Tampilkan postingan dengan label Internasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Internasional. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Maret 2018

Pemberantas Korupsi Tak Bersih, Korupsi Merajalela

Magelang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi menilai, tindak pidana korupsi makin merajalela sedangkan pihak berwenang yang melakukan pemberantasan korupsi juga tidak bersih.

"Tambah tinggi tambah merajalela," katanya saat memberikan tausyiah Harlah Bersama Badan-Badan Otonomi Nahdlatul Ulama Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah di Lapangan "drh Soepardi" Kota Mungkid, di Magelang, Kamis (19/4) yang dihadiri ribuan warga nahdliyin setempat.

Ia mengatakan, seharusnya semakin banyak korupsi maka semakin mudah melakukan pemberantasannya. Korupsi, katanya, terjadi dari sekadar orang mengambil sandal di masjid hingga korupsi di Jakarta.

Pemberantas Korupsi Tak Bersih, Korupsi Merajalela (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemberantas Korupsi Tak Bersih, Korupsi Merajalela (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemberantas Korupsi Tak Bersih, Korupsi Merajalela

Ia menyebut mereka yang tertangkap aparat karena melakukan korupsi sebagai sedang sial. "Saking banyaknya korupsi sebenarnya asal ambil (tangkap pelakunya,red) pasti kena," katanya.

Ia mengaku mendapat keluhan dari seseorang yang disangka korupsi Rp65 juta tetapi dirinya harus mengeluarkan uang hingga Rp400 juta untuk mengurusnya. "Lalu siapa sebenarnya yang korupsi. Siapa yang ketangkap itu yang sedang apes, yang nangkap kelakuannya sama tetapi tidak terjamah," katanya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pada kesempatan itu Hasyim juga mencontohkan perilaku buruk oknum aparat penegak hukum dalam melaksanakan tugasnya. "Seorang kehilangan kambing, lapor kepada petugas harus membayar senilai harga sapi, jadi orang itu kehilangan kambing dan sapi," katanya. (ant/kut)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Internasional, Kajian Islam Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

NU Bondowoso: Malam Tahlilan, Pagi Apel Santri

Bondowoso, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bondowoso mengadakan tahlilan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional di Kantor PCNU setempat, Jalan KH Agus Salim Nomor 85 Belindungan, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur Rabu malam ( 21/10)

Ketua Tanfidziah PCNU Bondowoso H Abdul Qodir Syam menjelaskan, kegiatan tahlil ini merupakan acara rutinan warga NU setempat yang dilaksanakan setiap Selasa malam. Agar bersamaan mendekati tanggal 22 Okteber 2015 yang ditetapkan pemerintah sebagai Hari Santri Nasional maka pengurus NU setempat mengundur jadwal menjadi Rabu malam atau malam Kamis.

NU Bondowoso: Malam Tahlilan, Pagi Apel Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Bondowoso: Malam Tahlilan, Pagi Apel Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Bondowoso: Malam Tahlilan, Pagi Apel Santri

Abdul Qodir Syam menambakan, Kamis (22/10) ini delegasi santri dari Pondok Pesantren Se-Bondowoso akan mengikuti Apel Santri. Kegiatan tersebut di bawah koordinasi Rabithah Ma’ahid Islamiyah NU (RMINU) Bondowoso, Lembaga Pendidikan Maarif NU Bondowoso, dan Gerakan Pemuda Ansor Bondowoso.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Nantinya yang menjadi Inspiktur upacara Apel Santri adalah Drs. H. Salwa Arifin (Wakil Bupati Bondowoso) yang akan dilaksanakan di depan Kantor PCNU Bondowoso," imbuhannya.

Salwa Arifin yang hadir dalam acara tahlilan itu mengaku merasa terhormat dapat terlibat dalam peringatan Hari Santri Nasional. Mustasyar PCNU Bondowoso ini menambahkan, tidak berlebihan NU menyambut antusias Hari Santri, termasuk dengan tahlilan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ia mengatakan, NU tak suka dengan perpecahan, NU tawaduk. “Kenapa demikian? Karena NU adalah ‘pesantren besar’ di dalamnya ada pondok pesantren dan NU indentik dengan pesantren. Begitu pula pesantren indentik dengan NU dan itu tidak bisa dipisahkan itu berpaham Ahlusunnah wal Jamaah.” (Ade Nurwahyudi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Internasional Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 06 Maret 2018

Selama Mudik Lebaran, Koordinasikan dengan Banser untuk Jaga Keamanan

Sidoarjo, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Ketua Pengurus Cabang Gerakan Pemuda Ansor Sidoarjo, Jawa Timur, Slamet Budiono mengimbau kepada warga Nahdliyin yang ada di Sidoarjo khususnya dan Indonesia pada umumnya untuk senantiasa berkoordinasi dengan Banser dalam menjaga keamanan selama mudik lebaran.

"Warga Nahdlatul Ulama silahkan meminta bantuan atau kerjasama dengan Banser untuk menjaga ketertiban dan keamanan lingkungan selama Hari Raya Idul Fitri 1437 H," himbau Slamet, Sabtu (2/7).

Selama Mudik Lebaran, Koordinasikan dengan Banser untuk Jaga Keamanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Selama Mudik Lebaran, Koordinasikan dengan Banser untuk Jaga Keamanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Selama Mudik Lebaran, Koordinasikan dengan Banser untuk Jaga Keamanan

Slamet mengemukakan, selama lebaran hingga H+3, Pengurus Cabang Gerakan Pemuda Ansor Sidoarjo, Jawa Timur, mendirikan posko yang diberi nama posko Banser. Posko tersebut berada di setiap 18 PAC/Satkoryon se-Sidoarjo.

Tak hanya lebaran saja, sambung Slamet, posko tersebut sebetulnya sudah ada sejak bulan Ramadhan dan dibuka setelah sholat Tarawih hingga saat sahur.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Di dalam posko itu ada sekitar 50-100 personil yang bertugas secara bergantian. Selain di posko, anggota juga ikut patroli bersama Polisi dan Satpol PP ke tempat-tempat yang dianggap rawan," kata Slamet.

Sementara itu menurut Sekretaris PC GP Ansor Sidoarjo, H Riza Ali Faizin, selama melakukan mudik ke kampung halaman, warga Nahdliyin diminta untuk tetap berhati-hati.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Patuhi rambu-rambu lalu lintas yang ada. Semoga selamat sampai ke tempat tujuan," pesan H Riza. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Internasional, Budaya Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Songsong Hari Kartini, Fatayat-IPPNU Tebar Inspirasi

Kudus, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Biasanya, menjelang hari Kartini sebagian organisasi wanita sudah sibuk merencanakan kegiatan khusus kaum wanita seperti lomba masak ataupun busana tokoh pejuang zaman dahulu tersebut. Tetapi,sedikit berbeda yang dilakukan oleh PC Fatayat NU dan PC IPPNU Kudus. 

Songsong Hari Kartini, Fatayat-IPPNU Tebar Inspirasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Songsong Hari Kartini, Fatayat-IPPNU Tebar Inspirasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Songsong Hari Kartini, Fatayat-IPPNU Tebar Inspirasi

Sejak Selasa (17/4) kemarin, kedua badan otonom perempuan NU itu memasang puluhan spanduk berisi pesan moral yang inspiratif  pada tempat-tempat strategis di kota kretek ini. Dari spanduk yang dipasang bertema hari Kartini dengan dua tulisan berbeda. 

Pertama, "Kartini masa kini ; Sholih,Cerdas membangun negeri." dan satunya lagi berbunyi  "Semangat Kartini Semangat Perempuan Indonesia ; Belajar,Berilmu,Bertakwa, Penuh Kasih Sayang."

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Menurut sekretaris PC Fatayat NU Kudus Silfia Alfiana, pemasangan spanduk dengan kata-kata inspiratif  ini dalam rangka memperingati hari Kartini 21 April dan Harlah Fatayat ke-62 yang jatuh pada 24 April mendatang. 

"Program ini kita namai tebar inspirasi hari Kartini  guna memberi warna dan pencerahan bagi kaum wanita," katanya kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan, di Kantor PC Fatayat NU Kudus Jl. Pramuka 20, Rabu (17/4).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Tujuan program ini,jelas dia, untuk mengapresiasi pahlawan wanita Indonesia, karena bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai jasa Pahlawannya.

"Kaum perempuan Indonesia mampu terinspirasi melanjutkan jejak perjuangan Kartini untuk membangun negeri ke arah yang lebih baik," tambah Silfia.

Dalam pandangannya, Kartini masa kini itu harus sholikhah, cerdas, selalu belajar, bertaqwa dan memiliki rasa penuh kasih saying antar sesama.

"Melalui pesan-pesan yang kita sampaikan, kaum wanita terutama kader Fatayat dan IPPNU mampu memaknai kembali Kartini masa kini yang sebenarnya," pungkasnya.

Redaktur      : Syaifullah Amin

Kontributor : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Internasional, Pertandingan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 15 Februari 2018

PCNU Sumedang Serahkan Mobil Operasional ke Pengurus Lembaga

Sumedang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumedang memberikan mobil operasional kepada pengurus Lembaga Pendidikan Ma’arif NU setempat. Secara sombolis, kunci mobil diserahkan Ketua PCNU Sumedang H Sadulloh kepada Ketua LP Maarif NU Sumedang Cucu Suhayat.

PCNU Sumedang Serahkan Mobil Operasional ke Pengurus Lembaga (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Sumedang Serahkan Mobil Operasional ke Pengurus Lembaga (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Sumedang Serahkan Mobil Operasional ke Pengurus Lembaga

Sadulloh mangatakan bahwa sampai saat ini sekolah-sekolah formal yang berada di bawah LP Maarif NU Sumedang sudah mencapai 50 sekolah. Sekolah-sekolah itu tersebar di seluruh pelosok Kabupaten Sumedang. “Sudah sewajarnya kami memberikan mobil operasional kepada LP Maarif untuk memantau sekolah-sekolah NU tersebut,” ujarnya.

Kedepan, imbuhnya, tidak hanya pengurus LP Maarif, pengurus lembaga lain pun boleh memakai mobil operasional ini. “Alhamdulillah sampai saat ini PCNU Sumedang sudah memiliki kendaraan operasional tiga buah mobil. Mudah-mudahan kedepannya masih bisa bertambah untuk kemajuan NU di Sumedang,” tuturnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Penyerahan mobil operasional dilakukan dalam rangkaian acara pengukuhan pengurus Lembaga Pendidikan (LP) Maarif NU dan Lembaga Wakaf dan Pertanahan NU (LWPNU) Kabupaten Sumedang. Kegiatan yang dirangkai dengan acara Maulid Nabi Muhammad itu berlangsung di halaman kantor PCNU Sumedang, Sabtu (16/1).

Selain acara pelantikan, kegiatan muludan di PCNU Sumedang juga diisi dengan kegiatan santunan beasiswa kepada anak berprestasi dan mauidhah hasanah. Sebanyak 20 santri terbaik  yang sedang menghafal Al-Quran diberikan beasiswa pendidikan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pengisi tausyiah dalam kegiatan muludan kali ini adalah KH Asep Shoheh dari Indramayu. Tema yang dibahas yaitu peranan NU dalam membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia. (Ayi Abdul Kohar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Internasional, Humor Islam, Amalan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 03 Februari 2018

PCNU Nganjuk Imbau Sekolah dan Madrasah Dirikan Komisariat IPNU-IPPNU

Nganjuk, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan



PCNU Nganjuk melalui surat resminya mengimbau sekolah dan madrasah yang ada di Kabupaten Nganjuk untuk mendirikan Komisariat IPNU-IPPNU dan memasukkan mata pelajaran Aswaja dan ke-NU-an sebagai mata pelajaran muatan lokal. Hal ini dilakukan mengingat sebentar lagi sekolah dan madrasah masuk pada tahun ajaran baru.?

PCNU Nganjuk Imbau Sekolah dan Madrasah Dirikan Komisariat IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Nganjuk Imbau Sekolah dan Madrasah Dirikan Komisariat IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Nganjuk Imbau Sekolah dan Madrasah Dirikan Komisariat IPNU-IPPNU

Surat yang ditandatangani oleh jajaran tanfidziyah dan syuriah ini merupakan penguat untuk sekolah dan madrasah agar mengambil langkah konkret dalam membendung paham radikalisme dan anti-Pancasila yang sedang gencar menyerang negeri ini.

“Penyebaran paham radikalisme telah masuk ke beberapa perguruan tinggi, dan sekarang terus masuk di lingkungan pendidikan sekolah. Ini adalah hal yang sangat mengkhawatirkan sehingga anak-anak panjenengan semua perlu dilatih dan diasah di komisariat IPNU-IPPNU agar merasakan ghiroh perjuangan NU dan sebagai benteng dari aliran-aliran radikal dan menyimpang,” ungkap Ketua LTMNU Nganjuk Saiful Hidayat.

Seperti yang diketahui bahwa komisariat IPNU-IPPNU yang ada di Nganjuk baru sekitar 7-10 komisariat IPNU-IPPNU dari total ratusan lembaga pendidikan yang ada, juga puluhan lembaga pendidikan tingkat MTs dan MA yang berada di bawah naungan yayasan orang NU atau notebene milik orang NU. Tak kalah mengherankan juga, tentang mata pelajaran Aswaja dan ke-NU-an yang baru diajarkan di beberapa sekolah dan madrasah dari banyaknya madrasah yang ada di Nganjuk, padahal dua komponen tersebut cukup penting untuk membekali pelajar dari serangan radikalisme dan anti-Pancasila.

“Beberapa lembaga pendidikan masih ragu untuk mendirikan komisariat IPNU-IPPNU, padahal komisariat pelajar NU dapat fleksibel menempatkan diri sebagai organisasi siswa atau organisasi ekstrakurikuler bahkan menjadi bagian dari OSIS itu sendiri. Dengan digalakkannya komisariat IPNU-IPPNU di Nganjuk, banyak nilai positif untuk mengenalkan siswa sejak dini tentang Aswaja, NU dan asas negara, sehingga ketika lulus dan menjadi mahasiswa di kampus-kampus, tidak mudah kebilnger dan masuk ke ormas-ormas anti-Pancasila,” tutur salah satu pembina PC IPNU Nganjuk

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Imbauan PCNU Nganjuk ini diharapkan segera direalisasikan oleh sekolah dan madrasah di tahun ajaran 2017/2018, sehingga siswa lebih terbekali dengan ideologi positif Aswaja NU dan cinta tanah air,” tegas Saiful. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Internasional, Fragmen Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 20 Januari 2018

Beberapa Problem Fiqih dalam Perbankan Syari’ah

Oleh Muhammad Syamsudin

Dewasa ini marak berkembang jasa-jasa produk perbankan syari’ah, seperti obligasi syariah, reksadana syariah, efek syari’ah, saham syari’ah, dan lain sebagainya. Semangat dari pendirian perbankan syariah di Indonesia ini adalah tidak luput dari karena adanya perhatian terhadap mayoritas penduduk Indonesia yang didominasi oleh umat Islam.

Hal ini berbuntut kepada kewajiban dari seorang presiden (imam) dan/atau yang mewakilinya untuk menjaga kualitas diri masyarakat yang dinaunginya dalam bingkai ajaran agamanya, sebagaimana hal ini disinggung dalam Pasal 29 UUD 1945 yang menyatakan bahwa negara melindungi dan menjamin pelaksanaan setiap pemeluk agama dan kepercayaan yang ada di Indonesia. Dalam bingkai masyarakat yang terdiri atas umat Islam, menandakan bahwa kewajiban negara tersebut adalah mengupayakan agar perjalanan syariat agama khususnya dalam bidang muamalah yaumiyah warganya berlangsung sesuai dengan konsep ajarannya. 

Beberapa Problem Fiqih dalam Perbankan Syari’ah (Sumber Gambar : Nu Online)
Beberapa Problem Fiqih dalam Perbankan Syari’ah (Sumber Gambar : Nu Online)

Beberapa Problem Fiqih dalam Perbankan Syari’ah

Terkait dengan masalah tersebut, maka dalam bidang keuangan dan sirkulasi muamalah warganya, negara berkewajiban menyediakan fasilitas yang bisa membebaskan warganya dari praktik-praktik yang dilarang oleh syariat. Suatu misal, adalah konsep riba. Dengan demikian, maka wujud tanggung jawab negara terkait dengan upaya membebaskan warganya dari praktik riba ini, maka ia harus menyediakan sebuah badan/jasa keuangan yang zero riba.

Inilah pangkal utama berdirinya perbankan syariah yang secara lahiriah bertolak belakang dari perbankan konvensional yang justru melegalisasi riba (bunga) namun dalam konstruk yang terukur. Semangat dari kedua model perbankan ini sebenarnya adalah sama, yaitu membawa kemaslahatan bagi warga negara Indonesia. Hanya saja, untuk perbankan syariah lebih mengerucut lagi yakni kemaslahatan umat Islam dan menyediakan jasa bebas riba (zero riba). Dengan demikian, bank/jasa keuangan syariah, dalam hal ini jelas meneguhkan standing point-nya sebagai antitesa dari bank konvensional. Ia merupakan kebalikan. Jika merupakan kebalikan, maka keduanya tentu ada pangsa saing. Daya saing mutlak harus dikembangkan selama tidak keluar dari rel utama kemaslahatan dan bingkai ajaran.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Permasalahan utama peningkatan daya saing lembaga dan produk jasa syariah ini sebenarnya adalah bagaimana ia melakukan upaya menghidupi lembaga/jasa syariah ini, padahal ia harus bebas bunga? Jika dalam bank konvensional, keberadaan bunga merupakan bagian dari upaya financing terhadap perbankan, sementara dalam bank syariah harus diambil darimana?

Tentu jawabnya adalah dari usaha yang dipandang legal oleh syariah. Hasil dari usaha tersebut bisa membawa kepada ribhun atau laba yang secara mutlak adalah sah dalam bingkai fiqih. Dengan demikian, ruang lingkup usaha lembaga ini pasti tidak jauh dari akad musyarakah, murabahah, mudlarabah, mudayanah (kredit), qardlu, ijarah, istishna’ (penciptaan lapangan usaha/padat karya) dan mubaya’ah (jual beli). Unsur akad lain sebagai penopang adalah dlaman, ju’alah, hiwalah, wakalah dan kafalah

Dari kesekian akad yang secara resmi mendapatkan legalitas syari’at tersebut, pihak perbankan syari’ah masih harus memilih lagi, yakni manakah di antara kesekian produk akad syariah yang memiliki sekuritas (jaminan usaha) yang aman bagi finansial dan funding perbankan. Mengapa? Sekali lagi adalah karena ia harus tetap berada dalam konteks zero riba, aman terhadap eksistensi lembaga, serta maslahah bagi pengguna (nasabah).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dalam konteks mudayanah (hutang piutang/kredit), misalnya. Jika dalam bank konvensional, pihak pihak bank langsung menentukan rasio bunga setiap bulannya kepada nasabahnya. Padahal jelas, konsep ini dilarang oleh syariat. Dengan demikian, pihak perbankan syariah harus memakai konsep apa untuk menggantikan rasio suku bunga ini (rate of interest) ini? Apakah dengan murabahah (bagi hasil)? Jika memaksakan diri dengan akad murabahah, berarti pihak bank memberi beban margin pembagian hasil usaha dengan pihak nasabah.

Jika demikian, apa bedanya dengan lembaga perbankan konvensional? Jika perbankan konvensional berbeban bunga, sementara perbankan syari’ah berbeban margin. Secara produk, jika memakai murabahah ini, tentu daya saing perbankan syari’ah akan dipandang kalah oleh nasabah, dan nasabah akan banyak lari ke perbankan konvensional, karena efek jumlah total akhir margin pembagian yang bisa melebihi suku bunga yang harus ditanggung nasabah dari perbankan konvensional. Inilah yang menyebabkan kemudian perbankan syariah tidak memperkenalkan akad mudayanah dan qardlu ke dalam bagian produk jasa syari’ahnya karena faktor risiko terhadap perbankan, khususnya dalam konteks bisnis (mu’awadah). 

Pelarian kepada akad mudlarabah dan musyarakah ternyata juga membawa masalah bagi pihak penyedia jasa syariah. Mengapa? Karena selama ini yang berlaku dalam perbankan konvensional adalah menjamin keamanan dan keuntungan terhadap dana nasabah. Jaminan keamanan ini dalam jurisprudensi fiqih seharusnya tidak ditemukan, karena dalam konteks mudlarabah, adanya untung rugi merupakan tanggung jawab bersama. Kenyataannya, apa mungkin hal tersebut diberlakukan pada nasabah? Ini juga menjadi bagian permasalahan dalam bank syariah, karena bank syariah dalam ajang kompetisinya dengan bank konvensional, ia juga harus menawarkan janji kepada nasabah sebagai yang akan selalu untung. Akibatnya, tidak mungkin bagi bank untuk berbagi kerugian dengan pemilik modal (nasabah). Ini konsep yang selain membuat beban bagi bank juga tidak ditemukan dalam konsep fiqih.

Dalam suatu akad musyarakah, pihak pemodal (shahibul mâl) umumnya adalah berasal dari kedua pihak antara ‘amil dan shahibul mâl. Realitas di lapangan, pihak perbankan hanya berlaku sebagai pihak wakil dari ‘amil. Ia hanya berperan dalam mengatur dan mengorganisasikan modal tersebut ke unit-unit usaha tempat investasi (menanamkan modal). Dalam konteks ini, akad yang berlaku antara bank dan shahibul mâl adalah wakalah. Efek berantainya, adalah terjadi dua akad atau lebih dalam satu transaksi antara perbankan dan nasabah. Ini juga yang membuat dilema bagi perbankan syariah.

Berbagai dilema ini akan senantiasa berkembang seiring perkembangan zaman. Jika perbankan syari’ah tidak bisa mencari solusi bagi permasalahannya tersebut dengan tetap menyesuaikan diri dengan iklim kompetisi dengan perbankan konvensional, maka lambat laun ia akan ditinggalkan oleh nasabah. Lantas di mana letak unsur kemaslahatannya bagi umat, yang padahal dalam konsep ajaran Islam, adalah: al-Islâmu ya’lu wa lâ yu’la ‘alaih, yang artinya Islam itu unggul dan tidak terkalahkan keunggulannya? Pemikiran semacam ini yang musti disadari oleh semua kalangan demi merawat konsepsi syari’ah yang sudah terlanjur digulirkan demi kemaslahatan umat Islam pada umumnya di Negara Indonesia tercinta ini. 

Walillaahu al-musta’an!

Penulis adalah pegiat Kajian Fiqih Terapan dan Pengasuh PP Hasan Jufri Putri P. Bawean, Kab. Gresik, Jatim

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Internasional, Pertandingan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 06 Januari 2018

Lajnah Falakiyah Rukyat Awal Rajab

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) akan melaksanakan rukyatul hilal untuk menentukan awal bulan Rajab 1433 H. Rukyat dilaksanakan Senin (21/5) sore, bertepatan dengan 29 Jumadal Tsaniyah 1433 H.

Rukyatul hilal atau observasi bulan sabit akan dilaksanakan di sedikitnya 90 titik strategis di seluruh Indonesia.

Lajnah Falakiyah Rukyat Awal Rajab (Sumber Gambar : Nu Online)
Lajnah Falakiyah Rukyat Awal Rajab (Sumber Gambar : Nu Online)

Lajnah Falakiyah Rukyat Awal Rajab

“Dari sudut derajatnya sih sudah dapat dirukyat, nanti kita lihat hasil rukyatnya,” kata KH A. Ghazalie Masroeri, Ketua Pengurus Pusat LFNU dihubungi Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan di Jakarta, Senin (21/1).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Data hisab dalam almanak PBNU yang diterbitkan oleh LFNU menunjukkan, ijtima’ atau konjungsi telah terjadi pada hari ini, pukul 06.42 WIB. Untuk markaz Jakarta, hilal pada saat matahari terbenam nanti sudah berada di ketinggian 3,27 derajat dengan posisi miring ke utara, dan akan berada di ufuk selama 18 menit 20 detik.

Dengan pertimbangan waktu ijtima’ dan posisi hilal tersebut diperkirakan tanggal bulan tanggal 1 rajab 1433 akan jatuh pada hari Selasa 22 Mei 2012 besok, dan umat Islam sudah bisa menjalankan puasa sunnah Rajab. Namun ketentuan awal bulan Rajab masih menunggu hasil rukyat nanti sore.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Quote, Doa, Internasional Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 04 Januari 2018

Kiai Wasid

Matanya nanar, seakan ada rembulan menggantung di sana. Usianya sudah lengkap dengan asam garam kehidupan. Warna rambutnya hanya ada dua, hitam dan putih, berpadu seperti yin dan yang, terbungkus serban putih kesayangannya.

Usianya memang senja, tapi jika ia berjalan langkahnya masih gagah tegap meskipun ia tak pernah mengenyam pendidikan militer. Lelaki tua itu duduk bersila sambil menatap sekeliling ruang kosong. Sebuah bangunan gelap yang mungkin usianya jauh lebih renta dari usianya. Secercah cahaya lurus menerobos ruangan itu, tampak asap putih mengepul dari corong mulutnya, sesekali ia hisap kepenatan dalam batinnya. Tampak ada rasa kekhawatiran di matanya, kekhawatiran tentang sebuah musim di mana hanya sedikit orang-orang yang mau mengerti tentang arti kehidupan, tentang Tuhan, tentang keyakinan, perjuangan, hak kemanusiaan di ruang-ruang saksi sejarah yang bisu yang semakin tersudut di pinggir desa-desa yang dijajah lahir dan batinnya.

Kiai Wasid (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Wasid (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Wasid

Sudah satu minggu lamanya Kiai Wasid mendekam dalam jeruji besi sejak ia ditangkap oleh pemerintah Belanda. Kiai Wasid dianggap bersalah karena telah berbuat onar menebang pohon Kepuh besar yang akhir-akhir ini disembah oleh warga penduduk desa Lebak Kepala Banten.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Suatu malam Kiai Wasid beserta murid-muridnya sengaja mendatangi Kepuh dan menebangnya. Kiai Wasid memang sudah lama gerah melihat tingkah laku para rakyat yang mengganggap pohon besar itu sebagai keramat. Sudah sering Kiai Wasid memberi peringatan bahwa apa yang dilakukan oleh penduduk desa ini adalah perbuatan musyrik. Namun tidak digubris. Para penduduk desa menganggap Kepuh dapat menghilangkan bencana dan mengabulkan apa yang mereka pinta asal saja memberikan sasajen kepada pohon.

“Percaya kepada selain Allah Subhanahu wata’ala adalah syirik! Musyrik! Laknatullah!” teriak Kiai Wasid.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Berkali-kali Kiai Wasid memperingatkan penduduk, tapi imbauannya tidak diindahkan sama sekali. Kiai Wasid yang tidak dapat membiarkan kebodohan di depan matanya. Dengan beberapa orang muridnya ditebangnya pohon berhala itu pada malam hari.

Kiai Wasid memang sangat tegas dalam urusan akidah. Hal ini juga ia ajarkan kepada murid-muridnya di pesantrennya di kampung Beji Cilegon. Dulu waktu Kiai Wasid berguru kepada Syekh Nawawi Al Bantani, Kiai Wasid sering bertanya tentang hakikat tauhid gusti Allah.

“Kanjeng Kiai, sedekat apakah Gusti Allah dengan kita?” Tanya Kiai Wasid kepada Syekh Nawawi.

“Dekat atau tidaknya Gusti Allah itu kita sendiri yang menentukan. Gusti Allah bisa dekat, bisa juga jauh. Ibarat cahaya lilin.” Jawab Kiai Nawawi. Kiai Wasid tertegun.

“Lalu, Siapakah Gusti Allah? Siapakah kita, Kiai?” Kiai Wasid kembali bertanya.

“Gusti Allah adalah cahaya, dan kita semua adalah bayangannya.” Jawab Syekh Nawawi.

Bagi Kiai Wasid, itu adalah jawaban yang sangat berarti dalam hidupnya. Kiai Wasid memang sangat takzim kepada Syekh Nawawi. Sepanjang hidupnya Syekh Nawawi tak henti-hentinya mengajarkan tiga pokok ajaran dalam Islam. Yaitu Ketauhidan, Fikih, dan juga Tasawuf. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Ajatan ketauhidan akan keesaan Allah subhanhu wata’ala yang diajarkan Syekh NAwawi membawa Kiai Wasid dan juga teman seperjuangannya seperti Haji Abdurahman, Haji Akib, Haji Haris, Haji Arsad Thawil, Haji Arsad Qashir dan Haji Ismail melanjutkan syiarkan agama Allah ke seluruh wilayah Banten. Bagi Kiai Wasid, perbuatan yang menyekutukan Allah adalah dosa yang sangat besar. Itulah sebabnya Kiai Wasid sangat benci sekali dengan orang yang lebih percaya pada benda mati seperti Kepuh dibandingkan kepada Allah.

“Allahu Akbar.. Allahu Akbar..” Teriak Kiai Wasid dan para muridnya. Kepuh tumbang. Warga desa lari tunggang-langgang. Beberapa dari mereka melapor kepada tentara Belanda. Tidak lama kemudian Kiai Wasid ditangkap pemerintah Belanda.

Kiai Wasid ditangkap dan dijebloskan ke penjara lantaran ada laporan warga tentang perbuatannya menebang pohon keramat Kepuh. Saat di dalam penjara sebelum Kiai Wasid diadili, seorang asisten Residen bernama Goebels mendatangi tempat Kiai Wasid ditahan.

“Tuan, harus bertanggung jawab penuh atas keonaran yang tuan perbuat.” Ucap sang asisten dari balik jeruji besi.

“Menara langgar bale tuan juga kami dirubuhkan! Itu peraturan yang sudah kami edarkan.” Kiai Wasid terkaget. Kiai Wasid semakin geram.

“Tuan Wasid! Sesuai dengan aturan hukum pemerintah, nanti tuan akan didakwa bersalah karena telah mengganggu ketertiban warga desa!” lanjut Goebels.

“Atas dasar apa bapak sekalian menuntut saya yang hendak menghancurkan kebodohan? Kemusyrikan?” Jawab Kiai Wasid. Goebels cukup kaget mendengar perkataan Kiai Wasid.

“Apakah kiranya saya yang begitu mencintai saudara sedarah saya berdiam diri saat mereka terjebak dalam kebodohan menyembah sebatang pohon yang tak berdaya?” lanjut Kiai Wasid.

“Itu adalah hak manusia, tuan.” Ucap Goebels.

“Menyelematkan saudara kami seiman adalah hak juga! Apakah itu salah tuan?” kata Kiai Wasid.

“Tuan, kamu orang salah karna melanggar ketenangan orang?” Goebels balik membalas.

“Siapa yang merasa tidak tenang tuan? Hah? Tolong tuan panggil! Siapa?”

“Kalau menebang pohon demi menyelamatkan saudara kami dari kemusyrikan itu dianggap salah, apakah merubuhkan rumah ibadah kami bukan kesalahan?” Tanya Kiai Wasid.

“Menara kamu punya rumah ibadah itu mengganggu ketenangan masyarakat! karena kerasnya suara, apalagi waktu azan shalat subuh. Tuhan tidak tuli, tuan!” kata Goebels.

“Membiarkan saudara kami menyembah pohon itu lebih mengganggu ketenangan kami tuan, ketenangan hati. Ketenangan iman kami!” teriak Kiai Wasid.

“Tuan Wasid, apakah tuan sadar apa yang tuan perbuat ini adalah keonaran? Pemberontakan kepada pemerintah? Goebels bergerak mendekati Kiai Wasid. Kiai Wasid tersenyum kecut.

“Tuan, apakah yang tuan maksud dengan pemerintahan?”

“Apakah yang tuan maksud pemerintahan itu yang membiarkan kelaparan dan wabah penyakit menimpa kami? Apakah saat hujan tidak turun selama dua tahun lamanya pemerintah ini peduli pada penduduk?” lanjut Kiai Wasid. Dua sipir yang beringasan berangsur ke sisi Goebels. Tapi Goebels memberi isyarat untuk meninggalkan mereka berdua. Dua sipir secepatnya keluar.

 “Tuan, desa-desa kami kering kerontang. Tidak ada tanaman yang tumbuh. Air sulit didapat. Apakah tuan tahu? Lalu Apa yang bisa kami tanam? Sedangkan pemerintah tuan terus menarik upeti kepada kami?”

“Upeti yang kami kumpulkan, itu semua untuk kesejahteraan rakyat! Tuan ini harusnya tahu?” balas Goebels.

“Kesejahteraan yang mana? Apakah hidup kelaparan dan penuh sengsara adalah kesejahteraan?” sambar Kiai Wasid.

“Tanah kami kering. Seperti iman kami.” Tiba-tiba hening. Seperti ada bongkahan angkuh yang luluh di hati Goebels.

“Lanjutkan, Tuan Wasid,” ucap Goebels.

“Di pasar-pasar hampir setiap hari kami menemukan bayi yang mati ditinggalkan ibunya. Apakah pemerintah tuan tahu? Tuan, apakah tuan tahu puluhan ribu dari kami mati karena penyakit sampar yang berkepanjangan?

“Desa kami seakan mati ditinggalkan penghuninya. Banyak ibu tidak dapat menyusui anaknya dan banyak anak-anak kami mati kelaparan, apakah pemerintah tuan tahu?

“Lalu apakah salah kalau kami meratap, berdoa dan berzikir kepada Gusti kami saat kami tak boleh merapat kepada pemerintahan ini?”

“Tuan, apakah tuan masih ingat kesediahan kami karena sang Krakatau meletus? Ribuan jiwa saudara kami mati. Apakah yang dilakukan pemerintahan tuan? Tidak ada bukan?”

“Pemerintah tuan bukan menolong kami, tapi malah pajak kepada kami diperbesar? Kami harus kerja Pancen dan kerja Rodi di luar kewajaran! Maka, tuan, itulah sebabnya banyak saudara kami menjadi putus asa dan kembali percaya kepada dukun dan benda benda yang dianggap keramat dari pada mohon pertolongan Allah, Gusti kami.”

“Cukup, Tuan!” potong Goebels.

“Sepertinya penjelasan tuan ini sudahlah cukup. Terima kasih, tuan.” Lanjut Goebels.

“Sipir!” teriak Goebels. Lalu ia berlalu saat kedua sipir datang.

“Renungkanlah tuan! Pakai hati tuan!” Teriak Kiai Wasid. Goebels berlalu. Seperti ada sebongkah rasa dari balik matanya. Mungkin ia merasa ada sesuatu yang menohok hatinya. Namun entahlah. Hati orang siapa yang tahu?”

Hari ini tanggal 18 November 1887, Kiai Wasid dijadwalkan akan diadili. Gerak riuh penduduk desa berdatangan. Mereka berdesakan demi melihat sang Kiai yang sedang diadili. Tampak pula beberapa tentara Belanda berjaga. Teriakan “Allahu Akbar” menggema dari barisan belakang sekelompok orang. Kiai Wasid dibawa masuk oleh dua orang tentara bersenjata. Langkahnya tagap seakan apa pun diterjang. Riuh suara penduduk desa semakin bergemuruh.

Atas kesalahannya, Kiai Wasid akhirnya didenda 750 Gulden. Tuntutan jaksa yang sebelumnya ingin memvonis berat Kiai Wasid menjadi ringan karena mendapat pesan dari asisten Residen. Ia merasa apa yang dijelaskan Kiai Wasid tentang keadaan rakyat Banten cukup membuatnya tersadarkan. Kiai Wasid dibebaskan, namun Belanda terus mengawasi gerak-geriknya. Sejak peradilan Kiai Wasid, Belanda semakin mencekik para penduduk desa. Belanda mengeluarkan surat edaran yang isinya supaya shalawat, tarhim, dan azan jangan dilakukan dengan suara keras. Entah apa maksud surat larangan ini, yang jelas Belanda ingin mempersempit ruang gerak umat Isam untuk melakukan aktivitas-aktivitas perkumpulan.

Sejak peristiwa dilepaskannya Kiai Wasid, keadaan justru semakin mencekam. Penduduk desa semakin terombang-ambing atas kebijakan pemerintahan Belanda yang terus menaikkan pajak. Keadaan ini membuat Kiai Wasid bersama-sama dengan para ulama pemangku agama di daerah Banten seperti Haji Abdul Karim, Haji Tubagus Ismail, dan Haji Marzuki, kembali menjalankan misi syiar Islam dan perjuangan melawan penjajah di langgar-langgar, pesantren-pesantrean. Kiai Wasid dan para ulama lainnya terus menanamkan semangat jihad menentang penjajah.

Semangat perjuangan penduduk Banten kembali berkobar, sejak 4 Februari sampai 13 Maret 1888, para ulama dan penduduk desa mengadakan beberapa pertemuan yang intinya merencanakan strategi untuk melawan pemerintahan Belanda. Setelah melakukan beberapa pertemuan maka para ulama dan penduduk desa memutuskan untuk melakukan penyerangan. Hari sebelumnya para penduduk desa mengadakan arak-arakan sambil meneriakan takbir dan kasidahan arak-arakan dimulai dari rumah Haji Akhiya di Jombang Wetan dan berakhir di rumah Haji Tubagus Kusen, penghulu Cilegon. Para kiyai dan murid murid mereka memakai pakaian serba putih dengan ikat kepala dan kain putih pula sambil membawa pedang dan tombak.

Rombongan para kiai dan warga Banten pada malam hari bergerak dari Cibeber ke arah Saneja dipimpin langsung oleh Kiai Wasid dan Haji Tubagus Ismail tempat ini kemudian dijadikan sebagai pusat penyerangan oleh Kiai Wasid dan pengikutnya. Peristiwa itu kemudian dikenal dengan “Geger Cilegon”. Peristiwa perjuangan tumpah darah rakyat Banten dalam mengusir penjajahan Belanda. Peristiwa yang membuat penjajah Belanda kocar-kacir ketakutan. Dan peristiwa yang membawa ruh Kiai Wasid yang gugur syahid di medan perang menuju ribaan Allah Azza Wa Jalla.

Ciracas 31 Des 2012

Hijrah Ahmad, editor, Alumni Buntet Pesantren Cirebon.

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Aswaja, Internasional, Warta Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 27 Desember 2017

Ratusan Banser dan Pelajar NU Dawe Apel Resolusi Jihad

Kudus, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Ratusan kader GP Ansor dan pelajar NU di kecamatan Dawe kabupaten Kudus mengadakan apel akbar dalam rangka meperingati Hari Pahlawan, Senin (10/11) siang. Mereka mengadakan bertajuk Apel Resolusi Jihad di tengah guyuran hujan di Bumi Perkemahan desa Kajar, Dawe.

Pengurus Ansor Kudus Jamilin memimpin jalannya upacara. Selain pengibaran bendera Merah Putih dan panji-panji NU, peserta apel juga mendengar rekaman sejarah perjuangan Resolusi Jihad.

Ratusan Banser dan Pelajar NU Dawe Apel Resolusi Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Banser dan Pelajar NU Dawe Apel Resolusi Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)

Ratusan Banser dan Pelajar NU Dawe Apel Resolusi Jihad

Sekretaris GP Ansor Dawe Bahrudin mengatakan, apel ini bertujuan memperingati Hari Pahlawan dan Resolusi Jihad demi mengenang dan meneladani jejak-jejak perjuangan ulama NU melawan penjajah.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Melalui apel resolusi jihad ini juga untuk menanamkan kembali nilai dan semangat perjuangan yang digelorakan Kiai Hasyim Asyari," tuturnya kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Bahrudin menerangkan, Ansor dan Banser merasa perlu mengambil nilai-nilai perjuangan ulama seperti keikhlasan penuh pengabdian terpatri pada diri kader  dan pelajar NU. Ansor berkomitmen melanjutkan perjuangan kiai NU dengan selalu menjaga NKRI.

"Dari sini, keberadaan Ansor dan Banser akan terus menggelorakan semangat nasionalisme sebagaimana yang disuarakan pada butir-butir Resolusi Jihad," tegas Bahrudin yang menjadi komandan apel tersebut.

Di akhir apel, semua peserta dari Banser membacakan bersama-sama ikrar Nawa Prasetya GP Ansor.Hal  Ini sekaligus sebagai bukti dan kesetiaan anggota Banser dan Ansor berkomitmen kepada organisasi dan bangsa.

Usai apel banser dan pelajar, seluruh peserta melakukan konvoi sepeda motor mengarak puluhan bendera Merah Putih dan panji NU dari bumi perkemahan Kajar menuju kantor MWCNU Dawe yang berjarak 2 km. Sambil menyanyikan lagu-lagu perjuangan dan mars GP Ansor, konvoi berjalan tertib dan mendapat simpati pengguna jalan yang dilaluinya.(Qomarul Adib/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pendidikan, Internasional Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 19 Desember 2017

Ulama Nganjuk Harapkan Santri Hargai Para Pendahulu

Nganjuk, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Perjalanan hari ketiga Kirab Resolusi Jihad NU 2016 memasuki Kabupaten Nganjuk, Sabtu (15/10). Pondok Pesantren Miftahul Ula Nglawak Kertosono didatangi Tim Kirab. Tim kirab tiba di pesantren yang didirikan KH Abdul Kodir Al-Fatah dan telah berusia 92 tahun itu sekira pukul 22.00.

Wakil Bupati Nganjuk KH Abdul Wahid Badrus berkenan menyampaikan kata sambutan. Menurut Mustasyar PCNU Nganjuk ini, peringatan Hari Santri Nasional yang diisi salah satunya dengan Kirab Resolusi Jihad membuka mata pemerintah dan anak bangsa tentang semangat membela bangsa.

Ulama Nganjuk Harapkan Santri Hargai Para Pendahulu (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Nganjuk Harapkan Santri Hargai Para Pendahulu (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Nganjuk Harapkan Santri Hargai Para Pendahulu

Semangat yang melahirkan Resolusi Jihad pada dasarnya timbul karena suatu bangsa yang memasuki wilayah bangsa lain pasti menimbulkan kerusakan di wilayah negara yang dimasukinya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kiai Wahid menyinggung hal tersebut seperti kisah Ratu Saba setelah menerima surat dari Nabi Sulaiman, di mana Ratu Saba bersabda “Masuknya suatu bangsa ke sebuah negeri akan berbuat kerusakan di dalam negeri.”

Kiai Wahid memandang resolusi tidak saja relevan pada masa perjuangan tahun 1945, tetapi kiranya menjadi semangat motivasi dan inspirator untuk menjadi manusia yang cinta kepada Indonesia, setia NKRI dan komitmen yang telah diputuskan dalam UUD 1945.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Di Indonesia ini ada satu buku karangan KH Saifudin Zuhri berjudul Orang-orang dari Pesantren. Dalam buku tersebut, digambarkan betapa para ulama mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap negara, saat terjadi cengkraman penjajahan dari Jepang dan Belanda. Dalam buku itu disebut pula peran para ulama dalam memperjuangkan kemerdekaan.

Kiai Wahid memandang peringatan Hari Santri Nasional, pelaksanaannya perlu didukung oleh pemerintah pada waktu mendatang. Karena itu ia berpesan kepada PBNU untuk mendorong pemerintah agar setiap Pemda di Indonesia menyelenggarakan peringatan Hari Santri, bukan hanya NU yang bergerak sendiri.

Pesan kedua, pantas sekali bahwa para kiai dan ulama kebih dihargai oleh negara. Memang beberapa ulama telah diangkat menjadi Pahlawan Nasional. Namun nyatanya masih banyak Kiai dan ulama yang dipandang sebelah mata oleh negara.

Kepada generasi muda dan santri, ia berpesan kepada mereka agar mempelajari sejarah. Sosok seperti Gus Dur atau KH Saifudin Zuhri dan tokoh lainnya dapat dijadikan inspirasi dan motivasi untuk berbuat bagi bangsa dan negara.

Selanjutnya generasi muda juga harus berjuang demi agama dan NU. Dalam rangka itu, NU struktural dan kultural harus bersatu.

"Melalui NU struktural kita rajut kerja sama dengan pemerintah. Melalui NU kultural kita rajut kerja sama dengan masyarakat. Mari kita rajut untuk kehidupan yang lebih baik," pungkas Kiai Wahid.

Mengakhiri upacara penyambutan, KH Jamaludin Abdullah memimpin doa sebelum akhirnya tim meneruskan perjalanan ke Pesantren Lirboyo Kediri. (Kendi Setiawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Fragmen, Internasional, News Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 14 Desember 2017

Indonesia Harus Daulat Pangan, Tolak Impor Beras

Semarang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Indonesia harus berdaulat di? bidang pangan. Harus swasembada beras sebagai bahan makanan pokok. Tidak boleh ada impor beras, bawang atau produk pertanian lain yang bisa dicukupi di dalam negeri.? Jawa Tengah sebagai salah satu provinsi penyangga pangan nasional menolak impor beras dan mendorong revitalisasi pertanian.

Demikian saripati pembahasan dalam Seminar Nasional Pemanfaatan Dana Desa, di Kampus Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) baru-baru ini.

Indonesia Harus Daulat Pangan, Tolak Impor Beras (Sumber Gambar : Nu Online)
Indonesia Harus Daulat Pangan, Tolak Impor Beras (Sumber Gambar : Nu Online)

Indonesia Harus Daulat Pangan, Tolak Impor Beras

Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Ahmad Muqowwam yang menjadi pembicara dalam seminar tersebut mengatakan, pemerintah harus mengubah kalimat “ketahanan pangan” menjadi “kedaulatan pangan”. Menurutnya, kalau hanya ketahanan pangan, itu asal sudah ada bahan makanan, berarti sudah tahan, tiada kelaparan. Namun itu masih memungkinkan cara impor.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Yang benar adalah kedaulatan pangan. Berdaulat itu bermakna kekuatan sendiri. Tidak ada impor,” terang senator asal Jateng ini.

Secara khusus ia menyoroti anggaran desa yang saat ini besar sekali. Yaitu Rp128 triliun untuk 72.944 desa di Indonesia. Dana itu cukup untuk menata pertanian dan mengembangkan ekonomi desa agar tercapai kedaulatan pangan tersebut.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Menurut mantan anggota DPR dari Partai Persatuan Pembangunan ini, dana yang jika dibagi per desa bernilai hingga Rp 2 miliar itu sangat patut untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Melalui dana ini akan bisa diperbaiki sarana prasarana, pertumbuhan ekonomi, dan pemerataan hasil-hasil pembangunan.

Selanjutnya, Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa (Bapermades) Provinsi Jateng Tavip Supriyanto menyatakan, Pemprov Jateng tegas menolak impor beras. Juga tidak setuju adanya impor bawang merah.

Ia menerangkan, Gubernur Jateng bertekad melindungi para petani bawang di Brebes dan petani padi di Jateng yang telah menjadi andalan pangan nasional. Dengan adanya impor, kata dia, akan merugikan petani dan merusak ekonomi pedesaan.

“Kita butuh revitalitasi pertanian. Jateng menolak impor beras,” ujarnya yang datang mewakili Gubernur Jateng.

Terkait dana desa, Tavip menyebutkan, di tahun 2015 ada kendala pemanfaatannya. Yaitu mayoritas masih fokus pada pembangunan fisik alias infrastruktur umum seperti jalan lingkungan dan sarana air bersih. Yang mestinya prioritas dibangun, kata dia, adalah infrastuktur yang mendukung produktivitas ekonomi desa. Seperti irigasi, pasar desa, layanan kesehatan, dan pendidikan.

Hadir pula dalam seminar tersebut? Guru Besar Fakultas Pertanian UNS Prof Dr Suprapti Supardi dan kurang lebih 500 peserta yang mayoritas dari perguruan tinggi di Semarang.

Suprapti dalam paparannya menyoroti Nilai Tukar Petani (NTP) yang rendah.? Hal itu menurutnya disebabkan sempitnya lahan pertanian, rendahnya produksi, dan anjloknya harga saat panen.

Kucuran dana desa diharapkan mampu mendongkrak potensi desa yang jumlahnya mencapai puluhan ribu,” ujarnya. (Ichwan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan AlaSantri, Internasional, Cerita Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

GP Ansor Tanjungkerta Rekrut Puluhan Anggota Banser NU

Sumedang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Kecamatan Tanjungkerta Kabupaten Sumedang menggelar pendidikan dan latihan dasar (diklatsar) Banser NU di Pondok Pesantren Al-Mamun Tanjungkerta Sumedang. Diklatsar ini diikuti oleh 60 peserta dan akan dilaksanakan selama tiga hari, Jumat-Ahad (8-10/9).

Ketua GP Ansor Tanjungkerta Syarif Hidayatullah mengatakan, Diklatsar Banser merupakan salah satu jenjang pendidikan dan pelatihan yang harus diikuti setiap kader Ansor yang ingin menjadi anggota Banser. Tujuannya adalah merapatkan barisan dalam membentengi para ulama dan menjaga NKRI dari berbagai rongrongan yang ingin memecah belah Indonesia.

GP Ansor Tanjungkerta Rekrut Puluhan Anggota Banser NU (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Tanjungkerta Rekrut Puluhan Anggota Banser NU (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Tanjungkerta Rekrut Puluhan Anggota Banser NU

Para peserta Diklatsar akan dibekali berbagai ilmu dan pelatihan mulai dari berbagai bentuk pelatihan fisik, mental, kemampuan beladiri, ilmu tenaga dalam, pendalaman ke-NUan, ke-Indonesiaan, bela negara, peraturan baris berbaris, kelalulintasan, dan tanggap darurat bencana.

Sementara Sekretaris PCNU Sumedang Jujun Juhanda mengatakan, jangan pernah keder menjadi seorang Banser. Ada tugas mulia membentang di hadapan sahabat-sahabat karena posisi dan kedudukan Banser berada sebagai pengawal ulama. Tugas dan tanggung jawab Banser juga yaitu menjaga akidah Ahlussunnah wal Jamaah dan juga mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Semoga setelah Diklatsar ini selesai, masing-masing peserta bisa memegang teguh ke-NUan dan ke-aswajaan. Bahkan, mereka harus siap menjadi garda terdepan menjaga ulama dan NKRI, tutup Jujun. (Ayi Abdul Kohar/Alhafiz K)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Tokoh, Internasional Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 13 Desember 2017

NU-nisasi Orpol?

Oleh KH MA Sahal Mahfudh. Politik itu kenyal, seperti permen karet. Dikunyah terus tak pernah habis. Terkadang rasanya sudah habis, tapi orang masih terus mengunyahnya. Bagi orang yang telah terbiasa mengunyah permen karet, mungkin ia kecanduan dengan kebiasaan yang melekat itu. Rasanya tidak sreg bila pada forum apa saja atau pada kesibukan apa saja, tanpa mengunyah permen karet, dus mengaitkan aktivitas apa saja dengan politik.

Dalarn proses hidupnya, manusia rnemang tidak lepas dari pengaruh watak politis. Telah menjadi sunnatullah barang kali, setiap kelompok manusia ada yang dikuasai dan ada yang menguasai, ada yang diperintah dan memerintah, serta ada yang dipengaruhi dan mempengaruhi. Itulah konteks politik.

NU-nisasi Orpol? (Sumber Gambar : Nu Online)
NU-nisasi Orpol? (Sumber Gambar : Nu Online)

NU-nisasi Orpol?

Secara naluriah manusia selalu ingin menguasai, memerintah dan mempengaruhi. Meskipun pada tingkat-tingkat tertentu, sesuai dengan potensi dan otoritas yang dimiliki. Di sini kiranya dapat dibuktikan adanya adagium, politik merupakan kebutuhan hidup menurut naluri manusiawi. Masyarakat yang hidup dalam suatu negara yang berbentuk apa pun, tentu merasa sebagai makhluk yang berbangsa dan bernegara. Perasaan itu biasanya berkembang menjadi pengertian atau kesadaran kkritis. Dengan demikian mereka sudah terlibat langsung atau tidak, disadari atau tidak berada pada masalah politik. Hanya saja, karena keterbatasan tertentu, di antara mereka ada yang masuk pada golongan kaum elite politik dan ada yang hanya sebagai kaum awam politik. Kelompok kedua inilah yang terbanyak dari masyarakat Indonesia, termasuk warga NU.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kelompok kedua ini, kelihatan acuh tak acuh dan tidak punya perhatian terhadap masalah politik, kecuali secara temporer karena pengaruh dari panutan mereka yang masuk pada kelompok pertama. Pada momentum tertentu mereka ikut melakukan aktivitas politik dengan memberikan dukungan atau menolak atas wawasan politik tertentu. Umumnya mereka tidak bisa membedakan antara kultur politik dan struktur politik, apalagi pengetahuan soal infrastruktur dan suprastruktur politik. Meskipun kenyataannya mereka sudah terlibat, sekurang-kurangnya dalam kultur politik, yakni keseluruhan tata nilai, keyakinan, persepsi dan sikap yang mempengaruhi mereka dalam suatu sistem atau kegiatan politik.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

***

Warga Nahdlatul Ulama (NU) yang sebagian besar awam politik beserta ulamanya telah terlibat langsung atau tidak langsung dalam sejarah pembentukan negara dan bangsa Indonesia. Ketika zaman kolonial Belanda, NU dengan para ulama dan pesantrennya telah mampu menanamkan semangat wathaniyah (nasionalisme) dan kebencian terhadap penjajahan. Semangat itu berpengaruh luas pada masyarakat untuk merebut kemerdekaan Indonesia dan mempertahankannya. Ini merupakan tindakan politik secara kultural yang kemudian disebut peranan politik dalam sejarah bangsa.

Peranan kesejarahan tersebut sebenarnya juga merupakan khittah perjuangannya serta usahanya untuk mencapai tujuan organisasi, yaitu berlakunya syariat Islam ala Ahli al-Sunnah wa al-Jamaah di bumi Nusantara ini. Sikap dan kebijakan para ulama NU seperti itu, bukan tanpa alasan. Justru karena wawasan historis dan wawasan masa depan itulah, para ulama NU sadar akan sejarah yang telah, sedang dan akan berjalan.

Sejarah telah memberikan pelajaran kepada ulama NU, bahwa masuknya Islam di Indonesia sejak awal hingga zaman Wali Songo, tidak melalui jalan politik struktural, namun lewat usaha dan kegiatan yang seiring dengan proses transformasi kultural. Strategi itu menguntungkan, karena tidak menimbulkan perdebatan konflik batin maupun fisik bagi masyarakat sasaran.

Transformasi budaya ini masih terus berproses dan akan terus berproses sejalan dengan perkembangan kehidupan manusia. Bagi NU, ini sebuah tuntutan yang mendorong orrnas Islam terbesar itu, untuk melakukan kegiatan sosial kemasyarakatan yang berpengaruh langsung atau tidak langsung dalam menumbuhkan dan membentuk budaya bernilai Islam.

Adanya indikasi tumbuhnya antusiasme keagamaan Islam di seluruh Indonesia saat ini, merupakan titik cahaya yang akan memberikan terobosan bagi NU untuk memperoleh kesempatan mengisi nilai budaya secara Islami. Tujuan NU bisa terwujud melalui kulturisasi politik tanpa harus menimbulkan ketegangan-ketegangan.

Inilah sebenarnya yang ingin dicapai oleh para ulama NU dengan keputusan strateigisnya, kembali ke Khittah 26. Khittah 26 telah berkali-kali diuji dengan keluar-masuknya NU pada kegiatan po1itik struktural. Ternyata ia masih tetap merupakan garis lurus vertikal mau pun horisontal yang patut menjadi landasan perjuangan NU dan tetap mempunyai relevansi kuat. Khitah 26 akan selalu mampu menarik NU ke tengah-tengah pergumulan sejarah bangsa yang masih panjang. Dengan demikian keberadaan di tengah bangsa Indonesia ini, justru bagai pupuk yang sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas kehidupan dan keberagamaan demi kemajuan optimal bagi bangsa ini.

Di sinilah letak dasar ukuran umum dan wajar yang selalu dipegang oleh para ulama NU sejak berdirinya sampai sekarang. Pada dasar ukuran ini pula terletak kesimpulan, Khittah 26 sejak lahir belum pernah "minus". Khittah 26 cukup sarat dengan berbagai nilai yang kuat relevansinya di segala zaman. Tidak pernah dan tidak akan ada istilah "Khittah Minus".

Nahdlatul Ulama dalam sejarahnya sejak lahir tahun 1926 mengalami perubahan kecil atau besar, internal atau eksternal; mulai dengan bergabung ke MIAI, Masyumi, kemudian jadi partai politik dan berfusi ke dalam PPP. Akhirnya kembali menemukan jatidirinya yang asli, menjadi jamiyah diniyah ijtimaiyah mahdloh (organisasi masyarakat keagamaan murni) yang secara organisatoris tidak mengkaitkan dirinya dengan organisasi politik mana pun.

***

Perubahan tersebut secara umum banyak dipengarahi oleh faktor eksternal dan secara kbusus diletakkan pada strategi yang dipertimbangkan sesuai dengan zamannya. Para ulama NU baik yang terlibat langsung dalam struktur organisasi NU maupun yang di luar struktur, terutama para ulama pengasuh pesantren memberikan kesepakatan bulat atas kembalinya NU pada khittahnya.

Mereka memang punya kepekaan sosial yang tinggi -meskipun bukan tergolong elite politik. Justru identitas mereka adalah faqih fi mashalih al-khalqi. Kepekaan sosial dan pengalaman empirik mereka pada saat NU secara langsung atau tidak langsung terlibat pada politik praktis, mendorong mereka untuk menelaah kembali secara lebih terinci sosok NU menurut esensinya dalam konteks perjuangan keagamaan Islam di Indonesia, dari satu masa ke masa yang lain. Setelah Muktamar NU ke-25 di Surabaya tahun 1975, tepatnya dalam Konferensi besar (Konbes) pada tanggal 5-8 Mei 1975 di Jakarta, dikeluarkan “Pernyataan Pemantapan Kedudukan dan Fungsi Jamiyah Nahdlatul Ulama".

Ada tiga pokok isi dari pernyataan itu yang sangat penting bagi umat NU khususnya dan bangsa serta negara Indonesia umumnya. Pertama memantapkan kedudukan dan fungsi jamiyah NU sebagai organisasi yang menitikberatkan perjuangannya selaku organisasi umat yang berdasarkan ‘aqidah, syariah dan thariqah Islam Ahlu al-Sunnah wa al-Jamaah dan bergerak di bidang dakwah, pendidikan, sosial, ekonomi dan budaya, untuk kesejahteraan umat dalam rangka pembangunan bangsa dan manusia Indonesia seutuhnya.

Kedua, dalam masa pembangunan nasional sekarang ini, NU akan meningkatkan darma baktinya secara persuasif dan edukatif, untuk menciptakan stabilitas dan persatuan nasional, meningkatkan kesadaran dan moral bangsa, serta mendidik hidup berkonstitusi dan berdemokrasi.

Ketiga, jamiyah NU akan berpartisipasi dalam pembangunan nasional, baik material maupun spiritual untuk mencapai cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana terkandung dalam Pembukaan UUD 1945, serta ikut membina ketahanan nasional. Pernyataan tersebut dikeluarkan atas pertimbangan pertama dalam konsiderannya, bahwa NU mengembalikan kedudukan dan fungsinya seperti ketika dibentuk pada tanggal 16 Rajab 1344 H atau 30 Januari 1926 M.

Proses perubahan yang terakhir itu cukup panjang. Dari Muktamar 1971, Konbes 1975, Munas 1983 dan Muktamar 1984. Tigabelas tahun berproses. Suatu kurun waktu cukup panjang yang tentu saja sarat dengan berbagai masalah dan liku-liku konstelasi sosial-. Bahkan bersamaan dengan akhir proses perubahan itu, dengan tekad bulat tanpa didorong oleh perundang-undangan, NU telah menyatakan menerima Pancasila sebagai satu-satunya asas organisasi.

Terlihat di sini, kemampuan NU memadukan antara falsafah negara sebagai buah pikiran manusia yang kemudian menjadi dasar pengikat pada komunitas nasional di dalam berbangsa dan bernegara dengan doktrin keagamaan Islarn sebagai wahyu Allah yang kemudian menjadi dasar pengikat dalam komunitas keberagamaan. Suatu perpaduan yang amat penting artinya bagi bangunan stabilitas di suatu negara.

Perpaduan itu telah dapat dibuktikan oleh NU sendiri secara implementatif dengan rumusan Khittah 26 yang telah ditemukan kembali sebagai ciri intrinsik, yang tidak bisa lepas dari ujud dirinya. Bila ciri itu dilepas -dengan menambah atau mengurangi rumusan khittah- berarti NU kehilangan wujud diri yang sesungguhnya.

Para ulama sebagai penerus dan pewaris para pendiri NU, tidak akan merelakan hal itu terjadi. NU dengan rumusan Khittah 26 seperti itu, telah membebaskan warganya dalam menyalurkan aspirasi politik untuk rnenegakkan kepemimpinan (nashbu al-imamah) lewat salah satu Orpol.

***

Pembahasan soal ini sebenarnya merupakan pendidikan bagi eksekutif (birokrat) untuk menumbuhkan kesadaran hidup berkonstitusi dan berdemokrasi. Sekaligus juga sebagai upaya mengubah sedikit demi sedikit watak paternalistik mereka dalam hal berpolitik, sehingga akan makin dewasa dan obyektif dalam menyalurkan aspirasi rakyat banyak.

Kemandirian berpolitik seperti itu akan menumbuhkan sikap kritis dan dinamis untuk mengembangkan aspirasi rakyat atau paling tidak menyadarinya. Bisa jadi aspirasi agama, ekonomi, pendidikan dan budaya, akan mudah dicerna apabila melalui pendidikan politik secara kultural.

Tampak NU ingin mendidik warganya secara kultural untuk menjadi insan politik yang kritis dan dinamis tanpa harus menunggu perintah panutannya, tanpa harus terikat oleh petunjuk seseorang dan tanpa adanya ketergantungan pada arahan seseorang. Kedewasaan seperti ini akan menuntut kemauan dan kemampuan Orpol mana pun untuk menyerap aspirasi warga NU yang beraneka ragam, tidak saja aspirasi keagamaannya.

Orpol harus bersikap dan berperilaku aspiratif dan akomodatif terhadap kebutuhan warga NU. Bila aspirasi semacam itu bisa disalurkan dan dipenuhi, kiranya warga NU dengan ke-NU-annya tidak akan memerlukan lagi suatu wadah khusus yang dikelola sendiri atau dengan kata lain "Orpolisasi NU". Karena semua aspirasi warga NU telah dapat ditampung dan diupayakan realisasinya oleh Orpol tertentu, yang berarti dengan kata lain adalah "NU-nisasi Orpol".

Meskipun ada isu yang menginginkan memparpolkan NU pasca Pemilu 1987, namun Munas Alim Ulama NU dan Konbes NU pada tanggal 15 s/d 18 November 1987, berlangsung mulus tanpa gejolak dan ketegangan. Sejumlah 25 utusan wilayah ketika diberi kesempatan mengutarakan uneg-uneg dalam forum Munas dan Konbes, tidak satupun yang merespon isu tersebut. Bahkan seluruhnya melaporkan segi-segi posisif penerapan Khittah 26.

Keinginan memparpolkan NU memang punya alasan, mengingat warga NU ketika menjelang Pemilu mengalami kebingungan. Kebingungan itu menjadi indikator belum mapannya wawasan politik praktis warga NU, walaupun sudah cukup lama menjadi anggota Partai Politik NU dan kemudian menjadi penyangga PPP.

Namun perlu diingat, kebingungan itu muncul bukan lantaran NU kembali kepada Khittah 26. Sama sekali bukan karena rumusan Khittah 26 itu sendiri. Kebingungan itu terjadi akibat belum meratanya sosialisasi Khittah. Persepsi mereka tentang Khittah tidak sepenuhnya sesuai dengan yang sebenarnya. Sementara sikap beberapa pimpinan dan ulama NU mengabaikan prinsip tawassuth yang telah digariskan oleh Khittah 26.

Kebingungan seperti itu juga wajar, sebagai akibat dari masa transisi yang kebetulan didukung oleh watak paternalistik warga NU. Bagaikan burung perkutut yang telah cukup lama terperangkap dalam kurungan dan diloloh terus oleh pemiliknya, ketika dilepas dari kurungan untuk mencari makan sendin dan bebas bergabung dengan sejenisnya, maka dalam beberapa waktu ia pasti mengalami kebingungan. Tetapi itu tak akan berjalan lama. Ia akan segera mampu terbang bebas, sesuai dengan alam aslinya dan khittahnya.

Walaupun tidak ada istilah mayoritas minoritas, namun kenyataan menunjukkan bahwa penduduk Indonesia yang terbanyak adalah muslim. Sekitar 75% sampai 80% di antaranya berada di pedesaan. Sebagian besar warga NU pun ada di pedesaan. Penduduk pedesaan itu pada umumnya masih berada di bawah pengaruh para ulama NU yang notabene tidak tergolong kaum elite politik.

Penelitian di lapangan menunjukkan, para ulama NU di pedesaan merasa lebih tenang dengan kembalinya NU kepada Khittah 26, ketimbang masa-masa sebelumnya. Para kiai itu makin mudah berkonsentrasi dan terbuka dalam memikirkan kemaslahatan warganya. Hampir semua bentuk aktivitas di masyarakat sekarang, warga NU terlibat di dalamnya. Di sinilah NU mempunyai banyak kesempatan mempengaruhi mereka untuk dakwah dan menanamkan nilai-nilai Aswaja, seiring dengan proses transformasi kultural.

***

Dari sisi lain timbulnya ide Orpolisasi NU merupakan perbedaan pendapat yang wajar. Dinamika semacam itu diperlukan sepanjang masih menyangkut kepentingan umat dan warga NU sendiri, bukan untuk memenuhi interes pribadi atau kelompok tertentu. Segi positif yang muncul, NU membebaskan warganya mau pun pimpinannya untuk berpendapat dan saling menghargai. Namun perbedaan itu tidak berarti adanya pertentangan internal, apalagi perpecahan.

Tradisi yang masih kental di kalangan ulama NU adalah sikap "sepakat dalam khilaf”, sehingga tak akan mengganggu jalannya roda organisasi. Kedewasaan berorganisasi dan berdemokrasi di dalam NU akan terlihat dari sisi ini. Tetapi perbedaan itu hanya membawa faedah, jika dapat diarahkan untuk membuat demokrasi menjadi "proses belajar dan memecahkan masalah." Ikhtilaf itu memang rahmat.

*) Diambil dari KH MA Sahal Mahfudh, Nuansa Fiqih Sosial, 2004 (Yogyakarta: LKiS). Tulisan ini pernah dimuat majalah Aula edisi No.10 Tahun IX, Desember 1987. Judul asli "Orpolisasi NU atau NU-nisasi Orpol?"

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ulama, IMNU, Internasional Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 10 Desember 2017

Detik-detik Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama dan Pertempuran 10 November 1945

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama merupakan rangkaian panjang dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sebelum Resolusi Jihad, telah muncul Fatwa Jihad, setelahnya, muncul pertempuran 10 November yang kemudian ditetapkan menjadi hari Pahlawan. Berikut rangkaian sejarah perjuangan kaum santri dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, yang kemudian menjadi dasar lahirnya Hari Santri Nasional 22 Oktober, seperti disampaikan oleh Wakil Ketua Umum PBNU H Slamet Effendy Yusuf dalam konferensi press di gedung PBNU, Senin (19/10).

17 Agustus 1945

Detik-detik Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama dan Pertempuran 10 November 1945 (Sumber Gambar : Nu Online)
Detik-detik Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama dan Pertempuran 10 November 1945 (Sumber Gambar : Nu Online)

Detik-detik Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama dan Pertempuran 10 November 1945

Siaran berita Proklamasi Kemerdekaan sampai ke Surabaya dan kota-kota lain di Jawa, membawa situasi revolusioner. Tanpa komando, rakyat berinisiatif mengambil-alih berbagai kantor dan instalasi dari penguasaan Jepang.

31 Agustus 1945

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Belanda mengajukan permintaan kepada pimpinan Surabaya untuk mengibarkan bendera Tri-Warna untuk merayakan hari kelahiran Ratu Belanda, Wilhelmina Armgard.

17 September 1945

Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan sebuah Fatwa Jihad yang berisikan ijtihad bahwa perjuangan membela tanah air sebagai suatu jihad fi sabilillah. Fatwa ini merupakan bentuk penjelasan atas pertanyaan Presiden Soekarno yang memohon fatwa hukum mempertahankan kemerdekaan bagi umat Islam.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

19 September 1945

Terjadi insiden tembak menembak di Hotel Oranje antara pasukan Belanda dan para pejuang Hizbullah Surabaya. Seorang kader Pemuda Ansor bernama Cak Asy’ari menaiki tiang bendera dan merobek warna biru, sehingga hanya tertinggal Merah Putih.

23-24 September 1945

Terjadi perebutan dan pengambilalihan senjata dari markas dan gudang-gudang senjata Jepang oleh laskar-laskar rakyat, termasuk Hizbullah.

25 September 1945

Bersamaan dengan situasi Surabaya yang makin mencekam, Laskar Hizbullah Surabaya dipimpin KH Abdunnafik melakukan konsolidasi dan menyusun struktur organisasi. Dibentuk cabang-cabang Hizbullah Surabaya dengan anggota antara lain dari unsur Pemuda Ansor dan Hizbul Wathan.Diputuskan pimpinan Hizbullah Surabaya Tengah (Hussaini Tiway dan Moh. Muhajir), Surabaya Barat (Damiri Ichsan dan A. Hamid Has), Surabaya Selatan (Mas Ahmad, Syafi’i, dan Abid Shaleh), Surabaya Timur (Mustakim Zain, Abdul Manan, dan Achyat).

5 Oktober 1945

Pemerintah pusat membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Para pejuang eks PETA, eks KNIL, Heiho, Kaigun, Hizbullah, Barisan Pelopor, dan para pemuda lainnya diminta mendaftar sebagai anggota TKR melalui kantor-kantor BKR setempat.

15-20 Oktober 1945

Meletus pertempuran lima hari di Semarang antara sisa pasukan Jepang yang belum menyerah dengan para pejuang.

21-22 Oktober 1945

PBNU menggelar rapat konsul NU se-Jawa dan Madura. Rapat digelar di Kantor Hofdsbestuur Nahdlatul Ulama di Jalan Bubutan VI No 2 Surabaya. Di tempat inilah setelah membahas situasi perjuangan dan membicarakan upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia, Di akhir pertemuan pada tanggal 22 Oktober 1945 PBNU akhirnya mengeluarkan sebuah Resolusi Jihad sekaligus menguatkan fatwa jihad Rais Akbar NU Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.

25 Oktober 1945

Sekitar 6.000 pasukan Inggris yang tergabung dalam Brigade ke-49 Divisi ke-26 India mendarat di Surabaya. Pasukan ini dipimpin Brigjend AWS. Mallaby. Pasukan ini diboncengi NICA (Netherlands-Indies Civil Administration).

26 Oktober 1945

Terjadi perundingan lanjutan mengenai genjatan senjata antara pihak Surabaya dan pasukan Sekutu. Hadir dalam perundingan itu dari pihak Sekutu Brigjend Mallaby dan jajarannya, dari pihak Surabaya diwakili Sudirman, Dul Arnowo, Radjamin Nasution (Walikota Surabaya) dan Muhammad.

27 Oktober 1945

Mayjen DC.Hawtorn bertindak sebagai Panglima AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) untuk Jawa, Madura, Bali dan Lombok menyebarkan pamflet melalui udara menegaskan kekuasaan Inggris di Surabaya, dan pelarangan memegang senjata selain bagi mereka yang menjadi pasukan Inggris. Jika ada yang memegangnya, dalam pamflet tersebut disebutkan bahwa Inggris memiliki alasan untuk menembaknya. Laskar Hizbullah dan para pejuang Surabaya marah dan langsung bersatu menyerang Inggris. Pasukan Inggris pun balik menyerang, dan terjadi pertempuran di Penjara Kalisosok yang ketika itu berada dalam penjagaaan pejuang Surabaya.

28 Oktober 1945

Laskar Hizbullah dan Pejuang Surabaya lainnya berbekal senjata rampasan dari Jepang, bambu runcing, dan clurit, melakukan serangan frontal terhadap pos-pos dan markas Pasukan Inggris. Inggris kewalahan menghadapi gelombang kemarahan pasukan rakyat dan massa yang semakin menjadi-jadi.

29 Oktober 1945

Terjadi baku tembak terbuka dan peperangan massal di sudut-sudut Kota Surabaya. Pasukan Laskar Hizbullah Surabaya Selatan mengepung pasukan Inggris yang ada di gedung HBS, BPM, Stasiun Kereta Api SS, dan Kantor Kawedanan. Kesatuan Hizbullah dari Sepanjang bersama TKR dan Pemuda Rakyat Indonesia (PRI) menggempur pasukan Inggris yang ada di Stasiun Kereta Api Trem OJS Joyoboyo.

29 Oktober 1945

Perwira Inggris Kolonel Cruickshank menyatakan pihaknya telah terkepung. Mayjen Hawtorn dari Brigade ke-49 menelpon dan meminta Presiden Soekarno agar menggunakan pengaruhnya untuk menghentikan pertempuran. Hari itu juga, dengan sebuah perjanjian, Presiden Soekarno didampingi Wapres Mohammad Hatta terbang ke Surabaya dan langsung turun ke jalan-jalan meredakan situasi perang.

30 Oktober 1945

Genjatan senjata dicapai kedua pihak, Laskar arek-arek Surabaya dan pasukan Sekutu-Inggris. Disepakati diadakan pertukaran tawanan, pasukan Inggris mundur ke Pelabuhan Tanjung Perak dan Darmo (kamp Interniran), dan mengakui eksistensi Republik Indonesia.

30 Oktober 1945

Sore hari usai kesepakatan genjatan senjata, rombongan Biro Kontak Inggris menuju ke Gedung Internatio yang terletak disaping Jembatan Merah. Namun sekelompok pemuda Surabaya menolak penempatan pasukan Inggris di gedung tersebut. Mereka meminta pasukan Inggris kembali ke Tanjung Perak sesuai kesepakatan genjatan senjata. Hingga akhirnya terjadi ketegangan yang menyulut baku tembak. Di tempat ini secara mengejutkan Brigjen Mallaby tertembak dan mobilnya terbakar.

31 Oktober 1945

Panglima AFNEI Letjen Philip Christison mengeluarkan ancaman dan ultimatum jika para pelaku serangan yang menewaskan Brigjen Mallaby tidak menyerahkan diri maka pihaknya akan mengerahkan seluruh kekuatan militer darat, udara, dan laut untuk membumihanguskan Surabaya.

7-8 November 1945

Kongres Umat Islam di Yogyakarta mengukuhkan Resolusi Jihad Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari sebagai kebulatan sikap merespon makin gentingnya keadaan pasca ultimatum AFNEI.

9 November 1945

Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari sebagai komando tertinggi Laskar Hizbullah menginstruksikan Laskar Hizbullah dari berbagai penjuru memasuki Surabaya untuk bersiap menghadapi segala kemungkinan dengan satu sikap akhir, menolak menyerah. KH Abbas Buntet Cirebon diperintahkan memimpin langsung komando pertempuran. Para komandan resimen yang turut membantu Kiai Abbas antara lain Kiai Wahab (KH. Abd. Wahab Hasbullah), Bung Tomo (Sutomo), Cak Roeslan (Roeslan Abdulgani), Cak Mansur (KH. Mas Mansur), dan Cak Arnowo (Doel Arnowo).Bung Tomo melalui pidatonya yang disiarkan radio membakar semangat para pejuang dengan pekik takbirnya untuk bersiap syahid di jalan Allah SWT.

10 November 1945

Pertempuran kembali meluas menyambut berakhirnya ultimatum AFNEI. Inggris mengerahkan 24.000 pasukan dari Divisi ke-5 dengan persenjataan meliputi 21 tank Sherman dan 24 pesawat tempur dari Jakarta untuk mendukung pasukan mereka di Surabaya. Perang besar pun pecah. Ribuan pejuang syahid. Pasukan Kiai Abbas berhasil memaksa pasukan Inggris kocar-kacir dan berhasil menembak jatuh tiga pesawat tempur RAF Inggris. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Internasional, Syariah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 09 Desember 2017

NU Perlu Bentengi Diri dari Dampak Negatif Teknologi

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan 

Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Wasekjen PBNU) KH Masduki Baidlowi mengatakan bahwa kita sedang menghadapi generasi yang berubah disebabkan perubahan teknologi yang tak bisa dihindari. 

Demikian dikatakan Masduki Baedowi pada kegiatan Training of Trainer yang diselenggarakan atas kerja sama PBNU dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) di lantai delapan, Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Senin (13/11).

Ia pun menyebut istilah baru sebagai dampak dari perubahan teknologi, yakni disruption. Disruption ialah gangguan akibat perubahan-perubahan yang diciptakan oleh teknologi. 

NU Perlu Bentengi Diri dari Dampak Negatif Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Perlu Bentengi Diri dari Dampak Negatif Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Perlu Bentengi Diri dari Dampak Negatif Teknologi

Ia mencontohkan berbagai perusahaan besar di tanah air yang terganggu dengan perkembangan teknologi. 

"Jadi banyak orang yang gagal dan gagap menyesuaikan dengan perubahan-perubahan teknologi," katanya. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Belajar dari beberapa perusahaan besar yang terganggu dari perubahan teknologi, ia berharap agar NU dan warganya tidak menjadi korban dari disruption ini.

 "Jangan sampai kita menjadi korban disruption," jelasnya. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

NU merupakan organisasi yang berlatar belakang budaya komunal dan berbasis di perdesaan, sementara kecenderungan Indonesia menjadi masyarakat urban. 

Ia pun melemparkan tantangan kondisi Indonesia tersebut dalam membawa NU ke depan. "Bagaimana agar kita ber-NU di dalam Masyarakat urban," katanya. 

Karena menurutnya, dari berbagai penelitian, urbanisasi akan terjadi secara masif antara lima, sepuluh, atau dua puluh tahun ke depan. 

Hadir pada acara tersebut Ketua PBNU KH M. Sulton Fatoni, Ketua Pimpinan Pusat Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (PP Lakpesdam NU) H Rumadi Ahmad, Sekretaris Lakpesdam PBNU H Marzuki Wahid, Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBM NU) KH Abdul Moqsith Ghozali, Wasekjen PBNU H Andi Najmi Fuadi, dan lain-lain. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Internasional, AlaNu, Nahdlatul Ulama Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 24 November 2017

Kiai Pedakwah dan Pejuang Kemerdekaan

Ia memang masih keturunan dari laskar pejuang Pangeran Diponegoro di eks Karsidenan Kedu. Tak heran selain berdakwah, Mbah Dalhar juga mewarisi semangat perjuangan dalam merebut dan mempertahankan Kemerdekaan R.

Mbah Kiai Dalhar lahir di komplek pesantren Darussalam, Watucongol, Muntilan, Magelang pada hari Rabu, 10 Syawal 1286 H (12 Januari 1870 M). Ketika lahir ia diberi nama oleh ayahnya dengan nama Nahrowi. Ayahnya adalah seorang mudda’i ilallah bernama Abdurrahman bin Abdurrauf bin Hasan Tuqo.

Kiai Abdurrauf adalah salah seorang panglima perang Pangeran Diponegoro. Nasab Kiai Hasan Tuqo sendiri sampai kepada Sunan Amangkurat Mas atau Amangkurat III. Oleh karenanya sebagai keturunan raja, Kiai Hasan Tuqo juga mempunyai nama lain dengan sebutan Raden Bagus Kemuning.

Diriwayatkan, Kiai Hasan Tuqo keluar dari komplek keraton karena ia lebih senang mempelajari ilmu agama daripada hidup dalam kepriyayian. Belakangan waktu baru diketahui jika ia hidup menyepi didaerah Godean, Yogyakarta. Sekarang desa tempat ia tinggal dikenal dengan nama desa Tetuko. Sementara itu salah seorang puteranya bernama Abdurrauf juga mengikuti jejak ayahnya yaitu senang mengkaji ilmu agama. Namun ketika Pangeran Diponegoro membutuhkan kemampuan beliau untuk bersama – sama memerangi penjajah Belanda, Abdurrauf tergerak hatinya untuk membantu sang Pangeran.

Kiai Pedakwah dan Pejuang Kemerdekaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Pedakwah dan Pejuang Kemerdekaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Pedakwah dan Pejuang Kemerdekaan

Dalam gerilyanya, pasukan Pangeran Diponegoro sempat mempertahankan wilayah Magelang dari penjajahan secara habis–habisan. Karena Magelang bagi pandangan militer Belanda nilainya amat strategis untuk penguasaan teritori lintas Kedu. Oleh karenanya, Pangeran Diponegoro membutuhkan figure–figure yang dapat membantu perjuangannya melawan Belanda sekaligus dapat menguatkan ruhul jihad di masyarakat.

Menilik dari kelebihan yang dimilikinya serta beratnya perjuangan waktu itu maka diputuskanlah agar Abdurrauf diserahi tugas untuk mempertahankan serta menjaga wilayah Muntilan dan sekitarnya. Untuk ini Abdurrauf kemudian tinggal di dukuh Tempur, Desa Gunung Pring, Kecamatan Muntilan. Beliau lalu membangun sebuah pesantren sehingga masyhurlah namanya menjadi Kiai Abdurrauf.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pesantren Kiai Abdurrauf ini dilanjutkan oleh putranya yang bernama Abdurrahman. Namun letaknya bergeser ke sebelah utara ditempat yang sekarang dikenal dengan dukuh Santren (masih dalam desa Gunung Pring). Sementara ketika masa dewasa mbah Kiai Dalhar, beliau juga meneruskan pesantren ayahnya (Kiai Abdurrahman) hanya saja letaknya juga digeser kearah sebelah barat ditempat yang sekarang bernama Watu Congol.

Nama “Dalhar”

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Mbah Kiai Dalhar adalah seorang yang dilahirkan dalam ruang lingkup kehidupan pesantren. Oleh karenanya semenjak kecil beliau telah diarahkan oleh ayahnya untuk senantiasa mencintai ilmu agama. Pada masa kanak-kanaknya, ia belajar Al-Qur’an dan beberapa dasar ilmu keagamaan pada ayahnya sendiri yaitu Kiai Abdurrahman. Menginjak usia 13 tahun, mbah Kiai Dalhar mulia belajar mondok. Ia dititipkan oleh sang ayah pada Mbah Kiai Mad Ushul (begitu sebutan masyhurnya) di Dukuh Mbawang, Desa Ngadirejo, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang. Disini ia belajar ilmu tauhid selama kurang lebih 2 tahun.

Sesudah dari Salaman, saat ia berusia 15 tahun mbah Kiai Dalhar dibawa oleh ayahnya ke Pondok Pesantren Al-Kahfi Somalangu, Kebumen. Oleh ayahnya, mbah Kiai Dalhar diserahkan pendidikannya pada Syeikh As_Sayid Ibrahim bin Muhammad Al-Jilani Al-Hasani atau yang ma’ruf dengan laqobnya Syeikh Abdul Kahfi Ats-Tsani. Delapan tahun mbah Kiai Dalhar belajar di pesantren ini. Dan selama di pesantren beliau berkhidmah di ndalem pengasuh. Itu terjadi karena atas dasar permintaan ayahnya sendiri pada Syeikh As_Sayid Ibrahim bin Muhammad Al-Jilani Al-Hasani.

Kurang lebih pada tahun 1314 H/1896 M, mbah Kiai Dalhar diminta oleh gurunya yaitu Syeikh As_Sayid Ibrahim bin Muhammad Al-Jilani Al-Hasani untuk menemani putera laki – laki tertuanya yang bernama Sayid Abdurrahman Al-Jilani Al-Hasani thalabul ilmi ke Makkah Musyarrafah. Dalam kejadian bersejarah ini ada kisah menarik yang perlu disuri tauladani atas ketaatan dan keta’dziman mbah Kiai Dalhar pada gurunya.

Syeikh As_Sayid Ibrahim bin Muhammad Al-Jilani Al-Hasani punya keinginan menyerahkan pendidikan puteranya yang bernama Sayid Abdurrahman Al-Jilani Al-Hasani kepada shahabat karibnya yang berada di Makkah dan menjadi mufti syafi’iyyah waktu itu bernama Syeikh As_Sayid Muhammad Babashol Al-Hasani (ayah Syeikh As_Sayid Muhammad Sa’id Babashol Al-Hasani). Sayid Abdurrahman Al-Hasani bersama mbah Kiai Dalhar berangkat ke Makkah dengan menggunakan kapal laut melalui pelabuhan Tanjung Mas, Semarang.

Dikisahkan selama perjalanan dari Kebumen, singgah di Muntilan dan kemudian lanjut sampai di Semarang, saking ta’dzimnya mbah Kiai Dalhar kepada putera gurunya, beliau memilih tetap berjalan kaki sambil menuntun kuda yang dikendarai oleh Sayid Abdurrahman. Padahal Sayid Abdurrahman telah mempersilahkan mbah Kiai Dalhar agar naik kuda bersama. Namun itulah sikap yang diambil oleh sosok mbah Kiai Dalhar.

Sesampainya di Makkah (waktu itu masih bernama Hejaz), mbah Kiai Dalhar dan Sayid Abdurrahman tinggal di rubath (asrama tempat para santri tinggal) Syeikh As-Sayid Muhammad Babashol Al-Hasani yaitu didaerah Misfalah. Sayid Abdurrahman dalam rihlah ini hanya sempat belajar pada Syeikh As_Sayid Muhammad Babashol Al-Hasani selama 3 bulan, karena ia diminta oleh gurunya dan para ulama Hejaz untuk memimpin kaum muslimin mempertahankan Makkah dan Madinah dari serangan sekutu. Sementara itu mbah Kiai Dalhar diuntungkan dengan dapat belajar ditanah suci tersebut hingga mencapai waktu 25 tahun.

Syeikh As-Sayid Muhammad Babashol Al-Hasani inilah yang kemudian memberi nama “Dalhar” pada mbah Kiai Dalhar. Hingga ahirnya ia memakai nama Nahrowi Dalhar. Dimana nama Nahrowi adalah nama aslinya. Dan Dalhar adalah nama yang diberikan untuk beliau oleh Syeikh As_Sayid Muhammad Babashol Al-Hasani. Rupanya atas kehendak Allah Swt, mbah Kiai Nahrowi Dalhar dibelakang waktu lebih masyhur namanya dengan nama pemberian sang guru yaitu Mbah Kiai “Dalhar”.

Ketika berada di Hejaz inilah Kiai Nahrowi Dalhar memperoleh ijazah kemusrsyidan Thariqah As-Syadziliyyah dari Syeikh Muhtarom Al-Makki dan ijazah aurad Dalailil Khoerat dari Sayid Muhammad Amin Al-Madani. Dimana kedua amaliyah ini dibelakang waktu menjadi bagian amaliah rutin yang memasyhurkan namanya di tanah Jawa.

Hizb Bambu Runcing

Mbah Kiai Dalhar adalah seorang ulama yang senang melakukan riyadhah. Selama di tanah suci, mbah Kiai Dalhar pernah melakukan khalwat selama 3 tahun disuatu goa yang teramat sempit tempatnya. Dan selama itu pula beliau melakukan puasa dengan berbuka hanya memakan 3 buah biji kurma saja serta meminum seteguk air zamzam secukupnya. Dari bagian riyadhahnya, beliau juga pernah melakukan riyadhah khusus untuk medoakan para keturunan beliau serta para santri – santrinya. Dalam hal adab selama ditanah suci, mbah Kiai Dalhar tidak pernah buang air kecil ataupun air besar di tanah Haram. Ketika merasa perlu untuk qadhil hajat, ia lari keluar tanah Haram.

Setelah pulang dari tanah suci, sekitar tahun 1900 M ia kemudian meneruskan perdikan peninggalan nenek moyangnya yang berupa pondok kecil di kaki bukit kecil Gunung Pring, Watu? Congol, Kecamatan Muntilan Kabupaten Magelang. Kurang lebih 3 kilometer sebelah timur Candi Borobudur. Pondok pesantren kecil ini lambat laun tidak hanya dihuni oleh santri-santri sekitar eks Karsidenan Kedu saja namun sampai pelosok tanah Jawa.

Bahkan ketika masa-masa perang pra dan masa kemerdekaan, pondok pesantren Watucongol menjadi markas dan sekaligus tempat singgah para pejuang tentara bambu runcing yang datang Jogjakarta dan wilayah Jawa bagian barat seperti eks Karsidenan Banyumas dan sebagian dari Jawa Barat. Konon ceritanya, bambu runcing para pejuang harus di asma hizb dahulu oleh KH Dalhar dan KH Subekhi (Parak, Temanggung) sebelum menyerang markas penjajah Belanda di Ambarawa, Semarang, (lihat buku: Jejak Kaki Persantren, karya KH Saifuddin Zuhri).

Dikisahkan, dengan bermodalkan bambu runcing, para pejuang kemerdekaan menyerang benteng Belanda di Ambarawa, bambu-bambu runcing mampu terbang dengan sendirinya bak senapan menyerang tentara-tentara Belanda. Sementara bombardir peluru serta granat tangan kumpeni Belanda tidak mampu melukai apalagi menyentuh kulit para pejuang Republik Indonesia.? ? ? ? ? ? ?

Karya mbah Kiai Dalhar yang sementara ini dikenal dan telah beredar secara umum adalah Kitab Tanwirul Ma’ani. Sebuah karya tulis berbahasa Arab tentang manaqib Syeikh As-Sayid Abu Hasan ‘Ali bin Abdillah bin Abdil Jabbar As-Syadzili Al-Hasani, imam thariqah As-Syadziliyyah.

Banyak sekali tokoh – tokoh ulama terkenal negara ini yang sempat berguru kepadanya semenjak sekitar tahun 1920 – 1959. Diantaranya adalah KH Mahrus, Lirboyo ; KH Dimyathi, Banten ; KH Marzuki, Giriloyo dll. Sesudah mengalami sakit selama kurang lebih 3 tahun, Mbah Kiai Dalhar wafat pada hari Rabu Pon, 29 Ramadhan 1890 – Jimakir (1378 H) atau bertepatan dengan 8 April 1959 M dan beliau kemudian di makamkan di komplek makam Gunung Pring, Watucongol, Kecamatan Muntilan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Sekalipun jasadnya telah terkubur dalam tanah, karya dan penerus perjuangan Mbah Dalhar tetap berkelanjutan sampai sekarang. Pondok Pesantren Darussalam, Watu Congol adalah saksi sejarah napak tilas perjuangan dakwah Mbah Dalhar. Jalan menuju makam Watucongol memang terbilang mudah. Peziarah ruhani biasanya melengkapi ziarah Wali Songo atau wisata liburan dengan melewati jalur tengah yang menghubungkan jalan utama dari Jogjakarta menuju Semarang. Ketika melewati kota Muntilan, dari arah pasar Muntilan cukup sekitar 5 kilo ke sebelah barat menunuju kawasan Gunung Pring.

Untuk memperingati jejak sejarah Mbah Dalhar dan Pesantren Darusalam Watu Congol Muntilan, setiap akhir bulan Sya’ban tahun Hijriah biasanya haulnya diperingati di kompleks Pesantren Darussalam Watucongol, dan Kompleks makam Gunung Pring Muntilan Magelang. Dipastikan kedua kompleks perdikan bersejarah itu tak pernah sepi oleh penziarah yang datang tidak saja dari penjuru Nusantara namun juga negeri mancanegara. (Aji Setiawan/Anam)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Aswaja, Internasional, Ahlussunnah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 23 November 2017

Nyai Rifah, 50 Tahun Berkiprah di NU

Grobogan, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Berkiprah di masyarakat hingga puluhan tahun merupakan tugas yang tak mudah. Tetapi, berat bukan berarti mustahil. Seperti Nyai Rifah, kader NU Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Perempuan kelahiran 1950 ini menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk berjuang di organisasi NU.

Beberapa hari yang lalu, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan berkomunikasi dengan Nyai Rif’ah Muslih, yang saat ini masih menjabat sebagai Ketua Pimpinan Aanak Cabang Muslimat NU Tawangharjo. Saat berbincang, ia menuturkan perjalanan awal kiprahnya di NU.

Nyai Rifah, 50 Tahun Berkiprah di NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Nyai Rifah, 50 Tahun Berkiprah di NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Nyai Rifah, 50 Tahun Berkiprah di NU

Pasa usia 14 tahun, tepatnya pada tahun 1964, ia masuk ke salah satu badan otonom NU, yakni Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU). Di situlah ia mengawali gerakannya sebagai Ketua IPPNU menggantikan seniornya, Masfuah, yang meninggal di usia muda.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ia menambahkan, dahulu di Kecamatan Tawangharjo belum terbentuk IPPNU, lalu KH Ghazali Masruri yang sekarang menjabat KetuaPengurus Pusat LFNU (Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama) merintisnya dalam menyerahkan tongkat amanah IPPNU pertama kali kepada adik kandungnya, Masfuah.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Nyai Rif’ah menjalankan tongkat estafet kepemimpinan di IPPNU cukup lama. “Selama sepuluh tahun saya berkecimpung di IPPNU Anak Cabang Tawangharjo hingga akhirnya pada tahun 1974 M, saya diamanati untuk memimpin Fatayat NU Ancab Tawangharjo,” terangnya.

Di Fatayat NU ini, lanjut Nyai Rif’ah, merupakan peningkatan level untuk menelurkan ide-ide baru dalam memperjuangkan Islam yang berfaham Ke-NU-an ala Ahlis Sunnah Waljama’ah, imbuhnya.

Dengan ketekunan dan kecakapannya, hingga suatu saat ia diminta untuk naik jabatan ke tingkat kabupaten sebagai Ketua Pimpinan Cabang Fatayat NU Grobogan dan menanggalkan kepemimpinannya di anak cabang (Ancab) Tawangharjo pada tahun 1984 M.

Selama satu periode (1984-1989 M) ia memimpin PC Fatayat NU Grobogan. Setelah itu, ia lebih memilih kembali berjuang di anak cabang Tawangharjo dengan berbagai alasan yang mendasar.

“Saat itu, mencari kader Fatayat di kecamatan sangat sulit, berbeda dengan memupuk kader di tingkat Kabupaten. Itulah di antara yang menjadi alasan mendasar mengapa saya lebih memilih kembali memimpin Ancab Tawangharjo,” ujarnya.

Sekembalinya menjabat di Fatayat NU Ancab Tawangharjo, ia berjuang di dalamnya? selama lima tahun (1989-1994 M). Pada tahun 1994 inilah ia baru mulai berkiprah di PAC Muslimat NU Tawangharjo dengan menduduki sebagai Ketua 1, menggantikan Sikah Aidah.

Perjalanannya tidak putus-putus, selama 20 tahun (1994-2014), ia tetap konsisten dalam memperjuangkan islam NU lewat wadah Muslimat NU.

Ikhlas Berjuang

Dalam menjalankan amanah haruslah dikaitkan dengan niat yang ikhlas. Pasalnya, suatu amal tidak akan bernilai kecuali dengan memurnikan hati. Saat Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan, bercakap mengenai alasan mengapa ia tetap berdiri khidmah di tubuh NU, ia menjawab, “Ini sudah panggilan hati, yang namanya berjuang tanpa ada niat dan tekad kuat maka akan terasa berat. Beda halnya kalau sudah panggilan hati,”ungkapnya.

Yang nama berjuang, lanjut Rif’ah, harus rela berkorban baik dengan anfus (jiwa) maupun maal (harta). “Berkorban pikiran, waktu, dan harta merupakan kesenangan tersendiri, karena terasa hidup ini ada manfaatnya,”tambahnya.

“Banyak berkah yang saya dapat ketika menjalankan amanah ini,” pungkasnya. (Asnawi Lathif/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Internasional, Khutbah, Daerah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock