Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Februari 2018

Ketua Baru IPNU-IPPNU DIY Terpilih lewat Musyawarah Mufakat

Kulon Progo, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Konferensi Wilayah (Konferwil) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) DI Yogyakarta memilih Nova Andriyanto sebagai ketua PW IPNU dan Aini Silvi Arofah sebagai ketua PW IPPNU. Keduanya ditetapkan melalui musyawarah mufakat.

Ketua Baru IPNU-IPPNU DIY Terpilih lewat Musyawarah Mufakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua Baru IPNU-IPPNU DIY Terpilih lewat Musyawarah Mufakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua Baru IPNU-IPPNU DIY Terpilih lewat Musyawarah Mufakat

Konferwil IPNU-IPPNU DIY berlangsung pada 26-27 Desember 2015 di SMK Maarif 1 Kabupaten Kulon Progo, DIY. Sidang pemilihan ketua baru IPPNU DIY dipimpin langsung Ketua Umum Pimpinan Pusat IPPNU Puti Hasni, sedangkan sidang pemilihan ketua baru IPNU DIY dipimpin Masyhuri dari PWNU DIY.

Nova Andriyanto dan Aini Silvi dipercaya memimpin organisasi pelajar NU DIY masa khidmah 2015-2018 secara aklamasi usai seluruh perwakilan Pimpinan Cabang IPNU dan IPPNU setempat mengajukan satu nama calon ketua Pimpinan Wilayah IPNU dan IPPNU DIY.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Mekanisme pemilihan melalui musyawarah mufakat ini mendapat apresiasi dari PWNU DIY.? "Secara tidak langsung, sistem musyawarah mufakat ini sesuai dengan sistem Ahul Halli Wal Aqdi (AHWA) yang diusulkan PBNU,"? kata Masyhuri mewakili PWNU DIY.

Apresiasi juga disampaikan Puti Hasni, ketua PP IPPNU. "Banyak pelajaran berharga yang saya peroleh dari kegiatan ini. Melalui kegiatan ini, semoga pimpinan wilayah IPNU-IPPNU dapat dijadikan percontohan bagi pimpinan wilayah yang lain," ujarnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Konferwil kali ini mengusung tema “Meneguhkan Spirit Kebersamaan Pelajar dalam Menghadapi Budaya Global Berbasis Kearifan Lokal”. Beberapa kegiatan pendukung juga digelar, di antaranya parade seni dan budaya yang diikuti pelajar NU se-DIY dan dilanjutkan dengan seminar kebudayaan.

Hadir dalam acara pembukaan perwakilan Pimpinan Cabang NU Kabupten Kulon Progo, Muslimat NU DIY, Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, dan Pemerintah Provinsi DIY. Dalam kesempatan itu, salah seorang pejabat daerah mewakili Gubernur DIY menyampaikan pesan agar kader IPNU dan IPPNU? menanamkan jiwa kemimpinan sejak dini supaya kelak menjadi pemimpin berkelas dan berintegritas. "Karena karakter suatu bangsa ditentukan karakter pemimpin dan golongan mudanya, dalam hal ini adalah pelajar," pesan gubernur DIY. (Miqdam/Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Nasional, Cerita, Tokoh Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 18 Februari 2018

Kisah Seorang Pemulung Naik Haji

Niat dan usaha yang sungguh-sungguh akan mengantarkan seseorang pada sesuatu yang dicita-citakannya. Setidaknya inilah yang diyakini dan diamalkan oleh Karyati, seorang pemulung asal Desa Pondok Wuluh Kecamatan Leces Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

Meski secara logika pekerjaan yang dijalaninya merupakan pekerjaan rendahan, tetapi nenek yang berusia sekitar 69 tahun tersebut ternyata mampu mencapai cita-citanya untuk menunaikan rukun Islam yang kelima naik haji ke tanah suci.

Kisah Seorang Pemulung Naik Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Seorang Pemulung Naik Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Seorang Pemulung Naik Haji

Namun demi bisa mencapai keinginannya tersebut, Karyati telah bekerja sangat keras. Bahkan selama 20 tahun lamanya, wanita paruh baya tersebut menyisihkan sebagian jerih payahnya sebagai pengais barang bekas plastik dan kertas.

Janda renta yang mempunyai 4 (empat) orang anak ini berkeyakinan bahwa suatu saat nanti dirinya bakal bisa naik haji ke tanah suci layaknya orang-orang lain yang berduit. Atas keyakinan tersebut, dirinya selalu menyisihkan hasil dari memulung untuk ditabung dan sebagian untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Memang untuk mewujudkan impian naik haji ini penuh perjuangan. Karena saya harus menabung selama 20 tahun lamanya. Tetapi saya yakin Allah pasti mengabulkan doa saya untuk bisa melihat Ka’bah secara langsung,” ujar Karyati kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan, Rabu (18/9).

Menurut Karyati, cita-cita naik haji itu sudah lama terpendam semenjak 2002 lalu. Saat itu dirinya mengaku masih punya toko kelontong di desanya. Masa-masa sulit dilewatinya saat usaha kelontongnya bangkrut di pada tahun 2005. Namun untuk menyambung hidup, Karyati kemudian menjadi seorang pemulung. Meski pekerjaannya terbilang rendah, tetapi itu tidak menyurutkan niatnya untuk bisa meraih cita-citanya untuk menunaikan ibadah haji.

Sekitar tahun 2004, Karyati mulai mendaftarkan diri sebagai haji Kabupaten Probolinggo. Pada waktu itu, tabungannya dari hasil menjadi pemulung sudah mencapai sekitar Rp. 20 juta. Selain dari hasil memulung, uang tersebut didapat dari beberapa sukarelawan.

“Pernah suatu ketika, tepatnya pada tahun 2010 saya pernah ditipu oleh seseorang yang mencoba menawarkan jasa. Namun tanpa disadari saya tertipu sebesar Rp. 10 juta dan uang tersebut tidak dikembalikan meskipun beberapa waktu kemudian akhirnya ditangkap oleh polisi,” jelasnya.

Dan selama mengejar impiannya, Karyati tidak mau kumpul atau tidur di rumah anak-anaknya. Bukannya tidak sayang kepada anak dan cucunya, namun nenek bercucu 12 orang ini tidak mau mengganggu atau menjadi beban hidup anak-anaknya. Dirinya lebih memilih tidur di toko usang miliknya. Terkadang pula tidur di masjid desanya. “Kalau pas bersih-bersih masjid ada orang kasih rejeki, saya tabung,” katanya.

Namun dengan tekad yang kuat, semua kejadian tersebut tidak mematahkan semangat Karyati untuk mewujudkan cita-citanya untuk dapat berangkat haji. “Saya hanya bisa pasrah namun saya tidak mau putus asa untuk tetap bisa berangkat haji ke tanah suci,” terangnya.

Bermodalkan sebuah sepeda buntut, Karyati keliling dari kampung ke kampung mengumpulkan barang bekas. Sebagian hasilnya digunakan untuk makan dan sebagian lain ditabung untuk bisa naik haji. “Dalam sehari, upah memungut barang bekas sebesar Rp. 10 ribu. Yang Rp. 5 ribu ditabung dan yang Rp. 5 ribu untuk makan,” akunya.

Usaha yang dilakukan Karyati tidak sia-sia. Semua hasil jerih payah dan keikhlasan hatinya membawa Karyati berangkat haji di tahun 2013 ini. Karyati direncanakan akan berangkat ke tanah suci pada tanggal 29 September 2013 melalui kloter 43 Embarkasi Juanda, Surabaya. (Syamsul Akbar/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Tokoh, Makam, Halaqoh Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 25 Januari 2018

NU Sumedang Gelar Penyuluhan Hukum Tindak Pidana Ringan

Sumedang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Pengurus Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBHNU) Kabupaten Sumedang memberikan penyuluhan hukum berkaitan dengan penyalahgunaan narkotika, HIV/AIDS, dan sosialisasi undang-undang tindak pidana ringan (tipiring). Mereka bertujuan untuk menggugah kesadaran hukum terutama di kalangan pelajar di Sumedang.

Acara yang bertempat di Gedung Islamic Center Sumedang ini dihadiri seribu pelajar yang mewakili sekolah-sekolah setingkat SMA yang ada di Sumedang.

NU Sumedang Gelar Penyuluhan Hukum Tindak Pidana Ringan (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Sumedang Gelar Penyuluhan Hukum Tindak Pidana Ringan (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Sumedang Gelar Penyuluhan Hukum Tindak Pidana Ringan

Ketua LPBHNU Sumedang Jandri Ginting sebagai penggagas kegiatan ini mengatakan bahwa penyuluhan ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Harlah Ke-93 NU. Sasaran dari kegiatan penyuluhan ini adalah pelajar. Para pelajar biasanya ingin mencoba dan menikmati hal-hal baru.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Para pelajar sekarang dijadikan objek pemasaran narkoba. Sebab itu NU tertantang untuk mengingatkan bahaya narkoba kepada kaum pelajar dengan cara mengadakan kegiatan ini.

“Para pelajar sekarang banyak yang terjerat pidana ringan. Hal itu mungkin disebabkan karena ketidaktahuan mereka tentang undang-undang tindak pidana ringan (tipiring). Dalam kesempatan penyuluhan ini disosialisasikan juga tentang undang-undang tipiring,” tandas Jandri.

Kegiatan ini dibuka oleh Ketua NU Sumedang H Sadulloh dan Sekda Kabupaten Sumedang H Zaenal Alimin.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

H Sadulloh mengatakan bahwa NU Sumedang siap memerangi narkoba. Ketika seseorang mengonsumsi narkoba, akan muncul kejahatan-kejahatan lain yang diakibatkan oleh narkoba tersebut.

“Gara-gara orang mengonsumsi narkoba, orang tersebut bisa membunuh, mencuri, memerkosa, dan berbuat kejahatan lainnya. Karena itu stop narkoba dari sekarang,” kata H Sadulloh.

Sementara Zainal Alimin berpesan agar berhati dengan pikiran karena pikiran bisa menjadikan perkataan. Perkatan bisa memunculkan perbuatan yang membuatnya menjadi terbiasa. “Mari berpikir positif dan jauhi narkoba supaya nasib kita menjadi orang-orang yang baik.” (Ayi Abdul Kohar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Tokoh, Hikmah, Ubudiyah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 24 Januari 2018

India Desak Myanmar Pulangkan Rohingya dari Bangladesh

Dhaka, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Menteri luar negeri India Sushma Swaraj mengatakan, Myanmar harus memulangkan Muslim Rohingya yang ia nilai sebagai krisis terbesar di Asia Tenggara dalam beberapa dasawarsa.

Pesan tersebut diungkap pemerintah Bangladesh dalam sebuah pertemuan dengan Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina yang memerintahkan penjaga perbatasan dan pemerintahannya mengiznkan ratusan ribu Muslim Rohingya melintasi perbatasan dan berlindung di kamp-kamp darurat di distrik pesisir Coxs Bazar.

India Desak Myanmar Pulangkan Rohingya dari Bangladesh (Sumber Gambar : Nu Online)
India Desak Myanmar Pulangkan Rohingya dari Bangladesh (Sumber Gambar : Nu Online)

India Desak Myanmar Pulangkan Rohingya dari Bangladesh

Hampir 600.000 Muslim Rohingya telah meninggalkan Negara Bagian Rakhine, Myanmar, dan tiba di Bangladesh sejak 25 Agustus untuk menghindari apa yang PBB sebut sebagai pembersihan etnis oleh Myanmar.

"Myanmar harus memulangkan warga negara mereka... Ini adalah beban besar bagi Bangladesh. Berapa lama Bangladesh akan menanggungnya? Harus ada solusi permanen untuk krisis ini," jelas Swaraj seperti dilaporkan kantor berita Bangladesh dan dikutip AP.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri India dalam sebuah pertemuan dengan rekannya dari Bangladesh AH Mahmood Ali mengatakan negaranya mengkhawatirkan kekerasan tersebut.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Kami telah mendesak agar situasi ditangani dengan menahan diri, mempertimbangkan kesejahteraan penduduk," katanya dalam sebuah pernyataan.

Sementara itu, September lalu, Menteri Dalam Negeri India Rajnath Singh menyebut etnis Rohingya yang masuk ke India bukan sebagai pengungsi. Bahkan wacana mendeprotasi puluhan ribu Muslim Rohingya pun digulirkan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

(Baca: Dianggap Membahayakan, India Akan Deportasi 40 Ribu Muslim Rohingya) 

Singh menilai, tidak seorang pun dari komunitas Rohingya telah mengajukan suaka. Dengan demikian, India tidak akan melanggar hukum internasional bila nanti mendeportasi mereka. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Kyai, Tokoh Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 12 Januari 2018

Ali Masykur Pimpin PKB kubu Gus Dur

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Terjawab sudah teka-teki siapa yang bakal menempati posisi Ketua Umum Dewan Tanfidz DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) kubu Ketua Umum Dewan Syura KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Dia adalah Ali Masykur Moesa.



Ali Masykur Pimpin PKB kubu Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Ali Masykur Pimpin PKB kubu Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Ali Masykur Pimpin PKB kubu Gus Dur

Ali Masykur yang sebelumnya merupakan Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum Dewan Tanfidz menggantikan Muhaimin Iskandar, terpilih secara aklamasi. Ia ditunjuk oleh tim asistensi yang bertugas membantu Gus Dur menentukan ketua umum.

"Dengan ini tim asistensi yang membantu ketua dewan syuro sepakat menunjuk dan mengangkat saudara Ali Masykur Moesa sebagai Ketua Umum PKB," kata anggota tim asistensi yang juga Ketua DPW Kalimantan Selatan Rosehan N.B. saat membacakan hasil akhir rapat pleno tim formatur di arena Muktamar Luar Biasa (MLB) PKB Gus Dur, di Parung, Bogor, Jawa Barat, Kamis (1/5).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

 

Penunjukan Ali Masykur ini untuk mengisi jabatan lowong yang ditinggalkan Muhaimin. Ali Masykur akan menjabat posisi ketua umum PKB untuk masa jabatan 2008-2010.

Gus Dur menyatakan, penunjukan Ali Masykur sebagai ketua umum PKB untuk tidak mengurangi kekompakan DPP PKB kubunya. Diharapkan dengan perubahan yang tidak banyak mempermudah proses selanjutnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Setelah kami bersidang diputuskan susunan DPP PKB yang baru. Dan, sebenarnya hanya ada perubahan kecil saja agar tidak mengurangi kekompakan kita," kata Gus Dur.

Sebelumnya, sempat mengemuka tiga nama yang bakal mengisi posisi ketua umum Dewan Tanfidz. Di antaranya, Ali Masykur, Zanubah Arifah Chafsoh (Yenny Wahid) dan Muamir Muin Syam. Namun, Yenny kemudia menolak dipilih sekaligus mendukung Ali Masykur.

Dalam pidatonya, Yenny Wahid menegaskan dirinya tidak bersedia maju dalam pemilihan Ketua Umum PKB. Menurut Yenny, langkah ini diambil untuk menghargai ayahnya Gus Dur, yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Syuro PKB.

"Saya berharap keputusan ini membuat MLB PKB happy ending (berakhir bahagia)," ujar Yenny yang selanjutnya meminta peserta MLB mendukung Ali Masykur selaku ketua umum. (rif/mkf/dtc)Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Daerah, Tokoh, Nasional Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 14 Desember 2017

GP Ansor Tanjungkerta Rekrut Puluhan Anggota Banser NU

Sumedang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Kecamatan Tanjungkerta Kabupaten Sumedang menggelar pendidikan dan latihan dasar (diklatsar) Banser NU di Pondok Pesantren Al-Mamun Tanjungkerta Sumedang. Diklatsar ini diikuti oleh 60 peserta dan akan dilaksanakan selama tiga hari, Jumat-Ahad (8-10/9).

Ketua GP Ansor Tanjungkerta Syarif Hidayatullah mengatakan, Diklatsar Banser merupakan salah satu jenjang pendidikan dan pelatihan yang harus diikuti setiap kader Ansor yang ingin menjadi anggota Banser. Tujuannya adalah merapatkan barisan dalam membentengi para ulama dan menjaga NKRI dari berbagai rongrongan yang ingin memecah belah Indonesia.

GP Ansor Tanjungkerta Rekrut Puluhan Anggota Banser NU (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Tanjungkerta Rekrut Puluhan Anggota Banser NU (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Tanjungkerta Rekrut Puluhan Anggota Banser NU

Para peserta Diklatsar akan dibekali berbagai ilmu dan pelatihan mulai dari berbagai bentuk pelatihan fisik, mental, kemampuan beladiri, ilmu tenaga dalam, pendalaman ke-NUan, ke-Indonesiaan, bela negara, peraturan baris berbaris, kelalulintasan, dan tanggap darurat bencana.

Sementara Sekretaris PCNU Sumedang Jujun Juhanda mengatakan, jangan pernah keder menjadi seorang Banser. Ada tugas mulia membentang di hadapan sahabat-sahabat karena posisi dan kedudukan Banser berada sebagai pengawal ulama. Tugas dan tanggung jawab Banser juga yaitu menjaga akidah Ahlussunnah wal Jamaah dan juga mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Semoga setelah Diklatsar ini selesai, masing-masing peserta bisa memegang teguh ke-NUan dan ke-aswajaan. Bahkan, mereka harus siap menjadi garda terdepan menjaga ulama dan NKRI, tutup Jujun. (Ayi Abdul Kohar/Alhafiz K)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Tokoh, Internasional Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

GP Ansor Way Kanan Ajak Pemuda “Bergerak”

Way Kanan - Lampung, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Way Kanan Provinsi Lampung mengajak barisan pemuda Nahdlatul Ulama (NU) di daerah tersebut untuk berpikir dan bergerak demi mewujudkan kemandirian kader dan organisasi.

"Darah organisasi itu kader. Jika darah bagus, maka organisasi diumpamakan tubuh juga akan sehat dan kuat. GP Ansor Way Kanan mendorong tumbuhnya kader yang berani berpikir dan bertindak untuk membuat organisasi pemuda NU di Way Kanan ini menjadi organisasi energi, organisasi ibadah, organisasi gerakan yang memiliki bobot sebagaimana namanya, bukan organisasi mulut atau No Action Talk Only alias NATO," ujar Ketua PC GP Ansor Way Kanan Gatot Arifianto di Blambangan Umpu, Kamis (4/12).

GP Ansor Way Kanan Ajak Pemuda “Bergerak” (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Way Kanan Ajak Pemuda “Bergerak” (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Way Kanan Ajak Pemuda “Bergerak”

Gatot yang terpilih memimpin Ansor Way Kanan pada 7 Oktober 2014 itu menambahkan, sejumlah kegiatan sejak Oktober 2014 terus dilakukan di Way Kanan, dari menjaga sejumlah pengajian, pelatihan anti perdagangan orang bekerjasama dengan International Organization for Migration (IOM) Indonesia dan Justice Peace Integrity of Creation (JPIC) FSGM, menggelar acara untuk guru dari berbagai tingkatan, mengikuti pelatihan bela negara dihelat Kodim 0427. Termasuk meluncurkan usaha madu sebagai upaya melancarkan roda organisasi juga dilakukan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Terima kasih untuk energi, semangat, senyum, keringat yang diberikan seluruh sahabat Nahdliyin muda dan para benteng ulama untuk GP Ansor Way Kanan yang merupakan rumah bersama, rumah yang dipinjamkan kader, generasi Ansor mendatang kepada pengurus yang sekarang," tuturnya.

Namun demikian, ujar Gatot yang menggagas Program Ansor Digdaya (Mendidik Generasi Memberdayakan Masyarakat) di Way Kanan itu, pekerjaan rumah masih banyak. "Seluruh jajaran pengurus cabang GP Ansor Way Kanan mengajak kader untuk senantiasa merawat rumah bersama. Ghirah atau semangat harus selalu berkobar, kader Ansor jangan lungkrah. Bersama kita berpikir dan bergerak," kata Gatot yang memiliki? gelar adat Lampung Ratu Ulangan itu pula.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Berkaitan dengan itu, dalam waktu dekat, PC GP Ansor Way Kanan akan menggelar Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) Barisan Ansor Serbaguna (Banser) ke IX dan Pendidikan Kader Dasar (PKD) Ansor IV di Daerah Pemilihan (Dapil) II Kabupaten Way Kanan, yakni di Kecamatan Bahuga.

"Setelah ada kegiatan serupa di tiga kecamatan yang berada di Dapil II, yakni di Buay Bahuga, Bumi Agung dan Way Tuba, menjelang akhir Desember tahun ini giliran Bahuga supaya lengkap dan tahun depan bisa bergeser ke Dapil yang lain. Kepastian tempatnya masih dijajaki, tapi yang pasti berlangsung di areal pondok pesantren," kata Gatot menjelaskan.

Sejumlah Diklatsar dan PKD telah dilakukan PC GP Ansor Way Kanan sejak daerah itu berpisah dari Kabupaten Lampung Utara. Karena itu, sejumlah kelemahan akan ditutup dan konten tambahan positif yang mendorong tumbuhnya kader handal akan diberikan pada kegiatan tersebut. "Ada kata gerakan pada nama Ansor, hal itu harus menjadi inspirasi Nahdliyin muda untuk berpikir untuk bertindak. Jadikan organisasi pemuda NU ini sebagai kawah candradimuka bagi para calon pemimpin. Tapi jangan pernah jadikan Ansor organisasi mulut," demikian Gatot Arifianto. (Heri Amanudin/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Tokoh Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 09 Desember 2017

Aris dan Shelly Pimpin Pelajar NU Jember

Jember, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Aris Dermawan dan Shelly Nur Wahyuni dipastikan memimpin IPNU-IPPNU Cabang Jember untuk dua tahun ke depan. Hal ini setelah keduanya terpilih sebagai ketua dalam Konferensi Cabang (Konfercab) IPNU ke-XIX dan IPPNU ke-XVIII yang digelar di Pondok Pesantren Darul Arifin, Desa Curahkalong, Kecamatan Bangsalsari, Jember, Jawa Timur, Ahad malam (25/12).

Dalam Konfercab tersebut, Aris terpilih secara aklamasi. Sedangkan Shelly menjadi ketua melalui voting. Mahasiswi smester 3 jurusan pendidikan sejarah FKIP Universitas Jember itu meraup 29 suara. Elis Permata mendapat 5 suara, dan 1 suara tidak sah. Total suara yang diperebutkan adalah 35.

Aris dan Shelly Pimpin Pelajar NU Jember (Sumber Gambar : Nu Online)
Aris dan Shelly Pimpin Pelajar NU Jember (Sumber Gambar : Nu Online)

Aris dan Shelly Pimpin Pelajar NU Jember

Aris menyatakan bahwa posisinya tersebut merupakan amanah yang diharus dijalankan dengan penuh tanggung jawab, apalagi dirinya terpilih secara aklamasi. Salah satu yang menjadi obsesinya kedepan adalah rekrutmen anggota baru sebanyak-banyaknya. Sebab, dengan semakin banyaknya anggota baru, berarti semakin banyak pula kade-kader militan Aswaja.

“Sebagai kader NU, anak-anak IPNU? tentu harus mengawal dan mengembangkan tradisi NU yang sudah baku tanpa mengesampingkan perkembangan zaman. Anak-anak IPNU akan menjadi? corong Aswaja di masyarakat,” tukas mahasiswa semester 7 Fakultas Dakwah IAIN Jember tersebut? kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan usai Konfercab.

Hal yang sama juga diungkapkan Shelly. Menurutnya, rekrutmen anggota baru akan dititikberatkan di sekolah-sekoah umum. Ini sekaligus untuk mengantisipasi gerakan Islam garis keras yang sudah mulai membidik pelajar dan mahasiswa sebagai anggota.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Perlu kita proaktif untuk mengajak mereka bergabung dengan kita sebelum mereka diajak bergabung oleh gerakan Islam radikal. Kita punya banyak program ekstra kurikuler untuk mereka,” ucapnya.

Selain diisi dengan agenda pemilihan ketua, Konfercab tersebut juga diisi dengan evaluasi, rancangan program untuk dua tahun kedepan, seminar dan sebagainya.? (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Tokoh Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 30 November 2017

Di Haul, KH Muadz Thohir Ceritakan Keistimewan Gus Dur

Jepara, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

KH Muadz Thohir yang merupakan sahabat karib almahrum Gus Dur didaulat untuk berbicara dalam Haul ke-6 Gus Dur yang berlangsung di Masjid Arrobbaniyyin Kampus Unisnu Jepara, Kamis (14/01) lalu. Dalam kegiatan bertajuk "Mengenang Gus Dur dan Pluralisme Agama" kiai yang kerap disapa Gus Muadz ini menerangkan bangsa Indonesia wajib memperingati Haul Gus Dur jika tidak ia menyebutnya "keterlaluan".?

Di Haul, KH Muadz Thohir Ceritakan Keistimewan Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Haul, KH Muadz Thohir Ceritakan Keistimewan Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Haul, KH Muadz Thohir Ceritakan Keistimewan Gus Dur

"Di Irak ada Haul Gus Dur. Di Brunei dan Malaysia juga ada peringatan Gus Dur. Sehingga jika kita tidak menghauli Gus Dur itu "keterlaluan"," jelasnya.

Kegiatan Haul yang dikemas ala pengajian Awan PBNU ini menyatakan KH Abdurrahman Wahid merupakan sosok yang "kontroversial" baik secara keilmuwannya maupun ibadahnya. Kiai asal Pati Jawa Tengah ini menyontohkan shalat yang ditunaikan Gus Dur tidak sama yang dilakukan oleh kebanyakan orang. Sebab mantan Presiden RI ini menurutnya pernah mempunyai riwayat ususnya pernah dipotong hingga 22 cm. Hingga, tambahnya, ia Gus Dur tidak mampu menunaikan shalat layaknya orang awam. Tetapi dirinya meyakini Gus Dur tetap menunaikan shalat.

Membaca

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dalam hal intelektual, Gus Muadz menyebut Gus Dur merupakan sosok yang kutu buku. Setiap ada buku baru ia mesti membacanya. Bahkan ketika penglihatannya mulai terganggu banyak kerabat Gus Dur yang diminta untuk membacakan buku meski hanya judul dan pendahuluannya saja. "Ini tidak lepas dari kedalaman pemahaman beliau sewaktu masih muda banyak membaca literatur sehingga buku terbaru pun sudah bisa dipahami meski hanya judul dan pendahuluan saja," tuturnya.

Gus Dur muda, kenangnya, beda dengan kebanyakan pemuda yang lain. Dibeberkannya dalam semenit Gus Dur mampu mendaras seribu kata. Padahal sekelas orang jenius hanya mampu membaca 250-500 kata. "Saya hanya bisa membaca 150-200 kata per menit. Kalau Gus Dur membacanya cepat," tandasnya.

Ia pun ingat betul akan petuah Gus Dur bahwa perintah membaca yang termaktub dalam Al-Quran tidak menyebut spesifikasi buku yang dibaca. "Kita mesti membaca apa saja. Bisa buku, maupun lingkungan maupun membaca alam," urainya.

Ia menegaskan, sebelum membaca orang lain, kita dituntut untuk membaca diri kita masing-masing. Sebelum menyalahkan orang lain kita mesti menyalahkan diri sendiri. "Lihatlah orang lain dari sisi positifnya jangan melihat dari hal negatifnya," lanjutnya. Bagi dia, Gus Dur merupakan sosok yang sederhana, sosok yang menghargai perbedaan dan masih banyak titel yang disandang oleh guru bangsa ini. Mulai politisi, kiai dan ilmuwan. Ia menambahkan Gus Dur tidak pernah mempunyai beban meskipun dengan orang yang membencinya sekalipun. Gus Dur meyakini orang yang tidak cocok lama-lama kelamaan akan menjadi cocok.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dengan banyaknya yang sudah dilakukan Gus Dur ketika ia dipanggil sang pencipta semuanya menangis baik muda dan tua semuanya menangis. Hal lain ditambahkan Lutfi Rahman, Pembina Jaringan Gusdurian Jepara menilai Gus Dur merupakan guru dan inspirator yang gagasannya layak dikembangkan dan dipraktikkan.

Gus Dur masih menurutnya adalah tokoh plural yang menyatukan seluruh elemen bangsa. Sehingga tak salah hingga kini yang berziarah ke makamnya dari berbagai elemen agama.

H Anas Arbaani, Wakil Ketua PCNU Jepara dalam sambutannya mewakili PCNU Jepara dengan haul Gus Dur merupakan upaya untuk nguri-nguri semangat yang pernah digelorakan Gus Dur. Gus Dur bagi Subchan Zuhri, Sekretaris IKA PMII Jepara tidak pernah mati dan "selalu hidup". Terbukti dengan pemikiran-pemikirannya terus dikaji hingga sekarang.

"Saat ini kita (generasi muda, red) mesti membaca literatur, mengkaji pemikiran dan mempraktikkan apa yang menjadi cita-cita Gus Dur di tengah-tengah masyarakat," pungkas komisioner KPU Jepara yang demen membaca intisari-intisari Gus Dur ini. (Syaiful Mustaqim/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ahlussunnah, Syariah, Tokoh Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 21 November 2017

PBNU: Selesaikan Masalah di Papua Secara Persuasif

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan 

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyampaikan keprihatinan mendalam atas peristiwa penembakan di Papua yang mengakibatkan 8 personel TNI dan 4 warga sipil meninggal dunia, serta 5 orang lainnya menderita luka.



PBNU: Selesaikan Masalah di Papua Secara Persuasif (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Selesaikan Masalah di Papua Secara Persuasif (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Selesaikan Masalah di Papua Secara Persuasif

NU mendesak aparat keamanan segera menuntaskan permasalahan tersebut, namun tidak dengan cara-cara represif. 

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, mengatakan peristiwa penembakan kali ini menambah panjang daftar kekerasan di Papua. Polisi dan TNI sebagai aparat penegak hukum diminta secepatnya mengambil langkah bijak penyelesaian. 

"Siapapun pelakunya, kelompok separatisme atau yang lain dengan tujuan tertentu, (penembakan) ini adalah kriminal. Pelakunya harus segera ditangkap dan dihukum seberat-beratnya," tegas Kiai Said di Jakarta, Jumat ( 22/2/2013). 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kiai Said juga mengungkapkan rasa dukacita dan belasungkawa kepada seluruh keluarga korban penembakan tersebut. "Atas nama pribadi dan seluruh Nahdliyin, kami ikut berdukacita. Semoga Allah mengampuni dosa seluruh korban, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan," lanjutnya.  

Untuk penuntasan masalah kekerasan di Papua, Kiai Said meminta agar tidak dilakukan dengan mengedepankan cara-cara kekerasan. Ruang dialog sebagai sarana mengurai permasalahan dan menemukan jalan keluar disarankan untuk diperbanyak digelar. 

"Pemerintah pernah sukses menerapkan cara-cara itu di Aceh. Di Papua karakteristiknya tidak jauh berbeda. Jadi saya minta Pemerintah membuka sebanyak-banyaknya ruang dialog, libatkan masyarakat setempat untuk mencari jalan keluar terbaik," urai Kiai bergelar Doktor lulusan Universitas Ummul Qura, Mekah, ini. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Menjadi satu agenda dalam penuntasan masalah di Papua, Kiai Said juga mendesak Pemerintah untuk segera merealisasikan peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat. PBNU diakuinya pernah menerima aduan masyarakat Papua perihal kesenjangan kesejahteraan tersebut. 

"Papua sangat kaya, tapi masyarakatnya tidak merasakan itu secara utuh. Ini juga menjadi PR Pemerintah untuk segera diselesaikan, sekaligus menjadi salah satu cara penyelesaian masalah kekerasan," pungkas Kiai Said. 

Seperti diberitakan, peristiwa penembakan terjadi di dua lokasi berbeda di Papua. Pertama terjadi di posko Tinggi Nambut, Kabupaten Puncak Jaya, yang menewaskan  seorang personel TNI atas nama Pratu Wahyu Prabowo.

Penembakan kedua terjadi di Kampung Tangulinik, Distrik Sinak, Kabupaten Puncak. 7 personel TNI tewas dalam peristiwa tersebut, yaitu Sertu Ramadhan, Pratu Edi, Praka Jojo Wiharja, Pratu Mustofa, Praka Wempi, Sertu Udin, dan Sertu Frans. Dalam perkembangannya 4 warga sipil juga menjadi korban jiwa dalam peristiwa ini.

 

Redaktur: Hamzah Sahal

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan PonPes, Nasional, Tokoh Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 17 November 2017

Di Malaysia, Mahfud MD: Negara Bernama Islam Tidak Harus

Kuala Lumpur, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Malaysia Mahfud MD untuk memberi kuliah umum di depan ratusan mahasiswa, dosen, dan masyarakat Indonesia di Moot Court, Ahmad Ibrahim Kulliyah of Law (AIKOL) IIUM, Kuala Lumpur, Malaysia.

Di Malaysia, Mahfud MD: Negara Bernama Islam Tidak Harus (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Malaysia, Mahfud MD: Negara Bernama Islam Tidak Harus (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Malaysia, Mahfud MD: Negara Bernama Islam Tidak Harus

Dalam kuliah yang bertajuk “Kongkow Nusantara: Islam dan Kebangsaan” tersebut, Mahfud menegaskan bahwa bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan dasar Pancasila adalah bentuk yang paling ideal. Hal itu Indonesia terdiri dari masyarakat yang plural.

“Negara bernama Islam tidak harus. Yang harus adalah negara berjiwa Islam,” ujar mantan Ketua Mahkamah Konstitusi yang juga anggota tim ahli Pengurus Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBHNU) ini, Rabu (23/9).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Yang wajib, lanjutnya, adalah substansinya, yaitu menegakkan nilai-nilai Islam, bukan formalisasi Negara Islam. Dan nilai-nilai Islam tersebut terkandung dalam Pancasila. “Al-ibrah bi al-jauhar la bi al-madzhar (Yang terpenting adalah substansi, bukan formalitasnya),” kutipnya sembari memberi contoh bahwa New Zealand, meski bukan Negara Islam, tapi standar ke-Islamannya tertinggi di dunia.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Di akhir acara, H. Nasikhin, sesepuh PCI NU Malaysia menganugerahkan sebuah cindera hati kepada Mahfudz MD, dan ditutup dengan untaian doa oleh Rais Syuriah PCINU Malaysia, KH. Liling Shibromallisi.

"Sengaja kami mengambil tema tersebut (Islam dan Kebangsaan, Red) agar kami memahami dengan benar bagaimana sebenarnya relasi antara Islam dan kehidupan bernegara,” tutur Haris Alfian selaku ketua panitia.

Kehadiran Mahfud ke Malaysia juga membawa agenda mengisi khutbah Idul Adha di kompleks KBRI Kuala Lumpur, Kamis (24/9). “Setelah kami tahu rencana kedatangan beliau, maka kami segera mengkoordinasikan dengan kawan-kawan untuk mengundang beliau hadir memberi kuliah umum di International Islamic University of Malaysia (IIUM),” kata Marhadi Marzuki, Ketua Tanfidziyah PCINU Malaysia, melalui pesan WhatsApp.

Kepanitiaan kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Keluarga Mahasiswa NU (KMNU) Malaysia dan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) IIUM.? (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Tokoh Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 13 November 2017

LAZIS Nusantara dan Sciena Madani Santuni Yatim

Semarang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Bekerja sama dengan LAZIS Nusantara, lembaga Sciena Madani menyalurkan santunan kepada anak yatim di aula masjid Itikaf Ar-Rasyid Banjardowo, Genuk, Semarang, Ahad (20/7) malam. Ustadz MH Humaidi memandu jalannya talk show dalam acara penyaluran santunan ini.

LAZIS Nusantara dan Sciena Madani Santuni Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZIS Nusantara dan Sciena Madani Santuni Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZIS Nusantara dan Sciena Madani Santuni Yatim

Menurut pengasuh Sciena Madani Lukni Maulana, penyerahan santunan ini merupakan upaya kecil pendidikan rohani di bulan Ramadhan. Karena, Ramadhan merupakan waktu belajar paling baik akan nilai-nilai pendidikan.

“Ramadhan merupakan bulan kasih dan sayangnya, bulan pendidikan. Salah satu bentuknya, kita dituntut untuk saling berbagi,” tutur Lukni yang juga ketua pengurus masjid Iktikaf Ar-Rasyid.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dalam talk show, MH Humaidi menegaskan pernyataan Lukni. Ramadhan menjelang akhir ini, Humaidi menekankan, waktunya untuk saling mengeluarkan dan memberi. Salah satunya mengeluarkan zakat mal, bukan mengeluarkan uang belanja ke mall.

“Kita dituntut tidak hanya sekadar berbagi tapi mamahami makna yang terkandung dalam berbagi itu. Seperti berbagi kepada anak yatim saat ini. Rasulullah SAW terlahir dalam kondisi yatim, karenanya ia sangat mencintai anak-anak yatim. Di situlah tumbuh rasa cinta dan sayang dalam hal berbagi,” jelasnya. (Red. Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Tokoh, Makam, Internasional Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 12 November 2017

Komisi Waqi’iyah Godok Draf Soal Ekologi

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Penanggung jawab sidang komisi bahtsul masail diniyah waqi’iyah kini tengah menyiapkan bahan perihal lingkungan hidup untuk di bahas pada Muktamar Ke-33 NU mendatang. Mereka resah atas aktivitas pertambangan yang memiliki daya rusak luar biasa terhadap lingkungan.

Komisi Waqi’iyah Godok Draf Soal Ekologi (Sumber Gambar : Nu Online)
Komisi Waqi’iyah Godok Draf Soal Ekologi (Sumber Gambar : Nu Online)

Komisi Waqi’iyah Godok Draf Soal Ekologi

“Bayangkan di sebagian daerah sudah ada bupati yang mengharuskan warganya untuk mengenakan batu akik,” kata staf Syuriyah PBNU Mahbub Ma’afi Romadhon, Selasa (17/3).

Dampak kerusakan lingkungan termasuk kerusakan sarana umum seperti jalanan akibat penambangan batu, pasir, emas, atau jenis logam, perlu dibahas di muktamar. Pasalnya, dampak kerusakan alamnya akibat penambangan itu luar biasa. Penambangan emas di Jember sempat mengemuka pada rapat komisi kemarin, kata Mahbub.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Menurut Mahbub, isu ekologi ini sengaja diangkat untuk menggenapi 5 bahan bahasan yang ditetapkan rapat komisi waqi’iyah di Jakarta pada Kamis (12/3) sore.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Untuk merumuskan soal lingkungan hidup, pihak komisi waqi’iyah kini menampung masukan dari daerah dan juga masukan dari para ahli.?

“Setelah 5 masalah itu, komisi waqi’iyah masih akan menambahkan 3 hingga 4 masalah yang meliputi ekologi, bio medis, dan muamalah. Maksudnya, agar isu di muktamar nanti beragam,” tandas Mahbub. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Tokoh, Hadits Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 07 November 2017

Muslimat NU Brebes Tingkatkan Pengabdian

Brebes, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Ketua Bidang Ketenagakerjaan dan Sosial Pimpinan Wilayah Muslimat NU Jawa Tengah Nurhasanah mengajak anggota Muslimat NU untuk terus meningkatkan pengabdian kepada masyarakat. Sekurangnya, mereka mempertahankan prestasi pengabdian pada bidang yang telah digarap.

Muslimat NU Brebes Tingkatkan Pengabdian (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Brebes Tingkatkan Pengabdian (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Brebes Tingkatkan Pengabdian

Bidang garapan Muslimat NU antara lain pendidikan. Di situ, Muslimat NU turut menumbuhkan ribuan PAUD. Begitupun kesuksesan program Keluarga Berencana (KB). Sumbangsih Muslimat NU sangat besar.

“Tercatat, Muslimat NU Brebes menjadi juara pertama sebagai penggerak utama progam KB tingkat Provinsi Jawa Tengah,” tutur Nurhasanah dalam peringatan puncak harlah ke-68 Muslimat NU Brebes di lapangan kantor kecamatan Wanasari, Ahad (9/3).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Wakil Syuriyah PCNU Brebes KH Syeh Sholeh Basalamah dalam pengajian umum mengharapkan Muslimat NU untuk terus berdakwah.

“Agar berhasil, dakwah perlu didasari antara lain dengan penyampaian yang bersifat mahabbah, landasan akhlakul karimah, dan ikhlas,” terang Syekh Sholeh yang merupakan pengasuh pesantren Darussalam Jatibarang Kidul, Brebes.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ketua panitia penyelenggara Hj Chulasoh menjelaskan, selain kegiatan pengajian umum, harlah ke-68 Muslimat NU juga diisi dengan lomba Mars Muslimat NU, MTQ, dan Santunan.

Pengajian umum sebagai puncak peringatan harlah ini dihadiri puluhan ribu Muslimat NU dari 17 perwakilan Pimpinan Anak Cabang (PAC) sekabupaten Brebes. Selain Ketua PC Muslimat NU Brebes Hj Nurhalimah dan jajaran pengurus lainnya, juga terlihat hadir puluhan calon anggota DPR, DPD, dan DPRD.

Dalam kesempatan ini, Bupati Brebes memberikan bantuan dari Gerakan Nasional Orang Tua Asuh (GNOTA) kepada 10 perwakilan anak penerima. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Meme Islam, Tokoh Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 29 Oktober 2017

Khofifah Targetkan Tutup 100 Lokalisasi

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Menteri Sosial, Khofifah Parawansa, mengatakan, masih ada 100 titik lokalisasi yang akan ditutup, sehingga target pemerintah Indonesia bebas lokalisasi pada 2019.

Khofifah Targetkan Tutup 100 Lokalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah Targetkan Tutup 100 Lokalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah Targetkan Tutup 100 Lokalisasi

"Kementerian Sosial dengan berbagai pihak terkait, telah menutup 68 lokalisasi prostitusi dari jumlah 168 yang ada. Hingga 2019, pemerintah menargetkan seluruh Indonesia bebas dari lokalisasi prostitusi," kata dia, di sela peninjauan Panti Sosial Karya Wanita (PSKW) Mulya Jaya, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Senin.

Lebih lanjut dia mengatakan, dia sudah mendapatkan surat dari wali kota Mojokerto yang sudah siap menutup lokalisasi.

"Satu-satunya lokalisasi yang tersisa di Jawa Timur adalah di Mojokerto, dan saat ini sudah ada persiapan untuk penutupan," ucapnya.

Saat ini jumlah lokalisasi terbanyak berada di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Yang paling terkini adalah persiapan penutupan lokalisasi Kalijodo, di Jakarta Utara. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Tokoh, Makam, Halaqoh Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 23 Oktober 2017

IPNU-IPPNU Tegal Bedah Fiqih Wanita

Tegal, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan 

Memasuki 10 hari terakhir bulan Ramadhan Pengurus Cabang IPNU-IPPNU Kabupaten Tegal menggelar dialog interkatif membedah fiqih wanita di Gedung PCNU Kabupaten Tegal, Jln. Ahmad yani nomor 21 Procot Slawi, Senin (13/8) kemarin.

IPNU-IPPNU Tegal Bedah Fiqih Wanita (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Tegal Bedah Fiqih Wanita (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Tegal Bedah Fiqih Wanita

Ketua Panitia Abdul Aziz mengatakan kegiatan tersebut di hadiri oleh pengurus cabang dan beberapa perwakilan pengurus pimpinan anak cabang (PAC) se-kabupaten Tegal, yang berjumlah ratusan kader.

“Kegiatan ini sekaligus buka bersama antara PC dan PAC se Kabupaten Tegal, sejalan dengan kegiatan ini juga bedah fiqih wanita yang di narasumberi oleh pengurus Fatayat yang membidangi urusan masing-masing, dan dilanjutkan dengan kajian ahlus sunah wal jama’ah yang didaulat sebagai narasumber adalah rais syuriyah PCNU Kabupaten Tegal KH Chambali Utsman,” katanya 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari kajian fiqih wanita didapat keterangan oleh kedua narasumber yang pertama Bidang Hj. Roihatuzzahroh , bidang ini membicarakan fiqih wanita menurut perspektif kesehatan. 

“Menjaga kesehatan reproduksi itu penting karena berhubungan dengan kedaan yang dialami oleh seseorang misalkan penyakit atau yang lainnya. Kesehatan reproduksi itu keadaan kesejahteraan fisik, mental, dan social yang utuh dan bukan tidak adanya penyakit atau kelemahan dalam segala hal yang berhubungan dengan system reproduksi dan fungsi-fungsi serta proses-prosesnya,” jelasnya 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Narasumber lain, Nyai Hj. Azimatun Ni’mah membeberkan sekitar haid, semisal hal-hal yang dilarang ketika haid, kadar masa haid ditambah nifas dan larangan ketika nifas. Ketika menyampaikan materi dia mengatakan, haid adalah darah yang keluar dari farji seorang wanita dalam usia haid, yaitu ketika berusia 9 tahun menurut hitungan tahun Qomariyah bukan tahun Syamsiah. 

“Adapun tempat atau ketentuan suci yang menyelai juga dianggap pula haid bila saat terjadi keluar darah masih didalam masa haid, dan jika tidak maka tetap dihukumi darah istihadloh," katanya menyitir kitab Risalah halaman. 1. 

Selain membicarakan haid, pengurus Muslimat bagian dakwah tersebut juga membicarakan nifas, “Nifas adalah darah yang keluar setelah malahirkan, perkara-perkara yang haram dilakukan ketika haid itu juga haran dilakukan ketika sedang nifas," tutupnya . 

Ketua PC. IPPNU Kabupaten Tegal Lutfatun Nikhla menjelaskan kegiatan tersebut sengaja digelar karena sering terjadi berbagai problem di masyarakat tentang haid sehingga menjadi hal yang sangat perlu dibahas baik secara ilmu agama maupun kesehatan. 

“Mudah-mudahan acara tersebut dapat memberikan ilmu yang manfaat bagi kader-kader IPNU ataupun IPPNU, sehingga ketika mengalami problem seperti itu tidak akan binggung. Begitupun kader IPNU bagimanapun akan menjadi pemimpin rumah tangga, ketika nanti istrinya tidak tahu ilmunya maka kewajiban suaminya untuk mengajarinya," harapnya 

Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Pembina IPNU-IPPNU Kabupaten Tegal, kegaiatan tersebut juga dibuka oleh Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Tegal, H. Ahmad Wasy’ari, MM. Dalam sambutanya Wasy’ari berharap agar menjadi kader yang militan dan tangguh dalam perheltan zaman yang terus menggerus kesetiaan organisasi. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Abdul Muiz

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Fragmen, Tokoh Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 17 September 2017

Cak Nun Jelaskan Tradisi Keagamaan Warga NU

Sleman, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Maraknya kelompok-kelompok minoritas yang dengan murah mengobral istilah-istilah seperti bid’ah, haram, dan bahkan mengkafirkan orang-orang di luar kelompoknya, membuat Emha Ainun Nadjib yang kerap disapa Cak Nun angkat bicara.

Cak Nun Jelaskan Tradisi Keagamaan Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Cak Nun Jelaskan Tradisi Keagamaan Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Cak Nun Jelaskan Tradisi Keagamaan Warga NU

Dalam acara bertajuk “Ngaji Bareng Cak Nun dan Kiai Kanjeng” di lapangan Baratan Candibinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta, Jumat (04/10), Cak Nun menjelaskan beberapa tradisi keagamaan yang biasa dilakukan waraga NU dan kerap dianggap bid’ah oleh beberapa kelompok, seperti Tahlilan, Yasinan, Kenduri, dan Sholawatan.

Cak Nun mengawali dengan menjelaskan tentang Tahlilan. Secara bahasa, Tahlil memiliki makna menyatakan Allah sebagai Tuhan dengan ucapan Laa ilaaha illallah. Sedangkan Tahlilan, di dalamnya mengandung unsur budaya, yakni kegiatan yang sering diadakan untuk mendoakan secara bersama-sama orang yang telah meninggal.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kalimat Laa ilaaha illah itu sendiri ada lanjutannya, yaitu Muhammadun Rasulullah. Artinya bahwa di dalam tradisi Tahlilan, tidak hanya mengakui Allah sebagai Tuhan dan Muhammad sebagai Rasul-Nya, melainkan juga mengakui bahwa semua adalah ciptaan? dan rahmat Allah SWT.

“Yang tidak boleh itu jika Tahlilan di dalam sholat. Batasannya yang penting Tahlilan bukan dianggap sesuatu yang wajib, itu yang tidak boleh. Tahlil itu wajib, kalau Tahlilan itu yang tidak wajib,” tandas Cak Nun.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Mengenai tradisi Yasinan, Cak Nun menganalogikannya dengan berkata, “Lawong membaca koran saja boleh kok, apalagi membaca Yasin yang merupakan salah satu surah di dalam Al-Qur’an,” ujar Cak Nun yang segera disambut gelak tawa para Hadirin.

Adapun Kenduri merupakan wujud syukur seseorang dengan cara memberikan sedekah berupa makanan kepada tetangganya, asalkan tidak memberatkan dan tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang wajib, apalagi jika sampai hutang tetangga untuk melaksanakannya. “Jadi yang mau ngadakan Kenduri ya monggo, yang tidak juga monggo,” ucap Cak Nun.

Selanjutnya, Cak Nun menjelaskan tentang tradisi Sholawatan dan puji-pujian yang banyak dilakukan di Masjid-masjid. Dalam Al-Qur’an Allah telah berfirman “Innallaha wa malaikatahu yusholluna ‘alan nabi, ya ayyuhalladzina amanu shollu ‘alihi wa sallimu tasliman”.

Jadi, lanjutnya, Allah dan malaikatNya saja sudah nyata-nyata bersholawat kepada Nabi Muhammad, maka manusia yang hanya seorang hamba tentu juga tidak ada masalah jika bersholawat kepada Nabi.

“Tidak apa-apa melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Nabi, asalkan tidak melanggar syari’at. Bid’ah itu kan ketika ibadah mahdhah yang berjumlah lima yakni Syahadat, Sholat, Zakat, Puasa dan Haji itu ditambah-tambah atau diubah, di luar lima itu silahkan, tidak apa-apa. Ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang ibadah mahdhah hanya 3%, sisanya 97% itu tentang ibadah mu’amalah,” papar Cak Nun panjang lebar.

Kemudian Cak Nun menekankan bahwa boleh tidaknya sesuatu itu terletak pada niatnya. Barang baik, lanjutnya, jika tidak diletakkan pada tempat yang tidak sesuai maka akan dapat menjadi tidak baik.

Selain itu, Cak Nun juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh kelompok-kelompok tertentu. Menurut Cak Nun, sekarang ini sedang ada tiga negara besar dengan sokongan dana melimpah yang sedang ingin menghancurkan Indonesia. Mereka mengirimkan agen-agen untuk melakukan infiltrasai ke tengah warga Islam di Indonesia. Menurut dia, tujuan mereka sangat jelas, yaitu ingin memecah persatuan? umat Islam di Indonesia untuk kepentingan Global.

Terakhir, Cak Nun menyampaikan bahwa tidak ada seorang pun yang berhak mengkafirkan orang lain, “Tidak ada yang berhak mengkafirkan seseorang kecuali Allah, karena yang tau orang itu kafir atau tidak hanya Allah,” pungkasnya di hadapan ribuan hadirin dari warga desa dan elemen Muspida Sleman malam itu. (Dwi Khoirotun Nisa’/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Tokoh Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 15 September 2017

Asad Said Ali: NU Tak Kolot soal Teknologi

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Asa’ad Said Ali mengatakan, NU bukan ormas Islam kolot yang gampang membid’ahkan hal-hal baru, termasuk teknologi. Selama bermuatan positif, teknologi akan diterima dan diapresiasi dengan baik.

“NU kalau soal teknologi welcome. Tidak ada masalah. Yang dipermasalahkan kontennya sebenarnya,” katanya saat sambutan dalam acara penandatanganan kerja sama antara Lembaga Ta’mir Masjid PBNU dan PT Bakrie Telecom, Tbk di gedung PBNU, Jakarta, Senin (15/7).

Asad Said Ali: NU Tak Kolot soal Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)
Asad Said Ali: NU Tak Kolot soal Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)

Asad Said Ali: NU Tak Kolot soal Teknologi

As’ad menjalaskan, pada tahun 1933 NU memang pernah mengharamkan radio, juga mengenakan dasi. Namun pelarangan itu terkait dengan konteks zaman situasi bersangkutan dan tidak dimaksudkan sebagai penolakan total terhadap modernitas.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“(Pengharamkan) itu untuk menunjukkan sikap non-koperatif NU terhadap penjajah Belanda,” ujarnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

As’ad menambahkan, pada 1961 Faisal bin Abdul Aziz, putra mahkota raja Arab Saudi, pernah membakar televisi karena dinilai bid’ah dan haram atas dukungan ulama-ulama salafi waktu itu. Menurut As’ad, keputusan tergolong ekstrem karena manusia tak dapat melepaskan dari perubahan.

“Nah, ulama-ulama NU tidak sekolot itu,” pungkasnya.

 

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Doa, Tokoh, Nahdlatul Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 03 September 2017

IKA PMII: Wadah Kaderisasi di Tingkat Alumni

Tulisan ini sengaja ditulis untuk menyambut Munas IKA PMII (Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), yang bakal digelar pada tanggal 1 Juli mendatang.

Belakangan geliat kaderisasi dilingkungan NU –termasuk PB PMII dengan dua ratus lebih cabangnya yang menyebar di 33 provinsi- semakin mendapatkan perhatian utama. Setidaknya PBNU sendiri terlihat sudah melakukan penataan secara serius dalam beberapa tahun terakhir di bidang kaderisasi dan pengembangan spirit kewirausahaan.?

Menurut hemat penulis, inti kaderisasi adalah pendidikan sekaligus pengajaran. Keduanya terlihat sama tapi beda karena hewan juga belajar. Pendidikan merupakan pekerjaan jangka panjang, memberikan penyadaran, transfer nilai dan teladan dalam keseharian. Sedangkan mengajar lebih kepada kegiatan teknis keseharian. Dengan kata lain mendidik dapat menggunakan proses mengajar sebagai sarana untuk mencapai hasil yang maksimal dalam mencapai tujuan pendidikan. Mendidik bobotnya adalah pembentukan sikap mental atau kepribadian bagi anak didik, sedang mengajar bobotnya adalah penguasaan pengetahuan, keterampilan dan keahlian tertentu yang berlangsung bagi semua manusia pada semua usia. ?

IKA PMII: Wadah Kaderisasi di Tingkat Alumni (Sumber Gambar : Nu Online)
IKA PMII: Wadah Kaderisasi di Tingkat Alumni (Sumber Gambar : Nu Online)

IKA PMII: Wadah Kaderisasi di Tingkat Alumni

Hal yang paling utama dan pertama menjadi perhatian dalam kaderisasi PMII adalah soal mentalitas. Pada pendidikan akhlak yang membuahkan sikap yang sesuai dengan nilai-nilai dan tujuan PMII. Di sinilah pondasi dasar dari kaderisasi PMII yang harus menjadi perhatian utama kader-kader pergerakannya.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Belasan mungkin puluhan ribu kader PMII yang terwadahi dalam dua ratus lebih cabang dan tersebar di 33 provinsi se-Indonesia bukanlah jumlah yang sedikit. Setiap tahun cabang melalui komisariat dan rayon melakukan perekrutan anggota baru. Mereka semua wajib mengikuti kaderisasi berjenjang yang kemudian menjadi kader pergerakan. Sehingga setiap tahun jumlah anggota dan kader bertambah, sungguh secara kuantitas tidak ada yang menandingi. Dibanding saudaranya yang terwadahi di IMM, HMI, GMNI, PMKRI, GMKI dan lainnya. Namun mungkin masih perlu diuji jika menyangkut kualitas, bidang penguasaan keilmuan serta keahlian.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pada wilayah ini sesungguhnya posisi penting IKA PMII adalah sejauh mana alumni PMII ini berkontribusi secara aktif dan dalam bidang apa saja mereka membaktikan dirinya bagi bangsa dan negara. Jika kita lihat, begitu luas dan kaya NKRI, dengan sumber daya alamnya yang bisa diperbaharui maupun tidak, tentu membutuhkan SDM yang terampil dan mumpuni. Indonesia butuh seorang manajer yang handal sekaligus para pekerja yang ahli di bidangnya, para pendidik yang mumpuni, wirausahawan yang tangguh, bahkan juga buruh. Indonesia butuh kepastian regulasi mulai dari hulu hingga hilir. Lalu diposisi mana entitas IKA PMII dan persebaran alumninya? Apakah secara kuantitas dan kualitas berada pada posisi yang strategis? Ataukah banyak yang hanya menjadi pelengkap dari para pengambil kebijakan? Sejauh mana perannya sebagai jangkar bagi kader-kader PMII untuk meniti ke jenjang selanjutnya?

Disadari atau tidak di situlah tanggung jawab utama alumni PMII, karena bakti yang dilakukan alumni PMII kepada bangsa khususnya tunas muda pergerakan pasti juga akan berimbas kepada NU. Apalagi tugas dan kewenangan NU sebagai “orang tua” PMII sesungguhnya kini dalam tataran tertentu telah beralih kepada alumninya, IKA PMII. Tentu IKA PMII maupun bapak-bapak di lingkungan NU sadar betul akan hal ini. Dalam konteks membangun SDM inilah PMII, alumninya maupun aktivis NU lainnya dituntut untuk “lari maraton” dalam merespon dinamika bangsa dan Negara yang semakin kompetitif.?

Mendinamisasi Tradisi

Gus Dur telah telah meletakkan dasar-dasar strategis dan merumuskan arah perkembangan tradisi dalam berbangsa dan bernegara. Beliau mengandaikan adanya dinamisasi dalam menjaga dan merawat tradisi. Bisa dipahami bahwa dinamisasi merupakan sebuah proses gerak maju yang berkelanjutan. Nyatanya di dalamnya terkandung watak modernisasi. Sebagai sebuah langkah perjalanan, gerak dinamis dari sebuah tradisi pada lanjutnya melingkupi modernitas itu sendiri. Jika dicari dasarnya, sejatinya gerak dinamis itu menemukan rujukannya pada kaidah “menjaga tradisi yang baik dan secara sekaligus menggali tradisi-tradisi baru yang lebih baik.” Pada akhirnya akan diketemukan bahwa di dalamnya juga terkandung pesan keharusan akan adanya proses belajar yang mutlak terus-menerus tiada akhir. Di sinilah letak penting “garis-garis besar haluan” aktivis NU terutama PMII dengan alumninya.?

Barangkali hal itu juga tercermin dalam kedirian dan dinamika lintas alumni PMII (agen-agen tradisi), di daerah maupun di pusat. Sebagai sebuah wadah yang relatif baru, IKA PMII menurut sebagian pendapat merupakan pengganti atau pelanjut saja dari FOKSIKA (Forum Komunikasi Keluarga Alumni PMII). Karena pada kenyataannya hanya sebagai wadah kumpul-kumpul (paguyuban). Tak ada beda dengan wadah sebelumnya. Terlepas dari apapun, keberadaan wadah alumni yang sudah dibentuk dengan bagus itu di era sekarang dan kedepan dirasa sangat penting. Diharapkan pula bisa lebih berkembang lagi menjadi organisasi yang tidak asal jalan. Untuk itu diperlukan kepemimpinan yang kuat dan bisa mengorganisir seluruh potensi yang ada.?

Periode IKA PMII sekarang dipandang cukup bagus dalam membentuk jejaring dan mengkonsolidasikan antar alumni di berbagai daerah. Langkah tersebut merupakan pondasi dasar bagi tegaknya wadah para alumni PMII yang tersebar di mana-mana. Namun sayangnya wadah alumni yang sekarang maupun sebelumnya belum mempunyai blue print strategi lanjut pengembangan kader, pembuatan data base dan penataan administrasi yang bagus. Sehingga cukup menyulitkan untuk melihat persebaran, keahlian serta spesifikasi bidang para alumni. Padahal langkah itu penting sekali sebagai variabel dalam merumuskan pengembangan kaderisasi.?

Lebih lanjut, dalam kontestasi nasional para alumni PMII -yang menempati jabatan-jabatan penting di pemerintahan sekaligus lintas partai politik- ternyata cukup punya tempat tersendiri. Tidak jarang para alumni tersebut tidak berkenan duduk dalam satu meja dan bersepakat dalam satu persoalan. Hal inilah yang kemudian memahamkan kita bahwa menjaga tradisi tabayun ternyata tidaklah mudah.?

Dinamika itu pun sebenarnya acapkali kita jumpai di berbagai organisasi lainnya, apalagi bila ditambahi bumbu momentum suksesi kepemimpinan nasional, eksekutif maupun legislatif. Persoalannya adalah bagaimana menyeimbangkan porsi kepentingan taktis dan strategis di tubuh alumni? Lantas apa langkah-langkah yang bisa menjadikan seluruh kader-kader PMII dan yang paling penting alumninya (IKA PMII) bersepakat dan bersatu? Adakah kalimatun sawa’ yang bisa menjadi pegangan sekaligus pemersatu? Menurut hemat penulis, pertanyaan-pertanyaan itulah yang mendesak untuk dicari bersama jawabnya. ?

Untuk merealisir agenda-agenda tersebut ada baiknya wadah alumni mempertimbangkan pola kepemimpinan kolektif kolegial untuk mencapai musyawarah mufakat dalam setiap keputusannya. Memang pola kepemimpinan ini terkesan kurang familiar dalam tradisi PMII. Namun sekali lagi watak mahasiswa sejak awal mempunyai tradisi pemikiran yang progresif. Kolektif Kolegial sendiri merupakan salah satu dari sekian banyak model kepemimpinan yang diterapkan dalam berbagai organisasi. Dengan bentuk organisasi tersebut, memungkinkan setiap Anggota Pimpinan memiliki wewenang yang sama dalam hal mengambil keputusan. Jadi keputusan itu diambil secara bersama-sama (kolektif) dan bersifat kekeluargaan (kolegial). ?

Kepemimpinan kolektif kolegial bisa memadukan politisi, pengusaha, akademisi, ulama, birokrat dan sebagainya. Pola ini bisa diharapkan bisa saling melengkapi antar pimpinan. Memang sosok figur ketua umum tidak ada, namun pola kepemimpinan ini paling mendekati untuk menginginkan sebuah regenerasi kolektif yang bagus. Regenerasi secara kolektif, akan mempercepat proses penyegaran dan pencerahan dalam kepemimpinan alumni PMII ke depan. Transfer kader dari bawah keatas (vertikal) maupun horisontal akan berjalan secara dinamis. Tidak menutup kemungkinan, PMII sendiri ke depan bisa mengadopsi pola kepemimpinan serupa.?

Penulis berpendapat alumni PMII tidak harus masuk ke dalam lembaga-lembaga NU. Kader-kader alumni PMII harus berdiaspora, menekuni berbagai bidang, di dalam maupun diluar pemerintahan dan menjadi yang terbaik. Namun kader-kader alumni PMII yang terbaik juga harus ada yang berkarya dan mengembangkan NU. Menggerakkan roda organisasinya untuk kemaslahatan seluruh warganya, bukan sebaliknya hanya mengambil manfaat saja dari NU, apalagi untuk kepentingan pribadi. ?

Jika satu dekade paska reformasi PMII dan juga NU panen para sarjana dan intelektual yang mumpuni dalam rumpun keilmuan agama, sosial dan humaniora. Maka satu atau dua dekade ke depan panen alumni PMII bisa dipastikan lebih beragam lagi dengan keahlian yang beragam pula. Bisa jadi banyak yang sukses menggeluti bermacam bidang industri, akademisi maupun pakar-pakar lainnya. Bola inilah yang diharapkan mampu dijemput oleh pengurus baru IKA PMII hasil Munas pada 1 Juli mendatang. ?

Kiranya dengan kualitas-kualitas yang mumpuni dengan etos kerja tinggi, banyak alumni yang pantas memimpin IKA PMII periode mendatang. Di antaranya, Surya Dharma Ali, Idrus Marham, A. Muhaimin Iskandar, Arif Mudatsir Mandan, Lukman Hakim Saifudin, Khofifah Indar Parawansa, Effendi Choiri, Ahmad Muqowam, dan Arvin Hakim Thoha. Sedangkan dari kalangan birokrat dan akademisi ada nama Ali Masykur Musa, Imam Anshari Saleh, Wahiduddin Adam, Kacung Maridjan, Lilis Nurul Husna, Abdul Hafidz Anshari. Dari kalangan muda ada nama Nusron Wahid, Heri Herianto Azumi, Zaini Rahman dan juga Juri Ardiantoro. Wallahu’alam bishowab.?

?

*Kabiro Kaderisasi PB PMII

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Tokoh Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

PCNU Kota Bekasi Massif Sosialisasi Kartanu

Bekasi, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Bekasi menggelar sosialisasi Kartanu kepada Pengurus MWCNU dan Ranting NU se-Kota Bekasi di? Gedung El-Said NU-Center Kota Bekasi, Ahad (13/11) pagi. Ketua Pengarah Kartanu Ayi Nurdin yang juga sebagai Sekretaris PCNU Kota Bekasi menyampaikan arahan dan penjelasan perihal fungsi dan manfaat Kartanu untuk Umat.

Ayi menegaskan bahwa program Kartanu merupakan kerja sama antara PBNU dan Bank Mandiri, salah satu program terbaik dalam mengembangkan ekonomi kerakyatan khususnya bagi warga NU.

PCNU Kota Bekasi Massif Sosialisasi Kartanu (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Kota Bekasi Massif Sosialisasi Kartanu (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Kota Bekasi Massif Sosialisasi Kartanu

Karenanya PCNU Kota Bekasi memberikan perhatian penuh untuk terus melakukan sosialisasi program Kartanu secara massif, “Ini adalah sosialisasi ketiga kami lakukan, di mana sebelumnya sosialisasi diberikan kepada pengurus dan anggota PCNU. Alhamdulillah, semakin bertambah banyak yang daftar,” imbuhnya.

Sebagai bentuk kesungguhan terhadap Program Kartanu, dalam waktu dekat ini PCNU Kota Bekasi akan melakukan turba ke Masjid-mesjid, majelis taklim dan pondok pesantren. Selain itu PCNU Kota Bekasi juga akan membentuk Tim Penggerak Kartanu yang bukan hanya di Struktur NU (cabang-anak ranting) namun juga di pondok pesantren, DKM, dan majelis taklim di wilayahnya masing-masing.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“PCNU Kota Bekasi akan memberikan penghargaan kepada Tim Penggerak yang berhasil mengkolektif Pendaftar Kartanu Terbanyak dalam program 5000 kartanu,” imbuh Ayi. (Heri/Alhafiz K)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Tokoh, IMNU Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock