Jumat, 05 Oktober 2012

Mainan Tradisional yang Mulai Terpinggirkan

Solo, Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Salah satu yang khas dari acara Maleman Sekaten yang digelar di kompleks Alun-alun Utara Keraton Surakarta yakni keberadaan para penjual mainan tradisional. Mainan tradisional tersebut dijajakan para pedagang, hampir di setiap pintu masuk menuju Alun-alun Utara Keraton Surakarta.

Mainan Tradisional yang Mulai Terpinggirkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mainan Tradisional yang Mulai Terpinggirkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mainan Tradisional yang Mulai Terpinggirkan

Muharrom Fajar Adi, salah satu pengunjung Maleman Sekaten menuturkan ada banyak mainan yang dijajakan para penjual. “Komplit mas, ada Kapal-kapalan, kodok-kodokan, celengan, dan lain-lain,” tuturnya kepada Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan, beberapa waktu lalu (2/1).

Selain itu, beberapa mainan lainnya seperti alat memasak berbahan tanah liat atau alat gamelan berukuran kecil, wayang kulit. Tak ketinggalan, kapal otok-otok menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Hal itu diakui salah satu pedagang mainan, Edy. Pria asal Cirebon itu mengaku dalam sehari dirinya bisa menjual sekitar 20 kapal dengan harga Rp 8.000-Rp 15.000 per kapal.

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

“Hampir di setiap acara pasar malam saya pasti jualan kapal seperti ini. Peminatnya masih banyak. Kadang sampai 50 kapal terjual setiap harinya,” ungkapnya.

Kapal otok-otok merupakan salah satu mainan tradisional yang hampir dijual setiap Sekaten ataupun acara pasar malam digelar. Meski model dan cara memainkannya tak pernah berubah, namun kapal itu tak pernah sepi peminat.

Sedangkan Sugimin, pedagang lainnya, ketika ditanya soal minat anak-anak mencintai mainan tradisional tersebut, mengatakan hal tersebut sudah berkurang. Alasannya, lantaran kemajuan zaman keberadaan mainan tradisional mulai terpinggirkan.

“Zamannya sudah modern. Anak-anak sekarang juga kebanyakan kurang tertarik dengan permainan tradisional,” ujarnya. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan Kajian, Ubudiyah Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan

Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan.

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Panjimas: Suara Kebenaran Lawan Kebatilan dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock