Tampilkan postingan dengan label Khutbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khutbah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Maret 2018

Kisah Kejujuran dan Pertobatan Kaab bin Malik

Salah satu perang kenamaan di masa Rasulullah adalah Perang Tabuk. Perang ini terjadi pada tahun kesembilan Hijriah, tepatnya pada bulan Rajab. Berdasarkan beberapa riwayat, seperti dalam kitab Sirah Nabawiyyah karya Ibnu Hisyam, perang ini merupakan perang yang berat karena cuaca yang kering, keadaan paceklik, serta lokasi peperangan yang jauh. Kisah berikut disarikan dari keterangan kitab tersebut.

Di antara rombongan umat muslim itu, tersebutlah Kaab bin Malik yang tidak ikut serta dalam keberangkatan menuju Perang Tabuk. Sebelumnya, Kaab bin Malik dikenal di kalangan sahabat sebagai orang yang terpercaya, golongan orang-orang yang pertama masuk Islam, dan selalu mengikuti perang bersama Nabi. Orang-orang tidak meragukan keimanannya.

Kisah Kejujuran dan Pertobatan Kaab bin Malik (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Kejujuran dan Pertobatan Kaab bin Malik (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Kejujuran dan Pertobatan Kaab bin Malik

Sayangnya, pada perang Tabuk ini, Kaab bin Malik ketinggalan rombongan sebab keterlambatannya dalam menyiapkan perbekalan. Anda tahu, saat Kaab masih bingung dalam persiapan menuju medan perang Tabuk, ternyata Nabi dan sahabat lain sudah bergegas menuju medan peperangan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kaab bin Malik pun gelisah karena keterlambatannya ini. Ia mengetahui bahwa ketika ada umat muslim yang mangkir dari perang, dan bukan disebabkan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan, maka hal tersebut adalah termasuk dosa yang besar.

Dalam kegelisahannya itu, ketika keluar rumah, ia menemui bahwa yang masih berada di sekitar lingkungannya adalah orang-orang yang bermaksud mangkir dari peperangan – konon disebut kaum yang munafik – dan orang-orang lemah yang tidak mampu berperang.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Di sisi lain, seusai perang, Rasulullah SAW baru menyadari bahwa Kaab bin Malik tidak ikut serta dalam perang Tabuk itu. Ia menanyakan pada para sahabat,

“Kemanakah Kaab bin Malik?”

Kemudian ada yang mengatakan, konon seorang sahabat dari Bani Salimah, mempertanyakan jangan-jangan Kaab ini mementingkan dirinya sendiri. Tapi langsung ia didamprat oleh sahabat Muadz bin Jabal ra.

“Perkataanmu buruk sekali! Tidak pantas kau katakan itu atas Kaab bin Malik!”

Kaab menjadi resah saat ia tahu bahwa ia tertinggal dan absen dari perang. Hal yang ia resahkan, adalah bagaimana ia akan berujar pada Nabi tentang keadaan yang menimpanya. Sempat ada hasrat berbohong, tapi ia urungkan.

Setibanya Nabi di Madinah, lalu menunaikan sembahyang sebagaimana beliau amalkan seusai perang, orang-orang yang tidak mengikuti perang mendatangi beliau dan menyampaikan alasan-alasan mereka. Disebutkan kurang lebih delapan puluh orang. Nabi menerima alasan mereka, dan mengatakan bahwa beliau menyerahkan urusan kebenaran dalam hati mereka dengan Allah. Kaab bin Malik pun menjadi rikuh.

Ia beranikan diri mendatangi Nabi, lantas berkata dengan jujur,

“Sejujurnya Nabi, tidak ada yang menghalangi saya untuk mengikuti perang. Saya rela mendapat hukuman atas kesalahan yang telah saya perbuat. Daripada saya mendapat murka Allah atas alasan-alasan yang saya perbuat, lebih baik saya mendapat hukuman darimu, Nabi,”

Mendengar pengakuan yang tulus itu, Nabi menerimanya. Namun karena beliau tahu bahwa kesalahan yang diperbuat Kaab bin Malik adalah kesalahan yang besar, maka beliau memutuskan untuk menunggu jawaban dari Allah. Rupanya selain Kaab bin Malik, ada dua sahabat lainnya yang mengalami hal serupa, dengan alasan yang sama dengan Kaab bin Malik.

Beberapa hari kemudian, Nabi memerintahkan para sahabat untuk tidak mengajak bicara Kaab bin Malik dan dua sahabat lainnya itu sebagai bentuk hukuman. Tentu saja bagi mereka bertiga, hal itu terasa menyesakkan perasaan. Dalam riwayat, Kaab bin Malik berusaha bertingkah biasa, namun bagaimanapun ia merasakan tekanan yang berat saat diabaikan oleh sahabat-sahabat lainnya. Ia sempat berjumpa seorang sahabat, lantas bertanya,

“Tidak tahukah engkau bahwa aku ini sungguh mencintai Allah dan Rasul-Nya?”

Sahabat itu menjawab, “Hanya Allah dan Rasul-Nya yang mengetahui tentang hal itu,”

Kaab bin Malik semakin kesulitan. Kemudian pada hari keempat puluh, Nabi menambahkan bahwa Kaab bin Malik dan dua sahabat lainnya yang tidak ikut perang tersebut diminta untuk tidak mendekati istri-istri mereka. Tak terasa, hukuman itu terjadi sampai lima puluh hari. Pada hari kelima puluh itu, Kaab bin Malik melakukan salat sebelum fajar, lantas mengadukan masalahnya kepada Allah.

“Kaab!” Terdengar suara Nabi memanggil. Kaab bin Malik terkejut.

“Sungguh, ampunan Allah sudah tiba untuk kalian bertiga!” terang Rasulullah berseri-seri. Kemudian Rasulullah menyebutkan tiga ayat dari surat At Taubah, yaitu ayat 117 sampai 119 yang menjelaskan tentang ampunan Allah untuk mereka bertiga.

Kaab merasakah bahagia, yang dalam riwayat disebutkan bahwa ia tak pernah sebahagia itu sejak dilahirkan ibunya. Kejujurannya berbuah manis, meski ia harus menanggung konsekuensi atas alasan yang ia sampaikan akibat keterlambatannya mengikuti perang. Dan memang diriwayatkan bahwa alasan keteledoran mereka itu, bukanlah bermaksud untuk berpaling dari kewajiban perang, sehingga Allah mengampuni mereka bertiga. Setiap kejujuran memang sering berimbas pahit, namun bagaimanapun, ia adalah sikap berani mempertanggungjawabkan kesalahan, sebagaimana dicontohkan Kaab bin Malik dan dua sahabat itu. (Iqbal Syauqi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Anti Hoax, Khutbah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 04 Februari 2018

Bupati Apresiasi Pengabdian Pemuda NU di Way Kanan

Way Kanan, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pj Bupati Way Kanan Provinsi Lampung, Albar Hasan Tanjung, di Blambangan Umpu, Jumat (25/12) mengaku bangga dengan pemuda Nahlatul Ulama (NU) di daerah yang dipimpinnya.

Bupati Apresiasi Pengabdian Pemuda NU di Way Kanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Apresiasi Pengabdian Pemuda NU di Way Kanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Apresiasi Pengabdian Pemuda NU di Way Kanan

"Saya bangga Barisan Ansor Serbaguna atau Banser mengawal, menjaga, mempersatukan, menjadi perekat satu sama lain. Saya bangga Banser bergerak bukan hanya untuk NU dan Ansor," ujar Albar.

Sekecil apapun yang diperbuat manusia, lanjutnya, akan kembali pada diri sendiri. "Kita mau jadi apa asal fokus dan bersama, kita bisa. “Saya bangga ? Ansor dan NU setia berbuat untuk bangsa. Meningkatkan kualitas diri mereka untuk bisa dirasakan manfaatnya bagi orang disekitarnya," ujar dia lagi.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Albar pada Kamis (24/5) membuka Pendidikan Kepemimpinan Dasar (PKD) Ansor IV dan Pendidikan serta Pelatihan Dasar (Diklatsar) IX Barisan Ansor Serbaguna (Banser) di Way Kanan yang digelar di Masjid Al Muhajirin, Kampung Bumi Baru, Kecamatan Blambangan Umpu yang saat ini sedang dirintis menjadi Pondok Pesantren Riyadlotut Thullab. Kegiatan digelar melalui Pimpinan Ranting Kampung Bumi Baru Kecamatan Blambangan Umpu itu diikuti 109 peserta.

Berkaitan dengan kaderisasi, Ketua PC GP Ansor Way Kanan, Gatot Arifianto didampingi Kasatkorcab Banser, Alex Almukmin menyampaikan hormat pada kader muda NU di Kampung Bumi Baru yang hanya berjumlah sepuluh orang namun bisa mempersiapkan pra kegiatan dengan baik.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Terima kasih juga untuk calon anggota Pemuda Ansor yang Insyaallah akan menjadi masa depan negara melalui NU," kata Gatot.

Hadir pada pembukaan kegiatan Ansor Wakapolres Kompol Henggar Teguh Wahono, Ketua Perbakin Way Kanan Radin Djambat, Shooting Club Merky Defrienc beserta jajaran, Ketua NU KH Nur Huda, Ketua MWCNU Blambangan Umpu Ustad Abdul Aziz, Ketua MWCNU Negeri Agung Ustad Muhajir, Ketua Lembaga Dakwah NU (LDNU) Way Kanan Ustadz Abdul Rokhim, Sekretaris dan Wakil Ketua Dewan Penasehat PC GP Ansor Way Kanan, Supri Iswan dan Syahrul Munir.

"Terima kasih dan hormat juga kami sampaikan kepada Kiai Imam Murtadlo Pengasuh Pondok Pesantren Assidiqiyah 11 yang jauh-jauh berkenan hadir menengok kegiatan kami, kami kira ini penghargaan dan apresiasi dahsyat dari para pemangku kebijakan, ulama dan senior kepada PC GP Ansor Way Kanan," ujar Gatot lagi pada kegiatan yang didukung sejumlah pihak, seperti HIPSI Lampung, Pergunu, PGRI Way Kanan, Yayasan Shuffah Blambangan Umpu. (Syuhud Tsaqafi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Fragmen, Khutbah, Daerah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 31 Januari 2018

723 Santri Madrasah Diniyah TA Ikuti Wisuda Akbar ke 2

Brebes, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Sebanyak 723 santri ? dari Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) se Kabupaten Brebes mengikuti Wisuda Akbar ke-2 di Aula Islamic Center Jalan Yos Sudarso Brebes, Ahad (21/5). Wisuda dilakukan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Brebes, Imam Hidayat, ? disaksikan orang tua santri, dewan guru dan pejabat pemerintahan setempat.?

“Sebanyak 723 santri, mewakili madrasah masing-masing yang ada di Kabupaten Brebes,” ujar Ketua Forum Komunikasi Madrasah Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kabupaten Brebes H Sururi, di sela kegiatan.

723 Santri Madrasah Diniyah TA Ikuti Wisuda Akbar ke 2 (Sumber Gambar : Nu Online)
723 Santri Madrasah Diniyah TA Ikuti Wisuda Akbar ke 2 (Sumber Gambar : Nu Online)

723 Santri Madrasah Diniyah TA Ikuti Wisuda Akbar ke 2

Dari 723 madrasah MDTA yang ada di Kabupaten Brebes, dikatakannya, telah meluluskan 9.563 santri. Dijadwalkan untuk tahun mendatang seluruh santri akan di hadirkan di alun-alun, jadi meriah. Kalau sekarang, tempatnya tidak muat jadi hanya perwakilan saja yang diajak ke Islamic Center.

Dari banyaknya madrasah diniyah di Brebes, lanjut Sururi, masih terjadi ketimpangan dengan kurangnya perhatian pemerintah. Terbukti hingga kini belum terlahirnya Peraturan Daerah (Perda) tentang Pendidikan Madrasah. Diyakini Sururi, dengan madrasah, akhlakul karimah generasi muda bisa terjaga. Karena MDTA menjadi lembaga penjaga moral yang sangat penting yang harus dipertahankan.

“Tidak pernah tawuran ketika lulus madrasah, kalau sedari kecil sudah mengenyam pendidikan madrasah. Itu artinya memiliki akhlakul karimah, dan itu menjadi ukuran mutu dalam pendidikan,” ungkapnya.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kasubid Diniyah Formal dan Ma’had Ali, Kementerian Agama (Kemenag) RI Ahmad Jayadi mengakui kalau tantangan terhadap MDTA tidaklah ringan. Terakhir, adalah dengan pemberlakukan 5 hari masuk sekolah. Yang artinya, waktu milik MDTA akan tercerabut oleh kebijakan Mendiknas yang dikabarkan kebijakan itu akan tetap diberlakukan pada 2018 mendatang.?

“MDTA perlu mencari terobosan dan inovasi waktu dan system pembelajaran, agar MDTA tetap lestari dan makin maju,” ujarnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Untuk meningkatkan kualitas MDTA sepertinya perlu diterbitkan Perda Madrasah, kata Jayadi, harus dimulai dari diri sendiri. Artinya, madrasah itu dari, oleh dan untuk umat. Kalau umatnya berkehendak kuat, maka tidak mustahil Perda atau peraturan lainnya akan mudah dan cepat diterbitkan. “Pemerintah, pada dasarnya hanyalah fasilitator. Kemauan kuat justru berakar dari pengelola MDTA dan FKDT itu sendiri,” tandasnya.?

?

Kendala akibat kepentingan politik, menurutnya sudah biasa, untuk itu, seluruh komponen harus seiring sejalan dan harus berangkat bersama.

?

Jayadi menginformasikan, kalau saat ini tengah dirancang undang undang tentang Pendidikan Pesantren. “Mudah-mudahan madrasah bisa terakomodir didalamnya. Sehingga posisi pendidikan agama dan keagamaan setara dengan pendidikan yang lain,” tandasnya.

Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Brebes, Imam Hidayat mengajak seluruh kepala MDTA untuk tidak patah arang dalam mengelola pendidikan Islam. “Kita harus optimis bahwa anak-anak yang lulus MDTA bisa melanjutkan ke Wustho. Pendidikan diniyah bukanlah sebagai pelengkap belaka, tetapi sudah menjadi kebutuhan yang urgen bagi masyarakat,” tandasnya.?

Agama lanjut Imam Hidayat, menjadi pemecah solusi tentang kemanusiaan dan kemasyarakatan. Bila agama sudah keluar dari karakter islam, maka pertanda islam hanya dijadikan alat politik belaka, seperti HTI yang menjadikan agama sebagai politik mendirikan khilafah. Lewat madrasah, anak-anak kita akan memiliki dasar akhlakul karimah yang sangat kuat.

? “Mendapatkan ilmu pengetahuan sangat mudah, tetapi menanamkan akhlakul karimah sangat sulit, untuk itu harus ditanamkan sejak dini,” kata Imam.?

Sementara itu, Kasubag Agama Bagian Kesra Pemkab Brebes, Harun menjelaskan, Pemkab Brebes telah memberikan dukungan yang banyak terhadap dunia pendidikan Islam. Diantaranya adalah, berupa pemberian bantuan hibah kepada para guru madrasah diniyah. “Tentang penerbitan Perda, tentu Pemkab sangat mendukung,” ucapnya. (Wasdiun / Muslim Abdurrahman)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Meme Islam, Pesantren, Khutbah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 29 Januari 2018

Kader NU Lasem Wakili Jateng pada Lomba Karya Ilmiah Nasional

Rembang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Setelah merebut juara pertama pada Lomba Kompetisi Kepala Madrasah Berprestasi Tingkat Provinsi Jawa Tengah pada 18 hingga 21 Agustus 2016 lalu, akhirnya Kepala Madrasah Tsanawiyah (MTs) Maslakul Huda Kecamatan Sluke, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, berhasil melaju ke tingkat nasional.

"Alhamdulillah, lomba tingkat provinsi yang diselenggarakan di Hotel Grand Wahid Salatiga pada Agustus kemarin saya keluar sebagai juara pertama. Ini membuka harapan bagi saya untuk mewakili warga NU, Kabupaten Rembang, dan Provinsi Jawa Tengah di ajang nasional," terang Sumardi yang merupakan Wakil Sekretaris NU Cabang Lasem tersebut.

Kader NU Lasem Wakili Jateng pada Lomba Karya Ilmiah Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader NU Lasem Wakili Jateng pada Lomba Karya Ilmiah Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader NU Lasem Wakili Jateng pada Lomba Karya Ilmiah Nasional

Kompetisi Guru, Kepala dan Pengawas Madrasah Berprestasi ini diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Madrasah Kementerian Agama Republik Indonesia. Hal ini sebagai upaya memacu tingkat pengembangan mutu pendidikan dan sumber daya manusia (SDM) di tingkat Madrasah.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sumardi yang juga merupakan Ketua Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Cabang Lasem ini berharap, nantinya dalam tingkat nasional dapat memberikan yang terbaik bagi warga NU, dapat mengangkat Kabupaten Rembang dan Provinsi Jawa Tengah di tingkat nasional.

"Tentunya semua itu dapat terwujud atas restu para kiai, doa dari para saudara, dan dukungan dari semua pihak, baik dari tingkat kabupaten maupun provinsi," terangnya kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan, Senin (5/9).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Untuk saat ini, ia mempersiapan pengumpulan data portofolio dan karya ilmiah. Selain itu juga selalu giat dalam belajar tentang dunia pendidikan. Hal ini dilakukan sebagai persiapan presentasi nanti dalam lomba tingkat nasional. (Aan Ainun Najib/Abdullah Alawi)

?

?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Kajian Sunnah, Khutbah, Budaya Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 25 Januari 2018

Makesta NU Banyuwangi untuk Penggerak NU Masa Depan

Banyuwangi, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan?



Koordinator Anak Cabang (Korancab) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama Banyuwangi menggelar Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) di Madrasah Ibtidaiyah Mambaul Huda, Boyolangu, Giri, Banyuwangi Sabtu pagi (24/12) sampai Ahad siang (25/12).

Makesta  NU Banyuwangi untuk Penggerak NU Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)
Makesta NU Banyuwangi untuk Penggerak NU Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)

Makesta NU Banyuwangi untuk Penggerak NU Masa Depan

Para peserta yang hadir merupakan delegasi dari berbagai kecamatan, di antaranya: Licin, Giri, Glagah, Kalipuro, dan Wongsorejo.?

"Hal ini kami lakukan sebagai terobosan maksimalisasi manajemen gerakan dan kaderisasi di setiap Pimpinan Anak Cabang yang masih belum aktif," ujar ketua Koordinator Anak Cabang Hairul Mauli Tamimi.

Menurut Tamimi, Makesta ini juga salah satu langkah mencetak kader-kader muharrik (penggerak) NU masa depan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Tak hanya itu, Haris Budi Utomo perwakilan dari pengurus PC IPNU Banyuwangi berpesan di hadapan kader-kadernya untuk senantiasa tetap meningkatkan prestasi belajar sekolah di samping aktif dalam kegiatan organisasi.

"Tak ada alasan bagi kalian aktif di organisasi menjadikan semangat belajar dan prestasi sekolah kendur. Hal ini sangat tidak kami inginkan. Pasalnya, banyak para pelajar tahun kemarin yang mendapatkan kuliah gratis di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) ternama rekom dari PC IPNU IPPNU Banyuwangi, akibat mereka yang tak surut semangat belajar dan berorganisasi," terang Haris, yang juga sebagai penggawa Departemen Kaderisasi IPNU Banyuwangi.

Dia menambahkan, keuntungan berorganisasi lainnya meningkatkan jaringan sosial kemasyarakatan. Sehingga dengan jalan ini kita dapat membaca peluang-peluang beasiswa kuliah dalam negeri maupun luar negeri.

Dalam pembukaan acara dihadiri oleh perwakilan MWC NU Giri, MWC Kalipuro, PAC Muslimat Giri, PAC Ansor Giri, PAC Fatayat Giri, dan Perwakilan PC IPNU IPPNU Banyuwangi. (M. Sholeh Kurniawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Habib, Santri, Khutbah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 07 Januari 2018

Santri Raudlatul Mubtadiin Asah Kemampuan Menjahit

Majalengka, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pesantren Raudlatul Mubtadiin desa Cisambeng, Palasah, Majalengka mengadakan pelatihan menjahit rutin sepekan sekali bagi para santri. Pelatihan rutin yang dimulai sejak 2011 ini bertujuan membekali keterampilan dasar menjahi.

Rais Aam pesantren Raudlatul Mubtadiin Agus Rofii menginginkan melalui keterampilan menjahit ke depan salah satu pintu rezeki santri terbuka sebagai mata pencaharian.

Santri Raudlatul Mubtadiin Asah Kemampuan Menjahit (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Raudlatul Mubtadiin Asah Kemampuan Menjahit (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Raudlatul Mubtadiin Asah Kemampuan Menjahit

“Usaha menjahit itu cukup berpotensi. Keterampilan menjahit sangat dibutuhkan di masyarakat. Prospeknya juga bagus," kata Agus saat ditemui Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan di ruangan menjahit pesantren Raudlatul Mubtadiin, Ahad (5/10) sore.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Agus menambahkan, sejumlah program di pesantren mengarahkan para siswa menjadi seorang wirausahawan. Sehingga, para santri tidak jenuh untuk nyantri di sini karena kegiatan kita tidak terbatas pada mengaji saja.

Ia berharap para santrinya siap pakai di masyarakat ketika selesai mengaji di pesantren ini. (Aris Prayuda/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Doa, Khutbah, Ulama Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 06 Januari 2018

Lima Perkara Penghalang Kesalehan

Sahabat Ali Karramallahu Wajhah pernah berkata “andaikan tidak ada lima keburukan di dunia ini, tentunya manusia menjadi orang saleh semua. Kelima keburukan itu adalah 1) merasa senang dengan kebodohan. 2) tamak dengan dunia. 3) bakhil dengan kelebihan harta. 4) beramal disertai riya’ dan 5) selalu merasa bangga diri di atas yang lainnya” 

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?  

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Marilah di hari ini kita mempertebal ketaqwaan kita kepada Allah dengan menghindarkan diri dari kecurangan,kebohongan dan berbagai sifat tercela lainnya. Karena dengan demikian kita dapat istiqamah berusaha menjadi orang yang saleh

Lima Perkara Penghalang Kesalehan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lima Perkara Penghalang Kesalehan (Sumber Gambar : Nu Online)

Lima Perkara Penghalang Kesalehan

Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah

Apa yang hendak disampaikan khatib pada khutbah kali ini sebenarnya berasal dari satu pertanyaan asasi. Manakah sebenarnya yang lebih dulu ada di dunia ini, kegegelapan  lantas disusul dengan terang. Ataukah terang yang kemudian dinodai dengan kegegelapan?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dalam sebuah perkataanya sahabat Ali Karaamallhu Wajhah pernah berkata “andaikan tidak ada lima keburukan didunia ini, tentunya manusia menjadi orang saleh semua. Kelima keburukan itu adalah 1) merasa senang dengan kebodohan. 2) tamadk dengan dunia. 3) bakhil dengan kelebihan harta. 4) riya’ dalam beramal dan 5) membanggakan diri”. Dalam teks arabnya berbunyi demikian:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Demikian keterangan Sayyidina Ali tentang lima hal yang merusak susunan masyarakat muslim sehingga terjebaklah mereka dalam kenistaan. Sebagaimana akan diterangkan satu persatu dibawah ini.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pertama, merasa senang dengan kebodohan, artinya adalah membiarkan diri bahkan merasa nyaman dengan ketidak tahuan dalam masalah agama. Sebagaimana banyak terjadi pada muslim masa kini di perkotaan yang tiap harinya disibukkan dengan urusan bisnis dan bermacam pekerjaan demi mencapai cita-citanya. Sedangkan masalah ke-islaman cukup dipasrahkan saja kepada para ustadz yang dipanggil ketika dibutuhkan. Entah untuk berdoa, untuk ditanya ataupun sekedar dijadikan teman curhatnya.

Tidak ada dalam dirinya keinginan belajar dengan sungguh-sungguh apa itu Islam dan bagaimana seharusnya menjadi muslim yang baik. Tidak pernah ingin tahu cara shalat dan wudhu yang benar. Mereka sudah puas dengan pengetahuan yang didapatnya dari teman atupun dari meniru tetangga. Paling-paling belajar keislamannya didapat dari tayangan televisi pada kuliah subuh dan dalam broadcast- broadcast semacamnya.

Memang itu tidak salah, tapi semua itu menunjukkan ketidak seriusan keislaman mereka dibandingkan dengan keseriusannya belajar ilmu pengetahuan atupun kesibukannya mengurus berbagai urusan dunia. Orang seperti ini seharusnya mengingat pesan Rasulullah saw:

? ? ? ? ? ? ? ? ?

Allah membenci orang yang pandai dalam urusan dunia tetapi bodoh dalam urusan akhirat.

Ma’asyiral Mukminin Rahimakumullah

 Kedua, tamak dengan dunia dan ketiga bakhil dengan kelebihan harta, kedunya merupakan pasangan yang selalu terkait bagaikan dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Karena siapapun yang tamak dan merasa kurang dengan berbagai kepemilikan hartanya pastilah dia akan berlaku bakhil dan sangat sayang dengan kelebihan-kelebihan yang dimilikinya.

Dalam kesempaatan lain Rasulullah saw pernah menyinggung tentang ketamakan. Beliau berkata yang artinya bahwa mencintai harta adalah sumber segala kecelakaan dan keburukan. Baik keburukan fisik maupun mental. Mari kita bersama-sama berintropeksi diri mengapa diri ini seringkali masuk angin gara-gara terlalu sering di jalan demi mengejar satu pekerjaan. Betapa para pebisnis itu sering kali keuar masuk rumah sakit berganti-ganti penyakit karena komplikasi yang disebabkan kurangnya perhatian dalam mengurus diri dan lebih suka mengejar materi. Meskipun ini bukanlah hukum universal yang dapat diterapkan pada semua orang, tetapi minimal menjadi pelajaan bagi kita yang mengerti. Betapa kecintaan dan ketamakan dunia selalu membawa petaka. Belum lagi petaka mental yang merusak negeri ini. Korupsi, kolusi dan juga kebiasaan berbohong demi citra diri semua bermuara pada satu kata ‘tamak terhadap dunia’. Untuk hal ini khatib lebih baik tidak banyak komentar karena semua jam’ah telah mafhum adanya.

Rasulullah saw pernah bersabda:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Zuhud (tidak suka) dunia sangat menyenangkan hati dan badan. Sedangkan cinta dunia sangat melelahkan hati dan badan.

Demikianlah bahwa kebakhilan ataupun kepelitan merupakan dampak sistemik yang tidak terhindarkan dari ketamakan dunia. Dan kebakhilan pasti akan menjauhkan seseorang dari Allah, surga dan sesama manusia. Itu artinya kesalehan bagi orang yang bakhil adalah angan-angan belaka. Dan jikalau ada keselahan di sana pastilah itu hanya kesalehan yang semu. Karena hadits Rasulullah tentang kebakhilan yang menjauhkan seseorang dari Allah dan surga serta manusia sesama adalah hadits Shahih.

Para Jama’ah yang Dirahmati Allah

Keempat, riya dalam beramal. Riya’ adalah pamer yaitu melakukan satu amal ibadah (agama) dengan maksud mendapatkan pujian dari manusia. Atau dengan bahasa yang agak kasar riya dapat juga dikatakan dengan mengharapkan nilai dunia dengan pekerjaan akhirat. Rasulullah saw menegaskan bahwa riya termasuk dalam kategori syirik kecil (as-syirikul asyghar) dalam salah satu sabdanya “sesungguhnya sesuatu yang sangat saya khawatirkan atas dirimu adalah syirik kecil, yaitu riya” (HR.Ahmad).

Disebut demikian karena perwujudan riya yang sangat halus dan tidak kentara. Adanya hanya dalam hati. Tidak ketahuan di dalam tindakan diri. Para sufi mengibaratkan halusnya riya seperti semut hitam yang merayap di atas batu keras warna hitam di tengah pekat malam. Begitu halusnya riya hingga seringkali mereka yang terjangkit penyakit ini seringkali tidak sadar.

Fudhail bin Iyadh seorang sufi pernah mencoba menjabakan tentang riya dengan bahasa keseharian katanya: ”jika datang seorang pejabat kepadaku, kemudian aku merapikan jenggotku dengan kedua belah tanganku, maka aku benar-benar merasa khawatir kalau dicatat dalam kategori orang-orang munafik”

Demikianlah hendaknya segala apa yang dilakukan manusia disandarkan kepada Allah swt. Tidak hanya semata mempertimbangkan kepentingan manusia. Apalagi jika berhubungan dengan amal ibadah murni seperti shalat, baca al-qur’an, zakat dan lainnya maka Allah swt mengancam mereka yang mendustainya dengan neraka Rasulullah saw bersabda:

? ? ? ? ? ? ?

Sesungguhnya Allah swt mengharamkan surga bagi orang yang riya.

Dan kelima, adalah ujub atau membanggakan diri. Yaitu merasa diri paling sempurna dibandingkan dengan yang lain. Ketidak bolehan perasaan ujub ini dikhawatirkan pada lahirnya kesombongan, dan kesombongan itu sendiri merupakan sifat Allah yang tidak boleh ada dalam diri manusia.

Demikianlah lima hal yang menurut Sayyidina Ali Karramallahu Wajhah dapat menghalangi seseorang menjadai seorang yang saleh.

Demikianlah khotbah singkat kali ini, semoga hal ini dapat menjadi bahan renungan yang mendalam, bagi kita semua amin.

 

? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ?.

Khutbah II

 

?? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

 

(Ulil H). Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Doa, Khutbah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 01 Januari 2018

PCNU Cirebon Turunkan Tenaga Medis dan Obat-Obatan

Cirebon, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Melibatkan elemen GP Ansor dan IPNU, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) kabupaten Cirebon turun di lokasi banjir desa Jagapura kecamatan Gegesik kabupaten Cirebon, Selasa (21/1) dini hari. Mereka menurunkan sejumlah tenaga medis dari LKNU Cirebon dan aneka obat-obatan.

PCNU Cirebon juga menyuplai makanan instan. “Kita menurunkan sebanyak 100 dus mie instan di posko peduli banjir di Jagapura,” kata Sekretaris PCNU kabupaten Cirebon KH Hasan Bisri di kediamannya desa Warugede kecamatan Depok, Cirebon, Selasa (21/1) sore.

PCNU Cirebon Turunkan Tenaga Medis dan Obat-Obatan (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Cirebon Turunkan Tenaga Medis dan Obat-Obatan (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Cirebon Turunkan Tenaga Medis dan Obat-Obatan

Warga menyediakan Yayasan Uswatun Hasanah sebagai posko banjir PCNU Cirebon. Kita, terang Kiai Hasan, meminta relawan banjir setempat mengatur pembagian mie instan dan obat-obatan itu.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Kita membawakan obat-obatan terbaik,” tegas Kiai Hasan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Hujan berhari-hari yang mengguyur Cirebon, menyebabkan air naik cukup tinggi pada sejumlah desa di Cirebon, kata Kiai Hasan sambil menunjuk air yang tersisa di dalam lampu sein mobil PCNU Cirebon.

Akibat banjir itu, warga terserang penyakit gatal-gatal dan diare. PCNU Cirebon, ujar Kiai Hasan, akan terus menurunkan bantuan pada sejumlah titik banjir di daerah Cirebon. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Khutbah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

STAINU Jakarta Kerja Sama dengan Persaudaraan Maroko-Indonesia

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta dan Organisasi Persaudaraan Maroko-Indonesia menandatangani kesepakatan kerja sama di bidang kebudayaan dan pendidikan di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Senin (13/11) malam.

STAINU Jakarta Kerja Sama dengan Persaudaraan Maroko-Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
STAINU Jakarta Kerja Sama dengan Persaudaraan Maroko-Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

STAINU Jakarta Kerja Sama dengan Persaudaraan Maroko-Indonesia

Penandatanganan dilakukan oleh Ketua STAINU Jakarta KH Mujib Qulyubi dan Ketua Organisasi Persadaraan Maroko-Indonesia Prof Dr Mariam Ait Ahmed usai kuliah umum “ad-Dirasah al-Islamiyah, Mafhumuha wa Majaluha”.

Isi kesepakatan di antaranya adalah pertukaran pengenalan budaya dan kunjungan ilmiah di kalangan ulama dan budayawan Indonesia-Maroko. Keduanya juga berkomitmen melaksanakan proyek pengembangan disiplin, pemikiran, dan ekonomi Islam, serta bahasa Arab dan penerjemahan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Menerjemahkan kitab-kitab dari bahasa Indonesia ke Arab dan dari Arab ke Indonesia,” bunyi salah satu butir dalam lembar nota kesepahaman (MoU) berbahasa Arab tersebut.

Prof Mariam mengaku senang dapat menjalin hubungan baik dengan Indonesia. Secara hisotris, hubungan sudah dipraktikan sejak kakeknya Ibnu Batutah pada abad keenam hijriyah. Presiden Sukarno juga merupakan pendorong kuat kemerdekaan Maroko dari penjajah.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Hubungan saya dengan Indoensia lebih dari sekadar nasionalitas, yaitu rasa cinta,” kata guru besar perbandingan agama Universitas Ibnu Thufail Maroko ini.

Mujib menyampaikan terimakasih atas perhatian dan kerja sama pihak Maroko selama ini. Menurut dia, Prof Mariam banyak berjasa melancarkan kegiatan para pelajar NU di Maroko, termasuk mahasiswa STAINU Jakarta yang belajar di Universitas Ibnu Thufail.

“Beliau (Prof Mariam, red.) ini menjadi ibu bagi para mahasiswa kita yang ada di sana. Kontribusi beliau tak diragukan lagi,” pujinya.

Redaktur : Hamzah Sahal

Penulis ? : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Kiai, Khutbah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 28 Desember 2017

LDNU Mulai Pendidikan Kader Dai Angkatan III

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pengurus Pusat Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU), Senin (13/5), memulai Pendidikan Kader Dai NU angkatan III di gedung PBNU, Jakarta. Kegiatan secara resmi dibuka Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj.

Pendidikan dai bertajuk ”Mencetak Dai yang Toleran” diikuti sedikitnya 90 perserta dari berbagai daerah dan latar belakang profesi. Selama 6 bulan ke depan, mereka akan dibina beragam materi kedakwahan oleh sejumlah pembimbing kompeten.

LDNU Mulai Pendidikan Kader Dai Angkatan III (Sumber Gambar : Nu Online)
LDNU Mulai Pendidikan Kader Dai Angkatan III (Sumber Gambar : Nu Online)

LDNU Mulai Pendidikan Kader Dai Angkatan III

”Saya sendiri nanti akan mengisi materi sirrah nabawi. Tentang bagaimana dakwah penuh cinta Rasulullah,” kata Said.

 Ketua PP LDNU KH Zakky Mubarak mengatakan, kegiatan yang akan diadakan dari pukul 16.00-20.00 WIB setiap Senin ini didasarkan pada perlunya pengembangan dakwah yang santun dan toleran yang mencerminkan Islam rahmatan lil alamin di masyarakat.

”Masa depan dakwah harus dikelola secara baik dan oleh karena itu perlu dikader,” ujarnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Salah satu alumni Pendidikan Kader Dai NU angkatan I, Shohih Muslim, mengaku gembira dapat mengikuti pembinaan dakwah yang diselenggarakan LDNU. Dirinya merasa mendapatkan banyak pelajaran berharga dari kegiatan ini.

Indra, seorang dokter yang turut menjadi peserta Pendidikan Kader Dai NU angkatan II, menyampaikan hal serupa. Menurut dia, penguasaan dakwah dibutuhkan untuk memotivasi dan berbagi kebaikan dengan para pasiennya dan rekan-rekannya seprofesi.

 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Khutbah, Warta, Fragmen Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 25 Desember 2017

Tiga Parameter Keberhasilan Organisasi

Tegal, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Ketua Tanfidiyah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Tarub H Imam Turmudzi mengingtakan para pengurus ikatan pelajar putra dan putri NU (IPNU-IPPNU) mengenai tiga hal yang menjadi parameter sebuah organisasi atau kepengurusan dianggap berhasil.

Tiga Parameter Keberhasilan Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Parameter Keberhasilan Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Parameter Keberhasilan Organisasi

Pertama, kata H Imam Turmudzi saat memberikan sambutan dalam pelantikan Pengurus Ranting IPNU-IPPNU Desa Purbasana masa khidmat 2012 – 2014 di pendopo balai desa Purbasana, Ahad (30/12) lalu, yakni ketika pengurus berhasil melakukan kaderisasi. 

“Kaderisasi ini bisa dianggap berhasil apabila kepengurusan sebulnya bisa memberikan pengaruh besar terhadap kadernya sehingga mereka mempunyai andil dalam mengembangkan organisasi berikutnya dan bisa memberikan kader baru yang lebih baik,” ujarnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kedua, program yang direncanakan dapat direalisaikan dengan baik. Ketiga adalah dapat memberikan kontribusi kepada masyarkat secara luas, bukan saja secara internal organisasi, sehingga kehadiran organisasi bisa benar-benar dirsakan manfaatnya.

“Nampaknya ini mudah diucapkan tetapi sulit dilakukan, tetapi dengan niat kita yang tulus mudah-mudahan bisa dilaksankan dengan baik,” imbuhnya

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Hadir dalam kesempatan itu PC. IPNU-IPPNU Kabupaten Tegal, Kepala Desa Purbasan dan beberapa pengurus NU, PAC. IPNU-IPPNU Kecamatan Tarub. Sebelum prosesi pelantikan gema maulid Nabi dengan didiringi grup hadroh besutan tangan PR IPNU-IPPNU sebagai iringan pengisi acara. Hadir juga  kurang lebih 50 peserta.

Ketua PAC IPNU Kecamtan Tarub Aditio Prasetio mengucapkan selamat kepada pengurus periode yang baru. “Mudah – mudahan periode ini bisa lebih baik lagi,  saya yakin untuk kepengurusan periode ini bisa lebih baik dari periode sebelumnya, karena satu minggu sebelum acara ini, PAC IPNU – IPPNU telah mengadakan Latihan Kader Muda (Lakmud) yang di ikuti oleh seluruh PR/PK IPNU – IPPNU Kec. Tarub , termasuk PR IPNU – IPPNU Desa Purbasana yang begitu antusias mengikuti acara tersebut,” tukasnya.

Aditio Prasetio juga mengimbau pengurus dan anggota yang telah mengikuti Lakmud  untuk bisa mengaplikasakannya pengalaman yang telah di dapatkan kepada Ranting IPNU – IPPNU Desa Purbasana untuk kemajuan PR IPNU IPPNU Desa Purbasana.

Dalam kesempatan itu Kepala Desa Pubasana Drs. Bambang Dwi Kuntoro berpesan agar kepengurusan yang baru lebih ditingkatkan lagi kerjasam antara IPNU-PPNU dengan pemerintah. 

“Sebentar lagi desa kita akan mengadakan pemilihan kepala desa secara langsung untuk itu kami harap IPNU-IPPNU berperan dalam ajang itu mungkin sebagai panitia ataupun yang lain yang dapat memberikan rasa aman nyaman dan bersih, sehingga pemilihan kepala desa nanti tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan,” pintanya.

Bertindak melantik dalam kegitan itu Sekretaris PC. IPNU Kabupaten Tegal Wahidun Ma’mur yang didampingi pengurus PAC. IPNU dan pengambil sumpah janji pelantikan IPPNU adalah ketua PC. IPPNU Kabupaten Tegal Lutfatun Nikhlah.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Abdul Muiz Tg.

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Daerah, Khutbah, Nahdlatul Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 29 November 2017

Panas di Atas Rata-rata, Jemaah Haji Didorong Jaga Stamina

Mekkah, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Saat ini suhu panas Kota Makkah Al-Mukaromah sedang di atas rata-rata. Terpantau suhu udara mencapai 48 derajat Celcius melebihi kondisi panas normal jika dibandingkan di tanah Air. Suhu panas ini tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi Jamaah Haji Indonesia untuk melalui proses ibadah ditanah suci ini. Namun kondisi ini tidak menyurutkan para Jamaah haji untuk tetap melakukan rutinitas ibadah sehari-hari.

Salah satu Tim Pendamping Haji Daerah (TPHD) Provinsi Lampung Prof Muhammad Mukri mengungkapkan bahwa kendati cuaca panas, antusiasme Jamaah dalam menjalani ritualitas ibadah haji tetap tinggi.

Panas di Atas Rata-rata, Jemaah Haji Didorong Jaga Stamina (Sumber Gambar : Nu Online)
Panas di Atas Rata-rata, Jemaah Haji Didorong Jaga Stamina (Sumber Gambar : Nu Online)

Panas di Atas Rata-rata, Jemaah Haji Didorong Jaga Stamina

"Semangat dan aura kesungguhan para jamaah sangat tinggi untuk terus datang ke masjidil haram menunaikan shalat lima waktu. Keutamaan shalat sampai dengan 100 ribu kali lipat dari pada shalat ditempat lain menjadi motivasi tersendiri para jamaah," ujar Rektor UIN Raden Intan Lampung ini melalui keterangan tertulisnya, Jumat (18/8).

Walaupun demikian ia terus mengingatkan kepada para Jamaah untuk tetap mengatur ritme aktivitas ibadah dengan mempertimbangan kondisi kesehatan masing-masing.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Cuaca di Tanah Air dengan di makkah jauh berbeda. Makanya para jamaah harus benar-benar mengukur stamina, ? kebugaran dan kekuatan masing. Jangan ngoyo, karena masih ada ibadah yang lebih utama, sebagai rukun haji, yakni wukuf di Arafah," himbaunya.

Rangkaian Ibadah Haji lainnya juga memerlukan stamina yang prima diantaranya Ibadah mengmbil batu kerikil di Muzdalifah dan melempar Jumrah di Mina. "Aktifitis ini memerlukan kesehatan yang prima. Oleh karena itu, tenaga dan energi jangan sampai dihabiskan untuk mengejar ibadah pada sebelum waktu wukuf," jelasnya.

Kondisi ini juga harus disikapi oleh tim petugas haji yang mendampingi jamaah, baik ketua kloter (TPHI), pembimbing ibadah (TPIHI), tim tenaga medis (TKHI) maupun tim pendamping haji (TPHD). Soliditas petugas haji daerah berpengaruh langsung terhadap pembimbingan, pelayanan maupun penjaminan kenyaman jamaah dalam melaksanakan ibadah selama Haji.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Prof Mukri memberikan apresiasi terkait pelayanan kesehatan, transportasi, penyediakan konsumsi bagi jamaah, ? yang relatif mengalami peingkatan yang cukup signifikan. "Alhamdulillah, ini prestasi yang baik yang dilakukan Kementrian Agama Republik Indonesia dalam pengelolaan jamaah haji tahun 2017 ini," pungkas Mustasyar NU Lampung ini. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Khutbah, Halaqoh Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 26 November 2017

Gubernur Sumut Berharap NU Bantu Pemerintah Bangun Ekonomi

Medan, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Gatot Pujo Nugroho mengungkapkan harapannya agar Pra-Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama (NU) Zona Sumatera yang akan digelar pada 17-18 Mei di Medan menghasilkan rekomendasi mambantu pemerintah dalam membangun ekonomi kerakyatan.

Gatot menyampaikan hal itu kepada Panitia Pelaksana Pra-Muktamar ke-33 NU Zona Sumatera saat silaturahim di Rumah Dinas Guberur Sumut, Jalan Sudirman No 41, Medan, Jumat (8/5). Rombongan panitia dipimpin Ketua PWNU Sumut Afifuddin Lubis didampingi Wakil Rais Syuriyah PWNU Sumut Imron Hasibuan dan Ketua Panitia Pra Muktamar Adlin Damanik.

Gubernur Sumut Berharap NU Bantu Pemerintah Bangun Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)
Gubernur Sumut Berharap NU Bantu Pemerintah Bangun Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)

Gubernur Sumut Berharap NU Bantu Pemerintah Bangun Ekonomi

Gubernur Sumut dalam kesempatan itu mengucapkan terima kasih kepada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) atas kepercayaan yang diberikan kepada Medan, untuk menjadi lokasi pelaksanaan Pra-Muktamar, menyongsong perhelatan akbar Muktamar ke-33 NU di Jombang, Jawa Timur, pada Agustus mendatang.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Untuk itu, Gatot berharap pelaksanaan Pra-Mukatamar menghasilkan sebuah rekomendasi untuk mengingatkan kembali pemerintah tentang kedaulatan dan pemerataan ekonomi sesuai tema yang diusung Pra-Muktamar ke-33 ini.

"Bahwa yang saya tahu amanah konsitusi bagaimana membangun ekonomi bangsa ini adalah dengan ekonomi kerakyatan, ekonomi gotong royong. Sebagaimana yang diamanahkan oleh konstitusi dan hari ini diamanahkan oleh Bapak Presiden dengan konsep gotong royongnya," ujar Gubernur Sumut.

Sementara itu Ketua PWNU Sumut Afifuddin Lubis mengatakan, tujuan kedatangan pihaknya adalah selain bersilaturahim juga ingin mengundang Gubernur Sumut untuk memberi sambutan dalam acara tersebut. "Kami mohon Pak Gubernur dapat hadir untuk memberi arahan dan sambutan," ujarnya.

Gubernur Sumut dalam kesempatan itu didampingi Asisten III Zulkarnain dan Kepala Biro Binkessos M Yusuf. Turut hadir pula Wakil Ketua PWNU Sumut M Hatta Siregar, Wakil Bendahara PWNU Baharuddin Berutu, Wakil Rais Syuriah Katimin, Sekretaris Panitia Abrar M Dawud Faza, Katua LDNU Sumut A Sori Monang, Wakil Ketua PWNU Enda Mora Lubis, Bendahara Panitia Pasiruddin Daulay, Wakil Sekretaris PWNU Sumut Khairuddin Hutasuhut, Wakil Sekretaris PWNU Upar Pulungan dan Wakil Keta PWNU Sumut Marahalim Harahap.

Sebelumnya, acara Pra-Muktamar ke-33 NU digelar di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), dengan materi pembahasan seputar konsep “Ahlul Halli wal Aqdi; serta di Makassar, Sulawesi Selatan, dengan mengusung tema tentang Islam Nusantara. Medan kali ini bakal menjadi tuan rumah bagi pembahasan ekonomi kerakyatan. (Suwardi Sinaga/Mahbib)

Foto: Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho foto bersama Panitia Pra Muktamar ke-33 NU Zona Sumatera.

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan News, Khutbah, Hadits Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 23 November 2017

Nyai Rifah, 50 Tahun Berkiprah di NU

Grobogan, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Berkiprah di masyarakat hingga puluhan tahun merupakan tugas yang tak mudah. Tetapi, berat bukan berarti mustahil. Seperti Nyai Rifah, kader NU Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Perempuan kelahiran 1950 ini menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk berjuang di organisasi NU.

Beberapa hari yang lalu, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan berkomunikasi dengan Nyai Rif’ah Muslih, yang saat ini masih menjabat sebagai Ketua Pimpinan Aanak Cabang Muslimat NU Tawangharjo. Saat berbincang, ia menuturkan perjalanan awal kiprahnya di NU.

Nyai Rifah, 50 Tahun Berkiprah di NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Nyai Rifah, 50 Tahun Berkiprah di NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Nyai Rifah, 50 Tahun Berkiprah di NU

Pasa usia 14 tahun, tepatnya pada tahun 1964, ia masuk ke salah satu badan otonom NU, yakni Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU). Di situlah ia mengawali gerakannya sebagai Ketua IPPNU menggantikan seniornya, Masfuah, yang meninggal di usia muda.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ia menambahkan, dahulu di Kecamatan Tawangharjo belum terbentuk IPPNU, lalu KH Ghazali Masruri yang sekarang menjabat KetuaPengurus Pusat LFNU (Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama) merintisnya dalam menyerahkan tongkat amanah IPPNU pertama kali kepada adik kandungnya, Masfuah.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Nyai Rif’ah menjalankan tongkat estafet kepemimpinan di IPPNU cukup lama. “Selama sepuluh tahun saya berkecimpung di IPPNU Anak Cabang Tawangharjo hingga akhirnya pada tahun 1974 M, saya diamanati untuk memimpin Fatayat NU Ancab Tawangharjo,” terangnya.

Di Fatayat NU ini, lanjut Nyai Rif’ah, merupakan peningkatan level untuk menelurkan ide-ide baru dalam memperjuangkan Islam yang berfaham Ke-NU-an ala Ahlis Sunnah Waljama’ah, imbuhnya.

Dengan ketekunan dan kecakapannya, hingga suatu saat ia diminta untuk naik jabatan ke tingkat kabupaten sebagai Ketua Pimpinan Cabang Fatayat NU Grobogan dan menanggalkan kepemimpinannya di anak cabang (Ancab) Tawangharjo pada tahun 1984 M.

Selama satu periode (1984-1989 M) ia memimpin PC Fatayat NU Grobogan. Setelah itu, ia lebih memilih kembali berjuang di anak cabang Tawangharjo dengan berbagai alasan yang mendasar.

“Saat itu, mencari kader Fatayat di kecamatan sangat sulit, berbeda dengan memupuk kader di tingkat Kabupaten. Itulah di antara yang menjadi alasan mendasar mengapa saya lebih memilih kembali memimpin Ancab Tawangharjo,” ujarnya.

Sekembalinya menjabat di Fatayat NU Ancab Tawangharjo, ia berjuang di dalamnya? selama lima tahun (1989-1994 M). Pada tahun 1994 inilah ia baru mulai berkiprah di PAC Muslimat NU Tawangharjo dengan menduduki sebagai Ketua 1, menggantikan Sikah Aidah.

Perjalanannya tidak putus-putus, selama 20 tahun (1994-2014), ia tetap konsisten dalam memperjuangkan islam NU lewat wadah Muslimat NU.

Ikhlas Berjuang

Dalam menjalankan amanah haruslah dikaitkan dengan niat yang ikhlas. Pasalnya, suatu amal tidak akan bernilai kecuali dengan memurnikan hati. Saat Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan, bercakap mengenai alasan mengapa ia tetap berdiri khidmah di tubuh NU, ia menjawab, “Ini sudah panggilan hati, yang namanya berjuang tanpa ada niat dan tekad kuat maka akan terasa berat. Beda halnya kalau sudah panggilan hati,”ungkapnya.

Yang nama berjuang, lanjut Rif’ah, harus rela berkorban baik dengan anfus (jiwa) maupun maal (harta). “Berkorban pikiran, waktu, dan harta merupakan kesenangan tersendiri, karena terasa hidup ini ada manfaatnya,”tambahnya.

“Banyak berkah yang saya dapat ketika menjalankan amanah ini,” pungkasnya. (Asnawi Lathif/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Internasional, Khutbah, Daerah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 15 November 2017

Kader KMNU dari Berbagai PT Digembleng Ke-NU-an

Bogor, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Memeriahkan acara NU-santara 2015, KMNU mengadakan penggemblengan ke-NU-an dan ke-KMNU-an. Pelatihan ini diikuti oleh kader-kader KMNU dari berbagai perguruan tinggi se-Indonesia (UI, IPB, STAN  Unila, Unpad, ITB, UNY, UGM, Undip, UPI, UII, dan IIUM).

Kader KMNU dari Berbagai PT Digembleng Ke-NU-an (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader KMNU dari Berbagai PT Digembleng Ke-NU-an (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader KMNU dari Berbagai PT Digembleng Ke-NU-an

Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada para kader  KMNU mulai dari sejarah kenapa berdirinya NU, makna logo NU dan KMNU, Kenapa namanya NU, kenapa kita harus ber-NU. Selain itu, pelatihan ini  juga bertujuan untuk memberikan pengetahuan bagaimana strategi ulama-ulama dulu dalam membuat serta mengembangkan organisasi NU ini sehingga organisasi ini begitu cepat menyebar dan diterima di tengah-tengah masyarakat dengan baik.

Selain untuk memberikan pengetahuan tentang NU dan KMNU. Pelatihan ini  juga bertujuan untuk memberikan motivasi kepada kader KMNU agar  mereka merasa bangga dengan ke-NU-annya sehingga hati mereka tergerakkan dan lebih semangat lagi dalam meneladani dan meneruskan prinsip dakwah yang diajarkan para ulama NU yang tawazun, tasamuh,  tawassuth, serta amar maruf nahi mungkar dalam menyebarkan agama Islam di kampusnya masing-masing.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pembicara yang akan memberikan materi adalah Ahmad Nur Shobah (Dewan  Pertimbangan KMNU) dan Muhammad Zimamul Adli (Presidium Nasional I). Pada pelatihan ini para kader KMNU disuguhi beberapa mutiara hikmah dari para pendiri NU supaya kader KMNU benar-benar bisa semangat dan ikhlas dalam menjaga NU. Berikut beberapa kutipan kata mutiara dari tokoh NU. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Siapa yang mengurus NU, saya anggap santriku, siapa yang menjadi santriku saya doakan khusnul khotimah  beserta keluarganya”. (KH Hasyim Asy’ari).

“Jangan takut tidak makan kalau berjuang mengurus NU. Yakinlah! kalau sampai tidak makan, komplainlah aku jika aku masih hidup. Tapi kalau aku sudah mati maka tagihlah kebatu nisanku”. (KH Ridwan Abdullah)

“Barang siapa yang menolong NU, maka hidup beruntung di dunia dan di  akhirat”. (Kiai Hasan Genggong). (Irfan Sofyan/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Khutbah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 02 November 2017

Surat Kecil untuk Banser

Pringsewu, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan?

Terima kasih Banser atas kiprah nyata dan bermanfaat telah diberikan kepada kami. Pernyataan tersebut tidak berlebihan dan patut penulis sampaikan sehubungan banyaknya pengetahuan kami dapatkan dari kegiatan "tidak masuk akal" Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN) diselenggarakan Satkorwil Banser Lampung sejak 24 April hingga 10 Mei 2017, di Pesantren Al Wustho, ? Podorejo, Rejo, Pringsewu asuhan KH Ahmad Nasihin.?

Kenapa kami sebut "tidak masuk akal?" Dengan biaya murah, Rp300 ribu, peserta BPUN mendapatkan berbagai fasilitas, makan tiga kali sehari, modul, tutor, pendidikan Islam ala pesantren, materi akademik, motivasi, bakar bebek hingga jagung untuk relaksasi, hingga pendidikan keberagaman.

Surat Kecil untuk Banser (Sumber Gambar : Nu Online)
Surat Kecil untuk Banser (Sumber Gambar : Nu Online)

Surat Kecil untuk Banser

Setelah pada Selasa (9/5) kami diajak menghapus ketakutan dengan melewati kobaran api dan menjadi tontonan santri, Rabu (10/5), di antara keramaian dan kesibukan masyarakat Kabupaten Pringsewu, kami diajak mengenal dan menegaskan keberagaman oleh Asinfokom Satkorwil Banser Lampung yang juga Manager BPUN Lampung, Gatot Arifianto.

Kami diajak aktivis Gusdurian Lampung itu ke Rumah Singgah Wisma Damai di jalan Kesehatan Nomor 14, Gang Makam Biara Pringsewu-Lampung yang bersiap menggelar Bakti Sosial (Baksos) Penyembuhan Alternatif Aji Tapak Sesontengan Global Indonesia (ATSGI), sebagai ajang silaturahmi antarumat beragama.

Kehadiran kami bersama Koordinator Pelaksana BPUN Lampung 2017 M Nurhidayat Rosihun yang selalu bersemangat menemani keseharian kami disambut hangat oleh Suster Chatarina dari Justice, Peace and Integrity of Creation (JPIC) Fransiskanes dari Santo Georgius Martir (FSGM).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selain belajar wawancara dengan masyarakat yang mengunjungi kegiatan, peserta BPUN Lampung 2017 memanfaatkan momen tersebut berpose bersama Suster Chatarina dan sejumlah suster lain. Tak ada perbincangan mengenai agama. Hanya perayaan kemanusiaan dengan membantu masyarakat yang membutuhkan kesembuhan atas penyakitnya tanpa menarik biaya.

Kami dan peserta BPUN Lampung 2017 mendata nama dan keluhan warga yang antusias mendatangi kegiatan Baksos. Mulai dari anak-anak, remaja, sampai dewasa, ibu-ibu berjilbab, hingga bapak-bapak berkalung salib yang datang dengan berbagai keluhan, seperti gatal-gatal, sakit tenggorokan, nyeri, sakit di bagian ulu hati, pusing, rematik, dan bermacam penyakit lainnya.

"Setelah diterapi, saya merasakan ada perbedaan pada tubuh saya. Jika sebelumnya susah berjalan kini sudah mulai enakan. Sakit pada ulu hati saya pun tidak terasa lagi," ujar warga setempat, Maria Astuti (65).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Maria mengaku menderita sakit ulu hati serta reumatik sejak beberapa bulan yang lalu sehingga susah untuk berjalan. Berbagai pengobatan telah dicoba warga Pringsewu itu, termasuk pengobatan secara medis. Namum belum mendapatkan hasil memuaskan. Akhirnya ia tertarik mengikuti terapi ATSGI.

Dengan tekad dan kemauan yang kuat untuk sembuh dari penyakitnya. Masyarakat silih berganti mengadukan penyakitnya pada Gatot yang merupakan master atau kamituo ATSGI.

"Saya menderita gatal-gatal dan pusing sejak beberapa bulan terakhir," ujar warga Pringombo, Pringsewu Timur, Puji Astuti (50).

Puji baru pertama kali mengikuti terapi ATSGI. Namun walau sekali, Puji mengaku merasakan manfaatnya. Gatal-gatal dan pusing yang ia derita mulai hilang.

"Cara sederhana berbagi kebahagiaan ialah membuat orang lain tersenyum. ? ATSGI satu dari sekian cara membuat orang tersenyum, begitu juga dengan BPUN," ujar Gatot.

Penulis dan peserta BPUN 2017 beruntung bisa mengikuti bimbingan belajar murah berkualitas yang merupakan program utama Yayasan Mata Air itu. Maka seperti jadi harus kami tulis catatan atau surat kecil mengenai Banser yang "tidak masuk akal".

Banser yang sering dituding menjaga gereja demi sebungkus rokok dan nasi bungkus bagi kami tentu hanya omong kosong. Mereka justru menjaga kemanusiaan, kebangsaan, peradaban dengan jalan pendidikan.

Kalkulasikan berapa keuntungan Banser dari nominal Rp300 ribu dengan fasilitas wah? Nominal yang membuat sejumlah pelajar, kawan kami, semula ragu sebelum ikut, mana mungkin bimbingan belajar semurah itu dengan fasilitas "tidak masuk akal?"

"Kami hanya berupaya menjadi jembatan. ? Ditengok atau tidak setelah kalian melewatinya dan mencapai tujuan, bukan persoalan bagi kami dan pihak-pihak yang membantu terlaksananya kegiatan ini. Sudah ada malaikat yang mencatatnya. ? Itu kenapa dalam tiga tahun terakhir ini kami bersikeras menggelar program filantropi edukasi BPUN," ujar Gatot saat memotivasi kami.

Terima kasih Banser untuk karya nyatanya bagi anak-anak negeri. Kalian telah menjadi jembatan untuk kami melangkah setapak lebih maju dengan bukti. (Adri Latif dan Gilang Restu Pauzi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Kajian, Internasional, Khutbah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 25 Oktober 2017

LAZISNU Kota Pekalongan Salurkan Beasiswa

Pekalongan, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pengurus Cabang Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kota Pekalongan kembali mentasarufkan atau menyalurkan donasi yang sudah dihimpun dari masyarakat selama tahun 2013 lalu.?

LAZISNU Kota Pekalongan Salurkan Beasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Kota Pekalongan Salurkan Beasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Kota Pekalongan Salurkan Beasiswa

Kali ini, melalui program NuSmart, LAZISNU mentasarufkan zakat dalam bentuk beasiswa yang disalurkan kepada 20 siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) di bawah naungan Lembaga Pendidikan Maarif NU Kota Pekalongan.

Penyaluran beasiswa tersebut dilakukan secara bertahap bersama program Turba (turun ke bawah) yang digelar PCNU Kota Pekalongan sejak 23 Februari 2014 lalu. Terakhir, penyaluran beasiswa dilakukan di Masjid Nurul Huda, Kelurahan Bumirejo, Ahad (9/3) malam.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ketua Lazisnu Luqmanul Hakim Kamil menjelaskan, beasiswa diberikan kepada 10 siswa MI dan 10 siswa MTs. Untuk siswa MI, mendapatkan beasiswa sebesar Rp 75 ribu per bulan, dan diberikan selama satu tahun. Sedangkan untuk MTs, besaran beasiswa yang diberikan adalah Rp 100 ribu per bulan selama satu tahun penuh.

“Kami sudah tasarufkan secara bertahap bersamaan dengan jadwal program Turba PCNU memperingati harlah NU ke 88. Penyaluran di Bumirejo ini menjadi agenda terakhir untuk program NuSmart tahun 2013. Kami berharap tahun depan jumlah siswa yang mendapatkan beasiswa bisa meningkat,” tuturnya yang ditemui di sela-sela acara.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Tahun 2013 lalu LAZISNU, sambung Lukman, berhasil menghimpun dana zakat, infaq dan shadaqah dari masyarakat sebesar Rp 67.307.000. Dana tersebut sudah disalurkan melalui dua program prioritas masing-masing NuSmart dan NuCare. Program NuCare sendiri, dijelaskan Luqman, merupakan program pemberian santunan kepada anak yatim, dhuafa dan bantuan kemanusiaan lainnya.

Sementara untuk kriteria penerima beasiswa, dirinya mengatakan bahwa Lazisnu melakukan seleksi secara bertahap kepada calon penerima yang sudah diusulkan melalui ranting-ranting NU. Hal itu berkaitan dengan jumlah beasiswa yang terbatas. Seleksi penerima beasiswa diprioritaskan kepada anak-anak yang orang tuanya masuk dalam kategori mustahiq. Tidak hanya itu, pihaknya juga melihat prestasi sang anak baik akademik maupun non-akademik.

Dari sebanyak 150 anak yang diusulkan, Lazisnu kemudian menyeleksi hingga didapatkan 20 anak yang dinilai benar-benar membutuhkan. Sementara untuk daftar anak yang diusulkan lainnya, akan dipertimbangkan masuk dalam program serupa dalam pentasarufan zakat tahun ini.?

“Kami sudah kembali menghimpun zakat dari masyarakat yang akan disalurkan dalam beberapa program di tahun ini, dan tahun depan diantaranya NuCare dan NuSmart. Kemudian ada NuPreneur dan NuSkill. Namun yang menjadi prioritas saat ini adalah program NuCare dan NuSmart,” bebernya.

Kegiatan pemberian beasiswa tersebut, dihadiri koordinator tim Turba Kelurahan Bumirejo, H Kasiman Mahmud Desky yang juga Wakil Ketua PCNU didampingi H Ahmad Tubagus Surur yang merupakan Wakil Ketua PCNU bidang Lazisnu, LPNU dan LPPNU. (Abdul Muiz/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Khutbah, Halaqoh Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 24 Oktober 2017

Al-Kenaniyah, Pesantren dalam Kepungan Hedonisme Ibukota

Di Pulo Nangka Jakarta Timur berdiri sebuah pesantren khusus putri, yakni Al-Kenaniyah. Suasana mondok di pesantren ini terasa unik. Pasalnya, letak pesantren yang strategis. Selain berada di tengah ibukota, kampung ini dekat dengan kawasan industri. Mall dan beberapa keramaian memiliki pengaruh terhadap gaya hidup masyarakat setempat.

Sejatinya, warga asli kampung kecil yang dikepung gedung-gedung tinggi di bilangan Pulo Gadung ini merupakan suku Betawi. Namun, banyaknya pendatang sedikit banyak mempengaruhi kehidupan masyarakat setempat. Dari homogen menjadi heterogen penduduknya.

Pesantren yang diresmikan pada 4 Sya’ban 1414 H (16 Januari 1994) oleh para alim ulama hingga kini tetap berdiri kokoh di Jalan Perintis Kemerdekaan Pulo Nangka Barat I/14, Kelurahan Kayu Putih, Kecamatan Pulo Gadung, Jakarta Timur.

Para ulama yang hadir waktu itu antara lain KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH Syamsuri Badawi dan KH Zayadi Muhajir serta beberapa tokoh masyarakat di sekitar Pulomas. Pesantren ini dipimpin oleh KH Hambali Ilyas. Nama Al-Kenaniyah, diambil dari nama Haji Kenan, seorang ulama dan tokoh masyarakat Betawi.

Al-Kenaniyah, Pesantren dalam Kepungan Hedonisme Ibukota (Sumber Gambar : Nu Online)
Al-Kenaniyah, Pesantren dalam Kepungan Hedonisme Ibukota (Sumber Gambar : Nu Online)

Al-Kenaniyah, Pesantren dalam Kepungan Hedonisme Ibukota

Menurut KH Hambali Ilyas, pihak keluarga awalnya mendirikan Madrasah Ibtidaiyah Al-Khairat pada tahun 1977. Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada 27 Januari 1981, pihak pesantren melakukan pengembangan dengan membuka Madrasah Tsanawiyah dan Taman Kanak-Kanak.

“Terus terang, awalnya saya juga nggak punya keinginan (bikin pesantren). Awalnya gini, waktu itu pertama kami nerima santri kurang lebih 13 apa 14 orang pada 1995. Kita kan bertahap berkembang terus. Mulai dari pendidikan formalnya. Begitu TK maju, lalu buka MI. MI maju, buka MTs. MTs maju, buka MA. Aliyah maju, baru buka pesantren,” paparnya.

Rencana Kiai Hambali, pesantren putra lebih dahulu didirikan. “Rencana saya putra awalnya. Makanya, waktu ngomongin penerimaan santri baru untuk Al-Kenaniyah waktu itu, putra. Bukan ke putri arahnya. Terus ada yang daftar 13 orang apa 14 lupa saya,” ujarnya sembari menghisap rokoknya melalui cerutu ala Arab.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Setelah proses belajar santri berjalan kurang lebih sebulan, ibu Kiai Hambali melakukan “sidak” ke asrama santri. “Jadi, ibu saya ngontrol. Lho, kok putra. Ibu saya bilang, di sini nggak usah putra. Di sini putri aja dulu. Nah, saya kalau sudah ibu yang bicara, saya nyerah. Kalau sudah ibu, udah. Apapun mau bener mau salah kalau ibu yang bicara udah sam’an wa tha’atan saya patuh,” kenang Kiai Hambali.

Akhirnya, Kiai Hambali mengajak musyawarah para orang tua santri. “Kami daftarin yang 13 anak itu, lalu saya panggil lagi wali santri. Udah anaknya mau ke mana ini. Karena ibu saya bilang buka putri dulu, jadi saya buka putri dulu. Putra nanti di mana lah nanti dicari. Ibu saya waktu itu bilang, terserah nanti buat di mana terserah,” ujarnya dalam logat Betawi yang kental.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pembatasan Santri

Kiai Hambali sejak awal ingin membatasi jumlah santri maksimal 50 orang. Tapi, sistem pondok pesantren NU umumnya tidak bisa demikian. “Yang saya tau, itu kan kalau ada santri masuk, kita nggak boleh nolak. Apalagi pesen dari guru-guru itu Mbah Yai Idris, Mbah Yai Syamsuri, pokoke nek santri teko pokoke terima. Ojo dibates-batesi. Lho itu yang saya nggak bisa nolak,” tuturnya.

Wal hasil, pihaknya tidak bisa lagi membatasi jumlah santri. Belum lagi ada memo dari para kiai agar menerima santri dari beberapa daerah di Jawa Timur, misalnya Gresik, Malang dan lainnya. “Akhirnya, mau bilang apa. Mau dibatasi malah membengkak. Sekarang waiting list untuk dua tahun yang akan datang aja sudah banyak, masya Allah,” tambahnya.

Meski demikian, Kiai Hambali sengaja tidak memperluas pesantren lagi. Untuk sementara kapasitas kamar kita hanya 150 santri. Faktanya, ternyata sekarang santri kurang lebih 170-an orang. “Itu yang sulit kami pertahankan pembatasan itu,” kata santri Pesantren Tebuireng periode 1972-1975 ini.

Dari jumlah tersebut, sebaran santri berasal dari yang paling jauh Padang, Sumbar; Bangka Belitung, Jambi, Lampung. Mayoritas berasal dari Jabodetabek. “60 persennya lah, yang 40 persen campur aduk dari beberapa daerah dari Jawa Barat. Madura ada juga,” ujarnya.

Setelah berjalan kurang lebih enam tahun lamanya, pada 26 Juli 1984 didirikan sebuah Yayasan Al-Kenaniyah sekaligus melakukan perubahan nama Yayasan, yang semula Madrasah itu bernama Al-Khairat menjadi Madrasah Al-Kenaniyah. Hal ini dilakukan lantaran berada dalam naungan Yayasan Al-Kenaniyah sekaligus untuk mengenang jasa dan perjuangan kakek tercinta, Almarhum Haji Kenan.

Sejak berdirinya sampai sekarang Pesantren Kenaniyah mengalami banyak perkembangan dan kemajuan. Pada awal mulanya santri Al-Kenaniyah hanyalah dari anak-anak para penduduk di sekitarnya sekitar 6 santri. Namun pada tahun 1996 jumlah santri bertambah menjadi 8 orang santri. kemudian pada tahun berikunya menjadi 50 santri.

Pada tahun 2000 santrinya berjumlah 90 santri dan kini tahun 2007 jumlah santri telah mencapai kurang lebih 120 santri. Pesantren ini tidak memprioritaskan kuantitas, namun lebih menekankan pada kualitas santri yang dapat membaca persoalan umat di masa yang akan datang.

Selain pesantren, Yayasan Pendidikan Islam Al-Kenaniyah memiliki beberapa unit pendidikan: Taman Kanak-kanak (TK), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah (MA), Pesantren Putri Al-Kenaniyah, serta majlis ta’lim.

Jadwal kegiatan santri di Al-Kenaniyah pun teratur rapi. Para santri mendapatkan pelajaran baik umum maupun agama sejak pagi hari di lembaga formal baik MTs maupun MA hingga sore bahkan malam hari untuk mengkaji kitab kuning.

Pengkaderan dan Kitab Kuning

Menurut Kiai Hambali, pengkaderan di pesantren sangat penting. Basisnya adalah kitab kuning. “Sekarang mudah-mudahan yang kita khawatirkan itu pesantren itu nggak terjadi. Kita kan nyiapin kader untuk memimpin pesantren masa depan. Pokoknya utamanya ya itu, kurikulum salaf jangan sampai ditinggal,” ujarnya.

Kiai Hambali mengingatkan pentingnya kitab kuning di pesantren. “Jadi, kitab kuning tetap kita pakai sambil kita menyesuaikan zaman kan sudah berubah. Bagaimanapun zamannya sudah berubah. Kita punya konsep, addibu auladakum fainnahum yuladu fi zamanin ghaira zamanikum. Selesai kan?! Kalau nggak begitu, nggak bisa,” ujarnya.

Dalam pendidikan pesantren yang dibutuhkan untuk keberhasilan santri ke depan, yang terpenting adalah ilmu ikhlas. “Keikhlasan kita dan para guru di pesantren itu jangan sampai hilang. Itu sebetulnya PR lama dari dulu. Kalau bicara ke situ kan otomatis nyangkut masalah ekonomi. Kita harus bisa memikirkan kesejahteraan guru-guru yang ngabdi di pesantren,” tandas Kiai Hambali.

Ditanya tentang tantangan pesantren Al-Kenaniyah, Kiai Hambali mengatakan pengasuhnya musti cerdas. Pasalnya, kondisi Al-Kenaniyah yang dikelilingi mal-mal tentu menjadi godaan tersendiri bagi santri untuk ingin jalan-jalan.

Sebelum buka pondok, ia merenungkan soal hari yang tepat untuk meliburkan santri. “Yang paling enak hari apa, yang membuat santri itu bosan. Kalau pun ia keluar jadi nggak betah (di luar). Umumnya Jakarta libur kan Minggu. Nah, hari itu kan padatnya mal-mal. Akhirnya saya ambil kitab karya Mbah Hasyim Adabul Alim wa al-Mutaallim. Ternyata, awal belajar itu Rabu. Jadi, Selasa kita liburkan,” ungkapnya.

Ternyata benar. Tiap Selasa mal-mal sepi. Bioskop-bioskop juga menayangkan film-film tidak menarik. “Ya udah, kita liburkan Selasa. Ini preventif maksudnya. Menghadapi tantangan pesantren yang berada di tengah kota ya kayak begitu,” tegas Kiai Hambali.

Soal perizinan keluar juga diperketat. Jika bukan orang tuanya yang mendampingi pasti tidak dapat izin. “Putri kan berat. Makanya sejak awal saya nggak tertarik buka pondok putri kan kayak begitu. Nah, kalau putra kita kan bebas ngontrol. Ke kamarnya, kalau bangunin subuhnya juga enak,” ujarnya.

Sebagai ibu nyai, istrinya juga berperan aktif mengawal santri putri. Selain itu, diangkat para koordinator alumni terutama yang dulu pernah dibiayai sekolahnya untuk mengabdi di pesantren. “Itu pun kalau mereka mau. Kalau nggak mau ya nggak masalah. Nggak ada paksaan. Terpenting pesantren itu kitab kuning jangan ditinggal. Kalau ditinggal, bukan pesantren to. Itu aja,” pungkasnya. (Musthofa Asrori)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Khutbah, Bahtsul Masail Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 21 September 2017

Ansor Beri Bimbel Pelajar Kurang Mampu

Jombang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. GP Ansor Jombang kembali memberikan bimbingan belajar (Bimbel) bagi pelajar miskin yang telah lulus SMA/SMA maupun MA untuk menghadapi Seleksi Bersama masuk Perguruan Tinggi Negeri.?

Ansor Beri Bimbel Pelajar Kurang Mampu (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Beri Bimbel Pelajar Kurang Mampu (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Beri Bimbel Pelajar Kurang Mampu

Sebanyak 99 peserta, mendapatkan bimbel diberikan secara gratis selama 1 bulan dengan model pesantren kilat.

“Ini adalah pesantren kilat untuk yang ke-3 diselenggarakan Ansor Jombang, ada 99 peserta yang lolos seleksi dari 330 peserta yang ikut tes,”ujar Zulfikar D Ikhwanto Manager Sanlat GP Ansor saat pembukaan pesantren kilat yang digelar di Aula Pesantren bahrul Ulum Tambakberas Jombang, Ahad (19/5) kemarin.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Hadir dalam pembukaan Sanlat kemarin, Keta PCNU Jombang, Dr KH Isrofila Amar, salah satu pengasuh PP Bahrul Ulum, Wafiul Ahdi, Lc, serta alumni Sanlat 2012 yang telah diterima masuk PTN baik di UM, Unibraw, Unesa, Unair.?

”Ini para alumni pesantren kilat yang telah diterima di PTN, nanti peserta sanlat bisa berbagi pengalaman dengan senior-senior,” ujar Zulfikar seraya meminta ? meminta alumni sanlat memperkenalkan diri.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ketua GP Ansor Jombang Sholahul Am Notobuwono mengharapkan peserta sanlat serius mengikuti ? bimbel selama 1 bulan. Karena Ansor lanjutnya telah menyiapkan tentor pengajar yang sangat mumpuni dalam membimbing ? untuk bisa masuk PTN. Ansor tidak memungut biaya sepeser pun dari peserta.?

“Karenanya kita minta sahabat sahabat yang telah diterima serius, mengikuti,” pintanya.

Gus Aam menambahakan, dalam pesantren kilat ini, peserta tidak hanya mendapatkan bimbel materi untuk masuk PTN saja. Akan tetapi juga dibekali materi keaswajaan dan bimbingan doa para pengasuh pesantren Bahrul Ulum.?

”Isnyaallah para pengauh gus gus ikut mendampingi proses belajar kalian semua,” ujarnya seraya mengatakan jika nanti diterima masuk PTN peserta sanlat diminta masuk organisasi PMII, saja.

Sementara itu Ketua PCNU Jombang KH Isrofila Amar berpesan, disamping materi pelajaran persiapan masuk PTN para tentor diharapkan juga memberikan materi keaswajaan.?

“Tidak hanya sejarah akan tetapi dalil dalil yang menerangkan ubudiyah ala NU juga disampaikan, ini penting diberikan,” tuturnya.

PCNU, lanjut Dosen Unipdu ini menambahkan, sangat berterimakasih atas kiprah Ansor yang terus bergerak melakukan pengkaderan.?

”Kemarin saya hadir di PKD Ansor Ploso sekarang Ansor menggelar pesantren kilat, semoga aktifitas ini bermanfaat bagi kita semua,” pungkasnya.

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Muslim Abdurrahman?

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Khutbah, Ahlussunnah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 18 September 2017

Membaca Surat Yasin dengan Maksud Tertentu

Al-Quran adalah kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. melalui Malaikat Jibril sebagai perantar. Al-Qur’an merupakan kitab suci yang akan terjaga dan terawat sampai hari kiamat.

Begitu pula bagi yang membacanya senantiasa akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda, tercatat pahala setiap hurufnya berupa satu kebaikan dan satu kebaikan itu akan dilipatgandakan dengan sepuluh pahala. Sebagaimana hadits Rasulullah saw, dari Ibnu Mas’ud ra.,

من قرأ حرفا من كتاب الله فله به حسنة والحسنة بعشر أمثالها

Membaca Surat Yasin dengan Maksud Tertentu (Sumber Gambar : Nu Online)
Membaca Surat Yasin dengan Maksud Tertentu (Sumber Gambar : Nu Online)

Membaca Surat Yasin dengan Maksud Tertentu

Barang siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran, maka baginya satu kebaikan dan satu kebaikan itu dilipatgandakan dengan sepuluh (pahala).

Oleh karena itulah al-Qur’an bagi orang muslim selalu dibacakan dalam berbagai kondisi, baik ketika senang maupun sedih. Mulai dari walimatul arusy (pernikahan), walimatul hitan, walimatus safar, akhirus sanah, seminar, pelantikan, hingga prosesi pemakaman, selalu disertakan bacaan al-Qur’an di dalamnya. Hanya saja ayat al-Qur’an yang dibaca berbeda-beda sesuai dengan kondisi dan konteksnya. Tentunya pembacaan ini memiliki tujuan dan maksud tertentu. Selain menjadi sumber pahala dan dianggap ibadah, membaca ayat al-Qur’an juga memiliki berberapa faedah. Seperti membaca surat Yasin yang memiliki fadhilah terkabulnya segala hajat dan tertolaknya marabahaya.

Apakah membaca surat Yasin dengan tujuan seperti itu tidak termasuk dalam kategori riya, yang menghilangkan nilai keikhlasan? Karena membacanya dengan harapan terpenuhinya kebutuhan, atau terhindarnya balak-marabahaya, bukan karena Allah semata.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dalam Kitab Qurratul ‘Ain Fatawa Isma’il Zain diterangkan bahwa hal tersebut boleh dilakukan dan tidak dianggap riya, selama tidak melanggar aturan-aturan syara’ dan bukan pekerjaan ma’syiat.

يجوز أن تقرأ سورة يس بنية قضاء حاجة من جلب نفع أو دفع ضر سواء كان المقصود دينيا أو دنيويا مالم يكن معصية ولا يكون ذلك رياء

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Boleh membaca surat Yasin dengan maksud dan tujuan tertentu, entah itu duniawi maupun ukhrowi selama tidak dalam hal maksiat, dan pembacaan itu tidak termasuk sebagai perbuatan riya’

Karena definisi riya’ sebenarnya adalah melakukan sesuatu bukan karena Allah Ta’ala tetapi karena makhluk ciptaan Allah swt, sedangkan bacaan Yasin mengharapkan pahala dari Allah swt. yang berupa berbagai fadhilah tersebut.

(Pen./Red. Ulil H)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Khutbah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock