Tampilkan postingan dengan label Habib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Habib. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Februari 2018

Anggota DPRD Kota Banjar Motivasi PMII Profesional di Segela Bidang

Banjar, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Anggota DPRD Kota Banjar, Jawa Barat, Gun Gun Gunawan Abdul Jawad berharap besar kader Pergerakan Mahasiswa Isam Indonesia (PMII) menjadi manusia yang profesional dalam segala bidang. Menurutnya, sehebat apapun pemikiran kader PMII ketika tidak diimbangi profesionalitas, maka lunturlah apa yang diharapkan.

“Kata kunci menjadi kader yang profesional adalah disiplin dalam berbagai kondisi apapun. Saya yakin, kader yang berhasil tidak lepas dari profesionalitas serta kedisiplinan dalam menekuni bidang yang ditekuni. Sang pendekar pena, Mahbub Djunaidi, contoh inspiratif yang perlu dipelajari seutuhnya oleh kader PMII, beliau mengubah bangsa lewat pena,” ujar mantan aktivis PMII ini.

Anggota DPRD Kota Banjar Motivasi PMII Profesional di Segela Bidang (Sumber Gambar : Nu Online)
Anggota DPRD Kota Banjar Motivasi PMII Profesional di Segela Bidang (Sumber Gambar : Nu Online)

Anggota DPRD Kota Banjar Motivasi PMII Profesional di Segela Bidang

Gun Gun Gunawan menyampaikan hal itu seiring usia PMII yang menginjak ke-56 tahun dalam acara peringatan hari lahir PMII yang digelar Pengurus Komisariat PMII Sangkuriang Sekolah Tinggi Agama Islam Mifatahul Huda Al Azhar (STAIMA) Kota Banjar.

Peringatan harlah yang digelar di Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Pataruman Kota Banjar, Ahad (24/4) tersebut diisi berbagai kreasi seni tari dan unjuk kebolehan bahasa Inggris. Kegiatan betajuk “Membuka Kembali Sejarah PMII Kota Banjar dan Memperkokoh Organisasi” itu berlangsung meriah dengan kehadiran para alumni dan pendiri PMII Kota Banjar.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ketua PK PMII Sangkuriang STAIMA Kota Banjar Sirojul Muntaha menuturkan, kegiatan harlah kali ini merupakan ajang kader PMII merefleksikan kreativitasnya. Selain membuka kembali sejarah pergulatan PMII dari masa ke masa baik ditingkat nasional maupun di lokal Kota Banjar, juga membuka ruang kader menatap arah PMII ke depan.

“Kaderisasi tetap harus menjadi prioritas utama sebagai senjata dalam organisasi PMII. Adapun kreativitas yang berasal dari minat dan bakat kader perlu diwadahi dalam setiap kegiatan PMII maupun di luar sebagai wujud pengabdian kader PMII terhadap masyarakat. Misalnya penggunaan bahasa inggris adalah rutinan kader setiap minggunya, kita aplikasikan dalam sebuah acara,” ungkapnya kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan di sela-sela kegiatan harlah. (Muhafid/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Habib, Olahraga, AlaSantri Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 25 Januari 2018

Makesta NU Banyuwangi untuk Penggerak NU Masa Depan

Banyuwangi, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan?



Koordinator Anak Cabang (Korancab) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama Banyuwangi menggelar Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) di Madrasah Ibtidaiyah Mambaul Huda, Boyolangu, Giri, Banyuwangi Sabtu pagi (24/12) sampai Ahad siang (25/12).

Makesta  NU Banyuwangi untuk Penggerak NU Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)
Makesta NU Banyuwangi untuk Penggerak NU Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)

Makesta NU Banyuwangi untuk Penggerak NU Masa Depan

Para peserta yang hadir merupakan delegasi dari berbagai kecamatan, di antaranya: Licin, Giri, Glagah, Kalipuro, dan Wongsorejo.?

"Hal ini kami lakukan sebagai terobosan maksimalisasi manajemen gerakan dan kaderisasi di setiap Pimpinan Anak Cabang yang masih belum aktif," ujar ketua Koordinator Anak Cabang Hairul Mauli Tamimi.

Menurut Tamimi, Makesta ini juga salah satu langkah mencetak kader-kader muharrik (penggerak) NU masa depan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Tak hanya itu, Haris Budi Utomo perwakilan dari pengurus PC IPNU Banyuwangi berpesan di hadapan kader-kadernya untuk senantiasa tetap meningkatkan prestasi belajar sekolah di samping aktif dalam kegiatan organisasi.

"Tak ada alasan bagi kalian aktif di organisasi menjadikan semangat belajar dan prestasi sekolah kendur. Hal ini sangat tidak kami inginkan. Pasalnya, banyak para pelajar tahun kemarin yang mendapatkan kuliah gratis di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) ternama rekom dari PC IPNU IPPNU Banyuwangi, akibat mereka yang tak surut semangat belajar dan berorganisasi," terang Haris, yang juga sebagai penggawa Departemen Kaderisasi IPNU Banyuwangi.

Dia menambahkan, keuntungan berorganisasi lainnya meningkatkan jaringan sosial kemasyarakatan. Sehingga dengan jalan ini kita dapat membaca peluang-peluang beasiswa kuliah dalam negeri maupun luar negeri.

Dalam pembukaan acara dihadiri oleh perwakilan MWC NU Giri, MWC Kalipuro, PAC Muslimat Giri, PAC Ansor Giri, PAC Fatayat Giri, dan Perwakilan PC IPNU IPPNU Banyuwangi. (M. Sholeh Kurniawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Habib, Santri, Khutbah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 18 Januari 2018

GP Ansor Jombang Hidupkan Anak Cabang Wonosalam yang Vakum 10 Tahun

Jombang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Jombang, Jawa Timur mengajak kepada para pemuda Nahdliyin di Kecamatan Wonosalam, Jombang, untuk membentuk kembali kepengurusan GP Ansor di tingkat Pimpinan Anak Cabang (PAC) dan berbagai ranting setempat yang vakum selama kurang lebih 10 tahun.

Pembentukan pengurus dimulai dari tingkat PAC GP Ansor Kecamatan Wonosalam. Kegiatan berjalan lancar dan tertib melalui musyawarah mufakat Tim Formatur yang disepakati forum silaturahim generasi muda Wonosalam di Pondok Pesantren Fattahul Muhibbin, Sumberejo, Wonosalam, Ahad (3/1) malam.

GP Ansor Jombang Hidupkan Anak Cabang Wonosalam yang Vakum 10 Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Jombang Hidupkan Anak Cabang Wonosalam yang Vakum 10 Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Jombang Hidupkan Anak Cabang Wonosalam yang Vakum 10 Tahun

Tim Formatur terdiri dari PC GP Ansor Jombang, Rais Syuriah dan Ketua Tanfidziyah MWCNU Wonosalam, perwakilan dari pengurus ranting NU se-Wonosalam dan perwakilan generasi muda Wonosalam. Forum silaturahim tersebut memilih Muhammad Nurul Huda sebagai Ketua PAC GP Ansor Wonosalam masa khidmah 2016 – 2019.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ketua PC GP Ansor Jombang H Zulfikar Damam Ikhwanto mengatakan, dengan terbentuknya PAC GP Ansor Wonosalam, kini total ada 21 PAC GP Ansor aktif di 21 Kecamatan se-Kabupaten Jombang. “Bahkan untuk Wonosalam ini nanti akan diselenggarakan Diklatsar (Pendidikan dan Latihan Dasar Banser) dengan jumlah peserta 150 Orang,” katanya saat memberikan sambutannya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Gus Antok, sapaan akrabnya, menambahkan bahwa GP Ansor adalah masa depan Nahdlatul Ulama (NU). “Untuk itu gerakan pemuda ansor harus bisa mandiri dan menata diri agar bisa menjadi organisasi yang sehat dan kuat serta berakhlakul karimah,” tambahnya.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Ketua, Sekretaris, Kepala Satkorcab Banser, Bendahara dan beberapa pengurus harian PC GP Ansor Kabupaten Jombang. Hadir juga Rais Syuriah Majelis Wakil Cabang (MWCNU) Wonosalam, dan Ketua MWCNU Wonosalam, beberapa perwakilan dari pengurus ranting NU se-Kecamatan Wonosalam, serta generasi muda dari berbagai desa di Wonosalam. (Syamsul Arifin/Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Halaqoh, Habib Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 15 Januari 2018

Antusias, Kartanu di Pesantren Bahrul Ulum Sampai Jam 9 Malam

Jombang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pesantren yang terletak di Tambakberas Jombang ini menjadi kebanggaan bagi pelaksanaan Kartanu. Bahkan untuk kali ketiga, pesantren menjadi saksi sejarah antuasias para santri dan penduduk setempat.

Antusias, Kartanu di Pesantren Bahrul Ulum Sampai Jam 9 Malam (Sumber Gambar : Nu Online)
Antusias, Kartanu di Pesantren Bahrul Ulum Sampai Jam 9 Malam (Sumber Gambar : Nu Online)

Antusias, Kartanu di Pesantren Bahrul Ulum Sampai Jam 9 Malam

Sejak pagi hingga jam sembilan malam, para petugas Kartu Tanda Anggota Nahdlatul Ulama (Kartanu) harus siap di Gedung Serba Guna KH Chasbulloh Sa’id area Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas. Ini sebenarnya pengalam kali ketiga bagi panitia untuk melakukan pemotretan Kartanu.?

“Yang pertama pada saat launching Kartanu, kemudian pada pemotretan kedua serta hari ini untuk ketiga kalinya,” kata Affandi. Sebenarnya jadual pemotretan harusnya di MWC Kesamben.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Namun karena pengurus di kecamatan tersebut belum siap, akhirnya dialihkan ke sini,” tandasnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Bukan semata pengalihan jadual, namun panitia bekerja secara total. “Seluruh alat Kartanu yang berjumlah empat unit dihadirkan di pesantren ini,” katanya. Padahal untuk satu unit, dibutuhkan empat operator.?

Hal ini dilakukan karena setidaknya ada dua ribu lembar yang akan diproses. ? “Karenanya kami turun full team,” kata pria asli Baweaan Gresik ini.?

Diluar itu semua, panitia merasa salut dengan kiprah pengurus khususnya Ketua MWC NU Jombang, KH Asharun Nur.?

“Pak Asharun selalu hadir di setiap kegiatan pemotretan,” katanya. Hal itu tentu saja membuat warga yang sempat didatangi merasa puas dan bangga lantaran pimpinannya juga terlihat sibuk dan menyapa mereka.

Untuk pemotretan kali ini, setidaknya telah siap diproses sekitar seribu lima ratus lembar Kartanu. Sedangkan untuk periode kedua saat susulan kemarin berjumlah sekitar seribu lima ratus buah.?

“Jombang kota memang beda dengan MWC lain,” katanya.

Dengan sejumlah pesantren besar yang dimiliki, sebenarnya sukses Kartanu di MWC NU Jombang dapat menginspirasi wilayah lain untuk melakukan hal yang sama. Sejumlah MWC memiliki sejumlah pesantren di wilayahnya.?

“Ini sangat bergantung kepada para pimpinan NU setempat untuk silaturahim kepada pengasuh pesantren setempat,” katanya.?

“Kalau di Jombang kota saja bisa, pastinya di tempat lain juga bisa kan?” pungkasnya.?

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor:Syaifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Cerita, Habib Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Saat Menag Sampaikan Pesan Jokowi di Kongres Pergunu

Mojokerto, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Agama RI membuka Kongres Kedua Persatuan Guru NU di Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto, Jawa Timur, Kamis (27/10). Kehadiran Lukman mewakili Presiden Joko Widodo lantaran urung hadir karena padatnya jadwal kenegaraan.

Saat Menag Sampaikan Pesan Jokowi di Kongres Pergunu (Sumber Gambar : Nu Online)
Saat Menag Sampaikan Pesan Jokowi di Kongres Pergunu (Sumber Gambar : Nu Online)

Saat Menag Sampaikan Pesan Jokowi di Kongres Pergunu

Dalam sambutannya Lukman mengatakan, Presiden menyampaikan salam kepada para pendidik anak negeri dan terima kasih telah membantu pemerintah dalam mencerdaskan anak bangsa.

"Saat saya menerima tugas dari Mensesneg, saya tanya apakah ada teks dari Bapak yang bisa saya bacakan? Tidak ada," kata Lukman mengawali sambutannya. Tanpa menyerah putra KH Saifuddin Zuhri ini bertanya lagi apakah ada pesan khusus dari Presiden yang harus saya sampaikan?

"Presiden melalui Whatsapp mengatakan Bapak Menteri lebih tahu daripada saya," kata Lukman disambut tawa para hadirin.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Namun bukannya senang, menurut Lukman ini beban baginya karena harus menyampaikan atas nama Presiden. (Rof Maulana/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Habib, PonPes, Kyai Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 14 Januari 2018

Lakpesdam PBNU Siap Fasilitasi MWCNU Gerakkan Ranting

Garut, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) PBNU mempersilakan bagi kepengurusan NU di tingkat mana saja untuk mengadakan Pelatihan Penggerak Ranting. Lakpesdam PBNU siap memfasilitasi kegiatan yang menjadi program kerja lembaga yang lahir 7 April 1985 ini.

Lakpesdam PBNU Siap Fasilitasi MWCNU Gerakkan Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam PBNU Siap Fasilitasi MWCNU Gerakkan Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakpesdam PBNU Siap Fasilitasi MWCNU Gerakkan Ranting

"Lakpesdam PBNU sangat siap untuk memfasilitasi kegiatan pelatihan-pelatihan semacam ini. Kemana pun, bahkan walau yang mengundang setingkat MWC (Majelis Wakil Cabang NU) sekalipun kita siap untuk datang. Asalkan waktunya saja yang sesuai," kata Sekretaris Lakpesdam PBNU Marzuki Wahid.

Marzuki menyampaikan hal itu saat mengisi Pelatihan Penggerak Ranting yang digelar Lakpesdam PCNU Garut di Pesantren Al-Fauzaniyah Garut, Jawa Barat, Sabtu-Ahad (28-29/5). Pelatihan ini diikuti oleh beberapa utusan dari kabupaten/kota terdekat, antara lain Sumedang, Cimahi, dan Bandung.? Semuanya berjumlah 30 peserta.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Marzuki yang menjadi fasilitator dalam kegiatan ini membawa beberapa trainer (trainer) lainnya antara lain Abdullah Ubed, Kepala Divisi Pemberdayaan Manusia; dan pengurus dan staf lainnya, Tsabit Al-Fauzi dan Rofii.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Materi yang akan disampaikan dalam kesempatan ini meliputi NU dan Aswaja, Penataan Organisasi Ranting, Pengorganisasian, serta Profil dan Penggerak Ranting.

"Pelatihan ini diselenggarakan atas dasar realita akar permasalahan umat yang sering terjadi di tingkat ranting,” kata Hilwan Faqih, Ketua Lakpesdam NU Garut yang juga penyelenggara pelatihan ini.

Ketika rantingnya kuat, otomatis NU secara kesuluruhan pun akan kuat. Apalah artinya cabang banyak kegiatan, tetapi rantingnya minim kegiatan, tambahnya.

Seluruh peserta tampak sangat antusias atas diselenggarakan pelatihan ini. Mereka berharap sepulang dari pelatihan ini dapat mampu menjadi trainer-trainer yang hebat, yang bisa memfasilitasi kepada ranting-ranting di daerahnya tentang pemahaman akan Aswaja dan NU.

"Terima kasih atas terselenggaranya pelatihan penggerak ranting ini. Banyak ilmu serta pengalaman yang baru, di samping kita juga bisa sharing dengan fasilitator dan peserta yang lain. Sungguh pelatihan ini sangat bermanfaat," tutur Ramli salah satu peserta pada pelatihan ini. (Syarif Hidayatullah/Ayi Abdul Kohar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Amalan, Humor Islam, Habib Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 10 Januari 2018

Gerakan Solidaritas untuk Busung Lapar Dideklarasikan

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan
Sekelompok LSM, dan para aktivis sosial lintas agama yang dipelopori PBNU mendeklarasikan Jaringan Solidaritas untuk Korban Busung Lapar (JSKBL). Deklarasi dilakukan di gedung PBNU, Jln. Kramat Raya 164, Senin (4/7).

Hadir dalam kesempatan deklarasi, anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), GKR Hemas, Ketua PBNU, Andi Jamaro Dulung, Romo Frans Magnis Suseno, Koordinator JSKBL, Dr. Musdah Mulia, Ketua LKKNU, Otong Abdurahman, dan para aktivis yang tergabung di dalamnya.

Gerakan ini, kata Musdah dalam sambutannya dimaksudkan sebagai gerakan kepedulian terhadap maraknya kasus busung lapar di tanah air. Gerakan ini difokuskan untuk menyelamatkan anak-anak yang terancam kelaparan, gizi buruk, busung lapar, dan kematian dini.

"Kita tidak bisa menutup mata, mencuatnya kasus ini karena adanya ketidakadilan ekonomi, maraknya tindakan korupsi dan rapuhnynya institusi demokrasi. Karenanya kami berharap dukungan dari semua pihak untuk membantu saudara kita yang mengalaminya," ujar penulis buku Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Perspektif Islam ini.

Untuk itu, lanjut Musdah, kami telah membentuk 9 tim kerja yang masing-masing menangani divisi tertentu yang dibagi berdasarkan kelompok dan institusi agar gerakan solidaritas ini lebih fokus. Tim itu diantaranya, tim kerja kampanye, tim kerja advokasi, tim kerja jaringan, tim kerja pendataan, tim kerja medis, tim logis dan pendanaan, tim media, tim analisis kebijakan dan tim kerja bantuan kemanusiaan.

Sementara itu wakil koordinator JSKBL, Benny Susetyo Jr mengatakan gerakan solidaritas ini bukan semata-mata gerakan spontanias karena mencuatnya kasus busung lapar, tetapi sebuah gerakan yang sistematis, terstruktur dan memiliki agenda yang jelas untuk menangani munculnya kasus serupa di tanah air. "Kami memiliki program jangka pendek, menengah dan jangka panjang dan sekarang kumpulnya kami disini sekaligus membahas program kerja tersebut," ujarnya.

Sekadar diketahui, LSM yang tergabung dalam solidaritas ini antara lain Suara Ibu Peduli, Kalyanamitra, Perempuan Indonesia, Komisi Hak-KWI, Koalisi untuk Indonesi Sehat, Infid, Elsam, LBN Jakarta, Sanggar Ciliwung, Koalisi Perempuan Indonesia, Fatayat NU, LKKNU, Jaringan Mitra Perempuan Jabotabek, Institut Ecosos, Prakarsa, Perdhaki, KPI Jabar, ICRP, Yayasan Jurnal Perempuan, dan lainnya. (cih)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Habib Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Gerakan Solidaritas untuk Busung Lapar Dideklarasikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gerakan Solidaritas untuk Busung Lapar Dideklarasikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gerakan Solidaritas untuk Busung Lapar Dideklarasikan

Rabu, 27 Desember 2017

Pesantren Tempat Mendidik Manusia, Bukan Tempat Makan Enak

Way Kanan, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Staf Ahli Bupati Way Kanan Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia Gino Vanollie meyakini pesantren sebagai lembaga yang serius mengembangkan intelektualitas peserta didiknya. Pesantren berhasil menyadarkan para santri perihal tujuan utama mereka datang ke pesantren, menuntut ilmu.

Demikian disampaikan Gino Vanollie di Gunung Labuhan, Way Kanan, Senin (2/5).

Pesantren Tempat Mendidik Manusia, Bukan Tempat Makan Enak (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Tempat Mendidik Manusia, Bukan Tempat Makan Enak (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Tempat Mendidik Manusia, Bukan Tempat Makan Enak

"Keunggulan pesantren dari sekolah umum salah satunya adalah menanamkan karakter. Teman saya memondokkan anaknya di salah satu pesantren di Jawa Timur. Sekitar dua bulan ia tengok anaknya dan menangis karena iba melihat apa yang dimakan anaknya, berbeda jauh dengan di rumah," kata Gino.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Namun, anak temannya dengan cerdas memberikan jawaban yang membuat ayahnya diam. "Yah, di sini itu untuk mengisi ini (sambil menunjuk kepalanya), bukan mengisi ini (sambil menunjuk perutnya). Itulah kehebatan pesantren, mampu menumbuhkan karakter kuat dalam diri seseorang," ujar Gino yang juga Ketua Umum Forum Guru Independen Indonesia (FGII) itu.

Karena itu, imbuh Gino, para peserta Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN) 2016 yang digelar GP Ansor Way Kanan sangat beruntung bisa tinggal di pesantren kendati hanya satu bulan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sementara pada Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) Pesantren Assiddiqiyah XI asuhan Kiai Imam Murtadlo Sayuthi menggelar upacara yang diikuti santri dan peserta BPUN.

"Banyak perubahan kami dapatkan selama tinggal di pesantren seperti diajarkan mandiri, disiplin waktu, hingga kebersamaan," ujar pelajar SMA Pangastuti Samsul Bahri yang menjadi peserta BPUN Way Kanan 2016.

Para peserta BPUN tak ragu menyatakan bahwa pelaksanaan program utama Yayasan Mata Air itu merupakan cara Ansor Way Kanan yang dipimpin Gatot Arifianto mengisi Hardiknas dengan perbuatan, bukan sekedar seremoni. (Syuhud Tsaqafi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Nahdlatul Ulama, Cerita, Habib Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 21 Desember 2017

PBNU Desak Presiden SBY Bantu Etnis Rohingya

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mendesak Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengambil inisiatif untuk menolong dan membantu etnis Rohingya yang makin memprihatinkan dari bahaya pembersihan etnis.

Pembakaran perkampungan dan pengusiran mereka yang terjadi di Provinsi Rokhine, Burma, merupakan aksi yang tidak bisa dibiarkan oleh dunia internasional.

PBNU Desak Presiden SBY Bantu Etnis Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Desak Presiden SBY Bantu Etnis Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Desak Presiden SBY Bantu Etnis Rohingya

Demikian disampaikan Ketua PBNU H. Slamet Effendy Yusuf ? MSi, pada wartawan di Jakarta, Ahad (29/7) dalam merespon tragedi kemanusiaan etnis Rohingya.

“Pembiaran pembantaian terhadap etnik Rohingya seperti selama ini kita saksikan harus dihentikan. Apalagi, apa yang terjadi sekarang ini merupakan puncak perlakuan diskriminatif yang sudah lama berlangsung terhadap etnik Rohingya, yang beragama Islam,” ? katanya mengingatkan.

Karena itu menurut Ketua MUI Pusat ini ? Indonesia sebagai Negara yang dituakan di negara ASEAN, maupun negara muslim terbesar di dunia seharusnya mengambil inisiatif untuk menyelesaikan masalah ini. Jadi, sangat tidak elok jika pemerintah Indonesia hanya menjadi penonton dalam tragedi kemanusiaan ini.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Yang pasti lanjut Slamet, Presiden SBY dalam waktu singkat dan mendesak ini harus melakukan upaya diplomatik konkret, baik secara bilateral maupun multilateral. Bahwa praktek pelanggaran atas prinsip kemanusiaanm seperti dialami oleh etnik Rohingya, harus segera diakhiri. “Dan, PBNU sangat berharap pemerintah berperan aktif dalam masalah ini,” tambah mantan Ketua Umum PP GP Ansor ini.

Redaktur: Mukafi Niam

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Penulis ? : Munif Arpas

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Kyai, Habib, Hadits Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 16 Desember 2017

Saran Lakpesdam PBNU soal Gejala Radikalisme di Instansi Negara

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Ketua Lembaga Kajian dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Rumadi Ahmad mengaku tidak kaget dengan munculnya gejala intoleransi dan radikalisme di kalangan profesional Indonesia, baik yang bekerja di sektor swasta maupun yang bekerja di Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Saran Lakpesdam PBNU soal Gejala Radikalisme di Instansi Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Saran Lakpesdam PBNU soal Gejala Radikalisme di Instansi Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Saran Lakpesdam PBNU soal Gejala Radikalisme di Instansi Negara

“Saya tidak kaget soal ini,” kata Rumadi menanggapi hasil survei Alvara di Hotel Sari Pan Paific Jakarta, Senin (23/10).

Alvara melakukan survei terkait sikap dan pandangank kelas menangah dengan melibatkan 1200 responden profesional yang terdiri dari Pegawai Negeri Sipil (PNS), pegawai BUMN, dan profesional swasta. Hasilnya, enam belas persen dari total responden yang menginginkan Indonesia menjadi negara Islam atau khilafah.

Menurut Dosen UIN Sayarif Hidayatullah Jakarta itu, merembesnya intoleransi di kalangan profesional disebabkan oleh keteledoran masyarakat Indonesia dalam mengawal ideologi Pancasila. 

“Rekrutemen aparatur sipil negara di kementerian-kementerian selama ini tidak memperhatikan ideologi kebangsaan (yang direkrut),” ujarnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ia menyesalkan, respon pemerintah terhadap intoleransi dan radikalisme yang berkembang di lingkungan instasni pemerintahan tersebut masih bersifat sporadis. Tidak ada upaya serius yang dilakukan pemerintah untuk menumpas pegawai yang memiliki ideologi yang bertentangan dengan Pancasila.

Oleh karena itu, Rumadi berharap, pemerintah seharusnya merancang rencana strategis untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Kemenag, Kemendikbud, Kemenristekdikti, dan BNPT semestinya bekerja bersama-sama untuk menyikapi persoalan tersebut.

“Sehingga terbentuk rencara startegis nasional dan peta besarnya,” ucapnya.

Mewaspadai media sosial

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rumadi menerangkan, media memiliki peran yang sangat penting dalam memasarkan ideologi, termasuk ideologi intoleransi dan radikalisme. Naasnya, media sosial adalah sumber utama bagi generasi milenial dalam mencari sebuah informasi.

Maka dari itu, Rumadi mengingatkan agar belajar agama kepada orang yang memiliki otoritas keilmuan, bukan dari orang yang tidak memiliki otoritas keilmuan atau bahkan dari internet. 

“Orang yang memiliki otoritas adalah orang yang memiliki sanad keilmuan,” tuturnya.

Selain itu, orang yang memiliki sanad keilmuan seharusnya lebih aktif dalam berdakwah sehingga orang yang mencari informasi seputar keagamaan benar-benar tercerahkan. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Habib, News, Ubudiyah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 15 Desember 2017

Ragam Kegiatan Meriahkan Harlah Ke-67 Fatayat NU

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan



Pimpinan Pusat Fatayat Nahdlatul Ulama menyelenggarakan Tasyakuran Harlah Fatayat NU Ke-67 di Gedung Serbaguna RJA DPR RI Jakarta, Jumat (28/4) sore. Acara tersebut bertemakan Memperteguh Islam Nusantara Melalui Penguatan Organisasi Perempuan.?

Ketua Umum PP Fatayat NU Anggia Ermarini menuturkan, ada berbagai rentetan kegiatan yang sudah dilakukan untuk menyambut dan memeriahkan Hari Lahir organisasi perempuan NU tersebut.?

Ragam Kegiatan Meriahkan Harlah Ke-67 Fatayat NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ragam Kegiatan Meriahkan Harlah Ke-67 Fatayat NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ragam Kegiatan Meriahkan Harlah Ke-67 Fatayat NU

Anggia menjelaskan, Fatayat sudah menyelenggarakan acara Ayo Bershalawat dan membentuk Forum Daiyah Fatayat (Fordaf) NU pada 21 April lalu di Bandung. “Itu adalah bagian dari rangkaian Harlah kita,” ucapnya.

Adapun hari ini, lanjut Anggia, Fatayat menyelenggarakan berbagai macam agenda seperti pasar murah, lomba tumbeng Fatayat NU se-Jabodetabek, seminar, lomba mewarnai dan paduan suara untuk anak-anak sekolah tingkatan TK dan SD, dan lomba antar pengurus bidang PP Fatayat untuk menyanyikan lagu mars Fatayat dan lagu syubbanul wathon.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Dengan mengadakan lomba-lomba, kita kenalkan anak-anak sejak usia dini dengan lambang-lambang NU dan Fatayat. Kita kenalkan agar mereka mencintai NU dan Fatayat,” terangnya.

Ia menceritakan, dari berbagai kegiatan itu yang paling seru adalah lomba antar pengurus bidang untuk menyanyikan lagu mars Fatayat dan lagu syubbanul wathan. Menurutnya, lomba ini bertujuan untuk memastikan agar mereka bisa menyanyikan mars Fatayat dan syubbanul wathon.?

“Ada yang sampai menangis karena ada yang belum hafal,” jelasnya.

Anggia mengungkapkan, salah satu inovasi yang dikembangkan oleh Fatayat NU adalah kegiatan menjual barang bekas yang masih bagus dengan harga yang murah. Baginya, ini adalah salah satu cara untuk membangun kemandirian organisasi.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Sahabat-sahabat yang memiliki barang-barang bekas yang masih layak dijual murah. Dan lumayan laris manis,” katanya.

Ia menyatakan, puncak dari Harlah Fatayat NU akan diselenggarakan berbarengan dengan Rakernas Fatayat pada 4 Mei di Palangkaraya.?

Di usianya yang ke-67 ini, Anggia berharap Fatayat NU bisa menjadi yang diperhitungkan baik di tingkat nasional maupun di tingkat global.?

Saat ini, Fatayat NU memiliki 34 pengurus wilayah, 480 pengurus cabang, 2 ribu pengurus anak cabang, dan 20 ribu pengurus ranting. pengurus anak cabang, dan 20 ribu pengurus ranting. pengurus anak cabang, dan 20 ribu pengurus ranting. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Kajian Sunnah, Habib Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 16 November 2017

Gus Sholah: Islam dan Indonesia Jika Dipisahkan Kita Mundur 30 Tahun

Serang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan?



Pengasuh Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) mengingatkan bahwa spirit Islam dan Indonesia sudah terpadu dan tidak dapat dipisahkan. Jika perpaduan yang sudah dirintis sejak generasi para pendiri republik ini diubah, justru akan membawa Indonesia mundur 30 tahun ke belakang.

Gus Sholah: Islam dan Indonesia Jika Dipisahkan Kita Mundur 30 Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Sholah: Islam dan Indonesia Jika Dipisahkan Kita Mundur 30 Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Sholah: Islam dan Indonesia Jika Dipisahkan Kita Mundur 30 Tahun

Hal itu diungkapkan salah satu cucu pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asyari itu saat meresmikan berdirinya Pesantren Tebuireng Cabang Banten, Selasa, 18 April 2017. Peresmian cabang ke-8 dari Pesantren Tebuireng yang ditandai peletakan batu pertama ini berlokasi di Kampung Pabuaran, Desa Sanding, Kecamatan Petir, Kabupaten Serang, Banten.

Gus Sholah lalu menjelaskan proses perpaduan Islam dan keindonesiaan itu sejak masa perjuangan kemerdekaan yang melibatkan kalangan pesantren dan para kiai, hingga integrasi madrasah ke dalam sistem pendidikan nasional. Juga penerimaan Pancasila sebagai asas tunggal dalam Muktamar NU di Situbondo (1984). Termasuk integrasi beberapa aspek hukum Islam yang bersifat muamalah ke dalam sistem hukum nasional.

"Sekarang ini kelihatannya ada yang ingin mempertentangkan Islam dan Indonesia. Termasuk juga orang Islam yang tidak paham. Mereka bilang, kita ini orang Islam yang Indonesia, atau orang Indonesia yang Islam. Saya bilang, apa kita pernah disuruh memilih antara Islam dan Indonesia?" ujar Gus Sholah.

Mantan Wakil Ketua Komnas HAM ini memberikan analogi, orang yang ingin memisahkan Islam dan Indonesia itu seperti anak yang bapak dan ibunya mau bercerai. Lalu si anak disuruh memilih ikut bapak atau ibunya. "Lha ini kan tidak akan bercerai. Harus kita pertahankan. Kita ini orang Indonesia yang beragama Islam dan orang Islam yang Indonesia. Tidak perlu kita pertentangkan," tegasnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Indonesia dan Islam, menurut Gus Sholah, adalah dua sisi dari mata uang yang sama. "Kalau Indonesia meninggalkan Islam, kita akan kembali ke zaman 30 tahun lalu, ketika pemerintah memusuhi umat Islam.

Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol. Boy Rafli Amar yang hadir dalam peresmian tersebut berharap, kehadiran cabang Pesantren Tebuireng di Banten akan mampu mendidik santri yang memiliki spirit kemajuan, wawasan keilmuan dan berakhlaqul karimah. Juga dapat melahirkan generasi emas yang akan mengisi kehidupan bangsa dengan hal-hal yang positif untuk kepentingan agama dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).?

Menurut Boy, pendiri Pesantren Tebuireng KH Hasyim Asyari terkenal dengan konsep hubbul wathan minal iman (cinta tanah air adalah bagian dari iman). Karena itu, dia berharap semangat ini akan menyebar luas di tengah-tengah krisis kecintaan kepada negara yang cenderung memudar akhir-akhir ini. "Terutama masyarakat di kota-kota besar yang menikmati kemajuan teknologi sedemikian rupa, mereka kadang lupa dengan nilai-nilai dasar bangsa kita yang diwariskan para leluhur dalam rangka membangun NKRI," ujar mantan Kapolda Banten ini.

Lulusan Akademi Kepolisian 1988 ini menambahkan, semangat cinta tanah air yang digelorakan pendiri Pesantren Tebuireng adalah modal bangsa Indonesia untuk tetap eksis dan kokoh. "Kami berkeyakinan, Pesantren Tebuireng ini dapat menjadi role model bagi pondok pesantren di Indonesia, dengan tidak melupakan nilai-nilai keindonesiaan dan kecintaan kepada bangsa ini," ujar Boy.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Acara peletakan baru pertama pesantren ini juga dihadiri oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Banten Bazari Syam, Kepala Kantor Kementerian Agama Serang Abdur Roup, Wakil Bupati Serang Panji Tirtayasa, mantan Kapolda Banten Rumiah Kartoredjo, dan Kapolda Banten Brigjen Pol. Listio Sigit Prabowo.

Dari kalangan ulama hadir sesepuh alumni Pesantren Tebuireng KH Fuad Halimi, Ketua MUI Banten KH AM Romly, Ketua Yayasan Pesantren Tebuireng 09 KH Ahmad Qizwini, dan puluhan pengasuh pesantren di Banten. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Habib Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 10 November 2017

MWCNU Jepara Gelar Pendidikan Kader Penggerak Ranting

Jepara, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pengurus Majelis Wakil Cabang NU Jepara bekerja sama dengan PCNU Jepara mengadakan Pendidikan Kader Penggerak Ranting di pesantren Jabal Nur desa Bandengan kecamatan Kota kabupaten Jepara, Jum’at-Ahad (31/10-2/11). Sedikitnya 30 peserta utusan ranting NU berlatih menganalisan dan menggerakkan NU di desa masing-masing. 

Ketua penyelenggara Lukman Hakim mengatakan, kegiatan dilaksanakan sebagai tindak lanjut pelatihan kader penggerak ranting tingkat nasional di Jakarta. “Kegiatan ini bertujuan menciptakan kader NU di tingkat ranting yang mampu mengamalkan dan membela aswaja serta mampu mengelola sumber daya di desa,” terang Lukman.

MWCNU Jepara Gelar Pendidikan Kader Penggerak Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)
MWCNU Jepara Gelar Pendidikan Kader Penggerak Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)

MWCNU Jepara Gelar Pendidikan Kader Penggerak Ranting

Kegiatan tidak hanya berhenti di pelatihan. Beberapa rencana tindak lanjut telah dirancang semisal menggerakkan sumber daya infak dan sedekah, mengoptimalkan fungsi masjid dan musholla, pemberdayaan ekonomi, kaderisasi tingkat ranting, pelayanan kesehatan masyarakat, lailatul ijtima serta pengembangan pendidikan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pihaknya menargetkan kegiatan ini usai sebelum Konfercab yang akan dilaksanakan 2015 mendatang. Bulan November dan Desember MWCNU yang siap melaksanakan kegiatan serupa yakni kecamatan Batealit dan Tahunan. (Syaiful Mustaqim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Habib, Hikmah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 03 November 2017

Banser Blitar: Allahu Akbar, Pancasila Jaya, NKRI Harga Mati!

Blitar, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Ribuan anggota Barisan Ansor Serbaguna (Baser) Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten dan Kota Blitar, Jawa Timur, berunjuk rasa dengan memadati jalan-jalan protokol di Blitar. Mereka meneriakkan penolakan terhadap bangkitnya komunis gaya baru (KGB), salah satunya ditandai dengan mendesak pemerintah meminta maaf atas tragedi 1965 lalu.

Aksi yang dijaga polisi dan TNI itu dilakukan bertepatan dengan momentum peristiwa pemberontakan G30S PKI. Akibat aksi tersebut, jalan protokol Sudanco Supriyadi Kota Blitar lumpuh total.

Banser Blitar: Allahu Akbar, Pancasila Jaya, NKRI Harga Mati! (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Blitar: Allahu Akbar, Pancasila Jaya, NKRI Harga Mati! (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Blitar: Allahu Akbar, Pancasila Jaya, NKRI Harga Mati!

"Allahu Akbar. Pancasila Jaya, NKRI harga mati. Mereka yang melakukan kudeta dan melakukan kerusuhan kok pemerintah diminta minta maaf," pekik massa bersahut sahutan. Lagu Gugur Bunga dan Maju Tak Gentar diputar bergantian, Rabu (30/9).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Banser menduga KGB sudah ada dimana mana, berusaha menyusup ke semua lini sosial dan pemerintahan. Bahkan, kata Satkorcab Banser Kabupaten Blitar Imron Rosadi, tak terkecuali di TNI dan kepolisian.

"Kalau pemerintah diam saja, ini akan meletus menjadi perang sipil seperti peristiwa 1965 dan 1968," ucap Imron.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Banser NU mencurigai masuknya pekerja asal Negeri Tiongkok ke Indonesia sebagai upaya membangkitkan paham komunisme di Indonesia. “Kami akan bahu membahu bersama masyarakat lain untuk mengantisipasi terus masalah ini,” tambahnya.

Menurutnya, agakn terjadi gejolak jika Presiden Joko Widodo sampai memaafkan orang-orang eks PKI, kelompok yang dianggap pernah berupaya menggulingkan negara. "Presiden tidak layak memberi maaf kepada para pemberontak (PKI) negeri ini," tuturnya.

Dalam aksi yang melumpuhkan jalur lalu lintas, Banser secara simbolis membakar bendera merah palu dan arit (PKI). Dari Kantor Pemkab Blitar massa melakukan aksi jalan jauh ke kantor DPRD Kota Blitar dan Pemkot Blitar.(Imam Kusnin Ahmad/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Doa, Habib, Kiai Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 01 September 2017

Moderasi Ibn Umar dalam Konflik

Oleh Mohammad Subhan Zamzami

Situasi politik tanah air pasca Pemilihan Presiden tahun 2014 lalu dinilai kurang kondusif. Tidak seperti Pilpres sebelumnya, Pilpres tahun 2014 seakan memecah rakyat Indonesia menjadi dua kubu. Perseteruan dua kubu ini sangat berbau SARA (suku, ras, agama, dan antargolongan), yang kemudian memuncak pada Pemilihan Gubernur DKI Jakarta tahun 2017, dan agaknya akan terus memanas hingga Pemilihan Presiden tahun 2019. Sayangnya, pihak yang berseteru ini tidak hanya memicu gesekan pemeluk antaragama, tapi juga menyulut kembali gesekan pemeluk seagama yang memiliki perbedaan pandangan keagamaan dan politik.

Dalam konteks Islam, situasi seperti ini seakan menggiring kita melihat pra dan pasca fitnah kubra (tragedi politik besar) yang merenggut banyak korban jiwa, baik dari kubu ‘Ali ibn Abu Thalib maupun dari kubu Mu’awiyah ibn Abu Sufyan. Imbas fitnah kubra ini masih sangat terasa hingga saat ini, seperti perbedaan pandangan keagamaan dan politik. Perbedaan pandangan keagamaan ini, misalnya, melahirkan aliran-aliran kalam di kalangan umat Islam. Sedangkan perbedaan pandangan politik di antara mereka setidaknya melahirkan empat kubu, yaitu kubu ‘Ali ibn Abu Thalib, kubu Mu’awiyah ibn Abu Sufyan, kubu Khawarij, dan kubu sebagian sahabat.

Moderasi Ibn Umar dalam Konflik (Sumber Gambar : Nu Online)
Moderasi Ibn Umar dalam Konflik (Sumber Gambar : Nu Online)

Moderasi Ibn Umar dalam Konflik

Kubu ‘Ali memainkan high politics dengan berusaha mempertahankan idealisme dan nilai luhur Islam dengan tidak terjebak pada politisasi agama, meski pada akhirnya mereka menyerah pada desakan sebagian pendukungnya yang kemudian membelot, sehingga mereka dikalahkan oleh kecerdikan ‘Amru ibn al-‘Ash, juru runding kubu Mu’awiyah. Kubu Mu’awiyah lihai memainkan isu-isu agama untuk melegitimasi kepentingan politiknya, sehingga mudah meraih simpati masyarakat dengan segudang prestasi dan kebobrokannya sekaligus.

?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kubu Khawarij memainkan politik Islam simbolis yang kaku, sehingga mereka akan selalu beroposisi melawan siapa pun penguasa yang tidak sesuai dengan pandangan keagamaan dan politik mereka. Kubu terakhir, kubu sebagian sahabat, lebih suka mengasingkan diri dengan tidak melibatkan diri berlarut-larut dalam pertikaian politik, karena bagi mereka sikap seperti ini lebih baik meski mereka juga sadar bahwa pada akhirnya mereka juga akan dianggap salah oleh kubu lain. Perbedaan pandangan keagamaan dan politik mayoritas umat Islam saat ini hanya representasi dari masa tersebut.

Salah satu tokoh besar pada masa itu adalah ‘Abdullah ibn ‘Umar (w. 72/73 H), sahabat sekaligus putra ‘Umar ibn al-Khatthab. Ibn ‘Umar merupakan sahabat terkemuka periwayat hadis terbanyak kedua dengan jumlah periwayatan sebanyak 2630 hadis. Dalam Shahih al-Bukhari, al-Bukhari menulis dua hadis tentang pandangan keagamaan dan politik ‘Ibn ‘Abbas, yang mengindikasikan bahwa ia berada pada kubu terakhir yang lebih suka mengasingkan diri dengan tidak larut dalam perselisihan, yaitu hadis ke-4513 dan hadis ke-4515. Hadis ke-4513, misalnya, mengisahkan Ibn ‘Abbas tidak ikut serta dalam tragedi Ibn al-Zubair, sehingga ada dua orang datang menghadap kepadanya untuk mempertanyakan sikapnya tersebut.

Pada saat itu, ia berkata, “Saya tidak ikut karena sesungguhnya Allah mengharamkan pertumpahan darah atas saudaraku.” Mendengar jawaban tersebut, dua orang tadi menggunakan ayat Alquran wa qatiluhum hatta la takuna fitnah? (dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi) untuk menekannya. Tapi Ibn ‘Umar menyanggah mereka dengan berkata, “Kami berperang agar tidak terjadi fitnah sehingga ketaatan (agama) hanya semata-mata untuk Allah, sedangkan kalian ingin berperang agar terjadi fitnah sehingga ketaatan (agama) hanya semata-mata untuk selain Allah.”

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sedangkan hadis ke-4515 mengungkapkan pandangan politik Ibn ‘Umar. Dalam hadis tersebut, ada seorang laki-laki datang menghadapnya untuk mempertanyakan pandangannya tentang kepribadian ‘Utsman ibn ‘Affan dan ‘Ali ibn Abu Thalib. Sebagaimana diketahui, ‘Utsman mewakili Bani Umayah, sedangkan ‘Ali mewakili Bani Hasyim. Dua klan besar ini bertikai sejak sebelum masa Nabi Muhammad Saw. hingga beratus-ratus tahun setelahnya.

Mendapat pertanyaan tersebut, Ibn ‘Umar menjawab, “Allah telah mengampuni ‘Utsman, tapi kalian berat memaafkannya. Sedangkan ‘Ali adalah sepupu Rasulullah Saw.” Jawaban Ibn ‘Umar ini menunjukkan bahwa ia lebih suka mendamaikan pihak-pihak yang berseteru, bukan justru semakin memperkeruh keadaan.

? ? ? ? ? ?

Penting diketahui bahwa al-Bukhari mencantumkan dua hadis tersebut untuk menafsirkan salah satu ayat perang atau jihad yang kerap disalahtafsirkan oleh kaum jihadis, yaitu QS. Al-Baqarah [2]: 193 Wa qatiluhum hatta la takuna fitnah wa yakuna al-din li Allah fa inintahau fa la ‘udwan illa ‘ala al-dzalimin (Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan [sehingga] ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti [dari memusuhi kalian], maka tidak ada permusuhan (lagi) kecuali terhadap orang-orang yang zalim), yang menunjukkan bahwa al-Bukhari sependapat dengan Ibn ‘Umar.

Nah, di tengah memanasnya situasi politik tanah air, moderasi Ibn ‘Umar dalam konflik menemukan relevansinya. Oleh karena itu, menggemakan kembali moderatisme Ibn ‘Umar dalam konflik sangat penting, sehingga sosok-sosok Ibn ‘Umar baru akan muncul untuk menjadikan kehidupan berbangsa dan bernegara kembali kondusif. Sebab salah satu faktor memanasnya situasi politik tersebut adalah penyalahgunaan simbol-simbol agama, baik karena disengaja untuk kepentingan politik maupun karena minimnya wawasan keislaman sebagian pihak yang selama ini selalu mengatasnamakan Islam untuk membenarkan aksi-aksinya.

Penulis adalah Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pamekasan.

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Habib, Bahtsul Masail, Aswaja Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 28 Agustus 2017

Jamuri Solo Ambil Sikap Netral dalam Pilpres

Solo, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Komunitas pecinta sholawat Jama’ah Muji Rasul Putri (Jamuri) di Soloraya, memiliki sikap politik yang sama dengan Jamuro terkait netralitasnya dalam Pilpres 9 Juli nanti. Pernyataan resmi in disampaikan Ketua Jamuri Nyai Sihah Wal’afiyah dalam kunjungan rutin di kediaman Ibu Purnomo, istri wakil wali kota Solo, Selasa (1/7) sore.

“Dalam pilpres nanti Jamuri mengikuti jejak Jama’ah Muji Rosul pimpinan Kiai Abdul Karim Pengasuh pesantren Az-Zayyady, Laweyan, Solo yang tidak mengimbau jamaahnya mendukung salah satu capres. Namun begitu, pecinta sholawat hendaknya memilih pemimpin yang sekiranya juga cinta shalawat,” kata Nyai Sihah.

Jamuri Solo Ambil Sikap Netral dalam Pilpres (Sumber Gambar : Nu Online)
Jamuri Solo Ambil Sikap Netral dalam Pilpres (Sumber Gambar : Nu Online)

Jamuri Solo Ambil Sikap Netral dalam Pilpres

Jamaah Jamuri pun semakin banyak jumlahnya karena tak lepas dari peran pemimpin daerah dalam keikutsertaanya membumikan sholawat di kota Solo.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Ibu walikota Solo yang dulu itu tidak pernah absen ikut mengundang Jamuri untuk bersholawat di kediamannya setiap even safari 30 hari Jamuri di bulan Maulud. Demikian dengan ibu wakil walikota Solo sekarang,” imbuhnya. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sementara sesepuh Jamuri Nyai Aliyyuddin mengajak jama’ah untuk selalu berdo’a agar Indonesia memiliki pemimpin yang layak. “Semoga kita dipilihkan pemimpin terbaik dan terpilih yang bisa membawa negeri ini menuju negeri yang subur makmur, adil, dan aman,” harap Nyai Aliyyuddin. (Ahmad Rosyidi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Kajian, Hikmah, Habib Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 23 Agustus 2017

Anggota Koperasi Nahdliyin Jepara Gelar Halal Bihalal

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Asosiasi Koperasi Syariah Warga Nahdlatul Ulama (Askowanu) Jepara mengadakan pertemuan Halal Bihalal di gedung PCNU Jepara jalan Pemuda nomor 51, Sabtu (25/7) pagi. Silaturahmi yang melibatkan 12 BMT NU ini dihadiri Bupati Jepara, Dinas Koperasi UMKM dan Pengelolaan Pasar Jepara, PCNU Jepara, dan tokoh agama setempat.

Anggota Koperasi Nahdliyin Jepara Gelar Halal Bihalal (Sumber Gambar : Nu Online)
Anggota Koperasi Nahdliyin Jepara Gelar Halal Bihalal (Sumber Gambar : Nu Online)

Anggota Koperasi Nahdliyin Jepara Gelar Halal Bihalal

Ketua Askowanu Sukardi mengatakan, kegiatan untuk saling maaf-memaafkan juga saling ta’aruf antar-BMT yang tergabung dalam Askowanu. “Sehingga BMT yang tergabung dalam Askowanu saling bersinergi,” tuturnya.

Sukardi menambahkan, dalam waktu dekat pihaknya akan meluncurkan produk baru yaitu simpanan Askowanu, simpanan yang bisa diakses di semua BMT yang bergabung di Askowanu. Kecuali itu, mereka juga akan membentuk koperasi sekunder warga NU Jepara.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ketua PCNU Jepara H Asyhari Syamsuri memberikan apresiasi kegiatan tersebut. “Halal Bihalal sebagai perwujudan dari hablun minannas, saling memaafkan antarsesama,” kata H Asyari.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sementara KH Adib Fatah yang diminta menyampaikan taushiyah berpesan kepada hadirin untuk mempertahankan tradisi Halal Bihalal. Karena, tradisi ini merupakan budaya asli Nusantara. Dengan Halal Bihalal, lanjutnya, tali persaudaraan antarsesama semakin terjalin.

“Banyak orang di akhirat nanti merasa rugi karena terlalu menyombongkan dirinya atas amaliyahnya ketika di dunia. Itu karena mereka lupa akan ibadah yang berhubungan dengan manusia yaitu minta maaf dan tolong-menolong. Maka BMT harus punya peran penting dalammemberikan pemanfaatan yang berarti khususnya terhadap warga NU,” imbuh Kiai Adib. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Habib Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 20 Agustus 2017

Habib Luthfi Pimpin Ikrar Bela Negara di Akhir Konferensi Ulama Internasional

Pekalongan, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Habib Luthfi bin Yahya Rais Aam Idaroh Aliyah Jamiyyah Ahlit Thariqah Al Mutabarah An Nahdiyyah (JATMAN) memimpin ikrar bela negara pada acara penutupan Konferensi Internasional Ulama yang berlangsung Jumat (29/7) di Kanzus Sholawat Pekalongan.

Habib Luthfi Pimpin Ikrar Bela Negara di Akhir Konferensi Ulama Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfi Pimpin Ikrar Bela Negara di Akhir Konferensi Ulama Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Luthfi Pimpin Ikrar Bela Negara di Akhir Konferensi Ulama Internasional

Ikrar kesetiaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai bentuk komitmen bangsa Indonesia, khususnya yang hadir di majelis penutupan yang dihadiri oleh ribuan pengunjung dari berbagai daerah di Indonesia dan tamu delegasi konferensi dari 40 negara.

Dikatakan Habib Luthfi, bentuk perwujudan dari kesetiaan terhadap NKRI ialah melakukan bela negara. Untuk hal itu. Dirinya meminta kepada seluruh tamu yang hadir untuk melakukan ikrar. Habib Luthfi berharap ikrar ini didengar oleh seluruh bangsa Indonesia.

"Wahai bangsaku, relakah negeri kita ini terpecah belah? Jika tidak, ikuti kata-kata saya, bismillaahirrahmaanirrahiim, asyhadu ala ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah, radhiina billahi robba, wa bil islami dina, wa bi muhmmadin nabiyya wa rasula. Kami berikrar, bela negara adalah wajib, bela negara adalah, bela negara adalah wajib!" tegas Habib Luthfi serempak diikuti ribuan masyarakat yang hadir.

Dikatakan Habib Luthfi, ikrar bela negara yang dia lakukan merupakan suatu bentuk penegasan dari kegiatan Konferensi Internasional Ulama Thariqah yang berlangsung selama 3 hari sejak 27-29 Juli 2016. Dari kegiatan yang digelar di Hotel Santika dan Gedung Djunaid Pekalongan, peserta konferensi menghasilkan 15 konsensus atau kesepakatan bersama untuk dapat ditindaklanjuti di negara masing-masing peserta.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Habib Luthfi berharap, kegiatan konferensi internasional yang telah menghasilkan 15 butir kesepakatan dapat diambil manfaat dan dilaksanakan dengan segera, sehingga tujuan untuk mendorong negara yang damai dalam bingkai rahmatan lil alamin dapat segera terwujud, khususnya di Negara-negara yang saat ini sedang dilanda konflik.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selaku tuan rumah, Habib Luthfi meminta maaf kepada semua pihak, khususnya kepada peserta konferensi jika dalam pelaksanaan ada yang kurang berkenan dan sekaligus mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Pertahanan (Kemenhan) yang telah mensupport kegiatan yang telah menhasilkan banyak manfaat bagi bangsa dan negara ini. (Abdul Muiz/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Habib, Pesantren, Kajian Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 07 Agustus 2017

Shalat dan Al Quran Jadikan Indonesia Bangsa Teladan

Bengkulu, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan
Wakil Presiden RI, H. Hamzah Haz menyatakan bila bangsa Indonesia sudah melaksanakan shalat dan membaca Al Qur’an dengan baik, maka bangsa Indonesia akan menjadi bangsa teladan di dunia.

"Bila umat 85 persen Islam di Indonesia melaksanakan hablum minallah dan hablum minannas yang diujudkan dengan shalat dan baca qur’an, Insya Allah bangsa Indonesia akan jadi bangsa teladan," kata Hamzah Haz, dalam sambutannya ketika menutup STQN ke XVII di Kota Bengkulu, Minggu malam.

Untuk bisa menjadi bangsa teladan itu, umat Islam haruslah mampu membangun ahlakul qorimah yang diimplementasikan dengan shalat lima waktu tepat waktu begitu azan dikumandangkan.

Begitu juga dengan kegiatan membaca al qur’an jangan hanya dilaksanakan pada saat akan seleksi dan musabaqah saja, tapi harus dilakukan dirumah, dimajelis taklim serta dikhatamkan.

Hamzah menekankan yang diperlukan sekarang adalah akhlak yang mulia. Masjid lebih cepat dalam membentuk ahlakul qarimah dan untuk mengatasi keadaan sekarang tidak cukup dengan tertib hukum.

Wapres yang akan mengakhiri jabatannya Oktober 2004 mendatang itu meminta pihak terkait agar menempatkan Depertemen Agama dan Departemen Pendidikan sebagai pilar pembangunan guna memperbaiki akhlak kepribadian Bangsa Indonesia.

"Krisis kepribadian bangsa Indonesia saat ini dinilai oleh bangsa lain sangat merosot seperti Amerika mengangap negara kita sebagai jaringan terorisme dan juga negara nomor enam korupsi terbesar di dunia," ujar mantan Menko Kesra itu.

Kini kondisi bangsa Indonesia makin memprihatinkan dengan maraknya perjudian, penyalahgunaan narkoba yang sudah merusak generasi muda serta pornografi. Sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam terbesar didunia seharusnya Indonesia mampu memberikan teladan kepada negara lain dengan memiliki pribadi yang akhlaqul karimah.

Dalam kaitan STQN yang merupakan bagian penting dalam membangun akhlak, sudah seharusnya pendidian agama diberikan biaya lebih besar dari sekolah umum. Hal itu didasari dari dua manfaat sekaligus yang dihasilkan dari sekolah agama yaitu mencetak manusia yang memiliki otak/intelektual dan kedua berhati mulia.

"Kalau sekolah umum hanya otak saja, tapi jiwa dan hati masih kosong hingga akhlak jadi runtuh karena anak tak dididik dengan pendidkan agama memadai," ujarnya.

Tugas guru dan ustadz jauh lebih berat daripada guru dipendidikan umum. Oleh karena itu ia mengharapkan gubernur, walikota dan bupati untuk mengalokasikan dana pendidikan besar dibidang agama.(mkf/an)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Habib, Tokoh, Amalan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Shalat dan Al Quran Jadikan Indonesia Bangsa Teladan (Sumber Gambar : Nu Online)
Shalat dan Al Quran Jadikan Indonesia Bangsa Teladan (Sumber Gambar : Nu Online)

Shalat dan Al Quran Jadikan Indonesia Bangsa Teladan

Sabtu, 29 Juli 2017

KH Hasyim: Parpol Harus Tanggung Jawab

Situbondo, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Sekretaris Umum Internasional Conference of Islamic Scholars (ICIS) KH Hasyim Muzadi menyatakan, partai politik adalah pihak yang paling bertanggung jawab dalam banyak hal terutama lemahnya penegakkan hukum kejahatan korupsi. Karena, parpol kerap mengintervensi aparat penegak hukum.

KH Hasyim: Parpol Harus Tanggung Jawab (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Hasyim: Parpol Harus Tanggung Jawab (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Hasyim: Parpol Harus Tanggung Jawab

Praktik politik uang yang kerap digunakan partai politik juga ditengarai Kiai Hasyim sebagai sumber bagi pelbagai penyakit bangsa Indonesia. Penegakkan hukum melemah. Pemberian jaminan perlindungan bagi perusahaan tertentu yang mendukung orang partai. Penetapan kebijakan dan peraturan yang semestinya prorakyat menjadi kabur oleh kepentingan politik yang makin transaksional.

Kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan di area konferensi internasional ICIS di pesantren Salafiyah Syafi’iyah jalan KHR Syamsul Arifin, Banyuputih, Situbondo, Sabtu (29/3), Kiai Hasyim mengatakan bahwa penguasa penuh pada masa setelah reformasi ini adalah partai politik.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Legislatif jelas diisi orang partai. Demikian juga eksekutif. Lembaga dan badan ad hoc negara juga ditentukan oleh partai. Tidak kalah pentingnya, semua peraturan dan kebijakan ditentukan parlemen yang juga orang dari partai politik,” tegas Kiai Hasyim.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Didampingi Direktur Pelaksana ICIS DR Nasihin Hasan dan Pengasuh pesantren Salafiyah Syafi’iyyah KHR Ahmad Aza’im Ibrahimiy, Kiai Hasyim menegaskan, “Partai politik sudah mestinya mengembalikan kedaulatan negara yang diberikan rakyat kepada mereka saat reformasi.”

Artinya, partai politik tidak bisa jalan sendirian. Partai politik, sambung Kiai Hasyim, harus mendengarkan masukan dan saran rakyat. Mereka harus banyak membenahi diri untuk itu.

“Karena, korupsi dan praktik politik transaksional menghapus rasa keadilan dan kesejahteraan rakyat, juga menjauhkan pelaksaan negara dari tujuan yang berorientasi pada rakyat,” kata Kiai Hasyim ketika menjelaskan tujuan yang bersifat nasional dari konferensi internasional yang diselenggarakan ICIS. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Habib, Hikmah, Berita Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock