Tampilkan postingan dengan label Daerah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Daerah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Maret 2018

Ketua PBNU: Perlu Pemetaan Kaderisasi PMII

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Ketua PBNU Juri Ardiantoro mengatakan, orientasi kaderisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) harus diperluas, tidak hanya sekadar menambah jumlah kader, tapi menambah bobot atau kualitas kader.?

“Bobot kader juga harus diperluas tidak hanya sekadar menghiasi dunia politik, tapi dunia profesional. PMII harus mulai menyiapkan kader-kader untuk mengambil peran di wilayah itu,” katanya selepas menghadiri peringatan Harlah ke-57 yang digelar Pengurus Besar PMII di Jakarta pada Senin malam (17/4).

Untuk tujuan itu, Juri mengusulkan agar PMII melakukan pemetaan potensi kader dan pemetaan berdasar keunikan kader di tiap-tiap daerah.?

Ketua PBNU: Perlu Pemetaan Kaderisasi PMII (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua PBNU: Perlu Pemetaan Kaderisasi PMII (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua PBNU: Perlu Pemetaan Kaderisasi PMII

“Jadi, kaderisasi tak harus mesti sama seluruh daerah di seluruh Indonesia. Pada hal-hal yang sangat prinsip seperti tata, nilai, ideologi memang harus sama. Tapi pada konteks pengembangan kader dan penyiapan kepemimpinan ya harus memperhatikan karkater atau keunikan daerah,” jelasnya.?

Sehingga, lanjut mantan Ketua Komisi Pemilihan Umum Pusat itu, kader PMII di daerah tidak harus semua ke jakarta. “Itu PR PMII k depan,” tegasnya.

Ia menambahkan, untuk tujuan itu, selain pemetaan kader, PMII juga harus melakukan penguatan kelembagaan. (Abdullah Alawi)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Pondok Pesantren, Daerah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 22 Februari 2018

Lailatul Ijtima’ Pertemukan Generasi Muda NU dengan Sesepuh

Makassar, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Kamis (6/2) tadi malam, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan mengadakan lailatul ijtima, pertemuan malam hari warga NU yang diisi berbagai kegiatan. Kali ini giliran di kediaman Bendahara NU Sulsel H Anwar Kadir.

Lailatul Ijtima’ Pertemukan Generasi Muda NU dengan Sesepuh (Sumber Gambar : Nu Online)
Lailatul Ijtima’ Pertemukan Generasi Muda NU dengan Sesepuh (Sumber Gambar : Nu Online)

Lailatul Ijtima’ Pertemukan Generasi Muda NU dengan Sesepuh

Sebelumnya lailatul ijtima’ telah dilaksanakan dikediaman KH Abdurrahman, salah satu Mustasyar dan mantan Ketua Tanfidziah NU Sulsel, yang kedua di kediaman Ketua Tanfidziyah H Iskandar Idy, yang ketiga dikediaman Agus Arifin Numang Wakil Gubernur Sulsel sekaligus Mustasyar NU Sulsel.

Dalam sambutan Ketua Tanfidziah, tradisi lailatul ijtima selain mempererat silaturrahim sesama warga nahdliyin, terutama antara ulama sepuh dengan pengurus, dan antra generasi muda NU dengan para sesepuh. “Lailatul ijtima ini merupakan tradisi Ulama NU di Sulsel,” katanya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Hal senada disampaikan oeh H Anwar Kadir sebagai tuan rumah. Selain itu, lailatul ijtima’ yang tiada lain adalah silaturrahim berfungsi memperpanjang umur, dan memberikan keberkahan.

Pada malam lailatul ijtima ke-4 ini, taushiyah dibawakan oleh Rais Syuriyah PWNU Sulsel Anregutta H Sanusi Baco. Dalam tausiahnya Gurutta menjelaskan bagaimana pentingnya menjalin silaturrahim, menjaga shalat dan menjelaskan sejarah pemikiran Ahlussunnah wal Jama’ah. (Andy M. Idris/Anam)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Doa, Nahdlatul, Daerah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 18 Februari 2018

Rayon Fisip PMII UIN Sunan Gunung Djati Terbentuk

Bandung, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Simposium Pergerakan dan Rapat Pembentukan Rayon (RPR) Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat UIN Sunan Gunung Djati Cabang Kabupaten Bandung, Sabtu Malam (27/9), membuahkan hasil, yaitu terbentuknya Rayon PMII baru dengan ketua terpilih, Pahlawan Goal.

Menurut Ketua Pengurus Komisariat PMII UIN SGD Bandung Pengkuh Bina menuturkan bahwa kehadiran Rayon Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) sangat dibutuhkan untuk menampung para kader yang kurang diakomodir.

Rayon Fisip PMII UIN Sunan Gunung Djati Terbentuk (Sumber Gambar : Nu Online)
Rayon Fisip PMII UIN Sunan Gunung Djati Terbentuk (Sumber Gambar : Nu Online)

Rayon Fisip PMII UIN Sunan Gunung Djati Terbentuk

Fakultas ilmu sosial dan Ilmu Politik secara resmi didirikan pada tahun 2012 sedangkan gedung perkuliahan diresmikan pada 2013 oleh Mentri Agama. Sehingga masing – masing jurusan yang sekarang berada di bawah naungan Fisip berasal dari fakultas yang berbeda-beda.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Jurusan Sosiologi berada di Fakultas Ushuluddin; Administrasi Negara dan Manajemen berada di Fakultas Syariah dan Hukum yang akhirnya para kader saling terpisah,” ujarnya kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan.

Pengkuh berharap terbentuknya rayon fisip bisa menyatukan para kader PMII yang terpisah dan turut andil dalam semua kebijakan-kebijakan birokrasi kampus.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Semoga Rayon FISIP bisa memberikan sebuah warna tersediri di kampus UIN Bandung, karena kampus UIN adalah milik bersama, dan juga bisa mensterilkan asumsi-asumsi buruk yang dilontarkan sebagian pihak kepada PMII, karena sebetulnya orang-orang seperti itu iri hati karena tidak bisa melakukan seperti PMII lakukan,” tegasnya.

Acara RPR ini berlangsung pukul 20.00 sampai 04.00 bertempat di Gedung PWNU Jawa Barat, Jalan terusan Galunggung 6, Kota Bandung. Dalam waktu dekat Rayon PMII baru ini akan mengadakan Rapat Kerja. (Bakti Habibie Yasin/Mahbib)





Foto: Ketua Pengurus Komisariat PMII UIN SGD Pengkuh Bina sedang menyampaikan kata sambutan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Daerah, Pertandingan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 06 Februari 2018

NU Tak Pernah Absen Bela Pancasila dan NKRI

Jakarta,Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Anggota DPR RI Zainut Tauhid Saadi mengatakan, dalam perjalanan sejarah negara ini, Nahdlatul Ulama tidak pernah absen di dalam membela dan mempertahankan NKRI dan Pancasila.

NU Tak Pernah Absen Bela Pancasila dan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Tak Pernah Absen Bela Pancasila dan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Tak Pernah Absen Bela Pancasila dan NKRI

Hal itu, menurut politikus Partai Persatuan Pembangunan tersebut, karena pada proses kelahiran Pancasila, tokoh-tokoh NU terlibat di dalamnya. “Salah satu anggota tim 9 adalah putra Hadrotusy Syekh KH Hasyim Asy’ari, yaitu Wahid Hasyim,” katanya di gedung PBNU Kamis (16/6) pada sosialisasi empat pilar yang diselenggarakan Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama.

Lebih lanjut Ketua Umum Pimpinan Pusat IPNU dua periode 1988-1992 dan 1992-1996 tersebut menyebutkan, Indonesia membutuhka Pancasila sebagai alat perekat dan pemmersatu bangsa.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Menurut dia, Indonesia adalah negara besar yang memiliki sekitar 18 ribu pulau, ratusan bahasa, suku, 6 agama rsmi. “Artinya kemajemukan bangsa yang sedemikian rupa membutuhkan satu piranti untuk mepersatukan seluruh bangsa indonesia. Apa pirantinya?”

Itulah kemudian dirumuskan oleh para pendiri republik Indonesia yang disebut Pancasila. Nama tersebut dinamakan Bung Karno pada 1 Juni 1945. (Abdullah Alawi)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Daerah, Jadwal Kajian, Aswaja Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 04 Februari 2018

Bupati Apresiasi Pengabdian Pemuda NU di Way Kanan

Way Kanan, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pj Bupati Way Kanan Provinsi Lampung, Albar Hasan Tanjung, di Blambangan Umpu, Jumat (25/12) mengaku bangga dengan pemuda Nahlatul Ulama (NU) di daerah yang dipimpinnya.

Bupati Apresiasi Pengabdian Pemuda NU di Way Kanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Apresiasi Pengabdian Pemuda NU di Way Kanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Apresiasi Pengabdian Pemuda NU di Way Kanan

"Saya bangga Barisan Ansor Serbaguna atau Banser mengawal, menjaga, mempersatukan, menjadi perekat satu sama lain. Saya bangga Banser bergerak bukan hanya untuk NU dan Ansor," ujar Albar.

Sekecil apapun yang diperbuat manusia, lanjutnya, akan kembali pada diri sendiri. "Kita mau jadi apa asal fokus dan bersama, kita bisa. “Saya bangga ? Ansor dan NU setia berbuat untuk bangsa. Meningkatkan kualitas diri mereka untuk bisa dirasakan manfaatnya bagi orang disekitarnya," ujar dia lagi.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Albar pada Kamis (24/5) membuka Pendidikan Kepemimpinan Dasar (PKD) Ansor IV dan Pendidikan serta Pelatihan Dasar (Diklatsar) IX Barisan Ansor Serbaguna (Banser) di Way Kanan yang digelar di Masjid Al Muhajirin, Kampung Bumi Baru, Kecamatan Blambangan Umpu yang saat ini sedang dirintis menjadi Pondok Pesantren Riyadlotut Thullab. Kegiatan digelar melalui Pimpinan Ranting Kampung Bumi Baru Kecamatan Blambangan Umpu itu diikuti 109 peserta.

Berkaitan dengan kaderisasi, Ketua PC GP Ansor Way Kanan, Gatot Arifianto didampingi Kasatkorcab Banser, Alex Almukmin menyampaikan hormat pada kader muda NU di Kampung Bumi Baru yang hanya berjumlah sepuluh orang namun bisa mempersiapkan pra kegiatan dengan baik.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Terima kasih juga untuk calon anggota Pemuda Ansor yang Insyaallah akan menjadi masa depan negara melalui NU," kata Gatot.

Hadir pada pembukaan kegiatan Ansor Wakapolres Kompol Henggar Teguh Wahono, Ketua Perbakin Way Kanan Radin Djambat, Shooting Club Merky Defrienc beserta jajaran, Ketua NU KH Nur Huda, Ketua MWCNU Blambangan Umpu Ustad Abdul Aziz, Ketua MWCNU Negeri Agung Ustad Muhajir, Ketua Lembaga Dakwah NU (LDNU) Way Kanan Ustadz Abdul Rokhim, Sekretaris dan Wakil Ketua Dewan Penasehat PC GP Ansor Way Kanan, Supri Iswan dan Syahrul Munir.

"Terima kasih dan hormat juga kami sampaikan kepada Kiai Imam Murtadlo Pengasuh Pondok Pesantren Assidiqiyah 11 yang jauh-jauh berkenan hadir menengok kegiatan kami, kami kira ini penghargaan dan apresiasi dahsyat dari para pemangku kebijakan, ulama dan senior kepada PC GP Ansor Way Kanan," ujar Gatot lagi pada kegiatan yang didukung sejumlah pihak, seperti HIPSI Lampung, Pergunu, PGRI Way Kanan, Yayasan Shuffah Blambangan Umpu. (Syuhud Tsaqafi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Fragmen, Khutbah, Daerah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sabtu, 03 Februari 2018

Jelang Pileg, Warga NU Diimbau Jaga Kerukunan

Rembang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Menjelang pemilihan legislatif 2014, warga NU diimbau untuk tetap menjaga kerukunan. Hal tersebut disampaikan Wakil Bupati Rembang H Abdul Hafidz dalam peringatan haul Syaikh Rozzak Saifullah dan Syaikh Absdul Rahman bin Ali Imron di Desa Mojorembun, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Jumat (14/2) sore.

Jelang Pileg, Warga NU Diimbau Jaga Kerukunan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Pileg, Warga NU Diimbau Jaga Kerukunan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Pileg, Warga NU Diimbau Jaga Kerukunan

Menurut dia, jelang Pileg, pertikaian antarwarga rentan terjadi karena berbeda pilihan politik. Abdul Hafidz juga mengajak, masyarakat tetap menentukan pilihan meski tidak menerima uang saku saat hendak mencoblos.

Hafidz juga mengajak masyarakat untuk menghindari politik uang, untuk menentukan pemimpin agar lebih netral. Jika tidak bisa, Hafidz menganjurkan mereka bisa saja merima uang tetapi pilihan tetap sesuai hati nurani. Pasalnya, memberikan amanah kepada pemimpin yang tidak amanah, kata pengurus Nahdlatul Ulama itu, merupakan perbuatan dosa.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Alangkah lebih mulianya masyarakat jika tidak mau menerima money politic, yang sering menggoyangkan pilihan di saat pemilihan legeslatif,” kata Hafidz.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Di sela pengajian yang dihadiri ribuan warga Mojorembun dan sekitarnya itu, wakil bupati rembang juga mengaku prihatin atas rusaknya jalan sepanjang Kaliori hingga menuju arah Kecamatan Sumber, Rembang.

Hafidz ikut merasakan kerusakan jalan yang sudah terjadi sejak tahun 2013 lalu itu, hingga kini belum ada penanganan lagi. Tetapi, hafidz dihadapan para hadirin berjanji akan membangun jalan yang rusak, akhir bulan Juli, jalan yang rusak di Kaliori sudah terselesaikan. Pihaknya telah menyiapkan anggaran tujuh miliar untuk mengatasi hal ini. (Ahmad Asmu’i/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Daerah, Kiai, Jadwal Kajian Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kamis, 01 Februari 2018

Menag Minta Tunjangan Guru Madrasah Masuk RAPBN 2007

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Menteri Agama (Menag) Maftuh Basyuni berharap pemberian tunjangan fungsional bagi guru honorer madrasah sebesar Rp 200 ribu per bulan untuk setiap guru dimasukkan dalam RAPBN 2007.

Usulan tersebut telah disampaikan kepada Komisi VIII DPR, Menteri Keuangan, Menneg PPN/Kepala Bappenas pada 3 November 2006. Namun, karena alasan pagu anggaran yang diterima Depag tahun 2007 terbatas, usulan tersebut urung terakomodasi dalam RAPBN 2007.

Menag Minta Tunjangan Guru Madrasah Masuk RAPBN 2007 (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag Minta Tunjangan Guru Madrasah Masuk RAPBN 2007 (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag Minta Tunjangan Guru Madrasah Masuk RAPBN 2007

"Kami sangat mengharap perhatian dan dukungan semua pihak untuk penambahan pagu anggaran, sehingga tidak ada lagi perlakuan diskriminatif bagi guru honorer di madrasah," harap Maftuh dalam raker dengan PAH III DPD, di Gedung DPD, Senayan, Jakarta, Selasa (21/11).

Dijelaskan dia, berdasar UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen diamanatkan adanya peningkatan kesejahteraan guru dan dosen. Selain itu, langkah ini diambil untuk meningkatkan kesejahteraan guru honorer, baik yang mengajar di madrasah negeri maupun swasta, yang selama ini bergaji minim di bawah UMR.

"Sesuai dengan usulan Depdiknas yang telah mengalokasikan tunjangan di APBN 2007 untuk guru honorer, Depag juga telah mengirim surat tanggal 3 November untuk memberi tunjangan fungsional sebesar Rp 200 ribu," kata mantan Dubes RI untuk Arab Saudi ini.

Saat ini, tambahnya, jumlah guru honorer swasta yang berada di Depag sebanyak 556.418 guru. Sementara, guru yang mengajar di madrasah negeri sebanyak 89.902 guru.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sesuai PP Nomor 48 Tahun 2005 tentang Tenaga Honorer, Depag telah melakukan pendataan dan pemprosesan untuk pengangkatan guru honorer menjadi CPNS sebanyak 54.364 orang. Sementara sisanya masih belum terakomodasi.

Di tahun 2006 ini, Depag memperoleh formasi pengangkatan tenaga honorer menjadi CPNS per 1 Oktober 2006 sebanyak 19.529 orang, yang terdiri dari 12.907 guru, 271 dosen, dan 4.251 pegawai lainnya.

Sisanya sebanyak 41.457 guru honorer akan diangkat secara bertahap paling lambat 2009. (dtc/rif)

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Daerah, Hikmah, Warta Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 29 Januari 2018

Modal Utama bagi Penulis

Kepulauan Riau, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan



Mampu melihat, mendengar, dan merasakan dengan baik, adalah modal utama bagi penulis.

Hal itu disampaikan Sulton Yohana pada kegiatan Klinik MeNUlis yang diselenggarakan kader Muda NU Kepulauan Riau, Ahad (15/10).

Modal Utama bagi Penulis (Sumber Gambar : Nu Online)
Modal Utama bagi Penulis (Sumber Gambar : Nu Online)

Modal Utama bagi Penulis

Penulis dan mantan wartawan yang saat ini bermukim di Singapura tersebut, mengatakan ilmu baku menulis yang diperoleh di sekolah formal bukan satu-satunya cara dapat menulis dengan baik.

“Penulis-penulis hebat saat ini, banyak mendapatkan ide menulis justru dari banyak jalan-jalan dan nongkrong,” katanya.

Sulton menceritakan saat nongkrong dan jalan-jalan, dirinya mengamati, merasakan, dan menghayati lingkungan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Maka tulisan akan jujur dan sama dengan yang dirasakan pembaca," paparnya.?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sulton berpendapat bahwa kader muda NU harus menyesuaikan dengan zaman. Saat ini menurutnya, teknologi telah menguasai seluruh sendi kehidupan manusia, sehingga jika tidak meng-upgrade kemampuan, akan tertinggal oleh zaman.

"Saya lahir dan dibesarkan dalam lingkungan NU di Singosari Malang. Tetapi saya agak prihatin karena akhir-akhir ini begitu masifnya serangan-serangan kepada NU secara organisasi, dan kepada kiai-kiai NU,” ungkap Sulton.

Menurutnya adanya serangan tersebut tidak banyak yang dapat diperbuat.

“Karena kita tidak menguasai dan memanfaatkan teknologi untuk mengcounter itu semua. Maka sangat pas jika ini (pelatihan) dilaksanakan" ujar Sulton.

Pelatihan menulis yang diinisiasi oleh pemuda-pemuda NU non struktural ini, merupakan salah satu upaya agar generasi NU selain dapat mengaji, juga mampu menjadi tameng organisasi dan ulama di era seperti saat ini.

"Dari pelatihan ini kita harapkan dapat tercetak generasi yang tidak mudah termakan berita hoax, generasi yang dapat mengcounter berita miring yang menyerang ulama dan organisasi NU" ujar Nur Fahmi Magid, salah satu inisiator Klinik MeNUlis ini.

Peserta pelatihan ini nantinya diharapkan dapat memberikan kontribusi terbentuknya Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan di Kepri.

"Dari pelatihan ini kami sangat berharap agar peserta ikut membidani lahirnya media NU berbasis Online di Kepri. Dengan demikian, warga NU di Kepri memiliki bacaan dan rujukan yang relevan. Tentu saja hal ini harus kita komunikasikan dengan jajaran PW dan PC NU di Kepri" tambah Magid.

Pelatihan Klinik MeNUlis nantinya akan dilaksanakan secara berkesinambungan.

"Ini (pelatihan) adalah sesi pertama untuk gelombang satu. Tiap gelombang nanti akan ada 3 sesi dan masing-masing sesi akan di isi oleh mentor berbeda-beda," terang Khoirul Anam, panitia pelaksana.

Pada gelombang pertama diikuti oleh 34 peserta dari internal warga NU di Kepri.?

"Ke depan, peserta tidak hanya terbatas pada pemuda-pemuda NU saja,? tetapi kami mengajak pemuda-pemuda lintas suku dan lintas keyakinan untuk bergabung bersama-sama perang melawan hoax melalui pelatihan seperti ini" pungkas Khoirul Anam. (Sularno Menot/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Daerah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 19 Januari 2018

Gus Mus: Poligami Menjadi Modus Pencucian Uang

Rembang, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Modus pencucian uang hasil korupsi di Indonesia semakin beragam, mulai digunakan untuk membeli mobil mewah, rumah milyaran rupiah hingga poligami.

Gus Mus: Poligami Menjadi Modus Pencucian Uang (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Poligami Menjadi Modus Pencucian Uang (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Poligami Menjadi Modus Pencucian Uang

Hal itu disampaikan oleh Wakil Rais Aam PBNU KH Mustofa Bisri, Jumat pagi (20/12), di hadapan jamaah pengajian rutin setiap Jumat, di aula Pondok Pesantren Raudhotut Tholibien Leteh Rembang.

Gus Mus mengatakan, para koruptor sekarang tidak pernah menyimpan uang di rumah, pasalnya modus seperti itu, sudah banyak diketahui oleh penyidik anti korupsi.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Para pelaku korupsi kebanyakan menggunakan uang hasil korupsi untuk membeli mobil, rumah hingga diatasnamakan istri mereka yang jumlahnya lebih dari satu,” kata Gus Mus.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Namun penyidik anti korupsi, lanjut Gus Mus, semakin jeli, sehingga modus seperti itu dapat terdeteksi dan tertangkap.

Lebih jauh Gus mus menambahkan, tak jarang para koruptor mengalihkan harta benda hasil korupsi mereka atas nama, sopir, pembantu dan orang lain, supaya tidak terendus petugas.

Kiai sastrawan itu  berpesan, sebagai orang muslim, banyaklah bersyukur, dan amanah sehingga selamat dunia dan akhirat. (Ahmad Asmu’i/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Kajian, Daerah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 17 Januari 2018

Hukum Berobat Kepada Non-Muslim

Setiap orang pasti butuh pengobatan. Tidak ada manusia di dunia ini yang terbebas dari penyakit. Sebagian besar orang pasti pernah sakit, apakah itu penyakit ringan atau berat. Dengan kemajuan teknologi dan pengetahuan, alternatif pengobatan pun semakin banyak: bisa datang kepada pengobatan tradisional atau pengobatan modern. Tinggal pilih saja mana yang dirasa nyaman dan biayanya terukur.

Pengobatan yang ada di Indonesia tidak semua tabib atau dokternya Muslim. Malah bagi sebagian orang, mereka lebih percaya dan nyaman berobat dengan non-Muslim ketimbang dokter Muslim. Ada banyak hal yang membuat mereka tertarik dengan dokter non-Muslim, bisa jadi pengobatannya lebih bagus, profesional, dan lain-lain.

Hukum Berobat Kepada Non-Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Berobat Kepada Non-Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Berobat Kepada Non-Muslim

Ibnu Hajar Al-Haitami pernah ditanya soal ini, bagaimana hukum Muslim berobat kepada non-Muslim atau sebaliknya. Dalam Al-Fatawa Al-Fiqhiyyah Al-Kubra, ia menjelaskan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Artinya, “Muslim dibolehkan mengobati orang kafir, meskipun kafir harbi sebagaimana dibolehkan bersedekah kepada mereka, atas dasar perkataan Rasulullah SAW bahwa setiap kebaikan ada balasan. Sebaliknya, Muslim dibolehkan berobat kepada orang kafir dengan syarat tidak ada orang Islam yang mampu mengobati penyakitnya dan orang yang mengobatinya dapat dipercaya, serta tidak akan berbuat jahat.”

Ibnu Hajar membolehkan Muslim mengobati non-Muslim secara mutlak. Sementara Muslim yang berobat kepada non-Muslim dibolehkan bila tidak ada dokter Muslim dan bisa dipercaya. Persyaratan ini dibuat untuk kehati-hatian. Kalau memang dokter non-Muslimnya baik dan sudah berpengalaman dalam mengobati banyak orang, termasuk Muslim, tidak ada masalah untuk berobat dengannya.

Apalagi dalam konteks Indonesia, setiap pengobatan atau rumah sakit harus minta izin dulu kepada negara sebelum buka praktiknya. Izin ini bertujuan agar pemerintah bisa menilai apakah pengobatan tersebut memenuhi standar ilmiah, kesehatan, dan tidak merugikan publik. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Warta, Daerah, Sholawat Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 16 Januari 2018

Sukses di Bidang Agama, NU Jangan Abaikan Ekonomi

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan
Gerakan NU yang dimulai pada tahun 1926 telah berhasil mengembangkan dakwah dalam bidang keagamaan, mendirikan berbagai pesantren yang telah menyebar ke seluruh Indonesia. NU juga pernah menjadi partai politik dan mendirikan partai politik, namun NU masih harus berjuang dalam mengembangkan ekonomi ummat.

“Nahdlatut Tujjar yang merupakan bagian cari cikal bakal berdirinya NU merupakan gerakan ekonomi. Karena itu, NU harus kembali ke semangat awalnya ini,” tandas sekretaris Lakepesdam Yahya Maksum (6/6).

Basis NU sebagian besar terdiri dari petani dan nelayan yang hidup di pedesaan Jawa Timur dan Jawa Tengah dan daerah pantai pesisir utara, Cirebon dan lainnya. Jika mereka tidak berdayakan NU akan tetap terpinggirkan.

Yahya berpendapat dalam hal ini, lembaga-lembaga NU yang membidaninya seperti Lembaga Pengembangan Pertanian NU (LP2NU), Lembaga Perekonomian NU dan lembaga terkait lainnya yang harus proaktif. “Mereka dapat membangun jaringan dan melakukan advokasi kepada masyarakat, membangun koperasi dan lainnya,” tandasnya.

Untuk saat ini yang melakukan hal tersebut LSM-LSM yang banyak dikelola oleh anak muda NU sebagai bagian dari pemberdayaan masyarakat sipil.

Saat ini wacana pengembangan ekonomi selalu mengemuka dalam berbagai acara NU. Namun implementasinya masih belum banyak berhasil. Yahya mengungkapkan bahwa memang hal tersebut tak cukup sekedar wacana, tetapi juga harus menjadi ideologi dan dioperasionalkan sehingga dapat menjadi gerakan besar di NU.(mkf)

 

 

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Daerah, Ubudiyah, AlaSantri Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Sukses di Bidang Agama, NU Jangan Abaikan Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)
Sukses di Bidang Agama, NU Jangan Abaikan Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)

Sukses di Bidang Agama, NU Jangan Abaikan Ekonomi

Jumat, 12 Januari 2018

Ali Masykur Pimpin PKB kubu Gus Dur

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Terjawab sudah teka-teki siapa yang bakal menempati posisi Ketua Umum Dewan Tanfidz DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) kubu Ketua Umum Dewan Syura KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Dia adalah Ali Masykur Moesa.



Ali Masykur Pimpin PKB kubu Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Ali Masykur Pimpin PKB kubu Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Ali Masykur Pimpin PKB kubu Gus Dur

Ali Masykur yang sebelumnya merupakan Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum Dewan Tanfidz menggantikan Muhaimin Iskandar, terpilih secara aklamasi. Ia ditunjuk oleh tim asistensi yang bertugas membantu Gus Dur menentukan ketua umum.

"Dengan ini tim asistensi yang membantu ketua dewan syuro sepakat menunjuk dan mengangkat saudara Ali Masykur Moesa sebagai Ketua Umum PKB," kata anggota tim asistensi yang juga Ketua DPW Kalimantan Selatan Rosehan N.B. saat membacakan hasil akhir rapat pleno tim formatur di arena Muktamar Luar Biasa (MLB) PKB Gus Dur, di Parung, Bogor, Jawa Barat, Kamis (1/5).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

 

Penunjukan Ali Masykur ini untuk mengisi jabatan lowong yang ditinggalkan Muhaimin. Ali Masykur akan menjabat posisi ketua umum PKB untuk masa jabatan 2008-2010.

Gus Dur menyatakan, penunjukan Ali Masykur sebagai ketua umum PKB untuk tidak mengurangi kekompakan DPP PKB kubunya. Diharapkan dengan perubahan yang tidak banyak mempermudah proses selanjutnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

"Setelah kami bersidang diputuskan susunan DPP PKB yang baru. Dan, sebenarnya hanya ada perubahan kecil saja agar tidak mengurangi kekompakan kita," kata Gus Dur.

Sebelumnya, sempat mengemuka tiga nama yang bakal mengisi posisi ketua umum Dewan Tanfidz. Di antaranya, Ali Masykur, Zanubah Arifah Chafsoh (Yenny Wahid) dan Muamir Muin Syam. Namun, Yenny kemudia menolak dipilih sekaligus mendukung Ali Masykur.

Dalam pidatonya, Yenny Wahid menegaskan dirinya tidak bersedia maju dalam pemilihan Ketua Umum PKB. Menurut Yenny, langkah ini diambil untuk menghargai ayahnya Gus Dur, yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Syuro PKB.

"Saya berharap keputusan ini membuat MLB PKB happy ending (berakhir bahagia)," ujar Yenny yang selanjutnya meminta peserta MLB mendukung Ali Masykur selaku ketua umum. (rif/mkf/dtc)Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Daerah, Tokoh, Nasional Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 08 Januari 2018

Blog “Abdi Madrasah” yang Dibuatnya Menjadi Rujukan Banyak Guru

Nasruddin Latif, Guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) Raudlatus Syubban ini awalnya hanya sekedar menyalurkan hobi berselancar di dunia maya via. Namun kemudian blog yang dibuatnya dirujuk banyak orang. Khususnya sesama guru MI di berbgai daerah.

MI Raudlatus Syubban berada di Desa Wegil Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati, cukup jauh dari pusat kota, sekitar 35 Km. Nasruddin Latif (36), mengaku saat pertama kali bertugas di MI Wegil pada 2006 ia menempuh perjalanan 40 menit dengan kendaraan roda dua dari kampung halamannya di Desa Kunir, Kecamatan Dempet, Kabupaten Demak.

Nasruddin prihatin saat awal bertugas di MI Wegil. Letak geografisnya jauh sekali dari kota kecamatan. “Informasi pun sering kali lebih banyak terlambatnya. Mungkin karena akses dan banyak hal lain,” ujar Nasruddin.

Ia mencontohkan, tiap tahun ajaran baru para guru harus merencanakan program madrasah ke depan. Senjata utamanya pakai kalender pendidikan (kaldik). Sementara jika kaldik tersebut tidak segera sampai ke madrasah, tentu menjadi persoalan tersendiri. Dari Kemenag tingkat provinsi, Kaldik turun ke kabupaten/kota, baru ke pengawas kecamatan, diteruskan ke KKM. “Terakhir para kepala madrasah diundang. Nah, baru masuk ke madrasah sini. Zaman dulu begitu,” ungkap Nasruddin.

Blog “Abdi Madrasah” yang Dibuatnya Menjadi Rujukan Banyak Guru (Sumber Gambar : Nu Online)
Blog “Abdi Madrasah” yang Dibuatnya Menjadi Rujukan Banyak Guru (Sumber Gambar : Nu Online)

Blog “Abdi Madrasah” yang Dibuatnya Menjadi Rujukan Banyak Guru

Karena panjangnya birokrasi yang musti melewati beberapa pintu, belum lagi jika ada keterlambatan di salah satu pintu tersebut, kata dia, dapat dibayangkan bisa jadi sebulan kemudian pihaknya baru mempunyai kaldik.

“Padahal Juli sudah mulai kegiatan. Itu cuman sekedar salah satunya. Belum lagi informasi yang lain, misalnya tentang peraturan. Kan perlu kami ketahui juga agar selalu up to date,” ujarnya.

Karena merasa informasi di tempatnya mengajar sering terlambat, maka Nasruddin mencoba mencari alternatif informasi lain. Yakni menggunakan media online. Kurang lebih dua tahun ia berlangganan informasi melalui e-mail dari salah satu blog yang senantiasa memberikan informasi tentang pendidikan. Blog tersebut dikelola oleh seorang Guru Sekolah Dasar.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Dari blog tersebut saya senantiasa mendapatkan informasi tentang pendidikan yang banyak saya butuhkan. Meski demikian, saya masih merasa kurang karena blog tersebut yang mengelola adalah seorang guru SD. Jadi, informasi-informasi yang diberikan proporsinya lebih banyak informasi yang dibutuhkan para guru SD. Padahal saya guru MI,” ujarnya.

Sebagai guru MI, Nasruddin tidak hanya membutuhkan informasi terkait pendidikan yang bersifat umum melainkan juga yang khusus berhubungan dengan madrasah. “Kalau ada pendataan yang online kadang-kadang saya kerjakan di rumah. Karena di sekolah kan nggak mungkin. Sebab sinyal internet susah sekali di sini,” kata Nasruddin.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dari kondisi yang ia alami, ia kemudian berfikir, bisa jadi ada sebagian atau bahkan banyak juga rekan guru madrasah yang bernasib seperti dirinya yang butuh informasi up to date tentang pendidikan. Dalam rangka menunjang tugas-tugas sebagai guru madrasah, info terkini pendidikan menjadi hal penting. Nasruddin lalu membuat akun Facebook. Harapannya dapat berbagi informasi lewat update status di media sosial karya Mark Zukernberg ini.

“Saya bahkan sampai membuat sebuah laman Fanspage Facebook yang saya beri nama Mutiara Pendidikan hingga beberapa waktu. Melalui Fanspage Mutiara Pendidikan ini saya berbagi info dan terkadang berbagi tautan tentang pendidikan,” ungkap sarjana pendidikan Islam lulusan Universitas Wahid Hasyim Semarang ini.

Seiring berjalannya waktu, Nasruddin merasa berbagi informasi melalui Fandpage Facebook masih kurang efektif. Pasalnya, sulit mencari arsip-arsip informasi yang pernah di-update. Selain itu, ia juga berfikir mungkin akan lebih baik jika dia tidak hanya berbagi tautan web atau blog orang lain melainkan dapat berbagi tautan dari web/blog miliknya sendiri.

Mulailah ia belajar membuat blog secara otodidak dengan mengandalkan informasi dari hasil pencarian di google. Membuat blog ternyata tidak sesulit yang ia bayangkan. Hanya dengan modal gmail dan petunjuk cara membuat blog dari hasil pencarian google, ia pun punya blog. Nasruddin makin keranjingan blogging sehingga dalam sepekan ia betah hingga dua jam di warnet sepulang mengajar. Ia lalu belajar mengganti template blog, posting artikel, memasang wedget, dan lain sebagainya.

“Sampai di sini saya masih belum berani untuk share. Karena ini baru blog percobaan. Setelah sekitar empat blog saya buat hanya sekedar latihan. Lalu, sekiranya kemampuan dasar blog sudah lumayan terkuasai, maka mulailah saya buat blog yang nantinya siap dipublikasikan,” ujar Nasruddin.

Menurut dia, menentukan nama blog ternyata lebih sulit ketimbang membuat blog itu sendiri. Awalnya karena ia sudah memiliki Fanspage Mutiara Pendidikan, ia pun ingin menggunakan nama yang sama. “Tetapi sebagai guru madrasah, saya ingin memperlihatkan kemadrasahan saya. Lalu, muncul ide nama blog Guru Madrasah. Ternyata sudah ada. Blog Guru Madrasah Ibtidaiyah juga sudah ada meski blog-blog tersebut jarang posting,” paparnya.

Di tengah kegalauan tersebut, terbersit dalam benak adanya kata “Abdi Negara”, dan “Abdi Masyarakat”. Akhirnya, ia memilih nama “Abdi Madrasah” yang disingkat “Abdima”. Hal yang lebih menguatkan Nasruddin memilih nama tersebut lantaran adanya kesadaran betapa pentingnya peran madrasah dalam kehidupan dirinya.

“Sebab, dari madrasah lah saya mulai dikenalkan dengan huruf dan angka. Dari madrasah lah saya belajar membaca, menulis, dan berhitung. Yakni di MI kemudian melanjutkan ke MTs, terakhir di MA. Jadi, karena merasa dicetak oleh madrasah, maka sedikit banyak ingin bermanfaat bagi madrasah. Tentu, sebatas kapasitas dan kemampuan yang saya miliki,” ujarnya merendah.

Tanpa menunggu lama, pada 19 Desember 2012 secara resmi Nasruddin memiliki blog bernama “Abdi Madrasah” yang beralamat di http://abdima.blogspot.com/. Setelah beberapa hari melengkapi blog dengan berbagai tulisan termasuk wedget dan lain sebagainya, terpublishlah posting perdana pada 31 Desember 2012.

Sejak ia mempunyai blog, baik Mutiara Pendidikan maupun Abdi Madrasah, ia mulai mem-posting tulisan pada 30 Desember 2012. “Otomatis fanspage saya di Facebook saya ubah menjadi Abdi Madrasah karena menyesuaikan blog tadi itu,” kata dia.

Ia berprinsip hanya ingin berbagi tanpa orang lain mengetahui jati dirinya. Ia berharap bisa berbagi tanpa diiringi rasa sombong. “Saya pernah dengar, kalau bisa tangan kanan memberi, tangan kiri tidak perlu tahu. Yang penting tujuan saya main blog itu kan menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama,” ujarnya mantap.

Nasruddin menuturkan, dalam blognya tertulis ‘membagi informasi kepada para sahabat agar hidup ini lebih bermanfaat.’ Makanya, dalam admin itu ia tidak menuliskan database-nya. “Saya hanya menulis sebagai guru Madrasah Ibtidaiyah yang mulai mengenal huruf dan angka dari madrasah. Oleh karena itu, harus berbuat yang terbaik untuk madrasah,” tegasnya.

Sebagai guru saya ia butuh informasi terbaru, jadi sederhananya Butuh Cari Dapat Bagi (BCDB). Jika ia butuh info, maka ia pun segera mencarinya. Setelah mendapatkannya, lalu ia membagikannya kepada siapa saja. Pada saat Facebook-an, Nasruddin mengaku seringkali melihat sebagian temannya membagikan berita tentang madrasah.

“Saya pun ikut nge-share. Tapi sebelumnya saya buat postingannya. Yang penting di google itu kan nggak boleh copas. Kalau sekedar mengulas kan boleh. Meski ada juga yang copas, tapi saya cantumkan sumber dan link-nya. Misal, dari website direktorat madrasah tentang prestasi atau program apa gitu,” akunya.

Menurut Nasruddin, website Abdima banyak dikunjungi orang lantaran mereka mendapatkan berbagai informasi mengenai madrasah. (Ali Musthofa Asrori)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Hikmah, Kajian Sunnah, Daerah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Rabu, 03 Januari 2018

PBNU: Langgam Al-Quran Bertali Erat dengan Budaya

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F Mas’udi menyebut ketepatan makhraj, tajwid, dan penghormatan atas ayat-ayat suci sebagai ketentuan dasar dalam membaca Al-Quran. Sementara varian irama lagu dalam membaca Al-Quran sendiri, menurutnya, lebih luas daripada langgam yang sudah populer di kalangan ahli qiro’ah.

“Langgam itu soal budaya dan bukan barang haram di dalam Islam,” kata Kiai Masdar kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan di Jakarta, Selasa (19/5) sore.

PBNU: Langgam Al-Quran Bertali Erat dengan Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Langgam Al-Quran Bertali Erat dengan Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Langgam Al-Quran Bertali Erat dengan Budaya

Lebih lanjut Kiai Masdar mengatakan, salah satu fakta budaya ialah bahasa. Kenapa kalimah Al-Quran hadir dalam bahasa Arab? Karena Allah menghormati budaya Arab. Prinsipnya, bi lisani qoumihim (Menyampaikan dengan bahasa kaum para rasulullah).

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Adapun kalamullah sendiri itu bi la harfin wa la shoutin (tanpa huruf dan suara), bukan dalam bahasa Arab atau bahasa bangsa apapun. Tetapi ketika berkomunikasi dengan bangsa Arab, tentu saja kemudian wahyu itu hadir dalam bahasa Arab,” terang kiai Masdar.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dulu kitab-kitab suci pernah berbahasa Ibrani karena yang dikhithabnya komunitas Ibrani, Kiai Masdar menyebut salah satu contoh.

Setiap bahasa itu mengandung sentuhan Ilahi, bukan hanya Arab, Ibrani atau bahasa tertentu. Karena, wa allama adamal asmaa kullaha (Allah mengajari Nabi Adam nama-nama semua benda) ini modal dasar dari bahasa.

Kita menyebut “batu”, “langit”, “bumi”, dan seterusnya, secara lahiriyah memang kreasi budaya. Tetapi di belakang itu, Allah SWT Yang Maha Bicara karena sifat-Nya itu mutakallimun.

Bayangkan kalau wahyu diturunkan di Jawa, untuk nabi Jawa, umat Jawa, tentu hadir dalam bahasa Jawa. Kalau turun di Jepang, tentu wahyu itu berbahasa Jepang, Kiai Masdar menambahkan. Karena normanya itu bi lisani qoumihim, bukan bi lisanil Arab. Jadi, semua bahasa itu baik dan mulia.

“Apalagi hanya soal langgam?” kata Kiai Masdar menanggapi kontroversi pembacaan Al-Quran dengan langgam Jawa di Istana Negara pada Jumat (15/5) malam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Daerah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Selasa, 26 Desember 2017

Tanpa Voting, Adam Rouf Terpilih Pimpin KMNU Unila

Bandar Lampung, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Universitas Lampung sukses menggelar Musyawarah Umum Ke-7 di kantor PWNU 3 Rajabasa, Bandar Lampung, 23-25 Desember 2016. Forum musyawarah tertinggi KMNU Unila itu menjadi ajang pembahasan peraturan organisasi, laporan pertanggung jawaban setahun kepengurusan, dan pemilihan ketua baru.

Dalam suksesi kepemimpinan, terpilih Adam Rouf sebagai ketua KMNU Unila masa khidmah 2017-2018. “Alhamdulillah berjalan lancar, terima kasih rekan-rekan pengurus periode 2016 atas kerja kerasnya, dan selamat untuk Mas Adam Rouf semoga amanah dalam mengemban tugas” tutur ketua demisioner KMNU Unila Ahmad Nurfuadi.

Tanpa Voting, Adam Rouf Terpilih Pimpin KMNU Unila (Sumber Gambar : Nu Online)
Tanpa Voting, Adam Rouf Terpilih Pimpin KMNU Unila (Sumber Gambar : Nu Online)

Tanpa Voting, Adam Rouf Terpilih Pimpin KMNU Unila

Fuad, sapaan akrabnya, menyampaikan bahwa ada delapan bakal calon ketua, kemudian empat orang di antaranya lolos menjadi calon, hingga akhirnya terpilih Adam sebagai ketua baru. “Semuanya berdasarkan musawarah, tidak ada voting (pemungutan suara),” tambahnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Salah satu anggota KMNU, Arin sekaligus mahasiswa Ilmu Komunikasi 14 FISIP Unila mengungkapkan, terpilihnya Adam tidak terlepas dari kesuksesannya dalam memimpin rangkain Dies Miladiyah ke-6 (DM6) KMNU Unila.

“Beliau sukses memeriahkan DM6 KMNU Unila, mulai dari tasyakuran, khatmil qur’an, tabligh akbar, hingga bakti sosial di Panti Asuhan Mahmudah Kemiling minggu lalu. Kami para musyawirin memiliki harapan besar terhadap beliau untuk KMNU Unila setahun ke depan,” ungkapnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Adam Rouf, ketua terpilih KMNU Unila mengungkapkan tidak menyangka akan mengemban amanah besar ini. “Saya berharap para (pengurus) demisioner terus memberi nasihat dan wejangan, kepada rekan-rekan mohon kesediaannya untuk bersama-sama membangun KMNU Unila” ungkap Adam, Mahasiswa Biologi Fmipa yang juga alumni Pondok Pesantren Roudlotul qur’an Kota Metro. (Rosihun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Sholawat, Daerah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ini Pesan Guru Besar Unhas untuk Pelajar NU

Lombok Tengah,Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar Prof. DR Hasyim Aidid meminta generasi para pelajar Nahdlatul Ulama supaya tak setengah-setengah dalam mendalami studi di jurusan masing-masing.

Ini Pesan Guru Besar Unhas untuk Pelajar NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Pesan Guru Besar Unhas untuk Pelajar NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Pesan Guru Besar Unhas untuk Pelajar NU

“Saya sampaikan kepada generasi muda NU, generasi muda Islam pada umumnya supaya mendalami bidang studi masing-masing,” katanya di Pondok Pesantren Al-Manshuriyah Ta’limushibyan Bonder, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat di sela Rapat Kerja Nasiobal Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) pada Kamis (23/2).

Tidak hanya itu, kata Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia Sulawesi Selatan itu, kader muda NU harus menguasai satu keterampilan sampai ahli.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Kuasai bahasa asing, Arab dan Inggris, kuasai teknologi informasi,” ujar Dewan Pakar Pimpinan Pusat Pergunu tersebut. ?

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Ia juga mengingatkan, setelah menguasai ilmu dan ahli dalam satu bidang keterampilan, pelajar NU harus berakhlak mulia, serta berani tampil membimbing masyarakat.

“Tawadhu, tapi harus berani tampil,” pungkas pria yang di masa mudanya aktif di Gerakan Pemuda Ansor tersebut. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Daerah, Pendidikan, Sunnah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Senin, 25 Desember 2017

Tiga Parameter Keberhasilan Organisasi

Tegal, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Ketua Tanfidiyah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Tarub H Imam Turmudzi mengingtakan para pengurus ikatan pelajar putra dan putri NU (IPNU-IPPNU) mengenai tiga hal yang menjadi parameter sebuah organisasi atau kepengurusan dianggap berhasil.

Tiga Parameter Keberhasilan Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Parameter Keberhasilan Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Parameter Keberhasilan Organisasi

Pertama, kata H Imam Turmudzi saat memberikan sambutan dalam pelantikan Pengurus Ranting IPNU-IPPNU Desa Purbasana masa khidmat 2012 – 2014 di pendopo balai desa Purbasana, Ahad (30/12) lalu, yakni ketika pengurus berhasil melakukan kaderisasi. 

“Kaderisasi ini bisa dianggap berhasil apabila kepengurusan sebulnya bisa memberikan pengaruh besar terhadap kadernya sehingga mereka mempunyai andil dalam mengembangkan organisasi berikutnya dan bisa memberikan kader baru yang lebih baik,” ujarnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Kedua, program yang direncanakan dapat direalisaikan dengan baik. Ketiga adalah dapat memberikan kontribusi kepada masyarkat secara luas, bukan saja secara internal organisasi, sehingga kehadiran organisasi bisa benar-benar dirsakan manfaatnya.

“Nampaknya ini mudah diucapkan tetapi sulit dilakukan, tetapi dengan niat kita yang tulus mudah-mudahan bisa dilaksankan dengan baik,” imbuhnya

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Hadir dalam kesempatan itu PC. IPNU-IPPNU Kabupaten Tegal, Kepala Desa Purbasan dan beberapa pengurus NU, PAC. IPNU-IPPNU Kecamatan Tarub. Sebelum prosesi pelantikan gema maulid Nabi dengan didiringi grup hadroh besutan tangan PR IPNU-IPPNU sebagai iringan pengisi acara. Hadir juga  kurang lebih 50 peserta.

Ketua PAC IPNU Kecamtan Tarub Aditio Prasetio mengucapkan selamat kepada pengurus periode yang baru. “Mudah – mudahan periode ini bisa lebih baik lagi,  saya yakin untuk kepengurusan periode ini bisa lebih baik dari periode sebelumnya, karena satu minggu sebelum acara ini, PAC IPNU – IPPNU telah mengadakan Latihan Kader Muda (Lakmud) yang di ikuti oleh seluruh PR/PK IPNU – IPPNU Kec. Tarub , termasuk PR IPNU – IPPNU Desa Purbasana yang begitu antusias mengikuti acara tersebut,” tukasnya.

Aditio Prasetio juga mengimbau pengurus dan anggota yang telah mengikuti Lakmud  untuk bisa mengaplikasakannya pengalaman yang telah di dapatkan kepada Ranting IPNU – IPPNU Desa Purbasana untuk kemajuan PR IPNU IPPNU Desa Purbasana.

Dalam kesempatan itu Kepala Desa Pubasana Drs. Bambang Dwi Kuntoro berpesan agar kepengurusan yang baru lebih ditingkatkan lagi kerjasam antara IPNU-PPNU dengan pemerintah. 

“Sebentar lagi desa kita akan mengadakan pemilihan kepala desa secara langsung untuk itu kami harap IPNU-IPPNU berperan dalam ajang itu mungkin sebagai panitia ataupun yang lain yang dapat memberikan rasa aman nyaman dan bersih, sehingga pemilihan kepala desa nanti tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan,” pintanya.

Bertindak melantik dalam kegitan itu Sekretaris PC. IPNU Kabupaten Tegal Wahidun Ma’mur yang didampingi pengurus PAC. IPNU dan pengambil sumpah janji pelantikan IPPNU adalah ketua PC. IPPNU Kabupaten Tegal Lutfatun Nikhlah.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Abdul Muiz Tg.

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Daerah, Khutbah, Nahdlatul Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Minggu, 03 Desember 2017

Merekonstruksi Pemahaman tentang Idul Fitri

Oleh Ahmad Saifuddin



Bulan Ramadhan telah berakhir. Sehingga bulan Syawal menggantikan perginya bulan Ramadhan. Bulan Syawal dianggap sebagai bulan kemenangan setelah selama sebulan di bulan Ramadhan umat Muslim mengekang hawa nafsunya. Bulan Syawal yang di dalamnya terdapat sebuah hari yang menjadi momentum saling memaafkan meskipun saling memaafkan harus dilakukan setiap waktu. Bulan Syawal di dalamnya terdapat Idul Fitri yang dianggap sebagai momen kembali kepada kesucian. Bulan Syawal disambut suka cita sehingga seringkali kita melupakan evaluasi terhadap sikap kita selama bulan Ramadhan.

Merekonstruksi Pemahaman tentang Idul Fitri (Sumber Gambar : Nu Online)
Merekonstruksi Pemahaman tentang Idul Fitri (Sumber Gambar : Nu Online)

Merekonstruksi Pemahaman tentang Idul Fitri

Secara bahasa, Idul Fitri memang memiliki arti kembali kepada kondisi yang suci. Hal ini disebabkan setelah melalui masa-masa pengendalian hawa nafsu selama bulan suci Ramadhan. Pada bulan tersebut juga Tuhan melimpahkan ampunan dan pahala bagi kaum Muslim yang memanfaatkan Ramadhan dengan sebaik-baiknya ibadah dan perilaku. Ditambah lagi, bulan Ramadhan diakhiri dengan zakat fitrah untuk menyucikan harta benda yang dimiliki. Lalu disusul dengan Idul Fitri, momentum saling memaafkan antarsesama. Dengan demikian, kesucian yang terkandung dalam Idul Fitri bisa meliputi kesucian terhadap Tuhan karena mendapat ampunan, kesucian harta benda karena menzakatkan hartanya, kesucian terhadap sesama karena saling memaafkan. Pada akhirnya, Idul Fitri dimaknai sebagai momentum kemenangan bagi kaum Muslim setelah mengekang hawa nafsu selama bulan Ramadhan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Satu hal yang sering dilupakan adalah, apakah kita benar-benar menang melawan hawa nafsu dan kembali suci? Apakah kemenangan yang dimaksud berdampak pada kehidupan kita? Pertanyaan reflektif yang jika senantiasa dipegang teguh dan direnungkan jawabannya, akan bisa memunculkan sikap yang berbeda dalam menyikapi berlalunya Ramadhan dan datangnya Idul Fitri. Sikap yang bukan euforia semata, sikap yang bukan seperti seekor binatang yang lepas dari kandang sehingga kembali menampakkan sifat-sifat negatifnya. Penting untuk menengok bahwa betapa sedihnya para generasi Muslim awal, yang semakin giat dan rajin mendekatkan diri pada Tuhan karena Ramadhan akan pergi. Sehingga, sikap ini yang mempertahankan perubahan perilaku dan derajat ketakwaan pun bisa diraih.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Saat ini, banyak kaum Muslim ketika bulan Ramadhan pergi, menyambut suka cita Idul Fitri dan menganggap dirinya menang serta kembali suci. Ditambah lagi, kapitalis saling berlomba dalam merebut perhatian kaum Muslim untuk membeli baju dan segala perlengkapan menyambut Idul Fitri. Sehingga, banyak kaum Muslim yang juga tergiur dengan godaan kapitalis tersebut. Padahal patokan menang bukan terletak waktu Idul Fitri, namun justru terletak pada waktu sebelas bulan mendatang sampai Ramadhan selanjutnya datang kembali.

Ibarat karantina atau masa belajar, manusia diberi waktu sebulan oleh Tuhan untuk belajar mengendalikan hawa nafsunya. Tuhan bukan ingin mematikan dan menghabisi manusia. Tuhan hanya ingin memperlihatkan dan menyadarkan manusia bahwa ada hal dalam diri manusia yan harus dikendalikan, karena jika tidak dikendalikan maka akan bersifat destruktif. Waktu sebulan selama Ramadhan harus dimaknai sebagai bulan pembangunan karakter dan kepribadian. Karakter mampu memahami kondisi orang lain atau disebut dengan empati sehingga memunculkan sikap berbagi, karakter mampu mengendalikan dorongan sehingga menjadi manusia yang bermartabat, karakter giat mendekatkan diri pada Tuhan, karakter ringan berbuat kebajikan, dan karakter merasa diawasi oleh Tuhan.

Setelah karantina atau proses belajar di bulan Ramadhan, sebelas bulan selanjutnya, sebenarnya kita justru baru melewati masa-masa ketika kita harus tetap mempertahankan perubahan yang sudah berhasil dilakukan di bulan Ramadhan. Jika ternyata di sebelas bulan selanjutnya manusia tidak dapat mempertahankan perubahannya, apakah pantas disebut mendapatkan kemenangan? Seperti halnya ketika kita harus menempuh studi pada derajat tertentu, kita akan mendapatkan kelulusan dalam waktu tertentu. Namun, kelulusan tersebut harus dibuktikan dengan kemampuan kita untuk menghadapi dunia kerja dan kehidupan masyarakat.

Puasa sendiri merupakan momentum untuk mengendalikan hawa nafsu yang cenderung bersifat destruktif jika dibiarkan. Dalam struktur kepribadian, manusia memiliki hawa nafsu. Hawa nafsu, dalam perspektif psikoanalisis, identik dengan id dan insting kematian atau thanatos. Id ini bersifat biologis dan memiliki orientasi kenikmatan (pleasure oriented) dan tidak mempedulikan nilai dan norma sehingga bisa bersifat destruktif, sedangkan thanatos bisa menimbulkan perilaku agresi. Dengan menundukkan id, maka manusia semakin memperbesar superegonya. Gambaran id secara nyata dapat diilustrasikan pada seorang bayi atau anak yang belum memahami nilai, sehingga melakukan apapun yang dia suka (Sigmund Freud, 2009, A General Introduction to Psychoanalysis, halaman 334–382).

Menurut Ibnu Maskawaih, jiwa manusia terdiri dari tiga fakultas, yaitu fakultas berpikir (nathiqah), fakultas menolak yang membahayakan (ghadhab), dan fakultas yang menginduksi kesenangan (syahwat). Selain itu, natur asli dari nafsu dan syahwat ini mengarah pada hal buruk (Abdul Mujib, 2006, Kepribadian Dalam Psikologi Islam, halaman 129 – 152). Ibnu Maskawaih juga menyatakan bahwa dalam diri manusia terdapat jiwa binatang lunak (an-Nafs al-Bahâmiyah) dan jiwa binatang buas (an-Nafs as-Sabu’îyah). Sementara itu, Al Kindi menyatakan bahwa jiwa manusia terdiri dari daya nafsu syahwat, daya pemarah, dan daya berpikir; Al Farabi berpendapat bahwa jiwa manusia terdiri dari jiwa penggerak (an-Nafs al-Muharrikah), jiwa menangkap (an-Nafs al-Mudrikah), dan jiwa berpikir (an-Nafs an-Nâtîqah); dan Ibnu Sina menyatakan jiwa manusia salah satunyaa terdiri dari jiwa binatang atau an-Nafs al-Hayawanîyah (Yadi Purwanto, 2007, Psikologi Kepribadian : Integrasi Nafsiyah dan ‘Aqliyah Perspektif Psikologi Islami, halaman 96).

Menurut Imam Al-Ghazali dalam Kimiya-us Sa’adat, jasad digambarkan sebagai sebuah kerajaan, di mana jiwa atau ruh sebagai rajanya serta berbagai indera dan bagian lain sebagai tentaranya. Nalar bisa dianggap sebagai perdana menteri, nafsu diilustrasikan sebagai pemungut pajak, dan amarah digambarkan sebagai polisi. Nafsu (digambarkan pemungut pajak) cenderung untuk merampas demi kepentingannya sendiri, sementara amarah (digambarkan polisi) cenderung pada kekerasan. Pemungut pajak dan polisi harus selalu ditempatkan di bawah raja, tetapi tidak dibunuh atau diungguli, mengingat mereka memiliki fungsi-fungsi tersendiri yang harus dipenuhinya secara proporsional. Jika nafsu dan amarah menguasai nalar (digambarkan perdana menteri), maka jiwa (digambarkan sebagai raja) akan runtuh, sehingga jasad beserta perilakunya akan rusak. Jiwa yang membiarkan bagian yang lebih rendah untuk menguasai yang lebih tinggi ibarat seseorang yang menyerahkan bidadari kepada seekor anjing.

Dengan demikian, baik ilmuwan sekuler macam Sigmund Freud maupun para ilmuwan Islam, sepakat bahwa dalam diri manusia, ada dorongan-dorongan yang harus dikendalikan dan ditundukkan karena jika tidak disadari dan tidak dikendalikan, maka dorongan tersebut bersifat merusak dan merugikan sehingga mengganggu harmonisasi kehidupan. Puasa merupakan sebuah metode untuk mengendalikan dorongan-dorongan tersebut, atau bisa disebut dengan mengendalikan hawa nafsu.

Terlebih lagi tujuan puasa itu sendiri adalah untuk mencapai derajat ketakwaan. Derajat takwa dimaknai sebagai suatu derajat yang berwujud kesatuan sikap dan perilaku menjalankan segala perintah Tuhan dan menjauhi segala larangan Tuhan. Patokan bertakwa ini tentu akan sempit sekali jika hanya dikontekskan dari Ramadhan sampai Idul Fitri itu saja. Sehingga patokan takwa justru harus dimaknai sebagai menetapnya perubahan perilaku (yang didapatkan pada bulan Ramadhan) dalam menjalankan segala perintah Tuhan dan menjauhi segala larangan Tuhan selama sebelas bulan setelah Ramadhan. Sehingga, indikator kemenangan yang sebenarnya adalah bukan terletak ketika Idul Fitri, tetapi terletak pada waktu-waktu setelah Ramadhan sampai Ramadhan selanjutnya tiba kembali. Yaitu ketika manusia bisa mempertahankan ketakwaan di waktu-waktu selain Ramadhan, ketika manusia mampu mempertahankan perubahan karakternya dan perilakunya untuk selalu mendekatkan diri pada Tuhan, merasa diawasi oleh Tuhan, bersikap empati dan suka berbagi, dapat mengendalikan dorongan-dorongan dalam diri, serta tidak suka merugikan orang lain.

Penulis adalah Wakil Sekretaris PW IPNU Jawa Tengah



Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Daerah, Pendidikan, Sholawat Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pesantren Annuqayah Juara Umum Festival Dua Bahasa

Sumenep, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Para santri Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep, Jawa Timur, berhasil membawa pulang piala bergengsi sebagai juara umum pada ajang Festival Dua Bahasa (FDB) di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep.

Pesantren Annuqayah Juara Umum Festival Dua Bahasa (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Annuqayah Juara Umum Festival Dua Bahasa (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Annuqayah Juara Umum Festival Dua Bahasa

Hal ini menambah kegembiraan pihak pesantren karena belum genap seminggu santri Pesantren Annuqayah juga menjuarai menjuarai lomba pidato dan baca kitab yang digelar di Pesantren Darul Ulum Banyuanyar, Pamekasan.

Festival Dua Bahasa (FDB) 2014 diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institud Dirasat Islamiyah Al-Amien (IDIA) Prenduan. Sebanyak 25 santri Pesantren Annuqayah yang hadir sejak Rabu (5/3 ) mengikuti serangkaian acara tersebut.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Mereka terdiri dari 7 santri putra dan 5 santri putri utusan Markazul Lughah al-Arabiyah dan English Education Program (EEP) Pondok Pesantren Annuqayah; 3 santri putra dan 3 santri putri utusan Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Nirmala; dan 8 santri putri utusan MA 1 Annuqayah Putri. Mereka didampingi oleh 8 orang yang betugas membimbing dan menyiapkan segala kebutuhan mereka selama perlombaan.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dalam momen ini, para santri ini bersaing dengan peserta lain dari berbagai lembaga pendidikan di Jawa Timur untuk memperebutkan gelar juara dalam lomba pidato, bercerita, menyanyi dan baca puisi dalam dua bahasa, yakni bahasa Arab dan bahasa Inggris. Dari keempat lomba tersebut, santri Pesantren Annuqayah hanya gagal menjadi juara dalam lomba menyanyi.

Pada ajang FDB 2014 ini, mereka membawa pulang 9 piala dari keseluruhan piala yang berjumlah 24. Piala-piala yang peroleh utusan Annuqayah adalah piala juara 1 pidato bahasa Arab, juara 2 pidato bahasa Arab, juara 1 baca puisi bahasa Arab, juara 2 baca puisi bahasa Arab, juara 2 baca puisi bahasa Inggris, juara 3 baca puisi bahasa Inggris, juara 1 bercerita bahasa Arab, juara 3 bercerita bahasa Arab, dan juara 3 bercerita bahasa Inggris.

Pesantren Annuqayah dinobatkan sebagai juara umum FDB 2014 karena lebih dari sepertiga juara berasal darinya, sementara sisanya diraih banyak peserta lain dari instansi yang berbeda-beda. FDB 2014 ditutup pada Jumat (7/3) malam.

"Alhamdulillah, sebenarnya kami tidak menyangka akan mendapat perolehan sebesar ini. Soalnya persiapan yang kami lakukan sebelum berangkat ke Pesantren Al-Amien sangat kepepet, hanya tiga hari sebelum acara pembukaan,” ungkap Ahmad Basili, salah satu pendamping kontingen Annuqayah.

"Piala Juara Umum-nya sebesar apa?" tanya saya pada Ibnu Hajar selaku ketua kontingen.

"Lumayan, nggak bakal habis dimakan tiga hari," jawabnya sambil tertawa lepas. (Umarul Faruq/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Daerah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Jumat, 01 Desember 2017

Aklamasi, Abdul Aziz Pimpin GP Ansor Kabupaten Sikka

Sikka, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Konferensi Cabang (Konfercab) Perdana Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Sikka Masa Khidmat 2015-2019 berlangsung, Rabu (30/9) di Gedung FKUB Kabupaten Sikka Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Dalam musyawarah tersebut, terpilih Abdul Aziz, cucu KH Arsyad Daud sebagai Ketua GP Ansor Sikka secara aklamasi. 

Aklamasi, Abdul Aziz Pimpin GP Ansor Kabupaten Sikka (Sumber Gambar : Nu Online)
Aklamasi, Abdul Aziz Pimpin GP Ansor Kabupaten Sikka (Sumber Gambar : Nu Online)

Aklamasi, Abdul Aziz Pimpin GP Ansor Kabupaten Sikka

Abdul Aziz terpiih secara aklamasi yang dihadiri 6 (Enam) Pimpinan Anak Cabang (PAC) Kecamatan Alok Timur, PAC Kecamatan Alok, PAC Alok Barat, PAC Kangae, PAC Kewa Pante dan PAC Paga. Serta dihadiri Pimpinan Pusat, Pimpinan wilayah GP Ansor dan Ketua PCNU Kabupaten Sikka Rabu (30/9) malam.

“Saya siap lahir batin demi memajukan Ansor Sikka,” kata Aziz. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dengan berbagai langkah demi memajukan GP Ansor Sikka, dirinya akan berjanji melakukan koordinasi dengan berbagai OKP dan pemerintah dengan misi membangun daerah Sikka yang lebih baik.

“Selain membangun komunikasi dan gerakan berbagai organisasi pemuda lintas agama, lebih mepertajam sistim pengkaderan agar kualitas kader PC Ansor bersinergi.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Pimpinan Pusat GP Ansor Mas’ud Sholeh berharap, langkah pemilihan yang dilakukan secara musyawarah ini bagian dari mengembalikan khittah sistim pemilihan yang dilakukan oleh para tokoh dan para Ulama-ulama dulu dalam mengambil sebuah keputusan. 

“Kita tidak hilangkan ruang demokrasi tetapi kita mengendepan musyawarah untuk memilih pemimpin,”jelasnya. (Ajhar Jowe/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Daerah, Ubudiyah, AlaSantri Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock