Senin, 26 Mei 2014

Tidak Hanya Kejujuran Ilmiah, Peneliti Juga Dituntut Memiliki Komitmen Sosial

Jakarta, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Kegiatan penelitian sejatinya merupakan jembatan bagi para akademisi untuk mendekatkan diri dengan realitas yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Kedekatan ini kemudian seyogyanya membangun komitmen sosial para peneliti untuk melakukan perubahan yang berarti dan dibutuhkan masyarakat.

“Jadi penelitian untuk membangun masyarakat, berkarya, tidak penelitian berhenti hanya untuk pengembangan ilmu semata. Inilah yang saya sebut dengan kejujuran ilmiah dan komitmen sosial bagi para peneliti,” terang Muhammad Sobary saat mengisi diskusi yang diselenggarakan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Unusia (Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia) pada hari Senin, (18/04) di kampus Unusia, Jakarta.

Tidak Hanya Kejujuran Ilmiah, Peneliti Juga Dituntut Memiliki Komitmen Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Tidak Hanya Kejujuran Ilmiah, Peneliti Juga Dituntut Memiliki Komitmen Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Tidak Hanya Kejujuran Ilmiah, Peneliti Juga Dituntut Memiliki Komitmen Sosial

Peneliti senior LIPI ini melanjutkan, bahwa seorang peneliti tidak dapat disebut sebagai kaum intelektual jika tidak selalu risau untuk menemukan jawaban atas teka-teki metafisika kehidupan masyarakat.

“Simbol intelektual tidak berdasarkan ijazah dan nama besar universitas. Kaum intelektual adalah mereka yang konsen terhadap kehidupan dan kemanusiaan,” terangnya di hadapan civitas akademika Unusia.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Alih-alih menggugah komitmen sosial para akademisi yang hadir, antropolog yang baru menyelesaikan sidang terbuka di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia ini menilai, komitmen sosial ini memungkinkan masyarakat yang berpartisipasi dalam penelitian mendapatkan manfaat dari penelitian yang dilaksanakan. Pesannya, jangan sampai kegiatan penelitian manfaatnya hanya dirasakan oleh para peneliti saja dengan mendapatkan nama besar, sedangkan masyarakat yang menjadi informan partisipasi tidak mendapatkan apa pun manfaatnya.

“Pemihakan peneliti bisa dalam wujudkan menghubungkan masyarakat dengan sumber-sumber yang mereka butuhkan. Jadi penelitian itu tidak sesederhana yang diajarkan di kampus. Yang diajarkan di kampus itu elitis, academic oriented, tidak menyentuh kehidupan manusia,” pungkasnya.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Dalam kesempatan yang sama, Kepala LP2M Unusia, Muhammad Nurulhuda menyampaikan bahwa diskusi ini merupakan rangkaian dari Rapat Kerja LP2M Unusia. Dalam waktu dekat akan dihadirkan juga peneliti dari LIPI yang konsen dalam bidang eksak untuk memberikan masukan terkait trend penelitian yang sesuai dengan kebutuhan program studi eksakta di lingkungan Unusia.

“Setelah nanti kita anggap cukup, maka berbagai masukan dari pakar ini akan kami jadikan sebagai salah satu pertimbangan dalam menyusun grand design penelitian yang akan kita kembangkan dalam jangka panjang,” pungkasnya.

Di samping pengurus LP2M Unusia, kegiatan ini juga dihadiri civitas akademika dan Pimpinan Unusia. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Ubudiyah, IMNU, Warta Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan.

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock