Tampilkan postingan dengan label Warta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Warta. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Februari 2018

Tak Ada Kata Terlambat, Pria Berusia 103 Menikah

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Dengan usia gabungan 194, satu pasangan Inggris ditetapkan menjadi pengantin baru tertua di dunia ketika mereka akan menikah musim panas ini, menurut koran Inggris Daily Mail yang melaporkan, Jumat lalu.

George Kirby, yang juga akan menjadi laki-laki tertua yang pernah menikah pada usia 103, menikahi Doreen Luckie, 91, pada Hari Valentine tahun ini seperti dikutip dari al arabiya.net.?

Tak Ada Kata Terlambat, Pria Berusia 103 Menikah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tak Ada Kata Terlambat, Pria Berusia 103 Menikah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tak Ada Kata Terlambat, Pria Berusia 103 Menikah

"Saya kira sekarang sudah waktunya ," kata Kirby. "Saya tidak merasa masalah dengan usia. Doreen membuat saya muda. "

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Saya tidak dapat berlutut di satu kaki karena saya tidak mungkin bisa bangkit berdiri lagi.”

Ini akan menjadi pernikahan ketiga mantan petinju tersebut yang secara keseluruhan telah menghasilkan 7 anak, 15 cucu dan 7 cicit.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Anak Kirby, Neil 63 tahun, mengatakan, "Kami telah menganggap Doreen sebagai ibu kami dan kami senang bahwa dia akan menjadi keluarga Kirby."

"Kami senang bahwa mereka akan menikah di depan semua teman-teman dan keluarga yang akan bangga," tambahnya.

Pernikahan ini akan ditetapkan pada 13 Juni. Hal ini akan memecahkan rekor sebelumnya untuk pasangan tertua yang ? menikah dengan usia gabungan 188 tahun yang ditetapkan pada tahun 2013.

Ketika ditanya tentang motivasi pernikahannya, Kirby mengatakan: "Kami tidak melakukannya untuk catatan rekor, kami menikah karena kita sedang jatuh cinta dan tampaknya hal ini merupakan sesuatu yang benar untuk melakukannya." (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Warta, Ahlussunnah, Sholawat Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 01 Februari 2018

Menag Minta Tunjangan Guru Madrasah Masuk RAPBN 2007

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Menteri Agama (Menag) Maftuh Basyuni berharap pemberian tunjangan fungsional bagi guru honorer madrasah sebesar Rp 200 ribu per bulan untuk setiap guru dimasukkan dalam RAPBN 2007.

Usulan tersebut telah disampaikan kepada Komisi VIII DPR, Menteri Keuangan, Menneg PPN/Kepala Bappenas pada 3 November 2006. Namun, karena alasan pagu anggaran yang diterima Depag tahun 2007 terbatas, usulan tersebut urung terakomodasi dalam RAPBN 2007.

Menag Minta Tunjangan Guru Madrasah Masuk RAPBN 2007 (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag Minta Tunjangan Guru Madrasah Masuk RAPBN 2007 (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag Minta Tunjangan Guru Madrasah Masuk RAPBN 2007

"Kami sangat mengharap perhatian dan dukungan semua pihak untuk penambahan pagu anggaran, sehingga tidak ada lagi perlakuan diskriminatif bagi guru honorer di madrasah," harap Maftuh dalam raker dengan PAH III DPD, di Gedung DPD, Senayan, Jakarta, Selasa (21/11).

Dijelaskan dia, berdasar UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen diamanatkan adanya peningkatan kesejahteraan guru dan dosen. Selain itu, langkah ini diambil untuk meningkatkan kesejahteraan guru honorer, baik yang mengajar di madrasah negeri maupun swasta, yang selama ini bergaji minim di bawah UMR.

"Sesuai dengan usulan Depdiknas yang telah mengalokasikan tunjangan di APBN 2007 untuk guru honorer, Depag juga telah mengirim surat tanggal 3 November untuk memberi tunjangan fungsional sebesar Rp 200 ribu," kata mantan Dubes RI untuk Arab Saudi ini.

Saat ini, tambahnya, jumlah guru honorer swasta yang berada di Depag sebanyak 556.418 guru. Sementara, guru yang mengajar di madrasah negeri sebanyak 89.902 guru.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sesuai PP Nomor 48 Tahun 2005 tentang Tenaga Honorer, Depag telah melakukan pendataan dan pemprosesan untuk pengangkatan guru honorer menjadi CPNS sebanyak 54.364 orang. Sementara sisanya masih belum terakomodasi.

Di tahun 2006 ini, Depag memperoleh formasi pengangkatan tenaga honorer menjadi CPNS per 1 Oktober 2006 sebanyak 19.529 orang, yang terdiri dari 12.907 guru, 271 dosen, dan 4.251 pegawai lainnya.

Sisanya sebanyak 41.457 guru honorer akan diangkat secara bertahap paling lambat 2009. (dtc/rif)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Daerah, Hikmah, Warta Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 21 Januari 2018

IAIN Jember Tengah Dikembangkan Jadi UIN

Jember, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan - Setelah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Jember sukses beralih status menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember, kini tengah diupayakan menjadi Universitas Islam Negeri (UIN). Menurut Rektor IAIN Jember, Babun Suharto, segala persiapan sudah dilakukan, mulai dari pengembangan sarana dan prsarana fisik hingga penambahan progam-program studi umum.

Dikatakannya, dorongan dan keinginan masyarakat untuk meningkatkan status IAIN Jember menjadi UIN, sungguh besar. “Tentu itu merupakan spirit bagi kami selaku pimpinan, untuk berjuang keras agar dalam waktu yang tidak lama, IAIN Jember sudah naik menjadi UIN Jember,” terangnya kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan di sela-sela mendampingi Wakil Bupati Jember Mukit Arief saat mengunjungi IAIN Jember, akhir pekan lalu.

Mantan Ketua GP Ansor Jember itu manambahkan, antusiasme dan kepercayaan masyarakat cukup besar untuk “menitipkan” anaknya dididik di kampus IAIN Jember. Tahun akademik 2016/2017 ini, ungkapnya, mahasiswa yang mendaftar dari tiga jalur yang disediakan, mencapai sekitar 12 ribu orang.

“Namun yang diambil hanya 1800 mahasiswa. Dari 1800 mahasiswa itu, beberapa orang di antaranya berasal dari Thailand,” ungkapnya.

IAIN Jember Tengah Dikembangkan Jadi UIN (Sumber Gambar : Nu Online)
IAIN Jember Tengah Dikembangkan Jadi UIN (Sumber Gambar : Nu Online)

IAIN Jember Tengah Dikembangkan Jadi UIN

Sementara itu, Mukit Arief menyatakan sangat mendukung agar IAIN Jember secepatnya diusahakan naik status menjadi UIN Jember. Menurutnya, perkembangan IAIN Jember saat ini sungguh luar biasa, terutama dari sisi pembangunan fisik.

Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, tukas Mukit, kondisi IAIN Jember saat ini sudah sangat jauh berkembang. “Sebagai Warga Jember, tentu kami sangat bangga. Karena kampus ini juga memberikan kontribusi besar terhadap pengembangan sumber daya manusia warga Jember,” katanya.

A’wan Syuriyah PCNU Jember itu berharap kepercayaan masyarakat yang begitu besar terhadap IAIN Jember harus menjadi pemicu bagi pimpinan lembaga tersebut untuk terus meningkatkan dan mengembangkan lembaga yang dikelolanya. Ia yakin dalam sekian tahun ke depan, IAIN Jember akan sejajar dengan universitas-universitas negeri.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Saya mendukung penuh agar IAIN Jember menjadi UIN.” jelasnya. (aryudi a. razaq)?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Warta, Hikmah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 20 Januari 2018

Gelar Konferwil, Muslimat Sulsel Bertekad Wujudkan Indonesia Sejahtera

Makassar, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pembukaan Konferensi Wilayah Ke-10 Pimpinan Wilayah Muslimat Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan yang bertema ‘Bersatu Mewujudkan Indonesia Damai Sejahtera’ dihadiri Menteri Sosial Republik Indonesia yang juga Ketua Umum PP Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansah, Sabtu (5/3) di Gedung IMMIM Makassar.

"Tak lupa pula kami mengucapkan terima kasih dan bimbingannya selama ini kepada Ibu Ketua Umum PP Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa dan Bapak Ketua NU Sulsel H Iskandar Idy yang selama ini banyak membantu Muslimat NU Sulsel," ujar Ketua PW Muslimat NU Sulsel Hj Nurul Fuadi.

Gelar Konferwil, Muslimat Sulsel Bertekad Wujudkan Indonesia Sejahtera (Sumber Gambar : Nu Online)
Gelar Konferwil, Muslimat Sulsel Bertekad Wujudkan Indonesia Sejahtera (Sumber Gambar : Nu Online)

Gelar Konferwil, Muslimat Sulsel Bertekad Wujudkan Indonesia Sejahtera

Konferwil Muslimat NU bukan hanya menjadi acara rutinitas belaka, lanjutnya, melainkan sebagai suatu kemutlakan proses kaderisasi ditubuh NU. Tentunya juga tidak hanya membicarakan suksesi pemilihan ketua, tetapi lebih dari itu Konferwil harus dijadikan sebagai titik awal untuk melahirkan ide dan gagasan eksistensi Muslimat Sulsel 5 tahun ke depan.

Ketua PWNU Sulsel H Iskandar Idy dalam sambutannya berterima kasih kepada Muslimat NU Sulsel yang telah memberikan kontribusi besar atas eksistensi Nahdlatul Ulama di Sulawesi Selatan.

"Tentunya kebesaran Muslimat NU di Sulsel, tentunya menjadi gambaran umum atas kebesaran NU di Sulawesi Selatan dan semoga Muslimat NU semakin jaya," ujarnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dalam sambutannya, Khofifah mengajak seluruh kader Muslimat NU Sulawesi Selatan untuk membesarkan NU di Sulawesi Selatan.

"Harapan kami seluruh unsur masyarakat, mulai dari Ulama, Pemerintah, dan Ormas harus menjadi pelopor kekuatan ukhuwah (persatuan), ketika ini terwujud tak ada lagi isu-isu yang sebenarnya melanggar nilai-nilai Agama, tetapi karena atas nama HAM, kita sesama Warga Indonesia selalu berdebat atas suatu persoalan Bangsa, sebut saja LGBT misalnya," ujar Khofifah.

Tak hanya itu terkadang ada masalah besar, tambah Khofifah, tetapi karena luput dari liputan media, sehingga persoalan ini disepelekan, sebut saja narkoba, berapa banyak warga Indonesia yang meninggal atas penyalahgunaan Narkoba, apakah ini bukan teror bagi Bangsa Indonesia ? Bandingkan saja dengan teror yang terjadi di Thamrin beberapa waktu lalu, semua media mengekspos, tetapi ketika Teror narkoba atas Bangsa Indonesia terjadi, tidak semua media mengekspos, padahal narkoba adalah teror yang sesungguhnya.

"Olehnya itu mari bersama-sama mulai dari keluarga terkecil, agar menjauhi Narkoba serta budaya-budaya yang menyalahi Norma Agama dan Norma Masyarakat," tambahnya.

Tampak hadir Wakil Ketua Muslimat NU Sulsel yang juga Rektor UIM Hj Majdah M Zain, Kakanwil Sulsel Abd Wahid Thahir yang juga Ketua PCNU Makassar, Sekretaris PWNU Sulsel Arfin Hamid, Ketua PW GP Ansor NU Sulsel Muh Tonang Cawidu, Para Ketua Lembaga dan Badan Otonom NU di Sulsel serta para Pengurus Cabang Muslimat Nahdlatul Ulama se-Sulawesi Selatan. (Andy Muhammad Idris/Fathoni)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Warta Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 19 Januari 2018

Ramadhan Ini, NU Bantu Pengungsi Rohingnya

Langsa, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pengurus Pusat Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) melakukan aksi kemanusiaan di camp pengungsi Rohinya di Aceh sejak Senin 23 Juni 2015. Aksi bertema "Rohingya Emergency Relief, Ramadhan 2015" ini dilakukan dengan memberikan paket buka puasa disertai doa bersama dengan 500 pengungsi Rohingya di Kota Langsa.

LPBI NU menggandeng Islamic Help, LSM internasional asal Inggris yang pernah melakukan aksi kemanusiaan bersama NU? dalam Tsunami Aceh dan Gempa Yogyakarta di masa lalu. Aksi kemanusiaan ini juga melibatkan PW LPBI NU Aceh, PCNU Kota Langsa dan Dayah (Pesantren) di Kota Langsa.

Ramadhan Ini, NU Bantu Pengungsi Rohingnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan Ini, NU Bantu Pengungsi Rohingnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan Ini, NU Bantu Pengungsi Rohingnya

Ketua PP LPBI NU, Avianto Muhtadi mengatakan bahwa saat ini kondisi pengungsi cukup terjamin. Ini berkat masyarakat Aceh yang sangat membantu dan ikhlas. Namun, tambah Avianto, saat menyiapkan paket buka puasa selalu saja ada yang kurang padahal paket dibuat lebih.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari pengamatannya langsung dengan para pengungsi, Avianto menilai ada potensi kericuhan, apalagi mereka berbeda etnis, akibat tak meratannya bantuan yang diterima pengungsi. Sebagian pengungsi mengambil jatah lebih banyak dari yang lain.

“Di camp, pemenuhan kebutuhan terpenuhi dengan baik namun menuai kecemburuan sosial dan kesenjangan antara penduduk setempat dengan mereka yang mendapat bantuan berlimpah,” imbuhnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Bagi Avianto, bantuan yang diberikan oleh berbagai pihak perlu dikelola dalam satu koordinasi agar tidak berdampak pada benturan kepentingan, di samping agar jelas akuntabilitas dan transparasinya. Ia juga berpendapat, Pemerintah perlu mendesak PBB agar melakukan mengambil alih bila negara asal pengungsi tidak menerima mereka kembali. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Berita, Lomba, Warta Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 17 Januari 2018

Hukum Berobat Kepada Non-Muslim

Setiap orang pasti butuh pengobatan. Tidak ada manusia di dunia ini yang terbebas dari penyakit. Sebagian besar orang pasti pernah sakit, apakah itu penyakit ringan atau berat. Dengan kemajuan teknologi dan pengetahuan, alternatif pengobatan pun semakin banyak: bisa datang kepada pengobatan tradisional atau pengobatan modern. Tinggal pilih saja mana yang dirasa nyaman dan biayanya terukur.

Pengobatan yang ada di Indonesia tidak semua tabib atau dokternya Muslim. Malah bagi sebagian orang, mereka lebih percaya dan nyaman berobat dengan non-Muslim ketimbang dokter Muslim. Ada banyak hal yang membuat mereka tertarik dengan dokter non-Muslim, bisa jadi pengobatannya lebih bagus, profesional, dan lain-lain.

Hukum Berobat Kepada Non-Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Berobat Kepada Non-Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Berobat Kepada Non-Muslim

Ibnu Hajar Al-Haitami pernah ditanya soal ini, bagaimana hukum Muslim berobat kepada non-Muslim atau sebaliknya. Dalam Al-Fatawa Al-Fiqhiyyah Al-Kubra, ia menjelaskan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Artinya, “Muslim dibolehkan mengobati orang kafir, meskipun kafir harbi sebagaimana dibolehkan bersedekah kepada mereka, atas dasar perkataan Rasulullah SAW bahwa setiap kebaikan ada balasan. Sebaliknya, Muslim dibolehkan berobat kepada orang kafir dengan syarat tidak ada orang Islam yang mampu mengobati penyakitnya dan orang yang mengobatinya dapat dipercaya, serta tidak akan berbuat jahat.”

Ibnu Hajar membolehkan Muslim mengobati non-Muslim secara mutlak. Sementara Muslim yang berobat kepada non-Muslim dibolehkan bila tidak ada dokter Muslim dan bisa dipercaya. Persyaratan ini dibuat untuk kehati-hatian. Kalau memang dokter non-Muslimnya baik dan sudah berpengalaman dalam mengobati banyak orang, termasuk Muslim, tidak ada masalah untuk berobat dengannya.

Apalagi dalam konteks Indonesia, setiap pengobatan atau rumah sakit harus minta izin dulu kepada negara sebelum buka praktiknya. Izin ini bertujuan agar pemerintah bisa menilai apakah pengobatan tersebut memenuhi standar ilmiah, kesehatan, dan tidak merugikan publik. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Warta, Daerah, Sholawat Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 04 Januari 2018

Kiai Wasid

Matanya nanar, seakan ada rembulan menggantung di sana. Usianya sudah lengkap dengan asam garam kehidupan. Warna rambutnya hanya ada dua, hitam dan putih, berpadu seperti yin dan yang, terbungkus serban putih kesayangannya.

Usianya memang senja, tapi jika ia berjalan langkahnya masih gagah tegap meskipun ia tak pernah mengenyam pendidikan militer. Lelaki tua itu duduk bersila sambil menatap sekeliling ruang kosong. Sebuah bangunan gelap yang mungkin usianya jauh lebih renta dari usianya. Secercah cahaya lurus menerobos ruangan itu, tampak asap putih mengepul dari corong mulutnya, sesekali ia hisap kepenatan dalam batinnya. Tampak ada rasa kekhawatiran di matanya, kekhawatiran tentang sebuah musim di mana hanya sedikit orang-orang yang mau mengerti tentang arti kehidupan, tentang Tuhan, tentang keyakinan, perjuangan, hak kemanusiaan di ruang-ruang saksi sejarah yang bisu yang semakin tersudut di pinggir desa-desa yang dijajah lahir dan batinnya.

Kiai Wasid (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Wasid (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Wasid

Sudah satu minggu lamanya Kiai Wasid mendekam dalam jeruji besi sejak ia ditangkap oleh pemerintah Belanda. Kiai Wasid dianggap bersalah karena telah berbuat onar menebang pohon Kepuh besar yang akhir-akhir ini disembah oleh warga penduduk desa Lebak Kepala Banten.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Suatu malam Kiai Wasid beserta murid-muridnya sengaja mendatangi Kepuh dan menebangnya. Kiai Wasid memang sudah lama gerah melihat tingkah laku para rakyat yang mengganggap pohon besar itu sebagai keramat. Sudah sering Kiai Wasid memberi peringatan bahwa apa yang dilakukan oleh penduduk desa ini adalah perbuatan musyrik. Namun tidak digubris. Para penduduk desa menganggap Kepuh dapat menghilangkan bencana dan mengabulkan apa yang mereka pinta asal saja memberikan sasajen kepada pohon.

“Percaya kepada selain Allah Subhanahu wata’ala adalah syirik! Musyrik! Laknatullah!” teriak Kiai Wasid.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Berkali-kali Kiai Wasid memperingatkan penduduk, tapi imbauannya tidak diindahkan sama sekali. Kiai Wasid yang tidak dapat membiarkan kebodohan di depan matanya. Dengan beberapa orang muridnya ditebangnya pohon berhala itu pada malam hari.

Kiai Wasid memang sangat tegas dalam urusan akidah. Hal ini juga ia ajarkan kepada murid-muridnya di pesantrennya di kampung Beji Cilegon. Dulu waktu Kiai Wasid berguru kepada Syekh Nawawi Al Bantani, Kiai Wasid sering bertanya tentang hakikat tauhid gusti Allah.

“Kanjeng Kiai, sedekat apakah Gusti Allah dengan kita?” Tanya Kiai Wasid kepada Syekh Nawawi.

“Dekat atau tidaknya Gusti Allah itu kita sendiri yang menentukan. Gusti Allah bisa dekat, bisa juga jauh. Ibarat cahaya lilin.” Jawab Kiai Nawawi. Kiai Wasid tertegun.

“Lalu, Siapakah Gusti Allah? Siapakah kita, Kiai?” Kiai Wasid kembali bertanya.

“Gusti Allah adalah cahaya, dan kita semua adalah bayangannya.” Jawab Syekh Nawawi.

Bagi Kiai Wasid, itu adalah jawaban yang sangat berarti dalam hidupnya. Kiai Wasid memang sangat takzim kepada Syekh Nawawi. Sepanjang hidupnya Syekh Nawawi tak henti-hentinya mengajarkan tiga pokok ajaran dalam Islam. Yaitu Ketauhidan, Fikih, dan juga Tasawuf. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Ajatan ketauhidan akan keesaan Allah subhanhu wata’ala yang diajarkan Syekh NAwawi membawa Kiai Wasid dan juga teman seperjuangannya seperti Haji Abdurahman, Haji Akib, Haji Haris, Haji Arsad Thawil, Haji Arsad Qashir dan Haji Ismail melanjutkan syiarkan agama Allah ke seluruh wilayah Banten. Bagi Kiai Wasid, perbuatan yang menyekutukan Allah adalah dosa yang sangat besar. Itulah sebabnya Kiai Wasid sangat benci sekali dengan orang yang lebih percaya pada benda mati seperti Kepuh dibandingkan kepada Allah.

“Allahu Akbar.. Allahu Akbar..” Teriak Kiai Wasid dan para muridnya. Kepuh tumbang. Warga desa lari tunggang-langgang. Beberapa dari mereka melapor kepada tentara Belanda. Tidak lama kemudian Kiai Wasid ditangkap pemerintah Belanda.

Kiai Wasid ditangkap dan dijebloskan ke penjara lantaran ada laporan warga tentang perbuatannya menebang pohon keramat Kepuh. Saat di dalam penjara sebelum Kiai Wasid diadili, seorang asisten Residen bernama Goebels mendatangi tempat Kiai Wasid ditahan.

“Tuan, harus bertanggung jawab penuh atas keonaran yang tuan perbuat.” Ucap sang asisten dari balik jeruji besi.

“Menara langgar bale tuan juga kami dirubuhkan! Itu peraturan yang sudah kami edarkan.” Kiai Wasid terkaget. Kiai Wasid semakin geram.

“Tuan Wasid! Sesuai dengan aturan hukum pemerintah, nanti tuan akan didakwa bersalah karena telah mengganggu ketertiban warga desa!” lanjut Goebels.

“Atas dasar apa bapak sekalian menuntut saya yang hendak menghancurkan kebodohan? Kemusyrikan?” Jawab Kiai Wasid. Goebels cukup kaget mendengar perkataan Kiai Wasid.

“Apakah kiranya saya yang begitu mencintai saudara sedarah saya berdiam diri saat mereka terjebak dalam kebodohan menyembah sebatang pohon yang tak berdaya?” lanjut Kiai Wasid.

“Itu adalah hak manusia, tuan.” Ucap Goebels.

“Menyelematkan saudara kami seiman adalah hak juga! Apakah itu salah tuan?” kata Kiai Wasid.

“Tuan, kamu orang salah karna melanggar ketenangan orang?” Goebels balik membalas.

“Siapa yang merasa tidak tenang tuan? Hah? Tolong tuan panggil! Siapa?”

“Kalau menebang pohon demi menyelamatkan saudara kami dari kemusyrikan itu dianggap salah, apakah merubuhkan rumah ibadah kami bukan kesalahan?” Tanya Kiai Wasid.

“Menara kamu punya rumah ibadah itu mengganggu ketenangan masyarakat! karena kerasnya suara, apalagi waktu azan shalat subuh. Tuhan tidak tuli, tuan!” kata Goebels.

“Membiarkan saudara kami menyembah pohon itu lebih mengganggu ketenangan kami tuan, ketenangan hati. Ketenangan iman kami!” teriak Kiai Wasid.

“Tuan Wasid, apakah tuan sadar apa yang tuan perbuat ini adalah keonaran? Pemberontakan kepada pemerintah? Goebels bergerak mendekati Kiai Wasid. Kiai Wasid tersenyum kecut.

“Tuan, apakah yang tuan maksud dengan pemerintahan?”

“Apakah yang tuan maksud pemerintahan itu yang membiarkan kelaparan dan wabah penyakit menimpa kami? Apakah saat hujan tidak turun selama dua tahun lamanya pemerintah ini peduli pada penduduk?” lanjut Kiai Wasid. Dua sipir yang beringasan berangsur ke sisi Goebels. Tapi Goebels memberi isyarat untuk meninggalkan mereka berdua. Dua sipir secepatnya keluar.

 “Tuan, desa-desa kami kering kerontang. Tidak ada tanaman yang tumbuh. Air sulit didapat. Apakah tuan tahu? Lalu Apa yang bisa kami tanam? Sedangkan pemerintah tuan terus menarik upeti kepada kami?”

“Upeti yang kami kumpulkan, itu semua untuk kesejahteraan rakyat! Tuan ini harusnya tahu?” balas Goebels.

“Kesejahteraan yang mana? Apakah hidup kelaparan dan penuh sengsara adalah kesejahteraan?” sambar Kiai Wasid.

“Tanah kami kering. Seperti iman kami.” Tiba-tiba hening. Seperti ada bongkahan angkuh yang luluh di hati Goebels.

“Lanjutkan, Tuan Wasid,” ucap Goebels.

“Di pasar-pasar hampir setiap hari kami menemukan bayi yang mati ditinggalkan ibunya. Apakah pemerintah tuan tahu? Tuan, apakah tuan tahu puluhan ribu dari kami mati karena penyakit sampar yang berkepanjangan?

“Desa kami seakan mati ditinggalkan penghuninya. Banyak ibu tidak dapat menyusui anaknya dan banyak anak-anak kami mati kelaparan, apakah pemerintah tuan tahu?

“Lalu apakah salah kalau kami meratap, berdoa dan berzikir kepada Gusti kami saat kami tak boleh merapat kepada pemerintahan ini?”

“Tuan, apakah tuan masih ingat kesediahan kami karena sang Krakatau meletus? Ribuan jiwa saudara kami mati. Apakah yang dilakukan pemerintahan tuan? Tidak ada bukan?”

“Pemerintah tuan bukan menolong kami, tapi malah pajak kepada kami diperbesar? Kami harus kerja Pancen dan kerja Rodi di luar kewajaran! Maka, tuan, itulah sebabnya banyak saudara kami menjadi putus asa dan kembali percaya kepada dukun dan benda benda yang dianggap keramat dari pada mohon pertolongan Allah, Gusti kami.”

“Cukup, Tuan!” potong Goebels.

“Sepertinya penjelasan tuan ini sudahlah cukup. Terima kasih, tuan.” Lanjut Goebels.

“Sipir!” teriak Goebels. Lalu ia berlalu saat kedua sipir datang.

“Renungkanlah tuan! Pakai hati tuan!” Teriak Kiai Wasid. Goebels berlalu. Seperti ada sebongkah rasa dari balik matanya. Mungkin ia merasa ada sesuatu yang menohok hatinya. Namun entahlah. Hati orang siapa yang tahu?”

Hari ini tanggal 18 November 1887, Kiai Wasid dijadwalkan akan diadili. Gerak riuh penduduk desa berdatangan. Mereka berdesakan demi melihat sang Kiai yang sedang diadili. Tampak pula beberapa tentara Belanda berjaga. Teriakan “Allahu Akbar” menggema dari barisan belakang sekelompok orang. Kiai Wasid dibawa masuk oleh dua orang tentara bersenjata. Langkahnya tagap seakan apa pun diterjang. Riuh suara penduduk desa semakin bergemuruh.

Atas kesalahannya, Kiai Wasid akhirnya didenda 750 Gulden. Tuntutan jaksa yang sebelumnya ingin memvonis berat Kiai Wasid menjadi ringan karena mendapat pesan dari asisten Residen. Ia merasa apa yang dijelaskan Kiai Wasid tentang keadaan rakyat Banten cukup membuatnya tersadarkan. Kiai Wasid dibebaskan, namun Belanda terus mengawasi gerak-geriknya. Sejak peradilan Kiai Wasid, Belanda semakin mencekik para penduduk desa. Belanda mengeluarkan surat edaran yang isinya supaya shalawat, tarhim, dan azan jangan dilakukan dengan suara keras. Entah apa maksud surat larangan ini, yang jelas Belanda ingin mempersempit ruang gerak umat Isam untuk melakukan aktivitas-aktivitas perkumpulan.

Sejak peristiwa dilepaskannya Kiai Wasid, keadaan justru semakin mencekam. Penduduk desa semakin terombang-ambing atas kebijakan pemerintahan Belanda yang terus menaikkan pajak. Keadaan ini membuat Kiai Wasid bersama-sama dengan para ulama pemangku agama di daerah Banten seperti Haji Abdul Karim, Haji Tubagus Ismail, dan Haji Marzuki, kembali menjalankan misi syiar Islam dan perjuangan melawan penjajah di langgar-langgar, pesantren-pesantrean. Kiai Wasid dan para ulama lainnya terus menanamkan semangat jihad menentang penjajah.

Semangat perjuangan penduduk Banten kembali berkobar, sejak 4 Februari sampai 13 Maret 1888, para ulama dan penduduk desa mengadakan beberapa pertemuan yang intinya merencanakan strategi untuk melawan pemerintahan Belanda. Setelah melakukan beberapa pertemuan maka para ulama dan penduduk desa memutuskan untuk melakukan penyerangan. Hari sebelumnya para penduduk desa mengadakan arak-arakan sambil meneriakan takbir dan kasidahan arak-arakan dimulai dari rumah Haji Akhiya di Jombang Wetan dan berakhir di rumah Haji Tubagus Kusen, penghulu Cilegon. Para kiyai dan murid murid mereka memakai pakaian serba putih dengan ikat kepala dan kain putih pula sambil membawa pedang dan tombak.

Rombongan para kiai dan warga Banten pada malam hari bergerak dari Cibeber ke arah Saneja dipimpin langsung oleh Kiai Wasid dan Haji Tubagus Ismail tempat ini kemudian dijadikan sebagai pusat penyerangan oleh Kiai Wasid dan pengikutnya. Peristiwa itu kemudian dikenal dengan “Geger Cilegon”. Peristiwa perjuangan tumpah darah rakyat Banten dalam mengusir penjajahan Belanda. Peristiwa yang membuat penjajah Belanda kocar-kacir ketakutan. Dan peristiwa yang membawa ruh Kiai Wasid yang gugur syahid di medan perang menuju ribaan Allah Azza Wa Jalla.

Ciracas 31 Des 2012

Hijrah Ahmad, editor, Alumni Buntet Pesantren Cirebon.

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Aswaja, Internasional, Warta Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 03 Januari 2018

Santri Tremas Adakan Khitanan Massal hingga Pagelaran Wayang Kulit

Pacitan, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Memeriahkan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Ikatan Pelajar Pacitan Pondok Tremas atau IPPAPONMAS, mulai Jum’at (16/12) menggelar kegiatan Bhakti Santri di Dusun Jambu, Desa Bangunsari Kecamatan/Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Organisasi daerah di lingkungan Pesantren Tremas yang menaungi santri dari seluruh Kabupaten Pacitan itu menggelar sejumlah kegiatan bersama masyarakat setempat hingga Ahad (18/12).

Santri Tremas Adakan Khitanan Massal hingga Pagelaran Wayang Kulit (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Tremas Adakan Khitanan Massal hingga Pagelaran Wayang Kulit (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Tremas Adakan Khitanan Massal hingga Pagelaran Wayang Kulit

Kegiatan yang dilaksanakan diantaranya khitanan massal, pengobatan gratis, aksi donor darah, santun anak yatim, semaan Al-Qur’an, dakwah bil hal, pembinanaan TPQ dan Madin, pagelaran seni wayang kulit, dan pengajian peringatan maulid Nabi Muhammad SAW bersama pengasuh Jamaah Muji Rosul (Jamuro) KH Abdul Karim Ahmad (Mangkuyudan, Surakarta).

Pembimbing organisasi IPPAPONMAS Ust Ali Muhadaini, Jum’at pagi (16/) kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan mangatakan, sebanyak 350 santri putra dan putri turut berpartisipasi dalam kegiatan tahunan ini.

Bhakti santri IPPAPONMAS, katanya, digelar sebagai wujud mengenalkan dan mendekatkan dunia pesantren pada masyarakat. “Selain itu, bhakti santri ini sebagai bentuk mengamalkan ajaran dan nilai-nilai pesantren yang dekat dengan kehidupan masyarakat,” katanya.

Selama mengikuti kegiatan, para santri akan berbaur dan belajar bersosialisasi dengan masyarakat setempat. Mereka akan mengenalkan nilai-nilai kepesantrenan, seperti kesederhanaan, kemandirian, tolong menolong dan memberi pemahaman cara beragama yang baik sesuai dengan ajaran Ahlusunnah wal-Jamaah.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

IPPAPONMAS merupakan salah satu Organisasi Daerah (Orda) yang bearada di lingkungan Pesantren Tremas Pacitan. Organisasi ini dibentuk pertama kali oleh Alm KH Harits Dimyathi. Setiap bulan Robiul Awwal, IPPAPONMAS menggelar kegiatan bhakti santri dengan berkeliling dari satu Kecamatan ke Kecamatan lain yang ada di seluruh Kabupaten Pacitan.(Zaenal Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Humor Islam, Warta Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 30 Desember 2017

Dikukuhkan, PCNU Sorong Selatan Komit Hidupkan NU di Papua

Sorong Selatan, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sorong Selatan masa khidmah 2015-2020 secara resmi dilantik, Sabtu (13/6), di gedung putih Teminabuan, Papua Barat. Pengukuhan ini menandai tekad pengurus baru untuk lebih aktif menggerakkan NU di Tanah Papua.

Ketua PCNU Sorong Selatan H Muhammad Tawakkal menilai, NU di daerahnya yang berdiri sejak 2005 mengalami kevakuman. “Di tahun ini NU akan kembali berkiprah dalam membawa misi aqidah Aswaja,” ujarnya.

Dikukuhkan, PCNU Sorong Selatan Komit Hidupkan NU di Papua (Sumber Gambar : Nu Online)
Dikukuhkan, PCNU Sorong Selatan Komit Hidupkan NU di Papua (Sumber Gambar : Nu Online)

Dikukuhkan, PCNU Sorong Selatan Komit Hidupkan NU di Papua

Menurut Tawakkal, NU dengan memegang prinsip tawasuth, itidal, tawazun, taawun dalam menjalankan amanah organisasi dan bentuk pelayanan kepada masyarakat. "Tugas NU mengajak, merangkul, ulama maupun dai NU di wilayah Sorsel dalam menghadapi paham radikalisme, seperti pergerakan ISIS, semoga tidak sampai ke negara Indonesia,” tuturnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dalam kesempatan itu, pengurus terlantik di antaranya Muh Khaerul Aziz (Rais Syuriyah), H. Abdul Hakim (Katib), H. Hasan (A’wan), HM. A. Tawakkal (Ketua Tanfidhiyah), Muhammad Latif (Sekretaris), dan Sukandar (Bendahara).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selain penduduk pribumi, sebagian pengurus merupakan warga transmigran. NU didirikan 10 tahun lalu oleh H Abdul Fattah, warga NU asal Maros, Sulawesi Selatan. Prosesi pelantikan disaksikan oleh Sekretaris Lembaga Dakwah PBNU KH Nurul Yakin, Bupati Sorsel Drs Otto Ihalauw, dan Ketua Majelis Kehormatan DPRD Sorsel.

Nurul Yakin menjelaskan, sejak berdiri 1926 NU terus berkomitmen tegak dalam landasan ukhuwah islamiyah (persaudaraan sesame muslim), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sesame bangsa), ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia).

"Keberadaan NU sendiri merupakan organisasi sosial keagamaan yang bertujuan memberikan manfaat dan berkhidmat kepada masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Pemerintah Daerah setempat menyatakan siap bekerja sama dengan NU dalam rangka mewujudkan pembangunan pemerintahan Sorsel. (Zaenal Arifin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Warta, Lomba Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 28 Desember 2017

LDNU Mulai Pendidikan Kader Dai Angkatan III

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pengurus Pusat Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU), Senin (13/5), memulai Pendidikan Kader Dai NU angkatan III di gedung PBNU, Jakarta. Kegiatan secara resmi dibuka Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj.

Pendidikan dai bertajuk ”Mencetak Dai yang Toleran” diikuti sedikitnya 90 perserta dari berbagai daerah dan latar belakang profesi. Selama 6 bulan ke depan, mereka akan dibina beragam materi kedakwahan oleh sejumlah pembimbing kompeten.

LDNU Mulai Pendidikan Kader Dai Angkatan III (Sumber Gambar : Nu Online)
LDNU Mulai Pendidikan Kader Dai Angkatan III (Sumber Gambar : Nu Online)

LDNU Mulai Pendidikan Kader Dai Angkatan III

”Saya sendiri nanti akan mengisi materi sirrah nabawi. Tentang bagaimana dakwah penuh cinta Rasulullah,” kata Said.

 Ketua PP LDNU KH Zakky Mubarak mengatakan, kegiatan yang akan diadakan dari pukul 16.00-20.00 WIB setiap Senin ini didasarkan pada perlunya pengembangan dakwah yang santun dan toleran yang mencerminkan Islam rahmatan lil alamin di masyarakat.

”Masa depan dakwah harus dikelola secara baik dan oleh karena itu perlu dikader,” ujarnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Salah satu alumni Pendidikan Kader Dai NU angkatan I, Shohih Muslim, mengaku gembira dapat mengikuti pembinaan dakwah yang diselenggarakan LDNU. Dirinya merasa mendapatkan banyak pelajaran berharga dari kegiatan ini.

Indra, seorang dokter yang turut menjadi peserta Pendidikan Kader Dai NU angkatan II, menyampaikan hal serupa. Menurut dia, penguasaan dakwah dibutuhkan untuk memotivasi dan berbagi kebaikan dengan para pasiennya dan rekan-rekannya seprofesi.

 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Khutbah, Warta, Fragmen Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 27 Desember 2017

Syekh Azis Maroko dan Habib Luthfy Jelaskan Konsep Bela Negara

Pekalongan, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Syech Azis Al-Kubaithi Idrisi berpendapat, jika ingin membangun negara yang kuat dan beradab harus dimulai dengan membangun manusianya. Kenapa memulai pembentukan Negara dari jiwa warga negara yang sehat secara personal? Karena Allah tidak akan mengubah suatu kaum suatu kaum jika kaum itu sendiri tidak mengubahnya. Untuk mengubah suatu kaum memang harus memulainya dari jiwa masing-masing pembentuk kaum itu.

Syekh Azis Maroko dan Habib Luthfy Jelaskan Konsep Bela Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Syekh Azis Maroko dan Habib Luthfy Jelaskan Konsep Bela Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Syekh Azis Maroko dan Habib Luthfy Jelaskan Konsep Bela Negara

Dikatakan Syech Azis, jika yang sehat adalah jiwa yang memulai dari kesehatan hati (kalbu). Nabi bersabda: "Jika seorang melakukan maksiat, akan muncul satu titik hitam di hati. "Makin banyak maksiat yang ia lakukan, makin hitam pula kalbunya. Apa bahayanya? Jika kalbu makin hitam, maka ia kalbu maridl (sakit) yang sudah gelap dari cahaya kebenaran. Ia kesulitan menerima maupun melakukan amal.?

Hal tersebut dikatakan Syech dari Moroko ini dihadapan ratusan peserta Konferensi Ulama Thariqah yang diselenggarakan Kanzus Shalawat Pekalongan, Jumat (15/1) dengan tema "Bela Negara, Konsep dan Urgensinya Menurut Islam".

Lebih lanjut Syech Azis mengatakan, jika akal terlalu sering dipakai untuk melakukan hal-hal buruk, maka ia akan kian hitam dan gelap. Semakin ia gelap, maka semakin sulit seseorang untuk berpikir waras atau mengontrol dirinya. Jika akal sudah dipenuhi syahwat, dan sulit berpikir waras, seluruh anggota badan akan tunduk dan melakukan keinginan akal. “Tidak hanya itu, akal yang sudah tenggelam dalam gelimang maksiat, maka akan sulit menerima saran, apalagi Nur Illahi,”ujarnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Syech Azis berpesan, apa yang harus dilakukan ketika akal sudah jauh dalam kegelapan seperti ini? Lawan prangka buruk dan meminta perlindungan melalui tadabbur. Dimulai dari husnudzon kepada sesama muslim, kemudian seluruh umat manusia; lantas bertadabbur akan dirinya sendiri. Lalu akal dipakai untuk tadabbur tentang Allah dan sunnatullah. Langkah ini akan memulai pembersihan akal dari kegelapan. Hasilnya adalah akal yang thahir (bersih), yaitu akal yang fana di dalam kesaksian dan hadir dalam kebersamaan.

Beberapa nara sumber lain yang turut memberikan kontribusi pemikiran ialah Syech Adnan Al Afiyuni (Mufti Syafi’yyah Syria), Syech ? Aziz al Idrisi dari Maroko, Syech Aziz Abidin dari Amerika Serikat, Habib Zaid bin Abdurrahman bin Yahya dari Yaman, dan Syech Aun al Qaddumi dari Yordania. Kemudian Syech Umar Hadhrah (Sudan), dan Syech Fadhil (Turki). ?

Bela negara bukan soal militer

Sementara itu, Habib Luthfy bin Yahya dalam penutupan konferensi mengatakan, bela negara bukan soal militer, ini salah persepsi yang terjadi selama ini. Tapi Hanggarbeni (rasa memiliki), mencintai negara, penguatan negara, inilah bela negara.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Kenapa Konferensi Thariqah diselenggarakan? Tidak lain adalah Indonesia biar menjadi contoh dalam hal mencintai negara. Masyarakat Suriah mencintai negaranya, masyarakat Maroko mencintai negaranya, masyarakat Lebanon mencintai negaranya," ujar Rais Am Idaroh Aliyah Jamiyyah Ahlit Thariqah Al Mutabarah An Nahdliyyah (JATMAN) ini.?

Dikatakannya, bela negara tidak hanya di militer, namun ada juga pada mencetak ilmuan, saintis, lewat pendidikan, dan lain lain agar tercipta kedamaian dunia. Kita tahu peta Indonesia. Tapi kita hanya tahu negara ini makmur, subur, tapi tak sedikitpun melihatnya sebagai negara strategis. Kita dari kecil kurang diberi pengertian tentang negaranya sendiri, oleh karenanya semangat membelanya kurang.

Menurut Habib Luthfy, tentara bukanlah instansi terpisah dari masyarakat. Mereka adalah bagian dari warga ini juga. Allah berfirman, kita diciptakan untuk saling mengenal. Tapi tidak sekadar mengenal, melainkan mengenal hingga mengikat satu kesatuan. Satu kesatuan yang membentuk semangat persatuan dalam bangsa, dan mengikat persatuan antar negara di dunia. Semoga keputusan Konferensi Thariqah menelurkan cinta negara adalah wajib, bela negara pun wajib. (Abdul Muiz/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Warta, Pendidikan, Kiai Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 18 Desember 2017

Pemda Subang dan GP Ansor Kompak Lakukan Apel Kebhinnekaan

Subang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Subang mengikuti Apel Kebhinekaan yang digelar oleh Pemerintah Daerah di lapangan alun-alun Subang, Selasa (15/11).

Pemda Subang dan GP Ansor Kompak Lakukan Apel Kebhinnekaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemda Subang dan GP Ansor Kompak Lakukan Apel Kebhinnekaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemda Subang dan GP Ansor Kompak Lakukan Apel Kebhinnekaan

Puncak acara ditandai dengan pembacaan ikrar kebhinekaan yang dibacakan perwakilan masing-masing organisasi masyarakat di hadapan Plt Bupati Subang, Imas Aryumningsih selaku pimpinan apel.

Kegiatan tersebut mengambil tema "Melalui Hikmah Hari Pahlawan ke-71 Tahun 2016 Kita Tingkatkan Kesadaran dan Partisipasi Masyarakat Guna Mewujudkan Persatuan dan Kesatuan NKRI yang Kokoh di Wilayah Kabupaten Subang".

Ketua GP Ansor Kabupaten Subang, Asep Alamsyah Heridinata menegaskan, sebagai bangsa yang memiliki keberagaman yang sangat tinggi, Indonesia sangat berpotensi jika dihadapkan dengan isu-isu sensitif yang mengancam persatuan dan kesatuan.

"Untuk itulah kita bersama jajaran Pimpinan Daerah bertekad bulat menjaga persatuan dan kesatuan bangsa sehingga kita terhindar dari upaya pecah belah," ujar Asep usai apel.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Hal senada diungkapkan Plt. Bupati Subang, Imas Aryumningsih. Menurutnya, potensi disintegrasi bangsa memang ada karena merupakan konsekuensi dari negara besar yang memiliki sedikitnya 1.128 suku bangsa.

"Bukan hanya dari aspek suku bangsa tingkat keberagaman yang di tunjukkan oleh banyaknya agama maupun aliran kepercayaan, namun sekarang tren yang muncul akhir-akhir ini di sejumlah wilayah kecenderungan sebaliknya mulai dari elevasi konflik sosial di berbagai daerah terutama masalah kerukunan antar umat beragama," ujar Imas.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Oleh karena itu, kata Imas, melalui apel besar ini untuk mengingatkan kembali bahwa Kebesaran Bangsa Indonesia dibangun oleh kemajemukan yang telah melalui perjuangan penjajahan selama ratusan tahun.

"Dengan kemajemukan inilah kemudian harus menjadi modal besar dalam pembangunan menciptakan kemajuan bangsa," katanya.

Turut hadir dalam apel besar ini jajaran Musyawarah Pimpinan Daerah(Muspida) diantaranya Ketua DPRD Subang, Beni Rudiono, Kapolres Subang AKBP Yudhi Sulistianto Wahid, Perwakilan Danlanud Suryadarma, Kolonel Pnb Agus, Danskadik Letkol Tek Nanang, Danskwadron Letkol Pnb Tarmuji, Kepala Pengadilan Yuli SH. MH, Kajari Subang, Candra Yahya Welo, Kemenag Subang, H A Sukandar, Dansub Denpom III/3-2, Kapten Cpm Sarn, para kepala Dinas SKPD, para Camat dan tokoh masyarakat.

Dalam acara tersebut ditampilkan keberagamanan Indonesia salah satunya penampilan seni tari oleh seniman Subang. (Ade Mahmudin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Warta, AlaSantri Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 14 Desember 2017

Biar Publik Menilai, Pimpinan Aliran “Sesat” Perlu Diajak Debat Terbuka

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Keberadaan aliran sesat yang menimbulkan keresahan masyarakat memang bisa menimbulkan situasi yang memanas dan mengancam keutuhan bangsa. Untuk membuktikan otentisitas ajarannya, bisa dilakukan debat terbuka dengan keyakinan mayoritas.

Ketua PBNU Masdar F. Masudi berpendapat bahwa debat terbuka ini bisa dilakukan jika upaya lainnya seperti mengajak mereka kembali ke jalan Allah dengan hikmah dan mauidhoh hasanah, persuasi penuh bijak gagal.

“Melalui debat terbuka adu argumentasi secara elegan atau mujadalah billati hiya ahsan, biar publik tahu mana di antara mereka yang lebih kuat argumennya,” katanya.

Biar Publik Menilai, Pimpinan Aliran “Sesat” Perlu Diajak Debat Terbuka (Sumber Gambar : Nu Online)
Biar Publik Menilai, Pimpinan Aliran “Sesat” Perlu Diajak Debat Terbuka (Sumber Gambar : Nu Online)

Biar Publik Menilai, Pimpinan Aliran “Sesat” Perlu Diajak Debat Terbuka

Dikatakannya penyelesaian keyakinan atau faham keagamaan yang dianggap sesat tidak bisa diberangus dengan kekerasan, bahkan tidak juga dengan hukum yang bersifat repressif. Sejauh ini sudah terbukti dari waktu ke waktu, penyelesaian yang dicapai pasti hanya semu dan sesaat.

Menurut Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) ini, debat bisa dilakukan melalui dua tahap, yaitu melalui babak penyisihan sampai babak final.

Pada babak penyisihan, para rasul, nabi dan imam atau yang mewakili pembawa ajaran baru melakukan perdebatan. Nabi pembawa ajaran baru diuji oleh nabi ajaran baru lain yang turun ke bumi persis di belakangnya; begitu seterusnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selanjutnya pada babak kedua atau babak final, perdebatan adalah antara juara tahap penyisihan sebagai penantang berhadapan dengan Jubir dari penganut keyakinan dominan sebagai juara bertahan, katakanlah MUI.  

“Selanjutnya umat sebagai konsumen atau hakim berhak memilih mana yang paling sesuai dengan hidayah Allah yang dibisikkan ke dalam hati masing-masing. Yang penting dalam hubungan dengan sesama, tidak menganjurkan kekerasan terhadap fisik (dam) atau harta (maal) orang lain, yang secara hukum bisa dipidana,“ paparnya.

Dalam hal ini, kewajiban pemerintah atau negara adalah menjamin dengan adil, jangan sampai diantara penganut keyakinan atau agama yang berbeda-beda terjadi aksi kekerasan atas fisik maupun harta benda dan fitnah di antara mereka.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Bagi semua pihak, baik yang kalah maupun yang memenangi perdebatan (mujadalah) Masdar mengingatkan agar mereka harus menyadari bahwa perbedaan agama dan keyakinan merupakan skenario indah dari Allah seperti yang berkali kali dikatakan dan dijelaskan dalam Qur’an, diantaranya dalam surat Al-Baqarah: 113 dan  Al-Maidah: 48 bahwa kebenaran final akan ada di akhirat.

“Yang harus menjadi kepedulian utama setiap umat, baik secara sendiri-sendiri maupun berjamaah, adalah berbuat yang terbaik bagi sesama manusia. Khairun naas anfauhum lin naas/ Yang paling baik di antara manusia adalah yang paling baik bagi sesama, demikian sabda nabi dan rasul sejati, Muhammad SAW,” tandasnya. (mkf)   



Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Warta Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 03 Desember 2017

Belasan Organisasi Temanggung Galang Dana

Temanggung, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Belasan organisasi dan paguyuban yang ada di Kabupaten Temanggung, Jumat (14/2) menggelar aksi solidaritas penggalangan dana untuk korban letusan Gunung Kelud. Puluhan anggotanya memandati sejumlah titik strategis dalam kota untuk menampung sumbangan dari masyarakat.

Belasan Organisasi Temanggung Galang Dana (Sumber Gambar : Nu Online)
Belasan Organisasi Temanggung Galang Dana (Sumber Gambar : Nu Online)

Belasan Organisasi Temanggung Galang Dana

Sejumlah paguyuban yang tergabung dalam aksi solidaritas ini antara lain Komunitas Fotgrafi Temanggung (Koforte), GUSDURian, PC PMII, Kuncen Komunitas Pit Kebo (KKPK), Forum Jurnalis Temanggung (FJT), Snoephuis, Lemontea, Temanggugn Sunday Creative, Mbejujag, Komunitas Temanggung Kreatif, Prabutara, serta sejumlah paguyuban lainnya.

“Ini kami selenggarakan karena kami peduli terhadap mereka, kami bisa merasakan kesedihan dan penderitaan yang mereka alami karena itu. Kita juga memiliki potensi yang sama karena kita dikepung gunung berapi disini,” kata Tafta Zani, 35, salah seorang relawan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Para relawan tersebut disebar di kawasan Terminal Induk Temanggung, perempatan Cekelan, perempatan BCA, Perempatan Prapanca, alun-alun Temanggung, Taman Pengayoman serta kawasan pasar tradisional. “Alhamdulillah respon mereka cukup bagus,” tambah owner Mbejujag ini.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Aksi penggalangan dana sendiri dimulai sekitar pukul 13.30 WIB dari Terminal Induk Madureso. Meskipun gerimis mengguyur daerah penghasil tembakau ini, namun antusiasme puluhan relawan tidak surut. “Kami merasakan dampaknya dengan abu yang tebal meskipun jarak sejauh ini. Kami tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi disana, itu yang membuat kami semangat,” imbuh Keke Meidy Luana Sitalaksmi, anggota Koforte.

Hingga petang kemarin, relawan telah mengumpulkan uang sumbangan dari? masyarakat dan rencananya akan kembali dilanjutkan pada Sabtu dan Minggu ini. Pada Senin mendatang, hasil penggalangan tersebut akan disalurkan kepada korban. “Kami tidak akan menyalurkan langsung, tetapi melalui relawan yang ada disana,” tambah Emilianto Nugroho.

Wakil Bupati Temanggung, Irawan Prasetyadi, yang turut serta dalam kegiatan tersebut menambahkan, pihaknya menyambut baik dengan aksi solidaritas spontan yang dilakukan para relawan di Temanggung. Pihaknya berharap kegiatan seperti ini mampu menumbuhkan solidaritas antar masyarakat.

“Kami dari Pemkab akan menyalurkan bantuan juga kesana, saya justru terkejut ketika ternyata dari komunitas-komunitas ini lebih aktif melakukan penggalangan solidaritas,” tandasnya. (Abaz Zahrotien/Abdullah Alawi )

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Sholawat, Warta, Kajian Islam Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 27 November 2017

Gus Ainun: Banjiri Sanad Keguruan NU di Internet

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Sanad keguruan menjadi ciri khas kalangan nahdliyin dalam menerima ilmu agama. Selain keakuratan ilmu dan kesalehan guru, sanad sangat dibutuhkan. Karenanya, sanad keguruan ini perlu dibaca setiap kali pengajian. Kalau perlu, mata rantai keilmuan itu diunggah di media sosial, website, atau akun-akun pribadi lainnya.

Gus Ainun: Banjiri Sanad Keguruan NU di Internet (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Ainun: Banjiri Sanad Keguruan NU di Internet (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Ainun: Banjiri Sanad Keguruan NU di Internet

“Minta saja kepada para kiai kita. Lalu unggah di website atau blog. Ini sangat dibutuhkan,” kata Gus Ainun Najib yang belakangan namanya mencuat melalui website Kawal Pemilu di Jakarta, Selasa (16/6).

Ainun selama ini resah atas banjirnya ajaran-ajaran agama yang cenderung radikal dan ekstrem di internet. Sementara mereka tidak memiliki sanad yang menyambungkan paham yang mereka ajarkan hingga ke Rasulullah atau ulama yang menulis kitab-kitab rujukan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pada forum Workshop Penguatan Jaringan Anti Radikalisme di Dunia Muda untuk Ulama Muda yang digagas Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Gus Ainun mengapresiasi tingginya pengguna internet di kalangan nahdliyin.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Dengan tingginya angka pengguna, maka sanad-sanad guru agama kita akan semakin tampak pohon besarnya. Mintalah usai mengaji dengan guru-guru kita. Mereka akan memberikannya. Sanad menjadi pertanggungjawaban keilmuan selain validitas ilmu dan kezuhudan guru yang bersangkutan,” kata Gus Ainun yang kini tinggal di Singapura sebagai konsultan teknologi dan informasi.

Menurut Ainun, ilmu agama berbeda dari ilmu pada umumnya. Sanad dibutuhkan antara lain untuk memastikan distorsi informasi keagaman antara penerima dan penyampai ilmu.

Sebagaimana diketahui bahwa ilmu dan orang berilmu pengetahuan mendapat tempat istimewa di kalangan nahdliyin. Kecuali itu, sanad keguruan yang menyambung penerima ilmu dan generasi sebelumnya sangat diperhatikan. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Doa, Warta, Pertandingan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 20 November 2017

8 Tim Tinggalakan Trenggalek, Persaingan LSN Jatim 1 Makin Panas

Trenggalek, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan



Satu per satu tim pesantren peserta Liga Santri Nusantara Region Jawa Timur 1 harus pulang ke kampung halaman meninggalkan kota Kripik, Trenggalek, setelah mereka gagal mempertahankan posisi di babak 16 besar yang digelar Selasa sore (19/9).

8 Tim Tinggalakan Trenggalek, Persaingan LSN Jatim 1 Makin Panas (Sumber Gambar : Nu Online)
8 Tim Tinggalakan Trenggalek, Persaingan LSN Jatim 1 Makin Panas (Sumber Gambar : Nu Online)

8 Tim Tinggalakan Trenggalek, Persaingan LSN Jatim 1 Makin Panas

Mereka yang harus pulang terlebih dahulu adalah kesebelasan Al Fattah Kikil Pacitan, Attarmasi Tremas Pacitan, Al Basmalah Madiun, Roudlotul Huda Magetan, Anharul Ulum Blitar, Mojosari Nganjuk, Raden Paku Trenggalek, dan Darussalam Kediri.

Namun demikian, pertandingan ini membawa kesan tersendiri bagi mereka. Setidaknya mereka sudah berusaha lebih maksimal mempertahankan performa permainan di tengah jadwal pertandingan yang cukup padat. 

Jeda waktu Istirahat yang terbilang singkat menjadikan para pemain harus menghemat tenaga untuk bisa berlaga pada babak selanjutnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dengan demikian, kini tinggal delapan tim yang akan berlaga pada babak 8 Besar LSN yang digelar Selasa pagi (20/9). Tim-tim yang bertahan adalah Darul Ulum Poncol Magetan, Sulaiman Trenggalek, MIA Tulungagung, Daruttaibin Tulungagung, Darul Huda Mayak Ponorogo, Darul Quran Ngawi, Al Basyariyah Madiun, dan Qomarul Hidayah Trenggalek.

Aroma persaingan sepertinya akan semakin panas. Sebab mereka akan unjuk stamina agar bisa memperoleh tiket menuju babak semi-final yang akan digelar sore harinya. 

"Babak ini akan lebih seru, dan persaingannya lebih ketat. sebab ini merupakan penentuan nasib mereka di liga santri 2017," ujar koordinator Region Gus Toev kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan, Selasa malam (19/9) di gedung PCNU.

Pada babak 8 besar ini, seluruh tim siap bermain dengan prinsip fair play. Mereka siap untuk menang dan kalah. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Seperti diketahui, 32 tim pesantren asal Karesidenan Kediri dan Madiun ikut berpartisipasi dalam kompetisi Liga Santri Nusantara Region Jatim 1 yang digelar di Trenggalek. Pelaksanaan kompetisi dinilai lebih baik dari pelaksanaan pada tahun lalu.

"Alhamdulillah selama tiga hari berlangsungnya pertandingan, semua berjalan dengan lancar dan tertib. Para tim juga mengaku  puas," ucap panitia Pelaksana, Khotamil Anam. (Zaenal Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Warta Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 16 November 2017

Fatayat Rembang Turun ke Pelosok Lakukan Baksos dan Layanan Kesehatan Gratis

Rembang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Dalam rangka memperingati Hari Lahir ke-67, Pimpinan Cabang Fatayat Nahdlatul Ulama Cabang Rembang, Jawa Tengah menggelar bakti sosial, di daerah pelosok Dusun Ngotoko Desa Pasedan, Kecamatan Bulu, Rembang, Ahad (23/4) untuk mengadakan pelayanan kesehatan gratis.

Fatayat Rembang Turun ke Pelosok Lakukan Baksos dan Layanan Kesehatan Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat Rembang Turun ke Pelosok Lakukan Baksos dan Layanan Kesehatan Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat Rembang Turun ke Pelosok Lakukan Baksos dan Layanan Kesehatan Gratis

Ketua PC Fatayat NU Rembang Rabiatul Bisyriyah mengaku butuh waktu selama sebulan untuk melakukan persiapan kegiatan tersebut. Mulai dari survei lokasi, menghimpun donasi, hingga mencari bantuan sarana transportasi untuk menuju tempat tersebut medannya cukup ekstrem.

"Bakti sosial kami lakukan, sebagai pembelajaran bagi kita untuk memupuk kepedulian. Kita sadar betul bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya," jelas salah seorang putri Gus Mus ini.

Dipilihnya Dusun Ngotoko sebagai lokasi bakti sosial, karena desa itu berada di wilayah terpencil. Yang lebih mencengangkan lagi, baru dua tahun terakhir teraliri listrik oleh PLN.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Menurut Bisyriyah, kunjungannya di Ngotoko juga untuk kembali mengairahkan aktivitas Fatayat NU di ranting tersebut.

Dengan menggandeng Komunitas Yonet, mereka melakukan kegiatan pemeriksaan kesehatan secara gratis dan pembagian sembako, alat tulis, alat permainan edukatif, mushaf Al-Quran, serta pakaian layak pakai.

"Jalanan dari Pasedan ke Ngotoko, terjal. Berbatu dan lumayan curam. Alhamdulillah, kami dibantu komunitas jeep, sehingga sampai ke lokasi dan bisa melakukan bakti sosial dengan perasaan riang dan gembira. Senang bisa berbagi di Ngotoko," jelasnya.

Pihaknya berharap, kegiatan bakti sosial bertepatan dengan Harlah Fatayat NU yang diperingati tiap tanggal 23 April bermanfaat dan membawa keberkahan. Kegiatan semacam itu pun diharapkannya berlanjut pada masa mendatang. (Ahmad Asmui/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Warta Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Terpilih Jadi Presiden WCRP karena Tak Mau Dicalonkan

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Terpilihnya Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi sebagai salah satu presiden Konferensi Dunia Agama untuk Perdamaian (World Conference on Religion for Peace/WCRP) di Kyoto, Jepang, 25-29 Agustus lalu, ternyata menyisakan cerita menarik. Pemimpin organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia ini terpilih karena tak mau dicalonkan.

Ketua Umum Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP Djohan Effendi yang juga turut dalam pertemuan tokoh-tokoh lintas agama dari seluruh dunia itu menceritakan, sejak awal Hasyim Muzadi memang tak bersedia untuk dicalonkan menduduki jabatan bergengsi yang sebelumnya diisi oleh mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Syafi’i Ma’arif tersebut.

Terpilih Jadi Presiden WCRP karena Tak Mau Dicalonkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Terpilih Jadi Presiden WCRP karena Tak Mau Dicalonkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Terpilih Jadi Presiden WCRP karena Tak Mau Dicalonkan

“Pak Hasyim (Muzadi, red) dari awal memang nggak mau dicalonkan. Menjelang pemilihan, saya telepon beliau untuk meminta kesediaannya, waktu itu beliau sedang ada di Jeddah (Arab Saudi), tetapi juga tetap nggak mau,” ungkap Djohan kepada wartawan di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Senin (4/9). Turut mendampinginya dalam kesempatan tersebut Ketua PBNU Rozy Munir, petinggi ICRP, Siti Musdah Mulia dan Johanes N Hariyanto, SJ.

“Beliau bilang, lebih baik tetap Pak Syafi’i (Ma’arif, red) saja,” terang Djohan menirukan pernyataan Hasyim.

Lantas apa pasal hingga Hasyim tetap didaulat untuk mengemban amanah tersebut? Djohan mengungkapkan, ada beberapa alasan, pertama, karena Syafi’i Ma’arif sendiri juga menolak untuk dicalonkan kembali. “Kalau Pak Syafi’i nggak mau, kesimpulan saya berarti Pak Syafi’i mendukung Pak Hasyim,” tandasnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kedua, menurutnya, dalam etika beragama, barang siapa yang menolak dicalonkan untuk menjadi pemimpin, maka dialah orang yang pantas menduduki jabatan tersebut. Meski dikatakannya ada yang bersedia dan mencalonkan diri, yakni Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin, namun pihaknya tetap menjagokan Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikam, Malang, Jawa Timur itu.

“Maka kami sepakat untuk tetap mencalonkan Pak Hasyim walaupun Pak Din Syamsudin mau mencalonkan diri,” kata Djohan.

Alasan lain yang juga tak kalah pentingnya, imbuh Djohan, karena selain mewakili muslim Indonesia, Hasyim juga merupakan pemimpin ormas Islam terbesar di Indonesia. NU, sebagai komunitas muslim berbasis Sunni terbesar di Indonesia bahkan di dunia, juga menjadi bahan pertimbangan lainnya. “NU sebagai ormas Islam terbesar tentu tidak bisa diabaikan,” tandasnya.

Selain itu, katanya, Hasyim dipilih juga karena kiprahnya dalam upaya pengembangan perdamaian, baik di tingkat nasional maupun internasional. Beberapa waktu lalu, PBNU menggelar Konferensi Internasional Cendekiawan Muslim (International Conference of Islamic Scholar/ICIS). Acara tersebut dihadiri sekitar 300 ulama/cendekiawan muslim dari 53 negara. PBNU juga membantu resolusi konflik di Thailand Selatan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

WCRP adalah organisasi lintas agama yang menghimpun tokoh-tokoh berbagai agama dari seluruh dunia dalam upaya mewujudkan perdamaian dunia. Pada pertemuan itu, hadir 600-an tokoh dari 20 agama dari 100 negara di dunia. Organisasi yang berpusat di Markas PBB, di New York itu didirikan pada tahun 1970.

Beberapa program yang dijalankan adalah menghentikan perang, mengakhiri kemiskinan dan melindungi bumi. Mereka telah berupaya untuk membantu upaya rekonsiliasi di Irak, menjadi mediator dalam perang antar-suku di Sierra Leone serta membantu jutaan anak yang terinfeksi virus HIV di Afrika. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Warta Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 13 November 2017

Kenapa Salafi-Wahabi Sedikit Lagi Jadi Teroris?

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Kekhawatiran terhadap radikalisme dan terorisme yang dilakukan oleh kelompok Salafi-Wahabi memang bisa dilihat dari latar belakang ideologi yang dimiliki kelompok tersebut.

KH Said Aqil Siroj berpendapat, kelompok Salafi-Wahabi memiliki keyakinan, hanya Islam versi mereka saja yang benar, sementara orang di luar mereka sudah dianggap bukan Islam.

Kenapa Salafi-Wahabi Sedikit Lagi Jadi Teroris? (Sumber Gambar : Nu Online)
Kenapa Salafi-Wahabi Sedikit Lagi Jadi Teroris? (Sumber Gambar : Nu Online)

Kenapa Salafi-Wahabi Sedikit Lagi Jadi Teroris?

“Dari situ, mereka beranggapan, kalau bukan Islam maka halal darahnya, boleh dibunuh, tinggal tunggu kapan ada kesempatan, ada kemampuan dan ada keberanian,” katanya.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ia menegaskan tidak mengatakan Salafi-Wahabi itu teroris, tapi ekstrem, tertutup, dan kaku. Kelompok puritan yang menganggap dirinya yang paling benar, yang lain salah. “Walaupun ustadznya mengatakan, jangan melakukan kekerasan, nggak bisa. Kalau mengatakan yang lain salah, yang benar hanya kami, ini sudah membuka pintu bertindak keras dan menghakimi.”?

“Ini menjadikan murid-muridnya yang salah paham gampang sekali menjadi teroris,” tegasnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kesadaran akan bahaya ajaran Salafi Wahabi juga sudah muncul di Timur Tengah. Kementerian Wakaf (Kementerian Agama) Mesir melakukan pemeriksaan di sejumlah masjid di Kairo. Dari pemeriksaan tersebut pemerintah menyita buku-buku yang berbau gerakan Salafi, terutama buku-buku yang ditulis oleh Muhammad bin Abdul Wahab, Ibn Baz, Ibn Utsaimin, Ibn Taimiyah, Said Abdul ‘Adhim, Abdul Latif Mustahri, Abu Ishaq al-Huwaini, Mohammed Hussein Yacoub, dan Mohammed Hassan.

Surat kabar al-Watan pada hari Kamis (25/6), mengatakan bahwa penyitaan buku-buku ini datang setelah sebelumnya pemerintah melakukan penyitaan ratusan buku, kaset dan CD dari masjid “Ummahat Mukminiin”, dan masjid “Tauhid” di BarMasis dan Basbara.

Upaya membendung tindakan kekerasan atas nama agama juga dilakukan pemerintah Tunisia yang berencana menutup 80 masjid yang dinilai menghasut jamaah untuk melakukan tindak kekerasan. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Warta Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 07 November 2017

Politik Identitas Islam di Jawa Barat

Oleh Amin Mudzakkir



Lebih dari sekadar unit administrasi kepemerintahanan, Jawa Barat dibangun di atas elemen-elemen yang kompleks. Tidak hanya secara etnis, tetapi juga agama, kelas sosial, orientasi politik, dan pengalaman sejarah yang berbeda-beda. Relasi di antara kelompok dalam elemen-elemen tersebut selalu berubah mengikuti perubahan konfigurasi kekuasaan. Sekarang, dalam konteks Indonesia pasca Soeharto, konfigurasi kekuasaan itu semakin rumit dan selalu berubah dengan cepat.

Politik Identitas Islam di Jawa Barat (Sumber Gambar : Nu Online)
Politik Identitas Islam di Jawa Barat (Sumber Gambar : Nu Online)

Politik Identitas Islam di Jawa Barat

Salah satu isu yang muncul di Indonesia pasca Soeharto adalah bangkitnya politik identitas dalam skala yang tidak terbayangkan sebelumnya, sehingga seringkali, dalam beberapa kasus, menimbulkan konflik yang membingungkan. Di Jawa Barat, isu mengenai politik identitas sebagian besar berangkat dari meluasnya sentimen agama. Di kalangan Muslim, muncul kelompok-kelompok yang hendak memperjuangkan aspirasinya lewat sejumlah kebijakan publik di tingkat lokal. Untuk beberapa kasus, aspirasi mereka tampaknya berhasil jika dinilai dari lahirnya sejumlah peraturan daerah yang oleh sebagian kalangan disebut sebagai ‘perda syari’ah’.

Akan tetapi, di luar jalur formal tersebut, lahir sejumlah kelompok massa berbasis agama, terutama Islam, yang gencar memperjuangkan aspirasi mereka dengan aksi-aksi jalanan yang sering berujung pada ketegangan. Kelompok-kelompok seperti FPI, MMI, dan FUI, misalnya, seringkali turun ke jalanan menyuarakan aspirasinya, bahkan mereka kadang tak segan untuk menyerang kelompok lain yang dianggap berseberangan dengannya. Dalam konteks masyarakat Indonesia yang plural, apa yang diperlihatkan oleh aksi-aksi kelompok seperti FPI dipandang kaum pendukung pluralisme sebagai ancaman.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Berkaitan dengan fenomena tersebut, Jawa Barat sering menjadi sorotan. Secara historis, kelompok ‘Islam keras’ memang mempunyai jejak panjang di tengah dinamika masyarakat Jawa Barat. Bandung, ibukota Jawa Barat, telah sejak dulu terkenal sebagai kota yang melahirkan pemikir dan organisasi Islam keras. Salah satu yang paling terkemuka adalah A. Hasan dengan Persatuan Islam (Persis). Pada periode dekade-dekade awal abad ke-20, Persis dikenal sebagai organisasi Islam yang secara keras menyerang berbagai tradisi masyarakat Islam yang dianggapnya menyimpang dari Al-Qur’an dan al-Hadits. Bahkan jika dibandingkan dengan Muhammadiyyah, Persis jauh lebih keras dalam hal itu. Akan tetapi, alih-alah berakhir dengan konflik destruktif, kelahiran Persis pada masa itu di Bandung justru melahirkan kontroversi yang lebih konstruktif sifatnya. A. Hasan, misalnya, seringkali terlibat debat panjang dengan sejumlah kyai atau ajengan dari kalangan ‘Islam tradisi’.

Keberadaan ‘Islam tradisi’ di Jawa Barat agak berbeda sejarahnya jika dibandingkan dengan sejawat mereka di tempat lain, katakanlah di Tanah Jawa. Di Tanah Jawa, kalangan Islam tradisi sebagian besar tergabung dalam Nahdlatul Ulama (NU), sementara di Jawa Barat, kalangan Islam tradisi tersebar di beberapa organisasi. Selain NU, ada organisasi lain seperti Persatuan Umat Islam (PUI) yang didirikan KH Abdul Halim. Pengaruh NU di Jawa Barat terutama terkonsentrasi di Tasikmalaya dan Cirebon, paling tidak, jika dilihat dari capaian Partai NU pada Pemilu 1955. Akan tetapi, sekarang, fakta-fakta mengenai peta persebaran kelompok-kelompok Islam di Jawa Barat tentu saja harus dibaca ulang.

Khusus mengenai Bandung, kota ini menyimpan beberapa paradoks yang menarik. Kalau dikaitkan dengan isu pluralisme, terutama yang menyangkut keberadaan kelompok-kelompok ‘Islam keras’, Bandung memperlihatkan dua sisi yang saling bertolak belakang. Pada satu sisi, Bandung telah sejak lama terkenal sebagai kota pelesir; masyarakat Kota Bandung sangat gemar dengan apa yang dalam konteks mutakhir disebut ‘budaya pop’. Sementara itu, di sisi lain, Bandung menjadi tempat yang kondusif untuk tumbuh dan berkembangnya kelompok-kelompok ‘Islam keras’.

Sampai tingkat tertentu, paradoks di atas tampaknya hanya bekerja di permukaan, karena, berdasar beberapa pendapat yang berkembang di kalangan masyarakat Bandung, terdapat struktur lain yang sebenarnya mempunyai pengaruh penting terhadap pembentukan identitas kota Bandung. Struktur lain itu adalah keberadaan pusat-pusat dan barak-barak militer di hampir seluruh penjuru Kota Bandung. Kepentingan militer jelas berorientasi pada stabilitas. Latar belakang ideologi tidak menduduki tempat puncak dalam hierarki kepentingan militer. Ketika kota-kota lain dipusingkan oleh konflik-konflik komunal yang terjadi di sekitar kejatuhan Orde Baru, Bandung adalah kota yang relatif aman tanpa gejolak serius.

Sorotan terhadap Jawa Barat yang dianggap tempat persemaian kelompok-kelompok ‘Islam keras’ memang mempunyai preseden sejarah yang kuat. Salah satu momen historis yang dalam konteks pasca Orde Baru menjadi penting adalah peristiwa pemberontakan DI/TII pada 1950an. Oleh para pendukung apa yang disebut ‘perda syrai’ah’ peristiwa ini dipandang sebagai preseden yang menunjukan bahwa ide dan aspirasi mengenai ‘negara Islam’ mempunyai akar dalam sejarah masyarakat Jawa Barat. Pendukung ide dan praktik ‘perda syari’ah’ di Tasikmalaya, misalnya, sering menggunakan argumen ini untuk mendasari perjuangan politiknya.

Kalau hendak ditelusuri lagi, perjumpaan ‘Sunda’ dan ‘Islam’ adalah wacana historis yang menunjukan bahwa Islamisasi adalah sebuah gerakan yang nyaris berhasil di Jawa Barat. Paling tidak, selain tidak ditemukan preseden yang memperlihatkan konflik fisikal selama gerakan Islamisasi awal berlangsung, fakta sosiologis menunjukan bahwa apa yang dalam konteks masyarakat Jawa disebut ‘sinkretisme’ ternyata tidak menemukan bentuknya di Tanah Sunda. Argumen ini, sampai tingkat tertentu, memang bersifat esensialis, seolah-olah ‘Islam’ dan ‘Sunda’ adalah dua entitas yang tunggal. Dari sisi yang lain, fakta sosiologis mengenai absennya sinkretisme dalam tradisi Sunda bisa dibaca sebagai bentik ‘ketidakjelasan ideologis’ dalam wacana kesundaan. Dapat dikatakan, kemudian, Islam adalah faktor terpenting yang membentuk identitas kesundaan, sebelum akhirnya Sunda harus berhadapan dengan wacana lain, yaitu modernitas Barat.

Argumentasi di atas dapat digunakan untuk memahami kosmopolitanisme kehidupan sosial kota-kota di Jawa Barat, terutama Bandung. Penjelasan lain sebenarnya datang dari analisis ekonomi-politik. Sejak masa kolonial, kota-kota di Jawa Barat adalah tempat tumbuhnya industrialisasi. Apalagi ditambah dengan kedekatan geografis dengan pusat kekuasaan di Batavia, lalu Jakarta dalam konteks pasca kolonial, kehidupan kota-kota di Jawa Barat didominasi oleh citra kelas menengah urban yang amat dipengaruhi budaya modern. Dari sudut pandang ini, afiliasi orang Sunda terhadap Islam sebenarnya terkait dengan ‘struktur kesempatan’ yang disediakan jaringan Islam bagi pertumbuhan ekonomi kelas menengah.

Karakter kelas menengah yang kosmopolit pada satu sisi, tetapi tetap menyisakan ambiguitas pada sisi lain, bisa ditemukan dalam wacana kebudayaan yang mendominasi ruang publik kota Bandung. Oleh karena itu, terutama di kalangan kaum muda, eksistensi kelompok-kelompok Islam keras di Kota Bandung tidak menimbulkan kekhawatiran berlebihan. Bagi mereka, Bandung adalah kota yang terlalu kosmopolit untuk ditundukkan di bawah satu identitas, apalagi yang sifatnya inward looking. Mereka tampak tidak terlalu peduli dengan isu-isu yang menyangkut identitas primordial. Identitas mereka sebagian besar dibangun di atas landasan popular culture yang sifatnya hibrid.

Sementara itu, Cirebon adalah pusat kota Jawa Barat bagian utara yang sebenarnya tidak masuk dalam wilayah kebudayaan Sunda. Selain itu, pengalaman sejarah masyarakat Cirebon berjalan melalui garis yang agak berbeda dengan sebagian besart garis sejarah masyarakat Jawa Barat lainnya. Secara budaya, Cirebon jelas menjadi bagian dari wilayah kebudayaan Jawa versi Cirebon—Jawa Cirebonan. Jika dilihat dari pusat kebudayaan Jawa di Jogja dan Solo, Cirebon adalah pinggiran. Fakta kebudayaan ini, sampai tingkat tertentu, paralel dengan orentasi politik dan konfigurasi kelompok-kelompok agama di Cirebon.

Khusus untuk konteks masyarakat Islam, Cirebon adalah bagian dari peta kultural Islam Jawa yang didasarkan pada persebaran jaringan pesantren. Koneksi pesantren-pesantren di Cirebon dengan sejawat mereka di Tanah Jawa jelas jauh lebih intensif jika dibanding dengan pesantren-pesantren di Tanah Sunda. Oleh karena itu, orientasi kelompok-kelompok Islam di Cirebon sebagian besar dipengaruhi model kepemimpinan kyai-kyai pesantren. Akan tetapi, bagaimanapun juga, perubahan-perubahan yang terjadi pasca Orde Baru merupakan faktor yang seringkali mengejutkan, sehingga pemetaan-pemetaan lama seperti ditulis di atas menjadi tidak memadai lagi.

Dalam konteks isu pluralisme, Bandung dan Cirebon adalah dua entitas yang mempunyai karakter bebeda. Selain argumen-argumen berdimensi jangka panjang sebagaimana telah ditulis di atas, terdapat ‘faktor-faktor jangka pendek’—kalau meminjam istilah Gerry van Klinken—yang mempengaruhi wacana komunalisme di Indonesia pasca Orde Baru. Jika ancaman terhadap pluralisme diandaikan datang dari eskalasi politik identitas berbasis komunalisme (terutama, agama dan etnisitas), pemahaman terhadap apa saja yang termasuk faktor-faktor jangka pendek dan bagaimana mereka bekerja merupakan pertanyaan penting yang harus dijawab segera.

Penulis adalah peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)



Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Warta Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock