Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Februari 2018

Jelang UAS, Mahasiswa NU Polinela Gelar Khatmil Qur’an

Bandar Lampung, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Menjelang ujian akhir semester (UAS), puluhan mahasiswa Nahdliyyin Politeknik Negeri Lampung (Polinela) yang tergabung dalam Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) mengadakan acara khatmil qur’an di Masjid Almannar Gang Senen, Bandar Lampung.

Jelang UAS, Mahasiswa NU Polinela Gelar Khatmil Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang UAS, Mahasiswa NU Polinela Gelar Khatmil Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang UAS, Mahasiswa NU Polinela Gelar Khatmil Qur’an

Khataman Al-Qur’an dipimpin Ustadz Beni Hidayat, pembina KMNU Polinela, Sabtu (31/12). Acara dimulai dengan shalat dhuha bersama, pembacaan shalawat, lalu pembacaan Al-Qur’an.

Ketua Umum KMNU Polinela Muhammad Ajid MD menyampaikan, khatmil qur’an ini merupakan agenda rutin yang akan dilaksanakan setiap bulan. “Insyaallah akan jadi agenda rutin, ini perdananya,” imbuhnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Mahasiswa Mekanisasi Pertanian ’14 ini berharap, dengan khatmil qur’an ini mahasiswa Polinela akan lebih mencintai Al-Qur’an. “Daripada akhir tahun diisi dengan maksiat, lebih baik kan begini bisa dekat-dekat dengan Al-Quran,” tuturnya.

Ketua pelaksana kegiatan, Hasyim Asy’ari mengatakan, acara berjalan sesuai yang ditargetkan panitia. “Alhamdulilah acara berjalan lancar tanpa kendala, beberapa mahasiswa lintas organisasi di Politeknik Negeri Lampung juga hadir dalam acara ini,” kata mahasiswa Perikanan angkatan 15 ini.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Menurutnya, antusiasme masyarakat sekitar juga baik. “Ada yang memberikan air mineral beberapa dus. Kami berharap dengan barokah khatmil quran ini UAS kami dimudahkan serta memberikan hasil yang memuaskan,” pungkas Hasyim.

Acara diakhiri dengan makan bersama ala santri serta pembacaan shalawat oleh grup Permata Shalawat Polinela. (Nuril/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pahlawan, Hadits, Kajian Islam Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 26 Januari 2018

Pembangunan Tenda Muktamar NU Dimulai

Jombang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pelaksanaan Muktamar NU ke-33 di Jombang tinggal menghitung hari. Tidak sampai tiga pekan lagi, forum tertinggi di NU ini digelar. Berbagai persiapan sudah dilakukan. Termasuk konsolidasi panitia dan persiapan lokasi acara.

Demikian terlihat di alun-alun Jombang sejak Rabu (8/7). Berbagai alat berat untuk mendirikan tenda besar sudah didatangkan. Alat-alat itu diangkut dengan menggunakan beberapa truk besar.

Pembangunan Tenda Muktamar NU Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)
Pembangunan Tenda Muktamar NU Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)

Pembangunan Tenda Muktamar NU Dimulai

"Truk-truk itu sempat parkir di alun-alun Jombang," kata Mukani, guru SMAN 1 Jombang yang berlokasi di utara alun-alun Jombang.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Mulai Rabu (8/7) pagi, pendirian tenda besar berwarna putih dimulai oleh puluhan pekerja. Letaknya di sisi selatan alun-alun. Sedangkan di sisi timur dan utara, dimulai pada Kamis (9/7) hari ini.?

Menurut rencana, tenda-tenda itu akan digunakan sebagai lokasi pembukaan dan penutupan acara Muktamar NU ke-33. Sedangkan sidang komisi digelar di empat pondok pesantren, Tebuireng, Tambakberas, Denanyar, dan Peterongan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sebagai sekolah yang berdekatan dengan lokasi Muktamar NU, SMAN 1 Jombang juga siap menyukseskan Muktamar kali ini. Baliho besar sudah dipasang di timur pintu gerbang sejak sepekan lalu. Baliho besar itu bertuliskan “Keluarga Besar SMAN 1 Jombang siap menyuksukseskan Muktamar NU Ke-33 di Jombang.”

Menurut rencana, SMAN 1 Jombang juga ditempati peserta muktamar. "Puluhan kran air sudah disediakan di tempat parkir sebelah barat. Renovasi mushalla juga dipercepat agar sudah bisa digunakan saat Muktamar nanti," ujar Mukani.

Demi kenyamanan peserta dalam beribadah di mushalla, arah kiblat pun sudah diukur ulang. "Selasa (7/7) kemarin kita mengundang Ketua Lajnah Falakiyah MWCNU Diwek ustadz Abdul Majid untuk mengukur ulang arah kiblat mushalla di sekolah ini," pungkasnya. (Abu Jauhar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Hadits, Berita, Makam Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 25 Januari 2018

Cara Menghukum Begal

Dalam bahasa fiqih Begal dimaknai sebagai segerombolan orang yang saling tolong menolong dan bantu membantu dalam melaksanakan maksud mereka, mengganggu orang-orang di jalanan, merampas harta benda dan tidak segan-segan membunuh. Demikianlah definisi qutthout thariq dalam at-Tadzhib fi adillati matnil ghayah wat taqrib

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Keberadaan begal yang sangat meresahkan masyarakat dan mengganggu ketentraman umat tidak dapat dimaafkan. Pembegalan, perampokan dan kekerasan semacamnya merupakan dosa besar yang harus dihukum. Dengan jelas al-Qur’an menerangkan hukuman bagi begal dalam al-Maidah 33:

Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.

Cara Menghukum Begal (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Menghukum Begal (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara Menghukum Begal

Ibnu Abbas sebagaimana diterangkan Imam Syafi’i dalam al-Umm berpendapat bahwa yang dimaksud dengan membuat kerusakan di bumi adalah berbuat sesuatu di muka bumi yang dapat merusakkan kehidupan, seperti membunuh jiwa dan merampok harta benda, atau menggaggu ketentraman masyarakat. Menurut ulama modern termasuk dalam kategori perampok dan begal adalah koruptor, pengemplang pajak negara dan juga pencuri kayu dihutan lindung. Karena posisi mereka yang merusak stabilitas ekonomi negara dan semakin menyengsarakan nasib bangsa.

Dalam rangka penerapan ayat al-Qur’an di atas, ulama fiqih mengklasifikasi pembegal dalam empat bagian, sebagaimana diterangkan Abi Suja dalam Ghayat wat Taqrib

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? 

Pembegal itu ada empat macam 1) apa bila begal itu membunuh tanpa mengambil harta maka hukumannya dibunuh. 2) apabila begal itu membunuh dan mengambil harta, maka hukumannya di bunuh dan disalib . 3) apabila begal itu hanya mengambil harta (tidak membunuh) maka hukumannya dipotong tangan atau kaki secara bersilangan (tangan kanan dan kaki kiri untuk pembegalan pertama, dan tangan kiri kaki kanan untuk pembegalan kedua). Dan 4) apabila begal itu hanya menakut-nakuti orang yang lewat tidak mengambil harta dan membunuh maka hukumannya adalah dipenjara dan dita’zir.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Itulah beberapa macam hukuman untuk begal sesuai dengan kejahatan yang dilakukannya. Oleh karenanya tidak dibenarkan menghukum bekal dengan cara membakar. Karena hal itu sangat menyiksa dan bertentengan dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Hanya saja di Indonesia hukuman semacam ini hanya berlaku sebagai pengetahuan yang bersifat teoritis dan tidak boleh dipraktikkan, karena pemerintah sebagai pengatur kekuasaan memiliki undang-undang sendiri yang wajib dipatuhi oleh segenap individu yang merasa sebagai warga negara Indonesia. undang-undang yang mengatur tata kehidupan berbangsa demi kemaslahatan bersama lahir-batin dunia dan akhirat. Sesuai dengan kaedah fiqhiyyah yang berbunyi

?? ? ? ? ? ?

“Kebijakan pemimpin (pemerintah) terhadap rakyatnya harus terkait dengan kemaslahatan mereka”(ulil)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Meme Islam, Hadits Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 23 Januari 2018

Tidak ada Tanda Kepangkatan dalam Ibadah Haji

Madinah, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Para jamaah haji diharapkan dapat memantapkan niat untuk beribadah selama berada di Tanah Suci Makkah dan Madinah. Niat ibadah yang telah sejak lama ditanamkan dalam jiwa hendaknya tidak dikotori oleh emosi diri dan keangkuhan.

Demikian selalu diingatkan oleh Maraposan Rambe (MBR), Ketua Kloter Mess 04 Medan, asal kabupaten Labuan Batu Sumatera Utara, kepada para jamaah haji yang dipimpinnya. Menurut MBR Tanda kepangkatan dan jabatan juga tidak perlu ditonjolkan selama menjalankan ibadah haji.

Tidak ada Tanda Kepangkatan dalam Ibadah Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Tidak ada Tanda Kepangkatan dalam Ibadah Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Tidak ada Tanda Kepangkatan dalam Ibadah Haji

"Saya selalu mengingatkan kepada para jamaah, agar tidak bertindak mentang-mentang. Orang-orang yang sedang menunaikan ibadah haji tidak mengenal tanda kepangkatan dan kekayaan, semuanya sama di hadapan Allah," tutur MBR kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan di Kantor Misi Haji Indonesia Daerah Kerja Madinah, Sabtu (23/10).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Menurut MBR, jamaah haji mestinya tidak saling menyombongkan diri dan hanya bisa komplain saja. Karena hal itu akan mengurangi keutamaan ibadah seseorang.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Jadi jangan mentang-mentang dia orang kaya raya di Tanah Air atau orang berpangkat, lalu bisa seenaknya komplain atas kekurangan dan berbagai kendala yang muncul selama perjalanan ibadah. Karena semua jamaah haji akan diperlakukan sama oleh para petugas," tandas pria yang memiliki suara lantang ini. (min/Laporan langsung Syaifullah Amin dari Arab Saudi)Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Sunnah, Hadits Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 18 Januari 2018

Dubes Sudan Sowan ke PBNU

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Rombongan dari Kedutaan Besar Sudan untuk Indonesia berkunjung ke kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat. Mereka diterima langsung Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan Ketua PBNU H Iqbal Sullam.

“Kami ke sini dalam rangka melaksanakan misi kedutaan yang menghubungkan masyarakat Sudan dan Indonesia,” kata Duta Besar Sudan Dr Abdurrahim as-Siddiq kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan singkat, Kamis (27/11).

Dubes Sudan Sowan ke PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Dubes Sudan Sowan ke PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Dubes Sudan Sowan ke PBNU

Abdurrahim mengaku tertarik kepada NU karena ormas Islam ini memiliki keunikan dibanding umat Islam lain di negara-negara Timur Tengah. “Keunikannya terletak pada dukungan NU kepada eksistensi Negara Republik Indonesia. Ini luar biasa,” tuturnya didampingi tiga orang dari Kedubes Sudan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pertemuan pihak Kedubes Sudan dan pengurus PBNU berlangsung santai di ruang Ketua Umum PBNU, Lantai 3 Gedung PBNU. Keduanya saling bertukar informasi tentang kehidupan di masing-masing negara. Kiai Said juga memaparkan tentang profil singkat NU.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sebelumnya, rombongan tersebut berkunjung ke Pojok Gus Dur, bekas kantor mendiang KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang kini berubah menjadi museum kecil dan perpustakaan. Di lantai dasar gedung PBNU ini, mereka melihat foto-foto Gus Dur dan keluarganya, serta buku-buku karyanya.

Keempat sempat terpana saat membaca beberapa kutipan ucapan Gus Dur yang terpajang di dinding Pojok Gus Dur. Kutipan tersebut, di antaranya, berbunyi, “The deep problem is that people use religion wrongly in persuit of victory and triumph. This sad fact then leads to conflict with people who have different beliefs”; dan “Saya tidak khawatir dengan dominasi minoritas. Itu lahir karena kita yang sering minder. Umat Islam—mungkin karena faktor masa lalu—sering dihantui rasa kekalahan dan kelemahan.” (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Kajian, Hadits, Pendidikan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 16 Januari 2018

Presiden Iran Hargai Pernyataan Maaf Paus

Caracas, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad, Senin (18/9) mengungkapkan rasa hormatnya atas pernyataan maaf Paus Benediktus XVI soal Islam dan penyebaran ajaran Nabi Muhammad sebagai "kejahatan dan tidak manusiawi" yang menuai protes dari umat Islam di seluruh dunia.

"Kami menghargai Paus dan seluruh pihak yang cinta pada perdamaian dan keadilan," ungkap Ahmadinejad. "Saya memahami bahwa dia (Paus Benediktus XVI) telah meralat pernyataannya yang dia buat."

Presiden Iran Hargai Pernyataan Maaf Paus (Sumber Gambar : Nu Online)
Presiden Iran Hargai Pernyataan Maaf Paus (Sumber Gambar : Nu Online)

Presiden Iran Hargai Pernyataan Maaf Paus

Seperti diberitakan, Paus dalam kuliah umum di Aula Magna, Universitas Regensburg, Jerman, Selasa lalu, mengutip pernyataan Kaisar Bizantium (kini Turki) Manuel II Paleologus mengenai makna jihad dalam Islam dan penyebaran Islam dengan pedang. Sehubungan dengan itu, Paus "dengan setulusnya menyesali" bahwa pernyataannya tersebut telah melukai umat Islam, di mana kalimat itu sama sekali tidak berhubungan dengan maksud Paus.

Dalam kunjungannya selama dua hari ke Venezuela, Ahmadinejad juga mengatakan adanya kontradiksi antara nilai-nilai (ajaran) Kristen negara-negara Barat dengan perang yang selama ini mereka lancarkan.

"Seluruh pertempuran abad ke-20 (terjadi) disebabkan oleh (ulah) sejumlah negara Eropa dan Amerika Serikat (AS)," kata Ahmadinejad seperti dilansir sumber AP dan AFP.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dia juga mengingatkan bahwa "Isa sebagaimana nabi-nabi yang lain adalah figur yang cinta perdamaian dan keadilan bagi kemanusiaan." (dar)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ubudiyah, Pondok Pesantren, Hadits Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 13 Januari 2018

UNU Blitar Siapkan Beasiswa bagi Mahasiswa Berprestasi

Blitar, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Pengelola Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar menerima SK dari Kemristek Dikti, Kamis (8/9) kemarin. Sesaat setelah itu pihak PCNU Blitar selaku pengelola UNU Blitar langsung bergerak. Begitu pulang dari Jakarta, Ketua PCNU Blitar langsung menggelar rapat terbatas di Sekretariat NU Jalan Masjid 22 Blitar. Mereka membahas antara lain beasiswa untuk mahasiswa berprestasi.

Bahkan, UNU Blitar akan mengusahakan beasiswa S2 baik di dalam maupun di luar negeri bagi mereka yang berprestasi.

UNU Blitar Siapkan Beasiswa bagi Mahasiswa Berprestasi (Sumber Gambar : Nu Online)
UNU Blitar Siapkan Beasiswa bagi Mahasiswa Berprestasi (Sumber Gambar : Nu Online)

UNU Blitar Siapkan Beasiswa bagi Mahasiswa Berprestasi

Rektor UNU Prof Dr HM Zainuddin MPd menjelaskan, tempat perkuliahan juga sudah siap. Sudah tersedia tiga lokasi. Kampus I berlokasi di Jalan Masjid 22. Sementara Kampus II berlokasi di Jalan Musi. Sedangkan Kampus III bertempat di Jalan Ciliwung 65 Kota Blitar.

“Kita gunakan tiga lokasi itu sambil menunggu kampus yang? permanen di Desa Poluhan Srengat Blitar yang kini sudah mulai proses pengerjaan,” kata Prof Zainuddin.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Peserta rapat ini membahas langkah strategis? bagaimana agar perguruan tinggi milik warga NU ini bisa cepat berkembang dan berjaya di Blitar dan sekitarnya.

Alhamdulillah semua kompunen NU siap membantu membesarkan UNU Blitar. Khususnya NU beserta Banomnya. Begitu mereka tahu SK sudah turun. Ini SK di tangan. Baru saya bawa dari Jakarta tadi pagi,” ujar KH Masdain Rifai Ahyat usai pertemuan didampingi Prof Zainuddin.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Menristek Dikti berpesan supaya kita segera membuka pendaftaran agar kegiatan perkuliahan segera terlaksana. “Untuk itu semua tancap gas. Bismillah lahaula wala quwwata illa billah,” kata Kiai Masdain.

Ia mengaku sangat optimis. Prospek UNU Blitar ke depan sangat? bangus dengan pertimbangan beberapa hal. Di antaranya, karena Universitas NU didirikan PBNU yang merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia, bahkan di Dunia.

“Besaran Blitar dan sekitarnya hampir 60 persen penduduknya adalah warga NU. Untuk itu saya sangat optimis, sebagian nanti akan mendaftarkan anaknya ke UNU,” katanya.

Selain itu, UNU Blitar menjadi satu-satunya universitas di Blitar Raya yang bertaraf nasional dan berpeluang membangun jaringan internasional. “Yang terpenting lagi UNU didirikan untuk menjadikan mahasiswa generasi bangsa yang memiliki karakteristik khas Aswaja Nahdliyah, nasionalisme, berprestasi dan sukses dalam berkompetisi,” tambah? Prof Zainuddin.

Menurut Zainuddin, UNU Blitar dibimbing dan dipimpin oleh para dosen yang memiliki keahlian di bidangnya. “Juga memiliki gedung dan sarana dan prasarana yang representatif. UNU Blitar menjadi universitas yang berdiri terakriditasi baik lembaga maupun prodinya. Juga memiliki jaringan di pemerintahan maupun swasta,” tandas Zainuddin. (Imam Kusnin Ahmad/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pesantren, Berita, Hadits Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 08 Januari 2018

Isra Miraj, Antara Akal dan Iman

Oleh KH MA Sahal Mahfudh. Sebuah seminar untuk memperingati Isra Miraj, diadakan di pesantren desa saya dengan mengetengahkan tema "Sufisme Sebagai Pengendali Moral". Tema ini ditinjau dari beberapa sisi di antaranya tinjaun filsafat. Menarik sekali, karena antara sufisme dan filsafat sama-sama diperdebatkan segi rasionalitasnya. Kalau filsafat saja, tentu sudah jelas ia mutlak berangkat dan akal/rasio manusia untuk mencari pembenaran sesuatu. Metode itu lalu dikenal dengan pemikiran filsafati, yaitu pemikiran menyeluruh, mendasar dan selalu mencoba menelaah hal-hal baru untak kemudian dikembangkan secara lebih luas lagi. Sedangkan sufisme, dalam seminar itu diperdebatkan antara rasionalitas dan irrasionalitasnya.

Ada beberapa seminaris yang menganggap sufisme sama sekali irrasional. Pendapat ini dikuatkan dengan kajian referensial terhadap sebuah pendapat ilmuwan terkemuka negeri ini. Ada lagi yang lebih unik, sufisme dinilai irasional tetapi tetap tidak meninggalkan unsur penalaran. Dari pendapat ini kemudian dipertanyakan tentang eksistensi dua hal yang saling berlawanan dalam satu permasalahan. Artinya, ijtima al-atsaroini (berkumpulnya dua hal yang saling berlawanan) ini jelas sangat mustahil. Seperti diam dan bergerak. Adalah mustahil, ada satu benda yang dapat melakukan diam dan bergerak dalam masa yang bersaman.

Isra Miraj, Antara Akal dan Iman (Sumber Gambar : Nu Online)
Isra Miraj, Antara Akal dan Iman (Sumber Gambar : Nu Online)

Isra Miraj, Antara Akal dan Iman

Agaknya ada lagi pendapat yang berkesan kompromistis. Bahwa dalam tahapan proses, sufisme bisa jadi melalui jalan rasional. Namun ketika sufisme telah mencapai titik puncak musyahadah (melihat dzat) Allah, tahap ini tidak lagi rasional. Ini mirip dengan agama sebagai wahyun ilahiyyun (kewenangan Tuhan) yang absolut dan irasional. Namun pada tahap pemahamannya, agama tetap rasional. Bahkan dikatakan, al-Din huwa al-aql 1a dina liman la aqla lahu (Agama adalah akal, tidak bisa beragama bagi orang yang tidak berakal).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Penjabaran ini sepertinya berangkat dari sebuah kitab kuno sufisme (bukan kitab sufisme kuno). Di sana disebutkan, jalan untuk mencapai kebahagiaan akhirat adalah terpenuhinya tiga dimensi syariat, thariqat dan haqiqat. Sementara posisi sufisme sebagai reaksi perasaan yang tinggi, agung dan murni terhadap pelaksanaan ketiga dimensi tersebut, tentunya tidak mungkin terlepas dari apa saja yang berkaitan dengan ketiga hal itu. Dan salah satu komponennya—seperti syariat—suatu saat, prosesnya bisa dan boleh menggunakan jasa akal. Meskipun jelas, tidak seluruh syariat berangkat dari penalaran dan memang eksistensinya sama sekali tidak rasional.

***

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Muncul satu masalah lagi dalam seminar itu, berkisar antara keberadaan ilmu, filsafat dan sufisme atau lebih tepatnya agama. Sebagaimana telah maklum, ilmu menggunakan jasa rasio, begitu juga filsafat. Akan tetapi ilmu tidak akan mencapai hakikat filsafat. Dan puncak filsafat juga tidak akan menerobos hakikat sufisme secara esensial mau pun eksistensial, pijakan keberadaan masing-masing berbeda.

Dari mata rantai ini, pembahasan seminar itu terasa bertele-tele, mengingat belum terselesaikannya satu masalah, sudah muncul lagi permasalahan baru. Maklumlah saya, karena keseluruhan seminaris adalah siswa Aliyah dan Tsanavviyah yang tentu saja masih terbatas kemampuan analogi dan sekaligus pemahamannya terhadap tiga masalah itu.

Kemudian salah seorang peserta mencoba bermain analogi (tamsil atau qiyas). Digambarkan, ilmu, filsafat dan sufisme melangkah dengan jumlah yang sama. Bila ilmu mencapai hitungan kelima misalnya, maka filsafat dan sufisme juga dalam hitungan yang sama pula. Akan tetapi ketika ilmu mencapai hitungan kedelapan, maka ia -menurut kaca mata agama- tidak mampu meneruskan langkah selanjutnya. Sementara filsafat bisa mencapai hitungan kesembilan saja dan sufisme dapat dengan bebas (boleh dan memang harus) meraih puncak hitungan ke sepuluh. Alhasil, para seminaris menerima analogi itu.

Terlepas dari benar tidaknya kesimpulan mereka, kiranya dapat diambil beberapa hal sebagai pijakan untak memandang fenomena Isra Miraj ditinjau dari akal dan keimanan. Hal ini agaknya sering aktual, karena kecenderungan umat awam (terhadap masalah keagamaan) yang berdisiplin ilmu tertentu, lebih suka mendalami agama melalui kajian penalaran yang disejajarkan dengan ilmu yang mereka miliki. Berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, orang akhirnya hanya akan mudah menerima segala hal termasuk agama, sejauh hal itu masuk akal dan rasional.

Sebetulnya gejala ini dalam batas-batas tertentu bisa dimengerti dan dimaklumi. Kecendemugan pola hidup praktis dan pragmatis dari modernitas yang ada mengajarkan manusia untuk senantiasa hanya menerima hal yang praktis pula. Soal akhirnya begitu susah dan enggan mereka diajak berbicara masalah di luar skenario akal manusia, apalagi yang bersifat mistis dan metafisis, itu soal lain.

Bahkan lebih jauh dari itu, sejak zaman Nabi peristiwa seagung Isra Miraj pun menjadi ajang perselisihan yang menyebabkan kuffar (orang-orang kafir) Mekkah semakin menertawakan dan menganggap Nabi berbohong secara berlebihan. Akal mereka sama sekali tidak bisa menerima kabar perjalanan Nabi ke luar angkasa dengan rentang masa yang kurang dari semalam, tanpa mempergunakan perantara transportasi apapun.

Di kalangan sahabat Nabi pun terjadi beberapa perselisihan. Satu pihak menganggap Isra Miraj hanyalah terjadi dengan rohaniah Nabi. Artinya jasad Nabi masih berada di Mekkah, sementara rohnya melakukan perjalanan Isra Miraj. Pendapat ini dikuatkan oleh Siti Aisyah yang melihat jasad Nabi di dekatnya, selama peristiwa itu berlangsung. Demikian juga sahabat Nabi yang lain seperti Muawiyah ibn Abu Sufyan. Berangkat dari pendapat ini, tentu saja pandangan rasio manusia akan dapat memaklumi hal tersebut, tanpa justifikasi ilmiah yang lebih terinci lagi.

Akan tetapi di lain pihak, suatu pendapat yang akhirnya mujma alaih (disepakati para ulama) menegaskan, perjalanan Isra Miraj Nabi adalah ruhan wa jasadan (dengan roh dan jasad fisiknya). Pendapat ini memahami dari teks firman Allah dalam surat al-Isra ayat pertama yang menyebutkan, kalimat Subhanal-ladzi asra bi abdihi (Maha Suci Allah yang telah meng-Isra-kan hambanya). Dari kalimat "subhana" para mufassirin sepakat menafsirkan peristiwa Isra Miraj sebagai peristiwa besar dan agung. Sangat mustahil kiranya, Allah menyantumkan kalimat "subhana tanpa sebuah maksud tertentu. Sementara kalimat "bi abdihi" sendiri jelas merupakan statemen yang menerangkan eksistensi Nabi secara ruhan wa jasadan.

Jika demikian persoalannya, maka tentu saja rasio akan serta-merta menggugatnya sebagai hal yang sama sekali tidak ilmiah dan irrasional. Melihat hal ini, kita akan ingat Isra Miraj sebagai sebuah informasi wahyu yang harus diimani oleh setiap mukmin, ternyata memang berlawanan dengan akal manusia. Bahwa antara wahyu dan akal sudah sejak lama bermusuhan sehingga mengakibatkan banyak korban jatuh, itu fakta sejarah. Kita tidak akan lupa pada peristiwa kaum Mutazilah mengenai "halaqah" Hasan al-Basri di Basra, se bagai akibat dari dipertahankannya akal/rasio oleh Mutazilah di dalam memahami setiap masalah agama.

***

Masalahnya adalah, apakah Isra Miraj diterima sebagai sebuah kebenaran sehingga sebagai komponen keagamaan, ia akan dengan mudah didistribusikan serta dikonsumsi oleh segenap umat dari berbagai kalangan. Menurut akal manusia Isra Miraj memang tidak akan menjelma menjadi hal yang rasional. Meskipun Isra Miraj boleh dijadikan ilham terhadap diciptakannya teknolgi luar angkasa, akan tetapi bagaimanapun juga manusia tidak akan dapat menemukan hakikat kebenaran Isra Miraj secara rasional.

Bahwa kemudian dalam kerangka filsafat, ditemukan pendekatan peristiwa agung itu, pada intinya ia memang bukanlah perkara manusia sehingga mampu dijangkau akal. Kita dapat mengungkapkan paham idealisme dalam fase filosofi yang berpendapat, untuk memperoleh gambaran yang benar dan tepat sesuai dengan pengetahuan adalah mustahil. Artinya, melalui pendekatan ini boleh jadi Isra Miraj masuk akal dan rasional. Akan tetapi akhirnya paham realisme dalam fase yang sama justru tetap menekankan kebenaran pengetahuan lewat pembuktian dari apa yang didapat lewat alam nyata (empiris). Artinya dalam batas-batas di atas, Isra Miraj memang masih rancu untuk dipahami umat akan kebenaran dan pembenarannya secara akal.

Agaknya kita lupa akan satu hal. Kebenaran Isra Miraj itu sendiri adalah perkara Allah yang tentu saja bagiNya, sama sekali tidak ada hal yang tidak mungkin terjadi. Allah adalah Maha Kuasa dan Maha Luas sehingga kekuasaannya melampaui segala batas ruang dan waktu. Apa yang tidak terbatas, tentu saja tidak akan dapat dibatasi oleh sesuatu yang terbatas.

*) Diambil dari KH MA Sahal Mahfudh, Nuansa Fiqih Sosial, 2004 (Yogyakarta: LKiS). Tulisan ini pernah dimuat Suara Merdeka, 7 Februari 1992.

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pesantren, Hadits Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 29 Desember 2017

Sambut Pilkada, GP Ansor dan Polres Mataram Jaga Keharmonisan Sosial

Mataram, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - GP Ansor bersama Kapolres Kota Mataram AKBP Muhammad menggelar doa bersama di Aula Kantor PWNU NTB Jalan Pendidikan nomor 6 Kota Mataram, Selasa (02/5) malam. Mereka berharap Kota Mataram ke depan terjaga terlebih lagi menghadapi pilkada Kota Mataram (2018).

Ketua GP Ansor Mataram Hasan Basri mengatakan, GP Ansor memiliki investasi dan modal besar terhadap bangsa dan Negara Indonesia. Karena itu tidak salah bila Ansor mendoakan bangsa ini. Di tengah kondisi bangsa yang carut-marut baik masalah sosial, keagamaan, politik, dan lainnya, GP Ansor mengambil cara lain, yaitu mendoakan bangsa.

Sambut Pilkada, GP Ansor dan Polres Mataram Jaga Keharmonisan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Pilkada, GP Ansor dan Polres Mataram Jaga Keharmonisan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Pilkada, GP Ansor dan Polres Mataram Jaga Keharmonisan Sosial

"Cara ini adalah cara kritik kami terhadap pemerintah. Karena dengan cara aksi massa sudah pernah namun kurang direspon," katanya.

Sementara Kapolres Kota Mataram AKBP Muhammad mengajak Ansor dan pemuda yang hadir untuk menjaga persatuan dan kesatuan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Tugas kita adalah menumbukan persaudaaran sesama umat Islam dan antarumat manusia lainnya. Jangan menghina orang lain, apa lagi terkait isu pilkada khususnya pilkada Kota Mataram yang sudah di depan mata. Dan hidup yang marhamah, saling menyayangi,” kata Kapolresta Mataram Muhammad.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ketua GP Ansor NTB H Zamroni Aziz menyampaikan, GP Ansor akan selalu siap bersama Polri dan TNI menjaga stabilitas dan keamanan di tengah-tengah masyarakat. "Siapapun yang ganggu negara, maka akan berhadapan dengan Ansor," jelasnya.

Pertemuan yang dipandu oleh Sekretaris GP Ansor Mataram Fadil Adli dihadiri oleh Wakil Rais Syuriyah PWNU NTB TGH Sahimun Faesal, Abdul Hamid Faesal, Ketua PCNU Kota Mataram Ustadz Fairuz Abadi, Suryadi utusan Persatuan Serikat Muslim Tionghoa (PSMTI) NTB. Pimpinan IPNU-IPPNU NTB, PMII Mataram, PMKRI NTB, dan puluhan anak muda NU NTB. (Hadi/Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Lomba, Halaqoh, Hadits Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 23 Desember 2017

Catatan Hari Santri; Jihad “Kebangkitan Ekonomi”

Oleh: Ferhadz Ammar Muhammad*

Wahai para pemuda putera bangsa yang cerdik pandai dan para ustadz yang mulia, mengapa kalian tidak mendirikan saja suatu badan usaha ekonomi yang beroperasi, di mana setiap kota terdapat satu badan usaha yang otonom. Badan usaha ini secara khusus untuk kaum ulama dan bagi lainnya yang masuk kaum terpelajar. Dari badan usaha ini didirikan suatu darun nadwah (balai pertemuan) sebagaimana yang dilakukan para sahabat. (Kutipan paragraf “Piagam Nahdlatut Tujjar” dalam Mun’im DZ, ed., Piagam Perjuangan Kebangsaan; 2011, 28).

Empat hari yang lalu, 22 Oktober 2017, negeri ini kembali menemukan fungsinya. Bukan dari gelaran forum para profesor dan peneliti luar negeri, melainkan gerombolan para santri dari bilik-bilik bumi pertiwi. Peringatan itu membawa memori seluruh warga Indonesia pada kejadian 72 tahun silam, Resolusi Jihad oleh Hadhratussyaikh Hasyim Asy’ari namanya. Bukan berupa teks mempertahankan negeri semata, melainkan menjadi ruh ad-da’wah bagi pengisian kemerdekaan dan kedaulatan bangsa.

Catatan Hari Santri; Jihad “Kebangkitan Ekonomi” (Sumber Gambar : Nu Online)
Catatan Hari Santri; Jihad “Kebangkitan Ekonomi” (Sumber Gambar : Nu Online)

Catatan Hari Santri; Jihad “Kebangkitan Ekonomi”

Sebagai seorang yang beragama, setiap peristiwa pasti membawa hikmah, sebab Qur’an pun mengajak para manusia agar mengambil pelajaran dibalik setiap kejadian. Demikian juga dalam upacara peringatan “Hari Santri 2017” itu. Banyak sekali spirit yang bisa diteruskan pada generasi kini dan nanti. Sebagai bagian dari santri, penulis akan mencoba merefleksikan acara tersebutdengan mengambil fokus pada kemandirian ekonomi sebagai upaya agar pesan dan spirit Hari Santri 2017 ini tetap abadi.

Gerakan Pedagang

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Gagasan ekonomi diHari Santri 2017 lahir dari catatan dan wacana serta diskusi panjang oleh tokoh-tokoh NU sekarang. Akan tetapi jauh sebelum itu, dibalik segala ide yang pernah hadir di kalangan Nahdlatul Ulama, tentu fakta sejarah Nahdlatul Tujjar adalah dasar dari segala rancangan ekonomi jam’iyyah terbesar itu.Nahdlatul Tujjar ini erat kaitannya dengan kemasyhuran Surabaya sebagai kota dagang dan industri sekitar awal abad ke-20,serta daerah dengan puncak arus perdagangan yang penting di kancah nasional maupun internasional. Hampir semua komponen masyarakat, tidak terkecuali para kyai, memiliki relasi perdagangan di kota ini. Ketatnya persaingan antar pedagang pun tidak bisa dielakkan. Oleh karena itu, para kyai yang terlibat dalam persinggungan dengan kelompok pedagang lain berupaya untuk membangun basis ekonomi bersama demi melindungi kegiatan ekonomi yang digunakan untuk tujuan pengembangan dakwah dan kemandirian pesantren. Maka di tahun 1918, saat para pedagang saling mendirikan perkumpulan-semacam gank dagang-, para kyai yang dimotori oleh Hadhratusyaikh Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Chasbullah bersepakat untuk mendirikan sebuah perkumpulan yang bernama Gerakan Pedagang (Nahdlatul Tujjar).

Lewat Badan Usaha Al-Inan yang dimilikinya, Nahdlatul Tujjar mulai merangsak naik menjadi organisasi saudagar

yang diperhitungkan. Berkat kemandirian itu, para kyai pesantren semakin lantang menyuarakan kebenaran sesuai dengan keyakinan mereka tanpa takut jikalau ekonomi pesantrennya digencet oleh pihak luar. Bahkan saat kyai pesantren didiskriminasi oleh kalangan luar kaitannya dengan pendelegasian untuk Kongres Islam, mereka berani berangkat secara mandiri untuk tetap mengikuti Kongres Islam di Arab Saudi, sebab menyangkut aqidah yang tidak bisa ditawar lagi. Para kyai pesantren tentu telah mengkalkulasi semuanya, mulai dari persiapan argumen rasional dan biaya. Khusus yang terakhir, yakni biaya, syukur alhamdulillah para kyai yang dikenal dengan sebutan Komite Hijazitu terbiayai dengan adanya Badan Usaha Al-Inan milik Nahdlatul Tujjar, sehingga usaha untuk menyelamatkan makam nabi dari arogansi Wahabi, dan kebebasan bermadzhab di Haramain bisa terlaksana (Mun’im DZ, ed.; 2011, 25).

Setelah Nahdlatul Ulama berdiri pada tahun 1926, otomatis segala kegiatan dan spirit perjuangan Nahdlatul Tujjar pun ikut melebur ke dalamnya. Bahkan di tahun awal NU berjalan, para anggota Tanfidziyah justru banyak dihuni oleh para saudagar, pengusaha kecil, dan pemilik tanah. Format yang demikian itu mengindikasikan bahwa ekonomi merupakan syarat penting bagi progresivitas organisasi. Sinyal ini cepat ditangkap oleh warga NU terutama di kota-kota besar. Hingga di tahun 1929 di Surabaya, beberapa tokoh NU mendirikan koperasi kaum muslimin yang berfungsi untuk mengorganisir barter atau penjualan barang dari para petani dan pengusaha kecil tradisionalis, seperti gula, kacang, minyak goreng, sayur-mayur, dan lain sebagainya. Spirit ini pun menginspirasi generasi di tahun-tahun berikutnya. Pada tahun 1937, lahirlah Syirkah Mu’awanah, sebuah koperasi yang jaringannya sudah meluas bahkan sampai ke dunia internasional, dengan pokok kegiatan yakni memperdagangkan hasil pertanian, batik, hasil laut, rokok, dan sabun  (Greg Fealy, Ijtihad Politik Ulama; 2003, 42).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dan sekarang, spirit Nahdlatul Tujjar kembali bergelora. Mengambil momentum peringatan (bukan hanya perayaan) “Resolusi Jihad”, semua warga Nahdliyyin berbondong-bondong hadir di pusat peringatan dengan meneriakkan “Santri Mandiri NKRI Hebat”. Jargon itu sungguh menyuntikkan semangat baru. Diskusi mengenai pesan yang dibawa oleh PBNU turut menghiasi perkumpulan para santri. Dari diskusi itu lahir ide dan gagasan menarik yang perlu ditindaklanjuti (follow up), missal pemantapan LAZISNU, sosialisasi ekonomi hijau di desa-desa, dan lain sebagainya.

Ekonomi Inspiratif

Sekarang ini umat Islam dihadapkan pada fakta merebaknya lebelisasi berupa “ekonomi syar’i”, seakan-akan yang diluar konsep itu dianggap tidak Islami. Justru mengkultuskan dan mengarahkan interpretasi ekonominya pada model atau lebel “ekonomi syar’i” membuat Islam terlihat tertutup, dan cenderung bersifat imajinatif-simbolis. Meski demikian, umat juga tidak lantas musti berdiri di barisan para penganut system ekonomi kapitalis kini. Lantas bagaimana jalan yang paling realistis untuk ditempuh? Jawabnya tentulah mengupayakan pertautan esensi atau spirit di antara keduanya. Dalam hal ini, beberapa batas-batas prinsipil musti dipahami dalam praktik pengimplementasian ekonomi, agar tidak keluar dari maqashid fiqh iqtishadi. KH. Said Aqil Siradj (2006; 369-371) telah jauh membahas hal ini dengan menekankan enam prinsip dasar: 1) keadilan dalam distribusi kekayaan (al-‘adalah al-ijtima’iyah), 2) Jaminan atas hak-hak dasar kemanusiaan (al-kulliyah al-khams), 3) Kesejahteraan indvidu dan masyarakat (ar-rafahiyah al-fardiyah wa-l-ijtima’iyah), 4) Persamaan derajat (al-musawah), 5) kebebasan (al-hurriyyah), dan 6) Moderasi (at-tawassuth).

Jika kegiatan ekonomi yang dijalankan didasari dengan enam prinsip di atas, maka “kebijaksanaan ekonomi” bukanlah hal yang utopis. Ia (sistem ekonomi tersebut) lebih mengedepankan isi atau substansi Islam daripada terpaku untuk menampakkan simbol, yang bisa menciptakan eksklusifitas sendiri dihadapan kelompok sosial yang lain. Ia juga tidak berarti mengikuti segala doktrin dan model ekonomi modern (masyarakat industrial) yang justru akan menyebabkan absennya kesejahteraan sosial secara merata. Statement yang terakhir secara tidak langsung menjawab keraguan John Wesley-sebagaimana dikutip Max Weber (2006; 186-187)-saat membahas tentang masuknya doktrin agama di sektor ekonomi. Wesley sempat menulis:

“Saya takut, ketika kekayaan meningkat, esensi agama juga merosot pada proporsi yang sama… sebab agama secara pasti menghasilkan industry dan juga sikap hemat, dan keduanya tidak dapat menghasilkan apa-apa kecuali kekayaan. Akan tetapi ketika orang-orang kaya meningkat maka kesombongan, kemarahan, dan cinta terhadap dunia di dalam segala cabangnya juga akan meningkat…”

Meski Wesley memberi solusi atas fenomena demikian dengan cara “siapa saja yang dapat mencapai segalanya yang bisa mereka dapatkan dan menyimpan semua yang bisa mereka simpan, mereka juga harus memberikan semua yang bisa mereka berikan,…”, tetapi tetap saja belum memberi jawaban konkrit atas timbulnya kekhawatiran dalam bentuk arogansi kekayaan, karena-menurut Weber- corak ekonomi yang lahir di zaman modern sudah dianggap tidak ada hubungannya dengan panggilan spiritual. Tentunya ini berbeda dengan keyakinan KH. Saiq Aqil, bahwa “…ikatan-ikatan agama tidak bisa dilepaskan dalam praktik ekonomi.” Meski konteks keduanya berbeda--KH. Said Aqil berbicara mengenai ekonomi dalam ajaran Islam, sedang Weber tentang kapitalisme dalam etika protestan--tetapi keduanya bisa melahirkan dialektika mengenai peran agama dalam dinamika ekonomi dunia. Dalam hal inilah gagasan alternative yang dibawa KH. Saiq Aqil memberi solusi realistis. Pada sektor pemenuhan kesejahteraan, para ahli agama dituntut untuk menggalakkan ghirrah perekonomian lewat upaya yang kreatif dan prospektif. Namun, agar tidak keluar dari tujuan kehidupan, yakni kepentingan sosial, maka pada sektor pemerataan, tokoh agama perlu mendorong negara lewat instrumen sosialnya agar membuat regulasi guna mengatur perputaran roda ekonomi.

Follow-up

Saat turut serta menghadiri peringatan Hari Santri, penulis sendiri justru langsung teringat dengan ajakan Hadhratussyaikh dalam Mukaddimah Qanun Asasi. Jika diperhatikan secara saksama di kalimat ajakan itu, Hadhratussyaikh menempatkan para kelompok berdasar klasifikasi ekonomi-sosial diurutan awal. Lebih lengkapnya:

“Marilah anda semua dan segenap pengikut anda dari golongan para fakir miskin, para hartawan, rakyat jelata dan orang-orang kuat, berbondong-bondonglah masuk jam’iyah yang diberi nama “Jam’iyah Nahdlatul Ulama.”

Akhirnya, bukan tanpa alasan Hadhratussyaikh membuat urutan yang demikian. Terlepas dari interpretasi itu, yang terpenting adalah para warga Nahdliyin semua telah menunjukkan konsistensi menjaga NKRI, terutama lewat sokongan ekonomi, dan ini harus ditindaklanjuti, sebab apa yang terlaksana di Hari Santri 2017 tidak mungkin berhenti. Acara memang sudah berakhir, tetapi cita-cita, ide, dan gagasan akan senantiasa mengalir.

(Penulis adalah aktivis PMII DI Yogyakarta, Nahdliyin Cabang Lasem, dan santri Pesantren Tahfidz Nurul Aziz Sarang)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Hadits, Nasional, Doa Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kapolsek dan Baanar Kadur Kerja Sama Perangi Narkoba

Pamekasan, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Kasus peredaran narkoba di Kecamatan Kadur, sejauh ini tampaknya kurang terekspos ke publik. Padahal, di daerah ujung timur Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur ini terindikasi menjadi bidikan penyebaran barang haram tersebut. Geng motor yang cukup merebak di dalamnya menjadi sasaran utama.

Kondisi itu membuat Barisan Ansor Anti-Narkoba (Baanar) Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Kadur mendatangi markas kepolisian sektor (mapolsek) setempat, Selasa (14/3). Turut menyertai pengurus PAC, Satkoryon Banser, MDS Rijalul Ansor, dan sebagian pengurus tingkat ranting.

Kapolsek dan Baanar Kadur Kerja Sama Perangi Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Kapolsek dan Baanar Kadur Kerja Sama Perangi Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Kapolsek dan Baanar Kadur Kerja Sama Perangi Narkoba

“Penggunaan narkoba di daerah Kadur cukup parah. Pesta sabu-sabu kurang begitu disikapi secara baik oleh pihak terkait. Kami berharap, Polsek Kadur bisa sigap menyikapinya,” terang Kepala Baanar GP Ansor Kadur, Lif Khodir.

Jebolan Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Bangkalan tersebut selanjutnya melakukan teken kontrak kerja sama dengan Polsek Kadur. Isinya, Polsek Kadur mendukung kegiatan Baanar Kadur terkait kampanye, sosialisasi, dan kegiatan lainnya yang menyangkut pencegahan penyalahgunaan narkoba di Kecamatan Kadur.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Kita harapkan Polsek Kadur berkenan memfasilitasi izin kepada pengurus Baanar Kecamatan dan Baanar Desa dalam melaksanakan sosialisasi bahaya narkoba di lingkungan Kecamatan Kadur.  Sementara dari pihak Baanar nanti menyiapkan SDM-nya dalam melaksanakan sosialisasi bahaya narkoba,” tambah Sekretaris PAC GP Ansor Kadur Fathorrahman.

Kehadiran aktivis GP Ansor disambut hangat oleh Kapolsek AKP Agus Susanto, S.Sos. Dia siap bersama GP Ansor Kadur memerangi narkoba dan menyikapi setiap hal yang mengganggu ketenteraman masyarakat di wilayah Kadur.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sebelum teken kontrak, Kapolsek berbagi wawasan terkait perang candu di China. Menurutnya, itu salah satu strategi Inggris untuk menghancurkan China. Generasinya dibuat teler lewat narkoba, sehingga tidak berpikir untuk memajukan negara. Bisanya hanya berhalusinasi.

“Indonesia saat ini menghadapi itu. Kita mesti sadar, Indonesia punya musuh. Mereka pasti ada keinginan untuk lebih maju meski menggunakan cara yang tidak baik,” tegas Kapolsek AKP Agus Susanto.

Termasuk, tambahnya, hubungan dengan tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan lainnya. Adakalanya, tidak akur. Tidak menutup kemungkinan mereka hendak menghancurkan Indonesia melalui pelumpuhan kesehatan dan kecerdasan pemuda.

“Setelah lemah, mudah melakukan infiltrasi. Mudahnya narkoba datang dari China, Malaysia, dan lainnya perlu kita antisipasi bersama. Selain narkoba, ada upaya penghancuran lainnya seperti hilangnya anak kecil. Setelah ditelusuri, mereka ditemukan di tempat lokalisasi. Mereka akan dimanfaatkan buat seks pencandu narkoba,” ungkapnya.

Anak-anak di bawah 12 tahun, tambahnya, kini tidak bisa dihukum dalam Undang-Undang sekalipun bertindak pidana. Hanya pembinaan. Celah tersebut lantas dimanfaatkan sebagai pangsa pasar yang menggiurkan untuk tindak pidana, termasuk peredaran narkoba.

“Celah-celah hukum dimanfaatkan oleh bandar narkoba. Itu atensi peredaran narkoba di kalangan anak-anak. Kalau sebelumnya di kalangan remaja dan pemuda, kini anak SD pun jadi sasaran. Pengaruh narkoba pn sudah masuk ke tingkat desa,” paparnya.

Karenanya, kapolsek sangat bersyukur dengan proaktif Baanar GP Ansor Kadur. Pihaknya memohon informasi seandainya ada pelaku atau kegiatan-kegiatan penyalahgunaan narkoba di daerah Kadur. Informasi yang disampaikan GP Ansor akan segera disikapinya.

Untuk urusan narkoba, kata kapolsek, tidak ada toleransi. Pihaknya mengaku tidak pernah komunikasi dengan para bandar. Tidak ada kompromi.

“Manakala ada kompromi dengan saya, itu membahayakan terhadap saya. Termasuk terhadap karir saya beserta nama baik saya dan keluarga saya. Kami sudah komitmen tidak akan kompromi dengan para pelaku,” tegasnya.

Kapolsek juga mohon informasi seandainya ada pelaku atau kegiatan-kegiatan penyalahgunaan narkoba di daerah Kadur. Memang agak sulit mengusut tindak pidana lainnya.

“Misalnya dibandingkan dengan curanmor terjadi sekarang. Kita lakukan pnyelidikan dan ada barang bukti, kita langsung proses,” tegasnya.

Berbeda dengan narkoba, ungkap kapolsek, kalau kalah sedikit saja penanganan, pihaknya yang kena. Bandar dan pengguna narkoba sudah luar biasa licik dan pintar. Ketika ditangkap, barang bukti langsung dilempar.

“Pada saat persidangan, mereka bisa ngeles barang bukti tidak bersamanya. Mereka cukup pintar agar tidak terjerat hukum,” sesalnya.

Masyarakat juga banyak tidak tahu ketika anaknya terjerat narkoba. Sebab, anak biasanya terlihat bagus saat rumah. Tetapi, ada peluang jelek tatkala di luar rumah dan salah pergaulan. Ketika ditangkap polisi, orantua tidak terima.

“Karenanya, kami lebih mengedepankan sosialisasi pencegahan. Karena itu lebih efektif membentengi para generasi pemuda,” tukasnya. (Hairul Anam/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pertandingan, Hikmah, Hadits Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 21 Desember 2017

PBNU Desak Presiden SBY Bantu Etnis Rohingya

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mendesak Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengambil inisiatif untuk menolong dan membantu etnis Rohingya yang makin memprihatinkan dari bahaya pembersihan etnis.

Pembakaran perkampungan dan pengusiran mereka yang terjadi di Provinsi Rokhine, Burma, merupakan aksi yang tidak bisa dibiarkan oleh dunia internasional.

PBNU Desak Presiden SBY Bantu Etnis Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Desak Presiden SBY Bantu Etnis Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Desak Presiden SBY Bantu Etnis Rohingya

Demikian disampaikan Ketua PBNU H. Slamet Effendy Yusuf ? MSi, pada wartawan di Jakarta, Ahad (29/7) dalam merespon tragedi kemanusiaan etnis Rohingya.

“Pembiaran pembantaian terhadap etnik Rohingya seperti selama ini kita saksikan harus dihentikan. Apalagi, apa yang terjadi sekarang ini merupakan puncak perlakuan diskriminatif yang sudah lama berlangsung terhadap etnik Rohingya, yang beragama Islam,” ? katanya mengingatkan.

Karena itu menurut Ketua MUI Pusat ini ? Indonesia sebagai Negara yang dituakan di negara ASEAN, maupun negara muslim terbesar di dunia seharusnya mengambil inisiatif untuk menyelesaikan masalah ini. Jadi, sangat tidak elok jika pemerintah Indonesia hanya menjadi penonton dalam tragedi kemanusiaan ini.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Yang pasti lanjut Slamet, Presiden SBY dalam waktu singkat dan mendesak ini harus melakukan upaya diplomatik konkret, baik secara bilateral maupun multilateral. Bahwa praktek pelanggaran atas prinsip kemanusiaanm seperti dialami oleh etnik Rohingya, harus segera diakhiri. “Dan, PBNU sangat berharap pemerintah berperan aktif dalam masalah ini,” tambah mantan Ketua Umum PP GP Ansor ini.

Redaktur: Mukafi Niam

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Penulis ? : Munif Arpas

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Kyai, Habib, Hadits Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 14 Desember 2017

Gus Sholah: Jangan Bebani Santri dengan Biaya Tinggi

Jombang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Film “Sang Kiai” dipandang sebagai tontonan yang memiliki banyak pesan moral kepada semua kalangan. Salah satu pesan utama yang ingin disampaikan film ini adalah tentang kemandirian pesantren. 

Demikian disampaikan KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan di kediamannya, dalem kasepuhan Pesantren Tebuireng Jombang, Kamis (13/6).

Gus Sholah: Jangan Bebani Santri dengan Biaya Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Sholah: Jangan Bebani Santri dengan Biaya Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Sholah: Jangan Bebani Santri dengan Biaya Tinggi

“Kita sepakat bahwa jangan sampai pesantren di tanah air membebani biaya terlalu tinggi kepada para santri,” terang Gus Solah.

Namun demikian untuk jaman seperti ini, beban biaya yang harus ditanggung orang tua atau wali santri sangatlah relatif. “Bisa saja ada yang menganggap biaya pondok terlalu tinggi, atau dapat juga jumlah tersebut diangap sebagai sebuah hal yang wajar,” tandasnya. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Karena dalam kesehariannya, para santri harus makan dengan menu yang memenuhi standar kesehatan. Demikian juga mereka harus dibimbing masalah agama oleh pengurus asrama, keperluan listrik, air, kebersihan lingkungan, keperluan kesehatan dan sejenisnya.

“Pesantren mampu menyediakan kebutuhan dasar para santri dengan biaya yang relatif terjangkau,” ungkap ayah tiga anak ini.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pesan yang juga sangat penting dari film ini adalah soal jihad. “Bahwa jihad tidaklah sedangkal yang dipersepsikan sebagian kalangan dengan melakukan pengerusakan dan penghilangan nyawa,” terangnya.

Bagi alumnus ITB ini, jihad dapat dilakukan dengan diplomasi. “Bagaimana menghadapi penjajah Jepang dengan tanpa menanggalkan aqidah seperti pada film, sungguh sangat elegan,” ungkapnya. Karena itu, Gus Solah sangat sepakat dengan Presiden SBY usai menonton film ini yang menyatakan bahwa Mbah Hasyim adalah sosok yang kaya strategi. 

Karena demikian dalam pesan dari film ini, maka Gus Solah mengajak untuk berbondong-bondong menonoton. Karena bila biaya pembuatan film “Sang Kiai” bisa balik modal, maka sudah akan dibuatkan episode yang lebih panjang dan mendalam. 

“Sang sutradara sudah mempersiapkan bagaimana kisah awal pendirian Nahdlatul Ulama,“ katanya. Demikian juga Gus Solah sudah mendengarkan rencana pembuatan film kiprah para pendiri bangsa ini saat awal kemerdekaan.

“Ini film penting untuk mendekatkan generasi muda dengan para pahlawan besar di jamannya,” katanya. Karena itu, hal mendesak yang harus dilakukan adalah menonton film ini secara berjamaah sehingga akan muncul film selanjutnya dengan tema yang lebih fokus dan mendalam. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syaifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Lomba, Kajian Sunnah, Hadits Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 11 Desember 2017

Hukum Nikah dan Poligami

Pada dasarnya hukum nikah adalah sunnah bagi mereka yang dianggap telah membutuhkannya. Baik secara biologis maupun psikologis. Karena kebutuhan itu selalu mengundang ketamkan, maka seorang laki-laki hanya diperbolehkan menikahi masksimal empat orang istri. Demikian keterangan lengkapnya dalam fathul qarib.? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ?

Nikah disunnahkan bagi mereka yang membutuhkannya. Seorang laki-laki (merdeka/bukan budak) boleh memiliki empat orang istri.

Hal ini berdasar pada firman Allah dalam surat an-Nisa’ ayat 3:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Hukum Nikah dan Poligami (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Nikah dan Poligami (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Nikah dan Poligami

Maka kawinilah wanita-wanita lain yang kamu senangi dua, tiga, atau empat.

Tentang pembatasan jumlah empat orang istri bagi laki-laki muslim, hadits riwayat Abu Daud tentang cerita sahabat Wahbin al-Asady dapat dijadikan sebagai pelajaran. ? Wahbin al-Asady pernah sebercerita “saya masuk Islam, dan saat itu mempunyai istri delapan orang. Kemudian saya menceritakannya kepada Rasulillah saw. Lalu beliau bersabda: ? ? ?? ? pilihlah empat dari mereka”. (red. Ulil H)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Hadits, Bahtsul Masail Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Berkelanalah, Lalu Kembali ke Kampung Halaman

Beliau lahir pada tahun 1907 di Loloan Barat dengan nama Muhammad Qasim dalam keluarga Ulama Bugis-Melayu Loloan. Ketika kecil Abdurrahman belajar agama dari kedua orang tuanya, namun menginjak usia 10 tahun beliau dikirim ke daerah Pengastulan untuk mengaji Al-Quran kepada Tuan Guru Abdul Hamid hingga berusia 18 tahun. Pada tahun 1925 Datuk Haji Mahmud mengirimkan Muhammad Qasim remaja ke Jazirah Arabia, tepatnya ke kota Suci Mekkah yang waktu itu memang menjadi tempat tujuan belajar bagi masyarakat Islam Nusantara.

Di kota Mekkah beliau bermukim di kediaman Syeikh Isa Palembang yang sudah menjadi penduduk tetap kota Mekkah dan belajar berbagai disiplin ilmu agama dari sejumlah ulama besar yang mengajar di sana. Diantara guru-guru beliau adalah Syeikh Alwi Al-Maliki, Syeikh Umar, Syeikh Hamdan al-Maghrabi serta seorang ulama besar ilmu hadits asal Palestina.

Di kota suci ini pula beliau bertemu dengan para santri Indonesia yang lain seperti Zainuddin Pancor, Wahid Hasyim Jombang dan Ambo Dalle’ Sulawesi. Di antara teman beliau yang paling akrab adalah Wahid Hasyim. Menurut penuturan beliau ketika masih hidup, setiap hari beliau dan Wahid Hasyim pergi ke pedalaman dan bermain bola bersama orang-orang Baduwi. Dan malam harinya sepulang dari bermain bola, Wahid Hasyim yang saat itu sedang suka menulis, acapkali mengirimkan essai tentang watak dan kebiasaan orang Baduwi ke majalah Jumhuriyah. Beliau belajar di kota suci selama kurang lebih sembilan tahun.

Sepulang dari Kota Mekkah, Muhammad Qasim kemudian pulang ke kampung halaman dengan menyandang nama baru, Datuk Haji Abdurrahman. Belum lama beliau menetap di Bali, Datuk Haji Abdurrahman merasa tidak nyaman karena ketika itu terjadi perpecahan di tengah masyarakat muslim Loloan yang di picu oleh perbedaan pandangan fiqh antara Ustadz Ali Bafaqih dan Ustadz Semarang, dua orang ulama yang lebih dahulu pulang dari kota Mekkah daripada beliau.

Berkelanalah, Lalu Kembali ke Kampung Halaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Berkelanalah, Lalu Kembali ke Kampung Halaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Berkelanalah, Lalu Kembali ke Kampung Halaman

Oleh karena itu beliau pun pergi ke Rembang dan mengaji kitab kepada Kyai Musthofa. Selain belajar kepada Kyai Musthofa, beliau juga belajar sejarah kepada Bisri Mushtofa yang tidak lain adalah teman sekamar beliau selama di Rembang. Namun tak selang beberapa lama beliau pindah ke Jombang untuk berjumpa dengan teman lamanya Wahid Hasyim.

Karena pertemanannya dengan Kyai Wahid Hasyim, keberadaan beliau di pesantren Jombang lebih diposisikan sebagai tamu daripada sebagai santri. Beliau sering disuruh memijat Kyai Hasyim Asy’ari dan acapkali mendapat bagian menjadi imam sholat karena keunggulan di bidang ilmu Tajwid Tajwid dan kefasihan bacaan al-Qur’an yang beliau miliki.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Tak selang beberapa lama, Datuk Haji Abdurrahman mengutarakan masalah yang membuatnya pergi meninggalkan kampung halamannya dan berniat untuk menetap di pesantren Kyai Hasyim. Namun keinginan tersebut tidak mendapat restu dari Kyai Hasyim Asy’ari. Menurut pendapat Kyai Hasyim umat Islam di Bali akan lebih membutuhkan kehadiran beliau ketimbang umat Islam di tanah Jawa. Setelah mendengar pendapat Kyai Hasyim Asy`ari tersebut, beliau pun kemudian pulang ke Bali dan mulai mengajarkan ilmu agama di Loloan Barat.

Ketika awal-awal beliau menetap di pulau Bali, beliau aktif mengajar ilmu agama hingga ke daerah-daerah pelosok sebagai guru GAH (guru agama honorium). Namun setelah menderita sakit, beliau kemudian hanya mengajar di rumah hingga akhirnya pada tahun 1940 rumah kediaman beliau berubah menjadi pesantren diberi nama Darut Ta`lim.

Di masa penjajahan Jepang, ketika terjadi perbedaan pendapat di antara ulama lokal dalam masalah fiqhiyah (yakni masalah didirikannya dua masjid dengn jarak yang berdekatan), Datuk Guru Ilyas mengirim surat kepada para pelajar Indonesia yang berada di Kota Mekkah untuk mendapatkan putusan hukum dari para Ulama yang ada di sana. Tak selang beberapa lama datanglah Kyai Wahab Hasbullah dari tanah Jawa sebagai jawabannya dengan membawa keputusan hukum.

Disamping membawa fatwa hukum, Kyai Wahab Hasbullah juga tampil menjajakan NU di tengah-tengah ulama lokal. Menurut Datuk Haji Abdurrahman Kyai berkata: “Saya ingin menjajakan saya punya obat kepada tuan-tuan, jika cocok alhamdulillah jika tidak cocok tidak apa-apa” dan obat yang dimaksud adalah Nahdhatul Ulama.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari pertemuan inilah Datuk Haji Abdurrahman kemudian terlibat aktif ke dalam pembidanan NU dan bersama-sama Datuk Guru Nuh dan Ustadz Ali Bafaqih mensosialisasikan NU kepada masyarakat muslim Bali. Ketika NU sudah menjadi Partai politik, mau tidak mau Datuk Abdurrahman yang sebenarnya merupakan ulama yang tidak suka dengan politik praktis akhirnya terlibat.

Setelah terjadi Gestapu, tepatnya pada tanggal 30 November 1965 Datuk Haji Abdurrahman menurunkan santri-santrinya bersma Anshor dan TNI untuk mengadakan penangkapan terhadap pentolan PKI yang mengadakan rapat rahasia. Dalam penggerebekan rapat rahasia PKI di Tegal Badeng (Ladang Hitam) dua orang sipil dan seorang tentara gugur tertembak oknum PKI. Salah seorang yang gugur tersebut adalah santri pesantren Darut Ta`lim, kang Paimin. Gugurnya tiga orang ini kemudian menjadi sebab terjadinya aksi balasan GP Anshor dan ABRI mengadakan penyerbuan terbuka keesokan harinya dan mengakibatkan ratusan anggota PKI mati terbunuh.

Setelah penyederhanaan partai menjadi GOLKAR, PPP dan PDI Datuk Haji Abdrurrahman pun meninggalkan arena politik. Beliau kembali tampil sebagai seorang ulama yang sabar, santun dan menjadi tempat bertanya masyarakat, ustadz-ustadz muda dan para ulama.

Sementara dalam mengelola pondok pesantren, beliau tetap mempertahankan pendidikan bandungan dan tidak mengembangkannya kepada model klasikal apalagi model pendidikan modern hingga beliau tutup usia pada 2003 di usianya yang ke 97. Karena beliau ingin hidup tidak dibedakan dengan masyarakat, beliau pun dimakamkan di pemakaman umum komunitas Bugis-Melayu yang terletak di kelurahan Loloan Timur. (Rifkil Halim Muhammad)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Hadits Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 07 Desember 2017

PCNU Garut: Jangan "Ngageulis" di Atas Musibah Orang Lain

Garut, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Banjir bandang? akibat meluapnya sungai Cimanuk di kawasan Garut kota, Jawa Barat, pada selasa (21/9) malam menciptakan keprihatinan mendalam bagi berbagai elemen warga. Di antara mereka, kemudian mendirikan posko bantuan, di antaranya PCNU Garut.

PCNU Garut: Jangan Ngageulis di Atas Musibah Orang Lain (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Garut: Jangan Ngageulis di Atas Musibah Orang Lain (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Garut: Jangan "Ngageulis" di Atas Musibah Orang Lain

Pendirian posko ini secara spontan dilakukan melalui instruksi langsung dari Syuriah PCNU Garut KH Rd. Amin Muhyidin. Instruksi? tersebut termasuk penggalangan dana kepada seluruh badan otonom NU.

“Kami atas nama Pimpinan Cabang NU Garut sangat berduka atas musibah yang menimpa, semoga para korban diberi ketabahan dan ketawakalan dalam menghadapi musibah ini,” tutur Rais Syuriah PCNU Garut pada Rabu (22/9).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Berdasarkan pantauan di lapangan, selain unsur masyarakat yang membantu secara mandiri dan suka rela, Pemerintah Daerah Kabupaten Garut terlihat sangat serius menangani musibah yang menimpa ratusan rumah yang ada di sepanjang? sungai Cimanuk ini.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Melihat reaksi pemerintah daerah atas musibah ini, PCNU Garut berpandangan bahwa mereka sangat responsif dan cepat tanggap dalam menangani bencana ini termasuk jajaran aparatur pemerintah lainnya seperti Polisi, TNI dan unsur pemerintah lainnya yang terjun langsung ke lapangan.

Terkait bantuan yang dihimpun masyarakat, Pimpinan Pondok Pesantren As-sa’adah berharap agar didistribusikan langsung Pemerintah Garut. Teknis pendistribusian tersebut untuk menghindari kepentingan-kepentingan kelompok penggalang dana dan dapat disebarkan secara merata.

“Pemerintah Daerah berkepentingan untuk menangani seluruh korban tanpa melihat latar belakang apa pun sehingga pendistribusian bantuan bisa dilakukan secara merata,” tegas kiai yang juga dikenal sebagai jawara ini.

Sebagai wujud dari pandangan tersebut PCNU Garut akan menyalurkan semua bantuan yang diterima di poskonya melalui Pemerintah untuk disalurkan secara merata kepada seluruh korban bencana ini.

“Kalau dalam bahasa sunda jangan sampai ada istilah ‘ngadu geulis’ (memunculkan citra kelompok masing-masing-ed), biarlah pemerintah yang mengatur,” pungkas ajengan yang dipanggil Den Mimin ini.

Namun demikian, menurut Den Mimin, Pemerintah sebagai penyalur bantuan harus terbuka dan transparan menyampaikan kepada publik seluruh bantuan yang diterima dan disalurkan dari jumlah sampai siapa saja yang memberikan bantuan tersebut. (Rohmah Nashirudin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Halaqoh, Hadits Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 30 November 2017

Tiga Amalan Utama pada Malam Nisfu Sya’ban

Sya’ban berarti bulan penuh berkah dan kebaikan. Pada bulan ini Allah membuka pintu rahmat dan ampunan seluas-luasnya. Karenanya, dianjurkan untuk memperbanyak ibadah sunah seperti puasa sunah. Hal ini sebagaimana yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Sebuah hadits mengatakan bahwa Nabi SAW lebih sering puasa sunah di bulan Sya’ban dibandingkan pada bulan lainnya, (HR Al-Bukhari).

Selain puasa, menghidupkan malam sya’ban juga sangat dianjurkan khususnya malam nisfu Sya’ban (pertengahan bulan Sya’ban). Maksud menghidupkan malam di sini ialah memperbanyak ibadah dan melakukan amalan baik pada malam nisfu Sya’ban. Sayyid Muhammad bin ‘Alawi Al-Maliki menegaskan bahwa terdapat banyak kemuliaan di malam nisfu Sya’ban; Allah SWT akan mengampuni dosa orang yang minta ampunan pada malam itu, mengasihi orang yang minta kasih, menjawab do’a orang yang meminta, melapangkan penderitaan orang susah, dan membebaskan sekelompok orang dari neraka.

Tiga Amalan Utama pada Malam Nisfu Sya’ban (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Amalan Utama pada Malam Nisfu Sya’ban (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Amalan Utama pada Malam Nisfu Sya’ban

Setidaknya terdapat tiga amalan yang dapat dilakukan pada malam nisfu Sya’ban. Tiga amalan ini disarikan dari kitab Madza fi Sya’ban karya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki.

Pertama, memperbanyak doa. Anjuran ini didasarkan pada hadits riwayat Abu Bakar bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda,

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Artinya, “(Rahmat) Allah SWT turun ke bumi pada malam nisfu Sya’ban. Dia akan mengampuni segala sesuatu kecuali dosa musyrik dan orang yang di dalam hatinya tersimpan kebencian (kemunafikan),” (HR Al-Baihaqi).

Kedua, membaca dua kalimat syahadat sebanyak-banyaknya. Dua kalimat syahadat termasuk kalimat mulia. Dua kalimat ini sangat baik dibaca kapan pun dan di mana pun terlebih lagi pada malam nisfu Sya’ban. Sayyid Muhammad bin Alawi mengatakan,

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? "? ? ? ? ? ? ?".

Artinya, “Seyogyanya seorang muslim mengisi waktu yang penuh berkah dan keutamaan dengan memperbanyak membaca dua kalimat syahadat, La Ilaha Illallah Muhammad Rasululullah, khususnya bulan Sya’ban dan malam pertengahannya.”

Ketiga, memperbanyak istighfar. Tidak ada satu pun manusia yang bersih dari dosa dan salah. Itulah manusia. Kesehariannya bergelimang dosa. Namun kendati manusia berdosa, Allah SWT senantiasa membuka pintu ampunan kepada siapa pun. Karenaya, meminta ampunan (istighfar) sangat dianjurkan terlebih lagi di malam nisfu Sya’ban. Sayyid Muhammad bin Alawi menjelaskan,

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Istighfar merupakan amalan utama yang harus dibiasakan orang Islam, terutama pada waktu yang memiliki keutamaan, seperti Sya’ban dan malam pertengahannya. Istighfar dapat memudahkan rezeki, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an dan hadits. Pada bulan Sya’ban pula dosa diampuni, kesulitan dimudahkan, dan kesedihan dihilangkan.

Demikianlah tiga amalan utama di malam nisfu Sya’ban menurut Sayyid Muhammad. Semua amalan itu berdampak baik dan memberi keberkahan kepada orang yang mengamalkannya.

Semoga kita termasuk orang yang menghidupkan malam nisfu Sya’ban dengan memperbanyak do’a, membaca dua kalimat syahadat, istighfar, dan kalimat mulia lainnya. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan IMNU, Hadits Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 28 November 2017

Ormas dan Pesantren Jember Cetuskan Resolusi Damai 2016

Jember, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Organisasi massa (ormas) dan pondok pesantren mengadakn diskusi dan Deklarasi Resolusi Damai bertema “Eliminasi Kekerasan, Mengkonstruksi Perdamaian”. Kegiatan yang digagas Ikatan Alumni Pergerakan Mahasisa Islam Indonesia (IKA-PMII) Kabupaten Jember tersebut dilaksanakan pada 25 November 2016, bertepatan dengan peringatan hari anti-kekerasan terhadap perempuan Internasional.

Disksusi dihadiri perwakilan ormas dan komunitas pesantren di Jember, yakni Fatayat NU Jember, Kohati Cabang Jember, PMII Jember, Pondok Pesantren Nurul Qornain Sukowono, Pondok Pesantren Nurul Jadid Al-Islami, Pondok Pesantren Al Jauhar, dan Pondok Pesantren Darul Hikam.

Ormas dan Pesantren Jember Cetuskan Resolusi Damai 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)
Ormas dan Pesantren Jember Cetuskan Resolusi Damai 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)

Ormas dan Pesantren Jember Cetuskan Resolusi Damai 2016

“Diskusi ini diharapkan menjadi awal kebangkitan kepedulian komunitas-komunitas yang ada di Jember untuk bergerak bersama mewujudkan perdamaian dengan tidak mentoleransi kekerasan,” ungkap Agustina Dewi, Ketua Bidang Gerakan Perempuan IKAPMII.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Perdamaian, menurutnya, seharusnya dipahami bukan hanya tidak adanya kekerasan langsung, tetapi ketika struktur yang ada sudah mampu menjamin keadilan, kesetaraan, dan kesejahteraan warga masyarakat.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ia menambahkan, kekerasan terhadap perempuan perlu mendapatkan perhatian khusus, mengingat jumlah kekerasan terhadap perempuan terus meningkat, seperti data dari Komnas Perempuan yang tahun ini mencapai 321.752, meningkat dari 293220 tahun 2015.

Angka tersebut, kata dia, adalah jumlah kekerasan yang dilaporkan dan telah ditangani oleh pihak yang berwajib, padahal bisa jadi angka kekerasan yang tidak terlaporkan lebih banyak lagi.

“Lembaga pendidikan, termasuk pesantren-pesantren bisa mengambil peran penting dalam upaya menekan angka kekerasan dengan memasukkan materi anti-kekerasan dan perdamaian dalam kurikulum, sekaligus dalam proses pembelajaran yang dilakukannya,” ungkap Najmatul Millah dari Pondok Pesantren Nurul Jadid Al Islami yang juga menaungi beberapa lembaga pendidikan.

Dalam diskusi ini telah terbangun komitmen diantara yang hadir, bahwa kekerasan dalam bentuk apapun harus dihilangkan, baik yang berupa kekerasan langsung maupun tidak langsung, kekerasan fisik maupun psikologis, di ruang publik maupun di ranah domestik.

“Kekerasan terhadap perempauan adalah masalah kemanusiaan, yang seharusnya menjadi perhatian semua pihak karena sebenarnya terkait dengan penghargaan atas hak azasi Manusia,” demikian ditegaskan oleh Ketua IKAPMII Jember.

Resolusi Damai

Diskusi telah menyatukan persepsi dan? mendesain gerakan anti kekerasan untuk membangun perdamaian dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.? Dalam rangka pencapaian tujuan penghapusan kekerasan terhadap perempuan, diskusi ini menghasilkan resolusi dengan menimbang banyaknya kekerasan terhadap perempuan, baik di ranah publik maupun privat, kekerasan langsung maupun kekerasan kultural dan struktural, yang dilakukan baik oleh personal, komunitas, maupun oleh negara.

1. Perlunya semua pihak berkontribusi dalam penghapusan kekerasan terhadap perempuan dengan tidak menjadi pelaku kekerasan sebagai bagian dari upaya menjaga nilai kemanusiaan.

2. Menyerukan kepada masyarakat dan unsur-unsur didalamnya untuk tidak melakukan kekerasan terhadap perempuan dan tidak mentoleransi adanya kekerasan tersebut.

3. Mengajak tokoh-tokoh agama, tokoh masyarakat, komunitas pesantren untuk membangun budaya damai dengan mengedepankan penghargaan terhadap multikulturalisme.

4. Mendesak lembaga pendidikan untuk mengajarkan perdamaian sebagai bagian pembentukan karakter peserta didik.

5. Menghimbau kalangan media untuk berpegang pada prinsip jurnalisme damai yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan, tidak provokatif, dan mengedepankan kepentingan publik.

6. Menuntut penyelenggara negara untuk membangun perdamaian dengan menghadirkan produk hukum dan kebijakan yang tidak toleran terhadap pelaku kekerasan.

Penggagas Resolusi Damai Jember 2016

1. IKAPMII

2. Fatayat NU Jember

3. KOHATI Cabang Jember

4. PMII Jember

5. Pondok Pesantren Nurul Qornain Sukowono

6. Pondok Pesantren Nurul Jadid Al Islami Sukowono

7. Pondok Pesantren Al Jauhar Jember

8. Pondok Pesantren Darul Hikam Jember (Linda Dwi Eriyanti/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Nahdlatul Ulama, Hadits, Humor Islam Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 26 November 2017

Gubernur Sumut Berharap NU Bantu Pemerintah Bangun Ekonomi

Medan, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Gatot Pujo Nugroho mengungkapkan harapannya agar Pra-Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama (NU) Zona Sumatera yang akan digelar pada 17-18 Mei di Medan menghasilkan rekomendasi mambantu pemerintah dalam membangun ekonomi kerakyatan.

Gatot menyampaikan hal itu kepada Panitia Pelaksana Pra-Muktamar ke-33 NU Zona Sumatera saat silaturahim di Rumah Dinas Guberur Sumut, Jalan Sudirman No 41, Medan, Jumat (8/5). Rombongan panitia dipimpin Ketua PWNU Sumut Afifuddin Lubis didampingi Wakil Rais Syuriyah PWNU Sumut Imron Hasibuan dan Ketua Panitia Pra Muktamar Adlin Damanik.

Gubernur Sumut Berharap NU Bantu Pemerintah Bangun Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)
Gubernur Sumut Berharap NU Bantu Pemerintah Bangun Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)

Gubernur Sumut Berharap NU Bantu Pemerintah Bangun Ekonomi

Gubernur Sumut dalam kesempatan itu mengucapkan terima kasih kepada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) atas kepercayaan yang diberikan kepada Medan, untuk menjadi lokasi pelaksanaan Pra-Muktamar, menyongsong perhelatan akbar Muktamar ke-33 NU di Jombang, Jawa Timur, pada Agustus mendatang.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Untuk itu, Gatot berharap pelaksanaan Pra-Mukatamar menghasilkan sebuah rekomendasi untuk mengingatkan kembali pemerintah tentang kedaulatan dan pemerataan ekonomi sesuai tema yang diusung Pra-Muktamar ke-33 ini.

"Bahwa yang saya tahu amanah konsitusi bagaimana membangun ekonomi bangsa ini adalah dengan ekonomi kerakyatan, ekonomi gotong royong. Sebagaimana yang diamanahkan oleh konstitusi dan hari ini diamanahkan oleh Bapak Presiden dengan konsep gotong royongnya," ujar Gubernur Sumut.

Sementara itu Ketua PWNU Sumut Afifuddin Lubis mengatakan, tujuan kedatangan pihaknya adalah selain bersilaturahim juga ingin mengundang Gubernur Sumut untuk memberi sambutan dalam acara tersebut. "Kami mohon Pak Gubernur dapat hadir untuk memberi arahan dan sambutan," ujarnya.

Gubernur Sumut dalam kesempatan itu didampingi Asisten III Zulkarnain dan Kepala Biro Binkessos M Yusuf. Turut hadir pula Wakil Ketua PWNU Sumut M Hatta Siregar, Wakil Bendahara PWNU Baharuddin Berutu, Wakil Rais Syuriah Katimin, Sekretaris Panitia Abrar M Dawud Faza, Katua LDNU Sumut A Sori Monang, Wakil Ketua PWNU Enda Mora Lubis, Bendahara Panitia Pasiruddin Daulay, Wakil Sekretaris PWNU Sumut Khairuddin Hutasuhut, Wakil Sekretaris PWNU Upar Pulungan dan Wakil Keta PWNU Sumut Marahalim Harahap.

Sebelumnya, acara Pra-Muktamar ke-33 NU digelar di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), dengan materi pembahasan seputar konsep “Ahlul Halli wal Aqdi; serta di Makassar, Sulawesi Selatan, dengan mengusung tema tentang Islam Nusantara. Medan kali ini bakal menjadi tuan rumah bagi pembahasan ekonomi kerakyatan. (Suwardi Sinaga/Mahbib)

Foto: Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho foto bersama Panitia Pra Muktamar ke-33 NU Zona Sumatera.

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan News, Khutbah, Hadits Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ini Komitmen Sarbumusi NU Terhadap Buruh Indonesia

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan



Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) merupakan Badan Otonom Nahdlatul Ulama (NU) yang menangani persoalan perburuhan. Didirikan pada 27 September 1955 di pabrik gula Tulangan, Sidoarjo, Jawa Timur dan pernah mengalami masa kejayaan dengan anggota mencapai 2 juta orang sehingga mampu menjadi pesaing kuat Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI) organisasi buruh milik Partai Komunis Indonesia (PKI). Seperti apa komitmennya terhadap persoalan buruh hari ini?

Ini Komitmen Sarbumusi NU Terhadap Buruh Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Komitmen Sarbumusi NU Terhadap Buruh Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Komitmen Sarbumusi NU Terhadap Buruh Indonesia

? ? ?

"DPP Konfederasi Sarbumusi selalu mendorong terciptanya hubungan industrial yang kondusif ? dan sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku di negara Indonesia ini," ujar Ketua Umum Sarbumusi Syaiful Bahri Anshori didampingi Sekretaris Jendral Sukitman Sudjatmiko, di Jakarta, Jumat (5/2).

Syaiful menegaskan, DPP K Sarbumusi menyayangkan perusahaan multi nasional PT Chevron Pasific Indonesia yang sudah melakukan hubungan kerja sejak lama di Indonesia tapi seolah-olah tidak mengetahui kondisi peraturan dan perundang-undangan ketenagakerjaan yang berlaku di Indonesia.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Berdasarkan Undang-Undang 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan bahwa amanat konstitusi regulasi ini setiap persoalan dan dinamika dalam hubungan industrial di perusahaan harus dirundingkan dalam forum Lembaga Kerjasama (LKS) Bipartit.

Dalam undang-undang ini LKS Bipartit didefinisikan sebagai forum komunikasi dan konsultasi mengenai hal-hal berkaitan dengan hubungan industrial di satu perusahaan yang anggotanya terdiri dari pengusaha dan serikat buruh.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Regulasi dimaksud dijabarkan lebih lanjut dalam keputusan Menteri Tenaga Kerja bahwa LKS Bipartit mempunyai fungsi-fungsi sebagai forum komunikasi, konsultasi dan musyawarah antara pengusaha dan wakil serikat buruh pada perusahaan dalam konteks mencegah terjadinya perselisihan hubungan industrial atau PHK.

"Kami menyayangkan Manajemen PT Chevron Pasific Indonesia yang merencanakan re-organisasi perusahaannya namun dengan arogan tidak pernah melakukan perundingan apapun secara Bipartit sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia tapi malah lebih mentaati peraturan korporatnya yang berada di negara asing tanpa mau mengindahkan aturan main ketenagakerjaan di Indonesia," ujar Syaiful.

Dalam kebijakan perusahaan tersebut, patut diduga bahwa persoalan kenaikan harga minyak dunia hanya sebagai alasan dan alibi yang menemukan momentum tepat untuk mengurangi karyawan dan melakukan re-organisasi.

"Ini dibuktikan dengan laporan dari kawan-kawan GB-Migas Sarbumusi PT Chevron Pasific Indonesia terhadap rencana re-organisasi tersebut yang mulai disosialisaikan oleh pihak manajemen mulai Mei 2015 hingga Januari 2016. Namun dalam rentang waktu itu, manajemen PT Chevron selalu menggunakan komunikasi satu arah untuk memaksakan kehendaknya atas re-organisasi perusahaan atau bahasa perusahaan adalah IBU Transformation project. Terhadap persoalan semacam itu, Sarbumusi dengan tegas menyerukan menolak berbagai bentuk penindasan buruh dengan cara memperkuat persatuan dan solidaritas di antara sesama buruh dan rakyat Indonesia" Syaiful Bahri Anshori. (Gatot Arifianto/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Hikmah, Hadits, News Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock