Tampilkan postingan dengan label Ahlussunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahlussunnah. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Maret 2018

Apa itu Gus Dur Award?

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pemikiran dan perjuangan guru bangsa KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur terus berusaha diwujudkan oleh keluarga maupun para Gusdurian. Seperti yang dilakukan oleh keluarga inti Gus Dur dengan meresmikan Rumah Pergerakan Griya Gus Dur, Ahad (24/1/2016) di Jl Taman Amir Hamzah No 8 Menteng, Jakarta Pusat.

Apa itu Gus Dur Award? (Sumber Gambar : Nu Online)
Apa itu Gus Dur Award? (Sumber Gambar : Nu Online)

Apa itu Gus Dur Award?

Pada kesempatan tersebut juga diselenggarakan pemberian “Gus Dur Award” kepada beberapa tokoh yang dianggap konsisten dengan pemikiran dan perjuangan Gus Dur. Anugerah ini terdiri dari tiga kategori, yaitu tokoh sosial agama, sosial budaya, dan sosial politik serta pemerintahan.

“Peraih Gus Dur Award adalah orang-orang yang dirasa selaras dengan visi dan pemikiran Gus Dur,” jelas putri sulung Gus Dur, Alissa Wahid, Ahad (24/1/2016).

Adapun tiga tokoh peraih Gus Dur Award 2016 yaitu KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) sebagai tokoh sosial agama, Sutanto atau Tanto Mendut sebagai tokoh sosial budaya, dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai tokoh sosial politik dan pemerintahan.

Terma ‘sosial’ dalam tiga kategori tersebut diyakini oleh para pakar bahwa perjuangan dalam ranah agama, budaya, maupun politik harus selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan. Nilai-nilai kemanusiaan inilah yang sering disebut Gus Dur sebagai Human Social Life atau kehidupan sosial manusiawi yang mewujud dalam kehidupan agama, budaya, dan politik maupun pemerintahan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Adapun Rumah Pergerakan Griya Gus Dur nantinya akan menjadi rumah untuk beberapa organisasi atau perkumpulan sosial kemanusiaan. Beberapa organisasi yang bernaung di dalam Rumah Pergerakan Griya Gus Dur yaitu Yayasan Puan Amal Hayati, Yayasan Bani Abdurrahman Wahid, Yayasan Teman Bangkit, The Wahid Foundation, Jaringan Gusdurian Indonesia, dan Positive Movement.

Dalam acara peresmian tersebut, juga dilakukan peluncuran situs www.gusdur.net. Situs tersebut memberikan informasi tentang Gus Dur, baik pemikiran dan tulisan Gus Dur, tulisan tentang Gus Dur, berita, maupun video-video kenangan tentang Gus Dur.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Hadir dalam kegiatan peresmian ini yaitu Hj Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid beserta keempat putrinya, KH A Mustofa Bisri, Tanto Mendut, Basuki T Purnama (Ahok), Menkopolhukam Luhut Binsar Pandjaitan, Bondan Gunawan, Jaya Suprana, Franz Magnis Suseno, Romo Mudji Sutrisno, Wasekjen PBNU Abdul Mun’im DZ, dan para Gusdurian seluruh Indonesia. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ahlussunnah, Doa Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 19 Februari 2018

IPPNU Fokus pada Transformasi Menuju Organisasi Pelajar

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Secara formal, Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) telah berubah dari organisasi pemuda menjadi organisasi pelajar sejak tahun 2003, akan tetapi upaya mengembalikan ruh yang sebenarnya butuh waktu yang cukup panjang.



IPPNU Fokus pada Transformasi Menuju Organisasi Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Fokus pada Transformasi Menuju Organisasi Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU Fokus pada Transformasi Menuju Organisasi Pelajar

Awalnya, IPPNU memang organisasi pelajar yang masuk ke sekolah, madrasah dan pesantren, tetapi kebijakan Orde Baru yang hanya mengizinkan OSIS di sekolah-sekolah telah menyebabkan IPPNU merubah dirinya menjadi organisasi pemuda.

Perubahan juga meluaskan lingkup cakupan garapan sampai pada tingkat mahasiswi, bahkan segmen pelajar tidak tersentuh. Segmen pemuda menjadikan usia juga meluas menjadi 12-30 tahun. Struktur baru yang diakibatkan oleh kebijakan Orde Baru ini tidak bisa dengan gampang dirubah, diantarnya usia para pengurus yang umumnya bukan lagi para pelajar, banyak diantaranya yang sudah bergelar S2.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ketua IPPNU Margareth Aliyatul Maemunah menuturkan, sejumlah upaya dilakukan sebagai tahapan untuk menjadi organisasi pelajar yang sebenarnya.

“Kita tak kepingin terbelenggu seperti dalam pola lama terus. Setiap kegiatan sekarang segementasi kita ya pelajar. Ngadain kemah ya dengan pelajar, sahur on the road juga pelajar. Pra rapimnas sekarang, kita ngadain debat berbahasa Inggris untuk pelajar, lomba karya tulis ilmiah dan penulisan novel untuk pelajar dan santri,” terangnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Upaya lain adalah penurunan usia para pengurus yang terus dilakukan secara bertahap. Jika pada periode lalu, usia maksimal dibatasi 30 tahun, maka pada Rakernas IPPNU beberapa waktu lalu, disepakati usia maksimal 27 tahun. Ia menjelaskan, PBNU sendiri bahkan telah mendesak usia diturunkan menjadi 25 tahun, tetapi untuk itu dibutuhkan waktu untuk mempersiapkan para kadernya.

“Menyiapkan orang tak semudah yang dibayangkan, yang jelas kita sudah sepakat usia maksimal 27 tahun,” jelasnya.

Beberapa kegiatan yang mengambil segmen pelajar yang sedang digarap diantaranya Lembaga Korps Kepanduan Putri, Pecinta Alam, Palang Merah Ramaja, pendirian lembaga konseling bagi remaja putri dan lainnya.

Ia mengakui, ada diantara segmen-segmen lembaga untuk menangani para pelajar yang dibentuk tersebut yang belum berjalan maksimal karena minimnya sumberdaya, tetapi ia yakin, ini merupakan sebuah proses transformasi yang harus dijalani.

Dalam Rapimnas yang akan digelar Desember mendatang, ia juga akan menggandeng Maarif NU dan Rabithah Maahid Islamiyah untuk bersinergi dengan IPPNU dalam membentuk pelajar yang memiliki akidah ahlusunnah wal jamaah ala NU. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Anti Hoax, Ahlussunnah, Nusantara Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 15 Februari 2018

Tak Ada Kata Terlambat, Pria Berusia 103 Menikah

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Dengan usia gabungan 194, satu pasangan Inggris ditetapkan menjadi pengantin baru tertua di dunia ketika mereka akan menikah musim panas ini, menurut koran Inggris Daily Mail yang melaporkan, Jumat lalu.

George Kirby, yang juga akan menjadi laki-laki tertua yang pernah menikah pada usia 103, menikahi Doreen Luckie, 91, pada Hari Valentine tahun ini seperti dikutip dari al arabiya.net.?

Tak Ada Kata Terlambat, Pria Berusia 103 Menikah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tak Ada Kata Terlambat, Pria Berusia 103 Menikah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tak Ada Kata Terlambat, Pria Berusia 103 Menikah

"Saya kira sekarang sudah waktunya ," kata Kirby. "Saya tidak merasa masalah dengan usia. Doreen membuat saya muda. "

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Saya tidak dapat berlutut di satu kaki karena saya tidak mungkin bisa bangkit berdiri lagi.”

Ini akan menjadi pernikahan ketiga mantan petinju tersebut yang secara keseluruhan telah menghasilkan 7 anak, 15 cucu dan 7 cicit.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Anak Kirby, Neil 63 tahun, mengatakan, "Kami telah menganggap Doreen sebagai ibu kami dan kami senang bahwa dia akan menjadi keluarga Kirby."

"Kami senang bahwa mereka akan menikah di depan semua teman-teman dan keluarga yang akan bangga," tambahnya.

Pernikahan ini akan ditetapkan pada 13 Juni. Hal ini akan memecahkan rekor sebelumnya untuk pasangan tertua yang ? menikah dengan usia gabungan 188 tahun yang ditetapkan pada tahun 2013.

Ketika ditanya tentang motivasi pernikahannya, Kirby mengatakan: "Kami tidak melakukannya untuk catatan rekor, kami menikah karena kita sedang jatuh cinta dan tampaknya hal ini merupakan sesuatu yang benar untuk melakukannya." (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Warta, Ahlussunnah, Sholawat Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 26 Januari 2018

Awal November, Peringatan Pengukuhan Wayang sebagai Pusaka Dunia Dimulai

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Yayasan Pesantren Kaliopak, Yogyakarta, akan menggelar peringatan 11 tahun pengukuhan wayang sebagai Adikarya Pusaka Kemanusiaan Dunia oleh Lembaga Kebudayaan PBB (UNESCO). Kegiatan digelar selama sebulan, 1 November – 6 Desember 2014, dipusatkan di Kompleks Pesantren Kaliopak, Piyungan, Yogyakarta.

Rangkaian acara peringatan dilaksanakan oleh Komunitas Rumah Budaya Nusantara Pesantren Kaliopak Piyungan Yogyakarta, atas bantuan dana dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI dan dukungan-dukungan lain dari berbagai lembaga, individu dan komunitas budaya yang peduli.

Awal November, Peringatan Pengukuhan Wayang sebagai Pusaka Dunia Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)
Awal November, Peringatan Pengukuhan Wayang sebagai Pusaka Dunia Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)

Awal November, Peringatan Pengukuhan Wayang sebagai Pusaka Dunia Dimulai

Awal November, Sabtu-Ahad (1-2/11) kegiatan dimulai dengan acara peluncuran di gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, bersamaan dengan pelaksanaan Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar NU.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selanjutnya, peringatan Pengukuhan Wayang sebagai Pusaka Dunia akan dipusatkan di Pesantren Kaliopak Yogyakarta, dimulai dengan Diskusi Pendahuluan “Epos Mahabharata, Lakon-Lakon Wayang Jawa dan Cultural Studies” pada 10 November bersama Ki Herman Sinung Janutama (Spiritualis Jawa di Yogyakarta), Dr. St. Sunardi (Dosen IRB, Univ Sanata Dharma Yogyakarta), dan Dr. Holland C. Taylor (Spiritualis dan Ahli Sastra Jerman dari Harvard University USA).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kegiatan dilanjutkan dengan Seminar Nasional “Wayang dan Krisis Manusia Nusantara, Prof. Dr. Sri Heddy Ahimsa Putra (UGM), Dr. Sindhunata SJ. (Majalah Basis), M. Jadul Maula (Pesantren Kaliopak) pada 17 November. Rais Aam PBNU KH Musthofa Bisri dijadwalkan menyampaikan pidato iftitah dalam seminar ini.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan hingga 6 Desember berturut-turut mulain Belajar Bersama “Pesantren, Wayang, dan Jatidiri Bangsa”, Pameran Bentuk-bentuk dan Komik Wayang, Lomba Mewarnai dan Dongeng Wayang, Wayang Edukatif, Pentas Seni Tradisi dan Modern, dan Pagelaran Wayang Kulit.

Pagelaran Wayang Kulit diselenggarakan pada 6 Desember sebagai puncak acara, sekaligus penutup kegiatan pameran dan rangkaian event publik lainnya, akan digelar wayang kulit semalam suntuk, dengan lakon “Ilange Pusaka Jamus Kalimasadha”, dalang Ki Gondo Suharno. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Nasional, Pondok Pesantren, Ahlussunnah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Unisda Lamongan Lahir dari Kiai

Lamongan, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Universitas Islam Darul Ulum (Unisda) Lamongan, Jawa Timur merupakan perguruan tinggi yang lahir atas inisiatif para kiai. Sebagai kampus yang mulanya berdiri di lingkungan pesantren, Unisda bertanggung jawab tak hanya mencetak generasi yang unggul secara intelektual tapi juga spiritual.

Demikian disampaikan Rektor Unisda M Afif Hasbullah dalam peringatan Dies Natalis XXVII dan Wisuda Sarjana dan Pascasarjana 2013 di kampus setempat, di Jalan Airlangga 3 Sukodadi, Lamongan, Sabtu (14/12). Siang itu, Unisda mewisuda 580 mahasiswa dari berbagai fakultas.

Unisda Lamongan Lahir dari Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)
Unisda Lamongan Lahir dari Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)

Unisda Lamongan Lahir dari Kiai

Pendirian Unisda bermula dari gagasan KH Soefyan Abdul Wahab pada tahun 1970-an yang wafat sebelum merealisasikan idenya. Melalui menantunya, Masykuri Shodiq, cita-cita tersebut mulai terwujud dengan dibentuknya kelompok belajar mahasiswa Universitas Darul Ulum Jombang di Pondok Pesantren Matholi’ul Anwar Karanggenang, Lamongan pada tahun 1985.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Karena mendapat respon positif dari masyarakat sekitar, para ulama lalu mendirikan Yayasan Universitas Islam Darul Ulum dengan akte notaris tertanggal 28 November 1986. Unisda lalu terus berkembang hingga sekarang memiliki tak kurang dari tujuh fakultas.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Afif menjelaskan, meski berdiri sejak 27 tahun silam, salah satu kampus unggulan NU ini baru mendapat pengakuan status pada 1990. “Adapun Unisda secara resmi menjadi universitas adalah pada tahun 1997. Sehingga dihitung dari sini, usia Unisda sebetulnya masih muda,” imbuhnya.

Unisda, kata Afif, akan terus meningkatkan mutu Unisda lewat pembangunan sumber daya manusia, infrastruktur, dan beberapa layanan lainnya. Dikatakan, Unisda kini tengah berusaha menambah sejumlah program studi yang belum tersedia.

Menurut dia, perguruan tinggi swasta masih sangat dibutuhkan di Indonesia. Dari sekitar 3.500 perguruan tinggi saat ini, hanya sekitar 1.500 yang berstatus negeri. “Semoga dengan ilmu yang dimiliki, semakin banyak bakti dan sumbangsih para lulusan untuk masyarakat,” ujarnya. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ahlussunnah, Hikmah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 17 Januari 2018

Tangkal Islam Radikal, Ansor Pekalongan Aktifkan Majelis Dzikir Rijalul Ansor

Pekalongan, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan



Untuk menangkal gerakan Islam radikal, Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Pekalongan mengoptimalkan Lembaga Majlis Dzikir dan Shalawat Rijalul Ansor. Hal ini dilakukan antara lain melalui penguatan aqidah Islam Ahlussunnah wal jamaah An-Nahdliyyah bagi kader GP Ansor.

Tangkal Islam Radikal, Ansor Pekalongan Aktifkan Majelis Dzikir Rijalul Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)
Tangkal Islam Radikal, Ansor Pekalongan Aktifkan Majelis Dzikir Rijalul Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)

Tangkal Islam Radikal, Ansor Pekalongan Aktifkan Majelis Dzikir Rijalul Ansor

H Sholahuddin Zuhdi, selaku ketua Lembaga Majlis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor Kabupaten Pekalongan menyatakan bahwa kegiatan Rijalul Ansor periode kepengurusan sekarang lebih fokus kepada penguatan pemahaman dan amaliyah internal kader Ansor.

"Untuk itu pengurus Rijalul Ansor telah mengagendakan kegiatan rutin bulanan secara bergiliran dari satu PAC ke PAC lainnya. Adapun format kegiatannya diisi dengan khataman Al-Quran dilanjutkan kajian dan penguatan akidah Ahlussunnah wal Jamaah dengan mengundang narasumber dari rais syuriyah Nahdlatul Ulama Kab. Pekalongan," papar H Sholahuddin.

Pria yang akrab disapa Gus Sholah ini menambahkan bahwa momen kegiatan Rijalul Ansor juga dimaksimalkan untuk koordinasi dan konsolidasi organisasi. Ini cukup efektif mengingat kegiatan rutin bulanan ini diikuti oleh semua pengurus dan anggota Ansor dan Banser dari semua Pimpinan Anak Cabang (Kecamatan).

Sementara itu, M. Azmi Fahmi, selaku ketua PC GP Ansor Kabupaten Pekalongan mengingatkan kader Ansor untuk bisa menjadi contoh bagi masyarakat. Antara lain dengan istiqamah ngaji. Ia menyitir dawuh Mbah Maemun Zubair bahwa amaliyah terbaik yang dapat dilakukan saat ini adalah ngaji. Dengan ? ngaji, selain kapasitas keilmuannya terbangun juga akan meningkatkan spiritualitas seseorang.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Melalui gerakan ngaji ini, Lembaga Rijalul Ansor bisa menjadi wadah yang baik dan bermanfaat bagi kader dan masyarakat. Oleh karena itu Ansor berharap terutama kepada pemuda santri atau alumni pesantren untuk dapat bergabung dan menguatkan Rijalul Ansor," tandas Azmi.

Putaran perdana Rijalul Ansor yang dilaksanakan pada Ahad malam Senin (27/11) bertempat di Gedung MWC NU Kedungwuni, Jalan Kebangkitan No. 9 Kedungwuni. Hadir KH Sabilal Rosyad yang mengkaji kitab Risalah Ahlussunnah wal Jamaah karangan Hadratusy Syakh KH Hasyim Asyari. Red: Mukafi Niam

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ahlussunnah, Doa Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 13 Januari 2018

Luncurkan Miqat Kebinekaan, Sekjen PBNU Ingin Islam Damai

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan?



Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H. Helmy Faisal Zaini meluncurkan buku karangannya berjudul "Miqat Kebinekaan: Sebuah Renungan Meramu Pancasila, Nasionalisme, dan NU sebagai Titik Pijak Perjuangan" di lantai 8, Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Jumat (9/6).

Luncurkan Miqat Kebinekaan, Sekjen PBNU Ingin Islam Damai (Sumber Gambar : Nu Online)
Luncurkan Miqat Kebinekaan, Sekjen PBNU Ingin Islam Damai (Sumber Gambar : Nu Online)

Luncurkan Miqat Kebinekaan, Sekjen PBNU Ingin Islam Damai

Helmy dalam sambutannya menjelaskan, judul buku ini sengaja menggunakan kata miqat, berasal dari bahasa Arab yang mempunyai arti batas.?

Menurutnya, Miqat Kebinekaan ini menggabungkan antara miqat zamani (waktu) dan miqat makani (ruang). "Dimensi ruang dan waktu yang bertemu menjadi kebersamaan itulah yang disebut Miqat Kebinekaan, "katanya.?

Ia menerangkan, kehadiran buku ini ? untuk menjawab kegelisahan terhadap munculnya aliran-aliran yang jauh dari nilai-nilai keislaman. "Ada upaya-upaya yang memaksakan kehendak baik itu melalui gerakan politik maupun berbagai macam gerakan-gerakan yang seolah-olah ini mengatasnamakan Islam, "katanya dengan mencontohkan ISIS.?

Menurutnya, keberadaan ISIS yang di Philipina, sudah menunjukkan warning bagi bangsa Indonesia. "Kita harus waspada untuk bersama-sama menghadapi Terorisme global," ujarnya.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ia menuturkan, buku dengan tebal 149 halaman ini, mengandung banyak pandangan keagamaan khususnya Islam. Dalam buku itu dijelaskan bahwa Nabi Muhammad dalam berdakwah selalu memakai cara-cara dengan bijaksana. "Jadi bukan dengan teror, bukan dengan bom, bukan dengan cacian, bukan dengan hinaan, bukan dengan menebar kebencian, bukan dengan pembunuhan, bukan dengan cara-cara yang tentu tidak diajarkan oleh agama."

Melalui buku ini juga, ia ingin terus mengedepankan Islam rahmatan lil alamin. Islam perdamaian, yaitu Islam yang ramah bukan Islam yang marah, Islam yang merangkul bukan yang memukul. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ahlussunnah, Olahraga Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 10 Januari 2018

Menag Malaysia Kunjungi PBNU, Tanyakan Soal Ahmadiyah

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Menteri Agama Malaysia Dato Sri Dr Ahmad Zahid Hamidi melakukan kunjungan ke PBNU, Kamis (3/7). Salah satu materi yang dibicarakan dengan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi adalah sikap NU terhadap aliran Ahmadiyah.



Menag Malaysia Kunjungi PBNU, Tanyakan Soal Ahmadiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag Malaysia Kunjungi PBNU, Tanyakan Soal Ahmadiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag Malaysia Kunjungi PBNU, Tanyakan Soal Ahmadiyah

Hasyim menjelaskan, persoalan Ahmadiyah di Indonesia memang cukup pelik karena adanya kelompok yang pro dan kontra terhadap keberadaan Ahmadiyah di Indonesia. Kelompok Islam garis keras menginginkan aliran tersebut dibubarkan sedangkan kelompok sekuler mendesak agar pemerintah tetap menghargai keberadaan Ahmadiyah sebagai bagian dari kebebasan berkeyakinan.

“NU menganggap aliran Ahmadiyah bagian dari penodaan agama, bukan kebebasan beragama. Kalau mereka mengaku sebagai agama tersendiri malah gampang. Lho ini ngaku Islam tapi nabinya lain,” ujarnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ia yakin, pendapat PBNU ini merupakan cerminan dari sebagian besar pemikiran umat Islam yang ada di Indonesia.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Presiden World Conference of Religions for Peace ini menjelaskan polemik Ahmadiyah di Indonesia ini juga sudah melibatkan jaringan internasional mereka. Ia mengaku sempat didatangi oleh seorang pejabat tinggi dari sebuah negara di Eropa yang mendorong agar Ahmadiyah bisa tetap beraktifitas di Indonesia.

“Ya saya jawab, boleh saja, asal jangan ngaku Islam,” katanya.

Saat ini, yang paling penting menurut Pengasuh Ponpes Mahasiswa Al Hikam Malang ini adalah mendakwahi para pengikut Ahmadiyah agar kembali pada ajaran Islam. Ia juga berharap kerjasama Islam moderat di Indonesia dan Malaysia, yang dikenal dengan istilah Islam Hadari terus dikembangkan.

Ahmadiyah Dilarang di Malaysia

Zahid Hamidi menjelaskan pemerintah Malaysia juga melarang keberadaan Ahmadiyah karena meyakini adanya nabi baru setelah Nabi Muhammad Saw.

“Ini bukan soal dholalah (kesesatan.red), tapi kalau sudah mengenai dua nabi, itu sudah agama lain,” katanya.

Untuk menjaga kerukunan dan keharmonisan umat beragama pemerintah Malaysia mendirikan Darul Iftah. Aliran yang dianggap menyimpang diputuskan oleh Majelis Fatwa Kebangsaan. “Namun sebelumnya kita usahakan dulu melalui dakwah bil hikmah wal mauidotil hasanah,” tandasnya. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pondok Pesantren, Kajian Sunnah, Ahlussunnah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 06 Januari 2018

Tetap NU Meski Tanpa Organisasi

Karanganyar, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Desa Ngadirejo, Kecamatan Mojogedang, Kabupaten? Karanganyar, Jawa Tengah, merupakan satu-satunya desa yang belum mempunyai ranting NU di Mojogedang. Sebenarnya lokasinya tidak terlalu pelosok dan tertinggal, kecuali hanya berjarak sekitar 1 km dari pusat kecamatan.

Meskipun belum mempunyai organisasi NU secara resmi, warga Ngadirejo tetap bersemangat melestarikan tradisi dan praktik peribadatan ala warga NU pada umumnya (amaliyah nahdliyah), seperti shalawat-nariyahan, tahlilan, yasinan, dan acara tasyakuran dalam bentuk kenduri.

Tetap NU Meski Tanpa Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Tetap NU Meski Tanpa Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Tetap NU Meski Tanpa Organisasi

Hampir setiap RT di desa ini mempunyai jadwal rutinan pelaksanaan amaliah? tersebut. “Jadi pelaksanaannya digilir tiap rumah secara urut, dan waktunya setiap 35 hari sekali atau kalau orang Jawa menyebut selapan dino,” ujar Sukidi, warga Ngadirejo seusai acara tahlilan dan shalawatan di rumah salah satu warga, Kamis (19/9).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Masing-masing RT memiliki jadwal kegiatan tersebut yang tidak sama, sebagian melaksanakannya pada Jumat Legi, Jumat Kliwon, atau lainnya tergantung kesepakatan warganya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Di balik semangat mereka melakukan amaliah tersebut, muncul kegelisahan di kalangan warga Ngadirejo karena mereka sendiri masih bingung mencari figur panutan dalam hal agama.

Mereka melakukan kegiatan itu karena memandang sebagai ibadah yang baik meski tanpa satu warga pun yang mengetahui dasarnya. Tak heran jika dengan mudah pula mereka akan terhasud oleh pemahaman lainnya.

“Ya saya orang NU dan amaliah yang biasa warga sini lakukan itu juga NU saya tau. Tapi kalau saya disuruh menunjukkan dasarnya, saya sendiri belum tau. Jadi sekarang ini sudah ada beberapa warga yang tidak mau ikut acara-acara seperti tahlil, yasin, kenduri karena mereka bilangin bid’ah,” tambahnya.

Sedangkan Kiai Mukti Ali sendiri selaku Ketua PCNU Karanganyar mengungkapkan bahwa memang di Ngadirejo belum ada ranting NU. Menurut dia, kondisi ini dikarenakan belum ada kader di desa tersebut.

“Desa Ngadirejo itu warganya masih gampang ajakannya, terutama dalam hal agama. Tapi sayang belum ada yang menjadi panutan dan belum ada kader NU yang mendirikan ranting,” katanya.

Kalaupun dirikan ranting, lanjut Mukti Ali, belum ada yang istiqamah tinggal di sana. “Jadi saat ini ada jama’ah (warga) tapi tanpa jam’iyah (organisasi),” paparnya saat ditemui Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan di kediamannya Desa Pojok, Kecamatan Mojogedang, Karanganyar. (Ahmad Rosyidi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ahlussunnah, Hikmah, Pendidikan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 05 Januari 2018

Kiai Said Bimbing Pemuda Asal Lamtim Masuk Islam di PBNU

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan? ?



Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj membimbing seorang pemuda asal Lampung Timur atas nama Panca Windu Sugara memeluk agama Islam. Kiai Said membimbing Panca membacakan dua kalimat syahadat di gedung PBNU, Jakarta, selepas maghrib, Selasa (10/10).?

Kiai Said Bimbing Pemuda Asal Lamtim Masuk Islam di PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said Bimbing Pemuda Asal Lamtim Masuk Islam di PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said Bimbing Pemuda Asal Lamtim Masuk Islam di PBNU

Menurut Kiai Said, memeluk agama Islam itu gampang dimulai dengan membaca syahadat, meyakini tiada tuhan selain Allah. Allah tidak ada bapak, tidak ada ibu, tidak punya anak dan diperanakkan. Serta Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Kemudian, pemeluk Islam harus belajar shalat dan puasa,? ?

Pada kesempatan itu, Kiai Said menjelaskan bahwa agama Islam memiliki kitab suci bernama Al-Qur’an. Kitab suci ini telah 15 abad tidak berubah satu titik pun.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Original hingga sekarang karena dihafal jutaan orang di seluruh dunia. Kalau ada kesalahan sedikit saja oleh percetakan, akan diketahui orang. Ketahuan walaupun satu huruf,” tegasnya.? ?

Al-Qur’an, menurut dia, bisa dihafal oleh orang mana pun. Orang Mesir, Indonesia, Amerika, Eropa, China, India. Itu keistimewaannya juga. Orang untuk menghafal selembar makalah bahasa Arab saja setengah mati susahnya, tapi Al-Qur’an dimudahkan Allah.

“Al-Qur’an bacanya ada aturannya, iramanya; tidak ada kitab suci seperti itu,” ujar pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqofah, Ciganjur, Jakarta, Selatan itu.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panca mengaku, memeluk agama Islam tidak ada paksaan sama sekali. Dan ia mengaku ingin memeluk Islam di PBNU agar lebih mantap. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ahlussunnah, Sejarah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 30 Desember 2017

Warga Palu Pecahkan Rekor Muri Pembacaan Yaasin

Palu, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Ribuan warga Palu mengukir sejarah dengan memecahkan rekor Muri pembacaan Surat Yaasin dengan shaf terpanjang dan peserta terbanyak serta diterjemahkan dalam tujuh bahasa Nusantara, shaf tersebut memanjang sejauh kurang lebih 4,5 KM ? sisi Teluk Palu-Sulawesi Tengah, Ahad (17/5) seperti dilaporkan oleh situs kemenag.go.id.?

Warga Palu Pecahkan Rekor Muri Pembacaan Yaasin (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga Palu Pecahkan Rekor Muri Pembacaan Yaasin (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga Palu Pecahkan Rekor Muri Pembacaan Yaasin

Pembacaan surat Yaasin dipimping langsung oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin ditandai dengan bunyi petasan penanda dimulainya pembacaan surat Yaasin yang serempak berbunyi di setiap zona wilayah teluk.?

Gemuruh lantunan Yaasin yang dibaca ratusan ribu masyarakat ? dengan pakaian warna putih mewarnai Teluk Palu yang sore itu menghadirkan cuaca yang cerah dan angin teluk yang lembut.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Usai membaca Surat Yaasin, dilanjutkan dengan pembacaan terjemahan Surat Yaasin dalam tujuh Bahasa yang dibagi dalam beberapa ayat dalam surat Yaasin, yaitu bahasa Kaili yang dilakukan oleh penterjemah dari IAIN Palu, Bahasa Jawa oleh IAIN Tulungagung, bahasa Banyumasan dari IAIN Purwokerto, bahasa Semarangan dari IAIN Semarang, bahasa Dayak Kanayan dari IAIN Pontianak, bahasa Aceh dari Stain Lokshemawe, dan bahasa Mandailing dari IAIN Padang Sidempuan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sebelumnya, Menag dengan Jip terbuka melakukan silaturahim menyapa masyarakat Palu yang sudah hadir di Teluk Palu sejak usai Dzuhur, mereka duduk memanjang membentuk shaf ? tak terputus sepanjang garis Teluk Palu.

Pembacaan Surat Yaasin dengan shaf terpanjang, peserta terbanyak serta diterjemahkan tujuh bahasa nusantara ini merupakan rangkaian kegiatan Pekan Ilmiah, Olahraga, Seni dan Riset (PIONIR) Perguruan Tinggi Keagamaan ke-VII Tahun 2015 yang akan dibuka oleh Menag Senin (18/5).

Paulus Pangka dari Yayasan Muri dalam sambutannya menyampaikan, bahwa mereka telah menyaksikan rekor baru Muri yaitu pembacaan surat Yaasin dengan peserta terbanyak, shaf terpanjang 4,5 KM dan diterjamahkan dalam tujuh Bahasa Nusantara, menurutnya tujuan pemecahan rekor ini bukan semata memecahkan rekor Muri tetapi mendoakan bangsa Indonesia lebih baik di masa mendatang. ? Sertifikat ? Rekor dengan Nomor 6.938 diserahkan Yayasan Muri kepada Menag Lukman Hakim, Rektor IAIN Palu Zainal Abidin, dan Walikota Palu Rusdi Mastura. ?

Hadir dalam acara tersebut Dirjen Pendis Kamaruddin Amin, Sekda Provinsi Sulawesi Tengah, Walikota Palu Rusdi Mastura, sejumlah pejabat eselon II Pusat,dan pimpinan Perguruan Tinggi Keagamaan di lingkungan Kementerian Agama. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan PonPes, Ahlussunnah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 27 Desember 2017

Inilah Ketua Termuda Pimpinan Cabang IPPNU

Pangandaran, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Muda, energik, ramah, dan mudah akrab. Itulah sosok Siti Mardiyah, ketua Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Pangandaran. Mardiyah memecahkan rekor sebagai ketua Pimpinan Cabang IPPNU termuda.

"Umur saya masih 17 tahun dan masih duduk di bangku kelas 11 SMK," kata Mardiyah usai pelantikan PC IPNU dan IPPNU, Ahad (1/4). Mardiyah kini menempuh pendidikan di SMK Asy-Syafiiyah, Pangandaran. Umumnya, PC IPPNU diketuai oleh kader berusia sekitar 20 tahun atau lebih.

Inilah Ketua Termuda Pimpinan Cabang IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Ketua Termuda Pimpinan Cabang IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Ketua Termuda Pimpinan Cabang IPPNU

Ia mengaku terkadang merasa malu saat harus bersanding dengan ketua pimpinan cabang atau kader IPPNU dan IPNU yang lebih dewasa darinya. "Kadang sih malu, tapi justru menurut saya karena kita muda kita bisa melangkah dua langkah sementara yang lebih dewasa cuma satu langkah," ujarnya tanpa bermaksud meremehkan kader senior lainnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Berkat dukungan dari berbagai pihak, Mardiyah pun memberanikan diri untuk maju. Mulai dari rekan-rekannya hingga orang tuanya. "Alhamdulillah, kepala sekolah juga mendukung dan orangtua juga ngasih izin," ujarnya.

Dalam konferensi cabang, Mardiyah meraih suara unggul calon-calon lain yang lebih tua darinya. Semula dari empat bakal calon yang ada terpilih dua calon. Mardiyah pun mendapatkan dukungan dari pesaingnya. Kemudian, "Dia (pesaingnya) juga ngedukung. Ya udah, saya pikir kalau saya enggak maju siapa lagi, ini juga kan perdana PC Pangandaran terbentuk," katanya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Mardiyah mengaku awalnya memang canggung memimpin rekan yang lebih tua darinya. Namun, berkat banyaknya dukungan, ia pun mulai profesional dan terbiasa. Terpilihnya Mardiyah juga mengaeali sejarah baru PC IPPNU Pangandaran.

PC IPPNU dilantik oleh ketua PW IPPNU Jawa Barat, Nunung Nurjanah. Pelantikan ini juga dihadiri oleh Kabag Kesra SDM kabupaten Pangandaran yang mewakili Bupati Pangandaran, Kesbangpol Pangandaran, Kemenag Pangandaran, Disdikbudpira, Polres Pangandaran, Komite Nasional Pemuda Indoneesia (KNPI) Pangandaran, Gerakan Pemuda Anshor, dan Barisan Patriot Bela Negara (BPBN). (Ridwan Alawi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Sholawat, Makam, Ahlussunnah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 04 Desember 2017

Pagar Nusa Bentengi NKRI dari Radikalisme

Semarang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pencak Silat NU Pagar Nusa diharapkan dapat terus mendukung negara dalam membentengi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari ancaman radikalisme dan terorisme.

Demikian disampaikan Ketua FPKB MPR RI Abdul Kadir Karding dalam dalam Dialog Kebangsaan Pagar Nusa di Pondok Pesantren Azzuhri Ketileng Semarang, Kamis (26/3).

Pagar Nusa Bentengi NKRI dari Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa Bentengi NKRI dari Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa Bentengi NKRI dari Radikalisme

“Mengapa bicara Pancasila dan NKRI selalu dikaitkan dengan Pagar Nusa dan NU? Karena tidak ada orang Indonesia yang paling peduli pada dasar negara dan pedoman bernegara kita selain NU dan Pagar Nusa yang berada di barisan paling depan,” katanya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Karding meminta para pendekar dan pesilat NU Pagar Nusa untuk merapatkan barisan dalam rangka menghadapi ancaman radikalisme dan terorisme terutama dari kelompok radikal ISIS yang saat ini saat aktif melakukan manuver kekerasan dan disebarkan ke seluruh dunia.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“NU dan Pagar Nusa ini besar dan saat ini waktunya kita tampakkan kekuatan untuk mengatasi ancaman terorisme. Mari kita kerjasamakan program kita dengan MPR dan pemerintah,” katanya.

Sementara itu Anggota DPR RI  Yakut cholil Qoumas mengingatkan, perkembangan kelompok ISIS saat ini sudah dalam tahap menghawatirkan. Mereka mempuanyai strategi kampanye yang cukup efektif dan didukung oleh pendanaan yang besar.

“NU harus tampil membela Pancasila dan menjaga NKRI dari segala gangguan. Berdasarkan survei exit pool kemarin warga NU saat ini sudah separuh dari penduduk Indonesia. Artinya apapun yang terjadi dengan Indonesia pasti akan ada imbasnya untuk NU,” katanya.

Halaqah kebangsaan itu merupakan rangkaian dari kegiatan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Pimpinan Pusat Pencak Silat NU Pagar Nusa yang digelar Selasa - Ahad (26-29/3).

Kamis sore sampai malam diadakan pertemuan Majelis Pendekar Pagar Nusa yang melibatkan beberapa pihak seperti BNPT, BNPB, dan BNN. Jumat-Sabtu Sabtu diisi dengan pelatihan Pasukan Inti (Pasti) serta penandatanganan MoU dengan Lembaga Pendidikan Maarif, Asosiasi Pesantren se-Indonesia atau RMI dan PGRI terkait program ekstrakurikuler pencak silat Pagar Nusa di Sekolah.

Puncak acara Ahad (29/3) pagi akan digelar Apel Kesetiaan pada Pancasila & NKRI di lapangan Simpang Lima mulai pukul 8 WIB. Apel dipimpin oleh Waketum PBNU KH Asad Said Ali, dihadiri Gubernur Jateng, Panglima TNI Moeldoko, Plt Kapolri Badrodin Haiti, dan Ketua Umum PP Pagar Nusa Aizzudin Abdurrahman. (Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Jadwal Kajian, Syariah, Ahlussunnah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 02 Desember 2017

Iran Hukum Mati Pendiri Syiah Versi New Age

Teheran, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Mohammad Ali Taheri, seorang pendiri aliran baru Islam Syiah ala New Age mendapat vonis hukuman mati dari pengadilan Iran.

Pengacara Taheri, Mahmoud Alizadeh Tabatabaei mengatakan bahwa pengadilan tersebut menghukum kliennya atas dasar tuduhan mendirikan sebuah sekte.

Iran Hukum Mati Pendiri Syiah Versi New Age (Sumber Gambar : Nu Online)
Iran Hukum Mati Pendiri Syiah Versi New Age (Sumber Gambar : Nu Online)

Iran Hukum Mati Pendiri Syiah Versi New Age

Seperti dikutip dari AP, pengacara tersebut mengaku pihaknya akan mengajukan banding dalam waktu 20 hari.

Pada tahun 2014, Taheri juga mendapat vonis hukuman mati atas tuduhan serupa namun pengadilan banding kemudian menolak putusan tersebut. Pria 61 tahun itu telah dipenjara sejak 2011, saat sebuah pengadilan memvonisnya lima tahun penjara karena kasus penodaan agama.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dalam beberapa pekan belakangan ini, pihak berwenang dilaporkan sudah menahan puluhan pengikut Taheri.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Taheri juga telah melakukan penelitian tentang pengobatan alternatif. Pemimpin Iran menganggap keyakinan New Age sebagai ancaman terhadap prinsip-prinsip Islam. (Red: Mahbib)Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Santri, Ahlussunnah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 30 November 2017

Di Haul, KH Muadz Thohir Ceritakan Keistimewan Gus Dur

Jepara, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

KH Muadz Thohir yang merupakan sahabat karib almahrum Gus Dur didaulat untuk berbicara dalam Haul ke-6 Gus Dur yang berlangsung di Masjid Arrobbaniyyin Kampus Unisnu Jepara, Kamis (14/01) lalu. Dalam kegiatan bertajuk "Mengenang Gus Dur dan Pluralisme Agama" kiai yang kerap disapa Gus Muadz ini menerangkan bangsa Indonesia wajib memperingati Haul Gus Dur jika tidak ia menyebutnya "keterlaluan".?

Di Haul, KH Muadz Thohir Ceritakan Keistimewan Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Haul, KH Muadz Thohir Ceritakan Keistimewan Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Haul, KH Muadz Thohir Ceritakan Keistimewan Gus Dur

"Di Irak ada Haul Gus Dur. Di Brunei dan Malaysia juga ada peringatan Gus Dur. Sehingga jika kita tidak menghauli Gus Dur itu "keterlaluan"," jelasnya.

Kegiatan Haul yang dikemas ala pengajian Awan PBNU ini menyatakan KH Abdurrahman Wahid merupakan sosok yang "kontroversial" baik secara keilmuwannya maupun ibadahnya. Kiai asal Pati Jawa Tengah ini menyontohkan shalat yang ditunaikan Gus Dur tidak sama yang dilakukan oleh kebanyakan orang. Sebab mantan Presiden RI ini menurutnya pernah mempunyai riwayat ususnya pernah dipotong hingga 22 cm. Hingga, tambahnya, ia Gus Dur tidak mampu menunaikan shalat layaknya orang awam. Tetapi dirinya meyakini Gus Dur tetap menunaikan shalat.

Membaca

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dalam hal intelektual, Gus Muadz menyebut Gus Dur merupakan sosok yang kutu buku. Setiap ada buku baru ia mesti membacanya. Bahkan ketika penglihatannya mulai terganggu banyak kerabat Gus Dur yang diminta untuk membacakan buku meski hanya judul dan pendahuluannya saja. "Ini tidak lepas dari kedalaman pemahaman beliau sewaktu masih muda banyak membaca literatur sehingga buku terbaru pun sudah bisa dipahami meski hanya judul dan pendahuluan saja," tuturnya.

Gus Dur muda, kenangnya, beda dengan kebanyakan pemuda yang lain. Dibeberkannya dalam semenit Gus Dur mampu mendaras seribu kata. Padahal sekelas orang jenius hanya mampu membaca 250-500 kata. "Saya hanya bisa membaca 150-200 kata per menit. Kalau Gus Dur membacanya cepat," tandasnya.

Ia pun ingat betul akan petuah Gus Dur bahwa perintah membaca yang termaktub dalam Al-Quran tidak menyebut spesifikasi buku yang dibaca. "Kita mesti membaca apa saja. Bisa buku, maupun lingkungan maupun membaca alam," urainya.

Ia menegaskan, sebelum membaca orang lain, kita dituntut untuk membaca diri kita masing-masing. Sebelum menyalahkan orang lain kita mesti menyalahkan diri sendiri. "Lihatlah orang lain dari sisi positifnya jangan melihat dari hal negatifnya," lanjutnya. Bagi dia, Gus Dur merupakan sosok yang sederhana, sosok yang menghargai perbedaan dan masih banyak titel yang disandang oleh guru bangsa ini. Mulai politisi, kiai dan ilmuwan. Ia menambahkan Gus Dur tidak pernah mempunyai beban meskipun dengan orang yang membencinya sekalipun. Gus Dur meyakini orang yang tidak cocok lama-lama kelamaan akan menjadi cocok.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dengan banyaknya yang sudah dilakukan Gus Dur ketika ia dipanggil sang pencipta semuanya menangis baik muda dan tua semuanya menangis. Hal lain ditambahkan Lutfi Rahman, Pembina Jaringan Gusdurian Jepara menilai Gus Dur merupakan guru dan inspirator yang gagasannya layak dikembangkan dan dipraktikkan.

Gus Dur masih menurutnya adalah tokoh plural yang menyatukan seluruh elemen bangsa. Sehingga tak salah hingga kini yang berziarah ke makamnya dari berbagai elemen agama.

H Anas Arbaani, Wakil Ketua PCNU Jepara dalam sambutannya mewakili PCNU Jepara dengan haul Gus Dur merupakan upaya untuk nguri-nguri semangat yang pernah digelorakan Gus Dur. Gus Dur bagi Subchan Zuhri, Sekretaris IKA PMII Jepara tidak pernah mati dan "selalu hidup". Terbukti dengan pemikiran-pemikirannya terus dikaji hingga sekarang.

"Saat ini kita (generasi muda, red) mesti membaca literatur, mengkaji pemikiran dan mempraktikkan apa yang menjadi cita-cita Gus Dur di tengah-tengah masyarakat," pungkas komisioner KPU Jepara yang demen membaca intisari-intisari Gus Dur ini. (Syaiful Mustaqim/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ahlussunnah, Syariah, Tokoh Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 24 November 2017

Kiai Pedakwah dan Pejuang Kemerdekaan

Ia memang masih keturunan dari laskar pejuang Pangeran Diponegoro di eks Karsidenan Kedu. Tak heran selain berdakwah, Mbah Dalhar juga mewarisi semangat perjuangan dalam merebut dan mempertahankan Kemerdekaan R.

Mbah Kiai Dalhar lahir di komplek pesantren Darussalam, Watucongol, Muntilan, Magelang pada hari Rabu, 10 Syawal 1286 H (12 Januari 1870 M). Ketika lahir ia diberi nama oleh ayahnya dengan nama Nahrowi. Ayahnya adalah seorang mudda’i ilallah bernama Abdurrahman bin Abdurrauf bin Hasan Tuqo.

Kiai Abdurrauf adalah salah seorang panglima perang Pangeran Diponegoro. Nasab Kiai Hasan Tuqo sendiri sampai kepada Sunan Amangkurat Mas atau Amangkurat III. Oleh karenanya sebagai keturunan raja, Kiai Hasan Tuqo juga mempunyai nama lain dengan sebutan Raden Bagus Kemuning.

Diriwayatkan, Kiai Hasan Tuqo keluar dari komplek keraton karena ia lebih senang mempelajari ilmu agama daripada hidup dalam kepriyayian. Belakangan waktu baru diketahui jika ia hidup menyepi didaerah Godean, Yogyakarta. Sekarang desa tempat ia tinggal dikenal dengan nama desa Tetuko. Sementara itu salah seorang puteranya bernama Abdurrauf juga mengikuti jejak ayahnya yaitu senang mengkaji ilmu agama. Namun ketika Pangeran Diponegoro membutuhkan kemampuan beliau untuk bersama – sama memerangi penjajah Belanda, Abdurrauf tergerak hatinya untuk membantu sang Pangeran.

Kiai Pedakwah dan Pejuang Kemerdekaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Pedakwah dan Pejuang Kemerdekaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Pedakwah dan Pejuang Kemerdekaan

Dalam gerilyanya, pasukan Pangeran Diponegoro sempat mempertahankan wilayah Magelang dari penjajahan secara habis–habisan. Karena Magelang bagi pandangan militer Belanda nilainya amat strategis untuk penguasaan teritori lintas Kedu. Oleh karenanya, Pangeran Diponegoro membutuhkan figure–figure yang dapat membantu perjuangannya melawan Belanda sekaligus dapat menguatkan ruhul jihad di masyarakat.

Menilik dari kelebihan yang dimilikinya serta beratnya perjuangan waktu itu maka diputuskanlah agar Abdurrauf diserahi tugas untuk mempertahankan serta menjaga wilayah Muntilan dan sekitarnya. Untuk ini Abdurrauf kemudian tinggal di dukuh Tempur, Desa Gunung Pring, Kecamatan Muntilan. Beliau lalu membangun sebuah pesantren sehingga masyhurlah namanya menjadi Kiai Abdurrauf.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pesantren Kiai Abdurrauf ini dilanjutkan oleh putranya yang bernama Abdurrahman. Namun letaknya bergeser ke sebelah utara ditempat yang sekarang dikenal dengan dukuh Santren (masih dalam desa Gunung Pring). Sementara ketika masa dewasa mbah Kiai Dalhar, beliau juga meneruskan pesantren ayahnya (Kiai Abdurrahman) hanya saja letaknya juga digeser kearah sebelah barat ditempat yang sekarang bernama Watu Congol.

Nama “Dalhar”

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Mbah Kiai Dalhar adalah seorang yang dilahirkan dalam ruang lingkup kehidupan pesantren. Oleh karenanya semenjak kecil beliau telah diarahkan oleh ayahnya untuk senantiasa mencintai ilmu agama. Pada masa kanak-kanaknya, ia belajar Al-Qur’an dan beberapa dasar ilmu keagamaan pada ayahnya sendiri yaitu Kiai Abdurrahman. Menginjak usia 13 tahun, mbah Kiai Dalhar mulia belajar mondok. Ia dititipkan oleh sang ayah pada Mbah Kiai Mad Ushul (begitu sebutan masyhurnya) di Dukuh Mbawang, Desa Ngadirejo, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang. Disini ia belajar ilmu tauhid selama kurang lebih 2 tahun.

Sesudah dari Salaman, saat ia berusia 15 tahun mbah Kiai Dalhar dibawa oleh ayahnya ke Pondok Pesantren Al-Kahfi Somalangu, Kebumen. Oleh ayahnya, mbah Kiai Dalhar diserahkan pendidikannya pada Syeikh As_Sayid Ibrahim bin Muhammad Al-Jilani Al-Hasani atau yang ma’ruf dengan laqobnya Syeikh Abdul Kahfi Ats-Tsani. Delapan tahun mbah Kiai Dalhar belajar di pesantren ini. Dan selama di pesantren beliau berkhidmah di ndalem pengasuh. Itu terjadi karena atas dasar permintaan ayahnya sendiri pada Syeikh As_Sayid Ibrahim bin Muhammad Al-Jilani Al-Hasani.

Kurang lebih pada tahun 1314 H/1896 M, mbah Kiai Dalhar diminta oleh gurunya yaitu Syeikh As_Sayid Ibrahim bin Muhammad Al-Jilani Al-Hasani untuk menemani putera laki – laki tertuanya yang bernama Sayid Abdurrahman Al-Jilani Al-Hasani thalabul ilmi ke Makkah Musyarrafah. Dalam kejadian bersejarah ini ada kisah menarik yang perlu disuri tauladani atas ketaatan dan keta’dziman mbah Kiai Dalhar pada gurunya.

Syeikh As_Sayid Ibrahim bin Muhammad Al-Jilani Al-Hasani punya keinginan menyerahkan pendidikan puteranya yang bernama Sayid Abdurrahman Al-Jilani Al-Hasani kepada shahabat karibnya yang berada di Makkah dan menjadi mufti syafi’iyyah waktu itu bernama Syeikh As_Sayid Muhammad Babashol Al-Hasani (ayah Syeikh As_Sayid Muhammad Sa’id Babashol Al-Hasani). Sayid Abdurrahman Al-Hasani bersama mbah Kiai Dalhar berangkat ke Makkah dengan menggunakan kapal laut melalui pelabuhan Tanjung Mas, Semarang.

Dikisahkan selama perjalanan dari Kebumen, singgah di Muntilan dan kemudian lanjut sampai di Semarang, saking ta’dzimnya mbah Kiai Dalhar kepada putera gurunya, beliau memilih tetap berjalan kaki sambil menuntun kuda yang dikendarai oleh Sayid Abdurrahman. Padahal Sayid Abdurrahman telah mempersilahkan mbah Kiai Dalhar agar naik kuda bersama. Namun itulah sikap yang diambil oleh sosok mbah Kiai Dalhar.

Sesampainya di Makkah (waktu itu masih bernama Hejaz), mbah Kiai Dalhar dan Sayid Abdurrahman tinggal di rubath (asrama tempat para santri tinggal) Syeikh As-Sayid Muhammad Babashol Al-Hasani yaitu didaerah Misfalah. Sayid Abdurrahman dalam rihlah ini hanya sempat belajar pada Syeikh As_Sayid Muhammad Babashol Al-Hasani selama 3 bulan, karena ia diminta oleh gurunya dan para ulama Hejaz untuk memimpin kaum muslimin mempertahankan Makkah dan Madinah dari serangan sekutu. Sementara itu mbah Kiai Dalhar diuntungkan dengan dapat belajar ditanah suci tersebut hingga mencapai waktu 25 tahun.

Syeikh As-Sayid Muhammad Babashol Al-Hasani inilah yang kemudian memberi nama “Dalhar” pada mbah Kiai Dalhar. Hingga ahirnya ia memakai nama Nahrowi Dalhar. Dimana nama Nahrowi adalah nama aslinya. Dan Dalhar adalah nama yang diberikan untuk beliau oleh Syeikh As_Sayid Muhammad Babashol Al-Hasani. Rupanya atas kehendak Allah Swt, mbah Kiai Nahrowi Dalhar dibelakang waktu lebih masyhur namanya dengan nama pemberian sang guru yaitu Mbah Kiai “Dalhar”.

Ketika berada di Hejaz inilah Kiai Nahrowi Dalhar memperoleh ijazah kemusrsyidan Thariqah As-Syadziliyyah dari Syeikh Muhtarom Al-Makki dan ijazah aurad Dalailil Khoerat dari Sayid Muhammad Amin Al-Madani. Dimana kedua amaliyah ini dibelakang waktu menjadi bagian amaliah rutin yang memasyhurkan namanya di tanah Jawa.

Hizb Bambu Runcing

Mbah Kiai Dalhar adalah seorang ulama yang senang melakukan riyadhah. Selama di tanah suci, mbah Kiai Dalhar pernah melakukan khalwat selama 3 tahun disuatu goa yang teramat sempit tempatnya. Dan selama itu pula beliau melakukan puasa dengan berbuka hanya memakan 3 buah biji kurma saja serta meminum seteguk air zamzam secukupnya. Dari bagian riyadhahnya, beliau juga pernah melakukan riyadhah khusus untuk medoakan para keturunan beliau serta para santri – santrinya. Dalam hal adab selama ditanah suci, mbah Kiai Dalhar tidak pernah buang air kecil ataupun air besar di tanah Haram. Ketika merasa perlu untuk qadhil hajat, ia lari keluar tanah Haram.

Setelah pulang dari tanah suci, sekitar tahun 1900 M ia kemudian meneruskan perdikan peninggalan nenek moyangnya yang berupa pondok kecil di kaki bukit kecil Gunung Pring, Watu? Congol, Kecamatan Muntilan Kabupaten Magelang. Kurang lebih 3 kilometer sebelah timur Candi Borobudur. Pondok pesantren kecil ini lambat laun tidak hanya dihuni oleh santri-santri sekitar eks Karsidenan Kedu saja namun sampai pelosok tanah Jawa.

Bahkan ketika masa-masa perang pra dan masa kemerdekaan, pondok pesantren Watucongol menjadi markas dan sekaligus tempat singgah para pejuang tentara bambu runcing yang datang Jogjakarta dan wilayah Jawa bagian barat seperti eks Karsidenan Banyumas dan sebagian dari Jawa Barat. Konon ceritanya, bambu runcing para pejuang harus di asma hizb dahulu oleh KH Dalhar dan KH Subekhi (Parak, Temanggung) sebelum menyerang markas penjajah Belanda di Ambarawa, Semarang, (lihat buku: Jejak Kaki Persantren, karya KH Saifuddin Zuhri).

Dikisahkan, dengan bermodalkan bambu runcing, para pejuang kemerdekaan menyerang benteng Belanda di Ambarawa, bambu-bambu runcing mampu terbang dengan sendirinya bak senapan menyerang tentara-tentara Belanda. Sementara bombardir peluru serta granat tangan kumpeni Belanda tidak mampu melukai apalagi menyentuh kulit para pejuang Republik Indonesia.? ? ? ? ? ? ?

Karya mbah Kiai Dalhar yang sementara ini dikenal dan telah beredar secara umum adalah Kitab Tanwirul Ma’ani. Sebuah karya tulis berbahasa Arab tentang manaqib Syeikh As-Sayid Abu Hasan ‘Ali bin Abdillah bin Abdil Jabbar As-Syadzili Al-Hasani, imam thariqah As-Syadziliyyah.

Banyak sekali tokoh – tokoh ulama terkenal negara ini yang sempat berguru kepadanya semenjak sekitar tahun 1920 – 1959. Diantaranya adalah KH Mahrus, Lirboyo ; KH Dimyathi, Banten ; KH Marzuki, Giriloyo dll. Sesudah mengalami sakit selama kurang lebih 3 tahun, Mbah Kiai Dalhar wafat pada hari Rabu Pon, 29 Ramadhan 1890 – Jimakir (1378 H) atau bertepatan dengan 8 April 1959 M dan beliau kemudian di makamkan di komplek makam Gunung Pring, Watucongol, Kecamatan Muntilan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Sekalipun jasadnya telah terkubur dalam tanah, karya dan penerus perjuangan Mbah Dalhar tetap berkelanjutan sampai sekarang. Pondok Pesantren Darussalam, Watu Congol adalah saksi sejarah napak tilas perjuangan dakwah Mbah Dalhar. Jalan menuju makam Watucongol memang terbilang mudah. Peziarah ruhani biasanya melengkapi ziarah Wali Songo atau wisata liburan dengan melewati jalur tengah yang menghubungkan jalan utama dari Jogjakarta menuju Semarang. Ketika melewati kota Muntilan, dari arah pasar Muntilan cukup sekitar 5 kilo ke sebelah barat menunuju kawasan Gunung Pring.

Untuk memperingati jejak sejarah Mbah Dalhar dan Pesantren Darusalam Watu Congol Muntilan, setiap akhir bulan Sya’ban tahun Hijriah biasanya haulnya diperingati di kompleks Pesantren Darussalam Watucongol, dan Kompleks makam Gunung Pring Muntilan Magelang. Dipastikan kedua kompleks perdikan bersejarah itu tak pernah sepi oleh penziarah yang datang tidak saja dari penjuru Nusantara namun juga negeri mancanegara. (Aji Setiawan/Anam)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Aswaja, Internasional, Ahlussunnah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 20 November 2017

Cermati, Pilih Jihad yang Datangkan Rahmat Allah

Way Kanan, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan ? . Ketua Ranting Ansor Way Tawar, Pakuan Ratu, Way Kanan, Lampung, Miftalif Albar mengatakan, jihad semestinya dicermati, kemudian dipilih jihad yang akan mendatangkan rahmat Allah atau justru sebaliknya.

"Jihad dalam Islam menjadi salah? satu hal yang penting dalam menegakkan kalimatullah maupun menghidupkan syiar Islam, namun bukan berarti jihad menjadi satu-satunya amal untuk menegakkan agama," ujarnya, di Way Kanan, Jumat (25/11).

Cermati, Pilih Jihad yang Datangkan Rahmat Allah (Sumber Gambar : Nu Online)
Cermati, Pilih Jihad yang Datangkan Rahmat Allah (Sumber Gambar : Nu Online)

Cermati, Pilih Jihad yang Datangkan Rahmat Allah

Hadist Imam Bukhori menjelaskan Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, bahwasanya jihad itu termasuk amalan yang utama, namun keutamaan jihad berada urutan ketiga setelah shalat tepat waktu dan birrul walidain.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Bahwa jihad tidak bisa diartikan hanya dengan satu makna. Nabi saja mengartikan haji mabrur juga sebagian dari jihad," kata Mifta lagi.

Hal itu, lanjutnya, berarti jihad tidak bisa hanya diartikan dengan berperang melawan musuh saja.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Kita perlu kembali pada makna jihad yang sesungguhnya. Jihad adalah melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh demi tercapainya sesuatu. Berarti jihad adalah sarana (wasilah) dan bukan tujuan (maqosid). Di sinilah banyak kelompok atau golongan tidak memahami makna jihad," paparnya.

Dampaknya, mereka atau kelompok itu, katanya lagi. menjadikan jihad sebagai tujuan dalam Islam.

"Padahal tujuan syiar Islam adalah rahmatan lilalamin. Oleh sebab itu, dalam berjihad, kita perlu memahami, apakah dengan jihad kita itu akan mendatangkan rahmat Allah atau justru sebaliknya," demikian Miftalif Albar. (Syuhud Tsaqafi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ahlussunnah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 16 November 2017

Ansor NTB Siapkan Sejumlah Kegiatan Pra-Konferwil

Mataram, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Nusa Tenggara Barat (NTB) tengah mempersiapkan beberapa agenda menjelang diselenggarakannya Konfrensi Wilayah (Konferwil) VIII di Pulau Lombok, 10-20 April mendatang.

Ansor NTB Siapkan Sejumlah Kegiatan Pra-Konferwil (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor NTB Siapkan Sejumlah Kegiatan Pra-Konferwil (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor NTB Siapkan Sejumlah Kegiatan Pra-Konferwil

“Konfrensi kali ini dikemas dengan beberapa agenda penting yang menyakut tentang keberadaan organisasi dan mamfaat bagi masyarkat umum,” kata ketua panitia, Ismul Basar, usai rapat panitia, Jumat (13/3), di Mataram.

Agenda-agenda tersebut antara lain “Gerakan Pesantren Hijau” dan “Pengobatan Gratis” yang akan dipusatkan di Kabupaten Lombok Utara dan Kabupaten Lombok timur.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selain itu, kaderisasi juga sedang digencarkan, di antaranya Kursus Banser Lanjutan (Susbalan) yang akan berpusat di Kabupaten Lombok Utara dan Pelatihan Kepemimpinan Lanjut (PKL) di Pondok Pesantren Abhariah Jerneng Kabupaten Lombok Barat.

PW GP Ansor NTB menjadwalkan pula acara diskusi publik bertajuk “Talk Show Teologi Islam dan Peluralisme”. Konferwil VIII GP Ansor NTB rencananya berlangsung di Kota Mataram, ibu kota NTB. (Hadi/Mahbib)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Lomba, Ahlussunnah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 13 November 2017

Pengertian Malam lailatul Qadar

Berdasarkan keterangan al-Quran dan al-Sunnah, disebutkan bahwa dalam bulan Ramadhan terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Malam yang indah itu disebut Lailatul Qadar atau malam kemuliaan. Bila seorang muslim mengerjakan kebaikan-kebaikan di malam itu, maka nilainya lebih baik dari mengerjakan kebaikan selama seribu bulan atau sekitar 83 ? 84 tahun.

Malam indah yang lebih baik dari seribu bulan itu adalah malam yang penuh berkah, malam yang mulia, dan memiliki keistimewaan-keistimewaan tersendiri. Syaikh Muhammad Abduh memaknai kata "al-Qadar" dengan kata "takdir". Ia berpendapat demikian, karena Allah s.w.t, pada malam itu mentakdirkan agama-Nya dan menetapkan khittah untuk Nabi-Nya, dalam menyeru umat manusia ke jalan yang benar. Khittah yang dijalani itu, sekaligus melepaskan umat manusia dari kerusakan dan kehancuran yang waktu itu sedang membelenggu mereka. (hasbi Ash-Shiddieqy, 1996:247)

Kata "al-Qadar" diartikan juga "al-Syarf" yang artinya mulia (kemuliaan dan kebesaran). Maksudnya Allah s.w.t, telah mengangkat kedudukan Nabi-Nya pada malam Qadar itu dan memuliakannyadengan risalah dan membangkitkannya menjadi Rasul terakhir. Mengenai hal ini diisyaratkan dalam surat al-Qadar. Bahwa malam itu adalah malam yang mulia, malam diturunjannya al-quram sebagai kitab suci yang terakhir. Surat al-Qadar itu lengkapnya sebagai berikut:

Pengertian Malam lailatul Qadar (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengertian Malam lailatul Qadar (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengertian Malam lailatul Qadar



? ? ? ? ?. ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sesungguhnya aku telah menurunkan al-quran pada malam lailatul qadar, tahukah kamu "apa itu lailatul qadar?", lailatul qadar adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan, pada malam itu turun para malaikat dan ruh qudus (malaikat jibril) dengan idzin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. Al-Baqarah,97: 1-5)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari ayat tersebut, maka jelaslah lailatul qadar adalah malam yang memiliki keistimewaannya sediri disbanding dengan malam-malam yang selainnya. Dan apabila malam itu digunakan untuk ibadah kepada Allah SWT, maka ia akan mendapatkan pahala berlibat ganda satu berbanding seribu amal kebajikan (ibadah) yang dilakukan di selain malam lailatul qadar.

Sedangkan keagungan dan keistimewaan malam Qadar pada dasarnya terletak dalam dua kemuliaan, yaitu turunnya al-quran dan turunnya para malaikat dalam jumlah yang besar, termasuk di dalamnya malaikat Jibril. Para malaikat turun di malam itu dengan cahaya yang cemerlang penuh kedamaian dan kesejahteraan. Kedatangan mereka adalah untuk menyampaikam ucapan selamat kepada orang yang yang melaksanakan puasa Ramadhan dan melaksanakan ibadah lainnya. Kemuliaan turunnya al-quran, merupakan hari yang agung dan bersejarah, turunnya kitab suci itu merupakan titik awal dimulainya suatu kehidupan "Dunia Baru" yang terlepas dari kesesatan dan kedzaliman, menuju kebenaran yang hakiki. (Pen. H. Syaifullah Amin / Red. Ulil H)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ahlussunnah, Pahlawan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 11 November 2017

Hasyim Muzadi: Jangan Jadikan NU "Naumul Ulama"

Situbondo, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Suasana Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukerejo Situbondo tampak lain tidak seperti biasanya. Hal tersebut disebabkan karena Keluarga pesantren terbesar di Kabupaten Situbondo tersebut tengah melangsungkan pernikahan cucu Kiai Kharismatik dan tokoh NU, yaitu KH R As’ad Syamsul Arifin pada hari Sabtu (11/5) di PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.

Mempelai yang menikah adalah pengganti alm. KH R Fawaid, yaitu KH Azaim Ibrohimy Dhafir cucu dari alm. KH R As’ad Syamsul Arifin yang menikah dengan Ny Hj Nor Sari As’adiyyah putri alm KH R Fawaid As’ad.

Hasyim Muzadi: Jangan Jadikan NU Naumul Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasyim Muzadi: Jangan Jadikan NU Naumul Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasyim Muzadi: Jangan Jadikan NU "Naumul Ulama"

Pada acara tersebut, KH Hasyim Muzadi didaulat untuk memberikan tausiyah kepada para undangan. Dalam sambutannya, ia menyampaikan wasiat alm KH R Fawaid As’ad, yang mengatakan bahwa tantangan NU ke depan semakin besar, sementara NU kian lama semakin kecil. Oleh karena itu, NU minimal harus hidup di tiga poros, yaitu di Kabupaten Bangkalan, Tebuireng dan Sukorejo. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Alasannya adalah, kalau di Bangkalan ada alm KH Kholil, di Tebuireng ada alm. KH Hasyim Asy’ari dan Gus Dur, dan di Sukorejo ini KH R As’ad, yang mana mereka adalah kiai kharismatik yang membesarkan NU tanpa kenal lelah. Harapannya, NU benar-benar menjadi kebangkitan para ulama bukan naumul ulama’,” lanjutnya.

Kemudian ia berpesan kepada mempelai berdua, agar supaya menjadi pemimpin yang sukses dalam membawa keluarga, sehingga menjadi kelurga sakinah mawaddah wa rahmah, melalui prinsip wa’asiruhunna bil ma’ruf. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Mengenai banyak tidaknya keturunan tergantung kepada kecepatan, ketepatan dan keterampilan,” yang disertai dengan tawa para undangan.

Hadir dalam acara tersebut para habaib, ulama’, kiai, para pejabat pemerintah pusat, propinsi maupun daerah. Tak kalah pentingnya adalah, hadirnya tokoh NU seperti KH Muchid Muzadi (Mustasyar PBNU), KH Hasyim Muzadi (Rais Syuriyah PBNU), KH Bashori Alwi (PPIQ Malang), KH Ihya’ Ulumuddin, KH Nawawi Abdul Jalil (Pengasuh PP Sidogiri), KH Zuhri Zaini (Pengasuh PP Nurul Jadid), KH Baysir (PP Annuqayah Guluk-guluk Sumenep), H Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Jajaran PWNU Jawa Timur.

 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Hasan Baharun

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ahlussunnah, Kajian Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock