Kamis, 07 Juni 2012

Kaji Al-Qur’an Hanya Pakai Logika Hasilkan Pemaknaan Kering

Tangerang Selatan, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Mursyid Jami’atul Khalwatiyah Syekh Yusuf Al-Maqassary, Syekh Sayyid Rahim Assegaf (Puang Makka) menerangkan, orang yang mengkaji Al-Qur’an dengan hanya menggunakan logika maka mereka akan menemukan pemaknaan yang kering. 

Oleh karena itu, di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa mengkaji Al-Qur’an itu harus dengan logika dan rasa untuk mendapatkan nikmatnya membaca Al-Qur’an.

Kaji Al-Qur’an Hanya Pakai Logika Hasilkan Pemaknaan Kering (Sumber Gambar : Nu Online)
Kaji Al-Qur’an Hanya Pakai Logika Hasilkan Pemaknaan Kering (Sumber Gambar : Nu Online)

Kaji Al-Qur’an Hanya Pakai Logika Hasilkan Pemaknaan Kering

“Setiap huruf, setiap ayat di dalam Al-Qur’an itu ada energi ilahiyyah di situ. Maka disebutkan yu’allimukumul kitaba wal hikmah (mengkaji Al-Qur’an dengan logika dan rasa),” jelasnya saat mengisi acara Ngobrol Santai Sufi yang digelar oleh Mahasiswa Ahlith Thoriqoh Al Mu’tabarah An-Nahdliyyah (MATAN) di Ciputat Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (19/8) malam.

Ia menyebutkan, seorang yang menangkap makna Al-Qur’an berdasarkan dengan huruf-hurufnya saja, maka ia sama dengan membaca majalah. Padahal, setiap huruf tersebut ada energi yang seharusnya ditangkap dengan menggunakan rasa. 

Sedangkan rasa itu adanya di hati. Dan yang menjadi wilayah tasawuf adalah hati. Oleh sebab itu, seseorang tidak harus menunggu menjadi tua terlebih dahulu untuk masuk tasawuf.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Jangan nunggu tua dulu,” ucapnya.

Tak ada waktu untuk mencela

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Puang Makka menyatakan, para sufi itu tidak memiliki waktu dan kesempatan untuk mencela dan menjelek-jelekkan orang lain karena mereka terlalu sibuk dengan dengan kekurangannya sendiri. 

“Para sufi itu tidak memiliki kesempatan untuk mencela orang lain karena aibnya sendiri banyak sekali,” jelasnya.

Ia menghimbau untuk memulai dengan diri sendiri. Seperti mengkritik diri sendiri sebelum mengkritik orang lain, memperbaiki diri sendiri sebelum memperbaiki orang lain, dan lain sebagainya.

“Ibda’ binafsik,” tukasnya. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Tegal, Anti Hoax Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan.

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock