Tampilkan postingan dengan label Olahraga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Olahraga. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Februari 2018

NU Jember Dukung Usut Tuntas Pembunuhan Dukun Santet

Jember, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jember menyatakan mendukung penuh dilakukannya pengusutan tuntas terhadap kasus pembunuhan dukun santet yang terjadi sekitar tahun 1998.

Pernyataan tersebut dikemukakan Wakil Ketua PCNU Jember, H. Misbahus Salam saat menerima kunjungan Tim Ad Hoc Penyelidikan Pelanggaran HAM yang Berat Peristiwa Pembunuhan terkait Isu Dukun Santet tahun 1998-1999 di kantor PCNU Jember, Jumat (23/9).

NU Jember Dukung Usut Tuntas Pembunuhan Dukun Santet (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Jember Dukung Usut Tuntas Pembunuhan Dukun Santet (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Jember Dukung Usut Tuntas Pembunuhan Dukun Santet

Menurut H. Misbah, penuntasan kasus tersebut untuk memberikan kepastian hukum dalam kasus yang telah merenggut puluhan nyawa itu. “Juga untuk memberikan rasa aman bagi warga. Sebab, bisa jadi yang terbunuh bukan tukang santet beneran atau mereka telah insyaf,” ucapnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ia mengaku ngeri membayangkan saat-saat yang mencekam ketika peristiwa itu terjadi. Sebab, banyak warga yang gelisah, khususnya yang diopinikan punya ilmu hitam. Ketika itu, harga nyawa seolah begitu murah. Dikatakannya, banyak terduga dukun santet yang sudah insyaf puluhan tahun tapi tiba-tiba hilang dan pulang tanpa nyawa. “Sebaliknya, penyedidikan ini juga berguna untuk memastikan siapa otak di balik peristiwa itu.Yang juga penting adalah rehabilitasi bagi anggota keluarga korban terbunuh,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Tim Ad Hoc Penyelidikan Pelanggaran HAM yang Berat Peristiwa Pembunuhan terkait Isu Dukun Santet tahun 1998-1999, Muhamamd Nurkhoiron menegaskan bahwa berdasarkan data dari PWNU Jawa Timur, Banyuwangi menempati urutan pertama terbanyak dalam korban pembunuhan isu dukun santet, yaitu 150 orang. Sedangkan Jember hanya 53 orang.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Kita kesulitan mengkroscek data di lapangan karena tak sedikit anggota keluarga korban yang sudah pindah rumah. Karena itu, kami sangat bertirima kasih atas bantuan NU Jember,” terangnya.

Ia menambahkan, pihaknya cuma mencari tahu segala sesuatu yang terkait dengan pembunuhan dukun santet sebagai bahan untuk memberikan rekomendasi guna ditindaklanjuti dalam ranah hhkum. “Kita hanya menyeldiiki ada tidaknya pelanggaran HAM berat dalam peristiwa tersebut. Kalau ada nanti kita rekomendasikan ke kejaksaan untuk ditindaklanjuti,” urainya.

Selain H.Misbah, hadir dalam pertemuan tersebut antara lain, Sekretars NU Jember, Pujiono Abd. Hamid, Wakil Bendahara NU Jember, Taufiq Hidayat, Koordinator Advokasi LDNU Jember, Moh. Kholili. (Aryudi A. Razaq/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Doa, Olahraga Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ada Berkah dalam Tujuh Qiraat

Judul: Mamba’ul Barakat fi Sab’il Qira’at 

Penulis: KH. Ahsin Sakho Muhammad

Penerbit: IIQ Jakarta

Cetakan: I, September 2012

Ada Berkah dalam Tujuh Qiraat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada Berkah dalam Tujuh Qiraat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ada Berkah dalam Tujuh Qiraat

Jilid: I

Tebal: 182 halaman

Peresensi: A. Khoirul Anam*

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Masyarakat umum mungkin mengenal adanya perbedaan bacaan Al-Qur’an dari para qori’. H. Mu’ammar ZA misalnya sering memperdengarkan ayat-ayat dalam surat-surat pendek yang dihafal masyarakat dengan logat yang berbeda.

Misalnya, kata “maliki” dalam surat al-Fatihah, “ma” yang biasa dibaca panjang, oleh para qari’ dibaca pendek. “Kufuwan” dalam surat al-Ihlas, dibaca “kufa” atau “kufwa”. “Waddluha” dalam surat adl-Dluha dibaca “wadluhe”, dan masih banyak lagi yang sering diperdengarkan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Adanya ragam bacaan al-Qur’an yang dikenal dengan istilah qira’at sab’ah itu menunjukkan betapa Nabi Muhammad SAW bisa menerima perbedaan. Al-Qur’an memang diturunkan dalam bahasa Arab. Namun seperti suku-suku besar lain di dunia, di kalangan masyarakat Arab terdapat banyak sekali logat yang berbeda. Dan perbedaan itu diakomodir semua.

Jika boleh berandai-andai; Andaikan Nabi Muhammad mendengarkan orang Indonesia yang terdiri dari banyak suku ini melafadzkan Al-Qur’an dengan logat yang sedikit berbeda dengan orang Arab, mungkin belia pun maklum. Sungguhpun demikian, membaca al-Qur’an dengan logat yang paling dekat dengan orang Arab, atau tepatnya melalui riwayat yang paling sahih tetaplah yang paling utama. 

Ihwal qira’at sab’ah ini, menurut pakar ilmu al-Qur’an yang juga Rektor Institut Ilmu al-Qur’an Jakarta (IIQ) Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad, MA dalam satu wawancara, masyarakat Arab pada saat turunnya Al-Qur’an terbagi ke dalam kabilah-kabilah. Masyarakat Arab yang nomaden tersebut menyebar ke berbagai tempat dan mempunyai cara bertutur kata atau dialek masing-masing. Maka kemudian dikenal ada qira’at tujuh itu.

Adalah Abu Bakar Ibnu Mujahid Ahmad bin Musa (w.324 H) yang berinisiatif untuk menetapkan bacaan tujuh itu karena bacaan yang beredar di masyarakat terlalu banyak dan membingungkan. Banyak imam atau guru besar al-Qur’an dengan yang dengan bacaan yang berbeda. Maka ia mengambil tujuh imam yang representatif. Dari negeri Syam diambil satu dari ulama yang paling sahih riwayat qiraatnya, yaitu Abdullah Ibnu Amr Asy’ari. Dari negeri Makkah, diambil dari Abdullah Ibnu Katsir Almakki. Dari Madinah, Nafi’ Ibnu Abi Nu’aim Al-Asfahani. Dari Basra, Muammar Al-Basri. Dari Kuffah, diambil tiga orang, yaitu Asyim, Hamzah, dan Qisai. Menjadilah qira’at sab’ah.

Untuk memasyarakatkan qira’at sab’ah, KH Ahsin Sakho, menawarkan metode praktis pengajaran qira’at sab’ah dengan satu buku panduan bertajuk “Mamba’ul Barakat fi Sab’il Qira’at” (Sumber berkah dalam tujuh bacaan Al-Qur’an). Buku panduan yang ditulis dalam bahasa Arab ini lebih terlihat seperti kitab kuning.

Penulisnya mengatakan, buku ini sebenarnya dipersiapkan untuk mahasiswi IIQ Jakarta, khusus untuk mengajarkan seputar qira’at sab’ah. Namun karena sifat dari ilmu-ilmu al-Qur’an adalah terbuka untuk semua yang ingin belajar, maka tentunya buku ini tidak hanya khusus untuk kalangan tertentu. 

Mamba’ul Barakat fi Sab’il Qira’at disusun seperti karya tafsir tahlili, yang diulas dari ayat perayat, berurutan dari juz ke-1hingga 30. Pertama-tama, satu ayat dituliskan lengkap. Kemudian beberapa lafadz atau kata yang mempunyai banyak versi bacaan dicetak dengan tinta merah, lalu dalam pembahasan berikutnya, lafadz-lafadz yang tercetak dengan tinta merah dijelaskan dalam beberapa versi bacaan dan menurut banyak imam. Kadang-kadang perbedaan bacaan menyebabkan perbedaan pemaknaan dan ini diulas juga.

Saat ini Mamba’ul Barakat fi Sab’il Qira’at baru terbit satu juz, atau juz pertama Al-Quran yang dimulai dari surat al-Fatihah sampai ayat 141 surat al-Baqarah, dan rencananya akan diterbitkan dalam 30 juz lengkap. Paling tidak, buku ini ingin menunjukkan bahwa ihwal qira’ah sab’ah itu bukan pengetahuan yang sulit untuk dipelajari oleh para pecinta al-Qur’an. Semoga benar-benar berkah!

* Peresensi adalah redaktur Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan, alumni Pondok Pesantren Lirboyo Kediri

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Olahraga, Nahdlatul Ulama Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 06 Februari 2018

Anggota DPRD Kota Banjar Motivasi PMII Profesional di Segela Bidang

Banjar, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Anggota DPRD Kota Banjar, Jawa Barat, Gun Gun Gunawan Abdul Jawad berharap besar kader Pergerakan Mahasiswa Isam Indonesia (PMII) menjadi manusia yang profesional dalam segala bidang. Menurutnya, sehebat apapun pemikiran kader PMII ketika tidak diimbangi profesionalitas, maka lunturlah apa yang diharapkan.

“Kata kunci menjadi kader yang profesional adalah disiplin dalam berbagai kondisi apapun. Saya yakin, kader yang berhasil tidak lepas dari profesionalitas serta kedisiplinan dalam menekuni bidang yang ditekuni. Sang pendekar pena, Mahbub Djunaidi, contoh inspiratif yang perlu dipelajari seutuhnya oleh kader PMII, beliau mengubah bangsa lewat pena,” ujar mantan aktivis PMII ini.

Anggota DPRD Kota Banjar Motivasi PMII Profesional di Segela Bidang (Sumber Gambar : Nu Online)
Anggota DPRD Kota Banjar Motivasi PMII Profesional di Segela Bidang (Sumber Gambar : Nu Online)

Anggota DPRD Kota Banjar Motivasi PMII Profesional di Segela Bidang

Gun Gun Gunawan menyampaikan hal itu seiring usia PMII yang menginjak ke-56 tahun dalam acara peringatan hari lahir PMII yang digelar Pengurus Komisariat PMII Sangkuriang Sekolah Tinggi Agama Islam Mifatahul Huda Al Azhar (STAIMA) Kota Banjar.

Peringatan harlah yang digelar di Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Pataruman Kota Banjar, Ahad (24/4) tersebut diisi berbagai kreasi seni tari dan unjuk kebolehan bahasa Inggris. Kegiatan betajuk “Membuka Kembali Sejarah PMII Kota Banjar dan Memperkokoh Organisasi” itu berlangsung meriah dengan kehadiran para alumni dan pendiri PMII Kota Banjar.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ketua PK PMII Sangkuriang STAIMA Kota Banjar Sirojul Muntaha menuturkan, kegiatan harlah kali ini merupakan ajang kader PMII merefleksikan kreativitasnya. Selain membuka kembali sejarah pergulatan PMII dari masa ke masa baik ditingkat nasional maupun di lokal Kota Banjar, juga membuka ruang kader menatap arah PMII ke depan.

“Kaderisasi tetap harus menjadi prioritas utama sebagai senjata dalam organisasi PMII. Adapun kreativitas yang berasal dari minat dan bakat kader perlu diwadahi dalam setiap kegiatan PMII maupun di luar sebagai wujud pengabdian kader PMII terhadap masyarakat. Misalnya penggunaan bahasa inggris adalah rutinan kader setiap minggunya, kita aplikasikan dalam sebuah acara,” ungkapnya kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan di sela-sela kegiatan harlah. (Muhafid/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Habib, Olahraga, AlaSantri Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 25 Januari 2018

Detik-detik Kiai Wahab Chasbullah Nyaris Tertangkap PKI

Pemberontakan PKI di Madiun pada 18 September 1948 merupakan di antara tragedi yang sempat mengguncangkan stabilitas perjalanan kemerdekaan Republik Indonesia yang tempo itu masih jatuh bangun. Beberapa literatur menyatakan, dalam aksi ini beberapa pejabat, perwira TNI, pimpinan partai, alim ulama, dan rakyat yang dianggap tidak sehaluan dengan PKI dibunuh secara kejam. Sebelumnya PKI telah melancarkan propaganda anti pemerintah, mengadakan demonstrasi-demonstrasi, menculik lawan-lawan politik, dan menggerakkan kerusuhan di berbagai tempat.

Terlalu banyak data yang menjadi bukti peristiwa di atas. Di antaranya Majalah Aula edisi Mei 2007, sedikit telah menyajikan fragmen-fragmen kekejaman PKI dan segenap simpatisannya seperti dimaksud. Tapi di sini kami hendak spesifik menyajikan fakta sejarah yang berhasil dicatat oleh sejarahwan NU, KH. Saifudin Zuhri tentang Kiai Abdul Wahab Chasbullah yang hampir saja tertangkap oleh simpatisan PKI andai saja beliau tidak bersiasat mengubah identitas penampilannya. Kisah itu diutarakan Kiai Saifudin Zuhri dalam buku "Guruku Orang-orang dari Pesantren". Berikut ini kesaksian mantan mentri agama di era presiden Sukarno tersebut:

Detik-detik Kiai Wahab Chasbullah Nyaris Tertangkap PKI (Sumber Gambar : Nu Online)
Detik-detik Kiai Wahab Chasbullah Nyaris Tertangkap PKI (Sumber Gambar : Nu Online)

Detik-detik Kiai Wahab Chasbullah Nyaris Tertangkap PKI

"Aku laporkan bahwa menjelang pemberontakan PKI di Madiun, KH. A. Wahab Hasbullah, mengadakan latihan ulama di Ngawi. Aku baru pulang dari Ngawi 3 hari sebelum pecah pemberontakan PKI.

Ketika latihan ulama dibubarkan karena sudah selesai, tidak ada yang mengerti bahwa PKI mengadakan pemberontakan di madiun. Padahal jarak Ngawi dan Madiun dekat sekali. Para peserta latihan pulang ke daerahnya maing-masing.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

KH Abdul Wahab Chasbullah pulang ke Jombang dengan naik kereta api. Perjalanan ke Jombang ini harus melewati Madiun. Ketika telah mendekati Madiun, beliau baru mengerti bahwa di Madiun ada pemberontakan PKI, tetapi beliau sudah terlanjur berada dekat stasiun Madiun. Agar orang tidak mudah mengenali siapa beliau, terpikir olehnya untuk menghilangkan identitasnya. Sorban dilipat dimasukkan ke dalam tasnya. KH Abdul Wahab Chasbullah berhasil berdiplomasi dengan salah seorang di stasiun untuk memperoleh peci hitamnya. Peci hitam pun ia kenakan. Dengan peci hitam ini, orang tidak mudah mengenali Kiai Wahab. Maka, selamatlah beliau hingga tiba di rumahnya, di Jombang. Jika saja PKI mengenali Kiai Wahab, pastilah beliau dijadikan tawanan golongan kakap, dan entah bagaimana nasib selanjutnya. Tetapi syukur alhamdulillah Tuhan tetap melindungi beliau.

Sebuah pesantren di Madiun, lanjut kiai Saifudin Zuhri, kalau tidak salah pesantren Takeran, adalah pesantren pertama yang dijadikan sasaran pengganyangan oleh PKI. Beberapa santri menjadi korban dan pesantren dibakar. Sudah bukan rahasia lagi bahwa sasaran utama PKI adalah orang-orang republikan, pegawai pemerintah, dan laskar-laskar Hizbullah-Sabilillah, barisan banteng, barisan pemberontakan, dan lain-lain yang pro pemerintah Yogya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Suasana kota Yogya diliputi oleh kemarahan rakyat terhadap PKI dan Belanda, yang belakangan ini terus-menerus melanggar gencatan senjata dan melakukan insiden-insiden di tapal batas. Korban banyak yang jatuh di kedua belah pihak. Yogya diliputi oleh awan gelap, penuh tanda tanya bagaimana keluar dari kegentingan yang mendalam ini. "Demikian fragmen cerita yang direkam KH. Saifudin Zuhri. (M Haromain)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Jadwal Kajian, Olahraga, Ulama Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 15 Januari 2018

Pramuka Maarif NU Keputran Borong 5 Piala di STKIP Muhammadiyah

Pringsewu, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Madrasah Aliyah Maarif NU Keputran Kecamatan Sukoharjo, Pringsewu, Lampung kembali menorehkan prestasi. Kali ini keberhasilan disumbangkan oleh kontingen Gudep 091-092 Madrasah tersebut setelah berhasil mengharumkan nama Madrasah dibidang kepramukaan melalui lomba yang mereka ikuti, Ahad (19/3).

Pramuka Maarif NU Keputran Borong 5 Piala di STKIP Muhammadiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pramuka Maarif NU Keputran Borong 5 Piala di STKIP Muhammadiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pramuka Maarif NU Keputran Borong 5 Piala di STKIP Muhammadiyah

Pada ajang Lomba level Provinsi Lampung yang digelar di Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan (STKIP) Muhammadiyah Pringsewu, MA Maarif NU Keputran mampu menggondol 5 piala pada 5 lomba yang dipertandingkan. Lomba pramuka ini diperuntukkan untuk Pramuka penegak se-Kwarda Lampung yang diikuti oleh Siswa SLTA dan MA se-Provinsi Lampung.

Tangkai lomba yang diperlombakan meliputi Lomba Ketangkasan Baris Berbaris, Miniatur Pionering, Stand Up Comedy, Musabaqah Tilawatil Quran dan Joged Komando.

"Alhamdulillah, MA Maarif Keputran Menyabet 5 Penghargaan dalam Gelar Kreativitas Panca Lomba Pramuka Tingkat Penegak se-Kwarda Lampung di STKIP Muhammadiyah Pringsewu 2017," ujar Pendamping Lomba yang juga Pembina OSIS Madrasah tersebut, Zulian Tri Muhardi sesaat setelah pengumuman dan pembagian hadiah.

Lima trofi piala yang sekaligus menambah koleksi prestasi MA Maarif NU Keputran tersebut disumbangkan dari raihan Juara 1 Miniatur Pionering Putra, Juara 2 Miniatur Pionering Putri, Juara 2 Stand Up Comedy, Juara 3 Musabaqah Tilawatil Quran dan Juara 5 Lomba Joged Komando.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Zulian berharap Prestasi tersebut dapat menambah semangat siswa dan siswi untuk belajar, berkarya , bekerja keras dan disertai rasa tanggung jawab.

Zulian menambahkan bahwa prestasi yang diraih ini merupakan hasil kerja keras para anggota pramuka MA Maarif NU Keputran yang dengan maksimal ? menunjukkan kemampuan terbaik. Latihan intensif dan Soliditas Kontingen juga menjadi salah satu faktor diraihnya prestasi membanggakan ini.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ucapan selamatpun mengalir dari Keluarga Besar MA Maarif NU teutama dari para dewan Guru. "Alhamdulilah, luar biasa untuk Pembina Pak Zulian khususnya, untuk anak luar biasa sekali, kerja keras dan pengorbanan terbayar sudah, sekali lagi selamat God Job," kata salah seorang Guru Wawan Krisdiyanto. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pesantren, AlaSantri, Olahraga Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 14 Januari 2018

Saifullah Yusuf: Saya Serahkan ke Presiden

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Menteri Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal Syaifullah Yusuf, yang akrab dipanggil Gus Ipul mengaku pasrah atas kembali mencuatnya isu perombakan kabinet (reshuffle) dan mengarah pada pergantian dirinya.

"Sekarang, saya serahkan ke pada Presiden. Biarkan Presiden yang menentukannya," kata Gus Ipul, seusai menghadiri acara peluncuran buku Ketua Mahkamah Konstitusi, Jimly Asshiddiqie berjudul "Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonesia Pasca Reformasi", di Hotel Santika Jakarta, Selasa malam.

Gus Ipul mengaku, selama ini dirinya telah bekerja dengan baik dan maksimal. Namun, karena alasan kementeriannya tidak terkenal seperti kementerian yang lain, maka dirinya menyadari hal tersebut.

Saifullah Yusuf: Saya Serahkan ke Presiden (Sumber Gambar : Nu Online)
Saifullah Yusuf: Saya Serahkan ke Presiden (Sumber Gambar : Nu Online)

Saifullah Yusuf: Saya Serahkan ke Presiden

Akibat belum familiarnya nama kementeriannya, menjadi salah satu faktor kinerja tidak banyak diketahui oleh masyarakat luas. "Tapi sampai sekarang, Presiden belum mengatakan soal reshuffle kepada saya," katanya.

Sementara itu, dalam kesempatan sama, Komisi VI DPR dari Fraksi Kebangkitan Bangsa Cecep Syarifuddin mengatakan, reshuffle harus dilakukan. Namun, hal itu, kembali kepada hak prerogatif Presiden. Cecep menegaskan, PKB tidak akan mengusung menteri untuk ikut masuk dalam kancah isu reshuffle.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Disinggung mengenai nasib Gus Ipul, Cecep hanya mengatakan, hal itu yang menentukan adalah Presiden. "Presiden yang mempunyai penilaian mengenai hal itu," demikian Cecep.

Sebelumnya, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, mencopot Saifullah Yusuf dari Kabinet Indonesia Bersatu (KIB), karena Saifullah Yusuf yang diakrab disapa Gus Ipul tersebut, sudah resmi duduk dalam struktur kepengurusan PPP sebagai wakil ketua Majelis Pertimbangan Partai.

Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar mengatakan, permintaan itu sudah menjadi sikap resmi PKB dan sudah disampaikan kepada Presiden. (ant/mad)



Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Aswaja, AlaSantri, Olahraga Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 13 Januari 2018

Luncurkan Miqat Kebinekaan, Sekjen PBNU Ingin Islam Damai

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan?



Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H. Helmy Faisal Zaini meluncurkan buku karangannya berjudul "Miqat Kebinekaan: Sebuah Renungan Meramu Pancasila, Nasionalisme, dan NU sebagai Titik Pijak Perjuangan" di lantai 8, Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Jumat (9/6).

Luncurkan Miqat Kebinekaan, Sekjen PBNU Ingin Islam Damai (Sumber Gambar : Nu Online)
Luncurkan Miqat Kebinekaan, Sekjen PBNU Ingin Islam Damai (Sumber Gambar : Nu Online)

Luncurkan Miqat Kebinekaan, Sekjen PBNU Ingin Islam Damai

Helmy dalam sambutannya menjelaskan, judul buku ini sengaja menggunakan kata miqat, berasal dari bahasa Arab yang mempunyai arti batas.?

Menurutnya, Miqat Kebinekaan ini menggabungkan antara miqat zamani (waktu) dan miqat makani (ruang). "Dimensi ruang dan waktu yang bertemu menjadi kebersamaan itulah yang disebut Miqat Kebinekaan, "katanya.?

Ia menerangkan, kehadiran buku ini ? untuk menjawab kegelisahan terhadap munculnya aliran-aliran yang jauh dari nilai-nilai keislaman. "Ada upaya-upaya yang memaksakan kehendak baik itu melalui gerakan politik maupun berbagai macam gerakan-gerakan yang seolah-olah ini mengatasnamakan Islam, "katanya dengan mencontohkan ISIS.?

Menurutnya, keberadaan ISIS yang di Philipina, sudah menunjukkan warning bagi bangsa Indonesia. "Kita harus waspada untuk bersama-sama menghadapi Terorisme global," ujarnya.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ia menuturkan, buku dengan tebal 149 halaman ini, mengandung banyak pandangan keagamaan khususnya Islam. Dalam buku itu dijelaskan bahwa Nabi Muhammad dalam berdakwah selalu memakai cara-cara dengan bijaksana. "Jadi bukan dengan teror, bukan dengan bom, bukan dengan cacian, bukan dengan hinaan, bukan dengan menebar kebencian, bukan dengan pembunuhan, bukan dengan cara-cara yang tentu tidak diajarkan oleh agama."

Melalui buku ini juga, ia ingin terus mengedepankan Islam rahmatan lil alamin. Islam perdamaian, yaitu Islam yang ramah bukan Islam yang marah, Islam yang merangkul bukan yang memukul. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ahlussunnah, Olahraga Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 11 Januari 2018

LTN NU Pringsewu Targetkan Penerbitan Buku Fadhilah Ramadhan dan Kartanu

Pringsewu, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Lajnah Talif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN NU) Kabupaten Pringsewu sebagai bagian dari Jamiyyah NU yang menangani bidang penulisan, penterjemahan dan penerbitan serta media informasi ala Ahlussunnah wal Jamaah, resmi terbentuk kepengurusannya. Diantara program yang akan dilaksanakan adalah penerbitan buku fadhilah Ramadhan dan kartu anggota NU (Kartanu).

LTN NU Pringsewu Targetkan Penerbitan Buku Fadhilah Ramadhan dan Kartanu (Sumber Gambar : Nu Online)
LTN NU Pringsewu Targetkan Penerbitan Buku Fadhilah Ramadhan dan Kartanu (Sumber Gambar : Nu Online)

LTN NU Pringsewu Targetkan Penerbitan Buku Fadhilah Ramadhan dan Kartanu

Melalui surat Keputusan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Pringsewu ? No. 16/PC.013/II.A.1/2015 tertanggal 24 Rajab 1436 H/ 13 Mei 2015 mengamanatkan kepada Drs. M. Musta,in, ? S.Pd, ? M.Ag untuk menahkodai LTNNU sebagai ketua dan Muhammad Mustanir, S.Pd sebagai sekretaris.

Sekretaris LTNNU Pringsewu Mustanir mengatakan bahwa segenap Kepengurusan LTN NU siap berkhidmah untuk Jamiyyah dan Jamaah. Bentuk khidmah tersebut adalah dengan langsung melaksanakan program kerja yang sudah tersusun. "Kita langsung tancap gas untuk melaksanakan program prioritas," terangnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Menurutnya, salah satu program prioritas yang akan dilaksanakan adalah penerbitan buku tentang pernak pernik Ramadhan mulai fadhilah bulan Ramadhan, puasa, ? tarawih dan bagaimana mengoptimalisasikan bulan Ramadhan yang sebentar lagi akan tiba.

Program lain yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat adalah penerbitan Kartanu (Kartu anggota NU) dimana nanti seluruh warga NU Pringsewu akan memiliki kartu identitas warga NU. Penerbitan Kartanu ini juga merupakan salah satu bentuk upaya untuk pendataan warga NU, sehingga PCNU Pringsewu akan memiliki data base warga NU Kabupaten Pringsewu.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sementara itu Ustadz Munawwir, Katib Syuriyah PCNU Pringsewu mengatakan bahwa kepengurusan LTNNU yang telah terbentuk merupakan hasil keputusan Musyawarah Kerja Cabang PCNU Pringsewu yang telah digelar berbarengan dengan Pelantikan Pengurus PCNU masa khidmah 2014-2019.

Munawwir mengatakan bahwa LTNNU berperan sangat krusial di era informasi seperti sekarang ini. Informasi media yang begitu cepat, khususnya di bidang keagamaan perlu disikapi oleh Jamiyyah NU agar warga tidak mengalami kebingungan. Kebingungan tersebut sudah mulai banyak muncul di tengah masyarkat akibat propaganda dari berbagai macam aliran Islam baru yang muncul.

"Kita harus bentengi warga dan memberikan pencerahan agar tidak gampang terpengaruh dengan hal tersebut dan ini adalah salah satu tugas dari LTN NU," tegasnya. (muhammad faizin/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Olahraga Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 10 Desember 2017

GP Ansor Jateng Gelar Konferwil Akhir Pekan Depan

Kudus, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pimpinan Wilayah GP Ansor Jawa Tengah akan menggelar konferensi wilayah (Konferwil) di Universitas Sains Al-Qur’an (Unsiq) Wonosobo, Sabtu-Ahad (17-18/5) mendatang. Konferwil ini diikuti utusan resmi cabang dan anak cabang GP Ansor se-Jawa Tengah yang memenuhi ketentuan administratif.

GP Ansor Jateng Gelar Konferwil Akhir Pekan Depan (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Jateng Gelar Konferwil Akhir Pekan Depan (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Jateng Gelar Konferwil Akhir Pekan Depan

Sekretaris GP Ansor Kudus Suwindi mengatakan, kepastian konferwil ini tertuang dalam edaran yang dikirim GP Ansor Jateng kepada seluruh cabang dan anak cabangnya.

“Persyaratannya sangat banyak; SK kepengurusan masih aktif, pernah mengadakan pelatihan kader dasar (PKD) pada 2013, menunjukkan bukti sertifikat dan daftar hadir kegiatan PKD minimal 40 peserta,” sebut Suwindi kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan, Selasa (6/5).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Melihat persyaratan demikian, Suwindi memprediksi banyaknya anak cabang Ansor yang tidak bisa menjadi peserta. Sebab, meskipun SK kepengurusan masih aktif, sebagian anak cabang GP Ansor belum mengadakan PKD pada 2013.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Tetapi kita menunggu verifikasi dari pimpinan wilayah saja, PAC GP Ansor mana nanti yang lolos sebagai peserta resmi konferwil,” ujarnya.

Konferwil ? Ansor Jateng yang untuk kali pertama melibatkan unsur PAC sebagai peserta ini, akan mengagendakan berbagai pembahasan laporan pertanggungjawaban GP Ansor Jateng di bawah kepemimpinan Jabir Al-Faruqi , perumusan program kerja, dan pemilihan ketua baru GP Ansor Jateng.

Panitia penyelenggara rencananya memeriahkan konferwil dengan diskusi publik, pasar murah, dan pagelaran wayang kulit. (Qomarul Adib/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Tegal, Olahraga, Pahlawan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 23 November 2017

ISNU Desak Road Map Kebijakan Energi yang Tepat dan Berani

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Ketua Umum PP ISNU Ali Masykur Musa mendesak adanya road map kebijakan energi yang tepat dan berani, untuk mengingatkan bahwa isu energi saat ini hanya tereduksi pada persoalan subsidi PPB ketika harga minyak dunia naik dan konsumsi telah melampaui kuota.

Ia menjelaskan, persoalan ini sekedar hilir dan resultante dari mindset pemerintah yang hanya sibuk dengan budget policy, tanpa berfokus kepada energi policy. 

ISNU Desak Road Map Kebijakan Energi yang Tepat dan Berani (Sumber Gambar : Nu Online)
ISNU Desak Road Map Kebijakan Energi yang Tepat dan Berani (Sumber Gambar : Nu Online)

ISNU Desak Road Map Kebijakan Energi yang Tepat dan Berani

“Yang dipikir hanya sekedar ketahanan APBN, bukan ketahanan energi,” katanya dalam diskusi panel ahli dengan tpik Energi, Pertambangan dan Lingkungan Hidup yang digelar di gedung PBNU, Jum’at (19/10). Diskusi ini merupakan rangkaian dari berbagai diskusi yang akan menjadi masukan bagi NU bagi bangsa atas berbagai persoalan yang dihadapi.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Mantan ketua umum PB PMII ini meminta agar pemerintah berani menyusun dan melaksanakan peta jalan kebijakan energi yang berorientasi kepada kedaulatan energi dengan penguasaan sektor hulu dan ketahanan energi dengan jaminan pasokan dari sektor hilir.

Lebih jauh, ia menjelaskan, persoalan di hulu terkait dengan penguasaan sumber daya energi dan mineral, dengan dominasi asing yang sangat menonjol. Sektor hulu, 88.8 persen wilayah kerja pertambangan migas dikuasai asing sementara BUMN hanya menguasai sekitar 10 persen.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Ini artinya, kontrol terhadap cadangan dan produksi migas nasional tidak berada di tangan negara, yang berdampak pada nisbinya makna penguasaan negara terhadap sektor energi yang penting dan strategis,” paparnya. 

Bukan hanya di sektor minyak bumi, konsesi tambang mineral sebagian besar juga dikuasai oleh korporasi asing, kecuali di sektor pertambangan batubara.

Sementara itu, persoalan di sektor hilir adalah keterbatasan infrastruktur. Keterbatasan kilang minyak dan fasilitas pemurnian dan distribusi gas domeestik telah mengancam ketahanan pasokan energi dalam negeri. Tiadanya penambahan kapasitas kilang minyak telah mengakibatkan pasokan BBM dalam negeri tergantung kepada impor, baik dalam bentuk minyak mentah maupun BBM, yang nilai bukunya mencapai ratusan trilyun per tahun. 

“Impor telah melanggengkan praktek brokerage dan afia perminyakan yang merugikan kepentingan nasional,” tandasnya.

Keterbatasan fasilitas pengolahan dan distribusi gas juga berpotensi mengagalkan upaya pengarusutamaan pemanfaatan gas domestik (DMO) serta mengancam program diversifikasi dan konversi dari minyak ke gas. 

Pada pertambangan umum, isu sentral sektor hilir adalah keterbatasan fasilitas pengolahan minral (Smelter) yang menghasilkan nilai tambah bagi perekonomian dalam negeri. 

“Para pelaku usaha tambang mineral selama ini telah menikmati rezeki nomplok menjual produk mentah (ore) tanpa kewajiban menjalankan hilirisasi tambang. Akibatnya, nilai tambah eksploitasi tambang mineral dalam negeri sangat minimal” ujarnya.

Beberapa kebijakan energi yang diusulkan ISNU diantaranya adalah, pertama, revisi UU Migas no 22/2001 dan UU Minerba No 4/2009 yang lebih memihak kepentingan nasional, kedua, menjalankan dan terus mengupayakan renegosiasi kontrk-kontrak tambang yang merugikan, ketiga memberikan prioritas kepada BUMN untuk mengelola dan menyelenggarakan industri pertambangan nasional, keempat, memprioritaskan penggunaan sumber-sumber energi primer seperti minyak, gas dan batubara untuk kepentingan domestik.

Selanjutnya, ISNU juga meminta agar segera direalisasikan pembangunan minyak dan memperbanyak pembangunan fasilitas pemurnian gas (FSRU) serta emperluas jalur distribusi gas dari mulut tambang ke konsumen.

Hadir dalam diskusi tersebut Rudi Rubiandini, wakil menteri ESDM, Kurtubi, pengaman, Hendri Prio Santoso, Dirut PGN dan Imam Hendargo serta Dewi Aryant.

Penulis: Mukafi Niami

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Hikmah, Olahraga Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 20 November 2017

Sukseskan Pemilu, Jatman Serukan Mursyid Beri Amalan Khusus

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pengurus Pusat (Idarah ‘Aliyah) Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (Jatman) mengimbau kepada segenap para tokoh tarekat, ulama, serta bangsa Indonesia secara umum untuk berdoa dengan harapan pemilihan umum (Pemilu) 2014 berjalan aman dan damai.

Sukseskan Pemilu, Jatman Serukan Mursyid Beri Amalan Khusus (Sumber Gambar : Nu Online)
Sukseskan Pemilu, Jatman Serukan Mursyid Beri Amalan Khusus (Sumber Gambar : Nu Online)

Sukseskan Pemilu, Jatman Serukan Mursyid Beri Amalan Khusus

Seruan ini disampaikan Mudir Aam Idarah ‘Aliyah Jatman KH Abdul Mu’thy Nurhadi dalam siaran pers yang diterima Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan, Kamis (20/3).

Badan otonom NU yang beranggotakan jamaah tarekat ini berharap pemilu tahun ini dapat terhindar dari bencana perpecahan antarbangsa, sebagaimana kasus di Aceh dan daerah lain yang telah memakan korban.     

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

KH Abdul Mu’thy menginstruksikan kepada jajaran pengurus Jatman se-Indonesia dari tingkat wilayah, kota, dan kabupaten agar menggelar doa bersama. Ia juga meminta kepada mursyid tarekat untuk memberi amalan khusus kepada jamaahnya demi kedamian dan keamanan rakyat Tanah Air dalam menjalankan proses demokrasi.

KH Mu’thy mengingatkan bangsa Indonesia bahwa rasa aman dan damai lebih penting daripada pemilu itu sendiri. Dengan aman maka penyelenggaraan pemilu dapat berjalan dengan baik.  

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ia menambahkan, aparat Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Polri harus netral dan berkomitmen menjaga NKRI dengan serius agar tidak terjadi kerusuhan. Dia juga berpesan kepada partai politik (parpol) peserta pemilu untuk menjaga kader dan simpatisannya agar turut berperilaku tertib dan tidak melanggar aturan.

Menurutnya, kesuksesan pemilu kali ini menentukan hasil wakil dan pemimpin rakyat di masa mendatang. "Makanya semua harus berdoa agar pemilu berjalan adil dan aman, menghasilkan pemimpin yang amanah," ujar KH Mu’thy. (Red: Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Olahraga, News Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 13 November 2017

LDNU Gelar Istighotsah Bersama Mejelis Rasulullah SAW

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Istighothah bulanan yang diadakan oleh Pengurus Pusat Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) di halaman gedung PBNU Jl. Kramat Raya Jakarta Pusat, Rabu (25/6) tadi malam, dihadiri oleh Pimpinan Majelis Rasulullah SAW Al-Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa.

Ratusan warga Nahdliyin dan jama’ah Majelis Rasulullah SAW secara khidmat membacakan shalawat ‘alan nabiy, memanjatkan doa kepada Allah SWT dengan perantaraan Rasulullah SAW.

LDNU Gelar Istighotsah Bersama Mejelis Rasulullah SAW (Sumber Gambar : Nu Online)
LDNU Gelar Istighotsah Bersama Mejelis Rasulullah SAW (Sumber Gambar : Nu Online)

LDNU Gelar Istighotsah Bersama Mejelis Rasulullah SAW

KH Mustafa Agil Siradj, Wakil Ketua PP LDNU, menyampaikan taushiyahnya bahwa doa yang dipanjatkan kepada Allah SWT tidak akan diterima tanpa menyebut Nama Muhammad SAW. “Saat menyembah Allah harus ada mahluq bernama Muhammad SAW,” katanya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pada saat membaca tahiyat akhir dalam setiap shalat, umat Islam membaca, “assalamualika ayyuhan nabiy”, salam kepada Engkau wahai Nabi. Dijelaskan Kiai Mustafa, pada saat menyebut Nabi dalam shalat diharuskan memakai dlamir mukhatab atau kata ganti orang kedua, yang berarti bahwa pada saat itu Nabi dihadirkan dalam doa.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Begitu pentingnya kehadiran Nabi Muhammad SAW dalam setiap doa. Kiai Mustafa Aqil menyontohkan, dalam tradisi warga Nahdliyyin saat mengadakan ritual aqiqah atau acara syukuran untuk bayi yang baru dilahirkan, keluarga tidak akan mengeluarkan bayi sebelum sampai pada momen mahallul qiyam pada saat Nabi dihadirkan, yakni saat dibacakan, "Salam kepada Engkau wahai Nabi".

Cara itu disebut tawashul kepada Nabi, atau memanjatkan doa dengan perantaraan Rasulullah SAW. "Demikianlah apa yang telah diajarkan oleh para ulama pendahulu kita, dan amaliyah ini ditransformasikan kepada umat melalui organisasi Nahdlatul Ulama," kata Kiai Mustafa Agil.

Sementara itu Al-Habib Munzir dalam taushiyahnya juga memompa semangat para jamaah untuk mengikuti apapun yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Dengan mengikuti apapun yang telah dikatakan, diperbuat atau diikrarkan oleh Nabi, maka umat Islam akan semakin dekat dengan Sang Pencinpta.

“Beliaulah yang akan memberikan syafaat kepada umat di hari kiamat. Meski 1000 tahun orang berada di neraka, asal tidak berbuat syirik, ia akan tetap mencium wanginya surga. Maka Allah tidak akan memerintahkan untuk memuliakan mahluk melebihi apa yang diperintahkan kepada kita untuk memuliakan Rasulullah SAW.” katanya.

Istighotsah dan pembacaan doa tadi malam dipimpin oleh KH Ahmad Sadid Djauhari, Dr. KH Abdullah Nur, Dr. KH Abu Na’im Khofifi, dan Ketua PP LDNU KH A Nuril Huda. Acara berlangsung hingga pukul 23.00 WIB. (nam)Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Olahraga Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 12 November 2017

Pesantren dan Dunia Kecil Bernama Ciputat

Kajian mengenai pesantren kini tidak lagi terjebak pada dikotomi tradisional dan modern. Fenomena labelisasi agama dan ‘revolusi mental’ yang melahap hampir semua isu kebangsaan telah menggiring pesantren bertransformasi menjadi entitas sosial yang tetap layak untuk dikaji. Martin van Bruinessen, Indonesianis asal Belanda, bahkan pernah membuktikan bahwa pesantren mampu menjadi lembaga pendidikan yang adaptif terhadap laju modernisasi.

Nurcholish Madjid pernah memberikan analisis bahwa tahun 2020 merupakan saat kebangkitan kaum santri, yang seringkali disebut sebagai kalangan tradisionalis itu. Analisis tersebut didasarkan pada tumbuhnya generasi santri yang meraih pendidikan tinggi sehingga akan mengimbangi eksistensi kalangan modernis yang lebih dulu mengenyam pendidikan tinggi.

Namun kebangkitan itu tidak diperoleh serta-merta. Sejak dulu, progresivitas gerakan dan pemikiran kaum santri seringkali dianggap sebagai ancaman bagi segelintir pihak. Dalang pembantaian pada peristiwa Gerakan 30 September 1965 dan isu dukun santet pada tahun 1998 adalah tudingan-tudingan negatif yang telah didapatkan oleh kalangan pesantren sejak masa lampau.?

Kondisi di masa kini juga masih belum jauh berbeda. Pesantren sebagai properti layak jual bagi kepentingan politis, pesantren sebagai penyemai paham radikalisme, hingga penggunaan narkoba di kalangan pesantren adalah isu terkini yang menjadi trending topic masyarakat kita.?

Pesantren dan Dunia Kecil Bernama Ciputat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren dan Dunia Kecil Bernama Ciputat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren dan Dunia Kecil Bernama Ciputat

Dalam konteks pendidikan juga tidak kalah pelik. Pada masa lalu, lulusan pesantren dianggap tidak memiliki legalitas sehingga mereka tidak berhak untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang universitas. Kini, kaum santri bisa bernafas lega setelah pemerintah mengakui pesantren penyelenggara pendidikan keagamaan terutama setelah lahirnya Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Jauh sebelum terbitnya undang-undang tersebut, tahun 1980an dapat disebut sebagai permulaan proses kebangkitan kaum santri. Pada masa tersebut pemerintah dan dunia global mulai melirik kaum santri sebagai bagian penting pengembangan bangsa. Lulusan pesantren mulai diberi jalan untuk menempuh pendidikan tinggi baik di dalam maupun di luar negeri.

Laku hidup kaum santri memang terlihat getir bagi para periset. Namun bagi para penulis buku ini, kehidupan ‘kaum sarungan’ adalah sebuah pembuktian bahwa pesantren tidak identik dengan keterbelakangan dan prediksi tentang masa depan yang suram.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Pesantren untuk Dunia menyajikan tujuh belas tulisan mengenai pengalaman hidup para santri yang kini menjadi dosen dan peneliti di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Karya ini bukan kajian yang serius dan akademik, namun buku ini diprediksi mampu menunjukkan peran dan kontribusi kaum santri dalam perkembangan masyarakat Indonesia dan dunia.

Buku ini ditulis oleh para dosen-santri yang telah mengalami pergulatan dalam merasakan manisnya hasil perjuangan yang diperoleh dari dalam pesantren. Atas hasil jerih payahnya itu, mereka merasa memiliki hutang kepada masyarakat dan bangsa Indonesia. Mereka menyadari betul akan harapan bangsa yang disandarkan pada pundaknya.

Singkatnya, buku ini ditulis sebagai bentuk kepedulian terhadap pengembangan pendidikan masyarakat Indonesia. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta secara rutin menghasilkan tokoh intelektual muslim berkaliber internasional mulai dari Harun Nasution, Nurcholish Madjid, Azyumardi Azra, hingga Komaruddin Hidayat. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari peran strategis lembaga ini sebagai laboratorium yang menghasilkan generasi kaum santri sehingga menjadi intelektualis muslim yang berwawasan global.

Ciputat adalah rumah kedua bagi mereka bahkan dapat dikatakan sebagai pesantren kedua setelah mereka lulus dari pesantren yang sebenarnya. Seperti halnya pesantren yang adaptif dan progresif, Ciputat juga selalu berkemas menjawab tantangan modernisasi.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Para dosen-santri ini seolah ingin mengatakan pada kalangan pesantren bahwa para santri harus memiliki cita-cita yang mulia, menggapai pendidikan yang tinggi, dan tidak melupakan jatidirinya sebagai pembelajar yang sabar. Kesabaran dan cita-cita inilah yang mampu menghantarkan para penulis meraih pendidikan maksimal di tingkat doktor (S3) bahkan beberapa diantaranya menjadi profesor dan pernah menduduki jabatan strategis di negara ini.? Dari pesantren dan Ciputat yang terbelakang, kini mereka muncul sebagai tokoh-tokoh berwibawa dalam menghadapi derasnya tantangan modernisasi dunia.

Akhirnya, buku ini seolah ingin menegaskan kebenaran prediksi Nurcholish Madjid di atas. Kaum santri kini mulai diperhitungkan sebagai elemen masyarakat yang mampu memberikan pengaruh bagi sekitarnya. Kebangkitan ini akan terus berjalan dan berharap tidak kembali menjadi terpuruk.

Ringan dan santai ala novel menjadi karakter penulisan buku ini. Bagi mereka yang ingin berkenalan, belajar mencintai, dan bernostalgia dengan dunia pesantren sangat disarankan untuk membaca buku ini.?

Pesantren dulu, kini, dan nanti masih akan tetap menjadi pesantren yang sebenarnya. Selamat membaca!





Info Buku

Judul : Dari Pesantren untuk Dunia: Kisah-kisah Inspiratif Kaum Santri

Editor : Prof. Dr. Komaruddin Hidayat

Edisi : Pertama

Tahun Terbit : 2016

Penerbit : Prenada Media Group

Peresensi

Muhammad Nida’ Fadlan

Peneliti PPIM UIN Jakarta dan Alumnus Pesantren Buntet, Cirebon

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Olahraga, Humor Islam Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 07 November 2017

Ciri Aswaja: Tak Mudah Mengafirkan dan Membid’ahkan

Mojokerto, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Buku Khazanah Aswaja yang diterbitkan PWNU Jawa Timur bisa menjadi salah satu pegangan bagi siapa saja yang ingin mendalami ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah, tak terkecuali bagi para mahasiswa.

Hal ini mencuat dalam acara bedah buku Khazanah Aswaja di kampus Institut KH Abdul Chalim (IKHAC) Pacet, Mojokerto, Jawa Timur. Panitia mendatangkan dua anggota tim penulis buku itu, Ustadz Fathul Qadir dan Ustadz Yusuf Suharto, serta seorang pembanding dari Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (pergunu), Rudolf.

Ciri Aswaja: Tak Mudah Mengafirkan dan Membid’ahkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ciri Aswaja: Tak Mudah Mengafirkan dan Membid’ahkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ciri Aswaja: Tak Mudah Mengafirkan dan Membid’ahkan

Di hadapan peserta bedah buku yang terdiri dari mahasiwa IKHAC dan peserta umum itu, Yusuf Suharto yang tampil pertama menyatakan bahwa buku Khazanah Aswaja yang terdiri dari enam bab tersebut bisa menjadi buku pegangan para mahasiwa di perguruan tinggi NU maupun kampus berbasis pesantren.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Buku ini terdiri dari enam bab, dan ini seperti kebutuhan akan mata kuliah Aswaja yang di kampus NU dan juga di kampus IKHAC diterapkan selama enam semester," ujarnya, Ahad (22/1).

Menurutnya, buku ini memuat bab tentang aliran dan kelompok di luar NU. Aliran klasik yang bukan bagian dari Aswaja yang disebut di buku ini antara lain Mutazilah, Syiah, dan Khawarij. Disinggung pula kelompok yang berhaluan Aswaja namun bukan NU. Yusuf menegaskan bahwa di luar NU ada kelompok Aswaja dan non-Aswaja.

"Aswaja itu cirinya ya tidak mudah mengafirkan (memvonis kafir) dan tidak mudah membidahkan sesama umat Islam. Karena untuk mengkategorikan itu harus pakai kaedah-kaedah, tidak bisa serampangan," imbuh Ustadz Fathul Qodir, tim penulis yang kerap muncul di TV 9.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sementara itu, sebagai pembanding Rudolf mengapresiasi buku ini. Baginya, buku ini enak dibaca. “Ini saya rekomendasikan agar dibaca. Kalau bisa jumlah oplah cetaknya diperbanyak, sehingga semakin banyak orang yang bisa membacanya. Namun saya memberi masukan, agar tim 8 ini ditambah satu lagi menjadi tim 9," ujar pria asal Jember ini.

Di akhir acara, Ustadz Fathul Qodir menyerukan kepada para peserta bedah buku untuk mantap dengan NU, sembari dikutipnya kata pengantar dari Rais Aam, KH. Maruf Amin di buku ini.

"Hadirnya buku Khazanah Aswaja yang mengulas seluruh aspek Aswaja, sejarah, akidah, fikih, tasawuf, dan implementasinya di lingkungan NU, secara konkret membuktikan konsistensi Aswaja NU Center PWNU Jatim dalam mengemban amanah ilmiah untuk menghadapi tantangan kekinian. Harapannya, kehadiran buku ini menjadi langkah strategis dan secara substantif dapat diserap oleh NU di seluruh level secara nasional, sesuai kondisi dan tantangan yang dihadapi," demikian kutipan sambutan Rais Aam. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Daerah, News, Olahraga Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 06 November 2017

PCINU Jerman Kaji Salafussalih, Salafi dan Wahabi

Berlin, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Memasuki minggu terakhir bulan Ramadhan 1434, Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jerman menggelar acara pamungkas rangkaian Pengkajian Ramadhan. 

PCINU Jerman Kaji Salafussalih, Salafi dan Wahabi (Sumber Gambar : Nu Online)
PCINU Jerman Kaji Salafussalih, Salafi dan Wahabi (Sumber Gambar : Nu Online)

PCINU Jerman Kaji Salafussalih, Salafi dan Wahabi

Acara ini diselenggarakan di kawasan Lankwitz, Berlin, pada Sabtu, 3 Agustus 2013. Topik yang dikaji tentang Salafussalih, Salafi dan Wahabi: Tinjauan Doktrin dan Sejarah. Narasumber pengkajian adalah Munirul Ikhwan, Lc, MA (alumni Univ Al-Azhar Kairo & Univ Leiden belanda yang saat ini menjadi kandidat doktor bidang Studi-Islam di Freie Universität Berlin, Jerman.

Menurut Suratno, ketua Tanfidziyah NU Jerman, acara pengkajian dimulai pada pukul 19.30 waktu Berlin dan dihadiri oleh sekitar 30 peserta, termasuk Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Berlin, Prof Dr Agus Rubiyanto. Acara pengkajian juga terhubung dengan jaringan-online (http://www.nujerman.de/index.php?option=com_content&view=category&layout=blog&id=42&Itemid=70) dan di ikuti oleh puluhan peserta dari berbagai belahan dunia. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dalam ceremahnya, Munir menjelaskan bahwa Salafussalih merujuk pada generasi yang menjadi panutan umat Islam dalam beragama. Hal ini karena salafussalih dipandang sebagai generasi emas yang memiliki kedekatan dengan era kenabian. Gagasan bahwa sejarah dimulai dengan era keemasan ini didasarkan pada sebuah hadist. Sebuah riwayat mengatakan bahwa Nabi SAW telah bersabda “Sebaik-baik generasi adalah generasiku, kemudian generasi setelah mereka, dan kemudian generasi setelah mereka lagi…” Dengan demikian, Salafussalih sering diidentifikasi dengan tiga generasi pertama umat Islam yang dianggap saleh. 

Sementara itu menurut Munir, perspektif Al-Qur’an tentang sejarah umat Islam dari generasi ke generasi selanjutnya cenderung lebih egaliter. Al-Qur’an lebih banyak berbicara tentang karakter dan syarat-syarat bangsa/generasi yang bangkit dan bangsa yang hancur. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selanjutnya, Munir menjelaskan bahwa Wahabi adalah orientasi teologi purifikasi yang dikenalkan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab (1703-1792) yang lahir dan besar di wilayah Najd, Saudi Arabia. Karena merasa bahwa praktek keagamaan yang ada di masyarakatnya saat itu dianggap menyeleweng, tokoh pendiri Wahabi ini mengajak pada ide purifikasi agama dengan merujuk pada penafsiran literalis terhadap Al-Qur’an dan hadist. Implikasinya, tidak hanya dia menolak capaian-capaian intelektual ulama terdahulu, tetapi Abdul Wahhab juga menghukumi fuqaha (ahli hukum Islam) yang tidak sesuai dengan ide purifikasinya sebagai zindiq yang hukumnya sama dengan murtad (keluar dari agama Islam), yakni boleh dibunuh. 

Dalam perkembangannya, Wahabi sering menggunakan kekerasan dan pembunuhan dalam dakwahnya, khususnya ketika mengepung Mekkah pada awal abad ke-19. Ibnu Taimiyyah (m. 1328), seorang teolog dan ulama zaman Mamluk, menjadi role-model Abdul Wahhab dalam propagandanya. 

Fatwa Ibn Taimiyyah tentang jihad melawan Mongol yang ketika itu pemimpinnya sudah masuk Islam diadopsi oleh Abdul Wahhab dengan fatwa jihad melawan Turki Usmani, karena dianggap tidak punya komitmen pada agama.

Menurut Munir, sebenarnya dakwah Wahabi tidak akan berhasil jika saja tidak menjalin patronase dengan keluarga Su’ud yang pada saat itu ingin menjadi penguasa regional. Dakwah Abdul Wahhab saat itu tidak saja mendapat pertentangan dari berbagai kalangan, tetapi juga dari Ayah dan saudaranya sendiri, Sulaiman bin Abdul Wahhab. 

Di era kontemporer saat ini, Wahabi terkadang mendompleng label Salafi yang mengandung pengertian ajaran yang lebih legitimatif dan otoritatif.

Salafi, seperti dijelaskan Munir, pada awalnya merupakan gerakan pembaharuan Islam yang muncul pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, terutama awalnya terpusat di Mesir. Salafi mendorong “pembacaan” langsung teks agama, Al-Qur’an dan sunnah, untuk merespon tantangan modernisasi. Salafi juga menganggap produk hukum atau ijtihad ulama terdahulu bukan sebagai otoritas yang mengikat dan diikuti. Mereka memegang prinsip egalitarianisme dalam intelektualitas dan giat mengadvokasi tentang perlunya ijtihad dan karenanya dalam perspektif ulama tradisional, salafi dianggap selangkah lebih maju pemikirannya.

Merespon Wahabi yang dalam kurun terakhir sering diidentikkan dengan Salafi, seorang ulama Salafi asal Mesir, Muhammad al-Ghazali (m. 1996), mengkritik keras Wahabi. Al-Ghazali menyebut Wahabi sebagai ahlul hadist dalam makna yang peyoratif (negatif), yakni mereka yang hanya menghafal banyak hadits namun tidak bisa memahami hadits sehingga dapat menghasilkan produk hukum. 

Selesai ceramah, dilanjutkan dengan sesi-tanya jawab sampai waktu berbuka puasa tiba. Lalu ketika adzan Magrib berkumandang sekitar pukul 21.10 dilanjutkan dengan buka-puasa dengan takjil, sholat Maghrib berjama’ah dan terakhir, makan bersama.

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ahlussunnah, Olahraga, Nahdlatul Ulama Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 05 November 2017

Musik Tek Tek ala Pramuka Ma’arif NU di Perwimanas II

Magelang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Jelang malam pertama Perkemahan Wirakarya Pramuka Ma’arif NU (Perwimanas) II, para peserta kontingen asal Purbalingga, Jawa Tengah mengisi waktu kosong dengan memainkan musik Tek Tek di halaman depan tenda perkemahan sangga puteri Purbalingga, Lapangan Tembak Akmil Magelang. 

Diketahui, musik Tek Tek yang dimainkan oleh kontingen asal Purbalingga tersebut adalah salah satu pertunjukan yang ditampilkan pada malam pentas seni di hari pertama perkemahan, Senin (18/9).

Musik Tek Tek ala Pramuka Ma’arif NU di Perwimanas II (Sumber Gambar : Nu Online)
Musik Tek Tek ala Pramuka Ma’arif NU di Perwimanas II (Sumber Gambar : Nu Online)

Musik Tek Tek ala Pramuka Ma’arif NU di Perwimanas II

Dwi, salah satu peserta sangga putera kontingen Purbalingga mengungkapkan alasan pemilihan musik Tek Tek tersebut karena cinta akan budaya daerah. 

“Kan, musik Tek Tek itu salah satu kebudayaan yang ada di Purbalingga. Musik Tek Tek juga sering ditampilkan di acara-acara masyarakat, jadi kami sekaligus perkenalkan budaya ini,” ungkapnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Musik Tek Tek yang mereka mainkan merupakan hasil kolaborasi musik tradisional dan juga modern. Ada beberapa alat yang dimainkan, diantaranya adalah angklung, pentongan, beduk, seruling dan kecrek. 

“Jadi, nanti kami tampil pakai kolaborasi musik daerah Purbalingga dan musik modern. Pokoknya, musik modern yang terkenal akhir-akhir ini,” tegas Budi, salah satu peserta Perwimanas II asal Purbalingga. 

Saat itu pelaksanaan Perkemahan Wirakarya Pramuka Ma’arif NU (Perwimanas) II telah memasuki hari pertama. Artinya, para peserta Perwimanas II  siap untuk mengikuti sederetan agenda sejak pagi hingga malam hari. 

 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Meski para peserta terlihat lelah, namun tidak mengalahkan semangat mereka untuk berkontribusi penuh dalam Perwimanas II. “Capek tapi senang. Senang karena bisa mengenal banyak teman dari berbagai daerah,” ungkap Budi.

Selain pentas seni, agenda malam pertama juga diisi dengan perlombaan oleh para peserta asal Sulawesi Barat, Nusa Tenggara Barat, Halmahera, Lampung, Bengkulu, dan Kalimantan Timur di Panggung Utama Perwimanas II. (Ala/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Olahraga, Halaqoh Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 03 November 2017

Para Kandidat Ketua Umum Adu Visi Misi

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Sejumlah bakal calon ? Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) bersaing menyampaikan visi dan misi kepemimpinan di kantor Harian Duta Masyarakat, Jakarta Pusat, Senin (26/11).

Acara bertajuk “IPNU-IPPNU Mencari Pemimpin Baru” ini diselenggarakan untuk menghadapi Kongres XVII IPNU dan Kongres XVI IPPNU di Palembang, 30 November hingga 4 Desember nanti. Salah satu agenda kongres adalah suksesi kepemimpinan pusat IPNU dan IPPNU periode 2013-2015.

Para Kandidat Ketua Umum Adu Visi Misi (Sumber Gambar : Nu Online)
Para Kandidat Ketua Umum Adu Visi Misi (Sumber Gambar : Nu Online)

Para Kandidat Ketua Umum Adu Visi Misi

Mewakili penyelenggara, Ahmad Millah menyatakan, kegiatan debat kandidat semacam ini biasa dilakukan Duta Masyarakat. Selain IPNU-IPPNU, Badan Otonom NU lain, seperti Gerakan Pemuda Ansor, juga kerap diundang.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Kami ingin menjadi bagian dari sejarah kepemimpinan dan kebangkitan NU,” katanya.

Pemaparan visi dan misi dilakukan oleh dua bakal calon Ketua Umum IPNU, yaitu Muhammad Idris dan Abdurrahman S. Fauz, serta tiga bakal calon Ketua Umum IPPNU, yaitu Eka Fitri Rohmawati, Ni’matul Azizah, dan Farida Farihah. Sejumlah calon kandidat lain dinyatakan absen.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ajang yang rutin digelar Duta Masyarakat ini dipandu mantan aktivis IPNU dan PMII Andi Najmi Fuadi. Selama tujuh menit, semua calon kandidat dipersilakan mengulas visi dan misi, dan dilanjutkan dengan tanggapan dan pertanyaan audien.

Andi memberi pengantar, tantangan para pelajar sekarang sangat kompleks. Dengan perkembangan kultur dan gaya hidup yang baru, dinamika basis pergerakan IPNU-IPPNU ini hampir tak dapat dibatasi. Para pelajar, khususnya di kalangan NU, butuh pemimpin yang sensitive dengan persoalan ini.

“Saya kira, yang visionerlah yang akan sanggup menyelesaikannya,” ujarnya.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis ? : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Fragmen, Olahraga, Pertandingan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 02 November 2017

Umi Azizah : Muslimat Perkuat Ketahanan Keluarga

Tegal, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan.



Ketua PC Muslimat NU Kabupaten Tegal Dra Hj Umi Azizah menjamin Muslimat NU mampu memperkuat ketahanan keluarga. Pasalnya, seluruh anggota yang terlibat mampu membentengi diri dan keluargannya dari virus virus negative perkembangan zaman. Bahkan lewat Muslimat NU, mampu mengantarkan menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah.

Umi Azizah : Muslimat Perkuat Ketahanan Keluarga (Sumber Gambar : Nu Online)
Umi Azizah : Muslimat Perkuat Ketahanan Keluarga (Sumber Gambar : Nu Online)

Umi Azizah : Muslimat Perkuat Ketahanan Keluarga

Demikian disampaikan Umi Azizah dalam perbincangan dengan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan di ruang kerjanya kantor Wakil Bupati Tegal, Kamis (8/12).?

Menurutnya, ketahanan keluarga sangat vital karena berpengaruh langsung terhadap ketahan negara. Bila keluarga rapuh, maka Negara akan ambruk. Peranan itu, tentu saja sangat bergantung kepada seorang Ibu, Wanita yang merupakan tiang Negara.?

Muslimat NU Tegal, lanjutnya, dalam menjaga ketahanan keluarga melalui berbagai bidang program. Seperti bidang pendidikan, social, ekonomi, lingkungan hingga dakwah. ? Dari bidang bidang tersebut, diarahkan untuk menjaga delapan fungsi keluarga sebagai pusat agama, social, cinta kasih, perlindungan, ekonomi, pelestari lingkungan dan fungsi reproduksi. “Dengan memanfaatkan fungsi fungsi tersebut, akan tercipta keluarga yang berkualitas, berdaya guna dengan hiasan anak yang saleh saleha,” ucapnya.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Tidak dipungkiri, kata Wakil Bupati Tegal ini, perubahan dunia menjadi tantangan yang tidak ringan bagi seorang ibu, termasuk organisasi kewanitaan seperti Muslimat NU. Juga lahirnya gerakan radikalisme dan bahaya narkoba, menjadi pekerjaan rumah tersendiri agar anak-anak kita tidak terpengaruh. “Upaya penguatan sebagai benteng dan filter dari berbagai tantangan tersebut, menjadi fardlu ain bagi Muslimat NU,” tegasnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Untuk itu, lanjutnya, program yang dijalankan Muslimat pun selalu berpihak pada kepedulian kebutuhan Nahdliyin. Diantaranya, menggelar kursus pra nikah untuk memberi pencerahan kepada calon pengantin tentang kesehatan reproduksi. Apalagi trend pernikahan dini tidak bisa dibendung. Padahal, pernikahan dini rentan dengan peningkatan Angka Kematian Ibu atau Maternal Mortality Ratio (MMR), Angka Kematian Anak (AKA), Angka Kematian Bayi (AKB) Angka Kematian Ibu (AKI).

Muslimat juga membantu keluarga tak jelas, dengan menggelar sidang terpadu itsbat nikah. Atau menetapkan Akad Nikah yang telah dilaksanakan sesuai dengan Syari’at Islam (Hukum Munakahah) akibat poligami misalnya, agar tercatat dalam Register Nikah di Kantor Urusan Agama Kecamatan yang berwenang. “Dengan demikian, hak-hak anak akan terpenuhi. Muslimat NU juga membantu percepatan pembuatan akte kelahiran yang ditangani PAC,” ujarnya.

Selain itu, Umi gembira karena Muslimat lebih intensif dalam menyelenggarakan pengajian. Istilah Tegalnya, laka dina gabuk (tiada ada hari kosong) dalam hal pengajian. PC pun menyelenggarakan Pengajian keliling ke 19 PAC. Yang paling menggembirakan se Kabupaten Tegal ada 987 majelis taklim.

Program lain, pelatihan ketrampilan hasil usaha kreatif. Dari kelompok usaha terbentuklah Kelompok Usaha Bersama (KUBE), hingga mencapai 319 Kube di seluruh ranting se Kabupaten Tegal. “Koperasi Anisa Muslimat, turut membantu pemasaran dan penyertaan modalnya juga,” terang ibu dari 6 anak ini,?

Di bidang social, masih kata Umi, Muslimat NU Tegal menangani Pendidikan Anak Usia Dini, Tercatat ada 97 Taman Kanak-kanak (TK) Muslimat NU, 67 Kelompok Bermainn (KB), dan 39 Raudlatul Athfal (RA) serta 548 Taman Pendidikan Al Quran (TPQ).?

Karya Muslimat NU berupa Metode Asyifa telah direkomendasikan oleh Yayasan pendidikan Muslimat NU (YPM NU) pusat, untuk dijadikan bahan pembelajaran resmi di TPQ TPQ seluruh Indonesia. “Metode Asyifa telah digunakan di Tegal sejak Juni 2002 dan tahun 2016 baru direkomendasikan untuk digunakan di berbagai TPQ seluruh Indonesia,” ucapnya bangga.?

Untuk Yayasan Kesejahteraan Muslimat NU (YKM NU) telah mendirikan Darul Yatama dengan ratusan anak yatim piatu yang diasuh. Yayasan Haji Muslimat NU (YHM NU) juga terus berkembang. Pada musim haji 2016, KBIH YHM NU memberangkatkan 160 jamaah haji. Sedangkan untuk tahun 2017, sudah masuk 137 calhaj yang tergabung ke KBIH YHM NU. Tapi biasanya, akan terus bertambah jumlah calhaj yang tergabung ketika mendekati manasik,” tuturnya.?

Kepada para ibu-ibu muda maupun sepuh, Umi mengajak untuk tidak jemu-jemu berorganisasi di Muslimat ataupun Fatayat. Karena nilai faedahnya lebih besar jika dibandingkan dengan mudlaratnya. “Yang penting tidak melupakan pendidikan anak-anaknya dan selalu menjadi pendamping suami setia,” pungkasnya. (wasdiun).

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Olahraga Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 26 Oktober 2017

Pelajar NU Lamongan Apresiasi Film Kalam-Kalam Langit

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Pelajar NU Lamongan merespon segera arahan pengurus Nahdlatul Ulama terkait pemutaran film Kalam-Kalam Langit. Mereka menggelar acara nonton bareng film bermuatan pendidikan itu. Mereka mencoba mengapresiasi produksi film yang mengangkat tradisi pesantren ke layar lebar.

Ketua IPNU Lamongan Muhlisin menjelaskan bahwa film ini sangat mendidik karena mengangkat budaya pendidikan pesantren yang selama ini menjadi cirri khas pendidikan warga NU. Tak hanya itu, film karya sutradara Tarmidzi Abka ini bercerita tentang kisah kearifan masyarakat yang berdasarkan naungan pesantren dan nilai-nilai Islam yang kuat serta nilai-nilai budaya yang ada di wilayah Lombok Barat.

Pelajar NU Lamongan Apresiasi Film Kalam-Kalam Langit (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Lamongan Apresiasi Film Kalam-Kalam Langit (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Lamongan Apresiasi Film Kalam-Kalam Langit

Film ini menceritakan seorang pemuda yang gigih dalam belajar memahami dan menghafalkan Al-Qur’an hingga mahir dalam qira’atul Qur’an. Hanya sayangnya niat itu ditentang oleh ayahnya yang selalu member peringatan agar tidak memperjualbelikan kalam-kalam Illahi demi mendapatkan popularitas di kawasan pesantren.

Lebih menarik lagi film ini melibatkan KetuaUmum NU KH Said Aqil Siroj.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Lewat nonton bareng ini kami ingin mengajak seluruh kader dan warga NU khususnya untuk ikut mengapresiasi film ini. Ini karya kader NU. Kalau tidak kita yang mengapresiasi, lalu siapa lagi?” pungkas Muhlisin. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Olahraga Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 28 September 2017

Rektor UIM Harapkan Pegawai dan Dosen Lebih Istiqomah

Makassar, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan?

Universitas Islam Makassar salah satu perguruan ? tinggi milik Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatanmengadakan Halal bi Halal bersama civitas akademika UIM, Rabu (22/7) pagi yang bertempat di Auditorium Muhyiddin Zain UIM.

Rektor UIM Harapkan Pegawai dan Dosen Lebih Istiqomah (Sumber Gambar : Nu Online)
Rektor UIM Harapkan Pegawai dan Dosen Lebih Istiqomah (Sumber Gambar : Nu Online)

Rektor UIM Harapkan Pegawai dan Dosen Lebih Istiqomah

Rektor UIM Dr Majdah M Zain menuturkan dalam sambutannya berharap kepada seluruh civitas akademika UIM untuk mempertahankan amalan-amalan Ramadhan, karena sesungguhnya Ramadhan adalah bulan latihan yang kemudian membuat kita semua tetap istiqomah mempertahankan ibadah, baik yang sifat ibadah mahdah dan ibadah sosial.

Kemudian dalam sambutan Ketua Umum Yayasan Perguruan Tinggi Al-Gazali Makassar yang diwakili oleh Wakil Ketua Yayasan Prof A Rahman Idrus mengungkapkan dihadapan civitas akademika UIM "Apa yang kita sudah lakukan pada bulan suci Ramadhan kemarin, semoga kita mampu pertahankan di hari-hari yang akan datang, baik dari aspek ibadah dan peningkatan etos kerja.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Disisi lain kami selaku Yayasan sangat mengapresiasi langkah-langkah yang dilakukan oleh Ibu Rektor dalam mengembangkan perguruan tinggi Nahdlatul Ulama ini, semoga ke depan UIM bisa lebih baik dan menjadi perguruan tinggi Islam yang mampu menyebarkan nilai-nilai Islam berhaluan Ahlusunnah wal Jamaah.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rais Syuriyah NU Sulsel Anregurutta Dr KH Muh Sanusi Baco membawakan tausiah Halal bi Halal dihadapan Civitas Akademika Universitas Islam Makassar, dalam tausiahnya Gurutta banyak menjelaskan tentang bagaimana hidup sederhana dan keteladanan Nabi Muhammad SAW.

Dalam tradisi Indonesia kita mengenal perayaan Halal bi Halal sebagai rasa syukur dan saling menghalalkan kesalahan satu sama lain, Halal bi halal mengandung makna keseimbangan artinya dengan Halal bi Halal ini, berarti UIM memberi maaf dan mau menerima maaf atas apa yang telah terjadi, kemudian secara luas makna Halal bi Halal ini berarti adanya keseimbangan antara kewajiban dan hak, saling menghargai satu sama lain, murid menghormati gurunya, dan guru menyayangi muridnya, begitulah seterusnya.

"Harapannya setelah menghadapi ibadah puasa sebulan penuh, perilaku kita mampu tercermin dan menghasilkan manusia yang memiliki akhlakul karimah," tambahnya.

Di sisi lain dalam perayaan Idul Fitri, selalu diucapkan kalimat Minal Aidin wal Faidzin, kalimat ini merupakan doa yang artinya mudah-mudahan semua akan kembali dan mendapatkan kemenangan, namun kalimat Minal Aidin Wal Faidzin ini secara luas bermakna perjuangan manusia menahan hawa nafsu melalui ibadah puasa selama sebulan penuh.

“Dan kemudian di hari yang Fitri ini, kita mendapatkan kemenangan yang berati kembali seperti bayi yang suci dari dosa dan meraih kemenangan yakni Surga, ketika semua masyarakat bangsa Indonesia mampu menahan hawa nafsunya, Indonesia akan meraih kemenangan, namun ketika Bangsa Indonesia tidak mampu menahan hawa nafsunya, maka mengkhawatirkan Indonesia akan meraih kehancuran,” kata Kiai Sanusi Baco.

Tampak hadir Wakil Rektor I Dr Musdalifah Mahmud, Wakil Rektor II Saripuddin Muddin, MT, Wakil Rektor III Dr Abd Rahim Mas P Sanjata, Wakil Ketua PWNU Sulsel Dr Arfah Shiddiq yang juga Dekan FKIP UIM, Ketua Muslimat NU Sulsel Dr Nurul Fuadi yang juga Direktur Pascasarjana UIM, para Dekan se Universitas Islam Makassar, dan seluruh civitas akademika UIM. (Andy Muhammad Idris/Mukafi Niam)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Olahraga, Kyai, Internasional Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock