Tampilkan postingan dengan label Sunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sunnah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Februari 2018

Ansor dan Banser Siap Hadapi Pengganggu Kedaulatan Negara

Demak, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Gerakan Pemuda Ansor yang merupakan bagian dari Nahdlatul Ulama adalah salah satu organisasi yang mempunyai komitmen kuat terhadap bangsa ini. Maka sudah sewajarnya jikalau Ansor berkewajiban untuk membela dan mempertahankan bangsa Indonesia dari rongrongan maupun ancaman siapa pun.

Ansor dan Banser Siap Hadapi Pengganggu Kedaulatan Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor dan Banser Siap Hadapi Pengganggu Kedaulatan Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor dan Banser Siap Hadapi Pengganggu Kedaulatan Negara

“Maka kontribusi Ansor sangat dibutuhkan, karena ? bagi Ansor NKRI harga mati, siapapun pengganggu negara kita Indonesia hadapi dulu Ansor dan Banser,” tegas Ketua PC GP Ansor Demak H Abdurrahman Kasidi pada seminar kebangsaan yang digelar Kesbangpolinmas dengan Ansor Demak, Jumat (24/2) di Yayasan Hidayatul Mubtadiin Bulusari Sayung Demak Jateng.

Dia menambahkan, dengan adanya kegiatan seminar kebangsaan tersebut baik pemerintah maupun Ansor menurut Abdurrahman Kasidi tersebut semua pihak merasa diuntungkan.

“Ansor menyambut baik kerja sama dengan Kesbangpolinmas untuk mengadakan kegiatan bela negara ini,” katanya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sementara itu Kepala kesbangpolinmas H Taufiq Rifa’i yang juga sebagai narasumber mengajak Kader Ansor untuk berperan aktif dan kerja sama berkesinambungan dalam mengantisipasi kelompok-kelompok yang selama ini mengganggu kedaulatan negara.?

Termasuk di dalamnya kelompok Islam garis keras yang selalu menggembar gemborkan khilafah atau negara Islam karena itu dianggapnya bisa mengganggu kedaulatan Bangsa dan negara.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Sahabat-sahabat Ansor dan Banser selama ini kiprahnya sudah jelas maka teruskan, mari kita jaga bangsa ini, bela negara merupakan amanat konstitusi,” ajaknya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua DPRD Demak yang merupakan Ketua Pembina Yayasan Hidayatul Mubtadiin H Nurul Muttaqin merasa Bangga dengan antusiasme Kader Ansor dan Banser ? dalam mengikuti seminar kebangsaan tersebut.

“Melihat kesungguhan sahabat-sahabat, saya merasa senang, melihat Ansor dan Banser masih punya tanggung jawab yang tinggi terhadap bangsa dan negaranya,” katanya.

Seminar kebangsaan ini diikuti lebih dari 200 peserta dari Cabang dan Anak Cabang se-Kabupaten Demak. (A. Shiddiq Sugiarto/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Sunnah, Kajian Islam Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 12 Februari 2018

Jejak Islam di Kamboja (3): Perjuangan Pesantren Qur’an di Phnom Penh

Phnom Penh,Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Hampir dua tahun ini, Ustadz Amir mendirikan pesantren Al-Qur’an yang bernama Jami’ul Muslimin. Imam Masjid Al-Jamee’ Al-Islami itu dibantu oleh Nashirin Syamsuddin, yakni pemuda yang pernah mondok selama 5 tahun di pesantren Sabilul Mukhlasin Magelang, pada 2009 hingga 2014 lalu.

Jejak Islam di Kamboja (3): Perjuangan Pesantren Qur’an di Phnom Penh (Sumber Gambar : Nu Online)
Jejak Islam di Kamboja (3): Perjuangan Pesantren Qur’an di Phnom Penh (Sumber Gambar : Nu Online)

Jejak Islam di Kamboja (3): Perjuangan Pesantren Qur’an di Phnom Penh

Berbeda dengan di Indonesia, istilah pondok pesantren di Kamboja lebih dikenal dengan sebutan “madrasah”. Adapun istilah santri dalam bahasa Khmer (bahasa lokal Kamboja) dinamakan konsah, sedangkan untuk istilah kiai atau ustadz disebut sebagai "tun" atau "kru", namun istilah kru maknanya lebih luas, seperti guru-guru di sekolah umum.

Pesantren Jamiul Muslimin didirikan sebagai tempat untuk fokus menghafalkan Al-Quran. Tujuan pendirian pesantren ini untuk ‘menghidupkan’ lingkungan tengah kota Phnom Penh yang masyarakatnya mayoritas beragama Buddha. Santri-santri di pesantren ini hanya berjumlah 20 orang dimana rata-rata berusia di bawah 17 tahun.Mereka semua berasal dari berbagai daerah di Kamboja.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Nashirin mengatakan, dengan bahasa Melayu yang lumayan fasih, rencananya kelak setelah khatam hafal Al-Qur’an,santri-santri remaja didikannya itu akan dikirim ke berbagai daerah Kamboja untuk menjadi ustadz. Sebenarnya banyak muslim Kamboja yang mencari lembaga pendidikan Islam semacam pesantren. Hanya saja akses serta jumlah pesantren di sana memang masih sedikit.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selain itu, Nashirin yang juga sebagai pembina pesantren Jamiul Muslimin itu mengaku berani menerima 100 santri, namun masalahnya tempatsekarang digunakan tidak mendukung.Di samping itu  tempat tinggal santri juga saat ini masih dalam kompleks masjid. Untuk kegiatan santri selain menghafal Al-Quran, mereka juga mendapatkan jadwal untuk menjadi imam shalat Hajat, bersih lingkungan masjid, dan sebagainya. Beberapa santri ada mempunyai kebiasaan berpuasa sunnah Senin dan Kamis.

Perkembangan Hubungan Keagamaan

Dalam topik lain,Ustadz Amir menambahkan bahwa sekitar sepuluh tahun ini sudah masuk paham Wahabi di kalangan muslim Kamboja, namunjumlah mereka tidak banyak serta tidak berani melakukan hal-hal yang tidak diinginkan oleh mayoritas muslim Kamboja yang mayoritas bermazhab Syafiiyah. Situasinya mungkin tak separah paham Wahabi di Indonesia yang sering kali meresahkan masyarakat muslim yang gemar menjalankan tradisi serta ajaran ulama Aswaja dan Wali Songo.

Saya sendiri sebenarnya penasaran tentang keberadaan makam ulama atau wali yang ada di kawasan ibu kota Phnom Penh Kamboja, namun Ustadz Amir tidak mengetahui secara pasti hal yang saya tanyakan itu.

Ia hanya menceritakan bahwa dahulu pernah hidup seorang alim yang bernama Haji Muhammad Kacik Shagid. Tokoh ini dikenal sebagai ulama yang bisa mengetahui artikicauan-kicauan burung.

Dikisahkan dahulu burung-burung biasanya memberikan informasi tertentu yang hendak disampaikan ke penduduk, dan hanya Haji Muhammad Kacik Shagid yang bisa memahami  kicauan burung. Sayangnya,ulama ini tersebut termasuk di antaranya ulama yang dibunuh oleh rezim Pol Pot. Sayangnya lagi, sosok yang punya karomah tersebut makamnya tidak ditemukan sampai sekarang.

Lebih jauh, dalam pandangan ustadz Amir hubungan muslim dengan umat Buddha di Kamboja sampai hari ini tetap terjalin dengan baik. Semenjak berakhir perang saudara yang dahulu pernah terjadi di Kamboja sebab kudeta yang terjadi beberap kali, hingga saat ini tidak ada pergesekan atau konflik antara kedua agama tersebut.

Apalagi Perdana Menteri Kamboja Han Sen juga membebaskan Muslim Kamboja untuk mendirikan masjid dan melaksanakan kegiatan keislaman, termasuk juga sekarang membolehkan anak perempuan memakai jilbab ke sekolah.

Dalam kesempatan selanjutnya, saya hendak mengunjungi kawasan KM. 7, Chrang Chromres, Phnom Penh, dimana kawasan mayoritas tersebut dihuni oleh muslim. Sebagaimana informasi dari dari Ustadz Amir, banyak jejak Islam dan aktivitas muslim Kamboja yang bisa digali lebih banyak di kawasan tersebut. (M. Zidni Nafi’, santri asal Qudsiyyah Kudus, peserta Program Pemuda Magang Luar Negeri 2017 dari Kemenpora RI)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Sunnah, Nusantara, Nasional Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 29 Januari 2018

NU Jakbar Agendakan Ngaji Rutin Kitab Hadratussyaikh

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Administrasi Jakarta Barat berkomitmen akan membedah kitab karya Hadratussyaikh Muhammad Hasyim Asy’ari. Karya pendiri NU ini di antaranya terhimpun dalam “Irsyâdus Sârî” yang berisi belasan kitab.

NU Jakbar Agendakan Ngaji Rutin Kitab Hadratussyaikh (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Jakbar Agendakan Ngaji Rutin Kitab Hadratussyaikh (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Jakbar Agendakan Ngaji Rutin Kitab Hadratussyaikh

Rais Syuriah PCNU KH Abdurrahman Shoheh menyatakan komitmen tersebut seusai dilantik Katib Aam PBNU KH Malik Madani pada akhir pecan lalu (16/5) di Pondok Pesantren Al Itqon, Jakarta. Ia mengagendakan, program bedah kitab kuning itu bakal digelar setiap malam Kamis untuk seluruh pengurus NU, badan otonom, serta masyarakat secara luas.

Dalam kepengurusan periode 2014-2019 ini, PCNU Jakbar juga bertekad melestarikan ajaran Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja), di samping terus bekerja untuk kemaslahatan orang banyak.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Prosesi pengukuhan dirangkai dengan peringatan Isra’ dan Mi’raj sekaligus Milad ke-23 Pesantren Al Itqon. Hadirin yang berseragam batik NU, baliho dan bendera NU, membuat acara terasa kian meriah.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dalam kesempatan tersebut, Katib Aam PBNU KH Malik Madani menyatakan bahwa NU tidak mengajarkan kekerasan, apalagi terorisme. Artinya selalu mengedepankan Islam rahmatan lil ‘alamin yang membawa kasih saying dan kesejahteraan bagi seluruh alam semesta. Ia juga mengingatkan kepada pengurus NU agar tidak terseret arus politik praktis. (Hazami/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Sunnah, Kyai, Meme Islam Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 26 Januari 2018

Tulisan Gus Dur: Bersumber Dari Pendangkalan

p.p1 {margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Helvetica} p.p2 {margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Helvetica; min-height: 14.0px}

Oleh KH Abdurrahman Wahid



Tulisan Gus Dur: Bersumber Dari Pendangkalan (Sumber Gambar : Nu Online)
Tulisan Gus Dur: Bersumber Dari Pendangkalan (Sumber Gambar : Nu Online)

Tulisan Gus Dur: Bersumber Dari Pendangkalan

Pada Sebuah diskusi beberapa tahun yang lalu di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta, penulis dikritik oleh Dr.Yusril Ihza Mahendra, sekarang Menteri Kehakiman dan HAM. Kata bang Yusril, ia kecewa dengan penulis karena bergaul terlalu erat dengan umat ? Yahudi dan Nasrani. Bukankah kitab suci Al-Quran menyatakan salah satu tanda-tanda seorang muslim yang baik adalah “bersikap keras terhadap orang kafir dan bersikap lembut terhadap sesama muslim (Asyidda a’la al-kuffar ruhama baynahum). Menanggapi hal itu, penulis menjawab, sebaiknya bang Yusril mempelajari kembali ajaran Islam, dengan mondok di pesantren. Karena ia tidak tahu, bahwa yang dimaksud Al Quran dalam kata “kafir” atau “kuffar” adalah orang-orang musyrik (polytheis) yang ada di Mekkah, waktu itu. Kalau hal ini saja, bang Yusril tidak tahu, bagaimana ia berani menjadi mubaligh?



Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Berdasar kenyataan itu, penulis tidak begitu heran dengan terjadinya kekerasan di Maluku, Poso, Aceh dan Sampit. Penulis mengutuk peledakan bom di Legian, Bali, karena itu berarti pembunuhan atas begitu banyak orang yang tidak bersalah. Tetapi kutukan itu, tidak berarti penulis heran atas terjadinya peledakan bom itu. Karena dalam pandangan penulis, hal itu terjadi akibat para pelakunya tidak mengerti, bahwa Islam tidak membenarkan tindak kekerasan dan diskrimanatif. Satu-satunya pembenaran bagi tindakan kekerasan secara individual adalah, jika kaum muslimin di usir dari rumahnya (Idza ukhrizu min diyarihim). Karena itulah, ketika harus meninggalkan Istana Merdeka, penulis meminta Luhut Panjaitan mencari surat perintah dari Lurah sekalipun.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan



Sebabnya, karena ada perintah lain dalam Sunny tradisional yang diyakini penulis, untuk taat pada pemerintah. Berdasar ayat kitab suci itu, “taatlah kalian pada Allah, pada utusan-Nya dan pada pemegang kekuasaan pemerintahan” (Athi u’ allaha wa al-rasullah wa uli al-amri minkum). Pak Luhut Panjaitan mencarikan surat perintah itu dari seorang Lurah, dan penulis sebagai warga negara dan rakyat biasa –karena lengser dari jabatan kepresidenan- mengikuti perintah tersebut. Soal bersedianya penulis lengser dari jabatan kepresidenan, karena penulis mengaggap tidak layak jabatan setinggi apapun di negeri ini, di pertahankan dengan pertumpahan darah. Padahal waktu itu, ? sudah ada pernyataan yang ditandatangani 300.000 orang akan mendukung penulis mempertahankan jabatan kepresidenan, kalau perlu mengorbankan nyawa.?



***

Tindak kekerasan -walaupun atas nama agama- dinyatakan oleh siapapun dan dimanapun sebagai terorisme. Beberapa tahun sebelum menjabat sebagai Presiden, penulis merencanakan berkunjung ke Israel untuk menghadiri pertemuan para pendiri Pusat Perdamaian Shimon Peres di Tel Aviv. Sebelum keberangakatan ke Tel Aviv, penulis menerima rancangan pernyataan bersama, yang oleh Rabi Kepala Sevaflim Eli Bakshiloron. Dalam rancangan pernyataan itu, terdapat pernyataan penuli dan Rabai yang menyatakan “berdasarkan keyakinan agama Islam dan Yahudi, menolak penggunaan kekerasan yang berakibat pada matinya orang-orang yang tidak berdosa”. Pengurus Besar NU mengutus Wakil Rais Aam, KH Sahal Mahfudz untuk memeriksa rancangan pernyataan itu. KH Sahal Mahfudz meminta kata-kata “tidak berdosa” diubah menjadi “tidak bersalah”.



Mengapa demikian? Karena, yang menentukan seseorang itu berdosa atau tidak adalah Allah SWT. Sedangkan salah atau tidaknya seseorang oleh hakim atau pengadilan, berarti oleh sesama manusia. Penulis menerima keputusan itu dan perubahan rancangan pernyataan tersebut, juga diterima oleh Rabi Eli Bakshiloron. Ketika tiba di Tel Aviv, penulis bersama Rabi Eli langsung menuju kantornya di Yerusalem. Di tempat itu, penulis dan Rabi Eli menandatangani pernyataan bersama itu di depan publik dan media massa. Ini menunjukkan bahwa, Nahdlatul Ulama sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia ? –bahkan menurut statistik sebagai organisasi Islam terbesar di dunia- menolak terorisme dan pengunaan kekerasan atas nama agama sekalipun. Karena itu, kita mengutuk peledakan bom di Bali dan menganggapnya sebagai “tindak kejahatan/ kriminal” yang harus dihukum.



Keseluruhan penolakan penulis itu, bersumber pada pendapat agama yang tercantum dalam literatur keagamaan (Al qutub al-muqarrahrah), jadi bukannya isapan jempol penulis sendiri. Mengapa demikian? Karena Islam adalah agama hukum, karenanya setipa sengketa seharusnya diselesaikan berdasarkan hukum. Dan karena hukum agama dirumuskan sesuai dengan tujuannya (Al amru bima qa shidiha), maka kita patut menyimak pendapat mantan ketua Mahkamah Agung Mesir, Al Asmawi. Menurutnya, “hukum barat” dapat dijadikan “hukum Islam”, jika memiliki tujuan yang sama. Hukum pidana Islam (zarimah), menurut Al Asmawi, sama dengan hukum pidana barat, karena sama berfungsi dan bertujuan menahan (defences) dan menghukum (punishment).



***

Namun, mengapa terorisme ? dan tindak kekerasan yang lain masih juga dijalankan oleh sebagian ? kaum muslimin? Kalau memang benar kaum muslimin melakukan tindakan-tindakan tersebut , jelas bahwa mereka telah melanggar ajaran-ajaran agama. Pertanyaan di atas dapat dijawab dengan sekian banyak jawaban, antara lain rendahnya mutu sumber daya manusia pada para pelaku tindak kekerasan dan terorisme itu sendiri. Mutu yang rendah di kalangan kaum muslimin, dapat dikembalikan kepada aktifitas imperalisme dan kolonialisme yang begitu lama menguasai kaum muslimin. Ditambah lagi dengan, orientasi pemimpin kaum muslimin yang sekarang menjadi elite politik nasional. Mereka selalu mementingkan kelompoknya sendiri dan membangun masyarakat Islam yang elitis.



Apa pun bentuk dan sebab tindak kekerasan dan terorisme, seluruhnya bertentangan dengan ajaran Islam. ? Hal ini adalah kenyataan yang tidak dapat dibantah, termasuk oleh para pelaku kekerasan dan terorisme yang mengatasnamakan Islam. ? Penyebab lain dijalankannya tindakan-tindakan yang telah dilarang Islam itu -sesuai dengan ajaran kitab suci Al Quran dan ajaran nabi Muhammad SAW- adalah proses pendangkalan agama Islam yang berlangsung sangat hebat. Walau kita lihat, adanya praktek imperialisme dan kolonialisme atau kapitalisme klasik di jaman ini terhadap kaum muslim, tidak berarti proses sejarah itu memperkenankan kaum muslim untuk bertindak kekerasan dan terorisme.?



Harus kita pahami, bahwa dalam sejarah Islam yang panjang, kaum muslim tidak menggunakan kekerasan dan terorisme untuk memaksakan kehendak. Lalu, bagaimanakah cara kaum muslimin dapat mengadakan koreksi terhadap langkah-langkah yang salah, atau mencari “responsi yang benar” atas tantangan berat yang dihadapi? Jawabannya, yaitu dengan mengadakan penafsiran baru (re-interpretasi). Melalui mekanisme inilah, kaum muslimin melakukan koreksi atas kesalahan-kesalahan yang diperbuat sebelumnya, maupun memberikan responsi yang memadai atas tantangan yang dihadapi. Jelas, dengan demikian Islam adalah “agama kedamaian” bukannya “agama kekerasan”. ? Proses sejarah Islam di kawasan ini, adalah bukti nyata akan hal itu, walaupun di kawasan-kawasan lain, masih juga terjadi tindak kekerasan -atas nama Islam- yang tidak diharapkan. Mudah dalam prinsip, namun sulit dalam pelaksanaan bukan?



Tulisan ini pernah dimuat di Koran Duta Masyarakat, 31 Desember 2002.

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ubudiyah, Sunnah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 25 Januari 2018

Ngaji Falak, Pesantren Al-Falah Hadirkan Tim Ahli dari UIN Walisongo

Salatiga, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Dalam rangka kegiatan Ramadhan Santri, PPTI Al-Falah Kabupaten Salatiga mengadakan Pelatihan Ilmu Falak dengan narasumber dari CSSMoRA UIN Walisongo Semarang. Kegiatan yang berlangsung akhir pecan, Sabtu-Ahad (18-19/6) diikuti sebanyak 70 peserta yang terdiri atas santri Al-Falah dan santri umum.

Pengasuh Pesantren Al-Falah Ibu Nyai Hj Latifah Zoemri menyambut baik kegiatan ini. Ia berharap setiap tahunnya diadakan even seperti ini agar santri termotivasi untuk lebih semangat dalam menimba ilmu, tidak hanya ilmu agama tetapi juga ilmu umum lain yang porsinya sama penting.

Ngaji Falak, Pesantren Al-Falah Hadirkan Tim Ahli dari UIN Walisongo (Sumber Gambar : Nu Online)
Ngaji Falak, Pesantren Al-Falah Hadirkan Tim Ahli dari UIN Walisongo (Sumber Gambar : Nu Online)

Ngaji Falak, Pesantren Al-Falah Hadirkan Tim Ahli dari UIN Walisongo

Dalam rangkaian kegiatan, sebanyak delapan sesi materi disampaikan secara gabungan. Peserta mengkaji materi pengenalan kalkulator, menghitung sudut, penentuan arah kiblat dan dengan observasi bulan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pada setiap materinya, peserta tidak hanya diberi teori yang harus mereka catat. Tetapi peserta juga diharuskan praktik secara langsung dengan peralatan yang sudah disiapkan oleh tim narasumber. Mereka juga belajar menggunakan teodolit, alat ukur sudut tengah dan mendatar untuk menentukan jarak dan tinggi sesuatu.

Tim narasumber Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs (CSSMoRA) dengan sangat telaten menjelaskan materi yang belum dipahami peserta. Dari setiap pertanyaan yang diajukan peserta, mereka jawab dengan penuh kesabaran meskipun tengah berpuasa.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Tim yang beranggotakan sebanyak 12 orang ini termasuk Siti Nur Halimah yang merupakan puteri bungsu KH Zoemri RWS, pendiri PPTI Al-Falah. Mereka adalah mahasiswa program studi Ilmu Falak UIN Walisongo Semarang.

Peserta tampak antusias mengikuti jalannya kegiatan, apalagi pada kegiatan terakhir yaitu observasi bulan. Dengan teleskop, peserta bisa melihat keindahan bulan dan planet saturnus. Dari pesan dan kesan yang disampaikan Latifah sebagai perwakilan peserta, dia menyampaikan rasa syukur karena mengikuti kegiatan pelatihan. Pasalnya dalam pelatihan ini ada banyak sekali ilmu, pengalaman dan pengetahuan yang didapat.

“Yang biasanya hanya manut ke mana arah kiblat, dengan mengikuti pelatihan ini jadi bisa menentukan sendiri arah kiblat di manapun dengan ukuran yang jelas,” tambahnya.

Peserta berharap agar pelatihan ini dilanjutkan lagi pada waktu yang akan datang dengan materi yang lebih dalam dan lebih menyenangkan. (Evie Yunianti/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pendidikan, Kajian Islam, Sunnah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 23 Januari 2018

Tidak ada Tanda Kepangkatan dalam Ibadah Haji

Madinah, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Para jamaah haji diharapkan dapat memantapkan niat untuk beribadah selama berada di Tanah Suci Makkah dan Madinah. Niat ibadah yang telah sejak lama ditanamkan dalam jiwa hendaknya tidak dikotori oleh emosi diri dan keangkuhan.

Demikian selalu diingatkan oleh Maraposan Rambe (MBR), Ketua Kloter Mess 04 Medan, asal kabupaten Labuan Batu Sumatera Utara, kepada para jamaah haji yang dipimpinnya. Menurut MBR Tanda kepangkatan dan jabatan juga tidak perlu ditonjolkan selama menjalankan ibadah haji.

Tidak ada Tanda Kepangkatan dalam Ibadah Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Tidak ada Tanda Kepangkatan dalam Ibadah Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Tidak ada Tanda Kepangkatan dalam Ibadah Haji

"Saya selalu mengingatkan kepada para jamaah, agar tidak bertindak mentang-mentang. Orang-orang yang sedang menunaikan ibadah haji tidak mengenal tanda kepangkatan dan kekayaan, semuanya sama di hadapan Allah," tutur MBR kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan di Kantor Misi Haji Indonesia Daerah Kerja Madinah, Sabtu (23/10).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Menurut MBR, jamaah haji mestinya tidak saling menyombongkan diri dan hanya bisa komplain saja. Karena hal itu akan mengurangi keutamaan ibadah seseorang.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Jadi jangan mentang-mentang dia orang kaya raya di Tanah Air atau orang berpangkat, lalu bisa seenaknya komplain atas kekurangan dan berbagai kendala yang muncul selama perjalanan ibadah. Karena semua jamaah haji akan diperlakukan sama oleh para petugas," tandas pria yang memiliki suara lantang ini. (min/Laporan langsung Syaifullah Amin dari Arab Saudi)Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Sunnah, Hadits Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 20 Januari 2018

Tingkatkan Kualitas Akademik, SMK Walisongo Lakukan Studi Banding

Jepara, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Untuk meningkatkan kualitas akademik, khususnya jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), SMK Walisongo Pecangaan Jepara mengadakan kunjungan studi ke SMK NU Maarif Kudus, Selasa (25/8) kemarin.

Rombongan dari Jepara terdiri atas Kepala Sekolah Ardana Himawan, Ketua Jurusan TKJ Ahmad Sholikul, Humas Agus Dwi Harso serta Waka Kurikulum Irbab Aulia Amri. Sedangkan pihak SMK NU Maarif Kudus yang menerima rombongan adalah Kepala Sekolah H Ahmad Nadlif dan Ketua Jurusan TKJ Eko.

Tingkatkan Kualitas Akademik, SMK Walisongo Lakukan Studi Banding (Sumber Gambar : Nu Online)
Tingkatkan Kualitas Akademik, SMK Walisongo Lakukan Studi Banding (Sumber Gambar : Nu Online)

Tingkatkan Kualitas Akademik, SMK Walisongo Lakukan Studi Banding

Dipilihnya SMK NU Maarif Kudus sebagai lokasi studi banding, kata Ardana, karena di sana khususnya jurusan TKJ sudah melaksanakan pembelajaran IT. Di awal tahun, siswa sudah diajari pengelolaan blog. Setelah itu, dalam pemberian materi maupun tugas via blog masing-masing.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Di sana lanjutnya juga sudah memberlakukan Cisco Networking Akademy Program serta Microtic.

Untuk di lokasi, melihat laborat, server dan kelas Axio serta sharing tentang jurusan TKJ.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Melalui kegiatan ini pihaknya berharap masyarakat semakin familiar dengan jurusan TKJ. Sebab menurut dia, peminatnya masih kalah dibanding jurusan TKJ/Otomotif.

Karenanya, pihaknya terus mengembangkan kerja sama demi pengembangan jaringan serta sertifikasi lulusan. Di SMK Walisongo, kuantitas jurusan TKJ masih di bawah jurusan TKR. Masih di angka 130-an per tahun. Untuk itu pihaknya terus mengembangkan kualitas. Khususnya menyiapkan TKJ bersertifikat internasional.

“Harapan kami TKJ ke depan sudah bersertifikat Internasional. Kalau selama ini baru bersertifkat dari Asosiasi Profesi Telematika Indonesia (APTI),” harapnya.

Untuk langkahnya tenaga pendidik dilatih Cisco dan Microtic. Setelah itu diterapkan kepada anak-anak. Sehingga kualitas peserta didik dan guru khususnya jurusan semakin berkualitas. (Syaiful Mustaqim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Sunnah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 19 Januari 2018

IPNU-IPPNU Tasik Perkuat Kaderisasi di Wilayah Tasela

Tasikmalaya, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pengurus Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Tasikmalaya memperkuat kaderisasi dengan kegiatan Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) di bagian wilayah Tasikmalaya Selatan (Tasela) yang kali ini di Kecamatan Bojongasih bertempat di Pondok pesantren Miftahul Huda Bojongkoneng, Kecamatan Bojongasih, Tasikmalaya, Sabtu-Ahad, (10-11/1) lalu.

IPNU-IPPNU Tasik Perkuat Kaderisasi di Wilayah Tasela (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Tasik Perkuat Kaderisasi di Wilayah Tasela (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Tasik Perkuat Kaderisasi di Wilayah Tasela

Kegiatan ini diikuti oleh sekolah dan pesantren di wilayah Bojongasih. Kemudian berlanjut dengan pelatihan dasar jurnalistik dan Konferensi Anak Cabang Kecamatan Bojongasih,yang menghasilkan kepengurusan baru PAC IPNU dan IPPNU Kecamatan Bojongasih dengan Mufti, Ketua IPNU dan Ai Masruroh Ketua IPPNU terpilih.

Menurut Husni Mubarok, ketua panitia yang juga Koordinator zona 6 (wilayah Tasik Selatan) bidang kaderisasi PC IPNU Tasikmalaya menegaskan, acara ini selain untuk kaderisasi di wilayah Tasela (Tasik Selatan) dan melakukan pemilihan kepengurusan baru, juga bertujuan untuk meningkatkan kreativitas para kader IPNU-IPPNU di bidang jurnalistik.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Karena peran media saat ini sangat penting dalam mewarnai masyarakat dan pelajar untuk memberikan informasi yang baik dan benar,” ujarnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sementara itu, Kiai Enjang, Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Bojongasih berharap kepada Kepengurusan baru PAC IPNU IPPNU Kecamatan Bojongasih untuk lebih maksimal dalam bekerja dan bisa bersinergi dengan MWCNU.

“Hal ini dalam rangka membangun dan memajukan Kecamatan Bojongasih, dan bisa memberikan warna positif bagi para pelajar,” ucapnya. (Husni/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Sunnah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 15 Januari 2018

Pakar Pangan Filipina Kunjungi Usaha Tiwul LPPNU Waykanan

Way Kanan, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Prof Alexis C Del Rosario dari Filipina didampingi Dirjen Ketahanan Pangan Sri Suhartini dan pemerhati UKM Dr Amarhansah meninjau kegiatan usaha pengelolaan hasil singkong menjadi tiwul di Waykanan. Kunjungan ini digelar dalam rangka melihat produk hasil dari singkong selain dari tepung.

Pengelolaan singkong menjadi beras tiwul merupakan usaha yang dikelola oleh Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdatul Ulama Kabupaten Waykanan.

Pakar Pangan Filipina Kunjungi Usaha Tiwul LPPNU Waykanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pakar Pangan Filipina Kunjungi Usaha Tiwul LPPNU Waykanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pakar Pangan Filipina Kunjungi Usaha Tiwul LPPNU Waykanan

Dalam kunjungan ini Ketua LPPNU Yoni Aliestiadi memberikan keterangan kepada tamunya tentang mekanisme pembuatan olahan dari singkong berupa tiwul yang merupakan makanan yang rendah karbohidrat.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selain itu juga ia mempraktikkan bagaimana cara pembuatan tiwul di depan rombongan dari Filipina dan Departemen Pertanian Dirjen Ketahanan pangan.

Prof Alexis mengatakan bahwa ia merasa senang dapat melihat secara langsung pembuatan makanan alternatif dari singkong yaitu tiwul.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ditambahkannya bahwa kunjungannya ke Waykanan memang mencari olahan apa saja yang dapat dihasilkan dari tanaman singkong. "Di Filipina singkong hanya dijadikan bahan untuk makanan ternak," ujar Prof. Alexis C. Del Rosario.

"Kami akan mengembangkan olahan yang dihasilkan dari singkong selain makanan ternak," tambahnya.

Sri Suhartini menambahkan bahwa tahun ini pemerintah pusat melalui Departemen Pertanian memberikan bantuan untuk tanaman singkong kepada kelompok petani singkong.

ia mengharapkan Pemda Waykanan dapat berkoordinasi dengan lembaga yang peduli dan memperhatikan para petani singkong untuk bersama-sama memberikan masukan dan pengawasan untuk batuan ini agar sesuai sasaran.

Pengelola pabrik tiwul, Yoni Aliestiadi merasa bangga dengan kunjungan dari Kementrian Pertanian dan perwakilan dari comprehensive assessment of the permormance of the cassava supply chain and value chain and identification of interventions for competitiveness dari Filipina.

Yoni meminta Pemkab Waykanan agar lebih peduli kepada pengusaha UKM yang ada di Waykanan, untuk mengembangkan usaha kecil menengah sehingga mampu bersaing dengan produk dari daerah lain. (Heri Amanudin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Sholawat, Sunnah, Nahdlatul Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 08 Januari 2018

Ustadz Cepot Sampaikan Taushiyah Kemerdekaan RI

Bandung, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Himpunan Mahasiswa Aswaja (Hima) Bandung pada tasyakuran Hari Kemerdekaan Ke-69 RI membuka pengajian akbar bertajuk “Nusantara Bersatu” di masjid Ikomah UIN Sunan Gunung Djati, Bandung. Mereka dalam kesempatan ini berdoa untuk warga di Gaza Palestina yang dipandu oleh penyampai taushiyah Ustadz Ahmad Ihsan yang dikenal sebagai ustadz Cepot.

Menurut ustadz Cepot, kemerdekaan sebuah bangsa diraih tidak dengan mudah. Dengan senjata bambu runcing, orang Indonesia mengadakan perlawanan dengan pasukan NICA yang bersenjatakan teknologi canggih.

Ustadz Cepot Sampaikan Taushiyah Kemerdekaan RI (Sumber Gambar : Nu Online)
Ustadz Cepot Sampaikan Taushiyah Kemerdekaan RI (Sumber Gambar : Nu Online)

Ustadz Cepot Sampaikan Taushiyah Kemerdekaan RI

“Tapi ternyata dengan rahmat Allah tepat pada Jum’at hari yang barokah Indonesia berhasil mengibarkan benderanya, teriakan suara rakyat terkenal ke seluruh dunia, menggegerkan api jagad, merdeka dan merdeka,” kata ustadz Cepot, Sabtu (16/8) malam.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sedangkan upaya mempertahankan dan mengisi alam kemerdekaan tidak kalah sulitnya. Pengasuh pesantren Ibadur Rahmah, Tangerang ini menambahkan, upaya yang perlu dilakukan dalam mengisi kemerdekaan adalah menuntut ilmu.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ilmu, kata ustadz Cepot, kunci semua kebaikan. “Untuk itu, sumber daya manusia rakyat Indonesia harus meningkat. Ibu boleh miskin, bapak boleh miskin, tapi anak harus pintar, cerdik, dan mapan,” tegasnya.

Di akhir taushiyah, ia mengingatkan perihal cara kader Aswaja mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Zikir, tahlil, dan doa-doa merupakan cara tasyakuran yang baik. “Ini contoh Aswaja pada malam ini, diisi dengan pengajian,” tandas ustadz Cepot. (Muhammad Zidni Nafi’/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Sunnah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 04 Januari 2018

Menag: Beragama adalah untuk Memanusiakan Manusia

Pati, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Indonesia merupakan negara dengan penduduk terbesar keempat sedunia dengan 245 juta jiwa. Dengan jumlah penduduk yang besar setelah China (1,4 miliar jiwa), India (700 juta jiwa), dan Amerika (350 juta jiwa), penduduk negara ini berpotensi menuai banyak perbedaan, utamanya dari berbagai sektor baik etnis, budaya, bahasa dan agama.

Sebab jumlah penduduk yang besar sama artinya menimbulkan intrik perbedaan yang tidak kalah kecil. Hal itu menjadi pokok perbincangan Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Agama RI dalam Suluk Maleman bertajuk Bhinneka Tunggale Ilang; Meruwat Perbedaan Merawat Nusantara di Rumah Adab Indonesia Mulia, Jalan Diponegoro 94 Pati, Sabtu (21/03/15) malam.

Perbedaan, katanya, adalah sunnatullah. “Kita harus pandai-pandai menyikapi perbedaan. Jangan sampai berobsesi untuk menyeragamkan perbedaan. Sebab itu melanggar sunnatullah,” jelasnya kepada ratusan hadirin.

Menag: Beragama adalah untuk Memanusiakan Manusia (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag: Beragama adalah untuk Memanusiakan Manusia (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag: Beragama adalah untuk Memanusiakan Manusia

Putra tokoh NU KH Saifuddin Zuhri ini menekankan perbedaan sudah jelas tercantum dalam nashsuuba waqabaila”, Tuhan menciptakan manusia bersuku dan berbangsa-bangsa.

Di ayat lain, Tuhan bisa saja menjadikan umat manusia, ummatan wahidah, makhluk homogen. Tetapi maksud mulia dari Allah ialah agar umat manusia fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Wakil Ketua MPR RI 2009-2014 itu menambahkan, perbedaan perlu diunduh hikmahnya. “Agar satu sama lain mengisi, melengkapi, dan saling menyempurnakan,” lanjutnya.

Untuk menyikapi perbedaan ditempuh dengan kearifan dan kebijaksaan. Sebab perbedaan itu indah asal bisa mengambil sisi-sisi positif. “Salah satu cara merajut perbedaan yang dilakukan para pendahulu ialah dengan nilai-nilai agama,” imbuh lelaki 52 tahun ini.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dalam memahami nilai-nilai agama perlu ilmu pengetahuan dan wawasan luas. Dengan pengetahuan yang luas harapannya dalam memandang tidak mudah menyalahkan.

Politisi PPP itu menyontohkan angka 4 ialah hasil penambahan 2+2. Sehingga tak boleh menyalahkan orang yang bilang itu hasil dari 2 x 2, 10 - 6 maupun 100 - 96. Hal itu menurutnya sejalan dengan orang menjalani syariat dan tasawuf.

Orang setaraf syariat, sebut dia, dalam beribadah berorientasi pada pahala dan takut kepada neraka. Sehingga posisinya abid, hamba dan ma’bud, Tuhan berbeda. Sedangkan pelaku tasawuf antara manusia, asyiq dan masyhuq, Tuhan, setara.?

Kedua pelaku jalan menuju Tuhan itu mempunyai cara berbeda untuk menuju sang Khaliq namun dengan cara berbeda. Sehingga keduanya perlu disatukan agar mencapai kesempuraan.

Memanusiakan Manusia

Beragama, tegas Lukman, ialah untuk memanusiakan manusia. Karena tujuannya sama meski dengan jalan agama yang berbeda-beda: Islam, Kristen, Hindu dan Budha. Hal itu sejalan dengan Islam Rahmatan Lil Alamin.

Wali Songo, paparnya, dalam menebar Islam di Nusantara tidak dengan pertumpahan darah tetapi dengan kearifan tanpa mengubah tradisi yang berlangsung di Jawa.

Karenanya bangsa dengan penduduk besar juga berpotensi besar terpecah belah. “Solusinya dengan tetap menjaga persatuan dan kesatuan serta soliditas sebagai bangsa serta menghadapi beragam masalah dengan kearifan,” ungkap Lukman Hakim.

Kepada Anis Sholeh Baasyin, penggagas Suluk Maleman memberikan apresiasi sebab kegiatan merupakan upaya untuk mengedukasi generasi muda sebagai modal untuk menghadapi globalisasi agar keutuhan bangsa senantiasa terawat dengan baik. ?

Hadir juga dalam kesempatan itu Lily Wahid (Mantan Anggota DPR RI), Agus Sunyoto (sejarawan), KH Abdul Ghofur Maimoen (tokoh agama) serta Ilyas (akademisi). Juga dimeriahkan penampilan Sampak Gusuran pimpinan Anis Sholeh Baasyin. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)

?

?

?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Meme Islam, Sunnah, Quote Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 26 Desember 2017

Ini Pesan Guru Besar Unhas untuk Pelajar NU

Lombok Tengah,Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar Prof. DR Hasyim Aidid meminta generasi para pelajar Nahdlatul Ulama supaya tak setengah-setengah dalam mendalami studi di jurusan masing-masing.

Ini Pesan Guru Besar Unhas untuk Pelajar NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Pesan Guru Besar Unhas untuk Pelajar NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Pesan Guru Besar Unhas untuk Pelajar NU

“Saya sampaikan kepada generasi muda NU, generasi muda Islam pada umumnya supaya mendalami bidang studi masing-masing,” katanya di Pondok Pesantren Al-Manshuriyah Ta’limushibyan Bonder, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat di sela Rapat Kerja Nasiobal Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) pada Kamis (23/2).

Tidak hanya itu, kata Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia Sulawesi Selatan itu, kader muda NU harus menguasai satu keterampilan sampai ahli.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Kuasai bahasa asing, Arab dan Inggris, kuasai teknologi informasi,” ujar Dewan Pakar Pimpinan Pusat Pergunu tersebut. ?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ia juga mengingatkan, setelah menguasai ilmu dan ahli dalam satu bidang keterampilan, pelajar NU harus berakhlak mulia, serta berani tampil membimbing masyarakat.

“Tawadhu, tapi harus berani tampil,” pungkas pria yang di masa mudanya aktif di Gerakan Pemuda Ansor tersebut. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Daerah, Pendidikan, Sunnah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 06 Desember 2017

Menpora Harap PMII Terus Lahirkan Kader Penjaga Indonesia

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Menteri Pemuda dan Olahraga H Imam Nahrawi berharap kepada kader-kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) supaya memanfaatkan dengan baik sarana kantor Graha Mahbub Djunaidi yang baru dibangun ini.

“Semoga dari kantor ini terus lahir kader-kader bangsa yang terus mewarnai dan terus menjaga Indonesia selamanya menjadi Indonesia dengan paham Ahlussunnah wal Jamaah,” ujarnya dalam peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-57 PMII di Kantor PB PMII, Jalan Salemba Tengah, Jakarta Pusat, Senin (17/4).

Menpora Harap PMII Terus Lahirkan Kader Penjaga Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Menpora Harap PMII Terus Lahirkan Kader Penjaga Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Menpora Harap PMII Terus Lahirkan Kader Penjaga Indonesia

Di usia ke-57 ini, PMII juga diminta untuk semakin kokoh dan istiqomah, yaitu selalu membela dan mengawal kebenaran, kejujuran, dan terus menerus memberikan makna yang terbaik bagi kehidupan bangsa ini.?

Terutama, kata dia, PMII harus terus mengawal masyarakat agar bebas dari kemiskinan, korupsi, degradasi moral, dan lain sebagainya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Menteri kelahiran Bangkalan, Madura ini juga menyampaikan kepada kader PMII supaya mengawal komitmen Ketua Umum (Aminuddin Ma’ruf), yaitu menjaga masjid dan kampus.?

“Kalau masjid nggak dijaga oleh PMII, mungkin masjid akan hilang, tidak hanya caranya, tapi masjidnya pun akan hilang,” ujarnya.

Nampak hadir pada peringatan Harlah ini, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Ketua DPP PPP Romahurmuzy, Pendiri PMII KH Nuril Huda, Ketua Majelis Pembina Nasional (Mabinas) PMII H Abdul Muhaimin Isandar, Ketua Umum Fatayat NU Anggia Ermarini dan beberapa jajaran pengurus PBNU. (Husni Sahal/Fathoni)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Quote, Sunnah, Sholawat Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 25 Mei 2016

120 Pelajar Ikuti Sanlat IPNU-IPPNU Sorong

Sorong, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan 

Sekitar 120 pelajar mengikuti pesantren kilat yang digelar Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan (IPNU) dan PC Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Sorong, Papua Barat pada Senin-Rabu (22-24/8). 

Kontributor Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan di Sorong Zaenal Arifin mengabarkan, peserta tersebut adalah siswa-siswi MTs Al Maarif 1 Aimas beserta santriwan-santriwati Pondok Pesantren Minhajuth Tholibin. Pesantren tersebut sebagai tuan rumah kegiatan tersebut. 

120 Pelajar Ikuti Sanlat IPNU-IPPNU Sorong (Sumber Gambar : Nu Online)
120 Pelajar Ikuti Sanlat IPNU-IPPNU Sorong (Sumber Gambar : Nu Online)

120 Pelajar Ikuti Sanlat IPNU-IPPNU Sorong

Dalam kegiatan tersebut diharapkan peserta lebih mengenal dan mencintai agamanya, sekaligus penanaman faham Ahlussunnah wal-Jamaah sejak dini bagi mereka.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan



Redaktur: Abdullah Alawi 

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Sunnah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 14 Februari 2014

“Salam Brazil” Pesan Muslim Sambut Piala Dunia

Kairo, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Setelah kerja keras selama tiga tahun Federasi Asosiasi Muslim di Brazil the Federation of Muslim Associations in Brazil (Fambras) meluncurkan kampanye Salam Brazil ketika Piala Dunia dimulai, menampilkan ajaran Islam yang toleran kepada para supporter yang datang dari seluruh dunia.

“Salam Brazil merupakan bagian dari proyek “mengenal Islam” yang diluncurkan enam tahun lalu untuk mengenalkan pesan Islam kepada orang Brazil melalui berbagai misi yang berbeda,” kata Ahmed Khalaf, warga Mesir yang bekerja untuk Fambras, dalam emailnya kepada OnIslam.net.

“Salam Brazil” Pesan Muslim Sambut Piala Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
“Salam Brazil” Pesan Muslim Sambut Piala Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

“Salam Brazil” Pesan Muslim Sambut Piala Dunia

“Proyek ini bertanggung jawab menyebarkan pesan Islam yang toleran bukan hanya kepada orang Brazil, tetapi juga pada seluruh pengunjung yang berpartisipasi dalam turnamen ini,” katanya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Diluncurkan pada hari pertama Piala Dunia, Salam Brazil merupakan hasil kerja keras organisasi misi Islam di Brazil dibawah bantuan Dewan Tertinggi Imam dan Urusan Islam di Brasil.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dakwah oleh Fambras ini ditempatkan di kota-kota yang menjadi penyelenggara Piala Dunia, dengan fokus special di Sao Paulo dimana tiga tim dikerahkan di tiga tempat yang berbeda untuk menyambut para suporter.

Fambras menyiapkan kit untuk memberi informasi kepada sekitar 600 ribu supporter yang datang dalam pertandingan selama sebulan tersebut, termasuk buku petunjuk khusus bagi suporter Muslim. 

Sebanyak 65 ribu booklet “Salam Barazil” dalam 32 halaman diterbitkan oleh persatuan asosiasi Islam Brazil bekerjasama dengan kedutaan Oman di Negara Amerika Selatan.

Selain itu, Fambras juga meluncurkan aplikasi smartphone, termasuk kompas kiblat untuk petunjuk shalat dan daftar restoran halal di kota-kota penyelenggara.

Mengenal Islam 

Khalaf, perwakilan Fambras mengatakan, layanan lain meliputi “Salam Bus” yang berkeliling ke berbagai daerah di Negara tersebut untuk mendistribusikan berbagai buku dalam beberapa bahasa. Bis ini akan membawa slogan  “Conheco o Islam” (mengenal Islam) and “Islam é Paz” (Islam adalah kedamaian).

“Salam Brazil Boy” juga merupakan boneka kartun yang diluncurkan untuk anak-anak yang berpartisipasi dalam menyebarkan pesan Islam diantara para pengunjung Piala Dunia.

Sebelumnya telah diluncurkan layanan telepon selama 12 jam per hari dalam bahasa Arab, Spanyol, Perancis, dan Portugis. 

Bersama dengan Fambras, WhyIslam, proyek dakwah akar rumput di Amerika Utara telah berada di Sao Paulo untuk “memberikan pesan yang tepat dan otentik tentang Islam secara sederhana, efektif dan inovatif”

Menurut sensus 2001, terdapat 27,239 Muslim di Brazil. Tetapi menurut Federasi Islam Brazil, jumlah Muslim sekitar setengah juta.

Ahli Islam Paulo Pinto dari Fuminense Federal University memperkirakan terdapat satu juta Muslim di Brazil.

Dengan tiada angka yang pasti, indikator terbaik pertumbuhan Islam di negeri tersebut adalah cepatnya pertumbuhan jumlah masjid. Saat ini terdapat 127 masjid, empat kali lebih banyak dari tahun 2000. (onislam.net/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Meme Islam, Ahlussunnah, Sunnah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 15 Juli 2013

Gusdurian Temanggung Luncurkan Film Antiteror

Temanggung, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Komunitas Gusdurian Temanggung, Jawa Tengah meluncurkan film dokumenter tentang kekerasan atas nama agama. Film dengan judul Kota Teror yang berdurasi 20.54 menit diluncurkan di jejaring sosial Youtube.com.

Gusdurian Temanggung Luncurkan Film Antiteror (Sumber Gambar : Nu Online)
Gusdurian Temanggung Luncurkan Film Antiteror (Sumber Gambar : Nu Online)

Gusdurian Temanggung Luncurkan Film Antiteror

“Film ini menggambarkan konflik bernuansa agama yang terjadi di Temanggung. Selanjutnya kami bandingkan dengan keadaan masyarakat Temanggung aslinya. Ini menarik karena menggambarkan dua hal yang bertolak belakang,” kata produser Emilianto Nugroho.

Untuk melengkapi gambaran itu, ia secara khusus meminta komentar dari Guru Besar Studi Agama dan Resolusi Konflik UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta H Amin Abdullah dan Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Moh Mahfud MD.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Keduanya dimintakan keterangan selain warga sekitar, tambah Emilianto Nugroho.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pembuatan film ini membutuhkan waktu sekitar dua bulan. Pengambilan gambar dengan menunggu momen yang tepat dinilai paling penting. Sebab, dalam membuat film dokumenter faktor akting sama sekali diabaikan. Semua yang kami gambarkan dalam film ini adalah nyata, tanpa settingan sedikitpun, terangnya.

Dalam film ini, ia menggambarkan bahwa kabupaten Temanggung sebenarnya merupakan kota yang aman dan nyaman untuk toleransi beragama. Hanya saja, kota ini kemudian dimainkan orang yang tidak bertanggungjawab sebagai lahan konflik.

Sasaran akhirnya, orang mengetahui bahwa Temanggung adalah kota damai dan aman. Di sini tidak ada potensi konflik beradasarkan agama kecuali permainan orang yang tidak bertanggungjawab.

“Kami ingin citra kota kami kembali seperti dulu; Temanggung yang aman dan harmonis,” tandas aktivis videography asal Temanggung ini, Jum‘at (22/11). (Abaz Zahrotien/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Sunnah, Hikmah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 17 Agustus 2012

Pesantren di Indonesia Warisan Budaya yang Wajib Dijaga

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Sejak dahulu kala perkembangan dan kemajuan dunia Islam di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari pengaruh besar pondok pesantren. Setiap pondok pesantren di Indonesia memiliki figur sentral ulama yang enggan disebut-sebut sebagai ulama, sehingga mereka lebih nyaman apabila dipanggil kiai, ajengan, guru, tuan guru, Abuya dan sebagainya.

Pesantren di Indonesia Warisan Budaya yang Wajib Dijaga (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren di Indonesia Warisan Budaya yang Wajib Dijaga (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren di Indonesia Warisan Budaya yang Wajib Dijaga

Demikian disampaikan Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Ishomuddin, Rabu (16/11). Ia menulis pernyataannya itu dalam akun Facebook pribadinya.?

Menurutnya, ulama sebagai figur sentral di pondok pesantren bukan sekedar bertanggung jawab mentransfer ilmu-ilmu dasar agama, melainkan lebih penting dari itu adalah contoh teladan terbaik di hadapan para santrinya.?

“Ulama di pondok pesantren adalah teladan mereka, karena ulama adalah manusia yang mendedikasikan hidupnya untuk senantiasa meneladani Rasulullah SAW, baik dari sisi ilmunya maupun akhlaknya,” tulis Gus Ishom.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dengan demikian, lanjutnya, dari dunia pondok pesantren akan dan telah terlahir generasi yang bermanfaat bagi manusia lainnya, yang bukan saja pandai mengutip ayat atau hadits Nabi, melainkan lebih penting dari itu menjadi "santri" yang mampu untuk meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW. sepanjang hayatnya, sehingga ia pun menjadi contoh teladan terbaik bagi masyarakat sekitarnya.

“Saya sebut sebagai pesantren asli Indonesia, karena para kyai pengasuhnya selalu memberikan keteladanan akan arti penting mencintai tanah air Indonesia. Karena bumi Indonesia adalah tempat yang wajib dijaga keamanannya agar agama dapat terjaga dengan cara diajarkan dengan sebenar-benarnya dan dilaksanakan dengan sempurna,” urainya.

Terbukti tidak terhitung jasa para kiai dan para santri yang telah berjihad mengusir penjajah dari bumi kita, selain mengusir sejauh mungkin penyakit kebodohan dari jiwa manusia sebagai salah satu sebab pengganggu keamanan negara.

“Saya sebut pesantren asli Indonesia, karena sejak dahulu kala hingga kini nama-nama pondok pesantren itu meskipun terkadang ada nama Arabnya, namun lebih sering populer disebut nama daerah tempat lokasinya, seperti pondok pesantren Bangkalan (Madura), pondok pesantren Langitan (Tuban), pondok pesantren Lirboyo (Kediri), pondok pesantren Ploso (Kediri), pondok pesantren Tebu Ireng (Jombang), pondok pesantren Kempek (Cirebon), pondok pesantren Buntet (Cirebon), pondok pesantren Babakan Ciwaringin (Cirebon), pondok pesantren Leler (Banyumas), pondok pesantren Kesugihan (Cilacap) dan masih sangat banyak yang tidak bisa disebutkan lagi,” papar kiai muda asal Lampung ini.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pendek kata, tambahnya, untuk menjadi pusat tafaqquh fiddin (pendalaman ajaran agama Islam) yang berasal dari dunia Arab maka tidak harus mengimpor apa saja yang berbau budaya Arab, melainkan bahwa dunia pondok pesantren tetap tidak pernah keluar dari berkomitmen untuk menjaga dan menjunjung tinggi budaya lokal.?

Dia menjelaskan, menjadi seorang muslim Indonesia itu tidak mesti harus seperti orang Arab dengan segala budayanya. Sehingga tepat dan benarlah ungkapan kaidah fikih, bahwa tidak patut keluar dari adat kebiasaan orang di sekitar kita sepanjang adat istiadat itu tidak bertentangan dengan ajaran agama.

Pondok pesantren di Indonesia adalah hasil budaya asli bangsa Indonesia yang biasanya secara turun temurun diwariskan. Maka sebagai "barang warisan", setiap pondok pesantren yang ada mestilah dijaga dari kepunahan, harus terus dikembangkan dan "lebih dicanggihkan" agar tidak tergerus atau terpinggirkan oleh kompleksitas perkembangan zaman.?

“Jika tidak dipelihara, maka pondok pesantren "barang warisan" itu akan habis atau akan menjadi barang antik seperti keris sakti yang kehebatannya hanya bisa menjadi bahan cerita untuk berbangga-bangga dari para pewaris "Gus atau Kang" dunia pondok pesantren,” tutup Gus Ishom. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Sunnah, Pertandingan, Tokoh Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 12 Mei 2007

Katib Aam: Pengertian Akhlak Mulai Terdistorsi

Yogyakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Eksis tidaknya suatu negara sangat ditentukan oleh karakternya” demikian kata KH Malik Madani, katib aam PBNU membuka pemaparannya dalam seminar sebuah nasional pada Kamis (21/03) di Yogyakarta.

Katib Aam: Pengertian Akhlak Mulai Terdistorsi (Sumber Gambar : Nu Online)
Katib Aam: Pengertian Akhlak Mulai Terdistorsi (Sumber Gambar : Nu Online)

Katib Aam: Pengertian Akhlak Mulai Terdistorsi

Kiai Malik, begitu akrab disapa, menegaskan bahwa karakter bangsa yang perlu dibangun adalah apa yang di pesantren disebut dengan akhlak. Namun, menurutnya istilah akhlak di Indonesia sudah mulai terdistorsi. Akhlak telah dipahami sebagai sebuah etiket dalam pergaulan.?

“Orang yang ber-injih-injih itu disebut berakhlak. Sehingga orang Madura yang kasar itu dikatakan tidak berakhlak. Bahkan koruptor pun dikatakan memiliki akhlak yang baik,” tegas Malik di tengah-tengah hadirin yang memenuhi ruangan convention hall UIN Sunan Kalijaga.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dalam memaparkan pengertian karakter atau akhlak, Malik menyitir salah satu definisi akhlak yang disampaikan oleh Imam al-Ghazali.?

“Pesantren merumuskan akhlak salah satunya dengan ungkapan Hujjatul Islam, al-Ghazali, bahwa akhlak itu prilaku spontan yang tanpa butuh pemikiran dan tidak direkayasa,” tandasnya.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Di akhir penyajiannya tentang peran pesantren dalam membangun karakter bangsa, Malik menegaskan bahwa pesantren hidup dan bergumul di tengah-tengah masyarakat yang sangat kompleks. Sedangkan apa yang dialami oleh masyarakat, pasti berpengaruh terhadap pesantren. Dan hal itu merupakan tantangan tersendiri bagi pesantren. ?

Sementara itu Zaini Rahman, anggota DPR RI mengatakan pesantren selalu hadir, menyelamatkan bangsa ini.?

Zaini mempertegas, salah satu bukti peran pesantren yang secara otomatis juga merupakan peran NU adalah ketika NU memberikan pengesahan terhadap posisi Soekarno sebagai presiden pertama di Indonesia. Padahal menurutnya, sebenarnya keputusan itu lahir dari kaidah Fiqh yang sederhana yang menyatakan bahwa jika seorang perempuan tidak memiliki wali, maka ketika ia akan menikah, hakimlah yang dapat menjadi walinya. ? Hakim tentu ada dalam sebuah negara yang sah. Jika pucuk pimpinan negaranya belum sah, maka secara otomatis bawahannya juga belum sah, termasuk pula hakim. Dan pernikahan yang menggunakan wali hakim juga tidak akan sah.?

Tak hanya itu, Zaini juga menyinggung perdebatan seputar apakah Indonesia ini negara Islam atau bukan. Menurut Zaini, dalam tema ini NU “Indonesia adalah darul Islam (rumah Islam, red.). Meskipun bukan negara Islam, tapi Indonesia membiarkan syari’at Islam diterapkan di sini,” ungkap Zaini. ?

“Dari pesantren selalu lahir kaidah atau cara pandang yang selalu menjadi penyelamat dalam setiap momentum. Jadi bisa kita katakan, negara ini tidak ada tanpa pesantren,” tandasnya.?

Redaktur ? : Mukafi Niam

Kontributor: Nur Hasanatul Hafshaniyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Sejarah, Habib, Sunnah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 14 Agustus 2006

NU Nilai Tak Perlu Perda Syariat Islam

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan
Nahdlatul Ulama (NU) menilai tidak perlu adanya Peraturan Daerah (Perda) tentang penerapan syariat Islam untuk mengatur kehidupan masyarakat.

Demikian disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar NU KH Hasyim Muzadi dalam jumpa pers persiapan akan digelarnya International Conference of Islamic Scholars (ICIS) II di Rumah Makan Handayani, Matraman, Jakarta, Kamis (15/6)

Menurut Hasyim, pemberlakuan syariat Islam melalui perda-perda di sejumlah daerah, tidak lebih dari pengulangan dari pada hukum yang sudah ada. “Perda-perda itu tidak lebih dari pengulangan terhadap hukum yang sudah ada, seperti KUHP (Kitab Undang-undang Hukum Pidana, red),” ujarnya.

Oleh karena itu, lanjut Hasyim, yang lebih diperlukan adalah upaya pengefektifan dari pada peraturan-peraturan yang sudah ada serta optimalisasi peran aparat penegak hukum.

Alasan berikut mengapa NU memandang tidak perlu adanya Perda Syariat Islam, terang Hasyim, adalah bahwa hal itu merupakan upaya formalisasi ajaran agama, sementara substansi dari syariat Islam itu sendiri ditinggalkan.

“Syariat Islam dalam pengertian NU adalah substansial-inklusif, bukan formalisasi Islam yang diangkat ke wilayah negara. Artinya, NU lebih mengedepankan syariat Islam yang lebih substansi dari pada sekadar formalisasi dalam bentuk perda-perda,” tegas Hasyim.

Hasyim mencermati maraknya pembuatan perda-perda yang bernuansa syariat Islam di sejumlah daerah. Menurutnya, hal itu merupakan fenomena munculnya semangat simbolisme ajaran Islam yang berlebihan dari para anggota parlemen di daerah.

“Menurut saya, terjadi over-simbolisme (syariat Islam, red) oleh para anggota DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah). Jadi semangatnya adalah semangat simbolistik, bukannya yang substansial,” ungkap Hasyim.

Sebagaimana diketahui, tercatat ada 22 kota dan kabupaten yang memberlakukan perda bernuansa syariat Islam seperti Aceh, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Pamekasan, Kepulauan Riau, Indramayu, Tasikmalaya, Sumatera Selatan, Cianjur, Maros, Binjai, Bulu Kumba, dan lainnya. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Sunnah, Hadits, Jadwal Kajian Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

NU Nilai Tak Perlu Perda Syariat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Nilai Tak Perlu Perda Syariat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Nilai Tak Perlu Perda Syariat Islam

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock