Tampilkan postingan dengan label Aswaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aswaja. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Maret 2018

Setda Pemkab Kepulauan Sula Studi Banding ke NU Care-LAZISNU

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sebanyak 11 orang perwakilan dari Sekretariat Daerah Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sula berkunjung, silaturahmi ke kantor NU Care-LAZISNU, di gedung PBNU Jakarta Pusat, Jumat (20/10) pagi. Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka Studi Banding dan Bimbingan Teknis Manajemen ZIS (Zakat, Infak, Sedekah).

Kabag Kesejahteraan Rakyat Setda Pemkab Sula, Haryono Subiyanto menyampaikan maksud kedatangan ke NU Care-LAZISNU untuk mengembangkan potensi pemberdayaan umat di Kepulauan Sula. 

Setda Pemkab Kepulauan Sula Studi Banding ke NU Care-LAZISNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Setda Pemkab Kepulauan Sula Studi Banding ke NU Care-LAZISNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Setda Pemkab Kepulauan Sula Studi Banding ke NU Care-LAZISNU

“Kepulauan Sula, satu daerah yang masuk dalam kategori daerah terpencil, tertinggal, terletak di provinsi Maluku Utara, saya pikir harus mendapat perhatian khusus. Program-program pemberdayaan ekonomi, pemberdayaan umat sangat perlu kita laksanakan di sana,” ucap Haryono.

Haryono mengungkapkan, Pemkab bersama dengan PCNU Sula berkomitmen agar LAZISNU bisa hadir dan berkembang di tengah masyarakat Kabupaten Sula. Ia juga menjelaskan, masyarakat Sula mayoritas Nahdliyin.

“Lebih dari sembilan puluh persen masyarakat Sula adalah muslim. Dan secara amaliah, adalah amaliah Nahdlatul Ulama,” jelas Haryono, yang juga Sekretaris PCNU di Kabupaten Sula.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ia menegaskan, silaturahmin ke NU Care-LAZISNU sebagai langkah awal untuk membentuk, menghadirkan, dan mengembangkan LAZISNU di Sula.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Ini adalah langkah awal kita, dan kita berkomitmen setelah pulang dari sini kita akan langsung membentuk kepengurusan LAZISNU. Kita ingin bisa memaksimalkan potensi pemberdayaan Nahdliyin di sana. Harapannya, ke depan para mustahiq yang ada di Sula bisa menjadi muzaki,” pungkasnya.

Ketua NU Care-LAZISNU Syamsul Huda menyambut baik silaturahmi Setda Pemkab Sula dan berharap ada manfaat yang bisa diambil dari LAZISNU oleh peserta Studi Banding dan Bimtek Manajemen ZIS.

“Ini adalah awal. Ini tugas kita bersama untuk memberdayakan ekonomi Nahdliyin, termasuk di Kepulauan Sula. Semoga dari kunjungan ada manfaat yang bisa diambil dari LAZISNU,” tutur Syamsul.

Bimbingan Teknis Manajemen ZIS diisi oleh beberapa manajer NU Care-LAZISNU, antara lain Manajer Administrasi dan Umum, Ahyad Alfida’i; Manajer Fundraising, Nur Rohman; dan Manajer Penyaluran dan Pendayagunaan, dan Slamet Tuharie. (Wahyu Noerhadi/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Aswaja, Quote Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 06 Februari 2018

NU Tak Pernah Absen Bela Pancasila dan NKRI

Jakarta,Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Anggota DPR RI Zainut Tauhid Saadi mengatakan, dalam perjalanan sejarah negara ini, Nahdlatul Ulama tidak pernah absen di dalam membela dan mempertahankan NKRI dan Pancasila.

NU Tak Pernah Absen Bela Pancasila dan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Tak Pernah Absen Bela Pancasila dan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Tak Pernah Absen Bela Pancasila dan NKRI

Hal itu, menurut politikus Partai Persatuan Pembangunan tersebut, karena pada proses kelahiran Pancasila, tokoh-tokoh NU terlibat di dalamnya. “Salah satu anggota tim 9 adalah putra Hadrotusy Syekh KH Hasyim Asy’ari, yaitu Wahid Hasyim,” katanya di gedung PBNU Kamis (16/6) pada sosialisasi empat pilar yang diselenggarakan Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama.

Lebih lanjut Ketua Umum Pimpinan Pusat IPNU dua periode 1988-1992 dan 1992-1996 tersebut menyebutkan, Indonesia membutuhka Pancasila sebagai alat perekat dan pemmersatu bangsa.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Menurut dia, Indonesia adalah negara besar yang memiliki sekitar 18 ribu pulau, ratusan bahasa, suku, 6 agama rsmi. “Artinya kemajemukan bangsa yang sedemikian rupa membutuhkan satu piranti untuk mepersatukan seluruh bangsa indonesia. Apa pirantinya?”

Itulah kemudian dirumuskan oleh para pendiri republik Indonesia yang disebut Pancasila. Nama tersebut dinamakan Bung Karno pada 1 Juni 1945. (Abdullah Alawi)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Daerah, Jadwal Kajian, Aswaja Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 29 Januari 2018

Dari Khittah 1926, ke Khittah 1945

Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama telah berlangsung pada 14-18 September 2012 yang lalu di Pondok Pesantren Kempek, Cirebon, yang didahului serangkaian kegiatan pramunas sejak Agustus di beberapa kota besar di Indonesia.

Munas-Konbes NU 2012 yang disiarkan cukup ramai oleh berbagai media massa, baik cetak maupun elektronik, telah menghasilkan banyak sekali rekomendasi dan telah ditanggapi positif oleh banyak kalangan, termasuk oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono.

Dari Khittah 1926, ke Khittah 1945 (Sumber Gambar : Nu Online)
Dari Khittah 1926, ke Khittah 1945 (Sumber Gambar : Nu Online)

Dari Khittah 1926, ke Khittah 1945

Munas NU kali ini agak berbeda. Jika dilihat materi pembahasannya, terutama dalam tiga komisi bahtsul masail diniyyah (pembahasan masalah keagamaan), hampir tidak ditemukan materi ubudiyah atau soal-soal ibadah ritual. Hanya ada satu pembahasan mengenai haji dalam komisi bahtsul masail diniyyah waqiyyah, itu pun tidak terkait ritual haji, namun pada soal dana talangan haji. Bukan berarti persoalan ibadah sudah tidak lagi muncul di tengah warga nahdliyin dan diajukan kepada para kiai untuk dibahas dalam Munas, namun ada kebutuhan mendesak untuk membahas beberapa hal (masail) penting terkait persoalan kebangsaan dalam forum nasional yang harus didahulukan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pada komisi bahtsul masail diniyyah waqi’iyyah, para kiai dan ahli fikih dari berbagai wilayah di Indonesia menyoroti praktik korupsi yang semakin merisaukan. Bahkan Munas 2012 itu memunculkan satu keputusan mengejutkan: NU merekomendasikan hukuman mati bagi koruptor kelas berat dan koruptor kambuhan. Munas juga merekomendasikan penguasaan atau perampasan aset negara yang telah dikorupsi meskipun pelakunya telah dihukum, atau bahkan telah meninggal dunia. Dalam kasus terakhir, pesan sesungguhnya diperuntukkan kepada para ahli waris. Bahwa harta korupsi akan menyulitkan orang tua atau saudara mereka dari tanggungan akhirat, serta harta hasil korupsi tidak akan berkah dan haram untuk diwariskan.

Bahtsul masail diniyyah waqi’iyyah juga memberikan rambu-rambu kepada para penyelenggara negara terkait cara pengelolaan kekayaan negara, agar mencapai sasaran yang tepat: kesejahteraan rakyat.

Tema besar pada Munas kali ini adalah “Kembali ke Khitah Indonesia 1945”. NU merasa prihatin dengan kondisi bangsa ini, terutama semenjak memasuki era reformasi. Persoalan pertama yang dibidik adalah amandemen UUD 1945. Satu sisi amandemen yang telah berlangsung empat kali itu menunjukkan Indonesia telah menunjukkan diri pada dunia sebagai negara yang demokratis. Namun karena dilakukan dengan sangat tergesa-gesa dan bahkan pada beberapa bagian dapat dikatakan responsif dan emosional terhadap rezim orde baru, maka dalam amandemen tersebut banyak terjadi  ketidakcermatan bahkan kesalahan. Akibatnya UUD yang dilahirkan merugikan rakyat dan membahayakan  kedaulatan nasional. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Amandemen yang berada di tangan rakyat itu diambil alih oleh sekelompok elite yang mewakili kepentingan kapitalisme global yang berideologi liberal. Berbagai pasal yang menegaskan aspirasi rakyat dan menjaga keutuhan bangsa dan negara diganti dengan pasal-pasal yang menguntungkan perusahaan asing di bawah bendera kapitalaisme global. Disyahkannya UU Sumber daya air, UU Migas, UU Minerba, UU perdesaan, UU Pangan dan lain sebagainya merupakan seperangkat hukum yang dikukuhkan untuk melindungi pemilik modal.

Komisi bahtsul masail diniyyah qonuniyyah, NU secara serius mengkaji kembali beberapa undang-undang yang tidak sejalur dengan Khittah Indonesia 1945. Dalam bahtsul masail khusus yang membahas persoalan undang-udang itu para kiai juga menyampaikan beberapa rekomendasi terkait undang-undang No 20/2003 tentang Sistem Pemdidikan Nasional dan UU No 2 /2012 tentang perguruan tinggi.

Banyak sekali persoalan negara yang dibahas secara serius oleh para kiai dari berbagai daerah dan disaksikan ribuan warga nahdliyin yang hadir di forum Munas-Konbes NU 2012. Isu “warning bagi pengelolaan pajak” hanyalah isu permukaan saja. Kritik dan masukan NU lebih mengarah kepada tata kelola kekayaan negara yang selama ini dinilai salah kelola. 

Terkait dengan Khitah 1945, tidak ada keputusan yang menyebutkan bahwa NU mengajak kembali ke UUD 1945. Setelah menengok beberapa produk undang-undang tidak menyejahterakan rakyat, secara serius NU mengajak kembali kepada segenap elemen bangsa untuk mencermati kembali undang-undang dasar produk reformasi. Jika diperlukan amandemen kembali, maka harus dilakukan secara cermat dan komprehensif, tidak hanya melayani kebutuhan sekelompok orang.

NU punya pengalaman besar terkait “khitah”. Pada tahun 1984, setelah menjalankan roda keorganisasian selama puluhan tahun, NU lalu memutuskan kembali ke khittah 1926, kembali ke jati diri NU seperti pada saat didirikan. Istilah “Khittah 1945” sebagai tema besar Munas-Konbes NU 2012 dipakai untuk mengingatkan bangsa ini agar kembali kepada semangat dan tujuan Indonesia merdeka, tahun 1945. Kembali ke khitah bukan langkah mundur, tapi langkah pasti untuk merumuskan masa depan yang lebih baik.

Secara formal Munas-Konbes NU 2012 telah berakhir. Namun beberapa keputusan dan rekomendasi NU akan terus berlanjut. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Aswaja, Pesantren, IMNU Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 25 Januari 2018

Mensos Tegaskan 100 Persen Penerima Bansos Dilakukan secara Non-Tunai

Sleman, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengungkapkan pada bulan Juni ? 2017 sebanyak 6 juta penerima Program Keluarga Harapan (PKH) akan menerima bantuan sosial secara non-tunai.?

Hal tersebut disampaikan Khofifah saat memantau proses pencairan tahap pertama PKH Non Tunai untuk Sleman di Pendopo Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sabtu (22/4).

Mensos Tegaskan 100 Persen Penerima Bansos Dilakukan secara Non-Tunai (Sumber Gambar : Nu Online)
Mensos Tegaskan 100 Persen Penerima Bansos Dilakukan secara Non-Tunai (Sumber Gambar : Nu Online)

Mensos Tegaskan 100 Persen Penerima Bansos Dilakukan secara Non-Tunai

"Pada awal 2017 sebanyak 3 juta KPM sudah menerima bansos non tunai, sisanya 3 juta KPM akan menerima non tunai mulai bulan Juni ? sehingga 100 persen penerima PKH sudah bisa mengambil uang bansos menggunakan buku tabugan atau ? Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) di agen bank dan e-warong," kata Mensos.

Mensos mengungkapkan, metode pencairan bansos non-tunai menggunakan buku tabungan serta KKS adalah upaya mengajak masyarakat untuk berkenalan dengan perbankan. ?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Melalui sistem penyaluran nontunai dengan menggunakan KKS, bansos dan subsidi akan langsung disalurkan ke rekening penerima manfaat.

"KKS ini dilengkapi dengan fitur saving account dan e-wallet dimana satu kartu dapat digunakan untuk berbagai program bansos dan subsidi. Seperti PKH, Bantuan Pangan, elpiji , listrik dan sebagainya," papar Mensos.?

Selanjutnya, penerima manfaat dapat bertransaksi dan mencairkan bansos di jaringan E-Warong KUBE PKH dan agen perbankan yang dikelola oleh masing-masing bank anggota HIMBARA (BNI 46, BTN, BRI, Bank Mandiri).?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pada Juni, lanjut Mensos, juga akan mulai dicairkan bansos PKH tahap kedua. Besarannya masih sama dengan tahap pertama yakni Rp500.000.?

"Bansos tahap kedua ini cair menjelang lebaran. Tapi saya minta uang PKH bukan untuk beli baju lebaran ya bu. Untuk keperluan sekolah dan beli makanan bergizi. Supaya anak-anak sehat dan cerdas," kata Mensos.?

Bantuan sosial untuk Sleman totalnya mencapai Rp188.080.914.400. Rinciannya untuk PKH non tunai Rp95.240.880.000 untuk 50.392 keluarga.?

Bantuan Beras Sejahtera (Rastra) sebesar Rp91.258.034.400 untuk 66.534 keluarga. Bantuan Sosial Disabilitas sebesar Rp702.000.000 untuk 234 jiwa, dan Bantuan Sosial Lanjut Usia sebesar Rp880.000.000 untuk 440 jiwa.?

Sehari sebelumnya, Jumat (21/4), Mensos juga membagikan bansos PKH Non-Tunai di Kabupaten Rembang.

Bantuan Sosial untuk Kabupaten Rembang Tahun 2017 total sebesar Rp134.952.566.400. Jumlah tersebut terdiri dari Program Keluarga Harapan (PKH) Non Tunai sebesar Rp38.964.240.000 untuk 20.616 keluarga. Bantuan Beras Sejahtera (Rastra) sebesar Rp95.880.326.400 untuk 69.904 keluarga. Bantuan Sosial Disabilitas sebesar Rp108.000.000 untuk 36 jiwa.?

"Tahun depan (2018) kita akan memasuki era dimana bansos PKH ? diberikan kepada 10 juta keluarga ? penerima manfaat. Untuk Rastra, akan diberikan secara non-tunai atau dialihkan ke Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) untuk 10 juta penerima manfaat. Jadi penerima PKH juga akan menerima BPNT," demikian Mensos. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan IMNU, Aswaja, Nahdlatul Ulama Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 17 Januari 2018

Ki Dalang Asep Sunandar Lakukan Ijtihad Pewayangan

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un, telah meninggal dunia dalang kondang wayang golek Ki Asep Sunandar Sunarya pada Senin, (31/3). Sebagaimana dilansir Pikiran Rakyat, ia meninggal di sebuah rumah sakit di Bandung, karena serangan jantung. ?

Ki Dalang Asep Sunandar Lakukan Ijtihad Pewayangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ki Dalang Asep Sunandar Lakukan Ijtihad Pewayangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ki Dalang Asep Sunandar Lakukan Ijtihad Pewayangan

Menurut peneliti di Lakpesdam NU Jawa Barat, Asep Salahudin, Asep Sunandar Sunarya atau akrab disapa Abah Asep, pada 10-15 tahun terakhir, tidak hanya berprofesi sebagai dalang murni, melainkan sebagai da’i. Profesinya yang utama sebagai dalang, tetap dilakukannya.

Dalam mementaskan wayang, Asep menilai, selain terampil menggerakkan boneka dengan dialog-dialog jenaka, Abah Asep juga menyampaikan pesan-pesan keislaman melalui tokoh-tokohnya. “Misalnya dalam dialog para punakawan, yaitu Semar dengan anak-anaknya.”

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Abah Asep, tambah Asep melalui saluran telpon pada Senin malam (31/3), mengingatkan kita pada Wali Songo yang melakukan dakwah dengan wayang.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Yang lebih menarik, kata Asep, pesan-pesan keagamaan yang disampakan Abah Asep bukan soal furu’iyah atau fiqih yang formal, melainkan ajaran Islam universal, misalnya ukhwah Islmiyah, kasih sayang, dan persaudaraan.

Ditanya apakah dakwah dengan wayang masih efektif, Asep Salahudin menjelaskan, bisa ya dan tidak. Menurut dia, setiap media itu memiliki segmennya masing-masing. “Wayang bisa jadi efektif bagi para orang tua.”

Tetapi mungkin tidak efektif bagi anak-anak yang baru lahir 10 tahun belakangan ini. Di samping itu, secara kewilayahan, wayang bisa efektif untuk kalangan pedesaan karena selama ini Abah Asep terbukti? banyak diundang manggung di wilayah itu, jarang di perkotaan.

Dalam dunia pedalangan, Abah Asep melakukan modifikasi dalam segi tema yang keluar dari cerita-cerita umum, juga modifikasi tokoh-tokohnya. “Ia telah berijtihad, melakukan modifikasi untuk mendekatkan wayang di dunia yang cepat berubah ini,” pungkas Asep Salahudin. (Abdullah Alawi) ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ubudiyah, Aswaja, Ulama Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 14 Januari 2018

Saifullah Yusuf: Saya Serahkan ke Presiden

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Menteri Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal Syaifullah Yusuf, yang akrab dipanggil Gus Ipul mengaku pasrah atas kembali mencuatnya isu perombakan kabinet (reshuffle) dan mengarah pada pergantian dirinya.

"Sekarang, saya serahkan ke pada Presiden. Biarkan Presiden yang menentukannya," kata Gus Ipul, seusai menghadiri acara peluncuran buku Ketua Mahkamah Konstitusi, Jimly Asshiddiqie berjudul "Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonesia Pasca Reformasi", di Hotel Santika Jakarta, Selasa malam.

Gus Ipul mengaku, selama ini dirinya telah bekerja dengan baik dan maksimal. Namun, karena alasan kementeriannya tidak terkenal seperti kementerian yang lain, maka dirinya menyadari hal tersebut.

Saifullah Yusuf: Saya Serahkan ke Presiden (Sumber Gambar : Nu Online)
Saifullah Yusuf: Saya Serahkan ke Presiden (Sumber Gambar : Nu Online)

Saifullah Yusuf: Saya Serahkan ke Presiden

Akibat belum familiarnya nama kementeriannya, menjadi salah satu faktor kinerja tidak banyak diketahui oleh masyarakat luas. "Tapi sampai sekarang, Presiden belum mengatakan soal reshuffle kepada saya," katanya.

Sementara itu, dalam kesempatan sama, Komisi VI DPR dari Fraksi Kebangkitan Bangsa Cecep Syarifuddin mengatakan, reshuffle harus dilakukan. Namun, hal itu, kembali kepada hak prerogatif Presiden. Cecep menegaskan, PKB tidak akan mengusung menteri untuk ikut masuk dalam kancah isu reshuffle.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Disinggung mengenai nasib Gus Ipul, Cecep hanya mengatakan, hal itu yang menentukan adalah Presiden. "Presiden yang mempunyai penilaian mengenai hal itu," demikian Cecep.

Sebelumnya, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, mencopot Saifullah Yusuf dari Kabinet Indonesia Bersatu (KIB), karena Saifullah Yusuf yang diakrab disapa Gus Ipul tersebut, sudah resmi duduk dalam struktur kepengurusan PPP sebagai wakil ketua Majelis Pertimbangan Partai.

Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar mengatakan, permintaan itu sudah menjadi sikap resmi PKB dan sudah disampaikan kepada Presiden. (ant/mad)



Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Aswaja, AlaSantri, Olahraga Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

MTs Aswaja Pontianak Aktifkan PKS dan UKS

Pontianak, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Dua program kerja madrasah bergulir di MTs Aswaja Pontianak, Kalimantan Barat, dalam rangka pembinaan potensi siswa. Jika sebelumnya para pelajar di madrasah tsanawiyah ini dikenalkan dengan kegiatan ekstrakurikuler Pramuka, Club Puisi, Ekstra Tari dan Qasidah, maka untuk semester ini dua aktivitas ekstra lain melengkapinya, yakni PKS dan UKS.

MTs Aswaja Pontianak Aktifkan PKS dan UKS (Sumber Gambar : Nu Online)
MTs Aswaja Pontianak Aktifkan PKS dan UKS (Sumber Gambar : Nu Online)

MTs Aswaja Pontianak Aktifkan PKS dan UKS

PKS dalam hal ini adalah singkatan dari Patroli Keamanan Sekolah, sedangkan UKS merupakan kependekan dari Usaha Kesehatan Sekolah. Kedua kegiatan ekstrakurikuler tersebut telah berjalan sejak Januari 2015 dan terus mematangkan diri.

PKS aktif di bawah bimbingan Waka Kesiswaan MTs Aswaja Dasta Hariansyah. Sesuai dengan kepanjangannya, PKS bertugas membantu keamanan lalu lintas siswa MTs Aswaja dan pengguna jalan lainnya saat jam masuk sekolah di depan madrasah setempat. Kegiatan serupa juga dilaksanakan pada jam shalat dhuhur dan pulang sekolah.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Siswa yang tergabung dalam PKS ini adalah beberapa siswa yang pernah mengikuti kegiatan Polmas (Polisi Masyarakat) Pelajar yang diadakan Poltabes Kota Pontianak beberapa waktu lalu.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sementara untuk UKS, di bawah koordinator Amriana beberapa kali mengadakan kerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Pontianak, dalam hal ini Puskesmas Pal Lima. Di antara kegiatan yang dilakukan dalam kerja sama ini adalah pengukuran tinggi badan, pengecekan kesehatan gigi, penyuluhan dan sebagainya.

“PKS dan UKS ini sangat besar artinya dalam proses pembelajaran warga madrasah. Dan tentunya memberikan pengalaman tersendiri bagi siswa. Dan yang pasti adalah adanya ekskul ini akan semakin memperkuat database sebagai penilaian madrasah atau akreditasi ke depan. Jaya PKS, Jaya UKS, Jaya Aswaja,” ujar Kepala MTs Aswaja, Sholihin HZ, Kamis (26/2). (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan AlaSantri, Aswaja, Kiai Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 13 Januari 2018

Segera Hukum Mati Koruptor dan Gembong Narkoba!

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. 13 organisasi kemasyarakatan yang tergabung dalam Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) menyerukan desakan ke Pemerintah untuk memberlakukan hukuman mati kepada koruptor dan gembong narkoba. Korupsi dan peredaran narkoba dinilai sebagai kejahatan berat yang sejauh ini tidak ditindak secara tegas.

"Hukuman yang selama ini diberikan, kami nilai masih sangat ringan. Korupsi yang membangkrutkan negara dan gembong narkoba harus dihukum mati," ungkap Ketua Umum LPOI KH Said Aqil Siroj di Jakarta, Jumat (1/2).

Segera Hukum Mati Koruptor dan Gembong Narkoba! (Sumber Gambar : Nu Online)
Segera Hukum Mati Koruptor dan Gembong Narkoba! (Sumber Gambar : Nu Online)

Segera Hukum Mati Koruptor dan Gembong Narkoba!

LPOI beranggotakan 13 Ormas, masing-masing Nahdlatul Ulama, Persis, Al Irsyad Al Islamiyah, Matlaul Anwar, Ittihadiyah, Al Wasliyah, Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti), IKADI, Dewan Dakwah Islamiyah, Arrabithah Al Alawiyah, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia, Azikra, dan Syarikat Islam Indonesia.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kiai Said yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menambahkan, LPOI juga mendesak penyegeraan pelaksanaan hukuman mati yang sudah divonis oleh pengadilan.

"Kami tahu pemberian grasi adalah hak Presiden. Tapi kami mohon Presiden bijak. Untuk terpidan yang sudah divonis, segera eksekusi, jangan ditunda-tunda agar kesempatan mendapatkan keringanan hukuman tidak ada," tambah Kiai Said.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selain penanganan korupsi dan peredaran narkoba, di kesempatan yang sama LPOI juga mendesak Pemerintah untuk serius dalam perang melawan terorisme.

"Kemendagri kami minta membubarkan Ormas yang keberadaannya jelas-jelas merongrong Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Sementara yayasan dari luar negeri yang terindikasi menjadi donatur Ormas bermasalah, itu juga harus ditindak tegas," pungkas Kiai Said.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Samsul Hadi

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Aswaja Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 05 Januari 2018

“Khazanah Aswaja” Tak Sesatkan di Luar NU

Jombang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dalam rangka menyongsong Konferensi Cabang (Konfercab) Nahdhatul Ulama (NU) Jombang 22-23 April 2017 mendatang, Pimpinan Cabang (PC) Persatuan Guru Nahdhatul Ulama (Pergunu) Jombang menggelar bedah buku Khazanah Aswaja, Ahad (15/17) di aula kantor Muslimat NU Jombang.

Kegiatan bertema Penguatan Pemahaman Islam Rahmatan Lil Alamin, dipimpin Direktur Aswaja Center Pegurus Wilayah Nahdhatul Ulama (PWNU) Jawa Timur KH Abdurrahman Navis dan dimoderatori Direktur Aswaja NU Center Jombang Yusuf Suharto. Keduanya adalah tim penulis buku yang dibedah dari beberapa tim yang lain.

“Khazanah Aswaja” Tak Sesatkan di Luar NU (Sumber Gambar : Nu Online)
“Khazanah Aswaja” Tak Sesatkan di Luar NU (Sumber Gambar : Nu Online)

“Khazanah Aswaja” Tak Sesatkan di Luar NU

KH Abdurrahman Navis saat memulai materinya terlebih dahulu menjelaskan awal mula lahirnya Aswaja. Menurutnya dengan mengutip beberapa literatur yang dimiliki, bahwa sejumlah ajaran Aswaja sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW, namun penamaannya baru sejak abad ke-3 Hijriyah oleh Abu Hasan Al Asyari.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Namun, ia tak menafikan, soal pengetahuan terkait Aswaja baik dari kesejarahan maupun ajaran-ajarannya, Jombang adalah markasnya. "Sebenarnya kalau kita berbicara Aswaja, markasnya itu di Jombang," katanya di hadapan peserta dan tamu undangan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Lebih fokus Kiai Navis sapaan akrabnya menuturkan buku Khazanah Aswaja sendiri memuat enam bab, rinciannya bab pertama menjelaskan tentang konsep Aswaja, bab kedua menerangkan akidah dan landasan teoritik Aswaja, kemudian bab ketiga terkait fiqih Aswaja, bab keempat mengupas tasawuf Aswaja, bab kelima aliran-aliran di luar Aswaja dan NU, dan bab terakhir Aswaja an-Nahdhiyah atau ke-NUan.

Meski dalam buku itu memuat aliran-aliran di luar Aswaja, kata Kiai Navis, hingga kelompok yang sekarang sedang gencar di permukaan seperti FPI dan kelompok yang lain, tapi tidak sampai pada klaim salah atau benarnya suatu kelompok tersebut. "Dalam buku ini, kami tidak menyesatkan kelompok-kelompok selain Ahlussunnah NU, tapi kami menjelaskan apa kelompok itu, siapa tokohnya dan bagaimana pemikiran firkahnya," Jelasnya.

Kiai Navis juga mengajak seluruh peserta bedah buku untuk lebih memahami sejumlah kelompok atau firqoh di luar Aswaja. Pasalnya, sebagian warga nahdhiyin pun saat ini ada yang merangkap menjadi pengurus kelompok-kelompok tertentu di luar NU.

"Ya dalil dan amaliahnya itu Aswaja, Cuma bedanya dengan NU, mereka lebih banyak nahi Munkarnya dari pada amar marufnya," tambahnya.

Sebelumnya, kegiatan ini dibuka oleh Wakil Bupati Jombang, Nyai Hj Munjidah Wahab yang sekaligus sebagai Ketua PC Muslimat NU di Kota Santri ini.

Hadir pada kesempatan itu Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang (PC) Nahdhatul Ulama (NU), KH Isrofil Amar dan beberapa jajaran pengurus yang lain, Ketua PC Pergunu Ahmad Faqih, beberapa PC Muslimat NU serta sejumlah peserta bedah buku. (Syamsul Arifin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Aswaja Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 04 Januari 2018

Kiai Wasid

Matanya nanar, seakan ada rembulan menggantung di sana. Usianya sudah lengkap dengan asam garam kehidupan. Warna rambutnya hanya ada dua, hitam dan putih, berpadu seperti yin dan yang, terbungkus serban putih kesayangannya.

Usianya memang senja, tapi jika ia berjalan langkahnya masih gagah tegap meskipun ia tak pernah mengenyam pendidikan militer. Lelaki tua itu duduk bersila sambil menatap sekeliling ruang kosong. Sebuah bangunan gelap yang mungkin usianya jauh lebih renta dari usianya. Secercah cahaya lurus menerobos ruangan itu, tampak asap putih mengepul dari corong mulutnya, sesekali ia hisap kepenatan dalam batinnya. Tampak ada rasa kekhawatiran di matanya, kekhawatiran tentang sebuah musim di mana hanya sedikit orang-orang yang mau mengerti tentang arti kehidupan, tentang Tuhan, tentang keyakinan, perjuangan, hak kemanusiaan di ruang-ruang saksi sejarah yang bisu yang semakin tersudut di pinggir desa-desa yang dijajah lahir dan batinnya.

Kiai Wasid (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Wasid (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Wasid

Sudah satu minggu lamanya Kiai Wasid mendekam dalam jeruji besi sejak ia ditangkap oleh pemerintah Belanda. Kiai Wasid dianggap bersalah karena telah berbuat onar menebang pohon Kepuh besar yang akhir-akhir ini disembah oleh warga penduduk desa Lebak Kepala Banten.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Suatu malam Kiai Wasid beserta murid-muridnya sengaja mendatangi Kepuh dan menebangnya. Kiai Wasid memang sudah lama gerah melihat tingkah laku para rakyat yang mengganggap pohon besar itu sebagai keramat. Sudah sering Kiai Wasid memberi peringatan bahwa apa yang dilakukan oleh penduduk desa ini adalah perbuatan musyrik. Namun tidak digubris. Para penduduk desa menganggap Kepuh dapat menghilangkan bencana dan mengabulkan apa yang mereka pinta asal saja memberikan sasajen kepada pohon.

“Percaya kepada selain Allah Subhanahu wata’ala adalah syirik! Musyrik! Laknatullah!” teriak Kiai Wasid.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Berkali-kali Kiai Wasid memperingatkan penduduk, tapi imbauannya tidak diindahkan sama sekali. Kiai Wasid yang tidak dapat membiarkan kebodohan di depan matanya. Dengan beberapa orang muridnya ditebangnya pohon berhala itu pada malam hari.

Kiai Wasid memang sangat tegas dalam urusan akidah. Hal ini juga ia ajarkan kepada murid-muridnya di pesantrennya di kampung Beji Cilegon. Dulu waktu Kiai Wasid berguru kepada Syekh Nawawi Al Bantani, Kiai Wasid sering bertanya tentang hakikat tauhid gusti Allah.

“Kanjeng Kiai, sedekat apakah Gusti Allah dengan kita?” Tanya Kiai Wasid kepada Syekh Nawawi.

“Dekat atau tidaknya Gusti Allah itu kita sendiri yang menentukan. Gusti Allah bisa dekat, bisa juga jauh. Ibarat cahaya lilin.” Jawab Kiai Nawawi. Kiai Wasid tertegun.

“Lalu, Siapakah Gusti Allah? Siapakah kita, Kiai?” Kiai Wasid kembali bertanya.

“Gusti Allah adalah cahaya, dan kita semua adalah bayangannya.” Jawab Syekh Nawawi.

Bagi Kiai Wasid, itu adalah jawaban yang sangat berarti dalam hidupnya. Kiai Wasid memang sangat takzim kepada Syekh Nawawi. Sepanjang hidupnya Syekh Nawawi tak henti-hentinya mengajarkan tiga pokok ajaran dalam Islam. Yaitu Ketauhidan, Fikih, dan juga Tasawuf. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Ajatan ketauhidan akan keesaan Allah subhanhu wata’ala yang diajarkan Syekh NAwawi membawa Kiai Wasid dan juga teman seperjuangannya seperti Haji Abdurahman, Haji Akib, Haji Haris, Haji Arsad Thawil, Haji Arsad Qashir dan Haji Ismail melanjutkan syiarkan agama Allah ke seluruh wilayah Banten. Bagi Kiai Wasid, perbuatan yang menyekutukan Allah adalah dosa yang sangat besar. Itulah sebabnya Kiai Wasid sangat benci sekali dengan orang yang lebih percaya pada benda mati seperti Kepuh dibandingkan kepada Allah.

“Allahu Akbar.. Allahu Akbar..” Teriak Kiai Wasid dan para muridnya. Kepuh tumbang. Warga desa lari tunggang-langgang. Beberapa dari mereka melapor kepada tentara Belanda. Tidak lama kemudian Kiai Wasid ditangkap pemerintah Belanda.

Kiai Wasid ditangkap dan dijebloskan ke penjara lantaran ada laporan warga tentang perbuatannya menebang pohon keramat Kepuh. Saat di dalam penjara sebelum Kiai Wasid diadili, seorang asisten Residen bernama Goebels mendatangi tempat Kiai Wasid ditahan.

“Tuan, harus bertanggung jawab penuh atas keonaran yang tuan perbuat.” Ucap sang asisten dari balik jeruji besi.

“Menara langgar bale tuan juga kami dirubuhkan! Itu peraturan yang sudah kami edarkan.” Kiai Wasid terkaget. Kiai Wasid semakin geram.

“Tuan Wasid! Sesuai dengan aturan hukum pemerintah, nanti tuan akan didakwa bersalah karena telah mengganggu ketertiban warga desa!” lanjut Goebels.

“Atas dasar apa bapak sekalian menuntut saya yang hendak menghancurkan kebodohan? Kemusyrikan?” Jawab Kiai Wasid. Goebels cukup kaget mendengar perkataan Kiai Wasid.

“Apakah kiranya saya yang begitu mencintai saudara sedarah saya berdiam diri saat mereka terjebak dalam kebodohan menyembah sebatang pohon yang tak berdaya?” lanjut Kiai Wasid.

“Itu adalah hak manusia, tuan.” Ucap Goebels.

“Menyelematkan saudara kami seiman adalah hak juga! Apakah itu salah tuan?” kata Kiai Wasid.

“Tuan, kamu orang salah karna melanggar ketenangan orang?” Goebels balik membalas.

“Siapa yang merasa tidak tenang tuan? Hah? Tolong tuan panggil! Siapa?”

“Kalau menebang pohon demi menyelamatkan saudara kami dari kemusyrikan itu dianggap salah, apakah merubuhkan rumah ibadah kami bukan kesalahan?” Tanya Kiai Wasid.

“Menara kamu punya rumah ibadah itu mengganggu ketenangan masyarakat! karena kerasnya suara, apalagi waktu azan shalat subuh. Tuhan tidak tuli, tuan!” kata Goebels.

“Membiarkan saudara kami menyembah pohon itu lebih mengganggu ketenangan kami tuan, ketenangan hati. Ketenangan iman kami!” teriak Kiai Wasid.

“Tuan Wasid, apakah tuan sadar apa yang tuan perbuat ini adalah keonaran? Pemberontakan kepada pemerintah? Goebels bergerak mendekati Kiai Wasid. Kiai Wasid tersenyum kecut.

“Tuan, apakah yang tuan maksud dengan pemerintahan?”

“Apakah yang tuan maksud pemerintahan itu yang membiarkan kelaparan dan wabah penyakit menimpa kami? Apakah saat hujan tidak turun selama dua tahun lamanya pemerintah ini peduli pada penduduk?” lanjut Kiai Wasid. Dua sipir yang beringasan berangsur ke sisi Goebels. Tapi Goebels memberi isyarat untuk meninggalkan mereka berdua. Dua sipir secepatnya keluar.

 “Tuan, desa-desa kami kering kerontang. Tidak ada tanaman yang tumbuh. Air sulit didapat. Apakah tuan tahu? Lalu Apa yang bisa kami tanam? Sedangkan pemerintah tuan terus menarik upeti kepada kami?”

“Upeti yang kami kumpulkan, itu semua untuk kesejahteraan rakyat! Tuan ini harusnya tahu?” balas Goebels.

“Kesejahteraan yang mana? Apakah hidup kelaparan dan penuh sengsara adalah kesejahteraan?” sambar Kiai Wasid.

“Tanah kami kering. Seperti iman kami.” Tiba-tiba hening. Seperti ada bongkahan angkuh yang luluh di hati Goebels.

“Lanjutkan, Tuan Wasid,” ucap Goebels.

“Di pasar-pasar hampir setiap hari kami menemukan bayi yang mati ditinggalkan ibunya. Apakah pemerintah tuan tahu? Tuan, apakah tuan tahu puluhan ribu dari kami mati karena penyakit sampar yang berkepanjangan?

“Desa kami seakan mati ditinggalkan penghuninya. Banyak ibu tidak dapat menyusui anaknya dan banyak anak-anak kami mati kelaparan, apakah pemerintah tuan tahu?

“Lalu apakah salah kalau kami meratap, berdoa dan berzikir kepada Gusti kami saat kami tak boleh merapat kepada pemerintahan ini?”

“Tuan, apakah tuan masih ingat kesediahan kami karena sang Krakatau meletus? Ribuan jiwa saudara kami mati. Apakah yang dilakukan pemerintahan tuan? Tidak ada bukan?”

“Pemerintah tuan bukan menolong kami, tapi malah pajak kepada kami diperbesar? Kami harus kerja Pancen dan kerja Rodi di luar kewajaran! Maka, tuan, itulah sebabnya banyak saudara kami menjadi putus asa dan kembali percaya kepada dukun dan benda benda yang dianggap keramat dari pada mohon pertolongan Allah, Gusti kami.”

“Cukup, Tuan!” potong Goebels.

“Sepertinya penjelasan tuan ini sudahlah cukup. Terima kasih, tuan.” Lanjut Goebels.

“Sipir!” teriak Goebels. Lalu ia berlalu saat kedua sipir datang.

“Renungkanlah tuan! Pakai hati tuan!” Teriak Kiai Wasid. Goebels berlalu. Seperti ada sebongkah rasa dari balik matanya. Mungkin ia merasa ada sesuatu yang menohok hatinya. Namun entahlah. Hati orang siapa yang tahu?”

Hari ini tanggal 18 November 1887, Kiai Wasid dijadwalkan akan diadili. Gerak riuh penduduk desa berdatangan. Mereka berdesakan demi melihat sang Kiai yang sedang diadili. Tampak pula beberapa tentara Belanda berjaga. Teriakan “Allahu Akbar” menggema dari barisan belakang sekelompok orang. Kiai Wasid dibawa masuk oleh dua orang tentara bersenjata. Langkahnya tagap seakan apa pun diterjang. Riuh suara penduduk desa semakin bergemuruh.

Atas kesalahannya, Kiai Wasid akhirnya didenda 750 Gulden. Tuntutan jaksa yang sebelumnya ingin memvonis berat Kiai Wasid menjadi ringan karena mendapat pesan dari asisten Residen. Ia merasa apa yang dijelaskan Kiai Wasid tentang keadaan rakyat Banten cukup membuatnya tersadarkan. Kiai Wasid dibebaskan, namun Belanda terus mengawasi gerak-geriknya. Sejak peradilan Kiai Wasid, Belanda semakin mencekik para penduduk desa. Belanda mengeluarkan surat edaran yang isinya supaya shalawat, tarhim, dan azan jangan dilakukan dengan suara keras. Entah apa maksud surat larangan ini, yang jelas Belanda ingin mempersempit ruang gerak umat Isam untuk melakukan aktivitas-aktivitas perkumpulan.

Sejak peristiwa dilepaskannya Kiai Wasid, keadaan justru semakin mencekam. Penduduk desa semakin terombang-ambing atas kebijakan pemerintahan Belanda yang terus menaikkan pajak. Keadaan ini membuat Kiai Wasid bersama-sama dengan para ulama pemangku agama di daerah Banten seperti Haji Abdul Karim, Haji Tubagus Ismail, dan Haji Marzuki, kembali menjalankan misi syiar Islam dan perjuangan melawan penjajah di langgar-langgar, pesantren-pesantrean. Kiai Wasid dan para ulama lainnya terus menanamkan semangat jihad menentang penjajah.

Semangat perjuangan penduduk Banten kembali berkobar, sejak 4 Februari sampai 13 Maret 1888, para ulama dan penduduk desa mengadakan beberapa pertemuan yang intinya merencanakan strategi untuk melawan pemerintahan Belanda. Setelah melakukan beberapa pertemuan maka para ulama dan penduduk desa memutuskan untuk melakukan penyerangan. Hari sebelumnya para penduduk desa mengadakan arak-arakan sambil meneriakan takbir dan kasidahan arak-arakan dimulai dari rumah Haji Akhiya di Jombang Wetan dan berakhir di rumah Haji Tubagus Kusen, penghulu Cilegon. Para kiyai dan murid murid mereka memakai pakaian serba putih dengan ikat kepala dan kain putih pula sambil membawa pedang dan tombak.

Rombongan para kiai dan warga Banten pada malam hari bergerak dari Cibeber ke arah Saneja dipimpin langsung oleh Kiai Wasid dan Haji Tubagus Ismail tempat ini kemudian dijadikan sebagai pusat penyerangan oleh Kiai Wasid dan pengikutnya. Peristiwa itu kemudian dikenal dengan “Geger Cilegon”. Peristiwa perjuangan tumpah darah rakyat Banten dalam mengusir penjajahan Belanda. Peristiwa yang membuat penjajah Belanda kocar-kacir ketakutan. Dan peristiwa yang membawa ruh Kiai Wasid yang gugur syahid di medan perang menuju ribaan Allah Azza Wa Jalla.

Ciracas 31 Des 2012

Hijrah Ahmad, editor, Alumni Buntet Pesantren Cirebon.

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Aswaja, Internasional, Warta Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 31 Desember 2017

Lesbumi NU Miliki Potensi Kembangkan Film

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Lembaga Seniman dan Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi NU) lahir dan besar oleh orang-orang yang bergerak dalam dunia film seperti Usmar Ismail, Asrul Sani dan Djamaluddin Malik.



Lesbumi NU Miliki Potensi Kembangkan Film (Sumber Gambar : Nu Online)
Lesbumi NU Miliki Potensi Kembangkan Film (Sumber Gambar : Nu Online)

Lesbumi NU Miliki Potensi Kembangkan Film

Aspek kebesaran sejarah dan potensi jaringan serta besarnya jumlah warga NU ini bisa menjadi menjadi modal untuk membangkitkan kembali film Indonesia yang sesuai dengan visi dan nilai ke-NU-an.

Hal ini disampaikan oleh Alek Komang, aktor senior Indonesia, yang juga pengurus Lesbumi NU dalam diskusi di redaksi Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan baru-baru ini.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“NU kaya, dalam pengertian, cabang-cabang ini tersebar dimana-mana, modalnya bukan hanya di satu orang. Ini kekuatan yang ngak bisa dipungkiri. Saatnya kita memberi harga dengan benar supaya lebih bermanfaat kekuatan ini,” katanya.

Upaya produksi dan penyebaran film-film karya Lesbumi, bisa dilakukan oleh komunitas NU, bekerjasama dengan komunitas perfilman yang banyak bertebaran di Indonesia. Kantor-kantor NU di berbagai daerah bisa dimanfaatkan untuk acara nonton bareng sekaligus diskusi.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ia sangat yakin akan potensi itu, karena dalam berbagai kunjungannya ke daerah untuk menghadiri workshop perfilman, masyarakat sangat antusias mengikutinya. Sekitar 200-an orang bisa hadir dalam setiap acara.

“Saya punya satu pemikiran, kenapa film tidak dihidupkan dengan gaya berbeda. Selagi kita punya MWC, bisa menjadi biokosp studi. Menjadi forum untuk anak muda, untuk nonton film bersama, bayar, tapi yang jelas tidak seperti Cineplex. Sekarang dengan era digital, bisa lebih efisien, lebih gampang,” tandasnya.

Ia juga tak khawatir akan para pembuat film yang siap bekerjasama dengan NU yang dari Jakarta maupun yang dari daerah. Semuanya memiliki potensi untuk berkembang. Indonesia ngak perlu dikhawatirkan tentang adanya boikot film asing. Semuanya bisa dimulai dengan potensi yang ada sekarang.

“Yang ingin saya sampaikan disini, kita mestinya punya potensi yang sangat besar untuk bisa mandiri. Saya bisa memproduksi, pasarnya disini, marketnya disini. NU nantinya harus membentuk dewan kurator, film seperti apa yang sesuai,” tandasnya.

Alek yang juga aktif di Teater Populer ini menuturkan, runtuhnya perfilman Indonesia salah satunya disebabkan oleh persaingan bisnis, yang lebih mengutamakan produksi film asing sehingga karya-karya sineas Indonesia kurang mendapat tempat. Produksi film dapat mencapai break event point atau balik modal ketika ditonton oleh 400 ribu orang, dan bagi NU, jumlah tersebut bukanlah hal yang besar. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Aswaja Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 29 Desember 2017

Manuver Politik dan Autentisitas Ramadhan Perspektif Maqashid Syariah

Oleh Nasrulloh Afandi



Ramadhan akan segera tiba, saya menemukan kliping tulisan berkualitas “Tuhan Itu Sama”, oleh Dr Mahfud MD” (Koran Sindo. Ramadhan,13/07/2013). Guru besar konstiusi itu menyatakan "Keberatannya jika aktivitas politik selama Ramadhan ditunda, karena politik juga bisa menjadi ibadah". Opini tersebut betul, namun kurang mengena. Ia sepihak dengan tidak melihat aspek-aspek lain yang berkaitan dengan autentisitas ibadah.?

Manuver Politik dan Autentisitas Ramadhan Perspektif Maqashid Syariah (Sumber Gambar : Nu Online)
Manuver Politik dan Autentisitas Ramadhan Perspektif Maqashid Syariah (Sumber Gambar : Nu Online)

Manuver Politik dan Autentisitas Ramadhan Perspektif Maqashid Syariah

Mengacu pada orientasi dan autentisitas ibadah, merespons opini tersebut, saya tertarik untuk menganalisa perspektif maqashid syariah, perlu disampaikan beberapa ulasan berikut:?

Pertama: Ramadhan Momentum Politik

Untuk pengantar wawasan, kita menengok Ramadhan pada zaman Nabi Muhammad SAW. Memang selain momentum diturunkanya Al-Qur’an, juga terjadi banyak tragedi-tragedi politik berskala besar, tidak hanya sebatas manuver di atas meja diplomasi, ? tetapi politik fisik, bahkan pertumpahan darah di medan peperangan.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Perang Badar adalah tragedi politik paling besar yang terjadi di bulan Ramadhan pada jaman Nabi Muhammad, juga penaklukan kota Makkah. Termasuk persiapan perang Chondaq terjadi saat Ramadhan meskipun perangnya meletus pada bulan Syawal, selepas Ramadhan. Dan masih banyak berbagai peristiwa politik, di bulan yang umat Nabi Muhammad SAW sekarang ini diperintahkan untuk selalu menahan diri dan bersabar ini.?

Kenapa berperang di bulan Ramadhan? Hal perlu ditekankan adalah, di masa itu, meski di bulan Ramadhan, bermusuhan antara orang Mukmin pendukung Nabi Muhammad SAW, dan orang-orang kafir (harbi) yang membabi buta memusuhi dan ingin membinasakan Islam. Jadi ? adalah kewajiban orang Islam melakukan perlawanan.?

Untuk tepat sasaran dalam mengkaji tragedi tersebut, kita analisis opini Imam Asy-Syatibi, sang bapak maqhosid syariah, dalam kitab al-Muwafaqot, magnum opus-nya. Hal itu adalah bagian dari dhorurotu al-khoms (lima asas pokok yang wajib dipertahankan); pertama, hifduzu ad-din (menjaga agama) kedua; hifdzu an-nafs (menjaga jiwa) ketiga; hifdzu an-nasl (menjaga nasab) keempat; hifdzu aql (menjaga akal) kelima; hifdzu al-mal (menjaga harta)?

Alhasil, terkait tragedi peperangan di masa Nabi Muhamad tersebut, terdapat dua unsur yang mewajibkan berperang meskipun saat bulan Ramadhan. Pertama, hifduzu ad-din (menjaga agama) dan kedua; hifdzu an-nafs (menjaga jiwa).?

Kedua: Bagaimana Politik dan Ramadhan Sekarang?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Bagaimana politik di Indonesia sekarang? Relevansinya dengan politik sekarang dalam konteks keutamaan puasa Ramadhan. Untuk di Indonesia, publik pun paham, para politisi dominan memperebutkan kekuasaan untuk kepentingan pribadi dan keluarga masing-masing, maksimal hanya untuk golongannya. Juga berhadapan dengan sama-sama orang Islam, sama-sama sedang berpuasa Ramadhan pula.?

Perspektif fikih, para perebut kekuasaan pun di negeri ini, mayoritas –dimaksud tidak semuanya— saat bermain di gelanggang melanggar norma agama, identik dengan “jurus busuk”, ? janji-janji palsu, kebohongan publik, bahkan mayoritas mengamalkan jurus machiavellianisme alias politik menghalalkan segala cara, meski ada yang jujur tapi sangat sedikit. Kasusnya rawan dengan faktor-faktor yang menggerogoti kualitas dan autentisitas ibadah (puasa) seperti menggunjing, bersilat lidah, berburuk sangka, dan lainnya, tak jarang pula yang secara langsung bermain fisik, atau sebatas mengerahkan masa untuk bermain fisik. Kondisi semacam itu, jelas tidak mendukung untuk bisa meraih kesempurnaan beribadah puasa.?

Analisis ilmu mantiq: ”Di tengah kobaran api akan terbakar”. Sang aktor politisi yang amanah, jujur dan bijaksana pun, ketika sedang bermain di gelanggang, gempuran manuver lawan–lawannya, sering mengakibatkan “si jujur” terpancing dan membuatnya mengadakan serangan balik dengan cara “kasar” pula.?

Di sinilah akar masalahnya. Atau meminjam opini Syeikh Ahmad Muhammad Az-Zarqo, dalam kitab kaidah fikihnya: daf ‘u al-mafasid aula min jalbi al-masholich (menjauhi sesuatu yang berakibat kerusakan itu lebih didahulukan, daripada melakukan sesuatu yang akan mengakibatkan kebaikan).

Efek negatif berpolitik saat puasa Ramadhan sudah sangat jelas, sementara kebaikan berpolitik (saat Ramadhan) masih belum tentu, atau dalam istilah maqashid syariahnya, kebaikan dalam berpolitik saat berpuasa Ramadhan itu hanya sebatas asumsi (maqashid al- wahmiyah). ?

Jadi, alangkah lebih baiknya, untuk menggapai nilai autentisitas berpuasa, sementara politik dikurangi, atau dihentikan sementara, mengingat kurang sehatnya iklim politik yang (sedang) berjalan di Indonesia. Rehat sejenak (meski hanya satu bulan dalam setahun sekali) untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Dan kembali bisa leluasa untuk berlaga di medan politik pasca Idul Fitri nanti, dengan hati dan pikiran lebih Islami untuk bekal bermanuver di lahan “perjuangannya” itu.?

Ketiga: Manuver Politik dan Orientasi Ibadah

Sekecil apa pun unsur yang bertujuan untuk kebaikan, entah ucapan, tulisan dan lainya -- termasuk berpolitik-- maka sangat di anjurkan oleh agama (Islam) kapan dan dimanapun, apalagi di bulan Ramadhan ini dilipatgandakan pahalanya. Setiap perbuatan kebaikan adalah bagian dari ibadah. Dan tentu bukanlah ibadah jika “kebaikan” itu hanya politis, apalagi sebagai klaim belaka.?

Bagi sebagian golongan, politik adalah pekerjaan tetap, ladang mencari nafkah keluarga, hal itu memang sah-sah saja. Bahkan menjadi kewajiban bagi kepala keluarga yang memang berprofesi (mencari nafkah) di medan tersebut, selagi tidak melanggar norma islami (agama) dan konstitusi negara. Di sisi lain, setiap kebijakan pemerintah (yang sedang memimpin) untuk merealisasikannya, tentu tidak bisa lepas dari strategi dan pandangan politis, contoh kecil mau menaikkan harga BBM.?

Namun perlu diingat. Di bulan Ramadhan ini, frekuensi ibadah harus lebih banyak dibandingkan urusan lainnya. Memang tidak ada salahnya jika di bulan Ramadhan tetap beraktivitas politik secara aktif. Demi memperjuangkan kepentingan publik atau dalam maqashid syariah-nya disebut al- maslahath al- ammah (kepentingan publik) dengan catatan; jika memang yakin bahwa Ia akan mampu menyelamatkan kualitas puasanya saat bermanuver di medan berpolitis.?

Politik dalam Islam sangat dianjurkan, tetapi opini Imam al-Ghozali dalam Ihya Ulumuddin-nya, hukumnya tidak sampai pada fardu ’ain (kewajiban bagi setiap orang) paling banter sampai pada posisi fardu kifayah (cukup diwakili oleh sebagian orang) maka sudah menggugurkan kewajiban orang lainnya. Itu pun dalam tinjaun ushul fikh, masih perlu melihat I’lath (latar belakangnya) situasi dan kondisi, mendesak ke sana apa belum(?)

Dipastikan mampukah atau tidak untuk tampil memperjuangkan hak-hak rakyat secara jujur, adil dan bijaksana(?) Masih ada tidak orang lain yang lebih mampu –yang ini berat memang, introspeksi kualitas diri – (?) ? Atau malah justru sebaliknya, ikut terseret ranah koalisi kezaliman kepada rakyat dan negara(?) Jika tidak memenuhi kriteria tersebut, maka lebih baik alih profesi saja, “beribadah” mengabdikan diri pada bangsa dan negara sesuai spesifikasi kemampuan yang dimilikinya, di luar area politik.?

Keempat: Puasa dan Polusi Politik

Puasa Ramadhan adalah ibadah yang sangat sensitif, gampang rusak hanya karena meluncur kalimat gunjingan dari mulut yang berpuasa, sehingga harus ekstra hati-hati dalam mengarungi ibadah puasa Ramadhan. Agar jangan sampai rusak, apalagi di “pagi buta” alias rawan godaan saat “jam kerja”.?

Dalam tinjauan ilmu ushul fikih-nya, siapa saja yang terlibat berurusan dengan orang-orang kurang bijaksana dan tidak amanah (politisi busuk) dalam kondisi berpuasa, maka akan sangat memungkinkan terkena jebakan ranjau, syad ad-dari’ah; posisi atau kondisi yang mengantarkan kepada sebuah kerusakan (mencemari Ibadah) Apalagi politik (meraih) Kekuasaan, yang tentunya rawan gesekan-gesekan dengan pihak lawan.

Lihatlah di kancah publik bangsa kita ini, paling gegap-gempita adalah aktivitas para politisi, sebelum Ramadhan, utamanya saat sedang berlangsungnya Ramadhan, bahkan sampai Ramadhan usai (Idul Fitri) segala macam manuver politik, pencitraan dilakukan oleh para pemburu kekuasaan untuk pencapaian target atau mempertahankan kekuasaanya. Menggunakan berbagai media online cetak, spanduk, baliho, dan media iklan lainnya, bukan hanya di kota –kota, tetapi juga di pelosok- pelosok desa seantero negeri. Mereka bersandiwara menjadi tokoh religius, dermawan atau lainnya, ? “menjual diri” agar “dibeli” oleh publik hanya dengan barter mengharapkan status; biar disebut tokoh ideal atau tokoh terbaik idola publik.?

Dalam tinjauan fikih, puasa sekedar menahan perut dari lapar dan dahaga itu cukup syah. Tetapi perlu diingat juga, dalam tinjauan tassawuf, Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin-nya, cukup moderat berpendapat, puasa semacam itu syah, tetapi hanya kelas paling bawah (shaum al- umum) yang dalam bahasa sehari-hari kita disebut “kelas ekonomi”.?

Untuk puasa lebih berkualitas, ? orang ? berpuasa juga hendaknya menjaga lisan, mata dan pendengaran dari kemaksiatan, itu adalah shaum al-khusus (puasa khusus) ? dalam bahasa sehari-hari kita disebut puasa “kelas bisnis”.?

Ada juga puasa yang sekaligus menjaga hati dan pikiran dari jangkitan fenomena prasangka tercela; ? itulah shaumu khusus al-khusus (puasa kelas orang-orang tertentu) puasa kelas tertinggi, atau dalam bahasa keseharian kita; puasa “kelas ekskutif”.?

Jadi, orang-orang yang elit di kancah politik itu, di bulan Ramadhan ini, mau pilih menjadi kelas apa, (orang) berpuasa kelas executive atau hanya puasa (orang) kelas ekonomi?





Penulis adalah peneliti ? maqashid syariah modern, Kepala Bagian Politik Yayasan Pondok Pesantren Asy- Syafi’iyyah Kedungwungu Krangkeng Indramayu Jabar

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Aswaja, Kyai, Nahdlatul Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 15 Desember 2017

Menaker Minta Aktivis Buruh Jangan Demo Terus di Jalan

Sleman, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M Hanif Dhakiri meminta aktivis buruh tidak lagi menyampaikan aspirasi dengan berdemo turun ke jalan melainkan melalui dialog dengan pendekatan seni dan budaya. 

"Saat ini ruang politik sudah berubah menjadi semakin terbuka. Masyarakat bisa dengan mudah berkomunikasi dengan pemimpinnya. Rekan-rekan buruh bahkan bisa dengan mudah berkirim pesan menyampaikan ide-ide mereka ke saya setiap hari. Jadi melakukan demo sudah tidak relevan lagi," kata Hanif pada peluncuran album kedua aktivis reformasi, John Tobing di Sleman, Yogyakarta, Jumat (10/11).

 

Menaker Minta Aktivis Buruh Jangan Demo Terus di Jalan (Sumber Gambar : Nu Online)
Menaker Minta Aktivis Buruh Jangan Demo Terus di Jalan (Sumber Gambar : Nu Online)

Menaker Minta Aktivis Buruh Jangan Demo Terus di Jalan

Menurut Hanif, kesenian dan kebudayaan bisa menjadi instrumen baru yang efektif untuk menyampaikan apa yang buruh perjuangkan selama ini. 

"Saya percaya ketika kita bisa terus berdialog terutama di ruang-ruang kebudayaan dan kesenian seperti ini maka pikiran kita bisa menjadi lebih cair dan nihil kepentingan sehingga dialognya menjadi lebih terbuka," ujar Hanif. 

Menurut Hanif, melalui forum dialog dengan pendekatan kesenian dan kebudayaan maka orang akan lebih objektif dan jernih dalam melihat persoalan yang ada. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Ruang-ruang kebudayaan dan ruang-ruang dialog menjadi sangat penting sebagai sarana berkomunikasi di tengah perbedaan yang ada dalam rangka menemukan terobosan baru demi meningkatkan kualitas dari harmoni sosial," tutur Hanif. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Untuk itu saya sangat bersyukur ada acara semacam ini. Sekali lagi selamat kepada John Tobing atas peluncuran album barunya," ungkap Hanif. 

John Tobing meluncurkan album kedua berjudul Bergeraklah Mahasiswa"di Sanggar Maos Tradisi asuhan Sosiolog Universitas Gajah Mada (UGM) Arie Sujito. Album ini secara khusus dipersembahkan untuk kalangan mahasiswa Indonesia. 

Melalui album ini John Tobing berharap mahasiswa terinspirasi dan tergerak untuk menjadi agen perubahan agar bangsa menjadi lebih baik. 

"Mahasiswa Indonesia harus tahu banyak rakyat miskin di negara kita. Untuk itu mereka harus menjadi motor perubahan melawan keterpurukan. Mereka harus bisa mencerdaskan bangsa," kata John Tobing. 

John Tobing merupakan pencipta lagu Darah Juang yang melegenda di kalangan aktivis mahasiswa. 

 

Lirik lagu tersebut bercerita tentang kisah pemuda desa miskin di negeri yang kaya. Hingga saat ini lagu tersebut seolah menjadi lagu wajib aktivis mahasiswa di Indonesia. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Halaqoh, Pendidikan, Aswaja Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pengantar Memahami Akidah Aswaja

Buku yang berjudul Mutiara Tauhid : Pengantar Memahami Akidah Aswaja ini merupakan buku tentang cara memahami akidah Ahlussunnah wal Jamaah dengan mudah. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa umatnya akan terpecah menjadi 73 golongan dan satu yang masuk surga yaitu golongan Ahlussunnah wal Jamaah, terus bagaimanakah Ahlussunnah wal Jamaah itu? buku ini akan membahasnya dengan mendetail namun singkat dan padat akan makna.

Buku ini terbagi atas tiga bagian, dan setiap bagian terbagi atas empat bab. yaitu pada bagian pertama yang menjelaskan tentang Ilahiyah. Didalamnya terbagi atas tiga bab yaitu Mengenal Allah, Mengenal Sifat-sifat Allah, Sifat Jaiz Allah, dan Kesalahan Pembagian Tauhid menjadi tiga bagian. Bagian kedua adalah Nubuwah yang juga terbagi atas empat bab yaitu ? Mengenal Para Nabi dan Rasul, Mengenal Sifat-sifat Para Nabi dan Rasul, Mengenal Nama-nama Nabi dan Rasul, Mengenal Kitab-kitab Suci Para Nabi. dan bagian yang terakhir adalah Samiyyat yang juga terbagi atas empat bab yaitu Mengenal Samiyyat, Mengenal Malaikat-malaikat Allah, Mengenal Samiyat secara Umum dan Penutup. dan ditambah lagi dengan Munajat, Daftar Pustaka, dan Tentang Penulis.

Pengantar Memahami Akidah Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengantar Memahami Akidah Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengantar Memahami Akidah Aswaja

Pola penulisan yang digunakan sangat baik dan bagus sehingga mudah dipahami oleh pembaca baik yang sudah paham tentang akidah, maupun yang baru dan ingin memahami akidah Islam. karena menggunakan bahasa yang dekat dengan pembaca dan disertai dengan bukti yang nyata dalam kehidupan serta dengan adanya dalil aqli dan dalil naqli sebagai penguat. tak terlupa harga yang ditawarkan tidak terlalu merogoh dompet dalam dalam, hanya 30 ribu rupiah saja.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Meskipun banyak terdapat kelebihan, buku ini juga ada kekurangan yaitu penggunaan kaidah bahasa Indonesia yang belum baik karena masih terdapat tata bahasa yang kurang tepat dengan kaidah yang telah ditentukan. Hal ini sangat lumrah karena penulis buku ini berlatar belakang pesantren sehingga tata bahasa yang digunakan dalam buku ini mirip dengan tata bahasa yang digunakan dalam pesantren tepatnya dalam kitab salaf atau kitab kuning.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Data buku

Judul Buku : Mutiara Tauhid : Pengantar Memahami Akidah Aswaja

Penulis : Dhiya H. Mahameru

Penerbit : Absolute Media

Cetakan : 1, Maret 2015

Tebal : vii + 170 halaman

ISBN : 978-602-1083-06-2

Harga : 30.000

Peresensi :Ahmad Syofiyullah

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Aswaja, Meme Islam, Sejarah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Banser Harus Militan dan Ideologis

Jepara, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor kecamatan Batealit Jepara selama tiga hari Jum’at-Ahad, (16-18/10) sukses menggelar Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) Barisan Ansor Serbaguna (Banser). Diklatsar yang digelar di Dukuh Setro, Desa Batealit, kecamatan Batealit kabupaten Jepara itu diikuti 45 peserta yang kini telah dibaiat menjadi angota Banser baru.

Banser Harus Militan dan Ideologis (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Harus Militan dan Ideologis (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Harus Militan dan Ideologis

Diklatsar itu merupakan kali pertama digelar PAC GP Ansor Batealit. Sementara di Jepara, merupakan Dikltasar angkatan kelima.

Peserta yang mengikuti Diklastar itu sebagian besar dari wilayah Kemacatan Batealit dan beberapa ada delegasi dari PAC Tahunan, Keling dan Donorojo.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ketua PAC GP Ansor Batealit, Nur Alimin mengatakan Diklatsar banser diadakan dalam rangka menyiapkan barisan kader muda NU yang tanggap akan problem keumatan dan kebangsaan demi mengawal tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Banser menjadi garda terdepan Ansor maupun NU yang harus memiliki kemampuan untuk menyelesaikan berbagai problem. Khususnya masalah-masalah keumatan dan kebangsaan,” tambahnya sebagaimana rilis yang diterima Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan.

Subchan Zuhri, Wakil Ketua PAC Ansor Batealit menambahkan dalam rangka membentuk kader Banser yang tangguh peserta Diklastar diberi materi yang lengkap. Mulai dari materi Ke-NU-an, Aswaja, Keansoran, Kebanseran, analisis SWOT, leadership, wawasan kebangsaan, PBB, kelalulintasan, SAR, Bagana, dan materi-materi pendukung lainnya.

Pada malam terakhir kemarin, panitia juga menghadirkan KH Subakir dari Kudus untuk memberikan materi penguatan mental spriritual kader banser,” imbuhnya.

Diklatsar Banser di Batealit Jepara itu juga dihadiri Sekretaris Pengurus Wilayah GP Ansor Jawa Tengah, Sholahuddin Ali. Mantan Ketua Umum PKC PMII Jawa Tengah itu menyampaikan materi Keansoran di hari pertama.

Sholahuddin menegaskan, bahwa Banser sebagai kekuatan utama Ansor harus memiliki militansi dan ideologi Islam Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja) yang kuat. Tantangan Banser dan Ansor pada saat ini semakin kompleks dan harus dihadapi dengan kemampuan-kemampuan khusus.

“Sikap Banser adalah merepresentasikan Ansor dan NU yang harus menampakkan Islam Ahlussunah Waljamaah. Islam yang ramah, bukan Islam yang marah-marah,” tandasnya. (Syaiful Mustaqim/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Aswaja, Nahdlatul, Pendidikan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 14 Desember 2017

Bagaimana dengan Rambut Rontok saat Junub, Haid, atau Hadats

Assalamu alaikum wr wb.

Selamat malam pak kiai, saya mau tanya tentang rambut yang rontok saat sedang haid, apakah wajib ikut disucikan saat selesai atau tidak? Terima kasih. Wassalamu alaikum wr wb. (Hamidah)

Bagaimana dengan Rambut Rontok saat Junub, Haid, atau Hadats (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana dengan Rambut Rontok saat Junub, Haid, atau Hadats (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana dengan Rambut Rontok saat Junub, Haid, atau Hadats

Jawaban

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga Allah selalu menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Kami tim redaksi Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan mencoba menjawab pertanyaan saudari. Pertama yang perlu diingat kembali adalah bahwa umat Islam diwajibkan bersuci dari hadats besar dan hadats kecil sesuai dengan sebab-sebab yang ditentukan di kitab-kitab fikih.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Hadats besar mewajibkan seseorang untuk bersuci sebelum beribadah dengan mandi, membasuh air secara merata ke seluruh bagian luar tubuh termasuk rambut, kuku, dan lipatan-lipatan tubuh. Artinya air harus sampai mengena ke kulit dan bagian-bagian luar tubuh tersebut tanpa satupun penghalang.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sementara hadats kecil menuntut seseorang untuk membasuh bagian-bagian tubuh tertentu dalam bersuci seperti wajah, tangan, sebagian kulit kepala, kaki atau berwudhu. Kesucian ini dibutuhkan sebagai syarat keabsahan ibadah termasuk syarat kesucian bagi jenazah sebelum disembahyangkan.

Hukum mandi menurut syar‘i terbagi dua, wajib dan sunah. Sunah bilamana mandi itu diniatkan untuk menghadiri sembahyang Jum‘at, istisqa, sembahyang gerhana, usai memandikan jenazah, wukuf, thawaf, atau masuk kota Mekkah. Sementara mandi wajib diperuntukkan bagi mereka yang dalam keadaan junub karena keluar mani, sebab jimak atau lainnya, usai haid, atau nifas.

Baik mandi wajib atau sunah, seseorang harus niat mandi wajib atau mandi sunahnya di awal basuhan. Persoalan niat ini sebuah kewajiban. Berikutnya meratakan tubuh dengan air. Segala permukaan dan lipatan di tubuh mesti secara rata terbasuh air baik berbentuk bulu, kuku, maupun kulit.

Adapun sejumlah bagian itu terlepas seperti rambut rontok, kuku yang terpotong, amputasi beberapa bagian tubuh? Apakah bagian yang terlepas wajib dibasuh? Para ulama berbeda pendapat. Imam Nawawi dalam kitab Raudlatut Thalibin mengatakan sebagai berikut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Andaikan seseorang membasuh seluruh badannya kecuali sehelai atau beberapa helai rambut (bulu) kemudian ia mencabutnya, maka Imam Mawardi berpendapat, Jika air dapat sampai ke akar helai itu, maka memadailah. Tetapi jika tidak, maka ia wajib menyampaikan air ke dasar bulu itu. Sedangkan fatwa Ibnu Shobagh menyebutkan, Wajib membasuh bagian yang tampak saja. Pendapat ini lebih sahih. Sementara kitab Albayan menyebut dua pendapat. Pertama, wajib (membasuh bagian tubuh yang terlepas-pen). Kedua, tidak wajib. Karena, telah luput bagian yang wajib dibasuh. Ini sama halnya dengan orang yang berwudhu tetapi tidak membasuh kakinya, lalu diamputasi.” (Lihat Imam Nawawi, Raudlatut Thalibin wa Umdatul Muftiyin, Beirut, Darul Fikr, 2005 M/1425-1426 H, juz 1, halaman 125).

Adapun perataan air ini menjadi sebuah kewajiban. Karenanya sehelai rambut yang terlewat dapat membatalkan basuhan. Hanya saja madzhab Hanafi mengatakan bahwa basuhan tetap sah kendati sehelai rambut terlewat seperti disebutkan Imam Nawawi berikut ini dalam Al-Majemuk berikut ini.

?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ?

Artinya, “Kesembilan, andai seseorang meninggalkan sehelai rambut kepalanya yang belum tersentuh air, maka tidak sah basuhannya. Sementara riwayat dari Imam Abu Hanifah menyebutkan, basuhan semacam itu tetap sah,” (Lihat Imam Nawawi, Al-Majemuk Syarhul Muhadzdzab, Kairo, Darut Taufiqiyah, tanpa tahun, juz 2, halaman 194).

Dengan mengikuti pendapat satunya, seseorang yang junub tidak perlu khawatir untuk menyisir rambut karena takut rontok, memotong kuku, atau membersihkan bulu lainnya. Ia pun tidak perlu mengumpulkan rambut rontok dan potongan kukunya untuk dimandikan wajib bersama.

Hanya saja kami menganjurkan agar seseorang menyisir atau memotong rambut, dan menggunting kuku setelah mandi wajib. Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Nahdlatul Ulama, Aswaja Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 06 Desember 2017

Masdar: Masjid Jangan Hanya Digunakan untuk Sholat

Magelang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Masjid di zaman Rasulullah SAW tidak hanya berfungsi untuk kegiatan ibadah mahdhah saja, akan tetapi lebih dari itu, masjid juga berfungsi untuk kegiatan sosial, ekonomi,organisasi dan kegiatan kegiatan positif lainnya.

Masdar: Masjid Jangan Hanya Digunakan untuk Sholat (Sumber Gambar : Nu Online)
Masdar: Masjid Jangan Hanya Digunakan untuk Sholat (Sumber Gambar : Nu Online)

Masdar: Masjid Jangan Hanya Digunakan untuk Sholat

Akan tetapi jika melihat kondisi saat ini, masjid lebih banyak hanya dimanfaatkan untuk kegiatan sholat berjamaah, sehingga masjid hanya buka setiap tiba waktu sholat saja.

Hal tersebut dikatakan Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Masdar Farid dihadapan ratusan peserta Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Region VI Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama Wilayah Jawa Tengah dan DI Yogyakarta yang berlangsung di Ponpes Nurul Falah Srumbung Kabupaten Magelang Ahad (29/4).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dikatakan, Masjid yang dimiliki NU atau yang bertifitas ala Nahdlatul Ulama sesungguhnya dapat dimaksimalkan untuk peran sosial lainnya seperti untuk kegiatan organisasi, kegiatan ekonomi dan kegiatan sosial.

Karena tidak maksimal pengelolaannya, banyak masjid dan langgar NU berubah pengelola dan pemiliknya, setelah benar benar lepas, baru warga NU yang kehilangan masid dan langgar berteriak, ujar Masdar.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Kita baru sadar kehilangan masjid dan langgar setelah milik kita lepas dn dikuasai oleh pihak lain", tandas Masdar.

Masdar sangat berharap pada peserta Rakornas LTM NU untuk lebih dapat memberdayakan masjid dan langgar NU untuk kegitan ekonomi jamaah dengan membentuk koperasi masjid atau langgar, kemudian balai pengobatan atau menjadi media informasi warga, sehingga warga khususnya jamaah masjid dapat merasakan manfaatnya dunia dan akherat sekaligus.

Usai memberikan pengarahan, seluruh peserta Rakornas LTM NU region VI melakukan baiat untuk setiap memakmurkan dan menjaga masjid dengan sungguh sungguh dan siap menindaklanjuti seluruh kesepakatan yang telah diputuskan. 



Redaktur      : Syaifullah Amin

Kontributor  : Abdul Muiz

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Aswaja Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

50 Banser Jepara Dibekali Latihan Tanggap Bencana

Jepara, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Satuan Koordinasi Cabang Banser Jepara membekali 50 anggotanya kepekaan menghadapi bencana. Mereka dilatih secara intensif dalam Pendidikan dan Latihan Khusus (Diklatsus) Banser Tanggap Bencana (Bagana) selama dua hari, Sabtu-Ahad (29-30/11) di Gedung NU Jepara jalan Pemuda nomor 51.

Mereka teridiri atas 40 Satkoryon Banser sekabupaten Jepara dan 10 anggota Satkorcab Banser Jepara. Selama pelatihan mereka dibekali materi kebencanaan, strategi dan manajemen penanggulangan bencana, pertolongan lapangan dan simulasi laut.

50 Banser Jepara Dibekali Latihan Tanggap Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)
50 Banser Jepara Dibekali Latihan Tanggap Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)

50 Banser Jepara Dibekali Latihan Tanggap Bencana

Materi-materi itu disampaikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Palang Merah Indonesia (PMI) Jepara.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Komandan Satkorcab Banser Jepara Arif Mustofa menyatakan, kegiatan ini merupakan bekal Banser untuk penanganan bencana. Kegiatan yang baru dilakukan kali pertama ditindaklanjuti dengan materi spesifik.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Kegiatan spesifiknya peserta praktik simulasi pertolongan laut yang berlangsung di pantai Teluk Awur Tahunan Jepara,” jelas Arif.

Ketua GP Ansor Jepara M Kholil menambahkan, Ansor harus bermanfaat untuk masyarakat khususnya jika ada saudara tertimpa musibah seperti bencana yang menimpa di Jepara awal tahun lalu.

Karenanya kegiatan ini merupakan upaya mengantisipasi jika sewaktu-waktu terjadi bencana. “Banser harus sudah siap sedia turun ke lapangan membantu korban jika bencana menimpa,” imbuh Kholil. (Syaiful Mustaqim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Aswaja Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 24 November 2017

Kiai Pedakwah dan Pejuang Kemerdekaan

Ia memang masih keturunan dari laskar pejuang Pangeran Diponegoro di eks Karsidenan Kedu. Tak heran selain berdakwah, Mbah Dalhar juga mewarisi semangat perjuangan dalam merebut dan mempertahankan Kemerdekaan R.

Mbah Kiai Dalhar lahir di komplek pesantren Darussalam, Watucongol, Muntilan, Magelang pada hari Rabu, 10 Syawal 1286 H (12 Januari 1870 M). Ketika lahir ia diberi nama oleh ayahnya dengan nama Nahrowi. Ayahnya adalah seorang mudda’i ilallah bernama Abdurrahman bin Abdurrauf bin Hasan Tuqo.

Kiai Abdurrauf adalah salah seorang panglima perang Pangeran Diponegoro. Nasab Kiai Hasan Tuqo sendiri sampai kepada Sunan Amangkurat Mas atau Amangkurat III. Oleh karenanya sebagai keturunan raja, Kiai Hasan Tuqo juga mempunyai nama lain dengan sebutan Raden Bagus Kemuning.

Diriwayatkan, Kiai Hasan Tuqo keluar dari komplek keraton karena ia lebih senang mempelajari ilmu agama daripada hidup dalam kepriyayian. Belakangan waktu baru diketahui jika ia hidup menyepi didaerah Godean, Yogyakarta. Sekarang desa tempat ia tinggal dikenal dengan nama desa Tetuko. Sementara itu salah seorang puteranya bernama Abdurrauf juga mengikuti jejak ayahnya yaitu senang mengkaji ilmu agama. Namun ketika Pangeran Diponegoro membutuhkan kemampuan beliau untuk bersama – sama memerangi penjajah Belanda, Abdurrauf tergerak hatinya untuk membantu sang Pangeran.

Kiai Pedakwah dan Pejuang Kemerdekaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Pedakwah dan Pejuang Kemerdekaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Pedakwah dan Pejuang Kemerdekaan

Dalam gerilyanya, pasukan Pangeran Diponegoro sempat mempertahankan wilayah Magelang dari penjajahan secara habis–habisan. Karena Magelang bagi pandangan militer Belanda nilainya amat strategis untuk penguasaan teritori lintas Kedu. Oleh karenanya, Pangeran Diponegoro membutuhkan figure–figure yang dapat membantu perjuangannya melawan Belanda sekaligus dapat menguatkan ruhul jihad di masyarakat.

Menilik dari kelebihan yang dimilikinya serta beratnya perjuangan waktu itu maka diputuskanlah agar Abdurrauf diserahi tugas untuk mempertahankan serta menjaga wilayah Muntilan dan sekitarnya. Untuk ini Abdurrauf kemudian tinggal di dukuh Tempur, Desa Gunung Pring, Kecamatan Muntilan. Beliau lalu membangun sebuah pesantren sehingga masyhurlah namanya menjadi Kiai Abdurrauf.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pesantren Kiai Abdurrauf ini dilanjutkan oleh putranya yang bernama Abdurrahman. Namun letaknya bergeser ke sebelah utara ditempat yang sekarang dikenal dengan dukuh Santren (masih dalam desa Gunung Pring). Sementara ketika masa dewasa mbah Kiai Dalhar, beliau juga meneruskan pesantren ayahnya (Kiai Abdurrahman) hanya saja letaknya juga digeser kearah sebelah barat ditempat yang sekarang bernama Watu Congol.

Nama “Dalhar”

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Mbah Kiai Dalhar adalah seorang yang dilahirkan dalam ruang lingkup kehidupan pesantren. Oleh karenanya semenjak kecil beliau telah diarahkan oleh ayahnya untuk senantiasa mencintai ilmu agama. Pada masa kanak-kanaknya, ia belajar Al-Qur’an dan beberapa dasar ilmu keagamaan pada ayahnya sendiri yaitu Kiai Abdurrahman. Menginjak usia 13 tahun, mbah Kiai Dalhar mulia belajar mondok. Ia dititipkan oleh sang ayah pada Mbah Kiai Mad Ushul (begitu sebutan masyhurnya) di Dukuh Mbawang, Desa Ngadirejo, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang. Disini ia belajar ilmu tauhid selama kurang lebih 2 tahun.

Sesudah dari Salaman, saat ia berusia 15 tahun mbah Kiai Dalhar dibawa oleh ayahnya ke Pondok Pesantren Al-Kahfi Somalangu, Kebumen. Oleh ayahnya, mbah Kiai Dalhar diserahkan pendidikannya pada Syeikh As_Sayid Ibrahim bin Muhammad Al-Jilani Al-Hasani atau yang ma’ruf dengan laqobnya Syeikh Abdul Kahfi Ats-Tsani. Delapan tahun mbah Kiai Dalhar belajar di pesantren ini. Dan selama di pesantren beliau berkhidmah di ndalem pengasuh. Itu terjadi karena atas dasar permintaan ayahnya sendiri pada Syeikh As_Sayid Ibrahim bin Muhammad Al-Jilani Al-Hasani.

Kurang lebih pada tahun 1314 H/1896 M, mbah Kiai Dalhar diminta oleh gurunya yaitu Syeikh As_Sayid Ibrahim bin Muhammad Al-Jilani Al-Hasani untuk menemani putera laki – laki tertuanya yang bernama Sayid Abdurrahman Al-Jilani Al-Hasani thalabul ilmi ke Makkah Musyarrafah. Dalam kejadian bersejarah ini ada kisah menarik yang perlu disuri tauladani atas ketaatan dan keta’dziman mbah Kiai Dalhar pada gurunya.

Syeikh As_Sayid Ibrahim bin Muhammad Al-Jilani Al-Hasani punya keinginan menyerahkan pendidikan puteranya yang bernama Sayid Abdurrahman Al-Jilani Al-Hasani kepada shahabat karibnya yang berada di Makkah dan menjadi mufti syafi’iyyah waktu itu bernama Syeikh As_Sayid Muhammad Babashol Al-Hasani (ayah Syeikh As_Sayid Muhammad Sa’id Babashol Al-Hasani). Sayid Abdurrahman Al-Hasani bersama mbah Kiai Dalhar berangkat ke Makkah dengan menggunakan kapal laut melalui pelabuhan Tanjung Mas, Semarang.

Dikisahkan selama perjalanan dari Kebumen, singgah di Muntilan dan kemudian lanjut sampai di Semarang, saking ta’dzimnya mbah Kiai Dalhar kepada putera gurunya, beliau memilih tetap berjalan kaki sambil menuntun kuda yang dikendarai oleh Sayid Abdurrahman. Padahal Sayid Abdurrahman telah mempersilahkan mbah Kiai Dalhar agar naik kuda bersama. Namun itulah sikap yang diambil oleh sosok mbah Kiai Dalhar.

Sesampainya di Makkah (waktu itu masih bernama Hejaz), mbah Kiai Dalhar dan Sayid Abdurrahman tinggal di rubath (asrama tempat para santri tinggal) Syeikh As-Sayid Muhammad Babashol Al-Hasani yaitu didaerah Misfalah. Sayid Abdurrahman dalam rihlah ini hanya sempat belajar pada Syeikh As_Sayid Muhammad Babashol Al-Hasani selama 3 bulan, karena ia diminta oleh gurunya dan para ulama Hejaz untuk memimpin kaum muslimin mempertahankan Makkah dan Madinah dari serangan sekutu. Sementara itu mbah Kiai Dalhar diuntungkan dengan dapat belajar ditanah suci tersebut hingga mencapai waktu 25 tahun.

Syeikh As-Sayid Muhammad Babashol Al-Hasani inilah yang kemudian memberi nama “Dalhar” pada mbah Kiai Dalhar. Hingga ahirnya ia memakai nama Nahrowi Dalhar. Dimana nama Nahrowi adalah nama aslinya. Dan Dalhar adalah nama yang diberikan untuk beliau oleh Syeikh As_Sayid Muhammad Babashol Al-Hasani. Rupanya atas kehendak Allah Swt, mbah Kiai Nahrowi Dalhar dibelakang waktu lebih masyhur namanya dengan nama pemberian sang guru yaitu Mbah Kiai “Dalhar”.

Ketika berada di Hejaz inilah Kiai Nahrowi Dalhar memperoleh ijazah kemusrsyidan Thariqah As-Syadziliyyah dari Syeikh Muhtarom Al-Makki dan ijazah aurad Dalailil Khoerat dari Sayid Muhammad Amin Al-Madani. Dimana kedua amaliyah ini dibelakang waktu menjadi bagian amaliah rutin yang memasyhurkan namanya di tanah Jawa.

Hizb Bambu Runcing

Mbah Kiai Dalhar adalah seorang ulama yang senang melakukan riyadhah. Selama di tanah suci, mbah Kiai Dalhar pernah melakukan khalwat selama 3 tahun disuatu goa yang teramat sempit tempatnya. Dan selama itu pula beliau melakukan puasa dengan berbuka hanya memakan 3 buah biji kurma saja serta meminum seteguk air zamzam secukupnya. Dari bagian riyadhahnya, beliau juga pernah melakukan riyadhah khusus untuk medoakan para keturunan beliau serta para santri – santrinya. Dalam hal adab selama ditanah suci, mbah Kiai Dalhar tidak pernah buang air kecil ataupun air besar di tanah Haram. Ketika merasa perlu untuk qadhil hajat, ia lari keluar tanah Haram.

Setelah pulang dari tanah suci, sekitar tahun 1900 M ia kemudian meneruskan perdikan peninggalan nenek moyangnya yang berupa pondok kecil di kaki bukit kecil Gunung Pring, Watu? Congol, Kecamatan Muntilan Kabupaten Magelang. Kurang lebih 3 kilometer sebelah timur Candi Borobudur. Pondok pesantren kecil ini lambat laun tidak hanya dihuni oleh santri-santri sekitar eks Karsidenan Kedu saja namun sampai pelosok tanah Jawa.

Bahkan ketika masa-masa perang pra dan masa kemerdekaan, pondok pesantren Watucongol menjadi markas dan sekaligus tempat singgah para pejuang tentara bambu runcing yang datang Jogjakarta dan wilayah Jawa bagian barat seperti eks Karsidenan Banyumas dan sebagian dari Jawa Barat. Konon ceritanya, bambu runcing para pejuang harus di asma hizb dahulu oleh KH Dalhar dan KH Subekhi (Parak, Temanggung) sebelum menyerang markas penjajah Belanda di Ambarawa, Semarang, (lihat buku: Jejak Kaki Persantren, karya KH Saifuddin Zuhri).

Dikisahkan, dengan bermodalkan bambu runcing, para pejuang kemerdekaan menyerang benteng Belanda di Ambarawa, bambu-bambu runcing mampu terbang dengan sendirinya bak senapan menyerang tentara-tentara Belanda. Sementara bombardir peluru serta granat tangan kumpeni Belanda tidak mampu melukai apalagi menyentuh kulit para pejuang Republik Indonesia.? ? ? ? ? ? ?

Karya mbah Kiai Dalhar yang sementara ini dikenal dan telah beredar secara umum adalah Kitab Tanwirul Ma’ani. Sebuah karya tulis berbahasa Arab tentang manaqib Syeikh As-Sayid Abu Hasan ‘Ali bin Abdillah bin Abdil Jabbar As-Syadzili Al-Hasani, imam thariqah As-Syadziliyyah.

Banyak sekali tokoh – tokoh ulama terkenal negara ini yang sempat berguru kepadanya semenjak sekitar tahun 1920 – 1959. Diantaranya adalah KH Mahrus, Lirboyo ; KH Dimyathi, Banten ; KH Marzuki, Giriloyo dll. Sesudah mengalami sakit selama kurang lebih 3 tahun, Mbah Kiai Dalhar wafat pada hari Rabu Pon, 29 Ramadhan 1890 – Jimakir (1378 H) atau bertepatan dengan 8 April 1959 M dan beliau kemudian di makamkan di komplek makam Gunung Pring, Watucongol, Kecamatan Muntilan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Sekalipun jasadnya telah terkubur dalam tanah, karya dan penerus perjuangan Mbah Dalhar tetap berkelanjutan sampai sekarang. Pondok Pesantren Darussalam, Watu Congol adalah saksi sejarah napak tilas perjuangan dakwah Mbah Dalhar. Jalan menuju makam Watucongol memang terbilang mudah. Peziarah ruhani biasanya melengkapi ziarah Wali Songo atau wisata liburan dengan melewati jalur tengah yang menghubungkan jalan utama dari Jogjakarta menuju Semarang. Ketika melewati kota Muntilan, dari arah pasar Muntilan cukup sekitar 5 kilo ke sebelah barat menunuju kawasan Gunung Pring.

Untuk memperingati jejak sejarah Mbah Dalhar dan Pesantren Darusalam Watu Congol Muntilan, setiap akhir bulan Sya’ban tahun Hijriah biasanya haulnya diperingati di kompleks Pesantren Darussalam Watucongol, dan Kompleks makam Gunung Pring Muntilan Magelang. Dipastikan kedua kompleks perdikan bersejarah itu tak pernah sepi oleh penziarah yang datang tidak saja dari penjuru Nusantara namun juga negeri mancanegara. (Aji Setiawan/Anam)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Aswaja, Internasional, Ahlussunnah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 22 November 2017

Syeikh Yusuf al-Qaradhawi: Saya ini “Anak” NU

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Ulama terkemuka asal Mesir Syeikh Yusuf al-Qaradhawi Kamis (11/1) siang mengunjungi kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jl. Kramat Raya, Jakarta Pusat. Sang Syekh yang datang bersama Menteri Agama RI Maftuh Basyuni disambut hangat oleh para pengurus NU, antara lain, KH Hasyim Muzadi, KH Ma’ruf Amin, KH. Said Aqil Siradj, KH Maghfur Utsman, dan KH Nazaruddin Umar.

Kiai Ma’ruf Amin saat memberikan sambutan pengantar atas nama PBNU berseloroh bahwa di Indonesia nama Syeikh Yusuf Qaradhawi dipanggil secara salah kaprah, Yusuf Qordhawi. “Padahal kalau dibahahasa-Indonesia-kan artinya itu tukang kritik. Jadi yang benar Qaradhawi,” kata Kiai Ma’ruf Amin disambut tawa Sang Syeikh dan hadirin.

Tidak kalah, Sang Syekh menimpali, dirinya kebetulan lahir pada tahun kelahiran organisasi Nahdlatul Ulama, tahun 1926. “Berarti saya ini anak NU,” katanya bergurau. Dirinya mengaku pertama kali mengenal NU saat salah seorang ketua NU KH. Idham Kholid berkunjung ke Universitas Al-Azhar Mesir.

Syeikh Yusuf al-Qaradhawi: Saya ini “Anak” NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Syeikh Yusuf al-Qaradhawi: Saya ini “Anak” NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Syeikh Yusuf al-Qaradhawi: Saya ini “Anak” NU

Syeikh Yusuf Qaradhawi mengajukan pesan, tugas NU saat ini adalah menjadi dinamo bagi kebangkitan umat Islam di Indonesia dan dunia. Menurutnya Indonesia sebagai negeri Muslim terbesar di dunia mempunyai kekayaan alam dan sumber daya manusia yang sangat potensial untuk “memenangkan” umat Islam  dari tekanan dunia internasional.

“Tapi tanpa mesin pengerak semua itu tidak akan bias jalan. Ada satu kekuatan lagi yang lebih besar dimiliki oleh NU yakni kekuatan rohani,” kata Syeik Qaradhawi.

Dirinya mengaku bangga dengan model Islam moderat yang dipaktikkan oleh NU. Sistem pengambilan hukum Islam dalam NU yang mengambil salah satu dari empat Mazhab Fikih dan sistem berteologi dengan mengikuti dua mazhab besar yang diterapkan secara longgar memberikan ruang untuk saling bertoleransi dengan kelompok Islam mana pun.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Dengan toleransi kita akan bisa bersatu dan memperkecil perbedaan. Dengan toleransi kita akan bisa menyatukan barisan untuk membantu umat Islam di Palestina dan Irak. Saya juga sepakat dengan Kiai Ma’ruf Amin bahwa umat Islam adalah umat yang mengambil jalan tengah,” kata Syeik Qaradhawi.

Rais Syuriah PBNU KH Maghfur Utsman yang menjadi pemandu acara berseloroh lagi. “Kalau Syeikh Qaradlawi lahir di Indonesia pasti menjadi warga NU. Dan beliau kayaknya punya bakat untuk menjadi rais syuriah,” katanya diikuti tawa hadlirin.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ketua Umum PBNU KH. Muzadi saat memberikan kata penutup mengatakan, Nahdlatul Ulama saat ini sedang melakukan upaya-upaya untuk melerai konflik antara Sunni dan Syiah yang terjadi di Irak dan Negara-negara di Timur Tengah umumnya. NU telah menyatukan langkah dengan organisasi Islam yang lain yang seperti Muhamammdiyah dan Majelis Ulama Indonesia. “Dalam waktu dekat saya juga akan bertemu dengan Ayatullah At-Tazkiri di Iran untuk membahas masalah itu,” katanya. (nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Aswaja, Lomba, Kajian Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock