Kamis, 13 April 2017

Gus Rozin: Hari Santri Kemenangan Umat Islam Indonesia

Sukoharjo, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Pendidikan pesantren memiliki dua hal penting yang diemban. Beban spertama ilmiah dan moral. Hal ini menjadi konsen penting yang terus diaktualisasikan dalam dunia pesantren.

Gus Rozin: Hari Santri Kemenangan Umat Islam Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Rozin: Hari Santri Kemenangan Umat Islam Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Rozin: Hari Santri Kemenangan Umat Islam Indonesia

Dalam rangkaian silaturahim daerah Ayo Mondok Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), kali ini menggelar seminar nasional dengan tema Revitalisasi Pondok Pesantren untuk Penguatan Perguruan Tinggi Islam, Kamis (19/10).

Bertempat di Graha Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta hadir Ketua Pengurus Pusat  Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU), KH Abdul Ghaffar Rozin, Sejarawan Universitas Sebelas Maret; Hermanu Joebagyo, Rektor IAIN Surakarta; H. Mudofir dan guru besar Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga; H. Abdul Munir Mulkhan. 

Hari Santri Nasional (HSN) yang telah dua tahun ini diperingati menjadi momen penting untuk terus menjaga akhlak santri dan meningkatkan kompetensinya. Pesantren sebagai jangkar keislaman tak dapat dipisahkan dari ilmu agama. Selain itu, pesantren masih mengakui hal yang ghaib.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Resolusi jihad (landasan HSN, red) bukan hanya dari NU, tetapi juga disepakati oleh ulama-ulama lain dari berbagai organisasi, ini kemengan umat Islam Indonesia,” papar Gus Rozin.

Kekuatan pesantren tak hanya pengajaran tapi juga pendidkan. Membentuk kepribadian secara utuh terhadap santinya. Selain itu, santri mudah berdiaspora. Dengan banyaknya jumlah santri  bisa dimulai dari mana saja tak harus linier dengan keilmuan yang dimilikinya. 

Selain narasumber yang hadir, tampak Direktur Jenderal Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Kamaruddin memberikan pidato kunci. Banyak afirmasi dari pemerintah kepada pesantren. 

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Apa yang kami rumuskan bukan hanya ilmu agama,  tapi juga ada life skill,  supaya pondok pesantren punya ketrampilan. Tapi ilmu agama tetap harus kuat,” ungkap Kamar. 

Dalam lintasan sejarah secara garis besar Hermanu membenarkan bahwa peran santri dalam kontribusi bangsa ini sangat besar. Di sisi yang lain, Abdul Munir menjelaskan pesatren harus mau dan mampu menganalisa perkembangan zaman. 

Gus Rozin menambahkan adanya teknologi dan kerumunan dunia digital pihak pesantren seharusnya tidak memandang teknologi sebagai hal yang tabu tetapi lebih sebagai sarana dan mitra dalam penyebaran ilmu dan ideologi Islam yang rahmatan lil alamin.

Langkah kongkret dilakukan IAIN Surakarta dengan membacakan Risalah Solo yang berisikan sembilan poin pada intinya terdapat sinergitas antara perguruan tinggi Islam dan pesantren dalam membangun, mengembangkan kualitas pendidikan masa depan untuk kemajuan bangsa dan peradaban. (Zulfa/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Bahtsul Masail, Kiai, Khutbah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan.

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock