Tampilkan postingan dengan label Kajian Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Islam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Maret 2018

Menjadi Budak Teknologi: Sebuah Renungan

Oleh: Aswab Mahasin

Dalam salah satu sajaknya Rumi mengatakan, “Ini semua bukan manusia, hanya wajah-wajah manusia yang mereka miliki. Budak-budak perut, korban-korban hawa nafsu.” Rumi merindukan manusia; di dalam kota yang megah itu; kebudayaan dan ilmu berkembang pesat, ia mencari manusia. Semua yang dicari ia temukan di sana, bangunan mewah, mobil mahal, pakaian branded, jam tangan ratusan juta rupiah, smartphone terbaru seharga puluhan juta, gedung-gedung menjulang tinggi, paras bersolek dengan kosmetik mahal, mall-mall yang ramai, makanan beragam jenis, dan berbagai perilakunya. Namun, itu bukan manusia. Rumi meyakinkan lagi, itu manusia, wujudunya manusia, bentuknya manusia, dan penampilannya manusia. Tetapi, bukan manusia sebenarnya, bukan manusia sesungguhnya. 

Menjadi Budak Teknologi: Sebuah Renungan (Sumber Gambar : Nu Online)
Menjadi Budak Teknologi: Sebuah Renungan (Sumber Gambar : Nu Online)

Menjadi Budak Teknologi: Sebuah Renungan

Mari kita merenung sejenak. Siklus hidup harian kita, dari mulai bangun tidur sampai tidur kembali, berapa kebaikan dan kemanfaatan yang kita tebar? Adakah dua atau tiga? Siapakah yang benar-benar mempunyai keinginan—dunia ini menjadi rukun dan saling menghormati? Praktisi politik mana yang tidak haus kekuasaan? Adakah dari kita yang tidak mempunyai kebencian? 

Tuhan menciptakan manusia sebagai khalifatullah, khalifah di muka bumi ini, bagi dunia dan seluruh isinya, semua sumbernya dan semua bendanya. Syed Abul Hasan Ali Nadwi mengatakan, “Manusia bukan untuk menjadi budak benda (materi) tetapi untuk membuat materi menjadi budaknya atau membuatnya untuk menjadi abadi Tuhan, dan untuk memanfaatkannya dalam memenuhi kehendak Tuhan.”

Telah jelas bukan? Teknologi bukanlah “majikan” yang harus kita taati. Ia hanya benda/barang yang mempunyai nilai guna/kekuatan netral untuk melayani manusia—walaupun teknologi berusaha menjadikan kita “jongosnya”. 

Sama-sama kita merasakan, perubahan hidup kita semenjak teknologi membaur. Tidak sedikit diantara kita ketika bangun tidur pertama yang kita cari adalah smartphone. Tidak sedikit juga diantara kita ‘mati gaya’ ketika smartphone kesayangan kita ketinggalan di saat kita berkumpul dengan teman-teman kita. Tidak sedikit di antara kita berebut charger ketika batre smartphone kita habis.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dahulu, janjian dengan seseorang sebatas lisan pun kita tidak bingung. Sekarang, tanpa handphone rasanya kita bingung untuk bertemu dengan seseorang, khawatir inilah-itulah. Banyak perubahan yang kita alami, dari mulai hal terkecil sampai hal terbesar. Ini yang kita rasakan sekarang. 

Ada istilah juga, surga dan neraka saat ini tergantung apa yang kita ‘ketik’ lalu kita ‘klik’ pada tombol ‘enter’. Begitupun anekdot yang mengatakan, dimensi dosa dan pahala berkembang. Dulu, tidak ada dosa medsos, sekarang ada. Dulu, tidak ada dosa hoaks di dunia maya, sekarang ada. Dahulu, Tuhan belum membangun kapling surga bagi pengguna internet yang sehat, dan belum juga membangun kapling neraka bagi pengguna internet yang tidak sehat. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Itu hanya sekedar anekdot, tidak usah diambil serius. Pastinya, di antara kita saat ini telah menjadi hamba teknologi. Meminjam bahasa para filosof, teknologi telah menjadi “tuhan baru” buat kita. Kita ketergantungan, melebihi ketergantungan terhadap Tuhan.

Digambarkan Allah dalam Al-Qur’an (Al-Anbiya: [21]: 52), Nabi Ibrahim AS bertanya kepada kaum penyembah berhala, “Apakah kamu menyembah patung-patung ini?” Sungguh tragis, apa yang kita buat sendiri telah kita sembah. Dewasa ini, teori dirumuskan, hukum ditentukan, mesin canggih dibuat, handphone pintar berjuta pilihan, televisi dengan kendali pikiran, dan sayangnya kita semua menjadi tunduk kepada hal-hal tersebut. Kita diperbudak, padahal Islam telah mengharamkan praktik perbudakan.

Memang berbeda, dahulu manusia memperbudak manusia, sekarang manusia diperbudak mesin. Dahulu manusia membeli budak dan budak yang dibeli itu menjadi jongosnya. Sekarang sebaliknya, manusia membeli mesin dan mesin itu menjadi majikannya dan kita adalah jongosnya.  

Apakah ada yang salah? Tidak ada, selagi produk teknologi difungsikan sesuai kegunaannya. Bukan untuk ujuran kebencian, saling menjatuhkan, memfitnah, apalagi menyebarkan contoh perilaku yang tidak baik, itu tidak masalah. Namun, faktor ini yang menghalangi penghargaan terhadap modernisasi (dengan perkembangan teknologinya) karena telah mengalami atropia (kehilangan kualitas moral).

Mesin-mesin cenderung mencipta tidak hanya lingkungan hidup baru, melainkan juga mengubah hakikat manusia. Lingkungan hidup bukan lagi milik manusia, tetapi justru telah menjadi pemilik manusia. Manusia juga diharuskan menyesuaikan diri pada suatu dunia yang sebenarnya tidak diciptakan baginya. Ia dikejar oleh waktu. Ia makan tidak karena lapar dan tidur tidak karena mengantuk, tetapi karena waktu telah menunjukan saat makan dan tidur. (Imam Sukardi dkk, Pilar Islam Bagi Pluralisme Modern, 2003)

Begitupun fitnah yang tersebar, ujaran kebencian yang ada, ia keluar melalui tulisan maya bukan karena dasar tidak suka, melainkan kehendak berkuasa menuntunnya melakukan itu, dan ia melakoninya dengan kejujuran sesuai pemahamannya. Dalam hal ini, ia merasa mendapatkan ruang ekspresi yang bebas. Hanya saja, kadang lepas kontrol. Berbeda dengan penyebar hoaks berbayar, mereka “keterlaluan”.

Teknologi, khususnya informasi terbuka—melihat arus masyarakat bawah (awam), keterbukaan informasi banyak memberikan beban kehidupan. Ibu-ibu di desa, tukang becak, tukang bangunan, dan tukang-tukang yang lainnya—Obrolannya PKI, obrolannya demo (212, 299, dan seterunya), obrolannya hak angket. Sesungguhnya bukan kapasitas mereka memikirkan itu, tapi mereka merasa terbebani dengan hal tersebut (berita terus-menerus membayangi mereka). Bagi kebanyakan orang, ini kesadaran politik, kesadaran sejarah, dan kesadaran-kesadaran lainnya. Bagi saya, tidak! Sesuatu hal yang sia-sia memikirkan itu (untuk mereka). Disinilah masyarakat terjebak oleh pola pikir dan pola berita “amburadul”. 

Teknologi/internet tidak bisa menjelaskan, mana orang pintar, mana orang bodoh, mana orang jahat, mana orang baik, mana orang bijaksana, mana orang tidak bijaksana, mana orang membawa kebencian, dan mana orang membawa kedamaian. Di situ kita terjebak pada ‘hutan rimba’, berisi berbagai macam binatang berakal, ada singa yang ganas, ada ular berbisa, ada pula orang hutan yang baik, ada juga kelinci yang cerdik, dan ada juga burung yang penyayang. Entahlah, siapa yang benar di antara kita? Alam maya adalah hutan yang tak berpohon, banyak kemungkinan baik dan buruk.

Kita hanya menangkapnya, setiap ada yang tidak sesuai maka ia salah. Memang demikian, kegelapan selalu memiliki banyak rupa, tetapi cahaya hanya satu. Nur (cahaya) senantiasa berbentuk tunggal. Allah berfirman, “Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang beriman. Dia membawa mereka dari dzulumat kepada nur”. (QS. Al-Baqarah [2]: 257). 

Dzulumat adalah bentuk jamak dari dzulmat, berarti kegelapan. Kenapa “nur” selalu berbentuk tunggal? Bukan karena bahasa Arab tidak mempunyai bentuk jamak untuk hal itu, tetapi karena cahaya adalah satu, asalnya satu—kesadaran akan Sang Pencipta. Tidak ada sumber petunjuk lain jika cahaya dari Allah tidak ada. (Syed Abul Hasan Ali Nadwi, Pesan Islam, 1995, hlm. 47) 

Artinya, menyekat “keterbudakan” kita terhadap teknologi ialah dengan kesadaran. Kesadaran terhadap seruan dan perintah dari Allah, untuk kita terapkan dalam realitas kehidupan, agar cahaya-cahaya Ilahi menyelimuti kita. 

Iqbal mengatakan, “Meskipun Barat (teknologi) bersinar dengan cahaya ilmu, lautan kegelapan tidak menjadi “sumber kehidupan”, suatu bangsa (manusia) yang tidak diberkati dengan cahaya Tuhan, uap dan listrik membatasi pekerjaannya.” Bisa dimaknai, teknologi adalah “sumber kehidupan” yang berada pada “lautan kegelapan”, bisa juga sebaliknya—teknologi adalah “lautan kegelapan” yang tidak mempunyai “sumber kehidupan”. 

Karena itu, alangkah indahnya sekarang kita merenung kembali, adanya teknologi (medsos, smartphone, dan internet) memberikan kemudahan terhadap hidup kita, salah satunya kemudahan dalam menebarkan kemanfaatan sebanyak-banyaknya. Kita tidak seharusnya diperbudak, dikendalikan, melainkan kita yang mengendalikan, menjadikan teknologi sebagai “sumber kehidupan” pada “lautan pencerahan”, di dalamnya berisi cahaya-cahaya Tuhan. 

Dengan demikian, kehati-hatian, kontrol diri, dan kesadaran dalam memfungsikan teknologi, khsusunya Medsos, Internet, dan smartphone menjadi hal utama. Selain kesadaran terhadap Allah—continum tak terputus—membangkitkan pula kesadaran moral/etika/akhlak, supaya kita bisa hidup bersama di alam maya, menghormati orang lain, membangun toleransi, dan menebarkan kebaikan.

Saya akhiri dengan pesan Rasulullah SAW dalam sebuah hadits, dinyatakan pada hari kiamat Allah akan berkata kepada hamba-hamba-Nya, “Aku jatuh sakit dan kamu tidak menengok Aku”. Hamba itu akan menjawab, “Engkau Tuhan seluruh alam. Bagaimana saya bisa menengok Engkau?” Kemudian Allah akan berkata, “Tidakkah kamu mengetahui si anu hambaKu sakit dan kamu tidak mau menengoknya? Seandainya kamu pergi untuk melihat dia agar dapat menggembirakan atau membantu, kamu akan mendapati Aku bersamanya.” 

Allah akan berkata lagi, “Wahai anak Adam! Aku minta makanan, tetapi kamu tidak memberi makanan kepadaKu”. Hamba itu akan menjawab, “Engkau Tuhan seluruh alam bagaimana saya dapat memberiMu makanan? Allah akan berkata, “Apakah kamu tidak menyadari bahwa si anu seorang hambaKu minta makanan kepadamu dan kamu tidak memberinya. Seandainya kamu memberi dia makanan kamu akan mendapati dia bersama Aku”. 

Allah akan berkata lagi, “Wahai anak Adam! Aku telanjang, tetapi kamu tidak menutupi aku dengan sebuah pakaian.” Hamba itu akan menjawab, “Engkau Tuhan seluruh alam. Bagaimana saya dapat memberi Engkau? Kemudian Allah akan berkata, “Si anu hambaKu meminta sesuatu kepadamu untuk dipakai dan kamu tidak memberikannya kepada dia. Seandainya kamu telah melakukan hal itu, pakaian itu akan sampai kepada-Ku.”





Penulis, Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah Kebumen, Jawa Tengah

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Kajian Islam, PonPes, Amalan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 13 Maret 2018

Pemberantas Korupsi Tak Bersih, Korupsi Merajalela

Magelang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi menilai, tindak pidana korupsi makin merajalela sedangkan pihak berwenang yang melakukan pemberantasan korupsi juga tidak bersih.

"Tambah tinggi tambah merajalela," katanya saat memberikan tausyiah Harlah Bersama Badan-Badan Otonomi Nahdlatul Ulama Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah di Lapangan "drh Soepardi" Kota Mungkid, di Magelang, Kamis (19/4) yang dihadiri ribuan warga nahdliyin setempat.

Ia mengatakan, seharusnya semakin banyak korupsi maka semakin mudah melakukan pemberantasannya. Korupsi, katanya, terjadi dari sekadar orang mengambil sandal di masjid hingga korupsi di Jakarta.

Pemberantas Korupsi Tak Bersih, Korupsi Merajalela (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemberantas Korupsi Tak Bersih, Korupsi Merajalela (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemberantas Korupsi Tak Bersih, Korupsi Merajalela

Ia menyebut mereka yang tertangkap aparat karena melakukan korupsi sebagai sedang sial. "Saking banyaknya korupsi sebenarnya asal ambil (tangkap pelakunya,red) pasti kena," katanya.

Ia mengaku mendapat keluhan dari seseorang yang disangka korupsi Rp65 juta tetapi dirinya harus mengeluarkan uang hingga Rp400 juta untuk mengurusnya. "Lalu siapa sebenarnya yang korupsi. Siapa yang ketangkap itu yang sedang apes, yang nangkap kelakuannya sama tetapi tidak terjamah," katanya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pada kesempatan itu Hasyim juga mencontohkan perilaku buruk oknum aparat penegak hukum dalam melaksanakan tugasnya. "Seorang kehilangan kambing, lapor kepada petugas harus membayar senilai harga sapi, jadi orang itu kehilangan kambing dan sapi," katanya. (ant/kut)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Internasional, Kajian Islam Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 25 Februari 2018

Peraih Doktor Termuda di Jepang, Aktivis PCINU

Depok, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Ada yang istimewa pada kuliah umum di STAI Al-Hamidiyah Depok, Senin (15/9) petang. Dua narasumber sangat kontras satu sama lain. Pertama, Menteri Agama Republik Indonesia ke-21, Lukman Hakim Saifuddin. Kedua, Emil Elestianto Dardak, PhD, peraih gelar doktor termuda pada usia 22 tahun dari Ritsumeikan Asia Pasific University Jepang. Usut punya usut, pria ini adalah mantan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jepang.

Emil, sapaan akrabnya, menceritakan saat dirinya mengambil S2 dan S3 di Jepang, sebuah negara kepulauan mirip Indonesia, belum ada organisasi sebagai wahana diskusi tentang keislaman dan kemajuan teknologi. Kemudian ia bersama kawan-kawannya mendirikan NU di Jepang.

Peraih Doktor Termuda di Jepang, Aktivis PCINU (Sumber Gambar : Nu Online)
Peraih Doktor Termuda di Jepang, Aktivis PCINU (Sumber Gambar : Nu Online)

Peraih Doktor Termuda di Jepang, Aktivis PCINU

?

“Kami mahasiswa Indonesia di Jepang saat itu butuh wahana silaturahim. Sayangnya, belum ada untuk sekedar tempat bicara dan diskusi tentang keislaman yang ramah. Maka, kami mendirikan NU di sana,” ujar suami artis Arumi Bachsin ini kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan usai berbicara sebagai narasumber pada kuliah umum di STAI Al-Hamidiyah, Senin (15/9).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dia menambahkan, saat itu Rais Syuriah pertama Pak Kharirie. Kemudian penerusnya Pak Agus Zainal Arifin (sekarang dekan di ITS). “Kalau saya mulai aktif sebagai salah satu ketua, yaitu bidang Hubungan Pemerintah, sejak 2005. Nah, ketua umum saat itu Indra Singawinata,” sebutnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dalam kepengurusannya, lanjut Emil, di PCINU pernah membuat program “Santri Nelayan” untuk membantu pesantren di daerah pesisir. Program tersebut berupa pembuatan soft ware Quran Digital, fasilitas teknologi informasi (IT), dan perangkat komputer untuk para santri agar mereka dapat beradaptasi dengan teknologi terkini. Hal tersebut dilakukan supaya proses belajar-mengajar di pesantren lebih efisien.

Menyinggung soal isu kemaritiman, Emil mengatakan belum lama ini koran Singapura The Street Time memuat pendapatnya mengenai poros maritim yang didengungkan Presiden terpilih Joko Widodo. Bagi dia, kunci terpenting poros maritim adalah mengaitkannya dengan kesatuan nasional. Isu ini sangat strategis di mana penduduk pesisir yang mayoritas warga Nahdliyin itu merupakan perekat persatuan dan kesatuan bangsa.

“Kita ini kan pulau-pulau besar. Satu pulau bisa melebihi satu negara. Tapi apa yang bisa merekatkan kita jadi satu? Lautan di negeri ini mestinya menjadi penyatu bukan pemisah. Jadi, penyatu Indonesia itu ya lautan. Oleh karena itu, perlu dibangun infrastruktur pelabuhan yang membuat ongkos membeli barang dalam negeri lebih murah daripada mengirim keluar. Sedangkan hari ini kebalikannya,” tutur dia.

?

Emil menekankan tidak berarti serta-merta ketika Indonesia berorientasi maritim lalu konektivitas di darat terlupakan. “Kita bikin pelabuhan tapi tidak tersambung ke mana-mana kan percuma. Justru harus ada konektivitas antara pelabuhan dengan pusat-pusat produksi. Jadi, logistik jadi terpadu. Itu yang penting,” tegasnya.

Emil bercerita, ia pernah meneliti tentang link and match. Kenapa di sebuah desa bisa tertinggal dari sisi SDM dan teknologi. Karena apa yang diajarkan di sekolah tidak dapat diaplikasikan di lingkungannya. “Harus ada satu keterpaduan di hilir dan di hulu. Misalnya, kita pengen nelayan menggunakan teknologi perkapalan atau penangkapan ikannya, ada demand di hilir. Di hulunya kita profit. Jadi, mindset mulai anak SD hingga SMA harus match,” paparnya.

Cucu KH Dardak asal Trenggalek Jawa Timur ini menambahkan, ilmu yang diperoleh sejalan dengan apa yang bisa dikaryakan di situ. Jadi kemampuan santri untuk mengoperasikan penangkapan ikan berbasis teknologi itu menjadi penting. Ia merasa, pesantren di mana-mana itu balance. Orang yang memiliki kondisi spiritual yang baik berada dalam kondisi belajar yang kondusif.

“Itu yang kami lihat. Dia bisa punya etos kerja. Jadi, harus dikaitkan ajaran Islam itu ke dalam etos belajar dan etos kerja yang baik. Karena sekarang ini SDM kita justru karakternya yang harus didorong, nggak cuma kemampuan teknis. Nah, format belajar yang menggunakan pendekatan pesantren itu diharapkan menjadi satu dobrakan ke arah sana,” pungkasnya. (Ali Musthofa Asrori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Kajian Islam, Bahtsul Masail Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 24 Februari 2018

Ansor dan Banser Siap Hadapi Pengganggu Kedaulatan Negara

Demak, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Gerakan Pemuda Ansor yang merupakan bagian dari Nahdlatul Ulama adalah salah satu organisasi yang mempunyai komitmen kuat terhadap bangsa ini. Maka sudah sewajarnya jikalau Ansor berkewajiban untuk membela dan mempertahankan bangsa Indonesia dari rongrongan maupun ancaman siapa pun.

Ansor dan Banser Siap Hadapi Pengganggu Kedaulatan Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor dan Banser Siap Hadapi Pengganggu Kedaulatan Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor dan Banser Siap Hadapi Pengganggu Kedaulatan Negara

“Maka kontribusi Ansor sangat dibutuhkan, karena ? bagi Ansor NKRI harga mati, siapapun pengganggu negara kita Indonesia hadapi dulu Ansor dan Banser,” tegas Ketua PC GP Ansor Demak H Abdurrahman Kasidi pada seminar kebangsaan yang digelar Kesbangpolinmas dengan Ansor Demak, Jumat (24/2) di Yayasan Hidayatul Mubtadiin Bulusari Sayung Demak Jateng.

Dia menambahkan, dengan adanya kegiatan seminar kebangsaan tersebut baik pemerintah maupun Ansor menurut Abdurrahman Kasidi tersebut semua pihak merasa diuntungkan.

“Ansor menyambut baik kerja sama dengan Kesbangpolinmas untuk mengadakan kegiatan bela negara ini,” katanya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sementara itu Kepala kesbangpolinmas H Taufiq Rifa’i yang juga sebagai narasumber mengajak Kader Ansor untuk berperan aktif dan kerja sama berkesinambungan dalam mengantisipasi kelompok-kelompok yang selama ini mengganggu kedaulatan negara.?

Termasuk di dalamnya kelompok Islam garis keras yang selalu menggembar gemborkan khilafah atau negara Islam karena itu dianggapnya bisa mengganggu kedaulatan Bangsa dan negara.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Sahabat-sahabat Ansor dan Banser selama ini kiprahnya sudah jelas maka teruskan, mari kita jaga bangsa ini, bela negara merupakan amanat konstitusi,” ajaknya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua DPRD Demak yang merupakan Ketua Pembina Yayasan Hidayatul Mubtadiin H Nurul Muttaqin merasa Bangga dengan antusiasme Kader Ansor dan Banser ? dalam mengikuti seminar kebangsaan tersebut.

“Melihat kesungguhan sahabat-sahabat, saya merasa senang, melihat Ansor dan Banser masih punya tanggung jawab yang tinggi terhadap bangsa dan negaranya,” katanya.

Seminar kebangsaan ini diikuti lebih dari 200 peserta dari Cabang dan Anak Cabang se-Kabupaten Demak. (A. Shiddiq Sugiarto/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Sunnah, Kajian Islam Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 02 Februari 2018

Jelang UAS, Mahasiswa NU Polinela Gelar Khatmil Qur’an

Bandar Lampung, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Menjelang ujian akhir semester (UAS), puluhan mahasiswa Nahdliyyin Politeknik Negeri Lampung (Polinela) yang tergabung dalam Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) mengadakan acara khatmil qur’an di Masjid Almannar Gang Senen, Bandar Lampung.

Jelang UAS, Mahasiswa NU Polinela Gelar Khatmil Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang UAS, Mahasiswa NU Polinela Gelar Khatmil Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang UAS, Mahasiswa NU Polinela Gelar Khatmil Qur’an

Khataman Al-Qur’an dipimpin Ustadz Beni Hidayat, pembina KMNU Polinela, Sabtu (31/12). Acara dimulai dengan shalat dhuha bersama, pembacaan shalawat, lalu pembacaan Al-Qur’an.

Ketua Umum KMNU Polinela Muhammad Ajid MD menyampaikan, khatmil qur’an ini merupakan agenda rutin yang akan dilaksanakan setiap bulan. “Insyaallah akan jadi agenda rutin, ini perdananya,” imbuhnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Mahasiswa Mekanisasi Pertanian ’14 ini berharap, dengan khatmil qur’an ini mahasiswa Polinela akan lebih mencintai Al-Qur’an. “Daripada akhir tahun diisi dengan maksiat, lebih baik kan begini bisa dekat-dekat dengan Al-Quran,” tuturnya.

Ketua pelaksana kegiatan, Hasyim Asy’ari mengatakan, acara berjalan sesuai yang ditargetkan panitia. “Alhamdulilah acara berjalan lancar tanpa kendala, beberapa mahasiswa lintas organisasi di Politeknik Negeri Lampung juga hadir dalam acara ini,” kata mahasiswa Perikanan angkatan 15 ini.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Menurutnya, antusiasme masyarakat sekitar juga baik. “Ada yang memberikan air mineral beberapa dus. Kami berharap dengan barokah khatmil quran ini UAS kami dimudahkan serta memberikan hasil yang memuaskan,” pungkas Hasyim.

Acara diakhiri dengan makan bersama ala santri serta pembacaan shalawat oleh grup Permata Shalawat Polinela. (Nuril/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pahlawan, Hadits, Kajian Islam Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 25 Januari 2018

Ngaji Falak, Pesantren Al-Falah Hadirkan Tim Ahli dari UIN Walisongo

Salatiga, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Dalam rangka kegiatan Ramadhan Santri, PPTI Al-Falah Kabupaten Salatiga mengadakan Pelatihan Ilmu Falak dengan narasumber dari CSSMoRA UIN Walisongo Semarang. Kegiatan yang berlangsung akhir pecan, Sabtu-Ahad (18-19/6) diikuti sebanyak 70 peserta yang terdiri atas santri Al-Falah dan santri umum.

Pengasuh Pesantren Al-Falah Ibu Nyai Hj Latifah Zoemri menyambut baik kegiatan ini. Ia berharap setiap tahunnya diadakan even seperti ini agar santri termotivasi untuk lebih semangat dalam menimba ilmu, tidak hanya ilmu agama tetapi juga ilmu umum lain yang porsinya sama penting.

Ngaji Falak, Pesantren Al-Falah Hadirkan Tim Ahli dari UIN Walisongo (Sumber Gambar : Nu Online)
Ngaji Falak, Pesantren Al-Falah Hadirkan Tim Ahli dari UIN Walisongo (Sumber Gambar : Nu Online)

Ngaji Falak, Pesantren Al-Falah Hadirkan Tim Ahli dari UIN Walisongo

Dalam rangkaian kegiatan, sebanyak delapan sesi materi disampaikan secara gabungan. Peserta mengkaji materi pengenalan kalkulator, menghitung sudut, penentuan arah kiblat dan dengan observasi bulan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pada setiap materinya, peserta tidak hanya diberi teori yang harus mereka catat. Tetapi peserta juga diharuskan praktik secara langsung dengan peralatan yang sudah disiapkan oleh tim narasumber. Mereka juga belajar menggunakan teodolit, alat ukur sudut tengah dan mendatar untuk menentukan jarak dan tinggi sesuatu.

Tim narasumber Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs (CSSMoRA) dengan sangat telaten menjelaskan materi yang belum dipahami peserta. Dari setiap pertanyaan yang diajukan peserta, mereka jawab dengan penuh kesabaran meskipun tengah berpuasa.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Tim yang beranggotakan sebanyak 12 orang ini termasuk Siti Nur Halimah yang merupakan puteri bungsu KH Zoemri RWS, pendiri PPTI Al-Falah. Mereka adalah mahasiswa program studi Ilmu Falak UIN Walisongo Semarang.

Peserta tampak antusias mengikuti jalannya kegiatan, apalagi pada kegiatan terakhir yaitu observasi bulan. Dengan teleskop, peserta bisa melihat keindahan bulan dan planet saturnus. Dari pesan dan kesan yang disampaikan Latifah sebagai perwakilan peserta, dia menyampaikan rasa syukur karena mengikuti kegiatan pelatihan. Pasalnya dalam pelatihan ini ada banyak sekali ilmu, pengalaman dan pengetahuan yang didapat.

“Yang biasanya hanya manut ke mana arah kiblat, dengan mengikuti pelatihan ini jadi bisa menentukan sendiri arah kiblat di manapun dengan ukuran yang jelas,” tambahnya.

Peserta berharap agar pelatihan ini dilanjutkan lagi pada waktu yang akan datang dengan materi yang lebih dalam dan lebih menyenangkan. (Evie Yunianti/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pendidikan, Kajian Islam, Sunnah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 05 Januari 2018

Harlah Kota Ke-13, PMII Kumpulkan Para Tokoh Kota Banjar

Banjar, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Alunan lagu Indonesia Raya yang dikumandangkan ratusan peserta kegiatan Ke-13 Tahun Refleksi dan Evaluasi Kota Banjar di Graha Banjar Idaman Kota Banjar, Jawa Barat berjalan khidmat. Acara yang digelar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Banjar, Kamis (17/3) dalam momen ulang tahun Ke-13 Kota Banjar.?

Dalam kurun waktu 13 tahun, Kota Banjar mengalami kemajuan pesat bila dilihat dari segi infrastruktur. Hal itu disampaikan salah satu Presidium pemekaran Kota Banjar, R Bahtiar Hamara. Dia salah satu tokoh yang memperjuangkan pemekaran Kota Banjar dari Kabupaten Ciamis.

Harlah Kota Ke-13, PMII Kumpulkan Para Tokoh Kota Banjar (Sumber Gambar : Nu Online)
Harlah Kota Ke-13, PMII Kumpulkan Para Tokoh Kota Banjar (Sumber Gambar : Nu Online)

Harlah Kota Ke-13, PMII Kumpulkan Para Tokoh Kota Banjar

"Dulu saya punya angan-angan bahwa suatu saat Banjar akan menjadi suatu kota yang Caang (terang). Selain itu, infrastruktur juga bagus, jalannya mulus. Nah, ketika Banjar pada umur yang 10 tahun, sudah tercapai," ungkapnya dihadapan peserta Refleksi.

Dia membeberkan perjuangan menaikkan status dari Kota Administratif (Kotif) Banjar menjadi Kota Banjar tidak semudah membalikan tangan. "Ada proses panjang yang kita lalui, khususnya dengan para pemuda yang menjadi motor penggeraknya, yakni Forum Peningkatan Status Kota Banjar (FPSKB)," imbuhnya.

Sementara itu, hadir juga Presidium dari kalangan agamawan KH Muin Abdurrohim yang juga sekarang Rais Syuriah PCNU Kota Banjar. Dia sangat bersyukur PMII Kota Banjar telah membuat gagasan cerdas dalam menyampaikan keinginannya mengetahui sejarah dan tokoh yang ada di Kota Banjar.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"PMII datang kepada saya, mereka berniat mengumpulkan semua tokoh yang ada di Banjar. Mulai eksekutif, legislatif serta yudikatif. Dan Alhamdulillah terlaksana. Kami selaku presidium merasa senang dengan niat baik PMII,” paparnya.

Kiai Muin menyampaikan kegelisahannya dalam memandang Kota Banjar hari ini. Dia mengatakan pelayanan publik di Kota Banjar perlu ditingkatkan. Sebab, Rasulullah SAW mengajarkan demikian kepada umatnya. "Pemerintah yang baik adalah yang bisa melayani masyarakatnya dengan baik," pungkasnya.

Ditempat yang sama, ketua penyelenggara, Wahidan, mengatakan bahwa kegiatan yang diprakarsai PMII adalah bentuk "demo" yang lebih elegan. Pasalnya, konotasi aksi jalanan menurutnya perlu diperbaiki citranya di masyarakat.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Kalau kita duduk bareng dengan semua pejabat, terus kita juga libatkan semua ormas, OKP, LSM, dan kelompok lainnya untuk memberikan masukan kepada pemerintah melalui jalan diskusi itu kan lebih elegan toh,” ucap Wahidan. (Muhafid/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Nusantara, Kajian Islam Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 13 Desember 2017

Satkorcab Banser Karanganyar Gelar Diklatsus

Karanganyar, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan 

Satuan Koordinator Cabang (Satkorcab) Banser Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah menggelar Pendidikan dan Pelatihan Khusus (Diklatsus) Barisan Ansor Serbaguna (Banser) yang diselenggarakan di Balai Desa Karangmojo, Tasikmadu, Karanganyar.

Diklatsus telah berakhir Ahad (17/3) lalu. Menurut salah satu instruktur acara, Ihsan, peserta yang hadir merupakan perwakilan pilihan dari kader Ansor-Banser Pimpinan Anak Cabang (PAC) se-Kabupaten Karanganyar. “Peserta pada pelatihan ini mencapai 75 orang,” Papar Prabu.

Satkorcab Banser Karanganyar Gelar Diklatsus (Sumber Gambar : Nu Online)
Satkorcab Banser Karanganyar Gelar Diklatsus (Sumber Gambar : Nu Online)

Satkorcab Banser Karanganyar Gelar Diklatsus

Acara Diklatsus ini merupakan lanjutan dari proses kaderisasi yang mesti dtempuh seorang anggota Banser, selain Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) yang diikuti pada awal memasuki organisasi ini.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Perbedaan antara Diklatsus dengan Diklatsar itu, salah satunya pada persoalan materi pelatihan yang lebih khusus,” lanjut Prabu

Pada kegiatan pelatihan yang berlangsung selama tiga hari tersebut, mendatangkan instruktur dari Satkorcab Banser Se-Solo Raya. Turut hadir pula instruktur dari Satkorwil Jateng, Nuril Huda.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Meme Islam, Kajian Islam, Fragmen Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 09 Desember 2017

Hari Santri, PCNU Jombang Siapkan Pengobatan Gratis dan Donor Darah

Jombang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Pengurus Cabang Nahdhatul Ulama (PCNU) Jombang telah membentuk panitia Hari Santri Nasional (HSN) 2016 sejak 23 Agustus 2016 lalu. Kepanitiaan yang melibatkan banom NU ini berencana mengadakan layanan pengobatan gratis dan donor darah pada 20 Oktober 2016.

Rapat koordinasi banom-banom NU memilih H Muslimin Abdillah sebagai terpilih koordinator panitia. Sementara wakilnya adalah H Zulfikar Damam Ikhwanto dan Hj Ema Umiyatul Chusna. Sekretaris koordinator ini adalah Agus Mahfudin. Sedangkan bendaharanya adalah Farid Alfarisi.

Hari Santri, PCNU Jombang Siapkan Pengobatan Gratis dan Donor Darah (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Santri, PCNU Jombang Siapkan Pengobatan Gratis dan Donor Darah (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Santri, PCNU Jombang Siapkan Pengobatan Gratis dan Donor Darah

H Muslimin Abdillah mengatakan, pagelaran Hari Santri Nasional ini akan berisi sejumlah kegiatan. "Di antaranya, akan ada pengobatan gratis dan donor danar pada tanggal 20 Oktober 2016, yang bekerja sama dengan Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RSNU) Jombang dan PMI Jombang di alun-alun Jombang," jelasnya, Senin (19/9).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Even ini juga disambut meriah oleh seluruh santri pesantren yang ada di Jombang dengan menggelar Apel Santri tepat pada tanggal 22 Oktober 2016 di Alun-Alun Jombang. Kegiatan ini langsung dilanjut dengan aksi Kirab Santri dengan rute Alun-Alun Jombang menuju Stadion Merdeka Jombang.

Ia menambahkan bahwa panitia HSN 2016 PCNU Jombang juga akan mempersiapkan penyambutan kirab HSN 2016 yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU). (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Kajian Islam Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 05 Desember 2017

Gelar Maulid, NU Krajan Tekankan Kecintaan kepada Nabi dan Organisasi

Klaten, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Beragam acara digelar Nahdliyin di berbagai daerah selama bulan Maulid tahun ini, tak terkecuali di Kabupaten Klaten. Salah satu acara yang dihelat warga NU ialah Dzikir Shalawat dan Pengajian Akbar yang diadakan di Desa Krajan, Kalikotes, Klaten, Jawa Tengah.

Gelar Maulid, NU Krajan Tekankan Kecintaan kepada Nabi dan Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Gelar Maulid, NU Krajan Tekankan Kecintaan kepada Nabi dan Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Gelar Maulid, NU Krajan Tekankan Kecintaan kepada Nabi dan Organisasi

Taushiyah dalam pengajian akbar ini diisi oleh KH Abdullah Saad. Kiai Saad merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Inshof, Plesungan, Karanganyar. Salah satu murid dari Maulana Habib Luthfi bin Yahya ini cukup dikenal oleh masyarakat Klaten. Beberapa waktu lalu, dia juga memberi taushiyah dalam Pengajian Akbar yang digelar di Masjid Agung Al Aqsho, Klaten.

Diiringi tabuhan rebana dan sholawat nabi, KH Abdullah Saad hadir di tengah-tengah jamaah. Di awal ceramah, KH Abdullah Saad mengajak jamaah untuk bersyukur karena hadir di majelis yang dicintai oleh Rosululloh SAW.

KH Abdullah Saad juga bercerita jika beberapa waktu lalu beliau mengikuti manakib dan maulid di Bangka Belitung. Di sana masyarakat sangat antusias menghadiri acara. Tak hanya itu, panitia setempat juga menyiapkan snack dan tempatnya yang istimewa untuk 5.000-an jamaah atas perintah guru di sana.?

Kemudian, dia menjelaskan keutamaan maulid menurut beberapa ulama. Salah satunya dari ulama Al-Azhar yang menghukumi maulid sebagai wajib karena bisa menandingi acara-acara yang negatif.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Disebutkan KH Abdullah Saad, Imam Maliki ra menyebutkan sebuah nasihat. “Jika mau memperbaiki umat Kanjeng Nabi Muhammad SAW di akhir zaman, maka konsepnya harus sama dengan konsep di awal umat Muhammad,” jelas Kiai Saad.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Konsep dimaksud ialah mahabbah kepada Rosululloh yang disebut Kiai Abdullah Saad mulai luntur. Dia kemudian bercerita tentang beberapa sahabat, salah satunya mengenai seorang badui yang bertanya kepada Rosululloh tentang kapan kiamat tiba. Juga tentang cintanya sahabat kepada Rosululloh.

Di hadapan jamaah, KH Abdullah Saad juga mengajak hadirin untuk menghormati KH Said Aqil Siroj yang merupakan pimpinan jamiyah (organisasi) Nahdlatul Ulama. Termasuk saat mengeluarkan hukum tentang jamaah sholat Jumat di jalan pada saat aksi 212 beberapa waktu lalu.

KH Abdullah Saad juga menjelaskan tentang bakti kepada orang tua yang semakin menua. Salah satunya dengan membahagiakan orang tua, memanjakan orang tua. Bukan sebaliknya justru membebani orang tua dengan berbagai tanggungan.

Mengapa banyak anak yang tidak berbakti? Dijelaskan KH Abdullah Saad, hal itu karena tidak adanya mahabbah si anak kepada Rosululloh. Selain itu, dalam acara ini akan digelar pelantikan Pengurus Ranting NU dan Muslimat NU Desa Krajan. Yang dipimpin langsung oleh Ketua PCNU Klaten, KH Mujiburrohman.

Usai melantik, KH Mujiburrohman dalam sambutannya berpesan agar segenap Pengurus NU Ranting Desa Krajan bersyukur telah dipilih Allah untuk mengurusi jami’yah Nahdlatul Ulama. Dia juga mengingatkan jika orang-orang yang ngurusi NU dianggap sebagai santri KH Hasyim Asy’ari. Sang pendiri NU juga disebut KH Mujiburrohman telah mendoakan orang yang mau ngurusi NU dengan doa khusnul khotimah. (Pekik Nursasongko/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Kajian Islam, Kajian Sunnah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 03 Desember 2017

Belasan Organisasi Temanggung Galang Dana

Temanggung, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Belasan organisasi dan paguyuban yang ada di Kabupaten Temanggung, Jumat (14/2) menggelar aksi solidaritas penggalangan dana untuk korban letusan Gunung Kelud. Puluhan anggotanya memandati sejumlah titik strategis dalam kota untuk menampung sumbangan dari masyarakat.

Belasan Organisasi Temanggung Galang Dana (Sumber Gambar : Nu Online)
Belasan Organisasi Temanggung Galang Dana (Sumber Gambar : Nu Online)

Belasan Organisasi Temanggung Galang Dana

Sejumlah paguyuban yang tergabung dalam aksi solidaritas ini antara lain Komunitas Fotgrafi Temanggung (Koforte), GUSDURian, PC PMII, Kuncen Komunitas Pit Kebo (KKPK), Forum Jurnalis Temanggung (FJT), Snoephuis, Lemontea, Temanggugn Sunday Creative, Mbejujag, Komunitas Temanggung Kreatif, Prabutara, serta sejumlah paguyuban lainnya.

“Ini kami selenggarakan karena kami peduli terhadap mereka, kami bisa merasakan kesedihan dan penderitaan yang mereka alami karena itu. Kita juga memiliki potensi yang sama karena kita dikepung gunung berapi disini,” kata Tafta Zani, 35, salah seorang relawan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Para relawan tersebut disebar di kawasan Terminal Induk Temanggung, perempatan Cekelan, perempatan BCA, Perempatan Prapanca, alun-alun Temanggung, Taman Pengayoman serta kawasan pasar tradisional. “Alhamdulillah respon mereka cukup bagus,” tambah owner Mbejujag ini.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Aksi penggalangan dana sendiri dimulai sekitar pukul 13.30 WIB dari Terminal Induk Madureso. Meskipun gerimis mengguyur daerah penghasil tembakau ini, namun antusiasme puluhan relawan tidak surut. “Kami merasakan dampaknya dengan abu yang tebal meskipun jarak sejauh ini. Kami tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi disana, itu yang membuat kami semangat,” imbuh Keke Meidy Luana Sitalaksmi, anggota Koforte.

Hingga petang kemarin, relawan telah mengumpulkan uang sumbangan dari? masyarakat dan rencananya akan kembali dilanjutkan pada Sabtu dan Minggu ini. Pada Senin mendatang, hasil penggalangan tersebut akan disalurkan kepada korban. “Kami tidak akan menyalurkan langsung, tetapi melalui relawan yang ada disana,” tambah Emilianto Nugroho.

Wakil Bupati Temanggung, Irawan Prasetyadi, yang turut serta dalam kegiatan tersebut menambahkan, pihaknya menyambut baik dengan aksi solidaritas spontan yang dilakukan para relawan di Temanggung. Pihaknya berharap kegiatan seperti ini mampu menumbuhkan solidaritas antar masyarakat.

“Kami dari Pemkab akan menyalurkan bantuan juga kesana, saya justru terkejut ketika ternyata dari komunitas-komunitas ini lebih aktif melakukan penggalangan solidaritas,” tandasnya. (Abaz Zahrotien/Abdullah Alawi )

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Sholawat, Warta, Kajian Islam Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 15 Oktober 2017

“Mengikuti Lakut Bagian dari Jihad Fi Sabilillah”

Tasikmalaya, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Mengikuti Latihan Kader Utama (Lakut) sama dengan Jihad Fi Sabilillah, tutur pengasuh Pesantren Al Munir Gunung Tanjung, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Ajengan Muayyad pada pembukaan Lakut Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) se-Priangan Timur yang meliputi Kota Tasikmalaya, Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Ciamis, Kabupaten Garut, Kota Banjar, dan Kabupaten Pangandaran.

Lakut adalah jenjang kaderisasi formal tingkat lanjut di Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU). Menurutnya, Lakut termasuk perjuangan dalam organisasi tingkat pelajar di NU.

“Mengikuti Lakut Bagian dari Jihad Fi Sabilillah” (Sumber Gambar : Nu Online)
“Mengikuti Lakut Bagian dari Jihad Fi Sabilillah” (Sumber Gambar : Nu Online)

“Mengikuti Lakut Bagian dari Jihad Fi Sabilillah”

“Kita perhatikan, penjaga NKRI adalah NU, NU dijaga oleh pelajar-pelajar NU ini, menjaga IPNU juga menjaga Ahlussunah wal Jamaah sebagai aqidah kita, pijakan kita,” ujarnya, Jumat (25/8) itu di hadapan para kader IPNU.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Oleh karena itu, bagi Ajengan Muayyad, mengikuti Lakut adaah bagian dari menjaga NU, menjaga NKRI, menjaga Aswaja. “Dan ini merupakan jalan kita untuk berjihad fisabilillah (di jalan Allah). Ini bentuk jihad kita, tidak harus ngebom dan sebagainya,” tuturnya.

Ia menambahkan, di era globalisasi ini IPNU harus tampil di depan mengawal pelajar dan santri Nahdlatul Ulama untuk tetap berada pada ideologi yang benar demi mengisi kemerdekaan dan memajukan Indonesia.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Hambatan dan tantangan yang sangat banyak di era ini harus ditaklukan oleh Pelajar NU, teruslah berjuang rekan-rekan pelajar NU, tetap belajar berjuang dan bertaqwa,” pungkas putra pendiri Pesantren Al Munir ini. (Husni Mubarok/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pesantren, AlaNu, Kajian Islam Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 12 Oktober 2017

Indonesia-Filipina Rundingkan Instrumen Perlindungan Pekerja Migran ASEAN

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M. Hanif Dhakiri mengadakan pertemuan bilateral dengan Menteri Tenaga Kerja H.E. Silvestre H. Bello III untuk membicarakan Instrumen Perlindungan dan Promosi Hak-Hak Pekerja Migran ASEAN.

"Pertemuan hari ini kedua belah pihak membicarakan solusi guna menemukan instrumen yang dapat disepakati oleh semua anggota ASEAN terkait perlindungan hak-hak pekerja migran serta perlindungan untuk anggota keluarga pekerja migran, kata Menaker Hanif di Kantor Kemnaker Jakarta, Jumat (17/8).

Indonesia-Filipina Rundingkan Instrumen Perlindungan Pekerja Migran ASEAN (Sumber Gambar : Nu Online)
Indonesia-Filipina Rundingkan Instrumen Perlindungan Pekerja Migran ASEAN (Sumber Gambar : Nu Online)

Indonesia-Filipina Rundingkan Instrumen Perlindungan Pekerja Migran ASEAN

Sebelumnya, Instrumen Perlindungan dan Promosi Hak-Hak Pekerja Migran ASEAN dibahas pada acara Senior Labour Officials Meeting (SLOM) yang diselenggarakan di Manila, Filipina pada tanggal 20-21 Maret 2017.

Hanif mengatakan Indonesia dan Filipina sangat berkepentingan pada upaya perbaikan sistem perlindungan dan peningkatan keahlian buruh migran, karena Indonesia menjadi salah satu negara dengan jumlah buruh migran yang besar.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Indonesia dan Filipina yang banyak menempatkan tenaga kerjanya ke luar negeri (sending country), dan sejak awal sangat concern terhadap perlindungan hak-hak pekerja migran, termasuk anggota keluarganya," kata Hanif.

Menaker Hanif mengatakan pertemuan bilateral difokuskan pada pembahasan/diskusi mengenai isu status instrumen, perlindungan hak-hak pekerja migran serta perlindungan untuk anggota keluarga pekerja migran juga mendiskusikan langkah-langkah selanjutnya yang harus ditempuh untuk penyelesaian penyusunan instrumen tersebut.  

"Di tingkat ASEAN kita mengusulkan peningkatan dialog negara pengirim dan penerima mengenai, sharing informasi pasar kerja, pemajuan pengakuan keahlian, dan pembentukan jejaring kerja antar pengawas ketenagakerjaan," katanya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Hanif mengatakan pemerintah Indonesia telah mengusulkan pembahasan khusus mengenai kelompok pekerja migran rentan (vulnerable workers), khususnya pekerja domestik dalam konteks kerja sama ASEAN.

Selain itu, ada beberapa hal yang perlu diangkat, seperti hak asasi tenaga kerja migran dan tenaga migran non prosedural juga memerlukan perhatian lebih serius," ungkap Hanif.

Menanggapi hal tersebut, Filipina sebagai tuan rumah sekaligus ketua penyelengaraan SLOM mengirim Menteri Tenaga Kerja H.E. Silvestre H. Bello III menyambut baik usulan dari Menaker Hanif terkait perlindungan pekerja migran.

"Kami sangat senang dan berterimakasih kepada Menteri Ketenagakerjaan Indonesia M. Hanif Dhakiri atas usulan dan idenya. Saya harap hasil kesepakatan instrumen ini akan lebih meningkatkan perlindungan tenaga kerja migran di kawasan ASEAN nantinya," kata Silvestre.

Pertemuan pembahasan Instrumen ASEAN tentang Perlindungan Hak-hak Pekerja Migran selanjutnya akan dibahas pada pertemuan Pejabat Senior Kementerian Tenaga Kerja ASEAN (ASEAN Senior Labour Officials Meeting/SLOM) Retreat yang akan diselenggarakan pada tanggal 25-26 Agustus 2017 di Pasay City, Manila, Filipina. 

Hasil Pertemuan Pejabat Senior Kementerian Tenaga Kerja ASEAN (ASEAN Senior Labour Officials Meeting/SLOM) Retreat akan dilaporkan kepada Menteri Tenaga Kerja ASEAN (ALMM) pada pertemuan ALMM on Occupational Safety and Health (OSH) yang akan diselenggarakan di Singapura pada tanggal 3 September 2017, di sela-sela pertemuan the XXI World Congress on Safety and Health at Work 2017. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Kajian Islam, Tegal, Pendidikan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 16 September 2017

Memandang Nabi Muhammad Secara Rasional

Studi tentang tokoh besar dunia selalu menarik. Dan Nabi Muhammad Saw., merupakan sebuah kitab pencerahan yang tak henti-henti menawarkan inspirasi dari berbagai sudut pandang. Sirah Nabawiyah Karya Cendekiawan Nahdlatul Ulama asal Banten ini merupakan salah satu sumber inspirasi hidup dengan cara yang baru, rasional, humanis dan objektif.  

Dengan mengambil tema Kajian “Sirah Nabawiyah: Nabi Muhammad Saw. dalam Kajian Sosial-Humaniora”  ini pengetahuan kita tentang sosok Nabi Muhammad Saw., tidak lagi bersifat mistik dan anti-sosial kemanusiaan. Paradigma studi ilmiah berbasis literatur kritis membuat Sirah Nabawiyah ini mampu merekan jejak Nabi Muhammad sebagai sosok humanis, pro-kerakyatan, dan bukan sekadar (seolah-oleh) “boneka-nya Tuhan”, melainkan aktor empiris yang nantinya bisa dipetik sebagai pelajaran berharga oleh kita semua.

Memandang Nabi Muhammad Secara Rasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Memandang Nabi Muhammad Secara Rasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Memandang Nabi Muhammad Secara Rasional

Ajid Thohir, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung itu dalam mengkaji Sirah Nabawiyah bukan sekadar untuk mengetahui peristiwa-peristiwa sejarah tentang kisah-kisah atau kasus-kasus menarik seputar kehidupan Nabi Muhammad saw, melainkan meliputi untuk tujuan yang lebih penting, yakni  agar setiap Muslim mendapat pengetahuan hakiki akan Islam melalui nabinya secara utuh.  

Bagaimana Islam tercermin dalam kehidupan nyata Nabi Muhammad saw. dan bagaimana pula Rasulullah saw. mempraktikkan dan mewujudkan wahyu ilahi. Oleh karenanya, seluruh perilaku Nabi Muhammad saw. dalam wujud sejarahnya yang terikat pada tiga pilar agama, yaitu iman, islam dan ihsan, menunjukkan secara keseluruhan akan prinsip, kaidah, dan hukum Islam.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Nabi Muhammad Saw., melalui bukan hanya seorang yang terkenal ramah di antara kaumnya, tetapi sebelum itu beliau adalah seorang rasul yang didukung oleh Allah dengan wahyu dari-Nya dan dengan itu dalam pergaulan sehari-hari senantiasa penuh dengan misi untuk kemanusiaan. Ia melayani sahabat, menghormati orang tua, dan berekonomi sebagaimana manusia pada umumnya. Ia punya rasa bahagia, terkadang sedih, ia punya rasa takut akan bahaya, tapi sekaligus pencerah untuk sebuah problematika masyarakat.

Sirah Nabawiyah ini memberikan gambaran tipe ideal (al-matsal al-a’lâ) menyangkut seluruh aspek kehidupan pribadi Rasulullah saw. secara jelas dan dengan itu kita bisa memetik banyak tsaqofah dan pengetahuan Islam yang benar, baik menyangkut akidah, ruhaniyah, hukum, ataupun akhlak. Sebab, tidak diragukan lagi bahwa kehidupan Rasulullah saw. merupakan gambaran konkret dari sejumlah prinsip wahyu dan hukum Islam.- 

Data buku

Judul : Sirah Nabawiyah

Penulis : Dr. Ajid Thohir

Penerbit : Marja (Nuansa Cendekia) Bandung

Tahun : Cetakan Pertama 2014

Harga : 79.000

Peresensi : Syarif Yahya, pengurus Aswaja Center PCNU Kabupaten Temanggung. Pengajar Pesantren Ridlo Allah Temanggung Jawa Tengah

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Kajian Islam, Sholawat, Pendidikan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 09 Juli 2017

Mengenal Ibn Arabi Lebih Dekat

Bicara Ibn Arabi, tentu tidak asing lagi di telinga kita. Tokoh tasawuf terkemuka itu memang seringkali dibahas, terutama pemikirannya dalam bidang tasawuf. Akan tetapi, tidak lengkap mempelajari pemikiran Ibn Arabi dalam berbagai bidang tanpa mengetahui biografi Ibn Arabi, karena pemikiran seseorang akan lebih mudah dipahami ketika kita mengetahui riwayat hidupnya.

Buku ini membahas secara mendalam riwayat hidup Ibn Arabi dan perjalan spiritual Ibn Arabi ke berbagai daerah dan dimensi, terutama pertemuannya dengan para sufi di belahan dunia barat. Mau atau tidak, ketika membaca biografi Ibn Arabi, secara otomatis kita akan terdampar pula kedalam khazanah keilmuan sang Guru Besar tersebut.

Mengenal Ibn Arabi Lebih Dekat (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengenal Ibn Arabi Lebih Dekat (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengenal Ibn Arabi Lebih Dekat

Ibn Arabi, nama lengkapnya adalah Syaikh Akbar Muhyiddin Ibn Arabi. Ia adalah seorang tokoh sufi besar dari Andalusia yang meninggal dan dimakamkan di kaki gunung Qasiun, Damaskus, pada tahun 638 H./1240 M.. (hlm. xv)

Usaha pembuktian kedalaman kesufian Ibn Arabi terbagi dalam tiga hal. Pertama, pengalaman kesufian dalam wujud dan waktu abadi. Kedua, pengalaman kesufian dalam wujud dan waktu kebarzahan yang menjadi "waktu-antara" antara waktu abadi dan waktu kesejarahan. Ketiga, pengalaman kesufian dalam wujud dan waktu kesejarahan yang hadir melalui para sufi dengan ketaatan yang sempurna kepada Allah Swt. (hlm. 28)

Salah satu teladan Ibn Arabi dalam perilaku zuhud adalah pamannya, Syaikh Yahya bin Tughan. Terkhusus untuk pamannya, Ibn Arabi mengutip sejumlah syair yang digubah untuk mengabadikan kesalehan dan teladan kemanusiaan yang telah berhasil diperolehnya.

Syair-syair itu sebagai berikut:

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Aku dalam ihwal—lihatlah

Aku, mujurnya diriku!—pikirkanlah





Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rumahku dimana saja, di atas bumi

Kuminum air segar diri





Tak ada padaku: orang tua,

atau anak—pun keluarga





Lengan kananku bantalku

Ketika kubalik diri, lengan kiriku





Pernah kucicipi kenikmatan—dulu

Setelah renungku, semua hanya khayak semu (hlm. 178)





Buku ini juga menjelaskan pengaruh Ibn Arabi di belahan dunia Islam di Barat dan juga pengaruhnya di Indonesia. selebihnya selamat menikmati.

Data buku?

Judul: Biografi Ibn Arabi

Penulis: Muhammad Yunus Masrukhin

Penerbit: Keira Publishing

Cetakan: I, 2015

Tebal: 332 Halaman

ISBN: 978-602-1361-28-3

Peresensi: Moh. Tamimi, Mahasiswa Instika, Guluk-guluk, Sumenep program studi Pendidikan Bahasa Arab.?

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Kajian Islam, Fragmen, Jadwal Kajian Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 07 Juli 2017

Mengenang Wafatnya Hadratussyaikh di Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan bukan semata sebagai rahmat dan terbukanya pintu ampunan. Bulan suci ini juga menjadi saksi sejarah tentang duka mendalam keluarga besar Pesantren Tebuireng, warga NU, serta bangsa Indonesia secara umum.

Tidak banyak yang mengetahui bahwa Rais Akbar NU Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari yang kemudian disebut Mbah Hasyim wafat pada hari ketujuh di bulan Ramadhan. Tepatnya tahun 1366 H. Ya, tidak terasa 69 tahun sudah peristiwa kewafatan sang kiai yang demikian dihormati ini.

Mengenang Wafatnya Hadratussyaikh di Bulan Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengenang Wafatnya Hadratussyaikh di Bulan Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengenang Wafatnya Hadratussyaikh di Bulan Ramadhan

Berbeda dengan meninggalnya sang cucu, yakni KH Abdurrahman Wahid yang demikian meriah diperingati, suasana Ramadhan membuat haul Mbah Hasyim serasa sepi tanpa acara yang spesial. Hal ini mungkin juga buah dari pandangan beliau yang menolak hari wafatnya diperingati secara khusus agar tidak ada kultus individu.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Seperti diketahui, Mbah Hasyim terlahir pada Selasa Kliwon 24 Dzul Qa’dah 1287 H yang juga bertepatan dengan 14 Februari 1871 M di Pesantren Gedang, Tambakrejo Jombang, Jawa Timur. Beliau merupakan putra ketiga dari 11 bersaudara dari pasangan Kiai Asy’ari dan Nyai Halimah.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari jalur ayah, nasabnya bersambung kepada Maulana Ishak hingga Imam Ja’far Shadiq bin Muhammad al-Baqir. Sedangkan dari jalur ibu, nasabnya bersambung kepada Raja Brawijaya VI (Lembu Peteng) yang berputera Karebet atau Jaka Tingkir, raja Pajang pertama (1568) dengan gelar Sultan Pajang atau pangeran Adiwijaya.

Dalam buku Profil Pesantren Tebuireng disampaikan bahwa pada 3 Ramadhan 1366 H yang bertepatan dengan tanggal 21 Juli 1947 M, jam menunjukkan pukul 21.00 WIB. Seperti biasa Hadratussyaikh baru saja selesai mengimami shalat tarawih. Beliau duduk di kursi untuk memberikan pengajian kepada ibu-ibu muslimat. Tidak lama kemudian, datang seorang tamu utusan Jendral Sudirman dan Bung Tomo. Kiai Hasyim menemui utusan tersebut didampingi Kiai Ghufron yang juga pimpinan Laskar Sabilillah Surabaya.

Sang utusan menyampaikan surat dari Jendral Sudirman yang berisi tiga pesan pokok. Kepada utusan kepercayaan dua tokoh penting tersebut Kiai Hasyim meminta waktu semalam untuk berpikir dan selanjutnya memberikan jawaban. Isi pesan tersebut adalah, pertama bahwa di wilayah Jawa Timur, Belanda melakukan serangan militer besar-besaran untuk merebut kota-kota di wilayah Karesidenan Malang, Besuki, Surabaya, Madura, Bojonegoro, dan Madiun.

Kedua, Hadratussyaikh dimohon berkenan untuk mengungsi ke Sarangan, Magetan, agar tidak tertangkap oleh Belanda. Sebab, jika tertangkap, beliau akan dipaksa membuat statemen mendukung Belanda. Jika hal itu terjadi, maka moral para pejuang akan runtuh. Pesan ketiga adalah jajaran TNI di sekitar Jombang diperintahkan untuk membantu pengungsian Kiai Hasyim.

Keesokan harinya, Kiai Hasyim memberikan jawaban bahwa beliau tidak berkenan menerima tawaran yang disampaikan.

Empat hari kemudian, tepatnya pada tanggal 7 Ramadhan 1366 M, sekitar pukul 21.00 WIB datang lagi utusan Jendral Sudirman dan Bung Tomo. Kedatangan utusan tersebut dengan membawa surat untuk disampaikan kepada hadratus syaikh. Secara khusus Bung Tomo memohon kepada Kiai Hasyim mengeluarkan komando jihad fi sabilillah bagi umat Islam Indonesia, karena saat itu Belanda telah menguasai wilayah Karesidenan Malang dan banyak anggota Laskar Hizbullah dan Sabilillah yang menjadi korban. Hadratus Syaikh kembali meminta waktu semalam untuk memberi jawaban.

Tidak lama berselang, hadratus syaikh mendapat laporan dari Kiai Ghufron selaku pimpinan Sabilillah Surabaya bersama dua orang utusan Bung Tomo, bahwa kota Singosari Malang yang juga merupakan basis pertahanan Hizbullah dan Sabilillah telah jatuh ke tangan Belanda. Kondisi para pejuang semakin tersudut, dan korban rakyat sipil kian meningkat. Mendengar laporan itu, Kiai Hasyim berujar: “Masya Allah, masya Allah…..” sambil memegang kepalanya. Lalu Kiai Hasyim tidak sadarkan diri.

Kala itu putra-putri beliau sedang tidak berada di Tebuireng. Tapi tidak lama kemudian mereka mulai berdatangan setelah mendengar sang ayahanda tidak sadarkan diri. Menurut hasil pemeriksaan dokter, Kiai Hasyim mengalami pendarahan otak (asemblonding) yang sangat serius.

Pada pukul 03.00, bertepatan dengan tanggal 25 Juli 1947 atau 7 Ramadhan 1366, hadratus syaikh KH M Hasyim Asy’ari dipanggil Sang Maha Kuasa. Inna lillahi wa inna ilahi raji’un.

Atas jasa-jasa beliau selama perang kemerdekaan melawan Belanda (1945-1947), terutama yang berkaitan dengan tiga fatwanya yang sangat penting: Pertama, perang melawan Belanda adalah jihad yang wajib dilaksanakan oleh semua umat Islam Indonesia. Kedua, kaum muslimin diharamkan melakukan perjalanan haji dengan kapal Belanda. Ketiga, kaum muslimin diharamkan memakai dasi dan atribut-atribut lain yang menjadi ciri khas penjajah, maka Presiden Soekarno lewat Keputusan Presiden (Kepres) No. 249/1964 menetapkan bahwa KH Muhammad Hasyim Asy’ari sebagai pahlawan nasional.

Kepergian Kiai Hasyim menjadi duka mendalam di awal bulan Ramadhan. Tidak hanya bagi keluarga besar Pesantren Tebuireng, tapi juga warga Nahdlatul Ulama (NU), masyarakat sekitar bahkan bangsa Indonesia.

Karena itu, sudah pada tempatnya bila malam ini kita menghadiahkan tahlil dan kalimat thayyibah kepada hadratus syaikh. Semoga amal baiknya diterima oleh-Nya dan besar harapan agar kita diberikan kekuatan meneruskan jariyah yakni eksistensi pesantren dan khidmat NU agar sesuai dengan cita awal pendirian.

Hiruk pikuk tahapan Pemilu, termasuk Pilpres semoga tidak melunturkan komitmen nahdliyin dalam mengabdi dan menyelamatkan khittah sesuai itikad awal pendirian jam’iyah diniyah ijtima’iyah ini. Bukan malah bisa diombang-ambing sejumlah kalangan atau orang perorang demi kepentingan pribadi maupun kelompok. Mampukah? Kita lihat saja kondisinya saat ini dan nanti. (Syaifullah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Kajian Islam, Pondok Pesantren, Makam Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 18 Mei 2017

NU dan Gaya Politik Ta’ridh (2)

Oleh Syarif Hidayat Santoso

--Memasuki orde merdeka, tak dapat dipungkiri peranan seluruh komponen bangsa, baik umat Islam, kaum nasionalis dan juga komunis. Didudukkannya Soekarno sebagai presiden pertama juga mendapat pengakuan NU. Di tengah perseteruan NU dengan Masyumi pasca keluarnya NU dari Masyumi dan juga persoalan DI-TII, problematika ta’ridh menjadi menarik. Ta’ridh justru menjadi solusi di tengah rumitnya problematika politik bangsa.

Persoalan ta’ridh yang paling besar dimulai dari DI-TII dan relasinya dengan Soekarno. DI-TII sendiri mengemuka setelah persoalan perjanjian Renville yang tak disetujui sebagian laskar Hizbullah Sabilillah non NU di Jawa Barat. Pendiri DI-TII, Sekarmadji Marijan Kartosuwiryo adalah pemuda cerdas yang justru hanya memahami agama Islam dari sumber-sumber sekunder berbahasa Belanda. Sama dengan Soekarno yang juga hanya memahami Islam dari sumber-sumber non kitab kuning. Ideologi DI-TII jelas menyebut Indonesia sebagai sesuatu yang harus dijihadi manakala Belanda telah terusir dari Indonesia.

Berbeda dengan NU yang tetap menyebut Indonesia sebagai negara Islam karena telah kembali ke pangkuan umat Islam sendiri. Ideologi Imarahad (Iman, Hijrah dan Jihad) ala Kartosuwiryo justru berbeda jauh dengan NU. Darul Islam menjadi garis batas antara pengikut DI-TII dengan mayoritas masyarakat muslim pada umumnya. Menurut Kartosuwiryo, Keabsahan bangsa Indonesia menjadi tidak sah karena tujuan-tujuan utama guna mencapai mardhatillah dan juga rahmat Allah yang disandarkan kepada dasar Republik Indonesia yang semestinya Islam, jaminan pelaksanaan syariat Islam seluas-luasnya, keterbebasan dari penghambaan, serta kesempatan untuk melakukan kewajiban duniawi dan ukhrawi bagi setiap umat islam belum tercapai. Kartosuwiryo menganggap bahwa konsep-konsep negara Indonesia dibawah Soekarno tidak memuat hal tersebut (Muhtar Ghazali:2004).

NU dan Gaya Politik Ta’ridh (2) (Sumber Gambar : Nu Online)
NU dan Gaya Politik Ta’ridh (2) (Sumber Gambar : Nu Online)

NU dan Gaya Politik Ta’ridh (2)

Di sisi lain, Soekarno sendiri memiliki garis pemikiran keagamaan yang tak dekat dengan aswaja NU. Dalam bukunya, Pantja Azimat Revolusi, Soekarno berkata “Sebagai fajar sehabis malam yang gelap-gelita, sebagai penutup abad-abad kegelapan, maka didalam abad kesembilan belas berkilau-kilauanlah di dalam dunia ke-islam-an sinarnya dua pendekar, jang namanja tak akan hilang tertulis dalam buku-riwayat muslim, Sheikh Mohammad Abdouh dan Seyid Djamaludin Al Afghani, dua panglima Pan-Islamisme yang telah membangunkan dan menjunjung rakyat Islam di seluruh benua Asia dari kegelapan dan kemunduran (Pantja Azimat Revolusi halaman 16). Jelas arah pemikiran keislaman Soekarno mengarah kepada modernisme Islam ala Abduh dan Al Afghani.

Halaman-halaman tentang keislaman dalam buku tersebut jelas menunjukkan afiliasi Soekarno kepada modernisme Islam dan tak dekat pada Aswaja. Soekarno mengutip gurunya, HOS Cokroaminoto, tokoh Islam modernis pendiri Sarekat Islam. Bahkan Soekarno mengutip gurunya tersebut dalam hal pembenaran terhadap unsur sosialisme dalam Islam. Soekarno memberikan contoh, bahwa rusaknya Islam dari kekhalifahan menjadi kerajaan di masa Ummayah adalah kesalahan Muawiyah yang mengakibatkan rusaknya sistem Islam sosialistis (Pantja Azimat Revolusi:18).

Soekarno jelas pemuja modernisme Islam. Dalam deretan tokoh-tokoh Islam yang disebut Soekarno sebagai propagandis nasionalisme tertera nama-nama sejak Mustafa Kemal, Arabi Pasha, Ali Pasha, Mohammad Farid Bey, Ahmad Bey Agayeff, Mohammad Ali dan Shaukat Ali. Tak ada nama-nama ulama Aswaja yang berjuang dalam memperjuangkan nasionalisme. Namun, yang lebih unik lagi, Soekarno berujar agar Islam berkawan dengan Marxisme (Pantja Azimat Revolusi:19). Jelas Soekarno tak menoleh untuk NU meski dia berhadapan dengan DI-TII, tak akrab pula dengan Masyumi.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Andree Feillard juga memotret bagaimana perseteruan pers NU yaitu Berita Nahdlatoel Oelama pada tahun-tahun menjelang masuknya Jepang ke Indonesia yang berisi pertentangan antara pemikiran Soekarno dengan aliran Aswaja NU. BNO telah menuduh Soekarno terjebak kedalam generalisasi berlebihan karena menimpakan kesalahan kepada umat Islam hanya karena ulah segelintir oknum muslim (Andree Feillard:1999). Jelas, ada citarasa tak harmonis antara Aswaja NU dengan pemikiran keagamaannya Soekarno.

Tapi, meski secara ideologis, Soekarno tak dekat dengan NU, NU tetap mendudukkan Soekarno sebagai pemimpin yang absah secara hukum Islam. Ini terjadi tahun 1954 ketika disematkannya gelar Waliyyul Amri Ad Dlaruri Bisy Syaukah. Sebelumnya, tahun 1940 pada Muktamar Surabaya, NU memilih Soekarno sebagai calon presiden manakala Indonesia merdeka. Persoalan Soekarno secara hukum Islam pada tahun 1954 menjadi menarik. Hal ini bukan saja karena persoalan keabsahan wali hakim bagi penghulu dalam administrasi republik Indonesia. Tapi juga karena persoalan Imamah Kartosuwiryo dalam DI-TII yang menyebut kepemimpinan Soekarno tak sah secara hukum Islam. NU berupaya menyematkan gelar Waliyyul Amri Ad Dlaruri Bisy Syaukah.

Tuduhan bahwa NU menjilat Soekarno dengan gelar tersebut jelas tak benar karena Soekarno sendiri dalam sejumlah tulisannya tak pernah menyebut kelebihan Aswaja. Soekarnopun lebih akrab dengan HOS Cokroaminoto dan surat menyuratnya dengan tokoh Persis, Ahmad Hassan menunjukkan bandul keislaman Soekarno mendekat kearah Islam modernis. NU pun tak mendapat sesuatu yang bernilai positif dari Soekarno pada era 1960-an ketika NU dipaksa menjadi Nasakom selain cercaan dari kalangan eks Masyumi yang menuding NU sebagai partai oportunis.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Syarif Hidayat Santoso, Kader NU Sumenep, alumni hubungan internasional FISIP Universitas Jember.

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Olahraga, Kajian Islam, Anti Hoax Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 13 April 2017

Gus Mus: Manusia Masuk Surga Bukan karena Amalnya Saja, Tapi...

Sidoarjo, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus mengatakan, seseorang yang mengetahui jati dirinya, dia tidak akan sombong atau membanggakan dirinya sendiri. Pasalnya, jika seseorang yang shalatnya rajin, tidak ada fahsak wal munkar.

Gus Mus: Manusia Masuk Surga Bukan karena Amalnya Saja, Tapi... (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Manusia Masuk Surga Bukan karena Amalnya Saja, Tapi... (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Manusia Masuk Surga Bukan karena Amalnya Saja, Tapi...

"Allah itu memasukkan hambanya ke surga bukan karena amalnya saja, tapi karena anugerahnya Allah SWT dan bukan juga karena shalatnya saja," kata Gus Mus saat memberikan pencerahan pada acara peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW dan menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1438 Hijriyah di halaman masjid Al-Ikhlas Bluru Permai, Sidoarjo, Sabtu (29/4) malam.

Shalatnya manusia itu bentuk syukur kepada Allah. Kalau ada orang yang tidak shalat, berarti orang itu tidak mengerti syukur kepada Allah.

"Kalau seseorang mensyukuri nikmatnya Allah, selalu mengucap Alhamdulillah, seperti bangun tidur mengucap Alhamdulillah, bisa melihat dan bernafas Alhamdulillah saja. Sebab seseorang yang tidak bisa kencing pun, berapa juta untuk operasi," paparnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Gus Mus menegaskan, dalam sehari disediakan waktu lima kali untuk bersyukur kepada Allah. Shalat itu penting, semoga diberikan Allah kemudahan sehingga bisa menjalankan ibadah shalat sebagaimana mestinya dan tidak sombong.

"Kalau bisa sowan ke Allah. Karena Allah itu begitu baiknya. Kalau sudah tua seperti saya ini, sepertiga malam selalu dibangunkan Allah. Hubungan kepada Allah dijaga sehingga hubungan dengan kawula (hamba) Allah terjaga. Kalau hubungan dengan manusia tidak baik berarti hubungannya dengan Allah palsu," pungkasnya. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Kajian Islam Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 22 Desember 2016

Bangun Islam Moderat, Ulama Yordania Siap Gandeng Ulama Indonesia

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Model Islam wasathiyah (moderat) saat ini mampu menjadi solusi dari semakin pudarnya ukhuwah islamiyah umat Islam diseluruh penjuru dunia. Islam yang ramah dan toleran mulai mendapatkan tempat khusus bukan hanya di Indonesia dengan Islam Nusantaranya, namun juga di negara kawasan timur tengah yang sampai dengan saat ini terus bergejolak dilanda konflik.

Bangun Islam Moderat, Ulama Yordania Siap Gandeng Ulama Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Bangun Islam Moderat, Ulama Yordania Siap Gandeng Ulama Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Bangun Islam Moderat, Ulama Yordania Siap Gandeng Ulama Indonesia

Respon positif diberikan Darul Ifta (Majelis Ulama) Kerajaan Yordania dengan siap membangun kerja sama dan saling tukar pikiran terkait bagaimana cara membangun pemahaman keislaman dan dakwah Islam moderat dan Islam rahmatan lil alamin. Ulama Jordan Siap Menerima Ulama Indonesia dari MUI dan Nahdlatul Ulama serta ulama yang berpaham wasatiyah lainnya.

"Kami semua sangat senang dengan upaya-upaya membangun kerjasama dan taawun alal birri wattaqwa dengan semua ulama kaum muslimin di dunia ini. Wabil khusus  dengan Indonesia, karena kami tahu Umat islam di Indonesia ini jumlahnya terbesar di dunia, tentu kami sangat terbuka dan marhaban, serta ahlan washlan jika akan ada kunjungan dari MUI ke Jordan," kata Grand Mufti Of Hashemate Kingdom Of Jordan atau Syekh Darul Iftanya Kerajaan Yordania Syekh Muhammad Ahmad  Khalayleh.

Hal itu disampaikan Syekh Khalaylah yang didampingi dengan para masyayikh Darul Ifta lainnya seperti Ketua Komisi Fatwa, dan para ketua dan pimpinan darul Ifta lainya saat saat menerima Pengurus LDNU yang juga Anggota Komisi Dakwah MUI, KH Muhammad Nur Hayid di Kantor Darul Ifta, Amman, Yordania beberapa waktu lalu. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Muhammad Nur Hayid yang akrab disapa Gus Hayid datang didampingi oleh Perwakilan dari Kedubes RI di Amman, Yordania, Suseno yang merupakan Atase Ketenagakerjaan di KBRI Amman.

Dalam pertemuan tersebut dibahas isu-isu mengenai masalah kaum muslimin yang terjadi diberbagai belahan dunia. Mulai dari isu ekonomi kaum muslimin yang secara rata-rata dibawah kelompok non muslim. Selain itu juga dibahas soal lemahnya persatuan dan kebersamaan antara kaum muslimin yang mengakibatkan umat Islam mudah diadu domba dan dipecah belah. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pada pertemuan tersebut, Grand Mufti mengatakan perlunya menyikapi mulai massif dan banyaknya pemahaman keagamaan yang ekstrem dan berlebihan atau tasyaddud yang menjadi cikal bakal munculnya konflik berkepanjangan. Menurutnya, jika umat islam bersatu dan tidak membesarkan perbedaan khilafiyyah, niscaya Islam akan menjadi berwibawa dan disegani 

"Apa yang terjadi di kawasan Timur Tengah dan dunia arab pada umumnya saat ini merupakan wujud lemahnya persatuan kaum muslimin, termasuk banyak berkembangnya pemahaman keagamaan yang mudah mengkafirkan orang lain. Sehingga, umat mudah disulut permusuhan karena kondisi ekonomi yang juga mempengaruhi," jelas Sekjen Lembaga Fatwa Darul Ifta Syekh Ahmad Alhasanat yang mendampingi Grand Syekh.

Menanggapi Hal itu, Gus Hayid juga menceritakan fenomena yang sama yang juga terjadi di Indonesia. Belakangan ini tuturnya, banyak juga kelompok-kelompok tertentu sangat keras menentang cara berislam dan beragama yang sudah dianut oleh mayoritas kaum muslimin Indonesia. Padahal problem pokoknya bukan pada masalah ushuliyah, tetapi masalah furuiyah.

"Kami juga menghadapi hal yang sama soal ancaman ekstrimisme kanan dan kiri. Ekstrimisme kanan mengajak kepada orang-orang untuk mengkafirkan sesama kaum muslimin yang tidak sealiran dan sepemahaman dengan mereka, ekstrim kiri mengajak bersikap liberal dan bahkan anti-agama melalui gerakan masif di media maupun perusakan moral dengan narkoba dan semacamnya," terang Gus Hayid menanggapi sharing soal masalah keumatan.

Atas Dasar itulah, lanjut Grand Syekh, diperlukan upaya kongkrit untuk terus membangun dan menjalin sinergi dakwah yang tepat dan bisa dirasakan oleh umat. Dan langkah tersebut diperlukan kerjasama yang erat antara lembaga semacam darul Ifta untuk bersama-sama mengatasi masalah umat dengan mengunakan pemahaman dan pemikiran islam wasatiyyah.

"Kita tidak bisa sendiri-sendiri menghadapi tantangan dan ancaman terhadap pemahaman islam yang rahmatan lilalamin ini dan perusakan moral kaum muslimin yang akhirnya membuat umat Islam mudah dipecah belah. Kita harus bersama-sama mengatasinya," terangnya diamini oleh Gus Hayid dan rombongan.

Pertemuan ini digelar karena adanya rencana Komisi Dakwah MUI Pusat pimpinan KH Cholil Nafis akan melakukan Rihlah Ilmiah dalam rangka membangun kerjasama sekaligus saling belajar mengenai sistem berdakwah di era modern di berbagai dunia Islam dan sekaligus sistem lembaga semacam MUI merespon problematika umat. Rihlah Ilmiah yang direncanakan akan dilaksanakan pada Maret 2018 ini juga direncanakan ke berbagai negara lain seperti Mesir, Arab Saudi dan Turki selain ke Jordania. 

Menanggapi rencana penguatan kerja sama antara ulama Indonesia dengan Ulama Yordania, Dubes RI untuk Amman, Andi Rahmianto menyambut baik upaya tersebut. Pihak pemerintah melalui kedutaan besar di Yordania siap memfasilitasi dan membantu penguatan kerjasama antara para kedua negara dalam menguatkan pemahaman keilaman yang moderat atau wasathiyah.

"Kami sangat senang mendengar rencana itu. Sudah barang tentu kami pasti mendukung setiap upaya positif yang dibangun oleh para ulama kedua negara dalam rangka merekatkan hubungan antara kedua bangsa dan kedua negara sekaligus dalam rangka menangkal pemahaman islam ekstrem dan mengembangkan islam yang damai, islam rahmatan lil alamain," terang Suseno yang sudah bertugas di berbagai pos penting dan strategis, khususnya di Amerika ini. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pendidikan, Kajian Islam Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 20 April 2016

Pelajar Jabar Gelar Pekan Edukasi Awal Maret

Bekasi, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Jawa Barat akan menyelenggarakan Pekan Edukasi Siswa-Siswi (Perkusi) untuk Madrasah Aliyah Negeri (MAN) se-Jabar. Kegiatan tersebut akan dilaksanakan di Asrama Haji, Kota Bekasi, pada 2-3 Maret 2018 mendatang.

Ketua PW IPNU Jabar Ziyad Ahmad mengungkapkan, Perkusi dimaksudkan untuk sosialisasi sekaligus komunikasi siswa-siswi Madrasah Aliyah di daerah kepemimpinannya. Selain itu, Perkusi juga merupakan bagian dari upaya PW IPNU dan IPPNU Jabar untuk mengampanyekan sebuah pesan penting di kalangan pelajar.

"Kami akan mengampanyekan pesan di kalangan siswa dan siswi se-Jabar akan arti pentingnya pemahaman keagamaan yang sesuai dengan konteks kekinian, spirit dan jiwa kebangsaan, cinta tanah air, dan cinta terhadap ilmu pengetahuan. Selain itu juga sebagai upaya untuk menjalin persaudaraan antar pelajar," kata Ziyad, Selasa (9/1).

Pelajar Jabar Gelar Pekan Edukasi Awal Maret (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar Jabar Gelar Pekan Edukasi Awal Maret (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar Jabar Gelar Pekan Edukasi Awal Maret

Selain itu, Ziyad menambahkan, pelaksanaan Perkusi sebagai ikhtiar PW IPNU dan IPPNU Jabar untuk menyampaikan pesan kemanusiaan yang dapat lebih dirasa dan dipahami oleh pelajar di Jawa Barat.

"Kami berikhtiar agar pesan kemanusiaan dapat lebih dirasa dan dipahami oleh para pelajar," ungkapnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ketua PW IPPNU Jabar Nurul Fatonah mengungkapkan, kegiatan tersebut diselenggarakan dalam rangka menyongsong 100 tahun Indonesia merdeka juga untuk menyiapkan generasi emas di tahun 2045. Perkusi diadakan dengan tagline besar Madrasah Lebih Baik, Lebih Baik Madrasah.

"Tujuan Perkusi, selain sebagai wadah silaturahim pelajar MAN se-Jabar, juga untuk menggali potensi yang dimiliki para pelajar. Nantinya akan ada panggung apresiasi pelajar dan talkshow ilmiah dengan materi wawasan kebangsaan dan pembangunan karakter," kata Nurul.

Kegiatan itu, imbuhnya, akan disisipkan diskusi Focus Groups Discussion (FGD) dengan pembagian kelas belajar berdasarkan peminatan. Lalu, juga ada materi mengenai kepemimpinan guna menyiapkan kader-kader NU yang unggul dan berkualitas.

"Kami berharap akan lahir pelajar unggul yang siap berkompetisi di tengah arus bonus demografi yang berakhlakul karimah, religius, dan berwawasan kebangsaan," ungkap mahasiswi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, asal Garut itu. (Aru Elgete/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Kajian Islam, Ahlussunnah, Kyai Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock