Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Februari 2018

Belajarlah Tawadhu pada Tanah

Kudus,Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pembelajaran tentang hakikat fitrah manusia disampaikan KH Ahmad Asnawi saat memberikan tausiyah pada acara Maulid Nabi Muhammad SAW dan peresmian Masjid Al Hamid Desa Mlati Kidul, Kota Kudus, kemarin.

Menurut Wakil Rois MWCNU Kecamatan Gebog Kudus itu setiap  manusia memiliki naluri maupun sifat bagus seperti tanah yang harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari yakni tentang ketawadhuan dan tidak boleh sombong,

Belajarlah Tawadhu pada Tanah (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajarlah Tawadhu pada Tanah (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajarlah Tawadhu pada Tanah

“Manusia diciptakan Allah dari tanah, sudah seharusnya menyesuaikan diri bersikap sesuai naluri tanah yang tidak pernah sombong,” katanya dalam acara Maulid Nabi, Sabtu (8/2) itu. 

Ahmad Asnawi menerangkan bahwa seharusnya manusia selalu memberi manfaat  kepada orang lain, sehingga jikalau ada manusia mengganggu orang lain berarti dirinya keluar dari naluri manusiawi. 

“Begitu pula halnya tanah, selalu memberi kemanfaatan dan setiap makhluk pasti membutuhkannya. Maka naluri manusia harus berbuat baik kepada orang lain,”ujarnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Naluri lainnya, jelas KH Asnawi, tanah diperlakukan sejahat apapun dia akan berusaha memberikan yang terbaik bagi manusia. Ia mencontohkan, tanah dibajak pakai traktor ia mampu menghasilkan tanaman padi dan tumbuhan.

“Bila manusia diperlakukan seperti ini sudah sebaiknya bisa menahan diri dan  tidak perlu marah seraya tetap memberikan kebaikan pada orang lain,” ujar alumni santri pesantren Sarang Rembang.

Dipaparkan, manusia harus juga mampu menutupi kesalahan orang lain sejelek apapun sebagaimana tanah. Bangkai yang busuk misalnya, akan hilang manakala sudah dikubur maupun tertutup dengan tanah.

Disamping itu, tanah diperlakukan apapun oleh yang menguasai selalu siap menerimanya. Manusia juga harus siap menjadi apa saja ketika Allah yang menguasai berkehendak kepadanya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Pada intinya, fitrah manusia mempunyai akhlakul karimah karena diciptakan Allah dari tanah. Semua naluri tanah ada dalam diri manusia, hanya perkembangan yang bisa merusaknya,” pungkasnya. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Nahdlatul, Kyai Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 22 Februari 2018

Lailatul Ijtima’ Pertemukan Generasi Muda NU dengan Sesepuh

Makassar, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Kamis (6/2) tadi malam, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan mengadakan lailatul ijtima, pertemuan malam hari warga NU yang diisi berbagai kegiatan. Kali ini giliran di kediaman Bendahara NU Sulsel H Anwar Kadir.

Lailatul Ijtima’ Pertemukan Generasi Muda NU dengan Sesepuh (Sumber Gambar : Nu Online)
Lailatul Ijtima’ Pertemukan Generasi Muda NU dengan Sesepuh (Sumber Gambar : Nu Online)

Lailatul Ijtima’ Pertemukan Generasi Muda NU dengan Sesepuh

Sebelumnya lailatul ijtima’ telah dilaksanakan dikediaman KH Abdurrahman, salah satu Mustasyar dan mantan Ketua Tanfidziah NU Sulsel, yang kedua di kediaman Ketua Tanfidziyah H Iskandar Idy, yang ketiga dikediaman Agus Arifin Numang Wakil Gubernur Sulsel sekaligus Mustasyar NU Sulsel.

Dalam sambutan Ketua Tanfidziah, tradisi lailatul ijtima selain mempererat silaturrahim sesama warga nahdliyin, terutama antara ulama sepuh dengan pengurus, dan antra generasi muda NU dengan para sesepuh. “Lailatul ijtima ini merupakan tradisi Ulama NU di Sulsel,” katanya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Hal senada disampaikan oeh H Anwar Kadir sebagai tuan rumah. Selain itu, lailatul ijtima’ yang tiada lain adalah silaturrahim berfungsi memperpanjang umur, dan memberikan keberkahan.

Pada malam lailatul ijtima ke-4 ini, taushiyah dibawakan oleh Rais Syuriyah PWNU Sulsel Anregutta H Sanusi Baco. Dalam tausiahnya Gurutta menjelaskan bagaimana pentingnya menjalin silaturrahim, menjaga shalat dan menjelaskan sejarah pemikiran Ahlussunnah wal Jama’ah. (Andy M. Idris/Anam)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Doa, Nahdlatul, Daerah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 14 Februari 2018

Penembak Teriakkan Takbir dan Aleppo Usai Tewaskan Dubes Rusia

Ankara, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pria penembak Duta Besar Rusia untuk Turki telah teridentifikasi bernama Mevlut Mert Altintas, seorang anggota Polisi Kota Ankara berusia 22 tahun.

Dia menembak Andrey Karlov (66) hingga tewas dengan beberapa kali tembakan di bagian dada. Saat itu Karlov sedang menghadiri pembukaan pameran fotografi di Ibu Kota Turki, Ankara, Senin (19/12/2016). Karlov sempat berpidato sebelum ditembak oleh Altintas yang berada tepat di belakangnya.

Penembak Teriakkan Takbir dan Aleppo Usai Tewaskan Dubes Rusia (Sumber Gambar : Nu Online)
Penembak Teriakkan Takbir dan Aleppo Usai Tewaskan Dubes Rusia (Sumber Gambar : Nu Online)

Penembak Teriakkan Takbir dan Aleppo Usai Tewaskan Dubes Rusia

Dikutip Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan dari Daily Mail, Altintas berteriak histeris sambil mengangkat tangan kiri dan mengacungkan jari telunjuk usai melumpuhkan Karlov.?

“Allahu Akbar! (God is Great). We die in Aleppo, you die here! (Allahu Akbar! Kami mati di Aleppo, kamu mati di sini),” teriak Altintas dilansir Daily Mail, Senin (19/12).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Allahu Akbar! Jangan lupakan Aleppo, jangan lupakan Syiria! Hanya kematian yang dapat menyingkirkanku dari sini. Semua orang ambil bagian dalam penindasan ini harus membayarnya," teriaknya lagi.

Kantor berita setempat, seperti dilansir Reuters, Selasa (20/12) menyatakan, penyerang langsung dilumpuhkan oleh pihak keamanan. Pasukan khusus Turki saat itu telah mengepung gedung tempat peristiwa terjadi.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Daily Mail menyebut, Altintas berhasil dilumpuhkan dalam waktu 15 menit setelah melancarkan aksinya. Ia tewas setelah baku tembak dengan petugas Kepolisian Turki. Tiga orang lainnya dikabarkan juga terluka akibat kejadian ini. Seorang saksi mengatakan suara tembakan muncul selama beberapa waktu setelah serangan.

Sebelumnya, Jurnalis Surat Kabar Hurriyet seperti dikutip Reuters mengatakan, penyerang meneriakkan slogan-slogan Islam saat melakukan aksinya.



Pada sebuah foto yang viral di Twitter, terlihat gambar seorang pria memakai setelan resmi tengah memegang pistol. Ia berdiri dekat dengan podium di galeri yang banyak tergantung gambar di dindingnya. Terlihat juga empat orang, termasuk Dubes Rusia, tergeletak di lantai.

Serangan terhadap Karlov disebut-sebut muncul terkait konflik Suriah di Turki. Hubungan Rusia dan Turki telah lama penuh konflik karena kedua negara itu mendukung sisi yang berlawanan.

Wali Kota Ankara menegaskan, penembakan Karlov dilakukan untuk merusak hubungan Turki-Rusia. Ketegangan meningkat dalam beberapa pekan terakhir, menyusul pasukan Suriah yang didukung Rusia tengah berusaha menguasai bagian timur Kota Aleppo. Hal tersebut memicu aliran pengungsi.?

Tak begitu jelas siapa yang melakukan serangan, namun ISIS diketahui telah aktif di Turki dan beberapa kali mengakui telah melakukan sejumlah serangan bom. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Kyai, Nahdlatul Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 25 Januari 2018

PWNU Jabar Intsruksikan Warga Tak Terlibat Konflik Sosial

Bandung, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat Eman Suryaman menginstruksikan kepada seluruh cabang-cabang NU di Jawa Barat agar jangan sampai terlibat dalam konflik sosial. Hal ini terkait berbagai aksi kekerasan agama yang kerapkali terjadi di wilayah Jawa Barat.

"NU adalah ormas Islam yang menghormati kebhinnekaan, artinya menerima pihak manapun dalam membangun negara yang maju, aman dan damai. NU juga harus menjaga netralitasnya dalam menghadapi segala konflik yang terjadi di Jawa Barat Khususnya dan Indonesia pada umumnya," tutur Eman.

PWNU Jabar Intsruksikan Warga Tak Terlibat Konflik Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Jabar Intsruksikan Warga Tak Terlibat Konflik Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Jabar Intsruksikan Warga Tak Terlibat Konflik Sosial

Eman juga mengatakan bahwa radikalesme harus segera dihentikan, karena Islam tidak mengajarkan kekerarasan, terlebih memaksakan orang lain untuk masuk ke ajaran manapun.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ditambahkan sebagai agama rahmatan lil alamin, seharusnya orang yang beragama Islam mampu memberikan pencerahan dengan cara-cara yang cantik. Para wali penyebar Islam di Nusantara pun sukses mengislamkan sebagian besar masyarakat Indonesia ? bukan dengan kekerasan, melainkan dengan mencontohkan ahlakul karimah dan uswatun hasanah.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Ada cara-cara yang lebih baik untuk menghadapi beberapa kelompok yang menyimpangkan agama daripada menyikapinya dengan kekerasan. Para wali saja bisa mengajak masyarakat yang bukan beragama Islam, masa yang melencengkan agama masa tidak bisa diajak kembali kepada ajaran yang sebenarnya?” katanya.

Ditambahkan, untuk meluruskan ajaran yang menyimpang seperti Ahmadiyah jangan menggunakan kekerasan, bahkan sampai dibunuh atau dianiaya. Ada cara-cara lain yang bisa membuat mereka tertarik kepada ajaran yang sesungguhnya.

"Mereka juga tahu ketika mereka lahir dan dibesarkan, Al-Qur’an yang jadi pegangan mereka sama dengan kita," pungkasnya?

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Zainal Mutaqin

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ulama, Humor Islam, Nahdlatul Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 15 Januari 2018

Pakar Pangan Filipina Kunjungi Usaha Tiwul LPPNU Waykanan

Way Kanan, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Prof Alexis C Del Rosario dari Filipina didampingi Dirjen Ketahanan Pangan Sri Suhartini dan pemerhati UKM Dr Amarhansah meninjau kegiatan usaha pengelolaan hasil singkong menjadi tiwul di Waykanan. Kunjungan ini digelar dalam rangka melihat produk hasil dari singkong selain dari tepung.

Pengelolaan singkong menjadi beras tiwul merupakan usaha yang dikelola oleh Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdatul Ulama Kabupaten Waykanan.

Pakar Pangan Filipina Kunjungi Usaha Tiwul LPPNU Waykanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pakar Pangan Filipina Kunjungi Usaha Tiwul LPPNU Waykanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pakar Pangan Filipina Kunjungi Usaha Tiwul LPPNU Waykanan

Dalam kunjungan ini Ketua LPPNU Yoni Aliestiadi memberikan keterangan kepada tamunya tentang mekanisme pembuatan olahan dari singkong berupa tiwul yang merupakan makanan yang rendah karbohidrat.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selain itu juga ia mempraktikkan bagaimana cara pembuatan tiwul di depan rombongan dari Filipina dan Departemen Pertanian Dirjen Ketahanan pangan.

Prof Alexis mengatakan bahwa ia merasa senang dapat melihat secara langsung pembuatan makanan alternatif dari singkong yaitu tiwul.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ditambahkannya bahwa kunjungannya ke Waykanan memang mencari olahan apa saja yang dapat dihasilkan dari tanaman singkong. "Di Filipina singkong hanya dijadikan bahan untuk makanan ternak," ujar Prof. Alexis C. Del Rosario.

"Kami akan mengembangkan olahan yang dihasilkan dari singkong selain makanan ternak," tambahnya.

Sri Suhartini menambahkan bahwa tahun ini pemerintah pusat melalui Departemen Pertanian memberikan bantuan untuk tanaman singkong kepada kelompok petani singkong.

ia mengharapkan Pemda Waykanan dapat berkoordinasi dengan lembaga yang peduli dan memperhatikan para petani singkong untuk bersama-sama memberikan masukan dan pengawasan untuk batuan ini agar sesuai sasaran.

Pengelola pabrik tiwul, Yoni Aliestiadi merasa bangga dengan kunjungan dari Kementrian Pertanian dan perwakilan dari comprehensive assessment of the permormance of the cassava supply chain and value chain and identification of interventions for competitiveness dari Filipina.

Yoni meminta Pemkab Waykanan agar lebih peduli kepada pengusaha UKM yang ada di Waykanan, untuk mengembangkan usaha kecil menengah sehingga mampu bersaing dengan produk dari daerah lain. (Heri Amanudin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Sholawat, Sunnah, Nahdlatul Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 29 Desember 2017

Manuver Politik dan Autentisitas Ramadhan Perspektif Maqashid Syariah

Oleh Nasrulloh Afandi



Ramadhan akan segera tiba, saya menemukan kliping tulisan berkualitas “Tuhan Itu Sama”, oleh Dr Mahfud MD” (Koran Sindo. Ramadhan,13/07/2013). Guru besar konstiusi itu menyatakan "Keberatannya jika aktivitas politik selama Ramadhan ditunda, karena politik juga bisa menjadi ibadah". Opini tersebut betul, namun kurang mengena. Ia sepihak dengan tidak melihat aspek-aspek lain yang berkaitan dengan autentisitas ibadah.?

Manuver Politik dan Autentisitas Ramadhan Perspektif Maqashid Syariah (Sumber Gambar : Nu Online)
Manuver Politik dan Autentisitas Ramadhan Perspektif Maqashid Syariah (Sumber Gambar : Nu Online)

Manuver Politik dan Autentisitas Ramadhan Perspektif Maqashid Syariah

Mengacu pada orientasi dan autentisitas ibadah, merespons opini tersebut, saya tertarik untuk menganalisa perspektif maqashid syariah, perlu disampaikan beberapa ulasan berikut:?

Pertama: Ramadhan Momentum Politik

Untuk pengantar wawasan, kita menengok Ramadhan pada zaman Nabi Muhammad SAW. Memang selain momentum diturunkanya Al-Qur’an, juga terjadi banyak tragedi-tragedi politik berskala besar, tidak hanya sebatas manuver di atas meja diplomasi, ? tetapi politik fisik, bahkan pertumpahan darah di medan peperangan.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Perang Badar adalah tragedi politik paling besar yang terjadi di bulan Ramadhan pada jaman Nabi Muhammad, juga penaklukan kota Makkah. Termasuk persiapan perang Chondaq terjadi saat Ramadhan meskipun perangnya meletus pada bulan Syawal, selepas Ramadhan. Dan masih banyak berbagai peristiwa politik, di bulan yang umat Nabi Muhammad SAW sekarang ini diperintahkan untuk selalu menahan diri dan bersabar ini.?

Kenapa berperang di bulan Ramadhan? Hal perlu ditekankan adalah, di masa itu, meski di bulan Ramadhan, bermusuhan antara orang Mukmin pendukung Nabi Muhammad SAW, dan orang-orang kafir (harbi) yang membabi buta memusuhi dan ingin membinasakan Islam. Jadi ? adalah kewajiban orang Islam melakukan perlawanan.?

Untuk tepat sasaran dalam mengkaji tragedi tersebut, kita analisis opini Imam Asy-Syatibi, sang bapak maqhosid syariah, dalam kitab al-Muwafaqot, magnum opus-nya. Hal itu adalah bagian dari dhorurotu al-khoms (lima asas pokok yang wajib dipertahankan); pertama, hifduzu ad-din (menjaga agama) kedua; hifdzu an-nafs (menjaga jiwa) ketiga; hifdzu an-nasl (menjaga nasab) keempat; hifdzu aql (menjaga akal) kelima; hifdzu al-mal (menjaga harta)?

Alhasil, terkait tragedi peperangan di masa Nabi Muhamad tersebut, terdapat dua unsur yang mewajibkan berperang meskipun saat bulan Ramadhan. Pertama, hifduzu ad-din (menjaga agama) dan kedua; hifdzu an-nafs (menjaga jiwa).?

Kedua: Bagaimana Politik dan Ramadhan Sekarang?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Bagaimana politik di Indonesia sekarang? Relevansinya dengan politik sekarang dalam konteks keutamaan puasa Ramadhan. Untuk di Indonesia, publik pun paham, para politisi dominan memperebutkan kekuasaan untuk kepentingan pribadi dan keluarga masing-masing, maksimal hanya untuk golongannya. Juga berhadapan dengan sama-sama orang Islam, sama-sama sedang berpuasa Ramadhan pula.?

Perspektif fikih, para perebut kekuasaan pun di negeri ini, mayoritas –dimaksud tidak semuanya— saat bermain di gelanggang melanggar norma agama, identik dengan “jurus busuk”, ? janji-janji palsu, kebohongan publik, bahkan mayoritas mengamalkan jurus machiavellianisme alias politik menghalalkan segala cara, meski ada yang jujur tapi sangat sedikit. Kasusnya rawan dengan faktor-faktor yang menggerogoti kualitas dan autentisitas ibadah (puasa) seperti menggunjing, bersilat lidah, berburuk sangka, dan lainnya, tak jarang pula yang secara langsung bermain fisik, atau sebatas mengerahkan masa untuk bermain fisik. Kondisi semacam itu, jelas tidak mendukung untuk bisa meraih kesempurnaan beribadah puasa.?

Analisis ilmu mantiq: ”Di tengah kobaran api akan terbakar”. Sang aktor politisi yang amanah, jujur dan bijaksana pun, ketika sedang bermain di gelanggang, gempuran manuver lawan–lawannya, sering mengakibatkan “si jujur” terpancing dan membuatnya mengadakan serangan balik dengan cara “kasar” pula.?

Di sinilah akar masalahnya. Atau meminjam opini Syeikh Ahmad Muhammad Az-Zarqo, dalam kitab kaidah fikihnya: daf ‘u al-mafasid aula min jalbi al-masholich (menjauhi sesuatu yang berakibat kerusakan itu lebih didahulukan, daripada melakukan sesuatu yang akan mengakibatkan kebaikan).

Efek negatif berpolitik saat puasa Ramadhan sudah sangat jelas, sementara kebaikan berpolitik (saat Ramadhan) masih belum tentu, atau dalam istilah maqashid syariahnya, kebaikan dalam berpolitik saat berpuasa Ramadhan itu hanya sebatas asumsi (maqashid al- wahmiyah). ?

Jadi, alangkah lebih baiknya, untuk menggapai nilai autentisitas berpuasa, sementara politik dikurangi, atau dihentikan sementara, mengingat kurang sehatnya iklim politik yang (sedang) berjalan di Indonesia. Rehat sejenak (meski hanya satu bulan dalam setahun sekali) untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Dan kembali bisa leluasa untuk berlaga di medan politik pasca Idul Fitri nanti, dengan hati dan pikiran lebih Islami untuk bekal bermanuver di lahan “perjuangannya” itu.?

Ketiga: Manuver Politik dan Orientasi Ibadah

Sekecil apa pun unsur yang bertujuan untuk kebaikan, entah ucapan, tulisan dan lainya -- termasuk berpolitik-- maka sangat di anjurkan oleh agama (Islam) kapan dan dimanapun, apalagi di bulan Ramadhan ini dilipatgandakan pahalanya. Setiap perbuatan kebaikan adalah bagian dari ibadah. Dan tentu bukanlah ibadah jika “kebaikan” itu hanya politis, apalagi sebagai klaim belaka.?

Bagi sebagian golongan, politik adalah pekerjaan tetap, ladang mencari nafkah keluarga, hal itu memang sah-sah saja. Bahkan menjadi kewajiban bagi kepala keluarga yang memang berprofesi (mencari nafkah) di medan tersebut, selagi tidak melanggar norma islami (agama) dan konstitusi negara. Di sisi lain, setiap kebijakan pemerintah (yang sedang memimpin) untuk merealisasikannya, tentu tidak bisa lepas dari strategi dan pandangan politis, contoh kecil mau menaikkan harga BBM.?

Namun perlu diingat. Di bulan Ramadhan ini, frekuensi ibadah harus lebih banyak dibandingkan urusan lainnya. Memang tidak ada salahnya jika di bulan Ramadhan tetap beraktivitas politik secara aktif. Demi memperjuangkan kepentingan publik atau dalam maqashid syariah-nya disebut al- maslahath al- ammah (kepentingan publik) dengan catatan; jika memang yakin bahwa Ia akan mampu menyelamatkan kualitas puasanya saat bermanuver di medan berpolitis.?

Politik dalam Islam sangat dianjurkan, tetapi opini Imam al-Ghozali dalam Ihya Ulumuddin-nya, hukumnya tidak sampai pada fardu ’ain (kewajiban bagi setiap orang) paling banter sampai pada posisi fardu kifayah (cukup diwakili oleh sebagian orang) maka sudah menggugurkan kewajiban orang lainnya. Itu pun dalam tinjaun ushul fikh, masih perlu melihat I’lath (latar belakangnya) situasi dan kondisi, mendesak ke sana apa belum(?)

Dipastikan mampukah atau tidak untuk tampil memperjuangkan hak-hak rakyat secara jujur, adil dan bijaksana(?) Masih ada tidak orang lain yang lebih mampu –yang ini berat memang, introspeksi kualitas diri – (?) ? Atau malah justru sebaliknya, ikut terseret ranah koalisi kezaliman kepada rakyat dan negara(?) Jika tidak memenuhi kriteria tersebut, maka lebih baik alih profesi saja, “beribadah” mengabdikan diri pada bangsa dan negara sesuai spesifikasi kemampuan yang dimilikinya, di luar area politik.?

Keempat: Puasa dan Polusi Politik

Puasa Ramadhan adalah ibadah yang sangat sensitif, gampang rusak hanya karena meluncur kalimat gunjingan dari mulut yang berpuasa, sehingga harus ekstra hati-hati dalam mengarungi ibadah puasa Ramadhan. Agar jangan sampai rusak, apalagi di “pagi buta” alias rawan godaan saat “jam kerja”.?

Dalam tinjauan ilmu ushul fikih-nya, siapa saja yang terlibat berurusan dengan orang-orang kurang bijaksana dan tidak amanah (politisi busuk) dalam kondisi berpuasa, maka akan sangat memungkinkan terkena jebakan ranjau, syad ad-dari’ah; posisi atau kondisi yang mengantarkan kepada sebuah kerusakan (mencemari Ibadah) Apalagi politik (meraih) Kekuasaan, yang tentunya rawan gesekan-gesekan dengan pihak lawan.

Lihatlah di kancah publik bangsa kita ini, paling gegap-gempita adalah aktivitas para politisi, sebelum Ramadhan, utamanya saat sedang berlangsungnya Ramadhan, bahkan sampai Ramadhan usai (Idul Fitri) segala macam manuver politik, pencitraan dilakukan oleh para pemburu kekuasaan untuk pencapaian target atau mempertahankan kekuasaanya. Menggunakan berbagai media online cetak, spanduk, baliho, dan media iklan lainnya, bukan hanya di kota –kota, tetapi juga di pelosok- pelosok desa seantero negeri. Mereka bersandiwara menjadi tokoh religius, dermawan atau lainnya, ? “menjual diri” agar “dibeli” oleh publik hanya dengan barter mengharapkan status; biar disebut tokoh ideal atau tokoh terbaik idola publik.?

Dalam tinjauan fikih, puasa sekedar menahan perut dari lapar dan dahaga itu cukup syah. Tetapi perlu diingat juga, dalam tinjauan tassawuf, Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin-nya, cukup moderat berpendapat, puasa semacam itu syah, tetapi hanya kelas paling bawah (shaum al- umum) yang dalam bahasa sehari-hari kita disebut “kelas ekonomi”.?

Untuk puasa lebih berkualitas, ? orang ? berpuasa juga hendaknya menjaga lisan, mata dan pendengaran dari kemaksiatan, itu adalah shaum al-khusus (puasa khusus) ? dalam bahasa sehari-hari kita disebut puasa “kelas bisnis”.?

Ada juga puasa yang sekaligus menjaga hati dan pikiran dari jangkitan fenomena prasangka tercela; ? itulah shaumu khusus al-khusus (puasa kelas orang-orang tertentu) puasa kelas tertinggi, atau dalam bahasa keseharian kita; puasa “kelas ekskutif”.?

Jadi, orang-orang yang elit di kancah politik itu, di bulan Ramadhan ini, mau pilih menjadi kelas apa, (orang) berpuasa kelas executive atau hanya puasa (orang) kelas ekonomi?





Penulis adalah peneliti ? maqashid syariah modern, Kepala Bagian Politik Yayasan Pondok Pesantren Asy- Syafi’iyyah Kedungwungu Krangkeng Indramayu Jabar

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Aswaja, Kyai, Nahdlatul Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 25 Desember 2017

Tiga Parameter Keberhasilan Organisasi

Tegal, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Ketua Tanfidiyah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Tarub H Imam Turmudzi mengingtakan para pengurus ikatan pelajar putra dan putri NU (IPNU-IPPNU) mengenai tiga hal yang menjadi parameter sebuah organisasi atau kepengurusan dianggap berhasil.

Tiga Parameter Keberhasilan Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Parameter Keberhasilan Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Parameter Keberhasilan Organisasi

Pertama, kata H Imam Turmudzi saat memberikan sambutan dalam pelantikan Pengurus Ranting IPNU-IPPNU Desa Purbasana masa khidmat 2012 – 2014 di pendopo balai desa Purbasana, Ahad (30/12) lalu, yakni ketika pengurus berhasil melakukan kaderisasi. 

“Kaderisasi ini bisa dianggap berhasil apabila kepengurusan sebulnya bisa memberikan pengaruh besar terhadap kadernya sehingga mereka mempunyai andil dalam mengembangkan organisasi berikutnya dan bisa memberikan kader baru yang lebih baik,” ujarnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kedua, program yang direncanakan dapat direalisaikan dengan baik. Ketiga adalah dapat memberikan kontribusi kepada masyarkat secara luas, bukan saja secara internal organisasi, sehingga kehadiran organisasi bisa benar-benar dirsakan manfaatnya.

“Nampaknya ini mudah diucapkan tetapi sulit dilakukan, tetapi dengan niat kita yang tulus mudah-mudahan bisa dilaksankan dengan baik,” imbuhnya

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Hadir dalam kesempatan itu PC. IPNU-IPPNU Kabupaten Tegal, Kepala Desa Purbasan dan beberapa pengurus NU, PAC. IPNU-IPPNU Kecamatan Tarub. Sebelum prosesi pelantikan gema maulid Nabi dengan didiringi grup hadroh besutan tangan PR IPNU-IPPNU sebagai iringan pengisi acara. Hadir juga  kurang lebih 50 peserta.

Ketua PAC IPNU Kecamtan Tarub Aditio Prasetio mengucapkan selamat kepada pengurus periode yang baru. “Mudah – mudahan periode ini bisa lebih baik lagi,  saya yakin untuk kepengurusan periode ini bisa lebih baik dari periode sebelumnya, karena satu minggu sebelum acara ini, PAC IPNU – IPPNU telah mengadakan Latihan Kader Muda (Lakmud) yang di ikuti oleh seluruh PR/PK IPNU – IPPNU Kec. Tarub , termasuk PR IPNU – IPPNU Desa Purbasana yang begitu antusias mengikuti acara tersebut,” tukasnya.

Aditio Prasetio juga mengimbau pengurus dan anggota yang telah mengikuti Lakmud  untuk bisa mengaplikasakannya pengalaman yang telah di dapatkan kepada Ranting IPNU – IPPNU Desa Purbasana untuk kemajuan PR IPNU IPPNU Desa Purbasana.

Dalam kesempatan itu Kepala Desa Pubasana Drs. Bambang Dwi Kuntoro berpesan agar kepengurusan yang baru lebih ditingkatkan lagi kerjasam antara IPNU-PPNU dengan pemerintah. 

“Sebentar lagi desa kita akan mengadakan pemilihan kepala desa secara langsung untuk itu kami harap IPNU-IPPNU berperan dalam ajang itu mungkin sebagai panitia ataupun yang lain yang dapat memberikan rasa aman nyaman dan bersih, sehingga pemilihan kepala desa nanti tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan,” pintanya.

Bertindak melantik dalam kegitan itu Sekretaris PC. IPNU Kabupaten Tegal Wahidun Ma’mur yang didampingi pengurus PAC. IPNU dan pengambil sumpah janji pelantikan IPPNU adalah ketua PC. IPPNU Kabupaten Tegal Lutfatun Nikhlah.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Abdul Muiz Tg.

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Daerah, Khutbah, Nahdlatul Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 21 Desember 2017

Ribuan Muslimat NU Jateng Sukseskan Imunisasi Campak

Semarang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Sedikitnya 4.000 kader Muslimat NU Jawa Tengah dikerahkan untuk menyukseskan "crash program" imunisasi campak, polio, dan pemberian vitamin A kepada jutaan balita di provinsi ini selama 20 Februari-20 Maret 2007.

"Semua kader Muslimat NU di kabupaten/kota harus ikut berperan dalam peningkatan jumlah anak yang diimunisasi secara gratis dengan pencapaian target lebih dari 95 persen," kata Ketua PW Muslimat NU Jateng, Ismawati, di Semarang, Rabu.

Ribuan Muslimat NU Jateng Sukseskan Imunisasi Campak (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Muslimat NU Jateng Sukseskan Imunisasi Campak (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Muslimat NU Jateng Sukseskan Imunisasi Campak

Seperti diberitakan sebanyak 5.614.871 balita usia 0-59 bulan di Jawa Tengah pada 20 Februari-20 Maret 2007 akan menjadi sasaran "crash program" imunisasi campak, polio, dan pemberian vitamin A.

Total sasaran "crash program" meliputi 2.955.195 balita umur 0-59 bulan menjadi sasaran polio, sedangkan 2.659.767 balita umur 6-59 bulan mendapat imunisasi campak dan pemberian vitamin A. "Crash program" merupakan kegiatan untuk memberikan perlindungan kepada seluruh sasaran termasuk daerah di mana cakupan imunisasi rutin sangat rendah yang bertujuan untuk menghentikan penularan virus campak.

Ia mengatakan, setiap 20 menit satu anak meninggal karena komplikasi campak, sedangkan lebih dari satu juta anak Indonesia diperkirakan belum terimunisasi campak, sehingga bagi Muslimat NU "crash program" merupakan sebuah tantangan.

"Pimpinan Muslimat NU di semua tingkatan perlu terlibat dalam sosialisasi imunisasi campak dan polio. Pencapaian target imunisasi tidak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah," katanya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Peran Muslimat NU dalam imunisasi antara lain menyebarkan informasi, penjelasan kepada warga NU, karena ketaatan kepada tokoh agama berbasis agama menjadikan penjelasan dari tokoh panutan bisa lebih dipercaya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Muslimat NU sebagai organisasi sosial keagamaan memiliki program yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup sumber daya manusia di bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi, katanya.

Ia mengakui, kesadaran orang tua dan kalangan masyarakat yang memiliki balita mengenai manfaat imunisasi masih kurang. "Kalangan masyarakat kadang masih merasa trauma tentang kematian akibat imunisasi campak yang disiarkan media massa," katanya.

Meskipun anak telah mendapatkan imunisasi campak, sebaiknya tetap diimunisasi kembali selama "crash program" imunisasi campak, polio, dan pemberian vitamin A, karena dosis campak kedua menjamin perlindungan anak.

"Campak menyerang permukaan kulit dan sistem kekebalan tubuh yang dapat menyebabkan anak-anak meninggal akibat komplikasi diare, radang paru-paru, dan kerusakan otak. Campak juga dapat menyebabkan kematian," katanya. (ant/mad)



Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pemurnian Aqidah, Nahdlatul, Fragmen Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 15 Desember 2017

Banser Harus Militan dan Ideologis

Jepara, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor kecamatan Batealit Jepara selama tiga hari Jum’at-Ahad, (16-18/10) sukses menggelar Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) Barisan Ansor Serbaguna (Banser). Diklatsar yang digelar di Dukuh Setro, Desa Batealit, kecamatan Batealit kabupaten Jepara itu diikuti 45 peserta yang kini telah dibaiat menjadi angota Banser baru.

Banser Harus Militan dan Ideologis (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Harus Militan dan Ideologis (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Harus Militan dan Ideologis

Diklatsar itu merupakan kali pertama digelar PAC GP Ansor Batealit. Sementara di Jepara, merupakan Dikltasar angkatan kelima.

Peserta yang mengikuti Diklastar itu sebagian besar dari wilayah Kemacatan Batealit dan beberapa ada delegasi dari PAC Tahunan, Keling dan Donorojo.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ketua PAC GP Ansor Batealit, Nur Alimin mengatakan Diklatsar banser diadakan dalam rangka menyiapkan barisan kader muda NU yang tanggap akan problem keumatan dan kebangsaan demi mengawal tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Banser menjadi garda terdepan Ansor maupun NU yang harus memiliki kemampuan untuk menyelesaikan berbagai problem. Khususnya masalah-masalah keumatan dan kebangsaan,” tambahnya sebagaimana rilis yang diterima Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan.

Subchan Zuhri, Wakil Ketua PAC Ansor Batealit menambahkan dalam rangka membentuk kader Banser yang tangguh peserta Diklastar diberi materi yang lengkap. Mulai dari materi Ke-NU-an, Aswaja, Keansoran, Kebanseran, analisis SWOT, leadership, wawasan kebangsaan, PBB, kelalulintasan, SAR, Bagana, dan materi-materi pendukung lainnya.

Pada malam terakhir kemarin, panitia juga menghadirkan KH Subakir dari Kudus untuk memberikan materi penguatan mental spriritual kader banser,” imbuhnya.

Diklatsar Banser di Batealit Jepara itu juga dihadiri Sekretaris Pengurus Wilayah GP Ansor Jawa Tengah, Sholahuddin Ali. Mantan Ketua Umum PKC PMII Jawa Tengah itu menyampaikan materi Keansoran di hari pertama.

Sholahuddin menegaskan, bahwa Banser sebagai kekuatan utama Ansor harus memiliki militansi dan ideologi Islam Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja) yang kuat. Tantangan Banser dan Ansor pada saat ini semakin kompleks dan harus dihadapi dengan kemampuan-kemampuan khusus.

“Sikap Banser adalah merepresentasikan Ansor dan NU yang harus menampakkan Islam Ahlussunah Waljamaah. Islam yang ramah, bukan Islam yang marah-marah,” tandasnya. (Syaiful Mustaqim/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Aswaja, Nahdlatul, Pendidikan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 29 November 2017

Makesta, Pelajar NU Probolinggo Deklarasi Antinarkoba

Probolinggo, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Sedikitnya 100 orang pelajar NU dari Kecamatan Leces, Tegalsiwalan dan Bantaran menandatangani deklarasi anti narkoba di aula Kantor PCNU Kabupaten Probolinggo di Desa Warujinggo Kecamatan Leces. Kegiatan ini dihadiri oleh Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimka) Leces.

Penandatanganan komitmen hidup sehat tanpa narkoba ini dilakukan dalam kegiatan Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) yang digelar Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Probolinggo, Sabtu dan Ahad (17-18/9).

Makesta, Pelajar NU Probolinggo Deklarasi Antinarkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Makesta, Pelajar NU Probolinggo Deklarasi Antinarkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Makesta, Pelajar NU Probolinggo Deklarasi Antinarkoba

Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua PCNU Kabupaten Probolinggo KH Abdul Hadi, Ketua PC IPNU Kabupaten Probolinggo Babussalam, Ketua PC IPPNU Kabupaten Probolinggo Nur Hakimah Ismawati serta pengurus dari PW IPNU dan IPPNU Provinsi Jawa Timur.

“Dengan adanya deklarasi anti narkoba ini kami berharap agar nantinya para kader IPNU dan IPPNU di Kabupaten Probolinggo tertanam ghiroh ke-NU-an mampu dan mampu mengkampanyekan bahaya narkoba di lingkungan sekitarnya,” kata Ketua PC IPNU Kabupaten Probolinggo Babussalam.

Terkait Makesta, Babussalam menegaskan bahwa kegiatan merupakan salah satu upaya untuk pemerataan kader di tiap-tiap kecamatan. Dimana makesta sendiri merupakan jenjang awal pengenalan organisasi IPNU dan IPPNU.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Dengan mengikuti makesta, berarti mereka telah resmi menjadi anggota baru IPNU dan IPPNU yang selanjutnya akan terus dibina untuk kemudian bisa mengaktifkan organisasi di lembaganya masing-masing,” tegasnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sementara Ketua PC IPPNU Kabupaten Probolinggo Nur Hakimah Ismawati mengharapkan agar kader IPNU dan IPPNU yang sudah melakukan deklarasi anti narkoba ini mampu mengajak para generasi muda di daerahnya masing-masing agar bersama-sama menjauhi bahaya narkoba demi penyelamatan masa depan generasi bangsa.

“Kegiatan ini merupakan aksi nyata untuk penyelamatan masa depan generasi muda dari bahaya dan pengaruh narkoba,” ungkapnya.

Selama makesta mereka mendapatkan materi ke-NU-an, ke-Aswaja-an, ke-IPNU-IPPNU-an, keorganisasian, kepemimpinan dan tradisi keislaman NU. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Nahdlatul, Ubudiyah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 20 November 2017

“Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” Jangan Jadi Alasan Kekurangperhatian

Bandung, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Guru merupakan sebuah profesi yang mulia yang dikenal dengan istilah pahlawan tanpa tanda jasa. Akan tetapi slogan pahlawan tanpa tanda jasa jangan dijadikan sebagai alasan kurang perhatian dan penghargaan terhadap guru baik dari pemerintah maupun masyarakat.

Hal itu disampaikan oleh H Saepuloh, MPd, Sekretaris Pergunu Jawa Barat di sela-sela acara Talk Show dengan tema ‘Guru Mulia Karena Karya’ di Studio Kompas TV Jawa Barat, Jl Riau No. 46, Bandung, Kamis (26/11).

“Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” Jangan Jadi Alasan Kekurangperhatian (Sumber Gambar : Nu Online)
“Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” Jangan Jadi Alasan Kekurangperhatian (Sumber Gambar : Nu Online)

“Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” Jangan Jadi Alasan Kekurangperhatian

Guru semestinya menjadi profesi yang dihormati dan dihargai oleh semua pihak. Kesejahteraan guru harus diperhatikan, pada kenyataannya masih ada guru yang mempunyai penghasilan di bawah UMR sekitar Rp 250.000,- per bulan. Bahkan guru honorer dibawah Kemenag pada tahun ini ada yang 7 bulan bahkan lebih belum mendapatkan gaji karena keterlabatan pencairan dana BOS.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Guru yang sudah mendapatkan tunjangan profesipun pada tahun ini ada keterlambatan pencairan hampir 9 bulan,” ungkap Saepuloh.

Sementara itu, menurutnya, guru pada era globalisasi saat ini menghadapi tantangan yang sangat berat. Oleh karena itu, guru jangan berhenti untuk belajar dan terus berkarya ditengah keterpurukan kondisi ekonominya.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pada kesempatan itu, Saepuloh mengatakan, sebagian besar guru belum melaksanakan kewajibannya berupa penulisan karya tulis ilmiah. Oleh karena itu, Pergunu Jawa Barat bekerjasama dengan pihak-pihak terkait untuk meningkatkan kemampuan guru dalam penulisan karya tulis ilmiah.?

"Guru-guru kita terdahulu besar karena karya tulisnya, bahkan karya tulisnya menjadi rujukan utama pada saat ini,” tuturnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Nahdlatul, AlaNu, Lomba Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 17 November 2017

Ngaji Online bareng Santri Online dan PP. IPNU

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Ramadhan merupakan bulan penuh rahmat. Pada bulan suci ini, umat Islam berlomba-lomba mencari kebaikan, salah satunya menuntut ilmu. Apalagi saat ini, menuntut ilmu tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Hal itu seperti yang dilakukan oleh PP IPNU yang bekerja sama dengan Ikatan Mahasiswa Tegal (IMT) Ciputat dalam menyelenggarakan kajian kitab Washiyatul Musthofa. Kajian tersebut dilakukan di Beskem IMT Ciputat dan disiarkan secara langsung melalui akun Facebook Santri Online selama bulan Ramadhan setelah shalat Tarawih.

Ngaji Online bareng Santri Online dan PP. IPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ngaji Online bareng Santri Online dan PP. IPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ngaji Online bareng Santri Online dan PP. IPNU

Kitab Washiyatul Musthofa berisi tentang pesan-pesan yang disampaikan Nabi Muhammad SAW kepada Ali bin Abi Thalib. Sesuai dengan hadis yang mengatakan bahwa jika Nabi Muhammad adalah tempatnya ilmu, Ali adalah kuncinya.?

Sebelum acara kajian dimulai, peserta diminta untuk bersama-sama membaca shalawat Asghili karya Kiai Abdullah Syafii dari Betawi.?

Shalawat yang biasanya dikumandangkan di antara Adzan dan Iqomah itu menurut HM Aqib Malik sebagai doa supaya terselamatkan dari kekacauan dan upaya jahat yang dilakukan oleh orang-orang dzolim.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Zaman sekarang kedzaliman dan kekacauan zaman sudah sangat terasa di sekeliling kita,” ungkap pria yang akrab disapa Gus Aqib.

Pada kajian tersebut, Gus Aqib menyampaikan bahwa wasiat pertama yang disampaikan Nabi kepada Ali adalah berkaitan dengan makanan. Makanan merupakan salah satu faktor yang menentukan kepribadian seseorang.

Menurutnya, jika seseorang memakan makanan halal, hal itu bisa membuat hati menjadi luwes, berpikir positif, dan mudah menerima kebenaran. Namun sebaliknya, jika seseorang memakan makanan yang syubhat atau tidak jelas, hal itu menyebabkan hati menjadi gelap sehingga susah menerima kebenaran.?

“Apalagi, jika memakan makanan yang haram, hal itu dapat menyebabkan hati menjadi mati,” tambah Ketua Bidang Pesantren PP. IPNU itu pada Ahad malam, (28/05).

Hati buta juga tidak semata-mata karena makanan. Ia menambahkan bahwa barangsiapa yang menjauh dari ulama, maka hatinya akan mati dan akan buta dari ketaatannya kepada Allah.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selain itu, ia juga mengungkapkan bahwa Allah tidak akan menerima shalat seseorang tanpa wudhu. Begitu juga apabila seseorang bersedekah dengan barang yang haram, Allah tidak akan menerimanya.

“Haram itu ada dua. Haram karena dzatnya, atau karena faktor eksternal dari dzat itu sendiri. Seperti halnya orang korupsi, jika alasannya uangnya nanti untuk bersedekah, ya tidak diterima. Itu alibi saja,” ungkapnya.

Dalam kajian tersebut, ia menutup kajian tersebut dengan mengingatkan kepada kita agar senantiasa menjaga Al-Quran sebagai pedoman hidup.

Menurutnya, barang siapa yang tidak menghalalkan apa yang dihalalkan dalam Al-Quran dan tidak mengharamkan apa yang diharamkan di dalam Al-Quran, orang itu seperti halnya meletakkan Al-Quran di belakang punggungnya sendiri.?

“Namun, jika belum bisa memahami A-Quran, berpeganglah pada ulama yang alim, yang benar-benar tahu tentang tafsir beserta ilmu ‘alatnya. Jangan sok pinter, takut salah menafsirkannya,” pungkasnya. (M. Ilhamul Qolbi/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Nahdlatul Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 05 November 2017

Nyai Nur Hidayah Kembali Pimpin Muslimat NU Solo

Solo, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Nyai Nur Hidayah Idris kembali terpilih untuk memimpin Pimpinan Cabang (PC) Muslimat NU Kota Surakarta masa khidmah 2015-2020, setelah melalui tahap pemungutan suara pemilihan ketua pada acara Konfercab Muslimat NU Kota Surakarta di Hotel Aziza, Ahad (9/8).

Pada proses voting pemilihan ketua, Nyai Idris memperoleh 28 suara, unggul 1 suara dari calon ketua lainnya, Nyai Sehah Walafiah.

Nyai Nur Hidayah Kembali Pimpin Muslimat NU Solo (Sumber Gambar : Nu Online)
Nyai Nur Hidayah Kembali Pimpin Muslimat NU Solo (Sumber Gambar : Nu Online)

Nyai Nur Hidayah Kembali Pimpin Muslimat NU Solo

Hasil ini berarti mengantarkan istri KH Idris Shofawi itu, untuk ketiga kalinya secara berturut-turut, dipercaya untuk memimpin para ibu Muslimat NU di Kota Bengawan tersebut.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Usai terpilih, Nyai Nur menyampaikan sambutannya. Ia mengatakan akan bersama mengabdi dan berbakti untuk NU. “Jabatan tidaklah penting, yang penting kita bersama-sama tetap bisa memperbaiki diri, berbakti, dan mengabdi untuk NU,” ujarnya.

Pada kepengurusan sebelumnya, Muslimat NU di Kota Solo telah mengadakan berbagai kegiatan antara lain kegiatan rutin pengajian, pelatihan kursus menjahit, penyuluhan kesehatan dan lain sebagainya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dalam kegiatan Konfercab kali ini, turut hadir beberapa perwakilan dari pengurus PC Muslimat NU se-Soloraya. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Makam, Nahdlatul, News Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 17 Oktober 2017

Maraknya Radikalisme, IPNU Inzah Genggong Perkuat Identitas NU

Probolinggo, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Mengantisipasi paham radikal yang kian marak, khususnya di kalangan pelajar, Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT) IPNU Institut Zainul Hasan (Inzah) Genggong memberi pemahaman terhadap calon penerus bangsa tentang ideologi dan identitas NU.

Maraknya Radikalisme, IPNU Inzah Genggong Perkuat Identitas NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Maraknya Radikalisme, IPNU Inzah Genggong Perkuat Identitas NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Maraknya Radikalisme, IPNU Inzah Genggong Perkuat Identitas NU

Kegiatan yang digelar, Rabu-Jumat (4-6/1) di MI Nurudz Zholah Desa Jatiurip Kecamatan Krejengan Kabupaten Probolinggo ini dikemas dalam bentuk Masa Kesetiaan Anggota (Makesta). Dimana tema yang diangkat adalah “Meneguhkan Ideologi, Menegaskan Identitas untuk Membentuk Kader Muda yang Bervisi Kebangsaan dan Berlandaskan Ahlussunnah wal Jamaah”.?

Sekretaris PKPT IPNU Inzah Genggong Rifqi Maulana mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk membentuk kader muda yang siap menjaga keutuhan NKRI dan berpaham Ahlussunnah wal Jamaah.?

“Seperti dawuh KH. Hasyim Asy’ari ? bahwa “Agama dan Nasionalisme tidak boleh dipisahkan karena agama saja belum mampu untuk menyatukan umat. Teringan pesan beliau, kami ingin kader IPNU-IPPNU mampu menciptakan bangsa yang damai karena cita-cita para pendiri NU adalah menciptakan Darus Salam bukan Darul Islam,” katanya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kegiatan yang diikuti oleh 30 orang peserta dari mahasiswa baru, siswa, santri bahkan sarjana ini dihadiri oleh pengurus PKPT IPNU-IPPNU Inzah Genggong serta pengurus Pimpinan Cabang (PC) IPNU-IPPNU Kota Kraksaan.

“Kami mengharapkan kegiatan ini mampu membentuk kader muda yang militannya tidak diragukan dan yang mampu menjalin ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathoniyah dan ukhuwah basyariyah,” harapnya. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Nahdlatul Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 19 September 2017

Komunitas Kesehatan PMII Wajo Gelar Khitanan Massal

Wajo, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Menyambut bulan suci Ramadan sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Komunitas Kesehatan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Wajo menggelar kegiatan khitanan massal di Jalan BTN Bulu Pabulu Kec. Tempe Kab. Wajo, Jum’at (26/05).

Kegiatan ini diagendakan untuk menyambut bulan suci dengan bekerja sama dengan Baznas Kabupaten Wajo, Sebelumnya Komunitas Kesehatan PMII Wajo juga menggelar kegiatan yang sama di Kec. Bola Kab. Wajo dengan mengandeng Tim Medis PMII FKM UMI dan Disaster Nursing Indonesia (DNI).

Komunitas Kesehatan PMII Wajo Gelar Khitanan Massal (Sumber Gambar : Nu Online)
Komunitas Kesehatan PMII Wajo Gelar Khitanan Massal (Sumber Gambar : Nu Online)

Komunitas Kesehatan PMII Wajo Gelar Khitanan Massal

"Kegiatan ini untuk menyambut bulan suci namun yang terpenting juga bisa membantu warga ekonomi rendah, serta kami juga  selalu menggandeng  Baznas, PMII FKM UMI, DNI dalam kegiatan ini," tutur Hamzah selaku ketua Komunitas Kesehatan PMII Wajo.

Hamzah juga menambahkan bahwa ke depan PMII FKM UMI dan Komunitas Kesehatan Wajo akan terus berupaya berkontribusi dalam pembangunan kesehatan dengan tetap komitmen dalam menggelar kegiatan kemanusiaan. Selain itu, mereka berencana untuk melakukan konsilidasi kader PMII di Sulsel yang mempunyai disiplin ilmu kesehatan guna mencapai tujuan tersebut. Red: Mukafi Niam 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ubudiyah, Doa, Nahdlatul Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 15 September 2017

Asad Said Ali: NU Tak Kolot soal Teknologi

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Asa’ad Said Ali mengatakan, NU bukan ormas Islam kolot yang gampang membid’ahkan hal-hal baru, termasuk teknologi. Selama bermuatan positif, teknologi akan diterima dan diapresiasi dengan baik.

“NU kalau soal teknologi welcome. Tidak ada masalah. Yang dipermasalahkan kontennya sebenarnya,” katanya saat sambutan dalam acara penandatanganan kerja sama antara Lembaga Ta’mir Masjid PBNU dan PT Bakrie Telecom, Tbk di gedung PBNU, Jakarta, Senin (15/7).

Asad Said Ali: NU Tak Kolot soal Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)
Asad Said Ali: NU Tak Kolot soal Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)

Asad Said Ali: NU Tak Kolot soal Teknologi

As’ad menjalaskan, pada tahun 1933 NU memang pernah mengharamkan radio, juga mengenakan dasi. Namun pelarangan itu terkait dengan konteks zaman situasi bersangkutan dan tidak dimaksudkan sebagai penolakan total terhadap modernitas.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“(Pengharamkan) itu untuk menunjukkan sikap non-koperatif NU terhadap penjajah Belanda,” ujarnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

As’ad menambahkan, pada 1961 Faisal bin Abdul Aziz, putra mahkota raja Arab Saudi, pernah membakar televisi karena dinilai bid’ah dan haram atas dukungan ulama-ulama salafi waktu itu. Menurut As’ad, keputusan tergolong ekstrem karena manusia tak dapat melepaskan dari perubahan.

“Nah, ulama-ulama NU tidak sekolot itu,” pungkasnya.

 

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Doa, Tokoh, Nahdlatul Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 08 September 2017

ISNU: Harga BBM/BBG Harus Sesuai Daya Beli Masyarakat

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Ketua Umum PP Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) meminta pemerintah menetapkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Bahan Bakar Gas (BBG) dengan mempertimbangkan daya beli masyarakat. ? Menurutnya, percuma membuat dua harga, yaitu harga subsidi dan harga komersial jika daya beli tidak meningkat.

Pernyataan ini disampaikan dalam Diskusi Panel Ahli PP ISNU bertema LPG Naik, Salah Siapa? Di gedung PBNU, Selasa (14/1) yang juga dihadiri oleh Ali Mundakir (VP Corporate Communication Pertamina), Said Didu (mantan Sekretaris Menteri BUMN), dan Darmawan Prajodjo (pengamat energi).

ISNU: Harga BBM/BBG Harus Sesuai Daya Beli Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
ISNU: Harga BBM/BBG Harus Sesuai Daya Beli Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

ISNU: Harga BBM/BBG Harus Sesuai Daya Beli Masyarakat

Sebelumnya, Pertamina menaikkan harga jual LPG non subsidi tabung 12 kg sebesar 68 persen atau 3.959 per kg, yang kemudian di protes masyarakat sehingga diturunkan lagi kenaikannya hanya 1.000 per kg.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ia menjelaskan, rakyat tetap akan kembali ke harga yang lebih murah sesuai dengan kemampuan daya beli. Dengan kata lain, potensi migrasi ke tabung elpiji 3 kg sangat besar jika harga jual non-subsidi sepenuhnya dilepaskan ke mekanisme pasar. Ujungnya subsidi meningkat.

Ia meminta agar UU Migas yang menjadi tonggak liberalisasi industri migas nasional dirombak. Dalam UU tersebut, fungsi Pertamina tidak lagi mengemban tanggung jawab pelayanan publik. Pertamina juga tidak boleh sepenuhnya komersial sesuai dengan UU tersebut karena BUMN ini istimewa dibandingkan dengan BUMN lain, yaitu menangani barang publik yang strategis karena migas bukan hanya penting bagi negara, tetapi juga menguasai hajat hidup orang banyak.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Terlalu berisiko melepaskan ke mekanisme pasar dengan ? kalkulasi bisnis komersial biasa bagi BUMN yang menangani komoditas yang strategis. Menggunakan kalkulasi bisnis biasa terbukti tidak efektif, karena toh Pertamina tetap harus menjual barang non subsidi (LPG 12 kg) di bawah harga keekonomian mengingat daya beli masyarakat.”

Kerancuan konsep saat ini, menurut Anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) ini membuat semua pihak melanggar UU. Pemerintah melanggar UU Migas karena menganut rezim liberalisasi harga BBM/BBG yang terlarang menurut keputusan MK. Pemerintah juga melanggar UU BUMN dan UU Perseroan Terbatas karena mematok rugi harga jual barang komersial Pertamina tanpa menetapkan selisihnya sebagai subsidi. Disisi lain, Pertamina juga melanggar UU BUMN dan UU Perseroan Terbatas karena menjual komoditas komerasial di bawah biaya produksi yang merugikan perusahaan bertahun-tahun, padahal sebagai perseroan, Pertamina harus untung. Dan jika rugi, kerugiannya tidak bisa langsung dipotong dengan pengurangan dividen ke pemerintah karena akan mengacaukan sistem akuntansi keuangan negara.

Menurut Ali Masykur, sialng sengkarut soal penetapan harga elpiji non-subsidi ini merefleksikan kekacauan tat kelola migas nasional yang harus dirombak total, dengan konsep yang lebih sejalan dan seiring dengan konstitusi. (mukafi niam)

Foto: Antara

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Nahdlatul, Hikmah, Santri Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 18 Agustus 2017

Agar Shahih dan Berkah, Penting Miliki Sanad Keilmuan yang Jelas

Pringsewu, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dalam mencari Ilmu, seseorang harus memperhatikan sumber ilmu yang didapatnya berupa silsilah keilmuan atau sanad. Hal ini sangat berperan penting dalam keshahihan dan keberkahan ilmu yang didapat.?

Hal ini disampaikan Mursyid Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah KH Ahmad Chalwani Nawawi saat menyampaikan Mauidzotul Hasanah pada Wisuda Tahfidz Al Quran 30 Juz dan khotmil kutub pondok pesantren Pesantren Salafiyah Tahfidzul Quran Miftahus Salam Jatirejo Pringsewu.

Agar Shahih dan Berkah, Penting Miliki Sanad Keilmuan yang Jelas (Sumber Gambar : Nu Online)
Agar Shahih dan Berkah, Penting Miliki Sanad Keilmuan yang Jelas (Sumber Gambar : Nu Online)

Agar Shahih dan Berkah, Penting Miliki Sanad Keilmuan yang Jelas

"Sebagai Santri, kita harus ngaji pada kiai yang jelas gurunya siapa? Ilmunya sumbernya dari mana, harus jelas," tegas Kyai Chalwani yang Juga Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah ini dihadapan jamaah yang memenuhi halaman Pesantren setempat, Selasa (13/4).

Ia mengingatkan kepada jamaah untuk mengaji kepada kiai yang mempunyai sanad keilmuan yang jelas, yang alim serta dapat dirunut silsilah sumber ilmunya sampai pada Rasulullah SAW. Hal ini ditujukan agar terhindar dari maraknya aliran menyimpang yang belajar ilmu agama secara instan dari internet dengan sanad yang tidak jelas.

"Mari kita didik putra-putri kita di Pesantren, kita titipkan pada kiai. Kita gerakkan generasi kita untuk mondok," tegasnya. Lebih lanjut Ia mengatakan bahwa pondok-pondok pesantren dibawah bimbingan para kiai dalam sejarahnya telah terbukti berkontribusi dalam mencetak ulama dan santri sekaligus menjadi benteng pertahanan keutuhan NKRI.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Kalau tidak ada kiai dan pondok pesantren, maka patriotisme bangsa Indonesia sudah hancur berantakan," tegas Kiai Chalwani mengutip pernyataan Douwes Dekker, agen Belanda yang berbalik berpihak pada Indonesia di zaman pergerakan kemerdekaan.

Disamping kegiatan khotmil kutub, pada acara tersebut juga dilaksanakan pelantikan pengurus Idaroh Ghusniyah Jamiyyah Ahlith Thoriqoh Al Mutabaroh An Nhdliyyah (JATMAN) Kecamatan Pagelaran dan Ambarawa. Pelantikan tersebut dilakukan oleh Mudir Idaroh Wustho JATMAN Provinsi Lampung Habib Yahya Assegaf.

Hadir pada acara tersebut Bupati Pringsewu H Sujadi yang juga Mustasyar PCNU Pringsewu, Ketua PCNU Pringsewu H Taufiqurrohim, para kiai dan Pengasuh Pondok Pesantren di Kabupaten Pringsewu serta Pengurus MWCNU Kecamatan Pagelaran. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Doa, Sejarah, Nahdlatul Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 17 Agustus 2017

Gus Dur dan Peneguhan Islam Nusantara

Rahmat El-Basqy

66 Tahun yang lalu, 4 Agustus adalah hari lahir KH Abdurrahman Wahid. Bagi kalangan anggota Nahdlatul Ulama khususnya dan aktifis kemanusiaan dunia, tanggal tersebut selalu diperingati sebagai hari besar bagi perjuangan nilai-nilai kemanusiaan dan pluralisme. Meski ada 2 tanggal lahirnya hari lahir, sebagian besar memilih tanggal 4 Agustus sebagai hari lahir. Menurut Greg Barton (2003), Sebenarnya tanggal 4 Sya’ban 1940 adalah tanggal 4 September. Meski demikian, sebagain besar orang tidak ingin berpolemik soal kapan Gus Dur dilahirkan. Mereka lebih senang mendapatkan cerita-cerita tentang Gus Dur dan cara mengisi kehidupannya.

Sebagai anak pesantren, lahir dan besar di pesantren sekaligus cucu pendiri NU, Gus Dur memiliki kelebihan yang berbeda dengan yang lain. Meski demikian, sebagaimana tradisi pesantren dan Nahdlatul Ulama, setiap ulama yang telah wafat, orang-orang biasa biasa merayakan hari wafatnya dengan haul dibandingkan merayakan hari lahirnya.

Gus Dur dan Peneguhan Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur dan Peneguhan Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur dan Peneguhan Islam Nusantara

Greg Barton (2003: 25) dalam buku Biografi Abdurrahman Wahid menggambarkan, “Namun dia tidak selalu membaca hal-hal yang bersifat agama atau melakukan kegiatan budayayang berkaitan dengan agama. Ketika berdiam di Yogyakarta lah ia mulai menyukai film secara serius. Hampir sebagian besar dari satu tahun dihabiskan dengan menonton film”.

Gambaran tersebut membuat kita yang paham menjadi sangat lumrah kala Gus Dur memiliki referensi-referensi yang kaya tentang semua jenis keilmuan. Pengetahuannya yang luas karena buku dan pengalamannya yang banyak tergambar dari wacana-wacana pemikirannya yang dinamis dan kontemporer. Dia mampu mengekspor banyak pemikiran tentang Islam dan kenegaraan pada kancah dunia tanpa sedikitpun meninggalkan akar budaya lokal; Hidup di Pesantren dan aktif di Nahdlatul Ulama yang disebut kaum tradisional, mencintai negaranya melebihi apapun yang dimilikinya.

Pada prinsipnya, Gus Dur pada masa hidupnya telah selesai semua urusan lahir maupun bathin. Meski lahir dari keluarga besar dan tokoh nasional, Gus Dur memilih berjuang demi nilai-nilai kemanusiaan dan pluralitas yang diyakininya. Nilai-nilai keagamaan, kenegaraaan, Humanisme dan lain sebagainya. Beberapa orang memprotes pemikirannya tapi sebagian besar mengiyakan semua yang dilakukan Gus Dur, bahkan tak sedikit yang merapat dan berbaris dibelakang Gus Dur tanpa memandang latar belakang agama, profesi atau kebudayaannya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Gus Dur dengan segala dialektikanya telah masuk ke dalam semua lini kehidupan masyarakat Indonesia. Apapun wacana pemikiran orang-orang baik dalam negeri bahkan luar negeri sudah menjadi pemikiran Gus Dur. Kumpulan tulisan beliau misal Tuhan Tidak Perlu di Bela, Islam Kosmopolitan,Pribumisasi Islam, Mengurai Hubungan Agama dan Negara (1999), Pergulatan Agama, Negara dan Kebudayaan (2001) dan lain-lainnya adalah gambaran bagaiman beliau memiliki wacana yang sangat dinamis dan luar biasa. Dari sekian banyak tulisan beliau, tak pernah lepas dari tentang nilai-nilai kemanusiaan, nasionalisme, kebudayaan, HAM dan isu-isu humanisme.

Hingga sekarang, Islam Nusantara menjadi gagasan menarik bahkan kontoversial bagi kritikus pemikiran keagamaan maupun pemerhati keagamaan di Indonesia. Istilah yang mulai ramai saat digelarnya Muktamar ke-33 NU di Jombang tahun 2015 lalu ini sesungguhnya tak bisa dipisahkan dari pemikiran-pemikiran Gus Dur. Jika kemudian beberapa orang mengganggap Islam Nusantara sebagai paham keagamaan baru sesungguhnya tidak benar dan justru menodai semangat lahirnya Islam Nusantara. Islam Nusantaralahir untuk melestarikan kebudayaan lokal yang dalam koridor nilai-nilai Islam.

Menteri Lukman Hakim Syaifudin dalam sambutan buku Zainul Milal (2016: 3) menjelaskan bahwa Islam Nusantara adalah Islam yang dinamis dan bersahabat dengan lingkungan kultur, sub-kultur, dan agama yang beragam. Islam bukan hanya cocok diterima orang nusantara, tetapi juga pantas mewarnai budaya Nusantara untuk mewujudkan sifat akomodatifnya yakni rahmatan lil ‘alamin.

Pendapat tersebut tak bisa dilepaskan dari nilai-nilai kebudayaan yang perjuangkan Gus Dur. Gus Dur sesungguhnya spirit Islam Nusantara karena beliau mampu menjelaskan secara detail dan logis mengapa Islam di Indonesia memiliki karakter yang berbeda-berbeda tapi bisa terjalin harmonisasi. Dari sekian banyak budaya yang terpengaruh ajaran-ajaran Islam, tak satupun yang bertentangan dengan Islam.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Syaiful Arif (2013: 96) menjelaskan pendapat Gus Dur terkait persebaran Islam di Nusantara. “Pertama Pola Aceh yang menghadirkan Islam secara kultural da dengan kultural Islam yang kuat, didirikanlah kerajaan berbasis syariat. Kedua pola Minangkabau, yang mana sebelum datangnya Islam sudah ada hukum adat, hingga akhirnya terjadi perang Padri. Ketika pola Goa (Baca Sulawesi Selatan), yang mana meskipun sebelum Islam telah ada hukum adat, Islam bisa seiring sejalan dengan adat. Dan pola keempat, pola jawa. Di masyarakat Jawa telah ada aliran Kejawen sebelum kehadiran Islam. Maka kerajaan Mataram Islam mengakomodasi Kejawen dengan memberikan ruan bebas secara kultural.”

Pendapat tersebut sebagai contoh dari sekian banyak pemikiran-pemikiran Gus Dur yang menjadi referensi utama Islam Nusantara dalam isu-isu lokalitas dan kemanusiaan. Pemikiran-pemikiran Gus Dur tersebut akan selalu dilestarikan penggerak Islam Nusantara tanpa melepaskan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan atau memisahkan keduanya. Artinya, Islam Nusantara adalah cara berpikir tanpa harus membedakan antara Islam dan kebangsaan Indonesia apalagi mempertentangkan keduanya.***

Penulis adalah Dosen Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Lampung, Ketua PC IPNU Lampung Tengah 2009-2011.

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ubudiyah, Kajian, Nahdlatul Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 13 Agustus 2017

Peringati Hari Pahlawan, PMII STIA Bayuangga Istighotsah dan Tabur Bunga

Probolinggo, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan, PMII Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Bayuangga Probolinggo mengadakan istighotsah dan tabur bunga di Taman Makam Pahlawan Kota Probolinggo, Kamis (10/11) malam.

Kegiatan yang digelar usai sholat Maghrib ini diikuti puluhan pengurus PMII STIA Bayuangga. Dengan khusyu, mereka melakukan istighotsah dan diakhiri dengan doa bersama yang ditujukan kepada arwah para pahlawan. Selanjutnya mereka melakukan tabur bunga secara serentak di area Taman Makam Pahlawan.

Peringati Hari Pahlawan, PMII STIA Bayuangga Istighotsah dan Tabur Bunga (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Hari Pahlawan, PMII STIA Bayuangga Istighotsah dan Tabur Bunga (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Hari Pahlawan, PMII STIA Bayuangga Istighotsah dan Tabur Bunga

Ketua PMII STIA Bayuangga Aulia Wahyu Alfiatama mengungkapkan kegiatan ini bertujuan untuk mengenang dan menghargai jasa para pahlawan yang telah berjuang merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Terlebih pada momentum 10 Nopember di Surabaya yang tidak bisa terlepas dari kiprah dari santri kalangan Nahdliyin.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Setidaknya dengan kegiatan ini kami bisa meneladani keikhlasan para pahlawan dalam berjuang merebut kemerdekaan. Caranya adalah dengan mengisi pembangunan demi mewujudkan cita-cita para pahlawan yang telah gugur di medan perang,” katanya.

PMII jelas Fian sangat mengapresiasi dan mendukung penuh keputusan pemerintah yang telah menjadikan KHR As’ad Syamsul Arifin sebagai pahlawan nasional tahun 2016. “Tapi disini yang penting bukan dari penganugerahan gelar pahlawan nasionalnya, tetapi bagaimana kita bisa meneladani perjuangannya dalam membela bangsa dan agama,” jelasnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Melalui kegiatan ini Fian mengharapkan agar jasa-jasa para pahlawan yang lebih khusus pahlawan di Surabaya yang mana para pemuda NU berperan penting dalam momentum 10 Nopember dan menyobek bendera Belanda.

“Dari sejarah tersebut agar tidak dilupakan oleh masyarakat Indonesia, khususnya kader PMII. Keberanian dan keikhlasan yang ditunjukan para pahlawan semoga bisa menjadi inspirasi pemuda untuk terus berkarya dan berinovasi mengisi pembangunan,” harapnya. (Syamsul Akbar/Fathoni)Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Nahdlatul Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock