Tampilkan postingan dengan label Amalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amalan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Maret 2018

Menjadi Budak Teknologi: Sebuah Renungan

Oleh: Aswab Mahasin

Dalam salah satu sajaknya Rumi mengatakan, “Ini semua bukan manusia, hanya wajah-wajah manusia yang mereka miliki. Budak-budak perut, korban-korban hawa nafsu.” Rumi merindukan manusia; di dalam kota yang megah itu; kebudayaan dan ilmu berkembang pesat, ia mencari manusia. Semua yang dicari ia temukan di sana, bangunan mewah, mobil mahal, pakaian branded, jam tangan ratusan juta rupiah, smartphone terbaru seharga puluhan juta, gedung-gedung menjulang tinggi, paras bersolek dengan kosmetik mahal, mall-mall yang ramai, makanan beragam jenis, dan berbagai perilakunya. Namun, itu bukan manusia. Rumi meyakinkan lagi, itu manusia, wujudunya manusia, bentuknya manusia, dan penampilannya manusia. Tetapi, bukan manusia sebenarnya, bukan manusia sesungguhnya. 

Menjadi Budak Teknologi: Sebuah Renungan (Sumber Gambar : Nu Online)
Menjadi Budak Teknologi: Sebuah Renungan (Sumber Gambar : Nu Online)

Menjadi Budak Teknologi: Sebuah Renungan

Mari kita merenung sejenak. Siklus hidup harian kita, dari mulai bangun tidur sampai tidur kembali, berapa kebaikan dan kemanfaatan yang kita tebar? Adakah dua atau tiga? Siapakah yang benar-benar mempunyai keinginan—dunia ini menjadi rukun dan saling menghormati? Praktisi politik mana yang tidak haus kekuasaan? Adakah dari kita yang tidak mempunyai kebencian? 

Tuhan menciptakan manusia sebagai khalifatullah, khalifah di muka bumi ini, bagi dunia dan seluruh isinya, semua sumbernya dan semua bendanya. Syed Abul Hasan Ali Nadwi mengatakan, “Manusia bukan untuk menjadi budak benda (materi) tetapi untuk membuat materi menjadi budaknya atau membuatnya untuk menjadi abadi Tuhan, dan untuk memanfaatkannya dalam memenuhi kehendak Tuhan.”

Telah jelas bukan? Teknologi bukanlah “majikan” yang harus kita taati. Ia hanya benda/barang yang mempunyai nilai guna/kekuatan netral untuk melayani manusia—walaupun teknologi berusaha menjadikan kita “jongosnya”. 

Sama-sama kita merasakan, perubahan hidup kita semenjak teknologi membaur. Tidak sedikit diantara kita ketika bangun tidur pertama yang kita cari adalah smartphone. Tidak sedikit juga diantara kita ‘mati gaya’ ketika smartphone kesayangan kita ketinggalan di saat kita berkumpul dengan teman-teman kita. Tidak sedikit di antara kita berebut charger ketika batre smartphone kita habis.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dahulu, janjian dengan seseorang sebatas lisan pun kita tidak bingung. Sekarang, tanpa handphone rasanya kita bingung untuk bertemu dengan seseorang, khawatir inilah-itulah. Banyak perubahan yang kita alami, dari mulai hal terkecil sampai hal terbesar. Ini yang kita rasakan sekarang. 

Ada istilah juga, surga dan neraka saat ini tergantung apa yang kita ‘ketik’ lalu kita ‘klik’ pada tombol ‘enter’. Begitupun anekdot yang mengatakan, dimensi dosa dan pahala berkembang. Dulu, tidak ada dosa medsos, sekarang ada. Dulu, tidak ada dosa hoaks di dunia maya, sekarang ada. Dahulu, Tuhan belum membangun kapling surga bagi pengguna internet yang sehat, dan belum juga membangun kapling neraka bagi pengguna internet yang tidak sehat. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Itu hanya sekedar anekdot, tidak usah diambil serius. Pastinya, di antara kita saat ini telah menjadi hamba teknologi. Meminjam bahasa para filosof, teknologi telah menjadi “tuhan baru” buat kita. Kita ketergantungan, melebihi ketergantungan terhadap Tuhan.

Digambarkan Allah dalam Al-Qur’an (Al-Anbiya: [21]: 52), Nabi Ibrahim AS bertanya kepada kaum penyembah berhala, “Apakah kamu menyembah patung-patung ini?” Sungguh tragis, apa yang kita buat sendiri telah kita sembah. Dewasa ini, teori dirumuskan, hukum ditentukan, mesin canggih dibuat, handphone pintar berjuta pilihan, televisi dengan kendali pikiran, dan sayangnya kita semua menjadi tunduk kepada hal-hal tersebut. Kita diperbudak, padahal Islam telah mengharamkan praktik perbudakan.

Memang berbeda, dahulu manusia memperbudak manusia, sekarang manusia diperbudak mesin. Dahulu manusia membeli budak dan budak yang dibeli itu menjadi jongosnya. Sekarang sebaliknya, manusia membeli mesin dan mesin itu menjadi majikannya dan kita adalah jongosnya.  

Apakah ada yang salah? Tidak ada, selagi produk teknologi difungsikan sesuai kegunaannya. Bukan untuk ujuran kebencian, saling menjatuhkan, memfitnah, apalagi menyebarkan contoh perilaku yang tidak baik, itu tidak masalah. Namun, faktor ini yang menghalangi penghargaan terhadap modernisasi (dengan perkembangan teknologinya) karena telah mengalami atropia (kehilangan kualitas moral).

Mesin-mesin cenderung mencipta tidak hanya lingkungan hidup baru, melainkan juga mengubah hakikat manusia. Lingkungan hidup bukan lagi milik manusia, tetapi justru telah menjadi pemilik manusia. Manusia juga diharuskan menyesuaikan diri pada suatu dunia yang sebenarnya tidak diciptakan baginya. Ia dikejar oleh waktu. Ia makan tidak karena lapar dan tidur tidak karena mengantuk, tetapi karena waktu telah menunjukan saat makan dan tidur. (Imam Sukardi dkk, Pilar Islam Bagi Pluralisme Modern, 2003)

Begitupun fitnah yang tersebar, ujaran kebencian yang ada, ia keluar melalui tulisan maya bukan karena dasar tidak suka, melainkan kehendak berkuasa menuntunnya melakukan itu, dan ia melakoninya dengan kejujuran sesuai pemahamannya. Dalam hal ini, ia merasa mendapatkan ruang ekspresi yang bebas. Hanya saja, kadang lepas kontrol. Berbeda dengan penyebar hoaks berbayar, mereka “keterlaluan”.

Teknologi, khususnya informasi terbuka—melihat arus masyarakat bawah (awam), keterbukaan informasi banyak memberikan beban kehidupan. Ibu-ibu di desa, tukang becak, tukang bangunan, dan tukang-tukang yang lainnya—Obrolannya PKI, obrolannya demo (212, 299, dan seterunya), obrolannya hak angket. Sesungguhnya bukan kapasitas mereka memikirkan itu, tapi mereka merasa terbebani dengan hal tersebut (berita terus-menerus membayangi mereka). Bagi kebanyakan orang, ini kesadaran politik, kesadaran sejarah, dan kesadaran-kesadaran lainnya. Bagi saya, tidak! Sesuatu hal yang sia-sia memikirkan itu (untuk mereka). Disinilah masyarakat terjebak oleh pola pikir dan pola berita “amburadul”. 

Teknologi/internet tidak bisa menjelaskan, mana orang pintar, mana orang bodoh, mana orang jahat, mana orang baik, mana orang bijaksana, mana orang tidak bijaksana, mana orang membawa kebencian, dan mana orang membawa kedamaian. Di situ kita terjebak pada ‘hutan rimba’, berisi berbagai macam binatang berakal, ada singa yang ganas, ada ular berbisa, ada pula orang hutan yang baik, ada juga kelinci yang cerdik, dan ada juga burung yang penyayang. Entahlah, siapa yang benar di antara kita? Alam maya adalah hutan yang tak berpohon, banyak kemungkinan baik dan buruk.

Kita hanya menangkapnya, setiap ada yang tidak sesuai maka ia salah. Memang demikian, kegelapan selalu memiliki banyak rupa, tetapi cahaya hanya satu. Nur (cahaya) senantiasa berbentuk tunggal. Allah berfirman, “Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang beriman. Dia membawa mereka dari dzulumat kepada nur”. (QS. Al-Baqarah [2]: 257). 

Dzulumat adalah bentuk jamak dari dzulmat, berarti kegelapan. Kenapa “nur” selalu berbentuk tunggal? Bukan karena bahasa Arab tidak mempunyai bentuk jamak untuk hal itu, tetapi karena cahaya adalah satu, asalnya satu—kesadaran akan Sang Pencipta. Tidak ada sumber petunjuk lain jika cahaya dari Allah tidak ada. (Syed Abul Hasan Ali Nadwi, Pesan Islam, 1995, hlm. 47) 

Artinya, menyekat “keterbudakan” kita terhadap teknologi ialah dengan kesadaran. Kesadaran terhadap seruan dan perintah dari Allah, untuk kita terapkan dalam realitas kehidupan, agar cahaya-cahaya Ilahi menyelimuti kita. 

Iqbal mengatakan, “Meskipun Barat (teknologi) bersinar dengan cahaya ilmu, lautan kegelapan tidak menjadi “sumber kehidupan”, suatu bangsa (manusia) yang tidak diberkati dengan cahaya Tuhan, uap dan listrik membatasi pekerjaannya.” Bisa dimaknai, teknologi adalah “sumber kehidupan” yang berada pada “lautan kegelapan”, bisa juga sebaliknya—teknologi adalah “lautan kegelapan” yang tidak mempunyai “sumber kehidupan”. 

Karena itu, alangkah indahnya sekarang kita merenung kembali, adanya teknologi (medsos, smartphone, dan internet) memberikan kemudahan terhadap hidup kita, salah satunya kemudahan dalam menebarkan kemanfaatan sebanyak-banyaknya. Kita tidak seharusnya diperbudak, dikendalikan, melainkan kita yang mengendalikan, menjadikan teknologi sebagai “sumber kehidupan” pada “lautan pencerahan”, di dalamnya berisi cahaya-cahaya Tuhan. 

Dengan demikian, kehati-hatian, kontrol diri, dan kesadaran dalam memfungsikan teknologi, khsusunya Medsos, Internet, dan smartphone menjadi hal utama. Selain kesadaran terhadap Allah—continum tak terputus—membangkitkan pula kesadaran moral/etika/akhlak, supaya kita bisa hidup bersama di alam maya, menghormati orang lain, membangun toleransi, dan menebarkan kebaikan.

Saya akhiri dengan pesan Rasulullah SAW dalam sebuah hadits, dinyatakan pada hari kiamat Allah akan berkata kepada hamba-hamba-Nya, “Aku jatuh sakit dan kamu tidak menengok Aku”. Hamba itu akan menjawab, “Engkau Tuhan seluruh alam. Bagaimana saya bisa menengok Engkau?” Kemudian Allah akan berkata, “Tidakkah kamu mengetahui si anu hambaKu sakit dan kamu tidak mau menengoknya? Seandainya kamu pergi untuk melihat dia agar dapat menggembirakan atau membantu, kamu akan mendapati Aku bersamanya.” 

Allah akan berkata lagi, “Wahai anak Adam! Aku minta makanan, tetapi kamu tidak memberi makanan kepadaKu”. Hamba itu akan menjawab, “Engkau Tuhan seluruh alam bagaimana saya dapat memberiMu makanan? Allah akan berkata, “Apakah kamu tidak menyadari bahwa si anu seorang hambaKu minta makanan kepadamu dan kamu tidak memberinya. Seandainya kamu memberi dia makanan kamu akan mendapati dia bersama Aku”. 

Allah akan berkata lagi, “Wahai anak Adam! Aku telanjang, tetapi kamu tidak menutupi aku dengan sebuah pakaian.” Hamba itu akan menjawab, “Engkau Tuhan seluruh alam. Bagaimana saya dapat memberi Engkau? Kemudian Allah akan berkata, “Si anu hambaKu meminta sesuatu kepadamu untuk dipakai dan kamu tidak memberikannya kepada dia. Seandainya kamu telah melakukan hal itu, pakaian itu akan sampai kepada-Ku.”





Penulis, Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah Kebumen, Jawa Tengah

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Kajian Islam, PonPes, Amalan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 20 Februari 2018

GP Ansor Enam Kecamatan di Sukabumi Sowan kepada Para Kiai

Sukabumi, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Gerakan Pemuda GP Ansor Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat Koordinator Wilayah Binaan IV melakukan sowan maraton kiai-kiai NU yang menjadi pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul ulama (MWC NU) di wilayah tersebut Ahad (24/7).

Para pemuda NU dari enam kecamatan tersebut berkumpul kemudian mendatangi kiai di Kecamatan Warungkiara, Bantar Gadung, Simpenan, Pelabuhan Ratu, Cikakak dan juga Cisolok.

GP Ansor Enam Kecamatan di Sukabumi Sowan kepada Para Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Enam Kecamatan di Sukabumi Sowan kepada Para Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Enam Kecamatan di Sukabumi Sowan kepada Para Kiai

Menurut Koordinator Wilayah IV? Ustadz Aang Miftahurrohmat, kegiatan tersebut adalah ajang silaturahim dan halal bihalal dari anak muda kepada orang tua.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Ini sangat diperlukan untuk supaya kenal antara pengurus MWCNU dan GP Ansor,” katanya.

Para anak muda tersebut juga meminta kepada kiai untuk memberi masukan cara berkhidmah dan berjuang di NU supaya di kecamatan masing-masing. Tak hanya itu, para kiai diminta berdoa supaya segala sesuatu yang dihadapi di lapangan berjalan dengan baik.

Didatangi para anak muda, para kiai mengaku sangat senang. Pengakuan itu misalnya disampaikan Ketua MWCNU Kecamatan Simpenan KH Zaenal Arifin.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kiai Zaenal berpesan kepada pemuda Ansor agar bisa menghargai dan menghormati masyarakat. Ketika datang di suatu tempat pemuda NU harus bisa beradaptasi dengan masyarakat.

Ia mengingatkan jangan sekali-kali menggunakan kekerasan ketika bertindak, tapi mengedepankan kelemahlembutan dan kesantunan. “Kita melihat cara dakwahnya para Wali Songo dalam menghadapi masyarakat tersebut,” katanya. (Sofyan Syarif/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ubudiyah, Amalan, Halaqoh Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 18 Februari 2018

STISNU Nusantara Tangerang Dirikan Komisariat PMII

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang, Banten, melalui badan eksekutif mahasiswa mendirikan Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sebagai bentuk pembumian Aswaja di kalangan mahasiswa setempat.

Dalam rilis yang diterima Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan, Jumat (21/11), piha STISNU mendorong organisasi ekstra kampus tersebut menjadi motor penggerak pengembangan ajaran Ahlusunah wal Jamaah di Tangerang.

STISNU Nusantara Tangerang Dirikan Komisariat PMII (Sumber Gambar : Nu Online)
STISNU Nusantara Tangerang Dirikan Komisariat PMII (Sumber Gambar : Nu Online)

STISNU Nusantara Tangerang Dirikan Komisariat PMII

“Apalagi, kalian lahir (menjadi alumni) nanti asli dari produk perguruan tinggi yang mengembangkan Aswaja sebagai manhajnya,” kata DR. Bahruddin, salah satu petinggi kampus.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sebagai upaya rintisan, Masa Pemerimaan Anggota Baru (Mapaba) yang menjadi jenjang pertama kaderisasi PMII telah dilaksanakan 6 November lalu. Mapaba kemudian dilanjutkan dengan Pelatihan Kader Dasar (PKD) pada hari berikutnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

STISNU Nusantara mewajibkan mahasiswanya untuk bergabung di organisasi ini. Tercatat ada 126 mahasiswa yang telah terdaftar. “Insya Allah, berawal dari kampus PTNU (perguruan tinggi NU), kami bisa meng-Aswaja-kan generasi muda di Tangerang,” tutur Eko Wiyono, ketua panitia Mapaba dan PKD. (Mahbib Khoiron)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Kyai, Amalan, Syariah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 15 Februari 2018

PCNU Sumedang Serahkan Mobil Operasional ke Pengurus Lembaga

Sumedang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumedang memberikan mobil operasional kepada pengurus Lembaga Pendidikan Ma’arif NU setempat. Secara sombolis, kunci mobil diserahkan Ketua PCNU Sumedang H Sadulloh kepada Ketua LP Maarif NU Sumedang Cucu Suhayat.

PCNU Sumedang Serahkan Mobil Operasional ke Pengurus Lembaga (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Sumedang Serahkan Mobil Operasional ke Pengurus Lembaga (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Sumedang Serahkan Mobil Operasional ke Pengurus Lembaga

Sadulloh mangatakan bahwa sampai saat ini sekolah-sekolah formal yang berada di bawah LP Maarif NU Sumedang sudah mencapai 50 sekolah. Sekolah-sekolah itu tersebar di seluruh pelosok Kabupaten Sumedang. “Sudah sewajarnya kami memberikan mobil operasional kepada LP Maarif untuk memantau sekolah-sekolah NU tersebut,” ujarnya.

Kedepan, imbuhnya, tidak hanya pengurus LP Maarif, pengurus lembaga lain pun boleh memakai mobil operasional ini. “Alhamdulillah sampai saat ini PCNU Sumedang sudah memiliki kendaraan operasional tiga buah mobil. Mudah-mudahan kedepannya masih bisa bertambah untuk kemajuan NU di Sumedang,” tuturnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Penyerahan mobil operasional dilakukan dalam rangkaian acara pengukuhan pengurus Lembaga Pendidikan (LP) Maarif NU dan Lembaga Wakaf dan Pertanahan NU (LWPNU) Kabupaten Sumedang. Kegiatan yang dirangkai dengan acara Maulid Nabi Muhammad itu berlangsung di halaman kantor PCNU Sumedang, Sabtu (16/1).

Selain acara pelantikan, kegiatan muludan di PCNU Sumedang juga diisi dengan kegiatan santunan beasiswa kepada anak berprestasi dan mauidhah hasanah. Sebanyak 20 santri terbaik  yang sedang menghafal Al-Quran diberikan beasiswa pendidikan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pengisi tausyiah dalam kegiatan muludan kali ini adalah KH Asep Shoheh dari Indramayu. Tema yang dibahas yaitu peranan NU dalam membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia. (Ayi Abdul Kohar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Internasional, Humor Islam, Amalan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 10 Februari 2018

MUI: Menjaga Keutuhan NKRI adalah Kewajiban

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Maruf Amin menjelaskan, Indonesia adalah negara kesepakatan bersama. Semua kelompok masyarakat baik yang Muslim maupun yang non-Muslim berjanji untuk saling menjaga, mencintai, dan menyayangi.

“Dan berjanji untuk saling membantu dan menolong (satu sama lainnya),” kata Kiai Maruf saat memberikan sambutan dalam acara Halaqah Nasional dan Rapat Kerja Nasional Komisi Hukum dan Perundang-undangan MUI di Hotel Menara Peninsula Jakarta, Kamis (12/10) malam.

MUI: Menjaga Keutuhan NKRI adalah Kewajiban (Sumber Gambar : Nu Online)
MUI: Menjaga Keutuhan NKRI adalah Kewajiban (Sumber Gambar : Nu Online)

MUI: Menjaga Keutuhan NKRI adalah Kewajiban

Mengutip Teori Al-Ghazali, Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu menuturkan bahwa sebuah negara terbentuk karena adanya sebuah ketergantungan atau inderdependensi antarsatu elemen masyarakat dengan yang lainnya. Misalkan seorang petani membutuhkan alat-alat pertanian, maka diperlukanlah industri pertanian. Untuk mengangkut hasil panen, mereka membutuhkan alat transportasi sehingga mereka memerlukan industri transportasi.

“Jika keamanannya terganggu, maka perlu tentara. Karena saling tergantung maka kita membentuk negara. Ini teori Imam Ghazali yang sudah ada seribu tahun tahun yang lalu,” jelas penerima gelar profesor dari UIN Malik Ibrahim Malang itu.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Menurut dia, tujuan pendirian sebuah negara tidak lain adalah untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat sebagaimana yang tercetus dalam kaidah hukum Islam bahwa apapun yang diperbuat oleh seorang pemimpin itu harus bermuara pada kemaslahatan rakyatnya.

“Kemaslahatan yang lahir tidak boleh bertentangan dengan kebangsaan dan keislaman. Pun tidak boleh bertentangan dengan nash. Kalau ada kemaslahatan yang bertentangan dengan nash, itu bukan maslahat yang hakiki tetapi dugaan saja,” terangnya.

Oleh sebab itu, dengan terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) maka seluruh masyarakat Indonesia harus bersyukur karena urusan dasar negara sudang diselesaikan oleh para pendiri bangsa ini.

“Meski sudah final (dasar negara Indonesia), tetapi ada kelompok yang belum memiliki komitmen penuh terhadap kebangsaan kita,” katanya.

Maka dari itu, ia menghimbau kepada seluruh pengurus MUI khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya untuk mengawal dan menjaga kesatuan NKRI.

“Kita memiliki kewajiban untuk mengawal hubungan yang baik antara Islam dan kebangsaan,” tegasnya.

“Ini tugas kita menjaga NKRI,” tutupnya. (Muchlishon Rochmat/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Amalan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 01 Februari 2018

Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta Gelar Pemantapan Kurikulum

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Para dosen Pascasarjana Program Magister (PPM) Islam Nusantara Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta menggelar diskusi pemantapan kurikulum tahun akademik 2015/2016 di ruang Media Center lantai 5 Gedung PBNU Jakarta, Rabu (7/10) sebelum proses perkuliahaan perdana dimulai.

Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta Gelar Pemantapan Kurikulum (Sumber Gambar : Nu Online)
Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta Gelar Pemantapan Kurikulum (Sumber Gambar : Nu Online)

Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta Gelar Pemantapan Kurikulum

“Rapat dan diskusi ini digelar guna mengevaluasi proses perkuliahaan yang telah lalu sehingga bisa memperbarui kualitas kurikulum dan proses perkuliahaan ke arah yang lebih baik,” ujar Asisten Direktur Pascasarjana, Dr Muhammad Ulinnuha Husnan, MA.

Dari dinamika diskusi berdasarkan beberapa semester lalu yang sudah berjalan, para dosen sepakat untuk memasukkan matrikulasi bahasa. Antara lain bahasa Belanda, Arab, dan Jawa.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Alasannya jelas, karena literatur-literatur terkait sejarah Islam di Nusantara sangat banyak yang masih berbahasa Belanda dan Jawa selain Arab dan Arab pegon,” terang Ulin.

Diskusi ini dihadiri oleh narasumber diantaranya, Prof Dr M Dien Madjid, Dr Rumadi, Dr Mastuki Hs, dan Hamdani, PhD. Serta para staf akademik, Muhammad Afifi, MH, Ayatullah, MFil, dan Muhammad Idris Masudi, Lc, SThI.

Angkatan pertama, PPM Islam Nusantara STAINU Jakarta berhasil mencetak magister pertama sebanyak 45 orang dengan mengkaji tesis mengenai khazanah Islam Nusantara dari berbagai daerah di Indonesia.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Tahun akademik 2015/2016 ini, pascasarjana menerima sebanyak 90 mahasiswa dari berbagai program beasiswa. Program beasiswa Kemenag untuk guru sebanyak 20 orang, beasiswa program pendidikan kader ulama (PKU) sebanyak 25 orang, program beasiswa 1 tahun STAINU Jakarta 30 orang, dan 25 orang lagi dari program beasiswa Yayasan Said Aqil Siroj. Perkuliahaan perdana akan dilaksanakan mulai Jumat, 9 Oktober 2015 besok. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Amalan, Anti Hoax Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 14 Januari 2018

Lakpesdam PBNU Siap Fasilitasi MWCNU Gerakkan Ranting

Garut, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) PBNU mempersilakan bagi kepengurusan NU di tingkat mana saja untuk mengadakan Pelatihan Penggerak Ranting. Lakpesdam PBNU siap memfasilitasi kegiatan yang menjadi program kerja lembaga yang lahir 7 April 1985 ini.

Lakpesdam PBNU Siap Fasilitasi MWCNU Gerakkan Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam PBNU Siap Fasilitasi MWCNU Gerakkan Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakpesdam PBNU Siap Fasilitasi MWCNU Gerakkan Ranting

"Lakpesdam PBNU sangat siap untuk memfasilitasi kegiatan pelatihan-pelatihan semacam ini. Kemana pun, bahkan walau yang mengundang setingkat MWC (Majelis Wakil Cabang NU) sekalipun kita siap untuk datang. Asalkan waktunya saja yang sesuai," kata Sekretaris Lakpesdam PBNU Marzuki Wahid.

Marzuki menyampaikan hal itu saat mengisi Pelatihan Penggerak Ranting yang digelar Lakpesdam PCNU Garut di Pesantren Al-Fauzaniyah Garut, Jawa Barat, Sabtu-Ahad (28-29/5). Pelatihan ini diikuti oleh beberapa utusan dari kabupaten/kota terdekat, antara lain Sumedang, Cimahi, dan Bandung.? Semuanya berjumlah 30 peserta.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Marzuki yang menjadi fasilitator dalam kegiatan ini membawa beberapa trainer (trainer) lainnya antara lain Abdullah Ubed, Kepala Divisi Pemberdayaan Manusia; dan pengurus dan staf lainnya, Tsabit Al-Fauzi dan Rofii.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Materi yang akan disampaikan dalam kesempatan ini meliputi NU dan Aswaja, Penataan Organisasi Ranting, Pengorganisasian, serta Profil dan Penggerak Ranting.

"Pelatihan ini diselenggarakan atas dasar realita akar permasalahan umat yang sering terjadi di tingkat ranting,” kata Hilwan Faqih, Ketua Lakpesdam NU Garut yang juga penyelenggara pelatihan ini.

Ketika rantingnya kuat, otomatis NU secara kesuluruhan pun akan kuat. Apalah artinya cabang banyak kegiatan, tetapi rantingnya minim kegiatan, tambahnya.

Seluruh peserta tampak sangat antusias atas diselenggarakan pelatihan ini. Mereka berharap sepulang dari pelatihan ini dapat mampu menjadi trainer-trainer yang hebat, yang bisa memfasilitasi kepada ranting-ranting di daerahnya tentang pemahaman akan Aswaja dan NU.

"Terima kasih atas terselenggaranya pelatihan penggerak ranting ini. Banyak ilmu serta pengalaman yang baru, di samping kita juga bisa sharing dengan fasilitator dan peserta yang lain. Sungguh pelatihan ini sangat bermanfaat," tutur Ramli salah satu peserta pada pelatihan ini. (Syarif Hidayatullah/Ayi Abdul Kohar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Amalan, Humor Islam, Habib Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 08 Januari 2018

Ini Pandangan GP Ansor Sumbar Terkait Pembakaran Mapolres Dharmasraya

Padang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Sumatera Barat mengecam keras aksi pembakaran Mapolres Dharmasraya Ahad (12/11) dini hari sekitar pukul 02.45 WIB. Apapun alasannya aksi pembakaran tersebut merupakan tindakan biadab dan jelas merongrong Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Hal disampaikan Ketua GP Ansor Sumbar Rahmat Tuanku Sulaiman, Senin (13/11) di Padang menanggapi aksi pembakaran Mapolres Dharmasraya. Menurut Rahmat, aksi ini merupakan tindakan keji dan mengancam stabilitas dan keamanan di daerah Sumatera Barat.

Ini Pandangan GP Ansor Sumbar Terkait Pembakaran Mapolres Dharmasraya (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Pandangan GP Ansor Sumbar Terkait Pembakaran Mapolres Dharmasraya (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Pandangan GP Ansor Sumbar Terkait Pembakaran Mapolres Dharmasraya

"Pembakaran Mapolres sebagai simbol lembaga keamanan di negara ini merupakan ancaman yang sangat serius dan perlu pengusutan tuntas. Bayangkan, simbol keamanan negara ini saja dimusnahkannya. Apalagi yang lain?" kata Rahmat kandidat doktor ini.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

GP Ansor Sumbar mendorong dan minta Kapolda bersama jajarannya untuk mengusut tuntas motif pelakunya sehingga peristiwa ini jangan sampai terulang lagi di Sumatera Barat.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Dari informasi yang sudah dipublis media, pelakunya merupakan generasi muda yang sudah berani melakukan pemboman dan pembakaran institusi negara. Mereka masuk dari luar Sumatera Barat," kata Rahmat.

Dari peristiwa ini, kata Rahmat, menunjukkan ancaman radikalisme itu sudah di depan mata. Generasi muda yang didoktrin dengan paham radikal akan melakukan apapun yang dianggapnya benar, termasuk melakukan kekerasan, pembunuhan, pemboman dan pembakaran terhadap institusi pemerintah. Ironisnya, paham radikal ini dengan mudah didapatkan seseorang melalui media sosial, jaringan internet maupun komunikasi jarak jauh.

Rahmat mengimbau para orang tua untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap anak dan generasi mudanya agar jangan sampai terpengaruh paham radikal tersebut. Pembinaan generasi muda melalui kegiatan-kegiatan positif dan jauh dari paham radikal perlu semakin ditingkatkan. Terutama organisasi pemuda yang mengajarkan paham Islam rahmatan lil alamin terus didorong untuk berperan aktif dalam berbagai program pembangunan. (Armaidi Tanjung/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Amalan, Cerita Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 29 Desember 2017

Ada Tiga Kesamaan Antara Santri dan Kartun, Kata Menag

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Selama ini, santri identik dengan mengaji. Sementara kartun adalah karya seni. Menyandingkan santri dan kartun bagi sebagian orang mungkin terasa aneh dan memberi kesan tersendiri.

“Apa pertautan antara kartun dan santri?” demikian pertanyaan Menteri Agama mengawali sambutannya saat launching Pameran Kartun Santri Nasional di Galeri Nasional, Jakarta, Selasa (24/11) malam.

Ada Tiga Kesamaan Antara Santri dan Kartun, Kata Menag (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada Tiga Kesamaan Antara Santri dan Kartun, Kata Menag (Sumber Gambar : Nu Online)

Ada Tiga Kesamaan Antara Santri dan Kartun, Kata Menag

Menurut Menag, banyak kesamaan antara seni kartun dan santri, dan 3 di antaranya adalah: pertama, kartun dan santri sama-sama memiliki ruh, memiliki jiwa intelektual. Dikatakan Menag, baik kartun maupun santri selalu mengajak seseorang untuk berfikir. Santri senang melakukan pengkajian, penelaahan, aktivitas yang tidak bisa dilepaskan dari berfikir.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Kartun selalu merupakan artikulasi apa yang ada dalam fikiran yang dituangkan dalam bentuk lukisan,visual, dan gambar,” terangnya.

Kedua, baik kartun ataupun santri selalu berupaya mengubah kehidupan sosial kemasyarakatan ke arah yang lebih baik, apalagi jika muatan pesannya berupa kritik-kritik sosial.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ketiga, kartun dan santri, keduanya mengandung unsur homor, setidak-tidaknya suka dengan hal-hal yang humoris. Karya-karya kartun sangat kaya dengan nilai humor, santri juga kaya dengan humor.?

“Kalau gak suka humor, perlu dipertanyakan kesantriannya,” canda Menag.

Menag berharap kartun ke depan menjadi ajang para santri dalam menyampaikan gagasan tentang ke-Islaman dan ke-Indonesiaan sehingga terasa lebih ringan dan mudah diterima. Islam tidak selalu disampaikan dengan teori-teori yang berat, namun bisa juga dengan santai.?

“Dunia kartun merupakan media yang strategis untuk menyampaikan kedamaian, toleransi kesejukan, sehingga kehidupan keberagamaan kita semakin baik,” kata Menag seperti dikutip dari laman kemenag.go.id.

Senada dengan Menag, Dirjen Pendis Kamaruddin Amin menyampaikan bahwa direktorat yang dipimpinnya akan terus mengkampanyekan bahwa pesantren merupakan penjaga Islam Nusantara yang konsisten. Di tengah perkembangan zaman yang ada, harapannya pesan-pesan melalui kartun dapat mengubah yang berat dan menjadi mudah dicerna. ?

Sementara itu, Kurator Kartun Indonesia Kuss Indarto menyampaikan, agama itu bersumber dari wahyu dan memiliki norma-normanya sendiri, yang bersifat normatif, sehingga ia cenderung menjadi permanen.

Sedangkan budaya, merupakan buatan manusia, maka ia berkembang sesuai dengan perkembagan zaman dan cenderung untuk selalu berubah. Oleh karenanya, Kuss berharap berharap Kemenag bisa menjadikan kartun sebagai salah satu sarana pencapai tujuannya untuk dapat menyampaikan ajaran Islam dengan seni kartun.

Launching Pameran Kartun Santri Nasional dimeriahkan dengan pembacaan puisi oleh santri yang kini menjadi sastrawan nasional asal Madura, KH Zawawi Imron. Sebelumnya membacakan puisinya, ? seniman yang dikenal dengan Celurit Emas ini menyampaikan bahwa dirinya adalah kartun. Kepada ratusan pengunjung yang hadir memadati venue pameran, Zawawi mengaku masih bingung siapakah dia sebenarnya. Ke mana-kemana dengan tongkat yang mengikutinya, atau dirinya yang mengikuti tongkat. Tapi biarlah itu menjadi misteri, paparnya.

“Telur…. Dubur ayam yang mengeluarkan telur, lebih mulia dari mulut intelektual yang hanya menjanjikan telur,” demikian KH Zawawi Imron mulai membacakan puisinya.

Selain puisi telur, KH Zawawi Imron juga membacakan puisinya tentang “Cinta Tanah Air Model Pesantren” dan puisi tentang “Ibu”. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Amalan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 25 Desember 2017

GP Ansor Desak Presiden Evaluasi Kinerja Menteri Pertanian

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan



Ketua Bidang Pertanian, Kedaulatan Pangan dan ESDM Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Adhe Musa Said prihatin melihat nasib petani yang cenderung tidak mengalami perubahan dari waktu ke waktu.?

Hal tersebut disampaikan Adhe Musa Said di Kantor GP Ansor, Jakarta, pada Diskusi Refleksi Akhir Tahun Gerakan Pemuda Ansor dalam menyikapi kebijakan Kementerian Pertanian Selasa, (19/12).

GP Ansor Desak Presiden Evaluasi Kinerja Menteri Pertanian (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Desak Presiden Evaluasi Kinerja Menteri Pertanian (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Desak Presiden Evaluasi Kinerja Menteri Pertanian

Menurutnya, kinerja Kementerian Pertanian jauh dari harapan yang diharapkan dapat meningkatkan kesejah teraan petani.?

“Kementerian Pertanian era Jokowi-JK terkesan hanya meneruskan kebijakan pemerintahan sebelumnya, yang berputar-putat pada wilayah yang sama dan tidak membawa dampak signifikan pada perubahan wajah pertanian tanah air, maupun kesejahteraan petani," terang Adhe.?

Ia menilai, sektor pertanian memiliki peran strategis dalam menopang pembangunan perekonomian nasional jika pemerintah memiliki konsen yang tinggi pada wilayah ini. Tapi ia melihat, pemerintah lewat Kementerian Pertanian terkesan tidak serius untuk memacu sektor pertanian.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Pemerintahan saat ini tidak serius mengurusi pertanian. Lihat saja tidak ada kebijakan Kementerian Pertanian yang mengupayakan penyediaan lahan yang subur lewat pupuk yang baik, penyediaan benih yang bagus, dan penyediaan pasar untuk menampung hasil pertanian dengan baik pula agar petani sejahtera. Bahkan yang terjadi petani malah mulai kehilangan generasi, karena sektor ini dianggap tidak menjamin dalam memenuhi kebutuhan kehidupan keluarga," papar Adhe.?

Adhe menyesalkan, kebijakan Kementerian Pertanian terlihat hanya fokus pada tiga komoditi seperti padi, jagung dan kedelai semata. Sedangkan bumi Indonesia kaya akan keanekaragaman hayati yang memiliki nilai ekonomi tinggi namun tidak tersentuh dan cenderung terabaikan.?

"Jika hanya fokus pada tiga komoditi pertanian semata, ya jangan heran jika Indonesia akan terus dibanjiri impor komoditi pertanian dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri," lanjut Adhe.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ia menambahkan, pemerintah seharusnya sadar, lebih dari 60 persen produsen pangan di negara ini adalah petani kecil yang memiliki luas lahan di bawah 1 hektar. Jika pemerintah tidak memikirkan ini, petani yang memiliki lahan terbatas hanya menjadi penonton program bagi-bagi benih dan pupuk yang nilainya trilyunan rupiah. Ia khawatir, program pupuk bersubsidi senilai Rp 30,063 triliun akan membuka peluang untuk penyelewengan. Begitu juga dengan pengadaan mesin pertanian Rp 360 miliar pra panen dan Rp 8,32 miliar pasca panen, berpotensi salah sasaran. Serta pencetakan sawah Rp 1,76 triliun yang menyebabkan kerusakan ekologis.

"Menteri Pertanian hanya meneruskan kebijakan menteri pertanian sebelumnya yang selalu menihilkan peran petani untuk menggeser pola produksi pertanian dari orientasi subsisten ke bisnis," kata Adhe. Ade menghimbau, sebaiknya kembalikan pola konsolidasi petani cukup sampai kelompok tani. Pemerintah harus mengevaluasi diri, jika dianggap tidak layak sebaiknya Presiden melakukan reshufle Menteri Pertanian.?

"Mengurusi pertanian tidak boleh terkesan main-main. Jika tidak dapat menjalankan amanat Presiden Jokowi yang tercantum dalam visi nawacita, sebaiknya Presiden mengganti Menteri Pertanian dengan figur baru yang memiliki visi lebih baik untuk pertanian," tutup Adhe. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Meme Islam, Amalan, RMI NU Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 15 Desember 2017

PBNU Penuhi Undangan Muslim Tiongkok

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj beserta beserta beberapa pengurus lainn berkunjung ke Tiongkok mulai Senin (18/4). Rencananya, rombongan tersebut akan berada di negara tirai bambu selama satu minggu ke depan.

Pada hari pertama, rombongan tersebut tiba di Provinsi Beijing dan langsung disambut hangat Kepala Direktori Urusan Agama Pemerintah Tiongkok, Wung Zuoan. ?

PBNU Penuhi Undangan Muslim Tiongkok (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Penuhi Undangan Muslim Tiongkok (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Penuhi Undangan Muslim Tiongkok

Sekretaris pribadi Kiai Said, Muhammad Sofwan menuturkan ihwal lawatan PBNU ke Tiongkok tersebut yaitu untuk memenuhi undangan dari komunitas muslim Tionghoa.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Agenda ini (kunjungan ke Tiongkok) dalam rangka memenuhi undangan dari komunitas Muslim Tionghoa,” jelas Sofwan.

Di dalam sambutannya, Kiai Said menjelaskan bahwa hubungan Islam Tiongkok dan Indonesia sudah terjalin sejak lama. Baginya, Tiongkok merupakan salah satu negara yang berhasil mewarnai dunia Islam di Indonesia.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kiai yang akrab disapa Kang Said mengatakan, kontak Islam Tiongkok dan Indonesia diawali saat panglima Cheng Ho datang ke Indonesia dan membawa pasukan muslim. “Kemudian Cheng Ho membangun kota Semarang (sebagai pusat peradaban Islam),” jelas Kang Said di hadapan komunitas Muslim Tiongkok Beijing.

Pengasuh Pesantren As-Tsaqofah tersebut menilai bahwa Muslim Tiongkok memiliki peran yang sangat penting terhadap penyebaran Islam di Indonesia. “(Muslim) China sangat penting perannya bagi Indonesia,” tegasnya.

Kang Said mengatakan bahwa antara Indonesia dan Tiongkok memiliki pandangan yang sama tentang Islam adalah agama yang damai dan ia mendorong agar Islam berkembang pesat di negara tersebut. “Model Islam seperti inilah yang harus kita jaga,” terangnya.

Munculnya ekstrimisme, imbuh Kang Said, harus terus diwaspadai meskipun jumlahnya kecil. Menurutnya, cara yang efektif untuk menghalang ideologi-ideologi radikal adalah dengan jalan pendidikan.? ?

Ia menyampaikan rasa duka cita terhadap konflik yang terjadi di negara-negara Timur Tengah yang tidak kunjung selesai. Maka dari itu, ia menilai bahwa saling bertukar pandangan antarsesama muslim adalah sesuatu yang penting untuk menyamakan persepsi dan mewujudkan Islam yang damai, moderat, dan toleran. ?

Turut serta dalam lawatan ke Tiongkok tersebut Nyai Hj. Nurhayati Said (istri Kang Said), H Bina Suhendra (Bendahara Umum PBNU), Eman Suryaman (Ketua PBNU), Muhammad Said Aqil (Wasekjen PBNU), dan Muhammad Sofwan (sekretaris pribadi Kang Said). (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Makam, Bahtsul Masail, Amalan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 09 Desember 2017

Maarif NU Protes SE Mendagri Larang APBD untuk Madrasah

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pengurus Pusat Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (PP LP Ma’arif NU) memprotes Surat Edaran (SE) Menteri Dalam Negeri yang melarang Pemerintah Daerah mengalokasikan dana APBN untuk pengambangan mutu pendidikan madrasah.

Lembaga departementasi Nahdlatul Ulama (NU) itu melayangkan surat protes dan keberatan atas kebijakan tersebut.

Maarif NU Protes SE Mendagri Larang APBD untuk Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)
Maarif NU Protes SE Mendagri Larang APBD untuk Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)

Maarif NU Protes SE Mendagri Larang APBD untuk Madrasah

Sekretaris PP LP Ma’arif NU Dr. Mamat S. Burhanuddin menyatakan, bahwa SE yang dikeluarkan Mendagri tersebut syarat dengan muatan diskriminasi, sehingga bertentangan dengan Pasal 31 UUD 1945, dan Pasal 4 ayat (1) serta Pasal 55 ayat (4) UU Sisdiknas No. 20/2003.

“Ini bukti bahwa sistem pendidikan nasional kita berjalan masih sangat diskriminatif. Peserta didik yang belajar di sekolah atau madrasah kan sama-sama anak bangsa Indonesia, sehingga mereka memiliki hak sama dari pemerintah. Tidak dibenarkan pemerintah daerah hanya diperbolehkan membantu peserta didik yang ada di sekolah saja,  sedangkan peserta didik yang belajar di madrasah tidak boleh diberi bantuan dari APBD, ini jelas tidak adil,” tandasnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selain itu, ia menambahkan, kebijakan ini mencerminkan bahwa pemerintah tidak memiliki sensitifitas terhadap problematika pendidikan madrasah. Mendagri harusnya mengapresiasi pendidikan madrasah, baik formal maupun non-formal sebagai bentuk peran kongkrit masyarakat dalam membangun bangsa dan negara, bukan malah memberangus dengan mengeluarkan kebijakan yang diskriminatif.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Sampai saat ini, secara keseluruhan jumlah madrasah adalah 90% swasta, yang negeri hanya sekitar 10%. Bahkan madrasah non-formal seperti Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) 100% semuanya swasta, didirikan oleh masyarakat dengan tulus untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Terus kenapa hal yang demikian malah tidak diperhatikan oleh pemerintah?” lanjut Mamat.

Ia menekankan bahwa PP LP Ma’arif NU sebagai kepanjangan tangan PBNU akan terus mendesak kepada Mendagri agar membatalkan SE tersebut. “Surat keberatan sudah kami kirim ke Mendagri. Jika dalam 7 x 24 jam tidak ada perkembangan, maka kami akan menindaklanjuti lebih tegas lagi,” ujarnya. 

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Nasional, Humor Islam, Amalan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 26 November 2017

Peringati Hari Kartini, Aktivis Perempuan NU Gelar Aksi

Subang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Puluhan aktivis Perempuan yang terdiri dari Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (Kopri), dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Cabang Kabupaten Subang menggelar aksi unjuk rasa dan seruan moral dengan membagi-bagikan selebaran dan karangan bunga di jantung kota Pamanukan, Ahad (21/4).

Peringati Hari Kartini, Aktivis Perempuan NU Gelar Aksi (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Hari Kartini, Aktivis Perempuan NU Gelar Aksi (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Hari Kartini, Aktivis Perempuan NU Gelar Aksi

Puluhan aparat yang mengawal aksi tersebut kewalahan saat melerai kemaacetan yang panjang. Namun, para pengguna jalan di kawasan tersebut begitu antusias menyaksikan jalannya aksi yang dilakukan oleh kartini-kartini muda Nahdliyyien tersebut.

Menurut Ketua Kopri Cabang Subang, Neneng Nurhasanah, pihaknya sangat prihatin dengan maraknya kasus-kasus yang mengarah kepada pendiskriminasian terhadap kaum perempuan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Hal ini terbukti dalam beberapa kasus terakhir yang dialami oleh kaum perempuan masih mendominasi di tengah-tengah kehidupan yang demokratis ini. Kami menuntut kepada Pemerintah agar mampu melindungi kaum perempuan dari penindasan,” tegas Neneng.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Cabang Subang, Nurul Jannah bahwa Undang-undang yang memperjuangkan kaum perempuan dirasa belum bisa maksimal dirasakan oleh perempuan itu sendiri.

“Termasuk bagaimana kita menyaksikan kasus Tenaga Kerja Wanita (TKW,red) yang pada kenyataannya mereka diperjualbelikan di luar negeri. Ini mengindikasikan betapa lemahnya perundang-undangan yang belum dirasakan manfaatnya oleh perempuan.”

“Bahkan, menjelang pemilihan legislatif pun yang mengharsukan ada keterwakilan kuota 30 % perempuan belum bisa menjamin. Untuk itu, kami meminta kepada pemerintah dan legislatif agar jangan hanya slogan semata memperjuangkan perempuan Indonesia,” pungkasnya.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Ade Mahmudin

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Sholawat, Amalan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 20 November 2017

Khofifah: Tradisi "Menulis dari Kanan" Sudah Jarang

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Derasnya penjajahan smartphone atau gadget terhadap anak-anak zaman sekarang berimplikasi pada jarangnya "tradisi menulis dari kanan". Mereka lebih asik mengaplikasikan apapun termasuk menulis melalui gadget ketimbang belajar menulis Al-Qur’an lewat ngaji langsung kepada kiai maupun ustadz.

Hal itu diungkapkan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (PP Muslimat NU) Hj Khofifah Indar Parawansa, Kamis (20/10) ketika memberikan pengarahan dalam Workshop Penguatan Materi Dakwah dan Kurikulum TPQ yang digelar PP Muslimat NU di Hotel Bintang Jakarta Pusat.

Khofifah: Tradisi Menulis dari Kanan Sudah Jarang (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah: Tradisi Menulis dari Kanan Sudah Jarang (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah: Tradisi "Menulis dari Kanan" Sudah Jarang

Berkurangnya tradisi menulis dari kanan bagi anak-anak zaman sekarang menjadi keprihatinan Muslimat NU untuk kemudian merancang buku penguatan materi dakwah dan kurikulum TPQ (Taman Pendidikan Al-Qur’an).

“Menulis (dari kanan) itu tradisi, kalau bukan Muslimat NU yang sadar dan prihatin, siapa lagi,” tukas Menteri Sosial RI ini.

Perempuan kelahiran Surabaya 51 tahun yang lalu ini memberikan perumpamaan ketika ada seorang perempuan yang ingin membaca Al-Qur’an. Jika benar-benar ngaji, maka dia akan segera mengambil air wudhu dan menutup kepala dengan kerudung.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Jika sudah membacanya lewat gadget, kapan saja dan di mana saja akan dia lakukan walau tak punya wudhu dan menutup aurat,” terangnya.?

Khofifah bermaksud ingin menunjukkan bahwa tradisi luhur keagamaan yang mampu membawa manusia pada syariat yang benar dan santun tereduksi oleh teknologi bernama gadget, baik membaca maupun menulis Al-Qur’an.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sehingga menurutnya, Muslimat NU harus menjadi garda depan peneguh tradisi ngaji lewat lembaga-lembaga di bawah naungan Muslimat yang memang selama ini sudah aktif bergerak di tengah masyarakat, terutama bidang pendidikan (Yayasan Pendidikan Muslimat NU) dan dakwah (Himpunan Daiyah Muslimat NU).

Kegiatan workhsop ini dihadiri oleh para pengurus PP Muslimat NU. Sebelumnya, kegiatan yang terselenggara atas kerja sama Muslimat dengan Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama ini dibuka oleh Sekretaris Ditjen Bimas Islam, H Muhammadiyah Amin. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Amalan, Halaqoh, Bahtsul Masail Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 14 November 2017

Satkorcab Rembang Kirimkan 30 Banser Bantu Korban Puting Beliung

Rembang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Satkorcab Banser Kabupaten Rembang menurunkan 30 pasukan untuk membantu para korban puting beliung di Desa Beringin Warang Kecamatan Winong Kabupaten Pati, Selasa (10/1) pagi. Mereka adalah tim terbaik Bagana yang dimiliki oleh Satkoryon Kecamatan Kaliori dan Sumber.

Kasatkoryon Banser Kaliori sebagai penanggung jawab pasukan menjelaskan, setidaknya ada 60 rumah rusak dan satu rumah roboh akibat terjangan angin. Pemilik rumah berhasil menyelamatkan diri sehingga tak ada korban jika akibat kejadian ini.

Satkorcab Rembang Kirimkan 30 Banser Bantu Korban Puting Beliung (Sumber Gambar : Nu Online)
Satkorcab Rembang Kirimkan 30 Banser Bantu Korban Puting Beliung (Sumber Gambar : Nu Online)

Satkorcab Rembang Kirimkan 30 Banser Bantu Korban Puting Beliung

"Pemilik rumah roboh atas nama Parmi (60) yang berada di RT 02, RW 01, Desa Beringin Wareng Kecamatan Winong Kabupaten Pati," jelasnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Salah seorang anggota Banser asal Kecamatan Sumber Ahmad Rifai menjelaskan, ia bersama pasukan yang lain berangkat dari Rembang pada pukul 08.00 wib. Dengan anggota lainnya ia berhasil membantu membenahi dua rumah dan satu mushola, yang gentingnya diterbangkan oleh angin.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Kami berhasil membantu dua rumah warga yang porak-poranda diterbangkan angin. Selain itu satu mushola juga rusak, tapi kami sudah berhasil memperbaiki dan sudah bisa digunakan beraktivitas kembali," kata Rifai.

Angina puting beliung mengamuk di Desa Beringin Warang Kecamatan Winong pada Senin (9/1) pukul 15.30 wib. Data sementara menyebutkan, sebanyak 60 rumah mengalami kerusakan. Satu rumah roboh.

Pasukan Satkorcab Banser Rembang langsung mengadakan tanggap bencana membantu para korban yang mengalami musibah. Pada hari Selasa Satuan Bagana Satkoryon Kecamatan Sumber langsung berangkat Pukul 08.00 dan pulang pada pukul 15.00 wib. Selain dari relawan Banser Rembang, tampak para anggota Banser dan relawan bencana dari Kabupaten Pati. (Ahmad Asmui/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Kajian, Sejarah, Amalan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 11 November 2017

Ini Alasan Masyarakat Sambut Jamaah Haji

Sidoarjo, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan ? . Jamah haji asal Indonesia yang sudah menunaikan ibadah rukun Islam kelima itu mulai berdatangan di wilayahnya masing-masing. Untuk jamaah haji asal Sidoarjo diprediksi akan sampai di bandara Juanda Sidoarjo pada 29 dan 30 September mendatang. Dari kedatangannya itu, ribuan jamah haji akan disambut keluarganya masing-masing untuk mencari keutamaan doa dari jamaah haji.

Ini Alasan Masyarakat Sambut Jamaah Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Alasan Masyarakat Sambut Jamaah Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Alasan Masyarakat Sambut Jamaah Haji

Menurut Kepala Kantor Kemenag Sidoarjo H Achmad Rofii, sudah menjadi tradisi bagi masyarakat menjemput jamaah haji menjadi target mereka semua. Pasalnya, masyarakat meyakini bahwa doa yang dipanjatkan jamaah haji itu mudah diterima Allah SWT.

Disamping itu, lanjut Rofii, ada fadilah atau keutamaan dari kedatangan jamaah haji ke tanah air, keluarga dan tetangga biasanya mencari fadilah tersebut dengan mendatangi rumah jamaah haji dan meminta untuk didoakan. Tradisi ini sudah menjadi tradisi secara turun-temurun.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Banyak kaum Muslim mempercayai bahwa doa yang dibawa seluruh jamah haji (mabrur-red) itu muda dikabulkan Allah SWT, sehingga banyak warga berangkulan untuk memeluk jamaah haji yang masih didampingi para malaikat. Dari sugesti itu, tradisi fadilah menjadi keutamaan tersendiri bagi kaum Muslim untuk mencari doa yang mudah dikabulkan," kata Rofii, Senin (26/9).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rencananya, dalam kepulangan para jamah haji asal Sidoarjo akan dijemput puluhan armada dari Bandara Juanda di Sidoarjo menuju embarkasi Surabaya. Setiba di embarkasi Surabaya, dimungkinkan banyak keluarga yang akan menjemput jamaah haji secara pribadi. Mengingat Surabaya dekat dengan Sidoarjo. (Moh Kholidun/Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Amalan, Pesantren Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 06 November 2017

Bangsa Ini Hilang Selera Humor, Makanya Sering Berselisih

Kudus, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Habib Anis Sholeh Baasyin menyebutkan bahwa saat ini bangsa Indonesia membutuhkan selera humor yang lebih besar. Karena tidak jarang selera humor bisa menghindarkan perselisihan.

“Sekarang ini orang sudah kehilangan selera humor. Makanya sering terjadi perselisihan,” ujar Habib Anis saat membuka diskusi Suluk Maleman Sabtu (21/10) kemarin.

Bangsa Ini Hilang Selera Humor, Makanya Sering Berselisih (Sumber Gambar : Nu Online)
Bangsa Ini Hilang Selera Humor, Makanya Sering Berselisih (Sumber Gambar : Nu Online)

Bangsa Ini Hilang Selera Humor, Makanya Sering Berselisih

Padahal menurut penggagas Sampak GusUran tersebut orang yang suka humor adalah orang bijak yang bisa melihat dari luar realitas. Dengan begitu maka orang yang penuh humor selalu menyadari jika tidak ada orang yang sempurna. 

“Hal itu yang kemudian membuatnya tidak mudah marah apalagi sampai terjadi perselisihan. Karena sadar sama lemahnya sehingga perlu saling menguatkan,” ujarnya.

Dalam suluk bertemakan Retak Cermin Dibelah Bangsa itu, Anis juga mengingatkan untuk tidak berbicara menang dan kalah dalam konteks dunia. Karena setiap mencari kemenangan dunia sudah dipastikan orang itu justru akan mengalami kekalahan. Namun jika yang dicari kemenangan akhirat dipastikan akan mendapatkan dunia dan akhirat.

“Pernah di suatu peperangan Imam Ali berhasil mengalahkan musuhnya. Namun saat hampir dieksekusi, Imam Ali diludahi oleh lawannya. Rupanya hal itu justru tidak membuat Imam Ali gelap mata dan membunuh musuh di peperangannya itu,” jelas Anis.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Imam Ali justru mengurungkan niatnya untuk membunuh. Saat ditanya alasannya, beliau menjelaskan bahwa beliau takut jika niatnya membunuh lawan itu justru terpengaruh emosi dan amarahnya. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Menurut Anis langkah itu dilakukan lantaran Imam Ali berhitung memakai pertimbangan akhirat dan bukan pada nafsunya.

Sementara KH. Abdullah Umar Fayumi menyebut bahwa karena sifat dualitas dunia, maka niscaya ia punya potensi untuk retak dan terbelah. Retak dan terbelah ini bisa menjadi positif, bisa juga dimanfaatkan oleh tujuan negatif.

Pola pemanfaatan retakan dan pembelahan untuk tujuan negatif ini tampak dalam pola Iblis, Fir’aun, Ya’juj Ma’juj dan Dajjal. Dengan mengenali pola-pola ini kita akan mampu membaca arah perkembangan zaman saat ini dan sekaligus menemukan solusi-solusinya.

Di sisi lain, Muhammad Qosim Alaydrus mengatakan bahwa di era sekarang ini manusia diharapkan selalu bercermin dan mencerminkan akhlak baik orang-orang alim. Dia pun mencontohkannya dengan karakter tokoh bangsa seperti Soekarno, Suharto dan Gus Dur.

“Bagaimana jika saat peralihan ke orde baru Bung Karno tidak legowo dan menyuruh simpatisannya untuk melawan balik? Demikian juga Suharto yang waktu itu masih kuat kekuasaannya? Bagaimana pula jika Gus Dur tidak legowo untuk mundur padahal saat itu sudah ada santri yang siap mati untuk membelanya?” terangnya.

Beruntung tokoh-tokoh itu menggunakan bangsa sebagai cerminnya. Mereka bersikap legowo untuk mundur sehingga tidak sampai terjadi perang saudara di negara ini.

“Sebagai warga Indonesia sudah sepatutnya melihat dengan ukuran bangsa bukan partai dan golongan. Karena jika hal itu sudah terjadi maka yang muncul hanyalah kepentingan pribadi bukan untuk kebaikan bangsa,” ujarnya. 

Muhajir Arrosyid salah satu narasumber lain dalam Suluk Maleman bahkan menceritakan pengalaman dalam bercermin. Diakuinya saat masih aktif di teater pernah Muhajir tidak mandi beberapa hari. Hingga suatu ketika dirinya bercermin.

“Saat itu saya sampai kaget betapa buruknya wajah dan kondisi saya saat itu,” ujarnya dengan gaya bercanda.

Dari situ dia menyadari bahwa rasa kaget itu dikarenakan sudah lama tak bercermin. Atau tidak menyadari dengan kondisi dirinya sendiri. Padahal saat tidak mengenali dirinya maka yang ada biasanya justru rasa takut dan tentu membuatnya tidak bisa mengenali kekuatannya.

“Sifat cermin itu petunjuk. Dan itu ada di diri Nabi Muhammad. Maka dari itu umat manusia butuh cermin, cerminan, dan tentu bercermin,” ujarnya.

Diskusi itupun berjalan hangat. Ratusan hadirin dari berbagai kota seperti Kudus, Pati, Brebes antusias dalam mengikuti jalannya ngaji budaya tersebut. Iringan musik dari Sampak GusUran turut memeriahkan jalannya acara hingga usai. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Amalan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 04 November 2017

Haul Pengarang Simtuddurar, 2 Ton Beras dan 260 Kambing Disiapkan

Solo, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ratusan ribu jamaah diperkirakan akan hadir dalam peringatan haul ke-105 penulis kitab maulid Simtuddurar, Habib Ali bin Muhammad bin Husain Al-Habsyi, di Masjid Riyadh, Pasar Kliwon, Kota Solo, Jawa Tengah, Rabu-Jumat (18-20/1).

Untuk itu, panitia telah mempersiapkan hidangan khas haul, yakni nasi kabuli. Bagi pengunjung yang pernah datang ke acara haul, selain berkah yang diharapkan, juga pasti merindukan makan nasi kebuli bersama lima atau enam orang dalam satu nampan.

Haul Pengarang Simtuddurar, 2 Ton Beras dan 260 Kambing Disiapkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Haul Pengarang Simtuddurar, 2 Ton Beras dan 260 Kambing Disiapkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Haul Pengarang Simtuddurar, 2 Ton Beras dan 260 Kambing Disiapkan

Nah, bahan pokok nasi kebuli yakni beras dan daging kambing pun sudah disiapkan panitia. "Hampir sama dengan tahun lalu, yakni? sekitar 2 ton beras dan 260 ekor kambing," terang Husein, yang menjadi sukarelawan di bagian dapur umum, saat ditemui di lokasi.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumlah tersebut, nantinya akan dimasak dan disajikan pada nampan yang jumlahnya berkisar 3000 buah. "Sebagian ada yang dibungkus sekitar 4000 untuk jamaah putri," kata dia.

Husein menambahkan, jumlah ribuan nampan dan nasi bungkus tersebut, bahkan tidak cukup untuk memenuhi seluruh pengunjung.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sehari menjelang digelar puncak peringatan haul tersebut, Rabu (18/1), para tamu dari luar kota mulai berdatangan dan kompleks Masjid Riyadh, yang menjadi pusat acara, mulai ramai pengunjung.

Pantauan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan, pihak Pemkot melalui Dinas Perhubungan (Dishub), bahkan sudah menutup Jalan Kapten Mulyadi sejak Rabu siang. Menurut informasi, jalanan yang berada tepat di depan Masjid Riyadh tersebut akan ditutup hingga berakhir acara, Jumat (20/1) pagi.

Salah satu tamu yang datang dari Sidogiri, Ali, mengaku sudah kesekian kalinya ia bersama rombongan lainnya dari Sidogiri datang ke Solo, untuk ikut memperingati Haul Habib Ali. "Biar dapat barokah Habib Ali," ujarnya singkat.

Rangkaian acara haul dibuka Rabu dengan kegiatan rouhah, dimulai setelah bakda Asar. Kemudian pada malam harinya, para pengunjung dapat menikmati sajian tarian zapin yang dipadu dengan musik gambus dan balasik. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Amalan, Ubudiyah, Pertandingan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 30 Oktober 2017

Ketua Lesbumi Jabar Luncurkan Novel

Bandung, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU Jawa Barat, Dodo Widarda, telah meluncurkan novel di Aula Utama Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, pada (14/5). Novel berjudul Risalah Cinta Sejati (RCS) tersebut menceritakan pergulatan tokoh utama bernama Indra dalam mencari cinta sejati dalam hidupnya.

Ketua Lesbumi Jabar Luncurkan Novel (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua Lesbumi Jabar Luncurkan Novel (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua Lesbumi Jabar Luncurkan Novel

Indra adalah aktivis gerakan sosio-kultural Nahdlatul Ulama. Ia terlibat dalam berbagai advokasi kultural, terutama di Sumedang terkait dengan pembangunan waduk Jatigede. Waduk yang akan difungsikan pada September 2013, serta akan diresmikan Presiden SBY pada 2014. Dalam novel tersebut pembangunan waduk menghadapi masalah yang kompleks dan rumit.

Peluncuran novel dan sekaligus membedahnya, menghadirkan narasumber Muhammad Arisandhi Bahrum. Dalam pemaparannya, Arisandhi membidik novel itu terkait aktivitas tokohnya. Ia menyampaikan kaitan erat antara kandungan novel dengan fakta-fakta lapangan yang saat ini terjadi di Sumedang. Gerakan SPBS, menurut Arisandhi adalah sebagai upaya kreatif dari pemerintah serta tokoh-tokoh Sumedang untuk menghadapi permasalahan pembangunan tersebut berikut problem sosial yang mengikutinya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sementara narasumber kedua, sastrawati Chye Retty Isnendes membawakan makalah “Menimbang Keindahan Sastra Novel RCS karya Dodo Widarda”. Ia menyampaikan ulasan komprehensif dari sudut pendekatan sastra. Menurut Chye yang awalnya mengenal Dodo Widarda melalui dunia maya (FB), telah mengenal penulis sebagai bagian dari mimbar pendidikan UIN (akademisi).

Ketika membaca novelnya, aku dia, merasa menemukan Dodo Widarda lebih banyak dari yang diketahui sebelumnya, tentang pribadinya, aktivitasnya selagi mahasiswa, pekerjaannya, kesukaannya, pribadi-pribadi pengisi hatinya, latar belakang kehidupannya. Apakah itu benar-benar terjadi atau tidak, sebenarnya harus sudah dipisahkan ketika pengalaman itu menjadi karya, sebab dia sedang membaca fiksi, bukan biografi penulis.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Terlepas dari berbagai kekurangan yang ada, menurut peraih Hadiah Rancage ini, penulis novel RCS sangat piawai merangkai kata dan cerita yang kemudian disusunnya dalam 24 risalah. Selain itu, Sumedang dalam kenyataan dan Sumedang dalam fiksi tidak jauh berbeda. Dia juga merasa jatuh cinta pada Sumedang. Dia seolah mendapat sesuatu yang baru dari novel RCS tentang Sumedang ini.

Bagi dia Sumedang yang menjadi setting penting novel ini, adalah artefak masa silam yang masih bisa dicumbui, karena pasti setiap orang Sunda ingin tahu masa lalu kesundaannya, lebih jauhnya kerajaan Pajajaran. Di Sumedang jejak-jejak itu bisa disaksikan.

Oleh karena itu, hati-hatilah membangun Sumedang, pesan Chye. Janganlah para pejabat dan masyarakatnya tergoda industrialisasi dan modernisasi yang bagaikan monster itu. Hanya merusak tatanan lahir dan batini masyarakat saja! Hal terpenting dari pesan RCS, menurut Chye adalah upaya kembali ke khasanah budaya lokal walaupun seringkali tergagap-gagap ketika menghadapi globalisasi.

Peluncuran novel tersebut terselanggara berkat kerjasama antara PW Lesbumi Jawa Barat, HMJ Aqidah Filsafat fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Sumedang Puseur Budaya Sunda (SPBS) serta Komunitas Seniman Tradisi (KOMSTRAD) Jawa Barat.

Kegiatan berlangsung setelah Isya sampai 24.30 malam itu dihadiri sekitar 150 orang peserta. Tampil pula beragam bentuk seni dari mulai hadrah santri-santri pondok pesantren Universal, Dramatic Reading oleh Lesbumi Jawa Barat, kecapi suling SPBS, Julian Ashari & Fisip Band, serta pembacaan puisi oleh Teater Obor. Pada puncak acara, tampil dedengkot Krakatau Band, Yoyon Darsono dengan KOMSTRAD, menampilkan kekayaan seni tradisi Jawa Barat dalam bentuk kecapi suling, biola maut serta lawak Sunda.

Penulis: ABdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Amalan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 21 September 2017

Mensos Ajak Miss Universe Suarakan Pengentasan Kemiskinan ke Level Dunia

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa tak henti-hentinya menggerakkan program pengentasan kemiskinan untuk masyarakat Indonesia. Kali ini ia mengajak Miss Universe 2016 Iris Mittenaere untuk menyaksikan penyerahan bantuan sosial berupa Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Sosial Non-Tunai (BPNT) akhir Maret 2017 lalu di Radio Dalam Jakarta Selatan.

Dalam kesempatan tersebut, Khofifah yang juga didampingi Putri Indonesia 2016 Kezia Waraouw mengajak kepada ratu kecantikan dunia asal Prancis tersebut untuk menyuarakan pengantasan kemiskinan hingga ke level global.

Mensos Ajak Miss Universe Suarakan Pengentasan Kemiskinan ke Level Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Mensos Ajak Miss Universe Suarakan Pengentasan Kemiskinan ke Level Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Mensos Ajak Miss Universe Suarakan Pengentasan Kemiskinan ke Level Dunia

"Saya mengapresiasi Miss Universe Iris Mittenaere yang hari ini berada di tengah-tengah para ibu penerima manfaat PKH, karena kepeduliannya terhadap isu pemberdayaan perempuan dan pengentasan kemiskinan di Indonesia," kata Mensos seperti dilansir Antara.

Conditional Cash Transfer (CCT) atau PKH merupakan langkah efektif dalam mengentaskan masyarakat dari kemiskinan. Bank Dunia telah mengakuinya dan saat ini banyak pihak dari luar negeri yang datang ke Kemensos untuk belajar tentang PKH.?

Usai berdialog dengan ibu-ibu peserta PKH, Mensos mengajak Iris menyaksikan secara langsung proses transaksi penyaluran bansos bersama Direksi BNI dipandu oleh petugas BNI.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dalam kegiatan tersebut sebanyak 179 Keluarga Penerima Manfaat hadir dari Kelurahan Gandaria Utara Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.?

"Saya sangat senang bisa bertemu ibu-ibu dan saya berharap semoga bantuan ini membawa kesejahteraan kepada Anda semua," tutur Iris dalam bahasa Prancis.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Bantuan sosial PKH Non-Tunai di DKI Jakarta disalurkan kepada 53.124 KPM dengan jumlah bantuan sebanyak Rp100.404.360.000. Sementara BPNT disalurkan kepada 212.948 KPM dengan jumlah bantuan sebesar Rp281.091.360.000

PKH merupakan salah satu program untuk mempercepat pemerataan dan mengurangi kesenjangan sosial ekonomi. PKH mempunyai keunggulan dilihat dari penetapan kriteria penerima yakni sembilan persen kelompok termiskin sehingga lebih tepat sasaran. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ulama, Amalan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock