Tampilkan postingan dengan label RMI NU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RMI NU. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Februari 2018

Ansor Way Kanan Gelar PKD dan Diklatsar Pasca Pilkada

Way Kanan, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan . Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Way Kanan Provinsi Lampung melalui Pimpinan Ranting Kampung Bumi Baru, Kecamatan Blambangan Umpu, akan menggelar Pendidikan Kepemimpinan Dasar (PKD) Ansor IV dan Pendidikan serta Pelatihan Dasar (Diklatsar) IX Barisan Ansor Serbaguna (Banser) pada 24 - 27 Desember 2015.

"Ansor adalah organisasi kader. Karenanya menjadi sangat omong kosong jika sahabat-sahabat di tingkat anak cabang dan ranting tidak diajak berpikir, diberi tanggung jawab melaksanakan kinerja organisasi," ujar Ketua PC GP Ansor Way Kanan, Gatot Arifianto di Blambangan Umpu yang berada sekitar 220 km utara Kota Bandarlampung, Kamis (3/12).

Ansor Way Kanan Gelar PKD dan Diklatsar Pasca Pilkada (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Way Kanan Gelar PKD dan Diklatsar Pasca Pilkada (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Way Kanan Gelar PKD dan Diklatsar Pasca Pilkada

Gatot didampingi Kasatkorcab Banser Alex Almukmin menambahkan, pelaksanaan PKD dan Diklatsar akan digelar di lapangan Kampung Bumi Baru sehubungan di daerah tersebut pada permulaan berdirinya Kabupaten Way Kanan 15 tahun lalu menjadi tempat penyelenggaraan Diklatsar Banser.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Jadi untuk membangkitkan ghirah sekaligus menjadi ajang silaturahmi dengan para senior. Pelaksanaannya juga kami gelar pasca Pilkada 9 Desember 2015. Ini untuk menghindari fitnah tidak diinginkan dan penegasan tidak keberpihakan kami kepada pasangan calon kepala daerah tertentu," ujar alumni Kursus Banser Pimpinan (Susbanpim) II PP GP Ansor itu lagi.

Kendati penyelenggaraan dilimpahkan kepada pimpinan ranting dan telah disepakati sahabat Nuryadin sebagai ketua panitia pelaksana, namun pimpinan cabang tidak lantas cuci tangan atas pelaksanaan kegiatan wajib organisasi tersebut. "Kami ingin menjadi fasilitator, mendorong sahabat-sahabat di tingkat ranting dan anak cabang berpartisipasi aktif," tutur Gatot.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kontribusi mengikuti kegiatan tersebut Rp100 ribu ditambah 2,5 kilogram beras. Peserta akan mendapatkan kaos, konsumsi selama pelatihan, wawasan kebangsaan, motivasi, sertifikat, kartu tanda anggota dan lain-lain yang jika dinominalkan melebihi biaya kontribusi. Informasi lengkap bisa menghubungi nomor Kasatkorcab Banser Way Kanan Alex Almukmin 085382935111 atau Ketua Ranting Ansor Bumi Baru Supriyadi 085366324369. (Heriyanto/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan RMI NU Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 20 Februari 2018

Kemnaker Tindak Lanjuti Laporan Saber Pungli

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Unit Pemberantasan Pungli ? (UPP) Kementerian Ketenagakerjaan telah menindak lanjuti seluruh laporan pengaduan pungli yang disampaikan oleh Satgas Saber Pungli ke kementerian ini. Menurut Ketua UPP Kemnaker yang juga Inspektur Jenderal Kemnaker, Sunarno, pihaknya tidak kompromi dengan praktik-praktik pungutan.

Kemnaker Tindak Lanjuti Laporan Saber Pungli (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemnaker Tindak Lanjuti Laporan Saber Pungli (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemnaker Tindak Lanjuti Laporan Saber Pungli

“Seluruh aduan sudah kami tangani. Ada beberapa yang hasilnya menunggu tim audit,” kata Sunarno dalam keterangan persnya, Senin (14/8). ?

Kecepatan tanggap atas aduan, lanjutnya, bagian dari upaya Kemnaker memberikan pelayanan ketenagakerjaan yang efekti, efisien, cepat, mudah, dan transparan. Perlakuan yang sa tak hanya kepada aduan dari Satgas Saber Pungli saja, tapi juga terhadap aduan masyarakat yang disampaikan langsung ke Kemnaker.

Berdasarkan data UPP Kemnaker, hingga Juli 2017, Kemnaker telah menerima ? 30 pengaduan limpahan dari Saber Pungli pusat. Dari jumlah tersebut, tiga diantaranya merupakan laporan yang sama (laporan dobel), delapan bukan kasus ketenagakerjaan dan telah dikembalikan ke Saber Pungli.

Dengan demikian, hanya 19 aduan yang ditindaklanjuti. Dari jumlah tersebut, ? 14 kasus telah diambil langkah melalui konfirmasi dan klarifikasi ke unit kerja Kemnaker yang terkait, baik di pusat maupun daerah. Hasilnya, aduan tersebut tidak bisa dibuktikan. Adapun lima kasus yang lain, saat ini sedang menunggu hasil audit.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Terhadap laporan yang tidak bisa dibuktikan, tentu tidak ada tindakan lanjutan. Sedangkan yang dalam proses audit, jika terbukti ada praktik pungli, tentu harus ada sanksi yang dijatuhkan,” tegas Sunarno.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dijelasknan pula, dalam ihtiyar menanggulangi praktik pungli, gratifikasi dan korupsi, Kemnaker telah melakukan pemetaan area potensi pungli pelayanan, membuka Pelayanan Terpadu Satu Atap (PTSA), membangun regulasi di bidang pencegahan tipikor, pengendalian gratifikasi dan penanganan benturan kepentingan, serta deregulasi ketenagakerjaan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Layanan ketenagakerjaan di PTSA meliputi 17 pelayanan bidang Pelatihan dan Produktivitas, Binapenta dan perluasan kesempatan kerja, Pembinaan Hubungan Industrial dan Jamsos, Pengawasan dan Keamanan, Keselamatan Kerja (K3), Perencanaan Pembangunan dan Kesekretariatan.?

Dibidang pelayanan pengaduan masyarakat, Kemnaker telah menyediakan sarana yaitu Whistleblowing System Kemnaker dan Call Center Kemnaker 15000133, Sistem Lapor (dikelola bersama Kemenpan RB), Po Box 555, Tromol Pos 5000 (dikelola bersama Kemenpan RB), Po Box 9949 (dikelola bersama Setneg).

Berdasarkan Hasil Survei Integritas KPK terkait pelayanan publik, Kemnaker mendapat nilai 76,40, secara umum Kemnaker mendapat respon positif. Untuk mencegah pungli dalam pelayanan publik, bentuk pelayanan disajikan dengan mekanisme online untuk menghindari kontak langsung dengan. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ubudiyah, Cerita, RMI NU Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 18 Februari 2018

14.250 Warga Sumberasih Ikuti Pemotretan Kartanu

Probolinggo, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pelaksanaan pemotretan program Kartu Tanda Anggota Nahdlatul Ulama (Kartanu) tiap-tiap ranting di Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Sumberasih Kabupaten Probolinggo berjalan dengan sukses dan lancar. Tidak tanggung-tanggung, tercatat sedikitnya 14.250 warga Nahdliyin turut serta dalam program yang digagas oleh PBNU tersebut.

14.250 Warga Sumberasih Ikuti Pemotretan Kartanu (Sumber Gambar : Nu Online)
14.250 Warga Sumberasih Ikuti Pemotretan Kartanu (Sumber Gambar : Nu Online)

14.250 Warga Sumberasih Ikuti Pemotretan Kartanu

Hal tersebut terungkap dalam rapat koordinasi evaluasi pelaksanaan program Kartanu yang digelar oleh MWCNU Kecamatan Sumberasih, Kamis (11/4) malam. Menurut Ketua Tanfidziyah MWCNU Kecamatan Sumberasih Imam Syafi’i, jumlah ini merupakan perolehan terbesar untuk program Kartanu di Kabupaten Probolinggo.

“Dari MWC-MWC yang sudah melaksanakan pemotretan Kartanu, jumlah warga Nahdliyin yang mengikuti Kartanu di Kecamatan Sumberasih merupakan yang terbesar se Kabupaten Probolinggo. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat menyambut antusias program Kartanu ini,” ujarnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Menurut Imam, keberhasilan dan kesuksesan pelaksanaan program Kartanu ini diraih berkat kerja sama seluruh pengurus NU, lembaga, lajnah dan badan otonom yang ikut melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang penting dan manfaatnya Kartanu sebagai database warga NU.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Alhamdulillah, semua warga Nahdliyin menyambut baik program Kartanu ini. Mereka datang ke lokasi pemotretan Kartanu sejak pagi untuk ikut antri dan mendapatkan Kartanu. Saya menyampaikan ucapan terima kasih kepada warga Nahdliyin yang ikut memberikan database kepada pengurus NU,” jelasnya.

Dikatakan Imam, sebenarnya warga NU di MWCNU Sumberasih lebih dari 14.250 orang. Hanya saja sebagian besar dari mereka ada yang belum sempat mengikuti pemotretan Kartanu di waktu yang telah ditentukan.

“Selain karena keterbatasan waktu, sebagian besar masyarakat ada yang sedang bekerja ke luar kota sehingga tidak dapat mengikuti pemotretan Kartanu. Tetapi kami akan mengupayakan supaya bisa diadakan pemotretan Kartanu susulan kepada PCNU kabupaten Probolinggo,” terangnya.

Imam mengungkapkan bahwa kesuksesan pendataan Kartanu ini tentunya membantu pengurus NU dalam mendapatkan data keanggotaan yang benar-benar valid dan akurat. ”Melalui keberadaan Kartanu ini kami berharap data keanggotaan warga Nahdlatul Ulama khususnya di Kecamatan Sumberasih benar-benar valid dan akurat. Sehingga bisa diketahui siapa saja masyarakat yang memang setia kepada NU,” tegasnya.

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : Syamsul Akbar

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan RMI NU Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 07 Februari 2018

Cetak Banser Militan, Ansor Bojong Adakan Diklatsar

Tegal, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan



Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Bojong Kabupaten Tegal mencetak ratusan kader Barisan Ansor Serbaguna (Banser) melalui kegiatan Pendidikan Latihan Dasar (Diklatsar) Banser.

Cetak Banser Militan, Ansor Bojong Adakan Diklatsar (Sumber Gambar : Nu Online)
Cetak Banser Militan, Ansor Bojong Adakan Diklatsar (Sumber Gambar : Nu Online)

Cetak Banser Militan, Ansor Bojong Adakan Diklatsar

Kegiatan yang dipusatkan di Bumi Perkemahan Pramuka "Martoloyo" Desa Suniarsih Kecamatan Bojong berlangsung selama 3 (tiga) hari, Jumat (17/11) sampai Ahad (19/11).

Ketua Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Tegal Didi Permana menegaskan, bagi kader Ansor yang ingin menjadi anggota Banser, wajib hukumnya mengikuti Diklatsar.

Menurutnya, tujuan dari Diklatsar adalah menyiapkan kader Ansor yang militan dan tangguh. "Diklatsar adalah pendidikan internal Ansor untuk membuat kader Banser yang militan, yang teguh dan berkomitmen untuk menjaga NKRI juga berprinsip Ahlussunah wal-Jamaah," tegas Didi saat membuka Diklatsar.

Ketua Pimpinan Anak Cabang GP Ansor Kecamatan Bojong, Nasrun Asadani menyebutkan, Diklatsar diikuti sebanyak 120 pemuda dari berbagai wilayah se-Kecamatan Bojong dan utusan sejumlah kecamatan lain.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Peserta Diklatsar bukan hanya dari Bojong, dari luar Bojong juga banyak yang ikut, di antaranya terdiri dari 2 peserta berasal dari Kecamatan Jatinegara, 2 peserta dari Kecamatan Dukuhturi, 3 peserta dari Kecamatan Adiwerna, 9 peserta dari Kecamatan Lebaksiu, dan 104 peserta berasal dari Kecamatan Bojong," bebernya.

Panitia Diklatsar Banser Satkoryon Bojong, Ahmad menambahkan, Diklatsar merupakan salah satu jenjang pendidikan dan pelatihan yang harus diikuti setiap kader Ansor untuk menjadi Banser.

Dia menjelaskan, berbagai pembekalan diberikan peserta selama 3 hari itu. Mulai dari pelatihan fisik dan mental, seperti kemampuan beladiri, ilmu tenaga dalam, dan pendalaman ke-NU-an, keindonesiaan, bela negara, peraturan baris-berbaris, kelalu-lintasan dan kedaruratan bencana.

Usai Diklatsar masing-masing peserta akan memegang ke-NU-an dan ke Aswajaan. “Bahkan mereka harus siap menjadi garda terdepan menjaga ulama dan kebhnekaan," pungkasnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Hadir dalam pembukaan Diklatsar, Camat Bojong Muhtarom, Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Bojong, Pengurua PC GP Ansor Kabupaten Tegal, serta Kepala desa Suniarsih. (Hasan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan RMI NU Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 31 Januari 2018

Sampai Saat ini, Tujuh Puluh Persen Peserta Tiba di Lombok

Mataram, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Kepala Sekretariat Kepanitian Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas dan Konbes NU) 2017 Isfah Abidal Azis mengatakan, tujuh puluh persen peserta sudah tiba di Lombok untuk mengikuti acara pembukaan Munas dan Konbes NU besok siang hari.?

“Sampai saat ini peserta yang masuk sekitar tujuh puluh persen,” katanya kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan, Rabu (22/11).

Peserta Konbes NU 2017 ini terdiri dari jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Mustasyar, Syuriah, dan Tanfidziyah, Pengurus Lembaga, Badan Otonom, dan perwakilan dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama.?

Sampai Saat ini, Tujuh Puluh Persen Peserta Tiba di Lombok (Sumber Gambar : Nu Online)
Sampai Saat ini, Tujuh Puluh Persen Peserta Tiba di Lombok (Sumber Gambar : Nu Online)

Sampai Saat ini, Tujuh Puluh Persen Peserta Tiba di Lombok

“Itu untuk konbesnya,” ucapnya.

Adapun peserta Musyawarah Nasional Alim Ulama, lanjut Isfah, terdiri dari perwakilan pondok pesantren, alim ulama, dan utusan dari Pengurus Wilayah.?

Isfah menyebutkan, pejabat tinggi negara yang sudah konfirmasi hadir adalah presiden, menteri-menteri, pejabat setingkat menteri, panglima TNI, dan Kapolri.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Juga ada pimpinan ormas-ormas Islam, duta-duta besar. Banyak yang sudah memberikan konfirmasi akan hadir,” ujarnya.

Wakil Sekretaris Jenderal PBNU itu menerangkan, kesiapan panitia dalam menyambut pembukaan dan acara Munas serta Konbes NU 2017 sudah pada presentase sembilan puluh persen. Ia juga mengaku timnya sudah bekerja secara maksimal terkait dengan kesekretariatan dan administrasi peserta.?

“Kita sudah siap sembilan puluh persen untuk pelaksanaan pembukaan besok,” katanya.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Peserta yang sudah hadir bisa kita layani dengan cepat dan baik,” lanjutnya.

Acara pembukaan Munas dan Konbes NU 2017 akan dilaksanakan besok pukul satu siang. Dipastikan peserta akan terus berdatangan ke Lombok sampai esok siang. (Muchlishon Rochmat)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ubudiyah, RMI NU, Pendidikan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 27 Januari 2018

Nahdliyin Berhadapan Dua Kutub Ekstrem Ideologis

Samarinda, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) NU Kalimantan Timur (Kaltim) Asman Azis mengatakan spirit Resolusi Jihad masih relevan untuk didengungkan karena saat ini Nahdliyin berhadapan dengan dua kutub ekstrem ideologis.

Nahdliyin Berhadapan Dua Kutub Ekstrem Ideologis (Sumber Gambar : Nu Online)
Nahdliyin Berhadapan Dua Kutub Ekstrem Ideologis (Sumber Gambar : Nu Online)

Nahdliyin Berhadapan Dua Kutub Ekstrem Ideologis

Pertama, kata dia, mengentalnya fundamentalisme agama dengan wajahnya islam radikal dan puritan. Kedua, lemahnya negara yang disusupi oleh ideologi ekonomi pro pasar bebas dan pro eksploitasi sumberdaya alam.  

“Di Kaltim, jelas dia, fundamentalisme pasar ini mengambil wujud masuknya investor dan tambang asing yang bercokol dan mengeksploitasi sumberdaya alam,” katanya pada seminar bertema Meneguhkan Kembali Resolusi Jihad, Mendayung diantara Arus Fundamentalisme Agama dan Pasar tersebut di Auditorium Kampus Universitas Mulawarman, Samarinda pada 10 November lalu.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ia menambahkan, investor asing tersebut meninggalkan kerusakan lingkungan seperti banjir, rusaknya hutan alam, lubang bekas tambang yang mencabut nyawa anak-anak dan pencemaran udara dan air.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Jadi dari segi ekonomi dan sumberdaya alam kita masih dijajah, maka jihad masih diperlukan,” pungkasnya pada kegiatan yang digelar Lakpesdam PW NU Kaltim tersebut.

Soal peringatan Hari Santri, Ketua PBNU KH Farid Wadjdy mengatakan peringatan yang disandingkan dengan hari Pahlawan ingin menegaskan peran santri dan kaum Nahdliyin dalam perjuangan bangsa ini merebut kebangsaan.

“Terbukti bahkan seorang Soekarno pun harus meminta pendapat ulama NU yang akhirnya melahirkan Resolusi Jihad,” ujar dan Rektor Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Kaltim.

Resolusi tersebut, kata dia, menjadi motivasi perjuangan di peristiwa perjuangan fisik 10 November di Surabaya saat itu.

Narasumber seminar adalah Pengasuh Ponpes Syechona Cholil Samarinda KH Buchori Noor dan Ketua Program S2 IAIN Samarinda Hj. Siti Muriah. Keduanya mengingatkan bahwa definisi dan kategori santri tidak hanya yang berada di Pondok Pesantren saja, akan tetapi menjadi kriteria moral dan integritas.

“Kalau ada santri bahkan kiai yang masih bisa disogok dan korup maka ia bukan santri,” ujar KH Buchori Noor Mengingatkan Hadirin dan Peserta Seminar.

Sementara Siti Muriah menjelaskan peran kaum perempuan pesantren dalam perjuangan merebut kemerdekaan. Ia juga mengingatkan bahwa kaum santri jangan terlena hanya karena terbit Kepres (Keputusan Presiden) tentang hari santri.

“Jangan terjebak formalitas, percuma dapat hari santri jika hak-hak dan peran kaum santri secara hukum dan politik belum dipulihkan,” katanya.  

Kita semua tahu, lanjut dia, bahwa hingga saat ini penulisan sejarah masih belum direvisi, peran santri disembunyikan dari narasi ilmiah begitu juga ijazah alumnus pesantren dalam sistem pendidikan kita mestinya juga sudah setara.

“Kaum santri tak boleh dianggap sebagai warga negara kelas dua,” ujar guru besar ilmu pendidikan islam ini menutup presentasinya.

Pada kegiatan tersebut hadir ratusan warga Nahdliyin Kalimantan Timur yang terdiri dari santri, mahasiswa dan pengurus NU. [MJI/Abdullah Alawi]

   

     

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan RMI NU Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 25 Januari 2018

Mendikbud Minta Lulusan Pesantren Dibekali Keterampilan Teknis

Jepara, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh meminta agar para lulusan pesantren dibekali keterampilan teknis, sehingga mereka bisa menjadi agen perubahan di masyarakat nantinya.

"Untuk itu, tradisi mandiri yang sudah ada di pondok pesantren perlu dikombinasikan dengan keterampilan teknis, agar lulusannya nanti mampu hidup mandiri dengan bekal keterampilan teknis yang dimilikinya," ujarnya, ketika berkunjung ke Pesantren Roudlotul Mudtadiin di Desa Balekambang, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara, di Jepara, Jateng, Sabtu.

Mendikbud Minta Lulusan Pesantren Dibekali Keterampilan Teknis (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendikbud Minta Lulusan Pesantren Dibekali Keterampilan Teknis (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendikbud Minta Lulusan Pesantren Dibekali Keterampilan Teknis

Ia mengakui, memiliki keinginan menggabungkan dan mengintegrasikan ilmu-ilmu yang berbasis keagamaan dengan ilmu pengetahuan umum. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Hal tersebut, kata dia, sekaligus untuk menepis kesan bahwa pesantren sangat tertutup, karena kenyataannya cukup terbuka dengan ide-ide baru.

Bahkan, lanjut dia, pengelolaan SMK dengan model pesantren juga memiliki lulusan terbaik.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Jika lulusan pesantren memiliki keterampilan teknis dan jiwa mandiri, diharapkan bisa menjadi agen perubahan di masyarakat dengan baik," ujarnya. 

Sebaliknya, kata dia, jika tidak dilengkapi dengan keterampilan teknis, dikhawatirkan akan menjadi beban masyarakat. 

"Karena nantinya diharapkan menjadi agen perubahan, maka mereka sendiri juga harus terbebas dari beban mereka sendiri," ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, dia juga menyampaikan dukungannya terhadap pembentukan asosiasi SMK di pesantren, karena masing-masing bisa saling berbagi.

Artinya, kata dia, kelebihan dan kekurangan dari masing-masing SMK bisa dievaluasi dan bisa diperbaiki dengan mencontoh SMK lain yang dinilai memiliki kelebihan pada bidang tertentu.

Mohammad Nuh juga menyampaikan apreasiasinya terhadap pemprakarsa terbentuknya asosiasi SMK pondok pesantren yang saat ini jumlahnya sudah mencapai ratusan sekolah.

Dengan terbentuknya asosiasi SMK yang dikelola pondok pesantren, dia berkeyakinan bisa terbentuk kekuatan yang hebat di dalam transformasi kesejahteraan, karena para alumni pondok pesantren nantinya juga hidup di masyarakat. 

Penggagas asosiasi SMK pesantren, merupakan Kepala SMK Roudlotul Mudtadiin, Miftahuddin yang mendapat dukungan ketua maupun pengasuh Ponpes Roudlotul Mudtadiin Balekambang, Kiai Mustamir Wildan dan Kiai Ma`mun Abdollah. 

Redaktur: Mukafi Niam

Sumber  : Antara

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pemurnian Aqidah, RMI NU Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

PMII Subang Peringati Harlah

Subang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Subang menggelar tasyakuran hari lahir yang ke 53 di Sekretariat PMII Subang, Jl. Rancasari, Pamanukan, Subang (Ahad/ 21/04).

Kendati dilakukan sederhana, puluhan anggota dan kader begitu khidmat melangsungkan acara tersebut sebagai refleksi hari lahir organisasi kebanggaannya.?

PMII Subang Peringati Harlah (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Subang Peringati Harlah (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Subang Peringati Harlah

Mereka terdiri dari beberapa kampus di Kabupaten Subang diantaranya dari STAI Miftahul Huda Pamanukan, Universitas Subang, STIE Miftahul Huda Pamanukan dan STKIP Subang.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selain itu, hadir juga beberapa alumni dan tokoh PMII Subang, diantaranya Ketua GP Ansor Subang, Asep Alamsyah Heridinta, Akademisi, Samanhudi , dan Majelis Pembina Cabang, Zainal Abidin.

Menurut Ketua Umum PMII Subang, Ade Mahmudin menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan refleksi terkait kelahiran organisasi yang mempunyai basis mahasiswa Nahdliyin tersebut.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Penguatan integritas kami maksudkan dalam refleksi hari lahir PMII ini sebagai sarana ukhuwah dan mempererat jalinan silaturrahmi antara semua elemen PMII lainnya baik antara anggota, kader, dan alumni. Dimana, sudah setengah abad lebih PMII berkiprah di dalam sejarah perjalanan bangsa ini namun selama itu pula PMII mengalamai beberapa fase perubahan dalam mengawal cita-cita kemerdekaan RI. untuk itu, dalam momentum ini, kami meminta kepada seluruh elemen PMII harus tetap solid dalam situasi dan kondisi apapun,” tegas Ade.

Di tempat terpisah, Korps PMII Putri menggelar aksi demonstrasi dan seruan moral dengan membagi-bagikan karangan bunga di fly over Pamanukan sebagai peringatan hari Kartini.

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Sholawat, Hikmah, RMI NU Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 06 Januari 2018

Bersama BNN, Pelajar NU Siap Perangi Narkoba

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Ikatan Pelajar Nahlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) berkomitmen turut memberantas narkoba di kalangan pelajar.

Bersama BNN, Pelajar NU Siap Perangi Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Bersama BNN, Pelajar NU Siap Perangi Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Bersama BNN, Pelajar NU Siap Perangi Narkoba

Komitmen ini diperkuat melalui penandatanganan nota kesepahaman antara IPNU, IPPNU, dan BNN di aula lantai 8 gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (21/2). Penandatanganan dilakukan Ketua PP IPNU Khairul Anam HS, Ketua PP IPPNU Farida Farichah, dan Deputi Bidang Pencegahan BNN Yappi Manafe.

Anam mengapresiasi ajakan BNN untuk bersama-sama mencegah penyalahgunaan narkoba. Dengan melibatkan 412 pimpinan cabang aktif yang tersebar di 30 wilayah, kerja sama ini menjadi momentum positif bagi gerakan anti-narkoba.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Farida menambahkan, selain jumlah kader yang ditaksir mencapai 3 juta anggota, IPPNU kini juga aktif di sedikitnya 200 sekolah. ”Ini merupakan potensi. Semoga kerja sama ini tak berhenti pada slogan saja, tapi harus disertai program dan kerja konkret. Dan IPPNU siap menjalankan ini,” tegasnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Yappi, atas nama Ketua BNN, mengatakan, IPNU dan IPPNU merupakan institusi yang tepat bagi BNN untuk menyinergikan peran, khususnya dalam upaya pencegahan penyalahgunaan di lingkungan pendidikan yang jumlahnya terus meningkat.

”Total kerugian, baik sosial ataupun ekonomi, dari barang haram ini mencapai 48,2 triliun. Itu untuk tahun 2011. Belum lagi dampak buruk pada kasusu hukum dan kesehatan,” paparnya.

Dalam kesempatan ini, Ketua Penguru Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Iqbal Sulam, Sekretaris Jendral PBNU H Marsdi Syuhud, Deputi Bidang Rehabilitasi BNN Rusman Suria Kusuma, dan Direktur Kerja Sama Charles Victor Sitorus, ikut menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman.

?

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan RMI NU Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 25 Desember 2017

GP Ansor Desak Presiden Evaluasi Kinerja Menteri Pertanian

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan



Ketua Bidang Pertanian, Kedaulatan Pangan dan ESDM Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Adhe Musa Said prihatin melihat nasib petani yang cenderung tidak mengalami perubahan dari waktu ke waktu.?

Hal tersebut disampaikan Adhe Musa Said di Kantor GP Ansor, Jakarta, pada Diskusi Refleksi Akhir Tahun Gerakan Pemuda Ansor dalam menyikapi kebijakan Kementerian Pertanian Selasa, (19/12).

GP Ansor Desak Presiden Evaluasi Kinerja Menteri Pertanian (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Desak Presiden Evaluasi Kinerja Menteri Pertanian (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Desak Presiden Evaluasi Kinerja Menteri Pertanian

Menurutnya, kinerja Kementerian Pertanian jauh dari harapan yang diharapkan dapat meningkatkan kesejah teraan petani.?

“Kementerian Pertanian era Jokowi-JK terkesan hanya meneruskan kebijakan pemerintahan sebelumnya, yang berputar-putat pada wilayah yang sama dan tidak membawa dampak signifikan pada perubahan wajah pertanian tanah air, maupun kesejahteraan petani," terang Adhe.?

Ia menilai, sektor pertanian memiliki peran strategis dalam menopang pembangunan perekonomian nasional jika pemerintah memiliki konsen yang tinggi pada wilayah ini. Tapi ia melihat, pemerintah lewat Kementerian Pertanian terkesan tidak serius untuk memacu sektor pertanian.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Pemerintahan saat ini tidak serius mengurusi pertanian. Lihat saja tidak ada kebijakan Kementerian Pertanian yang mengupayakan penyediaan lahan yang subur lewat pupuk yang baik, penyediaan benih yang bagus, dan penyediaan pasar untuk menampung hasil pertanian dengan baik pula agar petani sejahtera. Bahkan yang terjadi petani malah mulai kehilangan generasi, karena sektor ini dianggap tidak menjamin dalam memenuhi kebutuhan kehidupan keluarga," papar Adhe.?

Adhe menyesalkan, kebijakan Kementerian Pertanian terlihat hanya fokus pada tiga komoditi seperti padi, jagung dan kedelai semata. Sedangkan bumi Indonesia kaya akan keanekaragaman hayati yang memiliki nilai ekonomi tinggi namun tidak tersentuh dan cenderung terabaikan.?

"Jika hanya fokus pada tiga komoditi pertanian semata, ya jangan heran jika Indonesia akan terus dibanjiri impor komoditi pertanian dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri," lanjut Adhe.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ia menambahkan, pemerintah seharusnya sadar, lebih dari 60 persen produsen pangan di negara ini adalah petani kecil yang memiliki luas lahan di bawah 1 hektar. Jika pemerintah tidak memikirkan ini, petani yang memiliki lahan terbatas hanya menjadi penonton program bagi-bagi benih dan pupuk yang nilainya trilyunan rupiah. Ia khawatir, program pupuk bersubsidi senilai Rp 30,063 triliun akan membuka peluang untuk penyelewengan. Begitu juga dengan pengadaan mesin pertanian Rp 360 miliar pra panen dan Rp 8,32 miliar pasca panen, berpotensi salah sasaran. Serta pencetakan sawah Rp 1,76 triliun yang menyebabkan kerusakan ekologis.

"Menteri Pertanian hanya meneruskan kebijakan menteri pertanian sebelumnya yang selalu menihilkan peran petani untuk menggeser pola produksi pertanian dari orientasi subsisten ke bisnis," kata Adhe. Ade menghimbau, sebaiknya kembalikan pola konsolidasi petani cukup sampai kelompok tani. Pemerintah harus mengevaluasi diri, jika dianggap tidak layak sebaiknya Presiden melakukan reshufle Menteri Pertanian.?

"Mengurusi pertanian tidak boleh terkesan main-main. Jika tidak dapat menjalankan amanat Presiden Jokowi yang tercantum dalam visi nawacita, sebaiknya Presiden mengganti Menteri Pertanian dengan figur baru yang memiliki visi lebih baik untuk pertanian," tutup Adhe. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Meme Islam, Amalan, RMI NU Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 22 Desember 2017

Islam, Seni, dan Kehidupan Beragama

Oleh Abdurrahman Wahid

?

1

Kehidupan manusia tidak pernah terlepas dari nilai-nilai keagamaan, betapapun kenyataan ini tidak diakui oleh sementara kalangan. Masalah-masalah pribadi tentang pengaturan hubungan dengan sesama manusia, masalah penyesuaian antara cita dan kenyataan yang dihadapi dalam kehidupan, serta hubungan manusia dengan kekuatan-kekuatan di luar dirinya, kesemuanya itu menghasilkan dimensi-dimensi dalam kehidupan manusia.

Islam, Seni, dan Kehidupan Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam, Seni, dan Kehidupan Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam, Seni, dan Kehidupan Beragama

Dimensi-dimensi keagamaan ditampakkan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk aspek ekspresi keharuan yang dirasakan manusia, yang pada umumnya berbentuk? kegiatan-kegiatan seni dan sastra.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari sini saja sudah tampak betapa eratnya antara kegiatan kesenian, baik yang bersifat penciptaan maupun pagelaran, dengan kehidupan beragama. Cakupan kaitan itu tidak hanya terbatas pengaruhnya pada wilayah kehidupan yang tersentuh oelh? keharuan belaka, melainkan jangkauannya menerobos hingga ke wilayah ketakutan dan keputusasaan, keyakinan dan keberanian, protes dan bujukan, pelestarian ajaran dan seterusnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari sinilah dapat dipahami mengapa timbul skala prioritas yang berbeda di antara kelompok-kelompok yang berlainan. Pemusatan daya arsitektural untuk membangun sebuah masjid nasional di ibukota dan masjid provinsial di ibukota provinsi kiita, umpamanya, tentu tidak skala prioritasnya dengan keengganan bangsa Mesir membuat masjid seperti itu dewasa ini. Karena wilayah yang diterobos oleh proses keharuan berbeda satu ke lain kelompok, dengan sendirinya produksi seni yang dikaitkan dengan kehidupan beragama juga berlainan satu dengan yang lain.

Karena? itu, sudah tentu sulit untuk melakukan pengukuran atas keterlibatan kegiatan kesenian pada kehidupan beragama melalui satu alat pengukur belaka, yang bertindak secara? konstan dalam kadar yang sama. Manifestasi kesenian yang dihasilkan bergantung erat pada susunan kehidupan itu sendiri, yang sudah tentu menjadi sangat kompleks pengukurannya dalam sebuah masyarakat modern.? Karena kaitan agama dengan kehidupan semakin lama semakin dikristalisir dalam citra kemasyarakatan yang berbeda-beda, dengan sendirinya manifestasi kesenian dalam kehiduppan beragamanya lalu mengalami perubahan-perubahan drastis dari waktu ke waktu, sehingga sulit diukur dengan alat pengukur tunggal yang tidak memperhitungkan dalam dirinya unsur-unsur perubuahan itu sendiri.

Kalau gereja Kristen di masa lalu menitikberatkan lagu puja (himne) melalui paduan suara melalui paduan suara Gregorian, karena struktur masyarakatnya yang monolith, dalam periode individualiasi kehidupan masyarakat modern justru ekspresi seni suara peroranganlah (seperti blues dan soul) yang jadi bagian manifestasi kehidupan umat bergama umat Krisitiani di masa ini. Ilustrasi lain dapat dikemukakan seperti prosesi peragaan kemalangan (passion drama) yang dilakukan secara kolektif untukk turut merasakan penderitaan Husain Ibnu Abi Thalib di padang Karbala dalam perayaan Asyura di kalangan Syi’ah di Irak dan di Iran. Ekspresi seperti in muncul dari citra kehidupan beragama yang ditekankan pada penghayatan pengorbanan (syahadah, fida’) di kalangan mereka, yang dalam perkembangan politik memunculkan orang-orang seperti Ali Shariathmadari dan Ayatullah Khomeini.

2

Setelah diajukan keberatan terhadap cara pengukuran dangkal dengan penggunaan alat tunggal yang bersifat menetap seperti diuraikan di atas, dengan sendirinya lalu muncul pertanyaan bagaimanakah pengukuran yang tepat harus dilakukan? Alat apakah yang seharusnya digunakan di dalamnya? Hasil konkret apakah yang dapat diperoleh dari alat pengukuran seperti itu? Jawaban atas ketiga pertanyaan di atas akan diuraikan lebih lanjut, walauppun tidak ada pretensi akan tercakupnya semua aspek yang dikandungnya. Yang akan dikemukakan hanyalah pokok-pokoknya belaka.

Yang pertama-tama harus disadari adalah aspirasi masyarakat di bidang keagamaan, yang memilikii keragaman besar dalam watak, sifat dan coraknya. Umpamanya saja, aspirasi lembaga keagamaan formal seperti Majelis Ulama tentu? berbeda dari aspirasi seorang muballigh di lapangan yang bergerak secara individual. Aspirasi keberagamaan para seniman tentu berbeda dengan para agamawan. Beum lagi dilihat keragaman yang timbul dari orientasi kehidupan yang berbeda dari kelompok yang sama, seperti antara kaum intelektual yang termasuk lingkungan teknokrasi dan sesama intelek yang menolaknya.

Aspirasi keberagamaan yang berneka ragam itu tentu menghasilkan ekspresi yang berbeda-beda, walaupun dalam medium kesenian yang sama. Pada kegiatan seni suara di kalangan kaum muslimin dapat dilihat nyata dalam hal ini. Di lingkungan yang masih dekat dengan literatur keagamaan? berbahasa Arab, seperti di Banten dan Jawa Timur, pagelaran dzibaiyyah, barzanji dan sebagainya, masih menggunakan bahasa Arab, disertai seni hadrah yang menetaskan ode-ode berbahasa Arab itu tanpa diterjemahkan. Tapi kita lihat di daerah Magelang, yang lebih banyak terkena radiasi istana kraton Mataram, muncul pementasan kentrung yang berisi pesan yang sama, tetapi menggunakan bahasa Jawa.

Dari sudat pandangan yang semacam inilah harus kita teropong perkembangan menggembirakan dalam nafas keislaman dalam kesenian kontemporer kita, seperti desain-desain batik dari Amri Yahya,? lirik ciptaan Trio Bimbo, puisi-puisi anak-anak muda di harian Pelita dan majalah-majalah keagamaan kita. Kesenian Islam dalam kerangka pandangan ini tidak dapat dibatasi hanya pada ekspresi formal yang dianut selama ini, bahkan mungkin sektor formal ini hanya bagian terkecil dari keseluruhan ekspresi kesenian yang bernafaskan Islam.

3

Alat pengukur yang paling utama untuk mengetahui kadar keislaman dari ekspresi kesenian yang beraneka ragam itu, dapat ditemukan dalam dua hal-hal: (1) ketaatan asas/konsistensi ekspresi itu sendiri dalam panjang nafas keislaman, dan (2) kesungguhan isi pesan yang dibawakan itu sendiri.

Di sini kita lalu digugah untuk melakukan terobosan yang matang dan mendalam. Terkadang kedua hal itu dengan cara sangat halus dan tersembunyi dalam ekspresi yang biasannya digolongkan dalam kegiatan nonagama. Pesan agama kemudian disampaikan dengan tidak langsung terasa oleh penerimanya. Kasus kesenian ludruk di Jawa Timur, dengan pesan-pesan utamanya tentang demokrasi yang mempertimbangkan realitas kehidupan, dapat dikemukakan sebagai contoh. Tak akan ada pesan agama yang langsung ditemui dalam mementaskan ludruk. Tetapi bukankah demokrasi adalah esensi kehidupan menurut konsep kenegaraan Islam? Mengapakah kita tidak mampu memahami pesan “nonkeagamaan” ludruk sebgai ekspresi seni yang bernafaskan Islam?

Hambatan psikologis yang timbul dari warisan sejarah masa lampau jelas tidak mudah untuk diatasi dalam menerima beberapa medium kesenian lokal maupun nasional yang telah terlanjur dianggap bukan “kesenian Islam”. Tetapi rasanya sikap untuk menyerah kepada keadaan yang pincang ini jelas tidak akan mendukung perluasan pengaruh kesenian Islam atas kehidupan beragama kita. Kalau kita ingin memperluas jngkauan kehidupan beragama kita, harus? pula kita terima perluasan ekspresi keseniaanya.? Dengan kata lain, masa depan kehidupan bergama kita? ditentukan juga antara lain oleh kemampuan informalisasi bentuk-bentuk kesenian yang dikaitkan dengan keislaman.

Tetapi di sini perlu diberi peringatan keras kepada bahaya munculnya akulturasi atau pembauran dalam penyampai pesan yang dibawakan kesenian itu sendiri. Setiap medium kesenian memilki kekhususannya sendiri, yang tidak dapat dibaurkan dengan aspek medium lain, tanpa membunuh ketulusan pesannya dan memupus keharuann yang ditimbulkannya. Shalawat Nabi dalam bahsa Arab misalnya memiliki aspek-aspek langgam (meters, ‘arudh) tersendiri, yang ditentukan oleh seni baca huruf dan tata bahasa Arab. Dengan demikian, akulturasi medium shalawat berbahasa Arab ini dengan memaksakan pelanggamannya dalam irama lagu setempat, akan merusak hakikat shalawat itu sendiri. Arti pesan lalu? menjadi kabur, keharuan tidak didapat, lalu apakah yang dapat kita harapkan. Ekspresi bermain-main yang tidak memiliki ketulusan sama sekali.

4

Cara dan penetapan alat pengukuran keterlibatan seni dalam kehidupan beragama Islam di atas dapat membawa kita kepada hasil-hasil konkret di banyak bidang pembuat keputusan dan kebijakan, antara lain dalam hal-hal berikut: (1) perluasan jangkauan kegiatan lembaga-lembaga pemerintahan yang berhubungan dengan masalah keagamaan, yang terutama dalaam bidang seni sastra; (2) pematangan kegiatan lembaga-lembaga kkesenian Islam, dengan jalan memungkinkan mereka untuk “keluar dari sarang” dan masuk kegiatan kesenian yang selama ini tidak dianggap berhubungan dengan “kesenian Islam; (3) kemungkinan masuknya para pemikir budaya dan seniman yang selama ini di luar lingkungan “kesenian Islam” ke dalam pemekaran kesenian Islam itu sendiri; dan (4) lebih mudahnya mengungkapakan kaitan antara kesenian Islam dalam cakupannya yang baru dengan tuntutan hidup masyarakat modern yang semakin kompleks.

?

ABDURRAHMAN WAHID, Ketua Umum PBNU 1984-2000. Tulisan ini disajikan dalam diskusi Hari Ulang Tahun Sanggar Pravitasari, Jakarta, 31 Mei, 1979

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Halaqoh, Jadwal Kajian, RMI NU Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 19 Desember 2017

Kisah KH Asad Syamsul Arifin Ajak Preman Shalat Jumat

Salah satu hal yang luar biasa dari sosok kiai adalah kearifannya dalam berdakwah. Sebagaimana yang dicontohkan oleh KHR. Asad Syamsul Arifin pengasuh Pesantren Salafiyah Syafiiyah Situbondo, Jawa Timur saat menyuruh para preman di daerah Bondowoso untuk ikut shalat Jumat.

Cerita yang disampaikan oleh salah seorang santrinya, H Ikrom Hasan kepada penulis ini bermula dari kehebatan ilmu kanuragan Kiai Asad. Tak hanya ilmu agama yang dikuasai oleh kiai yang baru saja ditetapkan sebagai pahlawan Nasional itu, tapi juga ilmu bela diri dan sejenisnya.

Kisah KH Asad Syamsul Arifin Ajak Preman Shalat Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah KH Asad Syamsul Arifin Ajak Preman Shalat Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah KH Asad Syamsul Arifin Ajak Preman Shalat Jumat

Berkat reputasinya dalam dunia persilatan tersebut, banyak preman, jawara, bromocorah wa alaa alihi wa ashabih yang segan kepada Kiai Asad. Jadi, tidak heran jika apa yang diucapkan oleh Kiai Asad menjadi semacam perintah yang wajib untuk dipatuhi. Bagi mereka, mematuhi perintah Kiai Asad adalah suatu kebanggaan tersendiri.

Meski demikian, Kiai Asad tidak serta merta memaksa mereka untuk melakukan shalat, misalnya. Pemaksaan dalam hal beragama, bagi Kiai Asad, bukanlah cara yang tepat untuk diterapkan dalam berdakwah. Apalagi bagi kalangan yang awam dari ilmu agama.

Kiai Asad punya cara tersendiri untuk mendakwahi mereka. Dalam suatu kesempatan, Kiai Asad mengumpulkan para preman tersebut. Di pertemuan itu, Kiai Asad minta tolong kepada kepala preman itu untuk menjagakan sandal para jamaah shalat Jumat yang kerap hilang.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Sandal jamaah di maajid ini sering hilang kalau sholat Jumat, saya bisa minta tolong untuk menjagakannya agar tidak hilang?" pinta Kiai Asad.

Seketika dedengkot para preman itu, menyanggupinya. "Gampang itu, Kiai. Paling yang mencuri ya anak buah saya. Biar saya yang akan menjaga," tanggapnya dengan bangga.

Pertemuan pun diakhiri dengan kesepakatan sebagaimana di atas. Kiai Asad berpamitan seraya mengucapkan terima kasih kepada para preman tersebut.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Hari Jumat pun tiba. Si dedengkot preman itu tampak berjaga di dekat masjid. Berkat pengawasannya tersebut, tak ada sepasang sandal pun yang hilang. Begitupun jumat berikutnya.

Hingga pada Jumat keempat, si dedengkot preman yang menjaga sandal itu merasa ada yang aneh. Sebagai sosok yang disegani dan ditakuti banyak orang, ia merasa tidak kelasnya untuk melakukan tugas tersebut.?

"Masak sih saya menjaga sandal tukang becak, penjual kacang dan orang-orang remeh itu," gugatnya. "Seharusnya saya juga sholat dan sandal saya yang dijaga," imbuhnya.

Persoalan itu, lantas ia adukan ke Kiai Asad. Dengan tenang Kiai Asad balik bertanya. "Kalau sampean ikut sholat, lantas siapa yang menjaga sandalnya?"

"Tenang, Kiai," jawab si dedengkot preman. "Saya punya banyak anak buah. Biar mereka yang menjaga, saya yang sholat," tegasnya.

Kiai Asad pun menyetujuinya sembari mengucap syukur dalam hati atas hidayah yang tak langsung diberikan kepada si preman tersebut.

Proses itu pun berlanjut ke preman lainnya. Saat disuruh menjaga sandal, ia pun merasa aneh. "Masak, preman suruh menjagakan sandal preman," gugatnya balik. Akhirnya, mereka satu per satu pun ikut sholat Jumat.

Demikianlah cara Kiai Asad mendakwahkan ajaran-ajaran Islam. Penuh kearifan, tanpa ada pemaksaan yang terkadang berujung pada pemberontakan.

Namun, lanjut H Ikrom, selama proses dakwah tersebut, Kiai Asad tak pernah berhenti bertaqarub kepada Allah. Ia bermunajat meminta kepada Sang Kholik untuk memberikan hidayah kepada para preman tersebut. Berkat kekuatan doa Kiai Asad itulah, para preman mendapatkan hidayah.?

(Barrur Rohim)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan RMI NU, Pesantren Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 11 Desember 2017

Ide Sertifikasi Kiai Memprihatinkan

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Ide Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang dipimpin Ansyaad Mbai untuk mensertifikasi dai dan ustadz sebagai upaya menanggulangi aksi terorisme dinilai Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Slamet Effendy Yusuf sebagai langkah yang memprihatinkan.

Ide Sertifikasi Kiai Memprihatinkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ide Sertifikasi Kiai Memprihatinkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ide Sertifikasi Kiai Memprihatinkan

Menurutnya gelar ustadz, guru, ulama dan kiai itu berasal dari masyarakat sendiri, dan bukannya pemberian pemerintah. Karena itu pemerintah tidak boleh mengintervensi predikat yang telah diberikan oleh masyarakat selama ini.

“Kita sudah melakukan deradikalisasi agama tanpa melakukan sektarianisme seperti dilakukan BNPT, di mana negara mencoba melakukan intervensi ke wilayah civil society. Padahal, ide itu tidak akan menyelesaikan masalah dan itu gagasan orang yang putus asa. Dia mencoba mengikuti Singapura dan Saudi Arabia. Sementara Saudi dan Singapura itu bukan negara demokratis,” tandas Slamet Effendy Yusuf pada wartawan di Jakarta, Selasa (11/9).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Singapura dan Saudi itu menurut Slamet sebagai negara yang dipimpin dengan tangan besi, dan bukannya demokrasi seperti Indonesia. Di kedua negara tersebut tidak ada kebebesan mendirikan organisasi agama. Bahkan dasar pemikiran sertifikasi ustadz itu sebagai ide fasis, yang berangkat dari masalah terorisme kemudian negara akan melakukan kontrol terhadap wilayah agama. “Ini justru akan menghambat demokrasi, dan yang terjadi BNPT akan meng-inteli pesantren-pesantren,” tambahnya.

Sejauh itu para kiai di pesantren khususnya di kalangan NU lanjut Slamet, selama ini sudah melakukan deradikalisasi dengan Islam yang moderat (tawassuth), dan tolerans (tasamuh). Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa gerakan BNPT dan Densus 88 justru melahirkan generasi teroris baru? Karena itu katanya, kita harus menjernihkan pemikiran tentang bagaimana cara memberantas terorisme itu sendiri. “Jangan sampai kekerasan seperti dilakukan Densus 88 selama ini menjadi tontotan masyarakat,” katanya mengingatkan. ?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sebelumnya Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menolak sertifikasi ustadz tersebut, karena gelar kiai atau ustadz bukan pemberian pemerintah, sehingga tidak dibutuhkan langkah sertifikasi untuk melihat nasionalisme penyandangnya. "Panggilan kiai atau ustadz itu yang menyebutkan masyarakat, bukan pemberian dari Pemerintah. Pemerintah terlalu jauh kalau ngurusi hal-hal seperti ini," tegasnya.

Terkait tudingan gagalnya deradikalisasi oleh pemuka agama, ia menilai bukan semata-mata karena rendahnya peran ulama. Kondisi yang ada saat ini diminta menjadi bahan introspeksi, baik oleh kalangan ulama, BNPT selaku institusi resmi, maupun seluruh elemen masyarakat.

Sebelumnya, BNPT melalui Direktur Deradikalisasi Irfan Idris, mengusulkan dilakukannya sertifikasi dai dan ustadz. Langkah yang sudah dijalankan di Singapura dan Arab Saudi tersebut dinilai bisa mengukur sejauh mana peran ulama dalam menumbuhkan gerakan radikal sehingga dapat mencegah gerakan terorisme di Indonesia.

Penulis: Ahmad Munif

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan RMI NU Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 01 Desember 2017

Panitia dan Peserta Konsisten Jalankan Diklatmad di Banyuwangi

Banyuwangi, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Kesungguhan dalam mencetak kader-kader yang militan dan cinta tanah air benar-benar diterapkan dalam Pendidikan dan Latihan Madya (Diklatmad) Corp Brigade Pembangunan (CBP) dan Korp Pelajar Putri (KPP) se-Tapal Kuda yang terdiri atas Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Kabupaten Probolinggo, Kota Kraksan, Probolinggo Kota, Lumajang, Kabupaten Jember, dan Kencong.

Ketua Stering Comite (SC) Diklatmad Fauzi Setiawan menjelaskan, di awal pembukaan Diklatmad panitia menerima belasan peserta yang dikirim dari beberapa kabupaten se-Tapal Kuda. Karena padatnya agenda pendidikan dan pelatihan fisik, peserta mulai berguguran.

Panitia dan Peserta Konsisten Jalankan Diklatmad di Banyuwangi (Sumber Gambar : Nu Online)
Panitia dan Peserta Konsisten Jalankan Diklatmad di Banyuwangi (Sumber Gambar : Nu Online)

Panitia dan Peserta Konsisten Jalankan Diklatmad di Banyuwangi

"Untuk dapat mengikuti Diklatmad dengan baik, setiap peserta dibutuhkan kekuatan pikiran, mental, dan fisik. Jika peserta lemah di antara ketiganya, secara otomatis panitia akan memberikan penegasan kepada mereka (peserta)," kata Wawan saat ditemui Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan di sela-sela kegiatan di Ruang Sekretariat Diklatmad, Dusun Selogiri, Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro, Sabtu (23/9) pagi.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Mayoritas peserta hanya mampu dalam pelatihan yang sifatnya teori. Sedangkan dalam materi aplikatif berhubungan dengan skill ada peserta yang tidak mampu. Maka panitia akan memberi penegasan. Pulang saja. Kemarin ada yang saya suruh pulang peserta asal Jember," tegas Wawan.

Ketua IPNU Banyuwangi Moh Yahya Muzakki mengatakan, hasil dari Diklatmad ini mencetak kader-kader karakter pemimpin tangguh. "Disini tidak dibutuhkan kader-kader yang hanya unggul di wacana, namun lemah dalam aplikatif untuk mewujudkan wacana itu," jelas Yahya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Karena itu, saya sangat mengapresiasi ketegasan komandan-komandan yang menjadi bagian dari panitia Diklatmad ini. Dari ketegasan pemberlakuan dan konsistensi syarat maupun aturan selama pelatihan ini, akan mencetak kader-kader militan," sambung Yahya.

Pada akhirnya, dengan modal hasil kader-kader militan ini, kata Yahya, dapat mewujudkan pemuda impian bangsa.

"Menjawab kebutuhan pemuda yang cinta kepada ulama khususnya organisasi Nahdlatul Ulama. Dan siap mengawal keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sampai kapanpun," tutup Yahya.

Diklatmad yang dilaksanakan selama lima hari ini diwarnai dengan materi-materi pendukung, yaitu materi yang berhubungan dengan teori sampai dengan materi yang berkaitan simulasi evakuasi korban bencana. (M Sholeh Kurniawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan RMI NU, Kajian, Fragmen Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 23 November 2017

GP Ansor dan Banser NTT Kawal Pawai Paskah 2016

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Pimpinan Wilayah GP Ansor dan Banser NTT turut berpartisipasi dalam Pawai Paskah 2016, Senin (28/3). Satu pleton Banser diturunkan guna mengamanakan situasi pengamanan Paskah bersama Polisi maupun TNI. GP Ansor NTT dan GP Ansor Kota Kupang menurunkan satu unit mobil rombongan pawai paskah.

Demikian disampaikan Sekretaris PW Ansor NTT Ajhar Jowe di Kupang.

GP Ansor dan Banser NTT Kawal Pawai Paskah 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor dan Banser NTT Kawal Pawai Paskah 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor dan Banser NTT Kawal Pawai Paskah 2016

"PW Ansor dan Banser NTT ikut mengamankan Pawai Paskah demi menjaga keberlangsungan situasi Paskah serta menjaga keberagamaan umat beragama di NTT, pada momen hari-hari besar keagamaan," kata Ajhar.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pihaknya sementara ini melakukan persiapan partisipasi pawai paskah bersama rombongan menuju lokasi pawai di Jalan Eltari Kupang, Depan Rumah Jabatan Gubenrur NTT.

Pawai Paskah, kata Ajhar bagian dari agenda rutin tahunan GP Ansor NTT sebagai pengamanan hari besar keagamaan. Partsipasi dari GP Ansor beserta Banser dilakukan bukan saja momen hari besar agama Kristiani tetapi seluruh umat beragama yang ada di NTT.

Dari pantauan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan, sejumlah pihak tengah mempersiapkan pawai paskah. Seluruh jajaran terkait menghiasi berbagai kendaraan dengan tema Paskah. Terlihat sepanjang jalan WJ Lalamentik, berbagai kendaraan tronton besar menuju lokasi pawai dengan berbagai hiasan menarik. (Red Alhafiz K)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Bahtsul Masail, Doa, RMI NU Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 18 November 2017

Paham Kebangsaan Penting untuk Tangkal Radikalisme dan Intoleransi

Bandung, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Kurangnya paham kebangsaan bisa menimbulkan sikap intoleransi dan radikalisme. Hal ini dikatakan oleh Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jawa Barat Asep Irfan Mujahid di Sekretariat PW IPNU Jawa Barat di Jl Terusan Galunggung Bandung, Ahad (15/10).

Paham Kebangsaan Penting untuk Tangkal Radikalisme dan Intoleransi (Sumber Gambar : Nu Online)
Paham Kebangsaan Penting untuk Tangkal Radikalisme dan Intoleransi (Sumber Gambar : Nu Online)

Paham Kebangsaan Penting untuk Tangkal Radikalisme dan Intoleransi

Asep menerangkan, momentum hari Toleransi harus dijadikan titik tolak dimana pemahaman toleransi secara simultan bisa tersampaikan kepada semua pihak. Karena pentingnya nilai toleransi adalah jaminan keberlangsungan keberagaman yang merawat humanisme.

Pemuda Ciamis ini meneruskan, ada fenomena khusus yang terjadi sekarang ini karena rendahnya pemahaman nilai toleransi, yaitu merebaknya bibit gerakan radikal di kalangan pelajar. Ini menjadi keprihatinan kita bersama. Mengeliminir hal ini salah satunya dengan mendorong internalisasi nilai toleransi di kalangan pelajar.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Saat ini fakta bahwa anak muda sangat rentan dengan penetrasi radikalisme karena anak muda atau pelajar memiliki kecenderungan untuk menginternalisasi pandangan-pandangan radikalis yang di penetrasi oleh lingkungan terdekatnya,” jelasnya.

Temuan ini, tambahnya, tentu pada tingkat tertentu memerlukan penyikapan. Terlebih kesadaran keagamaan khususnya kesadaran keislaman yang tidak diimbangi dengan kesadaran kewarganegaraan yang memadai akan menjadi titik rawan bagi masuknya kelompok garis keras yang akan mentransformasikannya menjadi kekuatan Islam yang destruktif, intoleran dan membungkam keragaman.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Untuk itu, solusinya harus ada upaya kampanye toleransi dengan cara kreatif dengan melibatkan pelajar dan anak muda untuk menyampaikan toleransi dan pesan-pesan damai. Dan pesan toleransi ini dikemas dengan cara yang popular karena para pemuda itu suka yang agak popular,” terangnya. (Husni Mubarok/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Santri, RMI NU Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 16 November 2017

Sambut Hari Santri, Pondok Al Mizan Berantas Pungli

Majalengka, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Hari Santri bukan hanya sebatas memperingati saja akan tetapi Hari Santri memiliki makna yang lebih mendalam karena santri sudah memberikan kontribusi pada negara.?

“Hari Santri bukan hanya sebatas memperingati saja atau mengikuti upacara saja akan tetapi Hari Santri memiliki makna yang lebih mendalam karena Hari Santri memberikan kesamaan hak kepada kaum sarungan. Selain itu, Pesantren adalah lembaga pendidikan yang konsisten membentuk karakter keberanian dan kejujuran,“ kata Pengasuh Pesantren Al Mizan KH Maman Imanulhaq, Kamis, (20/10) di Pondok Pesantern Al mizan Jatiwangi Majalengka.

Sambut Hari Santri, Pondok Al Mizan Berantas Pungli (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Hari Santri, Pondok Al Mizan Berantas Pungli (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Hari Santri, Pondok Al Mizan Berantas Pungli

Lanjut Maman, saat ini pemerintah Jokowi sedang memberantas pungli dan Santri Al-Mizan Jatiwangi mendukung penuh Presiden Jokowi memberantas pungli.

Sementara itu, Ketua Panitia Hari Santri Muad Muzakir kegiatan yang sudah di siapakan jauh-jauh hari dengan beberapa agenada diantaaran ziarah ke Mbah Aqil, cipta puisi, debat santri dan kreasi seni.

?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Sebenarnya ini sudah agenda tahunan dari pondok akan tetapi biar lebih terencana dibagi beberapa agenda yang berlangsung tiga hari dari Kamis sampai Sabtu dan puncaknya dengan adanya perlombaan dengan menggagas tema bakti santri untuk negeri,“ kata ketua Santri Al Mizan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Miliyanto salah satu santri Al Mizan mengatakan, “Saya merasa bangga sebagai santri karena ada kesaman hak dengan sekolah formal. Walaupun begiatu saya akan tetap menyantri walau sudah selsai sekolah bahkan sampai kuliah.” (Tata Irawan/Mukafi Niam)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan AlaSantri, RMI NU Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 13 November 2017

Ansor Aceh: Larangan Duduk Mengangkang Jangan Dipolitisir

Banda Aceh, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Instruksi Walikota Lhokseumawe Suaidi Yahya terkait larangan duduk mengangkang sudah menjadi pembicaraan publik dunia.

Sayangnya, sejumlah pihak yang ikut mengomentari wacana Suaidi Yahya tidak memberikan tanggapan yang konstruktif. Lebih buruk dari yang diharapkan, justru sejumlah pihak menjadikan isu ini sebagai bahan untuk menjatuhkan Aceh di mata dunia.

Ansor Aceh: Larangan Duduk Mengangkang Jangan Dipolitisir (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Aceh: Larangan Duduk Mengangkang Jangan Dipolitisir (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Aceh: Larangan Duduk Mengangkang Jangan Dipolitisir

"Ada juga yang sekedar mencari sensasi dengan alasan logika yang terlalu dipaksakan. Entah itu kalangan politisi, pengamat sosial, orang-orang yang melebeli diri pejuang HAM dan gender. Padahal inikan baru tahapan sosialisasi. Belum jadi Perda. Harusnya kritik konstruktif yang diberikan," ujar Ketua GP Ansor Aceh Samsul B Ibrahim kepada wartawan, Selasa (8/1/2013).

Penting diketahui oleh semua pihak sambung Samsul, instruksi larangan duduk mengangkan di Kota Lhokseumawe masih berupa himbauan. Himbauan ini belum bersifat mengikat karena Pemerintah Kota Lhokseumawe masih membutuhkan masukan dari berbagai stakeholder masyarakat. Hal itu bermakna, Pemerintah Kota Lhokseumawe di bawah Pemerintahan Suaidi Yahya dinilai mengedepankan asas partisipatif sehingga dimungkinkan adanya ruang diskusi antara masyarakat dan pemerintah.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Himbauan ini kan baru diedarkan 2 Januari 2013 kemarin. Dan himbauan ini akan berlaku untuk dua bulan ke depan. Artinya masih ada waktu untuk didiskusikan dan dikritisi secara kontruktif. Lah nyatanya beberapa pihak terlalu latah. Mereka justru menghujat, menjatuhkan, dan tidak menghargai usaha pemerintah," jelasnya.

Sebagaimana diketahui, hingga saat ini instruksi larangan duduk mengangkang tidak dijadikan masalah yang sangat besar oleh warga Lhokseumawe. Sebagaimana yang diharapkan Suaidi, kalangan PNS di jajaran pemerintah setempat sudah mulai menjadikan instruksi tersebut sebagai gaya hidup baru para perempuan Lhokseumawe.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Di luar itu, perempuan Lhokseumawe secara umum juga mulai memahami mengapa instruksi larangan duduk mengangkan dinilai penting direspon secara positif. "Kontra tidak mungkin tidak ada. Tapi perempuan Lhokseumawe secara umum tidak melihat ini masalah besar. Lagian siapa juga yang mau mengendarai kendaraan cepat-cepat sampai 120 km/jam. Jadi duduk menyamping itu dianggap baik buat mereka," ujar Samsul.

Apalagi sambungnya, instruksi itu juga merupakan rekomendasi kalangan ulama dan tokoh adat. Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU), Majelis Ulama Nanggroe Aceh (MUNA), dan Majelis Adat Aceh (MAA) tidak mungkin mengeluarkan rekomendasi yang bertentangan baik dari hukum positif yang ada di Aceh, begitu juga dalam pendekatan hukum Islam.

Bagi GP Ansor Aceh sendiri, larangan duduk mengangkang bukanlah kebijakan yang merugikan masyarakat atau perempuan secara khusus. Instruksi ini akan memperkecil potensi kecelakaan lalu-lintas, karena pengendara sepeda motor tidak memungkinkan mempercepat laju kendaraan di atas standar kecepatan berlalu-lintas dalam perkotaan. Instruksi ini juga akan menjadi khazanah budaya masyarakat Aceh yang tidak akan dijumpai di tempat lain. 

"Akan menjadi manifesto budaya. Nah kalau mau belajar soal bagaimana pemerintah menjaga perempuan, silahkan belajar di Lhokseumawe," pungkasnya sembari tersenyum. 

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Kyai, RMI NU Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 12 November 2017

Negara Mesti Tegas kepada Kelompok Ekstremis

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Mustasyar PBNU KH Ma’ruf Amin mendorong pemerintah untuk mengambil tindakan khusus terhadap kelompok ektremis atas nama agama atau politik. Negara, menurut Kiai Amin, tidak boleh bersikap abai terhadap mereka yang melanggar komitmen kebangsaan. Pasalnya, negara ini memiliki prinsip-prinsip dasar yang mesti dipatuhi setiap warga di Indonesia.

Kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan di Gedung PBNU jalan Kramat Raya nomor 164, Selasa (22/7), Kiai Ma’ruf menyebut tahapan sikap negara. Pertama, negara perlu kembali mengingatkan mereka bahwa kita menyepakati etika dan komitmen berbangsa.

Negara Mesti Tegas kepada Kelompok Ekstremis (Sumber Gambar : Nu Online)
Negara Mesti Tegas kepada Kelompok Ekstremis (Sumber Gambar : Nu Online)

Negara Mesti Tegas kepada Kelompok Ekstremis

Negara antara lain mendorong dialog-dialog kebangsaan. Mereka, Kiai Ma’ruf melanjutkan, mesti diberi tahu bahwa di dalam negara ada etika dan konsensus bernegara yang harus dipenuhi. Kalau ada perbedaan pandangan sejauh itu di dalam koridor, saya kira tidak ada masalah. Tetapi kalau sudah di luar koridor, negara harus memperingatkan dan mengambil tindakan terhadap mereka.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Empat pilar ini konsensus kita bersama. Sejauh mereka berbeda dalam implementasi, kita bisa berdialog. Tetapi kalau sifatnya menggungat empat pilar, ini sudah pelanggaran konsensus. Negara berkewajiban untuk mengambil pendekatan tertentu,” tegas Kiai Ma’ruf.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kita mempunyai Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, NKRI sebagai acuan hidup bersama di Indonesia. Kalau mereka melanggar komitmen itu, tentu negara harus menggunakan haknya, bertindak. Negara mesti tegas, tandas Kiai Ma’ruf. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Kiai, Pertandingan, RMI NU Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 07 November 2017

Ansor Padangpariaman: Tindak Tegas Perusak Kerukunan Antaragama!

Padangpariaman, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Padangpariaman siap mendukung setiap tindakan tegas terhadap pihak yang merusak kerukunan umat beragama. Kondisi kehidupan beragama yang selama ini berjalan tentram dan damai di Kabupaten Padangpariaman harus dipertahankan.

Hal itu disampaikan Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Padangpariaman Zeki Aliwardhana, Selasa (13/10) malam di ruangan rapat ? Kantor DPRD Padangpariaman, di Pariaman, pada Rapat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopinda) Kabupaten Padangpariaman bersama tokoh masyarakat, tokoh agama dan SKPD terkait.

Ansor Padangpariaman: Tindak Tegas Perusak Kerukunan Antaragama! (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Padangpariaman: Tindak Tegas Perusak Kerukunan Antaragama! (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Padangpariaman: Tindak Tegas Perusak Kerukunan Antaragama!

"Tindakan antisipasi melalui pertemuan ini patut diberikan apresiasi. Sehingga tidak sampai terjadi hal-hal yang melanggar hukum dan mengganggu ketentraman ? di tengah masyarakat. Ansor sebagai organisasi pemuda selalu menjunjung keberagaman di NKRI ini," tambah Zeki mantan Sekretaris PMII Kota Pariaman ini.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sementara itu, dalam pertemuan tersebut antara lain menghasilkan kesepakatan; pertama, menyikapi kejadikankonflik tentang kerukunan hidup beragama yang terjadi di Aceh Singkil. Kedua, diharapkan masyarakat tidak terpengaruh terprovokasi atas kejadian tersebut. Ketiga, seluruh unsur terkait berkewajiban melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak terpengaruh atas kejadian di Aceh Singkil. Keempat, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Padangpariaman telah secara rutin melaksanakan sosialisasi kepada masyarakat terhadap kegiatan kerukunan umat beragama.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Demikian kesepakatan bersama ini kami nyatakan untuk dapat ditindaklanjuti secara berjenjang," tulis pernyataan yang ditandatangani Asisten I Bupati Padangpariman Anwar M.Si, Ketua DPRD Padangpariaman ? Faisal Arifin, Dandim 0308/Pariaman Letkol. Kemudian Persada Alam, Kapolres Padangpariaman AKBP Rudy Yoelianto, SIK, MH, Ketua MUI Padangpariaman Dr. Zainal Tk. Mudo, Kepala Kemenag Masri Chan, Pendeta BKKP Fagri Hia, Dewan Gereja Katolik Johanes Nasbaho, Kakan Kesbangpol Padangpariaman Yusmanda, SE, MPd, Mewakili Ketua Pengadilan Eri Sofyan, dan Ketua Gerakan Pemuda Ansor Padangpariaman Zeki Aliwardana. ?

Dandim 0308/Pariaman Letkol. Persada Alam, juga mengakui kondisi di Padangpariaman masih berjalan harmonis. Untuk itu, setiap pimpinan agama dan tokoh masyarakat agar bersama-sama dapat menyampaikan kepada jamaah dan keluarganya betapa pentingnya menjaga harmonisasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

"Faktanya, Indonesia merupakan bangsa yang besar. Memiliki banyak suku bangsa, berbeda agama dan budaya yang sangat beragam dari Sabang hingga Merauke. Di satu sisi hal itu menjadi potensi dalam pembangunan bangsa, namun di sisi lain keberagaman tersebut juga rawan terjadinya konflik. Untuk itu sangat dibutuhkan saling menghormati satu sama lain sehingga terwujud keharmonisan dan ketentraman bersama," kata Persada. (Armaidi Tanjung/Fathoni)

Keterangan foto: Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Padangpariaman Zeki Aliwardhana, Selasa (13/10/2015) malam sedang menyampaikan pandangannya dalam Forkopinda.

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan RMI NU Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock