali,” tandasnya kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan baru-baru ini.?

Sebagai gambaran, dari 32 kali muktamar, pulau Jawa masih sangat mendominasi, bahkan di Jawa Timur sudah diselenggarakan 11 kali muktamar. Terakhir, muktamar NU di gelar di Jawa Timur pada 1999 di pesantren Lirboyo Kediri.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Mengenai kesiapan daerah di luar Jawa untuk menyelenggarakan perhelatan akbar ini, Kiai Masdar menegaskan bahwa mereka harus didukung dan dibantu karena acara ini merupakan agenda PBNU.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Pasti mereka akan berkontribusi sesuai dengan kemampuannya. Pada dasarnya PBNU itu yang terpenting adalah menentukan keputusan politik penyelenggaraan muktamar di luar Jawa.” (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pesantren, Pendidikan, Daerah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 11 November 2017

Ini Alasan Masyarakat Sambut Jamaah Haji

Sidoarjo, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan ? . Jamah haji asal Indonesia yang sudah menunaikan ibadah rukun Islam kelima itu mulai berdatangan di wilayahnya masing-masing. Untuk jamaah haji asal Sidoarjo diprediksi akan sampai di bandara Juanda Sidoarjo pada 29 dan 30 September mendatang. Dari kedatangannya itu, ribuan jamah haji akan disambut keluarganya masing-masing untuk mencari keutamaan doa dari jamaah haji.

Ini Alasan Masyarakat Sambut Jamaah Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Alasan Masyarakat Sambut Jamaah Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Alasan Masyarakat Sambut Jamaah Haji

Menurut Kepala Kantor Kemenag Sidoarjo H Achmad Rofii, sudah menjadi tradisi bagi masyarakat menjemput jamaah haji menjadi target mereka semua. Pasalnya, masyarakat meyakini bahwa doa yang dipanjatkan jamaah haji itu mudah diterima Allah SWT.

Disamping itu, lanjut Rofii, ada fadilah atau keutamaan dari kedatangan jamaah haji ke tanah air, keluarga dan tetangga biasanya mencari fadilah tersebut dengan mendatangi rumah jamaah haji dan meminta untuk didoakan. Tradisi ini sudah menjadi tradisi secara turun-temurun.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Banyak kaum Muslim mempercayai bahwa doa yang dibawa seluruh jamah haji (mabrur-red) itu muda dikabulkan Allah SWT, sehingga banyak warga berangkulan untuk memeluk jamaah haji yang masih didampingi para malaikat. Dari sugesti itu, tradisi fadilah menjadi keutamaan tersendiri bagi kaum Muslim untuk mencari doa yang mudah dikabulkan," kata Rofii, Senin (26/9).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rencananya, dalam kepulangan para jamah haji asal Sidoarjo akan dijemput puluhan armada dari Bandara Juanda di Sidoarjo menuju embarkasi Surabaya. Setiba di embarkasi Surabaya, dimungkinkan banyak keluarga yang akan menjemput jamaah haji secara pribadi. Mengingat Surabaya dekat dengan Sidoarjo. (Moh Kholidun/Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Amalan, Pesantren Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 02 November 2017

NU Tidak Akan Diam Jika Dua Hal Ini Diusik

Sidoarjo, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan



Dewan Pakar Aswaja Center PWNU Jawa Timur Ustadz Maruf Khozin mengatakan, Nahdlatul Ulama mempunyai dua tugas penting yakni menjaga ajaran Ahlussunah wal-Jamaah dan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

NU Tidak Akan Diam Jika Dua Hal Ini Diusik (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Tidak Akan Diam Jika Dua Hal Ini Diusik (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Tidak Akan Diam Jika Dua Hal Ini Diusik

"Nahdlatul Ulama tidak akan tinggal diam jika dua hal tersebut diusik oleh siapa pun," kata Ustadz Maruf Khozin saat memberikan materi Kajian Aswaja pada acara Rijalul Ansor PAC GP Ansor Wonoayu di Masjid Baitussalam Desa Ketimang, Kecamatan Wonoayu, Sidoarjo, Rabu (4/10).

Maruf menambahkan, sebagai banom NU, Ansor Wonoayu Sidoarjo diharapkan bisa membentengi ajaran NU dan mampu menghadapi segala persoalan yang ada.

"Kader Ansor harus mampu menghadapi persoalan umat serta membentengi ajaran NU di tengah-tengah masyarakat," imbuhnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sementara itu, Ketua PAC GP Ansor Wonoayu Sidoarjo Choirudin Abdillah menyatakan, ada beberapa faktor lemahnya warga NU sehingga mudah direbut oleh kelompok lain, di antaranya pemahaman tentang NU dan lemahnya kemandirian jamaah dan jamiyyah.

"Kondisi masyarakat hari ini sedang diserang oleh kelompok di luar NU yang sengaja membingungkan warga NU dengan tujuan melemahkan NU secara struktural. Dengan hal demikian warga NU akan dengan mudah direbut oleh kelompok di luar NU," kata Choirudin.

Ia menegaskan, dengan dilaksanakannya Rijalul Ansor secara istiqomah di setiap ranting se-Kecamatan Wonoayu dapat membekali kadernya dalam meningkatkan pemahaman tentang NU dan juga kemandirian jamiyyah.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Kemandirian  jamiyah melalui iuran bisa diterapkan di masing-masing ranting melalui kaleng atau koin Ansor yang kedepannya bisa digunakan untuk kegiatan," pungkasnya. (Moh Kholidun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pesantren Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 28 Oktober 2017

Kang Said: Silakan Pilih Capres Siapapun, Bebas

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menyampaikan warga NU dibebaskan memilih calon presiden dalam pemilu mendatang.

“Silakan pilih capres siapapun, bebas, karena semuanya datang ke sini,” katanya, dalam peringatan hari lahir ke-91 NU digedung PBNU, Jumat (16/5).

Kang Said: Silakan Pilih Capres Siapapun, Bebas (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Silakan Pilih Capres Siapapun, Bebas (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Silakan Pilih Capres Siapapun, Bebas

Sejak khittah 1926, NU menjadi organisasi massa, tetapi sebagai organisasi besar, memiliki resonansi politik yang besar, yang digunakan untuk menjaga NKRI.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ia menegaskan, semua partai berhutang budi terhadap suara dari NU, belum lagi dalam pilpres, kontribusi NU dengan sendirinya akan sangat besar, dalam penentuan penentuan kemenangan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Tetapi sumbangan terbesar NU adalah menjaga stabilitas nasional,” tandasnya.  

Ditambahkannya, politik NU bukan untuk merebut kekuasaan, tetapi untuk menggerakkan. Indonesia masih menghadapi berbagai persoalan seperti sistem politik yang masih rapuh, kesenjangan ekonomi, keadilan dan persoalan lainnya. 

Dalam waktu sembilan tahun lagi, NU berusia seabad, tetapi berusaha bisa berperan lebih besar lagi, di tataran masyarakat dan negara. Kehidupan sosial bisa terus dijaga sehingga terus harmonis, NU menjadi pusat pertemuan organisasi Islam. 

“Inilah bentuk politik kebangsaan NU, berpolitik untuk mengarahkan haluan negara, mengajukan konsep perubahan yang mengarahkan pada kemajuan, inilah kiprah yang ingin diwujudkan NU menyongsong usianya yang ke satu abad.”(mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Hadits, News, Pesantren Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 18 Oktober 2017

Tiga Kategori Muslim di Amerika

Yogyakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan . Ada tiga kategori kaum Muslim yang tinggal di Amerika: isolasi, asimilasi, dan integrasi. Ketiga jenis tersebut masing-masing memiliki tantangan yang berbeda.

Tiga Kategori Muslim di Amerika (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Kategori Muslim di Amerika (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Kategori Muslim di Amerika

Pendapat ini disampaikan Jawad Bayat dalam diskusi "Islam in America" yang diselenggarakan AIFIS (American Institute for Indonesian Studies), awal Juli 2014 lalu, di Masjid Rahmatan lil Alamin, Yogyakarta.

Jawad Bayat adalah mahasiswa S2 di Hartford Seminary, Amerika. Dia merupakan generasi pertama yang lahir di Amerika dari keluarga Afganistan yang melakukan migrasi di Amerika pada tahun 1981 karena kondisi keamanan di Afganistan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kategori pertama isolasi, merujuk kepada kaum Muslim di Amerika di mana mereka hanya bergaul dengan sesama kaum Muslim dari negara asal mereka datang. Misalnya Muslim Indonesia yang hanya bergaul dengan sesama Muslim yang berasal dari Indonesia.

Dalam kehidupan sehari-hari, mereka menjaga jarak dengan warga Amerika lainnya. Dengan kondisi demikian, mereka dapat dikatakan kelompok Muslim yang eksklusif. Tantangan yang mereka hadapi adalah pergaulan mereka sangat terbatas karena hanya mengenal dari kelompok yang berasal dari negara yang sama.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kategori kaum Muslim yang kedua adalah asimilasi. Kelompok ini biasanya berasal dari kalangan remaja dan muda lainnya. Mereka bergaul dengan kalangan remaja dan muda Amerika, bahkan mereka juga ikut pesta dan pergi ke diskotik sebagaimana yang dilakukan anak-anak muda Amerika. Persoalan yang dihadapi oleh kelompok ini adalah mereka cenderung meninggalkan kewajiban-kewajiban dalam Islam, seperti shalat.

Sedangkan kategori kaum Muslim yang ketiga adalah integrasi yang merujuk kepada kaum Muslim yang mampu bergaul dengan warga Amerika pada umumnya tanpa meninggalkan kewajibannya sebagai seorang Muslim atau Muslimah. Kelompok ini biasanya berasal dari kalangan Muslim kelas menengah yang memiliki tingkat pendidikan dan ekonomi yang baik.

Diskusi yang dihadiri sekitar 70 peserta ini mendapat banyak respon. Salah satu peserta perempuan bertanya bagaimana kondisi kaum Muslimah di Amerika, apakah ada halangan dalam menggunakan jilbab. Jawad menjawab bahwa Pemerintah Amerika memberikan kebebasan kepada seluruh pemeluk agama termasuk Islam untuk menunjukkan identitas keagamaan.

Bagi kaum Muslimah diperbolehkan untuk tidak menggunakan jilbab. Apabila ada seseorang atau kelompok yang memaksa kaum Muslimah untuk menggunakan jilbab, Muslimah tersebut dapat melapor kepada polisi dan polisi akan menangkap pihak yang melakukan pemaksaan tersebut. (M Chozin/Mahbib)

Foto: Jawad Bayat dari Hartford Seminary, USA bersama santri Ponpes Krapyak Yogyakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pesantren Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock