Tampilkan postingan dengan label Humor Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humor Islam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Maret 2018

Sebelum Wafat, KH Ali Mustafa Yaqub Menghasilkan Puluhan Karya Intelektual

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Mantan imam besar Masjid Istiqlal, yang juga Rais Syuriyah PBNU periode 2010-2015 ? KH Ali Mustafa Ya’qub meninggal dunia pagi ini,? di Rumah Sakit Hermina, Ciputat,? Kamis (28/4) pagi.

Pengasuh Pesantren Darussunnah, Ciputat, Tangerang Selatan ini selama hidupnya telah menghasilkan puluhan karya tulis, dan yang paling banyak adalah di bidang ilmu hadits sesuai dengan keahliannya. Berikut ini daftarnya:

1. Memahami Hakikat Hukum Islam (Alih Bahasa dari Prof. Dr. Muh. Abdul Fattah al-Bayanuni, 1986)

Sebelum Wafat, KH Ali Mustafa Yaqub Menghasilkan Puluhan Karya Intelektual (Sumber Gambar : Nu Online)
Sebelum Wafat, KH Ali Mustafa Yaqub Menghasilkan Puluhan Karya Intelektual (Sumber Gambar : Nu Online)

Sebelum Wafat, KH Ali Mustafa Yaqub Menghasilkan Puluhan Karya Intelektual

2. Nasihat Nabi kepada Para Pembaca dan Penghafal al-Quran (1990)

3. Imam al-Bukhari dan Metodologi Kritik dalam Ilmu Hadits (1991)

4. Hadits Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya (Alih Bahasa dari Prof. Dr. Muhammad Mustafa Azami, 1994)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

5. Kritik Hadits (1995)

6. Bimbingan Islam untuk Pribadi dan Masyarakat (Alih Bahasa dari Muhammad Jamil Zainu,1418 H).

7. Sejarah dan Metode Dakwah Nabi (1997)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

8. Peran Ilmu Hadits dalam Pembinaan Hukum Islam (1999)

9. Kerukunan Umat dalam Perspektif al-Quran dan Hadits (2000)

10. Islam Masa Kini (2001)

11. (? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (2010)

12. (? ? ? ? ? ? ? ? (2010?

13. Kemusyrikan Menurut Madzhab Syafi’I (Alih Bahasa, Prof. Dr. Abdurrahman al-Khumayis, 2001)

14. Aqidah Imam Empat Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad (Alih Bahasa, Abdurrahman al-Khumayis, 2001)

15. Fatwa-fatwa Kontemporer (2002)

16. MM Azami Pembela Eksistensi Hadits (2002)

17. Pengajian Ramadhan Kiai Duladi (2003)

18. Hadits-hadits Bermasalah (2003)

19. Hadits-hadits Palsu Seputar Ramadhan (2003)

20. Nikah Beda Agama dalam Perspektif al-Quran dan Hadits (2005)

21. Imam Perempuan (2006)

22. Haji Pengabdi Setan (2006)

23. Fatwa Imam Besar Masjid Istiqlal (2007)

24. Ada Bawal Kok Pilih Tiram (2008)

25. Toleransi Antar Umat Beragama (Bahasa Arab–Indonesia 2008)

26. Islam di Amerika; Catatan Safari Ramadhan 1429 H Imam Besar Masjid Istiqlal (2009)

27. Kriteria Halal-Haram untuk Pangan, Obat dan Kosmetika Menurut al-Quran dan Hadits (2009)

28. Mewaspadai Provokator Haji ? (2009)

29. Islam Between War and Peace (Pustaka Darus-Sunnah 2009)

30. Kiblat; Antara Bangunan & Arah Ka’bah (Bahasa Arab-Indonesia 2010)

31. 25 Menit Bersama Obama (Masjid Istiqlal Jakarta 2010)

32. Kiblat Menurut al-Quran dan Hadits; Kritik Atas Fatwa MUI No.5/2010 (2011).

33. Ramadhan Bersama Ali Mustafa Yaqub (2011)

34. Cerita dari Maroko (2012)

35. Makan Tak Pernah Kenyang (2012).

36. Ijtihad, Terorisme dan Liberalisme (Bahasa Arab-Indonesia 2012)

37. Panduan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar (Hisbah) (Bahasa Arab-Indonesia 2012)

(Red-Zunus Muhammad)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Kajian, Humor Islam Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 19 Februari 2018

Gus Dur: Saya Takut Aceh Lepas

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan
Ketua Umum Dewan Syuro PKB KH.Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menyatakan ketidaksetujuannya atas perjanjian damai antara Pemerintah RI dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Ia mengaku takut hasil perundingan itu membuat Aceh lepas dari pangkuan Indonesia.

“Sikap saya tetap tidak setuju. Saya takut kalau Aceh lepas dari Indonesia. Apalagi ini Sulawesi Utara tambah. Yang mau lepas banyak, ya sudah,” kata Gus Dur di Kantor Pusat PBNU, Selasa (23/8) kemarin usai menyatakan desakan kepada pemerintah terkait pengruskan beberapa rumah ibadah di Bandung.

Bagi cucu pendiri NU ini, solusi penyelesaian soal Aceh adalah dengan berunding. Tapi, berunding untuk mencari penyelesaian, bukan berunding untuk menyerah, seperti yang saat ini dilakukan Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. “Kita mulai dari awal lagi, tidak apa-apa,” ungkapnya.

Selain itu Gus Dur juga mensitir kekhawatirannya itu dengan merujuk orang-orang yang bertugas di Aceh Monitoring Mission (AMM) disebut pernah bertugas sebagai pasukan PBB di Timor Timur saat referendum. "Pieter Cornelis Feith (ketua AMM-red) itu pernah punya pengalaman di Balkan yang membuat semenanjung itu berantakan," tandasnya. (cih)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Humor Islam Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Gus Dur: Saya Takut Aceh Lepas (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur: Saya Takut Aceh Lepas (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur: Saya Takut Aceh Lepas

Kamis, 15 Februari 2018

PCNU Sumedang Serahkan Mobil Operasional ke Pengurus Lembaga

Sumedang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumedang memberikan mobil operasional kepada pengurus Lembaga Pendidikan Ma’arif NU setempat. Secara sombolis, kunci mobil diserahkan Ketua PCNU Sumedang H Sadulloh kepada Ketua LP Maarif NU Sumedang Cucu Suhayat.

PCNU Sumedang Serahkan Mobil Operasional ke Pengurus Lembaga (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Sumedang Serahkan Mobil Operasional ke Pengurus Lembaga (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Sumedang Serahkan Mobil Operasional ke Pengurus Lembaga

Sadulloh mangatakan bahwa sampai saat ini sekolah-sekolah formal yang berada di bawah LP Maarif NU Sumedang sudah mencapai 50 sekolah. Sekolah-sekolah itu tersebar di seluruh pelosok Kabupaten Sumedang. “Sudah sewajarnya kami memberikan mobil operasional kepada LP Maarif untuk memantau sekolah-sekolah NU tersebut,” ujarnya.

Kedepan, imbuhnya, tidak hanya pengurus LP Maarif, pengurus lembaga lain pun boleh memakai mobil operasional ini. “Alhamdulillah sampai saat ini PCNU Sumedang sudah memiliki kendaraan operasional tiga buah mobil. Mudah-mudahan kedepannya masih bisa bertambah untuk kemajuan NU di Sumedang,” tuturnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Penyerahan mobil operasional dilakukan dalam rangkaian acara pengukuhan pengurus Lembaga Pendidikan (LP) Maarif NU dan Lembaga Wakaf dan Pertanahan NU (LWPNU) Kabupaten Sumedang. Kegiatan yang dirangkai dengan acara Maulid Nabi Muhammad itu berlangsung di halaman kantor PCNU Sumedang, Sabtu (16/1).

Selain acara pelantikan, kegiatan muludan di PCNU Sumedang juga diisi dengan kegiatan santunan beasiswa kepada anak berprestasi dan mauidhah hasanah. Sebanyak 20 santri terbaik  yang sedang menghafal Al-Quran diberikan beasiswa pendidikan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pengisi tausyiah dalam kegiatan muludan kali ini adalah KH Asep Shoheh dari Indramayu. Tema yang dibahas yaitu peranan NU dalam membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia. (Ayi Abdul Kohar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Internasional, Humor Islam, Amalan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 07 Februari 2018

Hutang Negara Bukan Hutang Rakyat

Sampai saat ini negara kita masih belum bisa keluar dari krisis ekonomi. Untuk menutupi anggaran, terpaksa negara terus meminjam ke sana ke mari, sehingga sampai kini hutang negara telah mencapai kurang lebih 1.859,43 triliun atau 202,55 miliar dollar AS.

Artinya, jika hutang negara dibagi rata di antara penduduk, maka setiap kepala termasuk bayi yang baru lahir, harus menanggung beban hutang masing-masing sekitar 8-7 juta rupiah. Sementara kita tahu bahwa tidak sedikit di antara uang hutang tersebut dikorup oleh para pejabat.

Hutang Negara Bukan Hutang Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)
Hutang Negara Bukan Hutang Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)

Hutang Negara Bukan Hutang Rakyat

Pemerintah sebagai pelaksana wewenang negara adalah wakil kita, atau memegang mandat untuk mengurus keperluan rakyat dan melindungi hak-haknya. Kemaslahatan rakyat adalah acuan utama seluruh kebijakan dan kerja negara–pemerintah, sesuai kaidah fiqh “Tasarruful imam ‘alar raiyyah manuthun bil mashlahah.

Aturan main soal hutang piutang termaktub dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 282, hal ini sebagai indikator betapa seriusnya urusan hutang piutang tersebut, bukan sepanjang hidup di dunia saja, tapi sampai akherat kelak.

Berkaitan dengan beban hutang, beberapa hadits Nabi Muhammad SAW perlu diperhatikan; pertama  menerangkan bahwa beliau tidak berkenan menshalatkan jenazah yang masih mempunyai hutang (HR. Bukhari).

Kedua bahwasannya Pahala ahli kubur akan ditangguhkan sampai hutangnya dilunasi. (HR. Turmudzi).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ketiga bahwa pada hari kiamat nanti hutang itu sudah dibayar dengan pahala kebaikan, jika pahalanya sudah habis sementara penagih masih antri, maka dosa piutang akan dipikul kepada yang mempunyai hutang (HR. Bukhari).

Keempat bahwa Allah Swt. akan membebaskan semua dosa orang yang mati syahid, kecuali masalah hutang (HR. Muslim, Riyadhush Shalihin, Kitab Jihad).

Dengan demikian, hubungannya dengan hutang negara apakah menjadi hutang pribadi warga? Lantas siapakah yang berkewajiban membayanya?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Mengenai hal ini, apa yang dijelaskan oleh Izuddin bin Abdis Salam sekiranya dapat diambil dasar bahwa tanggungjawab ada pada negara, apa bila hutang itu digunakan untuk kemashlahatan rakyat banyak.

Namun terhadap hutang negara yang dikorup oleh para pejabat dan kroninya, maka negara membayarnya dengan dana yang ditarik kembali dari orang-orang yang mengkorupnya. Seperti diisyaratkan dalam al-Fatawa.

وَأَمَّا دَيْنُ الْمَيِّتِ فَإِنْ كَانَ مَعْذُوْرًا فِي تَأْخِيْرِهِ إِلَى مَا بَعْدَ الْمَوْتِ فَلاَ خِلاَفَ بَيْنَ الْمُسْلِمِيْنَ أَنَّهُ يَعْصِى وَلاَ يَأْثَمُ، فَإِنْ كَانَ عَاصِيًا فِي تَأْخِيْرِهِ فَإِنَّهُ يَأْثَمُ بِذَلِكَ، وَإِنِ اسْتَدَانَهُ لِمَعْصِيَةٍ كَانَ عَلَيْهِ وِزْرًا لِأَنَّهُ عَصَى مَعْصِيَتَيْنِ، وَإِنِ اقْتَرَضَ لِوَاجِبٍ أَوْ مُبَاحٍ وَلَمْ يُقْصِرْ فِي التَّأْخِيْرِ لَا إِثْمَ عَلَيْهِ، وَأَمَّا قَوْلُهُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ: نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ. فَالتَّعَلُّقُ ضَرْبَانِ: أَحَدُهُمَا أَنْ يَتَعَلَّقَ تَعَلُّقَ عِقَابٍ وَمُؤَاخَذَةٍ، فَهَذَا لَا تَجْرِي فِيْ حَقِّ أَحَدٍ مِنْ أَهْلِ اْلإِسْلاَمِ إِذَا لَمْ يَأْثَمْ بِاْلاقْتِرَاضِ وَلاَ بِالْمَطَالِ، وَهَذَا مُحَالٌ أَنْ يُوْجَدَ فِيْ حَقِّ النَّبِيِّ r، فَإِنَّهُ لَا يَقْتَرِضُ إِلاَّ فِيْ طَاعَةٍ أَوْ مُبَاحٍ. الثَّانِي أَنْ تَعَلَّقَ نَفْسُهُ بِدَيْنِهِ بِأَنْ تُؤْخَذَ مِنْ حَسَنَاتِهِ مَكَانَ مَا أَخَذَ مِنَ الدُّيُوْنِ الْمُبَاحَةِ، كَمَا بَاعَ فِي الدُّنْيَا مَسْكَنَهُ وَخَادِمَهُ مَعَ أَنَّهُ لَا إِثْمَ عَلَيْهِ. (Artinya) Adapun hutang seseorang yang meninggal dunia, jika yang bersangkutan memiliki udzur dalam menunda pelunasan hutangnya sampai meninggal dunia, maka tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama muslimin bahwa tidak maksiat dan tidak menanggung dosa.

Jika ia bermaksiat dalam menunda pelunasan hutangnya, maka ia berdosa dengan sebab penundaan tersebut. Jika ia berhutang untuk perbuatan maksiat, maka ia berdosa dengan dua maksiat, dan jika ia berhutang untuk sesuatu yang wajib atau mubah, dan ia tidak teledor dalam menunda (pembayaran) maka ia tidak berdosa.

Sabda Nabi SAW: “Diri seorang mukmin tergantung dengan hutangnya sampai dilunasi.” Pengertian tergantung itu mempunya dua macam makna.

Pertama, tergantung dengan hukuman dan siksaan. Yang demikian ini tidak berlaku pada seorang muslim pun, ketika ia tidak berdosa dengan hutang dan menunda pelunasannya. Yang seperti ini mustahil terjadi pada pribadi Nabi SAW, karena beliau tidak berhutang kecuali untuk ketaatan atau sesuatu yang mubah.

Kedua, dirinya tergantung dengan hutang tersebut. Dalam arti pahala-pahala amal kebaikannya diambil untuk mengganti hutang-hutangnya dalam hal-hal yang mubah, sebagaimana ketika di dunia ia menjual rumah untuk melunasi hutang, dan setelah itu dia tidak berdosa.

 





Disarikan dari Hasil Keputusan Musyawarah Nasional Alim Ulama Nahdlatul Ulama Di Asrama Haji Pondok Gede. Jakarta, 25-28 Juli 2002. (Redaktur: Ulil A. Hadrawy)

 

 





Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Humor Islam Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 27 Januari 2018

Puluhan Mahasiswa IPMAFA Bersih-bersih Sungai Tayu

Pati, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Mahasiswa jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) Institut Pesantren Mathaliul Falah (IPMAFA) kabupaten Pati bersama aktivis lingkungan di Pati meramaikan kegiatan “Jogo Kali”, Ahad (1/11). Mereka memunguti sampah di sepanjang tepi sungai Bendokaton sampai Sambiroto kecamatan Tayu Kabupaten Pati.

Pada kegiatan yang berlangsung selama dua hari, (31/10-1/11) mereka juga memunguti sampah di dalam sungai untuk kemudian dikumpulkan di daur ulang.

Puluhan Mahasiswa IPMAFA Bersih-bersih Sungai Tayu (Sumber Gambar : Nu Online)
Puluhan Mahasiswa IPMAFA Bersih-bersih Sungai Tayu (Sumber Gambar : Nu Online)

Puluhan Mahasiswa IPMAFA Bersih-bersih Sungai Tayu

Kegiatan “jaga kali” dan “bersih kali” ini diharapkan mengispirasi warga dan mau bergotong royong dalam merawat lingkungan dan mau melestarikan, ungkap aktivis lingkungan setempat Shoimul Mubarok.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kegiatan yang berlangsung dari pagi sampai malam hari berjalan dengan teratur dan mengundang simpati dari warga dan masyarakat setempat. Sedangkan beberapa Kepala Desa di sepanjang sungai Dokaton sampai Sambiroto ikut memberikan dukungan terhadap kegiatan ini. Mereka sepakat agar ke depan masyarakat yang letak rumahnya berada di tepi sungai agar tidak sembarangan lagi dalam membuang sampah lebih-lebih di area sungai.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ketua BEM-Prodi PMI IPMAFA Zaky Fuad menjelaskan, “Respon masyarakat terhadap keberadaan mahasiswa yang mengikuti kegiatan bersih sangat positif karena sungai mereka menjadi bersih dan elok.”

Sementara itu, Ketua Prodi PMI Faiz Aminuddin mengapresiasi kegiatan bersih kali ini. ? Menurutnya, sudah sewajarnya menjadi mahasiswa tidak hanya sebatas berkutat dengan buku dan teori, tetapi program aksi untuk menjawab problematika sosial penting untuk mulai ditumbuhkan.

“Niat baik para mahasiswa PMI yang ikut terlibat langsung dalam bersih kali merupakan langkah awal yang baik, dan kalau bisa berkelanjutan, apalagi sebentar lagi musim hujan sehingga kegiatan ini sangat bermanfaat untuk mengurangi risiko banjir,” kata Alumnus Psikologi Sosial UGM ini. (Siswanto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Humor Islam Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 25 Januari 2018

PWNU Jabar Intsruksikan Warga Tak Terlibat Konflik Sosial

Bandung, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat Eman Suryaman menginstruksikan kepada seluruh cabang-cabang NU di Jawa Barat agar jangan sampai terlibat dalam konflik sosial. Hal ini terkait berbagai aksi kekerasan agama yang kerapkali terjadi di wilayah Jawa Barat.

"NU adalah ormas Islam yang menghormati kebhinnekaan, artinya menerima pihak manapun dalam membangun negara yang maju, aman dan damai. NU juga harus menjaga netralitasnya dalam menghadapi segala konflik yang terjadi di Jawa Barat Khususnya dan Indonesia pada umumnya," tutur Eman.

PWNU Jabar Intsruksikan Warga Tak Terlibat Konflik Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Jabar Intsruksikan Warga Tak Terlibat Konflik Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Jabar Intsruksikan Warga Tak Terlibat Konflik Sosial

Eman juga mengatakan bahwa radikalesme harus segera dihentikan, karena Islam tidak mengajarkan kekerarasan, terlebih memaksakan orang lain untuk masuk ke ajaran manapun.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ditambahkan sebagai agama rahmatan lil alamin, seharusnya orang yang beragama Islam mampu memberikan pencerahan dengan cara-cara yang cantik. Para wali penyebar Islam di Nusantara pun sukses mengislamkan sebagian besar masyarakat Indonesia ? bukan dengan kekerasan, melainkan dengan mencontohkan ahlakul karimah dan uswatun hasanah.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Ada cara-cara yang lebih baik untuk menghadapi beberapa kelompok yang menyimpangkan agama daripada menyikapinya dengan kekerasan. Para wali saja bisa mengajak masyarakat yang bukan beragama Islam, masa yang melencengkan agama masa tidak bisa diajak kembali kepada ajaran yang sebenarnya?” katanya.

Ditambahkan, untuk meluruskan ajaran yang menyimpang seperti Ahmadiyah jangan menggunakan kekerasan, bahkan sampai dibunuh atau dianiaya. Ada cara-cara lain yang bisa membuat mereka tertarik kepada ajaran yang sesungguhnya.

"Mereka juga tahu ketika mereka lahir dan dibesarkan, Al-Qur’an yang jadi pegangan mereka sama dengan kita," pungkasnya?

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Zainal Mutaqin

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ulama, Humor Islam, Nahdlatul Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 20 Januari 2018

Puluhan Grup Qasidah Ramaikan Pagelaran Seni Budaya Islam Jabar

Bandung, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Puluhan grup marawis dan qasidah mengikuti pagelaran seni budaya Islam se-Jawa Barat yang diadakan DPW Lembaga Seni dan Qasidah Indonesia (LASQI) Jabar di gedung student center UIN Bandung, Rabu-Jumat (29-31/10). Mereka yang datang dari 17 kabupaten di Jabar, mementaskan sejumlah keterampilan mulai dari Qasidah ibu-ibu, qasidah putra-putri, marawis, dan bintang vokal.

Puluhan Grup Qasidah Ramaikan Pagelaran Seni Budaya Islam Jabar (Sumber Gambar : Nu Online)
Puluhan Grup Qasidah Ramaikan Pagelaran Seni Budaya Islam Jabar (Sumber Gambar : Nu Online)

Puluhan Grup Qasidah Ramaikan Pagelaran Seni Budaya Islam Jabar

“Kalau kita lihat rencana awal bahwa diadakannya pagelaran seni budaya Islam ini untuk media silaturrahim, Alhamdulillah semua (undangan) bisa datang,” imbuh Ketua Panitia Esa Rizki Arman kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan, Kamis (30/10).

Tindak lanjut pagelaran ini, lanjutnya, seniman di Jabar memiliki persamaan dalam mengembangkan seni budaya Islam. “Kita mempunyai tujuan yang sama untuk mengembangkan seni budaya, maka kita melakukan langkah yang sama di setiap daerah,” terang Rizkiadi yang juga sebagai juri kategori marawis itu.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ke depannya, ia bersama pihak-pihak terkait akan terus menjalin silaturrahmi antargrup marawis maupun qasidah. Para juara dalam pagelaran ini akan dikirim ke perlombaan tingkat nasional di Sulteng November mendatang sebagai perwakilan Jawa Barat.

“Harapan saya bisa lebih kompak, kreatif, agar seni budaya Islam bisa berkembang lebih pesat lagi,” pungkasnya. (M Zidni Nafi’/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Humor Islam Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 17 Januari 2018

MTs Ma’arif Fajaresuk Raih 3 Piala Drumben

Pringsewu, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Belum genap 1 tahun terbentuk, Grup drumben Gema Bahana MTs Maarif Fajaresuk Pringsewu sudah menunjukkan prestasi yang membanggakan. Pada lomba drumben pelajar Pringsewu Open 2015, Gema Bahana MTs Maarif berhasil menyisihkan sejumlah grup drumben pelajar sekabupaten Pringsewu dengan meraih 3 piala sekaligus.

MTs Ma’arif Fajaresuk Raih 3 Piala Drumben (Sumber Gambar : Nu Online)
MTs Ma’arif Fajaresuk Raih 3 Piala Drumben (Sumber Gambar : Nu Online)

MTs Ma’arif Fajaresuk Raih 3 Piala Drumben

Dalam ajang yang dilaksanakan di lapangan pendopo kabupaten Pringsewu, ? Kamis (14/5), Gema Bahana berhasil meraih Juara II Paramanandi, Juara II Gita Pati, dan Juara III Display. Kegiatan ini merupakan inisiatif dari Persatuan Drum Band Indonesia (PDBI) Pringsewu.

Menurut Kepala MTs Maarif Fajaresuk H Auladi Rosyad, semua ini merupakan perjuangan dan kerja keras semua pihak dari siswa-siswi, pelatih, pembina dan seluruh civitas akademika MTs Maarif Fajaresuk. Rosyad berharap prestasi ini akan memicu perhatian dari segenap pihak baik pemerintah, ? masyarakat akan keberadaan MTs Maarif yang baru tahun ini akan meluluskan siswa-siswinya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Gema Bahana MTs Maarif Fajaresuk siap tampil baik dalam even lomba maupun kegiatan seremonial yang digelar oleh instansi, organisasi, dan lain lainnya,” kata Rosyad.

Ke depannya, ? Rosyad berharap ada peningkatan kualitas penampilan dari anak-anak drumben binaannya. Selain peningkatan kualitas, ? peningkatan kuantitas dari peralatan-peralatan juga yang dibutuhkan diharapkan terealisasi sehingga hasil dari penampilan akan memuaskan. (M Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Nahdlatul Ulama, Humor Islam, PonPes Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 14 Januari 2018

Lakpesdam PBNU Siap Fasilitasi MWCNU Gerakkan Ranting

Garut, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) PBNU mempersilakan bagi kepengurusan NU di tingkat mana saja untuk mengadakan Pelatihan Penggerak Ranting. Lakpesdam PBNU siap memfasilitasi kegiatan yang menjadi program kerja lembaga yang lahir 7 April 1985 ini.

Lakpesdam PBNU Siap Fasilitasi MWCNU Gerakkan Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam PBNU Siap Fasilitasi MWCNU Gerakkan Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakpesdam PBNU Siap Fasilitasi MWCNU Gerakkan Ranting

"Lakpesdam PBNU sangat siap untuk memfasilitasi kegiatan pelatihan-pelatihan semacam ini. Kemana pun, bahkan walau yang mengundang setingkat MWC (Majelis Wakil Cabang NU) sekalipun kita siap untuk datang. Asalkan waktunya saja yang sesuai," kata Sekretaris Lakpesdam PBNU Marzuki Wahid.

Marzuki menyampaikan hal itu saat mengisi Pelatihan Penggerak Ranting yang digelar Lakpesdam PCNU Garut di Pesantren Al-Fauzaniyah Garut, Jawa Barat, Sabtu-Ahad (28-29/5). Pelatihan ini diikuti oleh beberapa utusan dari kabupaten/kota terdekat, antara lain Sumedang, Cimahi, dan Bandung.? Semuanya berjumlah 30 peserta.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Marzuki yang menjadi fasilitator dalam kegiatan ini membawa beberapa trainer (trainer) lainnya antara lain Abdullah Ubed, Kepala Divisi Pemberdayaan Manusia; dan pengurus dan staf lainnya, Tsabit Al-Fauzi dan Rofii.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Materi yang akan disampaikan dalam kesempatan ini meliputi NU dan Aswaja, Penataan Organisasi Ranting, Pengorganisasian, serta Profil dan Penggerak Ranting.

"Pelatihan ini diselenggarakan atas dasar realita akar permasalahan umat yang sering terjadi di tingkat ranting,” kata Hilwan Faqih, Ketua Lakpesdam NU Garut yang juga penyelenggara pelatihan ini.

Ketika rantingnya kuat, otomatis NU secara kesuluruhan pun akan kuat. Apalah artinya cabang banyak kegiatan, tetapi rantingnya minim kegiatan, tambahnya.

Seluruh peserta tampak sangat antusias atas diselenggarakan pelatihan ini. Mereka berharap sepulang dari pelatihan ini dapat mampu menjadi trainer-trainer yang hebat, yang bisa memfasilitasi kepada ranting-ranting di daerahnya tentang pemahaman akan Aswaja dan NU.

"Terima kasih atas terselenggaranya pelatihan penggerak ranting ini. Banyak ilmu serta pengalaman yang baru, di samping kita juga bisa sharing dengan fasilitator dan peserta yang lain. Sungguh pelatihan ini sangat bermanfaat," tutur Ramli salah satu peserta pada pelatihan ini. (Syarif Hidayatullah/Ayi Abdul Kohar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Amalan, Humor Islam, Habib Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 07 Januari 2018

Warga NU Jeddah Ngaji Perdana Kitab "Nashoihul Ibad"

Jeddah, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama dan pengurus Masjid Indonesia Jeddah mengadakan pengajian rutin setiap Jumat pagi hingga menjelang Jumatan. Pengajian dengan pembacaan kitab "Nashoihul Ibad" ini diasuh tokoh NU di Jeddah Ustadz H Arsyad Hidayat, Jumat (14/11).

Ustadz H Arsyad Hidayat mengupas muqaddimah kitab Nashoíhul Ibad. Ia juga menyampaikan kepada para jamaah agar tidak memberikan sisa-sisa untuk Islam.?

Warga NU Jeddah Ngaji Perdana Kitab Nashoihul Ibad (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga NU Jeddah Ngaji Perdana Kitab Nashoihul Ibad (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga NU Jeddah Ngaji Perdana Kitab "Nashoihul Ibad"

“Ketika ada kepentingan sesuatu, Islam dibawa-bawa. Kalau kepentingan sudah dicapai, Islam ditinggalkan. Inilah tujuan mengaji agar tetap istiqomah memakmurkan dan mempererat tali silaturahmi sesama WNI TKI di luar negeri,” kata Ustadz Arsyad.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ketua PCINU Arab Saudi Ir Ahmad Fuad merespon dan mengajak seluruh jamaah untuk datang lagi pada Jumát depan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sementara Ketua pengajian masjid Indonesia Jeddah Shaleh Maryono mengimbau agar jamaah mengajak sanak famili dan handai taulan untuk mengaji serta mencari ridha Allah dengan mendatangi majelis taklim yang diagendakan rutin Jumat pagi. (Ahmad Thabib/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Humor Islam, Pahlawan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 03 Januari 2018

Santri Tremas Adakan Khitanan Massal hingga Pagelaran Wayang Kulit

Pacitan, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Memeriahkan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Ikatan Pelajar Pacitan Pondok Tremas atau IPPAPONMAS, mulai Jum’at (16/12) menggelar kegiatan Bhakti Santri di Dusun Jambu, Desa Bangunsari Kecamatan/Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Organisasi daerah di lingkungan Pesantren Tremas yang menaungi santri dari seluruh Kabupaten Pacitan itu menggelar sejumlah kegiatan bersama masyarakat setempat hingga Ahad (18/12).

Santri Tremas Adakan Khitanan Massal hingga Pagelaran Wayang Kulit (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Tremas Adakan Khitanan Massal hingga Pagelaran Wayang Kulit (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Tremas Adakan Khitanan Massal hingga Pagelaran Wayang Kulit

Kegiatan yang dilaksanakan diantaranya khitanan massal, pengobatan gratis, aksi donor darah, santun anak yatim, semaan Al-Qur’an, dakwah bil hal, pembinanaan TPQ dan Madin, pagelaran seni wayang kulit, dan pengajian peringatan maulid Nabi Muhammad SAW bersama pengasuh Jamaah Muji Rosul (Jamuro) KH Abdul Karim Ahmad (Mangkuyudan, Surakarta).

Pembimbing organisasi IPPAPONMAS Ust Ali Muhadaini, Jum’at pagi (16/) kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan mangatakan, sebanyak 350 santri putra dan putri turut berpartisipasi dalam kegiatan tahunan ini.

Bhakti santri IPPAPONMAS, katanya, digelar sebagai wujud mengenalkan dan mendekatkan dunia pesantren pada masyarakat. “Selain itu, bhakti santri ini sebagai bentuk mengamalkan ajaran dan nilai-nilai pesantren yang dekat dengan kehidupan masyarakat,” katanya.

Selama mengikuti kegiatan, para santri akan berbaur dan belajar bersosialisasi dengan masyarakat setempat. Mereka akan mengenalkan nilai-nilai kepesantrenan, seperti kesederhanaan, kemandirian, tolong menolong dan memberi pemahaman cara beragama yang baik sesuai dengan ajaran Ahlusunnah wal-Jamaah.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

IPPAPONMAS merupakan salah satu Organisasi Daerah (Orda) yang bearada di lingkungan Pesantren Tremas Pacitan. Organisasi ini dibentuk pertama kali oleh Alm KH Harits Dimyathi. Setiap bulan Robiul Awwal, IPPAPONMAS menggelar kegiatan bhakti santri dengan berkeliling dari satu Kecamatan ke Kecamatan lain yang ada di seluruh Kabupaten Pacitan.(Zaenal Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Humor Islam, Warta Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 14 Desember 2017

Hadiah Orang Hidup Kepada Orang Mati

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Redaksi Bahtsul Masail yang saya hormati. Terlebih dahulu saya minta maaf jika nanti pertanyaannya terkesan konyol dan mengada-ada. Jujur saja saya awam dalam soal agama, dan baru-baru ini kesadaran untuk belajar agama saya muncul.

Beberapa minggu yang lalu saya mendapatkan hadiah dari istri berupa jam tangan. Teman saya mengeluarkan celetukan, “Itu hadiah dari orang hidup ke orang hidup, dan jelas bisa sampai.” Nadanya sedikit meledek, kemudian teman saya melanjutkan bahwa kiriman hadiah doa orang hidup ke orang mati tidak bakal sampai karena sudah beda alam. Saya ingin saya tanyakan adalah bagaimana pandangan ustadz mengenai hal ini?

Hadiah Orang Hidup Kepada Orang Mati (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadiah Orang Hidup Kepada Orang Mati (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadiah Orang Hidup Kepada Orang Mati

Mohon penjelasanya. Karena setahu saya, dulu orang tua sering menasihati agar selalu kirim doa kepada yang telah meninggal dunia. Wassalamu ’alaikum wr. wb. (Agus/Jakarta)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jawaban

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Pertama kami mengucapkan puji syukur kepada Allah atas munculnya kesadaran keagamaan penanya.

Bahwa nasihat orang tua kepada anaknya untuk selalu mendoakan kepada keluarga atau famili atau orang saleh yang telah meninggal dunia adalah hal yang sangat baik. Sudah sepatutnya untuk dilestarikan karena hal itu merupakan salah satu bukti bakti kita kepada mereka yang telah mendahului kita.

Orang yang hidup memberikan hadiah kepada yang masih hidup dengan hadiah material adalah hal biasa.

Namun, pertanyaannya apa yang dapat kita berikan kepada orang-orang yang telah mendahului kita? Tentu yang dapat kita berikan bukanlah materi. Lantas apa yang dapat kita berikan sebagai hadiah?

Jawabnya adalah doa dan permohonan ampunan (istighfar). Inilah yang paling layak untuk dihadiahkan kepada orang-orang yang telah meninggal dunia. Karena itu kemudian dikatakan bahwa hadiah orang hidup kepada yang meninggal dunia adalah doa dan permohonan ampunan.

? ? ? ? ?

Artinya, “Hadiah orang-orang yang masih hidup kepada orang-orang yang telah meninggal dunia adalah doa dan memintakan ampunan kepada Allah (istighfar) kepada mereka,” (Lihat Syekh Nawawi Banten, Nihayatuz Zain, Beirut, Darul Fikr, tt, halaman 281).

Dalam sebuah riwayat—sebagaimana dikemukakan Syekh Nawawi Al-Bantani— dikatakan bahwa di dalam kubur, orang yang meninggal dunia seperti orang tenggelam yang meminta pertolongan berupa doa. Ia menanti datangnya doa dari anaknya, saudara, atau temannya. Ketika ia mendapatkannya, maka itu lebih ia sukai ketimbang dunia dengan seluruh isinya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?-? ? ? ? ? ? ?-? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Diriwayatkan dari Nabi SAW, beliau bersabda, ‘Tidak ada mayit yang berada dalam kuburnya kecuali ia seperti orang tenggelam yang meminta pertolongan—kal ghariqil mughawwats dengan diharakati fathah pada huruf wawunya yang bertasdid, yaitu orang yang meminta pertolongan—ia menunggu setetes doa yang yang dikirimkan anaknya, saudara, atau temannya. Karenanya ketika ia mendapatkan doa, maka hal itu lebih ia sukai dibanding dunia dengan seluruh isinya,’” (Lihat Syekh Nawawi Banten, Nihayatuz Zain, halaman 281).

Dari sinilah kemudian dapat dipahami betapa orang yang telah meninggal dunia itu sebenarnya mengharapkan kiriman atau hadiah doa dari orang yang masih hidup. Dengan kata lain, kiriman atau hadiah doa itu akan sangat berarti baginya, bahkan pahalanya pun akan sampai.

Karena itu para ulama—sebagaimana dikemukakan Muhyiddin Syarf An-Nawawi—menyatakan kesepakatan bahwa doa dari orang yang masih hidup kepada yang telah meningal dunia itu bermanfaat dan pahalanya akan sampai kepadanya. Salah satu dalil yang digunakan untuk mendukung pendapat ini adalah firman Allah SWT berikut ini:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, ‘Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan suadara-saudara kami yang telah beriman terlebih dulu dari kami,” (QS Al-Hasyr ayat 10).

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Para ulama sepakat bahwa doa untuk orang-orang yang telah meninggal dunia akan memberikan manfaat kepada mereka dan akan sampai juga pahalanya kepada mereka. Para ulama ini berdalil dengan firman Allah SWT, ‘Orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, ‘Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan suadara-saudara kami yang telah beriman terlebih dulu dari kami,’ (Al-Hasyr ayat 10),’” (Lihat Muhyiddin Syarf An-Nawawi, Al-Adzkar An-Nawawiyyah, Jakarta, Darul Kutub Al-Islamiyah, cet ke-1, 1425 H/2004 M, halaman 180).

Demikian jawaban sederhana ini yang dapat kami sampaikan. Teruslah mendoakan orang-orang yang telah mendahului kita karena itu sangat bermanfaat bagi mereka. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Mahbub Maafi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Hikmah, Humor Islam, Pondok Pesantren Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 11 Desember 2017

Masjid Fastabiqul Khoirot, Basis NU Mertan

Sekilas bangunan masjid Fastabiqul Khoirot yang berlokasi di Dusun Tangkluk Desa Mertan Kecamatan Bendosari Kab. Sukoharjo ini nampak sederhana sebagaimana masjid-masjid desa pada umumnya. Namun dibalik kesederhanaan bangunan masjid ini ternyata masjid fastabiqul khoirot menjadi basis kegiatan Pengurus Ranting NU Mertan.

Sebagaimana namanya masjid Dastabiqul Khoirot ini menjadi tempatnya muslim khususnya jama’ah NU berlomba-lomba dalam kebaikan.

Masjid Fastabiqul Khoirot, Basis NU Mertan (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid Fastabiqul Khoirot, Basis NU Mertan (Sumber Gambar : Nu Online)

Masjid Fastabiqul Khoirot, Basis NU Mertan

“Masjid Fastabiqul Khoirot berdiri tahun 1998, tepatnya tanggal 1 rajab 1419 H, sebagaimana masjid NU pada umumnya disini kami juga menyelenggarakan TPQ, yasinan, istighosah, maulidan”, Ujar Imam Ghozali ta’mir masjid yang juga pengurus NU saat dikonfirmasi Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan, Jum’at (2/4).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Namun selain kegiatan tersebut juga kami adakan pengajian rutin setiap malam Rabu sebagai salah satu langkah untuk membentengi serta memberikan solusi kepada jama’ah terhadap persoalan keagamaan yang ditemui dalah kehidupan sehari-hari tentunya dengan solusi yang berdasar pada Aswaja ‘ala Nahdlatul Ulama. Dan pembicaranya yaitu Ustadz. Mudhakir M.Pd.I & H. Joko Purwanto SE, imbuhnya.

Jika tiap Ranting NU mampu memberikan pendampingan secara intens dalam pemberdayaan satu masjid saja di desanya, sebagai pusat kajian keagamaan bernuansa NU dan salah satu tempat fastabiqul Khoirot (berlomba-lomba dalam kebaikan), maka kami optimis NU di Soloraya akan semakin besar, pungkasnya. (Ahmad Rosyidi/Anam)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Humor Islam Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 09 Desember 2017

Maarif NU Protes SE Mendagri Larang APBD untuk Madrasah

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pengurus Pusat Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (PP LP Ma’arif NU) memprotes Surat Edaran (SE) Menteri Dalam Negeri yang melarang Pemerintah Daerah mengalokasikan dana APBN untuk pengambangan mutu pendidikan madrasah.

Lembaga departementasi Nahdlatul Ulama (NU) itu melayangkan surat protes dan keberatan atas kebijakan tersebut.

Maarif NU Protes SE Mendagri Larang APBD untuk Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)
Maarif NU Protes SE Mendagri Larang APBD untuk Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)

Maarif NU Protes SE Mendagri Larang APBD untuk Madrasah

Sekretaris PP LP Ma’arif NU Dr. Mamat S. Burhanuddin menyatakan, bahwa SE yang dikeluarkan Mendagri tersebut syarat dengan muatan diskriminasi, sehingga bertentangan dengan Pasal 31 UUD 1945, dan Pasal 4 ayat (1) serta Pasal 55 ayat (4) UU Sisdiknas No. 20/2003.

“Ini bukti bahwa sistem pendidikan nasional kita berjalan masih sangat diskriminatif. Peserta didik yang belajar di sekolah atau madrasah kan sama-sama anak bangsa Indonesia, sehingga mereka memiliki hak sama dari pemerintah. Tidak dibenarkan pemerintah daerah hanya diperbolehkan membantu peserta didik yang ada di sekolah saja,  sedangkan peserta didik yang belajar di madrasah tidak boleh diberi bantuan dari APBD, ini jelas tidak adil,” tandasnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selain itu, ia menambahkan, kebijakan ini mencerminkan bahwa pemerintah tidak memiliki sensitifitas terhadap problematika pendidikan madrasah. Mendagri harusnya mengapresiasi pendidikan madrasah, baik formal maupun non-formal sebagai bentuk peran kongkrit masyarakat dalam membangun bangsa dan negara, bukan malah memberangus dengan mengeluarkan kebijakan yang diskriminatif.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Sampai saat ini, secara keseluruhan jumlah madrasah adalah 90% swasta, yang negeri hanya sekitar 10%. Bahkan madrasah non-formal seperti Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) 100% semuanya swasta, didirikan oleh masyarakat dengan tulus untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Terus kenapa hal yang demikian malah tidak diperhatikan oleh pemerintah?” lanjut Mamat.

Ia menekankan bahwa PP LP Ma’arif NU sebagai kepanjangan tangan PBNU akan terus mendesak kepada Mendagri agar membatalkan SE tersebut. “Surat keberatan sudah kami kirim ke Mendagri. Jika dalam 7 x 24 jam tidak ada perkembangan, maka kami akan menindaklanjuti lebih tegas lagi,” ujarnya. 

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Nasional, Humor Islam, Amalan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 28 November 2017

Ormas dan Pesantren Jember Cetuskan Resolusi Damai 2016

Jember, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Organisasi massa (ormas) dan pondok pesantren mengadakn diskusi dan Deklarasi Resolusi Damai bertema “Eliminasi Kekerasan, Mengkonstruksi Perdamaian”. Kegiatan yang digagas Ikatan Alumni Pergerakan Mahasisa Islam Indonesia (IKA-PMII) Kabupaten Jember tersebut dilaksanakan pada 25 November 2016, bertepatan dengan peringatan hari anti-kekerasan terhadap perempuan Internasional.

Disksusi dihadiri perwakilan ormas dan komunitas pesantren di Jember, yakni Fatayat NU Jember, Kohati Cabang Jember, PMII Jember, Pondok Pesantren Nurul Qornain Sukowono, Pondok Pesantren Nurul Jadid Al-Islami, Pondok Pesantren Al Jauhar, dan Pondok Pesantren Darul Hikam.

Ormas dan Pesantren Jember Cetuskan Resolusi Damai 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)
Ormas dan Pesantren Jember Cetuskan Resolusi Damai 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)

Ormas dan Pesantren Jember Cetuskan Resolusi Damai 2016

“Diskusi ini diharapkan menjadi awal kebangkitan kepedulian komunitas-komunitas yang ada di Jember untuk bergerak bersama mewujudkan perdamaian dengan tidak mentoleransi kekerasan,” ungkap Agustina Dewi, Ketua Bidang Gerakan Perempuan IKAPMII.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Perdamaian, menurutnya, seharusnya dipahami bukan hanya tidak adanya kekerasan langsung, tetapi ketika struktur yang ada sudah mampu menjamin keadilan, kesetaraan, dan kesejahteraan warga masyarakat.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ia menambahkan, kekerasan terhadap perempuan perlu mendapatkan perhatian khusus, mengingat jumlah kekerasan terhadap perempuan terus meningkat, seperti data dari Komnas Perempuan yang tahun ini mencapai 321.752, meningkat dari 293220 tahun 2015.

Angka tersebut, kata dia, adalah jumlah kekerasan yang dilaporkan dan telah ditangani oleh pihak yang berwajib, padahal bisa jadi angka kekerasan yang tidak terlaporkan lebih banyak lagi.

“Lembaga pendidikan, termasuk pesantren-pesantren bisa mengambil peran penting dalam upaya menekan angka kekerasan dengan memasukkan materi anti-kekerasan dan perdamaian dalam kurikulum, sekaligus dalam proses pembelajaran yang dilakukannya,” ungkap Najmatul Millah dari Pondok Pesantren Nurul Jadid Al Islami yang juga menaungi beberapa lembaga pendidikan.

Dalam diskusi ini telah terbangun komitmen diantara yang hadir, bahwa kekerasan dalam bentuk apapun harus dihilangkan, baik yang berupa kekerasan langsung maupun tidak langsung, kekerasan fisik maupun psikologis, di ruang publik maupun di ranah domestik.

“Kekerasan terhadap perempauan adalah masalah kemanusiaan, yang seharusnya menjadi perhatian semua pihak karena sebenarnya terkait dengan penghargaan atas hak azasi Manusia,” demikian ditegaskan oleh Ketua IKAPMII Jember.

Resolusi Damai

Diskusi telah menyatukan persepsi dan? mendesain gerakan anti kekerasan untuk membangun perdamaian dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.? Dalam rangka pencapaian tujuan penghapusan kekerasan terhadap perempuan, diskusi ini menghasilkan resolusi dengan menimbang banyaknya kekerasan terhadap perempuan, baik di ranah publik maupun privat, kekerasan langsung maupun kekerasan kultural dan struktural, yang dilakukan baik oleh personal, komunitas, maupun oleh negara.

1. Perlunya semua pihak berkontribusi dalam penghapusan kekerasan terhadap perempuan dengan tidak menjadi pelaku kekerasan sebagai bagian dari upaya menjaga nilai kemanusiaan.

2. Menyerukan kepada masyarakat dan unsur-unsur didalamnya untuk tidak melakukan kekerasan terhadap perempuan dan tidak mentoleransi adanya kekerasan tersebut.

3. Mengajak tokoh-tokoh agama, tokoh masyarakat, komunitas pesantren untuk membangun budaya damai dengan mengedepankan penghargaan terhadap multikulturalisme.

4. Mendesak lembaga pendidikan untuk mengajarkan perdamaian sebagai bagian pembentukan karakter peserta didik.

5. Menghimbau kalangan media untuk berpegang pada prinsip jurnalisme damai yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan, tidak provokatif, dan mengedepankan kepentingan publik.

6. Menuntut penyelenggara negara untuk membangun perdamaian dengan menghadirkan produk hukum dan kebijakan yang tidak toleran terhadap pelaku kekerasan.

Penggagas Resolusi Damai Jember 2016

1. IKAPMII

2. Fatayat NU Jember

3. KOHATI Cabang Jember

4. PMII Jember

5. Pondok Pesantren Nurul Qornain Sukowono

6. Pondok Pesantren Nurul Jadid Al Islami Sukowono

7. Pondok Pesantren Al Jauhar Jember

8. Pondok Pesantren Darul Hikam Jember (Linda Dwi Eriyanti/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Nahdlatul Ulama, Hadits, Humor Islam Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 15 November 2017

Harlah I Unisnu Pecahkan Rekor Makan Jagung Terbanyak

Jepara,Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Dalam rangka memperingati dies natalis I atau harlah, Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara bekerjasama dengan Himpunan Produksi Pangan dan Oleh-oleh Khas Daerah (Hippoda) berhasil memecahkan rekor Makan Jagung Bogana terbanyak.

Harlah I Unisnu Pecahkan Rekor Makan Jagung Terbanyak (Sumber Gambar : Nu Online)
Harlah I Unisnu Pecahkan Rekor Makan Jagung Terbanyak (Sumber Gambar : Nu Online)

Harlah I Unisnu Pecahkan Rekor Makan Jagung Terbanyak

Dua piagam penghargaan digondol pada kegiatan berlangsung di Pantai Kartini, Selasa (22/4) pagi. Piagam diterima dari Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (Leprid) yang diwakili Dinda dari Tim Representatif Leprid Unisnu dan Hippoda.

 

Azza Amriana, Ketua Hippoda mengatakan, kegiatan bertujuan untuk mengabadikan salah satu menu masakan karya RA Kartini. “Ini adalah momen untuk mengabadikan menu Kartini,” katanya disela-sela kegiatan.

 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Menu Jagung Bogana, lanjut Azza, terdiri dari beras jagung yang dicampur dengan kunir sehingga bisa berwarna kuning. Agar rasanya lezat masakan, imbuhnya, ditambah dengan racikan bumbu dan daging. “Untuk menyediakan 2000 orang kami menyediakan 270 kg jagung Bogana.”

 

Dekan FEB Unisnu, M Imron menyatakan, kegiatan merupakan rangkaian Dies Natalis I Unisnu. Menurut Imron pihaknya akan menyupport kegiatan yang bernilai berpendidikan. “Utamanya untuk mengenang RA Kartini,” jelasnya.

 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

H Ahmad Marzuqi dalam sambutannya menyebut pemecehan rekor makan jagung bogana terbanyak merupakan upaya pengembangan wisata kabupaten Jepara. Sebelum 1998, potensi hutan di Jepara luar biasa. Setelah tahun tersebut, hutan jati yang dimanfaatkan untuk dunia industri kian minim. “Lahan tersebut kini untuk menanam jagung. Sehingga bisa dimanfaatkan untuk menu jagung bogana” tambahnya.

 

Bupati didampingi istri Hj Khuzaimah beserta Forkopinda usai pembukaan secara simbolis memakan menu jagung dilanjutkan dengan masyarakat yang memadati area Pantai Kartini Jepara. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Humor Islam, Fragmen, Meme Islam Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 12 November 2017

17 Banser Kota Bandung Digembleng di Gunung Bongkok

Sumedang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Gerakan Pemuda Ansor Kota Bandung mengadakan pendidikan dan pelatihan khusus (Diklatsus) Barisan Ansor Serbaguna (Banser) di Gunung Bongkok, Kecamatan Dayeuh Luhur, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, pada Ahad (12/5). Sekitar 17 Banser digembleng pada Diklatsus tersebut.

17 Banser Kota Bandung Digembleng di Gunung Bongkok (Sumber Gambar : Nu Online)
17 Banser Kota Bandung Digembleng di Gunung Bongkok (Sumber Gambar : Nu Online)

17 Banser Kota Bandung Digembleng di Gunung Bongkok

Tujuh belas pasukan berjalan kaki sejauh 8 km menjelajah dan mendaki gunung sebagai bentuk napak tilas para raja dan pejuang kemerdekaan. Pada kesempatan tersebut mereka sempat menziarahi makam raja-raja Sumedang Larang dan Pajajaran. Makam yang diziarahi di antaranya, Prabu Geusan Ulun dan Maha Patih Jaya Perkasa.

Ketua Pimpinan Cabang GP Ansor Kota Bandung Aa Abdul Rozak, memaknai 17 peserta sebagai tabaruk 17 rakaat melaksanakan shalat 5 waktu sehari semalam. “Dengan filosofi 17, pasukan itu meyakini membela ulama dan bangsa merupakan fardhu ain,” katanya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sebelumnya, kata Rozak, 17 pasukan tersebut telah ditempa latihan tenaga dalam selama 3 bulan, dilaksanakan seminggu 2x di kediaman sesepuh Banser Kota Bandung H Agus Syam. “Beliau termasuk pelaku sejarah Banser waktu membantu negara melawan para pemberontak,” terangnya.  

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Menurut Rozak, pasukan 17 tersebut membentuk grup Korp Komando Pasukan Khusus Banser Kota Bandung. Mereka memilki tugas lebih dibanding Banser lain, yaitu siap kapan dan dimana pun ditugaskan organisasi untuk mengwal ulama dan negara. “Komando Pasukan Khusus Banser Kota Bandung menjadi pasukan siap lahir dan batin membela ulama dan bangsa kapanpun,” tegasnya.

Turut serta pada penggemblengan pasukan itu, Komandan Satkorcab Banser Kota Bandung, Mahmud dan sesepuh Banser Kota Bandung Ir.H.Agus Syam. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Doa, Humor Islam, Pahlawan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pesantren dan Dunia Kecil Bernama Ciputat

Kajian mengenai pesantren kini tidak lagi terjebak pada dikotomi tradisional dan modern. Fenomena labelisasi agama dan ‘revolusi mental’ yang melahap hampir semua isu kebangsaan telah menggiring pesantren bertransformasi menjadi entitas sosial yang tetap layak untuk dikaji. Martin van Bruinessen, Indonesianis asal Belanda, bahkan pernah membuktikan bahwa pesantren mampu menjadi lembaga pendidikan yang adaptif terhadap laju modernisasi.

Nurcholish Madjid pernah memberikan analisis bahwa tahun 2020 merupakan saat kebangkitan kaum santri, yang seringkali disebut sebagai kalangan tradisionalis itu. Analisis tersebut didasarkan pada tumbuhnya generasi santri yang meraih pendidikan tinggi sehingga akan mengimbangi eksistensi kalangan modernis yang lebih dulu mengenyam pendidikan tinggi.

Namun kebangkitan itu tidak diperoleh serta-merta. Sejak dulu, progresivitas gerakan dan pemikiran kaum santri seringkali dianggap sebagai ancaman bagi segelintir pihak. Dalang pembantaian pada peristiwa Gerakan 30 September 1965 dan isu dukun santet pada tahun 1998 adalah tudingan-tudingan negatif yang telah didapatkan oleh kalangan pesantren sejak masa lampau.?

Kondisi di masa kini juga masih belum jauh berbeda. Pesantren sebagai properti layak jual bagi kepentingan politis, pesantren sebagai penyemai paham radikalisme, hingga penggunaan narkoba di kalangan pesantren adalah isu terkini yang menjadi trending topic masyarakat kita.?

Pesantren dan Dunia Kecil Bernama Ciputat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren dan Dunia Kecil Bernama Ciputat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren dan Dunia Kecil Bernama Ciputat

Dalam konteks pendidikan juga tidak kalah pelik. Pada masa lalu, lulusan pesantren dianggap tidak memiliki legalitas sehingga mereka tidak berhak untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang universitas. Kini, kaum santri bisa bernafas lega setelah pemerintah mengakui pesantren penyelenggara pendidikan keagamaan terutama setelah lahirnya Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Jauh sebelum terbitnya undang-undang tersebut, tahun 1980an dapat disebut sebagai permulaan proses kebangkitan kaum santri. Pada masa tersebut pemerintah dan dunia global mulai melirik kaum santri sebagai bagian penting pengembangan bangsa. Lulusan pesantren mulai diberi jalan untuk menempuh pendidikan tinggi baik di dalam maupun di luar negeri.

Laku hidup kaum santri memang terlihat getir bagi para periset. Namun bagi para penulis buku ini, kehidupan ‘kaum sarungan’ adalah sebuah pembuktian bahwa pesantren tidak identik dengan keterbelakangan dan prediksi tentang masa depan yang suram.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Pesantren untuk Dunia menyajikan tujuh belas tulisan mengenai pengalaman hidup para santri yang kini menjadi dosen dan peneliti di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Karya ini bukan kajian yang serius dan akademik, namun buku ini diprediksi mampu menunjukkan peran dan kontribusi kaum santri dalam perkembangan masyarakat Indonesia dan dunia.

Buku ini ditulis oleh para dosen-santri yang telah mengalami pergulatan dalam merasakan manisnya hasil perjuangan yang diperoleh dari dalam pesantren. Atas hasil jerih payahnya itu, mereka merasa memiliki hutang kepada masyarakat dan bangsa Indonesia. Mereka menyadari betul akan harapan bangsa yang disandarkan pada pundaknya.

Singkatnya, buku ini ditulis sebagai bentuk kepedulian terhadap pengembangan pendidikan masyarakat Indonesia. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta secara rutin menghasilkan tokoh intelektual muslim berkaliber internasional mulai dari Harun Nasution, Nurcholish Madjid, Azyumardi Azra, hingga Komaruddin Hidayat. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari peran strategis lembaga ini sebagai laboratorium yang menghasilkan generasi kaum santri sehingga menjadi intelektualis muslim yang berwawasan global.

Ciputat adalah rumah kedua bagi mereka bahkan dapat dikatakan sebagai pesantren kedua setelah mereka lulus dari pesantren yang sebenarnya. Seperti halnya pesantren yang adaptif dan progresif, Ciputat juga selalu berkemas menjawab tantangan modernisasi.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Para dosen-santri ini seolah ingin mengatakan pada kalangan pesantren bahwa para santri harus memiliki cita-cita yang mulia, menggapai pendidikan yang tinggi, dan tidak melupakan jatidirinya sebagai pembelajar yang sabar. Kesabaran dan cita-cita inilah yang mampu menghantarkan para penulis meraih pendidikan maksimal di tingkat doktor (S3) bahkan beberapa diantaranya menjadi profesor dan pernah menduduki jabatan strategis di negara ini.? Dari pesantren dan Ciputat yang terbelakang, kini mereka muncul sebagai tokoh-tokoh berwibawa dalam menghadapi derasnya tantangan modernisasi dunia.

Akhirnya, buku ini seolah ingin menegaskan kebenaran prediksi Nurcholish Madjid di atas. Kaum santri kini mulai diperhitungkan sebagai elemen masyarakat yang mampu memberikan pengaruh bagi sekitarnya. Kebangkitan ini akan terus berjalan dan berharap tidak kembali menjadi terpuruk.

Ringan dan santai ala novel menjadi karakter penulisan buku ini. Bagi mereka yang ingin berkenalan, belajar mencintai, dan bernostalgia dengan dunia pesantren sangat disarankan untuk membaca buku ini.?

Pesantren dulu, kini, dan nanti masih akan tetap menjadi pesantren yang sebenarnya. Selamat membaca!





Info Buku

Judul : Dari Pesantren untuk Dunia: Kisah-kisah Inspiratif Kaum Santri

Editor : Prof. Dr. Komaruddin Hidayat

Edisi : Pertama

Tahun Terbit : 2016

Penerbit : Prenada Media Group

Peresensi

Muhammad Nida’ Fadlan

Peneliti PPIM UIN Jakarta dan Alumnus Pesantren Buntet, Cirebon

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Olahraga, Humor Islam Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 07 November 2017

Marhabanan Bernuansa Maroko

Suara merdu khas Maulid Addiba’i bergema di Kenitra, Maroko, Jum’at (22/3) malam lalu waktu setempat. Masjid Indonesia di Kenitra berkehormatan untuk menjadi tempat di laksankannya acara peringatan Maulid yang diselenggarakan oleh Kader NU di Maroko dan Majelis ilmi Kenitra.

Malam itu Masjid Indonesia yang ? di dirikan atas prakarsa Raja Muhammad V sebagai prasasti atas kedatangan Presiden Soekarno pada tahun 1960, ? menjadi saksi betapa hubungan antara kedua negara (Indonesia-Maroko) begitu erat terlebih untuk para kaum pesantren.

Marhabanan Bernuansa Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)
Marhabanan Bernuansa Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)

Marhabanan Bernuansa Maroko

Acara yang di mulai selepas shalat maghrib ini, turut di hadiri oleh Duta Besar LB BP Indonesia Untuk Kerajaan Maroko KH. Tosari Widjaja dan delagasi PBNU antara lain Katib Syuriyah KH Musthofa Aqiel Siradj, Ketua LBM PBNU KH Zulfa Mustofa, KH Mahfudz Airun selaku wakil LBM PBNU serta ketua Majelis ilmi Kenitra.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dimulai dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an acara yang berdurasi selama satu jam ini menarik para penduduk sekitar untuk hadir dan meramaikan acara terutama saat mahalul qiyam pada pembacaan Maulid addiba’i.

“Ini merupakan acara perdana yang menjadi pengangkat sejarah hubungan islam aswaja Indonesia dan Maroko, islam yang indah berasaskan tawasuth, tasamuh, tawazun dan i’tidal”. ? tutur Rifqi Maula anggota PCINU Maroko.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Setelah acara selesai, para delegasi yang sebelumnya telah bertemu dengan Kementrian wakaf dan Majelis ilmi pusat Maroko berkenan bertandang ke kediaman para mahasiswa/i STAINU program kelas Internasional di Universitas Ibn Thufail Kenitra.

Turut hadir , H Husnul Amal, MA selaku Dewan Mustasyar PCINU Maroko, Habib Choirul Mustain Lc, ? ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Maroko beserta anggotanya, Muannif Ridwan selaku ketua Tanfidziyah PCINU Maroko beserta anggotanya ? dan para mahasiswa STAINU Jakarta yang sedang mengikuti program kelas internasional di Universitas Ibn. Thufail, Kenitra.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Kontributor: Kusnadi El-Ghezwa*

*Koordinator Media Informasi PPI Maroko dan Koordinator Lajnah Talif wa Nasyr PCINU Maroko.

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan AlaNu, Humor Islam Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 06 November 2017

Puluhan Banser Solo Ikuti Prosesi “Suwukan”

Solo, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Bak para pemain profesional, dengan penuh percaya diri sedikitnya 80 personel Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kota Surakarta memeragakan sejumlah adegan ekstrem. Mereka memecahkan batu bata di kepala dengan martil, memakan silet dan lain sebagainya. Mereka tengah menjalani prosesi “suwukan” (pengisian tenaga dalam).

Di kalangan NU dan pesantren, tradisi suwukan ini lazim dilakukan sebagai salah satu alat untuk menambah kekebalan diri. Prosesi suwukan dipimpin oleh seorang kiai yang menguasai ilmu tersebut.

Puluhan Banser Solo Ikuti Prosesi “Suwukan” (Sumber Gambar : Nu Online)
Puluhan Banser Solo Ikuti Prosesi “Suwukan” (Sumber Gambar : Nu Online)

Puluhan Banser Solo Ikuti Prosesi “Suwukan”

Menurut Ketua GP Ansor Kota Surakarta Muhammad Anwar, “Suwukan ini kita adakan untuk menambah kepercayaan diri anggota Banser dalam menghadapi segala kemungkinan yang terjadi dalam situasi saat ini,” terang Anwar saat ditemui Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan, Rabu (28/1).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Anwar menambahkan para personel Banser yang memeragakan sejumlah atraksi ekstrem ini, tidak bermaksud untuk pamer kekuatan. “Demo kekebalan tidak bermaksud pamer kekuatan, tapi sekadar melestarikan permainan yang selama ini memang telah lazim dan selalu ditradisikan secara turun temurun di lingkungan pesantren,” ujar Anwar.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Lebih lanjut diterangkan, kegiatan suwukan ini akan diadakan rutin setiap pertemuan koordinasi Ansor dan Banser Soloraya. “Insyallah, kita juga akan menyelenggarakan acara suwukan massal,” pungkasnya. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Humor Islam Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock